Bab 3.3.1 – Relativisme praktis

Lanjutan Bab 3.

III. KRISIS DAN EFEK ANTROPOSENTRISME   MODERN …

Relativisme praktis.

122. Sebuah antroposentrisme yang menyimpang mendorong gaya hidup yang Dalam Anjuran Apostolik Evangelii Gaudium, saya merujuk ke relativisme praktis yang menjadi ciri khas zaman kita, dan yang “lebih berbahaya daripada  relativisme  doktrinal”.   Ketika  manusia menempatkan dirinya di pusat, ia akhirnya memberikan prioritas tertinggi kepada kepentingannya yang sesaat, dan semuanya yang lain menjadi relatif. Karena itu, tidak mengherankan bahwa bersamaan dengan para- digma teknokratis yang dominan dan pemujaan kuasa manusia yang tak terbatas, berkembang suatu relativisme yang menganggap segala sesuatu yang tidak langsung melayani kepentingannya sendiri, juga tidak penting lagi. Dalam semuanya ini ada logika yang membantu memahami bagaimana sikap-sikap tertentu yang menyebabkan kerusakan lingkungan maupun kerusakan sosial, saling memupuk.

123. Budaya relativisme adalah penyakit yang sama yang mendorong seseorang  untuk mengeksploitasi  sesamanya dan memperlakukannya sebagai objek saja, dengan mewa- jibkannya untuk kerja paksa, atau memperbudaknya karena utang. Cara berpikir yang sama mendorong eksploitasi seksual terhadap anak-anak atau penelantaran orang lansia yang tidak lagi berguna untuk kepentingan pribadi. Ini pun pola berpikir orang yang mengatakan, ‘Biarkan kekuatan pasar yang tak kelihatan mengatur ekonomi, karena pelbagai dampaknya terhadap masyarakat dan alam merupakan kerugian yang tak dapat dielakkan. Jika tidak ada kebenaran objektif atau prinsip-prinsip yang kuat selain realisasi proyek-proyek pribadi dan pemuasan kebutuhan mendesak, bagaimana dapat dibatasi perdagangan ma- nusia, kejahatan terorganisasi, perdagangan narkoba, dan perdagangan “berlian berdarah” atau kulit satwa yang terancam punah? Bukankah logika relativisme yang sama membenarkan pembelian organ orang-orang miskin untuk dijual kembali atau digunakan dalam eksperimen, atau membenarkan pembuangan anak-anak karena mereka tidak memenuhi keinginan orang tuanya? Ini sama dengan logika “pakai dan buang”, yang menghasilkan begitu ba- nyak sampah, hanya karena keinginan tak teratur untuk mengkonsumsi lebih banyak daripada yang sebenarnya dibutuhkan. Oleh karena itu, jangan kita berpikir bahwa upaya politik dan kekuatan hukum akan cukup untuk mencegah perilaku yang berdampak pada lingkungan, karena apabila kebudayaan sudah korup dan kita tidak lagi mengakui kebenaran objektif atau prinsip-prinsip yang berlaku universal, hukum hanya dilihat sebagai pemaksaan yang sewenang-wenang dan sebagai kendala yang perlu dihindari.




Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *