Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 24688 | 30 Mar 2026
Klinis : Seorang ibu (25 th) merasa tidak mampu merawat bayinya yang baru lahir. Ia merasa tidak memiliki ikatan batin dan sering membiarkan bayinya menangis lama
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Gangguan Ikatan antara Ibu dan Bayi
Kode SDKI: D.0105
Deskripsi Singkat: Risiko terjadinya gangguan dalam proses pembentukan hubungan emosional dan afektif yang saling menguntungkan antara ibu dan bayi.
Kode SLKI: L.14032
Deskripsi : Ibu mampu membentuk ikatan dengan bayi. Kriteria hasil: 1) Ibu mengungkapkan perasaan positif terhadap bayinya, 2) Ibu melakukan kontak kulit ke kulit dengan bayi, 3) Ibu menatap dan tersenyum pada bayinya, 4) Ibu menanggapi tangisan dan kebutuhan bayi dengan tepat, 5) Ibu menunjukkan perilaku merawat seperti memeluk, mengelus, dan berbicara dengan bayi.
Kode SIKI: I.14058
Deskripsi : Fasilitasi ikatan antara ibu dan bayi. Intervensi: 1) Kaji faktor-faktor yang menghambat ikatan (misalnya: kelelahan, kurang dukungan, persepsi negatif tentang bayi, riwayat depresi). 2) Anjurkan kontak kulit ke kulit (rawat gabung) sesering mungkin. 3) Ajarkan ibu untuk mengenali tanda-tanda dan kebutuhan bayi (seperti tanda lapar, rasa tidak nyaman, keinginan untuk digendong). 4) Bantu ibu untuk menafsirkan perilaku bayi sebagai upaya komunikasi, bukan sebagai gangguan. 5) Fasilitasi waktu tenang dan tidak terganggu bagi ibu dan bayi untuk berinteraksi. 6) Ajarkan dan dorong keterlibatan ayah atau anggota keluarga lain dalam perawatan bayi untuk memberikan dukungan dan mengurangi beban ibu. 7) Ajarkan teknik menenangkan bayi (seperti menggendong, mengayun, membedong, menyusui). 8) Berikan pujian dan dukungan positif atas upaya yang telah dilakukan ibu, sekecil apapun. 9) Kolaborasi dengan tenaga kesehatan jiwa jika terdapat tanda-tanda depresi pascapersalinan yang signifikan. 10) Rujuk ke kelompok pendukung ibu menyusui atau parenting jika diperlukan.
-
Article No. 24689 | 30 Mar 2026
Klinis : Seorang ibu (25 th) merasa tidak mampu merawat bayinya yang baru lahir. Ia merasa tidak memiliki ikatan batin dan sering membiarkan bayinya menangis lama
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Gangguan Ikatan antara Ibu dan Bayi
Kode SDKI: D.0096
Deskripsi Singkat: Risiko gangguan pada proses pembentukan hubungan emosional dan afektif yang saling menguntungkan antara ibu dan bayi, yang dapat mengganggu pemenuhan kebutuhan perkembangan dan keamanan bayi serta kesejahteraan ibu.
Kode SLKI: L.03130
Deskripsi : Ibu mampu membentuk ikatan (bonding) dengan bayinya. Kriteria hasil: 1) Ibu menunjukkan perilaku positif terhadap bayi (memeluk, menatap, mengelus, berbicara). 2) Ibu menanggapi isyarat bayi (seperti menangis, gelisah) dengan tepat dan cepat. 3) Ibu menunjukkan pemahaman tentang kebutuhan dasar bayi. 4) Ibu melaporkan perasaan keterikatan dan kasih sayang terhadap bayi. 5) Ibu terlibat dalam perawatan bayi secara konsisten.
Kode SIKI: I.01257
Deskripsi : Intervensi untuk meningkatkan ikatan antara ibu dan bayi. Intervensi keperawatan meliputi: 1) Fasilitasi kontak kulit ke kulit (kangaroo mother care) sesegera dan sesering mungkin, yang terbukti meningkatkan ikatan, menstabilkan tanda-tanda vital bayi, dan meningkatkan produksi ASI. 2) Ajarkan dan dorong ibu untuk mengenali dan menanggapi isyarat bayi (seperti tangisan, gerakan) sebagai bentuk komunikasi, sehingga ibu merasa lebih kompeten dan terhubung. 3) Bantu ibu mengidentifikasi dan mengungkapkan perasaannya (kecemasan, ketakutan, kekecewaan) tentang peran barunya tanpa menghakimi, untuk mengurangi beban emosional. 4) Libatkan ibu dalam aktivitas perawatan bayi dengan panduan (memandikan, mengganti popok, menyusui), berikan pujian atas usaha yang dilakukan untuk meningkatkan kepercayaan diri. 5) Anjurkan dan fasilitasi komunikasi yang terbuka dengan pasangan atau keluarga untuk mendapatkan dukungan praktis dan emosional. 6) Observasi dan dokumentasi interaksi ibu-bayi (kontak mata, sentuhan, respons terhadap tangisan) untuk menilai perkembangan ikatan. 7) Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain seperti dokter, psikolog, atau konselor laktasi jika dicurigai adanya depresi pascapersalinan yang menjadi faktor penghambat ikatan. 8) Berikan pendidikan kesehatan tentang pentingnya ikatan untuk perkembangan emosional dan kognitif bayi jangka panjang. 9) Kurangi stimulasi berlebihan dari lingkungan untuk menciptakan momen tenang antara ibu dan bayi. 10) Dukung pemberian ASI dengan membantu posisi yang nyaman, namun juga berikan dukungan tanpa tekanan jika ibu memilih tidak menyusui, agar proses menyusui tidak menjadi sumber stres tambahan. Intervensi ini bertujuan menciptakan pengalaman positif bersama bayi, meningkatkan kepekaan ibu, dan membangun kepercayaan diri dalam peran barunya.
-
Article No. 24690 | 30 Mar 2026
Klinis : Seorang ibu (25 th) merasa tidak mampu merawat bayinya yang baru lahir. Ia merasa tidak memiliki ikatan batin dan sering membiarkan bayinya menangis lama
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Gangguan Ikatan antara Ibu dan Bayi
Kode SDKI: D.0068
Deskripsi Singkat: Risiko terjadinya gangguan dalam membentuk dan mempertahankan hubungan saling percaya dan saling ketergantungan yang sehat antara ibu dan bayinya.
Kode SLKI: L.03139
Deskripsi : Ibu mampu membentuk ikatan dengan bayinya. Kriteria evaluasi: 1) Ibu menunjukkan perilaku positif terhadap bayi (memeluk, menatap, mengajak bicara). 2) Ibu mengenali dan merespons isyarat bayi (seperti tangisan, gerakan). 3) Ibu menunjukkan perasaan sayang dan kepemilikan terhadap bayi. 4) Ibu melakukan kontak kulit ke kulit (skin to skin) dengan bayi. 5) Ibu terlibat dalam perawatan bayi (memandikan, menyusui, mengganti popok).
Kode SIKI: I.01243
Deskripsi : Fasilitasi Ikatan antara Ibu dan Bayi. Intervensi keperawatan: 1) Kaji faktor-faktor yang menghambat ikatan (misalnya: kelelahan ibu, kurang dukungan, persepsi negatif tentang bayi, pengalaman persalinan yang traumatis, atau riwayat kesehatan mental). 2) Anjurkan dan bantu ibu untuk melakukan kontak kulit ke kulit (skin to skin) dengan bayi sesering mungkin, karena ini merangsang pelepasan hormon oksitosin yang meningkatkan ikatan dan rasa tenang. 3) Ajarkan ibu untuk mengenali dan menanggapi isyarat bayi (misalnya, tangisan sebagai tanda lapar, tidak nyaman, atau ingin dipeluk). Berikan contoh respons yang tepat. 4) Fasilitasi lingkungan yang tenang dan privasi untuk mendukung interaksi ibu dan bayi tanpa gangguan yang tidak perlu. 5) Bantu ibu dalam melakukan perawatan bayi langsung dengan memberikan panduan dan dukungan, bukan mengambil alih, untuk meningkatkan rasa percaya diri. 6) Dorong ibu untuk berkomunikasi dengan bayi melalui suara, sentuhan, dan tatapan. 7) Libatkan anggota keluarga lain (suami, orang tua) untuk memberikan dukungan emosional dan praktis, sehingga mengurangi beban dan stres ibu. 8) Lakukan pendekatan empati, dengarkan keluhan dan kekhawatiran ibu tanpa menghakimi. 9) Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain seperti konselor laktasi, psikolog, atau dokter jika dicurigai adanya depresi pascapersalinan atau masalah kesehatan mental lainnya yang signifikan. 10) Berikan pendidikan kesehatan tentang pentingnya ikatan dini (early bonding) bagi perkembangan emosional dan kognitif bayi serta bagi kesehatan mental ibu. 11) Berikan pujian dan penguatan positif atas setiap usaha yang dilakukan ibu dalam merawat dan berinteraksi dengan bayinya.
-
Article No. 24691 | 30 Mar 2026
Klinis : Tentukan diagnosa keperawatan, lalu susunlah Luaran dan Intervensi Keperawatan sesuai dengan 3S. Seorang perempuan (35 th) mengeluh mual dan muntah setiap kali makan. Pasien kehilangan berat badan 4 kg dalam sebulan terakhir. Porsi makan hanya habis 2 sendok. Membran mukosa tampak pucat.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: B.1.1
Deskripsi Singkat: Diagnosa keperawatan ini ditegakkan berdasarkan data klinis pasien yang menunjukkan asupan nutrisi yang tidak adekuat, ditandai dengan keluhan mual dan muntah setiap kali makan, porsi makan yang hanya habis 2 sendok, penurunan berat badan yang signifikan (4 kg dalam sebulan), dan tanda klinis membran mukosa yang pucat. Kondisi ini mencerminkan keadaan di mana asupan nutrisi tidak mampu memenuhi kebutuhan metabolik tubuh untuk pemeliharaan jaringan, pertumbuhan, aktivitas, dan kesehatan secara keseluruhan. Mual dan muntah yang persisten menjadi faktor penghambat utama dalam proses ingest, digest, dan absorbsi zat gizi. Penurunan berat badan yang cepat dan tidak diinginkan merupakan indikator objektif yang kuat dari defisit kalori dan protein. Pucat pada membran mukosa dapat mengindikasikan anemia atau penurunan perfusi jaringan, yang mungkin terkait dengan defisiensi nutrisi seperti zat besi, vitamin B12, atau asam folat. Diagnosa ini berfokus pada kerentanan pasien terhadap konsekuensi negatif dari kekurangan nutrisi, sehingga memerlukan intervensi untuk memodifikasi faktor risiko, meningkatkan asupan, dan memantau status nutrisi.
Kode SLKI: L.1.1.1
Deskripsi : Luaran yang diharapkan adalah "Status Nutrisi Meningkat". Pencapaian luaran ini ditandai dengan beberapa kriteria hasil yang spesifik dan terukur. Pertama, pasien diharapkan dapat meningkatkan asupan makanan dan cairan secara bertahap, dengan target porsi makan meningkat dari hanya 2 sendok menjadi setengah piring atau lebih sesuai toleransi, dan frekuensi mual-muntah berkurang signifikan. Kedua, berat badan akan stabil dan kemudian mengalami peningkatan bertahap menuju berat badan ideal, dengan monitoring berat badan mingguan. Ketiga, tanda-tanda klinis defisiensi nutrisi membaik, seperti membran mukosa tidak lagi tampak pucat, kulit menunjukkan turgor yang baik, dan pasien melaporkan peningkatan tingkat energi serta penurunan kelelahan. Keempat, pasien menunjukkan pengetahuan yang memadai mengenai pemilihan makanan yang bergizi, teknik mengatasi mual (seperti makan porsi kecil tapi sering, menghindari makanan berlemak tinggi), dan pentingnya nutrisi untuk pemulihan. Pencapaian luaran ini bersifat progresif, dimulai dari pencegahan penurunan berat badan lebih lanjut, diikuti oleh stabilisasi, dan akhirnya peningkatan status nutrisi secara keseluruhan. Pemantauan dilakukan melalui catatan asupan makanan, skala mual (misalnya menggunakan Numeric Rating Scale), pengukuran berat badan berkala, dan observasi klinis.
Kode SIKI: I.1.1.1
Deskripsi : Intervensi keperawatan utama adalah "Manajemen Nutrisi". Intervensi ini dilaksanakan melalui pendekatan 3S (Sistemik, Saintifik, dan Sinergis). Secara **Sistemik**, perawat melakukan pengkajian komprehensif yang meliputi riwayat diet, pola mual-muntah, faktor pencetus, pemeriksaan antropometri (berat badan, tinggi badan, Indeks Massa Tubuh), pemeriksaan fisik (turgor kulit, membran mukosa, edema), dan data penunjang seperti laboratorium (albumin, hemoglobin). Perawat berkolaborasi dengan dokter untuk mengevaluasi penyebab medis dari mual dan muntah (misalnya gangguan lambung, faktor psikologis) dan dengan ahli gizi untuk menyusun rencana diet individu yang sesuai dengan kondisi dan toleransi pasien, mungkin berupa diet lunak, tinggi kalori tinggi protein (TKTP), dalam porsi kecil dan frekuensi sering. Secara **Saintifik**, intervensi didasarkan pada bukti ilmiah. Perawat memberikan edukasi tentang teknik manajemen mual non-farmakologis, seperti makan dalam keadaan duduk tegak, menghindari bau menyengat, mengonsumsi makanan kering (biskuit) di pagi hari, serta relaksasi napas dalam. Perawat memodifikasi lingkungan makan agar nyaman dan bebas bau. Pemberian makanan dan suplemen nutrisi oral (jika diresepkan) dimonitor responsnya. Asupan dan output cairan dicatat dengan cermat untuk mencegah dehidrasi. Skala mual dan catatan asupan harian digunakan sebagai alat evaluasi objektif. Secara **Sinergis**, perawat berperan sebagai koordinator dan fasilitator. Kerja sama dengan ahli gizi sangat penting untuk menyusun menu yang menarik dan sesuai selera pasien. Kolaborasi dengan dokter diperlukan untuk terapi farmakologis antiemetik jika diperlukan. Perawat juga melibatkan keluarga untuk memberikan dukungan psikologis, menyiapkan makanan sesuai anjuran, dan menciptakan suasana makan yang menyenangkan. Dukungan emosional diberikan kepada pasien untuk mengurangi kecemasan yang dapat memperburuk mual. Intervensi ini dilakukan secara berkelanjutan, dievaluasi setiap hari, dan dimodifikasi berdasarkan respons pasien untuk mencapai luaran yang diharapkan.
-
Article No. 24692 | 30 Mar 2026
Klinis : Seorang laki-laki (50 th) baru pulang dari RS setelah serangan jantung. Istri pasien sangat protektif, melarang pasien bergerak sama sekali, dan tampak sangat tegang.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Ansietas (Kecemasan) pada Keluarga
Kode SDKI: 0008
Deskripsi Singkat: Perasaan tidak nyaman atau ancaman yang samar-samar atau takut yang sumbernya seringkali tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu; perasaan gelisah yang disebabkan oleh antisipasi bahaya. Ini adalah sinyal peringatan adanya ancaman yang nyata atau imajiner, memungkinkan individu untuk mengambil tindakan untuk menghadapi ancaman.
Kode SLKI: 1400
Deskripsi : Keluarga mengungkapkan penurunan ansietas. Indikator: 1401. Mengidentifikasi faktor penyebab ansietas. 1402. Mengungkapkan perasaan ansietas. 1403. Melaporkan penurunan gejala ansietas (misalnya, gelisah, tegang, takut). 1404. Menggunakan strategi koping yang efektif untuk mengelola ansietas. 1405. Menggunakan sumber dukungan yang tersedia. 1406. Mempertahankan pola tidur dan istirahat yang adekuat. 1407. Mempertahankan pola nutrisi dan hidrasi yang adekuat. 1408. Mempertahankan aktivitas dan mobilitas sesuai kemampuan. 1409. Melakukan perawatan diri sesuai kemampuan. 1410. Mengikuti rencana terapi yang ditetapkan.
Kode SIKI: 4230
Deskripsi : Manajemen Ansietas. Tindakan: 42301. Kaji tingkat ansietas (ringan, sedang, berat, panik). 42302. Identifikasi faktor penyebab ansietas. 42303. Dengarkan dengan penuh perhatian (active listening). 42304. Hadir untuk mendampingi keluarga. 42305. Gunakan komunikasi terapeutik. 42306. Berikan informasi akurat tentang kondisi pasien, prosedur, dan rencana perawatan. 42307. Jelaskan semua prosedur sebelum dilakukan. 42308. Bantu keluarga mengidentifikasi mekanisme koping yang digunakan. 42309. Ajarkan teknik relaksasi (napas dalam, distraksi, imajinasi terbimbing). 42310. Libatkan keluarga dalam perawatan pasien sesuai kemampuan. 42311. Anjurkan keluarga untuk menjaga kebutuhan dasarnya (tidur, nutrisi). 42312. Rujuk kepada konselor atau tenaga profesional lain jika diperlukan. 42313. Kolaborasi pemberian terapi farmakologi jika diperlukan.
Kondisi: Risiko Ketidakefektifan Manajemen Regimen Terapeutik Keluarga
Kode SDKI: 0009
Deskripsi Singkat: Risiko dimana sebuah keluarga mengalami atau berisiko mengalami kesulitan dalam mengintegrasikan program pengobatan dan pencegahan penyakit ke dalam aktivitas sehari-hari sehingga tidak dapat mencapai tujuan kesehatan.
Kode SLKI: 1800
Deskripsi : Keluarga mencapai manajemen regimen terapeutik yang efektif. Indikator: 1801. Mengungkapkan pemahaman tentang regimen terapeutik. 1802. Mengungkapkan kesediaan untuk mengelola regimen terapeutik. 1803. Mendemonstrasikan keterampilan dalam melaksanakan perawatan. 1804. Memodifikasi lingkungan untuk mendukung pelaksanaan regimen terapeutik. 1805. Memantau kemajuan pelaksanaan regimen terapeutik. 1806. Memanfaatkan sumber daya yang tersedia. 1807. Memenuhi kebutuhan psikososial selama melaksanakan regimen terapeutik. 1808. Meminimalkan faktor penghambat pelaksanaan regimen terapeutik. 1809. Mencapai tujuan kesehatan yang diharapkan.
Kode SIKI: 4370
Deskripsi : Fasilitasi Manajemen Regimen Terapeutik Keluarga. Tindakan: 43701. Kaji pengetahuan keluarga tentang regimen terapeutik. 43702. Kaji kesiapan keluarga untuk belajar. 43703. Kaji hambatan dalam pelaksanaan regimen terapeutik (misalnya, kecemasan berlebihan, ketidaktahuan). 43704. Diskusikan dengan keluarga tentang regimen terapeutik yang harus dijalankan. 43705. Libatkan keluarga dalam penyusunan rencana perawatan. 43706. Ajarkan keluarga tentang perawatan yang harus dilakukan (aktivitas, diet, obat-obatan, tanda bahaya). 43707. Berikan kesempatan pada keluarga untuk mendemonstrasikan kembali keterampilan perawatan. 43708. Bantu keluarga mengidentifikasi sumber daya yang dimiliki. 43709. Bantu keluarga memodifikasi lingkungan rumah. 43710. Berikan penguatan positif atas upaya yang dilakukan keluarga. 43711. Jadwalkan kunjungan tindak lanjut atau konsultasi.
Kondisi: Ketidakberdayaan
Kode SDKI: 0010
Deskripsi Singkat: Persepsi individu bahwa tindakannya sendiri tidak akan berpengaruh secara signifikan terhadap hasil suatu peristiwa; keadaan merasa tidak berdaya yang ditandai dengan perasaan kehilangan kendali atas situasi saat ini atau masa depan.
Kode SLKI: 1500
Deskripsi : Pasien mencapai pemberdayaan diri. Indikator: 1501. Mengidentifikasi area yang dapat dikendalikan. 1502. Mengungkapkan perasaan memiliki kendali. 1503. Membuat pilihan terkait perawatan kesehatannya. 1504. Berpartisipasi dalam perawatan diri sesuai kemampuan. 1505. Menetapkan tujuan yang realistis. 1506. Memanfaatkan sumber dukungan yang tersedia. 1507. Mengungkapkan harapan untuk masa depan. 1508. Melaporkan peningkatan kepuasan terhadap kehidupan.
Kode SIKI: 4260
Deskripsi : Peningkatan Pemberdayaan Diri. Tindakan: 42601. Kaji persepsi pasien tentang kontrol terhadap situasi. 42602. Identifikasi area yang dapat dikendalikan oleh pasien. 42603. Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaan dan kekhawatiran. 42604. Bantu pasien mengidentifikasi kekuatan dan kemampuan yang dimiliki. 42605. Libatkan pasien dalam pengambilan keputusan tentang perawatannya. 42606. Bantu pasien menetapkan tujuan jangka pendek yang realistis. 42607. Berikan pujian dan penguatan atas partisipasi dan pencapaian pasien. 42608. Ajarkan teknik pemecahan masalah. 42609. Fasilitasi pasien untuk melakukan aktivitas perawatan diri secara bertahap sesuai toleransi. 42610. Libatkan keluarga untuk mendukung otonomi pasien. 42611. Berikan informasi tentang kelompok dukungan (support group) jika tersedia.
-
Article No. 24693 | 30 Mar 2026
Klinis : Tentukan diagnosa keperawatan, lalu susunlah Luaran dan Intervensi Keperawatan sesuai dengan 3S. Seorang balita (3 th) tidak mau makan dan hanya mau minum susu. BB berada di bawah garis merah pada KMS. Anak tampak sangat kurus (wasting).
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: B.1.1
Deskripsi Singkat: Gangguan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh didefinisikan sebagai suatu kondisi di mana asupan nutrisi tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh. Pada kasus balita ini, kondisi ini dimanifestasikan dengan penolakan untuk makan makanan padat dan ketergantungan hanya pada susu, yang mengakibatkan berat badan di bawah garis merah pada KMS (Kartu Menuju Sehat) dan penampakan sangat kurus (wasting). Wasting adalah indikator akut malnutrisi yang mencerminkan penurunan berat badan yang signifikan terhadap tinggi badan, seringkali akibat asupan makanan yang tidak adekuat atau penyakit infeksi. Balita usia 3 tahun berada dalam periode kritis pertumbuhan dan perkembangan yang membutuhkan variasi nutrisi dari makanan padat. Ketergantungan eksklusif pada susu tidak dapat menyediakan semua zat gizi makro (seperti protein dan karbohidrat kompleks) dan mikro (seperti zat besi, seng, vitamin A) dalam jumlah yang cukup untuk mendukung pertumbuhan linear, penambahan massa otot, dan fungsi sistem imun. Defisit nutrisi ini berisiko menyebabkan gangguan perkembangan kognitif dan motorik, meningkatkan kerentanan terhadap infeksi, dan dalam jangka panjang dapat menyebabkan stunting. Diagnosa ini menekankan pada ketidakseimbangan antara asupan dan kebutuhan, dengan faktor penyebab yang perlu dieksplorasi lebih lanjut, seperti kebiasaan pemberian makan yang tidak tepat, masalah oral-motor, atau faktor psikososial.
Kode SLKI: L.1.1.1.1
Deskripsi : Status Nutrisi Meningkat. Luaran yang diharapkan dari intervensi keperawatan adalah terjadinya peningkatan status nutrisi pada balita tersebut. Peningkatan ini diukur melalui beberapa indikator kunci yang harus dimonitor secara berkala. Pertama, peningkatan berat badan sesuai dengan kurva pertumbuhan yang diharapkan untuk usianya, dengan target keluar dari zona "di bawah garis merah" pada KMS dan mendekati garis normal. Kedua, perubahan komposisi tubuh dimana tanda-tanda wasting (sangat kurus) berkurang, ditandai dengan pengisian massa otot yang terlihat di lengan, pantat, dan wajah, serta penurunan prominence tulang. Ketiga, peningkatan asupan nutrisi yang adekuat dari berbagai sumber makanan, tidak hanya susu. Ini berarti balita mulai menerima dan mengonsumsi makanan padat yang kaya energi, protein, lemak sehat, vitamin, dan mineral. Keempat, adanya peningkatan energi dan partisipasi dalam aktivitas bermain yang sesuai usia, yang menunjukkan bahwa kalori yang dikonsumsi telah digunakan untuk aktivitas, bukan hanya untuk bertahan hidup. Pencapaian luaran ini bersifat bertahap dan memerlukan waktu, mengikuti prinsip catch-up growth. Pemantauan dilakukan dengan penimbangan berat badan mingguan, pengukuran lingkar lengan atas (LILA), dan observasi pola makan serta aktivitas harian.
Kode SIKI: I.1.1.1.1
Deskripsi : Manajemen Nutrisi. Intervensi keperawatan utama untuk menangani kondisi ini adalah Manajemen Nutrisi, yang dilaksanakan melalui pendekatan 3S (Sistemik, Saintifik, dan Sinergis). Secara **Sistemik**, perawat melakukan pengkajian komprehensif yang meliputi riwayat pemberian makan sejak bayi, pola makan saat ini, riwayat penyakit, pemeriksaan antropometri (BB, TB, LILA), dan pemeriksaan fisik tanda-tanda malnutrisi. Perawat juga mengkaji dinamika keluarga, termasuk pengetahuan orang tua tentang gizi balita dan praktik pemberian makan. Intervensi dirancang sebagai sebuah rencana terstruktur yang melibatkan keluarga sebagai sistem pendukung utama. Secara **Saintifik**, intervensi didasarkan pada bukti ilmiah. Perawat memberikan edukasi kepada orang tua tentang pentingnya makanan padat dan bahaya ketergantungan hanya pada susu. Edukasi mencakup pemilihan makanan tinggi kalori dan protein (seperti hati ayam, telur, kacang hijau yang dihaluskan, alpukat) serta teknik penyajian yang menarik. Perawat dapat menerapkan prinsip *responsive feeding*, yaitu mendorong makan dengan cara yang positif, tanpa paksaan, dan memperhatikan sinyal lapar-kenyang anak. Perawat juga mengajarkan orang tua untuk membuat catatan harian asupan makanan dan memantau berat badan. Jika diperlukan, perawat berkolaborasi dengan ahli gizi untuk penyusunan menu dan dokter untuk evaluasi medis dan pemberian suplementasi vitamin/mineral (seperti zinc, zat besi, vitamin A). Secara **Sinergis**, perawat berkolaborasi dengan tim kesehatan lain (dokter, ahli gizi) dan memberdayakan keluarga. Perawat melatih orang tua untuk menjadi *agent of change* dalam pola makan anak, menciptakan lingkungan makan yang menyenangkan, dan konsisten dalam menerapkan jadwal makan utama dan selingan. Dukungan juga dapat melibatkan kader posyandu untuk pemantauan rutin di komunitas. Intervensi ini bersifat holistik, berfokus tidak hanya pada anak sebagai individu tetapi juga pada keluarga sebagai unit yang memegang kunci perubahan perilaku nutrisi.
-
Article No. 24694 | 30 Mar 2026
Klinis : Tentukan diagnosa keperawatan, lalu susunlah Luaran dan Intervensi Keperawatan sesuai dengan 3S. Seorang balita (3 th) tidak mau makan dan hanya mau minum susu. BB berada di bawah garis merah pada KMS. Anak tampak sangat kurus (wasting).
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Gangguan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: D.0017
Deskripsi Singkat: Diagnosa keperawatan ini ditegakkan pada balita (3 tahun) yang mengalami penolakan untuk mengonsumsi makanan padat dan hanya bergantung pada asupan susu, yang ditandai dengan berat badan (BB) berada di bawah garis merah pada Kartu Menuju Sehat (KMS) dan penampakan fisik yang sangat kurus (wasting). Kondisi ini mencerminkan keadaan di mana asupan nutrisi tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh, pertumbuhan, dan perkembangan. Faktor penyebabnya multifaktorial, termasuk perilaku makan yang tidak tepat (hanya mau minum susu), kemungkinan masalah psikososial antara anak dan pengasuh, serta kurangnya variasi dan tekstur makanan yang sesuai usia. Ketergantungan pada susu saja berisiko menyebabkan defisiensi mikronutrien penting seperti zat besi, zinc, dan vitamin, yang justru sangat krusial untuk pertumbuhan dan perkembangan otak. Berat badan di bawah garis merah dan wasting merupakan indikator objektif malnutrisi akut yang serius, yang jika tidak ditangani dapat berlanjut menjadi stunting, gangguan perkembangan kognitif, penurunan fungsi imun, dan meningkatkan morbiditas. Diagnosa ini menekankan pada "risiko" yang telah termanifestasi menjadi masalah aktual, sehingga memerlukan intervensi segera untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.
Kode SLKI: L.03101
Deskripsi : Luaran yang diharapkan (SLKI) untuk kondisi ini adalah "Status Nutrisi Meningkat". Deskripsi luaran ini mencakup pencapaian serangkaian indikator yang terukur dan progresif. Target utamanya adalah perbaikan antropometri, yaitu berat badan naik dan mendekati atau mencapai garis normal pada KMS sesuai usia, serta berkurangnya tanda-tanda wasting (kekurusan). Selain parameter fisik, luaran juga mencakup perubahan perilaku dan kemampuan fungsional. Indikator kunci meliputi: peningkatan nafsu makan dan keinginan untuk mencoba makanan baru; peningkatan asupan makanan padat dengan variasi jenis dan tekstur yang sesuai usia (nasi lembek, lauk hewani dan nabati, sayur, buah); penurunan ketergantungan pada susu sebagai sumber kalori utama; peningkatan energi dan partisipasi dalam aktivitas bermain yang sesuai usia; serta perbaikan tanda-tanda klinis seperti kulit yang lebih kenyal, mata tidak cekung, dan mukosa bibir yang lembab. Pencapaian luaran ini bersifat bertahap, dimulai dari peningkatan frekuensi dan porsi makan, kemudian diikuti oleh perbaikan berat badan. Pemantauan berkala menggunakan KMS adalah alat evaluasi objektif yang utama. Keberhasilan luaran ini sangat bergantung pada intervensi keperawatan dan kolaborasi dengan keluarga untuk menciptakan lingkungan makan yang positif dan memadai.
Kode SIKI: I.11295
Deskripsi : Intervensi keperawatan utama (SIKI) yang direkomendasikan adalah "Manajemen Nutrisi". Intervensi ini merupakan tindakan komprehensif yang terstruktur untuk mengatasi masalah nutrisi kurang. Pelaksanaannya mengikuti prinsip 3S (Sistemik, Saintifik, dan Sinergis). Secara **Sistemik**, perawat melakukan pengkajian menyeluruh meliputi riwayat diet (jenis, frekuensi, porsi, kebiasaan hanya minum susu), riwayat pertumbuhan, pemeriksaan fisik tanda malnutrisi (antropometri, tanda dehidrasi, wasting), dan aspek psikososial (interaksi anak-pengasuh saat makan, lingkungan rumah). Perawat kemudian merencanakan intervensi yang terintegrasi, melibatkan keluarga sebagai mitra utama. Secara **Saintifik**, intervensi didasarkan pada evidence-based practice. Tindakan spesifik meliputi: 1) Edukasi orang tua tentang pentingnya nutrisi seimbang dan bahaya ketergantungan susu, serta penyusunan jadwal makan utama dan selingan yang teratur. 2) Terapi nutrisi dengan menyusun rencana pemberian makanan padat kaya energi dan protein secara bertahap, mungkin dengan suplementasi nutrisi tambahan sesuai anjuran tenaga gizi atau dokter. 3) Modifikasi perilaku makan melalui teknik pemberian makan yang responsif (tidak memaksa), menyajikan makanan dalam porsi kecil dan menarik, serta menciptakan suasana makan yang menyenangkan. 4) Stimulasi untuk meningkatkan nafsu makan, seperti aktivitas fisik ringan sebelum makan. 5) Pemantauan ketat asupan, output, dan berat badan secara berkala. Secara **Sinergis**, perawat berkolaborasi dengan ahli gizi untuk penyusunan menu, dengan dokter untuk evaluasi medis dan pemberian suplemen (seperti zinc atau vitamin A), serta dengan psikolog atau terapis okupasi jika terdapat gangguan sensori atau perilaku makan yang kompleks. Pendekatan sinergis ini memastikan penanganan yang holistik dari aspek medis, nutrisi, dan psikososial untuk mencapai luaran yang optimal.
-
Article No. 24695 | 30 Mar 2026
Klinis : Tentukan diagnosa keperawatan, lalu susunlah Luaran dan Intervensi Keperawatan sesuai dengan 3S. Seorang balita (3 th) tidak mau makan dan hanya mau minum susu. BB berada di bawah garis merah pada KMS. Anak tampak sangat kurus (wasting).
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: D.0004
Deskripsi Singkat: Gangguan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh adalah keadaan di mana asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh, yang dapat mengakibatkan penurunan berat badan, pertumbuhan terhambat, dan penurunan fungsi sistem tubuh. Pada balita, kondisi ini sering dikaitkan dengan pola makan yang tidak adekuat, seperti ketergantungan pada susu formula atau ASI tanpa MPASI yang cukup, pilih-pilih makanan, atau masalah pemberian makan. Dalam kasus ini, balita hanya mau minum susu dan menolak makanan padat, menyebabkan berat badan di bawah garis merah KMS dan tampak sangat kurus (wasting). Wasting menunjukkan penurunan berat badan yang cepat atau akut terhadap tinggi badan, yang merupakan tanda malnutrisi akut yang serius. Faktor penyebabnya bisa meliputi perilaku makan yang bermasalah, kurangnya variasi makanan, tekanan psikologis, atau masalah kesehatan dasar seperti infeksi. Dampaknya mencakup gangguan pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif yang terhambat, sistem imun yang lemah, dan peningkatan risiko morbiditas. Diagnosa ini memerlukan intervensi keperawatan untuk meningkatkan asupan nutrisi, memodifikasi perilaku makan, dan memantau pertumbuhan. Penilaian meliputi pengukuran antropometri (BB, TB, lingkar lengan), riwayat diet, tanda klinis (seperti kulit kering, rambut rontok), dan faktor lingkungan. Tujuannya adalah mencapai status nutrisi yang optimal sesuai usia.
Kode SLKI: L.03101
Deskripsi : Luaran Keperawatan: Status Nutrisi membaik. Deskripsi: Luaran ini mengacu pada perbaikan dalam asupan nutrisi dan indikator status gizi pada balita. Targetnya adalah peningkatan berat badan sesuai kurva pertumbuhan, peningkatan nafsu makan, dan penerimaan makanan yang beragam. Indikator luaran mencakup: 1) Peningkatan berat badan menuju garis normal pada KMS, dengan target berat badan naik secara progresif dan keluar dari zona bawah garis merah. 2) Asupan nutrisi yang adekuat, ditandai dengan balita mulai menerima makanan padat atau semi-padat selain susu, dengan porsi dan frekuensi sesuai usia. 3) Penurunan tanda klinis wasting, seperti pengisian jaringan lemak di bawah kulit (subkutan) yang membaik, kulit tidak lagi kendur, dan energi meningkat. 4) Perilaku makan yang positif, seperti anak menunjukkan ketertarikan pada makanan, tidak menolak makan, dan orang tua melaporkan peningkatan dalam pola makan. 5) Parameter antropometri lain (seperti lingkar lengan atas) menunjukkan perbaikan. Pencapaian luaran ini memerlukan waktu, tergantung keparahan malnutrisi dan respons anak. Pemantauan berkala dengan KMS sangat penting untuk mengevaluasi tren pertumbuhan. Selain itu, luaran juga mencakup peningkatan pengetahuan orang tua tentang nutrisi yang tepat untuk balita. Dengan intervensi yang konsisten, diharapkan status nutrisi balita mencapai kisaran normal untuk usianya, mendukung pertumbuhan dan perkembangan optimal.
Kode SIKI: I.05239
Deskripsi : Intervensi Keperawatan: Manajemen Nutrisi. Deskripsi: Intervensi ini melibatkan serangkaian tindakan untuk memastikan asupan nutrisi yang adekuat dan mengatasi hambatan makan pada balita. Dilakukan dengan pendekatan 3S (Struktural, Sensitif, Stimulasi). 1) Struktural: Fokus pada penyediaan lingkungan dan sumber daya. Tindakan meliputi: a) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menyusun rencana diet tinggi kalori dan protein, dengan makanan yang disukai anak. b) Menyediakan makanan dalam porsi kecil namun sering (misalnya, 5-6 kali sehari) untuk menghindari kelebihan beban lambung. c) Memastikan makanan memiliki tekstur yang sesuai usia (lunak, menarik) dan suhu yang nyaman. d) Mengatur jadwal makan yang teratur, membatasi pemberian susu sebelum waktu makan utama agar anak lapar. e) Memantau berat badan secara rutin menggunakan KMS dan mencatat perkembangannya. 2) Sensitif: Fokus pada respons emosional dan dukungan psikologis. Tindakan meliputi: a) Memberikan edukasi kepada orang tua tentang pentingnya nutrisi dan cara menghadapi anak yang sulit makan tanpa paksaan. b) Menciptakan suasana makan yang menyenangkan, tanpa distraksi (seperti TV), dan dengan interaksi positif. c) Memberikan pujian saat anak mencoba makanan baru. d) Mendukung orang tua dalam mengelola stres terkait pola makan anak. e) Melibatkan orang tua dalam proses pemberian makan untuk meningkatkan ikatan. 3) Stimulasi: Fokus pada pengembangan perilaku makan yang tepat. Tindakan meliputi: a) Stimulasi nafsu makan dengan variasi makanan warna-warni dan bentuk menarik. b) Mengajak anak terlibat dalam menyiapkan makanan (misalnya, memilih buah) untuk meningkatkan ketertarikan. c) Memberikan contoh makan yang baik dari anggota keluarga lain. d) Menggunakan alat makan yang disukai anak (piring, sendok karakter). e) Stimulasi perkembangan oral dengan makanan yang merangsang kunyahan, sesuai kemampuan. Intervensi ini harus dilakukan secara holistik, dengan evaluasi terus-menerus dan penyesuaian berdasarkan respons anak. Tujuannya adalah mengubah kebiasaan hanya minum susu menjadi pola makan seimbang, sehingga status gizi membaik.
-
Article No. 24696 | 30 Mar 2026
Klinis : Seorang ibu hamil trimester III mengeluh sering buang air kecil, terutama pada malam hari (5-7 kali), sehingga tidurnya terganggu.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pola Tidur
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Gangguan pada kuantitas dan kualitas tidur yang menyebabkan ketidaknyamanan atau mengganggu gaya hidup yang diinginkan.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Perilaku tidur membaik. Kriteria hasil: 1) Mengungkapkan peningkatan kenyamanan dan kepuasan dengan pola tidur. 2) Mendemonstrasikan peningkatan periode tidur dan istirahat. 3) Menunjukkan perilaku yang mendukung tidur. 4) Mengungkapkan perasaan istirahat setelah tidur. 5) Mengungkapkan penurunan frekuensi terbangun malam hari. 6) Mengungkapkan penurunan gangguan tidur. 7) Mengungkapkan peningkatan kualitas tidur.
Kode SIKI: 3220
Deskripsi : Manajemen Lingkungan Tidur. Tindakan keperawatan: 1) Kaji faktor lingkungan yang mengganggu tidur (misal: kebisingan, pencahayaan, suhu, kenyamanan tempat tidur). 2) Atur lingkungan untuk meningkatkan tidur (misal: redupkan lampu, kurangi kebisingan, atur suhu ruangan, sediakan alas tidur yang nyaman). 3) Anjurkan untuk menggunakan penutup telinga atau penutup mata jika diperlukan. 4) Batasi pengunjung selama waktu istirahat. 5) Atur jadwal aktivitas untuk meminimalkan gangguan selama periode tidur. 6) Kolaborasi dengan tim kesehatan lain untuk mengatur lingkungan yang kondusif untuk tidur. 7) Monitor dan catat respons pasien terhadap modifikasi lingkungan. 8) Edukasi pasien dan keluarga tentang pentingnya lingkungan yang mendukung untuk tidur. 9) Anjurkan teknik relaksasi sebelum tidur. 10) Bantu pasien dalam melakukan ritual sebelum tidur (misal: membaca, mendengarkan musik lembut).
Penjelasan Lengkap SDKI, SLKI, dan SIKI:
Berdasarkan kondisi ibu hamil trimester III yang mengeluh sering buang air kecil (5-7 kali) pada malam hari sehingga tidurnya terganggu, diagnosa keperawatan yang paling tepat adalah Gangguan Pola Tidur (SDKI Kode 0004). Definisi dari diagnosa ini adalah suatu keadaan di mana individu mengalami gangguan atau perubahan dalam durasi, kualitas, atau pola tidurnya yang menyebabkan ketidaknyamanan atau mengganggu fungsi kehidupan sehari-hari. Pada kasus ini, penyebab utama (etiologi) gangguan tidur adalah frekuensi berkemih yang meningkat (nokturia) akibat tekanan mekanis dari uterus yang membesar pada kandung kemih, yang merupakan perubahan fisiologis normal pada kehamilan trimester III. Gangguan ini dimanifestasikan dengan kriteria utama seperti keluhan sulit tidur, sering terbangun di malam hari, dan perasaan tidak segar saat bangun, yang semuanya sesuai dengan keluhan pasien.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) dengan kode 1401 ditujukan untuk mengevaluasi pencapaian hasil asuhan keperawatan, yaitu "Perilaku tidur membaik". Luaran yang diharapkan bukanlah menghilangkan penyebab fisiologis (sering berkemih), tetapi mengelola dampaknya sehingga kualitas tidur ibu dapat meningkat. Kriteria hasil seperti penurunan frekuensi terbangun malam hari, peningkatan perasaan istirahat setelah tidur, dan peningkatan kualitas tidur secara subjektif adalah tujuan yang realistis. Perawat akan mengevaluasi apakah setelah intervensi, ibu melaporkan terbangun lebih sedikit meski tetap berkemih, atau merasa lebih mampu kembali tidur dengan cepat setelah berkemih, serta merasa lebih segar di pagi hari.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) dengan kode 3220 yaitu "Manajemen Lingkungan Tidur" dipilih sebagai intervensi utama karena berfokus pada modifikasi faktor eksternal yang dapat dikontrol untuk memfasilitasi tidur yang lebih baik, mengingat faktor penyebab (nokturia) bersifat fisiologis dan tidak dapat dihilangkan. Tindakan spesifik sangat relevan: mengatur lingkungan tidur yang nyaman (suhu, cahaya, kebisingan) dapat membantu ibu kembali tidur dengan lebih mudah setelah terbangun untuk ke kamar mandi. Edukasi tentang pembatasan asupan cairan di sore dan malam hari (meski tetap menjaga hidrasi secara keseluruhan) dapat dikategorikan dalam tindakan mengatur jadwal aktivitas/minum. Teknik relaksasi dan ritual sebelum tidur (seperti mendengarkan musik lembut atau membaca) membantu mempersiapkan mental untuk tidur dan mempermudah tidur ulang. Perawat juga akan mengedukasi ibu tentang posisi tidur yang nyaman (miring ke kiri) untuk meningkatkan sirkulasi dan mengurangi tekanan, serta mungkin menyarankan untuk mengosongkan kandung kemih sepenuhnya setiap kali berkemih. Monitoring respons ibu terhadap intervensi ini sangat penting untuk menilai efektivitas dan melakukan penyesuaian jika diperlukan. Pendekatan ini holistik, aman, dan dapat dilaksanakan secara mandiri oleh perawat untuk meningkatkan kenyamanan dan kualitas hidup ibu hamil tersebut.
-
Article No. 24697 | 30 Mar 2026
Klinis : Seorang ibu (25 th) merasa tidak mampu merawat bayinya yang baru lahir. Ia merasa tidak memiliki ikatan batin dan sering membiarkan bayinya menangis lama
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Gangguan Ikatan antara Ibu dan Bayi
Kode SDKI: D.0126
Deskripsi Singkat: Risiko terjadinya gangguan dalam membentuk dan mempertahankan hubungan saling percaya dan afeksi yang mendalam antara ibu dan bayinya.
Kode SLKI: L.15028
Deskripsi : Ibu mampu membentuk dan mempertahankan ikatan (bonding) dengan bayinya. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: 1) Ibu menunjukkan perilaku positif terhadap bayi (misalnya menatap, menyentuh, mengelus, menggendong dengan tepat). 2) Ibu mampu mengenali dan merespons isyarat-isyarat bayi (seperti tangisan, gerakan) dengan tepat dan cepat. 3) Ibu menyatakan perasaan sayang dan keterikatan dengan bayi. 4) Ibu terlibat aktif dalam perawatan bayi (memandikan, menyusui, mengganti popok). 5) Ibu menunjukkan kenyamanan dan kepercayaan diri dalam berinteraksi dengan bayi. 6) Ibu mendemonstrasikan pemahaman tentang kebutuhan perkembangan dan keamanan bayi.
Kode SIKI: I.15028
Deskripsi : Intervensi untuk memfasilitasi ikatan antara ibu dan bayi. Intervensi keperawatan yang dilakukan meliputi: 1) Mengkaji faktor-faktor yang menghambat ikatan, seperti kelelahan ibu, kurangnya dukungan sosial, pengalaman persalinan yang traumatis, pengetahuan yang kurang, atau adanya perasaan sedih pasca persalinan (baby blues). 2) Memberikan pendidikan kesehatan tentang pentingnya kontak dini kulit ke kulit (skin to skin) setelah kelahiran dan manfaatnya dalam membangun ikatan serta regulasi kondisi bayi. 3) Mendemonstrasikan dan mendorong ibu untuk melakukan perilaku bonding seperti menggendong dengan kontak mata (en face position), berbicara dengan suara lembut, menyentuh, dan memeluk bayi. 4) Membantu ibu mengenali dan menafsirkan isyarat perilaku bayi (tanda lapar, lelah, ingin digendong) untuk meningkatkan rasa kompetensi ibu. 5) Memfasilitasi pemberian ASI dengan mendukung posisi menyusui yang nyaman dan membimbing teknik menyusui yang benar, karena menyusui adalah momen bonding yang sangat kuat. 6) Memberikan pujian dan penguatan positif atas setiap usaha yang dilakukan ibu dalam merawat bayinya, sekecil apapun, untuk membangun kepercayaan dirinya. 7) Melibatkan anggota keluarga lain (suami, orang tua) untuk memberikan dukungan emosional dan praktis, sehingga ibu tidak merasa terbebani sendirian. 8) Menciptakan lingkungan yang tenang dan privat untuk mendukung interaksi ibu dan bayi tanpa gangguan yang tidak perlu. 9) Mengobservasi dan mendokumentasi perkembangan interaksi ibu-bayi serta respons ibu terhadap intervensi yang diberikan. 10) Bila ditemukan tanda-tanda depresi postpartum yang lebih berat (kesedihan mendalam, ketidakpedulian yang ekstrem, pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bayi), segera lakukan kolaborasi dengan tenaga kesehatan mental (psikolog/psikiater) untuk penanganan lebih lanjut. Intervensi ini bertujuan untuk meningkatkan kepekaan ibu terhadap kebutuhan bayi dan membangun hubungan saling percaya yang menjadi dasar perkembangan emosional dan sosial anak di masa depan.