Bahasa Indonesia – SD Kelas 5 – Tema 4 – Kurikulum 2013 Rev 2017

Bahasa Indonesia – SD Kelas 5 – Tema 4 – Kurikulum 2013 Rev 2017.

RANGKUMAN MATERI KELAS V

 

TEMA                                    : 4

SUB TEMA                           : 1, 2, 3

 

KOMPETENSI DASAR :

3.6 Menggali isi dan amanat pantun yang disajikan secara lisan dan tulis dengan tujuan kesenangan.

 

  1. PENGERTIAN PANTUN

Pantun adalah jenis puisi lama yang tiap baitnya terdiri atas empak baris serta memiliki sampiran dan isi.

 

  1. CIRI-CIRI PANTUN

Jenis puisi lama yang asal bermula dari kata patuntun ini pada dasarnya diharapkan dapat menjadi penuntun hidup bagi orang yang mendengar maupun membacanya. Tidak hanya sekadar berisi nasihat dan imbauan, penyampaiannya pun memiliki cirri khas yang begitu kental, seperti berikut ini.

 

  1. Tiap Bait Terdiri atas Empat Baris

Puisi lama yang satu ini memiliki ciri khas kuat, yaitu tiap baitnya selalu terdiri atas empat baris. Barisan kata-kata pada pantun dikenal juga dengan sebutan larik.

 

  1. Terdiri dari 8-12 Suku Kata di Tiap Baris

Mulanya pantun cenderung tidak dituliskan, melainkan disampaikan secara lisan. Karena itulah, tiap baris pada pantun dibuat sesingkat mungkin, namun tetap padat isi. Oleh karena alasan inilah, tiap baris pada pantun umumnya terdiri atas 8—12 suku kata.

 

  1. Memiliki Sampiran dan Isi

Salah satu keunikan pantun yang membuatnya menjadi begitu mudah diingat adalah jenis puisi lama yang satu ini tidak hanya padat berisi, melainkan juga memiliki pengantar yang puitis hingga terdengar jenaka. Pengantar tersebut biasanya tidak berhubungan dengan isi, namun menjabarkan tentang peristiswa ataupun kebiasaan yang terjadi di masyarakat. Pengantar isi pantun inilah yang kerap dikenal sebagai sampiran.

Untuk masalah penempatannya di dalam pantun, sampiran akan selalu berada di baris pertama dan kedua. Sementara itu, isi pantun menyusul di posisi baris ketiga sampai keempat.

BACA JUGA :   Penggunaan Huruf Kapital yang Benar Menurut EYD

 

  1. Berima a-b-a-b

Rima atau yang juga biasa disebut dengan sajak adalah kesamaan bunyi yang terdapat dalam puisi. Biasanya, jenis-jenis puisi lama kental akan rima, termasuk dengan pantun. Khusus untuk pantun, jenis puisi yang satu ini memiliki ciri khas yang begitu kuat, yakni rimanya adalah a-b-a-b.

Yang dimaksud dengan rima a-b-a-b adalah ada kesamaan bunyi antara baris pertama dengan ketiga pantun dan baris kedua dengan baris keempat. Jadi, kesamaan bunyi pada pantun selalu terjadi antara sampiran dan isi.

 

  1. JENIS-JENIS PANTUN

 

  1. Pantun Nasihat

Pada dasarnya, pantun dibuat untuk memberi imbauan dan anjuran terhadap seseorang ataupun masyarakat. Karena itulah, tema isi pantun yang paling banyak dijumpai berjenis pantun nasihat. Pantun yang satu ini memiliki isi yang bertujuan menyampaikan pesan moral dan didikan.

Contoh:

Di jalan tak sengaja berjumpa daun sugi
Ingat manfaat, lantas cepat dibawa
Tiada belajar tiada yang rugi
Kecuali diri sendiri di masa tua

 

  1. Pantun Jenaka

Sesuai namanya, jenis pantun yang satu ini memang memiliki kandungan isi yang lucu dan menarik. Tujuannya tak lain untuk memberi hiburan kepada orang yang mendengar ataupun membacanya. Tidak jarang pula, pantun jenaka digunakan untuk menyampaikan sindiran akan kondisi masyarakat yang dikemas dalam bentuk ringan dan jenaka.

Contoh:

Hujan turun di hari sabtu

Anak duduk makan bubur

Melihat katak duduk termangu

Bangau berjoged untuk menghibur

 

  1. Pantun Agama

Jenis pantun yang satu ini memiliki kandungan isi yang membahas mengenai manusia dengan pencipta-Nya. Tujuannya serupa dengan pantun nasihat, yaitu memberikan pesan moral dan didikan kepada pendengar dan pembaca. Akan tetapi, tema di pantun agama lebih spesifik karena memegang nilai-nilai dan prinsip agama tertentu.

BACA JUGA :   IPS - Pengetahuan Sosial - SD Kelas 5 - Tema 1,2,3,4,5 - Kurikulum 2013 Rev 2017

Contoh:

Kalau sudah duduk berdamai
Jangan lagi diajak perang
Kalau sunah sudah dipakai
Jangan lagi dibuang-buang

(Tenas Effendy)

 

  1. Pantun Teka-teki

Jenis pantun yang satu ini selalu memiliki ciri khas khusus di bagian isinya, yakni diakhiri dengan pertanyaan pada larik terakhir. Tujuan dari pantun ini umumnya untuk hiburan dan mengakrabkan kebersamaan.

Contoh:

Jikalau tuan tajuk cendana

Ambil gantang jemurkan pala

Jikalau tuan memang bijaksana

Binatang apa ekor di kepala ?

 

 

  1. Pantun Anak

Tidak hanya untuk orang dewasa, pantun bisa juga disampaikan untuk anak-anak. Tentu saja isinya lebih ringan dan menyangkut hal-hal yang dianggap menyenangkan oleh si kecil. Tujuan awal dari jenis pantun yang satu ini adalah untuk mengakrabkan anak dengan pantun, sekaligus memberikan didikan moral bagi mereka.

Contoh:

Kita menari ke luar bilik
Sembarang tari kita tarikan
Kita bernyanyi bersama adik
Sembarang lagi kita nyanyikan

 

  1. MENGENALI ISI PANTUN

Bimbim mempunyai kebiasaan kurang baik. Ia sering jajan sembarangan. Ia sering membeli makan-makanan yang mengandung pewarna buatan dan bahan pengawet. Dia tidak suka makan sayur dan makanan yang dimasak ibunya sendiri. Akibatnya Bimbim sering sakit tifus dan dirawat di RS. Meskipun demikian, Bimbim tidak jera. Ia masih melakukan kebiasaan buruknya.

 

 

 

 

 

 

  1. BERBALAS PANTUN

Berbalas pantun dilakukan oleh laki-laki dan perempuan yang masing-masing mewakili pihak pria dan wanita. Dalam berbalas pantun, harus menyiapkan banyak pantun untuk diucapkan secara bergantian. Pantun satu dan lainnya saling berkaitan sehingga disebut pantun berkait atau disebut seloka. Seloka dapat berisi nasihat, tetapi terkadang juga berisi sindiran untuk menciptakan suasana gembira (kelucuan).

BACA JUGA :   Bahasa Indonesia - SD Kelas 5 - Tema 5 - Kurikulum 2013 Rev 2017

 

(1)

Menimbang barang dengan bejana

Makan nasi lauknya ikan

Tuntutlah ilmu sampai ke Cina

Ilmu baik harus diamalkan

 

(2)

Makan nasi lauknya ikan

Manis rasanya buah mangga

Ilmu baik harus diamalkan

Biar jadi amalan berharga

(3)

Manis rasanya buah mangga

Buah yang bususk jangan dimakan

Biar jadi amalan berharga

Berbuat baik jangan bicarakan

 

 

 

 

 

 

  1. MENGUBAH CERITA MENJADI PANTUN

            Sebuah cerita dapat diubah menjadi pantun. Mengubah cerita menjadi pantun disebut memparafrasa. Memparafrasa adalah mengubak teks menjadi bentuk lain. Misalnya mengubah cerpen menjadi cerita. Cerpen juga dapat diparafrasa menjadi drama. Pantun dapat diparafrasa menjadi cerita. Begitu juga bentuk teks lain dapat diparafrasa bentuk lain.

 

CONTOH : Cerita drama diubah menjadi pantun

 

Ke kebun binatang melihat badak

Badak banyak jenisnya

Berbakti kewajiban anak

Sesuai tuntutan agama

Anak mengejar layang-layang

Layangan terbang ke angkasa

Orang tua harus disayang

Agar tidak jadi durhaka

Pohon tumbang diatas bukit

Burung terbang diangkasa

Jika orang tua sakit

Kewajiban anak merawatnya

Si Dudung kakak Si Mimin

Si Budi adik Si Wati

Anak-anak berhak bermain

Bermain untuk menghibur diri

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *