Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 24260 | 26 Feb 2026
Klinis : Seorang ibu mengeluh tentang prilaku anak perempuannya yang berusia 4 tahun, ibu mengatakan bahwa ia bingung karena sejak umur 3 tahun anaknya sering marah-marah, berteriak dan menangis jika permintaannya tidak segera dituruti. Sampai saat ini anak tidak mau bersosialisasi dengan keluarganya maupun lingkungan sekitarnya. Selama ini ibu selalu menuruti keinganan sang anak, ibu tidak mengerti apa yang harus ja lakukan. Saat dikajı lebih lanjut, ternyata sang anak sering mendapatkan prilaku kekerasan dari ayahnya.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Perilaku Kekerasan
Kode SDKI: D.0036
Deskripsi Singkat: Risiko Perilaku Kekerasan adalah keadaan di mana seorang individu berisiko untuk bertindak agresif terhadap diri sendiri, orang lain, atau lingkungan, yang dapat mengakibatkan cedera atau kerusakan. Pada kasus ini, anak perempuan berusia 4 tahun menunjukkan perilaku marah-marah, berteriak, dan menangis yang intens ketika keinginannya tidak dituruti, serta menarik diri dari sosialisasi. Perilaku ini merupakan respons yang dipelajari dan kemungkinan besar dipicu oleh paparan kekerasan dari ayahnya (korban kekerasan dalam rumah tangga/child abuse) dan pola pengasuhan yang permisif dari ibu yang selalu menuruti keinginan anak untuk menghindari konflik. Kombinasi trauma akibat kekerasan dan tidak adanya batasan yang konsisten menciptakan risiko tinggi bagi anak untuk menginternalisasi kekerasan sebagai cara menyelesaikan masalah atau mengekspresikan emosi, yang dapat berkembang menjadi perilaku kekerasan yang lebih serius seiring pertumbuhannya jika tidak diintervensi.
Kode SLKI: L.01449
Deskripsi : SLKI L.01449 berfokus pada pengendalian perilaku kekerasan. Tujuan utama intervensi keperawatan dalam kasus ini adalah agar anak dapat mengontrol perilaku agresifnya dan mulai mengungkapkan perasaan serta kebutuhannya dengan cara yang lebih adaptif. Luaran yang diharapkan mencakup penurunan frekuensi dan intensitas ledakan amarah (tantrum), penurunan perilaku berteriak dan menangis yang tidak terkendali, serta peningkatan kemampuan anak untuk mengekspresikan emosi dengan kata-kata atau melalui permainan yang aman. Selain itu, luaran jangka panjang termasuk anak mulai menunjukkan kesediaan untuk berinteraksi secara positif dengan anggota keluarga terdekat terlebih dahulu, sebagai langkah awal sosialisasi. Pencapaian luaran ini memerlukan waktu dan keterlibatan konsisten dari pengasuh utama (ibu) dan lingkungan yang aman.
Kode SIKI: I.01264
Deskripsi : SIKI I.01264 adalah intervensi "Manajemen Perilaku Kekerasan". Intervensi ini dirancang untuk membantu individu (dalam hal ini anak) mengurangi atau mengeliminasi perilaku agresif atau kasar. Implementasinya pada kasus anak usia 4 tahun ini bersifat multi-aspek dan melibatkan pendekatan tidak langsung melalui ibu sebagai pengasuh utama. Pertama, perawat perlu menciptakan lingkungan terapeutik yang aman dan bebas dari ancaman kekerasan, termasuk memastikan anak terlindungi dari paparan lebih lanjut terhadap kekerasan dari ayahnya (mungkin perlu kolaborasi dengan pekerja sosial atau pihak berwenang). Kedua, edukasi dan pelatihan kepada ibu tentang pengasuhan positif sangat krusial. Ibu perlu dibimbing untuk memahami penyebab perilaku anak (trauma dan ketidakmampuan mengatur emosi), pentingnya menetapkan batasan yang konsisten dan tegas namun penuh kasih sayang (bukan permisif atau keras), serta teknik mengalihkan perhatian (redirecting) dan time-out yang tepat untuk usia prasekolah. Ketiga, perawat dapat mengajarkan ibu teknik-teknik sederhana untuk membantu anak mengenali emosinya, seperti memberi nama emosi ("Kamu marah ya karena mainannya diambil?"), dan memberikan alternatif ekspresi, seperti memukul bantal atau menggambar amarahnya. Keempat, intervensi melibatkan terapi bermain, di mana anak diberikan ruang untuk mengekspresikan perasaan takut, marah, dan trauma melalui media bermain yang dipandu, sehingga emosi yang terpendam dapat dikeluarkan dengan cara yang aman. Kelima, membangun kelekatan (attachment) yang sehat antara ibu dan anak melalui aktivitas bermain bersama yang positif dan pemberian pujian untuk perilaku yang baik. Seluruh intervensi harus dilakukan dengan penuh kesabaran, empati, dan konsistensi, mengingat anak adalah korban yang membutuhkan rasa aman dan pemahaman bahwa dunia bisa diprediksi dan tidak menakutkan. Kolaborasi dengan psikolog anak atau psikiater mungkin diperlukan untuk penanganan trauma yang lebih mendalam.
-
Article No. 24261 | 26 Feb 2026
Klinis : Seorang ibu mengeluh tentang prilaku anak perempuannya yang berusia 4 tahun, ibu mengatakan bahwa ia bingung karena sejak umur 3 tahun anaknya sering marah-marah, berteriak dan menangis jika permintaannya tidak segera dituruti. Sampai saat ini anak tidak mau bersosialisasi dengan keluarganya maupun lingkungan sekitarnya. Selama ini ibu selalu menuruti keinganan sang anak, ibu tidak mengerti apa yang harus ja lakukan. Saat dikajı lebih lanjut, ternyata sang anak sering mendapatkan prilaku kekerasan dari ayahnya.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Perilaku Kekerasan
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Status dimana individu berisiko untuk melakukan tindakan yang dapat menyebabkan kerusakan fisik, emosional, dan/atau seksual pada diri sendiri, orang lain, atau lingkungan.
Kode SLKI: L.03119
Deskripsi : Perilaku kekerasan dapat dicegah. Penjelasan: Diagnosa keperawatan "Risiko Perilaku Kekerasan" dipilih karena data pada kasus menunjukkan faktor risiko yang sangat kuat pada anak. Meskipun anak (sebagai korban) saat ini menunjukkan perilaku marah, berteriak, dan menarik diri, fokus diagnosa adalah pada risiko anak untuk meniru dan memunculkan perilaku kekerasan sebagai cara beradaptasi yang dipelajarinya dari lingkungan. Faktor risiko utama adalah paparan kekerasan langsung dari ayahnya. Anak menyaksikan dan mengalami bahwa konflik atau keinginan yang tidak terpenuhi diselesaikan dengan kekerasan. Selain itu, pola pengasuhan ibu yang selalu menuruti permintaan anak untuk menghindari ledakan emosi (reinforcement negatif) justru memperkuat pola perilaku maladaptif anak. Ketidakmampuan anak untuk bersosialisasi mengindikasikan hambatan perkembangan sosial-emosional yang parah, yang sering dikaitkan dengan akumulasi frustrasi dan kemarahan yang dapat termanifestasi sebagai perilaku kekerasan. Dengan demikian, intervensi keperawatan diarahkan untuk mencegah eskalasi dari kemarahan dan isolasi sosial menjadi tindakan kekerasan yang aktif, baik terhadap diri sendiri, orang lain, atau benda di sekitarnya.
Kode SIKI: I.05041
Deskripsi : Lakukan manajemen perilaku kekerasan. Penjelasan: Intervensi ini mencakup serangkaian tindakan yang komprehensif dan harus melibatkan anak, ibu, dan lingkungan yang lebih luas. Pertama, prioritas adalah menciptakan lingkungan yang aman secara fisik dan psikologis bagi anak, yang mungkin berarti perlu melibatkan pihak ketiga (seperti pekerja sosial atau lembaga perlindungan anak) untuk mengatasi sumber kekerasan utama dari ayah. Keamanan adalah fondasi sebelum intervensi perilaku bisa berhasil. Kedua, pada anak, perawat perlu membangun hubungan terapeutik dengan pendekatan yang tenang, konsisten, dan penuh penerimaan untuk membangun kepercayaan. Teknik modifikasi perilaku seperti pemberian pujian untuk perilaku positif, pengalihan (redirecting) saat anak mulai marah, dan menetapkan batasan yang jelas dan konsisten sangat penting. Ibu perlu dilatih untuk menerapkan teknik-teknik ini, menggantikan pola menuruti semua permintaan. Ketiga, terapi bermain dapat menjadi media bagi anak untuk mengekspresikan emosi, ketakutan, dan pengalamannya secara aman. Bermain peran (role-play) dapat mengajarkan cara menyelesaikan konflik tanpa kekerasan. Keempat, intervensi pada ibu sangat krusial. Ibu membutuhkan edukasi tentang perkembangan anak normal, dampak kekerasan domestik pada anak, dan keterampilan pengasuhan positif (positive parenting). Ibu juga perlu didukung secara emosional dan diberdayakan untuk mengambil langkah melindungi anak dari kekerasan lebih lanjut. Kelima, kolaborasi dengan psikolog anak atau psikiater diperlukan untuk evaluasi lebih mendalam dan terapi jika dibutuhkan, serta dengan pekerja sosial untuk penanganan situasi kekerasan dalam rumah tangga. Tujuan akhir SIKI ini adalah mengurangi faktor risiko, meningkatkan kemampuan koping adaptif anak dan ibu, serta mencegah terjadinya siklus kekerasan yang berlanjut.
-
Article No. 24262 | 26 Feb 2026
Klinis : Seorang ibu mengeluh tentang prilaku anak perempuannya yang berusia 4 tahun, ibu mengatakan bahwa ia bingung karena sejak umur 3 tahun anaknya sering marah-marah, berteriak dan menangis jika permintaannya tidak segera dituruti. Sampai saat ini anak tidak mau bersosialisasi dengan keluarganya maupun lingkungan sekitarnya. Selama ini ibu selalu menuruti keinganan sang anak, ibu tidak mengerti apa yang harus ja lakukan. Saat dikajı lebih lanjut, ternyata sang anak sering mendapatkan prilaku kekerasan dari ayahnya.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Perilaku Kekerasan pada Anak
Kode SDKI: D.0017
Deskripsi Singkat: Risiko respons perilaku destruktif-diri atau terhadap orang lain, benda, atau lingkungan yang dapat menyebabkan kerusakan fisik atau psikologis.
Kode SLKI: L.01139
Deskripsi : Anak mengontrol perilaku kekerasan. Indikator: 1) Mengidentifikasi pemicu perilaku kekerasan, 2) Menggunakan strategi koping untuk mengontrol perilaku kekerasan, 3) Melaporkan tidak ada perilaku kekerasan, 4) Berpartisipasi dalam aktivitas yang sesuai usia, 5) Berinteraksi dengan orang lain secara positif.
Kode SIKI: I.01249
Deskripsi : Manajemen perilaku kekerasan. Tindakan: 1) Monitor tanda-tanda peningkatan agitasi dan perilaku kekerasan, 2) Kurangi stimulus lingkungan yang memicu kekerasan, 3) Berikan lingkungan yang aman dan tenang, 4) Berikan pengalihan pada aktivitas yang sesuai usia, 5) Ajarkan keterampilan koping dan kontrol impuls (misal: menarik napas dalam, mengungkapkan perasaan dengan kata-kata), 6) Berikan pujian saat anak mampu mengontrol perilaku, 7) Kolaborasi dengan tenaga profesional (psikolog/psikiater) untuk terapi perilaku, 8) Edukasi keluarga tentang pola asuh positif dan dampak kekerasan pada anak.
Kondisi: Perilaku Koping Individu Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0097
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan mengelola stres internal atau lingkungan secara sehat karena ketidakadekuatan sumber daya (fisik, psikologis, perilaku, kognitif).
Kode SLKI: L.01109
Deskripsi : Koping efektif. Indikator: 1) Mengidentifikasi kemampuan koping personal, 2) Mengidentifikasi sumber koping yang tersedia, 3) Menggunakan strategi koping untuk mengelola stres, 4) Melaporkan penurunan keluhan fisik dan emosional, 5) Melakukan aktivitas sesuai peran dan perkembangan.
Kode SIKI: I.01224
Deskripsi : Peningkatan koping. Tindakan: 1) Dorong anak untuk mengekspresikan perasaan dan ketakutan, 2) Bantu anak mengidentifikasi situasi yang memicu stres dan marah, 3 Ajarkan teknik koping sederhana (napas dalam, menghitung, menggambar perasaan), 4) Latih anak untuk mengomunikasikan keinginan dengan kata-kata, bukan amukan, 5) Berikan penguatan positif saat anak menggunakan koping yang adaptif, 6) Libatkan anak dalam permainan atau aktivitas yang menyenangkan untuk menyalurkan energi, 7) Kolaborasi dengan keluarga untuk menciptakan lingkungan rumah yang konsisten dan suportif.
Kondisi: Interaksi Sosial Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0101
Deskripsi Singkat: Ketidakadekuatan dalam menciptakan atau mempertahankan hubungan yang mendukung secara timbal balik dengan orang lain atau lingkungan.
Kode SLKI: L.03064
Deskripsi : Interaksi sosial efektif. Indikator: 1) Melakukan kontak sosial dengan orang lain, 2) Berkomunikasi sesuai konteks sosial, 3) Menunjukkan minat pada orang lain, 4) Berpartisipasi dalam aktivitas kelompok sesuai usia, 5) Membina hubungan dengan teman sebaya.
Kode SIKI: I.05037
Deskripsi : Terapi bermain. Tindakan: 1) Sediakan lingkungan bermain yang aman dan nyaman, 2) Lakukan pendekatan secara bertahap, mulai dari observasi hingga keterlibatan penuh, 3) Gunakan permainan yang mendorong interaksi dan kerja sama (misal: bermain bola, puzzle bersama), 4) Fasilitasi interaksi dengan teman sebaya dalam kelompok kecil dan terawasi, 5) Beri contoh interaksi sosial yang positif melalui role-play, 6) Berikan pujian untuk setiap usaha anak berinteraksi, 7) Libatkan keluarga dalam sesi bermain untuk meningkatkan ikatan dan kepercayaan anak.
-
Article No. 24263 | 26 Feb 2026
Klinis : 1. Risiko Perfusi Miokard Tidak Efektif. • Riwayat hipertensi lama • Tidak rutin minum obat antihipertensi • Nyeri dada saat aktivitas DO: • TD 170/100 mmHg • Kolesterol 290 mg/dl • EKG menunjukkan iskemia miokard • Usia 68 tahun • Riwayat keluarga penyakit jantung Hipertensi kronis tidak terkontrol + hiperlipidemia + usia lanjut → aterosklerosis arteri koroner → penyempitan lumen pembuluh koroner → aliran darah miokard berkurang → risiko ketidakseimbangan suplai oksigen miokard → Risiko perfusi miokard tidak efektif 2. Nyeri Akut DS: • Klien mengatakan nyeri dada seperti tertindih/tertekan • Skala nyeri 6/10 • Nyeri muncul saat aktivitas (berjalan jauh, naik tangga) • Nyeri berkurang saat istirahat DO: • Wajah tampak tegang saat nyeri • TD 170/100 mmHg • Nadi 92x/menit • Hasil EKG: iskemia miokard Hipertensi tidak terkontrol + aterosklerosis → aliran darah koroner menurun → iskemia miokard → stimulasi reseptor nyeri → nyeri dada 3. Intoleransi Aktivitas DS: • Klien mengatakan mudah lelah • Sesak ringan saat aktivitas • Aktivitas dibatasi karena takut nyeri muncul DO: • Nadi 92x/menit • Kekuatan otot 4/5 • ADL terbatas saat aktivitas berat • Tampak cepat lelah Iskemia miokard → suplai oksigen tidak adekuat saat aktivitas → kelelahan dan sesak → intoleransi aktivitas
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Perfusi Miokard Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0010
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan sirkulasi darah ke otot jantung yang dapat mengancam kehidupan.
Kode SLKI: L.03103
Deskripsi : Perawat mengelola risiko perfusi miokard tidak efektif dengan melakukan pemantauan ketat terhadap tanda dan gejala iskemia atau infark miokard, termasuk nyeri dada, perubahan tanda vital (terutama tekanan darah dan nadi), serta perubahan pada EKG. Perawat juga mengidentifikasi dan memodifikasi faktor risiko yang dapat dikendalikan, seperti mendorong kepatuhan terhadap regimen obat antihipertensi dan penurun lipid, serta memberikan edukasi tentang pola hidup sehat untuk mengontrol hipertensi dan hiperkolesterolemia. Tindakan ini bertujuan untuk mencegah terjadinya penurunan aliran darah koroner yang dapat berakibat fatal, seperti serangan jantung. Pemantauan yang berkelanjutan dan edukasi yang komprehensif menjadi kunci dalam menstabilkan kondisi pasien dengan risiko tinggi ini.
Kode SIKI: I.01284
Deskripsi : Perawat melakukan pemantauan tanda-tanda perfusi miokard tidak efektif, seperti nyeri dada, dispnea, diaforesis, pucat, perubahan tekanan darah, nadi, dan bunyi jantung. Perawat juga memantau hasil pemeriksaan diagnostik (seperti EKG dan enzim jantung) dan mencatat perkembangannya. Selain itu, perawat mengajarkan kepada klien dan keluarga tentang faktor risiko penyakit jantung koroner (hipertensi, hiperkolesterolemia, merokok, diabetes, riwayat keluarga, gaya hidup sedentari) dan cara memodifikasinya. Perawat mendorong klien untuk mengungkapkan perasaan dan kekhawatiran mengenai kondisinya serta memberikan dukungan emosional. Intervensi ini bersifat preventif dan edukatif, berfokus pada deteksi dini dan pengurangan faktor risiko untuk mencegah realisasi dari risiko yang ada menjadi masalah aktual.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0029
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensori dan emosional tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, yang terjadi secara tiba-tiba atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat, dan diperkirakan berakhir dalam waktu kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: L.03001
Deskripsi : Perawat mengelola nyeri akut dengan melakukan pengkajian nyeri yang komprehensif, termasuk lokasi, karakteristik, intensitas (menggunakan skala 0-10), faktor pencetus (seperti aktivitas), dan faktor pereda (seperti istirahat). Perawat kemudian mengajarkan dan mendorong penggunaan teknik non-farmakologis untuk mengurangi nyeri, seperti relaksasi napas dalam dan teknik distraksi. Perawat juga berkolaborasi dengan tim medis dalam pemberian analgesik yang sesuai (misalnya nitrogliserin untuk angina) dan memantau efektivitas serta efek sampingnya. Tujuan akhirnya adalah mengurangi intensitas nyeri yang dialami klien hingga tingkat yang dapat ditoleransi atau menghilangkannya sama sekali, sehingga meningkatkan kenyamanan dan mengurangi beban stres kardiovaskular akibat nyeri.
Kode SIKI: I.01229
Deskripsi : Perawat mengkaji nyeri secara komprehensif dengan metode PQRST (Provocation/Palliation, Quality, Region/Radiation, Severity, Time). Perawat mengobservasi respons nonverbal terhadap nyeri (ekspresi wajah, postur tubuh, gelisah). Perawat menciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman untuk mendukung upaya penghilangan nyeri. Perawat mengajarkan teknik non-farmakologis seperti relaksasi napas dalam dan imajinasi terbimbing. Perawat memberikan analgesik sesuai instruksi dan memantau efektivitas serta efek sampingnya. Perawat juga mendokumentasikan respons klien terhadap intervensi yang diberikan. Intervensi ini bersifat langsung untuk mengatasi sumber distress, menggabungkan pendekatan farmakologis dan non-farmakologis, serta berfokus pada pengendalian nyeri untuk mencegah komplikasi lebih lanjut seperti syok atau aritmia akibat nyeri hebat.
Kondisi: Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI: D.0095
Deskripsi Singkat: Ketidakcukupan energi fisiologis atau psikologis untuk bertahan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang diperlukan atau diinginkan.
Kode SLKI: L.09001
Deskripsi : Perawat mengelola intoleransi aktivitas dengan memantau respons fisiologis klien terhadap aktivitas, seperti perubahan denyut nadi, tekanan darah, pernapasan, dan skala nyeri sebelum, selama, dan setelah aktivitas. Perawat kemudian membantu klien dalam mengidentifikasi dan merencanakan aktivitas yang dapat ditoleransi, dengan menyusun jadwal aktivitas yang diselingi periode istirahat yang cukup. Perawat juga mengajarkan teknik penghematan energi, seperti duduk saat melakukan aktivitas tertentu dan menghindari aktivitas yang menahan napas (manuver Valsalva). Tujuannya adalah meningkatkan toleransi aktivitas klien secara bertahap, mengurangi keluhan kelelahan dan sesak, serta memungkinkan klien melakukan Aktivitas Kehidupan Sehari-hari (AKS) secara mandiri tanpa memicu iskemia miokard.
Kode SIKI: I.04043
Deskripsi : Perawat mengkaji faktor penyebab kelelahan (seperti penurunan curah jantung, nyeri, atau efek samping obat). Perawat memantau tanda vital dan respons klien terhadap aktivitas. Perawat mendorong klien untuk menyampaikan perasaan lelahnya dan membantu mengidentifikasi pola kelelahan. Perawat bersama klien menyusun rencana aktivitas harian yang realistis dengan menyeimbangkan aktivitas dan istirahat. Perawat mengajarkan teknik penghematan energi dan mendorong partisipasi dalam aktivitas sesuai toleransi. Perawat juga memberikan bantuan dalam AKS jika diperlukan, sambil mendorong kemandirian secara bertahap. Intervensi ini bersifat suportif dan rehabilitatif, bertujuan untuk mengoptimalkan fungsi fisik klien dalam batas-batas aman yang ditentukan oleh kondisi kardiovaskularnya, sehingga meningkatkan kualitas hidup dan mencegah deconditioning (penurunan kondisi fisik) lebih lanjut.
-
Article No. 24264 | 26 Feb 2026
Klinis : 1. Risiko Perfusi Miokard Tidak Efektif. • Riwayat hipertensi lama • Tidak rutin minum obat antihipertensi • Nyeri dada saat aktivitas DO: • TD 170/100 mmHg • Kolesterol 290 mg/dl • EKG menunjukkan iskemia miokard • Usia 68 tahun • Riwayat keluarga penyakit jantung Hipertensi kronis tidak terkontrol + hiperlipidemia + usia lanjut → aterosklerosis arteri koroner → penyempitan lumen pembuluh koroner → aliran darah miokard berkurang → risiko ketidakseimbangan suplai oksigen miokard → Risiko perfusi miokard tidak efektif 2. Nyeri Akut DS: • Klien mengatakan nyeri dada seperti tertindih/tertekan • Skala nyeri 6/10 • Nyeri muncul saat aktivitas (berjalan jauh, naik tangga) • Nyeri berkurang saat istirahat DO: • Wajah tampak tegang saat nyeri • TD 170/100 mmHg • Nadi 92x/menit • Hasil EKG: iskemia miokard Hipertensi tidak terkontrol + aterosklerosis → aliran darah koroner menurun → iskemia miokard → stimulasi reseptor nyeri → nyeri dada 3. Intoleransi Aktivitas DS: • Klien mengatakan mudah lelah • Sesak ringan saat aktivitas • Aktivitas dibatasi karena takut nyeri muncul DO: • Nadi 92x/menit • Kekuatan otot 4/5 • ADL terbatas saat aktivitas berat • Tampak cepat lelah Iskemia miokard → suplai oksigen tidak adekuat saat aktivitas → kelelahan dan sesak → intoleransi aktivitas
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Perfusi Miokard Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan sirkulasi darah ke otot jantung yang dapat mengakibatkan iskemia atau kerusakan miokard.
Kode SLKI: L.03101
Deskripsi : Perfusi miokard membaik, ditandai dengan: 1) Tekanan darah dalam rentang yang diharapkan, 2) Denyut jantung dalam rentang yang diharapkan, 3) Tidak ada keluhan nyeri dada, 4) Hasil EKG menunjukkan tidak ada tanda iskemia/infark baru, 5) Nilai enzim jantung dalam batas normal.
Kode SIKI: I.01210
Deskripsi : Pemantauan perfusi miokard, meliputi: 1) Memantau tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan) setiap 4 jam atau sesuai kondisi, 2) Memantau keluhan nyeri dada (skala, lokasi, penyebaran, pemicu, durasi), 3) Memantau hasil pemeriksaan penunjang (EKG, enzim jantung), 4) Memantau tanda hipoksia (kulit pucat, sianosis, gelisah), 5) Memantau irama jantung. Edukasi untuk mencegah iskemia, meliputi: 1) Memberikan informasi tentang faktor risiko penyakit jantung koroner, 2) Memberikan informasi tentang tanda dan gejala iskemia miokard, 3) Memberikan informasi tentang pentingnya kepatuhan minum obat, 4) Memberikan informasi tentang modifikasi gaya hidup (diet, aktivitas, berhenti merokok). Manajemen terapi, meliputi: 1) Memberikan terapi oksigen sesuai program, 2) Memberikan terapi farmakologi sesuai program (nitrat, antiplatelet, antihipertensi, penurun lipid), 3) Mengatur keseimbangan cairan. Kolaborasi pemberian terapi farmakologi sesuai indikasi.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0028
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensori dan emosional tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah seperti cedera; timbul tiba-tiba atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat, dan perkiraan akhirnya dapat diantisipasi.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Nyeri terkontrol, ditandai dengan: 1) Melaporkan nyeri berkurang/hilang, 2) Skala nyeri menurun (skala 0-3), 3) Tanda vital dalam rentang normal, 4) Ekspresi wajah rileks, 5) Dapat beristirahat/tidur dengan nyaman, 6) Dapat melakukan aktivitas sesuai kemampuan.
Kode SIKI: I.08001
Deskripsi : Manajemen nyeri, meliputi: 1) Mengkaji karakteristik nyeri (PQRST: Provokasi, Quality, Region, Severity, Time), 2) Mengobservasi respons nonverbal terhadap nyeri (ekspresi wajah, postur tubuh, gelisah), 3) Memantau tanda vital sebelum dan sesudah intervensi nyeri. Terapi nonfarmakologi, meliputi: 1) Mengajarkan teknik distraksi (napas dalam, mendengarkan musik, visualisasi), 2) Memberikan lingkungan yang tenang, 3) Membantu posisi yang nyaman. Kolaborasi pemberian analgesik sesuai indikasi. Evaluasi efektivitas intervensi nyeri (skala nyeri, tanda vital, ekspresi wajah). Edukasi tentang manajemen nyeri mandiri.
Kondisi: Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI: D.0091
Deskripsi Singkat: Ketidakcukupan energi fisiologis atau psikologis untuk bertahan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang diperlukan atau diinginkan.
Kode SLKI: L.03005
Deskripsi : Toleransi aktivitas meningkat, ditandai dengan: 1) Melaporkan peningkatan kemampuan melakukan aktivitas, 2) Tanda vital (nadi, tekanan darah, pernapasan) dalam batas normal saat aktivitas, 3) Tidak mengalami sesak napas saat aktivitas, 4) Tidak mengalami kelelahan berlebihan, 5) Tidak mengalami nyeri dada saat aktivitas, 6) Kekuatan otot membaik.
Kode SIKI: I.03003
Deskripsi : Manajemen energi, meliputi: 1) Mengkaji faktor penyebab kelelahan (iskemia, nyeri, hipoksia), 2) Memantau respons fisiologis terhadap aktivitas (tanda vital, saturasi oksigen, keluhan nyeri/ sesak), 3) Mengatur jadual aktivitas dan istirahat seimbang. Latihan aktivitas bertahap, meliputi: 1) Membantu aktivitas sesuai toleransi, 2) Meningkatkan aktivitas secara bertahap (rentang gerak, duduk, berdiri, berjalan), 3) Mengajarkan teknik menghemat energi (duduk saat melakukan aktivitas, istirahat teratur). Dukungan pemenuhan nutrisi dan oksigenasi, meliputi: 1) Memastikan asupan nutrisi dan cairan adekuat, 2) Memberikan oksigen sesuai indikasi selama aktivitas. Edukasi tentang pengenalan tanda intoleransi aktivitas dan kapan harus berhenti beraktivitas.
-
Article No. 24265 | 26 Feb 2026
Klinis : DS : Pasien menyatakan mengalami sesak napas dan batuk sejak tiga hari yang lalu. Batuk menghasilkan dahak berwarna kuning kehijauan dalam jumlah sedikit, atau pasien tidak dapat mengeluarkan dahak secara maksimal. DO :Pasien terlihat batuk bedahak dan sesak nafas, bunyi pernapasan wheezing, terdengar bunyi suara napas tambahan (ronchi) yang menandakan adanya sekret atau lendir, pernapasan cepat / takipnea dan sesak napas/dispnea, adanya penggunaan otot bantu, terpasang oksigen 2 lpm,terpasang infus RL 20 tpm di tangan kiri. Tanda – tanda vital : Tekanan darah : 140/90 mmHg, kekuatan + Nadi : 78 x/menit, irama reguler, kuat sama kuat Respiration Rate : 28 x/menit, irama regular, eupnea Suhu : 36,5°C SPO2 :97%
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0005
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang paten.
Kode SLKI: L.04001
Deskripsi : SLKI L.04001: Bersihan jalan napas. Tujuan akhir dari intervensi keperawatan adalah agar jalan napas pasien tetap paten dengan suara napas bersih, tidak ada sianosis, dan pasien mampu mengeluarkan sekret secara efektif. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: 1) Jalan napas paten ditandai dengan suara napas bersih (vesikuler) di semua lapang paru, tidak ada stridor atau wheezing persisten. 2) Pola napas normal (eupnea) dengan frekuensi sesuai usia, irama teratur, dan tidak ada penggunaan otot bantu napas. 3) Ekspansi dada simetris dan adekuat. 4) Pasien mampu batuk efektif dan mengeluarkan sekret (jika ada). 5) Warna kulit dan membran mukosa normal (tidak sianosis). 6) Nilai saturasi oksigen (SpO2) dalam rentang normal (≥95%). Pencapaian kriteria ini menunjukkan bahwa intervensi untuk mengatasi ketidakefektifan bersihan jalan napas berhasil.
Kode SIKI: I.08001, I.08002, I.08003, I.08004, I.08005, I.08006, I.08007, I.08008, I.08009, I.08010, I.08011, I.08012, I.08013
Deskripsi : SIKI untuk manajemen bersihan jalan napas tidak efektif mencakup serangkaian intervensi yang komprehensif dan sistematis. Pertama, **memantau status pernapasan (I.08001)** secara ketat meliputi frekuensi, irama, kedalaman, penggunaan otot bantu, dan suara napas (seperti wheezing dan ronchi yang ditemukan pada pasien). **Memantau kepatenan jalan napas (I.08002)** adalah prioritas mutlak. **Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi (I.08003)**, seperti posisi semi-Fowler atau Fowler tinggi, untuk membantu ekspansi paru dan memudahkan upaya napas. **Ajarkan batuk efektif dan latihan napas dalam (I.08004)** sangat krusial pada pasien ini yang mengalami batuk tidak produktif atau ketidakmampuan mengeluarkan dahak maksimal. Perawat mendemonstrasikan dan membimbing pasien untuk menarik napas dalam, menahannya sebentar, lalu batik dengan kuat. **Lakukan fisioterapi dada (I.08005)** seperti perkusi, vibrasi, dan drainase postural dapat membantu melonggarkan sekret yang kental (dahak kuning kehijauan). **Lakukan penghisapan lendir (I.08006)** jika pasien tidak mampu mengeluarkan sekret sendiri meski telah dibantu. **Berikan terapi oksigen (I.08007)** sesuai program dokter (seperti yang terpasang 2 lpm) dan pantau efektivitasnya melalui SpO2 dan tanda klinis. **Berikan nebulizer/terapi inhalasi (I.08008)** sesuai instruksi untuk membantu mengencerkan sekret dan melebarkan bronkus (mengurangi wheezing). **Pertahankan hidrasi adekuat (I.08009)** dengan pemberian cairan intravena (seperti RL yang terpasang) dan anjurkan minum oral jika mampu, untuk mengencerkan sekret. **Kaji karakteristik sputum (I.08010)** termasuk jumlah, warna, konsistensi, dan bau sebagai evaluasi kondisi dan efektivitas terapi. **Lakukan manajemen sekret (I.08011)** dengan menyediakan wadah sputum dan memastikan kebersihan mulut setelah batuk. **Monitor analisa gas darah (I.08012)** jika diperlukan untuk menilai status pertukaran gas secara lebih akurat. Terakhir, **kolaborasi pemberian obat (I.08013)** seperti bronkodilator, mukolitik, atau antibiotik sesuai resep dokter. Semua intervensi ini dilakukan secara terintegrasi, dinilai terus menerus, dan didokumentasikan untuk mencapai SLKI yang ditargetkan.
-
Article No. 24266 | 26 Feb 2026
Klinis : DS : Pasien menyatakan mengalami sesak napas dan batuk sejak tiga hari yang lalu. Batuk menghasilkan dahak berwarna kuning kehijauan dalam jumlah sedikit, atau pasien tidak dapat mengeluarkan dahak secara maksimal. DO :Pasien terlihat batuk bedahak dan sesak nafas, bunyi pernapasan wheezing, terdengar bunyi suara napas tambahan (ronchi) yang menandakan adanya sekret atau lendir, pernapasan cepat / takipnea dan sesak napas/dispnea, adanya penggunaan otot bantu, terpasang oksigen 2 lpm,terpasang infus RL 20 tpm di tangan kiri. Tanda – tanda vital : Tekanan darah : 140/90 mmHg, kekuatan + Nadi : 78 x/menit, irama reguler, kuat sama kuat Respiration Rate : 28 x/menit, irama regular, eupnea Suhu : 36,5°C SPO2 :97%
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Bronkitis Akut dengan Obstruksi Jalan Napas
Kode ICD-10: J20.9
Deskripsi Singkat : Kode J20.9 mengindikasikan diagnosis Bronkitis Akut yang Tidak Spesifik. Kondisi ini ditandai dengan peradangan akut pada bronkus, biasanya disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri, yang berlangsung kurang dari tiga minggu. Pada kasus ini, pasien menunjukkan gejala khas berupa batuk produktif dengan dahak purulen (kuning kehijauan) atau batuk tidak produktif, disertai sesak napas (dispnea). Temuan pemeriksaan fisik seperti wheezing (mengi) dan ronchi mengkonfirmasi adanya obstruksi jalan napas dan sekret berlebih di saluran pernapasan. Takipnea (laju napas 28x/menit) dan penggunaan otot bantu napas menunjukkan upaya pernapasan yang meningkat. Meskipun saturasi oksigen (SpO2) dalam batas normal (97%), pemberian oksigen 2 lpm dan terapi cairan infus RL diperlukan sebagai penunjang dalam penanganan kondisi akut ini untuk memastikan kecukupan oksigenasi dan hidrasi pasien.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 24267 | 26 Feb 2026
Klinis : DS : Pasien menyatakan mengalami sesak napas dan batuk sejak tiga hari yang lalu. Batuk menghasilkan dahak berwarna kuning kehijauan dalam jumlah sedikit, atau pasien tidak dapat mengeluarkan dahak secara maksimal. DO :Pasien terlihat batuk bedahak dan sesak nafas, bunyi pernapasan wheezing, terdengar bunyi suara napas tambahan (ronchi) yang menandakan adanya sekret atau lendir, pernapasan cepat / takipnea dan sesak napas/dispnea, adanya penggunaan otot bantu, terpasang oksigen 2 lpm,terpasang infus RL 20 tpm di tangan kiri. Tanda – tanda vital : Tekanan darah : 140/90 mmHg, kekuatan + Nadi : 78 x/menit, irama reguler, kuat sama kuat Respiration Rate : 28 x/menit, irama regular, eupnea Suhu : 36,5°C SPO2 :97%
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: 00031
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang paten.
Kode SLKI: 0401
Deskripsi : Bersihan jalan napas. Tindakan untuk memfasilitasi patensi jalan napas. Tindakan keperawatan yang dilakukan untuk meminimalkan atau menghilangkan hambatan pada saluran pernapasan, memastikan aliran udara yang adekuat ke dan dari paru-paru. Fokusnya adalah pada upaya mempertahankan atau mengembalikan patensi jalan napas sehingga pertukaran gas dapat berlangsung optimal. Pada kondisi pasien dengan batuk berdahak dan suara napas tambahan (ronchi), SLKI ini menjadi target utama. Intervensi yang termasuk dalam SLKI ini meliputi: memonitor status pernapasan (frekuensi, irama, kedalaman, dan suara napas), memposisikan pasien untuk memaksimalkan ekspansi paru (misalnya, posisi semi-Fowler atau Fowler), mendorong batuk efektif dan latihan napas dalam, melakukan fisioterapi dada jika diindikasikan, serta memastikan hidrasi yang adekuat untuk mengencerkan sekret. Tujuan akhir dari SLKI ini adalah tercapainya jalan napas yang bersih dari hambatan, ditandai dengan bunyi napas yang bersih, tidak adanya atau berkurangnya suara napas tambahan, serta kemampuan pasien untuk mengeluarkan sekret secara efektif.
Kode SIKI: 3310
Deskripsi : Manajemen jalan napas. Tindakan untuk memfasilitasi patensi jalan napas. Ini adalah serangkaian tindakan keperawatan yang lebih spesifik dan teknis yang dilakukan untuk mencapai tujuan dalam SLKI 0401 (Bersihan jalan napas). SIKI ini mencakup tindakan-tindakan praktis berdasarkan data subjektif dan objektif dari pasien. Dalam konteks pasien ini, tindakan yang dilakukan meliputi: 1) Pengkajian: Mengkaji frekuensi, irama, kedalaman pernapasan (ditemukan takipnea 28x/menit), mengauskultasi bunyi napas (mendeteksi wheezing dan ronchi), mengobservasi penggunaan otot bantu napas, dan menilai karakteristik batuk serta dahak (dahak kuning kehijauan, sulit dikeluarkan). 2) Intervensi: Mempertahankan pemberian oksigen 2 lpm sesuai order untuk mempertahankan saturasi O2 (97%), memposisikan pasien dalam posisi duduk atau semi-Fowler untuk memudahkan ekspansi paru dan usaha napas, mendemonstrasikan dan mendorong latihan napas dalam dan batuk efektif, mengajarkan teknik batuk terkontrol, memberikan hidrasi yang adekuat (memantau infus RL 20 tpm) untuk membantu mengencerkan sekret, serta memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya teknik batuk dan posisi yang benar. 3) Monitoring dan Evaluasi: Memantau tanda-tanda vital secara berkala, khususnya frekuensi pernapasan dan saturasi oksigen, mengevaluasi efektivitas batuk (apakah dahak dapat dikeluarkan), mendokumentasikan perubahan bunyi napas sebelum dan setelah intervensi, serta memantau respons pasien terhadap terapi oksigen dan hidrasi. SIKI 3310 adalah implementasi konkret dari rencana keperawatan yang bertujuan mengatasi masalah bersihan jalan napas yang tidak efektif.
-
Article No. 24228 | 25 Feb 2026
Klinis : Penilaian Penelitian ini dilakukan oleh penulis pada tanggal 22 April 2025 di ruang Lily 11 RS Prof. Dr. Soerojo, Magelang. a.Identitas Klien Klien bernama Ibu N, 24 tahun, perempuan, muslim, jawa, dengan pendidikan SMP, terdaftar sebagai klien nomor CM 0028xxxx. Klien berasal dari Kudus dan bekerja sebagai wiraswasta. b. Identitas Penanggung Jawab Klien Penanggung jawab klien dalam studi kasus ini adalah Bapak E, seorang pria berusia 30 tahun, yang tinggal di Magelang, adalah seorang Muslim Jawa, memiliki pendidikan SMP, dan bekerja sebagai wiraswasta. Tuan E adalah kakak laki-laki klien. c. Alasan Masuk Klien dibawa ke RS Prof. Dr. Soerojo Magelang oleh saudaranya karena mengalami perubahan yang signifikan dan terus-menerus, klien tampak bingung, berbicara pada dirinya sendiri, mendengar bisikan, sikapnya tampak seperti melihat sosok yang tidak nyata, dan perilakunya seperti anak kecil. Gejala klien telah berlangsung selama 6 bulan terakhir, yaitu Oktober, dan memburuk sejak 3 hari sebelum masuk. Klien mengalami kesulitan tidur selama 3 hari sebelum masuk, sepertinya tiba-tiba menangis, menari sendirian, mengetuk jari-jarinya. d. Faktor Predisposisi Klien memiliki riwayat penyakit mental, setelah sebelumnya dirawat di RS Kudus pada Juni 2024. Ini adalah rawat inap keduanya. Perawatan sebelumnya tidak efektif, karena dia melaporkan menghentikan pengobatan setelah merasa lebih baik dan tidak lagi mengalami gejala apa pun. Gejalanya kambuh sekitar enam bulan setelah menghentikan pengobatan, memburuk tiga hari sebelum masuk. Klien tidak memiliki riwayat pelecehan fisik, seksual, atau kriminal. Tidak ada anggota keluarga klien yang memiliki riwayat penyakit mental. Klien melaporkan riwayat trauma. Ketika dia berusia 14 tahun dan di kelas tiga SMP, dia mengalami intimidasi selama setahun, termasuk menggoda penampilannya, yang dia anggap tidak menarik dan lusuh, dan dijauhi oleh teman-temannya. Kejadian ini menyebabkan perasaan tidak berharga dan terisolasi. Klien juga mengalami trauma emosional dalam pernikahannya setelah mengetahui suaminya berselingkuh dengan seorang penyanyi yang berpenampilan mencolok, memiliki rambut pirang, memakai cat kuku, dan merawat dirinya sendiri. Klien mengatakan dia memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan di masa lalu, yaitu diabaikan oleh ayahnya, yang tidak menunjukkan kepedulian ketika dia kesulitan pergi ke sekolah karena dia ketinggalan bus, dan malah memilih untuk bermain dengan merpati peliharaannya. e. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik klien pada tanggal 22 April 2025, menunjukkan bahwa klien mengalami kompos mentis, dengan tekanan darah 119/68 mmHg, denyut nadi 75x/menit, pernapasan 20x/menit, suhu 36,3 °C, tinggi badan 155 cm, berat badan 55 kg, BMI 22,9 (normal), dan klien menyatakan tidak merasakan keluhan fisik. f. Penilaian Psikososial 1) Genogram Gambar 4.1 Genogram Klien Deskripsi: Klien tinggal bersama ibu dan kakak laki-lakinya. Ayah klien telah meninggal. Klien adalah anak ketiga dari tiga bersaudara. Klien sebelumnya sudah menikah tetapi bercerai dan memiliki satu putra yang tinggal bersama mertuanya. Klien tidak ikut campur dalam pengambilan keputusan keluarga. 2) Konsep Diri a) Citra diri Klien menyatakan dia tidak puas dengan penampilan fisiknya, terutama rambutnya. Dia ingin mewarnainya agar menyerupai gundik suaminya. b) Identitas diri Klien dapat menyebutkan nama lengkap dan alamatnya. Kliennya adalah seorang wanita Muslim berusia 24 tahun. Dia menggambarkan dirinya sebagai ibu dari satu anak. Dia bekerja di warung makan. c) Peran Klien menyatakan bahwa dia adalah seorang ibu dengan seorang putra berusia 6 tahun, tetapi dia belum dapat memenuhi perannya sebagai ibu dengan baik. Klien menyatakan bahwa dia merindukan putranya. Klien juga menyatakan bahwa ia belum dapat memenuhi perannya sebagai anak dengan baik karena ia masih dalam tahap perawatan dan belum pulih sepenuhnya. d) Diri yang ideal Klien berharap menjadi ibu dan anak yang baik dalam keluarganya. Dia ingin dihormati oleh orang-orang di sekitarnya dan dapat memenuhi perannya dengan baik. Klien menyatakan keinginannya untuk segera pulang ke rumah bersama keluarganya. e) Harga diri Klien menyatakan perasaan tidak berharga dan tidak berguna karena ketidakmampuannya untuk memenuhi perannya dalam keluarga. Dia sering menyalahkan dirinya sendiri atas situasinya dan merasa tidak dihargai oleh orang-orang di sekitarnya. 3) Hubungan Sosial a) Orang yang penting Klien menyatakan bahwa orang terdekat dalam hidupnya adalah ibunya, yang selalu ada dan mendengarkan kekhawatirannya. Dia berbagi kehidupan sehari-harinya dengan ibunya. Namun, ketika dia memiliki masalah, dia cenderung menyimpannya untuk dirinya sendiri, lebih suka diam daripada berbicara dengan orang lain. b) Partisipasi dalam masyarakat Klien jarang berpartisipasi dalam kegiatan di lingkungannya. Beberapa kegiatan yang dia ikuti dalam komunitas termasuk dawis (pertemuan keagamaan) dan hiburan. c) Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain Klien mengatakan dia tidak memiliki masalah berbaur dengan orang lain, dia terkadang sendirian dan berbaur dengan orang lain tergantung pada suasana hatinya. 4) Spiritual a) Nilai dan keyakinan Klien mengatakan bahwa dia adalah Muslim, klien memahami bahwa apa yang dia alami saat ini adalah bentuk ujian/cobaan untuk kehidupan yang dia jalani, dan untuk menghapus dosa-dosanya, bukan sebagai hukuman. b) Kegiatan ibadah Klien mengatakan bahwa selama di rumah dan di rumah sakit, klien secara teratur berdoa dan tidak pernah melewatkan sholat wajib. g. Status Mental 1) Penampilan umum Wajah klien tampak tegang, penampilannya cukup rapi, dia mandi dua kali sehari, mengenakan gaun rumah sakit, dan mengenakan jilbab. Dia mampu merawat dirinya sendiri, mandi mandiri, dan berganti pakaian. Rambutnya terkadang berantakan saat dia tidak memakai jilbab. 2) Diskusi Bicara klien lambat, tampak tegang, dan terdengar seperti dia mendengar suara lain. Perawat perlu mengulangi kata-kata tersebut sehingga klien dapat mendengarnya. 3) Aktivitas motorik Tampak bingung, gerakan motorik klien lambat, ia juga menunjukkan gerakan yang tidak teratur, tidak terkendali dan anomali , seperti berlarian sendiri, menari tanpa tujuan, dan mengetuk jari-jarinya, klien terkadang juga berbicara pada dirinya sendiri, tersenyum dan tertawa pada dirinya sendiri. 4) Pengaruh dan emosi Pengaruh labil, dengan perubahan emosional yang tiba-tiba antara tawa, kesedihan, dan kesuraman, tetapi terkadang bahkan senyum pada dirinya sendiri. Klien melaporkan merasa bahagia saat ini. Klien menyatakan bahwa dia senang berada di rumah sakit ini karena dia dirawat dan akan segera pulang. 5) Interaksi selama wawancara Klien kooperatif ketika halusinasi tidak ada, merespons dengan mudah ketika diajak bicara, membuat kontak mata yang buruk, mudah terganggu, dan tampak curiga. Selama percakapan, klien sering terganggu, seperti tiba-tiba pergi tidur atau bergaul dengan teman. 6) Persepsi sensorik Klien mengatakan dia mendengar suara bisikan yang sering mengganggu pikirannya, bisikan itu muncul 2-3 kali sehari selama kurang lebih 2 menit, suara-suara itu terkadang mengundangnya untuk mengobrol sehingga dia tidak bisa tidur. Klien mengatakan dia ingin marah jika dia tidak bisa tidur karena suara-suara yang selalu mengganggunya. Bisikan yang dia dengar adalah suara-suara yang menyuruhnya melakukan hal-hal baik dan mendorongnya untuk bekerja. Suara-suara itu menyerupai yang paling dekatnya, seperti keluarga atau terkadang seperti suara Gus Idam dan Habib Zaidan. Klien mengatakan bisikan itu sering muncul ketika dia merasa lelah, di malam hari dan ketika dia sendirian di kamarnya. 7) Proses pemikiran Memblokir , klien tiba-tiba berhenti berbicara di tengah kalimat, tetapi arti dari apa yang dikatakan dapat disampaikan. 8) Konten pemikiran Klien tidak mengalami gangguan apa pun dalam konten pikiran, juga tidak memiliki delusi atau fobia. Klien mencoba menghilangkan halusinasi dan tidak ingin mereka kambuh. 9) Tingkat kesadaran dan orientasi Klien dapat mengetahui di mana dia berada saat ini. Dia juga dapat mengingat ketika dia bertemu seseorang, berkata, "Saya berada di sebuah ruangan di Rumah Sakit Jiwa Magelang." Dia dapat mengingat waktu, pagi, siang, sore, dan malam. Dia juga tahu tanggal saat ini. 10) Memori Klien tidak mengalami gangguan memori dan dapat mengingat nama-nama perawat. Klien juga dapat menceritakan peristiwa masa lalu. 11) Tingkat konsentrasi dan perhitungan Klien mudah terganggu, dapat diajak bicara, tetapi tiba-tiba mengubah topik. Klien mampu menghitung ketika ditanya perhitungan sederhana, klien dapat menjawab. 12) Keterampilan penilaian Klien mengalami gangguan penilaian dan dapat membuat keputusan tetapi membutuhkan bimbingan. Misalnya, ketika ditanya apakah dia ingin mandi, klien menjawab "ya" tetapi tidak segera mengambil tindakan dan tampak lambat untuk bergerak sampai perawat mengarahkan langkah selanjutnya. 13) Kesadaran diri Klien menyadari penyakit yang dideritanya tetapi terkadang tidak terkendali sehingga dia merasa bingung. h.Kebutuhan untuk mempersiapkan diri untuk pulang 1) Makan Klien makan tiga kali sehari: pagi, siang, dan sebelum matahari terbenam. Dia memiliki nafsu makan yang baik dan selalu menghabiskan porsi makanannya setiap kali makan. 2) Buang air besar / buang air kecil Klien dapat buang air besar dan buang air kecil di tempat yang benar tanpa bantuan. Klien selalu menyiram dengan air setelah buang air besar atau buang air kecil. 3) Mandi Klien mandi dua kali sehari, di pagi dan sore hari, tanpa bantuan. Klien menyikat giginya setiap kali dia mandi dan mencuci rambutnya setiap hari. 4) Berpakaian Klien berpakaian dengan benar dengan pakaian rumah sakit secara mandiri. 5) Istirahat dan tidur Klien melaporkan tidur dua kali sehari, siang dan malam. Dia melaporkan tidak ada masalah tidur dan selalu tidur nyenyak. 6) Penggunaan narkoba Klien meminum obat yang diresepkan secara teratur, menelannya, dan tidak membuangnya. Klien juga dapat menyatakan jumlahnya, tetapi bukan nama atau fungsinya. 7) Pemeliharaan kesehatan Klien mengatakan bahwa ibunya selalu memperhatikan kondisinya, jika klien sakit, klien langsung dibawa ke pelayanan kesehatan. 8) Aktivitas di dalam Saat diperiksa, klien selalu membantu ibunya dengan pekerjaan rumah, seperti mencuci pakaian, mencuci piring, menyapu, dan merapikan rumah. 9) Kegiatan di luar rumah Klien jarang melakukan aktivitas di luar rumah selain bekerja. 10) Kemampuan klien untuk membuat keputusan Ketika diberi beberapa pilihan, klien bingung dan merasa sulit untuk mengambil keputusan dan membutuhkan bantuan dari orang lain. 11) Apakah klien menikmati bekerja, aktivitas / hobi produktif? Klien mengatakan dia menikmati pekerjaannya di warung makan, meskipun dia sering lelah. Klien juga sangat menikmati aktivitas di rumah sakit jiwa, termasuk kegiatan rehabilitasi dan menonton TV bersama di dalam ruangan. i. Mekanisme Mengatasi Mekanisme koping, yaitu klien tidak mudah berbicara atau mengungkapkan perasaannya kepada orang lain. Mekanisme koping Klien maladaptif lebih sering diam dan menyimpan masalah mereka untuk diri mereka sendiri. j. Pengetahuan Klien menyadari masalah dan kondisi yang dialaminya. Dia menyadari bahwa dia telah dirawat di rumah sakit jiwa dua kali, termasuk yang sekarang. Klien bingung tentang apa yang harus dilakukan untuk mencegah suara berulang. Klien benar-benar ingin menjadi lebih baik. k. Aspek Medis 1) Diagnosis Medis Diagnosis medis klien adalah F20.0 (Skizofrenia Paranoid) 2) Terapi Medis Klien menerima terapi dengan Haloperidol (5 mg / 12 jam), Hexymer (2 mg / 12 jam), Depakote Er (500 mg / 24 jam), Frimania (400 mg / 24 jam), Diazepam (10 mg / 12 jam)
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Skizofrenia Paranoid
Kode ICD-10: F20.0
Deskripsi Singkat : F20.0 adalah kode ICD-10 untuk Skizofrenia Paranoid, suatu subtipe skizofrenia yang ditandai dengan dominasi gejala positif seperti waham (keyakinan palsu yang dipegang teguh) dan halusinasi pendengaran (mendengar suara-suara), seringkali dengan tema penganiayaan atau keagungan. Gangguan proses pikir dan gejala negatif seperti afek tumpul mungkin ada tetapi tidak menonjol. Pada kasus ini, klien menunjukkan gejala khas berupa halusinasi auditori berupa bisikan yang mengganggu dan mengajak bicara, perilaku motorik anomali (menari, mengetuk jari), serta afek yang labil. Riwayat menunjukkan perjalanan penyakit kronis dengan kekambuhan setelah penghentian pengobatan. Diagnosis ini mencerminkan gangguan mental berat yang memengaruhi persepsi, pikiran, emosi, dan perilaku, memerlukan penanganan medis dan psikososial jangka panjang.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 24229 | 25 Feb 2026
Klinis : pasien dengan keluhan sesak napas, batuk berdahak tetapi susah untuk mengeluarkan dahak, terdapat suara ronkhi, pernapasan 24 x/menit
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang paten.
Kode SLKI: 0401
Deskripsi : Bersihan jalan napas. Deskripsi: Tujuan keperawatan adalah tercapainya bersihan jalan napas yang efektif pada pasien. Hal ini ditandai dengan kriteria hasil yang dapat diobservasi dan diukur, antara lain: bunyi napas bersih (vesikuler) tanpa suara tambahan seperti ronkhi, wheezing, atau stridor; frekuensi dan irama pernapasan dalam rentang normal sesuai usia; pasien mampu mengeluarkan sekresi (dahak) secara efektif baik dengan batuk spontan maupun dengan bantuan; tidak menunjukkan tanda-tanda distress pernapasan seperti penggunaan otot bantu napas, retraksi, atau sianosis; serta nilai saturasi oksigen dalam darah (SpO2) dalam rentang normal. Pencapaian SLKI ini menunjukkan bahwa intervensi keperawatan berhasil mengatasi masalah ketidakefektifan bersihan jalan napas.
Kode SIKI: 3240
Deskripsi : Manajemen jalan napas. Deskripsi: Intervensi keperawatan ini mencakup serangkaian tindakan untuk memastikan patensi jalan napas dan pertukaran gas yang optimal. Implementasinya meliputi: (1) **Pengkajian**: memantau status pernapasan secara berkala (frekuensi, irama, kedalaman, usaha napas), auskultasi bunyi napas untuk mendeteksi adanya ronkhi, wheezing, atau area tanpa bunyi napas, serta mengobservasi karakteristik sputum (warna, konsistensi, jumlah). (2) **Tindakan Posisioning**: menempatkan pasien dalam posisi semi-Fowler atau Fowler tinggi untuk memanfaatkan gravitasi dalam memudahkan ekspansi dada dan pengeluaran sekresi. (3) **Teknik Batuk Efektif**: mengajarkan dan mendorong pasien untuk melakukan latihan batuk dalam (deep coughing) serta teknik batuk terkontrol (huff coughing) jika batuk dalam terlalu melelahkan. (4) **Hidrasi dan Pelembaban**: mendorong asupan cairan yang adekuat (kecuali kontraindikasi) untuk mengencerkan sekresi, serta menggunakan pelembab udara (humidifier) atau terapi nebulasi untuk melembabkan saluran napas. (5) **Fisioterapi Dada**: melakukan perkusi, vibrasi, dan drainase postural sesuai indikasi dan kondisi pasien untuk membantu mobilisasi sekresi. (6) **Suction/ Pengisapan**: melakukan pengisapan lendir dari jalan napas (orofaringeal atau nasofaringeal) dengan teknik steril jika pasien tidak mampu mengeluarkan sekresi sendiri. (7) **Pemberian Oksigen**: memberikan terapi oksigen sesuai program medis untuk mengatasi hipoksia. (8) **Pemberian Obat**: mengadministrasikan obat-obatan seperti bronkodilator atau mukolitik sesuai resep dokter dan memonitor efek serta efek sampingnya. (9) **Edukasi**: memberikan pendidikan kesehatan kepada pasien dan keluarga mengenai pentingnya teknik batuk efektif, hidrasi, serta tanda-tanda gangguan pernapasan yang perlu dilaporkan. Intervensi ini dilakukan secara komprehensif, terintegrasi, dan terus dievaluasi respons pasien untuk mencapai tujuan SLKI yaitu bersihan jalan napas yang efektif.