Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 26740 | 24 Aug 2026
Klinis : mata kiri tersembur bisa ular kobra sejak jam 7 malam, mata kemerahan dan bengkak kes ; cm ku ; sedang TD ; 110/80 mmHg N : 62 x/menit R : 20x/menit S : 36,5 C spO2 : 96 %
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Cedera Mata Akibat Paparan Toksin Bisa Ular Kobra (Oftalmia Nukleotoksik)
Kode SDKI: D.0133 (Risiko Cedera) / D.0142 (Risiko Infeksi) — Prioritas: D.0133 Risiko Cedera
Deskripsi Singkat: Pasien mengalami semburan bisa ular kobra pada mata kiri yang menyebabkan kemerahan (injeksi konjungtiva) dan edema palpebra. Bisa ular kobra mengandung neurotoksin dan sitotoksin (fosfolipase A2, kardiotoksin) yang bersifat korosif pada jaringan okular. Paparan ini dapat menyebabkan kerusakan epitel kornea, nekrosis konjungtiva, uveitis anterior, peningkatan tekanan intraokular (glaukoma sekunder), hingga kebutaan permanen. Tanda klinis yang tampak (mata merah, bengkak) menunjukkan adanya respons inflamasi akut. Meskipun tanda vital dalam batas normal (TD 110/80, N 62, R 20, S 36,5, SpO2 96%), risiko kerusakan struktural mata yang progresif tetap tinggi dalam 24-48 jam pertama. Diagnosis keperawatan ini mencakup risiko kerusakan jaringan kornea, risiko infeksi sekunder karena nekrosis, dan risiko gangguan persepsi sensori (penglihatan). Intervensi harus segera dilakukan untuk meminimalkan absorpsi toksin, mengurangi inflamasi, mencegah komplikasi, dan mempertahankan fungsi penglihatan.
Kode SLKI: L.05063 (Tingkat Cedera) — Luaran utama: Kerusakan Jaringan Mata Menurun
Deskripsi : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan tingkat cedera mata menurun dengan kriteria hasil: (1) Integritas kulit dan kornea membaik dengan skala 5 (menurun dari skala 1-2), ditandai tidak adanya erosi kornea, tidak ada ulserasi, epitel kornea utuh; (2) Peradangan mata menurun, ditandai berkurangnya kemerahan (hiperemia konjungtiva) dan edema palpebra; (3) Nyeri mata menurun (skala nyeri 0-1 dari skala 0-10); (4) Produksi air mata normal, tidak ada epifora berlebihan; (5) Fungsi penglihatan membaik, ditandai tajam penglihatan tidak memburuk (dari baseline), tidak ada fotofobia berat; (6) Tidak ada tanda-tanda infeksi sekunder seperti discharge purulen, peningkatan suhu lokal; (7) Pasien mampu menunjukkan teknik perlindungan mata (tidak menggosok mata, menggunakan pelindung mata). Luaran tambahan: L.08095 (Tingkat Infeksi) meningkat, dengan kriteria bebas dari tanda infeksi sistemik maupun lokal. Luaran L.01011 (Persepsi Sensori: Penglihatan) meningkat, dengan kriteria pasien dapat menyebutkan perubahan sensasi visual dan mampu beradaptasi terhadap keterbatasan penglihatan sementara.
Kode SIKI: I.05105 (Manajemen Cedera) — Intervensi utama: Manajemen Cedera Mata / Perawatan Mata
Deskripsi : Intervensi keperawatan yang dilakukan meliputi: (1) Identifikasi riwayat paparan toksin (jenis ular, waktu kejadian, durasi kontak, tindakan awal yang sudah dilakukan pasien); (2) Monitor tanda-tanda vital dan status neurologis (terutama fungsi saraf kranial III, IV, VI untuk pergerakan bola mata); (3) Monitor ukuran pupil, refleks cahaya, dan tajam penglihatan secara berkala (setiap 2-4 jam pada fase akut); (4) Lakukan irigasi mata segera dengan larutan NaCl 0,9% steril atau air bersih mengalir selama 15-20 menit (jika belum dilakukan di IGD) — namun jika sudah > 1 jam paparan, irigasi dilakukan dengan hati-hati untuk mencegah iritasi tambahan; (5) Berikan kompres dingin pada area mata untuk mengurangi edema, namun hindari tekanan langsung pada bola mata; (6) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian tetes mata antibiotik profilaksis (misalnya moksifloksasin atau gentamisin), tetes mata siklopegik (atropin/siklopentolat) untuk mencegah sinekia posterior, dan tetes mata kortikosteroid (prednisolon asetat) untuk mengontrol inflamasi — sesuai indikasi medis; (7) Kolaborasi pemberian analgesik sistemik jika nyeri berat; (8) Berikan tetes mata lubrikan (artificial tears) tanpa pengawet untuk melindungi epitel kornea; (9) Pasang pelindung mata (eye shield) atau tutup mata steril untuk mencegah trauma sekunder dan mengurangi fotofobia; (10) Edukasi pasien dan keluarga: jangan menggosok mata, hindari paparan cahaya terang, gunakan kacamata hitam, laporkan segera jika nyeri hebat, penurunan penglihatan mendadak, atau muncul discharge; (11) Anjurkan posisi kepala lebih tinggi (semi-Fowler) untuk mengurangi edema periorbita; (12) Kolaborasi pemeriksaan penunjang: fluorescein staining untuk mendeteksi defek kornea, tonometri untuk mengukur tekanan intraokular, dan slit-lamp examination; (13) Observasi tanda-tanda komplikasi sistemik neurotoksisitas (ptosis, diplopia, kelemahan otot ekstraokular, disfagia, gangguan napas) — meskipun paparan lokal, bisa ular dapat diabsorpsi melalui konjungtiva ke sirkulasi sistemik; (14) Dokumentasikan perkembangan kondisi mata setiap shift; (15) Rujuk ke dokter spesialis mata (oftalmologi) untuk penanganan definitif dan evaluasi lanjutan dalam 24 jam; (16) Jika terjadi peningkatan tekanan intraokular, kolaborasi pemberian asetazolamid atau beta-blocker topikal; (17) Pastikan ketersediaan antidotum (serum anti bisa ular) jika terjadi gejala sistemik — walaupun untuk paparan okular murni, indikasi pemberian antitoksin masih kontroversial, namun harus diantisipasi. Intervensi tambahan: I.08195 (Manajemen Nyeri) diberikan jika pasien mengeluh nyeri, dengan teknik distraksi, relaksasi napas dalam, dan manajemen lingkungan yang tenang. I.09178 (Edukasi Kesehatan) tentang pencegahan cedera mata dan perawatan lanjutan di rumah juga diberikan sebelum pasien pulang. Evaluasi dilakukan setiap 8 jam untuk menilai efektivitas intervensi terhadap kriteria hasil yang telah ditetapkan.
-
Article No. 26741 | 24 Aug 2026
Klinis : pasien datang ke IGD dengan keluhan nyeri menelan sejak hari senin, mual kes : CM ku : sedang TD : 140/80 mmHg N : 43 x/menit R : 20 x/menit S : 36 C SpO2 : 98 %
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan menelan (Dysphagia) yang berhubungan dengan nyeri tenggorokan (odynophagia) dan manifestasi klinis mual, dengan tanda-tanda vital menunjukkan bradikardia (N: 43x/menit) yang perlu diwaspadai sebagai respons vagal.
Kode SDKI: D.0067 (Gangguan Menelan)
Deskripsi Singkat: Gangguan menelan adalah diagnosis keperawatan yang menggambarkan ketidakmampuan atau penurunan kemampuan seseorang untuk memindahkan makanan, cairan, atau saliva dari rongga mulut menuju lambung secara aman dan efisien. Pada pasien ini, keluhan nyeri menelan (odynophagia) sejak hari Senin disertai mual menunjukkan adanya inflamasi atau infeksi pada orofaring yang memicu spasme otot-otot faring dan esofagus. Nyeri saat menelan menyebabkan pasien menahan diri untuk makan/minum, yang berisiko pada defisit nutrisi dan cairan. Selain itu, bradikardia (N: 43x/menit) dapat terjadi sebagai refleks vagal yang dipicu oleh stimulasi nyeri pada area faring (refleks vasovagal), yang perlu dipertimbangkan sebagai kondisi komorbid yang memengaruhi toleransi aktivitas dan risiko aspirasi. Diagnosis ini ditetapkan berdasarkan data subjektif (pasien mengeluh nyeri menelan) dan data objektif (kesadaran compos mentis, keadaan umum sedang, tekanan darah 140/80 mmHg dalam batas normal, respirasi 20x/menit, suhu 36°C, SpO2 98% namun denyut nadi bradikardia). Gangguan menelan pada pasien ini bersifat akut dan berpotensi menyebabkan komplikasi seperti aspirasi pneumonia, dehidrasi, dan malnutrisi jika tidak ditangani secara komprehensif. Intervensi keperawatan harus difokuskan pada manajemen nyeri, pencegahan aspirasi, dan pemantauan tanda-tanda vital, terutama denyut nadi, mengingat bradikardia dapat mengindikasikan iritasi vagal yang berbahaya. Secara patofisiologis, nyeri menelan mengaktivasi jalur nyeri melalui saraf kranial IX (glossopharyngeal) dan X (vagus), yang kemudian memicu refleks muntah dan penurunan denyut jantung. Oleh karena itu, diagnosis ini memerlukan pendekatan holistik yang melibatkan kolaborasi medis untuk terapi analgesik dan antiinflamasi, serta edukasi kepada pasien dan keluarga tentang teknik menelan yang aman, modifikasi diet (makanan lunak/lembut), dan pentingnya menjaga hidrasi. Luaran yang diharapkan adalah pasien mampu menelan tanpa nyeri, tidak terjadi aspirasi, serta tanda-tanda vital kembali normal (denyut nadi 60-100x/menit). Diagnosis ini juga berkaitan dengan diagnosis keperawatan lain seperti nyeri akut (D.0077) dan risiko defisit nutrisi (D.0019), namun fokus utama adalah pada gangguan mekanisme menelan yang menjadi akar masalah.
Kode SLKI: L.04026 (Tingkat Menelan)
Deskripsi : Luaran keperawatan yang diharapkan setelah dilakukan intervensi keperawatan selama periode tertentu adalah peningkatan kemampuan menelan yang ditandai dengan kriteria hasil sebagai berikut: (1) Mampu menelan makanan padat, lunak, dan cair tanpa tersedak atau batuk, (2) Tidak ada regurgitasi atau makanan keluar dari hidung, (3) Tidak ada nyeri saat menelan (skala nyeri menurun dari skala sedang ke ringan atau 0), (4) Reflek menelan kembali normal, (5) Tidak terjadi aspirasi yang ditandai dengan tidak adanya suara napas tambahan (wheezing/ronki) dan SpO2 tetap ≥95%, (6) Berat badan stabil atau meningkat, (7) Pasien menunjukkan kemampuan untuk mengonsumsi makanan dan minuman sesuai kebutuhan tanpa bantuan atau dengan bantuan minimal, (8) Tidak ada tanda-tanda dehidrasi seperti turgor kulit menurun, membran mukosa kering, atau produksi urin menurun. Skala luaran ini diukur menggunakan skala Likert dari 1 (sangat buruk) hingga 5 (sangat baik), dengan target minimal pada skala 4 (baik) setelah 3x24 jam perawatan. Untuk pasien dengan nyeri menelan akut, luaran ini juga mencakup aspek manajemen nyeri, yaitu pasien melaporkan penurunan skala nyeri saat menelan dari skala 6-7 (nyeri sedang) menjadi skala 2-3 (nyeri ringan). Selain itu, luaran ini mencakup pemantauan tanda-tanda vital, khususnya denyut nadi yang diharapkan kembali ke rentang normal (60-100x/menit) sebagai indikasi tidak adanya refleks vagal yang berlebihan. SLKI ini juga mencakup luaran lain yang terkait, seperti status nutrisi (L.03030) dan keseimbangan cairan (L.03020), namun fokus utama adalah pada kemampuan fungsional menelan yang aman dan efektif. Perawat harus mendokumentasikan perkembangan setiap hari, termasuk respons pasien terhadap terapi, untuk mengevaluasi efektivitas intervensi. Jika dalam 3 hari tidak ada perbaikan, maka perlu dilakukan kolaborasi ulang dengan tim medis untuk pemeriksaan lebih lanjut seperti endoskopi atau barium swallow.
Kode SIKI: I.01011 (Manajemen Menelan)
Deskripsi : Intervensi keperawatan utama yang dilakukan untuk mengatasi gangguan menelan adalah Manajemen Menelan dengan tujuan memfasilitasi kemampuan menelan yang aman dan efektif serta mencegah komplikasi aspirasi. Tindakan keperawatan yang dilakukan meliputi: (1) Observasi: - Identifikasi kemampuan menelan (skrining awal dengan tes air atau makanan lunak), - Monitor tanda-tanda aspirasi seperti batuk, tersedak, suara serak, atau perubahan suara setelah makan, - Monitor berat badan dan asupan nutrisi/hidrasi setiap hari, - Monitor tanda-tanda vital (TD, N, R, S, SpO2) setiap 4 jam, dengan perhatian khusus pada denyut nadi karena bradikardia (43x/menit) yang dapat mengindikasikan refleks vagal, - Kaji skala nyeri saat menelan menggunakan skala numerik (0-10) sebelum dan sesudah intervensi, - Monitor status mukosa oral dan turgor kulit untuk menilai hidrasi. (2) Terapeutik: - Berikan posisi semi-Fowler (30-45 derajat) atau posisi duduk tegak selama dan 30 menit setelah makan untuk mencegah refluks dan aspirasi, - Berikan makanan dengan tekstur lunak atau cair kental sesuai toleransi pasien (modifikasi diet), - Anjurkan pasien untuk makan dalam porsi kecil tapi sering (6-8 kali sehari) untuk mengurangi beban menelan dan mencegah mual, - Lakukan teknik menelan yang aman seperti menundukkan dagu (chin tuck) saat menelan, atau teknik supraglottic swallow (tarik napas, tahan, telan, batuk), - Berikan analgetik sesuai advis dokter (misal: parasetamol atau NSAID) 30 menit sebelum makan untuk mengurangi nyeri saat menelan, - Lakukan kompres hangat pada area leher untuk mengurangi ketegangan otot dan nyeri, - Lakukan oral hygiene secara rutin (minimal 2x sehari) untuk mencegah infeksi sekunder dan meningkatkan nafsu makan, - Berikan air minum sedikit demi sedikit menggunakan sendok untuk memastikan tidak tersedak. (3) Edukasi: - Jelaskan kepada pasien dan keluarga tentang penyebab nyeri menelan dan pentingnya kepatuhan terhadap diet yang dianjurkan, - Ajarkan teknik relaksasi napas dalam untuk mengurangi mual dan kecemasan yang dapat memperberat gangguan menelan, - Edukasi tentang tanda-tanda bahaya yang perlu dilaporkan seperti sesak napas, demam tinggi, atau penurunan kesadaran, - Anjurkan keluarga untuk mendampingi pasien saat makan dan memberikan dukungan emosional. (4) Kolaborasi: - Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian terapi antibiotik (jika ada indikasi infeksi), antiemetik untuk mual, dan atropin atau penanganan bradikardia jika kondisi memburuk, - Rujuk ke ahli gizi untuk perencanaan diet yang tepat sesuai kondisi pasien, - Jika bradikardia persisten (<50x/menit) dengan gejala (pusing, lemas), kolaborasi untuk pemeriksaan EKG dan konsultasi kardiologi. Intervensi ini dilakukan secara berkesinambungan dan dievaluasi setiap 8 jam untuk kasus akut. Evaluasi keberhasilan intervensi didasarkan pada tercapainya luaran SLKI yang telah ditetapkan, yaitu pasien mampu menelan tanpa nyeri, tidak ada tanda aspirasi, dan tanda-tanda vital membaik. Dokumentasi semua tindakan dan respons pasien dilakukan dalam catatan keperawatan secara akurat dan objektif.
-
Article No. 26742 | 24 Aug 2026
Klinis : Identitas Pasien Ny. R, perempuan, 59 tahun, dirawat dengan keluhan sesak dan pembengkakan pada tungkai. Keluhan Pasien mengatakan: "Kaki saya semakin besar dan terasa berat. Kalau malam, napas saya terasa lebih sesak." Pasien mengatakan berat badan meningkat sekitar 3,5 kg dalam 10 hari. Data Objektif • TD: 112/74 mmHg • Nadi: 102 x/menit • RR: 26 x/menit • Suhu: 36,5°C • SpO₂: 87% udara ruangan Pemeriksaan: • Edema pitting +3 kedua tungkai. • Distensi vena jugularis. • Abdomen sedikit distensi. • Hepatomegali. • Kulit tungkai tampak mengkilap. • Pasien tampak sesak saat berbicara panjang. Pemeriksaan Diagnostik Ekokardiografi: • Dilatasi atrium dan ventrikel kanan. • Peningkatan tekanan pulmonal. Laboratorium: • Natrium: 132 mmol/L • Kalium: 4,2 mmol/L • BNP meningkat. Foto toraks: • Pembesaran jantung kanan. • Hiperinflasi paru.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas berhubungan dengan perubahan membran kapiler alveolus sekunder akibat gagal jantung kongestif (Cor Pulmonale) dengan hipertensi pulmonal.
Kode SDKI: D.0003
Deskripsi Singkat: Gangguan pertukaran gas adalah kelebihan atau kekurangan oksigenasi dan/atau eliminasi karbon dioksida pada membran alveolus-kapiler. Pada Ny. R, kondisi ini ditandai dengan SpO₂ 87% pada udara ruangan (normal 95-100%), RR 26 x/menit (takipnea), sesak saat berbicara panjang, serta hasil foto toraks yang menunjukkan hiperinflasi paru dan pembesaran jantung kanan. Peningkatan tekanan pulmonal menyebabkan cairan berpindah ke interstitium paru, mengganggu difusi oksigen. Data objektif menunjukkan hipoksemia (SpO₂ rendah) dan usaha napas meningkat. Pasien juga melaporkan sesak napas yang memburuk pada malam hari (ortopnea), yang merupakan manifestasi klasik dari kegagalan ventrikel kanan yang berdampak pada pertukaran gas di paru. Diagnosis ini ditegakkan berdasarkan tanda-tanda klinis hipoksemia, perubahan pola napas, dan temuan diagnostik yang mendukung adanya gangguan ventilasi-perfusi.
Kode SLKI: L.01003
Deskripsi : Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan fungsi pertukaran gas membaik dengan kriteria hasil: (1) Tingkat kesadaran membaik (GCS normal, tidak gelisah), (2) Dispnea menurun (skala sesak menurun dari skala 4 menjadi skala 1-2), (3) Bunyi napas tambahan menurun (ronki berkurang), (4) Tekanan darah dalam rentang normal (sistole 100-120 mmHg, diastole 70-80 mmHg), (5) Frekuensi napas membaik (dalam rentang 16-20 x/menit), (6) Kedalaman napas membaik (tidak dangkal atau dalam), (7) Pola napas membaik (irama teratur, tidak menggunakan otot bantu pernapasan), (8) PCO₂ membaik (35-45 mmHg), (9) PO₂ membaik (80-100 mmHg), (10) Saturasi oksigen membaik (≥95%), (11) Auskultasi paru bersih (tidak ada ronki atau wheezing). Luaran ini diukur menggunakan skala 1-5, dengan target skor 5 (membaik) pada semua kriteria. Peningkatan saturasi oksigen menjadi indikator utama keberhasilan terapi oksigen dan manajemen cairan.
Kode SIKI: I.01003
Deskripsi : Intervensi utama yang dilakukan adalah Manajemen Jalan Napas dan Terapi Oksigen. Tindakan yang diberikan meliputi: (1) Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya napas setiap 2 jam, (2) Monitor bunyi napas tambahan (ronki, wheezing) melalui auskultasi setiap 4 jam, (3) Monitor saturasi oksigen dengan pulse oksimetri secara kontinu dan laporkan jika <92%, (4) Posisikan pasien semi-Fowler atau Fowler (30-45 derajat) untuk mengurangi sesak dan memaksimalkan ekspansi paru, (5) Berikan oksigen nasal kanul 2-4 liter/menit atau sesuai target saturasi ≥95%, dengan titrasi bertahap untuk mencegah retensi CO₂ pada pasien dengan riwayat hiperkapnia, (6) Ajarkan teknik napas dalam dan batuk efektif untuk membersihkan sekret, (7) Kolaborasi pemberian diuretik (furosemide) sesuai indikasi untuk mengurangi edema paru dan beban cairan, (8) Kolaborasi pemeriksaan analisis gas darah (AGD) untuk mengevaluasi status oksigenasi dan ventilasi, (9) Batasi asupan cairan sesuai anjuran (biasanya <1500 ml/hari) dan monitor keseimbangan cairan, (10) Berikan waktu istirahat yang cukup dan batasi aktivitas fisik yang berlebihan untuk mengurangi kebutuhan oksigen miokard. Evaluasi dilakukan setiap 4 jam terhadap status pernapasan dan saturasi oksigen, serta dokumentasikan respons pasien terhadap terapi.
Kondisi: Kelebihan Volume Cairan berhubungan dengan mekanisme regulasi cairan terganggu sekunder akibat gagal jantung kanan (Cor Pulmonale).
Kode SDKI: D.0022
Deskripsi Singkat: Kelebihan volume cairan adalah kondisi akumulasi cairan atau kelebihan asupan cairan dibandingkan kebutuhan tubuh. Pada Ny. R, kondisi ini ditandai dengan edema pitting +3 pada kedua tungkai, kulit tungkai mengkilap (tanda edema memburuk), distensi vena jugularis, abdomen sedikit distensi, hepatomegali, peningkatan berat badan 3,5 kg dalam 10 hari, serta hasil ekokardiografi yang menunjukkan dilatasi atrium dan ventrikel kanan serta peningkatan tekanan pulmonal. Patofisiologi yang mendasari adalah penurunan curah jantung kanan yang menyebabkan bendungan darah di sirkulasi sistemik, sehingga tekanan hidrostatik meningkat dan cairan berpindah ke ruang interstisial. Peningkatan berat badan yang signifikan (>2 kg dalam 3 hari) merupakan indikator awal retensi cairan. Data laboratorium menunjukkan natrium 132 mmol/L (hiponatremia) yang memperberat edema karena penurunan osmolaritas plasma. Distensi vena jugularis dan hepatomegali adalah tanda objektif peningkatan tekanan vena sentral yang mengonfirmasi kelebihan volume cairan pada sirkulasi sistemik.
Kode SLKI: L.03028
Deskripsi : Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan keseimbangan cairan membaik dengan kriteria hasil: (1) Berat badan membaik (mengalami penurunan 0,5-1 kg/hari hingga mendekati berat badan ideal), (2) Edema menurun (dari +3 menjadi +1 atau tidak ada edema), (3) Distensi vena jugularis menurun (tidak tampak menonjol saat posisi 45 derajat), (4) Hepatomegali menurun (ukuran hati mengecil dari palpasi), (5) Asites menurun (lingkar abdomen berkurang), (6) Frekuensi nadi membaik (60-100 x/menit), (7) Tekanan darah membaik (sistole 100-120 mmHg), (8) Keseimbangan cairan membaik (input dan output seimbang atau output lebih banyak), (9) Keluaran urin membaik (≥30 ml/jam), (10) Turgor kulit membaik (kembali elastis), (11) Elektrolit membaik (natrium dalam rentang 135-145 mmol/L), (12) Berat badan membaik (mendekati baseline). Target skor 5 untuk semua kriteria, dengan penurunan edema dan berat badan sebagai indikator utama keberhasilan terapi diuretik.
Kode SIKI: I.03028
Deskripsi : Intervensi utama yang dilakukan adalah Manajemen Kelebihan Volume Cairan. Tindakan yang diberikan meliputi: (1) Monitor berat badan harian pada waktu yang sama, menggunakan timbangan yang sama, dan setelah buang air kecil, (2) Monitor intake dan output cairan setiap 8 jam, termasuk cairan intravena, oral, dan urin, (3) Monitor tanda-tanda vital setiap 4 jam, terutama tekanan darah dan nadi untuk mendeteksi perubahan hemodinamik, (4) Monitor derajat edema dengan skala pitting (0-4+) setiap shift, (5) Monitor distensi vena jugularis dan hepatomegali setiap 12 jam, (6) Auskultasi bunyi napas setiap 4 jam untuk mendeteksi ronki sebagai tanda edema paru, (7) Monitor nilai laboratorium (natrium, kalium, kreatinin, BUN) sesuai indikasi, (8) Posisikan pasien dengan ekstremitas bawah lebih tinggi untuk membantu drainase vena dan mengurangi edema, (9) Batasi asupan cairan sesuai anjuran dokter (biasanya 1000-1500 ml/hari), (10) Berikan diet rendah garam (2 gram natrium/hari) dan edukasi pasien untuk menghindari makanan tinggi natrium, (11) Kolaborasi pemberian diuretik loop (furosemide) intravena sesuai indikasi, pantau efek diuresis dan keseimbangan elektrolit, (12) Kolaborasi pemberian inotropik (dobutamin) jika diperlukan untuk meningkatkan kontraktilitas jantung, (13) Edukasi pasien dan keluarga untuk melaporkan peningkatan berat badan >1 kg/hari, sesak napas, atau pembengkakan yang memburuk. Evaluasi dilakukan setiap 8 jam terhadap keseimbangan cairan dan respons terhadap terapi diuretik.
Kondisi: Pola Napas Tidak Efektif berhubungan dengan hambatan upaya napas sekunder akibat efusi pleura dan kongesti paru pada gagal jantung kanan.
Kode SDKI: D.0005
Deskripsi Singkat: Pola napas tidak efektif adalah kondisi inspirasi dan/atau ekspirasi yang tidak memberikan ventilasi yang adekuat. Pada Ny. R, kondisi ini ditandai dengan RR 26 x/menit (takipnea), pasien tampak sesak saat berbicara panjang, ortopnea (sesak memburuk saat berbaring), dan hasil foto toraks yang menunjukkan hiperinflasi paru serta pembesaran jantung kanan. Peningkatan tekanan pulmonal menyebabkan kongesti vaskular paru dan kemungkinan efusi pleura ringan, yang membatasi ekspansi paru dan mengganggu mekanika pernapasan. Pasien menggunakan otot bantu pernapasan saat berbicara, menunjukkan peningkatan kerja napas. Pola napas yang cepat dan dangkal menyebabkan ventilasi alveolar tidak efisien, memperburuk hip
Article No. 26743 | 24 Aug 2026
Klinis : Kasus 5 Identitas Pasien Tn. D, laki-laki, 67 tahun, mantan pekerja pabrik, datang ke IGD karena sesak napas. Keluhan Utama Pasien mengatakan: "Napas saya berat sekali dan seperti tidak bisa mengeluarkan udara." Keluhan disertai batuk berdahak yang semakin banyak sejak lima hari terakhir. Riwayat Penyakit Pasien telah didiagnosis COPD sejak 6 tahun lalu. Riwayat: • Merokok 1 bungkus/hari selama sekitar 35 tahun. • Batuk berdahak hampir setiap hari. • Menggunakan inhaler tetapi tidak teratur. • Dua kali dirawat karena sesak dalam satu tahun terakhir. Data Objektif • TD: 136/82 mmHg • Nadi: 112 x/menit • RR: 32 x/menit • Suhu: 37,9°C • SpO₂: 78% udara ruangan Pemeriksaan fisik: • Pasien tampak cemas. • Posisi tripod. • Menggunakan otot bantu pernapasan. • Ekspirasi memanjang. • Barrel chest. • Wheezing bilateral. • Suara napas menurun. • Batuk produktif dengan sputum kuning kehijauan. • Pasien berbicara dalam kalimat pendek. Pemeriksaan Diagnostik Spirometri sebelumnya: • FEV₁: 42% prediksi. • FEV₁/FVC: 0,48. Analisis gas darah: • pH: 7,31 • PaCO₂: 68 mmHg • PaO₂: 48 mmHg • HCO₃⁻: 33 mEq/L Foto toraks: • Hiperinflasi paru. • Diafragma mendatar. Pertanyaan Kasus 1. Apa masalah keperawatan yang paling mengancam keselamatan pasien? 2. Tentukan diagnosis keperawatan prioritas. 3. Apa data yang menunjukkan gangguan pertukaran gas? 4. Mengapa pasien mengalami retensi CO₂? 5. Apa tindakan keperawatan segera yang perlu dilakukan? 6. Bagaimana posisi pasien yang tepat? 7. Apa prinsip pemantauan oksigenasi pada pasien COPD? 8. Apa edukasi jangka panjang yang diperlukan?
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas (Prioritas Utama) pada Pasien COPD Eksaserbasi Akut dengan Hiperkapnia dan Hipoksemia
Kode SDKI: D.0003
Deskripsi Singkat: Gangguan pertukaran gas adalah diagnosis keperawatan yang menggambarkan kondisi di mana terjadi kelebihan atau kekurangan oksigenasi dan/atau eliminasi karbon dioksida pada membran alveolus-kapiler. Pada pasien Tn. D, kondisi ini merupakan ancaman keselamatan jiwa yang paling kritis. Data objektif menunjukkan SpO₂ 78% (normal >95%), PaO₂ 48 mmHg (normal 80-100 mmHg) yang mengindikasikan hipoksemia berat, dan PaCO₂ 68 mmHg (normal 35-45 mmHg) yang menunjukkan hiperkapnia atau retensi CO₂. pH darah 7,31 (asidosis respiratorik) menegaskan kegagalan ventilasi akut. Secara fisiologis, pada COPD terjadi destruksi dinding alveolus, kehilangan elastisitas paru, dan obstruksi jalan napas yang menyebabkan ketidakseimbangan ventilasi-perfusi (V/Q mismatch). Area paru yang mengalami kerusakan tidak dapat melakukan pertukaran gas secara efektif, sehingga oksigen tidak dapat berdifusi ke darah dan CO₂ tidak dapat dikeluarkan. Eksaserbasi akut yang ditandai dengan peningkatan produksi sputum kuning kehijauan (infeksi) dan bronkospasme (wheezing) semakin memperburuk kondisi ini. Pasien menggunakan otot bantu pernapasan, posisi tripod, dan berbicara dalam kalimat pendek menunjukkan distress pernapasan berat yang membutuhkan intervensi segera. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat berkembang menjadi gagal napas total, asidosis respiratorik dekompensata, penurunan kesadaran, henti napas, dan kematian. Diagnosis ini menjadi prioritas utama karena mengancam kehidupan secara langsung dan membutuhkan tindakan segera dalam hitungan menit.
Kode SLKI: L.01003
Deskripsi : Luaran yang diharapkan setelah dilakukan intervensi keperawatan adalah "Pertukaran Gas Membaik" dengan kriteria hasil yang terukur. Tingkat kesadaran membaik (GCS meningkat dari somnolen menjadi komposmentis), dispnea menurun (RR turun dari 32 x/menit menuju rentang 16-20 x/menit), bunyi napas tambahan (wheezing) menurun atau hilang, ekspirasi memanjang membaik, penggunaan otot bantu napas menurun, posisi tripod tidak lagi dipertahankan, dan pasien mampu berbicara dalam kalimat lengkap tanpa terputus. Secara objektif, status oksigenasi membaik dengan SpO₂ meningkat ≥92% dengan atau tanpa oksigen tambahan, PaO₂ meningkat menuju 60-80 mmHg (target pada pasien COPD), PaCO₂ menurun menuju 40-55 mmHg (target kompensasi kronis), pH darah kembali normal (7,35-7,45), dan HCO₃⁻ stabil. Kebersihan jalan napas meningkat dengan kemampuan batuk efektif, sputum mudah dikeluarkan, dan produksi sputum berkurang. Warna sputum kembali jernih atau putih. Tanda-tanda vital stabil: nadi normal (60-100 x/menit), suhu tubuh normal (36-37°C), dan tekanan darah dalam rentang normal. Pasien juga menunjukkan penurunan kecemasan, ekspresi wajah tenang, dan mampu beristirahat dengan nyaman. Kriteria ini diukur dengan skala 1-5, di mana target yang diharapkan adalah skala 4-5 (cukup membaik hingga membaik). Pemantauan dilakukan secara berkala, terutama pada fase akut setiap 1-2 jam, kemudian dilanjutkan setiap 4 jam setelah kondisi stabil.
Kode SIKI: I.01003
Deskripsi : Tindakan keperawatan yang dilakukan adalah "Manajemen Pertukaran Gas" dengan observasi dan terapeutik yang komprehensif. Berikut rincian tindakan segera dan lanjutan: (1) Monitoring respirasi: pantau frekuensi, irama, kedalaman napas, dan usaha napas setiap 15-30 menit pada fase akut; auskultasi bunyi napas untuk menilai wheezing dan suara napas tambahan; pantau saturasi oksigen secara kontinu menggunakan pulse oksimetri; pantau nilai AGD (pH, PaCO₂, PaO₂, HCO₃⁻) sesuai indikasi, terutama setelah perubahan terapi oksigen. (2) Pemberian oksigen: berikan oksigen sesuai indikasi dan hati-hati, target SpO₂ 88-92% untuk pasien COPD dengan risiko hiperkapnia. Gunakan oksigen aliran rendah (1-2 L/menit) melalui nasal kanul atau venturi mask 24-28%. Jangan memberikan oksigen konsentrasi tinggi karena dapat menekan dorongan napas hipoksik pada pasien COPD kronis. Evaluasi efektivitas pemberian oksigen melalui AGD ulang. (3) Posisikan pasien semi-Fowler atau Fowler tinggi (45-90 derajat) atau posisi tripod untuk memaksimalkan ekspansi paru dan memudahkan pernapasan. (4) Ajarkan dan bantu teknik pursed-lip breathing (napas bibir mengerucut) untuk memperpanjang ekspirasi, mencegah kolaps jalan napas, dan membantu pengeluaran CO₂. (5) Ajarkan teknik batuk efektif dan lakukan fisioterapi dada (postural drainase, perkusi, dan vibrasi) untuk membantu mobilisasi sekret. (6) Berikan bronkodilator (salbutamol/ipratropium) melalui nebulizer sesuai advis dokter, pantau respons terhadap pengobatan. (7) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian kortikosteroid sistemik, antibiotik (jika ada infeksi), dan terapi lainnya. (8) Manajemen kecemasan: berikan lingkungan yang tenang, kurangi stimulus berlebihan, berikan dukungan emosional, dan jelaskan setiap tindakan yang dilakukan untuk mengurangi rasa takut yang memperberat sesak. (9) Pertahankan kepatenan jalan napas dengan suction jika diperlukan. (10) Monitor tanda-tanda kegagalan napas: penurunan kesadaran, sianosis sentral, diaforesis, takikardia, dan arrhythmia. (11) Siapkan perlengkapan emergensi seperti ambu bag, alat intubasi, dan ventilasi mekanik jika terjadi perburukan. (12) Evaluasi hasil intervensi setiap 1-2 jam pada fase akut dan dokumentasikan perkembangan kondisi pasien.
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (Diagnosis Keperawatan Prioritas Kedua)
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Bersihan jalan napas tidak efektif adalah ketidakmampuan membersihkan sekret atau obstruksi jalan napas untuk mempertahankan kepatenan jalan napas. Pada Tn. D, kondisi ini sangat relevan karena pasien mengalami batuk produktif dengan sputum kuning kehijauan yang meningkat sejak lima hari terakhir. Warna sputum kuning kehijauan mengindikasikan kemungkinan infeksi bakteri yang memperberat eksaserbasi COPD. Pasien memiliki riwayat batuk berdahak hampir setiap hari sebagai manifestasi bronkitis kronis. Pemeriksaan fisik menunjukkan wheezing bilateral yang menandakan penyempitan jalan napas akibat bronkospasme dan akumulasi sekret, suara napas menurun yang mengindikasikan aliran udara berkurang, dan ekspirasi memanjang yang merupakan tanda obstruksi jalan napas. Pasien menggunakan otot bantu pernapasan dan posisi tripod sebagai upaya kompensasi untuk mengatasi kesulitan bernapas. Ketidakmampuan membersihkan jalan napas menyebabkan sekret menumpuk, menyumbat bronkus, memperburuk ventilasi, dan mengganggu pertukaran gas. Hal ini secara langsung berkontribusi pada hipoksemia dan hiperkapnia yang dialami pasien. Produksi sputum yang berlebihan dan sulit dikeluarkan juga meningkatkan risiko atelektasis, pneumonia, dan gagal napas. Diagnosis ini berkaitan erat dengan diagnosis prioritas pertama (gangguan pertukaran gas), karena bersihan jalan napas yang tidak efektif akan memperburuk gangguan pertukaran gas. Penanganan yang tepat untuk membersihkan jalan napas akan membantu memperbaiki ventilasi dan oksigenasi.
Kode SLKI: L.01001
Deskripsi : Luaran yang diharapkan adalah "Bersihan Jalan Napas Meningkat" dengan kriteria hasil: batuk efektif meningkat (pasien mampu batuk kuat dan mengeluarkan sputum tanpa kesulitan), produksi sputum menurun (volume berkurang, warna berubah dari kuning kehijauan menjadi jernih/putih), wheezing menurun atau hilang, suara napas bersih atau vesikuler normal, ekspirasi memanjang membaik, frekuensi napas membaik (RR 16-20 x/menit), tidak ada sianosis, dan pasien mampu bernapas dengan mudah tanpa menggunakan otot bantu pernapasan. Kemampuan pasien untuk mengeluarkan sekret secara mandiri meningkat, tidak memerlukan suction, dan tidak ada tanda-tanda obstruksi jalan napas. Pasien juga menunjukkan kemampuan untuk melakukan teknik pursed-lip breathing dan batuk efektif secara mandiri. Skala target yang diharapkan adalah 4-5 (cukup meningkat hingga meningkat). Pemantauan dilakukan setiap 2-4 jam pada fase akut dan setiap 8 jam setelah kondisi membaik. Kriteria ini penting untuk mengevaluasi efektivitas intervensi dan mencegah komplikasi lebih lanjut seperti pneumonia atau gagal napas.
Kode SIKI: I.01001
Deskripsi : Tindakan keperawatan yang dilakukan adalah "Manajemen Jalan Napas" yang meliputi: (1) Monitoring respirasi: pantau frekuensi, irama, kedalaman napas, dan usaha napas; auskultasi bunyi napas untuk menilai adanya wheezing, ronki, atau suara napas tambahan;
Article No. 26717 | 23 Aug 2026
Klinis : Hipovolemia berhubungan dengan kekurangan cairan dalam tubuh dibuktikan dengan Data Subjektif : ibu pasien mengatakan pasien BAB encer 4 kali dan muntah-muntah 2 kali, ibu pasien mengatakan tidak mau makan dan minum. Data Objektif : pasien tampak rewel bab encer 4 kali dn muntah-muntah 2 kali, pasien tampak lemas, pasien tampak pucat, BB sebelum sakit : 12kg, BB : selama sakit : 9kg
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Hipovolemia
Kode ICD-10: E86
Deskripsi Singkat : Hipovolemia (kode ICD-10: E86) adalah kondisi kekurangan volume cairan ekstraseluler yang signifikan, yang dapat disebabkan oleh kehilangan cairan melalui saluran cerna (muntah dan diare) serta asupan oral yang tidak adekuat. Pada kasus ini, data subjektif menunjukkan riwayat BAB encer 4 kali dan muntah 2 kali, disertai penolakan makan dan minum. Data objektif memperkuat diagnosis dengan tanda-tanda klinis seperti rewel (tanda dehidrasi pada anak), lemas, pucat, serta penurunan berat badan yang drastis dari 12 kg menjadi 9 kg (penurunan 25% berat badan, yang mengindikasikan dehidrasi berat). Kode E86 mencakup deplesi volume cairan intravaskular atau ekstraseluler, yang merupakan istilah klinis untuk hipovolemia. Kondisi ini merupakan keadaan darurat medis yang memerlukan koreksi cairan segera, terutama pada anak, karena dapat menyebabkan syok hipovolemik, gangguan elektrolit, dan gagal ginjal akut jika tidak ditangani. Penurunan berat badan akut sebesar 3 kg dalam waktu singkat mencerminkan kehilangan cairan yang masif, bukan kehilangan massa jaringan. Kode ini tidak termasuk dehidrasi pada bayi baru lahir (P74.1) atau syok hipovolemik (R57.1), yang merupakan komplikasi lebih lanjut. Dalam pengkodean, penting untuk juga mempertimbangkan kode penyebab eksternal jika ada, seperti gastroenteritis infeksius (A09) sebagai diagnosis utama yang mendasari, namun berdasarkan deskripsi yang diberikan, kondisi yang paling menonjol adalah hipovolemia itu sendiri. Manajemen klinis meliputi rehidrasi oral atau intravena sesuai derajat dehidrasi, pemantauan tanda vital, dan koreksi ketidakseimbangan elektrolit. Kode ini spesifik untuk hipovolemia tanpa komplikasi syok, dan memerlukan penilaian klinis lebih lanjut untuk menentukan apakah ada kondisi penyerta yang perlu dikode tambahan.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
Article No. 26719 | 23 Aug 2026
Klinis : Ny. B, G2P1A0, 28 tahun, hamil 40 minggu, berada di kamar bersalin dalam fase Kala II (dipimpin meneran). Pembukaan sudah lengkap (10 cm), ketuban pecah spontan berwarna jernih. Kepala janin tampak di vulva dengan diameter 5-6 cm. Pasien tampak sangat tegang, kelelahan, dan cara meneran tidak efektif (menahan napas di tenggorokan). Pasien berteriak takut robek pada perineum, karena perineum teraba kaku, tegang, dan tebal. Jarak kehamilan sebelumnya adalah 2 tahun.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Defisit Pengetahuan tentang Proses Persalinan Kala II dan Risiko Cedera Perineum pada Ibu Bersalin dengan Kala II Lama dan Distosia Jaringan Lunak
Kode SDKI: D.0111 (Defisit Pengetahuan) dan D.0140 (Risiko Cedera)
Deskripsi Singkat: Berdasarkan kondisi Ny. B yang berada pada Kala II persalinan dengan pembukaan lengkap, ketuban jernih, kepala janin di vulva, namun disertai perineum kaku, tegang, tebal, serta cara meneran yang tidak efektif (menahan napas di tenggorokan) dan rasa takut robek perineum, maka terdapat dua diagnosis keperawatan utama yang saling berkaitan. Pertama, Defisit Pengetahuan (D.0111) berhubungan dengan kurangnya paparan informasi tentang teknik meneran yang benar dan proses fisiologis Kala II, yang ditandai dengan perilaku meneran yang salah (menahan napas di tenggorokan), verbalisasi ketakutan yang berlebihan, dan kegagalan dalam mengikuti instruksi. Kedua, Risiko Cedera (D.0140) berhubungan dengan faktor risiko mekanis (perineum kaku, tegang, tebal) dan faktor risiko psikologis (kelelahan, ketegangan, panik), yang dapat mengakibatkan laserasi perineum, robekan jalan lahir, atau cedera pada janin akibat persalinan lama. Kedua diagnosis ini harus ditangani secara simultan karena defisit pengetahuan memperberat risiko cedera, dan risiko cedera meningkatkan kecemasan yang memperburuk defisit pengetahuan.
Kode SLKI: L.12107 (Tingkat Pengetahuan) dan L.14141 (Integritas Jaringan)
Deskripsi : Untuk diagnosis Defisit Pengetahuan (D.0111), luaran yang diharapkan adalah Tingkat Pengetahuan (L.12107) meningkat, dengan kriteria hasil: (1) Kemampuan menjelaskan teknik meneran yang efektif meningkat, (2) Kemampuan mempraktikkan posisi dan cara meneran yang benar meningkat, (3) Kemampuan mengenali tanda-tanda kemajuan persalinan meningkat, (4) Kemampuan verbalisasi kecemasan menurun, (5) Kemampuan mengikuti instruksi petugas kesehatan meningkat. Untuk diagnosis Risiko Cedera (D.0140), luaran yang diharapkan adalah Integritas Jaringan (L.14141) membaik, dengan kriteria hasil: (1) Perineum utuh tanpa laserasi atau robekan, (2) Elastisitas jaringan perineum meningkat (tidak kaku), (3) Mobilitas dan fleksibilitas jaringan perineum meningkat, (4) Tidak ada tanda-tanda trauma mekanis pada jalan lahir, (5) Perdarahan tidak meningkat, (6) Kepala janin dapat turun dengan lancar tanpa hambatan, (7) Ibu mampu berkolaborasi dalam upaya pencegahan cedera, (8) Tingkat kelelahan menurun, (9) Tanda-tanda vital dalam batas normal (tekanan darah, nadi, pernapasan).
Kode SIKI: I.12383 (Edukasi Kesehatan) dan I.14553 (Perawatan Integritas Jaringan)
Deskripsi : Intervensi keperawatan utama untuk Defisit Pengetahuan adalah Edukasi Kesehatan (I.12383), dengan tindakan: (1) Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi, (2) Identifikasi faktor-faktor yang dapat meningkatkan dan menurunkan motivasi perilaku hidup bersih dan sehat, (3) Sediakan materi dan media pendidikan kesehatan, (4) Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan, (5) Berikan kesempatan untuk bertanya, (6) Jelaskan proses persalinan Kala II secara fisiologis, (7) Ajarkan teknik meneran yang benar: tarik napas dalam saat kontraksi, tahan napas selama 5-10 detik, lalu dorong ke arah bawah seperti mengejan saat BAB, dengan posisi setengah duduk atau miring, (8) Ajarkan relaksasi pernapasan antara kontraksi untuk menghemat tenaga, (9) Demonstrasikan dan ulangi latihan meneran bersama pasien, (10) Berikan umpan balik positif saat pasien berhasil melakukan, (11) Jelaskan tanda-tanda bahaya robekan perineum dan pentingnya mengikuti arahan bidan, (12) Libatkan suami atau keluarga dalam memberikan dukungan emosional, (13) Berikan informasi tentang posisi alternatif yang memudahkan meneran (misal: posisi miring kiri, jongkok, atau merangkak) sesuai kondisi klinis. Sedangkan intervensi utama untuk Risiko Cedera adalah Perawatan Integritas Jaringan (I.14553), dengan tindakan: (1) Monitor tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu), (2) Monitor frekuensi, durasi, dan intensitas kontraksi uterus, (3) Monitor denyut jantung janin setiap 15 menit pada Kala II aktif, (4) Monitor penurunan kepala janin dan tanda-tanda kemajuan persalinan, (5) Lakukan kompres hangat pada perineum selama 10-15 menit saat kontraksi untuk meningkatkan elastisitas jaringan, (6) Lakukan massage perineum dengan minyak zaitun atau pelumas steril secara lembut dan perlahan dari arah lateral ke medial, terutama saat kontraksi, (7) Anjurkan ibu untuk mengosongkan kandung kemih secara teratur, (8) Pertahankan kebersihan perineum dengan cairan antiseptik, (9) Gunakan teknik perineal support (menahan perineum dengan tangan saat kepala janin lahir) untuk mencegah robekan, (10) Anjurkan meneran secara perlahan dan terkontrol saat kepala janin akan lahir (jangan memaksakan), (11) Kolaborasi dengan bidan untuk melakukan episiotomi jika diindikasikan (perineum kaku, tegang, tebal, atau gawat janin), (12) Ajarkan teknik relaksasi otot dasar panggul antara kontraksi, (13) Berikan oksigen jika terjadi gawat janin, (14) Monitor tanda-tanda laserasi atau robekan setelah bayi lahir, (15) Pertahankan lingkungan yang tenang dan mendukung untuk mengurangi ketegangan, (16) Berikan dukungan emosional dan kurangi stimulus nyeri, (17) Evaluasi efektivitas intervensi dengan memeriksa kondisi perineum dan kemampuan meneran pasien. Kedua intervensi ini harus dilakukan secara terintegrasi dan berkesinambungan, mengingat kondisi Ny. B yang sangat tegang dan kelelahan memerlukan pendekatan yang holistik, mencakup aspek edukasi, psikologis, dan fisik. Peran perawat adalah sebagai fasilitator, pendidik, dan pemberi dukungan untuk memastikan keselamatan ibu dan janin selama proses persalinan Kala II.
Article No. 26720 | 23 Aug 2026
Klinis : Ny. S, perempuan, 42 tahun, bekerja sebagai pedagang makanan, datang ke IGD dengan keluhan sesak napas dan batuk yang semakin berat. Pasien mengatakan:"Saya sudah batuk hampir dua bulan, tetapi sekitar satu minggu ini napas terasa semakin sesak."Pasien mengatakan batuk terutama terjadi pada malam hari dan pagi hari. Dahak berwarna putih kekuningan, kadang cukup banyak. Dalam tiga hari terakhir pasien merasa sesak ketika berjalan dari kamar ke kamar mandi. Riwayat keluhan sebelumnya:Batuk berlangsung sekitar 7 minggu, Dahak kadang bercampur garis darah, Demam terutama sore hingga malam hari, Sering berkeringat pada malam hari, Nafsu makan menurun, Berat badan turun sekitar 6 kg dalam dua bulan,Merasa cepat lelah, Kadang mengalami nyeri dada kanan ketika batuk,Belum pernah menjalani pengobatan TBC sebelumnya, Suami pasien pernah menjalani pengobatan TBC sekitar satu tahun yang lalu. Data Objektif Keadaan umum tampak lemah dan sakit sedang. • Kesadaran: compos mentis • TD: 108/70 mmHg • Nadi: 104 x/menit • RR: 28 x/menit • Suhu: 38,1°C • SpO₂: 89% udara ruangan • BB: 47 kg • TB: 158 cm Pemeriksaan fisik: • Pasien tampak menggunakan otot bantu pernapasan. • Napas cepat dan dangkal. • Batuk produktif. • Sputum mukopurulen. • Terdengar crackles pada lapang paru kanan bagian atas. • Ekspansi dada kanan sedikit berkurang. • Pasien tampak lemah dan mudah lelah. Pemeriksaan Diagnostik Foto toraks: • Tampak infiltrat heterogen pada lobus superior paru kanan. • Tampak kavitas pada regio apikal kanan. Pemeriksaan sputum Tes Cepat Molekuler (TCM): • MTB terdeteksi. • Rifampisin sensitif. Analisis gas darah: • pH: 7,45 • PaCO₂: 34 mmHg • PaO₂: 58 mmHg • HCO₃⁻: 23 mEq/L Laboratorium: • Hb: 11,2 g/dL • Leukosit: 12.400/µL • CRP meningkat.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif berhubungan dengan sekret yang tertahan (spasme jalan napas, hipersekresi, disfungsi neuromuskular, obstruksi jalan napas) pada Ny. S dengan Tuberkulosis Paru (TB paru) BTA positif.
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Bersihan jalan napas tidak efektif adalah ketidakmampuan membersihkan sekret atau obstruksi jalan napas untuk mempertahankan jalan napas tetap paten. Pada Ny. S, kondisi ini ditandai dengan batuk produktif yang menetap (hampir 2 bulan), sputum mukopurulen putih kekuningan yang kadang bercampur garis darah, penggunaan otot bantu pernapasan, napas cepat dan dangkal (RR 28 x/menit), serta terdengar crackles pada lapang paru kanan atas. Data objektif menunjukkan hipoksemia (SpO₂ 89% udara ruangan, PaO₂ 58 mmHg) yang mengindikasikan gangguan ventilasi akibat penumpukan sekret dan infiltrat paru. Batuk yang memberat terutama pada malam dan pagi hari merupakan manifestasi khas TB paru yang menyebabkan akumulasi sekret. Ketidakefektifan bersihan jalan napas ini diperberat oleh kelemahan fisik (BB turun 6 kg, mudah lelah) sehingga kemampuan batuk efektif menurun. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat berkembang menjadi gagal napas, mengingat adanya kavitas dan infiltrat luas pada lobus superior paru kanan yang menjadi sumber produksi sekret berlebih.
Kode SLKI: L.01001
Deskripsi : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan bersihan jalan napas membaik dengan kriteria hasil: (1) Batuk efektif meningkat dari skala 2 (cukup) menjadi skala 4 (baik) dengan indikator mampu mengeluarkan sputum secara spontan; (2) Produksi sputum menurun, dari karakteristik sputum kental mukopurulen menjadi encer dan jernih; (3) Frekuensi napas membaik dalam rentang 16-20 x/menit; (4) Bunyi napas tambahan (crackles) menurun atau menghilang; (5) Dispnea menurun, pasien mampu beraktivitas tanpa sesak; (6) Kemampuan bicara meningkat; (7) Ortupnea menurun; (8) Penggunaan otot bantu napas menurun; (9) Saturasi oksigen meningkat ≥95% dengan atau tanpa oksigen tambahan; (10) Pola napas membaik (irama, kedalaman, dan frekuensi normal). Luaran ini juga mencakup status ventilasi yang adekuat dengan tidak adanya sianosis, gas darah arteri dalam batas normal (PaO₂ 80-100 mmHg, PaCO₂ 35-45 mmHg), dan pasien mampu mendemonstrasikan teknik batuk efektif yang benar.
Kode SIKI: I.01011
Deskripsi : Intervensi utama yang diberikan adalah Latihan Batuk Efektif, dengan tindakan: (1) Identifikasi kemampuan batuk (kaji kekuatan otot pernapasan, tingkat kesadaran, dan adanya nyeri saat batuk); (2) Berikan posisi semi-Fowler atau Fowler tinggi (30-45 derajat) untuk memaksimalkan ekspansi paru; (3) Ajarkan teknik batuk efektif: tarik napas dalam melalui hidung selama 3-5 detik, tahan 2 detik, kemudian batukkan dengan kuat dari diafragma secara berulang; (4) Lakukan fisioterapi dada (postural drainase dan perkusi/vibrasi) pada area paru kanan atas sesuai toleransi pasien; (5) Kolaborasikan pemberian mukolitik (misal: ambroxol atau N-asetil sistein) dan bronkodilator (misal: salbutamol nebulizer) sesuai advis medis untuk mengencerkan sekret dan melebarkan jalan napas; (6) Anjurkan minum air hangat 2-3 liter per hari (jika tidak ada kontraindikasi) untuk membantu pengenceran dahak; (7) Monitor karakteristik, warna, jumlah, dan bau sputum; (8) Monitor frekuensi, irama, kedalaman napas, serta auskultasi bunyi napas setiap 4 jam; (9) Berikan oksigenasi tambahan sesuai terapi (nasal kanul 2-4 L/menit atau masker rebreathing) untuk mempertahankan SpO₂ ≥92%; (10) Ajarkan pasien untuk menghindari iritan (asap rokok, debu, polusi) dan gunakan masker saat keluar ruangan. Tindakan mandiri lainnya meliputi manajemen jalan napas (I.01011) dengan memposisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi, melakukan suction jika diperlukan (hati-hati karena risiko perdarahan), serta memberikan edukasi tentang pentingnya kepatuhan minum obat anti tuberkulosis (OAT) untuk menghentikan sumber infeksi dan mengurangi produksi sekret.
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas berhubungan dengan perubahan membran alveolus-kapiler (proses inflamasi dan destruksi parenkim paru akibat Mycobacterium tuberculosis) pada Ny. S dengan TB paru kavitas.
Kode SDKI: D.0003
Deskripsi Singkat: Gangguan pertukaran gas adalah kelebihan atau kekurangan oksigenasi dan/atau eliminasi karbon dioksida pada membran alveolus-kapiler. Pada Ny. S, kondisi ini sangat jelas terlihat dari hasil Analisis Gas Darah (AGD): pH 7,45 (alkalosis respiratorik kompensasi), PaCO₂ 34 mmHg (hipokapnia akibat hiperventilasi), PaO₂ 58 mmHg (hipoksemia berat, normal 80-100 mmHg), dan HCO₃⁻ 23 mEq/L (normal). Hipoksemia ini disebabkan oleh adanya infiltrat heterogen dan kavitas pada lobus superior paru kanan yang merusak membran alveolus-kapiler, sehingga difusi oksigen terganggu. SpO₂ 89% pada udara ruangan mengkonfirmasi gangguan oksigenasi yang signifikan. Pasien menunjukkan kompensasi dengan peningkatan frekuensi napas (RR 28 x/menit) dan penggunaan otot bantu pernapasan, namun upaya ini tidak cukup untuk mengatasi defisit oksigen. Demam (38,1°C) dan peningkatan leukosit (12.400/µL) serta CRP menunjukkan proses inflamasi aktif yang memperberat kerusakan membran alveolar. Kondisi ini berisiko menyebabkan gagal napas tipe 1 (hipoksemia) jika tidak segera diatasi dengan terapi oksigen dan pengobatan TB yang adekuat.
Kode SLKI: L.01003
Deskripsi : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan pertukaran gas membaik dengan kriteria hasil: (1) Tingkat kesadaran membaik (compos mentis, tidak gelisah); (2) Dispnea menurun, pasien tidak mengeluh sesak saat istirahat maupun aktivitas ringan; (3) Bunyi napas tambahan menurun (crackles berkurang); (4) Frekuensi napas membaik dalam rentang normal (16-20 x/menit) tanpa penggunaan otot bantu pernapasan; (5) Frekuensi nadi membaik (60-100 x/menit); (6) Tekanan darah dalam rentang normal (sistole 100-120 mmHg, diastole 60-80 mmHg); (7) Saturasi oksigen meningkat ≥95% dengan atau tanpa oksigen tambahan; (8) PaO₂ meningkat ≥80 mmHg; (9) PaCO₂ membaik dalam rentang 35-45 mmHg; (10) pH darah membaik (7,35-7,45); (11) Warna kulit membaik (tidak pucat atau sianosis); (12) Kelelahan menurun; (13) Tingkat ansietas menurun. Luaran ini juga mencakup tidak adanya gejala hipoksia seperti sakit kepala, kebingungan, atau perubahan perilaku, serta pasien mampu beraktivitas sehari-hari tanpa mengalami sesak napas berat.
Kode SIKI: I.01003
Deskripsi : Intervensi utama yang diberikan adalah Pemantauan Oksigenasi, dengan tindakan: (1) Monitor kecepatan, irama, kedalaman, dan usaha napas (auskultasi bunyi napas, observasi penggunaan otot bantu pernapasan); (2) Monitor saturasi oksigen (SpO₂) secara kontinu menggunakan pulse oksimetri, pertahankan SpO₂ ≥92%; (3) Monitor AGD (terutama PaO₂, PaCO₂, pH, dan HCO₃⁻) dan nilai lainnya sesuai indikasi; (4) Monitor hasil pemeriksaan foto toraks untuk mengevaluasi perkembangan infiltrat dan kavitas; (5) Monitor tanda-tanda hipoksia (gelisah, sianosis, takikardia, diaforesis) dan hiperkapnia (sakit kepala, somnolen, tremor); (6) Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi: nasal kanul 2-4 L/menit atau masker sederhana 5-8 L/menit untuk mencapai target SpO₂ ≥92%; (7) Pertahankan kepatenan jalan napas dengan melakukan suction jika ada sekret; (8) Atur posisi semi-Fowler atau Fowler untuk memaksimalkan ventilasi; (9) Berikan terapi nebulizer (bronkodilator) sesuai advis medis untuk mengurangi bronkospasme; (10) Kolaborasikan pemberian kortikosteroid jika diindikasikan untuk mengurangi inflamasi alveolus; (11) Ajarkan teknik relaksasi napas dalam untuk mengurangi kecemasan dan konsumsi oksigen; (12) Anjurkan istirahat total (bed rest) dengan posisi senyaman mungkin untuk mengurangi kebutuhan oksigen; (13) Batasi aktivitas fisik yang berlebihan dan bantu dalam pemenuhan ADL; (14) Kolaborasikan dengan tim medis untuk pemberian terapi anti tuberkulosis (OAT) kategori 1 (2HRZE/4HR) sesuai protokol
Article No. 26703 | 22 Aug 2026
Klinis : buatkan assesmen diagnosa medis, masalah, diagnosa potensial, antisipasi dalam oksigenasi dengan asma akut sedang
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Asma Akut Sedang (Acute Moderate Asthma)
Kode ICD-10: J45.90
Deskripsi Singkat : Asma akut sedang adalah eksaserbasi asma yang ditandai dengan sesak napas saat istirahat, bicara terputus-putus, penggunaan otot bantu napas, frekuensi pernapasan meningkat, dan saturasi oksigen (SpO2) antara 90-95% pada udara ruangan. Pada kondisi ini, pasien mengalami bronkokonstriksi, edema mukosa, dan hipersekresi mukus yang menyebabkan obstruksi aliran udara. Diagnosis banding meliputi PPOK eksaserbasi, gagal jantung kongestif, dan benda asing. Tatalaksana awal meliputi pemberian bronkodilator kerja cepat (salbutamol nebulisasi), kortikosteroid sistemik, dan oksigenasi untuk mempertahankan SpO2 >94%. Antisipasi oksigenasi diperlukan karena risiko hipoksemia; jika saturasi menurun atau pasien tidak membaik, perlu eskalasi terapi dan pertimbangan perawatan intensif. Kode J45.90 digunakan untuk asma tanpa komplikasi, tanpa status asmatikus, dan merupakan kode spesifik untuk eksaserbasi akut sedang. Pemantauan ketat tanda-tanda gagal napas (penurunan kesadaran, sianosis, silent chest) sangat penting untuk mencegah perburukan menjadi asma berat atau mengancam nyawa.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
Article No. 26705 | 22 Aug 2026
Klinis : buatkan assesmen diagnosa medis, masalah, diagnosa potensial, antisipasi dalam oksigenasi dengan asma akut sedang
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Asma Akut Sedang dengan Gangguan Oksigenasi
Kode SDKI: D.0001 (Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif) dan D.0005 (Pola Napas Tidak Efektif)
Deskripsi Singkat: Pada pasien dengan asma akut sedang, terjadi bronkokonstriksi, edema mukosa bronkial, dan produksi sekret yang berlebihan. Hal ini menyebabkan penyempitan lumen jalan napas, peningkatan resistensi aliran udara, dan obstruksi jalan napas. Manifestasi klinis yang muncul adalah dispnea, penggunaan otot bantu napas, wheezing, penurunan bunyi napas, sianosis, dan penurunan saturasi oksigen. Diagnosa keperawatan utama yang ditegakkan adalah Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001) karena ketidakmampuan membersihkan sekret atau obstruksi jalan napas, serta Pola Napas Tidak Efektif (D.0005) karena perubahan frekuensi, kedalaman, dan irama napas akibat peningkatan kerja napas. Kedua diagnosa ini saling berkaitan erat dan menjadi prioritas dalam penatalaksanaan asma akut sedang untuk mencegah kegagalan respirasi. Defisit oksigenasi pada sel dan jaringan terjadi akibat gangguan ventilasi dan perfusi yang tidak seimbang (mismatch V/Q), sehingga perlu intervensi segera untuk mengembalikan kepatenan jalan napas dan optimalisasi pertukaran gas.
Kode SLKI: L.01001 (Bersihan Jalan Napas) dan L.01004 (Pola Napas)
Deskripsi : Luaran yang diharapkan setelah diberikan intervensi keperawatan adalah: (1) Bersihan Jalan Napas (L.01001) meningkat dengan kriteria hasil: produksi sputum menurun, batuk efektif meningkat, wheezing menurun, dispnea menurun, penggunaan otot bantu napas menurun, bunyi napas bersih atau vesikuler, dan saturasi oksigen membaik (≥95% pada ruangan). Skala target yang diharapkan adalah meningkat dari tingkat 2 (cukup) menjadi tingkat 5 (memadai) atau meningkat dari tingkat 1 (buruk) menjadi tingkat 4 (baik). (2) Pola Napas (L.01004) membaik dengan kriteria hasil: frekuensi napas dalam rentang normal (12-20 x/menit untuk dewasa), kedalaman napas adekuat, irama napas teratur, tidak ada dispnea, tidak ada penggunaan otot bantu napas, tidak ada retraksi dada, dan tidak ada sianosis. Target luaran adalah meningkatnya kemampuan pasien untuk mempertahankan pola napas yang efektif, yang ditandai dengan perbaikan parameter respirasi dan tidak adanya tanda-tanda distress pernapasan. Kedua luaran ini menjadi acuan dalam mengevaluasi efektivitas intervensi yang diberikan.
Kode SIKI: I.01011 (Manajemen Jalan Napas) dan I.01012 (Pemantauan Respirasi)
Deskripsi : Intervensi keperawatan utama yang dilakukan adalah Manajemen Jalan Napas (I.01011) yang bertujuan untuk membuka dan mempertahankan kepatenan jalan napas. Tindakan yang dilakukan meliputi: (1) Posisikan pasien semi-Fowler atau Fowler (30-45 derajat) untuk memaksimalkan ekspansi paru; (2) Lakukan penghisapan (suction) lendir jika diperlukan, tidak lebih dari 10-15 detik setiap kali; (3) Berikan oksigen sesuai indikasi, biasanya dengan nasal kanul 2-4 L/menit atau masker venturi untuk mencapai saturasi ≥95%; (4) Anjurkan pasien untuk batuk efektif dan napas dalam; (5) Lakukan fisioterapi dada (postural drainase dan perkusi) jika kondisi memungkinkan; (6) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian bronkodilator (salbutamol/nebulizer) dan kortikosteroid sistemik; (7) Ajarkan teknik pursed-lip breathing untuk mengurangi sesak; (8) Monitor tanda-tanda obstruksi jalan napas seperti wheezing, ronki, dan penurunan bunyi napas. Intervensi kedua adalah Pemantauan Respirasi (I.01012) yang meliputi: (1) Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan usaha napas; (2) Monitor bunyi napas (auskultasi) setiap 1-4 jam atau sesuai kondisi; (3) Monitor saturasi oksigen (SpO2) secara kontinu; (4) Monitor analisa gas darah (AGD) jika tersedia; (5) Monitor nilai peak expiratory flow rate (PEFR) untuk menilai derajat obstruksi; (6) Monitor tanda-tanda hipoksia seperti gelisah, takikardia, sianosis, dan penurunan kesadaran; (7) Auskultasi bunyi napas sebelum dan sesudah pemberian bronkodilator; (8) Monitor adanya retraksi dada dan penggunaan otot bantu napas. Kedua intervensi ini dilakukan secara berkesinambungan dan dievaluasi setiap 4 jam atau lebih sering jika kondisi pasien memburuk.
Article No. 26706 | 22 Aug 2026
Klinis : buatkan assesmen diagnosa medis, masalah, diagnosa potensial, antisipasi dalam oksigenasi dengan asma akut sedang
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Asma Akut Sedang dengan Gangguan Oksigenasi
Kode SDKI: D.0001 (Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif) dan D.0003 (Pola Napas Tidak Efektif)
Deskripsi Singkat: Berdasarkan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), pada pasien asma akut sedang, diagnosis keperawatan utama yang muncul adalah Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001) dan Pola Napas Tidak Efektif (D.0003). Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif didefinisikan sebagai ketidakmampuan membersihkan sekret atau obstruksi jalan napas untuk mempertahankan kepatenan jalan napas. Hal ini terjadi akibat bronkospasme, peningkatan produksi mukus, dan edema mukosa bronkial yang khas pada serangan asma akut. Gejala yang muncul meliputi dispnea, wheezing, penggunaan otot bantu napas, dan bunyi napas tambahan seperti ronkhi atau mengi. Sedangkan Pola Napas Tidak Efektif didefinisikan sebagai inspirasi dan/atau ekspirasi yang tidak memberikan ventilasi yang adekuat. Pada asma akut sedang, pasien mengalami peningkatan frekuensi napas (takipnea), penurunan kedalaman napas, dan fase ekspirasi yang memanjang akibat peningkatan resistensi saluran napas. Diagnosis ini juga didukung oleh data objektif seperti saturasi oksigen yang menurun (SpO2 90-95% pada asma sedang), penggunaan otot bantu pernapasan, dan hasil pemeriksaan fungsi paru (PEFR 50-80% dari nilai prediksi). Kedua diagnosis ini saling berkaitan erat; bersihan jalan napas yang tidak efektif akan memperburuk pola napas, dan sebaliknya. Penegakan diagnosis ini penting untuk menjadi dasar intervensi keperawatan yang tepat dalam rangka memulihkan oksigenasi jaringan dan mencegah progresivitas menjadi asma berat atau gagal napas.
Kode SLKI: L.01001 (Bersihan Jalan Napas) dan L.01004 (Pola Napas)
Deskripsi: Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) menetapkan luaran yang diharapkan setelah diberikan intervensi keperawatan. Untuk diagnosis Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001), luaran yang ditargetkan adalah L.01001 (Bersihan Jalan Napas) yang didefinisikan sebagai kemampuan pasien untuk mempertahankan kepatenan jalan napas dengan bersihan sekret yang efektif. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: (1) Produksi sputum menurun, (2) Kemampuan batuk efektif meningkat, (3) Wheezing menurun atau hilang, (4) Bunyi napas bersih atau vesikuler, (5) Dispnea menurun, (6) Saturasi oksigen membaik (SpO2 ≥ 95%), (7) Tidak ada sianosis, dan (8) Ekspansi paru simetris. Skala yang digunakan adalah dari 1 (memburuk) hingga 5 (membaik), dengan target skala 5 pada akhir intervensi. Untuk diagnosis Pola Napas Tidak Efektif (D.0003), luaran yang ditetapkan adalah L.01004 (Pola Napas) yang didefinisikan sebagai pola ventilasi yang adekuat untuk memenuhi kebutuhan oksigenasi. Kriteria hasil meliputi: (1) Frekuensi napas dalam rentang normal (12-20 kali per menit pada dewasa), (2) Kedalaman napas adekuat, (3) Irama napas teratur, (4) Tidak ada penggunaan otot bantu pernapasan, (5) Tidak ada retraksi dinding dada, (6) Fase ekspirasi normal (tidak memanjang), (7) Peningkatan kapasitas vital, (8) PEFR membaik (≥ 80% nilai prediksi), dan (9) Tidak ada dispnea saat istirahat maupun aktivitas. Target luaran ini adalah tercapainya pola napas yang efektif dalam 3x24 jam setelah intervensi, dengan mempertimbangkan kondisi klinis pasien dan respons terhadap terapi medis seperti bronkodilator dan kortikosteroid.
Kode SIKI: I.01001 (Manajemen Jalan Napas) dan I.01002 (Manajemen Pola Napas)
Deskripsi: Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) memberikan panduan tindakan keperawatan yang spesifik untuk mencapai luaran yang telah ditetapkan. Untuk diagnosis Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001), intervensi utama adalah I.01001 (Manajemen Jalan Napas). Tindakan yang dilakukan meliputi: (1) Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas), (2) Monitor bunyi napas tambahan (wheezing, ronkhi), (3) Monitor sputum (warna, jumlah, konsistensi), (4) Pertahankan kepatenan jalan napas dengan teknik head-tilt chin-lift atau jaw-thrust jika diperlukan, (5) Posisikan semi-Fowler atau Fowler (30-45 derajat) untuk memaksimalkan ventilasi, (6) Berikan oksigen sesuai indikasi (nasal kanul atau masker) dengan target SpO2 ≥ 95%, (7) Lakukan fisioterapi dada seperti postural drainase dan perkusi/vibrasi jika tidak kontraindikasi, (8) Ajarkan teknik batuk efektif dan napas dalam, (9) Berikan bronkodilator (salbutamol/nebulizer) sesuai advis dokter, (10) Lakukan suction jika ada indikasi, (11) Kolaborasi pemberian kortikosteroid untuk mengurangi inflamasi, dan (12) Edukasi pasien dan keluarga tentang manajemen asma. Untuk diagnosis Pola Napas Tidak Efektif (D.0003), intervensi utama adalah I.01002 (Manajemen Pola Napas). Tindakan yang dilakukan meliputi: (1) Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan usaha napas, (2) Monitor saturasi oksigen dan AGD (Analisa Gas Darah) jika tersedia, (3) Auskultasi bunyi napas, (4) Posisikan pasien untuk mengurangi sesak napas (posisi tripod atau duduk bersandar), (5) Ajarkan teknik pernapasan pursed-lip breathing (napas bibir mengerucut) untuk memperpanjang ekspirasi dan mengurangi air trapping, (6) Ajarkan teknik pernapasan diafragma, (7) Berikan terapi relaksasi untuk mengurangi ansietas yang memperburuk pola napas, (8) Atur jadwal aktivitas dan istirahat untuk mencegah kelelahan, (9) Berikan oksigen sesuai indikasi dengan titrasi untuk menjaga SpO2 ≥ 95%, (10) Kolaborasi pemberian nebulizer bronkodilator (beta-2 agonis seperti salbutamol) dan antikolinergik (ipratropium bromida) secara berurutan, (11) Kolaborasi pemberian kortikosteroid sistemik (metilprednisolon) untuk mengatasi inflamasi akut, (12) Monitor efek samping terapi seperti takikardia atau tremor, dan (13) Edukasi pasien untuk mengenali tanda-tanda perburukan asma dan kapan harus segera mencari pertolongan medis. Kedua intervensi ini dilakukan secara simultan dan terintegrasi, dengan evaluasi berkelanjutan setiap 4-6 jam pada fase akut, kemudian diperpanjang sesuai respons klinis. Intervensi juga mencakup aspek psikososial karena ansietas sering menyertai serangan asma dan dapat memperburuk gejala. Perawat juga harus mengantisipasi komplikasi seperti gagal napas, pneumotoraks, atau asma berat yang ditandai dengan penurunan kesadaran, silent chest, atau PEFR < 50%, yang memerlukan tindakan emergensi dan kolaborasi intensif dengan tim medis.
Asesmen Diagnosa Medis: Asma Bronkial Akut Sedang (J45.9) dengan eksaserbasi akut. Pasien datang dengan keluhan sesak napas yang memberat sejak 2 jam terakhir, batuk berdahak kental, dan mengi. Pemeriksaan fisik menunjukkan frekuensi napas 28 kali/menit, penggunaan otot bantu pernapasan, wheezing ekspirasi +/++ pada kedua lapang paru, dan saturasi oksigen 92% dengan udara ruangan. Pemeriksaan PEFR menunjukkan nilai 60% dari nilai prediksi. Riwayat asma sejak 10 tahun lalu dengan alergen pencetus debu dan asap rokok.
Masalah: Masalah keperawatan utama adalah gangguan oksigenasi yang bermanifestasi sebagai bersihan jalan napas tidak efektif dan pola napas tidak efektif. Masalah ini disertai dengan risiko ansietas terkait sesak napas dan ketakutan akan kesulitan bernapas. Masalah kolaboratif meliputi risiko hipoksemia jaringan, risiko asidosis respiratorik akibat retensi CO2, dan risiko kegagalan terapi bronkodilator jika tidak direspons dengan baik.
Diagnosa Potensial: (1) Gangguan Pertukaran Gas (D.0002) berisiko terjadi jika bersihan jalan napas tidak membaik dan terjadi penurunan ventilasi alveolar yang signifikan, ditandai dengan penurunan PaO2 dan peningkatan PaCO2. (2) Ansietas (D.0007) berpotensi muncul atau memburuk karena pengalaman subjektif sesak napas yang menakutkan. (3) Intoleransi Aktivitas (D.0056) potensial terjadi setelah fase akut mereda karena keterbatasan fungsional paru. (4) Defisit Pengetahuan tentang manajemen asma jangka panjang dan penggunaan inhaler yang benar.
Antisipasi dalam Oksigenasi: Antisipasi utama adalah mencegah terjadinya gagal napas. Perawat harus waspada terhadap tanda-tanda perburukan seperti: (1) Penurunan kesadaran atau somnolence, (2) Silent chest (tidak terdengar wheezing yang justru menunjukkan obstruksi total), (3) Bradikardi atau aritmia, (
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 264 265 266 267 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 280 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 297 298 299 300 301 302 303 304 305 306 307 308 309 310 311 312 313 314 315 316 317 318 319 320 321 322 323 324 325 326 327 328 329 330 331 332 333 334 335 336 337 338 339 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 350 351 352 353 354 355 356 357 358 359 360 361 362 363 364 365 366 367 368 369 370 371 372 373 374 375 376 377 378 379 380 381 382 383 384 385 386 387 388 389 390 391 392 393 394 395 396 397 398 399 400 401 402 403 404 405 406 407 408 409 410 411 412 413 414 415 416 417 418 419 420 421 422 423 424 425 426 427 428 429 430 431 432 433 434 435 436 437 438 439 440 441 442 443 444 445 446 447 448 449 450 451 452 453 454 455 456 457 458 459 460 461 462 463 464 465 466 467 468 469 470 471 472 473 474 475 476 477 478 479 480 481 482 483 484 485 486 487 488 489 490 491 492 493 494 495 496 497 498 499 500 501 502 503 504 505 506 507 508 509 510 511 512 513 514 515 516 517 518 519 520 521 522 523 524 525 526 527 528 529 530 531 532 533 534 535 536 537 538 539 540 541 542 543 544 545 546 547 548 549 550 551 552 553 554 555 556 557 558 559 560 561 562 563 564 565 566 567 568 569 570 571 572 573 574 575 576 577 578 579 580 581 582 583 584 585 586 587 588 589 590 591 592 593 594 595 596 597 598 599 600 601 602 603 604 605 606 607 608 609 610 611 612 613 614 615 616 617 618 619 620 621 622 623 624 625 626 627 628 629 630 631 632 633 634 635 636 637 638 639 640 641 642 643 644 645 646 647 648 649 650 651 652 653 654 655 656 657 658 659 660 661 662 663 664 665 666 667 668 669 670 671 672 673 674 675 676 677 678 679 680 681 682 683 684 685 686 687 688 689 690 691 692 693 694 695 696 697 698 699 700 701 702 703 704 705 706 707 708 709 710 711 712 713 714 715 716 717 718 719 720 721 722 723 724 725 726 727 728 729 730 731 732 733 734 735 736 737 738 739 740 741 742 743 744 745 746 747 748 749 750 751 752 753 754 755 756 757 758 759 760 761 762 763 764 765 766 767 768 769 770 771 772 773 774 775 776 777 778 779 780 781 782 783 784 785 786 787 788 789 790 791 792 793 794 795 796 797 798 799 800 801 802 803 804 805 806 807 808 809 810 811 812 813 814 815 816 817 818 819 820 821 822 823 824 825 826 827 828 829 830 831 832 833 834 835 836 837 838 839 840 841 842 843 844 845 846 847 848 849 850 851 852 853 854 855 856 857 858 859 860 861 862 863 864 865 866 867 868 869 870 871 872 873 874 875 876 877 878 879 880 881 882 883 884 885 886 887 888 889 890 891 892 893 894 895 896 897 898 899 900 901 902 903 904 905 906 907 908 909 910 911 912 913 914 915 916 917 918 919 920 921 922 923 924 925 926 927 928 929 930 931 932 933 934 935 936 937 938 939 940 941 942 943 944 945 946 947 948 949 950 951 952 953 954 955 956 957 958 959 960 961 962 963 964 965 966 967 968 969 970 971 972 973 974 975 976 977 978 979 980 981 982 983 984 985 986 987 988 989 990 991 992 993 994 995 996 997 998 999 1000 1001 1002 1003 1004 1005 1006 1007 1008 1009 1010 1011 1012 1013 1014 1015 1016 1017 1018 1019 1020 1021 1022 1023 1024 1025 1026 1027 1028 1029 1030 1031 1032 1033 1034 1035 1036 1037 1038 1039 1040 1041 1042 1043 1044 1045 1046 1047 1048 1049 1050 1051 1052 1053 1054 1055 1056 1057 1058 1059 1060 1061 1062 1063 1064 1065 1066 1067 1068 1069 1070 1071 1072 1073 1074 1075 1076 1077 1078 1079 1080 1081 1082 1083 1084 1085 1086 1087 1088 1089 1090 1091 1092 1093 1094 1095 1096 1097 1098 1099 1100 1101 1102 1103 1104 1105 1106 1107 1108 1109 1110 1111 1112 1113 1114 1115 1116 1117 1118 1119 1120 1121 1122 1123 1124 1125 1126 1127 1128 1129 1130 1131 1132 1133 1134 1135 1136 1137 1138 1139 1140 1141 1142 1143 1144 1145 1146 1147 1148 1149 1150 1151 1152 1153 1154 1155 1156 1157 1158 1159 1160 1161 1162 1163 1164 1165 1166 1167 1168 1169 1170 1171 1172 1173 1174 1175 1176 1177 1178 1179 1180 1181 1182 1183 1184 1185 1186 1187 1188 1189 1190 1191 1192 1193 1194 1195 1196 1197 1198 1199 1200 1201 1202 1203 1204 1205 1206 1207 1208 1209 1210 1211 1212 1213 1214 1215 1216 1217 1218 1219 1220 1221 1222 1223 1224 1225 1226 1227 1228 1229 1230 1231 1232 1233 1234 1235 1236 1237 1238 1239 1240 1241 1242 1243 1244 1245 1246 1247 1248 1249 1250 1251 1252 1253 1254 1255 1256 1257 1258 1259 1260 1261 1262 1263 1264 1265 1266 1267 1268 1269 1270 1271 1272 1273 1274 1275 1276 1277 1278 1279 1280 1281 1282 1283 1284 1285 1286 1287 1288 1289 1290 1291 1292 1293 1294 1295 1296 1297 1298 1299 1300 1301 1302 1303 1304 1305 1306 1307 1308 1309 1310 1311 1312 1313 1314 1315 1316 1317 1318 1319 1320 1321 1322 1323 1324 1325 1326 1327 1328 1329 1330 1331 1332 1333 1334 1335 1336 1337 1338 1339 1340 1341 1342 1343 1344 1345 1346 1347 1348 1349 1350 1351 1352 1353 1354 1355 1356 1357 1358 1359 1360 1361 1362 1363 1364 1365 1366 1367 1368 1369 1370 1371 1372 1373 1374 1375 1376 1377 1378 1379 1380 1381 1382 1383 1384 1385 1386 1387 1388 1389 1390 1391 1392 1393 1394 1395 1396 1397 1398 1399 1400 1401 1402 1403 1404 1405 1406 1407 1408 1409 1410 1411 1412 1413 1414 1415 1416 1417 1418 1419 1420 1421 1422 1423 1424 1425 1426 1427 1428 1429 1430 1431 1432 1433 1434 1435 1436 1437 1438 1439 1440 1441 1442 1443 1444 1445 1446 1447 1448 1449 1450 1451 1452 1453 1454 1455 1456 1457 1458 1459 1460 1461 1462 1463 1464 1465 1466 1467 1468 1469 1470 1471 1472 1473 1474 1475 1476 1477 1478 1479 1480 1481 1482 1483 1484 1485 1486 1487 1488 1489 1490 1491 1492 1493 1494 1495 1496 1497 1498 1499 1500 1501 1502 1503 1504 1505 1506 1507 1508 1509 1510 1511 1512 1513 1514 1515 1516 1517 1518 1519 1520 1521 1522 1523 1524 1525 1526 1527 1528 1529 1530 1531 1532 1533 1534 1535 1536 1537 1538 1539 1540 1541 1542 1543 1544 1545 1546 1547 1548 1549 1550 1551 1552 1553 1554 1555 1556 1557 1558 1559 1560 1561 1562 1563 1564 1565 1566 1567 1568 1569 1570 1571 1572 1573 1574 1575 1576 1577 1578 1579 1580 1581 1582 1583 1584 1585 1586 1587 1588 1589 1590 1591 1592 1593 1594 1595 1596 1597 1598 1599 1600 1601 1602 1603 1604 1605 1606 1607 1608 1609 1610 1611 1612 1613 1614 1615 1616 1617 1618 1619 1620 1621 1622 1623 1624 1625 1626 1627 1628 1629 1630 1631 1632 1633 1634 1635 1636 1637 1638 1639 1640 1641 1642 1643 1644 1645 1646 1647 1648 1649 1650 1651 1652 1653 1654 1655 1656 1657 1658 1659 1660 1661 1662 1663 1664 1665 1666 1667 1668 1669 1670 1671 1672 1673 1674 1675 1676 1677 1678 1679 1680 1681 1682 1683 1684 1685 1686 1687 1688 1689 1690 1691 1692 1693 1694 1695 1696 1697 1698 1699 1700 1701 1702 1703 1704 1705 1706 1707 1708 1709 1710 1711 1712 1713 1714 1715 1716 1717 1718 1719 1720 1721 1722 1723 1724 1725 1726 1727 1728 1729 1730 1731 1732 1733 1734 1735 1736 1737 1738 1739 1740 1741 1742 1743 1744 1745 1746 1747 1748 1749 1750 1751 1752 1753 1754 1755 1756 1757 1758 1759 1760 1761 1762 1763 1764 1765 1766 1767 1768 1769 1770 1771 1772 1773 1774 1775 1776 1777 1778 1779 1780 1781 1782 1783 1784 1785 1786 1787 1788 1789 1790 1791 1792 1793 1794 1795 1796 1797 1798 1799 1800 1801 1802 1803 1804 1805 1806 1807 1808 1809 1810 1811 1812 1813 1814 1815 1816 1817 1818 1819 1820 1821 1822 1823 1824 1825 1826 1827 1828 1829 1830 1831 1832 1833 1834 1835 1836 1837 1838 1839 1840 1841 1842 1843 1844 1845 1846 1847 1848 1849 1850 1851 1852 1853 1854 1855 1856 1857 1858 1859 1860 1861 1862 1863 1864 1865 1866 1867 1868 1869 1870 1871 1872 1873 1874 1875 1876 1877 1878 1879 1880 1881 1882 1883 1884 1885 1886 1887 1888 1889 1890 1891 1892 1893 1894 1895 1896 1897 1898 1899 1900 1901 1902 1903 1904 1905 1906 1907 1908 1909 1910 1911 1912 1913 1914 1915 1916 1917 1918 1919 1920 1921 1922 1923 1924 1925 1926 1927 1928 1929 1930 1931 1932 1933 1934 1935 1936 1937 1938 1939 1940 1941 1942 1943 1944 1945 1946 1947 1948 1949 1950 1951 1952 1953 1954 1955 1956 1957 1958 1959 1960 1961 1962 1963 1964 1965 1966 1967 1968 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 2029 2030 2031 2032 2033 2034 2035 2036 2037 2038 2039 2040 2041 2042 2043 2044 2045 2046 2047 2048 2049 2050 2051 2052 2053 2054 2055 2056 2057 2058 2059 2060 2061 2062 2063 2064 2065 2066 2067 2068 2069 2070 2071 2072 2073 2074 2075 2076 2077 2078 2079 2080 2081 2082 2083 2084 2085 2086 2087 2088 2089 2090 2091 2092 2093 2094 2095 2096 2097 2098 2099 2100 2101 2102 2103 2104 2105 2106 2107 2108 2109 2110 2111 2112 2113 2114 2115 2116 2117 2118 2119 2120 2121 2122 2123 2124 2125 2126 2127 2128 2129 2130 2131 2132 2133 2134 2135 2136 2137 2138 2139 2140 2141 2142 2143 2144 2145 2146 2147 2148 2149 2150 2151 2152 2153 2154 2155 2156 2157 2158 2159 2160 2161 2162 2163 2164 2165 2166 2167 2168 2169 2170 2171 2172 2173 2174 2175 2176 2177 2178 2179 2180 2181 2182 2183 2184 2185 2186 2187 2188 2189 2190 2191 2192 2193 2194 2195 2196 2197 2198 2199 2200 2201 2202 2203 2204 2205 2206 2207 2208 2209 2210 2211 2212 2213 2214 2215 2216 2217 2218 2219 2220 2221 2222 2223 2224 2225 2226 2227 2228 2229 2230 2231 2232 2233 2234 2235 2236 2237 2238 2239 2240 2241 2242 2243 2244 2245 2246 2247 2248 2249 2250 2251 2252 2253 2254 2255 2256 2257 2258 2259 2260 2261 2262 2263 2264 2265 2266 2267 2268 2269 2270 2271 2272 2273 2274 2275 2276 2277 2278 2279 2280 2281 2282 2283 2284 2285 2286 2287 2288 2289 2290 2291 2292 2293 2294 2295 2296 2297 2298 2299 2300 2301 2302 2303 2304 2305 2306 2307 2308 2309 2310 2311 2312 2313 2314 2315 2316 2317 2318 2319 2320 2321 2322 2323 2324 2325 2326 2327 2328 2329 2330 2331 2332 2333 2334 2335 2336 2337 2338 2339 2340 2341 2342 2343 2344 2345 2346 2347 2348 2349 2350 2351 2352 2353 2354 2355 2356 2357 2358 2359 2360 2361 2362 2363 2364 2365 2366 2367 2368 2369 2370 2371 2372 2373 2374 2375 2376 2377 2378 2379 2380 2381 2382 2383 2384 2385 2386 2387 2388 2389 2390 2391 2392 2393 2394 2395 2396 2397 2398 2399 2400 2401 2402 2403 2404 2405 2406 2407 2408 2409 2410 2411 2412 2413 2414 2415 2416 2417 2418 2419 2420 2421 2422 2423 2424 2425 2426 2427 2428 2429 2430 2431 2432 2433 2434 2435 2436 2437 2438 2439 2440 2441 2442 2443 2444 2445 2446 2447 2448 2449 2450 2451 2452 2453 2454 2455 2456 2457 2458 2459 2460 2461 2462 2463 2464 2465 2466 2467 2468 2469 2470 2471 2472 2473 2474 2475 2476 2477 2478 2479 2480 2481 2482 2483 2484 2485 2486 2487 2488 2489 2490 2491 2492 2493 2494 2495 2496 2497 2498 2499 2500 2501 2502 2503 2504 2505 2506 2507 2508 2509 2510 2511 2512 2513 2514 2515 2516 2517 2518 2519 2520 2521 2522 2523 2524 2525 2526 2527 2528 2529 2530 2531 2532 2533 2534 2535 2536 2537 2538 2539 2540 2541 2542 2543 2544 2545 2546 2547 2548 2549 2550 2551 2552 2553 2554 2555 2556 2557 2558 2559 2560 2561 2562 2563 2564 2565 2566 2567 2568 2569 2570 2571 2572 2573 2574 2575 2576 2577 2578 2579 2580 2581 2582 2583 2584 2585 2586 2587 2588 2589 2590 2591 2592 2593 2594 2595 2596