SD5 IPS Bab 8 – Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia

 

SD Kelas 5 IPS Bab 8 – Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

A Pendahuluan.

Kapan Proklamasi Kemerdekaan negara kita dilakukan? Tahukah kamu siapa yang memproklamasikan kemerdekaan Indonesia? Apa artinya proklamasi kemerdekaan bagi bangsa Indonesia?

Proklamasi memiliki makna yang begitu besar bagi bangsa Indonesia. Proklamasi merupakan puncak perjuangan bangsa Indonesia dan menandai lahirnya negara Indonesia. Dalam bab ini kita akan mempelajari tentang beberapa peristiwa yang terjadi menjelang proklamasi kemerdekaan dan peran tokoh-tokoh dalam peristiwa bersejarah tersebut. Setelah mempe- lajari bab ini diharapkan kamu memiliki kemampuan berikut.
1, Menyebutkan tokoh-tokoh dalam peristiwa Proklamasi Kemerdekaan.
2, Menyebutkan beberapa peristiwa menjelang Proklamasi.
3, Menceritakan peristiwa Proklamasi.
4, Berperilaku menghargai jasa-jasa tokoh-tokoh dalam peristiwa Proklamasi.

B Peristiwa-peristiwa Sekitar Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Menjelang proklamasi kemerdekaan, Indonesia berada dalam kekuasa- an Jepang. Saat itu Jepang mengalami kekalahan dalam perang melawan Sekutu. Pasukan Sekutu terdiri dari Amerika, Inggris, Belanda, dan Perancis. Kesempatan itu digunakan oleh bangsa Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaan. Ada beberapa pe- ristiwa sejarah menjelang Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 yang patut kita ketahui.

1, Pertemuan di Dalat.

Pada tanggal 12 Agustus 1945 tiga tokoh pergerakan nasional, yaitu Dr. Radjiman Wedyodiningrat, Ir. Sukarno, dan DRS. Mohammad Hatta memenuhi undangan Jenderal Terauchi di Dalat (Vietnam Selatan). Jenderal Terauchi adalah Panglima tentara Jepang di Asia Tenggara.

Dalam pertemuan itu, Jenderal Terauchi mengatakan pemerintah Jepang telah memutuskan untuk mem- berikan kemerdekaan kepada Indone- sia. Keputusan itu diambil setelah Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di Jepang. Bom atom pertama di- jatuhkan di kota Hiroshima pada tang- gal 6 Agustus 1945. Bom kedua di- jatuhkan di kota Nagasaki pada tanggal 9 Agustus 1945. Akibatnya, Jepang menyatakan menyerah tanpa syarat kepada Sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945.

 

2, Menanggapi berita kekalahan Jepang.

Berita tentang kekalahan itu sangat dirahasiakan oleh Jepang. Semua radio disegel oleh pemerintah Jepang. Namun demikian, ada juga tokoh- tokoh pergerakan yang dengan sembunyi-sembunyi mendengar berita tentang kekalahan Jepang tersebut. Di antaranya adalah Sutan Syahrir.
Pada tanggal 14 Agustus 1945 sore, Sutan Syahrir sudah menunggu kedatangan Mohammad Hatta dari Dalat. Syahrir mendesak agar proklamasi jangan dilakukan oleh PPKI. Menurut Syahrir, Negara Indonesia yang lahir dengan cara demikian akan dicap oleh Sekutu sebagai negara buatan Je- pang. Syahrir mengusulkan agar proklamasi kemerdekaan dilakukan oleh Bung Karno saja sebagai pemimpin rakyat, atas nama rakyat lewat siaran radio.

Hatta setuju kemerdekaan Indonesia di- selenggarakan secepatnya. Namun, beliau ti- dak yakin proklamasi dapat dilakukan oleh Bung Karno saja sebagai pemimpin rakyat dan atas nama rakyat. Menurut Hatta, kalau Bung Karno bertindak seperti itu, berarti merampas hak PPKI. Hatta tidak yakin Bung Karno mau bertindak seperti usul Syahrir. Setelah terjadi perdebatan, akhirnya Hatta dan Syahrir pergi ke rumah Bung Karno. Syahrir menyatakan maksudnya. Bung Karno menjawab bahwa beliau tidak berhak bertindak sendiri. Mem- proklamasikan kemerdekaan adalah hak dan tugas PPKI.
Pada tanggal 15 Agustus 1945 sore, para pemuda kembali menemui Bung Hatta dan mendesak agar beliau jangan menyetujui proklamasi di hadapan PPKI, karena menurut mereka hal itu berbau Jepang. Malamnya, se- kitar pukul 20.00, golongan muda revolusio- ner mengadakan rapat di salah satu ruangan Lembaga Bakteriologi di Pegangsaan Timur. Rapat ini antara lain dihadiri oleh Chairul Saleh, Wikana, Margono, Armansyah, dan Kusnandar. Dalam rapat itu golongan muda menegaskan pendirian mereka. Mereka ber- pendirian bahwa kemerdekaan Indonesia ada- lah hak dan urusan rakyat Indonesia sendiri. Kemerdekaan tidak dapat digantungkan kepa- da orang lain dan negara lain. Rapat juga memutuskan tuntutan agar Proklamasi Kemer- dekaan dinyatakan oleh Ir. Sukarno pada keesokan harinya (16 Agustus 1945).

Keputusan rapat pada tanggal 15 Agustus 1945 sore, disampaikan oleh Wikana dan Darwis kepada Sukarno. Utusan golongan muda mengancam akan terjadi pertumpahan darah jika tuntutan golongan muda tidak di- laksanakan. Hal itu menimbulkan suasana ketegangan. Sukarno marah mendengar ancaman itu. Peristiwa menegangkan itu disaksikan oleh golongan tua, seperti Mohammad Hatta, Ahmad Subarjo, Dr. Buntaran, Dr. Sanusi, dan Iwa Kusumasumantri. Golongan tua tetap menekankan perlunya melakukan proklamasi kemerdekaan dalam rapat PPKI untuk menghindari pertumpahan darah.

 

3 Peristiwa Rengasdengklok.

Setelah mengetahui pendirian golongan tua, golongan muda meng- adakan rapat lagi menjelang pukul 24.00. Mereka melakukan rapat di Asra- ma Baperpi, Cikini 71, Jakarta. Rapat tersebut selain dihadiri mereka yang mengikuti rapat di Pegangsaan Timur, juga dihadiri oleh Sukarni, Jusuf Kunto, dr. Muwardi, dan Sodancho Singgih.
Dalam rapat itu diputuskan untuk mengungsikan Sukarno dan Hatta ke luar kota. Tempat yang dipilih adalah Rengasdengklok, sebuah kota kawedanan di sebelah timur Jakarta. Tujuan “penculikan” itu adalah men- jauhkan kedua pemimpin nasional itu dari pengaruh Jepang. Untuk meng- hindari kecurigaan dan tindakan yang dapat diambil oleh tentara Jepang, rencana itu diserahkan kepada Sodancho Singgih. Rencana itu berhasil dengan baik berkat dukungan Cudanco Latief Hendraningrat, berupa per- lengkapan tentara Peta.
Pagi-pagi buta sekitar pukul 04.00, tanggal 16 Agustus 1945, Sukarno- Hatta dibawa ke Rengasdengklok. Sehari penuh kedua pemimpin “ditahan” di Rengasdengklok. Selain untuk menjauhkan Sukarno-Hatta dari pengaruh Jepang, para pemuda bermaksud memaksa mereka agar segera mem- proklamasi kemerdekaan lepas dari segala sesuatu yang berkaitan dengan Jepang. Ternyata kedua tokoh ini cukup berwibawa. Para pemuda pun segan untuk mendesak mereka. Namun, Sodancho Singgih memberikan keterangan bahwa dalam pembicaraan berdua dengan Bung Karno, Bung Karno menyatakan bersedia melaksanakan proklamasi segera setelah kembali ke Jakarta. Berdasarkan hal itu, siang itu juga Singgih kembali ke Jakarta. Ia menyampaikan rencana Proklamasi kepada para pemimpin pemuda di Jakarta.
Sementara itu, di Jakarta, golongan tua dan golongan muda sepakat bahwa proklamasi kemerdekaan dilakukan di Jakarta. Golongan tua diwakili Mr. Ahmad Subarjo dan golongan muda yang diwakili Wikana. Laksamana Maeda, bersedia menjamin keselamatan mereka selama berada di rumah- nya. Maeda adalah seorang Perwira penghubung Angkatan Darat dan Ang- katan Laut Jepang.
Berdasarkan kesepakatan itu, Jusuf Kunto, dari pihak Pemuda mengantar Ahmad Subarjo ke Rengasdengklok pada hari itu juga. Mereka akan menjemput Sukarno-Hatta. Semula para pemuda tidak mau melepas Sukarno-Hatta. Ahmad Subarjo memberi jaminan bahwa proklamasi ke- merdekaan akan diumumkan pada tanggal 17 Agustus keesokan harinya, selambat-lambatnya pukul 12.00. Bila hal tersebut tidak terjadi, Ahmad Subarjo rela mempertaruhkan nyawanya. Dengan jaminan itu, komandan kompi Peta setempat, Cudanco Subeno, bersedia melepaskan Sukarno- Hatta kembali ke Jakarta.

4 Perumusan teks proklamasi.
Sesampai di Jakarta Sukarno-Hatta bersama Laksamana Maeda mene- mui Mayjen Nishimura untuk berunding. Nishimura tidak mengizinkan pro- klamasi kemerdekaan. Kemudian, mereka menuju rumah Laksamana Maeda di Jalan Imam Bonjol No. 1. Di tempat inilah naskah proklamasi dirumuskan. Para pemuka Indonesia yang hadir berkumpul dalam dua ruangan, ruang makan dan serambi depan. Perumusan teks proklamasi dilakukan di dalam ruang makan oleh Sukarno, Hatta, dan Mr. Ahmad Soebardjo. Sukarno menulis rumusan proklamasi tersebut.

Setelah selesai, teks proklamasi tersebut dibacakan di hadapan tokoh- tokoh peserta rapat. Setelah terjadi kesepakatan bersama, teks proklamasi selanjutnya diserahkan kepada Sayuti Melik untuk diketik. Teks proklamasi yang sudah diketik ditandatangani oleh Ir. Sukarno dan DRS. Moh. Hatta atas nama bangsa Indonesia. Naskah itulah yang dikenal sebagai naskah Proklamasi yang autentik .
Timbul persoalan tentang cara mengumumkan proklamasi. Sukarni mengatakan bahwa rakyat di sekitar Jakarta telah diberi tahu untuk datang berbondong-bondong ke lapangan Ikada pada tanggal 17 Agustus. Di sana mereka akan mendengarkan proklamasi kemerdekaan. Bung Karno meno- lak cara tersebut. Akhirnya, disepakati proklamasi kemerdekaan dilakukan di kediaman Sukarno di Jalan Pegangsaan Timur 56, pukul 10.00. Setelah itu, para tokoh bangsa yang hadir, keluar dari rumah Laksamana Maeda dan pulang ke rumah masing-masing. Sebelum semua pulang, Hatta ber- pesan kepada para pemuda yang bekerja pada pers dan kantor berita, terutama B.M Diah untuk memperbanyak teks proklamasi dan menyiar- kannya ke seluruh dunia.
Sementara itu, para pemuda tidak langsung pulang ke rumah masing- masing. Mereka dibagi dalam kelompok-kelompok. Setiap kelompok pemuda mengirim kurir untuk memberitahukan kepada masyarakat bahwa saat proklamasi telah tiba.

5. Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945
Pada tanggal 17 Agustus 1945 pagi banyak orang berkumpul di kediam- an Sukarno. Mereka adalah rakyat dan para pemuda. Sekitar pukul 10.00, Ir. Sukarno didampingi DRS. Mohammad Hatta memproklamasikan kemer- dekaan Indonesia. Berikut ini perkataan Sukarno pada pembacaan prokla- masi kemerdekaan:
“Saudara-saudara sekalian, saya telah meminta Saudara hadir di sini untuk menyaksikan suatu peristiwa maha penting dalam sejarah kita. Berpuluh-puluh tahun kita, bangsa Indonesia telah berjuang, untuk ke- merdekaan tanah air kita. Bahkan, telah beratus-ratus tahun. Gelom- bangnya aksi kita untuk mencapai kemerdekaan kita itu ada naiknya, ada turunnya, tetapi jiwa kita tetap menuju ke arah cita-cita. Juga di dalam zaman Jepang, usaha kita untuk mencapai kemerdekaan nasional tidak berhenti. Di dalam zaman Jepang ini tampaknya saja kita menyan- darkan diri kepada mereka. Tetapi pada hakikatnya, tetap kita menyusun tenaga kita sendiri, tetap kita percaya pada kekuatan sendiri. Hanya bangsa yang berani mengambil nasib dalam tangan sendiri, akan dapat berdiri dengan kekuatannya. Maka kami, tadi malam telah mengadakan musyawarah dengan pemuka-pemuka rakyat Indonesia dari seluruh Indonesia. Permusyawaratan itu seia sekata berpendapat, bahwa seka- ranglah datang saatnya untuk menyatakan kemerdekaan kita.
Saudara-saudara! Dengan ini kami menyatakan kebulatan tekad itu. Dengarkanlah proklamasi kami:
Proklamasi
Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indone- sia. Hal-hal yang mengenai pemindahan kekusaan d.l.l., diseleng- garakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat- singkatnya.
Jakarta, hari 17 bulan 8 tahun ’05 Atas nama Bangsa Indonesia Sukarno/Hatta
Demikianlah Saudara-saudara! Kita sekarang telah merdeka. Tidak ada satu ikatan lagi yang mengikat tanah air kita dan bangsa kita! Mulai saat ini kita menyusun negara kita! Negara merdeka, negara Republik Indonesia merdeka, kekal, dan abadi. Insya’ Allah, Tuhan memberkati kemerdekaan kita itu.”
Setelah pembacaan teks proklamasi selesai, upacara dilanjutkan dengan pengibaran bendera Merah Putih. Pengibaran Bendera Merah Putih dilakukan oleh S. Suhud dan Cudanco Latif, serta diiringi lagu Indonesia Raya. Bendera Merah Putih itu dijahit oleh Ibu Fatmawati Sukarno.
Pada saat Sang Saka Merah Putih dikibarkan, tanpa ada yang memberi aba-aba, para hadirin menyanyikan lagu Indonesia Raya. Setelah pengibar- an Bendera Merah Putih, Wali kota Suwiryo dan dr. Mawardi memberikan sambutan. Kemudian mereka yang hadir saling bertukar pikiran sebentar lalu pulang ke rumah masing-masing.

Peristiwa yang sangat penting bagi Bangsa Indonesia ini berlangsung sekitar satu jam. Meski sangat sederhana, namun upacara itu dilakukan penuh kehikmatan. Peristiwa itu membawa perubahan yang luar biasa dalam kehidupan bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia menjadi bangsa yang merdeka. Bangsa baru telah lahir.

Peristiwa Sekitar Proklamasi Kemerdekaan 6-18 Agustus 1945

 

BACA JUGA :   Buku Siswa Kelas 5 Tematik 6 Kurikulum 2013 Rev 2017 - Panas dan Perpindahannya
Tgl Pukul Peristiwa
Tanggal 6   Kota Hiroshima dibom atom.
Tanggal  7   Jendral Terauchi menyetujui pembentukan PPKI.
Tanggal  9   Kota Nagasaki dibom.
Tanggal  9-14   Sukarno, Hatta, dan Rajiman Wedyodiningrat ke Dalat menemui Jenderal Terauchi untuk membicarakan kemerdekaan Indonesia.
Tanggal 14 11.00 Sukarno, Hatta, Radjiman tiba di Jakarta dari Dalat.
  12,00 Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu.
  14.00 Syahrir menemui Hatta, lalu mereka menemui Sukarno. Syahrir meminta agar kemerdekaan diproklamasikan lepas dari dukungan Jepang.
Tanggal 15 pagi Sukarno, Hatta, Subarjo menemui Maeda untuk menanyakan kebenaran berita Jepang menyerah kepada Sekutu. Hatta memerintahkan anggota PPKI berkumpul besok jam 10.00 untuk memproklamasikan kemerdekaan.
  sore Hatta didesak supaya jangan menyetujui proklamasi dalam rapat PPKI.
  20.00 Rapat pemuda di Institut Bakterologi, di Pegangsaan Timur.
  22.00 – 23.30 Utusan pemuda, Darwis dan Wikana, menemui Sukarno. Mereka men- desak agar Sukarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan atas nama rakyat malam ini juga. Perundingan berjalan panas.
  24.00 Rapat pemuda di Cikini 71. Keputusannya, mereka akan mengamankan Sukarno-Hatta dari pengaruh Jepang.
Tanggal 16 04.30 Sukarno-Hatta dibawa oleh para pemuda ke Rengasdengklok.
  10.00 Anggota PPKI menuju gedung Volksraad untuk menghadiri proklamasi, tetapi mereka pulang karena Sukarno-Hatta tidak dapat hadir.
  ses. 12.00 Markas Besar Tentara Jepang di Saigon menginstruksikan pimpinan ten- tara Jepang di Jakarta tidak boleh mendukung proklamasi kemerdekaan Indonesia dan harus menjaga status quo.
  17.30 Mr. Subarjo tiba di Rengasdengklok untuk menjemput Sukarno dan Hatta supaya kembali ke Jakarta. Soebarjo menjamin bahwa proklamasi kemerdekaan akan dilaksanakan besok (17 Agustus 1945).
  20.00 Sukarno-Hatta dan Subarjo kembali ke Jakarta.
  22.00 Sukarno dan Hatta ke rumah Laksamana Maeda di Jalan Diponegoro 1.
  22.30 Sukarno-Hatta bersama Maeda menemui Mayjen Nishimura untuk me- rundingkan kemerdekaan. Keputusannya, Jepang mengikuti perintah Sekutu tidak mengubah status quo.
  24.00 Sukarno-Hatta ke rumah Maeda, bertemu dengan anggota PPKI, para pemuda, wartawan, dan beberapa orang   Jepang.
Tanggal 17 00.30 Perumusan naskah proklamasi di rumah Laksamana Maeda. Sukarno menulis konsep proklamasi, sementara Subardjo dan Hatta memberi-kan masukan. Setelah selesai, rumusan itu dibacakan di depan semua hadirin. Kemudian terjadi perdebatan tentang penandatanganan pro-klamasi.

Sayuti Melik (Sukarni?) mengusulkan kata-kata “Atas nama bangsa Indonesia” dan naskah ditandatangani oleh Sukarno-Hatta. Kemudian Sayuti Melik mengetik naskah yang telah diubah dan disetujui semua hadirin.

  10.00 Proklamasi Kemerdekaan di Pegangsaan Timur 56 Jakarta oleh Sukarno- Hatta atas nama bangsa Indonesia.
  sore Seorang opsir AL Jepang menemui Hatta melaporkan keberatan rakyat Indonesia Timur atas kata-kata dalam Piagam Jakarta.
Tanggal 18-22   Sidang PPKI berhasil mengesahkan UUD 1945, memilih Presiden, membentuk departeman, dan membagi wilayah Indonesia menjadi delapan provinsi.

 

C Tokoh-tokoh Penting dalam Peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Ada banyak tokoh yang turut terlibat dalam peristiwa Proklamasi Ke- merdekaan 17 Agustus 1945. Tokoh-tokoh yang terlibat dalam peristiwa proklamasi dibagi menjadi dua golongan, yaitu golongan tua dan golongan muda. Kedua golongan ini sama-sama berjuang agar Indonesia segera merdeka
Sebagai warga negara Indonesia kita harus, menghargai jasa tokoh- tokoh yang terlibat dalam peristiwa proklamasi kemerdekaan. Bagaimana kita menghargai jasa-jasa para tokoh tersebut? Penghargaan kita terhadap jasa para tokoh proklamasi kemerdekaan dapat kita wujudkan dengan me- lakukan beberapa hal berikut.
1, Berziarah ke makam para pahlawan yang terlibat dalam peristiwa pro- klamasi kemerdekaan dan mendoakan mereka.
2, Melakukan upacara peringatan kemerdekaan dengan penuh hikmat.
3, Mengisi kemerdekaan dengan sebaik-baiknya. Sebagai pelajar, kamu dapat mengisi kemerdekaan dengan belajar tekun supaya kelak bisa menjadi generasi penerus yang cerdas, terampil, dan berguna bagi bangsa dan negara.
4, Mempelajari riwayat para tokoh yang terlibat dalam proklamasi kemer- dekaan. Setelah kita mengetahui riwayat hidup para tokoh tersebut, kita bisa meneladani hal-hal positif yang telah mereka lakukan.
Selanjutnya, mari kita bahas beberapa tokoh penting yang berperan dalam peristiwa proklamasi kemerdekaan.

 

1, IR. Sukarno (1901-1970).

Sukarno adalah tokoh sangat penting dalam peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Sebagai pemimpin Indonesia yang menonjol waktu itu, Bung Karno dipilih menjadi ketua PPKI. PPKI adalah badan yang diberi wewenang untuk mempersiapkan segala sesuatu yang menyangkut masalah ketatanegaraan bagi negara Indonesia baru. Sepak terjang Bung Karno pada saat-saat menjelang kemerdekaan tidak bisa dilepaskan dari kedudukan beliau sebagai ketua PPKI.

Bung Karno merupakan salah satu dari golongan tua yang menghendaki pelaksanaan proklamasi di dalam PPKI. Hal ini didasari pertimbangan untuk menghindari terjadinya pertumpahan darah. Karena pendapat ini, beliau harus berhadapan dengan para pemuda. Puncaknya adalah peristiwa Rengasdengklok. Bersama Bung Hatta Beliau diculik para pemuda dan diamankan di Rengasdengklok.

Sebagai Ketua PPKI, beliau mene- mui penguasa Jepang di Indonesia, yaitu Mayjen Nishimura. Mereka membicarakan kemerdekaan Indonesia. Beliau dan para pemimpin yang lain tetap melanjutkan tekad memproklamasikan kemerdekaan meskipun tanpa perse- tujuan penguasa Jepang.
Bung Karno bersama dengan Bung Hatta dan Ahmad Subarjo merumus- kan naskah Prklamasi. Bahkan rumusan awal naskah proklamasi adalah tulisan tangan Bung Karno. Setelah naskah diketik oleh Sayuti Melik, Bung Karno dan Hatta menandatanganinya atas nama Bangsa Indonesia.
Peran Bung Karno yang sangat menonjol adalah bersama Bung Hatta bertindak sebagai Proklamator. Bung Karnolah yang akhirnya dengan penuh keberanian dan kekhidmatan mem- proklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

 

2 DRS. Mohammad Hatta.

Peran DRS. Mohammad Hatta dalam peristiwa proklamasi kemerdekaan sangat penting. Waktu itu, Bung Hatta dianggap sebagai pemimpin utama Bangsa Indonesia selain Bung Karno. Beberapa kali beliau menjadi perantara antara golongan muda dan golongan tua, terutama dengan Bung Karno. Ka- rena peran beliau, pendapat golongan tua dan golongan muda bisa dipertemukan. Beliau berdialog dengan golongan muda tentang cara memprokla- masikan kemerdekaan Indonesia.

Selain itu, Bung Hatta adalah salah seorang perumus naskah Proklamasi. Bersama Bung Karno, Bung Hatta bertindak sebagai proklamator kemerdekaan Indonesia. Selain menandatangani naskah Proklamasi, beliau mendampingi Bung Karno memprokla- masikan kemerdekaan Indonesia.
Bung Hatta juga sangat berjasa atas perubahan beberapa kata dalam Piagam Jakarta. Sebagai pemimpin bangsa beliau menerima aspirasi selu- ruh rakyat Indonesia. Beliau memikirkan keutuhan seluruh bangsa Indonesia.

 

3 Ahmad Subarjo,

Ahmad Subarjo adalah Penasihat PPKI. Beliau menjadi penengah golongan muda dan kedua pemimpin nasional, Sukarno-Hatta. Beliau mewakili golongan tua berunding dengan para pemuda ke- tika Sukarno-Hatta diculik dan diamankan ke Rengasdengklok. Setelah dicapai ke- sepakatan, beliau menjemput Sukarno- Hatta ke Rengasdengklok. Beliau meya- kinkan para pemuda bahwa pada tanggal 17 Agustus 1945 akan diumumkan Prokla- masi Kemerdekaan Indonesia.
Peran penting lain Subarjo adalah tu- rut merumuskan naskah Proklamasi Ke- merdekaan. Bersama Bung Karno dan Bung Hatta, Beliau merumuskan naskah Proklamasi di rumah Laksamana Maeda.

 

4 Ibu Fatmawati.

Sebagai istri pemimpin Bangsa Indonesia, Fatmawati turut mendampingi Bung Karno. Ibu Fatmawati dikenal sebagai tokoh wanita yang dekat dengan rakyat Indonesia yang sedang memperjuangkan kemerdekaan.
Jasa Ibu Fatmawati sangat menonjol dalam peristiwa Proklamasi. Beliau menjahit Bendera Pusaka, Merah Putih. Beliau menjahit Bendera Pusaka ini pada bulan Oktober 1944. Bendera ini dikibarkan setelah Bung Karno membaca Proklamasi.

 

5 Sutan Syahrir.

Sutan Syahrir adalah tokoh politik, pejuang kemerdekaan, dan perdana menteri pertama RI. Syahrir dilahirkan di Bukit Tinggi. Pada zaman Jepang, Syahrir memutuskan untuk tidak bekerja sama dengan pemerintah Jepang.

Beliau salah satu tokoh yang be- rani mengambil risiko mencari berita mendengarkan berita radio. Syahrir adalah salah satu tokoh yang paling awal mengetahui berita Jepang me- nyerah kepada Sekutu. Setelah beliau mengetahui berita tersebut beliau mendesak Sukarno-Hatta untuk mem- proklamasikan kemerdekaan Indonesia di luar rapat PPKI.

 

6 Laksamana Takasi Maeda.

Laksamana Maeda adalah seorang perwira penghubung Jepang. Beliau mendukung gerakan kemerdekaan Indonesia. Dukungannya telah tumbuh sejak beliau menjabat atase militer di Belanda. Di Belanda, beliau menjalin hubungan dengan sejumlah tokoh mahasiswa, misalnya Ahmad Subarjo.
Beliau menjamin keselamatan perencanaan proklamasi. Perumusan teks Proklamasi dilakukan di rumah beliau. Karena dukungannya terhadap persiapan proklamasi kemerdekaan Indonesia, beliau ditangkap oleh Sekutu dan dipenjarakan di Gang Tengah.

 

Rangkuman :

Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 sangat penting bagi bangsa Indonesia. Proklamasi Kemerdekaan menjadi puncak perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajahan. Proklamasi Kemerdekaan juga menandai lahirnya Negara Indonesia.

Menjelang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dikuasai oleh Jepang. Namun kedudukan Jepang mulai terdesak oleh pasukan Sekutu. Akhirnya, Jepang menyerah tanpa syarat pada Sekutu pada tanggal 14 Agus- tus 1945. Ini merupakan kesempatan emas bagi Bangsa Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaan.

Namun, untuk memproklamasikan kemerdekaan negara bukanlah hal yang mudah. Tokoh-tokoh bangsa golongan muda dan golongan tua berbeda pendapat tentang cara memproklamasikan kemerdekaan. Golongan muda menginginkan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dilakukan di luar rapat PPKI. Karena mereka menganggap bahwa PPKI adalah lembaga buatan Jepang. Sementara golongan tua berpendapat sebaiknya Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dilakukan dalam rapat PPKI. Hal ini dilakukan untuk menghindari pertumpahan darah. Perten- tangan kedua golongan memuncak pada peristiwa penculikan. Sukarno- Hatta diculik oleh para pemuda dan dibawa ke Rengasdengklok.

Namun akhirnya terjadi juga kesepakatan, Proklamasi Kemerdekaan akan dilakukan tanggal 17 Agustus 1945 di Jakarta. Naskah Proklamasi pun dirumuskan di rumah Laksamana Maeda oleh Sukarno, Hatta, dan Ahmad Subarjo. Konsep naskah proklamasi ditulis oleh Sukarno. Setelah itu naskah itu diketik oleh Sayuti Melik.

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dilakukan di kediaman Sukarno, yaitu di Jalan Pegangsaan Timur No. 56. Sekitar pukul 10.00 Bung Karno di dampingi Bung Hatta memproklamasi kemerdekaan Indonesia. Setelah itu, dilakukan pengibaran Sang Saka Merah Putih diiringi nyanyian lagu Indonesia Raya.

Banyak tokoh dalam peristiwa Proklamasi 17 Agustus 1945, antara lain Sukarno, Hatta, Ahmad Subarjo, Maeda, Fatmawati, Syahrir, B. M. Diah, dan lain-lain. Mereka telah berjasa dengan caranya masing-ma- sing. Sebagai generasi penerus bangsa, kita harus menghargai perjuang- an mereka memproklamasikan kemerdekaan negara kita.

 

BACA JUGA :   Pelajaran 6 – Panas dan Perpindahannya – SD Kelas 5 Tema 6 – Sub Tema 1 – K2013 Rev 2017

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *