Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 24230 | 25 Feb 2026
Klinis : Penilaian Penelitian ini dilakukan oleh penulis pada tanggal 22 April 2025 di ruang Lily 11 RS Prof. Dr. Soerojo, Magelang. a.Identitas Klien Klien bernama Ibu N, 24 tahun, perempuan, muslim, jawa, dengan pendidikan SMP, terdaftar sebagai klien nomor CM 0028xxxx. Klien berasal dari Kudus dan bekerja sebagai wiraswasta. b. Identitas Penanggung Jawab Klien Penanggung jawab klien dalam studi kasus ini adalah Bapak E, seorang pria berusia 30 tahun, yang tinggal di Magelang, adalah seorang Muslim Jawa, memiliki pendidikan SMP, dan bekerja sebagai wiraswasta. Tuan E adalah kakak laki-laki klien. c. Alasan Masuk Klien dibawa ke RS Prof. Dr. Soerojo Magelang oleh saudaranya karena mengalami perubahan yang signifikan dan terus-menerus, klien tampak bingung, berbicara pada dirinya sendiri, mendengar bisikan, sikapnya tampak seperti melihat sosok yang tidak nyata, dan perilakunya seperti anak kecil. Gejala klien telah berlangsung selama 6 bulan terakhir, yaitu Oktober, dan memburuk sejak 3 hari sebelum masuk. Klien mengalami kesulitan tidur selama 3 hari sebelum masuk, sepertinya tiba-tiba menangis, menari sendirian, mengetuk jari-jarinya. d. Faktor Predisposisi Klien memiliki riwayat penyakit mental, setelah sebelumnya dirawat di RS Kudus pada Juni 2024. Ini adalah rawat inap keduanya. Perawatan sebelumnya tidak efektif, karena dia melaporkan menghentikan pengobatan setelah merasa lebih baik dan tidak lagi mengalami gejala apa pun. Gejalanya kambuh sekitar enam bulan setelah menghentikan pengobatan, memburuk tiga hari sebelum masuk. Klien tidak memiliki riwayat pelecehan fisik, seksual, atau kriminal. Tidak ada anggota keluarga klien yang memiliki riwayat penyakit mental. Klien melaporkan riwayat trauma. Ketika dia berusia 14 tahun dan di kelas tiga SMP, dia mengalami intimidasi selama setahun, termasuk menggoda penampilannya, yang dia anggap tidak menarik dan lusuh, dan dijauhi oleh teman-temannya. Kejadian ini menyebabkan perasaan tidak berharga dan terisolasi. Klien juga mengalami trauma emosional dalam pernikahannya setelah mengetahui suaminya berselingkuh dengan seorang penyanyi yang berpenampilan mencolok, memiliki rambut pirang, memakai cat kuku, dan merawat dirinya sendiri. Klien mengatakan dia memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan di masa lalu, yaitu diabaikan oleh ayahnya, yang tidak menunjukkan kepedulian ketika dia kesulitan pergi ke sekolah karena dia ketinggalan bus, dan malah memilih untuk bermain dengan merpati peliharaannya. e. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik klien pada tanggal 22 April 2025, menunjukkan bahwa klien mengalami kompos mentis, dengan tekanan darah 119/68 mmHg, denyut nadi 75x/menit, pernapasan 20x/menit, suhu 36,3 °C, tinggi badan 155 cm, berat badan 55 kg, BMI 22,9 (normal), dan klien menyatakan tidak merasakan keluhan fisik. f. Penilaian Psikososial 1) Genogram Gambar 4.1 Genogram Klien Deskripsi: Klien tinggal bersama ibu dan kakak laki-lakinya. Ayah klien telah meninggal. Klien adalah anak ketiga dari tiga bersaudara. Klien sebelumnya sudah menikah tetapi bercerai dan memiliki satu putra yang tinggal bersama mertuanya. Klien tidak ikut campur dalam pengambilan keputusan keluarga. 2) Konsep Diri a) Citra diri Klien menyatakan dia tidak puas dengan penampilan fisiknya, terutama rambutnya. Dia ingin mewarnainya agar menyerupai gundik suaminya. b) Identitas diri Klien dapat menyebutkan nama lengkap dan alamatnya. Kliennya adalah seorang wanita Muslim berusia 24 tahun. Dia menggambarkan dirinya sebagai ibu dari satu anak. Dia bekerja di warung makan. c) Peran Klien menyatakan bahwa dia adalah seorang ibu dengan seorang putra berusia 6 tahun, tetapi dia belum dapat memenuhi perannya sebagai ibu dengan baik. Klien menyatakan bahwa dia merindukan putranya. Klien juga menyatakan bahwa ia belum dapat memenuhi perannya sebagai anak dengan baik karena ia masih dalam tahap perawatan dan belum pulih sepenuhnya. d) Diri yang ideal Klien berharap menjadi ibu dan anak yang baik dalam keluarganya. Dia ingin dihormati oleh orang-orang di sekitarnya dan dapat memenuhi perannya dengan baik. Klien menyatakan keinginannya untuk segera pulang ke rumah bersama keluarganya. e) Harga diri Klien menyatakan perasaan tidak berharga dan tidak berguna karena ketidakmampuannya untuk memenuhi perannya dalam keluarga. Dia sering menyalahkan dirinya sendiri atas situasinya dan merasa tidak dihargai oleh orang-orang di sekitarnya. 3) Hubungan Sosial a) Orang yang penting Klien menyatakan bahwa orang terdekat dalam hidupnya adalah ibunya, yang selalu ada dan mendengarkan kekhawatirannya. Dia berbagi kehidupan sehari-harinya dengan ibunya. Namun, ketika dia memiliki masalah, dia cenderung menyimpannya untuk dirinya sendiri, lebih suka diam daripada berbicara dengan orang lain. b) Partisipasi dalam masyarakat Klien jarang berpartisipasi dalam kegiatan di lingkungannya. Beberapa kegiatan yang dia ikuti dalam komunitas termasuk dawis (pertemuan keagamaan) dan hiburan. c) Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain Klien mengatakan dia tidak memiliki masalah berbaur dengan orang lain, dia terkadang sendirian dan berbaur dengan orang lain tergantung pada suasana hatinya. 4) Spiritual a) Nilai dan keyakinan Klien mengatakan bahwa dia adalah Muslim, klien memahami bahwa apa yang dia alami saat ini adalah bentuk ujian/cobaan untuk kehidupan yang dia jalani, dan untuk menghapus dosa-dosanya, bukan sebagai hukuman. b) Kegiatan ibadah Klien mengatakan bahwa selama di rumah dan di rumah sakit, klien secara teratur berdoa dan tidak pernah melewatkan sholat wajib. g. Status Mental 1) Penampilan umum Wajah klien tampak tegang, penampilannya cukup rapi, dia mandi dua kali sehari, mengenakan gaun rumah sakit, dan mengenakan jilbab. Dia mampu merawat dirinya sendiri, mandi mandiri, dan berganti pakaian. Rambutnya terkadang berantakan saat dia tidak memakai jilbab. 2) Diskusi Bicara klien lambat, tampak tegang, dan terdengar seperti dia mendengar suara lain. Perawat perlu mengulangi kata-kata tersebut sehingga klien dapat mendengarnya. 3) Aktivitas motorik Tampak bingung, gerakan motorik klien lambat, ia juga menunjukkan gerakan yang tidak teratur, tidak terkendali dan anomali , seperti berlarian sendiri, menari tanpa tujuan, dan mengetuk jari-jarinya, klien terkadang juga berbicara pada dirinya sendiri, tersenyum dan tertawa pada dirinya sendiri. 4) Pengaruh dan emosi Pengaruh labil, dengan perubahan emosional yang tiba-tiba antara tawa, kesedihan, dan kesuraman, tetapi terkadang bahkan senyum pada dirinya sendiri. Klien melaporkan merasa bahagia saat ini. Klien menyatakan bahwa dia senang berada di rumah sakit ini karena dia dirawat dan akan segera pulang. 5) Interaksi selama wawancara Klien kooperatif ketika halusinasi tidak ada, merespons dengan mudah ketika diajak bicara, membuat kontak mata yang buruk, mudah terganggu, dan tampak curiga. Selama percakapan, klien sering terganggu, seperti tiba-tiba pergi tidur atau bergaul dengan teman. 6) Persepsi sensorik Klien mengatakan dia mendengar suara bisikan yang sering mengganggu pikirannya, bisikan itu muncul 2-3 kali sehari selama kurang lebih 2 menit, suara-suara itu terkadang mengundangnya untuk mengobrol sehingga dia tidak bisa tidur. Klien mengatakan dia ingin marah jika dia tidak bisa tidur karena suara-suara yang selalu mengganggunya. Bisikan yang dia dengar adalah suara-suara yang menyuruhnya melakukan hal-hal baik dan mendorongnya untuk bekerja. Suara-suara itu menyerupai yang paling dekatnya, seperti keluarga atau terkadang seperti suara Gus Idam dan Habib Zaidan. Klien mengatakan bisikan itu sering muncul ketika dia merasa lelah, di malam hari dan ketika dia sendirian di kamarnya. 7) Proses pemikiran Memblokir , klien tiba-tiba berhenti berbicara di tengah kalimat, tetapi arti dari apa yang dikatakan dapat disampaikan. 8) Konten pemikiran Klien tidak mengalami gangguan apa pun dalam konten pikiran, juga tidak memiliki delusi atau fobia. Klien mencoba menghilangkan halusinasi dan tidak ingin mereka kambuh. 9) Tingkat kesadaran dan orientasi Klien dapat mengetahui di mana dia berada saat ini. Dia juga dapat mengingat ketika dia bertemu seseorang, berkata, "Saya berada di sebuah ruangan di Rumah Sakit Jiwa Magelang." Dia dapat mengingat waktu, pagi, siang, sore, dan malam. Dia juga tahu tanggal saat ini. 10) Memori Klien tidak mengalami gangguan memori dan dapat mengingat nama-nama perawat. Klien juga dapat menceritakan peristiwa masa lalu. 11) Tingkat konsentrasi dan perhitungan Klien mudah terganggu, dapat diajak bicara, tetapi tiba-tiba mengubah topik. Klien mampu menghitung ketika ditanya perhitungan sederhana, klien dapat menjawab. 12) Keterampilan penilaian Klien mengalami gangguan penilaian dan dapat membuat keputusan tetapi membutuhkan bimbingan. Misalnya, ketika ditanya apakah dia ingin mandi, klien menjawab "ya" tetapi tidak segera mengambil tindakan dan tampak lambat untuk bergerak sampai perawat mengarahkan langkah selanjutnya. 13) Kesadaran diri Klien menyadari penyakit yang dideritanya tetapi terkadang tidak terkendali sehingga dia merasa bingung. h.Kebutuhan untuk mempersiapkan diri untuk pulang 1) Makan Klien makan tiga kali sehari: pagi, siang, dan sebelum matahari terbenam. Dia memiliki nafsu makan yang baik dan selalu menghabiskan porsi makanannya setiap kali makan. 2) Buang air besar / buang air kecil Klien dapat buang air besar dan buang air kecil di tempat yang benar tanpa bantuan. Klien selalu menyiram dengan air setelah buang air besar atau buang air kecil. 3) Mandi Klien mandi dua kali sehari, di pagi dan sore hari, tanpa bantuan. Klien menyikat giginya setiap kali dia mandi dan mencuci rambutnya setiap hari. 4) Berpakaian Klien berpakaian dengan benar dengan pakaian rumah sakit secara mandiri. 5) Istirahat dan tidur Klien melaporkan tidur dua kali sehari, siang dan malam. Dia melaporkan tidak ada masalah tidur dan selalu tidur nyenyak. 6) Penggunaan narkoba Klien meminum obat yang diresepkan secara teratur, menelannya, dan tidak membuangnya. Klien juga dapat menyatakan jumlahnya, tetapi bukan nama atau fungsinya. 7) Pemeliharaan kesehatan Klien mengatakan bahwa ibunya selalu memperhatikan kondisinya, jika klien sakit, klien langsung dibawa ke pelayanan kesehatan. 8) Aktivitas di dalam Saat diperiksa, klien selalu membantu ibunya dengan pekerjaan rumah, seperti mencuci pakaian, mencuci piring, menyapu, dan merapikan rumah. 9) Kegiatan di luar rumah Klien jarang melakukan aktivitas di luar rumah selain bekerja. 10) Kemampuan klien untuk membuat keputusan Ketika diberi beberapa pilihan, klien bingung dan merasa sulit untuk mengambil keputusan dan membutuhkan bantuan dari orang lain. 11) Apakah klien menikmati bekerja, aktivitas / hobi produktif? Klien mengatakan dia menikmati pekerjaannya di warung makan, meskipun dia sering lelah. Klien juga sangat menikmati aktivitas di rumah sakit jiwa, termasuk kegiatan rehabilitasi dan menonton TV bersama di dalam ruangan. i. Mekanisme Mengatasi Mekanisme koping, yaitu klien tidak mudah berbicara atau mengungkapkan perasaannya kepada orang lain. Mekanisme koping Klien maladaptif lebih sering diam dan menyimpan masalah mereka untuk diri mereka sendiri. j. Pengetahuan Klien menyadari masalah dan kondisi yang dialaminya. Dia menyadari bahwa dia telah dirawat di rumah sakit jiwa dua kali, termasuk yang sekarang. Klien bingung tentang apa yang harus dilakukan untuk mencegah suara berulang. Klien benar-benar ingin menjadi lebih baik. k. Aspek Medis 1) Diagnosis Medis Diagnosis medis klien adalah F20.0 (Skizofrenia Paranoid) 2) Terapi Medis Klien menerima terapi dengan Haloperidol (5 mg / 12 jam), Hexymer (2 mg / 12 jam), Depakote Er (500 mg / 24 jam), Frimania (400 mg / 24 jam), Diazepam (10 mg / 12 jam)
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Perilaku Kekerasan
Kode SDKI: D.0056
Deskripsi Singkat: Risiko individu untuk menunjukkan perilaku yang dapat menyebabkan kerusakan fisik, emosional, dan/atau seksual pada diri sendiri, orang lain, atau lingkungan.
Kode SLKI: L.03139
Deskripsi : Klien terkontrol dari perilaku kekerasan. Kriteria hasil: 1) Mengidentifikasi faktor pemicu perilaku kekerasan. 2) Mengidentifikasi tanda-tanda peringatan dini perilaku kekerasan. 3) Mengungkapkan perasaan dengan cara yang konstruktif. 4) Menggunakan strategi koping untuk mengelola dorongan kekerasan. 5) Tidak menyakiti diri sendiri atau orang lain. 6) Lingkungan fisik dan sosial tetap aman.
Kode SIKI: I.05230
Deskripsi : Manajemen Perilaku Kekerasan. Tindakan keperawatan: 1) Monitor tanda-tanda peningkatan agitasi, ketegangan, dan perilaku permusuhan. 2) Identifikasi faktor pencetus dan situasi yang meningkatkan risiko perilaku kekerasan. 3) Kurangi stimulasi lingkungan yang memicu (misalnya, kebisingan, kerumunan). 4) Tempatkan klien di lingkungan yang tenang dan aman. 5) Berikan obat sesuai resep untuk mengontrol agitasi dan agresi. 6) Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan saat berinteraksi. 7) Beri jarak personal yang aman dan posisi tubuh yang tidak mengancam. 8) Bantu klien mengenali perasaan marah dan frustrasi. 9) Ajarkan teknik relaksasi untuk menurunkan ketegangan. 10) Bantu klien mengidentifikasi perilaku alternatif yang dapat diterima untuk mengekspresikan kemarahan. 11) Berikan penguatan positif untuk perilaku kontrol diri. 12) Gunakan restrein fisik atau isolasi hanya sebagai upaya terakhir sesuai protokol untuk mencegah cedera. Pada kasus Ibu N, data yang mendukung adalah klien melaporkan keinginan untuk marah ketika halusinasi mengganggu tidurnya, pengaruh emosi yang labil dengan perubahan tiba-tiba, serta riwayat trauma yang dapat menjadi sumber frustrasi dan kemarahan yang terpendam. Mekanisme koping yang maladaptif (menyimpan masalah sendiri) meningkatkan risiko peluapan emosi secara tidak terkendali.
Kondisi: Halusinasi
Kode SDKI: D.0018
Deskripsi Singkat: Perubahan persepsi sensori yang menyebabkan individu mendengar, melihat, merasakan, mencium, atau merasakan sesuatu yang tidak nyata (tidak ada rangsangannya).
Kode SLKI: L.03006
Deskripsi : Klien terkontrol halusinasinya. Kriteria hasil: 1) Mengidentifikasi faktor pencetus halusinasi. 2) Mengidentifikasi isi dan waktu terjadinya halusinasi. 3) Melaporkan penurunan frekuensi dan intensitas halusinasi. 4) Mengungkapkan perasaan tentang halusinasi. 5) Menggunakan strategi untuk mengatasi halusinasi. 6) Mempertahankan orientasi realita. 7) Berpartisipasi dalam aktivitas terapeutik.
Kode SIKI: I.05091
Deskripsi : Manajemen Halusinasi. Tindakan keperawatan: 1) Monitor tanda-tanda halusinasi (misalnya, bicara sendiri, konsentrasi terganggu, respons terhadap stimuli yang tidak ada). 2) Validasi pengalaman klien tanpa menyetujui distorsinya ("Saya tidak mendengar suara itu, tapi saya percaya Anda mendengarnya"). 3) Bantu klien mengidentifikasi waktu, situasi, dan isi halusinasi. 4) Ajarkan untuk mengidentifikasi tanda-tanda awal halusinasi. 5) Anjurkan untuk menyibukkan diri dengan aktivitas fisik atau sosial ketika halusinasi muncul. 6) Fasilitasi interaksi satu-satu atau kelompok untuk meningkatkan orientasi realita. 7) Gunakan pendekatan realitas dengan menyebut nama, menyentuh, dan mengajak bicara tentang hal konkret. 8) Bantu klien menguji realita dengan membandingkan persepsinya dengan orang lain. 9) Kurangi isolasi sosial dan stimulasi yang tidak bermakna. 10) Kolaborasi pemberian obat antipsikotik sesuai resep dan evaluasi efek serta efek sampingnya. 11) Berikan penguatan positif ketika klien dapat mengontrol respons terhadap halusinasi. Pada Ibu N, data yang jelas adalah klien mendengar bisikan 2-3 kali sehari yang mengajaknya mengobrol hingga mengganggu tidur, suara tersebut menyerupai orang terdekat atau figur publik. Halusinasi muncul saat lelah, malam hari, dan sendirian. Klien juga menunjukkan perilaku responsif seperti bicara sendiri, tersenyum sendiri, dan mudah terganggu.
Kondisi: Harga Diri Rendah Kronis
Kode SDKI: D.0026
Deskripsi Singkat: Perasaan negatif terhadap diri sendiri dan kemampuan diri yang berlangsung lama, yang berkembang dari waktu ke waktu.
Kode SLKI: L.03021
Deskripsi : Klien meningkat harga dirinya. Kriteria hasil: 1) Mengidentifikasi kekuatan dan kemampuan diri. 2) Mengungkapkan penerimaan terhadap diri sendiri. 3) Menerima pujian dari orang lain. 4) Berpartisipasi dalam pengambilan keputusan tentang perawatan diri. 5) Menetapkan tujuan yang realistis. 6) Melaporkan perasaan lebih berharga.
Kode SIKI: I.05108
Deskripsi : Peningkatan Harga Diri. Tindakan keperawatan: 1) Dorong klien mengungkapkan perasaan dan persepsi tentang dirinya. 2) Bantu klien mengidentifikasi keyakinan negatif tentang diri sendiri (misalnya, "saya tidak berharga"). 3) Bantu klien mengidentifikasi kekuatan, bakat, dan pencapaian masa lalu. 4) Berikan umpan balik positif yang spesifik dan segera untuk perilaku atau usaha yang konstruktif. 5) Bantu klien menetapkan tujuan kecil, realistis, dan dapat dicapai. 6) Ajarkan teknik kognitif untuk menggantikan pikiran negatif dengan yang positif. 7) Fasilitasi partisipasi dalam aktivitas yang memberikan rasa keberhasilan. 8) Kurangi pengalaman negatif dan kritik dari lingkungan. 9) Libatkan dalam terapi kelompok untuk berbagi dan mendapat dukungan sebaya. 10) Kolaborasi dengan keluarga untuk memberikan dukungan dan penghargaan. Pada Ibu N, data yang mendukung adalah perasaan tidak berharga dan tidak berguna karena gagal memenuhi peran sebagai ibu dan anak, sering menyalahkan diri sendiri, merasa tidak dihargai orang sekitar, ketidakpuasan terhadap citra diri (rambut), serta riwayat trauma bullying yang menyebabkan perasaan terisolasi dan tidak berharga sejak remaja.
Kondisi: Isolasi Sosial
Kode SDKI: D.0028
Deskripsi Singkat: Keadaan kesepian yang dialami oleh individu dan dirasakan sebagai sesuatu yang dipaksakan oleh orang lain dan sebagai keadaan yang negatif atau mengancam.
Kode SLKI: L.03025
Deskripsi : Klien meningkat interaksi sosialnya. Kriteria hasil: 1) Mengungkapkan keinginan untuk berinteraksi dengan orang lain. 2) Berpartisipasi dalam aktivitas sosial sesuai kemampuan. 3) Mengidentifikasi sumber dukungan sosial. 4) Menggunakan sumber dukungan yang tersedia. 5) Melaporkan penurunan perasaan kesepian.
Kode SIKI: I.05115
Deskripsi : Peningkatan Dukungan Sosial. Tindakan keperawatan: 1) Kaji faktor penyebab isolasi sosial (misalnya, harga diri rendah, halusinasi, stigma). 2) Lakukan pendekatan secara teratur dengan sikap menerima dan tidak menghakimi. 3) Fasilitasi interaksi sosial satu per satu dengan perawat atau klien lain yang kooperatif. 4) Dorong partisipasi dalam aktivitas kelompok terapeutik di rumah sakit. 5) Ajarkan keterampilan komunikasi dan sosialisasi dasar. 6) Bantu klien mengidentifikasi orang atau kelompok yang dapat menjadi sumber dukungan (misalnya, ibu). 7) Dorong untuk menyatakan kebutuhan akan interaksi sosial. 8) Berikan penguatan positif untuk setiap usaha berinteraksi. 9) Kolaborasi dengan keluarga untuk meningkatkan kunjungan dan dukungan emosional. 10) Rujuk ke kelompok dukungan komunitas setelah pulang jika memungkinkan. Data Ibu N menunjukkan ia jarang berpartisipasi dalam kegiatan masyarakat, cenderung menyimpan masalah sendiri, mekanisme koping dengan diam, serta memiliki riwayat dijauhi teman-teman saat remaja. Meski memiliki ibu sebagai orang penting, klien kurang terbuka saat memiliki masalah.
Kondisi: Gangguan Proses Pikir
Kode SDKI: D.0010
Deskripsi Singkat: G
Article No. 24231 | 25 Feb 2026
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi dan Gangguan Pertukaran Gas terkait Tuberkulosis Paru
Kode SDKI: D.0018
Deskripsi Singkat: Risiko meningkatnya respons inflamasi terhadap mikroorganisme patogen atau kondisi lain yang terkait dengan kerusakan integritas kulit, penurunan kerja silia, stasis sekret, dan penurunan sistem imun. Pada pasien tuberkulosis (TB), risiko ini sangat tinggi karena adanya bakteri Mycobacterium tuberculosis yang aktif dan mudah menular melalui droplet, ditambah dengan kondisi pasien yang lemah, batuk produktif, dan lesi pada jaringan paru yang menjadi fokus infeksi.
Kode SLKI: L.03115
Deskripsi : SLKI ini berfokus pada pencegahan dan pengendalian infeksi. Tujuan utamanya adalah mencegah penularan infeksi ke orang lain dan mencegah infeksi sekunder pada pasien. Intervensi keperawatan yang diukur mencakup: penerapan dan pemantauan ketat isolasi droplet/respirasi sesuai protokol, termasuk penggunaan masker yang tepat bagi pasien dan petugas; edukasi kepada pasien dan keluarga tentang cara batuk yang aman (etika batuk) dan pembuangan dahak yang higienis; memastikan ventilasi ruangan yang adekuat; memantau tanda-tanda vital khususnya suhu tubuh untuk mendeteksi perkembangan infeksi; serta pemberian dukungan nutrisi dan istirahat untuk meningkatkan daya tahan tubuh pasien. Keberhasilan SLKI ini ditandai dengan tidak adanya penularan infeksi kepada orang lain selama periode perawatan, pasien dan keluarga memahami dan melakukan tindakan pencegahan dengan benar, serta tidak munculnya tanda-tanda infeksi sekunder seperti demam yang memburuk.
Kode SIKI: I.01226
Deskripsi : Intervensi ini adalah tindakan spesifik untuk mengelola dan mencegah infeksi pada pasien TB. Langkah-langkahnya meliputi: 1) Melakukan skrining awal dan pemantauan gejala infeksi. 2) Menerapkan tindakan isolasi berdasarkan transmisi (droplet/respirator) sesuai kebijakan institusi, termasuk penempatan ruangan dan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD). 3) Menginstruksikan dan mengawasi pasien untuk menutup mulut dan hidung dengan tisu atau lengan saat batuk/bersin, serta membuang tisu bekas dahak ke tempat sampah tertutup. 4) Mengajarkan kebersihan tangan (hand hygiene) sebelum dan setelah kontak dengan sekret pernapasan. 5) Memastikan pengumpulan spesimen dahak untuk pemeriksaan laboratorium dilakukan dengan benar dan aman. 6) Mengkolaborasikan pemberian terapi obat anti-tuberkulosis (OAT) secara tepat waktu dan memantau kepatuhan serta efek sampingnya, karena terapi OAT yang teratur adalah kunci utama pengendalian infeksi. 7) Mengedukasi keluarga/pengunjung tentang risiko penularan dan pentingnya tindakan pencegahan. 8) Mendokumentasikan semua tindakan pencegahan dan respons pasien. Intervensi ini bersifat prosedural dan edukatif, bertujuan memutus rantai penularan Mycobacterium tuberculosis.
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas terkait Tuberkulosis Paru
Kode SDKI: D.0011
Deskripsi Singkat: Kelebihan atau kekurangan dalam oksigenasi dan/atau eliminasi karbon dioksida pada membran alveolus-kapiler, yang disebabkan oleh proses inflamasi, konsolidasi, dan pembentukan lesi pada jaringan paru. Pada TB paru, jaringan yang terinfeksi mengalami kerusakan dan konsolidasi, mengurangi luas permukaan alveoli yang efektif untuk pertukaran gas. Hal ini dimanifestasikan secara klinis melalui gejala sesak napas (dispnea), penggunaan otot bantu pernapasan, dan mungkin hipoksia, sebagaimana terlihat pada pasien dengan keluhan sesak napas dan temuan suara napas bronkial yang mengindikasikan konsolidasi.
Kode SLKI: L.03002
Deskripsi : SLKI ini bertujuan untuk mempertahankan atau mengembalikan status pertukaran gas yang adekuat. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: pasien menunjukkan perbaikan dalam pola pernapasan (frekuensi napas dalam rentang normal, penurunan sesak napas), peningkatan saturasi oksigen dalam batas normal (>95%) tanpa bantuan oksigen atau dengan bantuan minimal, tidak adanya sianosis, serta bunyi napas yang bersih atau membaik di area yang sebelumnya terdengar bronkial. Selain itu, pasien mampu melakukan aktivitas sehari-hari tanpa mengalami dispnea yang memberat. Pemantauan gas darah (jika tersedia) juga menunjukkan nilai dalam rentang normal. Keberhasilan SLKI diukur melalui pengamatan klinis berkelanjutan dan pemeriksaan penunjang seperti pulse oximetry.
Kode SIKI: I.09005
Deskripsi : Intervensi ini terdiri dari serangkaian tindakan untuk mengoptimalkan oksigenasi. Pertama, memantau status pernapasan secara ketat: frekuensi, irama, kedalaman, usaha pernapasan, penggunaan otot bantu, dan saturasi oksigen. Kedua, memposisikan pasien dalam posisi semi-Fowler atau Fowler tinggi untuk memaksimalkan ekspansi dada dan memudahkan pernapasan. Ketiga, mengajarkan dan mendorong latihan napas dalam dan batuk efektif (setelah mempertimbangkan penularan) untuk membantu membersihkan jalan napas dan mengembangkan alveoli. Keempat, mengelola terapi oksigen sesuai order dokter (nasal kanul, masker) dan memantau keefektifannya. Kelima, memastikan lingkungan yang tenang dan nyaman untuk mengurangi konsumsi oksigen. Keenam, mengkolaborasikan pemberian terapi farmakologi seperti bronkodilator jika diperlukan. Ketujuh, mendorong istirahat yang cukup dan aktivitas bertahap untuk mencegah kelelahan. Intervensi ini bersifat suportif dan teknis, berfokus pada meminimalkan beban kerja sistem pernapasan dan memaksimalkan fungsi paru yang masih sehat.
Article No. 24232 | 25 Feb 2026
Klinis : Penilaian Penelitian ini dilakukan oleh penulis pada tanggal 22 April 2025 di ruang Lily 11 RS Prof. Dr. Soerojo, Magelang. a.Identitas Klien Klien bernama Ibu N, 24 tahun, perempuan, muslim, jawa, dengan pendidikan SMP, terdaftar sebagai klien nomor CM 0028xxxx. Klien berasal dari Kudus dan bekerja sebagai wiraswasta. b. Identitas Penanggung Jawab Klien Penanggung jawab klien dalam studi kasus ini adalah Bapak E, seorang pria berusia 30 tahun, yang tinggal di Magelang, adalah seorang Muslim Jawa, memiliki pendidikan SMP, dan bekerja sebagai wiraswasta. Tuan E adalah kakak laki-laki klien. c. Alasan Masuk Klien dibawa ke RS Prof. Dr. Soerojo Magelang oleh saudaranya karena mengalami perubahan yang signifikan dan terus-menerus, klien tampak bingung, berbicara pada dirinya sendiri, mendengar bisikan, sikapnya tampak seperti melihat sosok yang tidak nyata, dan perilakunya seperti anak kecil. Gejala klien telah berlangsung selama 6 bulan terakhir, yaitu Oktober, dan memburuk sejak 3 hari sebelum masuk. Klien mengalami kesulitan tidur selama 3 hari sebelum masuk, sepertinya tiba-tiba menangis, menari sendirian, mengetuk jari-jarinya. d. Faktor Predisposisi Klien memiliki riwayat penyakit mental, setelah sebelumnya dirawat di RS Kudus pada Juni 2024. Ini adalah rawat inap keduanya. Perawatan sebelumnya tidak efektif, karena dia melaporkan menghentikan pengobatan setelah merasa lebih baik dan tidak lagi mengalami gejala apa pun. Gejalanya kambuh sekitar enam bulan setelah menghentikan pengobatan, memburuk tiga hari sebelum masuk. Klien tidak memiliki riwayat pelecehan fisik, seksual, atau kriminal. Tidak ada anggota keluarga klien yang memiliki riwayat penyakit mental. Klien melaporkan riwayat trauma. Ketika dia berusia 14 tahun dan di kelas tiga SMP, dia mengalami intimidasi selama setahun, termasuk menggoda penampilannya, yang dia anggap tidak menarik dan lusuh, dan dijauhi oleh teman-temannya. Kejadian ini menyebabkan perasaan tidak berharga dan terisolasi. Klien juga mengalami trauma emosional dalam pernikahannya setelah mengetahui suaminya berselingkuh dengan seorang penyanyi yang berpenampilan mencolok, memiliki rambut pirang, memakai cat kuku, dan merawat dirinya sendiri. Klien mengatakan dia memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan di masa lalu, yaitu diabaikan oleh ayahnya, yang tidak menunjukkan kepedulian ketika dia kesulitan pergi ke sekolah karena dia ketinggalan bus, dan malah memilih untuk bermain dengan merpati peliharaannya. e. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik klien pada tanggal 22 April 2025, menunjukkan bahwa klien mengalami kompos mentis, dengan tekanan darah 119/68 mmHg, denyut nadi 75x/menit, pernapasan 20x/menit, suhu 36,3 °C, tinggi badan 155 cm, berat badan 55 kg, BMI 22,9 (normal), dan klien menyatakan tidak merasakan keluhan fisik. f. Penilaian Psikososial 1) Genogram Gambar 4.1 Genogram Klien Deskripsi: Klien tinggal bersama ibu dan kakak laki-lakinya. Ayah klien telah meninggal. Klien adalah anak ketiga dari tiga bersaudara. Klien sebelumnya sudah menikah tetapi bercerai dan memiliki satu putra yang tinggal bersama mertuanya. Klien tidak ikut campur dalam pengambilan keputusan keluarga. 2) Konsep Diri a) Citra diri Klien menyatakan dia tidak puas dengan penampilan fisiknya, terutama rambutnya. Dia ingin mewarnainya agar menyerupai gundik suaminya. b) Identitas diri Klien dapat menyebutkan nama lengkap dan alamatnya. Kliennya adalah seorang wanita Muslim berusia 24 tahun. Dia menggambarkan dirinya sebagai ibu dari satu anak. Dia bekerja di warung makan. c) Peran Klien menyatakan bahwa dia adalah seorang ibu dengan seorang putra berusia 6 tahun, tetapi dia belum dapat memenuhi perannya sebagai ibu dengan baik. Klien menyatakan bahwa dia merindukan putranya. Klien juga menyatakan bahwa ia belum dapat memenuhi perannya sebagai anak dengan baik karena ia masih dalam tahap perawatan dan belum pulih sepenuhnya. d) Diri yang ideal Klien berharap menjadi ibu dan anak yang baik dalam keluarganya. Dia ingin dihormati oleh orang-orang di sekitarnya dan dapat memenuhi perannya dengan baik. Klien menyatakan keinginannya untuk segera pulang ke rumah bersama keluarganya. e) Harga diri Klien menyatakan perasaan tidak berharga dan tidak berguna karena ketidakmampuannya untuk memenuhi perannya dalam keluarga. Dia sering menyalahkan dirinya sendiri atas situasinya dan merasa tidak dihargai oleh orang-orang di sekitarnya. 3) Hubungan Sosial a) Orang yang penting Klien menyatakan bahwa orang terdekat dalam hidupnya adalah ibunya, yang selalu ada dan mendengarkan kekhawatirannya. Dia berbagi kehidupan sehari-harinya dengan ibunya. Namun, ketika dia memiliki masalah, dia cenderung menyimpannya untuk dirinya sendiri, lebih suka diam daripada berbicara dengan orang lain. b) Partisipasi dalam masyarakat Klien jarang berpartisipasi dalam kegiatan di lingkungannya. Beberapa kegiatan yang dia ikuti dalam komunitas termasuk dawis (pertemuan keagamaan) dan hiburan. c) Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain Klien mengatakan dia tidak memiliki masalah berbaur dengan orang lain, dia terkadang sendirian dan berbaur dengan orang lain tergantung pada suasana hatinya. 4) Spiritual a) Nilai dan keyakinan Klien mengatakan bahwa dia adalah Muslim, klien memahami bahwa apa yang dia alami saat ini adalah bentuk ujian/cobaan untuk kehidupan yang dia jalani, dan untuk menghapus dosa-dosanya, bukan sebagai hukuman. b) Kegiatan ibadah Klien mengatakan bahwa selama di rumah dan di rumah sakit, klien secara teratur berdoa dan tidak pernah melewatkan sholat wajib. g. Status Mental 1) Penampilan umum Wajah klien tampak tegang, penampilannya cukup rapi, dia mandi dua kali sehari, mengenakan gaun rumah sakit, dan mengenakan jilbab. Dia mampu merawat dirinya sendiri, mandi mandiri, dan berganti pakaian. Rambutnya terkadang berantakan saat dia tidak memakai jilbab. 2) Diskusi Bicara klien lambat, tampak tegang, dan terdengar seperti dia mendengar suara lain. Perawat perlu mengulangi kata-kata tersebut sehingga klien dapat mendengarnya. 3) Aktivitas motorik Tampak bingung, gerakan motorik klien lambat, ia juga menunjukkan gerakan yang tidak teratur, tidak terkendali dan anomali , seperti berlarian sendiri, menari tanpa tujuan, dan mengetuk jari-jarinya, klien terkadang juga berbicara pada dirinya sendiri, tersenyum dan tertawa pada dirinya sendiri. 4) Pengaruh dan emosi Pengaruh labil, dengan perubahan emosional yang tiba-tiba antara tawa, kesedihan, dan kesuraman, tetapi terkadang bahkan senyum pada dirinya sendiri. Klien melaporkan merasa bahagia saat ini. Klien menyatakan bahwa dia senang berada di rumah sakit ini karena dia dirawat dan akan segera pulang. 5) Interaksi selama wawancara Klien kooperatif ketika halusinasi tidak ada, merespons dengan mudah ketika diajak bicara, membuat kontak mata yang buruk, mudah terganggu, dan tampak curiga. Selama percakapan, klien sering terganggu, seperti tiba-tiba pergi tidur atau bergaul dengan teman. 6) Persepsi sensorik Klien mengatakan dia mendengar suara bisikan yang sering mengganggu pikirannya, bisikan itu muncul 2-3 kali sehari selama kurang lebih 2 menit, suara-suara itu terkadang mengundangnya untuk mengobrol sehingga dia tidak bisa tidur. Klien mengatakan dia ingin marah jika dia tidak bisa tidur karena suara-suara yang selalu mengganggunya. Bisikan yang dia dengar adalah suara-suara yang menyuruhnya melakukan hal-hal baik dan mendorongnya untuk bekerja. Suara-suara itu menyerupai yang paling dekatnya, seperti keluarga atau terkadang seperti suara Gus Idam dan Habib Zaidan. Klien mengatakan bisikan itu sering muncul ketika dia merasa lelah, di malam hari dan ketika dia sendirian di kamarnya. 7) Proses pemikiran Memblokir , klien tiba-tiba berhenti berbicara di tengah kalimat, tetapi arti dari apa yang dikatakan dapat disampaikan. 8) Konten pemikiran Klien tidak mengalami gangguan apa pun dalam konten pikiran, juga tidak memiliki delusi atau fobia. Klien mencoba menghilangkan halusinasi dan tidak ingin mereka kambuh. 9) Tingkat kesadaran dan orientasi Klien dapat mengetahui di mana dia berada saat ini. Dia juga dapat mengingat ketika dia bertemu seseorang, berkata, "Saya berada di sebuah ruangan di Rumah Sakit Jiwa Magelang." Dia dapat mengingat waktu, pagi, siang, sore, dan malam. Dia juga tahu tanggal saat ini. 10) Memori Klien tidak mengalami gangguan memori dan dapat mengingat nama-nama perawat. Klien juga dapat menceritakan peristiwa masa lalu. 11) Tingkat konsentrasi dan perhitungan Klien mudah terganggu, dapat diajak bicara, tetapi tiba-tiba mengubah topik. Klien mampu menghitung ketika ditanya perhitungan sederhana, klien dapat menjawab. 12) Keterampilan penilaian Klien mengalami gangguan penilaian dan dapat membuat keputusan tetapi membutuhkan bimbingan. Misalnya, ketika ditanya apakah dia ingin mandi, klien menjawab "ya" tetapi tidak segera mengambil tindakan dan tampak lambat untuk bergerak sampai perawat mengarahkan langkah selanjutnya. 13) Kesadaran diri Klien menyadari penyakit yang dideritanya tetapi terkadang tidak terkendali sehingga dia merasa bingung. h.Kebutuhan untuk mempersiapkan diri untuk pulang 1) Makan Klien makan tiga kali sehari: pagi, siang, dan sebelum matahari terbenam. Dia memiliki nafsu makan yang baik dan selalu menghabiskan porsi makanannya setiap kali makan. 2) Buang air besar / buang air kecil Klien dapat buang air besar dan buang air kecil di tempat yang benar tanpa bantuan. Klien selalu menyiram dengan air setelah buang air besar atau buang air kecil. 3) Mandi Klien mandi dua kali sehari, di pagi dan sore hari, tanpa bantuan. Klien menyikat giginya setiap kali dia mandi dan mencuci rambutnya setiap hari. 4) Berpakaian Klien berpakaian dengan benar dengan pakaian rumah sakit secara mandiri. 5) Istirahat dan tidur Klien melaporkan tidur dua kali sehari, siang dan malam. Dia melaporkan tidak ada masalah tidur dan selalu tidur nyenyak. 6) Penggunaan narkoba Klien meminum obat yang diresepkan secara teratur, menelannya, dan tidak membuangnya. Klien juga dapat menyatakan jumlahnya, tetapi bukan nama atau fungsinya. 7) Pemeliharaan kesehatan Klien mengatakan bahwa ibunya selalu memperhatikan kondisinya, jika klien sakit, klien langsung dibawa ke pelayanan kesehatan. 8) Aktivitas di dalam Saat diperiksa, klien selalu membantu ibunya dengan pekerjaan rumah, seperti mencuci pakaian, mencuci piring, menyapu, dan merapikan rumah. 9) Kegiatan di luar rumah Klien jarang melakukan aktivitas di luar rumah selain bekerja. 10) Kemampuan klien untuk membuat keputusan Ketika diberi beberapa pilihan, klien bingung dan merasa sulit untuk mengambil keputusan dan membutuhkan bantuan dari orang lain. 11) Apakah klien menikmati bekerja, aktivitas / hobi produktif? Klien mengatakan dia menikmati pekerjaannya di warung makan, meskipun dia sering lelah. Klien juga sangat menikmati aktivitas di rumah sakit jiwa, termasuk kegiatan rehabilitasi dan menonton TV bersama di dalam ruangan. i. Mekanisme Mengatasi Mekanisme koping, yaitu klien tidak mudah berbicara atau mengungkapkan perasaannya kepada orang lain. Mekanisme koping Klien maladaptif lebih sering diam dan menyimpan masalah mereka untuk diri mereka sendiri. j. Pengetahuan Klien menyadari masalah dan kondisi yang dialaminya. Dia menyadari bahwa dia telah dirawat di rumah sakit jiwa dua kali, termasuk yang sekarang. Klien bingung tentang apa yang harus dilakukan untuk mencegah suara berulang. Klien benar-benar ingin menjadi lebih baik. k. Aspek Medis 1) Diagnosis Medis Diagnosis medis klien adalah F20.0 (Skizofrenia Paranoid) 2) Terapi Medis Klien menerima terapi dengan Haloperidol (5 mg / 12 jam), Hexymer (2 mg / 12 jam), Depakote Er (500 mg / 24 jam), Frimania (400 mg / 24 jam), Diazepam (10 mg / 12 jam)
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Perilaku Kekerasan
Kode SDKI: 0016
Deskripsi Singkat: Risiko Perilaku Kekerasan adalah keadaan di mana seorang individu menunjukkan perilaku yang dapat menyebabkan cedera fisik, psikologis, atau seksual pada diri sendiri, orang lain, atau lingkungan. Pada kasus Ibu N, risiko ini ditandai dengan adanya halusinasi auditori yang memerintahkan atau mendorong tindakan tertentu, afek yang labil dengan perubahan emosi tiba-tiba (tiba-tiba menangis), agitasi psikomotor (berlari sendiri, menari tanpa tujuan), serta riwayat kepatuhan pengobatan yang buruk yang menyebabkan kekambuhan. Meskipun saat ini klien kooperatif dan menyatakan ingin sembuh, potensi perilaku impulsif sebagai respons terhadap halusinasi atau frustrasi (seperti keinginan untuk marah saat tidak bisa tidur karena suara) menimbulkan risiko yang perlu diwaspadai.
Kode SLKI: 4501
Deskripsi : SLKI 4501: Perilaku kekerasan dapat dicegah. Kriteria hasil yang diharapkan mencakup: klien dapat mengidentifikasi pemicu perilaku kekerasan, mengungkapkan perasaan secara verbal tanpa agresi, menunjukkan kontrol impuls yang meningkat, tidak menyakiti diri sendiri atau orang lain, serta melaporkan penurunan intensitas atau frekuensi halusinasi yang memerintah. Pada Ibu N, tujuan utamanya adalah mencegah manifestasi perilaku kekerasan dengan mengelola halusinasi dan emosi labilnya melalui terapi obat dan intervensi keperawatan.
Kode SIKI: 4501A
Deskripsi : SIKI 4501A: Lakukan observasi ketat terhadap tanda-tanda perilaku kekerasan. Intervensi ini melibatkan pemantauan terus-menerus terhadap tanda-tanda peningkatan agitasi, ketegangan, respons terhadap halusinasi, dan perubahan afek pada klien. Perawat perlu mengamati perilaku seperti mengetuk-ketuk jari, berlari, atau ekspresi marah yang dapat eskalasi. Observasi dilakukan dengan pendekatan tenang dan tidak mengancam, menjaga jarak yang aman namun tetap menunjukkan kepedulian. Penting juga memantau kepatuhan minum obat untuk memastikan efektivitas terapi dalam mengontrol gejala psikotik yang menjadi akar risiko.
Kondisi: Halusinasi
Kode SDKI: 0112
Deskripsi Singkat: Halusinasi adalah persepsi panca indera tanpa adanya rangsang dari luar. Ibu N mengalami halusinasi auditori (mendengar bisikan) yang terjadi 2-3 kali sehari, berlangsung sekitar 2 menit, dan dipicu oleh kelelahan, kesendirian, dan malam hari. Isi halusinasinya berupa suara yang mengajak mengobrol, menyuruh hal baik, dan mendorong bekerja, yang menyerupai suara orang terdekat atau figur publik. Halusinasi ini mengganggu proses pikirnya (sulit tidur) dan berpotensi memengaruhi perilakunya. Klien menyadari gangguan ini dan berusaha menghilangkannya, menunjukkan insight parsial. Kondisi ini merupakan gejala utama dari Skizofrenia Paranoid yang dideritanya.
Kode SLKI: 3402
Deskripsi : SLKI 3402: Halusinasi dapat dikontrol. Kriteria hasil meliputi: klien dapat mengidentifikasi waktu dan pemicu halusinasi, melaporkan penurunan frekuensi, durasi, dan intensitas halusinasi, menunjukkan teknik untuk mengatasi atau mengabaikan halusinasi, mampu mempertahankan konsentrasi selama berinteraksi, serta tidur yang cukup tanpa gangguan halusinasi. Tujuannya adalah meningkatkan kemampuan klien dalam mengelola pengalaman halusinasinya sehingga tidak mengganggu fungsi sehari-hari.
Kode SIKI: 3402C
Deskripsi : SIKI 3402C: Bantu klien mengidentifikasi situasi yang menimbulkan halusinasi. Perawat mendiskusikan dengan klien kapan, di mana, dan dalam kondisi seperti apa halusinasi muncul. Pada Ibu N, telah teridentifikasi pemicunya adalah saat lelah, sendirian, dan malam hari. Intervensi dilanjutkan dengan membantu klien mengenali tanda-tanda awal halusinasi (seperti menjadi lebih asyik sendiri). Selanjutnya, perawat dapat mengajarkan dan mendorong klien untuk melakukan teknik distraksi, seperti berbicara dengan perawat atau keluarga, melakukan aktivitas fisik (misalnya merapikan tempat tidur), atau mengalihkan fokus ke kegiatan nyata di lingkungannya ketika halusinasi mulai muncul.
Kondisi: Harga Diri Rendah Kronis
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Harga Diri Rendah Kronis adalah penilaian negatif dan tahan lama terhadap diri sendiri atau kemampuan diri. Pada Ibu N, kondisi ini dimanifestasikan melalui pernyataan langsung tentang perasaan tidak berharga dan tidak berguna karena gagal memenuhi peran sebagai ibu dan anak. Hal ini berakar dari pengalaman traumatis jangka panjang, mulai dari perundungan di masa remaja yang membuatnya merasa tidak menarik dan terisolasi, pengabaian figur ayah, hingga perselingkuhan suami yang melukai harga dirinya sebagai wanita. Klien juga sering menyalahkan diri sendiri atas situasinya. Meskipun memiliki harapan (diri ideal) untuk menjadi ibu dan anak yang baik, kesenjangan antara harapan dengan realita yang dirasakannya saat ini memperkuat perasaan rendah diri tersebut.
Kode SLKI: 1301
Deskripsi : SLKI 1301: Harga diri meningkat. Kriteria hasil mencakup: klien dapat mengungkapkan aspek positif tentang diri sendiri, menerima pujian secara positif, berpartisipasi dalam pengambilan keputusan untuk dirinya, menunjukkan kemampuan dalam melakukan tugas-tugas perawatan diri dan aktivitas terapeutik, serta mengurangi pernyataan menyalahkan diri. Tujuannya adalah membangun kembali persepsi klien yang lebih realistis dan positif tentang nilai dirinya.
Kode SIKI: 1301C
Deskripsi : SIKI 1301C: Bantu klien mengidentifikasi kekuatan dan potensi diri. Perawat mendiskusikan bersama klien mengenai keberhasilan, minat, dan kemampuan yang masih dimilikinya. Misalnya, mengapresiasi kemandiriannya dalam aktivitas daily living (mandi, makan, beribadah), perannya sebagai pekerja di warung makan, serta keinginannya yang kuat untuk sembuh dan pulang. Perawat juga dapat membantu klien mengeksplorasi peran sebagai ibu dengan cara yang masih mungkin dilakukan saat ini (misalnya, menceritakan kisah tentang anaknya atau membuat pesan singkat). Memberikan pujian yang spesifik dan realistis atas setiap kemajuan kecil sangat penting untuk membangun fondasi harga diri yang baru.
Kondisi: Isolasi Sosial
Kode SDKI: 0003
Deskripsi Singkat: Isolasi Sosial adalah keadaan kesepian yang dialami individu dan dirasakan sebagai hal yang dipaksakan oleh orang lain maupun diri sendiri. Ibu N menunjukkan pola menarik diri dan kesulitan dalam hubungan sosial. Secara historis, ia pernah dijauhi teman-teman saat di-bully. Saat ini, meski klien menyatakan tidak masalah berbaur, ia cenderung menyimpan masalah sendiri, lebih memilih diam daripada berbicara dengan orang lain (mekanisme koping maladaptif), dan jarang berpartisipasi dalam kegiatan masyarakat. Interaksi selama wawancara juga menunjukkan kontak mata yang buruk dan mudah terganggu. Kesendirian ini justru menjadi pemicu munculnya halusinasinya. Isolasi sosialnya diperparah oleh penyakitnya yang menyebabkan ia merasa berbeda dan tidak dapat memenuhi peran sosialnya.
Kode SLKI: 1501
Deskripsi : SLKI 1501: Interaksi sosial meningkat. Kriteria hasil yang diharapkan: klien dapat berinteraksi dengan perawat/orang lain secara sukarela, meningkatkan durasi dan kualitas interaksi (kontak mata, topik pembicaraan), berpartisipasi dalam aktivitas kelompok terapeutik di rumah sakit, serta menyatakan perasaan terkait hubungan sosialnya. Tujuannya adalah memutus siklus isolasi yang memperberat gejala dan meningkatkan dukungan sosial klien.
Kode SIKI: 1501B
Deskripsi : SIKI 1501B: Fasilitasi interaksi sosial. Perawat secara bertahap mendorong klien untuk terlibat dalam interaksi sosial dimulai dari yang sederhana dan tidak mengancam. Awalnya, perawat dapat melakukan interaksi satu-satu yang singkat namun konsisten, dengan topik netral dan menyenangkan. Kemudian, klien diajak untuk mengobservasi kegiatan kelompok di ruangan (seperti menonton TV bersama). Selanjutnya, klien didorong untuk mengikuti aktivitas kelompok terstruktur seperti rehabilitasi, yang telah dinikmatinya, dengan didampingi awalnya. Perawat juga dapat melibatkan keluarga (ibu dan kakak) dalam interaksi terapeutik untuk membangun kembali kepercayaan klien dalam berkomunikasi.
Kondisi: Ketidakefektifan Penatalaksanaan Regimen Terapeutik
Kode SDKI:
Article No. 24233 | 25 Feb 2026
Klinis : Pasien Ny. A usia 42 tahun merupakan seorang Ibu Rumah Tangga yang tinggal di Semarang dengan status sudah menikah, memiliki 3 orang anak. Pasien masuk RSND pada tanggal 13 November 2024 pukul 10.00 WIB. Pasien masuk dengan keluhan BAB keluar 3-5 kali sehari dengan konsistensi cair bercampur darah sejak 2 minggu yang lalu. Pasien mengatakan nyeri perut pada bagian kanan, pasien mengeluhkan ada pembengkakan pada perut kanan atas sejak 6 bulan yang lalu disertai penurunan nafsu makan. Pemeriksaan tanda-tanda vital didapatkan hasil tekanan darah 140/90 mmHg. frekuensi pernafasan 22 kali/menit, frekuensi nadi 120 kali/menit, suhu tubuh 35,6°C. Pasien didiagnosa menderita Ca Colon stadium 2. kebutuhan oksigenasi terpenuhi, namun kebutuhan nutrisi dan cairan terganggu akibat penurunan nafsu makan dan diare bercampur darah. Kebutuhan eliminasi terganggu, aktivitas sedikit terbatas karena nyeri, serta terdapat gangguan rasa nyaman dan potensi kecemasan terkait penyakit. Pasien memerlukan dukungan keluarga dalam menghadapi kondisi kesehatannya. Pemeriksaan penunjang meliputi pemeriksaan darah lengkap, pemeriksaan feses, kolonoskopi dan biopsi, serta CT-scan atau USG abdomen untuk menentukan lokasi dan penyebaran tumor, serta pemeriksaan CEA untuk mendukung diagnosis Ca colon stadium II.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: B.1.1.1
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan berat badan dan kekurangan nutrisi akibat asupan yang tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh.
Kode SLKI: L.03120
Deskripsi : Status nutrisi membaik. SLKI ini ditandai dengan pencapaian kriteria hasil seperti asupan nutrisi oral sesuai dengan kebutuhan, berat badan stabil atau meningkat menuju rentang normal, nilai laboratorium terkait nutrisi (seperti albumin, hemoglobin) dalam batas normal atau membaik, serta tidak ada tanda klinis malnutrisi yang signifikan seperti edema atau kelemahan otot ekstrem. Perawat akan memantau asupan makanan dan cairan, kolaborasi pemberian nutrisi enteral atau parenteral jika diperlukan, memberikan edukasi tentang makanan tinggi kalori dan protein yang mudah dicerna, serta mengelola gejala (seperti mual, nyeri) yang menghambat asupan. Pada pasien Ny. A, intervensi difokuskan untuk mengatasi penurunan nafsu makan dan kehilangan nutrisi akibat diare berdarah, dengan tujuan mencapai status nutrisi yang adekuat untuk mendukung proses penyembuhan dan terapi kanker.
Kode SIKI: I.05290
Deskripsi : Manajemen Nutrisi. Intervensi keperawatan ini meliputi serangkaian tindakan sistematis untuk memastikan kecukupan nutrisi pasien. Langkah-langkahnya mencakup: (1) Pengkajian komprehensif pola makan, riwayat berat badan, dan faktor penghambat asupan (nyeri, mual, diare). (2) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan kebutuhan kalori, protein, dan cairan harian. (3) Memfasilitasi pemberian diet tinggi kalori dan protein, dalam porsi kecil namun sering, dengan tekstur yang disesuaikan toleransi usus. (4) Memantau dan mencatat asupan serta output (termasuk karakteristik diare) secara ketat. (5) Kolaborasi pemberian suplemen nutrisi oral atau terapi medis untuk mengontrol diare dan perdarahan. (6) Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya nutrisi dan strategi meningkatkan nafsu makan. (7) Memantau tanda-tanda klinis perbaikan nutrisi atau deteriorasi. Intervensi ini langsung menjawab masalah utama pasien untuk mencegah malnutrisi yang dapat memperburuk prognosis dan menurunkan kualitas hidup.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: C.1.1
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensori dan emosional tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, dengan onset mendadak atau lambat, dari intensitas ringan hingga berat, dengan durasi kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: L.08010
Deskripsi : Kontrol nyeri. SLKI ini tercapai ketika pasien melaporkan penurunan skala nyeri ke tingkat yang dapat ditoleransi atau nyeri hilang, mampu mendemonstrasikan teknik non-farmakologis untuk mengatasi nyeri, menunjukkan tanda-tanda vital yang stabil (frekuensi nadi kembali normal dari 120x/menit), serta dapat beristirahat dan beraktivitas dengan lebih nyaman. Perawat akan menilai nyeri secara komprehensif (lokasi, skala, karakter), memberikan analgesik sesuai program dokter tepat waktu, mengajarkan dan membantu teknik relaksasi atau distraksi, serta memposisikan pasien dengan nyaman. Pada Ny. A, nyeri di perut kanan terkait dengan massa tumor dan proses inflamasi, sehingga manajemen nyeri yang efektif penting untuk meningkatkan kenyamanan, nafsu makan, dan kemampuan aktivitas.
Kode SIKI: I.08030
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Intervensi ini meliputi tindakan untuk mengurangi atau menghilangkan nyeri. Tahapannya meliputi: (1) Pengkajian nyeri secara reguler menggunakan skala yang valid, termasuk faktor pemicu dan penurun nyeri. (2) Pemberian farmakologis: administrasi obat analgesik (misalnya NSAID atau opioid sesuai resep) dengan mempertimbangkan rute dan waktu pemberian, serta memantau efek samping. (3) Penerapan non-farmakologis: seperti kompres hangat/dingin pada area nyeri (jika tidak kontraindikasi), teknik napas dalam, relaksasi progresif, atau distraksi seperti mendengarkan musik. (4) Mengatur posisi tubuh untuk mengurangi tegangan pada area abdomen. (5) Edukasi pasien dan keluarga tentang regimen pengobatan nyeri dan pentingnya melaporkan nyeri sebelum menjadi berat. (6) Kolaborasi dengan tim medis jika nyeri tidak terkontrol. Tindakan ini bertujuan memutus siklus nyeri-kecemasan yang dapat memperburuk kondisi pasien.
Kondisi: Kecemasan
Kode SDKI: L.2.1
Deskripsi Singkat: Perasaan gelisah, ketegangan, atau ketakutan yang tidak jelas sumbernya sebagai respons terhadap ancaman yang tidak spesifik atau tidak diketahui, terkait dengan diagnosis penyakit berat seperti kanker.
Kode SLKI: L.13010
Deskripsi : Kontrol kecemasan. SLKI ini terpenuhi ketika pasien dapat mengidentifikasi dan menyatakan perasaan cemasnya, menunjukkan penurunan tanda-tanda fisiologis kecemasan (seperti frekuensi nafas dan nadi mendekati normal), mampu menggunakan strategi koping yang adaptif, serta tampak lebih tenang dan kooperatif selama perawatan. Perawat akan menciptakan lingkungan terapeutik, mendorong ekspresi perasaan, memberikan informasi yang jelas tentang penyakit dan rencana perawatan, serta melibatkan dukungan keluarga. Pada Ny. A, kecemasan muncul akibat diagnosis Ca Colon stadium II yang mengancam kehidupan, ditambah dengan ketidakpastian pengobatan dan dampaknya terhadap keluarga.
Kode SIKI: I.13030
Deskripsi : Pengurangan Kecemasan. Intervensi keperawatan untuk mengurangi tingkat kecemasan meliputi: (1) Membangun hubungan saling percaya dengan pendekatan empatik dan komunikasi terapeutik. (2) Mengkaji tingkat dan sumber kecemasan pasien. (3) Memberikan informasi yang jujur, jelas, dan sesuai kebutuhan tentang kondisi, prosedur diagnostik (seperti kolonoskopi, CT-scan), dan rencana terapi. Informasi mengurangi ketakutan akan hal yang tidak diketahui. (4) Mengajarkan teknik relaksasi sederhana seperti napas dalam. (5) Mendorong pasien untuk mengungkapkan perasaan dan kekhawatirannya. (6) Memfasilitasi dukungan spiritual jika diinginkan pasien. (7) Melibatkan keluarga dalam proses perawatan untuk meningkatkan rasa aman. (8) Kolaborasi dengan tim kesehatan lain jika diperlukan konseling lebih lanjut. Intervensi ini membantu pasien mengembangkan perasaan kontrol dan harapan, yang penting untuk keberhasilan terapi.
Kondisi: Defisit Perawatan Diri: Toileting
Kode SDKI: D.4.2.2
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas toileting sendiri secara aman dan adekuat, yang pada pasien ini terkait dengan kelemahan, nyeri, dan urgensi/frekuensi diare.
Kode SLKI: L.04030
Deskripsi : Kemampuan perawatan diri toileting meningkat. SLKI ini dicapai ketika pasien dapat melakukan toileting secara mandiri dengan bantuan minimal, mempertahankan higienitas perianal yang baik, dan melaporkan peningkatan rasa percaya diri dalam memenuhi kebutuhan eliminasi. Perawat akan memastikan lingkungan toileting aman dan mudah diakses, memberikan bantuan sesuai kebutuhan (seperti mendampingi ke kamar mandi atau menyediakan bedpan), serta memberikan edukasi perawatan kulit area perianal. Pada Ny. A, diare berdarah yang sering (3-5x/hari) dan nyeri perut dapat sangat membatasi kemampuannya untuk pergi ke toilet secara mandiri dan cepat.
Kode SIKI: I.04080
Deskripsi : Bantuan Toileting. Intervensi ini mencakup bantuan untuk memenuhi kebutuhan eliminasi. Tindakannya meliputi: (1) Menilai tingkat ketergantungan pasien dan faktor penyebab (kelemahan, nyeri, frekuensi BAB). (2) Menempatkan pasien di ruangan dekat toilet atau menyediakan commode chair di samping tempat tidur. (3) Membantu pasien ke posisi toileting dengan aman, meminimalkan nyeri. (4) Menyediakan alat bantu seperti bedpan atau urinal jika pasien tidak mampu turun dari tempat tidur. (5) Memastikan privasi selama prosedur. (6) Membantu membersihkan area genital dan perianal setelah BAB, serta mengaplikasikan krim pelindung kulit untuk mencegah iritasi dan luka akibat diare yang sering. (7) Memastikan pasien dapat memanggil bantuan dengan mudah (bell). Intervensi ini menjaga martabat pasien, mencegah komplikasi seperti jatuh atau skin breakdown, dan memastikan kebutuhan dasar terpenuhi.
Article No. 24234 | 25 Feb 2026
Klinis : Defisit nutrisi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Defisit Nutrisi
Kode SDKI: B.1.1
Deskripsi Singkat: Defisit Nutrisi adalah keadaan individu yang mengalami atau berisiko mengalami asupan nutrisi yang tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh.
Kode SLKI: L.03001
Deskripsi : SLKI L.03001: Manajemen Nutrisi. Tujuan dari luaran ini adalah agar kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi. Indikator pencapaiannya meliputi: 1) Asupan makanan dan cairan sesuai dengan kebutuhan, 2) Berat badan stabil atau mencapai target, 3) Nilai laboratorium terkait nutrisi (seperti albumin, hemoglobin) dalam rentang normal atau menunjukkan perbaikan, 4) Pasien menunjukkan pengetahuan yang adekuat tentang pemilihan makanan dan pentingnya nutrisi, serta 5) Tanda-tanda klinis defisit nutrisi (seperti kelemahan, kulit kering, rambut rontok) berkurang atau hilang. Pencapaian luaran ini diukur dengan skala dari 1 (tidak pernah dilakukan) hingga 5 (selalu dilakukan) dalam memantau dan mengevaluasi kemajuan status nutrisi pasien.
Kode SIKI: I.03001
Deskripsi : I.03001: Manajemen Nutrisi. Intervensi keperawatan ini merupakan serangkaian tindakan sistematis untuk mengatasi masalah defisit nutrisi. Intervensi ini mencakup: 1) Pengkajian Komprehensif: Melakukan pengkajian menyeluruh termasuk riwayat diet, pola makan, kebiasaan, faktor psikososial (depresi, isolasi), ekonomi, penyakit penyerta, pemeriksaan antropometri (berat badan, tinggi badan, IMT, lingkar lengan), pemeriksaan biokimia (albumin, pre-albumin, hemoglobin, limfosit total), dan pemeriksaan fisik (kelemahan otot, edema, kondisi kulit dan rambut). 2) Kolaborasi dan Rujukan: Berkolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan kebutuhan kalori, protein, dan zat gizi spesifik serta merencanakan diet. Merujuk ke pekerja sosial jika ada kendala ekonomi. 3) Perencanaan dan Pemberian Makanan: Menyusun rencana makan bersama pasien dan keluarga, memodifikasi tekstur makanan jika ada gangguan menelan (diet lunak atau cair), menyediakan makanan dalam porsi kecil namun sering, memastikan lingkungan makan yang nyaman, dan membantu pasien jika diperlukan. 4) Suplementasi Nutrisi: Memberikan suplemen nutrisi oral (SNO) sesuai resep, atau mempersiapkan dan memantau pemberian nutrisi enteral (selang nasogastrik/PEG) maupun parenteral sesuai indikasi dan protokol. 5) Edukasi dan Konseling: Memberikan pendidikan kesehatan tentang pentingnya nutrisi, pemilihan makanan bergizi sesuai kondisi dan budget, cara membaca label gizi, serta teknik pengolahan makanan yang baik. Melibatkan keluarga dalam perawatan dan pendidikan. 6) Pemantauan dan Evaluasi: Memantau asupan makanan dan cairan secara ketat (catatan intake-output), menimbang berat badan secara teratur, memantau tanda-tanda klinis perbaikan atau komplikasi, serta mengevaluasi hasil laboratorium. 7) Manajemen Gejala: Mengatasi gejala yang menghambat asupan nutrisi seperti mual, muntah, nyeri, atau sariawan dengan kolaborasi pemberian obat dan teknik non-farmakologis. 8) Dukungan Psikologis: Memberikan motivasi dan dukungan emosional untuk meningkatkan nafsu makan dan kepatuhan terhadap rencana terapi nutrisi. Intervensi ini bersifat holistik, dinamis, dan memerlukan pendekatan tim serta partisipasi aktif pasien dan keluarga untuk mencapai luaran nutrisi yang optimal.
Article No. 24235 | 25 Feb 2026
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi Tuberkulosis Paru
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Risiko peningkatan kerentanan terhadap invasi patogen, khususnya Mycobacterium tuberculosis, yang dapat mengancam kesehatan.
Kode SLKI: 1900
Deskripsi : Pengendalian Infeksi. Tujuan utama adalah agar pasien dapat mencegah dan mengendalikan penyebaran infeksi tuberkulosis. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: 1) Pasien dan keluarga memahami dan konsisten menerapkan etika batuk (menutup mulut dengan tisu atau lengan baju). 2) Pasien menggunakan masker dengan benar terutama saat berinteraksi dengan orang lain di luar kamar isolasi. 3) Pasien dan keluarga memahami pentingnya pengobatan teratur dan tidak putus obat untuk mencegah resistensi dan penularan berkelanjutan. 4) Lingkungan rumah memiliki ventilasi udara yang baik dan terkena sinar matahari langsung. 5) Tidak ada anggota keluarga atau pengunjung yang menunjukkan gejala infeksi tuberkulosis. 6) Pasien mampu mengidentifikasi tanda-tanda kekambuhan atau komplikasi seperti batuk darah, sesak memberat, atau demam yang tidak kunjung reda. Pencapaian SLKI ini diukur melalui observasi perilaku, wawancara pemahaman, dan pemantauan kondisi lingkungan serta kontak erat.
Kode SIKI: 4230
Deskripsi : Manajemen Infeksi. Intervensi keperawatan yang dilakukan bersifat komprehensif untuk memutus rantai penularan dan mendukung kesembuhan pasien. Intervensi dimulai dengan isolasi pernapasan, yaitu menempatkan pasien di ruangan berventilasi baik dan menginstruksikan penggunaan masker. Perawat akan memberikan edukasi kesehatan secara mendetail tentang penyakit tuberkulosis, cara penularan melalui droplet, pentingnya pengobatan OAT (Obat Anti Tuberkulosis) hingga tuntas minimal 6 bulan, serta efek samping obat yang perlu diwaspadai. Perawat mengajarkan etika batuk dan pembuangan dahak yang aman (misalnya, dahak dibuang ke wadah tertutup berisi desinfektan). Dilakukan kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian terapi OAT dan memantau kepatuhan serta efek terapinya. Perawat juga memantau tanda-tanda klinis seperti suhu tubuh, karakter batuk dan dahak, pola napas, dan nafsu makan. Dukungan nutrisi dengan diet tinggi kalori dan protein diatur untuk meningkatkan status imunitas pasien. Selain itu, perawat melakukan skrining dan edukasi pada anggota keluarga atau kontak erat pasien. Pemberian dukungan psikologis juga crucial karena stigma penyakit dan lamanya pengobatan dapat menurunkan motivasi pasien. Dokumentasi yang akurat mengenai respons terapi dan tindakan pencegahan yang telah dilakukan merupakan bagian integral dari intervensi ini.
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: 0008
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang paten.
Kode SLKI: 0410
Deskripsi : Status Pernapasan: Ventilasi. Tujuannya adalah mempertahankan pertukaran udara yang adekuat. Kriteria hasil mencakup: 1) Bunyi napas bersih (tidak terdapat ronki atau wheezing yang signifikan) di semua lapang paru. 2) Frekuensi napas dalam rentang normal (16-20 kali/menit) tanpa penggunaan otot bantu napas. 3) Pasien mampu mengeluarkan sekret (dahak) secara efektif dengan batuk yang produktif. 4) Nilai saturasi oksigen dalam darah (SpO2) >95% pada udara ruangan. 5) Tidak menunjukkan tanda sianosis atau sesak napas saat beraktivitas ringan. 6) Laporan subjektif pasien merasa lebih lega dan nyaman saat bernapas. Pencapaian dinilai melalui auskultasi, observasi, pemeriksaan tanda vital, dan laporan pasien.
Kode SIKI: 3180
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas. Intervensi keperawatan difokuskan untuk memfasilitasi kelancaran pertukaran udara. Tindakan yang dilakukan meliputi: 1) Posisi semi-Fowler atau Fowler untuk memudahkan ekspansi dada dan mengurangi kerja napas. 2) Mengajarkan dan mendorong latihan napas dalam dan batuk efektif setiap 2-3 jam. 3) Melakukan fisioterapi dada (chest physiotherapy) seperti perkusi dan vibrasi pada area lesi (dengan hati-hati) untuk membantu mobilisasi sekret, sesuai kondisi dan kolaborasi dengan fisioterapis. 4) Memastikan hidrasi adekuat dengan mendorong asupan cairan hangat 2-3 liter per hari (jika tidak ada kontraindikasi) untuk mengencerkan dahak. 5) Melakukan penghisapan lendir (suction) jika pasien tidak mampu mengeluarkan sekret secara mandiri. 6) Memantau dan mencatat karakteristik dahak (jumlah, warna, konsistensi, adanya darah). 7) Mengatur pemberian oksigen tambahan jika diperlukan berdasarkan hasil analisis gas darah atau saturasi oksigen. 8) Memantau status pernapasan secara ketat termasuk frekuensi, irama, kedalaman, dan penggunaan otot bantu. 9) Kolaborasi pemberian obat mukolitik atau bronkodilator sesuai resep. 10) Menciptakan lingkungan yang nyaman, bebas dari alergen atau iritan seperti debu dan asap rokok.
Kondisi: Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: 0002
Deskripsi Singkat: Asupan nutrisi yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh, mengakibatkan penurunan berat badan, kelemahan, dan penurunan fungsi imun.
Kode SLKI: 1101
Deskripsi : Status Nutrisi. Tujuannya adalah mencapai dan mempertahankan status gizi yang optimal untuk mendukung penyembuhan dan kekebalan tubuh. Kriteria hasil yang diharapkan: 1) Pasien menunjukkan peningkatan nafsu makan. 2) Berat badan meningkat atau stabil, tidak terjadi penurunan lebih lanjut. 3) Nilai laboratorium terkait nutrisi (seperti albumin dan hemoglobin) dalam batas normal atau menunjukkan tren perbaikan. 4) Pasien mampu menghabiskan porsi makan yang disajikan sesuai dengan rencana diet tinggi kalori dan protein. 5) Laporan pasien merasa lebih bertenaga dan tidak cepat lelah. 6) Tidak terdapat tanda-tanda klinis malnutrisi seperti edema, kulit kering bersisik, atau penurunan massa otot. Evaluasi dilakukan melalui pengukuran berat badan berkala, food record, dan pemeriksaan laboratorium.
Kode SIKI: 1120
Deskripsi : Manajemen Nutrisi. Intervensi keperawatan dirancang untuk mengatasi anoreksia dan meningkatkan asupan nutrisi. Tindakan meliputi: 1) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menyusun diet tinggi kalori, tinggi protein, dan tinggi vitamin (misalnya, tambahan telur, daging, ikan, susu, kacang-kacangan) dalam porsi kecil namun sering (6 kali sehari). 2) Menciptakan lingkungan makan yang nyaman, bebas dari bau yang tidak sedap, dan mengurangi gangguan. 3) Menyajikan makanan dalam bentuk yang menarik dan sesuai dengan selera pasien. 4) Memberikan edukasi tentang pentingnya nutrisi dalam proses penyembuhan tuberkulosis dan melawan infeksi. 5) Memantau asupan dan output cairan serta berat badan secara teratur. 6) Menganjurkan konsumsi suplemen nutrisi oral (jika diperlukan) sesuai anjuran. 7) Memberikan perawatan mulut sebelum makan untuk meningkatkan sensasi rasa dan nafsu makan. 8) Mengatasi gejala yang mengganggu makan seperti mual (dengan kolaborasi pemberian antiemetik) atau sesak napas (dengan mengatur posisi makan yang nyaman). 9) Mendokumentasikan respons pasien terhadap intervensi nutrisi yang diberikan.
Article No. 24236 | 25 Feb 2026
Klinis : Kejang dan demam 38 derajat celcius
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Suhu Tubuh dan Risiko Cedera
Kode SDKI: 0007
Deskripsi Singkat: Risiko peningkatan, penurunan, atau ketidakstabilan suhu tubuh.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Suhu tubuh dalam rentang normal. Penjelasan: Intervensi keperawatan difokuskan untuk mempertahankan suhu tubuh dalam rentang normal (36,5°C - 37,5°C) dan mencegah komplikasi lebih lanjut akibat demam dan kejang. Tindakan yang dilakukan meliputi pemantauan suhu tubuh secara berkala (setiap 1-2 jam selama fase akut), melakukan tindakan pendinginan fisik seperti kompres hangat di daerah lipatan (aksila, lipat paha) dan dahi, serta memastikan lingkungan yang nyaman dan sejuk. Penting juga untuk mempertahankan asupan cairan yang adekuat untuk mencegah dehidrasi yang dapat memperburuk kondisi. Pemberian terapi antipiretik sesuai instruksi dokter juga merupakan bagian dari intervensi ini. Evaluasi keberhasilan ditandai dengan penurunan suhu tubuh secara bertahap menuju rentang normal, kulit teraba hangat tanpa tanda hipertermia ekstrem, serta tanda-tanda vital lain yang stabil. Selain itu, edukasi kepada keluarga tentang cara memantau suhu dan tindakan pertama saat demam sangat penting untuk keberlanjutan perawatan di rumah.
Kode SIKI: 2620
Deskripsi : Pemantauan tanda dan gejala kejang. Penjelasan: Intervensi ini bertujuan untuk mengidentifikasi secara dini aktivitas kejang dan mencegah cedera selama kejang berlangsung. Perawat secara ketat mengobservasi tanda-tanda prodromal kejang seperti mata berkedip, gerakan menyentak lokal, atau perubahan kesadaran. Selama kejang, fokus intervensi adalah pada keselamatan pasien: melonggarkan pakaian di sekitar leher, membaringkan pasien dalam posisi miring (recovery position) untuk menjaga jalan napas dan mencegah aspirasi, serta melindungi kepala dan anggota tubuh dari benturan tanpa melakukan restrain. Perawat juga mencatat karakteristik kejang secara detail, termasuk durasi, tipe gerakan, bagian tubuh yang terlibat, dan kondisi pasca-kejang (post-ictal). Pemantauan status neurologis dan tanda-tanda vital pasca kejang sangat penting. Selain itu, perawat memastikan pemberian terapi antikonvulsan sesuai program dan memantau efek sampingnya. Edukasi keluarga tentang langkah-langkah protektif selama kejang dan kapan harus segera mencari bantuan medis merupakan bagian integral dari intervensi ini untuk mengurangi kecemasan dan meningkatkan kemampuan koping keluarga.
Kondisi: Risiko Cedera
Kode SDKI: 0026
Deskripsi Singkat: Risiko cedera fisik akibat faktor internal atau eksternal.
Kode SLKI: 1908
Deskripsi : Bebas dari cedera. Penjelasan: Tujuan utama intervensi keperawatan adalah meminimalkan risiko cedera fisik yang dapat terjadi selama episode kejang demam. Lingkungan perawatan harus dimodifikasi untuk menjadi area yang aman, seperti memasang pagar tempat tidur yang selalu terangkat, menempatkan bantalan lunak di sekeliling pagar tempat tidur, dan menjauhkan benda-benda keras atau tajam dari jangkauan pasien. Perawat memastikan bahwa selama kejang, pasien tidak mengalami trauma fisik seperti jatuh dari tempat tidur, tergigit lidah, atau fraktur. Posisi recovery (miring) harus dipertahankan setelah kejang untuk mencegah obstruksi jalan napas oleh lidah atau aspirasi muntahan. Pemantauan terus-menerus, terutama pada fase pasca-kejang ketika pasien mengalami disorientasi, sangat krusial. Keluarga juga diedukasi untuk tidak memasukkan apapun ke dalam mulut pasien selama kejang dan cara memposisikan tubuh anak dengan aman. Pencapaian luaran ini ditandai dengan tidak adanya memar, luka, fraktur, atau cedera lain akibat kejang, serta jalan napas yang tetap patent selama dan setelah kejang.
Kode SIKI: 6540
Deskripsi : Pengelolaan Kejang. Penjelasan: Ini adalah intervensi spesifik yang mencakup serangkaian tindakan selama fase pre-iktal, iktal, dan post-iktal. Fokusnya adalah pada pengendalian lingkungan, pencegahan cedera, dan pemantauan komplikasi. Perawat menyiapkan alat suction dan alat bantu napas di dekat pasien untuk antisipasi. Selama kejang, prioritas adalah menjaga jalan napas, pernapasan, dan sirkulasi (ABC). Perawat akan memastikan kepala dalam posisi netral, mungkin melakukan suction jika diperlukan, dan memberikan oksigen sesuai kebutuhan. Pengamatan ketat terhadap durasi dan karakteristik kejang sangat penting untuk laporan ke dokter. Jika kejang berlangsung lama (status epileptikus), perawat bersiap untuk membantu pemberian obat antikonvulsan intravena sesuai protokol. Setelah kejang, perawat melakukan reassessment menyeluruh termasuk status neurologis (skor Glasgow Coma Scale), tanda-tanda vital, dan tanda-tanda cedera. Dokumentasi yang akurat mengenai onset, durasi, tipe kejang, dan respons pasien sangat penting untuk evaluasi pengobatan. Intervensi ini juga melibatkan dukungan psikologis dan edukasi kepada keluarga yang seringkali sangat ketakutan menyaksikan kejang pada anak mereka.
Article No. 24237 | 25 Feb 2026
Klinis : mal, muntah, diare, lemah
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Diagnosa Keperawatan, Luaran, dan Intervensi Berdasarkan SDKI, SLKI, SIKI
Article No. 24239 | 25 Feb 2026
Klinis : pasien kejang dan demam sudah 4 hari, batuk , mual dan muntah sudah 3 hari
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Suhu Tubuh
Kode SDKI: 00007
Deskripsi Singkat: Risiko peningkatan, penurunan, atau ketidakstabilan suhu tubuh.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : Suhu tubuh dalam rentang normal.
Kode SIKI: 3510
Deskripsi : Pemantauan Suhu Tubuh. Tindakan: Pantau suhu tubuh sesuai kebutuhan dan kondisi klien; Pantau warna kulit; Pantau tanda vital lain (tekanan darah, nadi, pernapasan); Laporkan setiap kelainan.
Kondisi: Risiko Cedera
Kode SDKI: 00035
Deskripsi Singkat: Risiko cedera fisik akibat kondisi lingkungan atau faktor internal.
Kode SLKI: 1906
Deskripsi : Klien bebas dari cedera.
Kode SIKI: 6540
Deskripsi : Pengendalian Kejang. Tindakan: Pertahankan jalan napas paten; Longgarkan pakaian di sekitar leher dan dada; Jauhkan klien dari benda-benda berbahaya; Jangan menahan gerakan kejang; Letakkan klien pada posisi miring setelah kejang; Catat durasi, karakteristik, dan bagian tubuh yang terlibat dalam kejang; Berikan terapi obat sesuai program.
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: 00031
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan jalan napas paten.
Kode SLKI: 0410
Deskripsi : Jalan napas paten.
Kode SIKI: 3140
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas. Tindakan: Posisikan untuk memaksimalkan ventilasi (mis., kepala tempat tidur ditinggikan, posisi semi-Fowler); Auskultasi suara napas; Ajarkan dan bantu teknik batuk efektif; Lakukan fisioterapi dada jika diindikasikan; Kelola cairan untuk mengencerkan sekret; Lakukan penghisapan lendir jika diperlukan; Pantau status pernapasan (frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya).
Kondisi: Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: 00002
Deskripsi Singkat: Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolisme.
Kode SLKI: 1104
Deskripsi : Kebutuhan nutrisi terpenuhi.
Kode SIKI: 1120
Deskripsi : Manajemen Mual. Tindakan: Identifikasi faktor pencetus mual; Berikan makanan porsi kecil tapi sering; Hindari makanan berbau tajam dan berminyak; Anjurkan makanan dingin atau suhu ruang; Anjurkan untuk duduk tegak selama dan setelah makan; Berikan perawatan mulut sebelum dan sesudah makan; Kolaborasi pemberian obat antiemetik sesuai program; Pantau asupan dan output cairan; Pantau tanda-tanda dehidrasi. Tindakan ini penting karena mual dan muntah yang sudah berlangsung 3 hari sangat berisiko menyebabkan dehidrasi dan defisit nutrisi, yang dapat memperburuk kondisi demam dan kejang. Asupan yang tidak adekuat juga menghambat proses penyembuhan dan menurunkan daya tahan tubuh.
Kondisi: Defisit Volume Cairan
Kode SDKI: 00027
Deskripsi Singkat: Penurunan cairan intravaskular, interstisial, dan/atau intraselular.
Kode SLKI: 0602
Deskripsi : Keseimbangan cairan tercapai.
Kode SIKI: 4120
Deskripsi : Manajemen Cairan. Tindakan: Pantau tanda-tanda dehidrasi (turgor kulit, membran mukosa, ubun-ubun pada bayi, produksi urin); Pantau asupan dan output cairan secara ketat; Berikan cairan per oral bertahap sesuai toleransi; Kolaborasi pemberian cairan intravena jika diperlukan; Pantau elektrolit serum; Timbang berat badan setiap hari dengan timbangan yang sama. Defisit volume cairan pada pasien ini sangat mungkin terjadi akibat kombinasi dari demam tinggi yang meningkatkan kehilangan cairan insensible, asupan minum yang berkurang karena mual dan muntah, serta peningkatan kebutuhan metabolik tubuh selama infeksi. Keadaan dehidrasi dapat memicu gangguan elektrolit yang memperberat risiko kejang dan memperburuk kondisi hemodinamik secara keseluruhan.
Article No. 24240 | 25 Feb 2026
Klinis : pasien kejang dan demam sudah 4 hari, batuk , mual dan muntah sudah 3 hari, diagnosa keperawatan apa yang muncul, buatkan 3 diagnosa yang paling sesuai
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan
Kode SDKI: 00027
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan, peningkatan, atau perpindahan cepat cairan intravaskular, interstisial, dan/atau intraselular.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : Keseimbangan cairan. Tujuan keperawatan adalah mempertahankan keseimbangan cairan yang adekuat pada pasien. Hal ini dicapai dengan memantau tanda-tanda vital (terutama nadi dan tekanan darah) sebagai indikator awal syok hipovolemik, mengobservasi tanda-tanda dehidrasi seperti turgor kulit yang menurun, membran mukosa kering, dan penurunan produksi urin. Perawat juga akan memantau asupan dan keluaran cairan secara ketat, memberikan cairan intravena sesuai resep dokter, dan mendorong serta memfasilitasi asupan cairan per oral jika kondisi pasien memungkinkan dan tidak ada kontraindikasi akibat mual dan muntah. Edukasi keluarga tentang pentingnya asupan cairan dan tanda-tanda dehidrasi juga merupakan intervensi kunci.
Kode SIKI: 2009
Deskripsi : Manajemen cairan. Intervensi keperawatan spesifik meliputi: 1) Memantau status hidrasi (tanda vital, turgor kulit, capillary refill, membran mukosa, produksi urin, dan berat badan jika memungkinkan). 2) Melakukan pencatatan asupan dan keluaran cairan (Intake Output) secara akurat dan rinci. 3) Memberikan cairan intravena sesuai program terapi dengan kecepatan yang tepat dan memantau respons pasien. 4) Melakukan perawatan area pemasangan infus untuk mencegah komplikasi. 5) Kolaborasi dengan dokter dan ahli gizi untuk menentukan kebutuhan dan jenis cairan yang tepat. 6) Memposisikan pasien dengan nyaman dan aman untuk mendukung sirkulasi. 7) Memberikan edukasi kepada keluarga tentang peran mereka dalam memantau asupan cairan dan melaporkan jika ada muntah atau penolakan minum.
Kondisi: Risiko Cedera
Kode SDKI: 00035
Deskripsi Singkat: Risiko meningkatnya kerentanan terhadap cedera fisik yang dapat membahayakan kesehatan.
Kode SLKI: 1901
Deskripsi : Kontrol kejang. Tujuan keperawatan adalah mencegah cedera fisik selama serangan kejang dan menurunkan frekuensi kejang. Perawat akan menciptakan lingkungan yang aman dengan memasang pagar tempat tidur yang dibalut dengan baik, menjauhkan benda-benda keras atau tajam dari sekitar pasien, dan menggunakan matras atau pelindung di lantai jika diperlukan. Selama kejang, perawat akan melakukan tindakan protektif seperti membaringkan pasien di posisi miring (recovery position), melonggarkan pakaian di area leher, dan tidak memasukkan apapun ke dalam mulut pasien. Pemantauan karakteristik kejang (durasi, tipe, bagian tubuh yang terlibat) sangat penting untuk evaluasi. Pemberian obat antikejang sesuai resep dan evaluasi efektivitasnya juga menjadi fokus. Keluarga akan diedukasi tentang langkah-langkah pertolongan pertama saat kejang dan kapan harus segera meminta bantuan.
Kode SIKI: 6540
Deskripsi : Pengawasan kejang. Intervensi keperawatan spesifik meliputi: 1) Mengidentifikasi faktor pemicu kejang seperti demam tinggi (hipertermia). 2) Mempertahankan lingkungan yang aman dan bebas dari bahaya fisik. 3) Mengobservasi dan mendokumentasikan aktivitas kejang: waktu mulai dan berakhir, aura, tipe (tonik, klonik), lokalisasi, dan kondisi pasien pasca-kejang (post-iktal). 4) Melindungi pasien dari cedera selama kejang dengan tindakan yang tepat tanpa menahan gerakan. 5) Mempertahankan jalan napas dan memastikan oksigenasi yang adekuat selama dan setelah kejang. 6) Memantau tanda-tanda vital dan status neurologis secara berkala. 7) Mengelola terapi antikonvulsan: pemberian tepat waktu, observasi efek terapi dan efek samping. 8) Kolaborasi dalam pemberian terapi antipiretik untuk mengontrol demam sebagai faktor pemicu. 9) Mendidik keluarga tentang manajemen kejang di rumah dan kapan harus membawa ke fasilitas kesehatan.
Kondisi: Hipertermia
Kode SDKI: 00007
Deskripsi Singkat: Suhu tubuh meningkat di atas rentang normal.
Kode SLKI: 0802
Deskripsi : Kontrol suhu tubuh. Tujuan keperawatan adalah menurunkan suhu tubuh ke rentang normal dan mencegah komplikasi akibat demam tinggi seperti kejang. Perawat akan memantau suhu tubuh secara teratur dengan metode yang tepat. Intervensi non-farmakologis seperti kompres hangat (di area lipatan aksila dan lipat paha) atau mandi air hangat akan dilakukan untuk meningkatkan kehilangan panas melalui konduksi dan evaporasi. Mengatur suhu lingkungan agar sejuk dan nyaman, serta menggunakan pakaian yang tipis dan menyerap keringat juga penting. Asupan cairan yang adekuat harus dipertahankan untuk mengganti cairan yang hilang melalui penguapan. Perawat akan berkolaborasi dalam pemberian obat antipiretik sesuai resep dan mengevaluasi respons terapi. Edukasi kepada keluarga tentang teknik penanganan demam di rumah dan tanda-tanda bahaya seperti kejang demam juga diberikan.
Kode SIKI: 3900
Deskripsi : Manajemen hipertermia. Intervensi keperawatan spesifik meliputi: 1) Memonitor suhu tubuh, denyut nadi, pernapasan, dan tekanan darah secara berkala. 2) Mengidentifikasi faktor penyebab yang mendasari (misalnya, infeksi). 3) Memberikan terapi pendinginan: kompres hangat, mandi air hangat, mengurangi selimut atau pakaian tebal. 4) Meningkatkan asupan cairan per oral atau intravena untuk mencegah dehidrasi. 5) Memberikan terapi antipiretik (seperti parasetamol) sesuai resep dan memantau efektivitas serta efek sampingnya. 6) Mengobservasi adanya menggigil (shivering) dan mengambil tindakan untuk menghangatkan jika terjadi. 7) Memantau tanda-tanda komplikasi seperti perubahan status mental atau kejang. 8) Kolaborasi dengan tim medis untuk pemeriksaan penunjang (seperti kultur darah) dan pemberian antibiotik jika dicurigai infeksi bakteri. 9) Mendokumentasikan pola demam dan respons terhadap intervensi yang diberikan.
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 264 265 266 267 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 280 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 297 298 299 300 301 302 303 304 305 306 307 308 309 310 311 312 313 314 315 316 317 318 319 320 321 322 323 324 325 326 327 328 329 330 331 332 333 334 335 336 337 338 339 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 350 351 352 353 354 355 356 357 358 359 360 361 362 363 364 365 366 367 368 369 370 371 372 373 374 375 376 377 378 379 380 381 382 383 384 385 386 387 388 389 390 391 392 393 394 395 396 397 398 399 400 401 402 403 404 405 406 407 408 409 410 411 412 413 414 415 416 417 418 419 420 421 422 423 424 425 426 427 428 429 430 431 432 433 434 435 436 437 438 439 440 441 442 443 444 445 446 447 448 449 450 451 452 453 454 455 456 457 458 459 460 461 462 463 464 465 466 467 468 469 470 471 472 473 474 475 476 477 478 479 480 481 482 483 484 485 486 487 488 489 490 491 492 493 494 495 496 497 498 499 500 501 502 503 504 505 506 507 508 509 510 511 512 513 514 515 516 517 518 519 520 521 522 523 524 525 526 527 528 529 530 531 532 533 534 535 536 537 538 539 540 541 542 543 544 545 546 547 548 549 550 551 552 553 554 555 556 557 558 559 560 561 562 563 564 565 566 567 568 569 570 571 572 573 574 575 576 577 578 579 580 581 582 583 584 585 586 587 588 589 590 591 592 593 594 595 596 597 598 599 600 601 602 603 604 605 606 607 608 609 610 611 612 613 614 615 616 617 618 619 620 621 622 623 624 625 626 627 628 629 630 631 632 633 634 635 636 637 638 639 640 641 642 643 644 645 646 647 648 649 650 651 652 653 654 655 656 657 658 659 660 661 662 663 664 665 666 667 668 669 670 671 672 673 674 675 676 677 678 679 680 681 682 683 684 685 686 687 688 689 690 691 692 693 694 695 696 697 698 699 700 701 702 703 704 705 706 707 708 709 710 711 712 713 714 715 716 717 718 719 720 721 722 723 724 725 726 727 728 729 730 731 732 733 734 735 736 737 738 739 740 741 742 743 744 745 746 747 748 749 750 751 752 753 754 755 756 757 758 759 760 761 762 763 764 765 766 767 768 769 770 771 772 773 774 775 776 777 778 779 780 781 782 783 784 785 786 787 788 789 790 791 792 793 794 795 796 797 798 799 800 801 802 803 804 805 806 807 808 809 810 811 812 813 814 815 816 817 818 819 820 821 822 823 824 825 826 827 828 829 830 831 832 833 834 835 836 837 838 839 840 841 842 843 844 845 846 847 848 849 850 851 852 853 854 855 856 857 858 859 860 861 862 863 864 865 866 867 868 869 870 871 872 873 874 875 876 877 878 879 880 881 882 883 884 885 886 887 888 889 890 891 892 893 894 895 896 897 898 899 900 901 902 903 904 905 906 907 908 909 910 911 912 913 914 915 916 917 918 919 920 921 922 923 924 925 926 927 928 929 930 931 932 933 934 935 936 937 938 939 940 941 942 943 944 945 946 947 948 949 950 951 952 953 954 955 956 957 958 959 960 961 962 963 964 965 966 967 968 969 970 971 972 973 974 975 976 977 978 979 980 981 982 983 984 985 986 987 988 989 990 991 992 993 994 995 996 997 998 999 1000 1001 1002 1003 1004 1005 1006 1007 1008 1009 1010 1011 1012 1013 1014 1015 1016 1017 1018 1019 1020 1021 1022 1023 1024 1025 1026 1027 1028 1029 1030 1031 1032 1033 1034 1035 1036 1037 1038 1039 1040 1041 1042 1043 1044 1045 1046 1047 1048 1049 1050 1051 1052 1053 1054 1055 1056 1057 1058 1059 1060 1061 1062 1063 1064 1065 1066 1067 1068 1069 1070 1071 1072 1073 1074 1075 1076 1077 1078 1079 1080 1081 1082 1083 1084 1085 1086 1087 1088 1089 1090 1091 1092 1093 1094 1095 1096 1097 1098 1099 1100 1101 1102 1103 1104 1105 1106 1107 1108 1109 1110 1111 1112 1113 1114 1115 1116 1117 1118 1119 1120 1121 1122 1123 1124 1125 1126 1127 1128 1129 1130 1131 1132 1133 1134 1135 1136 1137 1138 1139 1140 1141 1142 1143 1144 1145 1146 1147 1148 1149 1150 1151 1152 1153 1154 1155 1156 1157 1158 1159 1160 1161 1162 1163 1164 1165 1166 1167 1168 1169 1170 1171 1172 1173 1174 1175 1176 1177 1178 1179 1180 1181 1182 1183 1184 1185 1186 1187 1188 1189 1190 1191 1192 1193 1194 1195 1196 1197 1198 1199 1200 1201 1202 1203 1204 1205 1206 1207 1208 1209 1210 1211 1212 1213 1214 1215 1216 1217 1218 1219 1220 1221 1222 1223 1224 1225 1226 1227 1228 1229 1230 1231 1232 1233 1234 1235 1236 1237 1238 1239 1240 1241 1242 1243 1244 1245 1246 1247 1248 1249 1250 1251 1252 1253 1254 1255 1256 1257 1258 1259 1260 1261 1262 1263 1264 1265 1266 1267 1268 1269 1270 1271 1272 1273 1274 1275 1276 1277 1278 1279 1280 1281 1282 1283 1284 1285 1286 1287 1288 1289 1290 1291 1292 1293 1294 1295 1296 1297 1298 1299 1300 1301 1302 1303 1304 1305 1306 1307 1308 1309 1310 1311 1312 1313 1314 1315 1316 1317 1318 1319 1320 1321 1322 1323 1324 1325 1326 1327 1328 1329 1330 1331 1332 1333 1334 1335 1336 1337 1338 1339 1340 1341 1342 1343 1344 1345 1346 1347 1348 1349 1350 1351 1352 1353 1354 1355 1356 1357 1358 1359 1360 1361 1362 1363 1364 1365 1366 1367 1368 1369 1370 1371 1372 1373 1374 1375 1376 1377 1378 1379 1380 1381 1382 1383 1384 1385 1386 1387 1388 1389 1390 1391 1392 1393 1394 1395 1396 1397 1398 1399 1400 1401 1402 1403 1404 1405 1406 1407 1408 1409 1410 1411 1412 1413 1414 1415 1416 1417 1418 1419 1420 1421 1422 1423 1424 1425 1426 1427 1428 1429 1430 1431 1432 1433 1434 1435 1436 1437 1438 1439 1440 1441 1442 1443 1444 1445 1446 1447 1448 1449 1450 1451 1452 1453 1454 1455 1456 1457 1458 1459 1460 1461 1462 1463 1464 1465 1466 1467 1468 1469 1470 1471 1472 1473 1474 1475 1476 1477 1478 1479 1480 1481 1482 1483 1484 1485 1486 1487 1488 1489 1490 1491 1492 1493 1494 1495 1496 1497 1498 1499 1500 1501 1502 1503 1504 1505 1506 1507 1508 1509 1510 1511 1512 1513 1514 1515 1516 1517 1518 1519 1520 1521 1522 1523 1524 1525 1526 1527 1528 1529 1530 1531 1532 1533 1534 1535 1536 1537 1538 1539 1540 1541 1542 1543 1544 1545 1546 1547 1548 1549 1550 1551 1552 1553 1554 1555 1556 1557 1558 1559 1560 1561 1562 1563 1564 1565 1566 1567 1568 1569 1570 1571 1572 1573 1574 1575 1576 1577 1578 1579 1580 1581 1582 1583 1584 1585 1586 1587 1588 1589 1590 1591 1592 1593 1594 1595 1596 1597 1598 1599 1600 1601 1602 1603 1604 1605 1606 1607 1608 1609 1610 1611 1612 1613 1614 1615 1616 1617 1618 1619 1620 1621 1622 1623 1624 1625 1626 1627 1628 1629 1630 1631 1632 1633 1634 1635 1636 1637 1638 1639 1640 1641 1642 1643 1644 1645 1646 1647 1648 1649 1650 1651 1652 1653 1654 1655 1656 1657 1658 1659 1660 1661 1662 1663 1664 1665 1666 1667 1668 1669 1670 1671 1672 1673 1674 1675 1676 1677 1678 1679 1680 1681 1682 1683 1684 1685 1686 1687 1688 1689 1690 1691 1692 1693 1694 1695 1696 1697 1698 1699 1700 1701 1702 1703 1704 1705 1706 1707 1708 1709 1710 1711 1712 1713 1714 1715 1716 1717 1718 1719 1720 1721 1722 1723 1724 1725 1726 1727 1728 1729 1730 1731 1732 1733 1734 1735 1736 1737 1738 1739 1740 1741 1742 1743 1744 1745 1746 1747 1748 1749 1750 1751 1752 1753 1754 1755 1756 1757 1758 1759 1760 1761 1762 1763 1764 1765 1766 1767 1768 1769 1770 1771 1772 1773 1774 1775 1776 1777 1778 1779 1780 1781 1782 1783 1784 1785 1786 1787 1788 1789 1790 1791 1792 1793 1794 1795 1796 1797 1798 1799 1800 1801 1802 1803 1804 1805 1806 1807 1808 1809 1810 1811 1812 1813 1814 1815 1816 1817 1818 1819 1820 1821 1822 1823 1824 1825 1826 1827 1828 1829 1830 1831 1832 1833 1834 1835 1836 1837 1838 1839 1840 1841 1842 1843 1844 1845 1846 1847 1848 1849 1850 1851 1852 1853 1854 1855 1856 1857 1858 1859 1860 1861 1862 1863 1864 1865 1866 1867 1868 1869 1870 1871 1872 1873 1874 1875 1876 1877 1878 1879 1880 1881 1882 1883 1884 1885 1886 1887 1888 1889 1890 1891 1892 1893 1894 1895 1896 1897 1898 1899 1900 1901 1902 1903 1904 1905 1906 1907 1908 1909 1910 1911 1912 1913 1914 1915 1916 1917 1918 1919 1920 1921 1922 1923 1924 1925 1926 1927 1928 1929 1930 1931 1932 1933 1934 1935 1936 1937 1938 1939 1940 1941 1942 1943 1944 1945 1946 1947 1948 1949 1950 1951 1952 1953 1954 1955 1956 1957 1958 1959 1960 1961 1962 1963 1964 1965 1966 1967 1968 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 2029 2030 2031 2032 2033 2034 2035 2036 2037 2038 2039 2040 2041 2042 2043 2044 2045 2046 2047 2048 2049 2050 2051 2052 2053 2054 2055 2056 2057 2058 2059 2060 2061 2062 2063 2064 2065 2066 2067 2068 2069 2070 2071 2072 2073 2074 2075 2076 2077 2078 2079 2080 2081 2082 2083 2084 2085 2086 2087 2088 2089 2090 2091 2092 2093 2094 2095 2096 2097 2098 2099 2100 2101 2102 2103 2104 2105 2106 2107 2108 2109 2110 2111 2112 2113 2114 2115 2116 2117 2118 2119 2120 2121 2122 2123 2124 2125 2126 2127 2128 2129 2130 2131 2132 2133 2134 2135 2136 2137 2138 2139 2140 2141 2142 2143 2144 2145 2146 2147 2148 2149 2150 2151 2152 2153 2154 2155 2156 2157 2158 2159 2160 2161 2162 2163 2164 2165 2166 2167 2168 2169 2170 2171 2172 2173 2174 2175 2176 2177 2178 2179 2180 2181 2182 2183 2184 2185 2186 2187 2188 2189 2190 2191 2192 2193 2194 2195 2196 2197 2198 2199 2200 2201 2202 2203 2204 2205 2206 2207 2208 2209 2210 2211 2212 2213 2214 2215 2216 2217 2218 2219 2220 2221 2222 2223 2224 2225 2226 2227 2228 2229 2230 2231 2232 2233 2234 2235 2236 2237 2238 2239 2240 2241 2242 2243 2244 2245 2246 2247 2248 2249 2250 2251 2252 2253 2254 2255 2256 2257 2258 2259 2260 2261 2262 2263 2264 2265 2266 2267 2268 2269 2270 2271 2272 2273 2274 2275 2276 2277 2278 2279 2280 2281 2282 2283 2284 2285 2286 2287 2288 2289 2290 2291 2292 2293 2294 2295 2296 2297 2298 2299 2300 2301 2302 2303 2304 2305 2306 2307 2308 2309 2310 2311 2312 2313 2314 2315 2316 2317 2318 2319 2320 2321 2322 2323 2324 2325 2326 2327 2328 2329 2330 2331 2332 2333 2334 2335 2336 2337 2338 2339 2340 2341 2342 2343 2344 2345 2346 2347 2348 2349 2350 2351 2352 2353 2354 2355 2356 2357 2358 2359 2360 2361 2362 2363 2364 2365 2366 2367 2368 2369 2370 2371 2372 2373 2374 2375 2376 2377 2378 2379 2380 2381 2382 2383 2384 2385 2386 2387 2388 2389 2390 2391 2392 2393 2394 2395 2396 2397 2398 2399 2400 2401 2402 2403 2404 2405 2406 2407 2408 2409 2410 2411 2412 2413 2414 2415 2416 2417 2418 2419 2420 2421 2422 2423 2424 2425 2426 2427 2428 2429 2430 2431 2432 2433