SD6 -PKN – Nilai Perjuangan dalam Perumusan Pancasila



Nilai Perjuangan dalam Perumusan Pancasila.

Bangunan akan berdiri kokoh dan kuat bila fondasinya kuat. Seperti halnya bangunan, negara juga membutuhkan fondasi. Fondasi negara itulah yang disebut sebagai dasar negara. Adapun dasar negara kita adalah Pan-casila. Pancasila mampu menjadi dasar negara yang kokoh dan kuat. Hal itu karena Pancasila berakar pada budaya bangsa Indonesia. Bagaimanakah Pancasila berhasil dirumuskan? Siapa saja tokoh yang berjasa merumuskan Pancasila? Bagaimana pula Pancasila mampu menjadi landasan bernegara? Semua pertanyaan itu akan terjawab dalam bab ini. Nah, pelajarilah dengan saksama.

A. Pancasila sebagai Dasar Negara.

Apa jadinya bangunan yang berdiri tanpa dasar atau fondasi? Tentu ba-ngunan itu akan mudah runtuh, bukan? Sebuah bangunan tanpa dasar pasti mudah runtuh. Oleh karena itu, sebuah bangunan memerlukan dasar atau fondasi. Bangunan yang kokoh tentunya berdiri di atas dasar yang kokoh  dan kuat.

Seperti bangunan, setiap ne-garamemerlukandasarnegaraagar tetap tegak berdiri. Bagi sebuah negara, dasar negara menjadi landasan pokok dalam penyeleng-garaan pemerintahan. Dengan demikian, penyelenggaraan peme-rintahan dapat terarah dan teratur. Kegiatan bernegara harus memiliki landasan yang kuat. Hal ini penting terutama bagi sebuah negara baru. Oleh karena itu, dasar negara dirumuskan sebelum sebuah negara didirikan.

Pancasila sebagai dasar negara berfungsi penting dalam kehidupan bernegara. Pancasila menjadi penentu arah dan cita-cita luhur bangsa Indonesia. Pancasila juga menjadi tuntunan untuk menjalankan kehidupan bernegara. Segenap warga Indonesia harus menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila. Bila semua dapat melakukan-nya maka cita-cita luhur bangsa Indonesia akan terwujud. Cita-cita luhur yang dimak-sud yaitu masyarakat adil dan makmur.

Sebelum menjadi dasar negara, Pancasila mengalami proses yang panjang. Para pendiri bangsa berjuang menyatukan tenaga dan pikiran. Tujuannya untuk mewujudkan Indonesia merdeka dengan dasar yang kuat. Dengan dasar yang kuat Indonesia akan kokoh. Indonesia pun tidak akan mudah terpecah belah. Para pendiri bangsa telah memberikan kita contoh semangat kebersamaan. Semangat tersebut tampak dalam perumusan Pancasila menjadi dasar negara.

Nah, tugas kita adalah menjaga agar semangat kebersamaan tetap menyala. Kita tidak boleh membiarkan warisan kebersamaan yang sangat berharga itu koyak-moyak. Lantas, apa saja nilai lain dari perumusan Pancasila? Apa yang harus kita lakukan agar nilai-nilai tersebut tetap melekat dalam kehidupan kita? Simak terus uraian selanjutnya.

B.Semangat Juang dan Kebersamaan di Balik Perumusan Pancasila.

Pada masa penjajahan, seluruh bangsa berjuang untuk meraih ke-merdekaan. Mereka berjuang dengan banyak cara. Ada yang berjuang dengan pertempuran bersenjata. Ada pula yang berjuang dengan pikiran. Semuanya mengerahkan segenap kemampuan untuk mencapai Indonesia merdeka.

Perjuangan melalui pemikiran banyak dilakukan oleh para pendiri bangsa. Salah satunya dilakukan dalam perumusan Pancasila. Bagaimanakah per-juangan para tokoh dalam merumuskan Pancasila? Mari kita simak proses perjuangan tersebut dalam uraian berikut.

Pada awal tahun 1945, Indonesia masih dijajah oleh Jepang. Jepang menjajah Indonesia selama tiga tahun. Jepang menjajah Indonesia sejak tahun 1942. Penjajahan itu dimulai setelah mereka berhasil mengusir Belanda. Jepang juga berhasil menjajah beberapa negara di Asia Tenggara. Beberapa negara tersebut antara lain Filipina, Burma (Myanmar), dan Vietnam. Saat itu, tentara Jepang termasuk yang paling kuat di dunia.

Selama tahun 1945, keadaan ber-balik. Tentara Jepang mulai mengalami kekalahan di berbagai medan pertempuran. Pada Perang Pasifik, pasukan Jepang dikalahkan oleh Amerika. Jepang juga dikalah-kan oleh Sekutu pimpinan Inggris di kawasan Indocina.

Kekalahan tersebut mengancam kekuasaan Jepang di negara-negara jajahannya. Di Indonesia, Jepang juga harus menghadapi perlawanan rakyat. Terlebih lagi, Belanda masih ingin kembali menjajah Indonesia. Pada waktu itu, Belanda bergabung dengan Sekutu. Perlawanan rakyat dan usaha Belanda menjadikan kedudukan Jepang kian lemah.

Akhirnya, Jepang terpaksa menjanjikan kemerdekaan kepada rakyat Indonesia. Janji tersebut bertujuan untuk meredam gejolak dan perlawanan rakyat Indonesia. Selain itu juga dimaksudkan untuk memberi kesan bahwa Jepang-lah yang memerdekaan Indonesia. Dengan janji tersebut, rakyat Indonesia diharapkan bersedia membantu Jepang menghadapi Sekutu.

Untuk memenuhi janjinya, Jepang kemudian membentuk BPUPKI. BPUPKI merupakan singkatan dari Badan Pe-nyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemer-dekaan Indonesia. Badan ini dibentuk pada tanggal 1 Maret 1945. Dalam bahasa Jepang, BPUPKI disebut Dokuritsu Zjunbi Tyoosakai. BPUPKI bertugas menyelidiki kesiapan bangsa Indonesia dalam menyongsong kemerdekaan dan membentuk pemerintahan sendiri. Penguasa Jepang menunjuk Dr. Radjiman We-diodiningrat sebagai ketua BPUPKI. Beberapa tokoh terkemuka menjadi anggotanya. Beberapa tokoh tersebut antara lain Soekarno, Moh. Hatta, Ki Hajar Dewantara, K.H. Mas Mansur. KH Wachid Hasyim, K.H. Agus Salim, Soepomo, dan Moh Yamin. Yang unik ada juga anggota BPUPKI yang berasal dari Jepang. Jumlahnya tujuh orang. Namun mereka hanyalah bertindak sebagai pengawas. Oleh karena itu mereka tidak memiliki suara ataupun hak berpendapat.

Dokuritsu Zjunbi Tyoosakai adalah bahasa Jepang untuk Badan Penyelidik Usaha-usaha PErsiapan Kemerdekaan Indonesia atau disingkat BPUPKI.

 

C. Proses Perumusan Pancasila.

Anggota BPUPKI resmi dilantik pada tanggal 28 Mei 1945. Sehari berikutnya yaitu tanggal 29 Mei 1945, BPUPKI mulai bersidang. Sidang berlangsung sampai tanggal 1 Juni 1945. Salah satu agendanya adalah merumuskan dasar negara Indonesia merdeka.

Dalam sidang tersebut, beberapa anggota mengajukan usulan tentang dasar negara. Ada tiga tokoh yang mengajukan gagasan tentang dasar negara Indonesia. Mereka adalah Mohammad Yamin, Soepomo, dan Soekarno.

Pada tanggal 29 Mei 1945, Mohammad Yamin mengemukakan gagasannya. Menurutnya, negara Indonesia harus berpijak pada lima dasar.

Berikut ini lima dasar usulan Mohammad Yamin.

1.Peri Kebangsaan.
2.Peri Kemanusiaan.
3.Peri Ketuhanan.
4.Peri Kerakyatan.
5.Kesejahteraan Rakyat.

Selanjutnya, tanggal 31 Mei 1945 giliran Soepomo menyampaikan gagasannya. Menu-rutnya, Indonesia harus berdiri di atas asas-asas berikut.

1.Persatuan.
2.Kekeluargaan.
3.Keseimbangan Lahir dan Batin.
4.Musyawarah.
5.Keadilan Rakyat.

Terakhir, tanggal 1 Juni 1945 giliran Soekarno menyampaikan usulannya. Soekarno juga menyatakan bahwa negara Indonesia harus didirikan di atas lima dasar. Hanya saja, rinciannya berbeda. Berikut ini lima dasar negara usulan Soekarno.

1.Kebangsaan Indonesia atau Nasionalisme.
2.Peri Kemanusiaan atau Internasionalisme.
3.Mufakat atau Demokrasi.
4.Kesejahteraan Sosial.
5.Ketuhanan Yang Maha Esa.

Usulan-usulan tersebut tidak langsung diterima oleh BPUPKI. Setiap usulan ditampung dan dimusyawarahkan bersama. Oleh karena itu, dibentuklah se-buah tim khusus. Tim tersebut kemudian berkembang menjadi sebuah panitia kecil yang terdiri atas sembilan orang. Mereka adalah Soekarno, Moh. Hatta, Moh. Yamin, Ahmad Soebardjo, A.A. Maramis, Abdul Kahar Muzakir, K.H. Wachid Hasyim, H. Agus Salim, dan Abikoesno Tjokrosoejoso. Tim inilah yang kemudian disebut sebagai Panitia Sembilan. Panitia Sembilan bertugas membahas lebih lanjut usulan-usulan tentang dasar negara.

BACA JUGA :   Buku Tematik - Kelas 1 Tema 4 - Keluargaku

Pidato Ir, Sukarno : Setelah mengemukakan gagasannya mengenai dasar negara Indonesia, Soekarno melanjutkan pidatonya sebagai berikut :

“… Saudara-saudara, dasar-dasar negara telah saya usulkan, lima bilangannya. Inikah Pancadharma? Bukan, nama Pancadharma tidak tepat disini. Dharma berarti kewajiban,sedang kita membicarakan dasar. Saya senang kepada simbolik. Simbolik angka pula. Rukun Islam lima jumlahnya. Jari kita lima setangan. Kita mempunyai Pancaindera.

Apalagi yang lima bilangannya? Pandawa pun lima orangnya. Sekarang, banyaknya prinsip : kebangsaan, internasionalisme, mufakat, kesejakteraan, dan ketuhanan, lima pula bilangannya.

Namanya bukan Pancadharma. Tetapi, saya namakan ini dengan petunjuk seorang tema kita ahli bahasa, namanya ialah Pancasila. Sila artinya asas atau dasar dan di atas kelima dasar itulah kita mendirikan negara indonesia, kekal dan abadi.”

Sumber : http://kepustakaan-presiden.pnri.go.id

Tanggal 22 Juni 1945, Panitia Sembilan menetapkan hasil sidang. Hasilnya adalah rumusan yang disebut sebagai Piagam Jakarta atau Jakarta Charter. Piagam ini dinamakan Piagam Jakarta karena disusun di Jakarta. Dalam piagam ini termuat lima dasar negara Indonesia.

Setelah selesai menjalankan tugasnya, BPUPKI dibubarkan pada tanggal 7 Agustus 1945. sebagai gantinya, dibentuklah PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Dalam bahasa Jepang PPKI disebut Dokuritsu Zyunbi Inkai. PPKI-lah yang mengesahkan Pembukaan UUD 1945 yang rumusannya di ambil dari Piagam Jakarta. Didalam Pembukaan UUD 1945 itu tercantum rumusan Pancasila dasar negara. Pengesahannya di lakukan pada tanggal 18 Agustus 1945. Namun sebelum disahkan, Piagam Jakarta mengalami sedikit perubahan. Atas usul Moh. Hatta, butir pertama piagam Jakarta di ubah. Bunyinya menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Sebelumnya, butir pertama berbunyi “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”.

Apa alasan perubahan ini? Kata-kata butir pertama sebelum di ubah ternyata kurang disetujui oleh sebagaian komponen bangsa lain. Oleh karena itu, perubahan tersebut perlu di lakukan. Hal itu dimaksudkan untuk menjaga persatuan dan kesatuan Indonesia yang baru saja merdeka. Akhirnya, usulan Moh. Hatta disepakati oleh semua anggota PPKI. Jadilah sila pertama dasar negara berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Tahukah Kamu ?

Piagam Jakarta.

Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan.

Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia, dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.

Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintahan negara Indonesia Merdeka yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu susunan negara Republik Indonesia, yang berkedaulatan rakyat, dengan berdasarkan kepada: Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya, menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan-perwakilan serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Jakarta, 22 Juni 1945.
Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Panitia Sembilan :
1, Haji Soekarno.
2, Haji Achmad Soebardjo.
3, Haji Abdul Kahar Muzakkir.
4, Alex Andries Maramis.
5, Abikoesno Tjokrosoejoso.
6, Haji Mohammad Hatta.
7, Haji Abudul Wahid Hasyim.
8, Haji Agus Salim.
9, HajiMohammad Yamin.

Piagam Jakarta yang telah mengalami perubahan itu kemudian disahkan menjadi pembukaan (preambule) Undang-Undang Dasar 1945. Lima dasar atau sila yang dicantumkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 itu kemudian disebut Pancasila.

D. Nilai-nilai Juang dan Kebersamaan Para Tokoh.

Proses perumusan Pancasila yang dilakukan para tokoh menjadi pelajaran berharga bagi kita. Semua itu dilakukan dengan penuh nilai perjuangan dan diliputi dalam semangat kebersamaan. Berikut beberapa nilai juang dan semangat kebersamaan dari para tokoh perumus Pancasila.

  1. Berbeda-beda tetapi Satu Cita-cita

Teman-teman, apa yang dapat kita teladani dari sejarah perumusan Pancasila? Usulan-usulan dalam sidang BPUPKI berbeda-beda. Kalian tidak perlu heran terhadap perbedaan pendapat tersebut. Sebab, anggota BPUPKI dibentuk dari berbagai daerah yang berbeda-beda. Ada yang berasal dari Jawa, Sumatra, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Maluku. Bahkan ada pula anggota yang berasal dari keturunan Tionghoa, Arab, dan India. Perbedaan-perbedaan inilah yang menyebabkan adanya pendapat yang beragam.

Akan tetapi, perbedaan yang ada tidak menghalangi mereka bekerja sama. Mereka mengabaikan perbedaan-perbedaan itu demi tercapainya tujuan. Sebab, semua anggota BPUPKI memiliki tujuan dan cita-cita yang sama. Apakah itu? Tujuan dan cita-cita itu adalah kemerdekaan Indonesia. Oleh karena itu, semua tenaga dan pikiran dicurahkan untuk meraih cita-cita mulia tersebut. Pada akhirnya, semua

anggota BPUPKI yang berbeda-beda dapat bersatu mewujudkan Indonesia merdeka.

2. Bersatu dalam Perbedaan.

Tentu kalian pernah melihat pelangi. Indah sekali bukan? Pelangi terlihat indah karena tersusun atas beberapa warna yang berbeda. Warna-warna tersebut di antaranya merah, kuning, dan hijau. Masih ingatkah kalian lagu tentang keindahan pelangi? Indonesia juga tersusun atas banyak perbedaan. Perbedaan itulah yang membuat Indonesia menjadi berwarna-warni dan indah.

Tahukah kalian bunyi tulisan pada pita yang dicengkeram kaki burung Ga-ruda Pancasila? Pada pita itu tertulis “Bhinneka Tunggal Ika”. Artinya, meski-pun berbeda-beda, kita adalah satu. Perbedaan-perbedaan yang ada bukan menjadi penghalang untuk bekerja sama, tolong-menolong, dan hidup rukun. Perbedaan-perbedaan itulah yang menjadikan kita perlu saling mengenal, menghormati, menolong, dan bekerja sama.

Para pahlawan telah memberi contoh bahwa perbedaan bukanlah peng-halang untuk bersatu. Semangat persatuan dan perjuangan itu harus ditiru dan teladani. Perbedaan-perbedaan di sekeliling kita bukanlah penghalang untuk bersatu.

Kini kita telah merdeka dari penjajah. Ini bukan berarti kita tidak lagi memerlukan persatuan dan kesatuan. Para pejuang dulu bersatu dan melupakan perbedaan untuk Indonesia merdeka. Kini, kitapun harus tetap bersatu. Kita harus dapat mengesampingkan perbedaan demi kepentingan bangsa dan negara.

BACA JUGA :   BSE 2013 - SD Kelas 6 Tema 1.1.1 Selamatkan Mahkluk Hidup Revisi 2018

3. Nilai Kebersamaan dalam Perumusan Pancasila.

Apa nilai yang dapat kita peroleh dari proses perumusan Pancasila? Pancasila tidak hanya dirumuskan oleh satu orang. Para tokoh, seperti Bung Karno, Moh. Yamin, dan Soepomo, berusaha keras menyumbangkan buah pikir-an mereka. Mereka bahu-membahu untuk merumuskan sebuah dasar negara yang kuat. Meski berbeda prinsip dan pendapat, mereka tidak menunjukkan sikap saling memusuhi. Bahkan, mereka saling memberikan masukan untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Semua itu dilakukan atas kesadaran untuk kepentingan bersama. Kepentingan tersebut yaitu demi tegaknya kedaulatan negara dan kokohnya dasar negara Indonesia.

Selain itu, dalam perumusan Pancasila juga melibatkan banyak pihak. Misalnya, Bung Hatta yang mengusulkan perubahan bunyi kalimat dalam sila pertama. Usulan tersebut sesungguhnya juga merupakan masukan dari sebagi-ankomponenbangsayangtidakterlibatsecaralangsungdalamperumusandasar negara. Hal itu menunjukkan bahwa semua elemen bangsa merasa senasib dan seperjuangan. Mereka pun turut menyumbangkan pemikiran. Mereka ikut berjuang dalam semangat kebersamaan dan kekeluargaan. Terbukti pula bahwa Pancasila yang dirumuskan dalam semangat kebersamaan mampu bertahan sampai sekarang. Pancasila pun mampu menyatukan seluruh komponen bangsa dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Nah, itulah nilai kebersamaan yang dapat kita teladani dalam perumusan Pancasila. Segala sesuatu yang dilakukan dalam semangat kebersamaan dan kekeluargaan tentu hasilnya akan lebih baik. Hasilnya pun akan dirasakan sebagai milik bersama sehingga terpelihara. Semua pihak pun akan merasa puas karena telah turut mewujudkan kepentingan bersama.

Kalian telah mengetahui isi dari Piagam Jakarta. Nah, sekarang coba bandingkan dengan Pembukaan (preambule) UUD 1945. Setelah itu, tuliskan dasar negara seperti yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945. Kerjakan dalam lembar tugas dan kumpulkan kepada guru.

E.Meneladani Nilai-nilai Juang Para Tokoh Perumus Pancasila.

Apa yang dapat kita teladani dari sejarah perumusan Pancasila? Selain kebersamaan, apa saja nilai juang yang ada pada proses perumusan Pancasila? Berikut antara lain nilai-nilai tersebut.

1. Musyawarah.

Musyawarah sangat diperlukan untuk mencapai tujuan bersama. Musyawarah adalah cara yang ditempuh anggota BPUPKI ketika merumuskan Pancasila. Dengan banyaknya perbedaan, peng-ambilan keputusan memang sulit dilaku-kan. Namun, para perumus Pancasila membuktikan bahwa mereka dapat bekerja sama. Padahal, mereka memiliki banyak perbedaan. Dengan kerja sama, sebuah keputusan bersama berupa Pancasila pun berhasil disepakati. Kerja sama tersebut terwujud dalam musyawarah.

Istilah : Musyawarah merupakan pemba-hasan bersama dengan maksud mencapai keputusan untuk menye-lesaikan masalah. Toleransi adalah sifat atau sikap menghargai pendapat yang berbeda dari atau bertentangan dengan pendapat sendiri. Aristokrat yaitu orang dari golongan bangsawan, ningrat.

2. Menghargai Perbedaan.

Kesediaan menghargai perbedaan merupakan salah satu kunci keberhasilan musyawarah. Tanpa adanya kesediaan ini, keputusan dalam musyawarah tidak akan tercapai. Menghargai perbedaan terletak pada kesediaan untuk menerima pendapat yang berbeda demi kepentingan yang lebih besar. Dalam perumusan Pancasila, hal ini terbukti penghapusan kalimat “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Namun dengan adanya kesediaan menghargai perbedaan, perdebatan tersebut tidak menjadi permusuhan. Dengan kesediaan menghargai perbedaan lahirlah keputusan untuk mengganti kata tersebut. Akhirnya, para perumus memutuskan untuk mengubah kata-kata tersebut menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”/

3. Teloransi.
Toleransi masih berkaitan dengan menghargai perbedaan. Latar belakang yang berbeda dari para perumus dasar negara disatukan dalam wadah BPUPKI. Tentu saja perbedaan ini terbawa ke dalam sidang. Latar belakang yang berbeda pendapat yang muncul pun beragam. Perbedaan tersebut bahkan kadang saling bertentangan . Agar dapat melahirkan sebuat dasar negara yang kukuh, perbedaan ini tidak boleh menjadi penghambat. Disinilah arti penting toleransi. Tanpa adanya toleransi, keputusan bersama tidak akan terwujud.
Itulah beberapa nilai juang yang harus kita teladani dari para perumus Pancasila. Tenta saja masih banyak nilai lain yang dapat kita teladani. Dapatkah kalian menyebutkannya? temukan dengan belajar secara mandiri.

Tahukah Kamu ?

Prof. Mr. Dr. Soepomo (Ejaan Soewandi: Supomo; lahir di Sukoharjo, Jawa Tengah, 22 Januari 1903 – meninggal di Jakarta, 12 September 1958 pada umur 55 tahun) adalah seorang pahlawan nasional Indonesia. Soepomo dikenal sebagai arsitek Undang-undang Dasar 1945, bersama dengan Muhammad Yamin dan Soekarno.
Sebagai putra keluarga priyayi, ia berkesempatan meneruskan pendidikannya di ELS (Europeesche Lagere School) di Boyolali (1917), MULO (Meer Uitgebreid Lagere Onderwijs) di Solo (1920), dan menyelesaikan pendidikan kejuruan hukum di Bataviasche Rechtsschool di Batavia pada tahun 1923. Ia kemudian ditunjuk sebagai pegawai negeri pemerintah kolonial Hindia Belanda yang diperbantukan pada Ketua Pengadilan Negeri Sragen.
Antara tahun 1924 dan 1927 Soepomo mendapat kesempatan melanjutkan pendidikannya ke Rijksuniversiteit Leiden di Belanda di bawah bimbingan Cornelis van Vollenhoven, profesor hukum yang dikenal sebagai “arsitek” ilmu hukum adat Indonesia.
Soepomo meninggal dalam usia muda akibat serangan jantung di Jakarta pada 12 September 1958 dan dimakamkan di Solo.

F. Pengamalan Nilai-nilai Pancasila dalam Kehidupan sehari-hari.

Kalian tentu telah mengetahui nilai-nilai juang dalam perumusan Pancasila. Kalian telah memahami jerih payah para tokoh dalam perumusan Pancasila sebagai dasar negara. Dalam sejarah bangsa Indonesia, Pancasila juga telah terbukti tangguh. Pancasila mampu mempertahankan keutuhan dan persatuan bangsa, Kita harus melakukan sesuatu lebih dari sekadar rasa bangga. Kita harus dapat menerapkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Pancasila merupakan pencerminan jiwa kebangsaan Indonesia. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sangatlah luhur. Pancasila dirancang sedemikian rupa sesuai kepribadian bangsa Indonesia. Segenap aspek kehidupan berbangsa dan bernegara terangkum di dalamnya. Kita harus dapat meresapi nilai-nilai Pancasila secara utuh.

Nilai yang melatarbelakangi terwujudnya Pancasila pun mulia. Para tokoh telah mencurahkan seluruh tenaga dan pikiran demi terwujudnya Pancasila. Semua itu tidak akan pernah dapat kita balas dan dinilai dengan uang, Kita menghargai dan meneruskan cita-cita mereka.

Pancasila bukanlah hal yang remeh dan sepele. Pancasila adalah dasar negara, landasan kehidupan berbangsa dan bernegara, Pancasila tidak cukup dihafalkan dan dibaca setiap upacara bendera. Kalian harus menghayati nilai-nilai Pancasila. Selanjutnya kita harus menunjukkan dalam tindakan nyata.

Pancasila tidak akan memiliki makna tanpa pengamalan. Pancasila bukan sekedar simbol persatuan dan kebanggaan bangsa. Tetapi, Pancasila adalah acuan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Oleh karena itu, kita wajib mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Tingkah laku sehari-hari kita harus mencerminkan nilai-nilai luhur Pancasila.

Untuk mengamalkan Pancasila kita tidak harus menjadi aparat negara. Kita juga tidak harus menjadi tentara dan mengangkat senjata. Kita dapat mengamalkan nilai-nilai Pancasila di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Kita dapat memulai dari hal-hal kecil dalam keluarga. Misalnya melakukan musyawarah keluarga. Setiap keluarga pasti mempunyai masalah. Nah, masalah dalam keluarga akan terselesaikan dengan baik melalui musyawarah. Kalian dapat belajar menyatukan pendapat dan menghargai perbedaan dalam keluarga. Biasakanlah melakukannya dalam keluarga.

BACA JUGA :   BSE 2013 – SD Kelas 6 Tema 1.3 Ayo Selamatkan Hewan dan Tumbuhan Part 1

Dalam lingkungan sekolah pun kita harus membiasakan bermusyawarah. Hal ini penting karena teman-teman kita berbeda-beda. Pelbagai perbedaan akan lebih mudah disatukan bermusyawarah. Permasalahan yang berat pun akan terasa ringan. Keputusan yang diambil pun menjadi keputusan bersama. Hal itu akan mempererat semangat kebersamaan di sekolah. Tanpa musyawarah, perbedaan bukannya saling melengkapi. Tetapi, justru akan saling bertentangan. Oleh karena itu, kita harus terbiasa bermusyawarah di sekolah. Kerukunan hidup di lingkungan sekolah akan terjaga. Dengan demikian, kalian tidak akan kesulitan menghadapi dalam lingkungan yang lebih luas. Berawal dari keluarga kemudian meningkat dalam sekolah, masyarakat, bangsa, dan negara.

1.Pengamalan Pancasila dalam Rangka Menghargai Perbedaan.

Pancasila dirumuskan dalam semangat kebersamaan. Salah satunya  terwujud dalam sikap menghargai perbedaan. Perbedaan pendapat tidak menjadi hambatan untuk menghasilkan sesuatu yang lebih baik. Hal itu merupakan sikap yang harus kita tiru. Pada waktu itu bangsa Indonesia belum memiliki dasar negara. Tetapi, sikap para tokoh telah mencerminkan semangat kebersamaan dan jiwa ksatria. Mereka bersedia menerima perbedaaan apa pun ketika proses perumusan dasar negara berlangsung.

Nah, sekarang kita telah memiliki Pancasila sebagai dasar negara yang kuat. Kekuatan Pancasila telah terbukti selama berdirinya negara Indonesia. Pancasila mampu menyatukan seluruh bangsa Indonesia. Pancasila juga mampu bertahan menghadapi rongrongan pemberontak. Oleh karena itu, kita harus bangga memiliki dasar negara yang kuat. Kita harus dapat mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah menghargai perbedaan. Kita harus memiliki sikap menghargai perbedaan seperti dalam perumusan Pancasila. Kita harus menyadari bahwa negara kita terdiri atas beragam suku bangsa. Setiap suku bangsa memiliki ragam budaya yang berbeda. Perbedaan suku bangsa dan budaya bukan menjadi penghalang untuk bersatu. Tetapi, justru perbedaan itu akan menjadikan persatuan negara kita kuat seperti Pancasila.

Berikut ini Contoh Pengamalan Pancasila Ke 1,2,4, dan 5 dalam kehidupan Sebagai berikut.

1. Ketuhanan Yang Maha Esa

Sila pertama dari Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa Sila ini berhubungan terhadap perilaku kita sebagai umat pertama pada Tuhannya. Berikut contoh sikap yang mencerminkan di sila Pertama :

  • Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing.
  • Percaya dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing.
  • Tidak melakukan penistaan dari suatu agama seperti melakukan pembakaran rumah rumah ibadah.
  • Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  • Menjalani perintah agama sesuai ajaran agama yang dianut masing-masing. Kita tidak boleh membeda-bedakan cara bergaul hanya karena ras, suku dan agama
  • Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain.
  • Membina kerjasama dan tolong menolong antar umat beragama.
  • Bersikap toleran kepada umat beragama yang lainya.
  • Mengembankan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing

2. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab

Sila ini berhubungan terhadap perilaku kita sebagai manusia yang pada hakikatnya semua sama di Dunia ini. Berikut contoh sikap yang mencerminkan di sila Kedua :

  • Mengakui persamaan derajat, hak, dan kewajiban asasi setiap manusia tanpa membedakan.
  • Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
  • Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.
  • Tidak semena-mena terhadap orang lain.
  • Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan, seperti acara acara bakti sosial, memberikan bantuan kepada panti panti asuhan sebagai bentuk kemanusiaan peduli akan sesama.
  • Senang membantu teman yang sedang mengalami kesusahan.
  • Memberikan bantuan kepada korban bencana alam.
  • Mengembangkan sikap tenggang rasa.
  • Menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia.
  • Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain.
  • Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira.
  • Menyadari bahwa kita mempunyai hak dan kewajiban yang sama.

3. Persatuan Indonesia

Sila ini berhubungan terhadap perilaku kita sebagai warna Negara Indonesia untuk bersatu membangun negeri ini. Berikut contoh sikap yang mencerminkan di sila Ketiga :

  • Bangga dan cinta terhadap tanah air dan bangsa.
  • Rela berkorban demi kepentingan bangsa dan negara
  • Mengembangkan sikap saling menghargai.
  • Membina hubungan baik dengan semua unsur bangsa
  • Memajukan pergaulan demi peraturan bangsa.
  • Menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan Indonesia.
  • Mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi arau golongan.

4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan

Sila ini beruhubungan terhadap perilaku kita untuk selalu bermusyawarah dalam menyelesesaikan masalah. Berikut contoh sikap yang mencerminkan di sila Keempat :

  • Selalu mengutamakan musyawarah untuk mencapai mufakat dalam menyelesaikan permasalahan.
  • Menghindari aksi “Walk Out” dalam suatu musyawarah.
  • Menghargai hasil musyawarah.
  • Ikut serta dalam pemilihan umum, pilpres, dan pilkada.
  • Memberikan kepercayaan wakil-wakil rakyat yang telah terpilih.
  • Yang menjadi wakil rakyat juga harus mampu membawa aspirasi rakyat.
  • Kita tidak boleh memaksakan kehendak kita kepada orang lain.
  • Menghormati dan menghargai pendapat orang lain.
  • Berhati besar untuk menerima keputusan apapun yang dihasilkan oleh musyawarah.
  • Bekerja sama untuk mempertanggung jawabkan keputusan tersebut.

5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Sila ini berhubungan dengan perilaku kita dalam bersikap adil terhadap semua orang. Berikut contoh sikap yang mencerminkan di sila Kelima :

  • Menjunjung tinggi semangat kekeluargaan dan gotong royong.
  • Peduli terhadap penderitaan yang dialami orang lain.
  • Tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang merugikan pihak umum.
  • Suka melakukan perbuatan dalam rangka mewujudkan kemajuan dan keadilan sosial.
  • Mengembangkan perbuatan-perbuatan yang luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekluargaan dan kegotongroyongan.
  • Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
  • Menghormati hak-hak orang lain.
  • Suka memberi pertolongan kepada orang lain.
  • Tidak bersifat boros, dan suka bekerja keras
  • Tidak bergaya hidup mewah.
  • Bersama-sama berusaha mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.

dari pengamalan-pengamalan pancasila telah terbukti sudah memenuhi kriteria orang-orangHanya itu saja contoh pengamalan pancasila dari sila ke 1 sampai 5. dengan mengetahuinya , semoga kita bisa mengamalkannya dan bukan hanya dibaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *