Perjanjian Lama sampai Yesus Kristus – SD5 Agama Katolik Bab 2

Perjanjian Lama sampai Yesus Kristus – SD5 Agama Katolik Bab 2.

Bagian Pertama : Perjanjian Lama.

Pada Bab pertama, kita telah mempelajari dan mendalami tentang pribadi dan lingkungan kita. Bab 2 ini akan mengajak kita untuk semakin mengenal Yesus Kristus. Untuk mengenal Yesus Kristus, terlebih dahulu kita harus mengetahui Perjanjian Lama, sebagai sejarah yang telah menubuatkan serta terarah pada kedatangan Yesus Kristus, yang secara khusus akan kita bahas pada bagian kedua, yaitu Perjanjian Baru.

Ketika duduk di kelas IV, kita telah mempelajari bagaimana Al-lah memilih dan mempersiapkan suatu bangsa, untuk menyelamatkan seluruh dunia. Pembebasan Bangsa Israel dari Tanah Mesir, direncanakan Al-lah hingga memasuki tanah terjanji. Di dalam karya-Nya itu, Al-lah telah memperlihatkan kepada manusia betapa besar cinta-Nya. Keagungan-Nya ditunjukkan-Nya melalui pemerintahan Daud dan Salomo. Demikian pula tokoh perempuan Israel, yaitu Ester, turut mewarnai perjuangan untuk tetap berdirinya kerajaan Israel sebagai bangsa terpilih dan kerajaan yang jaya.
Menurunnya kewibawaan pemerintahan raja-raja pengganti Daud dan Salomo, diakibatkan oleh ketidaksetiaan mereka terhadap ikatan perjanjian sebelumnya. Keserakahan, penyembahan berhala, dan ketidakadilan menyebabkan mereka semakin jauh dari Al-lah. Maka, runtuhlah Israel sebagai sebuah kerajaan yang besar. Namun cinta Al-lah serta rencana agung-Nya, tidak pernah sirna.

Bagian pertama dari bab 2 ini akan diuraikan ke dalam empat pokok bahasan, yaitu:
A. Daud Sang Pemimpin
B. Salomo yang Bijaksana
C. Ester Perempuan Pemberani
D. Kejayaan dan Keruntuhan Israel

Keempat pokok bahasan yang terkait dengan Sejarah Perjanjian Lama ini, akan mengantar kita untuk menyadari bahwa janji Tuhan dan rencana-Nya tetap ber- langsung, meskipun kerajaan Israel telah runtuh. Pemenuhan janji Al-lah tersebut akan kita bahas pada bagian II bab ini, yaitu Perjanjian Baru.

Doa.

Ya Al-lah Bapa yang Mahapenyayang, hari ini kami mau belajar
tentang kesetiaan-Mu yang selalu menyertai Bangsa Israel,
terutama melalui para pemimpin bangsa Israel.
Bantulah kami supaya memahami dan meneladani para pemimpin yang setia kepada-Mu,
dan menerima Engkau sebagai Al-lah kami. Demi Kristus Tuhan kami.
Amin.

1. Menemukan Nilai-Nilai Kepemimpinan.

 

Pangeran Bungsu yang Peduli.

Raja Suta Permana adalah pemimpin bagi rakyat di wilayah Jati Mandala. Ia sangat disayangi rakyatnya, dan disegani kerajaan-kerajaan di sekitarnya. Puluhan tahun, Raja Suta Permana telah memimpin Jati Mandala dengan bijaksana. Rakyat hidup sejahtera dan saling menghormati.
Menyadari dirinya sudah tua, Raja Suta Permana memanggil ketiga putranya. Kepada ketiga putranya, Raja Suta Permana menegaskan bahwa mereka memiliki hak yang sama untuk menggantikan dirinya sebagai raja. Tetapi ada satu syarat yang harus mereka penuhi, yaitu bahwa mereka harus membunuh seekor anak ayam di tempat tersembunyi, tanpa diketahui oleh manusia.

Setelah mereka mengetahui syaratnya, pengawal raja memberikan kepada mereka masing-masing seekor anak ayam yang masih kecil. Si sulung dengan hati-hati membawa anak ayam, ke atas menara kerajaan. Ia menyumpal paruh anak ayam itu dengan kain. Ia menyembelih anak ayam itu dengan pisau kecil. Setelah mati ia membungkusnya dengan kain.
Si tengah memilih gudang di bawah tanah sebagai tempat untuk menyembelih anak ayam tersebut. Setelah disembelih, anak ayam tersebut dimasukkannya ke dalam kotak. Sementara si bungsu masuk kandang ayam. Dekat dengan induknya, anak ayam tersebut berbunyi semakin keras seolah memanggil induknya. Di kandang ayam, si bungsu merasa kasihan. Ia pun mulai memikirkan perintah ayahnya untuk membunuh anak ayam ditempat tersembunyi tanpa diketahui oleh manusia. Ia menyadari bahwa jika ia membunuh anak ayam tersebut, ada lima orang yang akan mengetahuinya. Ayahnya, pengawal, kedua kakaknya dan dirinya sendiri. Ia pun melepaskan anak ayam itu. Anak ayam dan induknya, nampak sangat gembira.

Ketika mereka kembali menghadap ayahnya, ketiga pangeran melaporkan syarat untuk menggantikan ayahnya. Si Sulung dan Si Tengah dipuji ayahnya karena telah melakukan perintah ayahnya. Sementara si Bungsu diancam hukum gantung karena berani melawan perintah ayah sebagai raja. Tiang gantungan telah tersedia, rakyat telah berkumpul di alun-alun kerajaan, tetapi Si Bungsu melangkah tenang menuju tiang gantungan, siap menerima hukuman.

Raja pun bertanya: “Hai bungsu, mengapa kamu tidak melaksanakan titah ayah sebagai raja, untuk membunuh anak ayam itu?”. Si Bungsu pun menjawab: “Maaf ayah dan raja, hamba tidak melaksanakan titah ayah sebagai raja, karena hamba merasa kasihan terhadap anak ayam yang tidak berdaya dan induknya yang kehilangan anak- anaknya. Selanjutnya, jika hamba membunuh anak ayam tersebut, maka ada banyak orang yang akan mengetahui perbuatan hamba, yaitu hamba, raja, pengawal, kedua kakak, dan kini semua rakyat. Untuk itu, hamba siap menerima hukuman gantung, dari pada mengingkari hati nurani dan berbuat tidak adil terhadap anak ayam yang tidak berdaya.”
Mendengar jawaban tersebut, Raja Suta Permana memeluk Si Bungsu dengan berkata: “kamulah anakku yang berhak menggantikan ayah sebagai raja, karena kamu memiliki ketulusan, cinta kasih, dan hati nurani yang suci, kendati tiang gantungan telah disediakan untukmu”. Rakyatpun bersorak sorai menyambut Pangeran Bungsu menggantikan ayahnya sebagai raja. Mahkota kerajaanpun dikenakan kepadanya. Kerajaan Jati Mandala hidup penuh sukacita dibawah kepemimpinan Raja Bungsu. (sumber: Marianus Didi Kasmudi, SFK).

Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini!
a. Mengapa Raja Suta Permana memberi syarat kepada ketiga putranya untuk membunuh anak ayam yang tidak berdaya?
b. Mengapa kedua kakaknya sampai hati membunuh anak ayam yang tidak berdaya?
c. Mengapa Si Bungsu berani menanggung hukuman gantung dengan tidak menaati titah ayahnya sebagai raja?
d. Sikap-sikap apa saja yang kamu kagumi dari Pangeran Bungsu? Beri alasan!
e. Tuliskan sikap-sikap yang seharusnya dimiliki oleh seorang pemimpin pada zaman sekarang!

Penjelasan.
1) Raja Suta Permana menunjukkan kekuasaan dan keadilan bagi ketiga putranya. Mereka memiliki hak yang sama. Syarat untuk menggantikan dirinya dengan membunuh anak ayam, ditujukan untuk melihat sikap-sikap yang diperlukan untuk menjadi seorang pemimpin.
2) Tindakan kedua kakaknya menunjukkan bahwa mereka taat kepada perintah. Mereka memenuhi aturan, tetapi mereka melupakan hati nurani.
3) Si Bungsu berani menanggung hukuman gantung, karena baginya kebenaran, kepedulian, dan kesucian hati nurani, lebih penting daripada perintah dan ketaatan.

 

Ciri-ciri Pemimpin yang baik.

Kisah di atas menunjukkan bahwa seorang pemimpin tidak lahir dengan sendirinya. Jiwa dan semangat kepemimpinan, dipengaruhi oleh keluarga. Orang tua kita adalah pemimpin kita di dalam keluarga. Nasihat dan petuah mereka pantas kita taati, namun kita pun dapat berkomunikasi dengan mereka, terutama jika ada hal-hal yang kurang kita mengerti. Perjuangan, pengorbanan, dan kepedulian mereka, dapat kita jadikan sebagai teladan dalam kehidupan kita. Kita akan selalu merasa aman dan bahagia jika kita mengalami penyertaan dari orang tua atau orang lain yang sangat mengasihi kita. Kita juga akan merasa aman jika kita memiliki pemimpin-pemimpin yang selalu memperhatikan dan mendukung kita dalam perjalanan hidup kita.

Sebagai generasi muda, kita akan menjadi pemimpin di masa yang akan datang. Maka kita harus belajar dan membekali diri dengan sikap-sikap yang pantas untuk menjadi seorang pemimpin. Dalam kehidupan Bangsa Israel, Al-lah adalah pemimpin mereka. Raja atau Pemimpin bangsa, adalah wakil Al-lah yang sepenuhnya menjalankan kedaulatan dari Al-lah. Pemimpin atau raja yang baik, merupakan lambang kehadiran dan penyertaan Al-lah di tengah umat-Nya. Kesetiaan Bangsa Israel dan para pemimpinnya kepada Al-lah akan selalu mengantar mereka untuk merasakan kehadiran Al-lah yang menolong dan menyelamatkan.

Cerita dari Kitab Suci :

Janji Tuhan Kepada Daud.
(Bdk. 2 Sam 7: 8-17).

Setelah bangsa Israel menetap di tanah Kanaan, Tuhan tetap menyertai bangsa Israel. Bangsa Israel merasa aman dan damai di bawah naungan Tuhan. Al-lah tetap menyertai umat Israel hingga menjadi suatu kerajaan yang besar. Waktu Raja Saul tidak setia kepada Al-lah, maka Al-lah memilih Daud sebagai raja kedua yang memimpin bangsa Israel.

Waktu itu ada seorang nabi, Natan namanya. Kepada Natan Al-lah berfirman: “Pergilah kepada Daud. Katakanlah kepada hamba-Ku Daud, “Beginilah firman Tuhan semesta alam: Akulah yang mengambil engkau dari padang, ketika menggiring kambing domba, untuk menjadi raja atas umat-Ku Israel. Aku telah menyertai engkau di segala tempat yang engkau jalani dan telah melenyapkan segala musuh di depanmu. Aku membuat namamu besar, seperti nama orang-orang besar di bumi. Aku menentukan tempat bagi umat-Ku Israel dan menanamkannya, sehingga ia dapat diam di tempatnya sendiri dengan tidak lagi dikejutkan dan tidak pula ditindas oleh orang-orang lalim seperti dulu. Juga diberitahukan kepadamu: Tuhan akan memberikan keturunan kepadamu. Apabila umurmu sudah genap dan engkau telah mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangmu, maka Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian, anak kandungmu, dan Aku akan mengokohkan kerajaannya. Dialah yang akan mendirikan rumah bagi-Ku dan Aku akan mengokohkan tahta kerajaannya untuk selama-lamanya. Aku akan menjadi Bapa-Nya, dan ia akan menjadi anak-Ku. Tetapi kasih setia-Ku tidak akan hilang dari padanya untuk selama-lamanya.”

Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini!
a. Siapa yang memimpin bangsa Israel sampai ke tanah Kanaan?
b. Siapakah nabi yang diminta Al-lah untuk pergi kepada raja Daud?
c. Apa isi perjanjian Al-lah dengan Daud?
d. Mengapa Al-lah mengadakan perjanjian dengan Daud?
e. Pernahkah kamu menjadi ketua atau pemimpin? Ceritakan pengalamanmu secara singkat.
f. Tuliskan sifat-sifat pemimpin yang baik, yang disukai rakyatnya!

Penjelasan :

Al-lah itu Mahaagung. Ia selalu menyertai umat Israel dari tanah Mesir sampai ke Tanah Terjanji, yaitu Kanaan. Setelah Saul menjadi raja atas Kerajaan Israel, ia lengah, tidak setia, dan menyembah berhala. Ia lupa bahwa bagi bangsa Israel, pemimpin mereka adalah Al-lah. Raja hanyalah wakil Al-lah, yang seharusnya setia kepada Al-lah. Oleh karena itu, Al-lah mengangkat Daud menjadi raja atas Israel. Al-lah mengutus Nabi Natan untuk pergi kepada Daud.

Untuk mengingatkan Daud akan kekuasaan Al-lah, maka dibuatlah perjanjian sebagai berikut:
• Al-lah telah mengangkat Daud sebagai raja dan menempatkan Daud di atas takhta. Kepada bangsa Israel, Al-lah tetap memberikan tempat untuk dapat menetap.
• Daud akan diberi keturunan yang besar.
• Keturunan Daud akan diberkati. Anak kandung Daud akan mendirikan rumah bagi Al-lah. Anak Daud akan diangkat menjadi anak Al-lah dan Al-lah menjadi Bapa-nya. Kerajaan Daud akan kokoh selama-lamanya.
• Al-lah juga akan menyertai kita sampai selama-lamanya.
Sebagaimana Raja Daud, jika kita pernah mengalami menjadi ketua, pemimpin atau pengurus dalam suatu kelompok, tentu kita dituntut untuk memiliki berbagai kelebihan, di antaranya sifat rendah hati, selalu dekat dengan Al-lah, bijaksana, adil, mau melayani, dan menjadi teladan bagi yang lain.

Untuk Diingat.
Pemimpin atau raja yang baik, merupakan lambang kehadiran dan penyertaan Al-lah di tengah umat-Nya. Kesetiaan rakyat dan para pemimpinnya kepada Al-lah akan membawa suatu bangsa untuk merasakan kehadiran Al-lah yang menolong dan menyelamatkan.

Evaluasi :
a. Bagaimana pengalamanmu selama berada bersama orang tuamu?
b. Sikap-sikap apakah yang seharusnya dimiliki oleh seorang pemimpin?
c. Apakah janji Al-lah terhadap Daud? Sebutkan!
d. Apakah sekarang ini Al-lah tetap menyertai kita? Jelaskan!
e. Apakah kamu merasa Tuhan menyertai hidupmu? Dapatkah kamu menyebutkan contoh pengalaman itu?

Doa :
Al-lah Bapa yang Mahabaik,
Engkau dulu selalu menyertai bangsa Israel.
Sertailah kami dan jagalah kami sekarang,
selalu, dan sepanjang masa. Amin.

Nyanyikanlah lagu berikut ini bersama teman-temanmu. “Bila Roh Al-lah ada di dalamku”

Bila Roh Al-lah ada di dalamku,
Ku kan menari sperti Daud menari,
Ku kan menari sperti Daud menari
Ku kan menari Ku kan menari,
Ku kan menari sperti Daud menari ,
Ku kan menari Ku kan menari,
Ku kan menari sperti Daud menari.

Salomo Raja yang Bijaksana.

Raja Salomo yang menggantikan Daud, ayahnya, justru meminta kebijaksanaan kepada Al-lah waktu Al-lah menanyakan kepadanya apa yang ia minta. Jawab salomo kepada Al-lah: “Berilah hambamu ini hati yang tahu menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, sebab siapakah yang sanggup menghakimi umat-Mu yang besar ini?” Inilah yang disebut kebijaksanaan. Kebijaksanaan itu muncul dari hati.

Doa.
Al-lah Bapa yang Maharahim,
Engkau telah menjaga kami sepanjang malam tadi. Bantulah kami supaya kami sungguh-sungguh mengerti kebijaksanaan yang berasal daripada-Mu sendiri.
Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

1. Mendalami Arti dari Kebijaksanaan.

Semut dan Belalang.

Pada musim panas, sinar mentari sangat terik dan langit membiru sangat cerah. Di sana sini bunga bermekaran. Demikian pula buah-buahan yang masak di pohonnya nampak ranum dan lezat menggoda selera. Suasana indah tersebut membuat Belalang sangat gembira dan terlena dengan keadaan. Setiap hari dari pagi, siang hingga senja ia bernyanyi, bermain, dan bersenang- senang. Maka ia pun heran dengan semut yang nampak sibuk dan bekerja keras mengumpulkan makanan dan menyimpannya di rumahnya.

Belalang pun bertanya penuh keheranan: “Hai semut, mengapa kamu tidak bersenang-senang seperti aku? Ayolah bermain dan bergembira, mumpung cuaca cerah dan indah. Ayo kita bersukaria bersama!”. Tetapi semut berpikir sebaliknya. Dia sibuk menyimpan makanan untuk persediaan pada musim dingin yang segera tiba. Semut terus bekerja tanpa tergoda ajakan Belalang. Belalang pun mengejek Semut: “Ah dasar semut bodoh, cuaca cerah begini malah sibuk sendiri!”. Karena ajakannya tidak ditanggapi oleh Semut, maka Belalang memilih bermain sendirian di pohon jambu.

Tidak lama kemudian musim dingin pun tiba. Udara dingin terasa menusuk tulang. Dimana-mana turun salju menutupi jalanan, pepohonan, dan rerumputan. Belalang tersiksa karena kemana pun ia pergi tidak ada makanan yang tersedia. Dengan terpaksa ia pun mendatangi semut sambil memohon: “Hai semut, sahabatku. Berilah aku sedikit makananmu, karena aku sangat kelaparan”. Tetapi semut menjawab: “Maaf, persediaan makananku harus cukup sampai musim dingin berakhir”. Belalang pun agak memaksa: “Tetapi kamu kan memiliki banyak makanan!”, kata Belalang sambil melihat sekeliling rumah Semut, di mana persediaan makanan nampak bertumpuk tertata rapi. Semut pun menjawab dingin: “Memang, karena aku tidak mau menanggung risiko kekurangan makanan. Tidak seperti kamu yang selalu memboroskan waktu sepanjang musim panas, maka kamu pun harus menanggung akibatnya”.
(Bdk. Cosmas Fernandes, SVD, 2005. 50 Cerita Bijak, Yogyakarta: Kanisius, hlm. 33-34).

Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini!
a. Mengapa Semut tidak ikut bermain dan bersenang-senang dengan Belalang pada musim panas?
b. Dari kedua tokoh di dalam cerita di atas, siapakah tokoh yang dapat disebut bijaksana? Mengapa?
c. Apa yang mau diajarkan melalui cerita tersebut kepada kita?
d. Mengapa Semut tidak mau membagi makanannya kepada Belalang?

Penjelasan :
Di dalam cerita Semut dan Belalang, Semut bukan tidak menikmati musim panas. Sebaliknya, semut menggunakan musim panas sebagai masa untuk bekerja mengumpulkan dan menyimpan makanan. Hal itu ia lakukan karena ia belajar dari pengalaman, sehingga ia tidak mau mengulangi kesalahan yang sama. Dalam hal ini tindakan semut disebut bijaksana, karena ia tidak memikirkan saat ini saja, tetapi memikirkan masa yang akan datang. Ia bijaksana karena mau belajar dari pengalaman. Kisah ini tentu menawarkan nilai-nilai serta sikap bijaksana kepada kita. Sikap bijaksana adalah sikap dan keputusan yang didasarkan pada pengalaman, untuk dapat melangkah ke masa yang akan datang. Semut tidak mau berbagi makanannya kepada Belalang. Hal tersebut sekilas menunjukkan ketamakan atau ketidakpedulian Semut kepada sesama. Tetapi, nilai yang hendak disampaikan adalah bahwa sikap Belalang yang memboroskan waktu hanya untuk bermain dan bersenang-senang mengandung resiko bagi dirinya sendiri.

Cerita sederhana tersebut, mengajarkan bahwa sikap bijaksana diperlukan dalam kehidupan bersama. Para pemimpin hendaknya memiliki sikap dan bertindak bijaksana, sehingga rakyat bisa memperoleh kesejahteraan bersama. Kebijaksanaan merupakan berkat Tuhan, yang diberikan kepada setiap orang yang mau mendengarkan Firman- Nya.

Contoh pemimpin yang adil dan bijaksana dapat kita baca dalam Kitab Suci, yaitu kisah Raja Salomo.

2. Menanggapi Persoalan dengan Bijaksana.

Edo, Si Anak Yatim.

Sejak ayahnya meninggal, Edo merasa menghadapi banyak kesulitan. Ibunya hanya bisa memberi uang jajan Rp 2.000,00 (dua ribu rupiah) setiap hari. Maklum, ibunya hanya bekerja sebagai tukang cuci pakaian. Dengan uang jajan sebesar itu, Edo harus rela berjalan kaki ke sekolah, karena jika naik angkutan umum, uang jajan dari ibunya tidak cukup.

Kesulitan lainnya, Edo belum memiliki buku pegangan IPA. Buku tersebut harus dibeli dengan harga yang cukup mahal bagi Edo. Padahal, buku IPA tersebut merupakan buku pegangan wajib bagi siswa kelas V. Yang menjadi beban tambahan, bahwa ulangan harian IPA akan dilaksanakan 7 hari ke depan. Edo ingin berusaha supaya nilai ulangannya baik. (sumber: Marianus Didi Kasmudi, SFK)

Lengkapilah upaya pemecahan masalah di bawah ini dengan upaya bijaksana lainnya!
a. Edo berusaha untuk memperoleh buku pegangan IPA, dengan cara meminjam buku IPA ke perpustakaan.
b. Jika perpustakaan sekolah tidak memiliki buku IPA, Edo berusaha meminjam kepada teman sekelas, untuk kemudian dibaca dan membuat rangkuman pelajaran IPA yang menjadi bahan ulangan.

3. Mendalami Cerita Kitab Suci.

Kebijaksanaan Salomo.
(Bdk. 1Raj 3: 1-28).
Setelah Daud meninggal, anaknya, Salomo, menduduki takhta kerajaan Israel. Ia mengasihi dan setia kepada Tuhan dan menuruti nasihat-nasihat ayahnya. Pada suatu malam, di Gibeon Tuhan menampakkan diri kepadanya dalam mimpi. Sabda Tuhan kepadanya: “Mintalah apa yang engkau kehendaki!” Jawab Salomo: “Ya Tuhan, Engkau telah menjadikan hamba-Mu ini raja. Aku masih muda dan tidak tahu seluk-beluk perkara. Lagi pula rakyat-Mu banyak sekali jumlahnya. Maka karuniakanlah hamba-Mu ini hati yang bijaksana supaya dapat memerintah umat-Mu!” Tuhan bersabda kepadanya: “Oleh karena engkau meminta hati yang bijaksana dan tidak menghendaki kekayaan dan umur panjang, maka akan Kuberikan kepadamu kebijaksanaan seperti belum pernah ada sebelum engkau atau sesudah engkau. Tambahan pula, Kuberikan kepadamu umur yang panjang!”

Tak lama kemudian, datanglah dua orang perempuan menghadap Raja Salomo. Yang pertama berkata kepadanya: “Ya Tuanku, aku dan perempuan ini tinggal bersama dalam satu rumah dan aku melahirkan anak, pada waktu ia di rumah itu. Tiga hari kemudian, perempuan ini pun melahirkan anak. Kami sendirian. Tidak ada orang bersama-sama kami di dalam rumah. Pada waktu malam, anak perempuan ini mati, karena tertindih waktu perempuan ini tidur. Di tengah malam ia bangun, diambilnya anakku dari sisiku dan anakku digantinya dengan anaknya yang sudah meninggal. Tadi pagi, ketika saya bangun dan memeriksa anak yang telah mati ini dengan teliti, ternyata bukan dia anak yang kulahirkan.”
Tetapi perempuan yang lain berkata: “Bukan, anakku masih hidup. Anak perempuan itu yang telah mati!” Keduanya bertengkar sengit di depan raja Salomo. Maka, Raja Salomo berkata kepada prajurit: “Ambilkan pedang dan belahlah anak yang masih hidup menjadi dua bagian. Separuhnya diberikan kepada perempuan ini, sebagian lain diberikan kepada perempuan itu.” Mendengar keputusan raja, perempuan yang anaknya masih hidup berkata: “Saya memohon, ya Tuanku, berikanlah anak yang masih hidup kepada perempuan itu. Jangan membunuhnya.”

Tetapi perempuan yang lain berkata: “Supaya jangan untukku ataupun untukmu, maka lebih baik belahlah anak itu.” Mendengar itu, maka raja memutuskan: “Berikanlah anak yang masih hidup itu kepada perempuan yang menyayangi nyawa anak itu, karena dialah ibunya yang benar.”
Seluruh Israel mengakui bahwa kebijaksanaan Al-lah pada Raja Salomo untuk melakukan keadilan.

Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini!
a. Apa yang diminta Salomo kepada Tuhan menurut cerita tadi?
b. Mengapa kebijaksanaan yang diminta oleh Salomo?
c. Bagaimana Salomo memutuskan perkara dari dua perempuan yang memperebut- kan seorang bayi?
d. Apakah keputusan Salomo bijaksana? Mengapa?
e. Mengapa sikap adil dan bijaksana harus kita junjung tinggi dalam kehidupan sehari-hari?

Penjelasan :
Raja Salomo meminta kepada Tuhan “hati yang bijaksana”. Ia menyadari bahwa ia masih muda dan harus berhadapan dengan banyak perkara dari rakyatnya, maka ia tidak meminta kemuliaan dan kekayaan. Sebab, kemuliaan akan diperoleh dari kebijaksanaan hati. Raja yang bijaksana akan dicintai dan dihormati oleh rakyatnya.
Keadilan pun akan diperoleh apabila keluhan orang didengar dengan hati. Raja Salomo langsung tahu siapa pemilik anak yang masih hidup itu, karena ibu yang sesungguhnya tidak akan sampai hati membiarkan anaknya dibunuh. Maka, keputusan Raja Salomo dinilai adil.
Tuhan sendiri tidak menilai manusia dari hukum tertulis. Santo Paulus berkata: “Hukum tertulis itu mematikan, tetapi Roh menghidupkan” (2Kor 3:6). Roh itu membawa kebijaksanaan, Roh bekerja di dalam hati manusia.
Hukum tertulis di negeri kita masih sering direkayasa. Maka, seringkali orang yang bersalah dibenarkan dan orang benar disalahkan serta dipenjarakan. Hal ini menunjukkan bahwa sikap bijaksana hendaknya dimiliki oleh para pemimpin, sehingga seluruh rakyat memperoleh keadilan.

Bersikap dan Bertindak Bijaksana:

Ungkapkan pendapat pribadi mengenai pemimpin yang bijaksana. Berdasarkan nilai- nilai kebijaksanaan yang terdapat pada pemimpin bijaksana, coba rumuskan semboyan, peribahasa, ungkapan, atau pantun yang mencerminkan nilai kebijaksanaan, disertai dengan pesan yang hendak disampaikan, seperti pada kolom di bawah ini! Bagikan kepada temanmu jika diperlukan!

Untuk Diingat.
Pemimpin yang dibutuhkan oleh masyarakat zaman sekarang, adalah pemimpin yang bijaksana. Artinya, pemimpin yang mau belajar dari pengalaman, yang memikirkan masa yang akan datang, serta memperjuangkan kesejahteraan bersama.

Doa Penutup.
Al-lah Bapa yang Maharahim,
Engkau telah memberi kebijaksanaan kepada Salomo sehingga Salomo berlaku adil dan bijaksana kepada rakyatnya. Berilah juga kepada kami Roh Kebijaksanaan, supaya kami selalu bertindak adil terhadap sesama kami. Demi Kristus Tuhan kami.

Amin.

C. Cerita Perempuan Pemberani.

Dalam Perjanjian Lama, tokoh perempuan Israel yang peduli terhadap kesejahteraan dan memperjuangkan bangsanya adalah Ester. Kecantikan dan kesederhanaan Ester menimbulkan kasih sayang Raja Ahasyweros dan semua orang yang melihat dia. “Maka Ester dikasihi oleh baginda lebih dari pada semua perempuan lain, dan ia beroleh sayang dan kasih baginda lebih dari pada semua anak dara lain, sehingga baginda mengenakan mahkota kerajaan ke atas kepalanya dan mengangkat dia menjadi ratu ganti Wasti.” (Est. 2:17)

Doa.
Al-lah Bapa yang Mahapengasih,
Di antara kami masih banyak orang-orang yang miskin, Orang-orang yang menderita dan tidak berdaya.
Ajarilah kami untuk mau peduli dan mengasihi mereka, Agar kami dapat menjadi saudara bagi semua orang, Demi Yesus Kristus Tuhan dan pengantara kami.
Amin

1. Kisah Bunda Theresa dari Kalkuta India.

Bunda Theresa (Agnes Gonxha Bojaxhiu; lahir di Üsküp, Kerajaan Ottoman, 26 Agustus 1910 – meninggal di Kalkuta, India, 5 September 1997 pada umur 87 tahun) adalah seorang biarawati Katolik Roma keturunan Albania dan berkewarganegaraan India: Ia mendirikan Misionaris Cinta Kasih (bahasa Inggris: Missionaries of Charity) di Kalkuta, India, pada tahun 1950. Selama lebih dari 45 tahun, ia melayani orang miskin, sakit, yatim piatu dan sekarat, sementara membimbing ekspansi Misionaris Cinta Kasih yang pertama di seluruh India dan selanjutnya di negara lain. Setelah kematiannya, ia diberkati oleh Paus Yohanes Paulus II dan diberi gelar Beata Theresa dari Kalkuta. Dalam gereja katolik, beatifikasi (dari bahasa Latin “beatus”, yang berbahagia) adalah suatu pengakuan atau pernyataan yang diberikan oleh Gereja terhadap orang yang telah meninggal bahwa orang tersebut adalah orang yang berbahagia. Beatifikasi diberikan kepada orang yang dianggap telah bekerja sangat keras untuk kebaikan atau memiliki keistimewaan secara spiritual. Beatifikasi memerlukan bukti berupa mukjizat (kecuali dalam kasus martir), sebagai bukti bahwa orang yang dianggap suci atau kudus itu telah berada dalam Surga dan dapat mendoakan orang lain. Orang yang mendapat beatifikasi diberi gelar beato untuk laki-laki dan beata untuk perempuan.

Pada tahun 1970-an, ia menjadi terkenal di dunia internasional untuk pekerjaan kemanusiaan dan advokasi bagi hak-hak orang miskin dan tak berdaya. Misionaris Cinta Kasih terus berkembang sepanjang hidupnya dan pada saat kematiannya, ia telah menjalankan 610 misi di 123 negara, termasuk penampungan dan rumah bagi penderita HIV/AIDS, Lepra, dan TBC, program konseling untuk anak dan keluarga, panti asuhan, dan sekolah. Pemerintah, organisasi sosial, dan tokoh terkemuka telah terinspirasi dari karyanya, namun tak sedikit filosofi dan implementasi Bunda Theresa yang menghadapi banyak kritik. Ia menerima berbagai penghargaan, termasuk penghargaan pemerintah India, Bharat Ratna (1980) dan Penghargaan Perdamaian Nobel pada tahun 1979. Ia merupakan salah satu tokoh yang paling dikagumi dalam sejarah. Saat peringatan kelahirannya yang ke-100 pada tahun 2010, seluruh dunia menghormatinya dan karyanya dipuji oleh Presiden India, Pratibha Patil. (Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas).

Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini!
a. Apa yang diperjuangkan oleh Bunda Theresa dari Kalkuta India, sehingga ia mendapat beberapa penghargaan?

BACA JUGA :   Kata Baku dan Tidak Baku.

b. Paus Yohanes Paulus II menganugerahkan gelar Beata kepada Bunda Theresa. Apa arti gelar tersebut?

 

2. Belajar dari Keteladanan Tokoh-Tokoh Perempuan.

a. Selain tokoh laki-laki, terdapat banyak tokoh perempuan yang berjuang menegakkan nilai-nilai kebenaran dan kemanusiaan.
b. Tokoh-tokoh perempuan tersebut memberikan teladan kepada kita. Misalnya nilai kepemimpinan dan perjuangan terhadap kesejahteraan rakyat, nilai keberanian dan perjuangan melawan ketidakadilan, nilai perjuangan kemanusiaan, nilai pelayanan dan cinta kasih, nilai perjuangan untuk mendapat perlakuan serta hak yang sama, nilai solidaritas dan kesetiakawanan sosial.
c. Tokoh perempuan yang berani memperjuangkan bangsanya, terdapat juga di dalam Kitab Suci, yaitu Ester.

3. Membaca dan Mendengarkan Cerita Kitab Suci.

Bacalah kisah Ester dalam kitab suci berikut ini!

Ester, Perempuan Pembela Bangsa Israel.
(Est.2:2-21, 3:15, 7:1-6).

2 Maka sembah para biduanda raja yang bertugas pada baginda: “Hendaklah orang mencari bagi raja, gadis-gadis, yaitu anak-anak dara yang elok rupanya; 3 hendaklah raja menempatkan kuasa-kuasa di segenap daerah kerajaannya, supaya mereka mengumpulkan semua gadis, anak-anak dara yang elok rupanya, di dalam benteng Susan, di balai perempuan, di bawah pengawasan Hegai, sida-sida raja, penjaga para perempuan; hendaklah diberikan wangi-wangian kepada mereka. 4 Dan gadis yang terbaik pada pemandangan raja, baiklah dia menjadi ratu ganti Wasti.” Hal itu dipan- dang baik oleh raja, dan dilakukanlah demikian.
5Pada waktu itu, ada di dalam Benteng Susan seorang Yahudi, yang bernama Mordekhai bin Yair bin Simei bin Kish, seorang Benyamin 6yang diangkut dari Yerusalem sebagai salah seorang buangan yang turut dengan Yekhonya, Raja Yehuda, ketika ia diangkut ke dalam pembuangan oleh Raja Nebukadnezar, Raja Babel. 7Mordekhai itu pengasuh Hadasa, yakni Ester, anak saudara ayahnya, sebab anak itu tidak beribu bapa lagi. Gadis itu elok perawakannya dan cantik parasnya. Ketika ibu bapanya mati, ia diangkat sebagai anak oleh Mordekhai.
8Setelah titah dan undang-undang raja tersiar dan banyak gadis dikumpulkan di dalam benteng Susan, di bawah pengawasan Hegai, maka Ester pun dibawa masuk ke dalam istana raja, di bawah pengawasan Hegai, penjaga para perempuan. 9Maka gadis itu sangat baik pada pemandangannya dan menimbulkan kasih sayangnya, sehingga Hegai segera memberikan wangi-wangian dan pelabur kepadanya, dan juga tujuh orang dayang-dayang yang terpilih dari isi istana raja, kemudian memindahkan dia dengan dayang-dayangnya ke bagian yang terbaik di dalam balai perempuan. 10Ester tidak memberitahukan kebangsaan dan asal usulnya, karena dilarang oleh Mordekhai. 11Tiap-tiap hari berjalan-jalanlah Mordekhai di depan pelataran balai perempuan itu untuk mengetahui bagaimana keadaan Ester dan apa yang akan berlaku atasnya. 12Tiap- tiap kali seorang gadis mendapat giliran untuk masuk menghadap Raja Ahasyweros, dan sebelumnya ia dirawat menurut peraturan bagi para perempuan selama dua belas bulan, sebab seluruh waktu itu digunakan untuk pemakaian wangi-wangian: enam bulan untuk memakai minyak mur dan enam bulan lagi untuk memakai minyak kasai serta lain-lain wangi-wangian perempuan. 13Lalu gadis itu masuk menghadap raja, dan segala apa yang dimintanya harus diberikan kepadanya untuk dibawa masuk dari balai perempuan ke dalam istana raja. 14Pada waktu petang ia masuk dan pada waktu pagi ia kembali, tetapi sekali ini ke dalam balai perempuan yang kedua, di bawah pengawasan Saasgas, sida-sida raja, penjaga para gundik. Ia tidak diperkenankan masuk lagi menghadap raja, kecuali jikalau raja berkenan kepadanya dan ia dipanggil dengan
disebutkan namanya.
15Ketika Ester — anak Abihail, yakni saudara ayah Mordekhai yang mengangkat Ester sebagai anak — mendapat giliran untuk masuk menghadap raja, maka ia tidak menghendaki sesuatu apa pun selain dari pada yang dianjurkan oleh Hegai, sida-sida raja, penjaga para perempuan. Maka Ester dapat menimbulkan kasih sayang pada semua orang yang melihat dia. 16Demikianlah Ester dibawa masuk menghadap Raja Ahasyweros ke dalam istananya pada bulan yang kesepuluh — yakni bulan Tebet — pada tahun yang ketujuh dalam pemerintahan baginda. 17Maka Ester dikasihi oleh baginda lebih dari pada semua perempuan lain, dan ia beroleh sayang dan kasih baginda lebih dari pada semua anak dara lain, sehingga baginda mengenakan mahkota kerajaan ke atas kepalanya dan mengangkat dia menjadi ratu ganti Wasti.
18Kemudian diadakanlah oleh baginda suatu perjamuan bagi semua pembesar dan pegawainya, yakni perjamuan karena Ester, dan baginda menitahkan kebebasan pajak bagi daerah-daerah serta mengaruniakan anugerah, sebagaimana layak bagi raja. 19Selama anak-anak dara dikumpulkan untuk kedua kalinya, Mordekhai duduk di pintu gerbang istana raja. 20Adapun Ester tidak memberitahukan asal usul dan kebangsaannya seperti diperintahkan kepadanya oleh Mordekhai, sebab Ester tetap berbuat menurut perkataan Mordekhai seperti pada waktu ia masih dalam asuhannya.
21Pada waktu itu, ketika Mordekhai duduk di pintu gerbang istana raja, sakit hatilah Bigtan dan Teresh, dua orang sida-sida raja yang termasuk golongan penjaga pintu, lalu berikhtiarlah mereka untuk membunuh Raja Ahasyweros. 15Maka dengan tergesa-gesa berangkatlah pesuruh-pesuruh itu, atas titah raja, dan undang-undang itu dikeluarkan di dalam Benteng Susan. Sementara itu raja serta Haman duduk minum-minum, tetapi kota Susan menjadi gempar. 1Datanglah raja dengan Haman untuk dijamu oleh Ester, sang ratu. 2Pada hari yang kedua itu, sementara minum anggur, bertanyalah pula raja kepada Ester: “Apakah permintaanmu, hai Ratu Ester? Niscaya akan dikabulkan. Dan apakah keinginanmu? Sampai setengah kerajaan sekalipun akan dipenuhi.” 3Maka jawab Ester, sang ratu: “Ya raja, jikalau hamba mendapat kasih raja dan jikalau baik pada pemandangan raja, karuniakanlah kiranya kepada hamba nyawa hamba atas permintaan hamba, dan bangsa hamba atas keinginan hamba. 4Karena kami, hamba serta bangsa hamba, telah terjual untuk dipunahkan, dibunuh dan dibinasakan. Jikalau seandainya kami hanya dijual sebagai budak laki-laki dan perempuan, niscaya hamba akan berdiam diri, tetapi malapetaka ini tiada taranya di antara bencana yang menimpa raja.” 5Maka bertanyalah Raja Ahasyweros kepada Ester, sang ratu: “Siapakah orang itu dan di manakah dia yang hatinya mengandung niat akan berbuat demikian?” 6Lalu jawab Ester: “Penganiaya dan musuh itu, ialah Haman, orang jahat ini!” Maka Haman pun sangatlah ketakutan di hadapan raja dan ratu.

BACA JUGA :   SD3.Tema8-1-1-Bumi Bagian Dari Alam Semesta

Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut!
a. Apa peran Ester seperti yang dikisahkan dalam Kitab Suci tersebut?
b. Sikap-sikap apakah yang pantas kita teladani dari Ester?
c. Siapakah yang diperjuangkan oleh Ester, sehingga ia berani mempertaruhkan hidupnya?

Penjelasan :
Ester memiliki anugerah kecantikan dan kesederhanaan. Kecantikan yang ia miliki merupakan anugerah Tuhan. Dengan kecantikan wajah serta keelokan hatinya, ia berperan sebagai perempuan yang berani memperjuangkan kebenaran demi keselamatan bangsanya.
Dalam cerita kitab suci, kita dapat meneladani sikap-sikap Ester, yaitu keseder- hanaan, kecantikan hatinya, keberanian, serta sikap peduli. Ester sebenarnya bisa hidup bahagia di dalam istana raja dan memiliki apa saja yang ia minta, tetapi karena ia peduli terhadap penderitaan bangsanya, ia rela mempertaruhkan hidupnya demi keselamatan bangsa.
Al-lah telah memberikan cinta kasih yang begitu besar kepada setiap manusia. Maka, sudah sepatutnya manusia juga memberikan cinta kasih kepada sesamanya melalui hal-hal kepedulian, kerjasama, semangat saling membantu, dan lain-lain.

4. Membangun Niat dan Sikap Peduli.

Cobalah untuk mewujudkan bentuk kepedulian terhadap lingkungan di sekitarmu, baik secara pribadi maupun secara berkelompok. Lengkapilah kolom di bawah ini sebagai perencanaan serta laporan atas pelaksanaan kegiatan yang kamu rencanakan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan!

 

Lagu : “Al-lah Peduli”

Banyak perkara, yang tak dapat ku mengerti Mengapakah harus terjadi, di dalam kehidupan ini.
Satu perkara, yang kusimpan dalam hati Tiada sesuatu kan terjadi, tanpa Al-lah peduli.
Al-lah mengerti Al-lah peduli Segala persoalan yang kita hadapi Tak akan pernah dibiarkan-Nya Ku bergumul sendiri.
S’bab Al-lah mengerti.
(Nikita ).

 

D. Kejayaan dan Keruntuhan Israel.

Tuhan memalingkan muka dari mereka dan membiarkan mereka dirampok. Mereka dibiarkan ditindas oleh Bangsa Asyur. Dan pada pemerintahan Raja Yerobeam, orang Israel diangkut ke pembuangan ke Asyur. Kerajaan Israel runtuh dan mereka dijajah dan ditindas sebagai hamba. Inilah akibatnya jika berpaling dari Al-lah dan menolak Al-lah.

BACA JUGA :   SD Kelas 4 Tema 8.3.1 - Daerah Tempat Tinggalku - Sub.Tema 3 - Bangga Terhadap Daerah Tempat Tinggalku

Doa.
Al-lah, Bapa kami yang Mahakasih,
hari ini kami akan mendalami kejatuhan kerajaan Israel.
Terangilah akal budi kami
agar kami dapat memetik hikmahnya untuk hidup kami,
sekarang, selalu, dan sepanjang hidup kami.
Amin.

1. Hal-Hal yang Menyebabkan Kejayaan atau Runtuhnya Suatu Bangsa.

Bacalah dengan saksama cerita tentang tujuh buli-buli emas di bawah ini!

Tujuh Buli-Buli Emas.

Seorang tukang cukur sedang berjalan di bawah sebatang pohon yang angker, ketika ia mendengar suara yang berkata: ‘Inginkah engkau mempunyai emas sebanyak tujuh buli-buli?’ Tukang cukur itu melihat kiri kanan dan tidak tampak seorang pun. Tetapi nafsu lobanya timbul, maka dengan tak sabar ia menjawab lantang: ‘Ya, aku ingin!’ ‘Kalau begitu, pulanglah segera ke rumah,’ kata suara itu. ‘Engkau akan menemukannya di sana.’

Si tukang cukur cepat-cepat berlari pulang. Sungguh, ada tujuh buli-buli penuh emas, kecuali satu yang hanya berisi setengah saja. Si tukang cukur tak bisa melepaskan pikiran, bahwa satu buli-buli hanya berisi setengah saja. Ia ingin sekali untuk segera mengisinya sampai penuh. Sebab jika tidak, ia tidak akan bahagia.

Seluruh perhiasan milik anggota keluarganya disuruhnya dilebur menjadi uang emas dan dimasukkannya dalam buli-buli yang berisi setengah itu. Tetapi buli-buli itu tetap berisi setengah seperti semula. Ini menjengkelkan! Ia menabung, menghemat dan berpuasa sampai ia sendiri dan seluruh keluarganya kelaparan. Namun demikian, sia- sia belaka. Biarpun begitu banyak emas telah dimasukkannya ke dalam, buli-buli itu tetap berisi setengah saja.

Pada suatu hari ia minta kenaikan gaji kepada raja. Upahnya dinaikkan 2x lipat. Sekali lagi ia berjuang untuk mengisi buli-buli itu. Bahkan ia sampai mengemis. Namun buli-buli itu tetap menelan setiap mata uang emas yang dimasukkan dan tetap berisi setengah.

Raja mulai memperhatikan, betapa tukang cukur itu tampak kurus dan menderita. ‘Kau punya masalah apa?’ tanya sang raja. ‘Kau dulu begitu puas dan bahagia waktu gajimu kecil saja. Sekarang gajimu sudah lipat dua, namun kau begitu muram dan lesu. Barangkali kau menyimpan tujuh buli-buli emas itu?’ Tukang cukur terheran-heran. ‘Siapakah yang menceritakan hal itu kepada Paduka, ya Tuanku Raja?’

Raja tertawa seraya berkata: ‘Tindak-tandukmu jelas menampakkan gejala-gejala yang terdapat pada semua orang yang ditawari tujuh buli-buli emas oleh setan. Ia pernah menawarkannya juga kepadaku. Aku bertanya, apakah uang itu boleh dipergunakan atau semata-mata untuk disimpan. Namun ia terus menghilang tanpa berkata apa-apa. Uang itu tidak bisa digunakan, tetapi hanya memaksa orang supaya mau menyimpannya. Lekas kembalikanlah uang itu pada setan. Pastilah engkau akan bahagia kembali!’

(Burung Berkicau, Anthony de Mello SJ, Yayasan Cipta Loka Caraka, Cetakan 7, 1994).

Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini!
a. Sikap apa yang ditunjukkan oleh Si Tukang Cukur setelah menerima tawaran tujuh buli-buli emas dari setan?
b. Mengapa Si Tukang Cukur tidak pernah merasa puas?
c. Beri contoh nyata kasus mengenai orang-orang yang serakah dan tidak pernah puas dengan apa yang dimiliki, di lingkungan masyarakat kita!
d. Pelajaran apa yang dapat kita petik dari cerita tersebut?

Penjelasan.

Setelah menerima tujuh buli-buli emas, Si Tukang Cukur menjadi serakah dan tamak. Ia tidak pernah puas, jika ketujuh buli-bulinya tidak penuh semua dengan emas. Ia tidak bahagia dan tidak mampu bersyukur dengan apa yang ia peroleh, sebaliknya dengan segala cara, ia menumpuk harta kekayaan.

Sikap serakah, tamak, tidak pernah puas, menumpuk harta kekayaan, dan menghalalkan segala cara, adalah sikap-sikap yang dihadapi oleh Bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia yang kaya raya dan memiliki sumber daya alam yang melimpah, kini menghadapi krisis serta terancam runtuh. Salah satu penyebabnya sikap serakah, tidak pernah puas, dan memperkaya diri. Hal itu tercermin dengan maraknya korupsi di berbagai segi kehidupan. Jika kita tidak mampu mengubah sikap, Indonesia akan runtuh.

Pengalaman orang kaya tadi memberi pelajaran kepada kita supaya kita selalu ingat dan akrab bergaul dengan Al-lah. Sebab, Al-lah adalah sumber kebahagiaan sejati.

 

2. Membaca dan Mendengarkan Cerita Kitab Suci.

Baca dan simaklah kisah “Runtuhnya Kerajaan Israel” dari Kitab Suci berikut ini!

Keruntuhan Kerajaan Israel
(Bdk. 2Raj 17: 7-23)

Setelah Raja Daud dan Salomo meninggal, kerajaan Israel dipimpin oleh raja-raja yang tidak setia kepada Al-lah. Bangsa Israel mulai menyembah berhala di bukit- bukit. Mereka menyembah dewa-dewa di bawah pohon besar dan membuat berbagai kejahatan di hadapan Al-lah, sehingga Al-lah sakit hati.

Al-lah mengutus nabi-nabi-Nya untuk memperingatkan mereka. “Berbaliklah kamu daripada jalan-jalanmu yang jahat itu, dan ikutlah segala perintah dan ketetapan-Ku, sesuai dengan undang-undang yang telah Kuperintahkan kepada nenek moyangmu.”
Tetapi mereka tidak mau mendengar-Ku. Mereka menolak semua ketetapan dari nenek moyang mereka. Malahan mereka mengorbankan anak-anak mereka kepada para dewa. Mereka membuat patung Asyera dan beribadat kepada Baal. Maka Tuhan memalingkan muka dari mereka dan membiarkan mereka dirampok. Mereka dibiarkan ditindas oleh Bangsa Asyur. Dan pada pemerintahan Raja Yerobeam, orang Israel diangkut ke pembuangan ke Asyur. Kerajaan Israel runtuh dan mereka dijajah dan ditindas sebagai hamba. Inilah akibatnya jika berpaling dari Al-lah dan menolak Al-lah.

Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini!
a. Pelanggaran-pelanggaran apa yang dilakukan oleh raja-raja dan bangsa Israel menurut cerita di atas?
b. Apa akibat yang ditanggung Bangsa Israel atas ketidaksetiaan mereka terhadap Tuhan?
c. Apakah sikap menjauhkan diri dari Al-lah sama dengan menjauhkan diri dari kebahagiaan? Mengapa?

Rangkuman :

Para pengganti Raja Daud dan Salomo, adalah raja-raja yang tidak setia kepada
Tuhan. Mereka berpaling dari Tuhan dan menyembah berhala. Atas pelanggaran
mereka, Tuhan murka serta menghukum Israel, dengan membiarkan Israel dirampok
dan ditindas oleh Bangsa Asyur.

Menjauhkan diri dari Tuhan berarti menjauhkan diri dari kebahagiaan, karena
Tuhanlah sumber kebahagiaan sejati. Seperti Bangsa Israel pada saat itu, banyak
orang mencari kebahagiaan dengan menyembah berhala. Harta kekayaan dan jabatan
yang tinggi, sering dianggap sebagai sumber kebahagiaan. Hal inilah yang dinamakan
berhala modern.

Ungkapan Harapan.

Sebagai generasi muda Indonesia, kamu tentu memiliki harapan agar bangsa dan negara kita tetap jaya. Coba ungkapkan harapanmu kepada para pemimpin masyarakat, agar berjuang membangun kejayaan Bangsa Indonesia berdasarkan nilai-nilai

pancasila, yaitu nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai kerakyatan dan nilai keadilan. Harapan dapat ditulis dalam bentuk surat, doa, puisi, atau bentuk lainnya.

Untuk Diingat.
Berhala, yaitu penyembahan terhadap kekayaan, kekuasaan, dan kesenangan, akan membawa bencana bagi manusia. Kebahagiaan sejati hanya akan tercipta kalau kita dekat dengan Tuhan.

Doa.
Doa untuk Pemuka Masyarakat.

Al-lah, Bapa yang Mahakuasa, kami bersyukur kepada-Mu karena telah mengikut sertakan para pemuka masyarakat dalam karya penggembalaan-Mu terhadap seluruh masyarakat kami. Semoga para pemuka masyarakat yang telah Kau pilih menyadari tugas dan tanggung jawabnya, sebab karisma kepemimpinannya berasal dari-Mu. Berilah mereka semangat pelayanan yang tulus untuk mengupayakan kemakmuran dan kesejahteraan semua orang.
Bapa, bimbinglah para pemuka masyarakat dengan terang kebijaksanaan sejati agar dapat mengambil keputusan yang adil, tepat, dan benar. Jauhkanlah dari mereka sikap hanya mementingkan diri sendiri, sikap menyelewengkan dan memanfaatkan jabatan untuk kepentingan-kepentingan yang merugikan masyarakat. Semoga para pemimpin masyarakat mampu mengatasi godaan.

Ya Bapa, karuniailah mereka berkat yang mereka perlukan. Sudilah Engkau mengangkat pemuka-pemuka yang serasi, yang dapat menjadi panutan bagi semua warga.
Doa ini kami sampaikan kepada-Mu dengan pengantaraan Tuhan kami, Yesus Kristus. Amin. (Puji Syukur No.196 Tahun 1992).

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *