Arsip Kategori: SD3-Agama Katolik

Agama Katolik – 10 Perintah Allah – Aku Percaya – Tobat

Teks resmi Sepuluh Perintah Al-lah untuk Gereja Katolik adalah sebagai berikut:

Akulah Tuhan, Al-lahmu,
1, Jangan menyembah berhala, berbaktilah kepada-Ku saja, dan cintailah Aku lebih dari segala sesuatu.
2, Jangan menyebut Nama Tuhan Al-lahmu dengan tidak hormat.
3, Kuduskanlah hari Tuhan.
4, Hormatilah ibu-bapamu.
5, Jangan membunuh.
6, Jangan berzinah.
7, Jangan mencuri.
8, Jangan bersaksi dusta tentang sesamamu.
9, Jangan mengingini istri sesamamu.
10, Jangan mengingini milik sesamamu secara tidak adil.

 

Aku Percaya.

Aku percaya akan Al-lah,
Bapa yang Maha Kuasa, pencipta langit dan bumi.
Dan akan Yesus Kristus,
PuteraNya yang tunggal, Tuhan kita.
Yang dikandung dari Roh Kudus,
dilahirkan oleh perawan Maria.
Yang menderita sengsara,
dalam pemerintahan Pontius Pilatus,
disalibkan, wafat dan dimakamkan.
Yang turun ketempat penantian,
pada hari ketiga bangkit dari antara orang mati.
Yang naik ke surga,
duduk disebelah kanan Al-lah Bapa yang Maha Kuasa.
Dari situ Ia akan datang mengadili orang hidup dan mati.
Aku percaya akan Roh Kudus,
Gereja Katholik yang Kudus,
Persekutuan para Kudus,
pengampunan dosa,
kebangkitan badan,
kehidupan kekal.

Amin.

 

Doa Tobat.

Al-lah yang maharahim, aku menyesal atas dosa-dosaku. Aku sungguh patut Engkau hukum, terutama karena aku telah tidak setia kepada Engkau yang maha pengasih dan mahabaik bagiku.
Aku benci akan segala dosaku, dan berjanji dengan pertolongan rahmat-Mu hendak memperbaiki hidupku da tidak akan berbuat dosa lagi. Al-lah yang maha-murah, ampunilah aku, orang berdosa. (Amin.)

 

[Puji Syukur no 13]
Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus,
seperti pada permulaan, sekarang, selalu,
dan sepanjang segala abad. (Amin.)

Terpujilah nama Yesus, Maria dan Yosef, sekarang dan selama-lamanya (Amin.)

 

SD3-K3-1-Masyarakat

SD Kelas 3 – Pelajaran 3 – Masyarakat.

A. Pemimpin Masyarakat.
Mari berdoa : Bapa yang Mahakuasa. Dampingilah pemimpin masyarakat di lingkungan kami agar mereka dapat melaksanakan tugasnya dengan semangat cinta kasih. Amin.

Mari bernyanyi : 
Tuhan Yesus ajarilah kami,
hidup rukun saling menghormati.
Tuhan Yesus ajarilah kami,
saling cinta, saling mengasihi.
Tuhan Yesus ajarilah kami,
rendah hati tak sombongkan diri
Tuhan Yesus ajarilah kami,
saling jujur, saling memahami.

 

Mendengar Cerita !

Pak Lukas seorang yang sederhana, jujur dan pekerja keras. Ia sangat disenangi oleh tetangga – tetangganya. Maka tak heran Pak Lukas terpilih menjadi kepala desa. Sejak pak Lukas menjadi Kepala Desa Suka Ramai banyak perubahan yang ia lakukan. Sebulan sekali seluruh warganya dikerahkan untuk kerja bakti membersihkan lingkungan sekitar rumah. Warga desa beramai-ramai membersihkan selokan, sehingga desa Suka Ramai menjadi desa yang lingkungannya bersih.
Bila sore hari, pak Lukas mengendarai sepeda mengunjungi warganya . Bila ia berjumpa dengan warganya yang sakit pak Lukas pun dengan suka cita membantunya.

Suatu hari turunlah hujan yang sangat lebat. Desa Suka Ramai kebanjiran. Pak Lukas sebagai kepala desa sangat sedih dengan bencana ini. pak Lukas membantu para korban banjir dengan perahu karet sumbangan pemerintah. Ia bekerja
siang dan malam demi menyelamatkan warganya. Pak Lukas bersama warganya membangun tenda darurat sebagai tempat penampungan bagi warga yang rumahnya terendam banjir. Setelah bencana berakhir, masyarakat desa Suka Ramai semakin kagum dan menyayangi pak Lukas , sang kepala desa yang selalu melayani rakyatnya.

 

BACAAN INJIL :  Mateus 20: 20-28.

Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepadanya. Kata Yesus: “Apa yang kau kehendaki?” Jawabnya: “Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.” Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya: “Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus kuminum?” kata mereka kepada-Nya: “Kami dapat.” Yesus berkata kepada mereka: “Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya.” Mendengar itu marahlah ke sepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu. Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.
Tidaklah demikian di antara kamu. Barang siapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barang siapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak manusia datang bukan untuk dilayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

RANGKUMAN :

  • Tuhan yesus mengajarkan bahwa seorang pemimpin adalah seorang pelayan masyarakat.
  • Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mau melayani.
  • Yesus berkata, “Aku datang untuk melayani, bukan untuk dilayani” Mateus 20:28)

 

B. TRADISI MASYARAKAT.

Tuhan berkatilah negriku. Limpahkanlah kasih-Mu,
Curahkanlah damai-Mu, agar aman tentram bersama-Mu,
Damai negriku tentram bangsaku, karna kasih Tuhan melimpah selalu.
Tuhan berkatilah bangsa-ku, hilangkan permusuhan,
Musnahkan kekerasan, karena Engkau sumber kedamaian,
Damai negriku tentram bangsaku, karna damai Tuhan melimpah selalu.

 

MENDENGAR CERITA :

Fahombo, biasa juga disebut dengan Lompat Batu. Tradisi ini berasal dari Pulau Nias, yang terletak di sebelah barat Sumatra, tepatnya di Desa Bawomataluo, di puncak bukit yang ada di Kecamatan Fanayama, Kabupaten Nias Selatan. Acara
ini merupakan ritual budaya sebagai simbol kedewasaan pemuda Nias. Jika seorang pemuda yang mampu melakukan lompatan dengan sempurna dianggap telah dewasa dan matang secara fisik. Karena itu hak dan kewajiban sosialnya sebagai orang dewasa sudah bisa dijalankan. Misalnya, memasuki pernikahan
dan untuk menjadi prajurit desa jika ada perang antar desa atau konflik dengan warga desa lain. Karena sekarang sudah tidak ada perang, maka lompat batu hanya dipertunjukkan untuk menyambut tamu, dan sebagai wisata andalan Pulau Nias.

Mari mendengar Kitab Suci,
Lukas 2:41-52,

Tiap–tiap tahun orang tua Yesus pergi ke Yerusalem pada hari raya Paskah. Ketika Yesus telah berumur dua belas tahun pergilah mereka ke Yerusalem seperti yang lazim pada hari raya itu. Sehabis hari-hari perayaan itu, ketika mereka pulang, tinggallah Yesus di Yerusalem tanpa diketahui oleh orang tua-Nya. Karena mereka menyangka bahwa Ia ada di antara orang-orang seperjalanan mereka, berjalanlah
mereka sehari perjalanan jauhnya, lalu mencari Dia di antara kaum keluarga dan kenalan mereka. Karena mereka tidak menemukan Dia, kembalilah mereka ke Yerusalem sambil terus mencari Dia. Sesudah tiga hari mereka menemukan Dia
di Bait Allah; Ia sedang duduk di tengah-tengah alim ulama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan  kepada mereka. Dan semua orang yang mendengar Dia sangat heran akan kecerdasannya dan segala jawab
yang diberikan-Nya. Dan ketika orangtua-Nya melihat Dia, tercenganglah mereka, lalu kata ibu-Nya kepada-Nya: “Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau.” Jawab-Nya kepada mereka: “Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam Rumah Bapa-Ku?” tetapi mereka tidak mengerti apa yang dikatakan-Nya kepada mereka. Lalu ia pulang bersama-sama mereka ke Nasaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan Ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya. Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.

RANGKUMAN :

  • Setiap suku atau daerah mempunyai tradisi yang berbeda.
  • Semua tradisi yang kita miliki merupakan kekayaan bangsa yang sangat membanggakan dan semua merupakan anugerah Tuhan.
  • Kita harus menjaga, melestarikan sekaligus menghormati tradisi –tradisi yang ada dalam masyarakat Indonesia.
  • Yesus sejak dari kecil dididik oleh orang tua-Nya dalam tradisi atau adat istiadat agama Yahudi.
  • Yesus pada umur 12 tahun diajak oleh Yusuf dan Maria untuk merayakan hari Paskah di Yerusalem.
  • Dalam masyarakat Indonesia terdapat enam agama yang diakui yakni: agama Islam, agama Katolik, agama Kristen, agama Budha, agama Hindu, dan agama Kong Hu Cu.
  • Semua agama percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, pencipta manusia dan alam semesta.
  • Walaupun berbeda-beda keyakinan, kita tetap satu umat Tuhan yang hidup di bumi Indonesia tercinta.
  • Sebagai murid Yesus, kita diajarkan untuk saling memperhatikan, saling mengasihi, saling menjaga agar hidup bahagia dan sejahtera.

Renungkan : “ Sudahkah aku menghormati teman yang berbeda tradisi dan agama?

Untuk diingat : Semua tradisi yang kita miliki merupakan kekayaan bangsa yang sangat membanggakan dan semua merupakan anugerah Tuhan.

Mari berdiskusi dalam kelompok tentang hari raya agama-agama di Indonesia dan apa yang kamu lakukan apabila ada teman yang merayakan hari raya
keagamaannya?

6 Agama di Indonesia ; Berikut ini adalah 6 (enam) Agama yang diakui di Indonesia :

Agama Islam.
Nama Kitab Suci : Al-Qur’an.
Nama Pembawa : Nabi Muhammad SAW.
Permulaan : Sekitar 1400 tahun yang lalu
Tempat Ibadah : Masjid.
Hari Besar Keagamaan : Hari Raya Idul Fitri, Hari Raya Idul Adha, Tahun Baru Hijrah, Isra’ Mi’raj.

Agama Kristen Protestan.
Nama Kitab Suci : Alkitab.
Nama Pembawa : Yesus Kristus.
Permulaan : Sekitar 2000 tahun yang lalu.
Tempat Ibadah : Gereja.
Hari Besar Keagamaan : Hari Natal, Hari Jumat Agung, Hari Paskah, Kenaikan Isa Almasih.

Agama Katolik.
Nama Kitab Suci : Alkitab.
Nama Pembawa : Yesus Kristus.
Permulaan : Sekitar 2000 tahun yang lalu.
Tempat Ibadah : Gereja.
Hari Besar Keagamaan : Hari Natal, Hari Jumat Agung, Hari Paskah, Kenaikan Isa Almasih.

Agama Hindu.
Nama Kitab Suci : Weda.
Permulaan : Sekitar 3000 tahun yang lalu.
Tempat Ibadah : Pura.
Hari Besar Keagamaan : Hari Nyepi, Hari Saraswati, Hari Pagerwesi.

 

Agama Buddha.
Nama Kitab Suci : Tri Pitaka.
Nama Pembawa : Siddharta Gautama.
Permulaan : Sekitar 2500 tahun yang lalu.
Tempat Ibadah : Vihara.
Hari Besar Keagamaan : Hari Waisak, Hari Asadha, Hari Kathina.

 

Agama Kong Hu Cu.
Nama Kitab Suci : Si Shu Wu Ching.
Nama Pembawa : Kong Hu Cu.
Permulaan : Sekitar 2500 tahun yang lalu.
Tempat Ibadah : Li Tang / Klenteng.
Hari Besar Keagamaan : Tahun Baru Imlek, Cap Go Meh.

 

C. Melestarikan Lingkungan Alam.

Mari berdoa :
Bapa yang Mahabaik. Engkau telah menyerahkan alam yang indah ini kepada kami untuk dijaga dan dikembangkan demi kabaikan kami. Terima kasih Tuhan atas karunia-Mu yang sangat indah dan berguna bagi kami. Amin.

Mari bernyanyi : 
Allah Mahakuasa, pencipta alam semesta,
Bapa yang Mahamurah, penyelenggara hidup kami,
Terimalah pujian, sembah syukur umat-Mu.
Seluruh jagat raya dan segala makhluk hidup
Bersama isi surga, bersujud dihadirat-Mu
Puji keagungan-Mu dan luhurkan nama-Mu.
Berkatilah, ya Bapa, negara dan bangsa kami
Jauhkanlah bencana dari keluarga kami,
Berilah kemakmuran, damai dan keadilan.

 

Mari mendengar cerita.

Desa Kopisan adalah desa yang sangat indah dan subur. Seluruh desa kelihatan hijau karena ditumbuhi berbagai tanaman dan pohon-pohon yang rindang. Setiap pagi terdengar kicauan burung. Penduduk desa menanam berbagai jenis sayur
untuk dijual ke kota. Di desa itu terdapat sebuah bukit dan di kaki bukit terdapat mata air yang menjadi sumber air bagi masyarakat. Pada musim kemarau mata air tersebut juga sangat membantu orang kota, karena mereka mengambil air di desa
tersebut.

Keadaan desa berubah beberapa tahun ini. Sayur yang ditanam banyak yang tidak bisa di panen, sehingga masyarakat tidak cukup membiayai kehidupan keluarga. Burung-burung tidak terdengar lagi kicauannya. Yang terdengar hanya suara
palsu burung yang direkam untuk memancing burung walet agar hinggap di rumah yang telah disiapkan. Mata air yang dulu tidak pernah berhenti mengalir, sekarang justru kering dan masyarakat mengalami kesulitan air pada musim kemarau.
Mengapa hal ini terjadi? Ternyata masyarakat mulai menebang pohon-pohon untuk di jual kepada pedagang-pedagang kayu dan mereka menjadi malas untuk mengurus kebun yang mereka miliki. Akhirnya desa itu menjadi gersang.

 

BACAAN INJIL : Kejadian 1:1-2:4.
Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong, hanya ada air di mana-mana. Seluruh permukaan bumi gelap. Maka berfirmanlah, “Jadilah terang.” Setelah itu Allah memisahkan terang dan gelap. Lalu
Allah menamakan terang itu siang dan gelap itu malam. Itulah hari pertama Allah mencipta.
Pada hari kedua, berfirmanlah Allah, “Jadilah cakrawala” maka tidak lama kemudian muncullah cakrawala dan Tuhan memisahkan air yang di bawah cakrawala itu dari air yang ada di bawahnya. Pada hari ketiga, Allah berfirman lagi, “Berkumpullah air pada satu tempat.” Lalu Allah menamai tanah yang kering itu darat dan kumpulan air itu dinamainya laut. Setelah itu Allah berfirman lagi, “Hendaknya tanah menumbuhkan tunas-tunas muda, tumbuh-tumbuhan yang berbiji, segala jenis pohon yang menghasilkan buah, supaya ada tumbuh-tumbuhan di bumi. Maka tumbuhlah dari tanah itu bermacam-macam tumbuhan.
Hari keempat, berfirmanlah Allah, “Jadilah benda-benda penerang di cakrawala untuk memisahkan siang dan malam.” Maka jadilah matahari untuk menerangi siang, dan bulan untuk menerangi malam. Allah melihat semuanya itu baik.
Hari kelima, Allah berfirman lagi, “Hendaklah ikan berenang dalam air dan burung-burung berterbangan di atas bumi.”
Kemudian Allah memberkati ikan-ikan dan burung-burung itu supaya mereka berkembang biak dan menjadi banyak. Allah melihat semuanya itu baik.
Hari keenam, berfirmanlah Allah, “Hendaklah dari bumi muncul ternak dan binatang-binatang liar dan melata.” Maka muncullah kambing, domba, sapi, kerbau, kuda, kemudian muncul lagi singa, harimau, kucing, anjing, gajah, ular dan lainlain.
Setelah itu Allah berfirman, “Baiklah kita jadikan manusia menurut rupa Kita, supaya mereka menguasai segala ikan di laut, burung-burung di udara dan semua binatang.” Maka Allah menciptakan manusia laki-laki dan perempuan menurut
rupa Allah sendiri. Kepada manusia itu Allah bersabda, “beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah muka bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut, burung-burung di udara dan atas segala binatang jinak maupun
liar.” Maka jadilah demikian. Allah melihat semuanya itu baik. Demikianlah Allah menciptakan dunia dengan segala isinya. Pada hari ketujuh Allah berhenti mencipta dan beristirahat. Hari itu disebut hari Tuhan bagi manusia. Semua orang berkumpul
untuk memuliakan Tuhan.

 

MENDENGAR CERITA :

Santo Fransiskus Asisi.

Pada waktu itu di kota Gubbio hiduplah seekor serigala yang amat besar, mengerikan, dan ganas. Serigala itu tidak saja memakan binatang-binatang, tetapi juga manusia. Semua penduduk kota hidup dalam ketakutan dan tidak berani pergi
sendirian. Melihat situasi yang demikian Fransiskus merasa kasihan, sehingga ia mendamaikan serigala itu dengan penduduk kota Gubbio, sekalipun mereka melarangnya pergi.

Ketika Fransiskus memasuki daerah serigala itu bersama-sama sahabatnya, ia membuat tanda salib dan menaruh kepercayaan sepenuh-penuhnya pada Tuhan. Ketika saudara-saudara lain tidak mau pergi mendekati serigala itu, Fransiskus
berjalan terus menuju tempat serigala itu bersarang. Ketika serigala itu melihat Fransiskus, maka ia pun menyerbu kearahnya dengan cakar terbuka. Ketika serigala itu mendekat, Fransiskus membuat tanda salib di atasnya dan menyapanya, “kemarilah, saudara serigala. Demi nama Kristus aku memerintahkan kamu jangan menyerang aku.” Anehnya begitu Fransiskus membuat tanda salib, serigala yang ganaspun tunduk. Ia menaati Fransiskus. Serigala itu lalu membaringkan diri di kaki Fransiskus dengan lembut seperti seekor anak domba.
Fransiskus lalu mengajak serigala itu membuat suatu perjanjian dengan penduduk kota Gubbio. Dari pihak serigala, ia harus berjanji bahwa ia tidak akan mengganggu dan melakukan kejahatan dengan penduduk kota Gubbio lagi. Dari pihak penduduk Gubbio, mereka berjanji akan menyediakan makanan yang dibutuhkan serigala itu setiap hari. Dan sebagai jaminan bahwa perjanjian itu akan dilaksanakan dan ditepati, maka Fransiskus mengulurkan tangannya, dan serigala itu mengangkat kaki depannya dan menempatkannya dengan lembut ke dalam tangan Fransiskus, sebagai bukti kesetiaannya.

Mari Berdiskusi : Apa yang dapat diteladani dari cara hidup Santo Fransisikus Asisi dan bagaimana cara melestarikan lingkungan alam ini?

Rangkuman :

  • Tuhan menciptakan dunia dan segala isinya dalam keadaan baik.
  • Manusia mempunyai akal budi sehingga dapat berpikir dan mempunyai kemampuan untuk melestarikan ciptaan Tuhan yang indah.
  • Santo Fransiskus Asisi menjadi teladan dalam pelestarian lingkungan.
  • kita melibatkan diri untuk ambil bagian menata lingkungan sehingga menjadi tempat yang nyaman untuk ditempati.

Renungkan : Sudahkah aku melestarikan alam ciptaan Tuhan?

Untuk diingat : Manusia mempunyai akal budi sehingga dapat berpikir dan mempunyai kemampuan untuk melestarikan ciptaan Tuhan yang indah.

 

Mari berdoa :

Puji Tuhan Pencipta.
Pujilah Tuhan di surga.
Pujilah Tuhan, hai matahari dan bulan.
Pujilah Dia hai segala binatang.
Pujilah Dia hai langit yang mengatasi segala langit.
Dia mendirikan semua untuk seterusnya dan selamanya.
Dia memberi ketetapan yang tak dapat dilanggar.
Pujilah Tuhan di bumi.
Hai segenap samudra raya.
Pujilah Tuhan, hai api dan hujan es, salju, dan laut.
Pujilah Tuhan, hai gunung dan segala bukit.
Segala pohon buah-buahan.
Pujilah Tuhan, hai hewan dan burung bernyanyi.
Pujilah Tuhan, hai raja dan pemimpin.
Hai orangtua, hai kaum muda dan anak-anak.
Marilah kita memuji Tuhan.
Pencipta segala yang ada dan yang hidup di bumi. Amin.

 

Glosarium

  • Bait Allah : tempat ibadah orang Yahudi, terletak di kota Yerusalem.
  • Bertobat : menyesal dan berniat hendak memperbaiki perbuatan yang salah.
  • Dosa : keadaan atau situasi seseorang jauh atau terpisah dari Allah karena melanggar ketentuan atau kehendak Allah.
  • Dusun : Desa
  • Farisi : suatu golongan dari para rabi dan ahli Taurat yang sangat  berpengaruh. Mereka berpegang pada Taurat Musa dan pada adat istiadat
    nenek moyang. Seluruh hukum dan peraturan mereka taati secara mutlak.
  • Hidup Kristiani : hidup orang yang mengikuti teladan hidup Yesus Kristus.
  • Iman : sikap sungguh percaya pada Allah.
  • Liturgi : Ibadat resmi Gereja.
  • Minyak krisma : minyak yang digunakan pada penerimaan Sakramen Krisma; minyak zaitun yang telah diberkati oleh uskup menjadi tanda dan sarana penguatan oleh Roh Kudus.
  • Pemungut cukai : petugas pajak, dan merupakan salah satu jenis pekerjaan di masyarakat Yahudi waktu itu.
  • Tabernakel : tempat untuk menyimpan Hosti Kudus.

SD3-K2.6-Agama Katolik – Kasih

F. Kasih.

Mari berdoa!

Bapa yang Mahakasih,
Engkau mengutus Putra-Mu, Yesus Kristus,
agar kasih-Mu menjadi nyata dalam hidupku,
dan semakin dikenal oleh banyak orang.
Semoga karena kasih-Mu,
aku mampu mengasihi Engkau
dan mengasihi orang lain. Amin.

 

Mari mendengar cerita!

Pada suatu hari, Tuhan berjanji kepada seorang nyonya tua bahwa dia akan mengunjunginya hari itu. Tentu, nyonya tua itu sangat bangga. Dia membersihkan rumahnya dan menatanya dengan rapi. Kemudian dia duduk dan menunggu kedatangan Tuhan.

Tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu. Dengan tergesa-gesa, dia berlari ke arah pintu, dan dengan tak sabar membuka pintu itu. Ternyata yang dilihatnya, hanyalah seorang pengemis yang berdiri di luar. “jangan datang hari ini, pergilah. Saya sedang menunggu kedatangan Tuhan sebentar lagi, saya tidak bisa repot-repot dengan kamu”. Jadi dia mengusir pengemis itu dan menutup pintu.

Setelah beberapa saat, terdengar lagi ketukan di pintu. Kali ini nyonya tua itu dengan lebih cepat membuka pintu. Tapi apa yang dilihatnya? Hanya seorang tua yang miskin. “Saya sedang menunggu kedatangan Tuhan. Maaf, saya tidak bisa mengurusi kamu lagi”. Katanya sambil membanting pintu. Beberapa saat kemudian, terdengar lagi ketukan di pintu. Dia membuka dan ternyata yang berdiri di sana adalah seorang pengemis yang lapar dan berpakaian compang camping, yang terus menerus meminta sedikit roti dan ijin menginap. “Tinggalkan tempat ini. Saya sedang menunggu Tuhan! Saya tidak bisa mengurusi kamu sekarang”. Pengemis itu lalu pergi, dan nyonya tua itu kembali duduk.

Sorepun tiba, tapi belum ada tanda-tanda bahwa Tuhan akan datang. Nyonya tua itu mulai gelisah. Di manakah Tuhan? Dan kapan Dia datang?

Akhirnya malampun tiba nyonya tua itupun tertidur. Dalam tidurnya ia bermimpi bahwa Tuhan telah datang padanya dan berkata, “Aku datang kepadamu tiga kali hari ini dan kamu mengusir Aku”.

(diambil dari Percikan Kisah-Kisah Anak Manusia, hal. 259-260)

 

Jawablah pertanyaan – pertanyaan di bawah ini !

  1. Apa yang menarik dari cerita di atas ?
  2. Mengapa Tuhan tidak datang ke rumah nyonya itu ?
  3. Bagaimana cara Tuhan mengunjungi kita ?

 

Mari mendengar cerita!

Santa Elisabeth.

Elisabeth Hungaria adalah janda kudus mendiang Pangeran Ludwig IV dari Turing. Sepeninggal suaminya, ia menjadi anggota ordo ketiga Santo Fransiskus Asisi yang sangat aktif melayani orang-orang miskin dengan kekayaannya.

Di tanah Turing, di atas sebuah bukit berdirilah sebuah istana yang sangat megah. Kebun luas yang subur mengelilingi istana itu. Di sana-sini pintu gerbang terhias ukiran menunjukkan jalan, bila hendak masuk atau keluar. Raja Ludwig hidup saleh,
gagah berani, bijaksana, dan adil. Ia tidak pernah memandang orang berpangkat, atau orang bawahan, terhadap pelayan, juga pengemis.

Permaisuri raja Ludwig bernama Elisabeth. Seperti raja Ludwig, ratu Elisabeth juga seorang yang dermawan. Ia lebih suka bermain di kebun, atau berdoa di Gereja, daripada berpestapora dan berdansa di istana. Maka tidak mengherankan keduanya, terlebih Elisabeth disayangi rakyat Turing. Orang-orang miskin memuji-muji mereka. Orang-orang sakit mengharapkan kunjungan Sang Putri yang ramah itu. Anak-anak bersuka hati bila berjumpa dengannya. Tetapi, diantara para bangsawan, ada yang tidak suka kepada Elisabeth dan tidak setuju dengan sikapnya. “Mengapa Elisabeth mau bergaul dengan orang-orang yang rendah? Itu tidak pantas dilakukannya! Mengapa Elisabeth banyak memberi sedekah? Nanti harta istana Turing habis semua! Elisabeth seorang pemboros!”

Raja Ludwig selalu membela Elisabeth. “Biarkanlah permaisuriku begitu! Selama Elisabeth bersikap dermawan, selama itu pula penghuni istana Turing tidak kekurangan!” Raja Andreas pun membenarkan perilaku Elisabet, dan menghibur Sang Putri bila diancam Fitnah. Raja Andreas adalah Bapak dari Elisabeth Mengapa hanya kedua raja itu yang membela Elisabeth? Rupanya hanya mereka berdua yang sudah menyaksikan tanda dari surga. Pada suatu hari di musim gugur, ketika raja Ludwig dan Raja Andreas sedang duduk-duduk di serambi istana, mereka melihat Elisabeth di kebun. Putri itu baru keluar dari dapur. Ia berjalan cepat-cepat ke pintu gerbang belakang istana, seraya mengangkat gaunnya ke atas. Apa yang dibawa Elisabeth di dalam gaunnya? Makanan untuk para pengemis yang sudah menantinya.

Raja Ludwig segera menghampiri Elisabeth dan bertanya, “Apa yang kaubawa itu?” Elisabeth terkejut dan dengan cepat menjawab, “Hanya bunga mawar saja yang kubawa, Tuanku.” Elisabeth sendiri tidak mengerti mengapa mengucapkan kalimat
itu. Seperti ilham ilahi kata-kata itu keluar dari mulutnya. Raja Ludwig menarik baju Elisabeth dan bunga mawar segar dan harum terserak di tanah. Mengertilah Raja Ludwig, inilah tanda dari surga! Tuhan berkenan pada Elisabeth. Raja pun semakin
sayang kepada permaisurinya itu.

Kebahagiaan Raja Ludwig dan Elisabeth tidak berlangsung lama. Raja Ludwig wafat akibat penyakit pes yang dideritanya ketika ia berada di medan perang untuk menolong negri lain. Tak lama setelah kepergiaan raja Ludwig, Elisabeth dan ketiga
anaknya yang masih kecil diusir dari istana oleh para bangsawan yang membencinya. Elisabeth pergi kepada rakyatnya dengan harapan bisa tinggal di antara mereka. Tetapi rakyat takut melanggar aturan dari istana. Mereka tidak boleh memberi bantuan kepada Elisabeth dan anak-anaknya. Rakyat menolak bahkan tidak mengakui Sang permaisuri. Meskipun kecewa dan sedih, Elisabeth tetap sabar menerima semua ini.

Ketika para bangsawan yang setia kepada Raja Ludwig kembali dari medan perang, mengetahui bahwa Elisabeth diusir dari istana, mereka sangat marah. Mereka mengirim utusan untuk mencari dan membawa Elisabeth pulang ke istana. Dengan penuh rendah hati Elisabeth menerima permohonan maaf para penghuni istana. Demi ketenangan tanah Turing, ia pun bersedia kembali ke istana. Namun setelah keadaan kembali tenang, dan anak-anaknya telah mendapat tempat pendidikan yang baik, Elisabeth pindah ke sebuah kota kecil. Di sana ia mendirikan sebuah rumah sakit. Ia bekerja menjadi juru rawat di rumah sakit itu. Dengan penuh kasih sayang Elisabeth merawat orang-orang yang sakit di sana. Pakaian kebesarannya dilepaskan dan berganti dengan jubah biarawati ordo ketiga Santo Fransiskus Asisi. Sang putri menjadi miskin, mengabdi dengan penuh kasih bagi orang miskin dan menderita, hingga ia meninggal di Marbug, Jerman, pada tahun 1231. Kini Gereja Katolik merayakan pesta Santa Elisabeth dari Hungaria setiap tanggal 17 November.

(sumber: Iman Katolik. Media informasi dan sarana katekese).

 

Rangkuman!

  • Setiap hari Tuhan datang mengunjungi kita.
  • Tuhan datang melalui orang-orang di sekitar kita, orang-orang yang memerlukan pertolongan kita, misalnya: orang miskin, pengemis, orang yang disingkirkan, dan orang cacat.
  • Yesus sendiri mengatakan kepada kita, kalau kamu melakukan segala sesuatu untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku (Mateus 25:40).
  • Elisabeth adalah seorang Putri yang biasa hidup dalam kemewahan tetapi selalu dekat dengan rakyat kecil dan miskin.
  • Dengan penuh kasih sayang, Elisabeth memberi makanan dan sedekah kepada mereka.
  • Karena kasihnya kepada orang miskin dan menderita, ia melepaskan segala kemewahan dan menjadi seorang juru rawat di sebuah kota kecil.

 

SD3-K2.5-Agama Katolik- Harapan.

E. Harapan.

Mari berdoa ! Doa agar kuat dalam pengharapan.

Tuhan, Al-lah kami, dalam mengarungi hidup ini, kami sering menemukan kegembiraan dan penderitaan; hidup kami diwarnai suka dan duka. Kegembiraan yang kami rasakan telah menumbuhkan pengharapan di dalam hati. Tetapi kegagalan yang kami jumpai dapat menimbulkan kekecewaan dan ketakutan. Tuhan, tanamkanlah dalam hati kami pengharapan yang teguh akan cinta kasih dan kebaikan-Mu; pengharapan yang menjiwai seluruh hidup.

(diambil dari Madah bakti no. 8 B)

Mari mendengar cerita! Kisah Gadis Kecil Penjual Korek Api !

Malam itu gelap dan dingin sekali. Salju turun deras. Malam terakhir tahun menjelang tahun baru. Dalam dingin dan gelap itu seorang gadis kecil berjalan di sepanjang jalan. Ia tidak memakai topi dan sepatu. Ia memakai sandal ketika meninggalkan rumah. Sandal itu peninggalan ibunya dan sangat kebesaran. Ketika
ia menyeberangi jalan, dua buah kereta lewat dengan sangat cepat sehingga sandalnya terlepas dan hilang.

Jadi ia terus berjalan dengan kaki telanjang yang sudah merah dan biru karena kedinginan. Ia membawa banyak korek api dalam saku celemek tua yang dipakainya, dan satu ikat korek api dalam genggaman tangannya. Tak seorang pun membeli korek apinya sepanjang hari itu. Sedikitpun ia tidak menerima uang.

Ia terus berjalan, gemetar karena kedinginan dan lapar. Sungguh malang gadis kecil itu. Serpihan-serpihan salju jatuh di rambut pirangnya yang panjang, yang jatuh dengan ikal indah di lehernya, namun ia tidak pernah memikirkannya. Yang terpikir olehnya adalah, dari jendela-jendela yang dilewatinya ia melihat cahaya lilin berkilauan dan tercium bau sedap angsa panggang, karena saat itu malam tahun baru.

Pada sudut di antara dua rumah, dimana satu rumah lebih menonjol dari rumah yang satu lagi, gadis itu duduk dan meringkukkan tubuhnya. Ia menarik kaki-kaki kecilnya lebih mendekat ke tubuhnya, namun ia merasa makin lama makin dingin. ia tak berani pulang karena tak satupun korek api pun terjual dan tak dapat membawa pulang uang sedikitpun. Ayahnya akan memukulnya dan di rumahnya juga dingin karena atap rumah itu berlubang-lubang sehingga angin leluasa masuk.

Tangan-tangan kecil itu hampir mati rasa karena kedinginan. Oh! Sebatang korek api akan memberinya sedikit kehangatan kalau saja ia beranikan diri membakar satu batang dari ikatan itu dan menggesekkannya pada dinding. Ia menarik sebatang.
“Rrrrssttt!” lihat cahayanya, ia terbakar! Api kecil yang hangat dan terang, seperti lilin, ia menangkupkan tangannya pada cahaya itu, cahaya yang menyenangkan. Gadis kecil itu merasa seolah ia duduk di depan tungku perapian besi yang besar dengan kaki kuningan mengkilat dan hiasan kuningan di bagian atasnya. Apinya membawa kehangatan yang menyenangkan. Gadis kecil menjulurkan kakinya supaya hangat, namun api kecil itu padam, dan tungku itu lenyap. Yang tertinggal hanya puntung korek api di tangannya.

Ia menggesekkan sebatang korek api lagi ke dinding, korek itu menyala terang, dan pada tempat di dinding yang tertimpa cahayanya, dinding menjadi tembus pandang dan ia dapat melihat ke dalam ruangan di baliknya. Di atas meja terbentang alas meja seputih salju, di atasnya alat-alat makan porselin yang indah dan angsa panggang yang masih berasap dengan isi apel dan plum kering. Angsa itu melompat dari piringnya, melenggaklenggok di lantai dengan pisau dan garpu menancap di dadanya, dan ketika ia tiba di depan gadis itu, korek api padam hanya
meninggalkan tembok tebal yang dingin dan lembab di depannya. Ia menyalakan sebatang korek api lagi. Kali ini ia duduk di bawah pohon natal yang luar biasa indah. Pohon natal itu jauh lebih besar dengan hiasan yang jauh lebih indah dari yang dilihatnya dari pintu kaca di rumah pedagang kaya itu.

Ribuan lampu menyala pada cabang-cabang pohon yang hijau, dan gambar-gambar berwarna cerah seperti yang dilihatnya di jendela toko seolah memandangnya dari atas. Ia menjulurkan tangannya ke lampu-lampu itu dan korek api padam. Lampu-lampu pohon natal itu naik makin tinggi dan tinggi, gadis itu melihatnya seperti bintang-bintang di langit, dan satu jatuh, membentuk jejak panjang seperti garis api.
“Seseorang baru meninggal!” kata gadis kecil itu. Neneknya, satu-satunya orang yang menyayanginya, yang sekarang sudah tiada, mengatakan kepadanya, bila sebuah bintang jatuh, maka satu jiwa naik ke surga.

Ia menarik sebatang korek api lagi dan dalam cahayanya ia melihat neneknya yang tua, begitu terang dan bercahaya, begitu lembut dan penuh kasih. “Nenek!” jerit si kecil, “Oh, Nek, bawa aku bersamamu! Nenek akan pergi bila korek api ini padam, nenek akan menghilang seperti tungku yang hangat itu, seperti angsa panggang yang lezat dan seperti pohon natal indah itu!” Ia pun dengan cepat menggesekkan seikat korek api ke dinding, karena ia ingin menahan neneknya bersamanya. Dan cahaya korek api itu begitu terang, lebih terang dari siang hari.

Belum pernah ia melihat neneknya begitu cantik dan tinggi. Ia menarik gadis kecil itu ke dalam pelukannya, dan mereka berdua terbang tinggi, begitu tinggi, di mana tiada dingin, lapar atau cemas, karena mereka sekarang bersama Tuhan Namun di sudut itu, pada dini hari, duduk gadis kecil malang, dengan pipi merona dan senyum di bibirnya, bersandar di dinding, membeku kedinginan pada malam terakhir tahun lalu. Ia duduk kaku dan dingin dengan korek apinya. Seikat sudah terbakar. “Ia ingin menghangatkan dirinya,” kata orang-orang.

Tak seorang pun menduga bahwa ia telah melihat kejadian-kejadian indah, tak seorang pun mengira bahwa bersama neneknya ia telah memasuki kebahagiaan tahun baru. (Dongeng sepanjang masa. Hans Christian Andersen).

Latihan Soal !

  1. Mengapa gadis penjual korek api itu kedinginan dan lapar?
  2. Apa yang dilakukannya untuk mengahatkan tubuhnya ?
  3. Apa harapan dari gadis penjual korek api?

 

Mari mendengar cerita! Santa Monika.

Monika dilahirkan pada tahun 331 di Tagaste, Algeria, Afrika Utara dari keluarga Kristen yang taat. Leluhurnya bukan penduduk asli Afrika, tetapi perantauan dari Fenisia.

Monika dinikahkan dengan Patrisius, seorang pegawai tinggi pemerintahan kota. Mereka dikaruniai 3 orang anak bernama:  Agustinus, Navigius dan Perpetua (yang kelak memimpin biara). Patrisius seorang kafir. Ia bertabiat buruk, suka naik pitam dan sering mentertawakan usaha keras Monika untuk mendidik Agustinus menjadi pemuda Kristiani. Meskipun demikian, Monika tidak pernah membantah ataupun bertengkar dengan suaminya.Tak henti-hentinya ia berdoa agar suami dan puteranya segera bertobat dan menerima Kristus.

Pada tahun 371 Patrisius meninggal. Mendekati ajalnya ia bertobat dan minta di baptis. Bahkan ibu Patrisius pun juga dibaptis. Sementara itu, Agustinus belum juga mau menjadi seorang Kristen. Meski tidak ada tanda-tanda bahwa doanya dikabulkan Tuhan, Monika dengan setia tetap berdoa untuk Agustinus setiap kali berdoa air matanya mengalir dari kedua matanya. Tuhan mendengarkan keluh kesah Monika dan menguatkannya dengan suatu mimpi. Dalam mimpinya, Monika melihat dirinya sendiri berada di atas sebuah mistar dari kayu, kemudian datanglah seorang pemuda yang berseri-seri dan bercahaya wajahnya. Pemuda itu bertanya,
“Mengapa ibu bersedih? Apa yang menyebabkan ibu menangis setiap hari?” Monika menjawab bahwa ia sedih karena tidak tahan melihat kebijaksanaan Agustinus, putranya. Maka pemuda itu mengajak Monika untuk melihat dengan saksama. Segeralah terlihat oleh Monika bahwa Agustinus ada bersamanya di atas mistar. Kata pemuda itu, “Di mana engkau berada, ia pun berada.”

Telah lama waktu berlalu sejak mimpinya itu, namun Agustinus masih juga hidup dalam dosa. Oleh karena itu Monika terus datang kepada Bapa Uskup memohon-mohon dan mendesak-desak dengan air mata bercucuran supaya uskup mau menengok dan menasehati Agustinus. Lama-kelamaan Uskup menjadi bosan dan
kehilangan kesabarannya, sehingga ia berkata, “Pergilah, jangan menggangguku; demi hidupmu tak mungkinlah binasa anakmu sudah sekian banyak air mata yang keluar dari matamu!” Monika amat gembira sebab ia percaya pada apa yang dikatakan Bapa Uskup bahwa Agustinus tidak mungkin binasa.

Pada tahun 383 Agustinus bersama Alypius, sahabatnya, hendak berangkat ke Roma dan Milan untuk mengajar. Monika tidak setuju karena waktu itu Roma buruk peradabannya. Di pantai menjelang keberangkatannya, Monika menawarkan hanya dua pilihan kepada Agustinus: pulang dengannya atau Monika ikut dengan Agustinus ke Italia. Dengan tipu dayanya Agustinus meninggalkan ibunya seorang
diri di kapel Beato Cyprianus yang terletak di tepi pantai, sementara ia dan Alypius berlayar ke Italia.

Monika amat sedih, seorang diri ia menyusul Agustinus ke Italia. Penderitaan berat ditanggungnya terutama karena kapal yang ditumpanginya hampir karam karena badai. Tuhan menguatkan Monika dengan janji-Nya bahwa ia akan bertemu dengan puteranya sesampainya di Italia.

Monika bersahabat baik dengan St. Ambrosius, Uskup kota Milan. Agustinus mulai tertarik dengan khotbah dan ajaran-ajaran Uskup Ambrosius hingga akhirnya Agustinus dibaptis. Dua bulan kemudian, yaitu bulan Juni tahun 387 Agustinus, Alypius & Monika berencana pulang kembali ke Tagaste, Afrika. Dalam perjalanan pulang mereka singgah di Ostia, di dekat muara sungai Tiber. Monika dan Agustinus mereka berdua berdiri bersandar pada jendela rumah persinggahan mereka. Mereka terlibat dalam pembicaraan yang sangat menarik mengenai seperti
apa kiranya kehidupan para kudus di surga. Diliputi rasa bahagia yang amat sangat Monika berkata kepada Agustinus, “Anakku, bagiku tidak ada lagi yang dapat memukauku dalam kehidupan ini. Apa lagi yang dapat kuperbuat di dunia ini? Untuk apa aku di sini? Entahlah, tak ada lagi yang kuharapkan dari dunia ini. Ada satu hal
saja yang tadinya masih membuat aku ingin tinggal cukup lama dalam kehidupan ini, yaitu melihat engkau menjadi Kristen Katolik sebelum aku mati. Keinginanku sudah dikabulkan sevara berlimpah dalam apa yang telah diberikan Allah kepadaku: kulihat kau sudah sampai meremehkan kebahagiaan dunia ini dan menjadi hamba-
Nya. Apa yang kuperbuat lagi di sini?”

Lima hari kemudian Monika jatuh sakit. Kepada kedua putranya, Agustinus dan Navigius, Monika berpesan, “Yang kuminta kepada kalian hanyalah supaya kalian memperingati aku di altar Tuhan di mana saja kalian berada.” Hanya supaya ia diingat di altar-Mu, itulah keinginannya. Sebab ia telah melayani altar itu tanpa melewati satu hari pun. Pada hari yang kesembilan Monika wafat dalam usia 56 tahun. Santa Monika dihormati sebagai pelindung ibu rumah tangga. Pestanya dirayakan setiap tanggal 27 Agustus.

Latihan Soal!

  1. Siapakah Santa Monika?
  2. Apa yang dilakukan ketika anak-anaknya berperilaku tidak baik?
  3. Apa yang dapat kita teladani dari Santa Monika?

Rangkuman !

• Santa Monika berdoa selama 20 tahun, barulah ia melihat Tuhan menjawab doanya.
• Janganlah kita berputus asa , karena Tuhan mempunyai rencana yang indah untuk hidup kita.

 

 

SD3-K2.3-Agama Katolik – Sakramen Tobat

C. Sakramen Tobat.

Cerita : Malin Kundang.

Dahulu kala hiduplah seorang janda miskin yang mempunyai anak yang bernama Malin Kundang. Ibu dan anak ini hidup miskin dalam sebuah pondok di luar kota. Mata pencaharian mereka hanyalah mencari kayu bakar di hutan dan menjualnya ke pasar.

Walaupun hidupnya susah, ibu itu tidak mengeluh dan tidak putus asa. Ia tetap bekerja mengumpulkan dan menjual kayu bakar dengan sekuat tenaga. Hasil penjualan kayu bakar digunakannya untuk membeli makanan, pakaian, dan selebihnya ditabung untuk keperluan masa depan anaknya, Malin Kundang.

Usahanya itu dijalankan dengan tekun, dari bulan ke bulan, tahun ke tahun. Pada suatu hari, Malin Kundang meminta izin kepada ibunya untuk merantau. Demi masa depannya, ibu Malin Kundang mengizinkannya. Semua uang tabungannya diberikan kepada Malin Kundang sebagai bekal. Sang ibu berpesan kepada anaknya agar ia segera kembali, entah mendapat keberuntungan atau tidak. Sesudah berjanji kepada ibunya bahwa ia akan segera kembali, berangkatlah Malin Kundang untuk merantau.

Di perantauan, sesudah mengalami berbagai kesulitan, akhirnya Malin kundang berhasil menjadi pengusaha yang sukses. Bahkan ia berhasil menikah dengan putri seorang pedagang yang kaya raya, sehingga Malin Kundang menjadi semakin kaya.

Pada suatu hari, dalam pelayaran dagang keliling nusantara, kapalnya singgah di kota kediaman ibunya. Orang-orang sekampung yang masih mengenal Malin Kundang segera memberitahu ibunya bahwa mereka melihat Malin Kundang. Maka datanglah sang ibu untuk menjumpai anaknya. Dari jauh Malin Kundang melihat ibunya datang dan masih mengenalinya. Walaupun sudah tua dan sakit-sakitan. Tetapi, Malin Kundang tidak mau menjumpainya. Ia malu terhadap istri dan anak-anaknya, jika mereka mengetahui bahwa wanita tua dan miskin itu adalah ibunya. Ia tetap menolak ibunya, walaupun ibunya hanya meminta waktu sejenak untuk memandang wajahnya. Ia meminta kepada anak buahnya agar kapal segera bertolak dari kota pelabuhan itu. Kapalpun bertolak dari pelabuhan dan makin lama makin jauh. Tiba-tiba, datanglah badai gelombang yang dasyat. Guntur menggelegar. Kilat menyambar-nyambar. Kapal Malin Kundang diangkat gelombang tinggi, lalu dihempaskan ke dalam laut. Semua orang di dalam kapal itu meninggal. Tidak satupun yang selamat. Kata orang, tempat kapal Malin Kundang tenggelam sampai sekarang masih ada, yakni berupa sebuah batu karang berbentuk kapal. (cerita ini diambil dari cerita rakyat Sumatra Barat).

Pertanyaan.

  1. Bagaimana perasaanmu tentang cerita di atas ?
  2. Apakah ada cerita sejenis ini di daerahmu ?
  3. Apa pesan cerita diatas bagi kita?
  4. Apakah kamu sering membantah orang tuamu ?
  5. Bagaimana perasaanmu jika melakukan perbuatan yang tidak baik terhadap orangtuamu ?

Mari mendengar Kitab Suci.

Yohanes 8:1-11

Pada suatu pagi Yesus berada di Bait Allah. Di dalam Bait Allah sudah penuh dengan orang banyak yang mau mendengarkan pengajaran-Nya. Sementara Yesus mengajar, masuklah para ahli Taurat dan orang-orang Farisi sambil menyeret seorang perempuan yang tertangkap basah sedang berbuat zinah. Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah Bait Allah, dan berkata kepada Yesus., “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Menurut hukum Musa, ia harus dihukum mati. Apakah pendapat-Mu mengenai hal ini?”

Yesus tidak menjawab pertanyaan mereka, tetapi membungkuk lalu menulis dengan jarinya di tanah. Tetapi karena mereka terus menerus bertanya, maka Ia bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka, “Barangsiapa di antara kamu yang tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Lalu Yesus membungkuk lagi dan menulis di tanah. Mendengar perkataan Yesus itu, pergilah mereka satu persatu, mulai dari yang tertua. Lalu bertanyalah yesus kepada perempuan itu, “hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah orang yang akan menghukum engkau?” Jawabnya, “Tidak ada, Tuhan.” Lalu kata Yesus, “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang!”

Latihan Soal :

  1. Siapakah ahli taurat itu ?
  2. Siapakah Kamu Farisi itu ?
  3. Apa maksud mereka perempuan yang berdosa kepada Yesus?
  4. Bagaimana reaksi Yesus?
  5. Mengapa orang Farisi dan ahli Taurat pergi satu persatu ?

 

Mari mendengar Kitab Suci.
Yohanes 20: 19-23

Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu, berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu, datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata,”Damai sejahtera bagi kamu!” dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Mereka bersukacita karena melihat Tuhan. Maka kata Yesus sekali lagi, “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” Dan sesudah berkata demikian, Ia menghembusi mereka dan berkata, “Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada”

Latihan Soal :

  1. Kata-kata apa yang diucapkan Yesus untuk memberi kuasa kepada rasul-rasulnya untuk mengampuni dosa?  Jawab : Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.
  2. Dari mana iman-iman kita sekarang mendapat kuasa untuk mengampuni dosa?  Jawab : Kuasa dari Yesus.
  3. Kata-kata pengakuan apa yang diucapkan oleh Bapa sebagai tanda pengampunan dari Tuhan? …
  4. Syarat apa yang dibutuhkan supaya dosa seseorang diampuni dalam sakramen tobat? …
  5. Bagaimana tata cara penerimaan sakramen Tobat? …

 

Rangkuman.
• Dosa berarti berbalik dari Tuhan, sesama dan lingkungan.
• Dosa selalu merugikan diri sendiri dan sesama.
• Bertobat berarti kembali kepada Tuhan, sesama, dan lingkungan.
• Tuhan sangat senang menerima kembali setiap orang yang bertobat dan kembali kepada-Nya.
• Sakramen Tobat merupakan tanda bahwa Tuhan mengampuni dosa-dosa kita kalau kita sungguh-sungguh bertobat.
• Kuasa pengampunan dosa diberikan Tuhan Yesus kepada para Rasul, yang diserahkan kepada para penggantinya, yaitu kepada Uskup-Uskup dan Imam-
Imam sampai sekarang.
• Imam memberikan pengampunan atas nama Tuhan, bukan atas namanya sendiri.
• Imam memberikan nasihat dan memberi denda (penitensi) atas dosa-dosa kita.

SD3-K2.4-Agama Katolik – Iman

D. Iman.

Mari berdoa.

Doa Aku Percaya atau Syahadat Para Rasul.
Aku percaya akan Al lah, Bapa yang Mahakuasa.
pencipta langit dan bumi.
Dan akan Yesus Kristus, Putra-Nya yang tunggal Tuhan kita,
yang dikandung dari Roh Kudus,
dilahirkan oleh perawan Maria;
yang menderita sengsara dalam pemerintahan Pontius Pilatus.
disalibkan,
wafat dan dimakamkan;
yang turun ke tempat penantian,
pada hari ke tiga bangkit dari antara orang mati;
yang naik ke surga,
duduk di sebelah kanan Al lah Bapa yang Mahakuasa;
dari situ Ia akan datang mengadili orang hidup dan mati.
Aku percaya akan Roh Kudus,
Gereja katolik yang kudus
Persekutuan para kudus,
pengampunan dosa,
Kebangkitan badan,
kehidupan kekal. Amin.

 

Mari mendengar cerita!

Ada dua orang anak nelayan yang bersampan dengan bapanya ke tengah laut untuk menangkap ikan. Ketika mereka sedang mencari ikan di tengah laut, datanglah badai yang dahsyat. Laut menjadi ganas. Sampan mereka terus menerus
dipukul dan dibanting gelombang-gelombang laut. Pada suatu saat sampan mereka terbalik. Seorang anak memisahkan diri dan mencari jalannya sendiri, berusaha untuk berenang ke pantai.

Anak yang satu lagi tetap berpegang pada bapanya dan mengikuti semua petunjuk bapanya. Ia begitu percaya bahwa bersama bapanya ia akan selamat. Mereka tetap berpegang pada sampan mereka yang sudah terbalik itu. Sesudah badai mereda, mereka membalikkan lagi sampan dan bersama-sama pulang. Mereka kembali dengan selamat ke rumah, tetapi anak yang mencari jalannya sendiri itu tidak pernah kembali lagi. Sekiranya ia percaya dan tetap bersama bapanya, serta mengikuti petunjuk bapanya pasti ia selamat juga.

Mari mendengar Kitab Suci, Perumpamaan tentang orang farisi dan pemungut cukai.

Lukas 18: 10-14.

Ada dua orang pergi ke bait Al lah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Al lah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.

Diskusikan dengan temanmu !

  1. Apa arti iman dan siapakah diriku ?
  2. Orang yang merasa diri hebat atau orang yang merasa diri berdosa dihadapan Tuhan ?

 

Rangkuman :

  • Dalam Injil Lukas 18: 10-14, Yesus menceritakan ada dua orang pergi ke bait Allah untuk berdoa.
  • Yang satu memberitahukan kepada Tuhan hal-hal hebat yang telah ia lakukan, yang lain menyadari bahwa dirinya telah gagal untuk hidup menurut kehendak
    Tuhan.
  • Doa orang yang merasa dirinya berdosa yang didengarkan, karena doa itu diungkapkan dengan penuh kepercayaan akan kebaikan Allah yang menolongnya.
  • Iman berarti percaya kepada Tuhan dan mengandalkan Tuhan dalam setiap langkah hidup, baik suka maupun duka.
  • Kita jangan melupakan Tuhan dan mengandalkan kemampuan diri sendiri.
  • Kita harus menyadari pertolongan Tuhan sangat kita butuhkan dalam perjalanan hidup ini.
  • Membutuhkan pertolongan, berarti mengandalkan kepercayaan, bahwa Tuhan pasti menolong.

 

Selamat Belajar Pascal !

 

SD3-K2.2-Agama Katolik-Sakramen Ekaristi

Mari mendengar cerita :

Ada seekor induk Pelikan yang tinggal di sebuah pulau kecil di tengah laut bersama dua anaknya yang masih kecil. Setiap hari, induk pelikan terbang jauh mencari makan dan sore hari dia baru pulang membawa makanan untuk anak-anaknya.  Suatu hari induk Pelikan sudah terbang ke mana-mana, tetapi dia tidak mendapatkan makanan. Dengan sedih dia mendekati sarangnya. Dari jauh sudah terdengar suara anak-anaknya bercericit meminta makan. Hati induk Pelikan itu tidak tega. Induk pelikan ingin mendapat makanan untuk anak-anaknya ia terbang
lebih tinggi dan lebih jauh. Namun ia tetap tidak mendapat makanan. Akhirnya ia pulang larut malam dengan tangan kosong. Suara anak-anaknya terdengar lemah dan menangis meminta makanan. Hati induk pelikan semakin sedih.

Induk pelikan sampai di sarang. Anak-anaknya menyambut gembira, karena mereka membayangkan ibunya membawa makanan yang banyak. Anak-anaknya sudah siap menengadahkan paruhnya dan membuka siap menerima makanan. Namun apa mau dikata, tidak ada makanan yang dapat diberikan induknya kepada mereka. Anak-anaknya makin menjerit dengan suara yang hampir habis. Induk pelikan menangis melihat anakanaknya dan tidak ingin mereka mati kelaparan. Ia memberikan dirinya sendiri kepada anak-anaknya. Karena sedih dan kelelahan
mencari makan untuk diberikan kepada anak-anaknya, akhirnya  Induk Pelikan itu mati dan anak-anaknya hidup.

Mateus 26: 17-19; 26-30.

Pada hari pertama dari hari raya Roti Tidak beragi datanglah murid-murid Yesus kepada-Nya dan berkata: “Di mana Engkau kehendaki kami mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?” jawab Yesus: “Pergilah ke kota kepada si Anu dan
katakan kepadanya: “Pesan Guru waktu-Ku hampir tiba; di dalam rumahmulah Aku mau merayakan Paskah bersama-sama dengan murid-murid-Ku.” Lalu murid-murid-Nya melakukan seperti yang ditugaskan Yesus kepada mereka dan mempersiapkan Paskah.

Setelah hari malam, Yesus duduk makan bersama-sama dengan kedua belas murid itu. Dan ketika mereka sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada murid-murid-Nya dan berkata: “Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku.” Sesudah itu mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: “Minumlah, kamu semua, dari cawan ini, sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa. Akan tetapi Aku berkata kepadamu: mulai dari sekarang Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur ini sampai pada hari
Aku meminumnya, yaitu yang baru, bersama-sama dengan kamu dalam Kerajaan Bapa-Ku. Kemudian Yesus berpesan, “Buatlah ini selalu sebagai peringatan akan Daku.”

Latihan Soal :

  1. Apa pesan Yesus kepada para Rasul pada perjamuan malam terakhir ?
  2. Apa lambang tubuh dan darah Kristus ?
  3. Apa pesan Yesus pada akhir perjamuan ?

Rangkuman!

  1. Setiap orang yang sudah babtis wajib mengikuti perayaan Ekaristi.
  2. Setiap kali mengikuti perayaan Ekaristi kita bertemu dengan Tuhan dan bersatu dengan sesama umat lainnya.
  3. Ekaristi adalah sumber kehidupan bagi orang Katolik. Dalam Perayaan Ekaristi ada bagian yang penting yang disebut komuni.  Komuni adalah saat umat menyambut tubuh dan darah Kristus.
  4. Dalam komuni kita dipersatukan dengan Kristus dan jemaat lainnya. Karena itu sebelum menerima komuni kita harus melakukan persiapan batin dengan berdoa yang baik dan juga menerima komuni dengan sikap yang baik.
  5. Perayaan Ekaristi adalah perayaan syukur, kenangan akan perjamuan malam terakhir.
  6. Perayaan Ekaristi yang selalu kita rayakan sekarang berasal dari pesan Yesus.
  7. Roti adalah Tubuh Kristus dan anggur adalah darah  Kristus.
  8. Komuni adalah penerimaan tubuh dan darah Kristus oleh umat.
  9. Komuni kudus mempersatukan kita dengan Tuhan dan umat beriman lainnya.
  10. Perayaan Ekaristi terdiri atas dua bagian pokok, yaitu liturgi Sabda dan liturgi Ekaristi. Kedua bagian ini masih dibagi menjadi empat bagian yang lebih
    kecil, yaitu:

    • pembukaan : Lagu pembuka, tobat, kemudian, doa pembuka,
    • liturgi Sabda : Bacaan Kitab Suci, Mazmur, Alleluya, Homili/Kotbah, Doa Umat.
    • liturgi Ekaristi : persembahan, Kudus, Doa Syukur Agung, Bapa Kami, Doa Damai, anak domba Allah, Komuni.
    • Penutup : Berkat Perutusan, Lagu Penutup.

SD3-K2.1- Agama Katolik – Sakramen Baptis

 

GEREJA.

A. Sakramen Baptis.

Kisah Yesus dibaptis di sungai Yordan.

Pada waktu itu Yesus berusia kira-kira tiga puluh tahun. Yosef sudah meninggal. Yesus tinggal bersama ibu-Nya, di Nasaret. Nasaret terkenal sebagai wilayah yang miskin dan tak berarti.

Pada suatu hari Yesus meninggalkan Nasaret dan pergi ke sungai Yordan tempat Yohanes pembaptis berkotbah dan membaptis orang yang bertobat. Ketika Yesus datang , berkatalah Yohanes, “Akulah yang perlu Engkau baptis, mengapa justru
Engkau yang datang kepadaku?”. Jawab Yesus, “Biarlah hal itu terjadi.” Setelah itu Yesus turun ke sungai dan dibaptis. Pada saat itu langit terbuka, dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya. Lalu terdengarlah suara dari Surga:”Inilah anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.”

Demikianlah pada hari itu Yesus dilantik menjadi Putra Allah, sebagai raja semesta alam. Dialah yang menyelamatkan kita. Ia rendah hati, maka Ia membiarkan diri-Nya dibaptis oleh Yohanes (Bdk. Lukas 3:21-22; Mateus 3: 13-17; Markus 1:9-11, Yohanes 1:32-34).

Dalam Sakramen Babtis ada lima simbol yang harus dipersiapkan.

Simbol –simbol tersebut adalah:
1. Air.
Air baptis membersihkan orang dari dosa-dosanya. Orang yang dibaptis dilahirkan kembali dalam hidup baru sebagai anak-anak Allah.

2. Nama Baptis.
Orang yang dibaptis akan menggunakan nama baptis. Nama baptis diambil dari nama Santo dan Santa, misalnya Yohanes, Bernadeta, Fransiskus, Lusia, Dominikus dan lain-lainnya. Oleh karena itu, kita harus mengenal riwayat hidup Santo dan Santa yang namanya kita ambil sebagai nama Baptis kita. Dengan
menggunakan nama para Santo dan santa, kita diharapkan meneladan sikap dan tindakannya. Kita dapat berdoa kepada Allah dengan perantaraan Santo dan Santa pelindung kita.

3. Minyak Krisma,
Minyak Krisma merupakan lambang Roh Kudus. Diurapi minyak Krisma berarti dikuatkan oleh Roh Kudus.

4. Lilin bernyala,
Dengan dibaptis kita telah menerima terang Kristus. Lilin bernyala sebagai lambang semangat baru. Pemberian lilin bernyala dimaksudkan agar semangat hidup baru itu dijaga agar tetap hidup seperti terang lilin itu.

5. Kain Putih,
Kain putih sebagai lambang hidup baru yang suci. Pemberian kain putih ini dimaksudkan agar semangat hidup baru tetap dijaga kesuciannya seperti kain putih yang tetap bersih.

Rangkuman.

• Dalam Gereja Katolik ada tujuh Sakramen yakni Baptis, Krisma, Ekaristi, Tobat, Imamat, Perkawinan, dan Peminyakan Suci.

• Rahmat Sakramen Baptis: dibersihkan dan disucikan, dipersatukan dengan Kristus, menjadi anggota Gereja.

• Lambang atau simbol yang digunakan dalam sakramen Baptis: air, lilin bernyala, minyak Krisma, kain putih, dan nama baptis.

• Tugas –tugas orang yang sudah dibaptis: hidup sebagai orang Katolik yang baik dan bersama Gereja turut membangun masyarakat.