Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 26757 | 26 Aug 2026
Klinis : D.H., seorang pemilik resor berusia 54 tahun, memiliki berbagai masalah medis kronis, termasuk diabetes melitus (DM) tipe 2 yang diderita selama 25 tahun dan telah berkembang menjadi DM yang bergantung pada insulin dalam 10 tahun terakhir; riwayat transplantasi ginjal 5 tahun lalu tanpa tanda-tanda penolakan pada biopsi terakhir; hipertensi (HTN); serta riwayat penyakit ulkus peptikum (PUD) di masa lalu. Pengobatannya meliputi insulin, agen imunosupresif, dan dua jenis obat antihipertensi. Ia mengunjungi dokter setempat dengan keluhan nyeri pada telinga kiri, mastoid, dan sinus. Ia didiagnosis menderita sinusitis dan infeksi *Candida albicans* (sariawan/kandidiasis); dokter meresepkan cephalexin (Keflex) dan nistatin. Pada malam harinya, ia mengalami mual, hematemesis (muntah darah), dan kelemahan, sehingga dibawa ke unit gawat darurat. Ia dirawat inap dan mulai menerima antibiotik intravena, namun kondisinya memburuk sepanjang malam; sesak napasnya (dispnea) meningkat dan ia mengalami kesulitan berbicara. Ia kemudian dipindahkan melalui jalur udara ke pusat rujukan tersier Anda dan menjalani intubasi selama perjalanan. Saat tiba, D.H. mengalami penurunan tingkat kesadaran (LOC) disertai periode tidak responsif total, kelemahan, dan defisit saraf kranial. Diagnosisnya adalah meningitis yang disertai komplikasi pneumonia aspirasi dan fibrilasi atrium. D.H. terus mengalami demam dan leukositosis meskipun telah menjalani terapi antibiotik intensif.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi Berhubungan dengan Defisiensi Imunologis (Imunosupresi Pasca Transplantasi) dan Prosedur Invasif (Intubasi) pada Pasien dengan Meningitis, Pneumonia Aspirasi, dan Fibrilasi Atrium
Kode SDKI: D.0142
Deskripsi Singkat: Risiko infeksi adalah keadaan berisiko mengalami peningkatan masuk dan multiplikasi organisme patogen (bakteri, virus, jamur, atau parasit) ke dalam tubuh yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan atau penyakit sistemik. Pada kasus D.H., risiko ini sangat tinggi karena kombinasi faktor kompleks: (1) defisiensi imunologis kronis akibat terapi imunosupresif pasca transplantasi ginjal yang menekan respons sel T dan antibodi, (2) diabetes melitus tipe 2 yang tidak terkontrol dengan baik selama 25 tahun yang menyebabkan gangguan fungsi neutrofil (kemotaksis, fagositosis, dan bakterisidal) serta mikroangiopati yang mengurangi perfusi jaringan, (3) riwayat penggunaan antibiotik spektrum luas (cephalexin) yang mengganggu flora normal dan memungkinkan pertumbuhan berlebih Candida albicans yang telah didiagnosis, (4) prosedur invasif berupa intubasi endotrakeal yang merusak barier mukosa saluran napas dan memudahkan kolonisasi bakteri nosokomial, (5) pneumonia aspirasi yang sudah terjadi yang menunjukkan masuknya material orofaring ke paru, serta (6) kondisi akut seperti meningitis yang menyebabkan penurunan kesadaran dan refleks batuk yang tidak efektif. D.H. juga menunjukkan tanda-tanda infeksi aktif yang persisten (demam dan leukositosis) meskipun telah mendapat terapi antibiotik intensif, yang mengindikasikan kemungkinan resistensi antibiotik atau infeksi sekunder oleh organisme oportunistik seperti jamur atau bakteri gram-negatif. Faktor tambahan mencakup riwayat ulkus peptikum yang mengganggu integritas mukosa gastrointestinal sebagai pintu masuk patogen, serta penggunaan obat antihipertensi yang mungkin memengaruhi perfusi organ. Risiko ini diperberat oleh kondisi kritis di ICU dengan pemantauan hemodinamik invasif (misalnya CVP, arterial line) yang menambah portal masuk mikroorganisme. Oleh karena itu, diagnosis risiko infeksi sangat relevan untuk menjadi fokus intervensi keperawatan guna mencegah sepsis, mempercepat pemulihan, dan menurunkan mortalitas.
Kode SLKI: L.14137
Deskripsi : Tingkat Infeksi (SLKI) adalah luaran yang mengukur kemampuan pasien untuk bebas dari infeksi atau kemampuan untuk mengendalikan faktor risiko yang menyebabkan infeksi. Luaran ini mencakup indikator yang dapat diobservasi seperti: (1) bersihan jalan napas efektif (tidak ada ronki, tidak ada dispnea), (2) tidak ada demam (suhu tubuh dalam rentang normal 36-37,5°C), (3) tidak ada leukositosis (jumlah leukosit 4.000-10.000/mm³), (4) tidak ada perubahan status mental (tingkat kesadaran compos mentis), (5) tidak ada tanda-tanda infeksi lokal seperti kemerahan, bengkak, nyeri, atau pus pada area invasif, (6) kultur sputum, darah, atau urin negatif untuk patogen, (7) fungsi organ vital stabil (tekanan darah, denyut jantung, respirasi dalam rentang normal), (8) tidak ada tanda-tanda sepsis seperti takikardia, takipnea, hipotensi, atau penurunan saturasi oksigen. Untuk D.H., luaran ini sangat penting dipantau secara ketat karena ia berada dalam kondisi imunokompromais. Target luaran yang diharapkan dalam 3x24 jam setelah intervensi adalah: demam menurun (suhu < 38°C), jumlah leukosit menurun mendekati normal, kesadaran membaik (GCS meningkat dari sebelumnya), tidak ada sekret purulen pada endotrakeal tube, dan tanda-tanda vital stabil. Dalam 5x7 hari, diharapkan tidak ada infeksi baru, kultur darah negatif, dan pasien dapat bebas dari ventilasi mekanik tanpa tanda pneumonia. Skala luaran menggunakan skala 1-5 (1=buruk, 5=baik) dengan target minimal skor 4 untuk setiap indikator. Intervensi keperawatan harus ditujukan untuk mencapai luaran ini dengan mempertimbangkan kondisi pasien yang kritis dan kompleks.
Kode SIKI: I.14532
Deskripsi : Pencegahan Infeksi (SIKI) adalah serangkaian tindakan keperawatan yang bertujuan untuk mencegah masuknya patogen ke dalam tubuh, membatasi penyebaran infeksi, dan meningkatkan pertahanan tubuh pasien. Intervensi ini sangat krusial untuk D.H. yang memiliki banyak faktor risiko. Tindakan yang dilakukan meliputi: (1) Observasi: memantau tanda-tanda vital (suhu, nadi, tekanan darah, respirasi) setiap 2-4 jam, memantau hasil laboratorium (leukosit, CRP, prokalsitonin, kultur), memantau karakteristik sekret (warna, jumlah, bau) dari endotrakeal tube, memantau tanda-tanda infeksi sistemik (demam, menggigil, takikardia, hipotensi), dan memantau integritas kulit dan mukosa terutama di area pemasangan alat invasif. (2) Terapeutik: melakukan hand hygiene yang ketat sebelum dan sesudah kontak dengan pasien, menggunakan teknik aseptik saat merawat luka atau area invasif, mengganti set infus dan selang sesuai protokol (misalnya setiap 72-96 jam), melakukan perawatan mulut dengan chlorhexidine gluconate 0,12% setiap 4-6 jam untuk mencegah pneumonia terkait ventilasi (VAP) dan kandidiasis oral, melakukan suction endotrakeal dengan teknik tertutup jika diperlukan, memberikan posisi semi-Fowler (30-45 derajat) untuk mencegah aspirasi dan VAP, memberikan terapi cairan intravena sesuai order untuk menjaga perfusi jaringan, dan memberikan obat antipiretik (misalnya parasetamol) untuk mengontrol demam. (3) Edukasi: meskipun pasien tidak responsif, edukasi diberikan kepada keluarga tentang pentingnya pembatasan pengunjung, penggunaan APD (masker, gaun, sarung tangan), dan prosedur isolasi kontak. (4) Kolaborasi: berkolaborasi dengan dokter untuk pemberian antibiotik yang tepat berdasarkan hasil kultur dan sensitivitas, pemberian agen antifungi (nistatin atau flukonazol) untuk kandidiasis, pemberian faktor perangsang koloni granulosit (G-CSF) jika leukopenia berat, serta konsultasi dengan tim penyakit infeksi untuk penyesuaian terapi imunosupresif (misalnya mengurangi dosis kortikosteroid atau kalsineurin inhibitor jika memungkinkan) tanpa menyebabkan penolakan ginjal. Intervensi ini dilakukan secara kontinu dan dievaluasi setiap shift untuk memastikan efektivitasnya. Tindakan pencegahan infeksi juga mencakup kepatuhan terhadap bundle VAP (elevasi kepala, sedasi harian, oral care, cuff pressure monitoring, dan hand hygiene) serta bundle sepsis (pengambilan kultur darah sebelum antibiotik, pengukuran laktat, dan pemberian antibiotik empiris dalam 1 jam). Dengan implementasi yang teliti, risiko infeksi lanjutan dapat diminimalkan, sehingga luaran tingkat infeksi dapat tercapai dan kondisi pasien dapat stabil menuju pemulihan.
-
Article No. 26758 | 26 Aug 2026
Klinis : D.H., seorang pemilik resor berusia 54 tahun, memiliki berbagai masalah medis kronis, termasuk diabetes melitus (DM) tipe 2 yang diderita selama 25 tahun dan telah berkembang menjadi DM yang bergantung pada insulin dalam 10 tahun terakhir; riwayat transplantasi ginjal 5 tahun lalu tanpa tanda-tanda penolakan pada biopsi terakhir; hipertensi (HTN); serta riwayat penyakit ulkus peptikum (PUD) di masa lalu. Pengobatannya meliputi insulin, agen imunosupresif, dan dua jenis obat antihipertensi. Ia mengunjungi dokter setempat dengan keluhan nyeri pada telinga kiri, mastoid, dan sinus. Ia didiagnosis menderita sinusitis dan infeksi *Candida albicans* (sariawan/kandidiasis); dokter meresepkan cephalexin (Keflex) dan nistatin. Pada malam harinya, ia mengalami mual, hematemesis (muntah darah), dan kelemahan, sehingga dibawa ke unit gawat darurat. Ia dirawat inap dan mulai menerima antibiotik intravena, namun kondisinya memburuk sepanjang malam; sesak napasnya (dispnea) meningkat dan ia mengalami kesulitan berbicara. Ia kemudian dipindahkan melalui jalur udara ke pusat rujukan tersier Anda dan menjalani intubasi selama perjalanan. Saat tiba, D.H. mengalami penurunan tingkat kesadaran (LOC) disertai periode tidak responsif total, kelemahan, dan defisit saraf kranial. Diagnosisnya adalah meningitis yang disertai komplikasi pneumonia aspirasi dan fibrilasi atrium. D.H. terus mengalami demam dan leukositosis meskipun telah menjalani terapi antibiotik intensif.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Meningitis bakterial (tersangka) dengan komplikasi pneumonia aspirasi dan fibrilasi atrium, pada pasien dengan diabetes melitus tipe 2 yang bergantung insulin, status pasca transplantasi ginjal, hipertensi, dan riwayat ulkus peptikum.
Kode ICD-10: G00.9 (Meningitis bakterial, tidak spesifik) + J69.0 (Pneumonia aspirasi) + I48.0 (Fibrilasi atrium, paroksismal) + E11.9 (DM tipe 2 tanpa komplikasi) + Z94.0 (Status transplantasi ginjal) + I10 (Hipertensi esensial) + K27.9 (Ulkus peptikum, tidak spesifik, tanpa perdarahan atau perforasi)
Deskripsi Singkat : Kondisi utama pasien adalah meningitis bakterial akut yang ditandai dengan penurunan kesadaran, defisit saraf kranial, demam, dan leukositosis persisten meskipun telah mendapat terapi antibiotik intravena. Meningitis ini diperkirakan berasal dari penyebaran infeksi dari sinusitis dan mastoiditis (fokus infeksi primer) yang kemudian menembus sawar darah-otak. Komplikasi langsung yang menyertai adalah pneumonia aspirasi (J69.0) akibat penurunan kesadaran dan gangguan refleks menelan, yang memperburuk dispnea dan menyebabkan kegagalan pernapasan sehingga memerlukan intubasi. Selain itu, pasien mengalami fibrilasi atrium (I48.0) yang mungkin dipicu oleh stres metabolik, sepsis, atau ketidakseimbangan elektrolit. Kondisi kronis yang mendasari—DM tipe 2 yang bergantung insulin (E11.9 dengan penggunaan insulin) dan status imunosupresif pasca transplantasi ginjal (Z94.0)—menjadikan pasien sangat rentan terhadap infeksi invasif dan memperlambat respons terhadap pengobatan. Hipertensi (I10) dan riwayat ulkus peptikum (K27.9) juga merupakan komorbiditas yang memengaruhi strategi terapi, terutama terkait risiko perdarahan gastrointestinal (hematemesis awal) dan interaksi obat. Kode G00.9 dipilih karena kultur dan identifikasi patogen spesifik belum tersedia atau tidak terdokumentasi; jika patogen teridentifikasi, kode yang lebih spesifik (misalnya G00.1 untuk pneumokokus) dapat digunakan. Kode-kode ini mencerminkan kompleksitas kondisi akut dan kronis yang saling berinteraksi, serta penting untuk kodifikasi yang akurat dalam manajemen kasus kritis.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 26759 | 26 Aug 2026
Klinis : D.H., seorang laki-laki berusia 54 tahun yang merupakan pemilik sebuah resor, memiliki beberapa masalah kesehatan kronis, termasuk diabetes melitus (DM) tipe 2 selama 25 tahun, yang telah berkembang menjadi DM yang bergantung pada insulin selama 10 tahun terakhir. Ia juga memiliki riwayat transplantasi ginjal 5 tahun yang lalu, tanpa tanda-tanda penolakan transplantasi pada biopsi terakhir, hipertensi (HTN), dan riwayat penyakit ulkus peptikum (PUD). Obat-obatan yang dikonsumsi D.H. meliputi insulin, obat imunosupresi, dan dua jenis obat antihipertensi. D.H. mengunjungi dokter setempat dengan keluhan nyeri pada telinga kiri, mastoid, dan sinus. Ia didiagnosis mengalami sinusitis dan infeksi Candida albicans (thrush/kandidiasis oral). Dokter kemudian meresepkan cephalexin (Keflex) dan nystatin. Pada malam harinya, D.H. mengalami mual, hematemesis (muntah darah), dan kelemahan, sehingga ia dibawa ke unit gawat darurat (UGD). Ia kemudian dirawat dan diberikan antibiotik intravena (IV). Namun, kondisinya terus memburuk sepanjang malam. Sesaknya semakin meningkat dan ia mengalami kesulitan berbicara. D.H. kemudian diterbangkan ke rumah sakit rujukan tersier dan dilakukan intubasi selama perjalanan. Saat tiba di rumah sakit, D.H. mengalami penurunan tingkat kesadaran (Level of Consciousness/LOC) dengan periode tidak responsif sepenuhnya, kelemahan, serta defisit saraf kranial. D.H. didiagnosis mengalami meningitis yang disertai pneumonia aspirasi dan fibrilasi atrium. Meskipun telah mendapatkan terapi antibiotik secara agresif, D.H. tetap mengalami demam dan leukositosis.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi (Meningitis, Pneumonia Aspirasi, Kandidiasis Oral)
Kode SDKI: D.0142
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi adalah keadaan berisiko mengalami peningkatan organisme patogen yang masuk ke dalam tubuh, yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan. Pada kasus D.H., risiko infeksi sangat tinggi karena beberapa faktor: (1) Diabetes melitus tipe 2 yang bergantung insulin selama 25 tahun menyebabkan hiperglikemia kronis, yang mengganggu fungsi fagositosis neutrofil dan makrofag, serta menurunkan respons imun seluler; (2) Penggunaan obat imunosupresan pasca transplantasi ginjal (5 tahun) menekan sistem imun adaptif dan innate, sehingga D.H. sangat rentan terhadap infeksi oportunistik seperti Candida albicans yang telah menginfeksi rongga mulutnya; (3) Riwayat transplantasi ginjal dengan terapi imunosupresif jangka panjang (misalnya siklosporin, takrolimus, atau mikofenolat) secara signifikan menurunkan kemampuan tubuh untuk melawan bakteri, virus, dan jamur; (4) Penggunaan antibiotik spektrum luas (cephalexin) dapat mengganggu flora normal tubuh, memungkinkan pertumbuhan berlebih organisme patogen; (5) Prosedur intubasi saat penerbangan meningkatkan risiko pneumonia aspirasi karena masuknya sekret orofaringeal ke saluran napas bawah; (6) Sinusitis dan mastoiditis yang dialami D.H. merupakan sumber infeksi primer yang dapat menyebar ke sistem saraf pusat melalui jalur hematogen atau kontiguitas anatomi, menyebabkan meningitis. Faktor-faktor ini secara bersamaan menciptakan kondisi imunokompromais yang parah, sehingga infeksi yang awalnya lokal (sinusitis, kandidiasis) berkembang menjadi infeksi sistemik yang mengancam jiwa (meningitis, pneumonia, sepsis). Tanda klinis yang muncul seperti demam persisten dan leukositosis meskipun telah mendapat terapi antibiotik agresif mengindikasikan bahwa respons inflamasi sistemik masih berlangsung, dan kemungkinan terjadi resistensi antibiotik atau infeksi sekunder oleh organisme nosokomial. D.H. juga mengalami penurunan kesadaran dan defisit saraf kranial, yang memperberat risiko aspirasi berulang dan memperluas area infeksi. Dengan demikian, diagnosis keperawatan ini menekankan perlunya intervensi pencegahan dan pengendalian infeksi yang ketat, monitoring tanda-tanda vital dan laboratorium secara kontinu, serta manajemen imunosupresan yang hati-hati.
Kode SLKI: L.14137
Deskripsi : Tingkat Infeksi (SLKI: Luaran Keperawatan) - Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan tingkat infeksi menurun dengan kriteria hasil: (1) Kebersihan tangan meningkat (skala 1-5, dari cukup menjadi baik); (2) Kebersihan badan meningkat; (3) Nafsu makan meningkat; (4) Demam menurun (suhu tubuh dalam rentang normal 36-37,5°C); (5) Kadar sel darah putih membaik (leukosit menurun menuju nilai normal 4.000-11.000/mm³); (6) Kultur cairan tubuh menunjukkan tidak ada pertumbuhan patogen; (7) Eritema menurun; (8) Nyeri menurun; (9) Fungsi neurologis membaik (tingkat kesadaran meningkat, defisit saraf kranial berkurang); (10) Perilaku mengenal infeksi meningkat. Luaran ini juga mencakup indikator "kadar gula darah membaik" karena hiperglikemia memperburuk risiko infeksi, serta "efek obat imunosupresan berkurang" atau "keseimbangan efek terapeutik tercapai". Untuk D.H., target utama adalah peningkatan kesadaran (GCS meningkat), penurunan demam, normalisasi leukosit, dan tidak adanya tanda-tanda meningitis baru (kaku kuduk, fotofobia). Karena kondisi D.H. kritis, luaran ini diukur secara bertahap, dengan prioritas pada stabilisasi hemodinamik dan neurologis.
Kode SIKI: I.14567
Deskripsi : Pencegahan Infeksi (SIKI: Intervensi Keperawatan) - Tindakan keperawatan yang dilakukan untuk mencegah masuknya organisme patogen ke dalam tubuh dan mengendalikan penyebaran infeksi. Observasi: (1) Monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik (demam, kemerahan, nyeri, bengkak, perubahan status mental); (2) Monitor hitung jenis leukosit (leukositosis atau leukopenia); (3) Monitor kultur cairan tubuh (darah, sputum, cairan serebrospinal) sesuai indikasi; (4) Monitor kerentanan terhadap infeksi (faktor risiko: diabetes, imunosupresan, luka, prosedur invasif); (5) Monitor suhu tubuh setiap 2-4 jam; (6) Monitor kadar gula darah secara ketat (target 140-180 mg/dL). Terapeutik: (1) Pertahankan teknik aseptik saat melakukan prosedur invasif (pemasangan IV, kateter urin, pengambilan darah); (2) Lakukan perawatan mulut dengan antijamur (nystatin) sesuai jadwal untuk mengatasi kandidiasis oral; (3) Berikan antibiotik IV tepat waktu sesuai indikasi medis, pantau efek samping (terutama nefrotoksisitas pada pasien transplantasi); (4) Lakukan fisioterapi dada dan suction secara hati-hati untuk mencegah aspirasi berulang, terutama pada pasien dengan penurunan kesadaran; (5) Gunakan alat pelindung diri (APD) lengkap saat kontak dengan pasien; (6) Lakukan isolasi kontak atau droplet sesuai protokol jika meningitis bakteri dicurigai. Edukasi: (1) Jelaskan pentingnya kebersihan tangan bagi pasien dan keluarga; (2) Ajarkan teknik batuk efektif dan napas dalam jika pasien sadar; (3) Anjurkan asupan nutrisi tinggi protein dan vitamin untuk mendukung imunitas; (4) Informasikan tanda-tanda infeksi yang harus segera dilaporkan. Kolaborasi: (1) Kolaborasi pemberian antipiretik (parasetamol) untuk demam; (2) Kolaborasi pemberian insulin sesuai sliding scale untuk kontrol glikemik; (3) Kolaborasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan neurologi untuk manajemen meningitis; (4) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk diet tinggi kalori tinggi protein (TKTP) yang disesuaikan dengan kondisi ginjal pasca transplantasi; (5) Kolaborasi dengan farmakologi klinis untuk memantau kadar obat imunosupresan (trough level) agar tidak terjadi toksisitas atau penolakan. Intervensi ini dilakukan secara komprehensif mengingat D.H. memiliki multipatologi yang saling memengaruhi.
Kondisi: Penurunan Kapasitas Adaptif Intrakranial (Meningitis dengan Penurunan Kesadaran)
Kode SDKI: D.0020
Deskripsi Singkat: Penurunan Kapasitas Adaptif Intrakranial adalah keadaan di mana terjadi peningkatan tekanan intrakranial (TIK) yang melebihi kemampuan kompensasi otak, sehingga mengganggu perfusi jaringan otak dan fungsi neurologis. Pada D.H., meningitis yang disebabkan penyebaran infeksi dari sinusitis/mastoiditis telah menyebabkan inflamasi pada meningen dan ruang subaraknoid. Proses inflamasi ini memicu edema serebral, peningkatan produksi cairan serebrospinal, dan gangguan reabsorpsi, yang semuanya berkontribusi pada peningkatan TIK. D.H. menunjukkan manifestasi klinis yang jelas: penurunan tingkat kesadaran (LOC) dengan periode tidak responsif sepenuhnya, kelemahan umum, dan defisit saraf kranial. Defisit saraf kranial terjadi karena saraf-saraf kranial (terutama N. III, IV, VI, VII, VIII) tertekan oleh peningkatan TIK atau karena peradangan langsung pada batang otak. Penurunan kesadaran merupakan indikator paling penting dari disfungsi batang otak dan peningkatan TIK yang signifikan. Selain itu, D.H. juga mengalami fibrilasi atrium, yang dapat menurunkan curah jantung dan memperburuk perfusi serebral, sehingga iskemia otak sekunder dapat terjadi. Diabetes melitus yang sudah lama diderita menyebabkan mikroangiopati dan gangguan autoregulasi aliran darah otak, sehingga otak D.H. lebih rentan terhadap kerusakan akibat perubahan TIK. Kondisi ini diperparah oleh pneumonia aspirasi yang menyebabkan hipoksemia, yang selanjutnya menyebabkan vasodilatasi serebral dan peningkatan TIK lebih lanjut. Kemampuan kompensasi otak (misalnya, pergeseran cairan serebrospinal ke ruang spinal, pengurangan volume darah vena) sudah terlampaui, sehingga terjadi herniasi otak yang mengancam jiwa. Oleh karena itu, diagnosis ini menuntut pemantauan neurologis yang ketat, pengukuran TIK jika memungkinkan, serta intervensi untuk menurunkan TIK dan mempertahankan perfusi serebral yang adekuat.
Kode SLKI: L.08063
Deskripsi : Tingkat Kesadaran (SLKI) - Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan tingkat kesadaran membaik dengan kriteria hasil: (1) Tingkat kesadaran (GCS) meningkat dari skala 3-8 menjadi 9-12 atau lebih (skala 1-5, dari buruk menjadi cukup); (2) Orientasi kognitif meningkat (orientasi terhadap waktu, tempat, dan orang); (3) Agitasi menurun; (4) Kemampuan komunikasi meningkat (dapat merespons perintah sederhana); (5) Respons pupil membaik (isokor, reaktif terhadap cahaya); (6) Tekanan darah dalam rentang normal (mempertahankan MAP ≥ 70 mmHg untuk perfusi otak); (7) Tidak ada tanda-tanda peningkatan TIK (tidak ada muntah proyektil, papiledema, postur deserebrasi); (8) Fungsi saraf kranial membaik (tidak ada deviasi mata, wajah simetris, refleks menelan kembali); (9) Kejang tidak terjadi
Article No. 26760 | 26 Aug 2026
Klinis : Pada hari Minggu, 23 Agustus 2026, pasien mengalami jatuh dari kursi dan mengeluhkan sakit kepala. Keluarga kemudian membawa pasien ke IGD BLUD RSUD Kota Banjar pada Senin siang, 24 Agustus 2026. Setelah dilakukan pemeriksaan, hasil CT Scan menunjukkan adanya perdarahan intrakranial akibat pecahnya pembuluh darah di otak yang disertai hidrosefalus. Pasien kemudian menjalani operasi pemasangan ventriculoperitoneal (VP) shunt pada pukul 22.00 WIB. Setelah menjalani operasi, pasien mengalami penurunan kesadaran sehingga dipindahkan ke ruang ICU pada pukul 00.00 WIB setelah menjalani operasi karena mengalami penurunan kesadaran. Pada saat dilakukan pengkajian pada 25 Agustus 2026 pukul 15.30 WIB, pasien tampak lemah dengan tingkat kesadaran GCS E2M4V4 (10) (Somnolen). Pasien tampak terpasang oropharyngeal airway (OPA), bedside monitor, nasogastric tube (NGT), kateter urine, oksigen melalui non-rebreathing mask (NRM) 15 L/menit, serta infus pump dengan cairan Asering 60 ml/jam pada tangan sebelah kiri. Pada pemeriksaan respirasi terdengar suara napas snoring, sesekali terdapat refleks batuk, dan pasien tampak sesak. Hasil pemeriksaan tanda-tanda vital menunjukkan tekanan darah 174/100 mmHg, nadi 85 kali/menit, frekuensi napas 25 kali/menit, suhu 36,1°C, dan SpO₂ 99%. Pada kepala bagian kanan tampak terpasang balutan luka postoperasi VP shunt.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Penurunan Kapasitas Adaptif Intrakranial (Perdarahan Intrakranial dengan Hidrosefalus Post Operasi VP Shunt)
Kode SDKI: D.0017
Deskripsi Singkat: Penurunan kapasitas adaptif intrakranial adalah keadaan di mana terjadi kegagalan mekanisme kompensasi intrakranial sebagai respons terhadap peningkatan volume intrakranial, yang ditandai dengan peningkatan tekanan intrakranial (TIK) yang tidak terkendali. Pada pasien ini, kondisi tersebut disebabkan oleh perdarahan intrakranial yang mengakibatkan hidrosefalus, sehingga dilakukan pemasangan VP shunt. Meskipun telah dilakukan tindakan pembedahan, pasien masih menunjukkan tanda-tanda penurunan kesadaran (GCS 10, somnolen), yang mengindikasikan bahwa kapasitas adaptif intrakranial belum optimal. Peningkatan tekanan darah (174/100 mmHg) dapat menjadi respons fisiologis (refleks Cushing) terhadap peningkatan TIK, meskipun nilai SpO₂ masih normal. Gejala lain yang mendukung adalah adanya nyeri kepala saat awal kejadian, penurunan kesadaran, dan suara napas snoring yang menunjukkan obstruksi jalan napas parsial akibat penurunan tonus otot. Diagnosis ini menjadi prioritas karena peningkatan TIK yang tidak ditangani dapat menyebabkan herniasi otak dan kerusakan neurologis permanen. Intervensi utama berfokus pada pemantauan ketat tanda-tanda neurologis, manajemen TIK, dan pencegahan komplikasi sekunder. Kondisi ini merupakan diagnosis keperawatan yang umum pada pasien dengan cedera otak traumatik atau perdarahan intrakranial, dan memerlukan pendekatan multidisiplin yang melibatkan perawat ICU, dokter spesialis bedah saraf, dan ahli gizi.
Kode SLKI: L.06014
Deskripsi : Luaran yang diharapkan setelah dilakukan intervensi keperawatan adalah "Kapasitas Adaptif Intrakranial Meningkat". Kriteria hasil yang dapat diukur meliputi: (1) Tingkat kesadaran membaik, ditunjukkan dengan peningkatan GCS secara bertahap (dari E2M4V4 menjadi E4M6V5 atau lebih baik) dan pasien tidak lagi somnolen tetapi menjadi compos mentis. (2) Tekanan darah dalam rentang normal (sistolik 100-120 mmHg, diastolik 60-80 mmHg) tanpa adanya fluktuasi yang ekstrem, yang menunjukkan tidak adanya refleks Cushing. (3) Tidak ada tanda-tanda peningkatan TIK seperti muntah proyektil, papiledema, atau perubahan pola napas (dari snoring menjadi normal, frekuensi napas 12-20 kali/menit). (4) Nilai GCS tidak memburuk, dan tidak ada penurunan kesadaran lebih lanjut. (5) Pasien menunjukkan respons yang tepat terhadap rangsangan verbal dan nyeri, serta tidak ada tanda-tanda lateralisasi (anisokor, hemiparesis). (6) Keseimbangan cairan dan elektrolit terjaga, ditandai dengan output urine yang adekuat (0,5-1 ml/kgBB/jam) dan tidak ada edema serebral yang ditandai dengan penurunan kesadaran. Luaran ini dievaluasi setiap 2-4 jam di ICU, dengan target pencapaian dalam 3-5 hari pertama perawatan kritis. Skala penilaian luaran menggunakan skala 1-5, di mana skor 1 menunjukkan kapasitas adaptif sangat menurun, dan skor 5 menunjukkan kapasitas adaptif membaik secara signifikan. Target yang diharapkan adalah peningkatan skor dari 2 menjadi 4 dalam waktu 4x24 jam.
Kode SIKI: I.06114
Deskripsi : Intervensi keperawatan utama yang dilakukan adalah "Manajemen Peningkatan Tekanan Intrakranial" dengan tujuan mempertahankan dan meningkatkan kapasitas adaptif intrakranial. Tindakan yang dilakukan meliputi: (1) Monitoring neurologis ketat: pantau GCS setiap 1-2 jam, periksa ukuran dan reaksi pupil (normal isokor 2-4 mm, reaktif), pantau tanda-tanda vital terutama tekanan darah dan denyut nadi, serta pantau tanda-tanda peningkatan TIK seperti perubahan pola napas (Cheyne-Stokes, hiperventilasi), muntah proyektil, dan kejang. (2) Pertahankan posisi kepala dan leher netral (head-up 30 derajat) untuk memfasilitasi drainase vena serebral, hindari rotasi kepala yang berlebihan yang dapat menekan vena jugularis. (3) Hindari manuver valsava dan batuk berlebihan, karena dapat meningkatkan tekanan intraabdomen dan TIK. Berikan obat antitusif jika diperlukan. (4) Atur ventilasi mekanik atau oksigenasi dengan target PaO₂ > 90 mmHg dan PaCO₂ 35-40 mmHg, karena hiperkapnia dapat menyebabkan vasodilatasi serebral dan meningkatkan TIK. (5) Pertahankan normotermia (36-37°C), karena hipertermia meningkatkan metabolisme otak dan aliran darah serebral. Gunakan kompres hangat atau antipiretik jika suhu > 38°C. (6) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat osmotik (manitol 20% 0,25-1 g/kgBB intravena) atau diuretik loop (furosemid) sesuai indikasi, serta obat antihipertensi jika tekanan darah sistolik > 160 mmHg untuk mencegah perdarahan ulang. (7) Monitor keseimbangan cairan: batasi cairan sesuai advis (biasanya 80-100% dari kebutuhan basal), pertahankan natrium serum 135-145 mEq/L, dan pantau output urine setiap jam. (8) Berikan perawatan VP shunt: pantau fungsi shunt dengan menilai drainase cairan serebrospinal, perhatikan tanda-tanda obstruksi (peningkatan TIK mendadak, muntah, penurunan kesadaran) atau infeksi (demam, kemerahan di area insisi). (9) Kurangi stimulus yang tidak perlu: batasi pengunjung, kurangi kebisingan, dan atur pencahayaan redup untuk menurunkan aktivitas simpatis. (10) Berikan terapi sedasi sesuai indikasi untuk mengurangi agitasi dan menurunkan kebutuhan oksigen otak. (11) Lakukan suction jalan napas dengan hati-hati dan tidak lebih dari 10 detik untuk menghindari peningkatan TIK, serta berikan oksigen 100% sebelum dan sesudah suction. (12) Kolaborasi untuk pemeriksaan CT Scan ulang jika terjadi penurunan kesadaran atau muncul tanda neurologis baru. Tindakan observasi dilakukan setiap 1-2 jam, tindakan terapeutik secara kontinu, dan edukasi kepada keluarga mengenai tanda-tanda bahaya yang harus dilaporkan. Evaluasi dilakukan setiap 4 jam untuk menilai efektivitas intervensi dan menyesuaikan rencana perawatan.
Article No. 26761 | 26 Aug 2026
Klinis : Pasien mengatakan kurang terpapar informasi Pasien terlihat bingung dalam mengatur jam minum obat Pasien mengatakan tidak mengerti aturan minum obat
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Defisit Pengetahuan
Kode SDKI: D.0111
Deskripsi Singkat: Defisit pengetahuan adalah keadaan individu yang mengalami atau berisiko mengalami ketidakcukupan atau ketidakmampuan kognitif (informasi) yang berkaitan dengan kondisi kesehatan atau program pengobatan yang dijalani. Pada pasien ini, manifestasi yang terlihat adalah pasien mengatakan kurang terpapar informasi, pasien terlihat bingung dalam mengatur jam minum obat, dan pasien mengatakan tidak mengerti aturan minum obat. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara informasi yang dimiliki dengan informasi yang dibutuhkan untuk pengelolaan kesehatan yang tepat. Defisit pengetahuan dapat berdampak pada ketidakpatuhan terapi, kesalahan pengobatan, komplikasi penyakit, dan penurunan kualitas hidup. Faktor-faktor yang berhubungan dengan defisit pengetahuan meliputi keterbatasan kognitif, kurangnya paparan informasi, kurangnya minat belajar, hambatan bahasa, gangguan memori, dan kurangnya sumber informasi yang dapat diakses. Pada pasien ini, faktor utama adalah kurangnya paparan informasi tentang aturan minum obat, yang menyebabkan kebingungan dalam mengatur jadwal dan dosis.
Kode SLKI: L.12111
Deskripsi : Tingkat Pengetahuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama periode tertentu, diharapkan tingkat pengetahuan pasien meningkat, dengan kriteria hasil: (1) Kemampuan menjelaskan pengetahuan tentang aturan minum obat meningkat; (2) Kemampuan menjelaskan dosis, frekuensi, dan waktu minum obat meningkat; (3) Kemampuan menyebutkan efek samping obat yang perlu dilaporkan meningkat; (4) Kemampuan menunjukkan perilaku patuh dalam menjadwalkan minum obat meningkat; (5) Kemampuan mengidentifikasi interaksi obat dengan makanan atau obat lain meningkat; (6) Kemampuan menunjukkan keterampilan dalam menggunakan alat bantu pengingat (seperti alarm, pil box) meningkat; (7) Pertanyaan yang diajukan tentang pengobatan berkurang; (8) Ekspresi wajah tidak bingung saat menjelaskan ulang jadwal minum obat. Luaran ini diukur menggunakan skala Likert dari 1 (menurun) hingga 5 (meningkat), dengan target skor 5. Untuk mencapai luaran ini, pasien perlu diberikan edukasi yang terstruktur, menggunakan metode ceramah, diskusi, demonstrasi, dan penyediaan media edukasi yang mudah dipahami. Evaluasi dilakukan dengan meminta pasien mengulang kembali informasi yang telah diberikan (teach-back method) untuk memastikan pemahaman yang benar.
Kode SIKI: I.12383
Deskripsi : Edukasi Kesehatan: Tindakan keperawatan yang dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan pasien tentang aturan minum obat meliputi: (1) Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi (tanyakan pengalaman belajar sebelumnya, tingkat pendidikan, dan hambatan belajar); (2) Identifikasi faktor-faktor yang dapat meningkatkan dan menurunkan motivasi belajar (seperti dukungan keluarga, kecemasan, dan gangguan kognitif); (3) Sediakan materi dan media pendidikan kesehatan yang sesuai (misalnya leaflet, booklet, video, atau aplikasi pengingat obat); (4) Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan dengan pasien, dengan durasi yang tidak terlalu panjang (15-30 menit) dan berulang; (5) Berikan kesempatan kepada pasien untuk bertanya dan mengklarifikasi informasi yang belum dipahami; (6) Jelaskan aturan minum obat secara rinci meliputi: nama obat, indikasi, dosis yang tepat, frekuensi pemberian, waktu pemberian (sebelum/sesudah makan, pagi/siang/malam), cara penyimpanan obat, durasi pengobatan, dan apa yang harus dilakukan jika lupa minum obat; (7) Demonstrasikan cara menggunakan alat bantu seperti pil box atau alarm pengingat, kemudian minta pasien untuk mendemonstrasikan kembali; (8) Gunakan teknik teach-back (minta pasien menjelaskan kembali dengan kata-katanya sendiri) untuk mengevaluasi pemahaman; (9) Libatkan keluarga atau caregiver dalam sesi edukasi untuk memberikan dukungan dan pengawasan; (10) Berikan umpan balik positif atas keberhasilan pasien dalam memahami informasi; (11) Dokumentasikan respons pasien terhadap edukasi, termasuk tingkat pemahaman dan hambatan yang ditemui. Tindakan ini bertujuan memberdayakan pasien agar mampu mengelola pengobatannya secara mandiri dan aman, mencegah kesalahan pengobatan, serta meningkatkan kepatuhan terapi.
Article No. 26744 | 25 Aug 2026
Klinis : Identitas Pasien Ny. M, perempuan, 61 tahun, memiliki riwayat COPD selama 8 tahun. Keluhan Pasien mengatakan: "Baru berjalan sekitar 10 meter sudah ngos-ngosan. Bahkan mandi sendiri sekarang harus berhenti beberapa kali." Pasien juga mengatakan cepat lelah dan takut melakukan aktivitas karena sesak. Data Objektif Saat istirahat: TD: 124/78 mmHg Nadi: 88 x/menit RR: 22 x/menit SpO2: 92% Setelah berjalan sekitar 10 meter: Nadi: 112 x/menit RR: 31 x/menit SpO2: 84% Pasien tampak menggunakan otot bantu pernapasan. Pasien harus berhenti untuk mengatur napas. Pemeriksaan Diagnostik Spirometri: FEV,: 48% prediksi. FEV1/FVC: 0,52. Foto toraks: Hiperinflasi bilateral.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) dengan eksaserbasi akut dan hipoksemia saat aktivitas
Kode ICD-10: J44.1 (Penyakit paru obstruktif kronik dengan eksaserbasi akut, tidak spesifik) + R06.0 (Dispnea) sebagai kode tambahan opsional
Deskripsi Singkat : Pasien perempuan 61 tahun dengan riwayat COPD 8 tahun mengalami perburukan gejala berupa dispnea berat pada aktivitas minimal (berjalan 10 meter), kelelahan, dan takut beraktivitas. Data objektif menunjukkan penurunan saturasi oksigen dari 92% (istirahat) menjadi 84% setelah berjalan, peningkatan frekuensi napas dari 22 menjadi 31 x/menit, takikardia (112 x/menit), penggunaan otot bantu pernapasan, serta kebutuhan berhenti untuk mengatur napas. Spirometri menunjukkan obstruksi berat (FEV1 48% prediksi, FEV1/FVC 0,52) dan foto toraks menunjukkan hiperinflasi bilateral. Temuan ini mengkonfirmasi eksaserbasi akut PPOK dengan hipoksemia saat aktivitas. Kode J44.1 dipilih karena eksaserbasi akut tidak spesifik (tanpa infeksi akut saluran napas bawah yang disebutkan). Kode R06.0 (dispnea) dapat ditambahkan untuk memperjelas gejala utama. Penurunan SpO2 saat aktivitas (desaturasi) dan keterbatasan fungsional yang signifikan menunjukkan derajat keparahan tinggi, yang memerlukan tatalaksana intensif termasuk bronkodilator, kortikosteroid, oksigenasi, dan rehabilitasi pulmoner. Kondisi ini juga menandakan perlunya penilaian lanjut terhadap kebutuhan oksigen jangka panjang dan program latihan fisik yang aman.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
Article No. 26745 | 25 Aug 2026
Klinis : Identitas Pasien Ny. M, perempuan, 61 tahun, memiliki riwayat COPD selama 8 tahun. Keluhan Pasien mengatakan: "Baru berjalan sekitar 10 meter sudah ngos-ngosan. Bahkan mandi sendiri sekarang harus berhenti beberapa kali." Pasien juga mengatakan cepat lelah dan takut melakukan aktivitas karena sesak. Data Objektif Saat istirahat: TD: 124/78 mmHg Nadi: 88 x/menit RR: 22 x/menit SpO2: 92% Setelah berjalan sekitar 10 meter: Nadi: 112 x/menit RR: 31 x/menit SpO2: 84% Pasien tampak menggunakan otot bantu pernapasan. Pasien harus berhenti untuk mengatur napas. Pemeriksaan Diagnostik Spirometri: FEV,: 48% prediksi. FEV1/FVC: 0,52. Foto toraks: Hiperinflasi bilateral.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas (Definisi: Kelebihan atau kekurangan oksigenasi dan/atau eliminasi karbon dioksida pada membran alveolus-kapiler)
Kode SDKI: D.0003
Deskripsi Singkat: Diagnosis ini ditegakkan berdasarkan kondisi Ny. M yang menderita COPD kronis dengan data objektif menunjukkan penurunan SpO₂ dari 92% (istirahat) menjadi 84% setelah aktivitas ringan (berjalan 10 meter), peningkatan frekuensi napas (RR 31x/menit), penggunaan otot bantu pernapasan, serta hasil spirometri yang menunjukkan obstruksi berat (FEV₁ 48% prediksi, rasio FEV₁/FVC 0,52) dan foto toraks dengan hiperinflasi bilateral. Pasien secara subjektif mengeluh "ngos-ngosan" dan harus berhenti beberapa kali saat mandi sendiri, yang mengindikasikan hipoksemia dan hiperkapnia akibat ketidakmampuan membran alveolus-kapiler dalam melakukan pertukaran gas secara efektif. Gejala yang muncul diperberat oleh aktivitas karena peningkatan kebutuhan oksigen tidak dapat dipenuhi oleh paru yang sudah mengalami kerusakan struktural dan fungsional akibat penyakit obstruksi kronis. Diagnosis ini mencakup manifestasi utama berupa dispnea saat aktivitas, penurunan saturasi oksigen, serta perubahan pola napas yang merupakan tanda khas dari kegagalan pertukaran gas. Faktor yang berhubungan meliputi perubahan membran alveolus-kapiler akibat proses inflamasi kronis, destruksi dinding alveoli (emfisema), serta hipoventilasi alveolar sekunder terhadap peningkatan dead space dan ketidakseimbangan ventilasi-perfusi (V/Q mismatch). Kondisi ini memerlukan intervensi segera untuk mencegah komplikasi lebih lanjut seperti gagal napas, asidosis respiratorik, dan kerusakan organ vital akibat hipoksia jaringan. Diagnosis ini menjadi prioritas utama karena mengancam kehidupan dan memengaruhi seluruh sistem tubuh. Penegakan diagnosis yang akurat didukung oleh data spirometri yang menunjukkan obstruksi berat dengan FEV₁ yang sangat rendah, yang mengindikasikan bahwa kapasitas vital paru sangat terbatas. Pasien juga menunjukkan tanda-tanda fisik seperti penggunaan otot bantu pernapasan (sternokleidomastoid, scalenus, interkostal) yang merupakan kompensasi tubuh untuk mempertahankan ventilasi. Pada kondisi istirahat, RR 22x/menit dan SpO₂ 92% masih dalam batas toleransi, namun saat aktivitas ringan terjadi penurunan drastis yang menunjukkan cadangan paru sangat minimal. Hal ini diperparah dengan adanya hiperinflasi bilateral pada foto toraks yang menunjukkan udara terperangkap (air trapping) sehingga diafragma menjadi datar dan efisiensi pernapasan menurun. Secara patofisiologis, pada COPD terjadi penurunan luas permukaan alveoli, penebalan dinding bronkiolus, dan hipersekresi mukus yang menyumbat jalan napas, menyebabkan area paru yang berventilasi baik tetapi tidak perfusi baik (dead space) dan area yang perfusi baik tetapi tidak berventilasi (shunt), sehingga terjadi gangguan pertukaran gas yang signifikan. Diagnosis ini juga didukung oleh keluhan pasien yang takut beraktivitas karena sesak, yang merupakan indikator subjektif dari ketidakmampuan sistem respirasi dalam memenuhi kebutuhan oksigen tubuh. Secara keseluruhan, data-data tersebut secara komprehensif mendukung diagnosis Gangguan Pertukaran Gas yang merupakan diagnosis keperawatan utama pada pasien dengan COPD eksaserbasi atau kronis dengan keterbatasan fungsional berat.
Kode SLKI: L.01003
Deskripsi : Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan Pertukaran Gas membaik dengan kriteria hasil: (1) Tingkat dispnea menurun dari skala berat (4) menjadi sedang (2) atau ringan (1) dengan target skala 3-4 (cukup menurun); (2) Saturasi oksigen (SpO₂) meningkat dari 84% menjadi ≥ 92% pada saat istirahat dan ≥ 88% setelah aktivitas ringan dengan target skala 5 (membaik); (3) Frekuensi napas membaik dari 31x/menit menjadi 16-20x/menit dengan target skala 5; (4) Pola napas membaik, tidak ada penggunaan otot bantu pernapasan dengan target skala 5; (5) Dispnea saat aktivitas menurun, pasien mampu berjalan 10 meter tanpa berhenti dengan target skala 4; (6) Gelisah menurun, pasien tidak tampak cemas saat bernapas dengan target skala 4; (7) PCO₂ arteri membaik (tidak diukur langsung, namun ditandai dengan tidak adanya tanda hiperkapnia seperti sakit kepala, penurunan kesadaran) dengan target skala 4; (8) PO₂ arteri membaik yang ditandai dengan peningkatan SpO₂ dengan target skala 5; (9) Kemampuan beraktivitas meningkat, pasien mampu melakukan ADL mandiri dengan jeda minimal dengan target skala 4. Kriteria hasil ini diukur menggunakan skala Likert 1-5, di mana skala 1 = memburuk, 2 = cukup memburuk, 3 = sedang, 4 = cukup membaik, 5 = membaik. Luaran ini berfokus pada perbaikan ventilasi, oksigenasi, dan toleransi aktivitas yang dapat dicapai melalui intervensi yang tepat. Target ini realistis karena dengan manajemen jalan napas, terapi oksigen, dan latihan napas, pasien COPD kronis dapat mengalami perbaikan fungsional meskipun tidak total. Evaluasi dilakukan secara bertahap, dengan penekanan pada peningkatan saturasi oksigen dan penurunan kerja napas. Luaran ini juga mencakup aspek psikologis yaitu penurunan kecemasan terkait sesak napas yang akan berdampak pada peningkatan kualitas hidup pasien. Keberhasilan luaran ini juga diukur dari kemampuan pasien untuk melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri tanpa bantuan penuh, yang merupakan indikator fungsional penting pada pasien geriatri dengan penyakit paru kronis.
Kode SIKI: I.01003
Deskripsi : Intervensi utama yang diberikan adalah Manajemen Jalan Napas dan Monitoring Respirasi yang dilakukan selama 3x24 jam. Tindakan yang dilakukan meliputi: (1) Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan usaha napas setiap 4 jam atau sesuai kondisi, terutama setelah aktivitas; (2) Monitor bunyi napas tambahan seperti wheezing atau ronkhi menggunakan stetoskop pada area paru kanan dan kiri; (3) Monitor saturasi oksigen dengan pulse oksimetri secara kontinu, terutama saat istirahat dan setelah aktivitas ringan; (4) Posisikan pasien semi-Fowler (30-45 derajat) atau Fowler (90 derajat) untuk memaksimalkan ekspansi paru dan memudahkan pernapasan; (5) Berikan oksigen sesuai indikasi dengan nasal kanul 2-4 liter/menit atau masker venturi dengan target SpO₂ ≥ 92% (hati-hati pada pasien COPD dengan retensi CO₂, gunakan oksigen titrasi rendah 1-2 liter/menit untuk mencegah depresi pusat pernapasan); (6) Ajarkan teknik napas dalam dan napas bibir (pursed-lip breathing) yaitu menarik napas melalui hidung selama 2 detik, kemudian menghembuskan napas melalui bibir yang dimonyongkan selama 4-6 detik, dilakukan 3-4 kali sehari selama 10-15 menit untuk mengurangi air trapping dan meningkatkan ekshalasi; (7) Ajarkan teknik batuk efektif untuk membersihkan sekret, dengan posisi duduk tegak, menarik napas dalam, kemudian batuk dengan kuat dari perut; (8) Lakukan fisioterapi dada seperti perkusi dan vibrasi jika terdapat sekret yang sulit dikeluarkan (dengan kontraindikasi pada fraktur iga atau osteoporosis berat); (9) Kolaborasikan dengan dokter untuk pemberian bronkodilator (misalnya salbutamol nebulizer atau ipratropium bromida) sesuai indikasi, serta kortikosteroid inhalasi untuk mengurangi inflamasi; (10) Anjurkan pasien untuk menghindari faktor pencetus seperti asap rokok, debu, dan polusi udara; (11) Ajarkan energi conservation techniques, yaitu melakukan aktivitas secara bertahap, istirahat di antara aktivitas, dan menggunakan kursi saat mandi untuk mengurangi kebutuhan oksigen; (12) Monitor tanda-tanda hipoksia dan hiperkapnia seperti gelisah, takikardia, diaforesis, sianosis, dan penurunan kesadaran; (13) Dokumentasikan hasil monitoring setiap kali intervensi dilakukan. Tindakan observasi dilakukan setiap 4 jam meliputi pemeriksaan tanda-tanda vital lengkap (TD, nadi, RR, suhu), auskultasi paru, dan penilaian skala dispnea menggunakan Borg Scale. Tindakan terapeutik dilakukan sesuai kebutuhan, termasuk pemberian oksigenasi yang tepat. Edukasi diberikan kepada pasien dan keluarga mengenai pentingnya kepatuhan terapi, pengenalan tanda bahaya (sesak yang meningkat, sputum purulen, demam), serta kapan harus segera mencari pertolongan medis. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain seperti fisioterapis untuk program rehabilitasi paru juga dilakukan. Evaluasi dilakukan secara berkesinambungan terhadap efektivitas intervensi, dengan indikator keberhasilan berupa peningkatan SpO₂, penurunan RR, dan kemampuan pasien melakukan aktivitas tanpa sesak berlebihan. Intervensi ini bersifat holistik karena mencakup aspek fisiologis (oksigenasi), psikologis (mengurangi kecemasan), edukatif (memberdayakan pasien), dan kolaboratif (bekerja sama dengan tim medis). Keseluruhan intervensi dirancang untuk mencapai luaran yang telah ditetapkan dalam SLKI, dengan penyesuaian berdasarkan respons individual pasien.
Article No. 26746 | 25 Aug 2026
Klinis : gda pasien 316
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: GDA Pasien 316 (Gangguan Dalam Aktifitas / Gangguan Mobilitas Fisik dengan nilai GDA 316 mg/dL - Hiperglikemia)
Kode SDKI: D.0054 (Gangguan Mobilitas Fisik) & D.0027 (Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah) - Prioritas Diagnosa: D.0027
Deskripsi Singkat: Berdasarkan nilai GDA (Glukosa Darah Acak) pasien sebesar 316 mg/dL, kondisi ini menunjukkan hiperglikemia berat (normal < 200 mg/dL). Diagnosa keperawatan utama yang ditegakkan adalah Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah (D.0027) yang didefinisikan sebagai perubahan variasi kadar glukosa darah dari rentang normal. Kondisi ini terjadi akibat defisiensi insulin, resistensi insulin, atau gangguan regulasi glukosa lainnya. Pada pasien dengan GDA 316, tubuh mengalami ketidakmampuan sel untuk menggunakan glukosa sebagai energi, menyebabkan penumpukan glukosa dalam darah. Hal ini memicu respons fisiologis berupa dehidrasi seluler (karena hiperosmolaritas), diuresis osmotik, serta risiko terjadinya ketoasidosis diabetik atau sindrom hiperglikemik hiperosmolar. Diagnosa ini berhubungan dengan faktor-faktor seperti kepatuhan diet yang buruk, stres metabolik, infeksi, atau efek samping obat (kortikosteroid). Gejala yang mungkin muncul meliputi polidipsia (haus berlebihan), poliuria (sering buang air kecil), polifagia (lapar berlebihan), kelelahan, penglihatan kabur, dan penurunan kesadaran pada kasus berat. Intervensi keperawatan harus difokuskan pada stabilisasi kadar glukosa, pencegahan komplikasi akut, serta edukasi manajemen diabetes. Namun, perlu dicatat bahwa gangguan mobilitas fisik (D.0054) juga dapat menjadi diagnosa sekunder jika hiperglikemia menyebabkan kelemahan otot, neuropati perifer, atau penurunan energi yang membatasi pergerakan pasien. Penegakan diagnosa harus berdasarkan pengkajian komprehensif meliputi tanda-tanda vital, status hidrasi, hasil laboratorium (GDA, HbA1c, elektrolit), serta riwayat kesehatan pasien. Kolaborasi dengan tim medis sangat penting untuk pemberian terapi insulin sesuai indikasi, serta pemantauan ketat terhadap tanda-tanda hipoglikemia setelah pemberian insulin.
Kode SLKI: L.03022 (Kestabilan Kadar Glukosa Darah) & L.05071 (Mobilitas Fisik)
Deskripsi : Luaran utama yang diharapkan setelah intervensi keperawatan adalah tercapainya Kestabilan Kadar Glukosa Darah (L.03022). Definisi luaran ini adalah kemampuan pasien untuk mempertahankan kadar glukosa darah dalam rentang normal (70-180 mg/dL) tanpa gejala hiperglikemia atau hipoglikemia. Kriteria hasil yang dapat diobservasi meliputi: (1) Kadar glukosa darah dalam rentang target; (2) Tidak ada gejala hiperglikemia seperti polidipsia, poliuria, atau polifagia; (3) Tidak ada gejala hipoglikemia seperti berkeringat dingin, tremor, atau penurunan kesadaran; (4) Nilai HbA1c menunjukkan perbaikan atau stabil; (5) Pasien mampu menunjukkan perilaku manajemen diabetes yang tepat seperti kepatuhan diet, penggunaan obat/insulin yang benar, dan pemantauan gula darah mandiri. Skala luaran berkisar dari 1 (memburuk) hingga 5 (membaik), dengan target minimal skala 4 (cukup membaik) atau 5 (membaik). Untuk luaran Mobilitas Fisik (L.05071), definisinya adalah kemampuan pasien untuk melakukan gerakan fisik secara mandiri atau dengan bantuan alat. Kriteria hasil meliputi: (1) Kekuatan otot meningkat; (2) Rentang gerak (ROM) membaik; (3) Kemampuan ambulasi (berjalan) meningkat; (4) Tidak terjadi kontraktur atau atrofi otot; (5) Pasien mampu melakukan aktivitas sehari-hari sesuai toleransi. Target luaran mobilitas fisik disesuaikan dengan kondisi dasar pasien, karena hiperglikemia akut dapat membatasi mobilitas sementara. Kedua luaran ini saling terkait; stabilisasi glukosa darah akan mendukung perbaikan mobilitas fisik. Evaluasi luaran dilakukan secara berkala setiap 6-8 jam untuk GDA, dan setiap shift untuk status mobilitas. Jika setelah 48 jam tidak ada perbaikan, perawat harus mengkaji ulang intervensi dan berkolaborasi dengan ahli gizi serta dokter spesialis penyakit dalam.
Kode SIKI: I.03115 (Manajemen Hiperglikemia) & I.03116 (Pemantauan Glukosa Darah)
Deskripsi : Intervensi keperawatan utama untuk kondisi GDA 316 adalah Manajemen Hiperglikemia (I.03115) yang didefinisikan sebagai serangkaian tindakan keperawatan untuk mengidentifikasi dan mengatasi kadar glukosa darah yang meningkat, serta mencegah komplikasi. Tindakan yang dilakukan meliputi: (1) Observasi tanda dan gejala hiperglikemia (polidipsia, poliuria, polifagia, kelemahan, dehidrasi); (2) Identifikasi kemungkinan penyebab hiperglikemia (infeksi, stres, diet tidak tepat, efek obat); (3) Monitor kadar glukosa darah sesuai jadwal (setiap 4-6 jam atau sesuai instruksi medis); (4) Monitor tanda-tanda vital dan status hidrasi (turgor kulit, membran mukosa, intake-output); (5) Berikan terapi insulin sesuai program medis dengan teknik yang benar (rotasi area suntikan, dosis tepat); (6) Kolaborasi pemberian cairan intravena (NaCl 0,9% atau Ringer Laktat) untuk mengatasi dehidrasi; (7) Anjurkan pasien untuk meningkatkan asupan cairan oral (air putih 2-3 liter/hari) jika tidak ada kontraindikasi; (8) Edukasi pasien dan keluarga mengenai diet rendah gula (karbohidrat kompleks, tinggi serat), porsi makan teratur, dan pembatasan gula sederhana; (9) Ajarkan pasien mengenali tanda-tanda hipoglikemia dan penanganannya (konsumsi 15 gram karbohidrat cepat serap); (10) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk penyusunan menu diet sesuai kebutuhan kalori dan kondisi pasien; (11) Lakukan perawatan kulit dan kaki secara rutin untuk mencegah ulkus diabetik; (12) Dokumentasikan semua tindakan dan respons pasien secara akurat. Intervensi pendukung adalah Pemantauan Glukosa Darah (I.03116) yang meliputi: (1) Cek kadar glukosa darah menggunakan glukometer yang terkalibrasi; (2) Catat hasil pemeriksaan dan laporkan perubahan signifikan; (3) Evaluasi efektivitas terapi insulin/obat hipoglikemik oral; (4) Monitor tren kadar glukosa darah untuk menyesuaikan dosis insulin. Kedua intervensi ini dilakukan secara berkesinambungan dengan evaluasi setiap kali selesai tindakan. Prioritas tindakan adalah mengembalikan GDA ke rentang aman (< 250 mg/dL) dalam 24-48 jam pertama untuk mencegah komplikasi akut seperti ketoasidosis diabetik. Setelah kondisi stabil, perawat melanjutkan edukasi manajemen diabetes jangka panjang untuk mencegah rekurensi hiperglikemia. Tindakan keperawatan mandiri yang dapat dilakukan tanpa kolaborasi medis adalah edukasi diet, pemantauan mandiri, dan perawatan kulit, sedangkan pemberian insulin dan cairan intravena memerlukan kolaborasi dengan dokter.
Article No. 26747 | 25 Aug 2026
Klinis : Identitas Pasien An. F, laki-laki, 8 tahun, dibawa ibunya ke puskesmas. Keluhan Ibu mengatakan: "Anak saya sudah empat hari batuk dan pilek. Sejak tadi malam napasnya lebih cepat dan dia sulit tidur karena batuk." Anak mengeluh tenggorokan sakit dan dada terasa tidak nyaman ketika batuk. Data Objektif • Kesadaran: compos mentis • TD: 102/68 mmHg • Nadi: 108 x/menit • RR: 30 x/menit • Suhu: 38,3°C • SpO₂: 95% Pemeriksaan: • Hidung tersumbat. • Sekret hidung mukopurulen. • Batuk produktif. • Terdengar ronki ringan bilateral. • Tenggorokan hiperemis. • Anak tampak lemah dan kurang aktif. Pemeriksaan Diagnostik • Leukosit: 12.600/µL. • CRP meningkat ringan. • Foto toraks tidak menunjukkan konsolidasi lobar.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif berhubungan dengan Retensi Sekret
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Bersihan jalan napas tidak efektif adalah ketidakmampuan membersihkan sekret atau obstruksi jalan napas untuk mempertahankan jalan napas tetap paten. Pada kasus An. F, kondisi ini ditandai dengan batuk produktif selama empat hari, hidung tersumbat dengan sekret mukopurulen, ronki ringan bilateral pada auskultasi, peningkatan frekuensi napas (RR 30 x/menit), serta anak mengeluh dada tidak nyaman saat batuk. Sekret yang kental dan berlebih menyebabkan penyempitan lumen jalan napas, sehingga terjadi peningkatan kerja napas dan gangguan pertukaran gas. Data objektif menunjukkan SpO₂ 95% yang masih dalam batas normal, namun peningkatan laju napas dan suara napas tambahan mengindikasikan adanya akumulasi sekret yang belum berhasil dikeluarkan secara efektif. Kondisi ini diperberat oleh kelemahan fisik anak (tampak lemah dan kurang aktif) yang menurunkan kemampuan batuk efektif. Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang ditandai dengan leukositosis (12.600/µL) dan peningkatan CRP ringan menunjukkan proses inflamasi yang memicu produksi sekret berlebih. Ketidakmampuan membersihkan jalan napas jika tidak ditangani dapat menyebabkan hipoksemia, atelektasis, atau berkembang menjadi pneumonia, meskipun foto toraks saat ini belum menunjukkan konsolidasi lobar.
Kode SLKI: L.01001
Deskripsi : Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan bersihan jalan napas membaik dengan kriteria hasil: (1) Batuk efektif meningkat dari skala 2 (cukup) menjadi skala 4 (baik) – anak mampu mengeluarkan sekret tanpa bantuan berlebihan; (2) Produksi sputum menurun dari skala 3 (sedang) menjadi skala 1 (ringan) – sekret berkurang dan lebih encer; (3) Frekuensi napas membaik dari skala 3 (cukup buruk) menjadi skala 5 (membaik) – RR dalam rentang normal anak usia 8 tahun (20-25 x/menit); (4) Suara napas tambahan (ronki) menurun dari skala 3 menjadi skala 1 – auskultasi bersih atau hanya ronki minimal; (5) Dispnea menurun – anak tidak menunjukkan retraksi dinding dada atau penggunaan otot bantu napas; (6) Kemampuan monitor status pernapasan meningkat – anak atau ibu mampu mengenali tanda-tanda perburukan. Kriteria tambahan: tidak ada sianosis, SpO₂ stabil >95%, dan anak mampu beraktivitas sesuai usianya tanpa mudah lelah. SLKI ini menekankan pada luaran yang terukur secara klinis dan fungsional, mencakup aspek fisiologis (frekuensi napas, suara napas) serta aspek perilaku (kemampuan batuk efektif dan partisipasi keluarga dalam monitoring).
Kode SIKI: I.01001
Deskripsi : Intervensi utama yang diberikan adalah Manajemen Jalan Napas, dengan tindakan keperawatan sebagai berikut: (1) Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas) setiap 2 jam dan auskultasi suara napas setiap 4 jam untuk mengevaluasi perkembangan; (2) Pertahankan kepatenan jalan napas dengan teknik positioning – posisikan anak semi-Fowler (30-45 derajat) atau posisi duduk untuk memaksimalkan ekspansi paru dan memudahkan pengeluaran sekret; (3) Berikan oksigenasi sesuai indikasi jika SpO₂ <94% atau terdapat tanda distress pernapasan, dengan target saturasi 95-100%; (4) Lakukan fisioterapi dada berupa perkusi dan vibrasi selama 5-10 menit setiap 4-6 jam, diikuti dengan latihan batuk efektif – ajarkan anak menarik napas dalam, tahan 2-3 detik, kemudian batuk dengan kuat dari diafragma; (5) Lakukan suction (penghisapan lendir) jika terdapat sekret berlebih yang tidak dapat dikeluarkan, dengan hati-hati dan menggunakan teknik steril untuk anak; (6) Berikan hidrasi adekuat – anjurkan ibu memberikan air hangat atau susu hangat minimal 1,5-2 liter per hari sesuai usia untuk mengencerkan sekret; (7) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian mukolitik (misal ambroxol atau N-asetilsistein) dan ekspektoran (misal guaifenesin) sesuai indikasi, serta antipiretik (parasetamol) untuk mengatasi demam (38,3°C); (8) Edukasi ibu tentang cara melakukan nebulisasi dengan bronkodilator atau mukolitik jika diresepkan, serta teknik menepuk punggung anak dengan tangan dikatupkan (cupped hand) untuk membantu mengeluarkan dahak; (9) Ajarkan ibu mengenali tanda bahaya seperti sesak napas berat, bibir kebiruan, atau penurunan kesadaran yang memerlukan rujukan segera; (10) Kelola lingkungan – pastikan ventilasi ruangan baik, hindari asap rokok dan polusi, serta pertahankan kelembapan udara yang cukup. Tindakan ini dilakukan dengan pendekatan yang ramah anak, menggunakan permainan atau distraksi untuk mengurangi rasa takut, dan melibatkan ibu secara aktif dalam perawatan untuk keberlanjutan di rumah. Evaluasi dilakukan setiap 8 jam untuk menilai efektivitas intervensi dan menyesuaikan rencana tindakan.
Article No. 26748 | 25 Aug 2026
Klinis : Identitas Pasien Tn. H, laki-laki, 34 tahun, datang ke klinik dengan demam, batuk, pilek, dan nyeri tenggorokan. Keluhan Pasien mengatakan: "Sejak dua hari lalu badan saya panas, menggigil, kepala terasa berat, dan tenggorokan sakit sekali." Pasien juga mengeluh nafsu makan menurun dan merasa lemas. Data Objektif TD: 118/76 mmHg Nadi: 106 x/menit RR: 22 x/menit Suhu: 39,1°C SpO₂: 97% Pemeriksaan: Wajah tampak kemerahan. Kulit teraba panas. Pasien tampak lemah. Mukosa mulut sedikit kering. Tenggorokan hiperemis. Batuk kering. Tidak terdapat tanda distress napas. Pemeriksaan Diagnostik Leukosit: 11.900/µL. CRP meningkat. Pemeriksaan antigen virus pernapasan sesuai indikasi klinis. Foto toraks tidak menunjukkan infiltrat.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Hipertermia
Kode SDKI: D.0130
Deskripsi Singkat: Hipertermia adalah diagnosis keperawatan yang menggambarkan kondisi di mana suhu tubuh seseorang meningkat di atas rentang normal (lebih dari 37,5°C) sebagai respons terhadap stimulus fisiologis, seperti infeksi, inflamasi, atau paparan lingkungan panas. Pada kasus Tn. H, demam dengan suhu 39,1°C, wajah kemerahan, kulit teraba panas, dan peningkatan leukosit (11.900/µL) serta CRP yang meningkat menunjukkan adanya proses infeksi akut (kemungkinan infeksi saluran pernapasan atas) yang memicu respon imun tubuh, sehingga terjadi peningkatan termogenesis dan penurunan kehilangan panas. Kondisi ini menyebabkan gangguan regulasi suhu tubuh, yang ditandai dengan menggigil, kepala terasa berat, dan lemas. Hipertermia perlu ditangani segera untuk mencegah komplikasi seperti dehidrasi, kejang demam, atau gangguan fungsi organ akibat suhu inti tubuh yang terlalu tinggi. Diagnosis ini ditegakkan berdasarkan data subjektif (pasien merasa panas, menggigil) dan data objektif (suhu 39,1°C, kulit panas, takikardia 106x/menit).
Kode SLKI: L.14134
Deskripsi: Termoregulasi adalah luaran (outcome) keperawatan yang diharapkan tercapai setelah intervensi. Pada kondisi hipertermia, luaran yang ditetapkan adalah "Termoregulasi" dengan definisi: kemampuan individu untuk mempertahankan suhu tubuh dalam rentang normal (36,5-37,5°C) tanpa mengalami komplikasi. Kriteria hasil yang spesifik untuk Tn. H meliputi: (1) Suhu tubuh dalam rentang normal (36,5-37,5°C) dengan target penurunan bertahap; (2) Tidak terjadi menggigil (skala 1-5, target skala 5 = tidak ada); (3) Kulit tidak teraba panas (skala 1-5, target skala 5); (4) Wajah tidak kemerahan (skala 1-5, target skala 5); (5) Nadi dalam rentang normal (60-100x/menit) (skala 1-5, target skala 5); (6) Pasien tidak mengeluh lemas atau kelelahan berlebihan (skala 1-5, target skala 4-5); (7) Nafsu makan kembali membaik (skala 1-5, target skala 4); (8) Tidak terjadi dehidrasi (mukosa mulut lembab, turgor kulit baik). Target ini dievaluasi dalam waktu 1x24 jam untuk penurunan suhu bertahap, dan 2x24 jam untuk stabilisasi suhu normal. Luaran ini mengukur efektivitas intervensi keperawatan dalam mengembalikan keseimbangan termal tubuh.
Kode SIKI: I.15506
Deskripsi: Manajemen Hipertermia adalah intervensi keperawatan yang dilakukan untuk menurunkan suhu tubuh ke rentang normal dan mencegah komplikasi. Tindakan yang direncanakan untuk Tn. H meliputi: (1) Observasi: memantau suhu tubuh setiap 2-4 jam atau lebih sering jika demam tinggi; mengamati tanda-tanda dehidrasi (turgor kulit, mukosa mulut, output urine); memantau tanda vital (nadi, RR, tekanan darah) secara berkala; mengobservasi warna kulit dan tanda-tanda menggigil; (2) Terapeutik: memberikan kompres hangat pada area pembuluh darah besar (leher, aksila, inguinal) selama 15-20 menit; menganjurkan pasien untuk memakai pakaian tipis dan menyerap keringat; memberikan cairan oral yang cukup (air putih hangat, jus) minimal 2-3 liter/hari untuk mencegah dehidrasi; mengatur suhu ruangan agar sejuk (20-24°C) dengan ventilasi baik; memberikan selimut tipis jika pasien menggigil; (3) Edukasi: menjelaskan penyebab demam dan pentingnya istirahat; mengajarkan pasien dan keluarga cara mengukur suhu tubuh di rumah; menganjurkan untuk mengonsumsi makanan bergizi meskipun nafsu makan menurun (makan dalam porsi kecil tapi sering); menjelaskan tanda bahaya yang perlu diwaspadai (demam tidak turun, kejang, sesak napas); (4) Kolaborasi: dengan dokter untuk pemberian antipiretik (parasetamol 500-1000 mg setiap 6-8 jam) sesuai indikasi; kolaborasi pemberian antibiotik/antiviral jika penyebab infeksi sudah teridentifikasi; kolaborasi pemeriksaan laboratorium lanjutan jika demam tidak responsif. Intervensi ini dilakukan secara holistik untuk mengatasi penyebab dan gejala hipertermia.
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 264 265 266 267 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 280 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 297 298 299 300 301 302 303 304 305 306 307 308 309 310 311 312 313 314 315 316 317 318 319 320 321 322 323 324 325 326 327 328 329 330 331 332 333 334 335 336 337 338 339 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 350 351 352 353 354 355 356 357 358 359 360 361 362 363 364 365 366 367 368 369 370 371 372 373 374 375 376 377 378 379 380 381 382 383 384 385 386 387 388 389 390 391 392 393 394 395 396 397 398 399 400 401 402 403 404 405 406 407 408 409 410 411 412 413 414 415 416 417 418 419 420 421 422 423 424 425 426 427 428 429 430 431 432 433 434 435 436 437 438 439 440 441 442 443 444 445 446 447 448 449 450 451 452 453 454 455 456 457 458 459 460 461 462 463 464 465 466 467 468 469 470 471 472 473 474 475 476 477 478 479 480 481 482 483 484 485 486 487 488 489 490 491 492 493 494 495 496 497 498 499 500 501 502 503 504 505 506 507 508 509 510 511 512 513 514 515 516 517 518 519 520 521 522 523 524 525 526 527 528 529 530 531 532 533 534 535 536 537 538 539 540 541 542 543 544 545 546 547 548 549 550 551 552 553 554 555 556 557 558 559 560 561 562 563 564 565 566 567 568 569 570 571 572 573 574 575 576 577 578 579 580 581 582 583 584 585 586 587 588 589 590 591 592 593 594 595 596 597 598 599 600 601 602 603 604 605 606 607 608 609 610 611 612 613 614 615 616 617 618 619 620 621 622 623 624 625 626 627 628 629 630 631 632 633 634 635 636 637 638 639 640 641 642 643 644 645 646 647 648 649 650 651 652 653 654 655 656 657 658 659 660 661 662 663 664 665 666 667 668 669 670 671 672 673 674 675 676 677 678 679 680 681 682 683 684 685 686 687 688 689 690 691 692 693 694 695 696 697 698 699 700 701 702 703 704 705 706 707 708 709 710 711 712 713 714 715 716 717 718 719 720 721 722 723 724 725 726 727 728 729 730 731 732 733 734 735 736 737 738 739 740 741 742 743 744 745 746 747 748 749 750 751 752 753 754 755 756 757 758 759 760 761 762 763 764 765 766 767 768 769 770 771 772 773 774 775 776 777 778 779 780 781 782 783 784 785 786 787 788 789 790 791 792 793 794 795 796 797 798 799 800 801 802 803 804 805 806 807 808 809 810 811 812 813 814 815 816 817 818 819 820 821 822 823 824 825 826 827 828 829 830 831 832 833 834 835 836 837 838 839 840 841 842 843 844 845 846 847 848 849 850 851 852 853 854 855 856 857 858 859 860 861 862 863 864 865 866 867 868 869 870 871 872 873 874 875 876 877 878 879 880 881 882 883 884 885 886 887 888 889 890 891 892 893 894 895 896 897 898 899 900 901 902 903 904 905 906 907 908 909 910 911 912 913 914 915 916 917 918 919 920 921 922 923 924 925 926 927 928 929 930 931 932 933 934 935 936 937 938 939 940 941 942 943 944 945 946 947 948 949 950 951 952 953 954 955 956 957 958 959 960 961 962 963 964 965 966 967 968 969 970 971 972 973 974 975 976 977 978 979 980 981 982 983 984 985 986 987 988 989 990 991 992 993 994 995 996 997 998 999 1000 1001 1002 1003 1004 1005 1006 1007 1008 1009 1010 1011 1012 1013 1014 1015 1016 1017 1018 1019 1020 1021 1022 1023 1024 1025 1026 1027 1028 1029 1030 1031 1032 1033 1034 1035 1036 1037 1038 1039 1040 1041 1042 1043 1044 1045 1046 1047 1048 1049 1050 1051 1052 1053 1054 1055 1056 1057 1058 1059 1060 1061 1062 1063 1064 1065 1066 1067 1068 1069 1070 1071 1072 1073 1074 1075 1076 1077 1078 1079 1080 1081 1082 1083 1084 1085 1086 1087 1088 1089 1090 1091 1092 1093 1094 1095 1096 1097 1098 1099 1100 1101 1102 1103 1104 1105 1106 1107 1108 1109 1110 1111 1112 1113 1114 1115 1116 1117 1118 1119 1120 1121 1122 1123 1124 1125 1126 1127 1128 1129 1130 1131 1132 1133 1134 1135 1136 1137 1138 1139 1140 1141 1142 1143 1144 1145 1146 1147 1148 1149 1150 1151 1152 1153 1154 1155 1156 1157 1158 1159 1160 1161 1162 1163 1164 1165 1166 1167 1168 1169 1170 1171 1172 1173 1174 1175 1176 1177 1178 1179 1180 1181 1182 1183 1184 1185 1186 1187 1188 1189 1190 1191 1192 1193 1194 1195 1196 1197 1198 1199 1200 1201 1202 1203 1204 1205 1206 1207 1208 1209 1210 1211 1212 1213 1214 1215 1216 1217 1218 1219 1220 1221 1222 1223 1224 1225 1226 1227 1228 1229 1230 1231 1232 1233 1234 1235 1236 1237 1238 1239 1240 1241 1242 1243 1244 1245 1246 1247 1248 1249 1250 1251 1252 1253 1254 1255 1256 1257 1258 1259 1260 1261 1262 1263 1264 1265 1266 1267 1268 1269 1270 1271 1272 1273 1274 1275 1276 1277 1278 1279 1280 1281 1282 1283 1284 1285 1286 1287 1288 1289 1290 1291 1292 1293 1294 1295 1296 1297 1298 1299 1300 1301 1302 1303 1304 1305 1306 1307 1308 1309 1310 1311 1312 1313 1314 1315 1316 1317 1318 1319 1320 1321 1322 1323 1324 1325 1326 1327 1328 1329 1330 1331 1332 1333 1334 1335 1336 1337 1338 1339 1340 1341 1342 1343 1344 1345 1346 1347 1348 1349 1350 1351 1352 1353 1354 1355 1356 1357 1358 1359 1360 1361 1362 1363 1364 1365 1366 1367 1368 1369 1370 1371 1372 1373 1374 1375 1376 1377 1378 1379 1380 1381 1382 1383 1384 1385 1386 1387 1388 1389 1390 1391 1392 1393 1394 1395 1396 1397 1398 1399 1400 1401 1402 1403 1404 1405 1406 1407 1408 1409 1410 1411 1412 1413 1414 1415 1416 1417 1418 1419 1420 1421 1422 1423 1424 1425 1426 1427 1428 1429 1430 1431 1432 1433 1434 1435 1436 1437 1438 1439 1440 1441 1442 1443 1444 1445 1446 1447 1448 1449 1450 1451 1452 1453 1454 1455 1456 1457 1458 1459 1460 1461 1462 1463 1464 1465 1466 1467 1468 1469 1470 1471 1472 1473 1474 1475 1476 1477 1478 1479 1480 1481 1482 1483 1484 1485 1486 1487 1488 1489 1490 1491 1492 1493 1494 1495 1496 1497 1498 1499 1500 1501 1502 1503 1504 1505 1506 1507 1508 1509 1510 1511 1512 1513 1514 1515 1516 1517 1518 1519 1520 1521 1522 1523 1524 1525 1526 1527 1528 1529 1530 1531 1532 1533 1534 1535 1536 1537 1538 1539 1540 1541 1542 1543 1544 1545 1546 1547 1548 1549 1550 1551 1552 1553 1554 1555 1556 1557 1558 1559 1560 1561 1562 1563 1564 1565 1566 1567 1568 1569 1570 1571 1572 1573 1574 1575 1576 1577 1578 1579 1580 1581 1582 1583 1584 1585 1586 1587 1588 1589 1590 1591 1592 1593 1594 1595 1596 1597 1598 1599 1600 1601 1602 1603 1604 1605 1606 1607 1608 1609 1610 1611 1612 1613 1614 1615 1616 1617 1618 1619 1620 1621 1622 1623 1624 1625 1626 1627 1628 1629 1630 1631 1632 1633 1634 1635 1636 1637 1638 1639 1640 1641 1642 1643 1644 1645 1646 1647 1648 1649 1650 1651 1652 1653 1654 1655 1656 1657 1658 1659 1660 1661 1662 1663 1664 1665 1666 1667 1668 1669 1670 1671 1672 1673 1674 1675 1676 1677 1678 1679 1680 1681 1682 1683 1684 1685 1686 1687 1688 1689 1690 1691 1692 1693 1694 1695 1696 1697 1698 1699 1700 1701 1702 1703 1704 1705 1706 1707 1708 1709 1710 1711 1712 1713 1714 1715 1716 1717 1718 1719 1720 1721 1722 1723 1724 1725 1726 1727 1728 1729 1730 1731 1732 1733 1734 1735 1736 1737 1738 1739 1740 1741 1742 1743 1744 1745 1746 1747 1748 1749 1750 1751 1752 1753 1754 1755 1756 1757 1758 1759 1760 1761 1762 1763 1764 1765 1766 1767 1768 1769 1770 1771 1772 1773 1774 1775 1776 1777 1778 1779 1780 1781 1782 1783 1784 1785 1786 1787 1788 1789 1790 1791 1792 1793 1794 1795 1796 1797 1798 1799 1800 1801 1802 1803 1804 1805 1806 1807 1808 1809 1810 1811 1812 1813 1814 1815 1816 1817 1818 1819 1820 1821 1822 1823 1824 1825 1826 1827 1828 1829 1830 1831 1832 1833 1834 1835 1836 1837 1838 1839 1840 1841 1842 1843 1844 1845 1846 1847 1848 1849 1850 1851 1852 1853 1854 1855 1856 1857 1858 1859 1860 1861 1862 1863 1864 1865 1866 1867 1868 1869 1870 1871 1872 1873 1874 1875 1876 1877 1878 1879 1880 1881 1882 1883 1884 1885 1886 1887 1888 1889 1890 1891 1892 1893 1894 1895 1896 1897 1898 1899 1900 1901 1902 1903 1904 1905 1906 1907 1908 1909 1910 1911 1912 1913 1914 1915 1916 1917 1918 1919 1920 1921 1922 1923 1924 1925 1926 1927 1928 1929 1930 1931 1932 1933 1934 1935 1936 1937 1938 1939 1940 1941 1942 1943 1944 1945 1946 1947 1948 1949 1950 1951 1952 1953 1954 1955 1956 1957 1958 1959 1960 1961 1962 1963 1964 1965 1966 1967 1968 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 2029 2030 2031 2032 2033 2034 2035 2036 2037 2038 2039 2040 2041 2042 2043 2044 2045 2046 2047 2048 2049 2050 2051 2052 2053 2054 2055 2056 2057 2058 2059 2060 2061 2062 2063 2064 2065 2066 2067 2068 2069 2070 2071 2072 2073 2074 2075 2076 2077 2078 2079 2080 2081 2082 2083 2084 2085 2086 2087 2088 2089 2090 2091 2092 2093 2094 2095 2096 2097 2098 2099 2100 2101 2102 2103 2104 2105 2106 2107 2108 2109 2110 2111 2112 2113 2114 2115 2116 2117 2118 2119 2120 2121 2122 2123 2124 2125 2126 2127 2128 2129 2130 2131 2132 2133 2134 2135 2136 2137 2138 2139 2140 2141 2142 2143 2144 2145 2146 2147 2148 2149 2150 2151 2152 2153 2154 2155 2156 2157 2158 2159 2160 2161 2162 2163 2164 2165 2166 2167 2168 2169 2170 2171 2172 2173 2174 2175 2176 2177 2178 2179 2180 2181 2182 2183 2184 2185 2186 2187 2188 2189 2190 2191 2192 2193 2194 2195 2196 2197 2198 2199 2200 2201 2202 2203 2204 2205 2206 2207 2208 2209 2210 2211 2212 2213 2214 2215 2216 2217 2218 2219 2220 2221 2222 2223 2224 2225 2226 2227 2228 2229 2230 2231 2232 2233 2234 2235 2236 2237 2238 2239 2240 2241 2242 2243 2244 2245 2246 2247 2248 2249 2250 2251 2252 2253 2254 2255 2256 2257 2258 2259 2260 2261 2262 2263 2264 2265 2266 2267 2268 2269 2270 2271 2272 2273 2274 2275 2276 2277 2278 2279 2280 2281 2282 2283 2284 2285 2286 2287 2288 2289 2290 2291 2292 2293 2294 2295 2296 2297 2298 2299 2300 2301 2302 2303 2304 2305 2306 2307 2308 2309 2310 2311 2312 2313 2314 2315 2316 2317 2318 2319 2320 2321 2322 2323 2324 2325 2326 2327 2328 2329 2330 2331 2332 2333 2334 2335 2336 2337 2338 2339 2340 2341 2342 2343 2344 2345 2346 2347 2348 2349 2350 2351 2352 2353 2354 2355 2356 2357 2358 2359 2360 2361 2362 2363 2364 2365 2366 2367 2368 2369 2370 2371 2372 2373 2374 2375 2376 2377 2378 2379 2380 2381 2382 2383 2384 2385 2386 2387 2388 2389 2390 2391 2392 2393 2394 2395 2396 2397 2398 2399 2400 2401 2402 2403 2404 2405 2406 2407 2408 2409 2410 2411 2412 2413 2414 2415 2416 2417 2418 2419 2420 2421 2422 2423 2424 2425 2426 2427 2428 2429 2430 2431 2432 2433 2434 2435 2436 2437 2438 2439 2440 2441 2442 2443 2444 2445 2446 2447 2448 2449 2450 2451 2452 2453 2454 2455 2456 2457 2458 2459 2460 2461 2462 2463 2464 2465 2466 2467 2468 2469 2470 2471 2472 2473 2474 2475 2476 2477 2478 2479 2480 2481 2482 2483 2484 2485 2486 2487 2488 2489 2490 2491 2492 2493 2494 2495 2496 2497 2498 2499 2500 2501 2502 2503 2504 2505 2506 2507 2508 2509 2510 2511 2512 2513 2514 2515 2516 2517 2518 2519 2520 2521 2522 2523 2524 2525 2526 2527 2528 2529 2530 2531 2532 2533 2534 2535 2536 2537 2538 2539 2540 2541 2542 2543 2544 2545 2546 2547 2548 2549 2550 2551 2552 2553 2554 2555 2556 2557 2558 2559 2560 2561 2562 2563 2564 2565 2566 2567 2568 2569 2570 2571 2572 2573 2574 2575 2576 2577 2578 2579 2580 2581 2582 2583 2584 2585 2586 2587 2588 2589 2590 2591 2592 2593 2594 2595 2596