SD Kelas 4 Tema 8.2.4 – Daerah Tempat Tinggalku – Sub.Tema 2 – Keunikan Daerah Tempat Tinggalku

SD Kelas 4 Tema 8.2. – Daerah Tempat Tinggalku – Sub.Tema 2 – Keunikan Daerah Tempat Tinggalku.

Pembelajaran 4.

Tahukah kamu daerah dengan julukan kota 1000 industri?
Daerah dengan julukan kota 1000 industri adalah Kota Tangerang di Provinsi Banten. Apa Keunikan dari Kota tangerang? Mari, kita cari tahu.

Tangerang merupakan kota unik dilihat dari kegiatan ekonominya. Kegiatan ekonomi masyarakat di antaranya dapat dilihat dari hadirnya pasar tradisional yang terletak di jalan Kisamun pusat Kota Tangerang hingga berdirinya banyak pabrik di Tangerang.

Tangerang dijuluki kota 1000 industri karena merupakan pusat industri di Pulau Jawa yang berdiri lebih dari 1000 pabrik. Banyak perusahan-perusahaan internasional yang memiliki pabrik di kota ini. Selain keunikan di kegiatan ekonomi, Tangerang memiliki keunikan dari bangunan-bangunan lama yang masih berdiri sampai sekarang. Ayo, lakukan kegiatan berikut.

Kota Tangerang adalah sebuah kota yang terletak di Tatar Pasundan Provinsi Banten, Indonesia. Kota ini terletak tepat di sebelah barat ibu kota negara Indonesia, Jakarta. Kota Tangerang berbatasan dengan Kabupaten Tangerang di sebelah utara dan barat, Kota Tangerang Selatan di sebelah selatan, serta Daerah Khusus Ibukota Jakarta di sebelah timur. Tangerang merupakan kota terbesar di Provinsi Banten serta ketiga terbesar di kawasan Jabodetabek setelah Jakarta dan Bekasi di provinsi Jawa Barat.

Tempat-Tempat Bersejarah Di Kota Tangerang memang sangat banyak sekali, antara lain:
1. Reruntuhan Benteng.
Kota Tangerang sering disebut dengan sebagai Kota Benteng. Ceritanya berawal dari zaman VOC yang telah membangun sebuah benteng pertahanan di dekat Sungai Cisadane yang digunakan sebagai pertahanan Bupati Tangerang I (Aria Soetidilaga I) diri dari serangan Kesultanan Banten. Akan tetapi Benteng ini sejak tahun 1812 sudah tidak ada yang merawat lagi. Demikian laporan “Superintendant of Publik Building and Work” tertanggal 6 Maret 1816. Kini, di kawasan bekas benteng, didiami oleh kebanyakan keturunan etnis Tionghoa.

2. Pasar Lama Tangerang.
Pasar Lama Tangerang adalah salah satu ikon sejarah Kota Tangerang berada dekat Sungai Cisadane ini. Pasar ini ialah pasar tradisional tertua dan merupakan cikal bakal Kota dari keberadaan kota Tangerang. Tempat ini dipenuhi oleh etnis Tionghoa yang merupakan tempat bersejarah etnis Tionghoa di Tangerang.

3. Kelenteng Boen Tek Bio.
Kelenteng Boen Tek Bio TangerangKelenteng Boen Tek Bio berada di area Pasar Lama. Kelenteng Boen Tek Bio adalah kelenteng tertua di Tangerang yang berusia 300 tahun. Kelenteng ini mengalami renovasi sekali, yaitu pada tahun 1844. Klenteng ini merupakan salah satu dari ketiga kelenteng besar yang sudah tua di Tangerang. Dua kelenteng lainnya yaitu Boen Hay Bio dan Boen San Bio.

4. Vihara Padumuttara.
Tempet ibadah umat Budha ini berada di belakang kelenteng Boen Tek Bio. Vihara ini begitu besar dan selalu bersih. Anda bisa merasakan kesejukan udaranya ketika berada di dalam vihara.

5. Masjid Jami Kali Pasir
Masjid Jami Kali Pasir (masjid tua) ini lokasinya berdekatan dengan Kelenteng Boen Tek. Masjid dengan nuansa hijau putih tersebut sudah mengalami banyak perubahan, hanya dua sisi bangunan yang masih utuh dipertahankan hingga sekarang, yaitu empat tiang di dalam masjid, dan kubah kecil bermotif China yang berada di atas masjid. Bangunan masjid ini bernuansa Tionghoa, luas areanya mencapai 16×18 meter persegi ini berada di tengah pemukiman padat penduduk.

6. Museum Benteng Heritage.
Bangunan yang berada di tengah Pasar Lama ini, memiliki dua tingkat. Lantai satu dijadikan restoran, tempat gathering, penjualan suvenir, dan sebagainya. Sedangkan di lantai kedua dijadikan tempat koleksi museum. Museum ini adalah milik pribadi yaitu Udaya Halim adalah restorasi dari bangunan tua berarsitektur tradisional Tionghoa yang dibangun sekitar abad ke-17. Museum ini dijuluki Pearl of Tangerang banyak mendapatkan penghargaan. Yang pertama dalam ajang Federation Internationals des Administrateurs de Bien-Conselis Immobiliers (FIABCI) Indonesia, yang manjadi juara pertama untuk kategori Heritage pada tahun 2012. Sedangkan pada tahun 2013 di tingkat internasional yaitu FIABCI Prix d’excellent Award, museum ini memperoleh juara kedua.
7. Taman Makam Pahlawan Seribu dan Monumen Lengkong
Taman Makam Pahlawan Seribu dan Monumen Lengkong ini berada di BSD Serpong. Dinamakan seribu karena dulu kala terjadi pertempuran yang melibatkan ribuan orang dari laskar perlawanan rakyat Banten yang berasal dari daerah Tejo, Madja dan daerah sekitar Rangkas Bitung yang dipimpin oleh Kyai setempat. Sedangkan Monumen Lengkong di dedikasikan untuk mengenang peristiwa Lengkong pada waktu taruna Akedemi Militer Tangerang menyerbu dan merebut gudang senjata Belanda pimpinan Mayor Daan Mogot.

BACA JUGA :   Buku Tematik – Kelas 4 - Tema 7 - Indahnya Keragaman di Negeriku

Bacalah teks fiksi mengenai Kota Tangerang. Kamu dapat memperoleh teks fiksi mengenai Kota Tangerang dari berbagai media. Mintalah pendampingan kepada guru, orang tua, atau orang dewasa jika kamu akan mengakses internet. Setelah kamu membaca teks fiksi mengenai kota Tangerang, tuliskan hal-hal berikut.

KOMPAS.com – Matahari baru saja menampakkan wajahnya yang bundar sempurna berwarna jingga pekat pagi itu. Seolah memberikan semangat pada saya yang hari itu akan melakukan sebuah perjalanan panjang menapaki sisa-sisa sejarah di kota tetangga, Tangerang.

Waktu baru menunjukkan pukul 05.50, tapi saya sudah sampai di Stasiun Cakung untuk melakukan perjalanan menuju ke Tangerangmenggunakan commuter line. Hari itu, Minggu (29/9/2013), saya dan komunitas Love Our Heritage (LOH) akan melakukan Jelajah Kota Tangerang selama sehari. Tak sabar rasanya bertemu mereka di Stasiun Tangerang nanti, tempat kami merencanakan pertemuan hari itu.

Sekitar pukul 06.00 kereta sudah datang. Artinya, saat itu pula perjalanan saya dimulai. Untuk sampai di Kota Tangerang saya harus melewati 17 stasiun dengan dua kali transit di Stasiun Manggarai dan Stasiun Duri. Senangnya melakukan perjalanan dengan commuter linedi hari Minggu, tidak banyak penumpang yang berjejalan di gerbong kereta. Bahkan gerbong kereta terasa amat lengang dan banyak tempat duduk yang masih kosong. Andai saja, kondisi ini bisa didapatkan setiap hari, pasti banyak masyarakat yang mau menggunakan moda transportasi umum ini.

Menempuh perjalanan selama dua jam lamanya, akhirnya saya menginjakkan kaki di kota Tangerang. Saat turun dari kereta saya langsung mencari teman-teman Komunitas LOH, tidak sabar rasanya menyusuri kekayaan sejarah kota Tangerang. Memang benar kata pepatah, kalau jodoh tak akan lari ke mana. Ternyata saya satu perjalanan dengan teman-teman LOH sejak dari Stasiun Duri, tapi sayangnya kami berada di gerbong yang berbeda.

Kemudian, kami pun berkumpul di peron untuk menunggu teman-teman lain yang masih dalam perjalanan menuju Tangerang. Sementara menunggu, kami dibagikan sinopsis perjalanan sebagai penduan wisata yang akan kami jalankan selama sehari.

Saatnya Memulai Perjalanan

Hari itu, kami akan menjelajahi kawasan Pasar Lama, Tangerang, dengan rute perjalanan Nasi Uduk Encim Sukaria, Sungai Cisadane, Kelenteng Boen Tek Bio, Masjid Jami Kalipasir, dan Museum Benteng Heritage. Untuk menjelajahi tempat-tempat tersebut, kami lakukan dengan berjalan kaki.

Suasana Pasar Lama, Tangerang, salah satu ikon sejarah Kota Tangerang yang berada dekat Sungai Cisadane. Pasar Lama Tangerang merupakan pasar tradisional tertua yang pernah ada dan merupakan cikal bakal Kota Tangerang.(KOMPAS.COM/TRI WAHYUNI)

Tapi, dari Stasiun Tangerang menuju Nasi Uduk Encim Sukaria, kami harus menggunakan angkutan umum karena jaraknya cukup jauh. Nasi Uduk Encim Sukaria merupakan salah satu kuliner terkenal di Tangerang yang terletak di jantung kota, yaitu di Jalan KH Soleh Ali. Sayangnya, kami belum bisa mencicipi lezatnya menu di sana karena warungnya tutup. Akhirnya kami pun sarapan di warung sekitar yang menawarkan soto mie, soto babat, soto daging, dan ada juga ketoprak.

BACA JUGA :   SD Kelas 4 - Tema 6.2 - Hebatnya Cita-citaku - Pembelajaran 6

Perut telah terisi, begitu juga dengan tenaga. Saatnya melanjutkan Jelajah Kota Tangerang. Tempat selanjutnya kami akan menuju Sungai Cisadane. Untuk bisa sampai ke Sungai Cisadane kami jalan kaki selama 10 menit.

Dalam perjalanan, Ferry, pemandu wisata dari Komunitas LOH, menjelaskan tentang sejarah Tangerang yang disebut sebagai Kota Benteng. Pada zaman penjajahan Belanda, dibangun benteng pertahanan di dekat Sungai Cisadane yang digunakan sebagai benteng pertahanan dari serangan Kesultanan Banten.

Itulah sebabnya mengapa warga yang tinggal di kawasan tersebut diberi julukan Cina Benteng. Selain berada di kawasan bekas benteng, kebanyakan warga di kawasan tersebut merupakan keturunan etnis Tionghoa yang menempati wilayah itu sejak lama.

Setelah melewati permukiman penduduk dan satu gang sempit, akhirnya kami pun sampai di tepi Sungai Cisadane. Sungai yang berhulu di Gunung Salak-Pangrango di sebelah selatan Kabupaten Tangerang ini, membentang kokoh membelah sebagian kota Tangerang.

Sungai Cisadane, yang berhulu di Gunung Salak-Pangrango di sebelah selatan Kabupaten Tangerang, membentang kokoh membelah sebagian kota Tangerang. Sejak dulu hingga kini Sungai Cisadane masih dijadikan sumber penghasila oleh warga setempat.(KOMPAS.COM/TRI WAHYUNI)

Dulu, Sungai Cisadane dimanfaatkan sebagai untuk pengairan dan bahan baku air minum PDAM setempat.  Kini, pemerintah setempat tampak serius menjaga kelestarian sungai dengan cara membersihkan sungai sebanyak tiga kali sebulan juga membangun ruang terbuka hijau di beberapa titik di bantaran sungai. Selain itu, Sungai Cisadanememiliki festival besar, yaitu Festival Perahu Naga atau Festival Pecun yang diselenggarakan tiap tahunnya.

Menyusuri Sudut Pasar Lama

Salah satu pusat sejarah Kota Tangerang yang masih menampakkan sisa-sisa masa lampau adalah kawasan Pasar Lama. Letaknya tidak jauh dari Sungai Cisadane. Pasar Lama Tangerang merupakan pasar tradisional tertua yang pernah ada dan merupakan cikal bakal Kota Tangerang.

Memasuki kawasan Pasar Lama, nuansa keberadaan etnis Tionghoa sangat terasa. Mulai dari bangunan rumah penduduk yang masih mempertahankan bentuk aslinya, sampai pada makanan yang dijual di sepanjang jalan. Sebagai tempat bernaung etnis Tionghoa, di kawasan ini terdapat Kelenteng Boen Tek Bio juga Museum Benteng Heritage yang merupakan sumber sejarah etnis Tionghoa di Tangerang.

Kelenteng Boen Tek Bio

Kelenteng Boen Tek Bio di Pasar Lama dikenal sebagai kelenteng tertua di Tangerang yang diperkirakan sudah berumur 300 tahun. Kelenteng yang hanya mengalami renovasi sekali pada tahun 1844 ini, merupakan salah satu dari ketiga kelenteng besar yang berpengaruh serta berusia tua di Tangerang. Dua kelenteng tua lainnya adalah Boen San Bio dan Boen Hay Bio yang berusia hampir sama.

Kelenteng Boen Tek Bio di Pasar Lama Tangerang dikenal sebagai kelenteng tertua di Kota Tangerang, Banten, yang berusia sekitar 300 tahun.(KOMPAS.COM/TRI WAHYUNI)

Memasuki kawasan kelenteng kami pun disambut dengan asap hio yang mengepul dari tempat peribadatan. Aromanya begitu khas. Saat itu, kelenteng memang dipenuhi warga Tionghoa yang sedang beribadah.

Di area belakang kelenteng Boen Tek Bio juga terdapat sebuah vihara yang bernama Vihara Padumuttara. Tempat peribadatan umat Buddha itu besar dan bersih. Anda bisa merasakan kesejukan ketika berada di dalam vihara.

Masjid Jami Kali Pasir

Tidak jauh dari Kelenteng Boen Tek Bio, terdapat tempat ibadah umat Islam yang juga merupakan bangunan tua, Masjid Jami Kali Pasir. Masjid dengan nuansa hijau putih tersebut sudah mengalami banyak perubahan dari kondisi awalnya. Hanya dua sisi bangunan yang masih utuh dipertahankan, yakni empat tiang di dalam masjid, dan kubah kecil bermotif China di atas masjid.

Masjid Jami Kali Pasir merupakan tua bernuansa Tionghoa yang terkenal di Tangerang. Masjid dengan luas 16×18 meter persegi ini berada di tengah pemukiman padat penduduk di kawasan Pasar Lama, Tangerang, Banten.(KOMPAS.COM/TRI WAHYUNI)

Saat ini posisi masjid terletak di tengah pemukiman penduduk yang begitu padat. Hal ini membuat masjid tidak mempunyai halaman. Itu pula yang menjadi salah satu alasan sulit untuk mengabadikan gambar utuh masjid ini.

BACA JUGA :   SD5.1 Wujud Benda dan Cirinya - Matematika

Museum Benteng Heritage

Masih di kawasan Pasar Lama, kami kembali melanjutkan perjalanan. Tujuan kami berikutnya adalah Museum Benteng Heritage. Museum pribadi milik Udaya Halim ini merupakan hasil restorasi dari sebuah bangunan tua berarsitektur tradisional Tionghoa yang diduga dibangun pada sekitar abad ke-17. Bangunan ini juga merupakan bangunan tertua di Tangerang dengan unsur Tionghoa yang amat kental.

Bangunan yang berada di tengah Pasar Lama ini, memiliki dua tingkat. Lantai satu museum dijadikan sebagai restoran, tempat gathering, penjualan suvenir, dan sebagainya. Sedangkan di lantai dualah baru kita bisa menemukan berbagai barang antik koleksi museum. Museum ini menyimpan berbagai barang yang berkaitan dengan sejarah etnis Tionghoa di Indonesia serta berbagai artefak yang menjadi saksi bisu masa lalu.

Patung Buddha di Vihara Padumuttara yang terletak di belakang Kelenteng Boen Tek Bio kawasan Pasar Lama, Tangerang, Banten.(KOMPAS.COM/TRI WAHYUNI)

Museum yang mendapat julukan Pearl of Tangerang ini juga banyak mendapatkan penghargaan. Dalam ajang FIABCI (Federation Internationals des Administrateurs de Bien-Conselis Immobiliers) Indonesia, Museum Benteng Heritage mendapat juara pertama untuk kategori Heritage, mengalahkan Bank Indonesia, pada 2012 lalu. Tidak sampai di situ, di tingkat internasional FIABCI Prix d’excellent Award pun museum ini berhasil menyabet juara kedua dalam kategori yang sama tahun 2013.

Museum Benteng Heritage pun menjadi saksi perjalanan panjang kami membuka masa lalu kota Tangerang dalam Jelajah Kota Tangerangbersama Komunitas LOH. Tidak lupa momen bersejarah di tempat bersejarah juga harus diabadikan. Setelah berfoto di museum kami pun kembali pulang ke tempat masing-masing. Benar-benar perjalanan yang mengesankan…

Jemaah sedang menyalakan hio untuk beribadah di Kelenteng Boen Tek Bio, Pasar Lama, Tangerang, Banten.(KOMPAS.COM/TRI WAHYUNI)

 

1. Siapa saja yang bekerja di pabrik ban? Siapa saja yang bekerja di pabrik sepatu? Apakah ada pekerja yang sama pada kedua pabrik tersebut? Tuliskan pendapatmu pada kotak berikut.
2. Industri adalah suatu usaha atau kegiatan pengolahan bahan mentah atau barang setengah jadi menjadi barang jadi. Barang hasil industri memiliki nilai tambah untuk mendapatkan keuntungan. Adakah di sekitar tempat tinggalmu usaha berupa industri penghasil benda atau barang? Jika ada, sebutkan nama industri yang dijalankan. Siapa saja pekerjanya dan pekerjaannya. Tuliskan pada kotak berikut.
Di suatu tempat kerja seringkali kita jumpai banyak pekerja dengan berbagai spesialisasinya, sebagai contoh di rumah sakit. Di rumah sakit di antaranya ada dokter, perawat, ahli gisi, satpam, sopir, dan juru masak. Demikian juga di sekolah. Di sekolah di antaranya ada pekerja sebagai guru, petugas perpustakaan, satpam, dan tukang kebun, atau tukang bersih-bersih sekolah. Pekerja dan pekerjaan pada suatu tempat kerja tentu beragam. Bukan hanya pekerja dan pekerjaan, murid atau siswa pada suatu sekolah tentu juga beragam. Ada siswa yang suka berolah raga, ada siswa yang suka menari, ada siswa yang suka sains, ada siswa yang suka menggambar, ada anak yang suka membaca, dan masih banyak lagi. Setiap siswa juga mempunyai karakter yang berbeda. Ada anak yang pemalu, ada anak yang pendiam, ada anak yang berani, dan masih banyak lagi. keragaman siswa pada suatu sekolah hendaknya disikapi secara positif.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *