Arsip Tag: literasi

SD6 Tema 3-4 – Literasi Penemu yang mengubah dunia

SD6 Tema 3-4 – Literasi Penemu yang mengubah dunia.

Aku Cinta Membaca.

Laba-laba Buncit – Cerita Rakyat Malaysia.

Di sebuah hutan tinggal seekor laba-laba. Sarangnya lebih besar dari sarang laba-laba lain. Dulu, sarang itu dibuat oleh ayahnya, lalu ia menambah luas sarangnya. Laba-laba itu selalu bergerak di sarangnya untuk menangkap mangsanya. Semua yang ditangkap segera dimakannya. Badannya semakin hari semakin besar. Perutnya juga, semakin hari semakin buncit karena banyak makan.

Suatu hari, datang dua ekor laba-laba temannya. Satu datang dari arah Timur, satu lagi datang dari arah Barat. Kedua laba-laba tersebut ingin menjemput si laba-laba buncit untuk datang ke pesta undangan. Namun, pesta undangan diadakan di waktu yang sama. Laba-laba buncit jadi bingung. Ia ingin hadir di kedua pesta, tetapi ia bingung harus memilih yang mana. Tetapi ia lalu mempunyai akal! Laba-laba buncit memberi ujung tali kepada kedua temannya. Tali itu ia lilitkan juga di pinggangnya, supaya tidak terlepas. Ia minta kedua temannya pergi lebih dahulu ke pesta undangan. Apabila makanan sudah dihidangkan ia meminta temannya menarik tali yang dibawanya.  Laba- laba buncit akan segera menyusul ke lokasi undangan yang lebih dahulu menyediakan makan.

Maka, kedua teman laba-laba pun pergi. Satu ke Timur, satu lagi ke Barat. Ternyata makanan dihidangkan di kedua lokasi pada waktu yang sama! Laba- laba di Timur menarik tali, bersamaan pula laba-laba di Barat menarik juga tali tersebut. Laba-laba buncit terjerat tarikan tali di bagian pinggangnya. Ia tidak dapat bergerak ke Timur maupun ke Barat. Oleh karena laba-laba buncit tidak kunjung datang, kedua temannya terus menarik ujung tali semakin kencang. Mereka menarik tali sambil makan di tempat pesta.

Usai pesta, kedua teman laba-laba datang kembali ke sarang laba-laba buncit. Mereka menemui laba-laba buncit sudah lemas terduduk di sarang dengan tali mengikat kencang di pinggangnya. Sejak saat itu, laba-laba buncit tidak lagi merasa selalu lapar, makannya juga tidak sebanyak dulu lagi. Pinggang laba-laba tidak lagi buncit. Perutnya ramping karena terjerat tali. Hingga saat ini, pinggang laba-laba kecil dan ramping.

 


Khek dan Keledai – Cerita Rakyat Kamboja.

Di  Kamboja  hidup  seorang   laki-laki bernama  Khek. Ia tinggal bersama seorang anak laki-lakinya. Suatu hari, Khek ingin menjual keledainya. Maka, ia pun mengajak anak laki-lakinya ke pasar untuk menjual si keledai. Khek berpikir untuk menjaga keledainya baik-baik selama perjalanan, agar harga jualnya tinggi. Maka, Khek menggendong si keledai di punggungnya, agar si keledai tidak lelah berjalan ke pasar.

Orang-orang yang mereka temui sepanjang  perjalanan menertawakan Khek. “Kamu ada-ada saja, Khek! Keledai untuk ditunggangi, bukan untuk digendong,” begitu kata mereka. Khek menurunkan si keledai dari pungungnya. Lalu, ia meminta anak laki-lakinya menunggangi keledai sementara ia sendiri berjalan menuntun si keledai.

Kemudian, mereka bertemu lagi dengan sekelompok orang di jalan. “Anakmu sungguh kurang ajar, Khek. Betapa teganya ia membiarkan ayahnya menuntun keledai, sementara  ia  enak  duduk  santai   menunggang keledai,” kata mereka.

Mendengar perkataan kelompok tersebut, Khek memutuskan untuk menungganggi keledai berdua dengan anaknya. Baru saja berjalan beberapa langkah, ada lagi seseorang yang menegur mereka. “Khek, kamu ini bodoh sekali! Tubuh keledai kecil. Jangan samakan keledai dengan kuda. Keledaimu akan lemas kelelahan karena ditunggangi oleh dua orang. Lemas sudah nanti keledaimu di pasar.”

Akhirnya Khek dan anak laki-lakinya turun dari keledai. “Sudahlah nak, kita tuntun saja keledai ini. Kita berdua berjalan kaki saja. Kita lakukan saja yang terbaik menurut kita. Kita tidak dapat mendengarkan dan mengikuti pendapat semua orang,” Khek berkata pada anaknya.

Khek dan anak laki-lakinya berjalan perlahan sambil menuntun si keledai hingga sampai di pasar. Tak dipedulikan lagi apa yang dikatakan orang sepanjang sisa perjalanan mereka. Ternyata, Khek berhasil menjual si keledai dengan harga yang pantas di pasar. Khek dan anak laki-lakinya pun pulang dengan tersenyum senang.

 


 

Mari  Menghargai Waktu

Oleh: Santi Hendriyeti

Senang tak terkira hati Lumu. Ia terpilih mewakili sekolahnya untuk ikut dalam kegiatan Perkemahan Sains di kabupaten. Tak sia-sia rasanya. Kecintaannya pada sains akan membawanya bertemu teman-teman baru -sesama pencinta sains- dari berbagai daerah. Sudah terbayang olehnya, pasti kegiatan perkemahan tersebut akan ramai dan seru.

Hari itu, lokasi perkemahan ramai oleh anak-anak dari berbagai daerah. Lumu akan tinggal di dalam sebuah tenda, bersama beberapa teman barunya. Juna, Irawan, dan Dino adalah beberapa teman yang dikenalnya di sana. Mereka berempat langsung akrab, ramai bercerita tentang daerah masing-masing.

Walaupun dikemas dalam bentuk perkemahan yang menyenangkan, namun disiplin peserta tetap diperhatikan. Dini hari, para peserta diwajibkan berkumpul di lapangan untuk olahraga pagi. Bahkan ada pencatatan kehadiran untuk tiap kegiatan.

Dingin udara pagi terasa menusuk, namun bel tanda berkumpul sudah dibunyikan. Segera Lumu membangunkan teman-teman setendanya. Sambil menguap malas, melepas bungkus selimut mereka perlahan keluar berkumpul di lapangan. Setelah senam pagi dimulai, tubuh mulai terasa hangat. Ditambah lagi dengan hangatnya perut akibat menu sarapan bubur kacang hijau yang disediakan panitia. Kantuk tak lagi terasa. Bergegas Lumu dan teman-teman kembali ke tenda untuk mandi pagi. Setelahnya mereka harus berkumpul lagi memulai kegiatan jelajah sains.

Bergantian Lumu, Irawan, dan Dino mandi di deretan kamar mandi perkemahan. Sampai di tenda, mereka melihat Juna meringkuk lelap di balik selimut.

“Hai, Juna. Ayo, mandi pagi. 10 menit lagi kita harus berkumpul di tenda jelajah sains” ujar Lumu mengingatkan

Bergeming Juna di balik selimutnya. Hanya gumaman pelan yang terdengar.

“Ah, aku ngantuk sekali. Biar saja, ‘kan tadi kita sudah mengisi lembar catatan kehadiran pagi. Di antara peserta sebanyak ini, tidak ada yang tahu aku tidak hadir. Nanti saja agak siang aku menyelinap ke sana. “ ujar Juna malas.

“Wah, kok begitu, Juna? tukas Dino. “Rugi dong. Kamu sudah sampai di sini, tetapi tidak memanfaatkan waktu dengan baik. “ tambahnya.

“Iya, Juna. Rugi.” timpal Irawan. “Memang sih, mungkin tidak ada yang tahu kamu tidak hadir. Tetapi apa gunanya kita di sini kalau hanya untuk mencatat nama di daftar kehadiran ?” tanyanya. “Itu ‘kan namanya kamu mengorupsi waktu, Juna.” tambah Irawan lugas. “Waktu yang seharusnya kamu manfaatkan untuk menambah ilmu, malah kamu pergunakan untuk menambah tidur. Apa yang akan kamu bagikan kepada teman-temanmu setelah pulang nanti?” Irawan terus berbicara pada Juna.

“Iya, Juna. Pasti ada alasan yang baik, sehingga sekolahmu mempercayai kamu untuk hadir di sini. Jangan membuang kesempatan, jangan mengecewakan teman-teman yang menunggumu pulang untuk berbagi ilmu.” Lumu ikut menambahkan.

“Aaah..kalian ini. Manalah aku dapat tidur kalau kalian berisik sekali berbicara bersahutan.” tukas Juna sambil menyibak selimutnya. Juna tidak marah, ia bahkan tersenyum. “Tetapi memang benar apa yang kalian katakan,”ujarnya. “Tidak sepantasnya aku hanya mencantumkan nama di daftar hadir. Aku ini utusan sekolah. Tidak patut aku mengorupsi waktu hanya untuk menambah waktu tidurku. Untung saja aku kenal dengan kalian, teman-teman  baruku yang kritis. ”tambah Juna, bergegas berdiri. “Beri aku waktu 7 menit, ya! Aku segera menyusul kalian di tenda jelajah sains!” teriak Juna sambil berlari ke kamar mandi.

Lumu senang menjadi bagian dalam Perkemahan Sains. Memang banyak hal yang dapat dipelajari di sana. Teman baru, ilmu baru, dan tentunya … menghargai waktu.


Kertas, Penemuan Sederhana yang Kaya Manfaat.

Oleh: Aiko Humaira.

Kertas adalah suatu bahan yang tipis dan rata, dan terbuat dari pulp. Pulp sendiri merupakan bahan baku kertas yang merupakan hasil pemisahan serat. Kertas berasal dari Cina Kuno, dan fungsi utamanya dulu adalah untuk membersihkan kotoran setelah buang air. Dulu, hanya orang kaya yang mampu membeli kertas. Berapa beruntungnya kita karena sekarang mudah sekali mendapatkan kertas. Kertas memiliki 1001 manfaat. Untuk menulis, mencetak, membuat prakarya, dan kertas juga bahan utama dari tisu yang manfaat utamanya adalah untuk membersihkan.

Coba, bayangkan sebuah dunia tanpa kertas. Jika ingin menulis cerita, atau membuat PR, harus mencari batu besar dulu, dan harus susah payah menulis  dengan  batu  lain.  Kita  tidak dapat membuat kartu ucapan untuk ulang tahun ayah,

atau mainan pesawat untuk teman dekat kita. Kita juga tidak akan dapat melukis imajinasi yang muncul

di benak kita, atau pemandangan yang kita lihat dengan mata kita sendiri. Kita tidak akan mampu mencetak foto keluarga saat jalan-jalan atau foto- foto teman-teman saat perpisahan sekolah. Kita tidak akan dapat membersihkan saus yang kita tidak sengaja kita senggol saat sedang makan.

Jadi, kertas sangatlah bermanfaat.  Janganlah  membuang- buang kertas jika masih dapat dipakai. Jika sudah tidak dapat dipakai pun, sebenarnya masih dapat didaur ulang lagi. Akan sangat sulit untuk hidup tanpa kertas. Padahal untuk menghasilkan kertas, ada banyak pohon yang harus dikorbankan. Jadi, ayo kita ingat untuk menggunakan kertas dengan baik dan bijaksana.

 


Ibu Puni, Membawa Listrik ke Pedalaman.
Oleh: Amanda Najla.

Tri Mumpuni Wiyatno, nama lengkapnya. Ia adalah seorang wanita Indonesia yang mengabdikan dirinya agar masyarakat Indonesia di pedalaman dapat menikmati listrik.

Sebagai anak ke-3 dari delapan bersaudara, sejak kelas 4 SD Ibu Puni sering menemani ibunya membantu warga desa yang menderita penyakit kulit. “Pengalaman saya menemani Ibu itu sangat membekas dalam ingatan saya. Dari pengalaman itu saya belajar bahwa uang bukanlah segalanya. Membantu saudara-saudara setanah air agar merasakan sedikit  saja  kesejahteraan  yang kita miliki, itu sangat berarti,” begitu Ibu Puni berkilas balik tentang pengalamannya.

Bersama suaminya, Bapak Iskandar Kuntoadji, Ibu Puni membantu warga di pedalaman yang tak tersentuh program pemerintah, untuk membangun sendiri listrik mereka dari sumber daya yang ada di desa itu, yaitu dengan membuat generator mikrohidro energi dari arus sungai.

Apa yang Ibu Puni kerjakan ini bukanlah hal yang mudah. Bukan teknologinya yang sulit, tetapi membangun semangat penduduk desa pedalaman agar mau

mengelola diri masing-masing sebagai suatu bagian dari komunitas, belajar bersama tentang listrik, berusaha mencari dana untuk kepentingan bersama. Tak kalah sulitnya, setelah dana terkumpul dan tenaga listrik mulai dapat dinikmati, warga harus dilatih untuk memelihara generator agar kelangsungan tenaga listrik terjaga.

Hasil kerja keras Ibu Puni membangun kemandirian masyarakat di pedalaman membuahkan hasil yang manis. Saat ini, ratusan desa yang merasakan manfaat dari adanya tenaga listrik. Anak-anak dapat belajar dan membaca di malam hari. Bahkan warga desa dapat mulai membangun industri rumahan dan mengembangkan perekonomian desanya.

Untuk jasanya, Ibu Puni menerima beberapa penghargaan dari badan dunia seperti WWF dan PBB, termasuk juga terpilih sebagai salah satu pembawa obor dalam Olimpiade di Beijing, tahun 2008.

SD6 Tema 2.4 – Literasi – Aku Cinta Membaca

SD6 Tema 2.4 – Literasi – Aku Cinta Membaca.

Cintailah Membaca, karena ?

semakin banyak membaca,
semakin banyak tempat yang kamu kunjungi,
semakin sering membaca, semakin sering kamu pergi bertualang,
semakin beragam bacaanmu, semakin beragam pula pengalamanmu.

Apa yang kamu baca akan membuatmu kaya, karena bacaanmu akan menambah ilmu untukmu, mengisi jiwamu dengan pengetahuan, dan membuka wawasanmu seluas-luasnya!

 

Judul : Asal Mula Kapur, Sirih, dan Pinang.
Cerita Rakyat Vietnam.

Alkisah, ribuan tahun yang lalu, di Vietnam hidup sepasang saudara laki-laki kembar bernama Tang dan Lan. Keduanya pandai dan berwajah tampan. Mereka hidup saling menyayangi. Kemana pun mereka pergi, mereka selalu bersama.
Suatu ketika, ayah Tang dan Lan sakit keras. Tak ada seorang tabib pun yang dapat menyembuhkan sang ayah, sehingga akhirnya beliau meninggal dunia. Rasa sedih yang mendalam karena kehilangan sang suami, menyebabkan ibu Tang dan Lan tidak mau makan, sehingga akhirnya beliau pun jatuh sakit. Tak lama kemudian, sang ibu pun meninggal menyusul ayah mereka. Tinggalah Tang dan Lan sebagai anak yatim piatu.

Sepeninggal kedua orang tuanya, Tang dan Lan berpikir keras untuk dapat menghidupi diri mereka. Akhirnya mereka mengunjungi sahabat ayah mereka semasa hidup, yang bernama Hakim Luu. Mereka minta kepada Hakim Luu untuk memberikan mereka pekerjaan. Sejak saat itu mereka tinggal bersama Hakim Luu dan membantu Hakim Luu di tokonya. Hakim Luu menyayangi Tang dan Lan seperti anaknya sendiri. Hakim Luu memiliki seorang anak perempuan yang cerdas dan cantik. Anak ini pun tumbuh besar bersama-sama Tang dan Lan.

Semakin dewasa, Tang dan Lan tumbuh menjadi pemuda tampan yang baik perangainya. Mereka pekerja keras yang santun, sehingga terpikir oleh Hakim Luu untuk menikahkan salah satu dari mereka dengan putrinya. Kedua pemuda itu sebenarnya juga menaruh hati kepada putri Hakim Luu, tetapi mereka tidak ingin menyakiti satu sama lain. Ketika Hakim Luu menyerahkan keputusan kepada mereka berdua, mereka pun saling tunjuk. Akhirnya, Hakim Luu memutuskan untuk memilih yang lebih tua di antara mereka, yaitu Tang.

Setelah menikah, Tang sibuk dengan kehidupan rumah tangganya, sehingga ia sering melupakan Lan. Ia lupa mengajak Lan mengobrol dan bercerita. Lan merasa sedih dan kesepian. Suatu hari, Lan bertekad mengembara seorang diri, meninggalkan kota, tanpa sepengetahuan Tang dan Hakim Luu. Ia berjalan tanpa arah, ke hutan, ke gunung, menyeberang sungai, sampai akhirnya ia tiba di pinggir sebuah pantai. Oleh karena sangat lapar dan lelah berjalan berhari-hari, Lan jatuh lemah, semakin lemah, dan akhirnya ia meninggal di tempat itu. Konon, jenazahnya berubah menjadi sebuah batu yang putih.

Beberapa hari setelah kepergian Lan, Tang menyadari bahwa adiknya tiada. Ia pun pergi mencari adik kembarnya itu. Ke hutan, ke gunung, menyeberang sungai, tak juga ditemukan adiknya itu. Sampailah ia di pantai yang sama. Ia pun terduduk menangis di atas sebuah batu putih, meratapi kehilangan akan adiknya. Berhari-hari ia menangis, tanpa makan dan minum, sampai ia pun jatuh lemah, semakin lemah, dan akhirnya ia juga meninggal di tempat yang sama. Konon, jenazahnya berubah menjadi sebuah pohon pinang.

Sementara, istri Tang sedih menanti kepulangan suaminya. Maka, ia pun menyusul berjalan tak tentu arah, mencari sang suami. Sampailah ia di pantai yang sama, menangis tak henti sambil bersandar di bawah pohon pinang. Berhari-hari ia menangis, tanpa makan dan minum, sampai ia pun jatuh lemah, semakin lemah, dan akhirnya ia juga meninggal di tempat yang sama. Jenazahnya menjelma menjadi sebatang pohon sirih yang melilit di batang pohon pinang, yang tak lain adalah jelmaan sang suami.

Konon, begitulah asal usul terjadinya kapur, sirih, dan pinang. Tiga manusia yang saling menyayangi, ditakdirkan untuk selalu berdekatan dan bersama, dalam kehidupan dan setelahnya.

Sekian.

 


Judul : Si Badang.

Cerita Rakyat Singapura.

Dahulu kala hidup seorang hamba di Temasik, yang sekarang dikenal sebagai Singapura. Hamba tersebut bernama Badang. Ia bekerja pada seorang majikan yang bernama Orang Kaya Nira Sura. Suatu hari, Badang diberi tugas oleh tuannya untuk menebas hutan dan membersihkan semak-semak di sebuah bukit. Tempat itu hendak dijadikan lahan bercocok tanam.

Dalam perjalanan menuju pulang dari bukit, ia harus melewati sebuah sungai. Karena lelah, Badang beristirahat dan membuka bekalnya. Hari itu bekalnya nasi sayur dan sambal. Setelah makan, Badang duduk memandang ke sungai. Terlihat olehnya ikan-ikan berlompatan di air yang jernih. Terpikir olehnya “Wah, kalau aku bisa menangkap ikan- ikan itu, tentu besok lauk untuk bekalku semakin enak. Kalau ikan yang tertangkap lebih dari satu, bisa aku bawa pulang untuk tuanku di rumah,” pikir Badang. Lalu, Badang menebang sebatang bambu perangkap ikan dari bambu. Ia menempatkan perangkapnya di dalam sungai.

Esok harinya, pagi-pagi Badang pergi lagi untuk melanjutkan pekerjaannya di bukit. Dalam perjalanan, ia mampir di sungai untuk melihat hasil tangkapan di perangkapnya. Namun, Badang terperanjat melihat setumpuk tulang ikan di pinggir sungai, berdekatan dengan lokasi perangkapnya. Ketika ia memeriksa terlihat olehnya bahwa sudah ada orang yang mengambil hasil tangkapannya. Tidak ada ikan di dalam perangkapnya, hanya tinggal sisa sisik dan tulangnya. Badang heran. Maka, ia pun memutuskan untuk mengintai semalaman di pinggir sungai sepulangnya dari menebas hutan.

Menjelang malam, perangkap Badang sudah mulai terisi oleh ikan. Tiba- tiba datang sesosok makhluk besar, bermata merah, bertaring panjang, berambut serta berjanggut panjang. Makhluk itulah yang rupanya memakan ikan dalam perangkap bambu Badang. Badang memberanikan diri untuk keluar, menerkam, dan menangkap janggut makhluk tersebut. Mereka pun berkelahi, sampai akhirnya makhluk seram itu mengaku kalah. Ia minta dilepaskan, namun Badang tidak membiarkannya pergi. Lalu, makhluk itu memohon “Kalau tuan melepaskan hamba, maka hamba akan berikan apa saja yang tuan minta,” katanya. Badang pun berpikir, maka ia mengajukan permintaannya. “Baiklah! Aku ingin menjadi seorang yang kuat, gagah, dan perkasa,” kata Badang.

“Kalau tuan ingin menjadi seorang yang perkasa, tuan harus makan sisa- sisa tulang ikan yang aku makan,” kata makhluk tersebut. Tanpa berpikir panjang, Badang pun makan sisa-sisa tulang ikan yang terserak dekat perangkapnya. Lalu, ia menguji kekuatannya dengan mencoba mencabut sebatang pohon besar. Ternyata berhasil! Ia bahkan bisa mencabut batang pohon tersebut dari tanah, hanya dengan satu tangan. Badang sangat gembira. Ia mengucapkan terima kasih kepada makhluk tersebut. Dalam sekejap, makhluk menyeramkan itu berubah menjadi sosok kakek tua berjangkut putih. “Aku bukanlah makhluk seram seperti yang kau bayangkan. Aku datang untuk menolongmu. Kamu seorang yang baik dan jujur,” kata kakek bijak itu sebelum pergi meninggalkan Badang.

Malam itu, Badang menebas hutan hingga bersih, lalu ia pun pulang. Majikannya heran ketika keesokan hari Badang tidak lagi pergi ke hutan. Ketika Badang memberitahu bahwa pekerjaannya telah selesai, tuannya tidak percaya. Orang Kaya Nira Sura pun memeriksa sendiri ke bukit. Betapa heran ia menemukan bahwa hutan di bukit sudah habis terbabat.

Kagum dengan keperkasaan Badang, maka Orang Kaya Nira Sura membebaskan Badang sebagai hambanya dan mempersembahkannya kepada Raja Temasik. Di Istana, Badang juga melakukan perbuatan perkasa yang mengagumkan. Ketika ia hendak mengambil buah yang diminta oleh permaisuri raja di atas sebuah pohon, dahan yang dipijaknya patah. Badang jatuh menimpa sebuah batu. Batu terbelah dua, namun Badang tidak cedera! Permaisuri melaporkan kejadian tersebut pada Sang Baginda. Sang baginda kagum dan heran. Kekuatan Badang tersebar luas di segala penjuru Temasik, dan sampai juga ke Benua Keling. Mendengar kabar tersebut, Maharaja Keling datang ke Temasik membawa pahlawan kuat dari negaranya, yang bergelar Pahlawan Gagah Perkasa. Ia menawarkan pahlawannya untuk beradu kuat dengan Badang.

Raja Temasik setuju. Maka pertandingan adu kekuatan diadakan di depan para petinggi kerajaan dan di hadapan semua rakyat. Sebuah batu besar diletakkan di hadapan masing-masing raja. Sang Pahlawan Gagah Perkasa dengan segenap kekuatannya mengangkat batu besar di hadapan rajanya. Ia bisa menangkatnya setinggi lutut, kemudian membawanya ke hadapan Maharaja Keling. Riuh rendah tepuk para pendukungnya. Lalu, tiba giliran Badang. Tubuhnya kecil tidak meyakinkan. Tetapi, ternyata Badang dapat mengangkat batu di hadapan Raja Temasik dengan mudahnya, kemudian melemparkan batu tersebut ke Teluk Belanga. Semua yang hadir terpesona dan kagum. Tepuk tangan membahana memuji keperkasaan Badang.

Demikianlah kemasyhuran Badang sebagai seorang yang gagah perkasa di zaman dahulu. Seorang budak bertubuh kecil, namun tidak serakah dalam mengajukan permintaan. Kehebatannya juga tidak disalahgunakan, selalu di dimanfaatkan untuk membantu majikannya. Itulah sebabnya kemashyurannya menjadi buah mulut yang dituturkan orang dari zaman ke zaman.

Sekian.


 

Judul : Potensi Ekonomi Negara-Negara Anggota ASEAN.

Kawasan Asia Tenggara terletak pada jalur perdagangan dunia. Kawasan ini menjadi jembatan antara kawasan Eropa dan Asia Timur. Oleh karena itu, Asia Tenggara juga menjadi wilayah persaingan bagi pihak-pihak ingin memanfaatkan kedudukan strategis kawasan ini. ASEAN berperan sebagai wadah untuk menghindari persengketaan yang mungkin timbul.

Dengan posisi yang strategis ini, tiap negara di kawasan Asia Tenggara juga memiliki kekayaan sumber daya yang kemudian menjadi kekuatan dalam perkembangan ekonomi negara-negara tersebut.

Brunei Darussalam Terkenal dengan kekuatan sumber daya alam berupa minyak bumi dan gas alam. Dengan pengolahan hasil kekayaan alam tersebut, Brunei menjadi negara di Asia Tenggara yang memilki pendapatan per kapita tertinggi.

 

Filipina.

Sebuah negara kepulauan yang mata pencaharian sebagian besar penduduknya adalah di bidang pertanian. Filipina berhasil menjadi salah satu negara di dunia yang dapat membangun dan mengembangkan sektor pertaniannya dengan baik. Beberapa produk unggulan hasil pertaniannya diekspor ke berbagai negara, seperti nanas, padi, kelapa, dan gula. Oleh karena itu, Filipina mendapat julikan “Home of the Green Revolution”. Hasil pertanian ini juga yang menunjang perkembangan ekonomi negara ini.

 

Indonesia.

Sebagai negara kepulauan terbesar di kawasan ini, Indonesia memiliki ragam sumber daya alam yang sangat kaya. Banyak sektor yang dapat dikembangkan untuk memperkuat perkembangan ekonomi Indonesia. Hingga saat ini Indonesia merupakan salah satu eksportir utama untuk minyak dan gas bumi, tekstil, dan produk-produk dari kayu. Kekayaan mineral seperti pertambangan aluminium, nikel, emas, dan batu bara juga menjadi salah satu pintu masuk para investor mancanegara ke Indonesia. Keindahan alam Indonesia pun merupakan daya tarik yang menjadi sumber devisa negara dari sektor pariwisata.

 

Kamboja.

Di Kamboja mengalir Sungai Mekong. Daerah di sekitar Sungai Mekong merupakan daerah yang subur. Oleh karenanya, mata pencaharian penting penduduk Kamboja adalah pertanian, yang banyak terdapat di sepanjang Sungai Mekong dan di sekitar Danau Tonie Sap. Hasil pertanian Kamboja yang besar, yang mendukung pengembangan sektor perekonomiannya adalah padi dan karet.

Laos.

Laos bertetangga dengan Kamboja, dan juga dilewati oleh aliran Sungai Mekong. Sama seperti di Kamboja, kegiatan pertanian banyak dilakukan di sepanjang aliran sungai ini. Sebagian besar hasil pertanian dikonsumsi oleh masyarakat Laos. Sementara ini Laos belum melakukan pengembangan dalam sektor usaha yang lain, walaupun diketahui memiliki juga sumber daya mineral seperti bijih besi, tembaga, dan batu bara.

Kegiatan ekonomi utama penduduk Malaysia adalah di bidang pertanian, pertambangan, dan perindustrian. Perdagangan internasional merupakan salah satu sektor ekonomi Malaysia yang mengalami pertumbuhan tercepat. Peralatan elektronik, minyak dan gas bumi, kayu dan produk dari kayu, minyak sawit, karet, tekstil, sepatu, dan bahan-bahan kimia adalah beberapa produk yang diekspor oleh Malaysia melalui jalur perdagangan internasional.

 

Myanmar.

Mata pencaharian utama penduduk Myanmar adalah pertanian, perkebunan, dan pertambangan. Padi merupakan hasil utama dari pertanian di sana. Myanmar merupakan salah satu negara penghasil padi terbesar di Asia Tenggara.

 

Singapura.

Walaupun merupakan negara dengan luas terkecil di kawasan Asia Tenggara, Singapura merupakan negara paling maju di kawasan ini. Sadar akan keterbatasan sumber daya alamnya, sejak awal Singapura fokus mengembangkan diri dalam menyediakan sarana dan prasarana sebagai tempat singgah jalur lalu lintas dunia. Letak Singapura sangat strategis, yaitu pada posisi silang jalur lalu lintas dari berbagai negara di Asia Timur, Asia Barat, Arika, Eropa, Amerika, dan Australia. Saat ini Singapura menjadi negara transit terramai di Asia.

 

Thailand.

Thailand sering disebut sebagai lumbung padi di Asia Tenggara. Padi memang merupakan hasil pertanian terbesar dari negara ini. Selain itu, perkebunan, kehutanan, pertambangan, dan industri juga merupakan kegiatan ekonomi penduduk Thailand. Saat ini, penghasil devisa utama untuk Thailand adalah dari sektor pariwisata. Keunikan situs- situs budaya di Thailand menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan mancanegara.

 

Vietnam.

Setelah pulih dari Perang Vietnam, negara ini mulai berkembang di berbagai sektor perekonomiannya. Sektor pariwisata dan turisme merupakan salah satu pendukung perkembangan ekonomi yang terus menggeliat naik hingga saat ini. Dengan berkembangnya sektor ini, bidang pendukung lainnya seperti usaha jasa di bidang perhotelan, restoran, serta transportasi juga turut berkembang pesat.

Potensi ekonomi masing-masing negara anggota ASEAN diharapkan dapat terpacu lebih cepat untuk menjadi penggerak pertumbuhan ekonominya. Hal ini dimungkinkan melalui berbagai kerja sama yang positif antarnegara dalam wadah organisasi ASEAN.


 

Judul : Pengalaman Belajar dari Negara-Negara ASEAN.

Hari ini merupakan hari yang penting bagi siswa kelas 6. Udin, Edo, Beni, Siti, Dayu, Lani dan teman-temannya akan berkunjung ke sebuah pameran penting. Ya, sekolah mereka memperoleh undangan untuk hadir di Pameran Budaya ASEAN yang diselenggarakan oleh Sekretariat ASEAN. Rombongan kelas 6 mewakili sekolah untuk hadir di pameran tersebut. Wah, tidak sabar rasanya Udin dan teman-teman ingin sampai di sana. Kebetulan saat ini mereka juga sedang belajar mengenai profil negara-negara tetangga. Mereka ingin sekali melihat bukti dari apa yang mereka pelajari dari buku dan cerita guru.

Hari ini arena pameran dipenuhi oleh siswa-siswi dari berbagai Sekolah Dasar. Memang, hari pertama pameran ini dibuka khusus untuk undangan dari berbagai sekolah. Udin dan teman-temannya dibagi menjadi beberapa kelompok agar dapat melihat arena pameran secara lengkap dan efektif. Pameran diikuti oleh sepuluh negara anggota ASEAN, termasuk Indonesia. Masing-masing anjungan tampil cantik dengan ragam hias khas tiap negara. Anjungan Indonesia tampil dengan ragam hias khas rumah Toraja. Unik dan menarik.

Tidak hanya ragam budaya dan situs pariwisata yang ditampilkan oleh anjungan tiap negara. Beberapa negara juga menampilkan produk khas buatannya. Ada hasil olah makanan, karya seni dan kriya, serta produk hasil olah tekstil. Walaupun berasal dari kawasan yang berdekatan, semua produk yang dihasilkan unik dan menarik. Lani sempat melihat kain khas Thailand yang disebut dengan Thai Silk. Beraneka warna, halus, dan memikat mata. Dayu tertarik melihat baju khas dari Filipina yang disebut Barong Tagalog. Berdasarkan keterangan yang dibacanya, bahan baju ini terbuat dari serat batang pisang dan batang nanas. Wah, menurut Dayu sama uniknya dengan baju tradisional di Bali.
Selain anjungan tiap negara anggota ASEAN, ada juga anjungan yang dikelola oleh sekretariat ASEAN. Udin menghabiskan banyak waktunya untuk menikmati tampilan di anjungan ini. Anjungan ini menampilkan dukungan dan usaha ASEAN dalam mengembangkan wirausaha kecil di tiap negara. ASEAN membuat sebuah pusat promosi yang menampilkan produk-produk yang dikembangkan oleh para wirausahawan di tiap negara. Hal ini ditujukan agar usaha-usaha ini dapat berkembang lebih cepat dan mempunyai wadah untuk diperkenalkan sebagai komoditi ekspor. Macam-macam produk kreatif ada di sana. Ada jaket kulit dari pengrajin Garut, ada manisan buah Thailand dalam kemasan kaleng kecil yang menarik, ada yang memperkenalkan alat penyeduh kopi klasik Vietnam, serta ada pula aplikasi agribisnis yang dikembangkan oleh pemuda Indonesia untuk menghubungkan petani dan konsumen. Semua menampilkan inovasi dan karya kreatif yang memukau. ASEAN menyediakan wadah promosi, berbagai tips, serta pelatihan bagi pengembangan usaha para wirausahawan muda ini. Dengan demikian mereka dipupuk untuk menjadi cikal bakal pengusaha yang dapat membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi negaranya.

Pengalaman belajar Edo juga berbeda. Edo terkesan dengan berbagai makanan khas yang disajikan di tiap anjungan. Memang, Edo selalu tertarik dengan makanan dari berbagai daerah. Ada singkong santan khas Thailand, ada Pho dari Vietnam, ada Larb dari Laos, dan masih banyak makanan lain yang namanya pun baru Edo tahu. Makanan khas tiap negara menunjukkan pula ciri khas sumber daya alam serta budaya masyarakat di negara tersebut. Walaupun terletak di kawasan yang sama, ternyata masih ada pula sedikit perbedaan pada selera dan isi piring di tiap negara.
Berbeda dengan Edo yang tertarik dengan tampilan aneka makanan khas, Beni tertarik dengan anjungan Negara Brunei yang menampilkan Wayang Asik khas negaranya. Wayang ini sekitar tahun 1960 populer di Kampung Ayer, di tepi Sungai Brunei. Saat ini Brunei berusaha mengembangkan kembali minat masyarakatnya untuk mempelajari wayang Asik karena popularitasnya yang mulai turun sejak masuknya berbagai budaya asing. Ada hal yang menarik bagi Beni melihat inovasi yang dilakukan anjungan Brunei untuk memperkenalkan wayang Asik. Tidak seperti wayang Indonesia, yang menampilkan sosok legendaris dunia pewayangan, wayang Asik ini menampilkan sosok tokoh manusia dalam bentuk kecil. Tinggi wayang hanya sekitar delapan hingga sepuluh cm. Biasanya wayang ini dibuat dari kertas tebal dengan pegangan dari stik kayu. Nah, di anjungan ini, wayang Asik ditampilkan dengan cara yang berbeda. Tidak menggunakan stik kayu dan tangan sang dalang sebagai penggeraknya, tetapi menggunakan bilah magnet yang ditempelkan di bagian bawah wayang. Wayang akan bergerak ketika bilah magnet di bawah papan peraga bertemu dengan magnet pasangannya, lalu digerakkan. Kreatif! Baru terpikir oleh Beni bahwa magnet pun dapat dijadikan alat bantu untuk menampilkan karya seni.

Tak habis-habis daya tarik yang disajikan oleh pameran ini. Udin dan teman- teman sempat juga mengikuti aneka lomba yang diadakan oleh beberapa anjungan negara. Walaupun harus antre untuk mengisi formulir lomba, mereka tidak menyerah. Paling tidak, mereka merasakan untuk ikut satu lomba di salah satu anjungan. Hadiahnya? Tentu saja cendera mata khas dari negara tersebut.

Menyaksikan Pameran Budaya ASEAN memberikan Udin dan teman-teman pengalaman belajar yang berharga. Kini pengetahuan mereka semakin kaya. Pengetahuan dari penjelasan guru, dari buku yang dibaca, serta menyaksikan langsung ragam karya dan budaya yang ditampilkan tiap negara ASEAN.

Sekian.

 

SD Kelas 5 Tema 6 – Laut Kita Penuh Harta Karun – Literasi 4

Kegiatan Literasi 4

Judul : Laut Kita Penuh Harta Karun.

Penulis: Erlita Pratiwi

Minggu pagi yang cerah. Nara bersama ayah dan Om Benny, teman ayah, naik perahu motor meninggalkan pelabuhan Tanjung Luar, Lombok Timur, menuju ke tengah laut lepas. Ayah Nara yang mengemudikan perahu motor itu menuju perahu besar yang berada di tengah laut.

Sesampainya di perahu besar, Nara melihat teman-teman ayah membersihkan kerang mutiara. Kerang-kerang itu kemudian akan dikembalikan ke dalam laut. Bila sudah cukup umur, dipanen untuk diambil mutiara yang terdapat di dalam kerang.

Nara memperhatikan kerang-kerang yang sedang dibersihkan. Lalu, ia memegang salah satunya. Sama sekali tidak terlihat ada sesuatu yang mahal di dalamnya.

“Yang ini, mutiaranya sudah sebesar apa, Ayah?” tanya Nara penasaran. “Harus diperiksa dengan sinar-X terlebih dahulu, Nara. Baru nanti bisa terlihat,” kata ayahnya. Nara pun hanya manggut-manggut.

“Tidak semua proses mutiara berhasil, Nara. Dengan bantuan sinar-X, kita bisa tahu kerang yang gagal,” kata Om Benny menjelaskan.

Om Benny lalu menunjuk kerang yang sedang dibersihkan. “Ini namanya Pinctada maxima. Jenis kerang ini menghasilkan mutiara berwarna keemasan. Kerang-kerang harus dibersihkan dari siput dan binatang lain yang menempel. Hewan-hewan itu akan mengisap makanan yang ada di dalam kerang. Nanti mutiaranya jadi tidak sempurna.”

Nara menyimak penjelasan Om Benny itu. “Pantas saja mutiara itu harganya mahal. Prosesnya sulit dan lama ya, Om,” kata Nara.

Om Benny mengangguk membenarkan.
“Kamu tahu tidak, mutiara dari perairan Lombok sudah terkenal ke seluruh dunia, Nara. Faktanya, hampir 43 persen mutiara di dunia itu dihasilkan dari Indonesia,” tiba-tiba Om Benny berkata lagi.

“Wow, keren!” Nara berseru kagum. ”Indonesia ternyata punya banyak harta karun di laut, ya, Om,” kata Nara.

”Iya, Nara. Bangsa kita memang kaya akan hasil laut. Bukan cuma mutiara, masih banyak kekayaan hasil laut lainnya, Nara. Tapi, sayangnya, potensi sumber daya kelautan Indonesia yang sangat besar itu, sampai sekarang masih belum tergarap secara optimal, Nara,” lanjut Om Benny dengan nada prihatin.

”Oh, begitu ya, Om?” Nara ikut merasa sedih mendengarnya.

“Oleh karena itu, kamu belajar yang rajin, Nara! Supaya saat kamu besar nanti, kamu dan generasi muda penerus bangsa lainnya, dapat mengolah kekayaan hasil laut Indonesia ini dengan baik. Bangsa kita nantinya bisa menjadi makmur,” pesan Om Benny kemudian.

“Siap, Om!” Nara membuat gerakan hormat dengan tangannya.

Om Benny dan Ayah Nara pun tersenyum senang, melihat semangat Nara.

 

 

ceritakanlah isi cerita di atas kepada teman-teman dalam kelompokmu!

  • Judul Cerita :
  • Pengarang :
  • Tokoh Utama: Di manakah cerita ini terjadi?
  • Tokoh lain:
  • Apa yang dilakukan oleh tokoh utama?
  • Mengapa hal itu dilakukan?
  • Pesan apakah yang kamu dapatkan dari cerita di atas?

Perhatikanlah beberapa kata yang dicetak tebal pada bacaan di atas. Catatlah, dan cari artinya dari Kamus Besar Bahasa Indonesia. Lalu, buatlah paling sedikit dua kalimat menggunakan kata-kata tersebut. Jangan lupa gunakan kalimat lengkap dan kata-kata baku. Gunakan tabel berikut ini untuk mengerjakannya. Tukarkan dengan teman sebangkumu untuk saling memeriksa hasil pekerjaanmu.

 

 

SD Kelas 5 Tema 6 – Kisah Kakak beradik Nelayan – Literasi 3

Kegiatan Literasi 3 – SD Kelas 5 Tema 6.

Kisah Kakak Beradik Nelayan.

Di sebuah perkampungan nelayan di daerah Teluk Kiluan, Lampung, hiduplah dua orang kakak beradik yang bekerja sebagai nelayan. Anak sulung bernama Rako, sementara adiknya bernama Maro.
Rako adalah nelayan yang malas. Saat mencari ikan, ia selalu menggunakan bom ikan untuk menghancurkan terumbu karang yang banyak ikannya. Setelah bom meledak, Rako mengambil ikan-ikan yang mati terapung karena bom itu.
Sementara itu, Maro, nelayan yang rajin. Ia rela seharian berada di tengah laut untuk mencari ikan dengan jaring yang sederhana demi menafkahi hidup.
Rako suka menertawakan Maro. “Buat apa kamu capai-capai seharian menebar jaring di tengah laut, Maro? Toh, hasilnya cuma sedikit. Sementara aku, cuma mengebom sekali sudah dapat ikan banyak sekali!”
Maro menjawab. “Biarlah, Kak. Walaupun hasil yang kudapat sedikit, ini adalah cara yang baik dan tidak merusak lingkungan alam.” “Ha-ha-ha… Kamu sok peduli kepada alam!” ujar Rako mencibir.
Keesokan hari, Rako tetap mencari ikan dengan cara mengebom terumbu karang di laut. Hasil yang didapat memang berlimpah. Namun, semakin lama, semakin banyak kerusakan pada terumbu karang di lautan sekitar Teluk Kiluan. Karena sering merusak alam, Rako akhirnya terkena batunya. Suatu hari, saat ia berada di tengah lautan untuk mengebom terumbu karang, bom tiba-tiba meledak di tangannya sendiri. Bom itu melukai tangan dan wajahnya!
Pada hari yang sama, di bagian lain lautan lepas, Maro dengan sabar mencari ikan dengan jaring. Sudah seharian, ia belum juga mendapatkan ikan.

Menjelang sore, jaring Maro berhasil menangkap sekumpulan ikan kerapu. Maro pun kegirangan. Lebih gembira lagi, beberapa tiram juga ikut tersangkut di jaring. Di dalam tiram itu, Maro menemukan butiran-butiran mutiara yang sangat indah dan berharga mahal.
Rako mengalami cedera pada tangan dan wajah akibat bom ikan. Sementara itu, Maro menjadi nelayan yang kaya raya karena mutiara yang telah ditemukan. Semua itu berkat kerajinan, kesabaran, dan kejujuran Maro. Namun, Maro tetap sayang kepada kakaknya. Sebagian harta miliknya diberikan kepada Rako, tetapi dengan syarat sang kakak tidak boleh mencari ikan dengan cara merusak terumbu karang lagi.

ceritakanlah isi cerita di atas kepada teman-teman dalam kelompokmu!

  • Judul Cerita :
  • Pengarang :
  • Tokoh Utama: Di manakah cerita ini terjadi?
  • Tokoh lain:
  • Apa yang terjadi dengan tokoh Mengapa hal itu terjadi?
  • Bagaimana masalah dalam cerita ini Kapankah waktu terjadinya cerita
    diselesaikan? ini?
  • Pesan apakah yang kamu dapatkan dari cerita di atas?

 

  • Bacalah kembali cerita di atas dengan saksama. Lakukanlah perbandingan antara tokoh Rako dan Maro. Keduanya adalah nelayan yang memiliki hak, kewajiban, dan tanggung jawab yang sama. Tetapi, perhatikanlah bagaimana keduanya melakukan kewajiban dan tanggung jawabnya. Gunakanlah tabel berikut untuk membandingkan keduanya.

 

Tokoh Rako, Tokoh Maro :

  • Apakah hak keduanya?
  • Apakah kewajiban keduanya?
  • Apakah ia melakukan kewajibannya? Jelaskan!
  • Apakah tanggung jawabnya?
  • Apakah ia melakukan tanggung jawabnya? Jelaskan?
  • Apa saja akibat dari perbuatannya?

 

SD Kelas 5 Tema 6 – Pahlawan Buku – Penulis Ganda Rudolf – Literasi 2

Literasi 2 – SD Kelas 5 Tema 6.

Judul : Pahlawan Buku.
Penulis  : Ganda Rudolf

Saat jam istirahat, di salah satu sekolah dasar di Kebumen, Jawa Tengah, dua siswi perempuan menelusuri koridor sekolah menuju perpustakaan.
”Nur, bukankah sebelum kamu pinjam, buku ini sudah rusak?” kata Sekar membolak-balik buku di tangannya. Pangling. Ia mengambil buku di genggaman teman sebangkunya itu.
“Iya, aku yang merekatkan kembali lembaran-lembaran halaman yang terlepas dengan lem,” jawab Nur tersenyum.
“Aih, Nur. Buat apa sih kamu repot-repot seperti itu? Nanti juga buku itu rusak lagi!” cetus Sekar. Nur hanya tersenyum.
Sekarang, mereka sudah tiba di perpustakaan.
“Selamat pagi, Bu Maya!” sapa Nur dan Sekar kepada Bu Maya petugas perpustakaan.
“Selamat pagi juga Nur dan Sekar,” balas Bu Maya. Bu Maya lalu menerima buku-buku dari Nur dan Sekar. Ia sibuk mencocokkan nomor induk di lembaran tanggal kembali yang tertempel pada buku dengan nomor induk pada kantong peminjam.

Selagi menunggu, Nur berbisik kepada Sekar. “Sekar, coba lihat di pojokan belakang meja Bu Maya.”
“Oh, tumpukan buku-buku yang sudah rusak itu,” tanggap Sekar. “Lalu memangnya kenapa? Buku-buku itu kan nanti diperbaiki lagi oleh pengurus perpustakaan.” “Memang, sih,” sahut Nur.
Setelah mendapatkan kantong peminjaman lagi, Nur dan Sekar menuju rak buku-buku yang rusak. ”Butuh waktu lama memperbaiki buku-buku ini semua, Sekar,” kata Nur. “Yang rugi kita juga, lho! Coba kalau buku yang ingin kita baca ternyata ada di antaranya!”
“Iya, ya? Padahal, buku-buku yang rusak ini masih kelihatan baru!”
“Itu karena peminjamnya tidak memperlakukan buku dengan baik,” imbuh Nur.
Sekar jadi termangu. “Mereka yang merusak buku ini sepertinya tidak menghargai buku-buku yang sudah memberikan banyak ilmu pengetahuan dan wawasan ya!” keluh Sekar.
“Nah, itu kamu sadar,” kata Nur menepuk lembut bahu Sekar. “Kalau bukan dimulai dari kita, siapa lagi yang mau peduli dengan buku?”
“Kalau begitu, sekarang aku pinjam buku-buku yang rusak ini saja, deh!” Sekar mengambil dua buku dari kumpulan buku-buku yang rusak itu.
“Lho, itu kan halaman tengahnya sudah lepas? Tidak enak kalau dibaca,” goda Nur.
“Tidak apa-apa. Nanti aku perbaiki dahulu baru dibaca,” jawab Sekar semangat.
“Nah, sekarang sudah ada dua pahlawan buku di sekolah kita!” celetuk Bu Maya. Diam-diam Bu Maya mendengar dialog Nur dan Sekar tadi.
“Eh, Bu Maya. Ibu bisa saja,” kata Nur dan Sekar bersamaan dengan tersipu-sipu.

Coba Isilah :

  • Judul Cerita : 
  • Pengarang : 
  • Tokoh Utama: Di manakah cerita ini terjadi?
  • Tokoh lain:
  • Apa yang terjadi dengan tokoh utama?
  • Mengapa hal itu terjadi?
  • Bagaimana masalah dalam cerita ini Kapankah waktu terjadinya cerita
    diselesaikan? ini?
  • Pesan apakah yang kamu dapatkan dari cerita di atas?

Pernahkah kamu mengunjungi perpustakaan sekolahmu? Perhatikanlah siapa saja yang terlibat di perpustakaan. Lalu, cari tahu peran mereka masing- masing hak dan kewajibannya. Perhatikan juga kemungkinan yang terjadi jika salah satu dari orang yang terlibat di perpustakaan tidak melakukan tanggung jawabnya. Gunakan tabel berikut untuk membantumu. Setelah itu, jelaskanlah hasil pekerjaanmu kepada teman sebangkumu!

Coba cari Tahu , Orang yang Terlibat di Perpustakaan Sekolah, Peran, Hak , Kewajiban.