Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 24329 | 06 Mar 2026
Klinis : mengeluh nyeri, gelisah, tamak meringis
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 0016
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut (International Association for the Study of Pain); onset mendadak atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau diprediksi dan durasi kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: 1430
Deskripsi : Manajemen Nyeri: Meminimalkan ketidaknyamanan dan menderita akibat nyeri akut atau kronis. Intervensi keperawatan dalam SLKI ini mencakup penilaian komprehensif nyeri (lokasi, karakteristik, onset, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas, dan faktor presipitasi) baik secara subjektif maupun objektif. Perawat mengobservasi perilaku dan sinyal fisiologis nyeri, seperti ekspresi wajah meringis, postur tubuh, gelisah, dan perubahan tanda vital. Tujuan utama adalah mengurangi persepsi nyeri dan meningkatkan kenyamanan. Ini dilakukan melalui pendekatan farmakologis (pemberian analgesik sesuai resep, memantau efektivitas dan efek samping) dan non-farmakologis (seperti teknik distraksi, relaksasi, terapi musik, kompres hangat/dingin, reposisi, dan penciptaan lingkungan yang tenang). Edukasi kepada pasien dan keluarga tentang skala nyeri, pelaporan nyeri, dan teknik manajemen nyeri mandiri juga merupakan komponen kritis. Evaluasi berkelanjutan terhadap respons pasien terhadap intervensi yang diberikan sangat penting untuk mencapai outcome yang diharapkan, yaitu penurunan skala intensitas nyeri, penurunan distress, dan peningkatan kemampuan fungsional.
Kode SIKI: 4500
Deskripsi : Manajemen Nyeri: Tindakan keperawatan spesifik yang dilakukan untuk meringankan atau mengurangi nyeri. SIKI ini memberikan kerangka tindakan konkret yang dapat diambil perawat. Pertama, lakukan penilaian nyeri secara komprehensif menggunakan metode PQRST (Provocation/Palliation, Quality, Region/Radiation, Severity, Timing) atau skala nyeri yang valid (numerik, wajah, verbal) sesuai kemampuan pasien. Kedua, kaji faktor-faktor yang memperberat dan meringankan nyeri. Ketiga, observasi dan dokumentasi tanda-tanda nonverbal nyeri seperti yang terlihat pada pasien: gelisah, ekspresi wajah meringis, menangis, postur melindungi area nyeri, dan perubahan pada pola tidur atau nafsu makan. Keempat, lakukan intervensi non-farmakologis sebelum, setelah, atau bersamaan dengan pemberian obat, seperti mengajarkan teknik napas dalam, relaksasi progresif, memberikan distraksi melalui percakapan atau aktivitas, serta mengatur posisi untuk kenyamanan maksimal. Kelima, berikan analgesik sesuai resep dokter secara tepat waktu, perhatikan rute pemberian, dosis, dan frekuensi. Keenam, evaluasi dan dokumentasi efektivitas analgesik (misalnya, penurunan skala nyeri dari 7 ke 3 dalam 30 menit pasca pemberian) dan awasi efek samping seperti mual, sedasi, atau depresi pernapasan. Ketujuh, edukasi pasien untuk melaporkan nyeri secara proaktif dan jangan menahannya. Kedelapan, kolaborasi dengan tim kesehatan lain jika nyeri tidak terkontrol dengan regimen terapi awal. Kesembilan, ciptakan lingkungan terapeutik yang mendukung (reduksi kebisingan, pencahayaan nyaman). Kesepuluh, libatkan keluarga dalam strategi penanganan nyeri, seperti membantu teknik distraksi atau mengingatkan jadwal obat. Tindakan-tindakan ini harus dilakukan secara holistik, berpusat pada pasien, dan berkelanjutan untuk memastikan manajemen nyeri yang optimal.
-
Article No. 24322 | 05 Mar 2026
Klinis : DS: Sesak ((implikasi dari penggunaan oksigen). DO: Diagnosa HAP (Hospital Acquired Pneumonia). X-Ray: Bronchopneumonia Bilateral dan suspek efusi pleura kanan. Terpasang nasal kanul 3 lpm. Perut membesar (asites).
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas berhubungan dengan perubahan membran alveolar-kapiler sekunder akibat pneumonia dan efusi pleura
Kode SDKI: 0005
Deskripsi Singkat: Gangguan Pertukaran Gas didefinisikan sebagai kondisi ketidakmampuan tubuh untuk melakukan pertukaran oksigen dan karbon dioksida secara adekuat antara alveoli paru dan sistem vaskular, yang mengakibatkan hipoksemia atau hiperkapnia. Pada kasus ini, kondisi ini secara langsung terkait dengan proses patologis yang dijelaskan: Hospital Acquired Pneumonia (HAP) dengan temuan bronchopneumonia bilateral menyebabkan konsolidasi dan inflamasi pada parenkim paru, sehingga mengurangi luas permukaan untuk difusi gas. Selain itu, suspek efusi pleura kanan menambah gangguan dengan menekan jaringan paru dan membatasi ekspansi alveoli. Kombinasi kedua kondisi ini menyebabkan ketidakseimbangan ventilasi-perfusi (V/Q mismatch), di mana area paru yang masih terperfusi dengan darah tidak dapat ter ventilasi dengan baik karena terisi cairan inflamasi (pneumonia) atau tertekan oleh cairan pleura. Pasien yang mengalami sesak dan memerlukan oksigen nasal 3 lpm merupakan manifestasi klinis dari kegagalan sistem pernapasan untuk mempertahankan oksigenasi yang adekuat tanpa bantuan. Tanda-tanda seperti takipnea, penggunaan otot bantu napas, dan penurunan saturasi oksigen (jika diukur) akan menjadi data pendukung. Diagnosa ini menjadi fokus utama karena mengancam jiwa dan memerlukan intervensi segera untuk mencegah hipoksia jaringan dan kegagalan organ.
Kode SLKI: 0400
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas. Intervensi keperawatan ini bertujuan untuk memastikan patensi jalan napas dan memfasilitasi pertukaran gas yang optimal. Pada pasien dengan HAP dan efusi pleura, jalan napas dapat terganggu oleh sekresi yang meningkat dan kental akibat infeksi, serta oleh kompresi mekanis dari efusi. SLKI ini meliputi serangkaian tindakan seperti: memonitor status pernapasan (frekuensi, irama, kedalaman, penggunaan otot bantu), auskultasi suara napas untuk mendeteksi adanya ronki, wheezing, atau area tanpa suara napas (yang dapat mengindikasikan area konsolidasi atau efusi), serta memantau saturasi oksigen secara berkala. Perawat akan memposisikan pasien dalam posisi semi-Fowler atau tinggi untuk memaksimalkan ekspansi dada dan mengurangi tekanan abdominal pada diafragma, terutama mengingat pasien juga memiliki asites. Terapi oksigen yang diberikan (nasal kanul 3 lpm) harus dipantau keefektifannya dan kesesuaian dengan order dokter. Selain itu, intervensi penting termasuk melakukan fisioterapi dada dan latihan napas dalam untuk membantu mobilisasi sekresi, serta memberikan edukasi dan dukungan untuk batuk efektif jika kondisi pasien memungkinkan. Manajemen jalan napas juga mencakup kolaborasi dengan tim medis untuk terapi nebulizer atau suction jika diperlukan, serta mempersiapkan pasien untuk tindakan lebih lanjut seperti thorakosentesis jika efusi pleura sudah dikonfirmasi dan menyebabkan distress pernapasan yang signifikan.
Kode SIKI: 0400A
Deskripsi : Monitor status pernapasan. Ini adalah tindakan spesifik dan terukur dalam kerangka SLKI Manajemen Jalan Napas. Implementasinya meliputi pengumpulan data objektif dan subjektif secara sistematis dan berkelanjutan untuk mengevaluasi keefektifan pertukaran gas dan respons terhadap terapi. Perawat akan: 1) Mengobservasi pola napas (takipnea, bradipnea, apnea, pernapasan dangkal), upaya napas (retraksi, penggunaan otot sternokleidomastoid), dan adanya sianosis. 2) Melakukan auskultasi suara napas anterior dan posterior minimal setiap 4-8 jam atau sesuai kondisi kritis pasien, mendokumentasikan penemuan seperti ronki basal halus (khas pneumonia) atau suara napas melemah/ hilang di basal paru kanan (mengindikasikan efusi). 3) Memantau dan mencatat nilai saturasi oksigen (SpO2) secara terus-menerus atau berkala, mencatat respons terhadap pemberian oksigen. 4) Memantau tanda-tanda vital (suhu, nadi, tekanan darah) karena demam dapat meningkatkan kebutuhan metabolik oksigen, dan takikardia dapat menjadi tanda kompensasi hipoksia. 5) Mengkaji tingkat kesadaran, karena kebingungan, gelisah, atau somnolen dapat menjadi tanda awal hipoksia serebral. 6) Mendokumentasikan karakteristik sputum (jumlah, warna, konsistensi) sebagai indikator respons infeksi terhadap antibiotik. 7) Mengevaluasi tingkat dyspnea pasien menggunakan skala numerik atau deskriptif. Data dari SIKI ini menjadi dasar untuk menilai perkembangan atau resolusi kondisi, menentukan kebutuhan modifikasi terapi oksigen, dan mendeteksi dini komplikasi seperti gagal napas. Kriteria hasil dari SIKI ini adalah terkumpulnya data status pernapasan yang akurat dan terdokumentasi sebagai bahan evaluasi dan komunikasi antar profesional kesehatan.
-
Article No. 24314 | 05 Mar 2026
Klinis : sesak nafas (+) berkurang, batuk (+), demam (-) KU: Tampak sakit sedang, E4M6V5= 15 TD:142/81 mmHg N:96x/menit RR:22 x/menit S:36.5C SPO2: 97% NRM 10lpm Kepala : wajah bengkak (-), edem (-) konjungtiva anemis (-/-) sklera ikterik (-/-) Leher : bengkak -/-, krepitasi (-), nyeri (-) kemerahan (-) JVP tidak meningkat Dada: simetris, venektasi (-) Pulmo: I: pengembangan dada kanan sama dengan kiri P: fremitus raba dada kanan sama dengan kiri P: sonor / sonor A: SDV +/+, rbh -/-, rbk +/+, wh +/+ min, egofoni -/- Cor : S1-2 reguler, murmur -, gallop - Abdomen : supel (+) nyeri tekan (-), BU (+) Genital : dbn Ext : edema -/- 27/02/26 Lab Ureum 122.0 Kreatinin 3.59 HEMATOLOGI Darah Rutin Hemoglobin 14.87 Eritrosit 4.82 Hematokrit 44.5 Index Eritrosit MCV 92.3 MCH 30.9 MCHC 33.5 Lekosit 19.07 Trombosit 31 duplo RDW-CV 11.65 MPV 9.91 Hitung Jenis Neutrofil 92.6 Limfosit 2.7 Monosit 4.3 Eosinofil 0.01 Basofil 0.4 Total Neutrofil 17.66 Total Lymphosit 0.51 Total Monosit 0.83 Total Eosinofil 0.00 Total Basofil 0.07 Gol. Darah (A B O) Golongan Darah O KIMIA KLINIK ELEKTROLIT Natrium (Na) 132 Kalium (K) 3.9 Chlorida (Cl) 97 Calsium (Ca2+) 1.0 pH 7.46 Glukosa Darah Glukosa Darah Sewaktu 161 Fungsi Ginjal 28/02/26 Rontgen Thorax Kesan : - Cardiomegali dan pulmo normal - Elongatio aortae dan aortosklerosis Pneumonia Komunitas KR IV PSI 95 PPOK eksaserbasi akut derajat sedang dd asma eksaserbasi akut derajat ringan sedang Dengan masalah trombositopenia (AT 31.000), azotermia (Ur 122 Cr 3.59)
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0005
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang paten.
Kode SLKI: L.04001
Deskripsi : Setelah diberikan intervensi keperawatan, pasien menunjukkan perbaikan dalam bersihan jalan napas, yang ditandai dengan: suara napas bersih, tidak ada suara napas adventisius, batuk efektif, sekresi jalan napas minimal, dan tidak ada sianosis. Parameter pernapasan (laju, irama, kedalaman) dalam rentang normal, serta nilai analisis gas darah dalam rentang normal.
Kode SIKI: I.08110
Deskripsi : Intervensi untuk mempertahankan jalan napas paten. Tindakan ini meliputi: memposisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi (seperti semi-Fowler atau Fowler), mendemonstrasikan dan membantu pasien dalam latihan napas dalam dan batuk efektif, meningkatkan asupan cairan sesuai toleransi untuk mengencerkan sekresi, memberikan humidifikasi udara, melakukan fisioterapi dada dan postural drainage jika diindikasikan, melakukan suction jalan napas jika diperlukan, memantau status pernapasan (suara napas, laju, irama, upaya), memantau analisis gas darah dan saturasi oksigen, serta mengajarkan metode batuk dan pernapasan yang tepat kepada pasien/keluarga.
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: D.0068
Deskripsi Singkat: Peningkatan kerentanan terhadap invasi dan multiplikasi patogen, yang dapat mengancam kesehatan.
Kode SLKI: L.15001
Deskripsi : Setelah diberikan intervensi keperawatan, pasien bebas dari tanda dan gejala infeksi. Kriteria hasil meliputi: tanda-tanda vital dalam rentang normal, tidak ada tanda-tanda inflamasi lokal (kemerahan, panas, bengkak, nyeri, gangguan fungsi), tidak ada drainase purulen, hasil laboratorium (seperti leukosit) dalam batas normal, serta menunjukkan perilaku untuk mencegah infeksi (seperti cuci tangan yang benar).
Kode SIKI: I.08229
Deskripsi : Intervensi untuk mencegah dan mengurangi risiko infeksi. Tindakan ini meliputi: mempertahankan teknik aseptik dalam semua prosedur, memantau tanda-tanda vital dan laboratorium (terutama hitung leukosit), meningkatkan pertahanan alamiah host dengan memastikan nutrisi dan hidrasi adekuat, melakukan perawatan luka dengan steril jika ada, mengisolasi pasien jika diperlukan, membatasi pengunjung yang sakit, mendemonstrasikan dan mendorong cuci tangan yang efektif pada pasien, keluarga, dan pengunjung, mengajarkan tanda dan gejala infeksi untuk dilaporkan, serta memastikan imunisasi status sesuai.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0029
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, dengan onset mendadak atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat, dan perkiraan akhir yang dapat diantisipasi.
Kode SLKI: L.03001
Deskripsi : Setelah diberikan intervensi keperawatan, nyeri pasien teratasi. Kriteria hasil meliputi: pasien melaporkan nyeri berkurang atau hilang dengan skala nyeri yang dapat diterima, tanda-tanda vital stabil, perilaku nyeri (seperti meringis, gelisah, postur tubuh protektif) menurun atau hilang, pasien mampu menunjukkan teknik non-farmakologis untuk mengatasi nyeri, dan fungsi fisik atau aktivitas sehari-hari membaik.
Kode SIKI: I.08034
Deskripsi : Intervensi untuk meredakan atau mengurangi nyeri hingga tingkat yang dapat ditoleransi pasien. Tindakan ini meliputi: melakukan penilaian nyeri komprehensif (lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, faktor pencetus dan pereda, serta skala nyeri), mengobservasi petunjuk non-verbal dari ketidaknyamanan, menciptakan lingkungan yang nyaman dan tenang, memberikan analgesik sesuai resep dan memantau efek sampingnya, menerapkan teknik non-farmakologis (seperti distraksi, relaksasi, kompres hangat/dingin, reposisi), mengajarkan pasien dan keluarga tentang manajemen nyeri, serta mengevaluasi efektivitas intervensi yang diberikan.
Kondisi: Risiko Perfusi Perifer Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0020
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan nutrisi dan pertukaran gas pada tingkat jaringan kapiler akibat penurunan suplai darah.
Kode SLKI: L.09009
Deskripsi : Setelah diberikan intervensi keperawatan, perfusi jaringan perifer pasien adekuat. Kriteria hasil meliputi: nadi perifer teraba kuat dan simetris, warna kulit dan suhu ekstremitas hangat dan normal, pengisian kapiler kurang dari 3 detik, tidak ada edema, nyeri, atau perubahan sensasi pada ekstremitas, serta nilai tekanan darah dalam rentang normal yang diharapkan.
Kode SIKI: I.08073
Deskripsi : Intervensi untuk mempromosikan perfusi perifer yang adekuat. Tindakan ini meliputi: memantau status hemodinamik (tekanan darah, nadi, nadi perifer), memantau warna, suhu, kelembaban, dan pengisian kapiler pada ekstremitas, menghindari posisi yang menekan pembuluh darah, mendorong aktivitas dan latihan sesuai toleransi untuk meningkatkan sirkulasi, menjaga kehangatan pada ekstremitas, mengajarkan pasien untuk menghindari konstriksi (seperti pakaian ketat, menyilangkan kaki), memantau tanda-tanda komplikasi (seperti trombosis), serta berkolaborasi dalam pemberian terapi untuk meningkatkan volume darah atau aliran darah jika diperlukan.
-
Article No. 24315 | 05 Mar 2026
Klinis : pasien DM
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Diabetes Melitus (DM)
Kode SDKI: D.0015
Deskripsi Singkat: Risiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah
Kode SLKI: L.15001
Deskripsi : Pengendalian Kadar Glukosa Darah: Kemampuan klien dalam mempertahankan kadar glukosa darah dalam rentang target yang ditetapkan. Intervensi keperawatan bertujuan untuk mencapai hasil ini melalui edukasi, pemantauan, dan dukungan terhadap manajemen mandiri. Klien dan keluarga didorong untuk memahami faktor-faktor yang mempengaruhi glukosa darah (makanan, aktivitas, obat, stres) dan mengambil tindakan korektif yang tepat. Pemantauan glukosa darah secara teratur, baik mandiri maupun oleh tenaga kesehatan, menjadi dasar evaluasi. SLKI ini juga mencakup pencegahan, deteksi dini, dan penanganan episode hipoglikemia dan hiperglikemia. Keberhasilan tercermin dari pencapaian target HbA1c, frekuensi episode hipo/hiperglikemia yang menurun, serta peningkatan pengetahuan dan keterampilan klien dalam mengelola kondisinya. Peran perawat adalah fasilitator dan pendamping dalam perjalanan pengelolaan DM jangka panjang.
Kode SIKI: I.12521
Deskripsi : Manajemen Diabetes: Serangkaian tindakan keperawatan komprehensif untuk membantu klien dengan diabetes dalam mencapai kontrol metabolik yang optimal dan mencegah komplikasi. Intervensi dimulai dengan pengkajian mendalam yang meliputi riwayat kesehatan, pola makan, aktivitas fisik, pemahaman tentang penyakit, keterampilan self-monitoring blood glucose (SMBG), teknik pemberian insulin (jika ada), serta pemeriksaan fisik (termasuk kaki). Edukasi menjadi pilar utama, mencakup penjelasan tentang patofisiologi DM, pentingnya diet seimbang dengan penghitungan karbohidrat, prinsip aktivitas fisik yang aman, penggunaan obat (oral/insulin) yang benar, teknik dan interpretasi SMBG, serta perawatan kaki. Perawat melakukan demonstrasi dan meminta klien mengulangi (misalnya, menyuntik insulin pada bantalan). Intervensi juga mencakup pemberian dukungan psikososial untuk meningkatkan motivasi dan penerimaan terhadap kondisi kronis. Perawat berkolaborasi dengan dokter, ahli gizi, dan edukator diabetes untuk menyusun rencana individual. Pemantauan tanda-tanda komplikasi akut (hipoglikemia, ketoasidosis) dan kronis (luka kaki, retinopati) serta mendorong skrining rutin merupakan bagian integral. Tindakan keperawatan dilakukan secara berkelanjutan dengan evaluasi dan penyesuaian rencana berdasarkan respons klien.
-
Article No. 24316 | 05 Mar 2026
Klinis : TBC
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: ```html
Diagnosa Keperawatan TBC - SDKI, SLKI, SIKI
Diagnosa Keperawatan, Luaran, dan Intervensi untuk Pasien TBC
Sebagai seorang perawat profesional, pemahaman mendalam mengenai Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) adalah esensial untuk memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif, terstruktur, dan berbasis bukti. Berikut adalah aplikasi ketiga standar tersebut untuk pasien dengan kondisi Tuberkulosis (TBC), dengan fokus pada salah satu diagnosa keperawatan yang paling relevan.
Kondisi Pasien: Tuberkulosis (TBC)
Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini umumnya menyerang paru-paru, namun dapat juga menyerang organ lain. Manifestasi klinis TBC paru seringkali melibatkan respons inflamasi di saluran napas, produksi sputum berlebih, dan kerusakan parenkim paru, yang dapat mengganggu fungsi pernapasan.
1. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)
SDKI adalah panduan sistematis yang digunakan perawat di Indonesia untuk mengidentifikasi dan menamai masalah kesehatan pasien yang dapat diatasi melalui intervensi keperawatan. SDKI menyediakan daftar diagnosa keperawatan yang terstandardisasi, lengkap dengan definisi, penyebab (etiologi), serta tanda dan gejala (mayor dan minor).
Diagnosa Keperawatan Pilihan untuk Pasien TBC:
Mengingat patofisiologi TBC yang sering melibatkan produksi sputum dan peradangan saluran napas, diagnosa Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif sangat relevan.
Komponen
Detail
Penjelasan dan Relevansi untuk TBC
Kode SDKI
D.0001
Kode unik yang mengidentifikasi diagnosa ini dalam sistem SDKI, memastikan konsistensi pencatatan.
Nama Diagnosa
Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran napas guna mempertahankan jalan napas tetap paten. Pada TBC, hal ini sering terjadi akibat peningkatan produksi sputum kental dan peradangan bronkus.
Definisi
Ketidakmampuan membersihkan sekret atau obstruksi jalan napas untuk mempertahankan jalan napas tetap paten.
Definisi ini secara jelas menggambarkan inti masalah yang dihadapi pasien TBC, yaitu kesulitan mengeluarkan dahak yang menumpuk di saluran napas.
Penyebab (Etiologi)
- Sekresi yang tertahan
- Spasme jalan napas
- Disfungsi neuromuskular
- Infeksi (misalnya, TBC)
- Efek agen farmakologis
- Perubahan fisiologis jalan napas
Pada pasien TBC, penyebab utama adalah sekresi yang tertahan akibat produksi sputum berlebih dan kental, serta infeksi yang menyebabkan peradangan dan edema mukosa bronkus.
Gejala dan Tanda Mayor (Objektif & Subjektif)
- Batuk tidak efektif
- Tidak mampu batuk
- Sputum berlebih
- Mengi, ronkhi kering/basah
- Dispnea (sesak napas)
- Gelisah
- Frekuensi napas berubah
- Pola napas berubah
Gejala-gejala ini sangat umum pada pasien TBC. Batuk tidak efektif dan sputum berlebih adalah manifestasi langsung dari upaya tubuh membersihkan jalan napas yang terganggu. Dispnea, mengi/ronkhi menunjukkan adanya obstruksi dan peradangan di saluran napas.
Gejala dan Tanda Minor (Objektif & Subjektif)
- Ortopnea
- Sulit bicara
- Sianosis
- Penurunan kesadaran
Gejala minor ini dapat muncul pada kasus TBC yang lebih parah atau komplikasi, menunjukkan gangguan oksigenasi yang lebih signifikan.
2. Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)
SLKI adalah standar yang digunakan untuk merumuskan tujuan dan kriteria hasil yang terukur dari intervensi keperawatan. Ini membantu perawat dalam mengevaluasi efektivitas asuhan yang diberikan dan memantau kemajuan pasien.
Luaran Keperawatan untuk Diagnosa Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif:
Luaran yang paling sesuai adalah Bersihan Jalan Napas, dengan tujuan agar jalan napas pasien menjadi paten dan bebas dari obstruksi.
Komponen
Detail
Penjelasan dan Relevansi untuk TBC
Article No. 24317 | 05 Mar 2026
Klinis : pasien terdiagnosa ca rectosigmoid stadium 3b, ada pemasangan stoma di perut sebelah kanan,
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: ```html
Diagnosa Keperawatan, Luaran, dan Intervensi Berdasarkan SDKI, SLKI, SIKI PPNI
Sebagai seorang perawat profesional, penegakan diagnosa keperawatan, penetapan luaran, dan perencanaan intervensi harus didasarkan pada standar yang telah ditetapkan untuk memastikan kualitas asuhan keperawatan yang komprehensif dan terukur. Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) telah menyusun tiga standar utama: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI).
Kondisi Pasien: Pasien terdiagnosa Ca Rectosigmoid Stadium 3b, dengan pemasangan stoma di perut sebelah kanan.
Analisis Kondisi: Kondisi ini menimbulkan berbagai masalah keperawatan, baik fisik maupun psikososial. Pemasangan stoma, khususnya, memiliki dampak signifikan terhadap citra tubuh, integritas kulit, dan kemampuan pasien untuk melakukan perawatan diri. Mengingat kompleksitasnya, fokus utama akan diberikan pada masalah psikososial yang paling menonjol akibat stoma dan penyakit kronis.
1. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)
SDKI adalah panduan sistematis untuk mengidentifikasi dan menamai masalah kesehatan yang dapat diatasi oleh perawat. SDKI menyediakan daftar diagnosa keperawatan yang terstruktur, lengkap dengan definisi, penyebab (etiologi), serta tanda dan gejala (mayor dan minor) yang mendukung penegakan diagnosa.
Diagnosa Keperawatan yang Relevan: Gangguan Citra Tubuh
Berdasarkan kondisi pasien dengan Ca Rectosigmoid Stadium 3b dan pemasangan stoma, diagnosa Gangguan Citra Tubuh sangat relevan karena perubahan fisik yang signifikan dan dampaknya terhadap persepsi diri pasien.
Komponen SDKI
Kode & Definisi
Penjelasan untuk Kasus Pasien
Diagnosa Keperawatan
D.0083: Gangguan Citra Tubuh
Distorsi persepsi tentang penampilan diri.
Pemasangan stoma secara permanen atau sementara mengubah penampilan fisik dan fungsi eliminasi pasien secara drastis. Hal ini dapat memicu perasaan negatif, malu, cemas, dan penolakan terhadap bagian tubuh yang berubah.
Penyebab (Etiologi)
- Perubahan fungsi tubuh
- Perubahan struktur tubuh
- Penyakit kronis (mis. kanker)
- Prosedur medis (mis. pembedahan, pemasangan stoma)
- Perubahan fungsi tubuh: Fungsi eliminasi feses yang beralih melalui stoma, bukan anus.
- Perubahan struktur tubuh: Adanya lubang stoma dan kantong kolostomi/ileostomi di dinding abdomen.
- Penyakit kronis: Diagnosis Ca Rectosigmoid stadium 3b yang mengancam jiwa dan memerlukan penanganan agresif.
- Prosedur medis: Tindakan kolostomi/ileostomi yang mengubah anatomi tubuh.
Gejala dan Tanda Mayor (Data Subjektif & Objektif)
- Subjektif:
- Mengungkapkan perasaan negatif tentang tubuh (mis. "saya merasa cacat", "saya jijik dengan diri sendiri").
- Mengungkapkan kekhawatiran tentang penolakan/reaksi orang lain.
- Mengungkapkan perubahan gaya hidup.
- Objektif:
- Tidak mau melihat/menyentuh bagian tubuh yang berubah.
- Menyembunyikan/menutupi bagian tubuh yang berubah (mis. dengan pakaian longgar).
- Fokus berlebihan pada bagian tubuh yang berubah.
- Menarik diri dari sosial.
- Pasien mungkin menyatakan rasa malu atau tidak percaya diri dengan stoma.
- Pasien mungkin menghindari interaksi sosial atau menolak melihat/menyentuh stoma saat perawatan.
- Pasien mungkin menunjukkan ekspresi sedih atau cemas saat membahas kondisi tubuhnya.
2. Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)
SLKI adalah standar yang digunakan untuk merumuskan tujuan dan kriteria hasil asuhan keperawatan. SLKI membantu perawat dalam menetapkan luaran yang terukur dan berorientasi pada pasien, sehingga kemajuan kondisi pasien dapat dievaluasi secara objektif.
Luaran Keperawatan yang Relevan: Citra Tubuh
Untuk diagnosa Gangguan Citra Tubuh, luaran yang diharapkan adalah peningkatan Citra Tubuh pasien.
Komponen SLKI
Kode & Definisi
Kriteria Hasil (Setelah Intervensi)
Luaran Utama
L.09068: Citra Tubuh
Persepsi positif individu terhadap penampilan dan fungsi tubuhnya.
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama ... x 24 jam, diharapkan Citra Tubuh pasien membaik dengan kriteria hasil:
Kriteria Hasil (Skala 1-5)
- Verbalisasi perasaan negatif tentang tubuh menurun.
- Verbalisasi kekhawatiran tentang penolakan menurun.
- Fokus berlebihan pada bagian tubuh yang berubah menurun.
- Melihat bagian tubuh yang berubah meningkat.
- Menyentuh bagian tubuh yang berubah meningkat.
- Hubungan sosial meningkat.
- Penerimaan terhadap perubahan penampilan tubuh meningkat.
- Penerimaan terhadap perubahan fungsi tubuh meningkat.
- Pasien tidak lagi mengungkapkan perasaan negatif tentang stoma (dari cukup menurun menjadi meningkat).
- Pasien tidak lagi khawatir berlebihan tentang reaksi orang lain (dari cukup menurun menjadi meningkat).
- Pasien mulai melihat dan menyentuh stoma saat perawatan (dari cukup menurun menjadi meningkat).
- Pasien menunjukkan minat untuk berinteraksi sosial (dari cukup menurun menjadi meningkat).
- Pasien menunjukkan penerimaan terhadap stoma sebagai bagian dari tubuhnya (dari cukup menurun menjadi meningkat).
3. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI)
SIKI adalah panduan untuk merencanakan dan melaksanakan tindakan keperawatan yang spesifik dan berbasis bukti. SIKI menyediakan daftar intervensi yang terstruktur, lengkap dengan definisi, tindakan (observasi, terapeutik, edukasi, kolaborasi), dan rasionalnya.
Intervensi Keperawatan yang Relevan: Promosi Citra Tubuh
Untuk mencapai luaran Citra Tubuh yang membaik, intervensi Promosi Citra Tubuh sangat
Article No. 24318 | 05 Mar 2026
Klinis : pasien terdiagnosa ca rectosigmoid stadium 3b, ada pemasangan stoma di perut sebelah kanan,
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Diagnosa Keperawatan,Article No. 24319 | 05 Mar 2026
Klinis : Tn. D, usia 23 tahun datang ke IGD RSUD Jend. Ahmad Yani Metro pada tanggal 20 Agustus 2023, diantar oleh keluarganya dengan keluhan utama nyeri kepala post kecelakaan lalu lintas (KLL) sejak ± 30 menit SMRS, ketika pasien mengendarai sepeda motor di daerah Pekalongan, Lampung Timur. Pasien menabrak tugu di pinggir jalan sehingga terjatuh dari sepeda motor (KLL tunggal) dengan keadaan tidak memakai helm. Pasien pingsan selama 30 menit, sejak awal kejadian KLL hingga tiba di IGD RSUD Jend. Ahmad Yani Metro. Saat sadar, pasien mengeluh nyeri kepala yang dirasakan berdenyut. Muntah darah tiga kali, saat sadar kembali pasien sudah berada di IGD RSUD Jend. Ahmad Yani Metro untuk mendapatkan perawatan. Saat dimintai keterangan, pasien tidak dapat mengingat kronologi KLL sepenuhnya. Pasien hanya mengingat bahwa dirinya menabrak tugu di pinggir jalan, kepala membentur jalan dan pingsan. Pasien mengeluh nyeri kepala. Nyeri kepala dirasakan berdenyut dengan intensitas di seluruh bagian kepala. Riwayat pingsan selama 30 menit. Saat sadar, pasien muntah sebanyak tiga kali, muntah tidak menyemprot. Pasien tidak hilang ingatan. Selain itu pasien mengeluh mata kiri sulit dibuka, bengkak dan terasa nyeri. Riwayat penyakit dahulu disangkal. Riwayat penyakit keluarga disangkal. Riwayat pengobatan di sangkal. Riwayat merokok disangkal. Riwayat pemakaian narkotika dan zat adiktif disangkal. Pada pemeriksaan fisik, keadaan umum pasien tampak sakit sedang, dengan kesadaran compos mentis dengan Glasgow Coma Scale E4M6V5. Status gizi normoweight. tekanan darah 116/76 mmHg, nadi 98x/menit, frekuensi napas 20x/menit, suhu tubuh 36,7⁰C, dan saturasi oksigen 98%. Pada pemeriksaan fisik, ditemukan vulnus excoriasi regio frontalis ukuran 1,4x0,5cm, vulnus excoriasi regio supraorbital sinistra ukuran 2x1cm, vulnus laceratum regio supraorbital sinistra ukuran 2,3x1,2 cm, vulnus laceratum regio orbita sinistra ukuran 2x1 cm, vulnus laceratum regio auricula sinistra ukuran 3x1 cm, vulnus excoriasi regio oralis ukuran 1,7x 0,6cm, vulnus laceratum regio infraclavicularis sinistra ukuran 2,9x0,3 cm, dan vulnus contusum regio deltoidea sinistra ukuran 4x3cm. Kepala, leher, thorax, abdomen, dan ekstremitas dalam batas normal. Pada pemeriksaan neurologis dari nervus I-XII tidak ada kelainan, reflek fisiologis tidak meningkat, reflex patologis tidak ada, rangsang selaput otak juga tidak ditemukan kelainan. Pada pemeriksaan penunjang, hasil laboratorium darah menunjukkan peningkatan pada leukosit dan MPV, serta pada kimia klinik didapatkan penurunan pada ureum. Pada foto rontgen thorax, pulmo dan cor dalam batas normal. Pada pemeriksaan CT Scan non krontrasbrain window dan bone window tidak tampak lesi intracranial. Namun ditemukan pneumocephal regio frontal dan retrobulber sinistra, hematosinus sinus frontalis et ethmoidalis bilateral, sinusitis sphenoid et maxilla dextra, frakturos frontal hingga sinus posterior sinistra os nasal, subgaleal hematoma regio frontal, nasal, dan orbita sinistra. Tidak ditemukan kelainan pada foto BNO 3 posisi. Penatalaksanaan pada kasus ini meliputi primary survey, secondary survey, observasi keadaan umum dan vital sign. Dilakukan wound toilet, penjahitan luka, injeksi toksoid tetanus 0,5 cc IM. Dilanjutkan terapi IVFD RL 20 tpm yang dicampur neurotropik neurosanbe. Diberikan injeksi Ceftriaxone 1 gr per 12 jam, injeksi ketorolac 3x30 mg, injeksi Citicoline 2x500mg, injeksi Omeprazole 1x40 mg, dan injeksi Asam Tranexamat 3x100 mg. Pasien dibawa ke bangsal Ilmu Penyakit Saraf untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. Edukasi keluarga pasien mengenai penyakit, perjalanan penyakit, prognosis penyakit yang diderita pasien, terapi yang akan diberikan selama perawatan, durasi terapi, serta keadaan ruangan perawatan yang tenang dan nyaman dapat mendukung keadaan pasien. Pasien dirawat selama 3 hari di bangsal Ilmu Penyakit Saraf. Pada hari pertama perawatan di bangsal, pasien mengeluhkan nyeri pada luka robek di kepalanya. Keadaan umum pasien tampak sakit sedang, dengan kesadaran compos mentis dengan Glasgow Coma Scale E4M6V5. Tekanan darah 117/80 mmHg, nadi 80x/menit, frekuensi napas 20x/menit, suhu tubuh 36,1⁰C, dan saturasi oksigen 98%. Pada hari kedua perawatan di bangsal, pasien mengeluhkan nyeri pada luka robek di kelopak mata kiri. Keadaan umum pasien tampak sakit sedang, dengan kesadaran compos mentis dengan Glasgow Coma Scale E4M6V5. Tekanan darah 122/84 mmHg, nadi 88x/menit, frekuensi napas 20x/menit, suhu tubuh 36,3⁰C, dan saturasi oksigen 98%. Pada hari ketiga perawatan di bangsal, pasien tidak memiliki keluhan. Keadaan umum pasien tampak baik, dengan kesadaran compos mentis dengan Glasgow Coma Scale E4M6V5. Tekanan darah 122/84 mmHg, nadi 72x/menit, frekuensi napas 20x/menit, suhu tubuh 37,0⁰C, dan saturasi oksigen 99%
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut (International Association for the Study of Pain); onset mendadak atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau diprediksi dan durasi ≤ 3 bulan.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : SLKI L.08001 adalah Luaran Keperawatan yang diharapkan, yaitu "Tingkat nyeri terkontrol". Luaran ini ditandai dengan beberapa kriteria hasil, antara lain: klien melaporkan nyeri berkurang atau hilang, skala nyeri menurun, tanda-tanda vital dalam rentang normal, tidak ada perilaku yang menunjukkan nyeri (seperti meringis, gelisah, menangis), klien mampu beristirahat dan tidur dengan nyenyak, serta mampu melakukan aktivitas sesuai toleransi. Pada kasus Tn. D, tujuan perawatan adalah mencapai luaran ini melalui intervensi farmakologis dan non-farmakologis untuk mengelola nyeri kepala dan nyeri pada luka-luka di kepala serta wajahnya.
Kode SIKI: I.08039
Deskripsi : SIKI I.08039 adalah Intervensi Keperawatan "Manajemen Nyeri". Intervensi ini mencakup serangkaian tindakan sistematis untuk mengurangi atau menghilangkan nyeri. Pada Tn. D, intervensi ini diwujudkan melalui: 1) **Pengkajian Nyeri Komprehensif**: Memantau karakteristik nyeri (lokasi, intensitas, kualitas seperti berdenyut, faktor pencetus dan pereda) secara berkala menggunakan skala nyeri yang valid. 2) **Pemberian Analgesik**: Kolaborasi pemberian injeksi ketorolac sesuai program medis dan memantau efektivitas serta efek sampingnya. 3) **Intervensi Non-Farmakologis**: Menciptakan lingkungan ruangan yang tenang dan nyaman (sebagaimana diedukasi kepada keluarga), melakukan reposisi atau teknik kenyamanan posisi untuk mengurangi ketegangan pada area luka. 4) **Edukasi**: Memberikan penjelasan tentang penyebab nyeri, durasi yang diharapkan, dan pentingnya melaporkan nyeri. 5) **Distraksi**: Menganjurkan teknik distraksi seperti mendengarkan musik atau mengobrol untuk mengalihkan perhatian dari sensasi nyeri. Intervensi ini dilakukan secara terus-menerus selama tiga hari perawatan untuk mencapai luaran pengendalian nyeri, yang terlihat dari hilangnya keluhan nyeri pada hari ketiga.
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: D.0068
Deskripsi Singkat: Peningkatan kerentanan terhadap invasi dan multiplikasi patogen, yang dapat mengancam kesehatan.
Kode SLKI: L.15001
Deskripsi : SLKI L.15001 adalah Luaran Keperawatan yang diharapkan, yaitu "Risiko infeksi terkontrol". Luaran ini ditandai dengan kriteria: tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi (seperti demam, kemerahan, bengkak, pus, atau peningkatan nyeri pada luka), hasil laboratorium leukosit dalam rentang normal, luka menunjukkan proses penyembuhan (granulasi, tidak ada discharge purulen), dan klien serta keluarga memahami upaya pencegahan infeksi. Pada Tn. D, yang memiliki multiple vulnus laceratum dan excoriasi serta fraktur terbuka (fraktur os nasal), risiko infeksi sangat tinggi. Tujuan perawatannya adalah mencegah terjadinya infeksi pada luka-luka tersebut dan potensi infeksi intracranial akibat fraktur dan pneumocephalus.
Kode SIKI: I.15043
Deskripsi : SIKI I.15043 adalah Intervensi Keperawatan "Perawatan Luka". Intervensi ini meliputi tindakan untuk membersihkan, melindungi, dan memfasilitasi penyembuhan luka. Pada Tn. D, intervensi ini dilaksanakan melalui: 1) **Perawatan Luka Aseptik**: Melakukan wound toilet dan perawatan luka pasca penjahitan dengan teknik steril untuk mencegah kontaminasi. 2) **Observasi Tanda Infeksi**: Memantau tanda-tanda inflamasi lokal (kalor, dolor, rubor, tumor, functio laesa) dan sistemik (demam, peningkatan leukosit) secara ketat setiap hari. 3) **Kolaborasi Pemberian Antibiotik**: Memastikan pemberian injeksi ceftriaxone tepat waktu sebagai profilaksis atau terapi infeksi. 4) **Kolaborasi Pemberian Toksoid Tetanus**: Memastikan pemberian injeksi TT telah diberikan sesuai protokol pencegahan infeksi tetanus. 5) **Edukasi**: Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga untuk tidak menyentuh luka dengan tangan kotor, menjaga kebersihan area sekitar luka, dan mengenali tanda-tanda infeksi yang perlu dilaporkan segera. Intervensi ini bertujuan menjaga integritas kulit dan jaringan sebagai pertahanan pertama terhadap infeksi.
Kondisi: Risiko Perfusi Serebral Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0158
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan suplai darah otak yang dapat menyebabkan kerusakan otak.
Kode SLKI: L.14001
Deskripsi : SLKI L.14001 adalah Luaran Keperawatan yang diharapkan, yaitu "Perfusi serebral adekuat". Luaran ini ditandai dengan kriteria: kesadaran compos mentis atau GCS 15 (E4M6V5), fungsi kognitif dan memori baik (meskipun amnesia retrograd terhadap kejadian KLL diakui sebagai bagian dari cedera), tanda-tanda vital stabil, tidak ada peningkatan tekanan intrakranial (seperti nyeri kepala hebat, muntah proyektil, penurunan kesadaran), dan hasil pemeriksaan neurologis dalam batas normal. Pada Tn. D dengan riwayat trauma kepala berat (pingsan 30 menit, pneumocephalus, hematosinus, fraktur), meskipun CT Scan tidak menunjukkan lesi intrakranial masif, risiko gangguan perfusi serebral tetap ada akibat edema atau perdarahan yang mungkin tertunda.
Kode SIKI: I.14029
Deskripsi : SIKI I.14029 adalah Intervensi Keperawatan "Pemantauan Neurologis". Intervensi ini mencakup pengamatan sistematis dan berkelanjutan terhadap status neurologis untuk mendeteksi dini adanya perubahan atau deteriorasi. Pada Tn. D, intervensi ini dijalankan secara intensif melalui: 1) **Pemantauan Glasgow Coma Scale (GCS)**: Menilai dan mendokumentasikan skor GCS (E4M6V5) secara berkala untuk mendeteksi penurunan kesadaran sekecil apapun. 2) **Pemantauan Tanda Vital Neurologis**: Memantau tekanan darah, nadi, pernapasan (Cushing's triad: hipertensi, bradikardia, pernapasan tidak teratur sebagai tanda peningkatan TIK), dan reaksi pupil. 3) **Pemeriksaan Neurologis Fokus**: Memeriksa fungsi saraf kranial, kekuatan motorik, sensasi, dan reflejs secara periodik. 4) **Observasi Gejala Klinis**: Mengkaji keluhan nyeri kepala (karakter, intensitas), mual/muntah, penglihatan, serta adanya kejang. 5) **Kolaborasi Pemberian Neuroprotektor**: Memastikan pemberian citicoline untuk mendukung pemulihan fungsi saraf. 6) **Manajemen Lingkungan**: Menjaga lingkungan tenang, membatasi pengunjung, dan menghindari aktivitas yang meningkatkan tekanan intrakranial (seperti mengejan). Intervensi ini merupakan kunci dalam mencegah komplikasi fatal dari cedera kepala yang dialami Tn. D.
Article No. 24296 | 04 Mar 2026
Klinis : Kasus 4 Tn.E 50 tahun, Laki-laki, D3, tidak menentu, alamat : Jl. Cicadas Kecamatan Cibeunying Kidul, Agama Kristen, menikah. Diagnosa medis : CH Child B ec HBV suspek HCC BCLC atas dasar sirosis hati + Perdarahan saluran makan bagian atas ec pecah varises esofagus + suspek metastasis tulang + otak dengan sindroma paraneoplastik (anemia, leukositosis) + HAP. Tanggal Pengkajian : 31 Januari 2025. Pasien mengeluh nyeri pada seluruh lapang perutnya. Pasien mengeluh lemas dan terdapat muntah kehitaman. Pasien mengeluhkan nyeri perut pada lapang perutnya sudah lebih dari 3 minggu yang lalu. Nyeri terasa paling berat di sebelah kiri bawah sejak 2 bulan yang lalu. Sejak 1 bulan SMRS perut pasien membesar. Terdapat mual, muntah berwarna hitam , BAB hitam (-), BAK berwarna coklat seperti teh. Pasien mengeluhkan nyeri diperut dan kakinya membuatnya sulit tidur. Pasien kadang menjawab pertanyaan dan mengikuti perintah, namun terkadang tidak dan selalu lama dalam menjawab pertanyaan. Dua hari SMRS pasien mengalami penurunan kesadaran yang berat dan pasien jadi lebih sering tertidur. Pasien mengalami penurunan BB sebanyak 7 Kg. perut mengalami pembesaran sejak 4 bulan SMRS. Klien terpasang nasal kanul dan sedang dilakukan dekompresi lambung dengan cairan lambung berwarna kehitaman pekat. Terpasang nasal canul dengan 3 lpm Pasien memiliki riwayat sirosis hati sejak tahun 2020 dan riwayat EDH ec kecelakaan dan amnesia retrograde pada tahun 2020. Penyakit hepatitisnya baru diketahui setelah pasien mengalami kecelakaan pada tahun 2020 dan empat tahun kemudian mengalami perburukan karena penyakit tersebut. Pasien memiliki riwayat penyakit TB sejak tahun 2012 dan mengkonsumsi OAT selama 6 bulan dengan tuntas. Pasien memiliki tato ditangan kanannya, pasien juga memiliki riwayat merokok sejak 20 tahun yang lau dengan ½ bungkus per hari. Pasien juga memiliki riwayat mengkonsumsi alkohol. Pada tanggal 20 Januari 2025 Pasien masuk ke RS Hermina dengan keluhan serupa, lalu dirujuk ke RSHS pada tanggal 27 Januari 2025. Pasien sempat terjatuh 2 bulan yang lalu dan mengeluhkan nyeri pada kaki kiri. Sebelum jatuh pasien mengeluhkan nyeri berat pada kepala yang membaik dengan istirahat. Pasien juga mengalami kesulitan berbicara sejak 2 bulan yang lalu (bicara rero dan mulut mencong ke kiri). Pasien juga memiliki riwayat kelemahan anggota gerak bagian kiri serta baal di sekitar mulut. Istrinya mengatakan sejauh yang ia tahu ada yang memiliki penyakit serupa di keluarga suaminya, namun jika terkait hipertensi dan serta diabetes ada keluarga suaminya yang memiliki riwayat tersebut. Klien saat ini hanya tinggal bersama anak dan juga istrinya. Persepsi klien tentang penyakitnya a. Hal yang dipikirkan saat ini Klien mengatakan yang dipikirkan adalah sembuh dan sehat serta ingin membuka restrain yang ada di tangannya. Klien ingin nyeri di perutnya hilang dan seluruh alat yang terpasang bisa dilepas. Istrinya mengatakan yang dipikirkan adalah terkait kesehatan suaminya dan semangat suaminya dalam menjalani pengobatan, dan ina berpikir untuk berusaha membuat suaminya lebih dekat dengan tuhan b. Harapan setelah menjalani perawatan Harapan klien adalah ia hanya ingin sembuh dan kembali kerumah dengan sehat. Dia tidak suka melihat anak dan istrinya sedih. Istrinya mengatakan jika ia hanya ingin suaminya sembuh dan suaminya memiliki keinginan kuat serta semangat untuk sembuh Sejauh ini istrinya hanya terus berusaha membuat suaminya semangat, anak-anaknya kuat menjalani semua, dan membuat suaminya semakin dekat dengan tuhan Klien mengatakan tidak nyaman dengan badannya yang sekarang terutama setelah dirinya mengalami kecelakaan. Istrinya mengatakan kadang suaminya terlihat melamun dengan tatapan kosong dan mengatakan sedih melihat perutnya yang semakin membesar Klien merupakan seorang ayah dan juga suami yang mengatakan bahwa merasa tidak menjadi orang yang sama lagi setelah mengalami kecelakaan dan mengetahui memiliki penyakit ini. Keluarga mengatakan klien sempat mengatakan takut akan kematian dan kehilangan eksistensi diri Klien merupakan seorang ayah dari 2 anak, dahulu dia sebenarnya bekerja dibidang perhotelan. Setelah mengalami kecelakaan pasien masih bisa beraktivitas namun tidak dengan aktivitas berat. Sekarang klien tidak bisa bekerja dan hanya bisa diam ditempat tidur. Istrinya mengatakan dahulu suaminya sangat bertanggung jawab sebagai ayah yang baik. Sekarang suaminya hanya bisa terbaring dengan kondisi sakit dan sering melamun bahkan kadang sulit mengingat. Istrinya mengatakan bahwa idealnya suaminya sekarang masih dapat menikmati hidupnya menjelang masa tua. Suaminya masih muda dan seharusnya masih bisa bekerja serta bercengkrama dengan orang sekitar. Istrinya mengatakan klien sering melamun dan terdiam memikirkan kondisinya. Ia merasa sedih karena sudah tidak bisa menjadi ayah dan suami yang baik dan terus merepotkan karena sakit-sakitan Persepsi klien tentang masalahnya Istrinya mengatakan bahwa sakit yang dialami suaminya adalah cobaan yang harus keluarga mereka lalui dan sebuah cobaan untuk menguji iman mereka. Istrinya juga berkata sakit yang suaminya hadapi menjadikannya lebih dekat lagi dengan tuhannya. Istrinya hanya berharap yang terbaik untuk suaminya dan tidak ingin melihatnya kesakitan terus. Istrinya mengatakan khawatir terkait dengan kondisi suaminya yang memburu, dia bingung bagaimana menjelaskan hal ini kepada anak dan keluarganya. Istrinya merasa kasihan jika bapaknya masih kesakitan tapi disi lain ia masih berharap bapaknya bisa sembuh dengan total. Sekarang dia hanya mencoba berserah pada kehendak tuhan walaupun masih dalam ketakutan - Sumber koping klien Istrinya mengatakan sumber kekuatan suami dan dirinya adalah anak-anaknya, selain itu keberadaan keluarga dan teman yang terus datang untuk menjenguk juga menjadi semangat untuk suaminya. Klien juga lebih sering berdoa semenjak sakit Fase Berduka : Acceptance Istrinya mengatakan bahwa ia sudah mencoba menerima semuanya walaupun terkadang sulit, ia mengatakan bahwa apa yan terjadi adalah kuasa tuhan dan ini mungkin cobaan bagi keluarganya supaya bisa lebih dekat dengan tuhan serta istrinya mengatakan bahwa dia bukanlah orang yang sempurna. Proses berduka istri pasien tidak beraturan karena pasien dipaksa untuk bisa kuat dn menerima semua yang terjadi. DIrinyalah yang menjadi garda terdepan untuk suaminya. Dia jugalah yang menjaga anak-anaknya, serta dialah yang berperan penting dalam pengembilan keputusan bagi suaminya, sehingga dia yang harus paling kuat didpan anaknya dan suaminya. Peran serta dalam kehidupan masyarakat Istrinya mengatakan bahwa klien cukup memiliki banyak teman namun tidak terlalu sering berinteraksi dengan lingkungan sekitar rumahnya. Suaminya sering mengikuti kegiatan keagamaan dan merupakan orang yang taat dan dikenal banyak orang di gereja tempatnya beribadah - sekarang dengan kondisi lemah dan suaminya yang tdiak bisa berjalan menjadi hambatan sendiri bagi dirinya - Istrinya mengatakan sejauh ini tidak ada kendala apapun terkait dengan biaya pengobatan klien karena masih menggunakan bpjs. Selain itu, anaknya sudah ada yang besar dan bekerja sehingga sedikitnya membantu ekonomi ibu. Keluarga yang lain juga sering membantu mereka Istrinya mengatakan bahwa suaminya begini karena riwayat hepatitis kronis yang dimiliki sejak 4 tahun dan tidak diobati karena dia tidak tahu dengan penyakit tersebut. Menurutnya ia adalah orang awam yang tidak tahu menahu terkait penyakit tersebut, bagaimana penularan dan cara perawatan serta prognosis atau perjalanan penyakit kedepannya. Klien hanya mengatakan bahwa dirinya datang ke RS karena nutrisi nya kurang jadi lemas terus sakit perut dan kepala. Klien kurang memahami bahwa dia sakit dan terus menginginkan untuk membuka semua alat yang terpasang. Istrinya juga tidak tau terkait mengapa harus dipasang ngt dan selalu memberikan minum pada suaminya. Istrinya mengatakan bawa pasien sebenarnya tidak tahu lebih jauh terkait kondisinya dan tidak pernah bertanya. Yang suaminya tahu hanya sebatas dia tidak bisa berjalan lagi. Pengkajian FICA Faith: Apakah penyakit berdampak pada pasien dalam memaknai hidup? → Ya, menurut istrinya suaminya jadi lebih dekat lagi kepada tuhan. Lebih sering beribadah dan rajin berdoa dari sebelumnya Importance and Influence: Apakah keyakinan dan kepercayaan penting bagi pasien? → ya. Istri klien mengatakan bahwa tanpa keyakinan dan kepercayaan pada tuhan mungkin dirinya tidak akan sanggup menghadapi cobaan ini. Dan mungkin semangat untuk sembuh dari suaminya tidak akan ada. Keyakinan dna kepercayaan terhadap kuasa tuhan juga yang membuat ibunya merasa kuat hingga saat ini Community: Apakah pasien aktif dalam kegiatan keagamaan? → Aktif dalam kegiatan keagamaan di gerejanya Addressing: Apakah pasien memerlukan bantuan perawat dalam memenuhi kebutuhan spiritual dan ibadah? → Iya, pasien dalam kondisi yang tidak dapat berbicara secara kooperatif dan harus dibantu dalam banyak hal, termasuk berdoa saat ingin makan atau melakukan sesuatu. Keluarganya sering membimbingnya untuk berdoa dan sempat mendatangkan pendeta untuk membntu mendoakan kesehatan pasien LiLA : 25,- BB : 50 kg,- TB: 160 cm,- IMT : 27.8 X-Ray Kesan : - Bronchopneumonia Bilateral - Suspek efusi pleura kanan - Tidak tampak kardiomegali - Union fraktur clavicula kanan, terpasang plate and screw, posisi baik - Malunion fraktur os costa 3,4,5,6,7 aspek posterior kanan Femur sinistra Kesan : Fraktur patologis bascic servical neck femur kiri
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0006
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah seperti cedera (Asosiasi Internasional untuk Studi Nyeri); onset mendadak atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau diperkirakan dan durasi kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Kontrol Nyeri: Tindakan untuk mengontrol dan/atau mengurangi nyeri hingga tingkat yang dapat ditoleransi oleh individu. SLKI ini mencakup serangkaian intervensi seperti: melakukan pengkajian nyeri komprehensif (lokasi, karakteristik, onset, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas, faktor presipitasi); memfasilitasi tindakan kenyamanan (reposisi, teknik sentuhan, lingkungan yang tenang); memberikan terapi farmakologis sesuai instruksi dan memantau efek samping; mengajarkan dan memfasilitasi metode non-farmakologis (distraksi, relaksasi, imajinasi terbimbing); serta memantau dan mendokumentasikan respons terhadap terapi yang diberikan.
Kode SIKI: I.08001
Deskripsi : Manajemen Nyeri: Tindakan kolaboratif dan independen perawat untuk mengurangi atau menghilangkan nyeri. Intervensi spesifik meliputi: 1) Mengkaji nyeri secara komprehensif menggunakan skala yang sesuai (misal, Numeric Rating Scale/NRS) setiap shift dan sebelum/setelah intervensi. 2) Mengajarkan pasien dan keluarga untuk melaporkan nyeri. 3) Mengkolaborasikan pemberian analgesik sesuai resep (misal, opioid untuk nyeri berat pada kanker metastatik) dengan memantau efek dan side effect (seperti depresi pernapasan, konstipasi). 4) Menerapkan intervensi non-farmakologis seperti reposisi hati-hati (mengingat fraktur patologis), kompres hangat/dingin pada area tertentu jika tidak kontraindikasi, teknik napas dalam, dan distraksi melalui percakapan atau musik. 5) Memodifikasi lingkungan untuk mengurangi stres (penerangan, kebisingan). 6) Mendokumentasikan karakteristik nyeri, intervensi, dan evaluasi hasil. Pada kasus Tn. E, nyeri bersifat multifokal (perut, kepala, kaki kiri) dengan dugaan penyebab multipel (HCC, metastasis tulang, fraktur patologis, HAP), sehingga manajemen nyeri memerlukan pendekatan holistik dan multidisiplin.
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan
Kode SDKI: D.0002
Deskripsi Singkat: Berisiko mengalami penurunan, peningkatan, atau perpindahan cepat cairan intravaskular, interstisial, dan/atau intraselular.
Kode SLKI: L.06002
Deskripsi : Pemantauan Keseimbangan Cairan: Tindakan untuk mengumpulkan dan menganalisis informasi tentang keseimbangan cairan individu. SLKI ini meliputi: memantau tanda-tanda vital (terutama nadi dan tekanan darah), mengukur asupan dan haluaran cairan secara akurat (termasuk output NGT yang kehitaman), memantau tanda-tanda klinis dehidrasi atau kelebihan cairan (turgor kulit, edema, distensi abdomen, bunyi napas), menimbang berat badan harian dengan kondisi yang sama, serta memantau hasil pemeriksaan laboratorium (elektrolit, hematokrit, albumin).
Kode SIKI: I.06005
Deskripsi : Manajemen Cairan: Tindakan untuk mempromosikan keseimbangan cairan dan elektrolit. Intervensi spesifik meliputi: 1) Mempertahankan catatan balance cairan yang akurat (input oral/IV, output urine, drainase NGT). 2) Memantau tanda-tanda perdarahan saluran cerna berlanjut (muntah coffee ground, melena, takikardia, hipotensi). 3) Mengkolaborasikan pemberian terapi cairan intravena dan transfusi darah jika diperlukan sesuai kondisi perdarahan dan hipovolemia. 4) Memantau distensi abdomen dan asites (perut membesar) serta kolaborasi pembatasan natrium jika diperlukan. 5) Mengatur kecepatan infus sesuai program terapi. 6) Memantau status respirasi terkait risiko overload cairan (efusi pleura, HAP) dan edema paru. 7) Mengkaji mukosa membran, rasa haus, dan turgor kulit. Pada Tn. E, risiko diperberat oleh perdarahan varises esofagus (muntah hitam), asites, dan kondisi sistemik sirosis hati yang memengaruhi sintesis protein dan tekanan onkotik.
Kondisi: Gangguan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: D.0004
Deskripsi Singkat: Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
Kode SLKI: L.03001
Deskripsi : Status Nutrisi: Tindakan untuk mengumpulkan dan menganalisis informasi tentang asupan makanan dan cairan individu dalam hubungannya dengan kebutuhan metabolik. SLKI ini mencakup: mengkaji pola makan, riwayat penurunan berat badan (Tn. E turun 7 kg), kemampuan mengunyah dan menelan, adanya mual/muntah, data antropometri (IMT 27,8 mungkin dipengaruhi asites, bukan massa otot), serta data biokimia (albumin, hemoglobin).
Kode SIKI: I.03001
Deskripsi : Manajemen Nutrisi: Tindakan untuk mempromosikan atau mempertahankan keseimbangan nutrisi. Intervensi spesifik meliputi: 1) Berkolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan kebutuhan kalori-protein yang sesuai dengan kondisi sirosis dan hipermetabolik akibat kanker. 2) Mempertahankan fungsi NGT untuk dekompresi dan/atau pemberian nutrisi enteral sesuai program (setelah perdarahan terkontrol). 3) Memberikan edukasi pada keluarga (istri) tentang pentingnya NGT dan larangan memberikan minum/per oral tanpa persetujuan tim medis. 4) Memberikan nutrisi parenteral jika jalur enteral tidak memungkinkan. 5) Memantau toleransi nutrisi (distensi, residu lambung, diare). 6) Memberikan perawatan mulut rutin untuk meningkatkan kenyamanan dan nafsu makan. 7) Memantau berat badan secara berkala (dengan memperhatikan faktor asites). Kondisi Tn. E sangat rentan malnutrisi akibat anoreksia, mual/muntah, peningkatan kebutuhan metabolik dari kanker, dan malabsorpsi akibat penyakit hati.
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: D.0028
Deskripsi Singkat: Peningkatan risiko invasi oleh patogen.
Kode SLKI: L.19001
Deskripsi : Kontrol Infeksi: Tindakan untuk mencegah dan mengurangi risiko penyebaran infeksi. SLKI ini meliputi: mempertahankan teknik aseptik dalam semua prosedur invasif (perawatan NGT, kanul), memantau tanda-tanda infeksi (demam, leukositosis, perubahan sputum), melakukan cuci tangan, serta mengajarkan keluarga dan pasien tentang pencegahan infeksi.
Kode SIKI: I.19001
Deskripsi : Pencegahan Infeksi: Tindakan untuk mencegah dan mengurangi risiko infeksi. Intervensi spesifik meliputi: 1) Mempertahankan prinsip aseptik ketat pada semua lini perawatan. 2) Memantau tanda vital dan status pernapasan terkait HAP dan efusi pleura. 3) Melakukan fisioterapi dada dan perubahan posisi untuk mencegah pneumonia bertambah berat. 4) Memastikan perawatan luka (jika ada) dan area sekitar selang NGT/kanul nasal tetap bersih dan kering. 5) Mengkolaborasikan pemberian antibiotik sesuai program. 6) Membatasi pengunjung yang sakit. 7) Memantau hasil kultur dan sensitivitas antibiotik. Risiko infeksi Tn. E sangat tinggi karena adanya Hospital Acquired Pneumonia (HAP), kondisi imunosupresi dari sirosis dan kanker, serta adanya alat invasif (NGT, kanul oksigen).
Kondisi: Ansietas
Kode SDKI: D.0012
Deskripsi Singkat: Perasaan gelisah, ketegangan, atau kekhawatiran yang tidak pasti yang berasal dari antisipasi ancaman yang dirasakan, dengan kemungkinan disertai disfungsi otonom.
Kode SLKI: L.14001
Deskripsi : Kontrol Ansietas: Tindakan untuk mengurangi atau meredakan perasaan gelisah, khawatir, ketakutan, atau cemas yang dialami individu. SLKI ini mencakup: mengkaji tingkat ansietas dan faktor penyebab (ketidaktahuan prognosis, takut kematian, kehilangan eksistensi diri), memberikan dArticle No. 24297 | 04 Mar 2026
Klinis : Tn. R, usia 58 tahun, dirawat di ruang ICU sebuah rumah sakit di Klaten dengan nomor RM 86789** sejak tanggal 2 Maret 2026. Pagi ini pukul 08.30 WIB perawat melakukan pengkajian. Berdasarkan keterangan keluarga, sebelum tidak sadar pasien sempat mengeluh sakit kepala hebat, bicara pelo, kemudian tersedak saat minum dan mendadak lemah pada sisi kiri tubuhnya. Pasien memiliki riwayat hipertensi sejak sepuluh tahun yang lalu dan diabetes melitus tipe 2 sejak delapan tahun terakhir, namun tidak teratur dalam mengonsumsi obat. Hasil CT scan kepala tanggal 2 Maret 2026 menunjukkan infark pada area arteri cerebri media dextra sehingga ditegakkan diagnosis medis stroke non hemoragik. Foto toraks tanggal 2 Maret 2026 memperlihatkan infiltrat bilateral yang mengarah pada pneumonia aspirasi. Hasil pemeriksaan laboratorium tanggal 2 Maret 2026 menunjukkan leukosit 18.000/mm³ dan glukosa darah sewaktu 356 mg/dL dengan HbA1c 9,8%, sehingga pasien juga dinyatakan mengalami komplikasi diabetes melitus tidak terkontrol. Saat pengkajian awal di ICU tanggal 2 Maret 2026, tingkat kesadaran pasien somnolen dengan GCS E3V4M5. Tekanan darah 180/100 mmHg, nadi 102 kali per menit, frekuensi napas 28 kali per menit, suhu 38,3°C, dan saturasi oksigen 90% tanpa bantuan oksigen. Wajah pasien deviasi ke kanan dengan hemiparesis sinistra (kelumpuhan sisi kiri tubuh), kekuatan otot ekstremitas kiri 2/5 dan kanan 4/5. Refleks batuk lemah, terdengar ronki basah pada kedua lapang paru bagian bawah, serta terdapat kesulitan menelan sehingga pasien terpasang NGT untuk pemenuhan nutrisi. Skala Braden menunjukkan skor 11 yang berarti risiko tinggi terjadinya dekubitus karena pasien tirah baring total. Berdasarkan data tersebut, perawat menegakkan diagnosis keperawatan pertama yaitu bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan akumulasi sekret dan penurunan refleks batuk sekunder penurunan kesadaran, ditandai dengan frekuensi napas 28 kali per menit, saturasi oksigen 90%, ronki basah bilateral, dan sekret kental saat suction. Luaran yang diharapkan setelah tiga hari adalah bersihan jalan napas meningkat dengan kriteria hasil frekuensi napas dalam rentang 16–24 kali per menit, saturasi oksigen ≥95%, ronki berkurang, dan sekret dapat dikeluarkan dengan efektif. Intervensi yang dilakukan meliputi pemantauan status respirasi dan saturasi oksigen secara berkala, pemberian posisi semi fowler, tindakan suction sesuai indikasi, kolaborasi pemberian oksigen, nebulizer, dan antibiotik. Pada pukul 08.45 WIB dipasang oksigen 3 liter per menit melalui nasal kanul sehingga saturasi meningkat menjadi 94%. Pukul 09.15 WIB dilakukan suction dengan hasil sekret kental kekuningan sekitar 15 ml dan ronki berkurang. Setelah kolaborasi dengan tim dokter, pasien mendapatkan obat nebulizer Salbutamol 2,5 mg dalam 2–3 mL NaCl 0,9% per 8 jam dan antibiotik intravena Ceftriaxone 1 gram per 24 jam dikombinasikan dengan metronidazole intravena 500 mg per 8 jam. Diagnosis keperawatan kedua adalah gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan neuromuskular sekunder kerusakan jaringan otak (stroke), ditandai dengan hemiparesis sinistra, kekuatan otot ekstremitas kiri 2/5, keterbatasan gerak, dan tirah baring total. Luaran yang diharapkan dalam lima hari adalah mobilitas fisik meningkat dengan kriteria hasil peningkatan kekuatan otot menjadi minimal 3/5, tidak terjadi kontraktur, dan tidak terjadi dekubitus. Intervensi meliputi pengkajian kekuatan otot setiap shift, latihan rentang gerak pasif dua kali sehari, perubahan posisi setiap dua jam, penggunaan matras antidekubitus, serta kolaborasi dengan fisioterapis dan okupasi terapis. Pada pukul 10.15 WIB dilakukan latihan ROM pasif selama 15 menit. Selama tindakan pasien mentoleransi dengan baik dan setelah tindakan pasien mengatakan merasa lebih nyaman. Pukul 12.00 WIB dilakukan perubahan posisi miring kanan. Setelah dilakukan tindakan, pasien mengatakan lebih nyaman dan pada pemeriksaan fisik tidak muncul kemerahan pada area tubuh yang menonjol. Pada pukul 15.00 WIB, fisioterapis melakukan latihan mobilisasi bertahap dan okupasi terapis memberikan stimulasi motorik serta edukasi keluarga. Diagnosis keperawatan ketiga adalah ketidakstabilan kadar glukosa darah berhubungan dengan resistensi insulin dan proses infeksi, ditandai dengan glukosa darah sewaktu 356 mg/dL, HbA1c 9,8%, suhu 38,3°C, dan riwayat DM tidak terkontrol. Luaran yang diharapkan setelah tiga hari adalah kestabilan kadar glukosa darah meningkat dengan kriteria hasil kadar glukosa darah berada pada rentang 140–200 mg/dL, tanda vital stabil, dan tidak ada tanda hiperglikemia berat. Intervensi meliputi pemantauan glukosa darah setiap enam jam, observasi tanda hiperglikemia, kolaborasi pemberian insulin sesuai sliding scale, serta kolaborasi dengan ahli gizi untuk pengaturan diet diabetes melalui NGT. Pada pukul 09.45 WIB diberikan insulin kerja cepat 8 unit subkutan sesuai instruksi dokter dengan hasil obat masuk sesuai dosis dan tidak terjadi reaksi hipoglikemia. Pukul 13.30 WIB dilakukan pemeriksaan kadar glukosa darah dengan hasil kadar glukosa darah menurun menjadi 248 mg/dL. Pukul 13.45 dilakukan kolaborasi dengan ahli gizi untuk penentuan diet dengan hasil ahli gizi menetapkan kebutuhan kalori 1500 kkal per hari dengan diet rendah glukosa sederhana. Pada evaluasi pukul 14.00 WIB diperoleh data frekuensi napas 22 kali per menit, saturasi 96% dengan oksigen 3 liter per menit, ronki minimal, pasien lebih tenang, sehingga masalah bersihan jalan napas tidak efektif dinyatakan teratasi sebagian dan intervensi dilanjutkan tanpa ada revisi. Evaluasi terhadap masalah keperawatan gangguan mobilitas fisik menunjukkan kekuatan otot masih 2/5 namun tidak ada komplikasi imobilisasi sehingga hasil analisis menyatakan masalah belum teratasi dan rencana dilanjutkan. Untuk evaluasi masalah keperawatan ketidakstabilan kadar glukosa darah menunjukkan hasil glukosa darah 210 mg/dL dan kondisi hemodinamik stabil. Analisis menyatakan masalah membaik namun belum teratasi sepenuhnya sehingga terapi insulin dan diet dilanjutkan.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Diagnosis keperawatan ini ditegakkan ketika terdapat ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang paten. Pada Tn. R, kondisi ini berhubungan dengan akumulasi sekret dan penurunan refleks batuk sekunder akibat penurunan kesadaran (somnolen) dan kelemahan otot pernapasan akibat stroke. Data pendukung yang spesifik adalah frekuensi napas meningkat (28x/menit), saturasi oksigen rendah (90%), adanya ronki basah bilateral yang menunjukkan penumpukan sekret, serta refleks batuk yang lemah. Kondisi ini diperberat oleh adanya pneumonia aspirasi yang dikonfirmasi dari foto toraks. Gangguan bersihan jalan napas merupakan ancaman langsung terhadap oksigenasi dan merupakan prioritas utama penanganan di ICU.
Kode SLKI: L.04001
Deskripsi : Luaran yang diharapkan adalah "Bersihan Jalan Napas Meningkat". Kriteria hasil yang ditetapkan mencakup: (1) Frekuensi napas dalam rentang normal (16-24 kali per menit), (2) Saturasi oksigen ≥95%, (3) Bunyi napas tambahan (ronki) berkurang atau hilang, dan (4) Sekret dapat dikeluarkan dengan efektif. Pada evaluasi pukul 14.00 WIB, luaran ini menunjukkan kemajuan signifikan dengan frekuensi napas turun menjadi 22x/menit, saturasi meningkat menjadi 96% (dengan dukungan oksigen), dan ronki menjadi minimal. Ini menunjukkan bahwa intervensi yang diberikan efektif dalam mencapai tujuan parsial dari luaran yang direncanakan. Pencapaian kriteria hasil ini secara bertahap sangat penting untuk mencegah hipoksia lebih lanjut dan memperbaiki kondisi pneumonia.
Kode SIKI: I.06006
Deskripsi : Intervensi keperawatan utama yang dilakukan adalah "Manajemen Jalan Napas". Intervensi ini meliputi serangkaian tindakan sistematis untuk memastikan jalan napas tetap terbuka dan bersih. Tindakan spesifik yang dilaporkan meliputi: (1) Pemantauan status respirasi dan saturasi oksigen secara berkala, (2) Pemberian posisi semi Fowler untuk optimasi ekspansi paru dan drainase sekret, (3) Melakukan suction sesuai indikasi berdasarkan adanya sekret yang tidak bisa dikeluarkan pasien sendiri (dilakukan pukul 09.15 WIB dengan hasil pengeluaran 15 ml sekret kental), (4) Kolaborasi pemberian terapi oksigen (nasal kanul 3 L/menit) untuk mengatasi hipoksemia, (5) Kolaborasi pemberian nebulizer (Salbutamol) untuk melebarkan saluran napas dan memudahkan pengeluaran sekret, serta (6) Kolaborasi pemberian antibiotik (Ceftriaxone dan Metronidazole) untuk mengatasi infeksi penyebab produksi sekret berlebih (pneumonia). Intervensi ini bersifat komprehensif, menggabungkan tindakan mandiri perawat dan kolaborasi dengan tim dokter, yang dilaksanakan berdasarkan respon pasien dan evaluasi berkelanjutan.
Kondisi: Gangguan Mobilitas Fisik
Kode SDKI: D.0010
Deskripsi Singkat: Diagnosis ini mengacu pada keterbatasan pergerakan fisik yang mandiri dan bertujuan. Pada Tn. R, gangguan ini secara langsung berhubungan dengan gangguan neuromuskular akibat kerusakan jaringan otak di area arteri cerebri media dextra yang menyebabkan hemiparesis sinistra (kelumpuhan sisi kiri). Data penunjang yang jelas adalah kekuatan otot ekstremitas kiri yang sangat menurun (skala 2/5), deviasi wajah ke kanan, tirah baring total, dan ketergantungan penuh untuk pergerakan. Skor Braden 11 yang menunjukkan risiko tinggi dekubitus semakin memperkuat diagnosis ini, karena imobilisasi merupakan faktor risiko utama. Gangguan mobilitas tidak hanya mempengaruhi fungsi muskuloskeletal tetapi juga meningkatkan risiko komplikasi serius seperti kontraktur sendi, trombosis vena dalam, pneumonia hipostatik, dan ulkus dekubitus.
Kode SLKI: L.09001
Deskripsi : Luaran yang diharapkan adalah "Mobilitas Fisik Meningkat". Kriteria hasil yang ditetapkan meliputi: (1) Peningkatan kekuatan otot menjadi minimal 3/5, (2) Tidak terjadi kontraktur sendi, dan (3) Tidak terjadi dekubitus. Pada evaluasi, meskipun kekuatan otot belum menunjukkan peningkatan (masih 2/5), dua kriteria pencegahan komplikasi berhasil dipertahankan. Pernyataan "tidak ada komplikasi imobilisasi" menunjukkan bahwa tujuan interim untuk mencegah kontraktur dan dekubitus tercapai. Luaran ini bersifat jangka menengah (diharapkan dalam 5 hari) dan memerlukan intervensi konsisten. Peningkatan kekuatan otot membutuhkan waktu dan terapi yang berkelanjutan, sehingga pencapaian luaran dinilai berdasarkan pencegahan komplikasi terlebih dahulu sebelum perbaikan kekuatan secara signifikan.
Kode SIKI: I.09030
Deskripsi : Intervensi keperawatan utama yang dilaksanakan adalah "Latihan Rentang Gerak". Intervensi ini merupakan tindakan mandiri perawat yang fundamental dalam manajemen gangguan mobilitas. Tindakan spesifik yang dilakukan meliputi: (1) Pengkajian kekuatan otot setiap shift sebagai dasar evaluasi, (2) Melakukan latihan rentang gerak (ROM) pasif dua kali sehari pada ekstremitas yang lemah (dilakukan pukul 10.15 WIB selama 15 menit), (3) Melakukan perubahan posisi secara teratur setiap 2 jam (dilakukan miring kanan pukul 12.00 WIB) untuk mengurangi tekanan dan mencegah dekubitus, (4) Penggunaan matras antidekubitus sebagai alat bantu, serta (5) Kolaborasi dengan fisioterapis untuk mobilisasi bertahap dan okupasi terapis untuk stimulasi motorik dan edukasi keluarga. Intervensi ini bertujuan untuk mempertahankan fungsi sendi, meningkatkan sirkulasi darah, mencegah atrofi otot, dan meminimalkan komplikasi akibat imobilisasi. Respons pasien yang merasa lebih nyaman setelah tindakan merupakan indikator positif dari toleransi dan efektivitas intervensi.
Kondisi: Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah
Kode SDKI: D.0049
Deskripsi Singkat: Diagnosis ini ditegakkan ketika terdapat risiko atau kondisi fluktuasi kadar glukosa darah di luar rentang normal. Pada Tn. R, ketidakstabilan ini berhubungan dengan dua faktor utama: (1) Resistensi insulin akibat Diabetes Melitus tipe 2 yang tidak terkontrol (dibuktikan dengan HbA1c 9,8% dan riwayat ketidakpatuhan minum obat), dan (2) Proses infeksi (pneumonia aspirasi dan mungkin infeksi lainnya) yang menyebabkan stres fisiologis sehingga meningkatkan hormon kontra-regulator insulin seperti kortisol dan katekolamin. Data penunjang yang sangat kuat adalah glukosa darah sewaktu yang sangat tinggi (356 mg/dL), peningkatan suhu tubuh (38,3°C sebagai tanda infeksi), dan leukositosis (18.000/mm³). Hiperglikemia pada kondisi kritis seperti stroke dan infeksi dapat memperburuk outcome, meningkatkan risiko infeksi lebih lanjut, dan menghambat proses penyembuhan.
Kode SLKI: L.26002
Deskripsi : Luaran yang diharapkan adalah "Kestabilan Kadar Glukosa Darah Meningkat". Kriteria hasil yang ditetapkan adalah: (1) Kadar glukosa darah berada pada rentang target 140-200 mg/dL (rentang yang umum diterima untuk pasien sakit kritis dengan diabetes), (2) Tanda vital stabil, dan (3) Tidak ada tanda hiperglikemia berat (seperti dehidrasi, ketoasidosis). Pada evaluasi, glukosa darah menurun drastis dari 356 mg/dL menjadi 210 mg/dL, yang meskipun masih sedikit di atas target atas (200 mg/dL), menunjukkan tren perbaikan yang sangat signifikan. Kondisi hemodinamik yang stabil juga dicapai. Pencapaian ini menunjukkan respons yang baik terhadap terapi insulin dan manajemen infeksi. Luaran ini bersifat dinamis dan memerlukan pemantauan ketat karena kadar glukosa dapat berfluktuasi dengan cepat pada kondisi stres.
Kode SIKI: I.25001
Deskripsi : Intervensi keperawatan utama yang dilakukan adalah "Manajemen Hiperglikemia". Intervensi ini mencakup tindakan untuk memantau dan mengontrol kadar glukosa darah dalam rentang yang ditargetkan. Tindakan spesifik yang dilaporkan meliputi: (1) Pemantauan glukosa darah setiap 6 jam (dilakukan dan menunjukkan penurunan menjadi 248 mg/dL dan 210 mg/dL), (2) Observasi tanda-tanda hiperglikemia berat dan hipoglikemia sebagai komplikasi terapi, (3) Kolaborasi pemberian insulin sesuai sliding scale atau instruksi dokter (insulin kerja cepat 8 unit subkutan diberikan pukul 09.45 WIB), dan (4) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk pengaturan diet diabetes khusus melalui NGT, yang menghasilkan rekomendasi diet 1500 kkal/hari rendah glukosa sederhana. Intervensi ini bersifat kolaboratif dan memerlukan ketepatan dalam pemberian insulin, pemantauan efek, serta pen
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 264 265 266 267 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 280 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 297 298 299 300 301 302 303 304 305 306 307 308 309 310 311 312 313 314 315 316 317 318 319 320 321 322 323 324 325 326 327 328 329 330 331 332 333 334 335 336 337 338 339 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 350 351 352 353 354 355 356 357 358 359 360 361 362 363 364 365 366 367 368 369 370 371 372 373 374 375 376 377 378 379 380 381 382 383 384 385 386 387 388 389 390 391 392 393 394 395 396 397 398 399 400 401 402 403 404 405 406 407 408 409 410 411 412 413 414 415 416 417 418 419 420 421 422 423 424 425 426 427 428 429 430 431 432 433 434 435 436 437 438 439 440 441 442 443 444 445 446 447 448 449 450 451 452 453 454 455 456 457 458 459 460 461 462 463 464 465 466 467 468 469 470 471 472 473 474 475 476 477 478 479 480 481 482 483 484 485 486 487 488 489 490 491 492 493 494 495 496 497 498 499 500 501 502 503 504 505 506 507 508 509 510 511 512 513 514 515 516 517 518 519 520 521 522 523 524 525 526 527 528 529 530 531 532 533 534 535 536 537 538 539 540 541 542 543 544 545 546 547 548 549 550 551 552 553 554 555 556 557 558 559 560 561 562 563 564 565 566 567 568 569 570 571 572 573 574 575 576 577 578 579 580 581 582 583 584 585 586 587 588 589 590 591 592 593 594 595 596 597 598 599 600 601 602 603 604 605 606 607 608 609 610 611 612 613 614 615 616 617 618 619 620 621 622 623 624 625 626 627 628 629 630 631 632 633 634 635 636 637 638 639 640 641 642 643 644 645 646 647 648 649 650 651 652 653 654 655 656 657 658 659 660 661 662 663 664 665 666 667 668 669 670 671 672 673 674 675 676 677 678 679 680 681 682 683 684 685 686 687 688 689 690 691 692 693 694 695 696 697 698 699 700 701 702 703 704 705 706 707 708 709 710 711 712 713 714 715 716 717 718 719 720 721 722 723 724 725 726 727 728 729 730 731 732 733 734 735 736 737 738 739 740 741 742 743 744 745 746 747 748 749 750 751 752 753 754 755 756 757 758 759 760 761 762 763 764 765 766 767 768 769 770 771 772 773 774 775 776 777 778 779 780 781 782 783 784 785 786 787 788 789 790 791 792 793 794 795 796 797 798 799 800 801 802 803 804 805 806 807 808 809 810 811 812 813 814 815 816 817 818 819 820 821 822 823 824 825 826 827 828 829 830 831 832 833 834 835 836 837 838 839 840 841 842 843 844 845 846 847 848 849 850 851 852 853 854 855 856 857 858 859 860 861 862 863 864 865 866 867 868 869 870 871 872 873 874 875 876 877 878 879 880 881 882 883 884 885 886 887 888 889 890 891 892 893 894 895 896 897 898 899 900 901 902 903 904 905 906 907 908 909 910 911 912 913 914 915 916 917 918 919 920 921 922 923 924 925 926 927 928 929 930 931 932 933 934 935 936 937 938 939 940 941 942 943 944 945 946 947 948 949 950 951 952 953 954 955 956 957 958 959 960 961 962 963 964 965 966 967 968 969 970 971 972 973 974 975 976 977 978 979 980 981 982 983 984 985 986 987 988 989 990 991 992 993 994 995 996 997 998 999 1000 1001 1002 1003 1004 1005 1006 1007 1008 1009 1010 1011 1012 1013 1014 1015 1016 1017 1018 1019 1020 1021 1022 1023 1024 1025 1026 1027 1028 1029 1030 1031 1032 1033 1034 1035 1036 1037 1038 1039 1040 1041 1042 1043 1044 1045 1046 1047 1048 1049 1050 1051 1052 1053 1054 1055 1056 1057 1058 1059 1060 1061 1062 1063 1064 1065 1066 1067 1068 1069 1070 1071 1072 1073 1074 1075 1076 1077 1078 1079 1080 1081 1082 1083 1084 1085 1086 1087 1088 1089 1090 1091 1092 1093 1094 1095 1096 1097 1098 1099 1100 1101 1102 1103 1104 1105 1106 1107 1108 1109 1110 1111 1112 1113 1114 1115 1116 1117 1118 1119 1120 1121 1122 1123 1124 1125 1126 1127 1128 1129 1130 1131 1132 1133 1134 1135 1136 1137 1138 1139 1140 1141 1142 1143 1144 1145 1146 1147 1148 1149 1150 1151 1152 1153 1154 1155 1156 1157 1158 1159 1160 1161 1162 1163 1164 1165 1166 1167 1168 1169 1170 1171 1172 1173 1174 1175 1176 1177 1178 1179 1180 1181 1182 1183 1184 1185 1186 1187 1188 1189 1190 1191 1192 1193 1194 1195 1196 1197 1198 1199 1200 1201 1202 1203 1204 1205 1206 1207 1208 1209 1210 1211 1212 1213 1214 1215 1216 1217 1218 1219 1220 1221 1222 1223 1224 1225 1226 1227 1228 1229 1230 1231 1232 1233 1234 1235 1236 1237 1238 1239 1240 1241 1242 1243 1244 1245 1246 1247 1248 1249 1250 1251 1252 1253 1254 1255 1256 1257 1258 1259 1260 1261 1262 1263 1264 1265 1266 1267 1268 1269 1270 1271 1272 1273 1274 1275 1276 1277 1278 1279 1280 1281 1282 1283 1284 1285 1286 1287 1288 1289 1290 1291 1292 1293 1294 1295 1296 1297 1298 1299 1300 1301 1302 1303 1304 1305 1306 1307 1308 1309 1310 1311 1312 1313 1314 1315 1316 1317 1318 1319 1320 1321 1322 1323 1324 1325 1326 1327 1328 1329 1330 1331 1332 1333 1334 1335 1336 1337 1338 1339 1340 1341 1342 1343 1344 1345 1346 1347 1348 1349 1350 1351 1352 1353 1354 1355 1356 1357 1358 1359 1360 1361 1362 1363 1364 1365 1366 1367 1368 1369 1370 1371 1372 1373 1374 1375 1376 1377 1378 1379 1380 1381 1382 1383 1384 1385 1386 1387 1388 1389 1390 1391 1392 1393 1394 1395 1396 1397 1398 1399 1400 1401 1402 1403 1404 1405 1406 1407 1408 1409 1410 1411 1412 1413 1414 1415 1416 1417 1418 1419 1420 1421 1422 1423 1424 1425 1426 1427 1428 1429 1430 1431 1432 1433 1434 1435 1436 1437 1438 1439 1440 1441 1442 1443 1444 1445 1446 1447 1448 1449 1450 1451 1452 1453 1454 1455 1456 1457 1458 1459 1460 1461 1462 1463 1464 1465 1466 1467 1468 1469 1470 1471 1472 1473 1474 1475 1476 1477 1478 1479 1480 1481 1482 1483 1484 1485 1486 1487 1488 1489 1490 1491 1492 1493 1494 1495 1496 1497 1498 1499 1500 1501 1502 1503 1504 1505 1506 1507 1508 1509 1510 1511 1512 1513 1514 1515 1516 1517 1518 1519 1520 1521 1522 1523 1524 1525 1526 1527 1528 1529 1530 1531 1532 1533 1534 1535 1536 1537 1538 1539 1540 1541 1542 1543 1544 1545 1546 1547 1548 1549 1550 1551 1552 1553 1554 1555 1556 1557 1558 1559 1560 1561 1562 1563 1564 1565 1566 1567 1568 1569 1570 1571 1572 1573 1574 1575 1576 1577 1578 1579 1580 1581 1582 1583 1584 1585 1586 1587 1588 1589 1590 1591 1592 1593 1594 1595 1596 1597 1598 1599 1600 1601 1602 1603 1604 1605 1606 1607 1608 1609 1610 1611 1612 1613 1614 1615 1616 1617 1618 1619 1620 1621 1622 1623 1624 1625 1626 1627 1628 1629 1630 1631 1632 1633 1634 1635 1636 1637 1638 1639 1640 1641 1642 1643 1644 1645 1646 1647 1648 1649 1650 1651 1652 1653 1654 1655 1656 1657 1658 1659 1660 1661 1662 1663 1664 1665 1666 1667 1668 1669 1670 1671 1672 1673 1674 1675 1676 1677 1678 1679 1680 1681 1682 1683 1684 1685 1686 1687 1688 1689 1690 1691 1692 1693 1694 1695 1696 1697 1698 1699 1700 1701 1702 1703 1704 1705 1706 1707 1708 1709 1710 1711 1712 1713 1714 1715 1716 1717 1718 1719 1720 1721 1722 1723 1724 1725 1726 1727 1728 1729 1730 1731 1732 1733 1734 1735 1736 1737 1738 1739 1740 1741 1742 1743 1744 1745 1746 1747 1748 1749 1750 1751 1752 1753 1754 1755 1756 1757 1758 1759 1760 1761 1762 1763 1764 1765 1766 1767 1768 1769 1770 1771 1772 1773 1774 1775 1776 1777 1778 1779 1780 1781 1782 1783 1784 1785 1786 1787 1788 1789 1790 1791 1792 1793 1794 1795 1796 1797 1798 1799 1800 1801 1802 1803 1804 1805 1806 1807 1808 1809 1810 1811 1812 1813 1814 1815 1816 1817 1818 1819 1820 1821 1822 1823 1824 1825 1826 1827 1828 1829 1830 1831 1832 1833 1834 1835 1836 1837 1838 1839 1840 1841 1842 1843 1844 1845 1846 1847 1848 1849 1850 1851 1852 1853 1854 1855 1856 1857 1858 1859 1860 1861 1862 1863 1864 1865 1866 1867 1868 1869 1870 1871 1872 1873 1874 1875 1876 1877 1878 1879 1880 1881 1882 1883 1884 1885 1886 1887 1888 1889 1890 1891 1892 1893 1894 1895 1896 1897 1898 1899 1900 1901 1902 1903 1904 1905 1906 1907 1908 1909 1910 1911 1912 1913 1914 1915 1916 1917 1918 1919 1920 1921 1922 1923 1924 1925 1926 1927 1928 1929 1930 1931 1932 1933 1934 1935 1936 1937 1938 1939 1940 1941 1942 1943 1944 1945 1946 1947 1948 1949 1950 1951 1952 1953 1954 1955 1956 1957 1958 1959 1960 1961 1962 1963 1964 1965 1966 1967 1968 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 2029 2030 2031 2032 2033 2034 2035 2036 2037 2038 2039 2040 2041 2042 2043 2044 2045 2046 2047 2048 2049 2050 2051 2052 2053 2054 2055 2056 2057 2058 2059 2060 2061 2062 2063 2064 2065 2066 2067 2068 2069 2070 2071 2072 2073 2074 2075 2076 2077 2078 2079 2080 2081 2082 2083 2084 2085 2086 2087 2088 2089 2090 2091 2092 2093 2094 2095 2096 2097 2098 2099 2100 2101 2102 2103 2104 2105 2106 2107 2108 2109 2110 2111 2112 2113 2114 2115 2116 2117 2118 2119 2120 2121 2122 2123 2124 2125 2126 2127 2128 2129 2130 2131 2132 2133 2134 2135 2136 2137 2138 2139 2140 2141 2142 2143 2144 2145 2146 2147 2148 2149 2150 2151 2152 2153 2154 2155 2156 2157 2158 2159 2160 2161 2162 2163 2164 2165 2166 2167 2168 2169 2170 2171 2172 2173 2174 2175 2176 2177 2178 2179 2180 2181 2182 2183 2184 2185 2186 2187 2188 2189 2190 2191 2192 2193 2194 2195 2196 2197 2198 2199 2200 2201 2202 2203 2204 2205 2206 2207 2208 2209 2210 2211 2212 2213 2214 2215 2216 2217 2218 2219 2220 2221 2222 2223 2224 2225 2226 2227 2228 2229 2230 2231 2232 2233 2234 2235 2236 2237 2238 2239 2240 2241 2242 2243 2244 2245 2246 2247 2248 2249 2250 2251 2252 2253 2254 2255 2256 2257 2258 2259 2260 2261 2262 2263 2264 2265 2266 2267 2268 2269 2270 2271 2272 2273 2274 2275 2276 2277 2278 2279 2280 2281 2282 2283 2284 2285 2286 2287 2288 2289 2290 2291 2292 2293 2294 2295 2296 2297 2298 2299 2300 2301 2302 2303 2304 2305 2306 2307 2308 2309 2310 2311 2312 2313 2314 2315 2316 2317 2318 2319 2320 2321 2322 2323 2324 2325 2326 2327 2328 2329 2330 2331 2332 2333 2334 2335 2336 2337 2338 2339 2340 2341 2342 2343 2344 2345 2346 2347 2348 2349 2350 2351 2352 2353 2354 2355 2356 2357 2358 2359 2360 2361 2362 2363 2364 2365 2366 2367 2368 2369 2370 2371 2372 2373 2374 2375 2376 2377 2378 2379 2380 2381 2382 2383 2384 2385 2386 2387 2388 2389 2390 2391 2392 2393 2394 2395 2396 2397 2398 2399 2400 2401 2402 2403 2404 2405 2406 2407 2408 2409 2410 2411 2412 2413 2414 2415 2416 2417 2418 2419 2420 2421 2422 2423 2424 2425 2426 2427 2428 2429 2430 2431 2432 2433