Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 25035 | 11 Apr 2026
Klinis : hipertermi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Hipertermi
Kode SDKI: 00007
Deskripsi Singkat: Peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal yang berhubungan dengan ketidakmampuan tubuh untuk mempromosikan atau memfasilitasi disipasi panas.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Pengaturan Suhu. Tindakan keperawatan untuk memfasilitasi pemeliharaan suhu tubuh dalam rentang normal. Fokus intervensi ini adalah pada pemantauan suhu tubuh, identifikasi faktor risiko dan penyebab, serta penerapan tindakan untuk menurunkan suhu (seperti kompres, lingkungan yang sejuk, pemberian cairan) atau mencegah hipotermi jika diperlukan. Tujuannya adalah untuk mengembalikan dan mempertahankan suhu tubuh dalam batas fisiologis yang aman, mencegah komplikasi seperti dehidrasi, kejang, atau kerusakan neurologis, serta meningkatkan kenyamanan pasien. Intervensi ini mencakup edukasi pada pasien dan keluarga tentang tanda-tanda panas berlebih dan cara penanganannya.
Kode SIKI: 1401
Deskripsi : Kemampuan Mengatur Suhu Tubuh. Kriteria hasil yang diharapkan adalah suhu tubuh pasien kembali dalam rentang normal (36-37,5°C) dan dipertahankan, kulit teraba hangat dan tidak berkeringat berlebihan atau kering, tanda-tanda vital stabil, tidak ada tanda dehidrasi, serta pasien melaporkan perasaan nyaman. Pasien dan keluarga juga diharapkan mampu mendemonstrasikan pemahaman tentang faktor penyebab dan tindakan pencegahan hipertermi. Hasil ini menunjukkan keberhasilan tubuh dalam memulihkan mekanisme termoregulasi dan respons efektif terhadap intervensi yang diberikan. Evaluasi dilakukan melalui pengukuran suhu berkala, observasi tanda klinis, dan laporan subjektif pasien.
-
Article No. 25037 | 11 Apr 2026
Klinis : Pasien anak usia 5 tahun datang dengan keluhan demam tinggi sejak ±3 hari sebelum berobat di Puskesmas. Demam dirasakan terus-menerus dengan suhu mencapai ±39°C dan tidak terlalu turun dengan obat penurun panas. Sejak hari pertama demam, pasien juga mengalami batuk dan pilek. Pada hari ke-2, muncul mata merah (konjungtivitis) disertai rasa tidak nyaman pada mata. Nafsu makan pasien menurun dan anak tampak lemas. Pada hari ke-3, muncul ruam merah (makulopapular) yang awalnya terlihat di wajah kemudian menyebar ke leher, badan, hingga ekstremitas. Ruam tidak disertai nyeri tetapi terasa gatal. Orang tua juga mengatakan anak menjadi lebih rewel dan kurang aktif dari biasanya. Tidak ada riwayat kejang. Tidak ada muntah berulang. Riwayat sebelumnya tidak ada kontak dengan penderita campak
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Campak (Morbili)
Kode SDKI: 0006
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi
Kode SLKI: 1400
Deskripsi : Pengendalian Infeksi
Kode SIKI: 4201
Deskripsi : Memantau tanda dan gejala infeksi
Kondisi: Campak (Morbili)
Kode SDKI: 0026
Deskripsi Singkat: Hipertermia
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Pengaturan Suhu Tubuh
Kode SIKI: 4202
Deskripsi : Memantau suhu tubuh
Kondisi: Campak (Morbili)
Kode SDKI: 0012
Deskripsi Singkat: Nutrisi Tidak Seimbang: Kurang Dari Kebutuhan Tubuh
Kode SLKI: 1104
Deskripsi : Manajemen Nutrisi
Kode SIKI: 3301
Deskripsi : Memantau asupan nutrisi dan cairan
Kondisi: Campak (Morbili)
Kode SDKI: 0018
Deskripsi Singkat: Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan
Kode SLKI: 1102
Deskripsi : Manajemen Cairan
Kode SIKI: 3201
Deskripsi : Memantau tanda-tanda dehidrasi
Kondisi: Campak (Morbili)
Kode SDKI: 0029
Deskripsi Singkat: Kelelahan
Kode SLKI: 0101
Deskripsi : Manajemen Energi
Kode SIKI: 0410
Deskripsi : Memantau tingkat kelelahan
Kondisi: Campak (Morbili)
Kode SDKI: 0001
Deskripsi Singkat: Nyeri Akut
Kode SLKI: 0901
Deskripsi : Manajemen Nyeri
Kode SIKI: 2801
Deskripsi : Memantau karakteristik nyeri
-
Article No. 25038 | 11 Apr 2026
Klinis : Pasien anak usia 5 tahun datang dengan keluhan demam tinggi sejak ±3 hari sebelum berobat di Puskesmas. Demam dirasakan terus-menerus dengan suhu mencapai ±39°C dan tidak terlalu turun dengan obat penurun panas. Sejak hari pertama demam, pasien juga mengalami batuk dan pilek. Pada hari ke-2, muncul mata merah (konjungtivitis) disertai rasa tidak nyaman pada mata. Nafsu makan pasien menurun dan anak tampak lemas. Pada hari ke-3, muncul ruam merah (makulopapular) yang awalnya terlihat di wajah kemudian menyebar ke leher, badan, hingga ekstremitas. Ruam tidak disertai nyeri tetapi terasa gatal. Orang tua juga mengatakan anak menjadi lebih rewel dan kurang aktif dari biasanya. Tidak ada riwayat kejang. Tidak ada muntah berulang. Riwayat sebelumnya tidak ada kontak dengan penderita campak.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Risiko peningkatan kerentanan terhadap invasi patogen yang dapat membahayakan kesehatan.
Kode SLKI: 1900
Deskripsi : Kontrol Infeksi. Tujuan utama pada kasus campak adalah mencegah penularan infeksi virus ke orang lain, terutama anak-anak yang belum diimunisasi atau individu dengan sistem imun lemah. Perawat akan mengajarkan dan memastikan isolasi droplet (udara) dilaksanakan, yaitu dengan memisahkan pasien dari kontak dengan orang lain selama masa infeksius (sekitar 4 hari sebelum hingga 4 hari setelah ruam muncul). Keluarga diajarkan pentingnya menutup mulut dan hidung saat batuk/bersin dengan tisu atau lengan baju, serta pembuangan limbah yang terkontaminasi sekret dengan benar. Perawat juga menekankan pentingnya vaksinasi MR/MMR sebagai upaya pencegahan primer untuk anggota keluarga lainnya yang belum terlindungi. Selain itu, perawat memantau tanda-tanda infeksi sekunder bakteri yang mungkin muncul akibat gatal dan garukan pada ruam, seperti impetigo atau selulitis, dengan menjaga kebersihan kulit dan kuku pasien dipotong pendek.
Kode SIKI: 3540
Deskripsi : Manajemen Isolasi. Intervensi ini merupakan tindakan spesifik untuk mendukung SLKI Kontrol Infeksi. Perawat secara aktif menerapkan tindakan pencegahan berdasarkan jalur penularan penyakit. Pada campak yang menular melalui droplet dan udara, perawat akan: 1) Menempatkan pasien di ruang isolasi udara (airborne isolation room) jika tersedia, atau setidaknya di ruangan tersendiri dengan ventilasi baik dan pintu tertutup. 2) Menggunakan alat pelindung diri (APD) yang tepat seperti masker N95 atau masker bedah saat melakukan kontak dekat dengan pasien, terutama jika perawat tersebut belum kebal terhadap campak. 3) Membatasi pengunjung dan mencatat semua orang yang masuk ke ruangan. 4) Menginstruksikan semua orang yang kontak untuk menggunakan masker. 5) Memastikan pembersihan dan disinfeksi lingkungan serta peralatan yang digunakan pasien. 6) Mengedukasi keluarga secara komprehensif tentang alasan dan cara isolasi di rumah, termasuk tidak membawa anak ke tempat umum selama periode infeksius. Implementasi manajemen isolasi yang ketat sangat penting untuk memutus rantai penularan penyakit yang sangat menular ini.
Kondisi: Hipertermia
Kode SDKI: 0007
Deskripsi Singkat: Suhu tubuh meningkat di atas rentang normal.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : Kontrol Suhu Tubuh. Tujuannya adalah menurunkan suhu tubuh pasien ke rentang normal, mengurangi ketidaknyamanan akibat demam, dan mencegah komplikasi seperti dehidrasi atau kejang demam (walaupun pada kasus ini belum ada riwayat kejang). Perawat akan memantau suhu tubuh secara berkala (setiap 2-4 jam) dan mencatat pola demam. Intervensi non-farmakologis yang dilakukan termasuk memberikan kompres hangat (bukan dingin) di daerah dahi, ketiak, dan lipat paha untuk memfasilitasi pelepasan panas secara konduksi. Pasien dianjurkan menggunakan pakaian yang tipis dan menyerap keringat, serta menjaga suhu ruangan tetap sejuk. Asupan cairan ditingkatkan untuk mengganti cairan yang hilang melalui penguapan dan mencegah dehidrasi. Perawat juga akan mengadministrasikan obat antipiretik (penurun panas) sesuai resep dokter, seperti parasetamol atau ibuprofen, dengan memperhatikan dosis berdasarkan berat badan, interval pemberian, dan memantau respons terapi. Edukasi kepada orang tua tentang cara mengukur suhu yang benar, pemberian obat yang tepat, dan tanda-tanda bahaya demam yang perlu diwaspadai juga merupakan bagian penting dari intervensi ini.
Kode SIKI: 3900
Deskripsi : Manajemen Hipertermia. Ini adalah tindakan spesifik dari SLKI Kontrol Suhu Tubuh. Perawat melakukan tindakan aktif dan terkoordinasi untuk menurunkan suhu tubuh. Langkah-langkahnya meliputi: 1) Penilaian menyeluruh terhadap penyebab demam (dalam hal ini infeksi virus campak), karakteristik demam (tinggi, terus-menerus), dan respons pasien. 2) Implementasi tindakan pendinginan lingkungan dan fisik seperti yang telah dijelaskan. 3) Pemberian terapi farmakologis dengan tepat waktu dan tepat dosis. 4) Memonitor tanda-tanda vital (suhu, nadi, pernapasan) dan status hidrasi sebelum dan sesudah intervensi. 5) Memastikan keseimbangan antara upaya penurunan suhu dengan kenyamanan pasien, menghindari menggigil yang justru dapat meningkatkan produksi panas tubuh. 6) Kolaborasi dengan dokter jika demam sangat tinggi dan tidak responsif terhadap terapi awal, untuk evaluasi kemungkinan komplikasi atau kebutuhan terapi tambahan. Manajemen hipertermia yang efektif membantu mengurangi rasa lemas dan meningkatkan kenyamanan pasien, sehingga dapat mendukung proses penyembuhan.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 0016
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, dengan onset yang tiba-tiba atau lambat dan intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau diprediksi.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Kontrol Nyeri. Fokus pada pasien ini adalah mengatasi ketidaknyamanan atau nyeri yang timbul dari gejala penyakit, khususnya rasa tidak nyaman pada mata akibat konjungtivitis dan rasa gatal pada ruam kulit. Tujuannya adalah mengurangi tingkat nyeri/ketidaknyamanan hingga tingkat yang dapat ditoleransi pasien. Perawat akan mengajarkan dan membantu teknik non-farmakologis, seperti mengompres mata dengan kain lembut dan bersih yang dibasahi air hangat untuk mengurangi iritasi. Untuk gatal pada ruam, perawat akan menyarankan mandi air hangat (bukan panas), menggunakan pakaian longgar dari bahan katun, dan mungkin mengoleskan lotion kalamin (atas anjuran dokter) untuk menenangkan kulit. Penting untuk mencegah anak menggaruk ruam karena dapat menyebabkan infeksi sekunder, sehingga distraksi seperti membacakan cerita atau bermain permainan tenang dapat dilakukan. Perawat juga akan memantau respons nyeri menggunakan skala nyeri yang sesuai usia (misalnya skala wajah) dan mengevaluasi efektivitas intervensi yang diberikan. Jika ketidaknyamanan sangat mengganggu, kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat antihistamin untuk mengurangi gatal atau analgesik ringan dapat dipertimbangkan.
Kode SIKI: 1400
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Intervensi ini melibatkan pendekatan komprehensif untuk mengontrol nyeri/ketidaknyamanan pasien. Perawat akan: 1) Melakukan penilaian nyeri yang komprehensif, termasuk lokasi (mata, kulit), karakteristik (perih, gatal, panas), faktor yang memperberat dan meringankan, serta dampaknya pada aktivitas dan suasana hati (rewel, kurang aktif). 2) Memilih dan menerapkan intervensi yang sesuai berdasarkan penilaian, menggabungkan pendekatan non-farmakologis (kompres, distraksi, reposisi) dan farmakologis jika diperlukan. 3) Mengevaluasi dan mendokumentasikan respons pasien terhadap intervensi dalam kurun waktu tertentu. 4) Memberikan edukasi kepada orang tua tentang cara mengenali tanda ketidaknyamanan pada anak, cara melakukan intervensi sederhana di rumah, dan kapan harus melaporkan jika nyeri/gatal tidak terkontrol. 5) Berkolaborasi dengan tim kesehatan lain jika diperlukan penanganan lebih lanjut. Manajemen nyeri yang baik akan meningkatkan kenyamanan pasien, mengurangi kecemasan dan kerewelan, serta membantu proses istirahat dan penyembuhan.
Kondisi: Defisit Perawatan Diri: Mandi/Higiene
Kode SDKI: 0010
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas mandi/higiene diri sendiri.
Kode SLKI: 0302
Deskripsi : Perawatan Diri: Mandi/Higiene. Pada pasien anak usia 5 tahun dengan kondisi lemas, demam tinggi, dan ruam gatal, kemampuan untuk mandi dan menjaga kebersihan diri secara mandiri dapat terganggu. Tujuan keperawatan adalah membantu pasien memenuhi kebutuhan kebersihan dirinya dengan aman dan nyaman, sekaligus memanfaatkan momen mandi sebagai intervensi terapeutik. Perawat akan membantu atau mendampingi orang tua dalam memandikan anak dengan air hangat (bukan air dingin atau panas) menggunakan sabun yang lembut dan tidak mengiritasi. Mandi air hangat juga dapat membantu mengurangi gatal pada ruam. Perawat mengajarkan teknik memandikan tanpa menggosok kulit terlalu keras untuk mencegah iritasi lebih lanjut pada ruam. Setelah mandi, kulit dikeringkan dengan ditepuk-tepak lembut menggunakan handuk bersih dan lembut. Perawat juga memastikan kebersihan mata dengan membersihkan kotoran mata (belekan) secara perlahan dari arah dalam ke luar menggunakan kapas atau kain lembut yang dibasahi air matang hangat. Bantuan dalam perawatan higiene ini bertujuan untuk meningkatkan kenyamanan fisik, mencegah infeksi kulit sekunder, dan mempertahankan integritas kulit.
Article No. 25039 | 11 Apr 2026
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi Tuberkulosis Paru
Kode SDKI: D.0011
Deskripsi Singkat: Risiko peningkatan patogen yang menyerang paru, ditandai dengan adanya lesi, batuk produktif, demam, dan sesak napas.
Kode SLKI: L.03108
Deskripsi : Pasien akan menunjukkan perilaku pencegahan penularan infeksi. Penjelasan: Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) ini berfokus pada pencapaian perilaku pasien dalam mencegah penyebaran penyakit menular, khususnya Tuberkulosis (TB). Pada pasien dengan kondisi TB paru, luaran yang diharapkan adalah pasien memahami dan konsisten menerapkan etika batuk (menutup mulut dengan tisu atau lengan), membuang dahak pada tempatnya (sputum cup), menggunakan masker terutama di tempat umum atau saat berinteraksi dengan orang lain, serta mencuci tangan secara teratur. Selain itu, pasien diharapkan memahami pentingnya pengobatan teratur (DOTS) hingga tuntas untuk mencegah resistensi obat dan memutus rantai penularan. Perawat akan mengevaluasi luaran ini melalui observasi langsung terhadap perilaku pasien, wawancara mengenai pengetahuannya tentang pencegahan, dan kepatuhan dalam pengumpulan sampel dahak untuk kontrol pengobatan. Pencapaian luaran ini sangat kritis dalam manajemen TB karena aspek pencegahan penularan merupakan tanggung jawab sosial pasien sekaligus kunci keberhasilan program kesehatan masyarakat.
Kode SIKI: I.09040
Deskripsi : Manajemen Infeksi. Penjelasan: Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) Manajemen Infeksi adalah serangkaian tindakan keperawatan yang direncanakan dan dilaksanakan untuk mengurangi, mengendalikan, dan mencegah penyebaran infeksi. Pada pasien TB paru, intervensi ini dijalankan secara komprehensif. Pertama, perawat akan melakukan isolasi pernapasan (droplet precaution) dengan menyediakan masker untuk pasien dan pengunjung, serta menempatkan pasien di ruangan dengan ventilasi yang baik. Kedua, perawat memberikan edukasi kesehatan secara intensif tentang penyakit TB, cara penularan melalui droplet, pentingnya pengobatan OAT (Obat Anti Tuberkulosis) secara teratur dan jangka panjang, serta identifikasi efek samping obat. Ketiga, perawat memantau tanda-tanda klinis seperti suhu tubuh, karakteristik batuk dan dahak, status pernapasan, dan nafsu makan. Keempat, perawat mengkolaborasikan pemberian terapi obat sesuai program DOTS dan pengumpulan spesimen dahak untuk pemeriksaan basil tahan asam (BTA). Kelima, perawat mendukung status nutrisi pasien dengan memberikan anjuran diet tinggi kalori dan protein untuk melawan infeksi dan mencegah penurunan berat badan lebih lanjut. Keenam, perawat memberikan dukungan psikososial untuk mengatasi kecemasan dan stigma, serta memastikan dukungan keluarga dalam proses perawatan dan pencegahan penularan di rumah. Seluruh intervensi ini terdokumentasi dan dievaluasi perkembangannya secara berkala untuk memastikan efektivitas penatalaksanaan dan mencegah komplikasi.
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0010
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang paten, ditandai dengan batuk berdahak, suara napas bronkial, dan sesak napas.
Kode SLKI: L.04001
Deskripsi : Bersihan jalan napas pasien akan membaik. Penjelasan: Luaran yang diharapkan dari SLKI ini adalah pasien mampu mempertahankan jalan napas yang paten dengan kriteria: suara napas bersih (vesikuler) kembali di kedua lapang paru, batuk produktif yang efektif dalam mengeluarkan sekret, tidak adanya suara napas tambahan seperti ronki atau wheezing yang signifikan, serta penurunan frekuensi napas dalam rentang normal (16-20 kali per menit) dan hilangnya keluhan sesak napas (dispnea). Perawat akan mengauskultasi suara napas secara berkala untuk memantau perubahan dari suara bronkial atau adanya ronki. Pasien juga akan didorong untuk melakukan latihan napas dalam dan batuk efektif, serta meningkatkan asupan cairan (jika tidak ada kontraindikasi) untuk mengencerkan dahak. Pencapaian luaran ini dinilai dari kemudahan pasien mengeluarkan dahak, peningkatan saturasi oksigen, dan perbaikan pola pernapasan yang lebih teratur dan tidak terlihat menggunakan otot bantu napas.
Kode SIKI: I.08010
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas. Penjelasan: Intervensi keperawatan ini ditujukan untuk mempertahankan jalan napas yang paten dan meningkatkan pertukaran gas. Pada pasien TB dengan batuk berdahak kental, tindakan yang dilakukan meliputi: pertama, posisioning pasien dalam posisi semi-Fowler atau Fowler untuk memudahkan ekspansi paru dan pengeluaran sekret. Kedua, mengajarkan dan mendorong pasien untuk melakukan latihan napas dalam dan batuk efektif secara teratur. Ketiga, memberikan terapi nebulisasi atau inhalasi sesuai kolaborasi untuk membantu mengencerkan dahak. Keempat, melakukan fisioterapi dada (chest physiotherapy) seperti perkusi dan vibrasi jika diindikasikan untuk membantu mobilisasi sekret. Kelima, memantau karakteristik dahak (jumlah, warna, konsistensi) dan kemampuan batuk pasien. Keenam, memastikan hidrasi adekuat dengan mendorong minum air hangat. Ketujuh, memonitor status pernapasan secara ketat termasuk frekuensi, irama, kedalaman, penggunaan otot bantu, dan saturasi oksigen. Intervensi ini bersifat dinamis dan disesuaikan dengan respons pasien serta perkembangan klinisnya.
Kondisi: Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: D.0030
Deskripsi Singkat: Asupan nutrisi yang tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh, ditandai dengan kehilangan nafsu makan dan adanya penyakit infeksi kronis (TB).
Kode SLKI: L.05001
Deskripsi : Status nutrisi pasien akan membaik. Penjelasan: Luaran yang ditetapkan adalah pasien dapat mencapai dan mempertahankan status gizi yang optimal. Kriteria pencapaiannya meliputi: peningkatan nafsu makan yang dilaporkan oleh pasien, peningkatan asupan makanan dan cairan dari porsi yang disajikan, peningkatan atau stabilisasi berat badan menuju berat badan ideal (dapat diukur secara berkala), serta nilai laboratorium (seperti albumin dan limfosit) yang menunjukkan perbaikan. Perawat akan melakukan pemantauan asupan makan per hari menggunakan catatan intake-output, menimbang berat badan secara rutin (misalnya 2x seminggu), dan mengobservasi tanda klinis lain seperti kekuatan otot, kelemahan, dan penyembuhan luka (jika ada). Edukasi tentang pentingnya nutrisi tinggi kalori dan protein dalam melawan infeksi TB dan memperbaiki sel-sel yang rusak juga menjadi bagian dari evaluasi luaran ini.
Kode SIKI: I.11030
Deskripsi : Manajemen Nutrisi. Penjelasan: Intervensi ini bertujuan untuk memodifikasi diet, menyediakan nutrisi yang adekuat, dan mendukung pemenuhan kebutuhan metabolik tubuh yang meningkat akibat proses infeksi. Tindakan yang dilakukan perawat meliputi: pertama, melakukan kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan kebutuhan kalori dan protein harian pasien berdasarkan berat badan dan kondisi klinis. Kedua, memberikan makanan dalam porsi kecil namun sering (small frequent feeding) untuk mengatasi anoreksia dan cepat kenyang. Ketiga, menyajikan makanan yang disukai pasien dengan variasi menu tinggi protein (telur, ikan, ayam, tahu, tempe) dan tinggi kalori. Keempat, memberikan suplemen nutrisi oral (jika diperlukan) sesuai anjuran. Kelima, menciptakan lingkungan makan yang nyaman dan bebas bau yang dapat memicu mual. Keenam, memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya nutrisi selama pengobatan TB dan strategi untuk meningkatkan nafsu makan. Ketujuh, memantau dan mendokumentasikan asupan makanan, cairan, serta respons pasien terhadap intervensi nutrisi yang diberikan.
Article No. 25040 | 11 Apr 2026
Klinis : Pasien anak usia 5 tahun datang dengan keluhan demam tinggi sejak ±3 hari sebelum berobat di Puskesmas. Demam dirasakan terus-menerus dengan suhu mencapai ±39°C dan tidak terlalu turun dengan obat penurun panas. Sejak hari pertama demam, pasien juga mengalami batuk dan pilek. Pada hari ke-2, muncul mata merah (konjungtivitis) disertai rasa tidak nyaman pada mata. Nafsu makan pasien menurun dan anak tampak lemas. Pada hari ke-3, muncul ruam merah (makulopapular) yang awalnya terlihat di wajah kemudian menyebar ke leher, badan, hingga ekstremitas. Ruam tidak disertai nyeri tetapi terasa gatal. Orang tua juga mengatakan anak menjadi lebih rewel dan kurang aktif dari biasanya. Tidak ada riwayat kejang. Tidak ada muntah berulang. Riwayat sebelumnya tidak ada kontak dengan penderita campak.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi dan Gangguan Keseimbangan Suhu Tubuh pada Campak (Measles)
Kode SDKI: D.0019
Deskripsi Singkat: Risiko peningkatan patogen menyerang tubuh terkait dengan adanya virus campak yang sangat menular dan respons inflamasi sistemik yang ditandai dengan demam tinggi, ruam, dan gejala konstitusional.
Kode SLKI: L.08101
Deskripsi : SLKI L.08101: Kontrol Infeksi. Tujuan utama adalah mencegah penyebaran infeksi ke orang lain dan mencegah infeksi sekunder pada pasien. Intervensi keperawatan difokuskan pada isolasi, manajemen lingkungan, dan edukasi. Perawat akan menerapkan tindakan isolasi droplet dan kontak sejak pasien dicurigai campak (minimal 4 hari setelah muncul ruam). Ini termasuk menempatkan pasien di ruang terisolasi atau menjaga jarak di fasilitas kesehatan, menggunakan alat pelindung diri (APD) seperti masker, serta memastikan pembersihan dan disinfeksi permukaan yang sering disentuh. Edukasi kepada orang tua sangat krusial, meliputi penjelasan tentang cara penularan campak melalui droplet batuk/bersin, pentingnya isolasi mandiri di rumah, menutup mulut dan hidung saat batuk/bersin dengan tisu atau lengan, serta pembuangan limbah yang terkontaminasi dengan benar. Perawat juga akan memantau tanda-tanda infeksi sekunder seperti otitis media atau pneumonia yang dapat terjadi akibat sistem imun yang tertekan. Pemantauan ketat terhadap suhu tubuh, karakteristik batuk, dan kondisi ruam dilakukan untuk mendeteksi komplikasi dini. Pemberian terapi suportif seperti vitamin A (sesuai protokol) juga termasuk dalam upaya mengurangi keparahan infeksi dan mencegah komplikasi.
Kode SIKI: I.08090
Deskripsi : SIKI I.08090: Manajemen Hipertermia. Tujuan intervensi ini adalah untuk menurunkan suhu tubuh ke rentang normal, mengurangi ketidaknyamanan akibat demam, dan mencegah komplikasi seperti dehidrasi atau kejang demam (walaupun dalam kasus ini belum ada riwayat kejang). Intervensi dimulai dengan pemantauan suhu tubuh secara berkala menggunakan termometer yang akurat. Perawat akan melakukan tindakan pendinginan fisik seperti kompres hangat (bukan dingin) di dahi, ketiak, dan lipatan paha, serta memandikan dengan air hangat. Penting untuk menghindiri kompres dingin atau alkohol karena dapat menyebabkan menggigil yang justru meningkatkan suhu inti. Perawat akan mendorong asupan cairan yang adekuat untuk mencegah dehidrasi akibat peningkatan penguapan dan demam, dengan memberikan cairan favorit anak dalam porsi kecil namun sering. Pemberian antipiretik (obat penurun panas) seperti parasetamol atau ibuprofen sesuai resep dokter dan berdasarkan berat badan anak akan dilakukan, sambil mengedukasi orang tua tentang dosis, interval pemberian, dan cara pemberian yang benar. Perawat juga akan memantau respons terapi dan tanda-tanda syok atau dehidrasi. Lingkungan diatur agar nyaman, sirkulasi udara baik, dan pakaian anak dibuat tipis serta menyerap keringat. Edukasi kepada orang tua mencakup cara mengenali tanda-tanda darurat seperti kejang, penurunan kesadaran, atau demam yang tidak responsif terhadap obat, serta pentingnya tirah baring untuk mendukung proses penyembuhan.
Article No. 25041 | 11 Apr 2026
Klinis : Pasien anak usia 5 tahun datang dengan keluhan demam tinggi sejak ±3 hari sebelum berobat di Puskesmas. Demam dirasakan terus-menerus dengan suhu mencapai ±39°C dan tidak terlalu turun dengan obat penurun panas. Sejak hari pertama demam, pasien juga mengalami batuk dan pilek. Pada hari ke-2, muncul mata merah (konjungtivitis) disertai rasa tidak nyaman pada mata. Nafsu makan pasien menurun dan anak tampak lemas. Pada hari ke-3, muncul ruam merah (makulopapular) yang awalnya terlihat di wajah kemudian menyebar ke leher, badan, hingga ekstremitas. Ruam tidak disertai nyeri tetapi terasa gatal. Orang tua juga mengatakan anak menjadi lebih rewel dan kurang aktif dari biasanya. Tidak ada riwayat kejang. Tidak ada muntah berulang. Riwayat sebelumnya tidak ada kontak dengan penderita campak.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi dan Ketidakseimbangan Nutrisi pada Campak (Morbili)
Kode SDKI: D.0018
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi adalah keadaan dimana individu rentan mengalami invasi dan multiplikasi patogen yang dapat menimbulkan respons imun dan menimbulkan gejala penyakit. Pada kasus ini, pasien anak dengan campak memiliki risiko tinggi untuk mengalami infeksi sekunder atau komplikasi akibat virus campak itu sendiri yang menekan sistem imun, ditandai dengan adanya demam tinggi persisten, batuk, pilek, konjungtivitis, dan ruam makulopapular yang khas.
Kode SLKI: L.03118
Deskripsi : SLKI untuk Risiko Infeksi (D.0018) adalah "Kontrol Infeksi". Tujuan utama intervensi keperawatan adalah mencegah terjadinya infeksi sekunder dan komplikasi, serta membatasi penyebaran penyakit. Intervensi mencakup: 1) Isolasi untuk mencegah penularan droplet, mengingat campak sangat menular. 2) Mempertahankan suhu tubuh dalam rentang normal melalui tindakan kompres hangat, pemberian antipiretik sesuai resep, dan memastikan lingkungan yang nyaman. 3) Memantau tanda-tanda komplikasi infeksi seperti pneumonia (sesak napas, sianosis) atau ensefalitis (penurunan kesadaran, kejang). 4) Melakukan perawatan mata untuk konjungtivitis dengan membersihkan mata menggunakan kapas lembut dan air hangat steril, serta menjaga pencahayaan ruangan redup untuk mengurangi fotofobia. 5) Mempertahankan kebersihan kulit dengan memandikan anak menggunakan air hangat dan sabun lembut, menjaga kulit tetap kering, serta memotong kuku untuk mencegah ekskoriasi akibat gatal pada ruam. 6) Edukasi orang tua tentang pentingnya isolasi, cara perawatan di rumah, dan tanda bahaya yang mengharuskan kembali ke fasilitas kesehatan.
Kode SIKI: I.01295
Deskripsi : SIKI untuk SLKI "Kontrol Infeksi" (L.03118) adalah "Manajemen Infeksi". Intervensi spesifik yang dilakukan perawat meliputi: 1) Melakukan isolasi droplet sejak awal kunjungan di puskesmas. 2) Memantau tanda-tanda vital terutama suhu setiap 4 jam dan mencatat pola demam. 3) Melakukan asesmen kulit dan membran mukosa secara berkala terhadap perkembangan ruam, area kemerahan, atau tanda iritasi lainnya. 4) Melakukan teknik cuci tangan yang benar sebelum dan setelah kontak dengan pasien. 5) Mengajarkan dan mendemonstrasikan kepada orang tua cara membersihkan sekret mata dan hidung dengan aman. 6) Memberikan edukasi tentang pentingnya pemberian obat antipiretik sesuai dosis dan interval yang ditentukan. 7) Mengatur sirkulasi udara di ruangan agar baik namun hindari angin langsung ke pasien. 8) Menganjurkan tirah baring (bed rest) untuk menghemat energi dan mempercepat penyembuhan. 9) Memastikan semua peralatan yang digunakan pasien bersih dan tidak digunakan bergantian. 10) Kolaborasi dalam pemberian terapi suportif seperti vitamin A sesuai protokol penanganan campak.
Kondisi: Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh pada Campak
Kode SDKI: D.0030
Deskripsi Singkat: Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh adalah keadaan dimana asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh. Pada pasien anak dengan campak, kondisi ini terjadi akibat anoreksia (nafsu makan menurun) yang disebabkan oleh demam tinggi, malaise (lemas), ketidaknyamanan akibat batuk, pilek, dan lesi di mulut (Koplik's spot yang mungkin ada), serta peningkatan kebutuhan energi untuk melawan infeksi. Hal ini ditandai dengan laporan orang tua tentang penurunan nafsu makan dan anak tampak lemas.
Kode SLKI: L.03003
Deskripsi : SLKI untuk Ketidakseimbangan Nutrisi (D.0030) adalah "Status Nutrisi". Tujuan intervensi adalah meningkatkan asupan nutrisi dan hidrasi untuk mendukung proses penyembuhan dan mencegah penurunan berat badan. Intervensi mencakup: 1) Memantau asupan makanan dan cairan per hari, termasuk jenis, porsi, dan frekuensi. 2) Menimbang berat badan untuk menilai adanya penurunan. 3) Menciptakan lingkungan makan yang nyaman dan menarik bagi anak. 4) Menyajikan makanan dalam porsi kecil namun sering dengan tekstur lunak dan mudah ditelan, disesuaikan dengan kondisi mulut dan tenggorokan anak. 5) Meningkatkan hidrasi dengan memberikan cairan yang cukup seperti air putih, kuah sup, atau jus untuk mencegah dehidrasi akibat demam. 6) Kolaborasi dengan ahli gizi jika diperlukan untuk menentukan kebutuhan kalori dan zat gizi mikro (terutama Vitamin A) yang meningkat. 7) Memberikan edukasi kepada orang tua tentang pentingnya nutrisi selama sakit, cara menyajikan makanan yang menarik, dan tanda-tanda dehidrasi.
Kode SIKI: I.01229
Deskripsi : SIKI untuk SLKI "Status Nutrisi" (L.03003) adalah "Manajemen Nutrisi". Intervensi spesifik yang dilakukan perawat meliputi: 1) Melakukan asesmen nafsu makan, kemampuan menelan, dan adanya mual/muntah. 2) Menghitung asupan kalori dan cairan harian. 3) Menyajikan makanan favorit anak dalam suhu yang sesuai (tidak terlalu panas/dingin) untuk mengurangi iritasi. 4) Menganjurkan pemberian makanan tinggi kalori dan protein seperti bubur susu, puding, atau sup krim. 5) Menganjurkan pemberian cairan setiap 1-2 jam dalam jumlah kecil. 6) Memberikan perawatan mulut sebelum makan (jika anak kooperatif) untuk meningkatkan kenyamanan. 7) Memastikan posisi makan yang nyaman, kepala sedikit ditinggikan untuk mencegah aspirasi. 8) Memuji setiap usaha anak untuk makan. 9) Mengajarkan orang tua cara mencatat asupan makanan dan cairan di rumah. 10) Kolaborasi pemberian suplemen vitamin A sesuai program pemerintah untuk penanganan campak guna mencegah defisiensi yang dapat memperparah penyakit.
Article No. 25042 | 11 Apr 2026
Klinis : Pasien anak usia 5 tahun datang dengan keluhan demam tinggi sejak ±3 hari sebelum berobat di Puskesmas. Demam dirasakan terus-menerus dengan suhu mencapai ±39°C dan tidak terlalu turun dengan obat penurun panas. Sejak hari pertama demam, pasien juga mengalami batuk dan pilek. Pada hari ke-2, muncul mata merah (konjungtivitis) disertai rasa tidak nyaman pada mata. Nafsu makan pasien menurun dan anak tampak lemas. Pada hari ke-3, muncul ruam merah (makulopapular) yang awalnya terlihat di wajah kemudian menyebar ke leher, badan, hingga ekstremitas. Ruam tidak disertai nyeri tetapi terasa gatal. Orang tua juga mengatakan anak menjadi lebih rewel dan kurang aktif dari biasanya. Tidak ada riwayat kejang. Tidak ada muntah berulang. Riwayat sebelumnya tidak ada kontak dengan penderita campak.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Risiko meningkatnya kerentanan terhadap invasi agen patogen yang dapat membahayakan kesehatan.
Kode SLKI: 1920
Deskripsi : Kontrol Infeksi: Tindakan untuk mencegah atau mengurangi risiko infeksi nosokomial.
Kode SIKI: 3540
Deskripsi : Pengawasan Infeksi: Pengumpulan dan analisis data sistematis untuk mencegah dan mengendalikan penyebaran infeksi.
Kondisi: Hipertermia
Kode SDKI: 0007
Deskripsi Singkat: Suhu tubuh meningkat di atas rentang normal.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : Manajemen Hipertermia: Tindakan untuk mengurangi suhu tubuh tinggi.
Kode SIKI: 1400
Deskripsi : Pemantauan Tanda Vital: Pengumpulan dan analisis data kardiovaskular, pernapasan, dan suhu tubuh untuk menentukan status kesehatan.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 0016
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, dengan onset yang tiba-tiba atau lambat dan intensitas ringan hingga berat, diperkirakan berakhir kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: 0830
Deskripsi : Manajemen Nyeri: Tindakan untuk meringankan atau mengurangi nyeri hingga tingkat kenyamanan yang dapat diterima pasien.
Kode SIKI: 1402
Deskripsi : Pemantauan Nyeri: Pengumpulan dan analisis data pasien tentang ketidaknyamanan untuk menentukan dan meringankan penyebab, faktor pencetus, dan reaksi.
Kondisi: Gangguan Integritas Kulit
Kode SDKI: 0476
Deskripsi Singkat: Gangguan pada epidermis dan/atau dermis.
Kode SLKI: 3500
Deskripsi : Perawatan Kulit: Pencegahan kerusakan kulit dan pemeliharaan keutuhannya.
Kode SIKI: 3501
Deskripsi : Perawatan Luka: Pencegahan komplikasi luka dan pemulihan kulit.
Article No. 25043 | 11 Apr 2026
Klinis : Pasien anak usia 5 tahun datang dengan keluhan demam tinggi sejak ±3 hari sebelum berobat di Puskesmas. Demam dirasakan terus-menerus dengan suhu mencapai ±39°C dan tidak terlalu turun dengan obat penurun panas. Sejak hari pertama demam, pasien juga mengalami batuk dan pilek. Pada hari ke-2, muncul mata merah (konjungtivitis) disertai rasa tidak nyaman pada mata. Nafsu makan pasien menurun dan anak tampak lemas. Pada hari ke-3, muncul ruam merah (makulopapular) yang awalnya terlihat di wajah kemudian menyebar ke leher, badan, hingga ekstremitas. Ruam tidak disertai nyeri tetapi terasa gatal. Orang tua juga mengatakan anak menjadi lebih rewel dan kurang aktif dari biasanya. Tidak ada riwayat kejang. Tidak ada muntah berulang. Riwayat sebelumnya tidak ada kontak dengan penderita campak.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Risiko peningkatan kerentanan terhadap invasi patogen yang dapat membahayakan kesehatan.
Kode SLKI: 1920
Deskripsi : Pengendalian Infeksi: Tindakan untuk mencegah dan mengurangi risiko penyebaran infeksi. Pada kasus ini, fokusnya adalah mencegah penularan infeksi campak ke orang lain dan mencegah infeksi sekunder pada pasien. Intervensi keperawatan meliputi: 1) Isolasi droplet dan udara sejak diagnosis dicurigai hingga 4 hari setelah ruam muncul. Pasien harus dirawat di ruang isolasi atau, di rumah, dijauhkan dari anggota keluarga yang rentan (bayi, belum imunisasi, ibu hamil). 2) Edukasi kepada orang tua tentang pentingnya isolasi dan etika batuk (menutup mulut dengan lengan atas), serta pembuangan tisu bekas sekresi dengan benar. 3) Memastikan petugas kesehatan dan pengunjung menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) yang sesuai seperti masker N95 atau masker bedah. 4) Menjaga kebersihan lingkungan dan peralatan pasien. 5) Memantau tanda-tanda infeksi sekunder seperti nanah pada ruam, demam yang memburuk, atau gangguan pernapasan yang meningkat. Tindakan ini sangat krusial karena virus campak sangat menular dan dapat menurunkan imunitas pasien, membuatnya rentan terhadap infeksi bakteri sekunder seperti pneumonia atau otitis media.
Kode SIKI: 4500
Deskripsi : Pengendalian Infeksi: Tindakan untuk meminimalkan atau mencegah penyebaran organisme infeksius. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: 1) Tidak terjadi penularan infeksi kepada pasien lain, keluarga, atau petugas kesehatan. 2) Tanda-tanda vital dalam batas normal untuk usianya. 3) Tidak muncul tanda-tanda infeksi sekunder seperti demam baru, sekret purulen, atau area kemerahan yang meluas. 4) Orang tua dan keluarga dapat mendemonstrasikan tindakan pencegahan isolasi dan kebersihan dengan benar. 5) Lingkungan perawatan pasien tetap bersih dan higienis. Keberhasilan SLKI ini diukur dengan tidak adanya kasus baru di antara kontak erat, stabilitas kondisi pasien tanpa komplikasi infeksi tambahan, serta pemahaman dan kepatuhan keluarga terhadap protokol pencegahan.
Kondisi: Hipertermia
Kode SDKI: 0007
Deskripsi Singkat: Suhu tubuh meningkat di atas rentang normal.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : Manajemen Hipertermia: Tindakan untuk mengurangi suhu tubuh tinggi. Pada pasien anak dengan campak, penanganan demam harus hati-hati karena merupakan respons tubuh terhadap infeksi virus. Intervensi meliputi: 1) Memantau suhu tubuh secara teratur (setiap 2-4 jam) dan mencatat polanya. 2) Memberikan antipiretik sesuai resep dokter (biasanya parasetamol atau ibuprofen) dengan dosis sesuai berat badan, bukan usia. Penting untuk mengedukasi orang tua agar tidak memberikan aspirin karena risiko sindrom Reye. 3) Menerapkan tindakan pendinginan non-farmakologis yang aman, seperti mengompres hangat (bukan air dingin/es) di dahi, ketiak, dan lipat paha, serta memakaikan pakaian tipis dan menyerap keringat. 4) Meningkatkan asupan cairan untuk mencegah dehidrasi akibat penguapan dan anoreksia. Anjurkan cairan yang disukai anak dalam porsi kecil tapi sering. 5) Memastikan ventilasi ruangan baik dan suhu lingkungan nyaman. 6) Mengobservasi tanda-tanda kejang demam meskipun riwayatnya negatif, dan tanda dehidrasi. Tindakan ini bertujuan menurunkan ketidaknyamanan, mengurangi risiko kejang, dan menurunkan metabolisme tubuh.
Kode SIKI: 080101
Deskripsi : Suhu Tubuh: Pengukuran suhu tubuh untuk memantau kondisi pasien. Kriteria hasil yang diharapkan: 1) Suhu tubuh turun secara bertahap ke dalam rentang normal (36,5-37,5°C). 2) Pasien menunjukkan tanda-tanda kenyamanan, seperti tidak rewel dan dapat beristirahat. 3) Tidak terjadi komplikasi akibat demam tinggi seperti kejang atau dehidrasi berat. 4) Asupan cairan oral adekuat. 5) Orang tua memahami cara mengukur suhu, pemberian obat, dan perawatan mandiri di rumah. Keberhasilan ditandai dengan stabilnya suhu tubuh, peningkatan kondisi umum anak, dan kemampuan keluarga dalam memantau dan menangani demam.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 0016
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, dengan onset mendadak atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat, dan perkiraan akhir.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Manajemen Nyeri: Tindakan untuk meringankan atau mengurangi nyeri hingga tingkat yang dapat ditoleransi pasien. Pada pasien campak, nyeri dapat bersumber dari multipleks: fotofobia akibat konjungtivitis, nyeri otot (mialgia) akibat demam, dan ketidaknyamanan umum dari ruam gatal. Intervensi keperawatan meliputi: 1) Melakukan penilaian nyeri komprehensif menggunakan skala yang sesuai usia (misal: Wong-Baker FACES) untuk lokasi, intensitas, dan karakter nyeri. 2) Mengatasi penyebab: mengurangi cahaya terang di ruangan untuk meredakan fotofobia, menempatkan pasien di ruangan redup. 3) Kolaborasi pemberian analgesik jika nyeri mengganggu istirahat. 4) Intervensi non-farmakologis: teknik distraksi seperti membacakan cerita, mendengarkan musik, atau bermain tenang. 5) Perawatan kulit untuk mengurangi gatal dan iritasi ruam: menjaga kulit tetap bersih dan kering, memotong kuku anak untuk mencegah garukan, kemungkinan pemberian lotion kalamin atau antihistamin sesuai anjuran dokter untuk gatal. 6) Memberikan posisi yang nyaman dan dukungan emosional untuk mengurangi kecemasan yang memperberat persepsi nyeri. Pendekatan holistik ini penting karena anak sering kesulitan mengekspresikan nyeri secara verbal.
Kode SIKI: 2202
Deskripsi : Tingkat Nyeri: Tingkat nyeri yang dilaporkan atau diekspresikan oleh pasien. Kriteria hasil: 1) Skala nyeri menurun (misal, dari skala 4 ke 2 atau kurang pada skala 0-5). 2) Ekspresi wajah pasien lebih rileks, tidak menangis atau mengerang kesakitan. 3) Pasien dapat beristirahat dan tidur dengan cukup. 4) Pasien menunjukkan minat untuk bermain atau beraktivitas ringan sesuai kondisi. 5) Tidak ada atau minimal bukti garukan pada ruam kulit. 6) Orang tua dapat mengidentifikasi tanda nyeri pada anak dan melakukan tindakan pereda nyeri non-farmakologis dengan tepat. Hasil yang diinginkan adalah anak merasa lebih nyaman, yang berdampak pada peningkatan istirahat, nafsu makan, dan kooperatif selama perawatan.
Kondisi: Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: 0002
Deskripsi Singkat: Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh.
Kode SLKI: 1101
Deskripsi : Manajemen Nutrisi: Tindakan untuk memfasilitasi asupan makanan dan cairan yang seimbang. Pada anak campak, anoreksia adalah gejala umum yang diperparah oleh malaise, nyeri mulut (jika ada enantem), dan demam. Intervensi meliputi: 1) Memantau asupan makan dan minum, serta output urine secara ketat. 2) Menimbang berat badan untuk mendeteksi penurunan. 3) Menawarkan makanan dalam porsi kecil, sering, dengan tekstur lunak dan mudah ditelan (bubur, sup, puding). Hindari makanan asam atau asin yang dapat mengiritasi. 4) Meningkatkan nilai kalori dan protein dalam makanan tanpa meningkatkan volume secara drastis. 5) Menjaga kebersihan mulut untuk mencegah infeksi sekunder dan meningkatkan nafsu makan. 6) Menciptakan lingkungan makan yang menyenangkan, tanpa paksaan. 7) Jika asupan oral sangat kurang, kolaborasi untuk pemberian cairan intravena atau nutrisi enteral. 8) Edukasi orang tua tentang pentingnya nutrisi adekuat untuk penyembuhan dan jenis makanan yang disarankan. Nutrisi yang cukup sangat vital untuk mendukung sistem imun melawan virus.
Kode SIKI: 110101
Deskripsi : Status Nutrisi: Keadaan keseimbangan antara asupan nutrisi dengan kebutuhan tubuh. Kriteria hasil: 1) Asupan makanan dan cairan meningkat secara bertahap mendekati kebutuhan sebelum sakit. 2) Berat badan stabil atau tidak turun signifikan. 3) Tanda-tanda dehidrasi tidak ada (turgor kulit baik, mukosa bibir lembab, produksi urine adekuat). 4) Pasien menunjukkan energi yang membaik dan tidak terlalu lemas. 5) Orang
Article No. 25044 | 11 Apr 2026
Klinis : pasien dengan campak Anak mengeluh mata gatal dan perih Orang tua melaporkan mata merah sejak beberapa hari - Mata merah, berair, tampak bengkak ringan - Sekresi mata jernih / berlendir - Refleks cahaya normal
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: