Arsip Tag: keragaman

SD4.7.4 – SD Kelas 4 Tema 7 – Indahnya Persatuan dan Kesatuan dalam Keragaman. Proyek

SD4.7.3 – SD Kelas 4 Tema 7 – Indahnya Keragaman di Negeriku.
Subtema 4: Proyek dan Bacaan.

Mengamati dan Mendeskripsikan
Lakukan wawancara kepada warga sekolahmu: kepala sekolah, guru, siswa, dan penjaga. Tanyakan kepada mereka pertanyaan-pertanyaan mengenai informasi-informasi berikut.
1. Asal daerah.
2. Nama suku bangsa.
3. Bahasa daerah yang digunakan sehari-hari.
4. Kegiatan ekononomi dalam keluarga (misalnya: dalam perdagangan, pertanian, industri, peternakan, atau jasa).

Mempertanyakan dan Menganalisis. Dari hasil wawancara, susunlah data sebagai berikut.

Mengamati dan Mendeskripsikan.
Dari kegiatan pada Pembelajaran 1, kamu dan teman-temanmu telah mengetahui keragaman di sekolahmu. Pada Pembelajaran 2 ini, lakukan wawancara lagi kepada warga sekolahmu.
Wawancara dilakukan untk mengetahui tingkat kenyamanan lingkungan sekolah bagi warga sekolah berkaitan dengan keragaman warga sekolah. Pertanyaan yang diajukan untuk mengetahui apakah warga sekolah merasa nyaman dengan adanya keragaman di sekolah. Jika tidak, hal-hal apa yang menyebabkan ketidaknyamanan itu.

Mempertanyakan dan Menganalisis.
Setelah mendapatkan fakta-fakta hasil wawancara, selanjutnya analisislah fakta-fakta hasil wawancara.
– Apabila sebagian besar warga sekolah merasa nyaman, apa yang harus dilakukan untuk mempertahankan suasana nyaman itu?
– Sebaliknya, apabila sebagian besar warga sekolah merasa tidak nyaman, apa penyebabnya? Apa yang harus dilakukan supaya tercipta kenyamanan dalam kehidupan sekolah?

Dari hasil kegiatan pada Pembelajaran 1 dan Pembelajaran 2, siapkan sebuah presentasi. Presentasi memuat hal-hal berikut.
– Keragaman latar belakang daerah asal, suku bangsa, bahasa daerah, dan aktivitas ekonomi dalam keluarga.
– Pengaruh keragaman bagi kehidupan warga sekolah.
– Cara menciptakan kenyamanan bagi kehidupan warga sekolah dalam keragaman.
Kerjakan secara berkelompok. Buatlah presentasi kelompokmu semenarik mungkin. Buatlah menjadi sebuah montase dengan menambahkan gambar- gambar atau foto-foto dari warga sekolah dan kegiatannya.

 

Pembelajaran 2.

Pada hari ke-4 ini, lanjutkan untuk membuat presentasi. Bekerjasamalah dengan sungguh-sungguh dalam kelompokmu. Bagi-bagilah tugas di antara semua anggota kelompokmu sehingga semua dapat aktif berperan serta.

Presentasi.
Secara bergiliran, presentasikan hasil kerja kelompokmu. Sampaikan dengan bahasa yang jelas dan mudah dimengerti. Sampaikan dengan suara yang lantang tetapi tidak berteriak. Sebaiknya, berbagilah tugas dengan anggota kelompokmu. Ada yang memegang alat bantu presentasi, misalnya montase yang telah dibuat. Beberapa anggota dapat bergantian dalam menyampaikan presentasi secara berkelanjutan.
Saat kelompok lain melakukan presentasi, perhatikan dengan baik. Sebelum diberi kesempatan untuk bertanya, duduklah dengan tenang. Saat kamu diberi kesempatan untuk bertanya atau memberi masukan, sampaikan pertanyaan atau masukanmu dengan jelas.

Melakukan Refleksi
Pada pertemuan penutup tema ini, lakukan kegiatan refleksi dengan langkah-langkah berikut.
1. Menuliskan kejadian-kejadian yang telah kamu lalui selama satu minggu terakhir ini.
2. Menuliskan kesan terhadap pengalaman tersebut (puas atau tidak puas, senang atau tidak senang, gelisah atau mantap).
3. Menuliskan rencana perbaikan untuk kegiatan serupa yang akan datang.
Pajanglah renunganmu di ruang kelas agar bisa dipelajari dan dipahami oleh teman-temanmu.

 

Literasi – Bacaan 1.

Indahnya Kebersamaan.

Aku tinggal di Perumahan Griya Indah. Keluargaku baru dua bulan tinggal di Perumahan Griya Indah. Warga Perumahan Griya Indah ternyata sangat beragam, baik suku bangsa, agama, maupun profesi warganya. Namun, kebersamaan selalu mewarnai setiap kehidupan sehari-hari.

Sungguh kami tidak menduga kedatangan kami disambut oleh warga perumahan. Dua hari sebelum kami pindah, ayahku sudah lapor kepada ketua RW. Mungkin karena itulah kami mendapat sambutan dari warga perumahan. Ada acara sederhana menyambut kedatangan kami.

”Selamat datang Pak Hary dan keluarga. Selamat bergabung di Perumahan Griya Indah. Semoga Pak Hary dan keluarga bisa segera berbaur dengan kami, warga yang sudah lebih dahulu menjadi penghuni Perumahan Griya Indah,” sambut Pak Arif, selaku Ketua RW.

”Terima kasih, Pak. Kami sungguh tidak menyangka akan mendapat sambutan yang begitu ramah dari semua warga. Kami berjanji akan membaur menjadi warga Perumahan Griya Indah ini. Semoga kehadiran kami di sini diterima dengan baik.”

Setelah itu, satu per satu para warga bersalaman dengan kami. Tidak hanya bapak-bapak dan ibu-ibu, tetapi ada juga remaja dan anak-anak yang ikut dalam penyambutan kami. Tiba-tiba saja rasa haru menyeruak dalam hati mendapat sambutan yang begitu hangat.

Hari itu juga aku berkenalan dengan beberapa teman. Ada Kemal, Entin, Bram, Tiur, Ronal, Melani, dan masih banyak lagi. Dari namanya aku menduga mereka berasal dari suku bangsa berbeda. Ternyata dugaanku tidak salah. Kemal bersuku bangsa Madura. Entin bersuku bangsa Sunda. Bram berasal dari Maluku. Tiur dari Batak. Ronal dari Minahasa. Melani seorang anak Tionghowa.

Pada hari itu juga kami menata rumah dibantu oleh para warga. Pekerjaan berat menjadi ringan dikerjakan bersama-sama. Dengan bantuan warga, rumah baru kami menjadi tertata. Semua barang sudah diletakkan di tempat yang sesuai. Kami tinggal menata perlengkapan pribadi kami masing-masing.
Di Perumahan Griya Indah ini ada sanggar seni. Anggotanya adalah para remaja dan anak-anak. Di sanggar seni ini ada kegiatan menari dan bermain musik. Ada tarian Jawa, Sunda, dan Bali yang diajarkan di sanggar seni tari. Ada angklung dan kulintang yang diajarkan di sanggar seni musik. Aku pun menjadi anggota sanggar seni. Aku memilih belajar tari Bali. Sementara itu, kakakku menjadi anggota kesenian kulintang. Kami berasal dari Jawa. Namun, kami tidak hanya ingin mempelajari budaya Jawa. Kami juga ingin mempelajari seni dari suku bangsa lain.

Selama dua bulan aku belajar tari Pendet, tarian terkenal dari Pulau Dewata. Selain aku ada beberapa teman yang belajar tari Pendet. Melani salah satunya. Aku kagum dengan Melani, ternyata ia sangat luwes menari. Kerling mata dan gerakan-gerakan tangan dan kakinya sangat indah dan serasi.
Bulan Agustus pun segera tiba. Seperti di tempat-tempat lain, warga Perumahan Griya Indah pun sibuk mempersiapkan peringatan HUT RI yang dirayakan setiap tanggal 17 Agustus. Ada beberapa kegiatan dan acara yang akan dilaksanakan di Perumahan Griya Indah. Semua warga akan terlibat dalam acara tersebut.

Puncak dari semua kegiatan itu adalah Pentas Seni dan Pesta Warga. Dalam acara tersebut akan ditampilkan berbagai kesenian yang ditekuni warga perumahan. Aku dan kakakku juga akan tampil. Aku akan menarikan tari Pendet bersama beberapa temanku. Kakakku dan teman-temannya akan memainkan musik kolintang untuk mengiringi beberapa warga menyanyi. Pesta rakyat yang dimaksud adalah makan bersama seluruh warga perumahan. Menu yang disajikan juga makanan tradisional.
Yang unik dari acara ini adalah semua warga diminta mengenakan baju adat daerah masing-masing. Berhubung keluargaku bersuku Jawa, tepatnya Jawa Tengah, keluargaku mengenakan baju adat Jawa. Keluargaku jarang mengenakan pakaian adat. Biasanya ayah dan ibu hanya mengenakan pakaian adat pada acara-acara tertentu.

Selain mengenakan pakaian adat, setiap keluarga juga diminta membawa makanan khas daerah asal. Setiap keluarga bisa membawa sendiri atau bersama-sama dengan tetangga sesuku. Keluargaku mendapat bagian membawa makanan kecil. Ibuku lalu membawa kue wajik dan sosis solo, makanan khas Jawa Tengah.

Tepat pukul 19 acara Pentas Seni dan Pesta Rakyat dimulai. Acara dibuka dengan sambutan ketua RW, kemudian dilanjutkan dengan acara pentas seni. Ada tarian, ada nyanyian, ada permainan alat musik, bahkan ada pantomim dan pembacaan puisi. Semua hiburan dibawakan oleh warga. Pada sela-sela acara, sambil menikmati pertunjukan, kami minum dan makan makanan kecil yang tersedia.

Satu demi satu kesenian telah ditampilkan. Puncak dari semua acara tersebut adalah makan malam bersama. Sebelumnya, ketua RW mengajak kami menyanyi bersama. Sambil bergandengan tangan dan diiringi musik kulintang, kami menyanyikan lagu ”Satu Nusa Satu Bangsa”. Lagu yang menggambarkan kesatuan bangsa Indonesia walaupun berbeda-beda. Berbagai perasaan berkecamuk dalam hati, antara haru, bangga, dan syukur berpadu menjadi satu. Sungguh indah perbedaan di antara kami. Betapa indahnya kebersamaan yang kami lakukan di antara berbagai perbedaan.

***

 

Keragaman Bangsa Indonesia.

Indonesia adalah negara kepulauan dengan jumlah pulau lebih dari 13.000 pulau yang membentang di sepanjang wilayah Indonesia. Ada pulau besar, ada juga pulau kecil. Sebagian besar pulau sudah berpenghuni. Namun, ada juga pulau yang belum berpenghuni. Ribuan pulau itu menjadi salah satu kekayaan negara Indonesia.

Ada keragaman ras, budaya, suku bangsa, agama, bahasa, dan masih banyak lagi. Semua perbedaan itu mewarnai kehidupan bangsa Indonesia di seluruh wilayah Indonesia.
Keragaman masyarakat Indonesia dilatarbelakangi oleh keadaan berikut.
1. Kondisi negara sebagai negara kepulauan.
2. Letak strategis wilayah Indonesia.
3. Perbedaan kondisi alam wilayah Indonesia.
4. Sikap masyarakat terhadap perubahan yang terjadi.
5. Sarana transportasi dan komunikasi.

Kelima latar belakang itulah yang antara lain menjadikan Indonesia mempunyai beragam suku bangsa, agama, kepercayaan, dan ras di Indonesia. Letak geografis Indonesia di jalur perdagangan internasional serta kekayaan alam yang berlimpah menarik pedagang asing datang di Indonesia. Mereka melakukan kegiatan perdagangan dan menyebarkan agama serta kepercayaan.

Sementara itu, perbedaan ras adalah perbedaan sekelompok besar manusia yang memiliki ciri-ciri fisik yang sama. Antarmanusia memiliki perbedaan ras yang disebabkan oleh perbedaan ciri fisik, seperti rambut, warna kulit, bentuk badan, ukuran badan, bentuk mata, dan ciri fisik lainnya. Keragaman ras masyarakat Indonesia antara lain karena kehadiran bangsa asing ke wilayah Indonesia. Ras yang ada di Indonesia, antara lain ras Malayan-Mongoloid yang tersebar di wilayah Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Bali. Ras lain yang tersebar di wilayah Papua, NTT, dan Maluku adalah ras Malanesoid. Selanjutnya, ras Kaukosid yaitu orang India, Timur Tengah, Australia, Eropa, dan Amerika. Terakhir adalah ras Asiatic Mongoloid, seperti bangsa Tionghoa, Korea, dan Jepang. Ketiga ras ini menyebar di seluruh wilayah Indonesia, tetapi ada juga yang mendiami wilayah tertentu.

Sementara itu, budaya bersifat umum. Artinya, ada berbagai sifat umum yang melekat dan menyatu pada setiap budaya yang dihasilkan. Beberapa sifat umum budaya sebagai berikut.
1. Kebudayaan berdasar pada lambang.
2. Kebudayaan merupakan milik bangsa.
3. Kebudayaan dapat terintegrasi.
4. Kebudayaan selalu berubah.
5. Kebudayaan bisa disesuaikan.
6. Kebudayaan adalah hasil belajar.
7. Kebudayaan bersifat nisbi dan relatif.

Bagaimanakah kita bisa mengetahui dan memahami arti perbedaan bangsa Indonesia? Salah satu caranya adalah dengan mengunjungi pulau-pulau atau daerah-daerah di wilayah Indonesia. Dengan mengunjungi wilayah-wilayah tersebut, kita akan mengetahui perbedaan secara kewilayahan dan perbedaan sosial budaya masyarakat Indonesia

Aspek kewilayahan menjelaskan bahwa wilayah NKRI merupakan negara kepulauan dengan ribuan pulau besar dan kecil di dalamnya. Antarpulau disatukan oleh bentangan laut yang luas. Sebaliknya, aspek sosial budaya menjelaskan bahwa banyak perbedaan dalam masyarakat Indonesia. Agar tidak menimbulkan perselisihan, antargolongan harus saling menghargai dan menghormati. Dengan demikian, persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia akan tetap terjalin.

Keragaman di Indonesia, terutama keragaman budaya, dapat dimanfaatkan untuk hal-hal berikut.
1. Sumber pengetahuan bagi dunia.
2. Sebagai identitas di mata internasional.
3. Memupuk sikap toleransi.
4. Menumbuhkan sikap nasionalisme.
5. Menjadikan perbedaan sebagai alat pemersatu bangsa.

Jika kelima manfaat tersebut disadari dan dilaksanakan oleh bangsa Indonesia, niscaya tidak akan ada perselisihan yang menimbulkan perpecahan yang didasarkan pada perbedaan suku bangsa, ras, agama, kepercayaan, dan budaya. Justru perbedaan ini harus bisa mempererat persatuan dan kesatuan bangsa. Semboyan ”Bhineka Tunggal Ika” yang artinya berbeda-beda, tetapi tetap satu jua, tetap dan selalu mendasari persatuan bangsa Indonesia.

Disadur dari: http://www.markijar/2016/keberagaman-bangsa-indonesia.html, diunduh 26 September 2016.

***

Bacaan 3 – Mengikuti Festival Lagu Nusantara.

Bungong jeumpa, bungong jeumpa meugeh di Aceh.
bungong teuleubeh, teuleubeh indah lagoina Bungong jeumpa, bungong jeumpa
meugeh di Aceh
bungong teuleubeh, teuleubeh indah lagoina
Puteh kuning, meajampu mirah Bungong si ulah indah lagoina
….
Terdengar alunan lagu tersebut dari aula sekolah. Rara dan teman-temannya yang tergabung di paduan suara SD Teladan sedang berlatih. Mereka akan mengikuti Festival Lagu Nusantara.

Persiapan mengikuti festival tersebut sudah dilakukan sejak dua bulan lalu. Kala itu, Rara dan 24 temannya yang tergabung dalam Paduan Suara SD Teladan, dikumpulkan Bu Mutia dan Pak Amir di aula sekolah. Mereka akan mewakili SD Teladan, tempat Rara bersekolah, mewakili sekolah mengikuti Festival Lagu Nusantara.

Dalam festival tersebut setiap paduan suara diminta menyanyikan dua lagu. Lagu pertama telah ditentukan oleh panitia. Sebuah lagu berbahasa Indonesia yang menggambarkan keragaman Indonesia. Selanjutnya, untuk lagu kedua setiap paduan suara boleh memilih salah satu lagu daerah dari salah satu provinsi di Indonesia.

Saat itu Bu Mutia sudah membawa sejumlah lagu daerah. Lagu-lagu tersebut adalah ”Es Lilin”, lagu daerah Jawa Barat. ”Bungong Jeumpa” lagu daerah Aceh. Yang lainnya lagu ”Sapu Tangan Bapuncu Ampat” dari Kalimantan. Ada lagi lagu ”O Ina Ni Keke” lagu dari Sulawesi dan ”Apuse” lagi dari Papua.
”Nah, anak-anak, ibu sudah membawa beberapa lagu. Mari kita pilih salah satu lagu untuk kita nyanyikan nanti,” tawar Bu Mutia kepada murid-muridnya itu, ”Ibu akan meminta kalian membaca syair lagu-lagu ini. Kemudian, kalian tuliskan judul lagu yang kalian pilih di kertas dan serahkan kepada Pak Amir. Nanti ibu dan Pak Amir akan menentukan lagu dari pilihan kalian.”

Maka, pemilihan lagu pun berlangsung. Setiap anak memilih lagu yang disukai dan dianggapnya mudah. Mereka menuliskan judul lagu dan menyerahkannya kepada Pak Amir.

Setelah semua memilih, Pak Amir dan Bu Mutia berdiskusi. Ternyata, sebagian besar memilih lagu ”Bungong Jeumpa”. Ketika ditanya, setiap siswa punya jawaban beragam tentang pilihan lagunya. Salah satu alasan mereka adalah lagu lainnya sudah biasa mereka dengar. Bahkan, ada lagu yang sudah pernah mereka nyanyikan dalam berbagai acara.

”Dari semua lagu, tinggal lagu ”Bungong Jeumpa” yang belum kita nyanyikan. Walaupun tidak tahu artinya, pastilah lagu ini bagus syairnya,” jawab salah satu teman Rara.
”Iya, Bu. Biar kita bisa menyanyikan lebih banyak lagu daerah,” Rara ikut menjawab.
Maka, jadilah paduan suara SD Teladan memilih lagu ”Bungong Jeumpa” untuk dinyanyikan dalam festival.
”Nah, itu Dik, alasannya mengapa kakak menyanyikan lagu dari Aceh”.
Dandi pun mengangguk-angguk mendengar penjelasan kakaknya.

”Itu juga cerminan dari rasa cinta tanah air. Kita tidak hanya cinta budaya dan adat istiadat suku bangsa sendiri. Akan tetapi, kita juga harus mempelajari budaya dan adat istiadat suku bangsa lain di Indonesia. Perbedaan adat istiadat dan budaya itulah yang memperkaya negara kita. Perbedaan tidak menjadikan bangsa Indonesia terpecah belah. Justru perbedaan itu akan menjadikan kita semakin bersatu sebagai bangsa Indonesia.”

Hari yang ditunggu Rara dan teman-teman pun tiba. Dengan berkostum pakaian daerah Aceh, Rara dan teman-teman tampil dalam festival tersebut. Sungguh sangat indah tempat festival berlangsung. Setiap paduan suara mengenakan kostum dari berbagai daerah. Lagu-lagu daerah dari berbagai provinsi pun dinyanyikan dengan indah. Ada lagu Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Papua, Maluku, Bali, NTT, dan NTB. Semua peserta menyanyi dengan segala kemampuan mereka. Tidak ada saling mengejek. Tidak ada saling mencela. Mereka dengan gembira mengikuti festival tersebut.

Rara dan teman-temannya semakin bangga. Mereka berhasil meraih peringkat pertama festival tersebut. Panitia memberikan piala dan uang pembinaan kepada para pemenang.

Mengikuti Festival Lagu Nusantara menjadi pengalaman berharga bagi Rara. Dia semakin menyadari bahwa segala perbedaan yang ada di Indonesia bukan untuk memecah belah. Namun, perbedaan itu semakin mempererat persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

***

Bacaan 4.

Batik, Warisan Budaya Indonesia.

Hari ini Dahlia dan teman-teman akan berkunjung ke desa wisata batik di Jarum, Bayat, Klaten. Seperti di Surakarta dan Yogyakarta di Klaten juga ada perajin batik. Mereka akan melihat proses pembuatan kain batik di sana.

Tepat pukul 8 Dahlia dan teman-teman berangkat menuju Desa Jarum. Dengan didampingi Pak Rahmadi, mereka naik bus ke Desa Jarum. Mereka akan menempuh perjalanan, kira-kira 45 menit.
Kira-kira pukul 8.45 rombongan Dahlia tiba di desa wisata batik Jarum. ”Anak-anak, kalian akan melihat proses pembuatan batik tulis. Lihatlah dengan cermat. Kalau ada yang tidak jelas, tanyakanlah,” pesan Pak Rahmadi kepada anak didiknya.

Setelah itu, Dahlia bersama teman-temannya diajak berkeliling oleh pengrajin yang mereka datangi. Satu demi satu mereka melihat proses pembuatan kain batik tulis. Proses pembuatan kain batik tulis dimulai dengan pemilihan kain. Yang dipilih adalah kain mori, katun, atau sutra sesuai dengan kualitas kain batik yang diinginkan. Setelah pemilihan kain, diteruskan dengan membuat gambar pada kain batik dengan malam atau lilin. Setelah digambar sesuai dengan motif yang dipilih, kemudian dilakukan proses pewarnaan. Pada batik Jarum ini ada dua jenis pewarnaan, menggunakan warna kimia  dan warna alami. Selanjutnya, dilakukan proses nglorot atau proses perebusan kain batik dengan air mendidih. Langkah selanjutnya, mencuci kain batik tersebut dengan air dingin, lalu dikeringkan. Proses terakhir adalah direbus lagi agar warnanya awet.
Dahlia dan teman-teman sudah selesai melihat proses pembuatan kain batik. Mereka lalu meninggalkan tempat itu. Mereka senang. Hari itu pengetahuan mereka bertambah.
”Anak-anak, kalian sudah mempelajari salah satu hasil budaya bangsa kita yaitu batik. Kalian harus tahu bahwa batik telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya bangsa Indonesia. Tanggal 2 Oktober menjadi hari bersejarah bagi batik Indonesia, saat UNESCO menetapkan batik sebagai warisan budaya Indonesia. Maka, tanggal 2 Oktober diperingati sebagai hari Batik Nasional.
Anak-anak, batik Jarum yang kalian lihat proses pembuatannya tadi merupakan salah satu ragam batik di Indonesia. Siapa yang bisa menyebutkan ragam batik lain?” tanya Pak Rahmadi.
”Batik dari Surakarta dan Yogyakarta, Pak!” jawab Dahlia.
”Batik dari Pekalongan dan Cirebon, Pak!” jawab Rahmat, teman sekelas Dahlia.
”Betul! Keempat daerah tersebut juga penghasil batik,” jawab Pak Rahmadi.
”Selain keempat daerah itu, masih ada lagi ragam batik Indonesia dari daerah-daerah lain. Batik di setiap daerah punya ciri khas yang membedakan dengan batik dari daerah lain. Contohnya, batik Yogyakarta pada dasarnya merupakan batik dengan dasar putih. Nah, untuk melengkapi laporan kalian tentang batik Jarum, carilah gambar motif batik dari berbagai daerah di Indonesia. Tempelkan pada buku tugas kalian dan berilah keterangan nama motif batik dan daerah asalnya. Jangan lupa, berilah ulasan singkat. Sampaikan pendapatmu tentang batik. Apakah kamu bangga akan batik? Bagaimana caramu mengungkapkan perasaanmu bahwa kamu bangga akan batik?
”Nah, Anak-anak itu adalah tugas yang harus kalian kerjakan. Tiga hari lagi kita bahas bersama-sama di kelas,” perintah Pak Rahmadi kepada siswa- siswinya.
Waktu tiga hari yang diberikan Pak Rahmadi sudah habis. Hari ini tugas itu akan dibahas di kelas. Semua siswa sudah siap dengan hasilnya.

Pak Rahmadi lalu meminta satu demi satu siswa menjelaskan hasil pekerjaannya. Ternyata para siswa sangat antusias dengan tugas mengumpulkan motif batik dari daerah-daerah di Nusantara. Gambar motif batik yang mereka kumpulkan pun beragam. Pak Rahmadi puas dengan hasil pekerjaan siswa-siswinya.
Ternyata bermacam pendapat para siswa tentang batik. Hampir semua mengatakan bangga akan batik. Mereka mengungkapkan kebanggaan  mereka akan batik, salah satunya dengan mengenakan batik. Ada juga yang berpendapat ikut melestarikan batik dengan belajar membatik.

”Anak-anak, Bapak sudah menjelaskan bahwa batik merupakan budaya bangsa. Bahkan, batik sudah diakui dunia sebagai warisan budaya bangsa Indonesia. Sama dengan budaya lainnya, batik nusantara pun amat beragam. Keragaman itu menjadi kekayaan kita yang patut kita banggakan. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu jua berlaku untuk hasil budaya kita. Walaupun banyak ragam batik nusantara, semuanya adalah hasil budaya bangsa. Oleh karena itu, keragaman tidak menjadikan perpecahan. Justru keragaman akan membuat kita bersatu. Bersatu sebagai bangsa Indonesia.”
***

Bacaan 5 – Mengenal Keragaman Suku Bangsa dan Budaya di Indonesia.

Siang ini jam pelajaran terakhir sekolah. Bu Marwah memberi tugas kepada siswa-siswinya.
”Anak-anak, kamu sudah belajar tentang suku bangsa dan budaya. Nah, sebagai tugas, ibu minta kalian mencatat nama suku-suku bangsa di Indonesia. Kemudian, catat pula bahasa daerah, rumah adat, pakaian adat, senjata tradisional, tarian daerah, dan lagu daerahnya. Setiap siswa mencatat lima suku bangsa. Kalian dapat menuliskan dalam tabel seperti yang ibu contohkan.”

Suku Bangsa Bahasa Daerah Rumah Adat Pakaian Adat Senjata Tradisional Tarian Daerah Lagu Daerah
Betawi Betawi Kabaya Baju ujung serong Golok Tari Yapong ”Jali- Jali”
Doni dan Taufan adalah dua dari siswa-siswi Bu Marwah. Mereka juga berkewajiban mengerjakan tugas dari Bu Marwah. Kedua anak itu pun berjanji akan mengerjakan tugas bersama-sama.

Maka, sore ini Doni ke rumah Taufan. Mereka akan mengerjakan tugas bersama-sama. Ayah Taufan punya koleksi buku, di antaranya buku-buku tentang budaya Indonesia. Taufan mengajak Doni mencari jawaban atas PR Bu Marwah di buku-buku perpustakaan ayahnya.
Kedua anak itu pun asyik mencari buku yang sesuai. Setelah mendapatkan buku yang mereka cari, mereka pun membuka buku itu. Doni dan Taufan pun mendapatkan informasi yang dicarinya.
Doni dan Taufan segera menyalin informasi yang didapatkan dalam buku tugas mereka. Doni mencatat lima suku bangsa beserta budayanya. Kelima suku bangsa tersebut adalah suku Banten dari Provinsi Banten, Sunda dari Jawa Barat, suku bangsa Melayu dari Sumatra Utara, suku bangsa Dayak dari Kalimantan Tengah, serta suku bangsa Bugis dari Provinsi Sulawesi Selatan. Sementara itu, Taufan mencatat suku bangsa dan budaya Minangkabau dari Provinsi Sumatra Barat. Suku bangsa Bali dari Provinsi Bali, suku bangsa Sasak dari Provinsi Nusa Tenggara Barat, suku bangsa Ambon dari Provinsi Maluku serta suku bangsa Asmat dari Provinsi Papua Timur.
Hari yang ditentukan Bu Marwah untuk membahas PR tiba. Bu Marwah meminta setiap anak menyebutkan jawaban PR-nya. Setelah itu, Bu Marwah menilai hasil pekerjaan siswa.
”Anak-anak, ibu senang. Kalian mengerjakan PR dengan baik. Nah, apa yang kalian dapatkan dari jawaban PR kalian?” tanya Bu Marwah.
”Indonesia terdiri atas banyak suku bangsa,” jawab Doni. ”Indonesia kaya akan budaya, Bu,” jawab Rianti.
”Benar, Doni, Rianti. Indonesia memiliki banyak suku bangsa yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Indonesia juga kaya akan budaya. Setiap provinsi di Indonesia tidak hanya memiliki satu suku bangsa. Akan tetapi, lebih dari satu suku bangsa ada di setiap provinsi.”
”Apa yang dimaksud dengan suku bangsa?” tanya Bu Marwah kepada para siswanya. Namun, tidak ada seorang siswa yang bisa menjawab pertanyaan Bu Marwah.
”Suku bangsa adalah golongan manusia yang terikat oleh kesadaran dan identitas akan kesatuan kebudayaan. Semua orang dalam satu suku bangsa akan punya kesadaran dan identitas diri terhadap budaya suku bangsanya. Mereka akan menggunakan bahasa daerah dan mencintai kebudayaan serta adat istiadat suku bangsanya. Suku-suku bangsa di Indonesia tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Suku-suku bangsa tersebut merupakan warisan sejarah bangsa.”
”Bu, bolehkah saya bertanya,” kata Taufan sambil tunjuk jari.
”Apa yang kamu tanyakan, Taufan?” Bu Marwah bertanya kepada Taufan.”Bagaimana dengan budaya di Indonesia, Bu? Apakah budaya Indonesia juga beragam?”
”Taufan, coba kamu baca lagi pekerjaanmu? Apa yang kamu dapatkan dari jawaban PR-mu itu?”
Sambil membaca jawaban PR-nya, Taufan menjawab, ”Ternyata kebudayaan Indonesia juga beragam, Bu. Saya mencatat lima suku bangsa. Budaya kelima suku bangsa berbeda-beda.”
”Betul, Taufan. Budaya Indonesia pun beragam. Kamu sudah mencatat lima budaya. Kalau pekerjaan teman-teman sekelasmu dikumpulkan, berapa jumlah budaya yang ada?”
Siswa-siswi pun lalu berkasak-kusuk, menghitung keragaman budaya dari jawaban PR mereka. Melihat itu Bu Marwah lalu berkata kepada siswa- siswinya.
”Kalian perlu tahu. Yang dimaksud dengan kebudayaan dalam arti sempit adalah kesenian atau adat istiadat saja. Namun, secara luas budaya adalah hasil cipta, rasa, dan karya manusia dalam suatu masyarakat dan diteruskan dari satu generasi ke generasi selanjutnya dengan proses belajar. Selain yang disebutkan di atas, kebudayaan juga meliputi alat-alat, mata pencarian, ilmu pengetahuan, dan teknologi.” terang bu Marwah.
“Kebudayaan daerah adalah kebudayaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat suatu daerah. Pada umumnya, kebudayaan merupakan budaya asli dan telah lama ada yang diwariskan secara turun-temurun. Kebudayaan daerah kita sekarang ini merupakan hasil pertumbuhan dan perkembangan kebudayaan masa lampau.” Bu Marwah melanjutkan.
”Nah, anak-anak. Tugas kalian sekarang adalah melestarikan budaya bangsa. Banggalah menjadi anak Indonesia, negara yang kaya budaya. Jangan hanya menghafal, tetapi tunjukkan bahwa kamu peduli akan kebudayaan bangsa Indonesia. Caranya, kamu dapat mempelajari salah satu seni budaya, misalnya menari atau menyanyi,” pesan Bu Marwah mengakhiri pelajaran hari ini.
Sumber: http://ictkelompokblog.woedpress.com/materi/keragaman-suku-bangsa-dan-budaya-di-indonesia/
***

Bacaan 6 – Lomba Masak Makanan Nusantara.

Hari ini Hotel Asri akan mengadakan lomba masak masakan Nusantara. Lomba diadakan dalam rangka HUT ke-10 Hotel Asri. Pesertanya adalah keluarga karyawan Hotel Asri. Berhubung ayahku bekerja di hotel tersebut, kami pun ikut serta dalam lomba ini. Ayah, ibu, Kak Anisa, dan aku menjadi peserta. Kami berempat akan berlomba dengan peserta-peserta lainnya.

Pada lomba ini, panitianya sudah menyediakan bahan dan peralatannya. Semua peserta akan masak masakan Nusantara. Panitia sudah menyediakan resep dan bahan. Peserta tinggal meniru resep tersebut untuk dapat menghidangkan masakan yang dimaksud. Tentu saja peserta harus menyajikannya secara menarik.

Saat lomba pun tiba. Kami dan peserta lain sudah bersiap di tempat lomba. Kami mendapat nomor undian 8. Maka, kami pun menuju tempat lomba bernomor 8. Sudah ada resep masakan, bahan masakan, dan beberapa perlengkapan untuk menyajikan masakan.
Sesaat setelah ketua panitia mengumumkan bahwa lomba dimulai, ayahku membuka resep yang tersedia. ”Gulai Ikan Patin” demikian nama masakan yang harus kami masak.
“Hah, gulai ikan patin!” seru Kak Anisa.

Ternyata kami mendapat resep masakan gulai ikan patin. Kata ayah, masakan itu adalah masakan dari Jambi. Tiba-tiba saja kepanikan terjadi di antara aku, Kak Anisa, dan ibu. Kami sama sekali belum pernah mengenal masakan itu.

”Kita tidak perlu panik. Ayo, segera kita kerjakan bersama-sama,” kata ayah menenangkan kami. Maka, kami pun segera bekerja. Ayah dan ibu yang mendapat tugas memasak. Ayah dan ibu menyiapkan ikan patin beserta bumbunya. Cabai merah, lengkuas, serai, kunyit, bawang merah, dan bawang putih ditambah santan adalah bumbu yang mereka siapkan. Kami segera bekerja sesuai pembagian tugas.
Suasana di sekeliling kami ramai dengan celoteh para peserta dan bunyi peralatan masak yang kami gunakan. Peserta di sebelah kanan kami tampak panik. Mereka mendapat resep masakan rujak cingur, makanan khas Jawa Timur, padahal menurut ayah mereka penduduk asli Jakarta. Mereka bersuku bangsa Betawi.

Lain dengan dengan peserta di sebelah kiri kami. Mereka tampak tenang walaupun wajah mereka juga terlihat cemas. Ternyata mereka mendapat resep masakan ayam taliwang, masakan dari Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Kata ayah, mereka bukan orang NTB. Mereka berasal dari Minahasa. Berdasarkan informasi yang ayah dapatkan, resep yang didapat setiap peserta bukan didapat secara spontan. Akan tetapi, panitia sudah mengatur agar setiap peserta tidak mendapat masakan dari daerah asalnya. Bagus juga ide panitia.

Waktu berjalan cepat. Waktu yang disediakan panitia sudah hampir habis. Masakan kami sudah selesai. Ibu sudah menempatkan masakannya di piring saji. Aku dan Kak Anisa mulai menghias masakan. Kemudian, kami meletakkan gulai ikan patin, masakan kami, di meja yang sudah kami hias dengan rumah khas Jambi.

Satu demi satu peserta pun sudah menyelesaikan masakannya. Mereka segera meletakkan di tempat penyajian. Sungguh indah tempat sajian itu. Aku melihat ada miniatur tugu monas. Ada juga beberapa bentuk rumah adat. Bahkan, ada juga hiasan yang menggambarkan potensi alam daerah tertentu. Semua unik. Semua menarik. Tempat menyajikan makanan menjadi seperti Indonesia mini.

Penilaian masakan pun dilaksanakan. Jurinya adalah para juru masak di Hotel Asri dan pimpinan Hotel Asri. Mereka sangat teliti. Setiap masakan dirasakan. Setiap hiasan diteliti. Setelah semua selesai dinilai, para peserta dipersilakan makan siang dengan menu masakan seperti masakan yang dilombakan. Panitia sudah menyediakan sejumlah jenis masakan dalam jumlah cukup.

Karena penasaran, aku mengajak keluargaku memilih makan dengan lauk gulai ikan patin. Ternyata rasanya sangat enak. Ayah dan ibu tersenyum setelah merasakan gulai ikan patin itu. Kata ayah, rasa masakan ayah dan ibu tidak seperti gulai ikan patin yang mereka makan. Ada kekecewaan terbersit dalam hati mendengar pendapat ayah tentang masakan kami. Namun, ayah menghibur kami. Ayah meminta kami untuk menjadikan lomba ini sebagai pengalaman yang menyenangkan.

Pengumuman lomba pun tiba. Aku sudah tidak punya harapan untuk menang. Namun, penasaran siapa yang akan menjadi pemenang. Ternyata memang kami tidak menjadi pemenang. Pemenang pertamanya adalah kelompok yang memasak makanan khas Bali, ayam betutu. Pemenang kedua adalah kelompok yang memasak masakan khas Makasar, sop konro. Sementara itu, pemenang ketiganya adalah kelompok yang memasak masakan khas Riau, yaitu otak-otak. Aku pun kecewa karena pengumuman itu.
Tanpa aku duga ternyata juri juga menilai hiasan tempat kami menyajikan makanan. Aku dan kakakku terkejut saat juri menyebut kelompok kami sebagai pemenang I menghias masakan dan tempat penyajian masakan. Kata juri, kami menang karena hiasan rumah adat Jambi yang kami buat sebagai hiasan sungguh-sungguh mirip dengan rumah adat Jambi. Itu semua karena aku dan kakakku senang mengoleksi benda-benda hasil budaya, termasuk rumah adat. Jadi, kami sangat mengenal rumah adat Jambi.
Itulah pengalaman berharga yang aku dapatkan dari lomba memasak makanan Nusantara. Pelajaran penting dari lomba tersebut adalah keragaman budaya Nusantara bisa mempersatukan kami dalam kebersamaan. Sungguh luar biasa Indonesia, punya kekayaan budaya yang tidak dipunyai oleh negara lain. Maka, sudah sepatutnya kita bangga menjadi bangsa Indonesia yang penuh kemajemukan, tetapi tetap satu.
***

 

 

 

SD4.7.3.1 – SD Kelas 4 Tema 7 – Indahnya Persatuan dan Kesatuan dalam Keragaman. Sub Tema 3 – Pembelajaran 1

SD4.7.3 – SD Kelas 4 Tema 7 – Indahnya Keragaman di Negeriku.
Subtema 3: Indahnya Persatuan dan Kesatuan Negeriku – Pembelajaran 1.

Kamu telah mengetahui keragaman suku bangsa dan budaya di Indonesia. Bagaimana sikapmu atas keragaman itu?

Supaya Tetap Rukun, Mari Lakukan Sikap Ini.
Negara Republik Indonesia memiliki keragaman adat, budaya, dan agama. Adat dan budaya setiap daerah unik dan berbeda dari daerah lain. Agama yang dianut penduduk pun beragam. Dengan perbedaan itu, bagaimana kita dapat menjaga kesatuan bangsa? Nah, untuk menjaga kesatuan bangsa dan supaya tetap rukun, mari kita lakukan sikap-sikap ini.

Salah satu sikap yang harus dilakukan yaitu adanya toleransi dan saling menghormati dalam menjalankan ibadah agama. Bagaimana perwujudannya?
Perwujudannya misalnya kita tidak boleh menghina teman yang berbeda agama. Selanjutnya, saat teman kita sedang beribadah kita tidak boleh mengganggu mereka.

Sikap lain yang harus dilakukan yaitu menghargai berbagai kebudayaan dari berbagai daerah di Indonesia. Negara kita kaya akan berbagai kebudayaaan daerah. Kita boleh membanggakan kebudayaan daerah sendiri. Namun, kita juga harus menghargai dan ikut melestarikan kebudayaan daerah lain.

Jadi, untuk mempertahankan persatuan dan kesatuan NKRI, bagaimana sikap kita? Kita harus saling menghargai, menghormati, dan menyayangi orang lain meskipun berbeda agama, suku, dan budaya. Sikap itulah yang harus selalu kita tanamkan pada diri kita.
(Sumber: http://kidnesia.com/Boleh-Tahu/Serba-Serbi/Supaya-Tetap-Rukun-Hindari-Sikap-Ini-Yuk diunduh 24 September 2016)

Ceritakan hasil diskusi kelompokmu. Bandingkan dengan hasil diskusi kelompok lain. Apakah ada perbedaan?
“Keragaman suku bangsa dan budaya di Indonesia menjadi magnet bagi para wisatawan.” Pernahkah kamu mendengar atau membaca kalimat seperti itu? Apa maksudnya? Maksud dari kalimat tersebut adalah bahwa keragaman suku bangsa dan budaya di Indonesia menjadi daya tarik bagi wisatawan.
Mungkin kamu bertanya-tanya, apa hubungannya “magnet” dengan “daya tarik”. Nah, terlebih dahulu lakukan kegiatan berikut.

Lakukan kegiatan ini di dalam kelas.
1. Sediakan magnet batang atau magnet mainan (yang biasa ditempelkan pada pintu lemari pendingin).
2. Sediakan benda-benda kecil, seperti jarum pentul, peniti, pensil, kerikil, dan daun. Letakkan di atas meja.
3. Dekatkan magnet pada benda-benda kecil tersebut.
4. Catatlah hasil pengamatan kalian.
5. Ingat, berhati-hatilah saat bekerja dengan jarum pentul dan peniti. Pastikan tidak ada jarum pentul yang terjatuh di lantai. Pastikan juga peniti tidak terbuka. Setelah selesai digunakan, bereskan dan masukkan kembali jarum pentul dan peniti ke tempatnya.

Berdasarkan kegiatan di atas, diskusikan jawaban pertanyaan-pertanyaan berikut bersama teman-teman sekelasmu.
1. Apa yang terjadi saat magnet didekatkan pada benda-benda kecil yang kamu sediakan?
2. Benda apa yang dapat ditarik oleh magnet?
3. Benda apa saja yang tidak dapat ditarik oleh magnet?

Magnet mempunyai kemampuan dapat menarik benda-benda yang terbuat dari logam.

Lakukan kegiatan ini bersama teman sebangkumu.
1. Sediakan dua buah magnet batang, misalnya magnet I dan magnet II.
2. Tandai ujung dari setiap batang magnet, misalnya A dan B.
3. Dekatkan ujung A dari magnet I dengan ujung A magnet II. Apa yang terjadi?
4. Dekatkan ujung A dari magnet I dengan ujung B dari magnet II. Apa yang terjadi?
5. Dekatkan ujung B magnet I dengan ujung A magnet B. Apa yang terjadi?
6. Dekatkan ujung B magnet I dengan ujung B magnet II. Apa yang terjadi?
Catatlah hasil pengamatanmu dalam tabel seperti berikut, lalu jelaskan kepada Bapak/Ibu guru dan teman-temanmu.

Sebuah magnet mempunyai dua ujung berlawanan. Ujung magnet biasa disebut kutub. Dua kutub magnet yang berlawanan itu disebut kutub utara (U) dan kutub selatan (S).
Jika dua buah magnet didekatkan pada kutub yang sama, kedua magnet akan tolak menolak. Sebaliknya, jika dua buah magnet didekatkan pada kutub yang berbeda, kedua magnet tersebut akan tarik menarik.

Interaksi dua buah magnet (misalnya dengan didekatkan) akan menimbul- kan gaya. Gaya itu disebut gaya magnet. Jadi, gaya magnet adalah gaya yang dihasilkan ketika dua magnet atau lebih saling berinteraksi.

Gaya magnet dapat dimanfaatkan, misalnya dalam pembuatan kompas. Kompas adalah alat penunjuk arah utara dan selatan. Pada kompas terpasang sebuah magnet berbentuk jarum. Jika diletakkan mendatar, jarum kompas akan selalu menunjuk arah utara dan selatan.

Gambar 3.6 Kompas menggunakan magnet jarum

Kamu telah mengetahui bahwa jarum kompas selalu menunjuk arah utara selatan. Kini, bagaimana arah benda jika dijatuhkan dari ketinggian tertentu? Ayo, lakukan kegiatan berikut.

1. Siapkan sebuah uang logam.
2. Keluarlah dari dalam kelas menuju halaman sekolah atau lapangan yang lebih luas.
3. Pegang uang logam yang telah kamu persiapkan lalu lemparkan kuat- kuat ke atas. Perhatikan arah lemparan agar tidak mengenai teman atau bangunan yang dekat dengan kamu.
4. Apa yang terjadi setelah kamu melempar uang logam itu? Catatlah hasil dari kegiatanmu.
5. Ulangi sebanyak lima kali.

Diskusikan di dalam kelas bersama teman sekelompokmu, hasil dari kegiatanmu melempar uang logam di atas.

1. Apa yang terjadi setelah uang logam dilempar ke atas?
2. Mengapa hal itu bisa terjadi?
3. Bagaimana seandainya uang logam diganti bola, pensil, penghapus, dan kapas?
4. Selanjutnya, ceritakan hasil diskusi kelompokmu kepada Bapak/Ibu guru dan kelompok lain.

Uang logam yang dilempar kuat-kuat ke atas akan kembali ke bumi. Bayangkan jika uang itu tidak kembali lagi ke bumi dan terus terbang jauh ke angkasa. Kamu akan kehilangan uang logam itu.

Mengapa uang logam itu jatuh kembali lagi ke bumi? Uang logam dan benda apa pun yang kamu lemparkan ke atas akan kembali lagi ke bumi karena adanya gaya gravitasi. Gaya gravitasi adalah gaya yang disebabkan oleh gaya tarik yang dihasilkan oleh bumi. Gaya gravitasi ini akan menyebabkan semua benda yang berada di permukaan bumi selalu tertarik menuju bumi.
Jika tidak ada gaya gravitasi, semua benda yang kamu lemparkan ke atas dapat dengan mudah hilang karena melayang di angkasa. Bahkan, diri kamu sendiri dapat terbang dan sulit untuk kembali ke rumah. Oleh karena itu, gaya gravitasi sangat bermanfaat karena dapat menahan benda-benda agar tetap berada di bumi.
Contoh peristiwa sehari-hari menunjukkan gaya gravitasi adalah jatuhnya buah yang sudah matang dari dahan pohon ke tanah.
Benda-benda di rumahku yang dapat ditarik oleh magnet: besi, paku, dll.

 

 

 

SD4.7.1 – SD Kelas 4 Tema 7 – Indahnya Keragaman di Negeriku – Sub Tema 1-6

SD4.7.1 – SD Kelas 4 Tema 7 – Indahnya Keragaman di Negeriku.

Subtema 1: Keragaman Suku Bangsa dan Agama di Negeriku – Pembelajaran 6.

Pada tanggal 16 Agustus 2016 di Kabupaten Sintang, Kalimantan dilakukan karnaval untuk memperingati kemerdekaan RI. Karnaval diadakan di depan Pendopo Bupati Sintang. Karnaval itu diikuti oleh 46 regu terdiri atas para pelajar dan budayawan di Kabupaten Sintang.

Karnaval mini ini merupakan upaya edukasi bagi masyarakat. Karnaval ini diharapkan dapat meneguhkan kesadaran masyarakat bahwa di Indonesia ini terdapat keragaman suku bangsa. Keragaman itu terlihat dari kostum, atribut, dan lambang yang dikenakan para peserta karnaval.
Kabupaten Sintang dapat dikatakan merupakan Indonesia mini. Di Sintang tinggal masyarakat yang terdiri dari berbagai suku bangsa dengan aneka bahasa dan budaya. Bupati Sintang, Jarot Winarno, mengharapkan agar perbedaan yang ada menjadi suatu kekuatan bagi bangsa. Sikap saling menerima, saling menghormati, dan saling bekerja sama harus terus dikembangkan dalam mengisi kemerdekaan yang sudah diwariskan oleh para pahlawan.
(Sumber: http://pontianak.tribunnews.com/2016/08/16/karnaval-mini-wujud-syukur-menikmati-kemerdekaan diunduh 15 September 2016).

Bacalah teks “Karnaval Mini di Sintang”.
1. Tuliskan kata sulit pada teks, lalu carilah artinya.
2. Tuliskan gagasan pokok setiap paragraf pada teks “Karnaval Mini di Sintang”.
3. Tuliskan informasi baru yang kamu dapatkan dari teks tersebut. Serahkan hasil tulisanmu kepada Bapak/Ibu guru.

Pada Pembelajaran 4, kamu mendapat tugas untuk mencari satu cerita rakyat, lalu menuliskannya ke dalam bahasa daerahmu. Kini, secara bergantian, bacakan tulisanmu itu di depan Bapak/Ibu guru dan teman- temanmu.

Menggunakan bahasa daerah dalam berkomunikasi sehari-hari merupakan salah satu upaya melestarikan bahasa daerah. Dengan upaya itu diharapkan bahasa daerah tidak akan punah.

Salah satu cara dapat dilakukan untuk mengenal bahasa daerah lain adalah melalui lagu. Akibat keragaman bahasa dan suku bangsa, Indonesia memiliki banyak lagu daerah. Berikut beberapa contoh lagu daerah di Indonesia.

Tabel 1.3 Beberapa lagu daerah di Indonesia.

Lagu Daerah.
1. Aceh  lagu daerahnya : Bungong Jeumpa, Lembah Alas, Piso Surit.
2. Sumatra Utara lagu daerahnya : Dago Inang Sarge, Sigulempong, Sinanggar Tulo.
3. Sumatra Barat lagu daerahnya : Ayam Den Lapeh, Kambanglah Bungo, Kampuang Nan Jauh Di Mato.
4. Riau lagu daerahnya : Lancang Kuning, Soleram, Laksmana Raja di Laut.
5. Kepulauan Riau lagu daerahnya : Pak Ngah Belek, Segantang Lada.
6. Jambi lagu daerahnya : Dodoi Si Dodoi, Injit-Injit Semut, Timang- Timang Anakku Sayang.
7. Sumatra Selatan lagu daerahnya : Cuk Mak Ilang, Dek Sangke, Kabile-Bile, Tari Tanggai.
8. Bangka Belitung lagu daerahnya : Yok Miak.
9. Bengkulu lagu daerahnya : Lalan Belek, Sungai Suci, Umang-umang.
10. Lampung lagu daerahnya : Adi-adi Laun Lambar, Sang Bumi Ghuwai Jughai, Penyandangan.
11. DKI Jakarta lagu daerahnya : Jali-Jali, Keroncong Kemayoran, Ondel-ondel.
12. Jawa Barat lagu daerahnya : Manuk Dadali, Pileuleuyan, Tokecang.
13. Banten lagu daerahnya : Dayung Sampan, Jereh Bu Guru, Tong Sarakah.
14. Jawa Tengah lagu daerahnya : Bapak Pucung, Gambang Suling, Gundhul Pacul.
15. DI Yogyakarta lagu daerahnya : Pitik Tukung, Suwe Ora Jamu, Te Kate Dipanah.
16. Jawa Timur lagu daerahnya : Cublak-cublak Suweng, Rek Ayo Rek, Tanduk Majeng.
17. Bali lagu daerahnya : Janger, Macepet Cepetan, Meyong-Meyong.
18. Nusa Tenggara lagu daerahnya : Barat Moree, Pai Mura Rame, Tutu Koda.
19. Nusa Tenggara Timur lagu daerahnya : Anak Kambing Saya, Bolelebo, Potong Bebek Angsa.
20. Kalimantan Utara lagu daerahnya : Bebalon, Pinang Sendawar, dan Tuyang.
21. Kalimantan Barat lagu daerahnya : Cik Cik Periuk, Aek Kapuas, Kapal Belon.
22. Kalimantan Tengah lagu daerahnya : Kalayar, Oh Indang Oh Apang, Tumpi Wayu.
23. Kalimantan Selatan lagu daerahnya : Ampar-Ampar Pisang, Paris Barantai, Saputangan Bapuncu Ampat.
24. Kalimantan Timur lagu daerahnya : Indung-Indung, Oh Adingkoh.
25. Sulawesi Utara lagu daerahnya : O Ina Ni Keke, Si Patokaan, Sitara Tillo.
26. Sulawesi Barat lagu daerahnya : Tenggang Tenggang Lopi.
27. Sulawesi Tengah lagu daerahnya : Tondok Kadadiangku, Tope Gugu.
28. Sulawesi Tenggara lagu daerahnya : Peia Tawa-Tawa, Tana Wolio.
29. Sulawesi Selatan lagu daerahnya : Anging Mamiri, Marencong-rencong, Pakarena.
30. Gorontalo lagu daerahnya : Tahuli Li Mama, Moholunga, Binde Biluhuta, Dabu-Dabu.
31. Maluku lagu daerahnya : Buka Pintu, Burung Kakatua, Waktu Hujan Sore-sore.
32. Maluku Utara lagu daerahnya : Una Kapita.
33. Papua Barat lagu daerahnya : Apuse, Yamko Rambe Yamko.
34. Papua lagu daerahnya : E Mambo Simbo, Sajojo sajojo.

– Di antara lagu-lagu daerah pada tabel di atas, lagu mana yang sudah kamu kenal?
–  Apakah kamu senang menyanyikan lagu itu?
–  Apa judul lagu yang ingin kamu pelajari untuk dinyanyikan? Mengapa?
–  Bersama teman-teman sekelasmu, nyanyikan lagu dari daerahmu.
–  Secara bergantian, nyanyikan lagu daerah lain yang kamu bisa.

 

Lagu : Jawa Barat/Sunda

Bubuy bulan,
Bubuy bulan sangray bentang,
Panon poe,
Panon poe disasate,

Unggal bulan, unggal bulan,
Unggal bulan abdi teang,

Unggal poe,unggal poe,
Unggal poe oge hade,

Situ Ciburuy,
laukna hese dipancing,
Nyeredet hate,
Ningali ngeplak caina,

Duh eta saha nu ngalangkung,
unggal enjing,
Nyeredet hate,
Ningali sorot socana.

 

Lagu daerah Kalimantan Selatan

Ampar ampar pisang,
Pisangku balum masak,
Masak bigi di hurung bari-bari,
Masak bigi di hurung bari-bari,

Manggalepak manggalepok,
Patah kayu bengkok,
Bengkok dimakan api,
apinya cang curupan,

Nang mana batis kutung,
Dikitipi dawang.

Nang mana batis kutung,
Dikitipi dawang.
Ampar ampar pisang,
Pisangku balum masak,
Masak bigi di hurung bari-bari,
Masak bigi di hurung bari-bari.

 

1. Perhatikan saat Bapak/Ibu guru menyanyikan lagu itu. Perhatikan tinggi rendah nada pada lagu.
2. Tandai nada tinggi dan nada rendah pada lagu menggunakan garis melodi.
3. Berdasarkan tanda tempo yang tertulis, bagaimana cara menyanyikan setiap lagu tersebut?

Coba perhatikan, ada berapa nada seluruhnya pada lagu “Bubuy Bulan”?
Pada lagu “Bubuy Bulan” seluruhnya ada lima nada. Oleh karena itu lagu “Bubuy Bulan” menggunakan tangga nada pentatonis, yaitu tangga nada yang menggunakan lima nada.

Nyanyikan lagu “Bubuy Bulan” atau “Ampar-Ampar Pisang”. Nyanyikan sesuai tinggi rendah nada dan tempo yang tepat. Nyanyikan dengan penghayatan yang baik. Lagu “Bubuy Bulan” bercerita tentang kesedihan seseorang yang ditinggalkan orang yang dicintainya.
Lagu “Ampar-Ampar Pisang” bercerita tentang kebiasaan masyarakat Kalimantan menjemur pisang untuk dijadikan makanan.

 

SD4.7.1 – SD Kelas 4 Tema 7 – Indahnya Keragaman di Negeriku – Sub Tema 1-1

SD4.7.1 – SD Kelas 4 Tema 7 – Indahnya Keragaman di Negeriku.

Subtema 1: Keragaman Suku Bangsa dan Agama di Negeriku

Bhinneka Tunggal Ika. Pernahkah kamu mendengar kalimat itu? Ya, kalimat itu terdapat pada Garuda Pancasila. Garuda Pancasila adalah lambang negara kita. Bhinneka Tunggal Ika berarti walau berbeda-beda tetapi tetap satu.

Kalimat “Bhinneka Tunggal Ika” terdapat dalam buku Sutasoma, karangan Mpu Tantular. Mpu Tantular hidup pada masa kerajaan Majapahit sekitar abad ke-14. Dalam buku Sutasoma, pengertian Bhinneka Tunggal Ika lebih ditekankan pada keanekaragaman agama dan kepercayaan di kalangan masyarakat Majapahit.

Perbedaan apa lagi yang ada di Indonesia? Suku, Agama, Adat, Bahasa Daerah, Warna Kulit dan lain-lain.

Bagaimana Sikapmu ? Menghargai perbedaan tersebut dan tetap hidup rukun.

 

Subtema 1: Keragaman Suku Bangsa dan Agama di Negeriku.

Bangsa Indonesia terdiri atas banyak suku bangsa. Suku bangsa apa sajakah itu?

Bacalah dalam hati teks berikut!

Suku Bangsa di Indonesia.

Sejak dahulu kala bangsa Indonesia hidup dalam keragaman. Kalimat Bhinneka Tunggal Ika pada lambang negara Garuda Pancasila bukan cuma slogan. Penduduk Indonesia terdiri atas beragam suku bangsa, agama, bahasa, adat, dan budaya tetapi semua dapat hidup rukun berdampingan.
Berdasarkan hasil sensus Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010, bangsa Indonesia terdiri atas 1.331 suku. Berdasarkan sensus itu pula, suku bangsa terbesar adalah Suku Jawa yang meliputi 40,2 persen dari penduduk Indonesia. Suku Jawa ini merupakan gabungan dari suku-suku bangsa di Pulau Jawa, yaitu: Jawa, Osing, Tengger, Samin, Bawean, Naga, dan suku-suku lainnya. Suku yang paling sedikit jumlahnya adalah Suku Nias dengan jumlah 1.041.925 atau hanya 0,44 persen dari jumlah penduduk Indonesia. Namun, suku-suku Papua yang terdiri atas 466 suku, jumlahnya hanya 2.693.630 jiwa atau 1,14 persen dari jumlah penduduk Indonesia. Sedangkan etnis Tionghoa jumlahnya sedikit lebih banyak, yaitu 2.832.510 atau 1,2 persen penduduk Indonesia.

(Sumber: http://bobo.kidnesia.com. diunduh 1 September 2016)

Suku Dani dari Papua, Suku Tengger, Suku Nias  , dan lain-lain.

Bentuklah kelompok bersama 4-5 temanmu. Bacalah dalam hati teks ”Suku Bangsa di Indonesia”.
1. Adakah kata sulit yang kalian temukan pada bacaan tersebut? Jika ada, tuliskan lalu carilah artinya. Tuliskan dalam bentuk tabel seperti berikut.

2. Ada berapa paragraf pada teks “Suku Bangsa di Indonesia”? Tuliskan pokok pikiran dari setiap paragraf.

Cara menentukan pokok pikiran pada paragraf sebagai berikut.
1. Membaca seluruh kalimat dalam paragraf.
2. Menandai kalimat awal, akhir, atau kalimat awal dan kalimat akhir paragraf.
3. Menandai pikiran pokok yang terdapat di awal, akhir, atau kalimat awal dan akhir pada paragraf.

Ceritakan hasil diskusi kelompokmu. Bandingkan dengan hasil diskusi kelompok lain. Apakah ada perbedaan?
Dari kegiatan sebelumnya, kamu mengetahui bahwa di Indonesia terdapat ribuan suku bangsa. Setiap suku bangsa kemungkinan memiliki kebiasaan dan cara hidup berbeda. Salah satu contoh perbedaan cara hidup adalah transportasi. Pada zaman dahulu, alat transportasi menggunakan jasa hewan seperti gambar-gambar berikut.

Tampak Gambar Bendi, Gambar Pedati sapi, Pedati Kerbau.

Apakah di daerahmu masih dijumpai alat transportasi seperti pada gambar di atas? Coba, ceritakan kepada teman-temanmu. Apakah teman-temanmu juga menjumpai jenis alat transportasi seperti yang kamu sebutkan?

Perhatikan lagi gambar bendi, pedati sapi, dan pedati kerbau. Dapatkah kamu melihat persamaan dari ketiga alat transportasi tradisional tersebut? Ada banyak persamaan, salah satunya adalah ketiga alat transportasi tersebut menggunakan bianatang yang sama-sama menarik beban berupa bendi atau pedati.

Apa yang terjadi saat kuda menarik bendi? Kuda dan Bendi merupakan alat transportasi, Kuda dikendalikan oleh kusir, kuda harus dirawat dengan baik.

Apa yang terjadi pada Kerbau atau sapi saat menari pedati?  Murapakan alat trasportasi tradisional, sapi atau kerbau perlu di rawat dengan baik.

Lakukan kegiatan-kegiatan sederhana berikut.
1. Dorong meja belajarmu pelan-pelan hingga bergeser sedikit, lalu tarik ke posisi semula.
2. Angkat tas sekolahmu, lalu letakkan lagi ke posisi semula.
3. Ambil selembar kertas tak terpakai, lalu lipat atau remaslah kertas tersebut.

Aktivitas yang telah kamu lakukan terhadap meja sehingga bergeser disebut gaya.
Aktivitas yang kamu lakukan terhadap tas sekolah yang kamu angkat disebut gaya.
Aktivitas yang kamu lakukan terhadap kertas sehingga bentuknya berubah disebut gaya.

Apa yang dimaksud dengan gaya? Gaya adalah dorongan atau tarikan yang dapat menyebabkan benda bergerak atau berubah bentuk.

Apa yang menyebabkan mobil  di samping dapat bergerak? karena di dorong oleh seseorang.
Apa yang menyebabkan lampu dapat menyala? karena ada aliran listrik.
Apa yang menyebabkan jarum menempel pada batang magnet?  karena ada daya tarik dari magnet.
Apa yang menyebabkan buah jatuh dari pohon?  karena ada daya tarik dari bumi.
Apa yang menyebabkan kursi mudah dipindahkan? karena di dorong oleh seseorang.

Gaya mempunyai banyak jenis sesuai dengan sumber yang melakukan gaya. Macam-macam gaya antara lain: gaya otot, gaya listrik, gaya magnet, gaya gravitasi, dan gaya gesek.

Aktivitas menggunakan gaya otot ?
– tarik tambang, menggendong, membuat periuk, sapi menarik pedati.

Diskusikan jawaban pertanyaan-pertanyaan berikut dengan kelompokmu.
1. Apa yang dimaksud gaya otot?
2. Perhatikan gambar contoh-contoh gaya otot di atas. Apa pengaruh gaya otot terhadap benda yang dikenai gaya pada setiap gambar?
Tuliskan hasil diskusi kamu, bacakan di depan kelompok lain, lalu serahkan kepada Bapak/Ibu guru.
Kamu telah mengetahui salah satu jenis gaya, yaitu gaya otot. Salah satu contoh penggunaan gaya otot, yaitu pada pembuatan gerabah. Tahukah kamu, bahwa seni membuat gerabah tersebar di Indonesia?

Seni Gerabah di Indonesia.

Tahukah kamu, apa yang disebut gerabah? Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) gerabah, yaitu alat-alat dapur (untuk masak- memasak dan sebagainya) yang dibuat dari tanah liat yang kemudian dibakar (misalnya kendi, belanga). Memang, awalnya pembuatan gerabah untuk memenuhi kebutuhan alat-alat dapur. Namun, dalam perkembangannya seni kerajinan gerabah meluas dan menghasilkan beraneka macam benda.
Pembuatan gerabah secara tradisional tersebar di wilayah Nusantara. Di Jawa, tempat yang terkenal dengan pembuatan gerabah adalah Kasongan, Yogyakarta. Kasongan adalah nama daerah di Kecamatan Kasihan, Bantul kurang lebih 8 km di sebelah barat daya Yogyakarta. Gerabah Kasongan awalnya biasa saja. Perajin Kasongan dahulu hanya membuat barang-barang rumah tangga, seperti anglo, cobek, atau kendi. Namun, pada tahun 1970-an, Bapak Sapto Hudoyo, seorang seniman Yogyakarta mendidik pengrajin di sana. Mereka diajari cara membuat karya seni dari tanah liat. Sejak saat itu, seni gerabah semakin bermunculan. Para perajin membuat kendi yang lebih unik. Mereka juga membuat vas yang dilengkapi aneka hiasan. Semakin hari, pengetahuan dan keahlian perajin makin berkembang. Hasilnya, seperti yang kita lihat hari ini. Gerabah Kasongan menjadi terkenal dan banyak dicari.

Di Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat ada sebuah daerah yang terkenal dengan seni pembuatan gerabah, yaitu di Banyumulek. Ada satu karya unik dari seni kerajinan gerabah dari Banyumulek ini, yaitu “kendi maling”. Umumnya, kendi (wadah air) mempunyai lubang di bagian atas untuk mengisi air. Namun, kendi dari Banyumulek ini mempunyai lubang untuk mengisi air pada bagian bawah. Konon, pada zaman dahulu, kendi ini dibuat untuk raja sebagai pengaman supaya “maling” yang berniat meracuni raja kebingungan mencari lubang di bagian atas kendi.

Masyarakat Pulau Ouw di Maluku Tengah juga membuat gerabah yang disebut sempeh. Mereka kebanyakan membuat sempeh untuk keperluan rumah tangga. Ada sempeh yang digunakan sebagai kompor, tempat memasak makanan, dan membuat obat-obatan tradisional. Ada pula sempeh yang digunakan sebagai wadah suguhan dan berfungsi seperti piring.

Di Papua, saat ini tradisi pembuatan gerabah ditemukan di pesisir utara Papua, tepatnya di Kampung Abar. Kampung Abar adalah salah satu kampung di Danau Sentani, Kabupaten Jayapura. Umumnya, pembuatan gerabah di Kampung Abar dilakukan wanita. Konsumen gerabah dari Kampung Abar adalah para wisatawan yang datang ke Danau Sentani. Bagi para wisatawan, gerabah Papua itu menarik karena dibuat dengan tangan kosong tanpa mengandalkan teknologi alat pemutar. Bentuknya yang tidak halus dengan motif-motif khas Sentani juga merupakan daya tarik gerabah Papua.

Diskusikan bersama teman sebangkumu, informasi-informasi baru yang kamu dapatkan dalam teks “Seni Gerabah di Indonesia”. Tuliskan hasilnya pada buku catatanmu, lalu kumpulkan kepada Bapak/Ibu Gurumu.