Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 24564 | 25 Mar 2026
Klinis : Dilakukan amputasi bawah lutut kanan di IGD RSCM kemudian dibawa langsung ke ruangan dari ruang op. Nyeri tungkai (+), panas (+), mual (+), demam (-), lemas (+), pusing (+), penglihatan mata kiri kabur (+), baal dan kesemutan di tungkai kiri (+) Kesadaran: CM, TSS TB: 165 cm BB: 70 kg IMT 25,7 TD: 120/70 mmHg FN: 64 x/menit, iregular RR: 18 x/menit Suhu: 36,8oC Mata : konjungtiva pucat -/-, sklera ikterik -/- Leher : JVP 5-2 cmH2O, KGB tt Jantung : BJ I-II normal, iregular, murmur (-), gallop (-) Paru : vesikuler, ronki -/-, wh -/- Abdomen : lemas, NT (-), H/L tt, SD (-), BU (+) N Ekstremitas: akral hangat, ekstremitas kanan post amputasi below knee, ekstremitas kiri edem (+)Perfusi : pulsasi arteri dorsalis pedis sinistra (+) Lokasi : bawah lutut Infeksi : eritema, luka tidak menutup, nyeri tekan (+), nyeri gerak (+), pus (+), jaringan nekrotik (+), fluktuasi (-) Sensorik: baal di telapak kaki kiri, tes monofilamen sulit dinilai karena edem
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 0026
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut; onset mendadak atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat, diperkirakan atau antisipasi berakhir dalam waktu singkat.
Kode SLKI: 1420
Deskripsi : Kontrol Nyeri. Tindakan keperawatan untuk mengontrol nyeri. Kriteria hasil: Pasien menyatakan nyeri terkontrol; menunjukkan postur dan perilaku nyaman; menunjukkan tanda-tanda vital dalam rentang normal; mampu beristirahat, tidur, dan beraktivitas sesuai kemampuan; menggunakan metode nonfarmakologi untuk mengontrol nyeri; melaporkan efek samping obat; mematuhi regimen pengobatan nyeri.
Kode SIKI: 3402
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Tindakan keperawatan berupa: Melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif (lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas, faktor pencetus dan pereda). Mengobservasi isyarat nonverbal dari ketidaknyamanan. Memastikan pemberian analgesik tepat waktu, terutama sebelum aktivitas yang menimbulkan nyeri. Melakukan evaluasi efektivitas dan efek samping obat. Mengajarkan dan mendukung penggunaan teknik nonfarmakologi (distraksi, relaksasi, imajinasi terbimbing, terapi musik, kompres hangat/dingin). Memposisikan pasien untuk kenyamanan optimal. Memberikan lingkungan yang tenang untuk meningkatkan istirahat. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain untuk manajemen nyeri yang optimal.
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: 0020
Deskripsi Singkat: Peningkatan kerentanan terhadap invasi dan multiplikasi patogen yang dapat membahayakan kesehatan.
Kode SLKI: 1902
Deskripsi : Kontrol Infeksi. Tindakan keperawatan untuk mencegah dan mengurangi risiko infeksi. Kriteria hasil: Tidak ada tanda-tanda infeksi (demam, kemerahan, pus, bau); luka menunjukkan proses penyembuhan; leukosit dalam rentang normal; pasien dan keluarga menunjukkan perilaku pencegahan infeksi (cuci tangan, perawatan luka).
Kode SIKI: 6550
Deskripsi : Proteksi terhadap Infeksi. Tindakan keperawatan berupa: Mempertahankan teknik aseptik ketat selama perawatan luka dan prosedur invasif. Memantau tanda-tanda vital dan gejala sistemik infeksi (demam, menggigil, peningkatan leukosit). Melakukan perawatan luka amputasi dengan tepat: inspeksi luka (warna, bau, drainage, adanya jaringan nekrotik), perawatan balutan steril. Mencegah kontaminasi silang (cuci tangan sebelum dan setelah kontak). Mengajarkan pasien/keluarga tanda-tanda infeksi dan pentingnya kebersihan. Mempertahankan integritas kulit di area sekitar luka. Mengatur nutrisi adekuat untuk mendukung penyembuhan. Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai indikasi.
Kondisi: Gangguan Integritas Jaringan
Kode SDKI: 0006
Deskripsi Singkat: Kerusakan pada membran mukosa, kornea, integumen, atau jaringan subkutan.
Kode SLKI: 1101
Deskripsi : Penyembuhan Luka: Tahap Pertama. Tindakan keperawatan untuk mencapai penyembuhan luka pada tahap pertama. Kriteria hasil: Luka bersih dan lembab; jaringan granulasi tumbuh; tidak ada tanda infeksi; ukuran luka menurun; drainage minimal.
Kode SIKI: 3580
Deskripsi : Perawatan Luka. Tindakan keperawatan berupa: Mengkaji luka amputasi secara teratur (ukuran, kedalaman, warna jaringan, karakteristik drainage, bau, kondisi kulit sekitar). Melakukan perawatan luka dengan teknik aseptik dan balutan yang sesuai (misal: balutan lembab untuk debridemen autolitik). Melindungi kulit sekitar luka dari iritasi cairan luka. Memposisikan ekstremitas untuk mengurangi edema dan meningkatkan sirkulasi. Mencegah trauma pada area luka. Meningkatkan asupan protein, vitamin C, dan zinc untuk mendukung penyembuhan jaringan. Mengajarkan pasien/keluarga tentang perawatan luka di rumah. Kolaborasi dalam debridemen jaringan nekrotik dan terapi luka lainnya.
Kondisi: Gangguan Mobilitas Fisik
Kode SDKI: 0008
Deskripsi Singkat: Keterbatasan dalam pergerakan fisik secara mandiri yang disengaja.
Kode SLKI: 0209
Deskripsi : Mobilisasi. Tindakan keperawatan untuk mengoptimalkan mobilitas. Kriteria hasil: Pasien menunjukkan peningkatan kemampuan bergerak; melakukan latihan rentang gerak (ROM); menggunakan alat bantu mobilitas dengan tepat; tidak terjadi kontraktur; kekuatan otot membaik.
Kode SIKI: 0840
Deskripsi : Terapi Latihan: Mobilisasi. Tindakan keperawatan berupa: Mengkaji tingkat ketergantungan dan kemampuan mobilitas. Melakukan latihan rentang gerak (ROM) pasif/aktif pada ekstremitas yang tidak terdampak dan sisa tungkai amputasi. Melatih penguatan otot-otot tubuh bagian atas dan tungkai kiri. Membantu dan mengajarkan mobilisasi bertahap: duduk di tepi tempat tidur, berpindah ke kursi roda, berdiri dengan alat bantu. Mencegah komplikasi imobilisasi (dekubitus, trombosis, pneumonia). Menggunakan bantal untuk memposisikan dan menyangga sisa tungkai. Kolaborasi dengan fisioterapis untuk program rehabilitasi dan persiapan penggunaan prostesis.
Kondisi: Risiko Perfusi Perifer Tidak Efektif
Kode SDKI: 0023
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan nutrisi dan oksigenasi pada tingkat jaringan perifer akibat penurunan suplai darah arteri atau gangguan drainase vena.
Kode SLKI: 0402
Deskripsi : Status Sirkulasi: Perifer. Tindakan keperawatan untuk mempertahankan sirkulasi perifer yang adekuat. Kriteria hasil: Nadi perifer teraba; warna kulit normal; suhu kulit hangat; tidak ada edema; tidak ada nyeri istirahat; nilai tes sensori (monofilamen) dalam batas normal.
Kode SIKI: 4090
Deskripsi : Pemantauan Perfusi Perifer. Tindakan keperawatan berupa: Memantau dan mendokumentasikan nadi perifer (arteri dorsalis pedis) tungkai kiri secara berkala. Mengobservasi warna, suhu, dan ada tidaknya edema pada tungkai kiri. Meninggikan ekstremitas yang edema untuk meningkatkan drainase vena, namun hati-hati terhadap status arteri. Menghindari tekanan langsung pada pembuluh darah. Mendorong latihan ROM dan mobilisasi bertahap untuk meningkatkan sirkulasi. Mengajarkan pasien untuk menghindari menyilangkan kaki dan mengenakan pakaian ketat. Memantau sensasi (baal, kesemutan) sebagai indikator neurovaskuler. Kolaborasi dalam manajemen penyakit vaskuler yang mendasari.
-
Article No. 24565 | 25 Mar 2026
Klinis : nyeri dada berkurang KU cukup, GCS E4V5M6 TD 142/75 mmHg HR 93 x/mnt S 36,1 C SPO2 98% on O2 NK Mata CA -/- SI -/- JVP 5+2 Thorax SDV +/+ RBH -/- WHZ -/-, S1S2 regular Abdomen supel, BU (+), NT (+) epigastrium Ext akral dingin +/+, edem -/-
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 00032
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut; onset mendadak atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat, diperkirakan atau antisipasi berakhir dalam waktu kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: 1400
Deskripsi : Kontrol Nyeri. Tindakan untuk mengontrol nyeri. SLKI ini memiliki beberapa indikator, dan berdasarkan kondisi pasien "nyeri dada berkurang", fokusnya adalah pada indikator-indikator yang menunjukkan perbaikan atau keberhasilan manajemen nyeri. Indikator yang relevan termasuk: (1) Melaporkan nyeri berkurang/hilang (sesuai dengan kondisi pasien), (2) Menunjukkan tanda-tanda nyeri berkurang (misalnya, ekspresi wajah rileks, mampu istirahat/tidur), (3) Tekanan darah, nadi, dan pernapasan dalam rentang normal (pada pasien ini TD 142/75 mmHg dan HR 93x/mnt mendekati normal, meski TD sedikit tinggi mungkin masih terkait residual nyeri atau ansietas), (4) Mampu mengenali faktor pencetus dan melaporkan kepada perawat (edukasi), dan (5) Menggunakan teknik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri. Tujuan SLKI adalah agar nyeri dapat dikontrol, ditandai dengan skala nyeri yang menurun, tanda vital stabil, dan pasien mampu berpartisipasi dalam aktivitas sesuai toleransi.
Kode SIKI: 4500
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Intervensi keperawatan yang dilakukan untuk meringankan atau mengurangi nyeri hingga tingkat yang dapat ditoleransi pasien. SIKI ini mencakup serangkaian tindakan komprehensif. Pertama, Pengkajian: Mengkaji karakteristik nyeri (lokasi, kualitas, intensitas, durasi) menggunakan skala yang valid. Pada pasien ini, pengkajian berkelanjutan menunjukkan tren penurunan ("nyeri dada berkurang"). Kedua, Intervensi Farmakologis: Memberikan analgesik sesuai program terapi dokter dan memantau efektivitas serta efek sampingnya. Ketiga, Intervensi Nonfarmakologis: Menerapkan teknik seperti distraksi, relaksasi napas dalam, atau terapi musik untuk membantu mengurangi persepsi nyeri. Keempat, Penataan Lingkungan: Menciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman untuk mendukung pemulihan. Kelima, Edukasi: Mengajarkan pasien tentang rencana penatalaksanaan nyeri, cara menggunakan skala nyeri, dan pentingnya melaporkan nyeri segera. Keenam, Evaluasi: Memantau respons pasien terhadap intervensi, termasuk perubahan tanda vital (seperti penurunan HR dan TD ke rentang normal) dan laporan verbal. Pada kasus ini, intervensi yang dilakukan telah berhasil ditandai dengan berkurangnya nyeri dada pasien. Perawat harus terus memantau karena nyeri dada adalah gejala serius yang memerlukan observasi ketat untuk mencegah kekambuhan atau komplikasi. Evaluasi juga mencakup memastikan tidak ada efek samping dari terapi analgesik dan pasien memahami langkah-langkah yang harus dilakukan jika nyeri muncul kembali.
-
Article No. 24566 | 25 Mar 2026
Klinis : GANGGUAN MENTAL
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: GANGGUAN MENTAL
Kode SDKI: D.0066
Deskripsi Singkat: Risiko Perilaku Kekerasan
Kode SLKI: L.02123
Deskripsi : Perilaku Kekerasan Terkendali
Kode SIKI: I.01239
Deskripsi : Manajemen Perilaku Kekerasan
Penjelasan Lengkap SDKI, SLKI, dan SIKI:
Diagnosis Keperawatan (SDKI): Risiko Perilaku Kekerasan (D.0066)
Diagnosis keperawatan ini didefinisikan sebagai keadaan di mana seorang individu menunjukkan perilaku yang dapat menyebabkan cedera fisik pada diri sendiri, orang lain, atau lingkungan. Pada pasien dengan gangguan mental, risiko ini dapat muncul dari berbagai faktor penyebab, seperti halusinasi perintah (auditorik) untuk menyakiti, delusi paranoid yang memicu rasa terancam, agitasi psikomotor yang ekstrem, impulsivitas, intoleransi terhadap stres, atau riwayat kekerasan sebelumnya. Tanda dan gejala yang mengindikasikan risiko ini termasuk ekspresi wajah marah, bicara kasar atau mengancam, ketegangan otot, gelisah (agitatif), mudah tersinggung, dan ancaman verbal atau fisik. Perawat perlu melakukan penilaian yang komprehensif untuk mengidentifikasi faktor pemicu, tingkat risiko, dan kemampuan koping pasien untuk mencegah eskalasi menjadi perilaku kekerasan aktual.
Luaran Keperawatan (SLKI): Perilaku Kekerasan Terkendali (L.02123)
Luaran ini merupakan kondisi yang diharapkan setelah intervensi keperawatan, di mana pasien mampu mengendalikan dorongan untuk berperilaku kekerasan. Kriteria luaran yang diharapkan meliputi: (1) Pasien dapat mengidentifikasi tanda-tanda awal perasaan marah atau agitasi dalam diri sendiri. (2) Pasien mampu menyatakan perasaan marah atau frustrasi secara verbal dengan cara yang konstruktif, tanpa ancaman atau agresi fisik. (3) Pasien menunjukkan kemampuan menggunakan teknik koping yang adaptif untuk menurunkan ketegangan, seperti teknik relaksasi napas dalam, menarik diri sementara dari situasi yang memicu, atau meminta bantuan tenaga kesehatan. (4) Pasien tidak menunjukkan perilaku fisik yang membahayakan diri atau orang lain. (5) Pasien dapat berinteraksi dengan orang lain atau lingkungan dengan cara yang aman dan terukur. Pencapaian luaran ini menunjukkan peningkatan kontrol diri dan penurunan signifikan terhadap risiko cedera, yang merupakan indikator keberhasilan manajemen keperawatan.
Intervensi Keperawatan (SIKI): Manajemen Perilaku Kekerasan (I.01239)
Intervensi ini merupakan serangkaian tindakan keperawatan yang direncanakan untuk mencegah terjadinya perilaku kekerasan dan melindungi keselamatan semua pihak. Aktivitas intervensi ini sangat komprehensif dan meliputi: Pertama, Pencegahan dan Pengawasan: Memantau tanda-tanda peningkatan agitasi dan potensi kekerasan secara rutin. Menciptakan lingkungan yang tenang, tidak terlalu ramai, dan mengurangi stimulus yang memicu. Memastikan keamanan lingkungan dengan menjauhkan benda-benda berbahaya. Kedua, Pendekatan Terapeutik: Berkomunikasi dengan pasien menggunakan suara tenang, nada rendah, dan bahasa yang jelas serta singkat. Menunjukkan sikap empati dan menghargai ruang personal pasien. Membantu pasien mengidentifikasi perasaan dan pemicu marah. Mendorong pasien untuk mengekspresikan emosi secara verbal. Ketiga, Penggunaan Teknik Deskalasi: Memberikan pilihan yang sederhana kepada pasien untuk meningkatkan rasa kontrol diri. Menawarkan kesempatan untuk menarik diri ke area yang lebih tenang. Membimbing pasien melakukan latihan relaksasi pernapasan. Keempat, Kolaborasi dan Restriksi: Berkolaborasi dengan tim medis untuk evaluasi terapi farmakologi (obat antipsikotik atau penenang) jika diperlukan. Hanya sebagai upaya terakhir dan dengan protokol ketat, menerapkan restriksi fisik atau isolasi sesuai kebijakan institusi dan peraturan perundang-undangan untuk mencegah cedera, dengan tetap memantau tanda vital dan kondisi psikologis pasien. Kelima, Edukasi: Mengajarkan teknik koping dan keterampilan mengelola amarah kepada pasien dan keluarganya. Seluruh intervensi ini dilakukan dengan prinsip menghormati hak asasi pasien, menjaga martabat, dan bertujuan untuk menstabilkan kondisi dengan cara yang paling tidak restriktif.
-
Article No. 24567 | 25 Mar 2026
Klinis : Seorang laki-laki, berusia 47 tahun, mengalami kecelakaan lalu lintas dalam sebuah kecelakaan tunggal di jalan raya. Menurut saksi mata, korban merupakan pengendara minibus, dan membawa mobilnya sendirian tanpa penumpang. Saat kejadian saksi melihat mobil tsb melaju cepat, dan mulai kehilangan kendali, oleng tanpa sebab kemudian belok kearah bahu jalan dan menabrak pohon yang ada di pinggir jalan. Saksi menduga supir mengantuk. Pada saat korban selesai dievakuasi dan dilanjutkan dengan pengkajian awal, terlihat memar pada dada korban, pernapasan di dada kanan dan kiri tidak simetris dan tampak paradoksal breathing di bagian dada kanan korban. Korban sadar dan mengeluh nyeri hebat di area dada, dan sesak napas. Dari hasil kajian didapatkan Respirasi Rate (RR) = 33 – 35 x/menit; TD = 120/90 mmHg; HR= 110x/menit; T=35,6oC. Kemudian korban diberikan tindakan stabilisasi A, B dan C serta diberikan obat analgetic, dan dievakuasi ke IGD RS X. Di IGD, Korban (klien) dilakukan pemeriksaan fisik lebih lanjut dan dilakukan pemeriksaan foto thorax. Dari hasil rontgent terlihat terdapat segmen yang mengalami fraktur, pada costa didada kanan, dan terlihat adanya hematothorax. Klien direncanakan menjalani operasi. Sambil dilakukan persiapan operasi klien tetap diobservasi ketat. Hasil pemeriksaan tanda-tanda vital satu jam pertama di IGD, RR= 28-30x/menit, paradoksal breathing dada kanan (+); nyeri skala 6/10 (NRS); HR = 118 - 120 x/menit; saturasi oksigen 95% dengan tambahan oksigen via NRM 8 L/menit; TD=130/90 mmHg. Pasien kemudian diberikan analgetik tramadol dosis inisial diberikan 100 mg, dilanjutkan 50 mg setiap 10-20 menit dalam 1 jam pertama. Hasil observasi setelah 4 jam di IGD, didapatkan hasil pemeriksaan sebagai berikut: pasien gelisah, RR = 33-35x/menit; saturasi 92% dengan NRM 10 L/menit; TD=140/88 mmHg; HR= 120x/menit; T=37oC. Hasil pemeriksaan AGD: pH darah: 7,30 Bikarbonat (HCO3): 30 mEq/L Tekanan parsial oksigen (PaO2): 78 mmHg Tekanan parsial karbon dioksida (PaCO2): 50 mmHg Saturasi oksigen (SaO2): 90% (FiO2 menggunakan NRM 8 – 10 L/menit = 80%).
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Fraktur Multipel Tulang Rusuk dengan Hematotoraks Traumatik dan Gagal Napas
Kode ICD-10: S22.4 (Fraktur multipel tulang rusuk) dan S27.1 (Cedera traumatik pada toraks dengan hematotoraks) dan J96.0 (Gagal napas akut)
Deskripsi Singkat : Pasien mengalami trauma dada berat akibat kecelakaan lalu lintas, mengakibatkan fraktur multipel tulang rusuk kanan (Costa) yang disertai hematotoraks (pengumpulan darah di rongga pleura). Kombinasi ini menyebabkan gangguan mekanika pernapasan yang ditandai dengan pernapasan paradoksal, nyeri hebat, takipnea, dan hipoksemia. Hasil Analisis Gas Darah (AGD) menunjukkan gagal napas akut tipe hipoksemik dan hiperkapnik (PaO2 rendah dan PaCO2 tinggi) dengan kompensasi metabolik (pH asam, HCO3 tinggi), yang dikenal sebagai asidosis respiratorik akut pada gagal napas. Kode S22.4 mengklasifikasikan fraktur pada beberapa tulang rusuk. Kode S27.1 mengklasifikasikan cedera pada rongga toraks yang secara spesifik menyebabkan hematotoraks. Kode J96.0 mengklasifikasikan gagal napas akut yang merupakan komplikasi langsung dari trauma dan gangguan mekanika dada tersebut, yang mengancam jiwa dan memerlukan penanganan darurat termasuk stabilisasi, drainase, dan operasi.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 24568 | 25 Mar 2026
Klinis : Seorang laki-laki, berusia 47 tahun, mengalami kecelakaan lalu lintas dalam sebuah kecelakaan tunggal di jalan raya. Menurut saksi mata, korban merupakan pengendara minibus, dan membawa mobilnya sendirian tanpa penumpang. Saat kejadian saksi melihat mobil tsb melaju cepat, dan mulai kehilangan kendali, oleng tanpa sebab kemudian belok kearah bahu jalan dan menabrak pohon yang ada di pinggir jalan. Saksi menduga supir mengantuk. Pada saat korban selesai dievakuasi dan dilanjutkan dengan pengkajian awal, terlihat memar pada dada korban, pernapasan di dada kanan dan kiri tidak simetris dan tampak paradoksal breathing di bagian dada kanan korban. Korban sadar dan mengeluh nyeri hebat di area dada, dan sesak napas. Dari hasil kajian didapatkan Respirasi Rate (RR) = 33 – 35 x/menit; TD = 120/90 mmHg; HR= 110x/menit; T=35,6oC. Kemudian korban diberikan tindakan stabilisasi A, B dan C serta diberikan obat analgetic, dan dievakuasi ke IGD RS X. Di IGD, Korban (klien) dilakukan pemeriksaan fisik lebih lanjut dan dilakukan pemeriksaan foto thorax. Dari hasil rontgent terlihat terdapat segmen yang mengalami fraktur, pada costa didada kanan, dan terlihat adanya hematothorax. Klien direncanakan menjalani operasi. Sambil dilakukan persiapan operasi klien tetap diobservasi ketat. Hasil pemeriksaan tanda-tanda vital satu jam pertama di IGD, RR= 28-30x/menit, paradoksal breathing dada kanan (+); nyeri skala 6/10 (NRS); HR = 118 - 120 x/menit; saturasi oksigen 95% dengan tambahan oksigen via NRM 8 L/menit; TD=130/90 mmHg. Pasien kemudian diberikan analgetik tramadol dosis inisial diberikan 100 mg, dilanjutkan 50 mg setiap 10-20 menit dalam 1 jam pertama. Hasil observasi setelah 4 jam di IGD, didapatkan hasil pemeriksaan sebagai berikut: pasien gelisah, RR = 33-35x/menit; saturasi 92% dengan NRM 10 L/menit; TD=140/88 mmHg; HR= 120x/menit; T=37oC. Hasil pemeriksaan AGD: pH darah: 7,30 Bikarbonat (HCO3): 30 mEq/L Tekanan parsial oksigen (PaO2): 78 mmHg Tekanan parsial karbon dioksida (PaCO2): 50 mmHg Saturasi oksigen (SaO2): 90% (FiO2 menggunakan NRM 8 – 10 L/menit = 80%).
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas dan Nyeri Akut terkait Trauma Dada (Fraktur Costa dan Hematothorax)
Kode SDKI: D.0005
Deskripsi Singkat: Diagnosa Keperawatan "Gangguan Pertukaran Gas" didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana terjadi ketidakseimbangan antara suplai oksigen dan kebutuhan tubuh serta eliminasi karbon dioksida. Pada kasus ini, kondisi ini secara langsung disebabkan oleh trauma dada berat. Fraktur multipel costa (terutama jika segmental) menyebabkan paradoksal breathing (gerakan dinding dada yang tidak normal, tertarik ke dalam saat inspirasi), yang mengganggu mekanika pernapasan normal dan menurunkan efisiensi ventilasi. Ditambah dengan adanya hematothorax (penumpukan darah di rongga pleura), yang menyebabkan kolaps parsial paru (atelektasis) dan mengurangi luas permukaan alveoli yang tersedia untuk pertukaran gas. Hal ini dibuktikan secara klinis dengan sesak napas, takipnea (RR >30x/menit), saturasi oksigen yang menurun meski dengan oksigen tinggi (92-95% dengan NRM 8-10 L/m), dan hasil Analisa Gas Darah (AGD) yang menunjukkan hipoksemia (PaO2 78 mmHg) dan hiperkapnia respiratorik akut (PaCO2 50 mmHg) dengan kompensasi metabolik ringan (pH 7,30, HCO3 30 mEq/L), mengindikasikan gagal napas akut. Gangguan ini merupakan ancaman jiwa yang memerlukan intervensi segera.
Kode SLKI: L.04018
Deskripsi : Luaran yang diharapkan (SLKI) untuk "Gangguan Pertukaran Gas" adalah "Perbaikan Pertukaran Gas". Luaran ini dicirikan oleh beberapa kriteria yang harus dicapai. Pada kasus ini, targetnya adalah stabilisasi sebelum operasi. Kriteria luaran meliputi: frekuensi pernapasan dalam rentang normal (16-20x/menit) atau mendekati normal dengan usaha napas yang tidak berlebihan, saturasi oksigen (SpO2) ≥95% dengan kebutuhan oksigen supplemental yang semakin rendah atau tanpa bantuan, serta hasil AGD yang normal atau menunjukkan perbaikan signifikan (PaO2 >80 mmHg, PaCO2 35-45 mmHg, pH 7.35-7.45). Selain itu, secara klinis, pasien tidak menunjukkan tanda distress pernapasan seperti sianosis, gelisah (yang juga dipicu hipoksia), dan pergerakan dinding dada paradoksal berkurang atau teratasi setelah intervensi (misalnya stabilisasi dinding dada atau drainase hematothorax). Pencapaian luaran ini sangat penting sebelum pasien menjalani tindakan operasi untuk meminimalkan risiko komplikasi anestesi.
Kode SIKI: I.08077
Deskripsi : Intervensi Keperawatan (SIKI) yang utama adalah "Manajemen Jalan Napas". Intervensi ini bersifat komprehensif dan kritis pada kondisi pasien. Deskripsi intervensinya meliputi: pertama, memantau status pernapasan secara ketat dan berkelanjutan (frekuensi, irama, kedalaman, usaha napas, penggunaan otot bantu, simetri dada, dan adanya paradoksal movement). Kedua, memantau status oksigenasi melalui pulse oximetry dan AGD serial. Ketiga, memberikan terapi oksigen sesuai order (seperti NRM dengan aliran tinggi) dan mengevaluasi efektivitasnya. Keempat, memposisikan pasien dalam posisi semi-Fowler atau posisi yang memudahkan ekspansi dada maksimal, biasanya dengan memiringkan ke sisi yang sehat untuk memaksimalkan ventilasi pada paru yang tidak terdampak. Kelima, bersiap dan membantu dalam prosedur invasif jika diperlukan, seperti pemasangan Water Seal Drainage (WSD) untuk mengeluarkan darah dari rongga pleura (hematothorax) sehingga paru dapat mengembang kembali, atau persiapan untuk intubasi dan ventilasi mekanik jika gagal napas memburuk. Keenam, kolaborasi pemberian obat bronkodilator jika diperlukan dan analgesik yang adekuat (karena nyeri dapat membatasi pernapasan dalam). Intervensi ini harus dilakukan secara terintegrasi dengan manajemen nyeri dan persiapan pra-operasi.
Kondisi: Nyeri Akut terkait Trauma Dada (Fraktur Costa dan Hematothorax)
Kode SDKI: D.0029
Deskripsi Singkat: Diagnosa Keperawatan "Nyeri Akut" didefinisikan sebagai pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, yang terjadi secara tiba-tiba atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat, dan diperkirakan berakhir dalam waktu kurang dari 3 bulan. Pada kasus ini, nyeri akut bersumber dari kerusakan jaringan akibat trauma, yaitu fraktur tulang rusuk (costa) dan iritasi pleura akibat hematothorax. Fraktur costa sangat nyeri karena setiap gerakan pernapasan akan menggerakkan fragmen tulang yang patah. Nyeri ini bersifat tajam, terlokalisir di dada kanan, dan diperberat oleh aktivitas seperti bernapas dalam, batuk, atau bergerak. Nyeri yang tidak terkontrol akan memperburuk kondisi pasien karena menyebabkan pernapasan dangkal (splinting) untuk menghindari nyeri, yang pada akhirnya memperburuk pertukaran gas dengan menurunkan ventilasi alveolar dan memicu atelektasis. Pasien melaporkan skala nyeri 6/10 (NRS) meski telah diberikan analgesik awal, menunjukkan bahwa manajemen nyeri belum optimal. Nyeri juga berkontribusi pada peningkatan tanda vital (HR dan TD) serta gelisah.
Kode SLKI: L.03001
Deskripsi : Luaran yang diharapkan (SLKI) untuk "Nyeri Akut" adalah "Kontrol Nyeri". Luaran ini dicirikan oleh penurunan skala nyeri yang dilaporkan pasien menjadi tingkat yang dapat ditoleransi (misalnya ≤3/10), penurunan tanda-tanda nyeri nonverbal (seperti wajah meringis, gelisah, postur melindungi dada), serta perbaikan parameter fisiologis yang dipicu nyeri seperti frekuensi jantung dan tekanan darah yang mendekati normal. Kriteria penting lainnya adalah kemampuan pasien untuk melakukan napas dalam efektif dan batuk dengan nyeri yang minimal, yang sangat penting untuk mencegah komplikasi pernapasan. Pasien juga diharapkan dapat beristirahat dengan lebih tenang dan berpartisipasi dalam perawatan. Pencapaian kontrol nyeri yang adekuat merupakan prasyarat untuk meningkatkan kerja sama pasien dalam terapi pernapasan dan mempersiapkan diri menjalani tindakan operasi.
Kode SIKI: I.09001
Deskripsi : Intervensi Keperawatan (SIKI) yang utama adalah "Manajemen Nyeri". Intervensi ini meliputi tindakan sistematis untuk mengatasi nyeri. Pertama, melakukan pengkajian nyeri komprehensif secara berkala menggunakan skala yang valid (seperti NRS), mencakup lokasi, karakter, intensitas, faktor pencetus dan pereda. Kedua, memberikan farmakoterapi analgesik sesuai kolaborasi atau order dokter secara tepat waktu, termasuk pemberian analgesik opioid seperti tramadol (seperti yang telah dilakukan) dan mengevaluasi efek serta efek sampingnya (seperti depresi pernapasan, terutama penting dalam kondisi gangguan pertukaran gas). Ketiga, menerapkan intervensi non-farmakologis seperti teknik relaksasi napas dalam (dengan modifikasi untuk tidak memperberat nyeri), distraksi, dan penciptaan lingkungan yang tenang. Keempat, memposisikan pasien pada posisi yang nyaman, biasanya dengan menyangga area yang sakit atau memiringkan ke sisi yang sehat. Kelima, memberikan edukasi kepada pasien tentang pentingnya melaporkan nyeri dan tidak menahannya, serta menjelaskan hubungan antara mengontrol nyeri dengan kemampuan bernapas yang lebih baik. Intervensi manajemen nyeri harus berjalan paralel dan sinergis dengan manajemen jalan napas, karena keduanya saling mempengaruhi.
-
Article No. 24569 | 25 Mar 2026
Klinis : Seorang laki-laki, berusia 47 tahun, mengalami kecelakaan lalu lintas dalam sebuah kecelakaan tunggal di jalan raya. Menurut saksi mata, korban merupakan pengendara minibus, dan membawa mobilnya sendirian tanpa penumpang. Saat kejadian saksi melihat mobil tsb melaju cepat, dan mulai kehilangan kendali, oleng tanpa sebab kemudian belok kearah bahu jalan dan menabrak pohon yang ada di pinggir jalan. Saksi menduga supir mengantuk. Pada saat korban selesai dievakuasi dan dilanjutkan dengan pengkajian awal, terlihat memar pada dada korban, pernapasan di dada kanan dan kiri tidak simetris dan tampak paradoksal breathing di bagian dada kanan korban. Korban sadar dan mengeluh nyeri hebat di area dada, dan sesak napas. Dari hasil kajian didapatkan Respirasi Rate (RR) = 33 – 35 x/menit; TD = 120/90 mmHg; HR= 110x/menit; T=35,6oC. Kemudian korban diberikan tindakan stabilisasi A, B dan C serta diberikan obat analgetic, dan dievakuasi ke IGD RS X. Di IGD, Korban (klien) dilakukan pemeriksaan fisik lebih lanjut dan dilakukan pemeriksaan foto thorax. Dari hasil rontgent terlihat terdapat segmen yang mengalami fraktur, pada costa didada kanan, dan terlihat adanya hematothorax. Klien direncanakan menjalani operasi. Sambil dilakukan persiapan operasi klien tetap diobservasi ketat. Hasil pemeriksaan tanda-tanda vital satu jam pertama di IGD, RR= 28-30x/menit, paradoksal breathing dada kanan (+); nyeri skala 6/10 (NRS); HR = 118 - 120 x/menit; saturasi oksigen 95% dengan tambahan oksigen via NRM 8 L/menit; TD=130/90 mmHg. Pasien kemudian diberikan analgetik tramadol dosis inisial diberikan 100 mg, dilanjutkan 50 mg setiap 10-20 menit dalam 1 jam pertama. Hasil observasi setelah 4 jam di IGD, didapatkan hasil pemeriksaan sebagai berikut: pasien gelisah, RR = 33-35x/menit; saturasi 92% dengan NRM 10 L/menit; TD=140/88 mmHg; HR= 120x/menit; T=37oC. Hasil pemeriksaan AGD: pH darah: 7,30 Bikarbonat (HCO3): 30 mEq/L Tekanan parsial oksigen (PaO2): 78 mmHg Tekanan parsial karbon dioksida (PaCO2): 50 mmHg Saturasi oksigen (SaO2): 90% (FiO2 menggunakan NRM 8 – 10 L/menit = 80%).
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas
Kode SDKI: D.0013
Deskripsi Singkat: Keadaan dimana seseorang mengalami atau berisiko mengalami penurunan oksigenasi dan/atau eliminasi karbondioksida pada membran alveolus-kapiler. Pada kasus ini, kondisi ini ditetapkan berdasarkan data klinis pasien laki-laki 47 tahun pasca trauma dada yang menunjukkan tanda-tanda kegagalan pernapasan. Mekanisme utama gangguan pertukaran gas pada pasien ini adalah akibat dari fraktur costa multipel dengan kemungkinan flail chest (dilihat dari pernapasan paradoksal) dan hematothorax. Kedua kondisi ini menyebabkan ketidakefektifan mekanika pernapasan (dinding dada tidak stabil dan kompresi paru) sehingga ventilasi alveolar terganggu. Hasil Analisis Gas Darah (AGD) yang menunjukkan asidosis respiratorik (pH 7,30, PaCO2 50 mmHg) dengan hipoksemia (PaO2 78 mmHg, SaO2 90%) meskipun telah diberikan oksigen konsentrasi tinggi (FiO2 80%) merupakan bukti objektif kuat terjadinya gangguan pertukaran gas yang berat. Peningkatan kerja pernapasan (RR 33-35x/menit), sesak napas, gelisah, dan saturasi oksigen yang turun dari 95% menjadi 92% meskipun dengan peningkatan aliran oksigen merupakan manifestasi klinis dari kondisi ini. Gangguan pertukaran gas ini bersifat akut dan mengancam jiwa, memerlukan intervensi segera termasuk persiapan operasi untuk menstabilkan dinding dada dan mengeluarkan darah dari rongga pleura.
Kode SLKI: L.03113
Deskripsi : Pertukaran Gas Membaik. Luaran yang diharapkan pada pasien ini adalah membaiknya pertukaran gas, yang dimanifestasikan melalui kriteria: 1) Saturasi oksigen dalam rentang yang diharapkan (target >95% pada kondisi ini). 2) Analisis Gas Darah (AGD) dalam rentang normal (target pH 7.35-7.45, PaO2 >80 mmHg, PaCO2 35-45 mmHg dengan dukungan oksigen yang sesuai). 3) Pernapasan dalam rentang normal (target RR 16-20x/menit dengan pola efektif). 4) Tidak ada pernapasan paradoksal. 5) Tingkat kesadaran baik (compos mentis, tidak gelisah). Pencapaian luaran ini bergantung pada keberhasilan penanganan penyebab dasar, yaitu stabilisasi fraktur dada (mungkin dengan operasi fiksasi) dan resolusi hematothorax (dengan pemasangan WSD atau tindakan bedah), serta terapi suportif oksigenasi dan manajemen nyeri yang adekuat untuk memungkinkan pernapasan yang dalam dan efektif.
Kode SIKI: I.05295
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas. Intervensi ini sangat kritis pada pasien dengan trauma dada dan gangguan pertukaran gas. Implementasinya meliputi: 1) Mempertahankan patensi jalan napas dengan posisi semi-fowler atau posisi yang memudahkan pernapasan, sambil tetap memperhatikan immobilisasi spinal jika dicurigai ada trauma servikal. 2) Memonitor status pernapasan secara ketat dan berkelanjutan (frekuensi, irama, kedalaman, usaha napas, penggunaan otot bantu, adanya paradoksal). 3) Memonitor hasil AGD dan saturasi oksigen secara berkala untuk mengevaluasi efektivitas terapi. 4) Memberikan terapi oksigen sesuai kebutuhan dan memonitor responsnya (dari NRM 8-10 L/menit, siapkan alat untuk bantuan napas yang lebih invasif jika terjadi perburukan). 5) Melakukan fisioterapi dada dengan hati-hati (seperti latihan napas dalam, batuk efektif dengan teknik splinting dada untuk mengurangi nyeri) setelah pemberian analgetik. 6) Mempersiapkan dan membantu prosedur invasif seperti pemasangan Water Seal Drainage (WSD) untuk hematothorax atau intubasi endotrakeal jika diperlukan. 7) Kolaborasi pemberian analgetik (seperti tramadol) secara adekuat untuk mengurangi nyeri, sehingga pasien dapat bernapas lebih dalam dan efektif, yang pada akhirnya meningkatkan ventilasi dan pertukaran gas. 8) Mempersiapkan pasien untuk tindakan operatif yang direncanakan. Seluruh intervensi ini bertujuan untuk mengoptimalkan ventilasi dan oksigenasi, mengurangi kerja napas, dan mengatasi penyebab fisik dari gangguan pertukaran gas tersebut.
-
Article No. 24570 | 25 Mar 2026
Klinis : Seorang laki-laki, berusia 47 tahun, mengalami kecelakaan lalu lintas dalam sebuah kecelakaan tunggal di jalan raya. Menurut saksi mata, korban merupakan pengendara minibus, dan membawa mobilnya sendirian tanpa penumpang. Saat kejadian saksi melihat mobil tsb melaju cepat, dan mulai kehilangan kendali, oleng tanpa sebab kemudian belok kearah bahu jalan dan menabrak pohon yang ada di pinggir jalan. Saksi menduga supir mengantuk. Pada saat korban selesai dievakuasi dan dilanjutkan dengan pengkajian awal, terlihat memar pada dada korban, pernapasan di dada kanan dan kiri tidak simetris dan tampak paradoksal breathing di bagian dada kanan korban. Korban sadar dan mengeluh nyeri hebat di area dada, dan sesak napas. Dari hasil kajian didapatkan Respirasi Rate (RR) = 33 – 35 x/menit; TD = 120/90 mmHg; HR= 110x/menit; T=35,6oC. Kemudian korban diberikan tindakan stabilisasi A, B dan C serta diberikan obat analgetic, dan dievakuasi ke IGD RS X. Di IGD, Korban (klien) dilakukan pemeriksaan fisik lebih lanjut dan dilakukan pemeriksaan foto thorax. Dari hasil rontgent terlihat terdapat segmen yang mengalami fraktur, pada costa didada kanan, dan terlihat adanya hematothorax. Klien direncanakan menjalani operasi. Sambil dilakukan persiapan operasi klien tetap diobservasi ketat. Hasil pemeriksaan tanda-tanda vital satu jam pertama di IGD, RR= 28-30x/menit, paradoksal breathing dada kanan (+); nyeri skala 6/10 (NRS); HR = 118 - 120 x/menit; saturasi oksigen 95% dengan tambahan oksigen via NRM 8 L/menit; TD=130/90 mmHg. Pasien kemudian diberikan analgetik tramadol dosis inisial diberikan 100 mg, dilanjutkan 50 mg setiap 10-20 menit dalam 1 jam pertama. Hasil observasi setelah 4 jam di IGD, didapatkan hasil pemeriksaan sebagai berikut: pasien gelisah, RR = 33-35x/menit; saturasi 92% dengan NRM 10 L/menit; TD=140/88 mmHg; HR= 120x/menit; T=37oC. Hasil pemeriksaan AGD: pH darah: 7,30 Bikarbonat (HCO3): 30 mEq/L Tekanan parsial oksigen (PaO2): 78 mmHg Tekanan parsial karbon dioksida (PaCO2): 50 mmHg Saturasi oksigen (SaO2): 90% (FiO2 menggunakan NRM 8 – 10 L/menit = 80%).
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas dan Nyeri Akut terkait Fraktur Costa dan Hematothorax
Kode SDKI: D.0005
Deskripsi Singkat: Gangguan pertukaran gas adalah kondisi dimana terjadi ketidakseimbangan antara suplai oksigen dan kebutuhan tubuh serta eliminasi karbon dioksida. Pada kasus ini, gangguan disebabkan oleh trauma dada (fraktur costa dan hematothorax) yang mengganggu mekanika pernapasan (paradoksal breathing) dan mengurangi luas permukaan alveoli untuk pertukaran gas. Hal ini dibuktikan dengan takipnea, sesak napas, hipoksemia (PaO2 rendah, saturasi turun meski dengan oksigen tinggi), hiperkapnia (PaCO2 meningkat), dan asidosis respiratorik (pH rendah, PaCO2 tinggi). Kondisi ini diperberat oleh nyeri hebat yang menghambat ekspansi dada optimal.
Kode SLKI: L.04018
Deskripsi : SLKI L.04018 adalah "Perbaikan pertukaran gas". Tujuan keperawatan adalah memulihkan keseimbangan pertukaran gas hingga mencapai nilai yang dapat diterima. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: frekuensi pernapasan dalam rentang normal, pola pernapasan reguler dan simetris, tidak ada pernapasan paradoksal, saturasi oksigen (SpO2) ≥95% dengan terapi oksigen yang sesuai, dan hasil Analisis Gas Darah (AGD) dalam batas normal (PaO2 >80 mmHg, PaCO2 35-45 mmHg, pH 7.35-7.45). Pada pasien ini, SLKI ini menjadi fokus utama karena adanya ancaman gagal napas. Intervensi ditujukan untuk memastikan jalan napas paten, meningkatkan suplai oksigen, meminimalkan gangguan pada dinding dada, dan memantau respons terhadap terapi secara ketat hingga kondisi stabil atau dilakukan tindakan operatif definitif.
Kode SIKI: I.09066
Deskripsi : SIKI I.09066 adalah "Manajemen Jalan Napas". Intervensi ini mencakup serangkaian tindakan untuk memastikan patensi jalan napas dan ventilasi yang adekuat. Pada pasien dengan trauma dada, implementasinya meliputi: 1) Memantau status pernapasan secara terus-menerus (frekuensi, irama, kedalaman, penggunaan otot bantu, simetri dada, dan adanya paradoksal breathing). 2) Memantau saturasi oksigen dan nilai AGD secara berkala untuk menilai efektivitas terapi. 3) Memberikan terapi oksigen sesuai kebutuhan (dalam hal ini via Non-Rebreather Mask dengan aliran tinggi) dan mengevaluasi responsnya. 4) Melakukan fisioterapi dada dengan hati-hati (seperti latihan napas dalam) dengan mempertimbangkan nyeri dan fraktur. 5) Mempersiapkan dan membantu prosedur invasif jika diperlukan (seperti pemasangan chest tube untuk hematothorax). 6) Memposisikan pasien dalam posisi semi-Fowler atau posisi yang memudahkan ekspansi dada sisi yang sehat. 7) Berkolaborasi dalam pemberian analgetik yang adekuat (seperti tramadol) untuk mengontrol nyi, sehingga pasien dapat bernapas lebih efektif. 8) Mempersiapkan pasien untuk tindakan operasi jika diperlukan. Intervensi ini bersifat dinamis dan terus dievaluasi berdasarkan perubahan kondisi klinis pasien.
Kondisi: Nyeri Akut terkait Kerusakan Jaringan Biomekanik (Fraktur Costa dan Hematothorax)
Kode SDKI: D.0028
Deskripsi Singkat: Nyeri akut adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, dengan onset mendadak atau lambat dan intensitas ringan hingga berat, yang berlangsung kurang dari 3 bulan. Pada pasien ini, nyeri hebat di area dada disebabkan oleh fraktur tulang rusuk (costa) dan akumulasi darah di rongga pleura (hematothorax). Nyeri ini bersifat tajam, diperburuk oleh gerakan pernapasan, batuk, atau perubahan posisi. Nyeri yang tidak terkontrol akan memperburuk gangguan pertukaran gas karena pasien cenderung membatasi pernapasan (splinting) untuk menghindari nyeri, menyebabkan hipoventilasi, atelektasis, dan retensi sekret. Hal ini memperparah hipoksemia dan hiperkapnia. Nyeri juga memicu respons stres sistemik berupa takikardia dan hipertensi.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : SLKI L.08001 adalah "Kontrol nyeri". Tujuan keperawatan adalah mengurangi atau menghilangkan nyeri yang dirasakan pasien. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: pasien melaporkan penurunan skala nyeri (misalnya, dari 6/10 menjadi ≤3/10), menunjukkan tanda-tanda perilaku nyeri yang berkurang (wajah rileks, tidak gelisah, dapat bernapas lebih dalam), tanda-tanda vital menunjukkan perbaikan (penurunan frekuensi jantung dan pernapasan), serta pasien mampu berpartisipasi dalam aktivitas perawatan diri seperti latihan napas. Pada kasus ini, kontrol nyeri yang efektif adalah kunci untuk memutus siklus nyeri → hipoventilasi → gangguan pertukaran gas → kecemasan → nyeri.
Kode SIKI: I.11030
Deskripsi : SIKI I.11030 adalah "Manajemen Nyeri". Intervensi ini melibatkan pendekatan komprehensif untuk mengurangi nyeri. Implementasinya pada pasien trauma dada meliputi: 1) Melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif dan berkelanjutan menggunakan skala yang valid (seperti NRS), mencakup lokasi, karakter, intensitas, faktor pencetus dan pereda. 2) Memberikan analgetik farmakologis sesuai kolaborasi atau protokol (seperti pemberian tramadol intravena dengan dosis inisial dan maintenance) tepat waktu, dan mengevaluasi efektivitas serta efek sampingnya. 3) Menerapkan intervensi non-farmakologis seperti teknik relaksasi napas dalam (jika memungkinkan), distraksi, dan penciptaan lingkungan yang tenang. 4) Memposisikan pasien dengan nyaman, biasanya dengan meninggikan kepala tempat tidur dan menyangga area yang nyeri dengan bantal secara hati-hati. 5) Memberikan edukasi pada pasien tentang pentingnya melaporkan nyeri dan tidak menahannya untuk mencegah komplikasi pernapasan. 6) Mengurangi faktor pencetus nyeri dengan meminimalkan gerakan yang tidak perlu, membantu pasien saat batuk atau bergerak, serta melakukan perawatan dengan lembut. 7) Memantau respons terhadap terapi nyeri dan berkolaborasi dengan tim medis untuk penyesuaian regimen analgesik jika diperlukan, terutama dalam persiapan menuju tindakan operasi.
-
Article No. 24571 | 25 Mar 2026
Klinis : Seorang laki-laki, berusia 47 tahun, mengalami kecelakaan lalu lintas dalam sebuah kecelakaan tunggal di jalan raya. Menurut saksi mata, korban merupakan pengendara minibus, dan membawa mobilnya sendirian tanpa penumpang. Saat kejadian saksi melihat mobil tsb melaju cepat, dan mulai kehilangan kendali, oleng tanpa sebab kemudian belok kearah bahu jalan dan menabrak pohon yang ada di pinggir jalan. Saksi menduga supir mengantuk. Pada saat korban selesai dievakuasi dan dilanjutkan dengan pengkajian awal, terlihat memar pada dada korban, pernapasan di dada kanan dan kiri tidak simetris dan tampak paradoksal breathing di bagian dada kanan korban. Korban sadar dan mengeluh nyeri hebat di area dada, dan sesak napas. Dari hasil kajian didapatkan Respirasi Rate (RR) = 33 – 35 x/menit; TD = 120/90 mmHg; HR= 110x/menit; T=35,6oC. Kemudian korban diberikan tindakan stabilisasi A, B dan C serta diberikan obat analgetic, dan dievakuasi ke IGD RS X. Di IGD, Korban (klien) dilakukan pemeriksaan fisik lebih lanjut dan dilakukan pemeriksaan foto thorax. Dari hasil rontgent terlihat terdapat segmen yang mengalami fraktur, pada costa didada kanan, dan terlihat adanya hematothorax. Klien direncanakan menjalani operasi. Sambil dilakukan persiapan operasi klien tetap diobservasi ketat. Hasil pemeriksaan tanda-tanda vital satu jam pertama di IGD, RR= 28-30x/menit, paradoksal breathing dada kanan (+); nyeri skala 6/10 (NRS); HR = 118 - 120 x/menit; saturasi oksigen 95% dengan tambahan oksigen via NRM 8 L/menit; TD=130/90 mmHg. Pasien kemudian diberikan analgetik tramadol dosis inisial diberikan 100 mg, dilanjutkan 50 mg setiap 10-20 menit dalam 1 jam pertama. Hasil observasi setelah 4 jam di IGD, didapatkan hasil pemeriksaan sebagai berikut: pasien gelisah, RR = 33-35x/menit; saturasi 92% dengan NRM 10 L/menit; TD=140/88 mmHg; HR= 120x/menit; T=37oC. Hasil pemeriksaan AGD: pH darah: 7,30 Bikarbonat (HCO3): 30 mEq/L Tekanan parsial oksigen (PaO2): 78 mmHg Tekanan parsial karbon dioksida (PaCO2): 50 mmHg Saturasi oksigen (SaO2): 90% (FiO2 menggunakan NRM 8 – 10 L/menit = 80%).
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas dan Nyeri Akut terkait Fraktur Costa dan Hematothorax
Kode SDKI: D.0006
Deskripsi Singkat: Gangguan pertukaran gas adalah keadaan dimana seseorang mengalami atau berisiko mengalami penurunan oksigenasi dan/atau peningkatan kadar karbon dioksida pada membran alveolus-kapiler. Pada kasus ini, gangguan ini disebabkan oleh kombinasi fraktur costa multipel (flail chest) yang menyebabkan pergerakan paradoksal dinding dada dan ketidakmampuan untuk mengembangkan paru secara adekuat, serta adanya hematothorax yang mengisi ruang pleural dan menekan jaringan paru. Kedua kondisi ini menyebabkan ventilasi-perfusi (V/Q) mismatch, hipoksemia, dan hiperkapnia, seperti yang dibuktikan dengan hasil analisis gas darah (AGD) yang menunjukkan asidosis respiratorik (pH 7.30, PaCO2 50 mmHg) dan penurunan saturasi oksigen meskipun dengan pemberian oksigen konsentrasi tinggi. Gejala klinis yang mendukung termasuk sesak napas, takipnea (RR 33-35x/menit), penggunaan otot bantu napas, dan saturasi oksigen yang turun menjadi 92-95% dengan oksigen tambahan.
Kode SLKI: L.04013
Deskripsi : SLKI L.04013 adalah "Perbaikan pertukaran gas". Tujuan dari luaran ini adalah agar klien menunjukkan perbaikan dalam pertukaran gas yang dibuktikan oleh nilai analisis gas darah (AGD) dalam rentang normal atau mendekati normal, saturasi oksigen ≥95% pada udara ruangan atau sesuai target, serta tidak adanya tanda-tanda distress pernapasan. Indikator pencapaiannya meliputi: (1) Saturasi oksigen (SpO2) dalam rentang yang ditetapkan (target >95%); (2) Nilai analisis gas darah (AGD) dalam rentang normal (pH 7.35-7.45, PaO2 >80 mmHg, PaCO2 35-45 mmHg, HCO3 22-26 mEq/L); (3) Frekuensi pernapasan dalam rentang normal (12-20x/menit); (4) Irama pernapasan reguler; (5) Tidak adanya sianosis; (6) Tidak adanya penggunaan otot bantu pernapasan; dan (7) Bunyi napas bersih di kedua lapang paru. Dalam konteks pasien ini, target jangka pendek sebelum operasi adalah stabilisasi dengan saturasi dipertahankan >92% dengan oksigen, penurunan frekuensi pernapasan, dan perbaikan pola napas paradoksal.
Kode SIKI: I.09080
Deskripsi : SIKI I.09080 adalah "Manajemen jalan napas". Intervensi ini merupakan tindakan keperawatan untuk memastikan patensi dan fungsi jalan napas yang adekuat. Pada pasien dengan trauma dada dan gangguan pertukaran gas, manajemen jalan napas bersifat kritis dan meliputi serangkaian tindakan: (1) Memonitor status pernapasan secara ketat (frekuensi, irama, kedalaman, usaha napas, bunyi napas, dan saturasi oksigen secara terus menerus). (2) Memposisikan pasien dalam posisi semi-Fowler atau posisi yang memudahkan ekspansi dada maksimal, biasanya dengan memiringkan ke sisi yang sehat untuk memaksimalkan ventilasi pada paru yang tidak terdampak. (3) Memberikan terapi oksigen sesuai kebutuhan dan memonitor efektivitasnya (dari NRM 8 L/menit dinaikkan menjadi 10 L/menit sebagai respons terhadap penurunan saturasi). (4) Melakukan fisioterapi dada sesuai toleransi dan kondisi fraktur (seperti latihan napas dalam dengan bimbingan untuk mencegah atelektasis). (5) Mempersiapkan dan memastikan ketersediaan alat bantu jalan napas dan suction untuk tindakan darurat. (6) Kolaborasi dalam pemberian terapi nebulizer atau obat bronkodilator jika diperlukan. (7) Kolaborasi dalam persiapan dan pelaksanaan tindakan invasif seperti pemasangan chest tube untuk mengatasi hematothorax, yang merupakan rencana definitif dalam penanganan kasus ini. Intervensi ini dilakukan secara berkelanjutan dari IGD hingga pra-operasi untuk mencegah memburuknya kondisi pertukaran gas.
Kondisi: Nyeri Akut terkait Fraktur Costa dan Trauma Jaringan
Kode SDKI: D.0028
Deskripsi Singkat: Nyeri akut adalah pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, dengan onset yang mendadak atau lambat dan intensitas yang bervariasi dari ringan hingga berat dengan durasi terbatas (kurang dari 3 bulan). Pada pasien ini, nyeri akut disebabkan oleh fraktur tulang rusuk (costa) yang multipel dan kerusakan jaringan lunak di sekitarnya akibat benturan. Fraktur costa sangat nyeri karena setiap gerakan pernapasan akan menggerakkan fragmen tulang yang patah. Nyeri ini memiliki dampak signifikan karena dapat membatasi ekspansi dada, menghambat batuk efektif, dan akhirnya memperburuk gangguan pertukaran gas. Pasien mengeluh nyeri hebat di dada dengan skala 6/10 (NRS). Nyeri juga berkontribusi pada respons stres tubuh, yang ditunjukkan oleh takikardia (HR 118-120 x/menit), gelisah, dan kemungkinan peningkatan tekanan darah. Manajemen nyeri yang adekuat sangat penting tidak hanya untuk kenyamanan tetapi juga untuk memungkinkan pasien bernapas lebih dalam dan mencegah komplikasi pernapasan.
Kode SLKI: L.13001
Deskripsi : SLKI L.13001 adalah "Kontrol nyeri". Luaran yang diharapkan adalah klien menunjukkan kontrol nyeri yang adekuat, yang dapat diukur melalui penurunan skala nyeri yang dilaporkan, penurunan tanda-tanda vital yang terkait dengan nyeri (seperti takikardia), serta kemampuan untuk bernapas dan bergerak dengan lebih nyaman. Indikator pencapaiannya meliputi: (1) Skala nyeri menurun (target <3/10 atau sesuai toleransi pasien); (2) Ekspresi wajah rileks; (3) Perilaku tenang (mengurangi gelisah); (4) Tanda-tanda vital dalam rentang normal (HR dan TD menurun mendekati baseline); (5) Klien mampu melakukan latihan napas dalam dan batuk efektif; (6) Klien melaporkan peningkatan kenyamanan; dan (7) Klien dapat beristirahat dengan cukup. Pada fase observasi di IGD, targetnya adalah mengurangi nyeri hingga tingkat yang memungkinkan pasien untuk kooperatif selama pemeriksaan dan persiapan operasi.
Kode SIKI: I.11001
Deskripsi : SIKI I.11001 adalah "Manajemen nyeri". Intervensi ini mencakup tindakan komprehensif untuk mengurangi atau menghilangkan nyeri. Pada kasus ini, tindakannya meliputi: (1) Melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif dan berulang menggunakan skala yang valid (NRS), termasuk lokasi, karakter, durasi, dan faktor pencetus serta pereda. (2) Memberikan analgetik farmakologis secara tepat waktu sesuai kolaborasi atau protokol, seperti pemberian tramadol dengan dosis inisial dan titrasi yang telah dilakukan. (3) Memonitor efek samping obat (seperti mual, sedasi, depresi pernapasan) terutama karena pasien mengalami gangguan pertukaran gas. (4) Menggunakan intervensi non-farmakologis untuk melengkapi terapi obat, seperti teknik relaksasi napas dalam (dengan memperhatikan kondisi fraktur), distraksi, dan penciptaan lingkungan yang tenang. (5) Memposisikan pasien dengan nyaman, seringkali dengan menyangga area yang nyeri atau memiringkan ke posisi yang mengurangi ketegangan pada otot dada. (6) Edukasi pasien tentang pentingnya melaporkan nyeri dan tidak menahannya karena dapat memperburuk kondisi pernapasan. (7) Kolaborasi dengan tim medis untuk rencana analgesia yang lebih kuat jika diperlukan, termasuk analgesia regional (seperti blok nervus interkostalis) atau persiapan analgesia pasca-operasi. Manajemen nyeri yang efektif secara langsung mendukung pencapaian luaran perbaikan pertukaran gas.
-
Article No. 24572 | 25 Mar 2026
Klinis : Seorang laki-laki, berusia 47 tahun, mengalami kecelakaan lalu lintas dalam sebuah kecelakaan tunggal di jalan raya. Menurut saksi mata, korban merupakan pengendara minibus, dan membawa mobilnya sendirian tanpa penumpang. Saat kejadian saksi melihat mobil tsb melaju cepat, dan mulai kehilangan kendali, oleng tanpa sebab kemudian belok kearah bahu jalan dan menabrak pohon yang ada di pinggir jalan. Saksi menduga supir mengantuk. Pada saat korban selesai dievakuasi dan dilanjutkan dengan pengkajian awal, terlihat memar pada dada korban, pernapasan di dada kanan dan kiri tidak simetris dan tampak paradoksal breathing di bagian dada kanan korban. Korban sadar dan mengeluh nyeri hebat di area dada, dan sesak napas. Dari hasil kajian didapatkan Respirasi Rate (RR) = 33 – 35 x/menit; TD = 120/90 mmHg; HR= 110x/menit; T=35,6oC. Kemudian korban diberikan tindakan stabilisasi A, B dan C serta diberikan obat analgetic, dan dievakuasi ke IGD RS X. Di IGD, Korban (klien) dilakukan pemeriksaan fisik lebih lanjut dan dilakukan pemeriksaan foto thorax. Dari hasil rontgent terlihat terdapat segmen yang mengalami fraktur, pada costa didada kanan, dan terlihat adanya hematothorax. Klien direncanakan menjalani operasi. Sambil dilakukan persiapan operasi klien tetap diobservasi ketat. Hasil pemeriksaan tanda-tanda vital satu jam pertama di IGD, RR= 28-30x/menit, paradoksal breathing dada kanan (+); nyeri skala 6/10 (NRS); HR = 118 - 120 x/menit; saturasi oksigen 95% dengan tambahan oksigen via NRM 8 L/menit; TD=130/90 mmHg. Pasien kemudian diberikan analgetik tramadol dosis inisial diberikan 100 mg, dilanjutkan 50 mg setiap 10-20 menit dalam 1 jam pertama. Hasil observasi setelah 4 jam di IGD, didapatkan hasil pemeriksaan sebagai berikut: pasien gelisah, RR = 33-35x/menit; saturasi 92% dengan NRM 10 L/menit; TD=140/88 mmHg; HR= 120x/menit; T=37oC. Hasil pemeriksaan AGD: pH darah: 7,30 Bikarbonat (HCO3): 30 mEq/L Tekanan parsial oksigen (PaO2): 78 mmHg Tekanan parsial karbon dioksida (PaCO2): 50 mmHg Saturasi oksigen (SaO2): 90% (FiO2 menggunakan NRM 8 – 10 L/menit = 80%).
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas dan Nyeri Akut terkait Trauma Dada (Fraktur Costa dan Hematothorax)
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Gangguan Pertukaran Gas adalah keadaan dimana seseorang mengalami gangguan pada proses oksigenasi (difusi oksigen) dan/atau ventilasi (eliminasi karbon dioksida) pada tingkat membran alveoli-kapiler. Pada kasus ini, gangguan disebabkan oleh trauma dada berat (fraktur costa multipel dan hematothorax). Fraktur costa menyebabkan nyeri hebat yang menghambat ekspansi dada dan pergerakan pernapasan, serta memicu pernapasan paradoksal yang tidak efektif. Hematothorax (penumpukan darah di rongga pleura) secara fisik menekan paru-paru, mengurangi kapasitas paru dan area permukaan untuk pertukaran gas. Hal ini dibuktikan secara klinis dengan sesak napas, takipnea (RR >30x/menit), saturasi oksigen yang turun meski dengan oksigen tinggi (92-95% dengan NRM 8-10 L/m), dan hasil Analisa Gas Darah (AGD) yang menunjukkan hipoksemia (PaO2 78 mmHg) dan hiperkapnia respiratorik akut (PaCO2 50 mmHg) dengan kompensasi metabolik minimal (pH 7,30, HCO3 30 mEq/L), mengindikasikan gagal napas akut tipe II. Kondisi ini merupakan ancaman jiwa yang memerlukan intervensi segera.
Kode SLKI: L.04001
Deskripsi : SLKI L.04001 adalah "Perbaikan Pertukaran Gas" dengan kriteria hasil yang diharapkan antara lain: frekuensi pernapasan dalam rentang normal, pola pernapasan reguler dan efektif, tidak ada pernapasan paradoksal, saturasi oksigen ≥95% pada udara ruangan atau sesuai target, dan nilai AGD dalam batas normal. Dalam konteks pasien ini, tujuan perawatan adalah menstabilkan pertukaran gas untuk mencegah hipoksia organ lebih lanjut. Target spesifiknya adalah menurunkan RR mendekati 20-25x/menit, menghilangkan pernapasan paradoksal, meningkatkan saturasi oksigen menjadi ≥95% dengan dosis oksigen yang lebih rendah, dan memperbaiki AGD menuju nilai normal (pH 7.35-7.45, PaO2 >80 mmHg, PaCO2 35-45 mmHg). Pencapaian SLKI ini akan diukur melalui pemantauan terus menerus tanda vital, pulse oximetry, dan pemeriksaan AGD serial, serta observasi klinis terhadap pola napas dan tingkat kesadaran (kegelisahan merupakan tanda awal hipoksia).
Kode SIKI: I.08070
Deskripsi : SIKI I.08070 adalah "Manajemen Jalan Napas". Intervensi ini sangat relevan karena pasien dengan trauma dada dan gangguan pertukaran gas berisiko tinggi mengalami gagal napas. Intervensi spesifik meliputi: 1) Mempertahankan patensi jalan napas dengan posisi semi-Fowler atau sesuai toleransi untuk memaksimalkan ekspansi dada. 2) Memantau status pernapasan (frekuensi, irama, kedalaman, usaha napas, penggunaan otot bantu) setiap 15-30 menit atau lebih sering sesuai kondisi. 3) Memantau nilai pulse oximetry dan AGD secara berkala. 4) Memberikan terapi oksigen sesuai order (dalam hal ini NRM dengan aliran tinggi) dan mengevaluasi efektivitasnya. 5) Melakukan fisioterapi dada dengan hati-hati (seperti latihan napas dalam dengan bimbingan) jika memungkinkan, dengan mempertimbangkan nyeri. 6) Mempersiapkan dan membantu prosedur invasif jika diperlukan (seperti pemasangan WSD/Water Sealed Drainage untuk hematothorax atau intubasi jika terjadi perburukan). 7) Berkolaborasi dalam pemberian analgetik yang adekuat (seperti tramadol yang telah diberikan) karena pengendalian nyeri sangat penting untuk memungkinkan pasien bernapas lebih dalam dan efektif. 8) Mengobservasi tanda-tanda komplikasi seperti tension pneumothorax. Semua intervensi ini dilakukan sambil mempersiapkan pasien untuk tindakan operasi definitif.
Kondisi: Nyeri Akut terkait Kerusakan Jaringan Biologis (Trauma Dada dan Fraktur Tulang Rusuk)
Kode SDKI: D.0028
Deskripsi Singkat: Nyeri Akut adalah pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, yang terjadi atau berlangsung kurang dari 3 bulan. Pada pasien ini, nyeri akut bersifat berat (skala 6/10) dengan lokasi di dada, yang secara langsung disebabkan oleh trauma fisik: fraktur pada costa (tulang rusuk) kanan dan kemungkinan memar pada jaringan lunak dada (kontusio pulmonal). Nyeri ini bersifat multifaktorial; berasal dari periosteum tulang yang patah, iritasi pleura oleh darah (hematothorax), dan spasme otot-otot pernapasan sekunder. Nyeri memiliki dampak kritis karena memperburuk gangguan pertukaran gas. Pasien akan secara tidak sadar membatasi pernapasan dalam (splinting) untuk menghindari nyeri, yang menyebabkan hipoventilasi, atelektasis, retensi sekret, dan memperburuk hiperkapnia. Nyeri juga memicu respons stres simpatis, yang ditunjukkan oleh takikardia (HR 110-120x/menit) dan sedikit peningkatan tekanan darah. Kegelisahan pasien setelah 4 jam observasi dapat menjadi indikasi nyeri yang tidak terkontrol dengan baik meski telah diberikan analgetik, atau merupakan manifestasi dari meningkatnya distress pernapasan akibat hipoksia.
Kode SLKI: L.10001
Deskripsi : SLKI L.10001 adalah "Kontrol Nyeri" dengan kriteria hasil: tingkat nyeri menurun (skala 0-3/10), pasien melaporkan nyeri terkontrol, tanda-tanda vital dalam batas normal, dan pasien dapat menunjukkan perilaku koping terhadap nyeri. Untuk pasien ini, tujuan utamanya adalah mengurangi intensitas nyeri hingga tingkat yang memungkinkan untuk bernapas secara efektif dan berpartisipasi dalam perawatan (misalnya, fisioterapi napas). Target spesifik adalah menurunkan skala nyeri dari 6/10 menjadi ≤3/10 dalam waktu 1 jam setelah pemberian intervensi analgesik, mengurangi takikardia dan kegelisahan, serta meningkatkan kemampuan pasien untuk menarik napas dalam dengan nyeri minimal. Keberhasilan kontrol nyeri akan secara tidak langsung tercermin dari perbaikan parameter pernapasan.
Kode SIKI: I.11023
Deskripsi : SIKI I.11023 adalah "Manajemen Nyeri". Intervensi ini mencakup tindakan komprehensif untuk mengatasi nyeri akut berat. Langkah-langkahnya meliputi: 1) Melakukan pengkajian nyeri komprehensif secara berkala menggunakan skala NRS, termasuk lokasi, karakter, faktor pencetus dan pereda. 2) Memberikan farmakoterapi analgetik sesuai kolaborasi/order dokter (seperti pemberian tramadol intravena dengan dosis titrasi) dan mengevaluasi efektivitas serta efek sampingnya (misalnya, depresi pernapasan, terutama penting pada pasien dengan kondisi pernapasan yang sudah terganggu). 3) Menerapkan intervensi non-farmakologis untuk mendukung terapi obat, seperti menciptakan lingkungan yang tenang, melakukan reposisi dengan hati-hati (misalnya, memiringkan ke sisi yang tidak sakit jika memungkinkan), dan memberikan penjelasan serta dukungan emosional untuk mengurangi ansietas yang memperberat persepsi nyeri. 4) Mengajarkan dan mendorong teknik pernapasan dalam yang terkontrol (misalnya, napas bibir mengerucut) untuk membantu relaksasi dan mencegah atelektasis, meski mungkin perlu dilakukan secara bertahap karena nyeri. 5) Memantau dampak intervensi nyeri terhadap status pernapasan dan tanda vital. Kontrol nyeri yang adekuat adalah kunci untuk memutus siklus vicious antara nyeri, hipoventilasi, dan gangguan pertukaran gas pada pasien trauma dada ini.
-
Article No. 24573 | 25 Mar 2026
Klinis : Seorang laki-laki, berusia 47 tahun, mengalami kecelakaan lalu lintas dalam sebuah kecelakaan tunggal di jalan raya. Menurut saksi mata, korban merupakan pengendara minibus, dan membawa mobilnya sendirian tanpa penumpang. Saat kejadian saksi melihat mobil tsb melaju cepat, dan mulai kehilangan kendali, oleng tanpa sebab kemudian belok kearah bahu jalan dan menabrak pohon yang ada di pinggir jalan. Saksi menduga supir mengantuk. Pada saat korban selesai dievakuasi dan dilanjutkan dengan pengkajian awal, terlihat memar pada dada korban, pernapasan di dada kanan dan kiri tidak simetris dan tampak paradoksal breathing di bagian dada kanan korban. Korban sadar dan mengeluh nyeri hebat di area dada, dan sesak napas. Dari hasil kajian didapatkan Respirasi Rate (RR) = 33 – 35 x/menit; TD = 120/90 mmHg; HR= 110x/menit; T=35,6oC. Kemudian korban diberikan tindakan stabilisasi A, B dan C serta diberikan obat analgetic, dan dievakuasi ke IGD RS X. Di IGD, Korban (klien) dilakukan pemeriksaan fisik lebih lanjut dan dilakukan pemeriksaan foto thorax. Dari hasil rontgent terlihat terdapat segmen yang mengalami fraktur, pada costa didada kanan, dan terlihat adanya hematothorax. Klien direncanakan menjalani operasi. Sambil dilakukan persiapan operasi klien tetap diobservasi ketat. Hasil pemeriksaan tanda-tanda vital satu jam pertama di IGD, RR= 28-30x/menit, paradoksal breathing dada kanan (+); nyeri skala 6/10 (NRS); HR = 118 - 120 x/menit; saturasi oksigen 95% dengan tambahan oksigen via NRM 8 L/menit; TD=130/90 mmHg. Pasien kemudian diberikan analgetik tramadol dosis inisial diberikan 100 mg, dilanjutkan 50 mg setiap 10-20 menit dalam 1 jam pertama. Hasil observasi setelah 4 jam di IGD, didapatkan hasil pemeriksaan sebagai berikut: pasien gelisah, RR = 33-35x/menit; saturasi 92% dengan NRM 10 L/menit; TD=140/88 mmHg; HR= 120x/menit; T=37oC. Hasil pemeriksaan AGD: pH darah: 7,30 Bikarbonat (HCO3): 30 mEq/L Tekanan parsial oksigen (PaO2): 78 mmHg Tekanan parsial karbon dioksida (PaCO2): 50 mmHg Saturasi oksigen (SaO2): 90% (FiO2 menggunakan NRM 8 – 10 L/menit = 80%).
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas dan Nyeri Akut terkait Fraktur Costa Multipel dan Hematothorax pasca Trauma Dada
Kode SDKI: D.0005
Deskripsi Singkat: Diagnosa Keperawatan "Gangguan Pertukaran Gas" didefinisikan sebagai kondisi dimana terjadi kelebihan atau kekurangan oksigenasi dan/atau eliminasi karbondioksida pada membran alveolus-kapiler. Pada kasus ini, gangguan pertukaran gas terjadi akibat kombinasi beberapa faktor patofisiologis. Fraktur multipel costa kanan (flail chest) menyebabkan pergerakan paradoksal dinding dada, mengganggu mekanika pernapasan yang normal sehingga ventilasi menjadi tidak adekuat. Hematothorax yang menyertai mengurangi ruang bagi paru untuk mengembang (kompresi), menurunkan kapasitas residu fungsional dan menyebabkan atelektasis. Kombinasi ini mengakibatkan ketidakseimbangan ventilasi-perfusi (V/Q mismatch). Data klinis yang mendukung adalah sesak napas, takipnea (RR 33-35x/menit), saturasi oksigen yang menurun (92-95%) meski dengan oksigen konsentrasi tinggi, dan hasil Analisis Gas Darah (AGD) yang menunjukkan hipoksemia (PaO2 78 mmHg) dan hiperkapnia respiratorik akut (PaCO2 50 mmHg) dengan pH asam (7.30), mengindikasikan gagal napas tipe II (hiperkapnik) yang belum terkompensasi secara metabolik (HCO3 30 mEq/L).
Kode SLKI: L.04013
Deskripsi : Luaran yang diharapkan (SLKI) adalah "Perbaikan Pertukaran Gas" dengan kriteria utama: frekuensi pernapasan dalam rentang normal, tidak ada sesak napas, saturasi oksigen dalam rentang normal, dan gas darah arteri dalam rentang normal. Pada konteks pasien ini, tujuan realistis dalam fase pra-operasi stabilisasi adalah mencapai perbaikan bertahap. Target luaran jangka pendek meliputi penurunan frekuensi pernapasan mendekati 24x/menit atau kurang, berkurangnya keluhan sesak, peningkatan saturasi oksigen menjadi ≥95% dengan dosis oksigen yang lebih rendah, dan perbaikan parameter AGD menuju nilai normal (PaO2 >80 mmHg, PaCO2 35-45 mmHg, pH 7.35-7.45). Pencapaian luaran ini dipersiapkan untuk menunjang kelancaran tindakan operasi. Intervensi keperawatan seperti pemberian oksigen, pemantauan ketat, serta persiapan dan asistensi untuk tindakan invasif seperti pemasangan WSD (Water Sealed Drainage) jika diperlukan, diarahkan untuk mencapai luaran ini.
Kode SIKI: I.08060
Deskripsi : Intervensi keperawatan "Manajemen Jalan Napas" adalah tindakan sistematis untuk mempertahankan patensi jalan napas dan mendukung ventilasi yang adekuat. Pada pasien trauma dada ini, implementasinya meliputi: 1) Memantau status pernapasan secara ketat (frekuensi, irama, kedalaman, penggunaan otot bantu, pergerakan dada paradoksal) dan saturasi oksigen secara terus menerus. 2) Mempertahankan pemberian oksigen sesuai order (NRM 8-10 L/menit) dan memastikan alat berfungsi baik. 3) Melakukan auskultasi bunyi napas secara berkala untuk mendeteksi adanya penurunan atau tidak adanya bunyi napas di area hematothorax. 4) Memposisikan pasien dalam posisi semi-Fowler atau duduk untuk memudahkan ekspansi dada dan meminimalkan tekanan isi abdomen pada diafragma. 5) Kolaborasi dalam pemberian analgesik yang adekuat (seperti tramadol) untuk mengontrol nyeri hebat, karena nyeri dapat membatasi pernapasan dalam dan batuk efektif, memperburuk atelektasis. 6) Mempersiapkan alat dan membantu prosedur emergensi seperti torakosentesis atau pemasangan WSD jika ada indikasi untuk mengeluarkan darah dari rongga pleura. 7) Memantau respons terhadap terapi dan siap melakukan resusitasi jika terjadi perburukan. Intervensi ini bersifat kolaboratif dan kritis dalam mencegah hipoksia jaringan yang dapat berakibat fatal.
Kondisi: Nyeri Akut terkait Fraktur Costa dan Trauma Jaringan Lunak Dada
Kode SDKI: D.0028
Deskripsi Singkat: Diagnosa Keperawatan "Nyeri Akut" didefinisikan sebagai pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, yang terjadi atau berlangsung sejak kurang dari 3 bulan. Pada pasien ini, nyeri akut bersifat berat dengan skala 6/10, disebabkan oleh fraktur tulang rusuk multipel, robekan otot interkostal, dan kemungkinan memar pada organ dalam. Nyeri dari fraktur costa sangat tajam dan diperberat oleh setiap gerakan pernapasan, batuk, atau perubahan posisi. Nyeri ini memiliki dampak signifikan secara fisiologis dan psikologis. Secara fisiologis, nyeri menyebabkan takipnea dangkal (breathing splinting) yang justru memperburuk ventilasi alveolar dan clearance sekret, berkontribusi pada gangguan pertukaran gas. Nyeri juga memicu respons stres sistemik yang ditandai dengan takikardia (HR 110-120x/menit) dan peningkatan tekanan darah. Secara psikologis, nyeri hebat menyebabkan kecemasan, ketidaknyamanan ekstrem, dan kegelisahan seperti yang terobservasi pada pasien. Kegelisahan ini dapat meningkatkan konsumsi oksigen dan memperburuk kondisi pernapasan. Oleh karena itu, manajemen nyeri yang efektif bukan hanya untuk kenyamanan, tetapi merupakan terapi penyelamatan untuk memperbaiki fungsi pernapasan.
Kode SLKI: L.03001
Deskripsi : Luaran yang diharapkan (SLKI) adalah "Kontrol Nyeri" dengan kriteria: nyeri berkurang atau hilang, pasien mampu menunjukkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri, dan tanda-tanda vital dalam rentang normal. Target spesifik untuk pasien ini adalah menurunkan skala nyeri dari 6/10 menjadi ≤3/10 dalam waktu 1-2 jam setelah pemberian analgesik, mengurangi takikardia dan takipnea yang dipicu nyeri, serta mengurangi ketegangan dan kegelisahan pasien. Pengukuran luaran dilakukan dengan menggunakan Numeric Rating Scale (NRS) secara berkala, observasi perilaku nyeri (wajai mengerut, posisi tubuh protektif), dan pemantauan tanda vital. Pencapaian kontrol nyeri yang adekuat akan terlihat dari kemampuan pasien untuk bernapas lebih dalam, berkurangnya distres pernapasan, dan partisipasi yang lebih baik dalam perawatan.
Kode SIKI: I.11012
Deskripsi : Intervensi keperawatan "Manajemen Nyeri" meliputi serangkaian tindakan untuk mencegah, mengontrol, atau mengurangi nyeri. Implementasinya pada kasus ini: 1) Melakukan pengkajian nyeri komprehensif secara berkala menggunakan skala NRS, termasuk lokasi, karakter, faktor pencetus, dan pereda. 2) Memberikan analgesik sesuai kolaborasi (seperti tramadol) tepat waktu, memantau efektivitas, dan mengobservasi efek samping seperti depresi pernapasan (risiko yang harus diwaspadai pada pasien dengan gangguan pertukaran gas). 3) Menerapkan intervensi nonfarmakologis seperti teknik relaksasi napas dalam (jika memungkinkan), distraksi, dan penciptaan lingkungan yang tenang. 4) Membantu pasien menemukan posisi yang nyaman yang tetap mendukung fungsi pernapasan, misalnya dengan menyangga lengan di sisi yang sakit. 5) Memberikan edukasi singkat kepada pasien tentang pentingnya melaporkan nyeri dan tidak menahannya karena dapat memperburuk kondisi pernapasan. 6) Melakukan kolaborasi dengan tim medis untuk regimen analgesik yang optimal, mungkin mempertimbangkan modalitas seperti analgesia epidural atau blok nervus interkostal untuk nyeri berat pasca trauma dada. 7) Memantau dan mendokumentasikan respons pasien terhadap intervensi yang diberikan. Manajemen nyeri yang proaktif sangat penting untuk memutus siklus nyeri-takipnea-hipoksia.