Bab 2.5 – PERSEKUTUAN UNIVERSAL


Lanjutan Bab 2.

5. PERSEKUTUAN   UNIVERSAL

89. Makhluk-makhluk dunia ini tidak dapat dianggap sebagai barang tanpa pemilik: “mereka adalah milik-Mu, ya Tuhan, yang mencintai kehidupan” (Kebijaksanaan 11:26). Ini adalah dasar keyakinan bahwa, karena diciptakan oleh Bapa yang sama, kita dan semua makhluk alam semesta disatukan oleh ikatan yang tak kelihatan, dan membentuk semacam keluarga universal, suatu persekutuan luhur yang memenuhi kita dengan rasa hormat yang suci, lembut dan  rendah  hati.  Saya  ingin  mengingatkan  bahwa  “Al-lah menyatukan kita begitu erat dengan dunia di sekitar kita, sehingga kita dapat merasakan penggundulan tanah hampir seperti penyakit pada setiap orang, dan punahnya suatu spesies bagaikan mutilasi yang menyakitkan”.

90. Ini tidak berarti bahwa kita menyamaratakan semua makhluk hidup atau mencabut dari manusia nilainya yang unik, yang serentak membawa serta tanggung jawab yang sangat besar. Juga tidak disiratkan pengilahian bumi yang akan mencegah kita dari panggilan untuk bekerja dengan bumi dan melindunginya dalam kerapuhannya. Gagasan-gagasan seperti itu akhirnya akan menciptakan ketidakseimbangan baru yang akan membelokkan kita dari realitas yang menantang kita. Kadang-kadang terlihat obsesi untuk menyangkal setiap keunggulan pada pribadi manusia. Semangat besar ditampilkan untuk melindungi spesies lain lebih daripada membela martabat yang dimiliki semua manusia dalam derajat yang sama. Tentu saja, kita harus peduli agar makhluk hidup lainnya tidak diperlakukan secara tidak bertanggung jawab. Tetapi kita harus kesal khususnya pada ketidaksetaraan besar di antara kita, di mana kita terus membiarkan ada yang menganggap dirinya lebih layak daripada yang lain. Kita gagal melihat bahwa ada yang mendekam dalam penderitaan yang merendahkan, tanpa jalan keluar, sementara yang lain bahkan tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan apa yang mereka miliki, memamerkannya dengan kesombongan yang dianggap keunggulan, dan meninggalkan sampah sedemikian banyak hingga akan merusak planet ini, seandainya dilakukan oleh semua. Dalam praktiknya, kita terus  menerima  bahwa  ada yang menganggap dirinya sebagai manusia yang lebih daripada yang lain, seolah-olah mereka lahir dengan hak- hak yang lebih besar.

91. Rasa persatuan mendalam dengan makhluk lain dan alam tidak mungkin menjadi nyata jika pada saat  yang sama hati kita tidak dipenuhi kelembutan hati, kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama manusia. Inkonsistensi itu tampak pada mereka yang berjuang melawan perdagangan hewan langka tetapi tidak peduli sedikit pun dengan perdagangan manusia, tidak peduli dengan orang miskin, atau bersikeras untuk menghancurkan manusia lain yang tidak disukai. Ini membahayakan arti perjuangan kita bagi lingkungan. Bukan suatu kebetulan bahwa dalam Gita Sang Surya di mana Santo Fransiskus memuji Al-lah karena makhluk-makhluk ciptaan-Nya, ditambahkan: “Terpujilah Engkau, Tuhanku, karena mereka yang mengampuni demi kasih-Mu”.   Semuanya   berkaitan.   Kepedulian   terhadap lingkungan perlu bergandengan dengan cinta yang tulus bagi manusia dan komitmen yang mantap untuk menangani masalah-masalah masyarakat.

92. Di sisi lain, ketika hati kita benar-benar terbuka untuk suatu persekutuan universal, tidak ada sesuatu atau seorang pun yang dikecualikan dari persaudaraan ini. Oleh karena itu, benar juga bahwa ketidakpedulian atau kekejaman terhadap makhluk lain di dunia ini cepat atau lambat akan memengaruhi perlakuan kita terhadap manusia lain. Kita memiliki hanya satu hati, dan kemalangan yang sama  yang membawa kita kepada tindakan kekerasan terhadap binatang, akan segera nyata juga dalam hubungan kita dengan sesama manusia. Setiap kekejaman terhadap makh- luk  apa  pun  “bertentangan  dengan  martabat  manusia”. Kita tidak dapat beranggapan bahwa kita sudah banyak mengasihi, jika sebagian realitas dikucilkan dari  perhatian kita: “Perdamaian, keadilan dan keutuhan ciptaan adalah tiga topik yang benar-benar terkait, yang tidak dapat di- pisahkan dan diperlakukan secara tersendiri tanpa sekali lagi jatuh ke dalam reduksionisme”. Semuanya terhubung; sebagai manusia, kita semua bersatu sebagai saudara dan saudari dalam suatu ziarah yang mengagumkan, terjalin oleh kasih yang Al-lah tunjukkan bagi setiap makhluk-Nya dan yang dengan kasih sayang yang lembut menyatukan kita juga dengan saudara matahari, saudari bulan, saudari air dan ibu pertiwi.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *