Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 21490 | 04 Sep 2025
Klinis : Pasien pria, usia 68 tahun, datang dengan keluhan sesak napas. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas murmur, kepatenan jalan nafas sekret berlebih, terpasang ett, ngt, opa, suction tube ventilator, nebulizer dan monitor. GCS e:4 V:1 m:5. Diagnosis diberikan gagal nafas tipe 2, ppok eksaserbasi berat badan dengan gagal nafas tipe 2 mengancam jiwa da pneumonia kumunitas psi score 148
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan SDKI, luaran/output yang diharapkan setelah asuhan keperawatan (SLKI), dan intervensi keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan luaran (SIKI) untuk kondisi pasien yang Anda deskripsikan.
Diagnosa Keperawatan SDKI:
1. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
- Definisi: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang paten.
- Penyebab: Adanya sekret berlebih, gangguan membran mukosa, dan kelemahan otot pernapasan.
- Gejala dan Tanda: Suara napas wheezing, batuk produktif dengan sekret berlebih, sianosis, dan perubahan pola napas.
2. Ketidakefektifan Pola Napas
- Definisi: Ketidakmampuan untuk mempertahankan pola pernapasan yang memberikan ventilasi adekuat.
- Penyebab: Gangguan mekanik, neuromuskular, dan kontrol pernapasan.
- Gejala dan Tanda: Perubahan frekuensi dan kedalaman napas, penggunaan otot bantu pernapasan, dan kelelahan otot pernapasan.
3. Perubahan Perfusi Jaringan Perifer
- Definisi: Perubahan dalam sirkulasi darah ke bagian tubuh yang mengakibatkan penurunan atau peningkatan suplai oksigen dan nutrisi.
- Penyebab: Penurunan curah jantung, gangguan pada pembuluh darah, dan hipoksemia.
- Gejala dan Tanda: Perubahan warna kulit, suhu ekstremitas, dan pulsasi distal.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Bersihan Jalan Napas Efektif
- Kriteria hasil: Pasien mampu membersihkan jalan napas dengan batuk efektif, suara napas murmur, sputum berkurang, dan saturasi oksigen dalam batas normal.
2. Pola Napas Efektif
- Kriteria hasil: Pasien mampu mempertahankan pola napas dengan frekuensi, kedalaman, dan irama yang normal, serta tidak mengalami kelelahan saat bernapas.
3. Perfusi Jaringan Perifer Membaik
- Kriteria hasil: Pasien menunjukkan peningkatan warna, suhu, dan pulsasi distal ekstremitas, serta tidak ada tanda-tanda gangguan perfusi.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Bersihan Jalan Napas
- Manajemen Jalan Napas: Mempertahankan jalan napas tetap paten dengan menggunakan alat bantu, seperti ETT, OPA, dan suction.
- Manajemen Ventilasi: Memantau dan mengoptimalkan ventilasi mekanik, seperti pengaturan parameter ventilator.
- Terapi Pernapasan: Memberikan terapi inhalasi, seperti nebulizer, untuk membantu melonggarkan sekret dan memperlancar pernapasan.
2. Manajemen Pernapasan
- Pemantauan Pernapasan: Memantau frekuensi, kedalaman, dan irama pernapasan secara berkala.
- Manajemen Energi: Membantu pasien untuk melakukan aktivitas dengan mengatur energi dan menghindari kelelahan.
- Terapi Oksigen: Memberikan terapi oksigen sesuai kebutuhan untuk mempertahankan saturasi oksigen yang optimal.
3. Manajemen Perfusi
- Pemantauan Sirkulasi: Memantau tanda-tanda vital, seperti tekanan darah, nadi, dan suhu tubuh, untuk mendeteksi perubahan perfusi.
- Manajemen Cairan: Memantau dan mengatur keseimbangan cairan untuk mempertahankan volume darah yang adekuat.
- Terapi Vasoaktif: Memberikan obat-obatan vasoaktif, jika diperlukan, untuk mempertahankan perfusi jaringan yang optimal.
Penjelasan ini didasarkan pada kondisi pasien yang dideskripsikan, menggunakan tone akademis dan persona pakar perawat. Saya harap penjelasan ini dapat membantu Anda dalam memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif untuk pasien tersebut. -
Article No. 21491 | 04 Sep 2025
Klinis : pasien, perempuan berusia 32 tahun, dirawat di rumah sakit dengan keluhan kulit kemerahan luas, nyeri, disertai lepuhan di tubuh dan luka di mulut sejak 3 hari terakhir. Pasien mengatakan awalnya mengalami demam, nyeri tenggorokan, serta mata terasa perih seperti terbakar. Dua hari kemudian, muncul ruam kemerahan di wajah yang menyebar ke dada, punggung, dan lengan. Ruam berkembang menjadi bula yang mudah pecah sehingga kulit tampak melepuh dan terasa sangat nyeri. Pasien juga mengalami sariawan parah yang membuatnya sulit makan dan minum. Saat ditanya riwayat sebelumnya, pasien mengatakan baru 10 hari lalu mengonsumsi obat antibiotik golongan sulfa untuk infeksi saluran kemih. Sejak itu pasien merasa badannya lemah dan muncul gejala prodromal menyerupai flu. Saat ini pasien tampak gelisah, menangis karena nyeri, dan sangat khawatir kondisi kulitnya akan semakin parah. Pasien tidak memiliki riwayat penyakit kronis seperti diabetes mellitus, hipertensi, atau penyakit jantung. Riwayat alergi makanan tidak ada, namun pasien belum pernah diketahui alergi obat. Tidak ada riwayat penyakit kulit sebelumnya. Ayah pasien memiliki riwayat asma, ibu sehat. Tidak ada anggota keluarga dengan riwayat alergi obat berat atau penyakit kulit serupa. Pasien sadar compos mentis, orientasi baik. Keluhan utama pasien adalah nyeri kulit (skala 9/10), nyeri mulut, dan perih pada mata. Pasien juga mengatakan pandangannya mulai kabur sejak dua hari terakhir. Tidur sangat terganggu karena nyeri hebat pada kulit dan mulut. Pasien sering terbangun dan hanya tidur 2–3 jam per malam. Aktivitas sangat menurun karena nyeri dan lemah. Pasien lebih banyak berbaring, membutuhkan bantuan keluarga untuk berpindah tempat tidur. Sebelum sakit, pola BAB dan BAK normal. Saat ini BAK berkurang, urin lebih pekat karena asupan cairan kurang. aat ini pasien sulit makan karena adanya luka di mulut dan tenggorokan, serta bibir pecah-pecah. Nafsu makan sangat menurun, hanya bisa menelan bubur dan minum sedikit air. Berat badan menurun 2 kg dalam 1 minggu. Kulit tampak melepuh luas, beberapa area terkelupas. Pasien biasanya jarang sakit, tetapi jika sakit lebih sering mengonsumsi obat dari apotek tanpa resep dokter. Tidak pernah mendapat edukasi mengenai alergi obat. Pasien merasa cemas, takut wajah dan kulitnya akan rusak permanen. Ia merasa citra dirinya menurun dan malu bila bertemu orang lain. Pasien tampak menangis dan gelisah, sulit menenangkan diri. Saat ditanya cara mengatasi stres, ia mengatakan berdoa dan mendapat dukungan dari suami. Pasien meyakini bahwa sakit merupakan ujian. Ia percaya dengan pengobatan medis dan doa, ia bisa sembuh. Pemeriksaan Fisik ? Keadaan umum: tampak sakit sedang-berat, kesadaran compos mentis. ? Tanda vital: TD 100/70 mmHg, Nadi 108x/menit, RR 24x/menit, Suhu 38,5°C. ? Kulit: ruam eritema menyebar di wajah, dada, punggung, lengan, sebagian tungkai. Lepuhan multipel dengan epidermis mudah terkelupas (positif tanda Nikolsky). Luas area luka ±15–20% TBSA. ? Mata: konjungtiva merah, sekret mukopurulen, pasien mengeluh nyeri dan pandangan kabur. ? Mulut: mukosa bibir dan orofaring penuh ulserasi, terdapat krusta berdarah, pasien sulit menelan. ? Genitalia: tampak lesi eritema dan erosi di daerah vulva. Pemeriksaan Penunjang ? Darah rutin: Leukosit 13.000/?L (meningkat), Hb 12 g/dL, Trombosit 220.000/?L. ? Elektrolit: Na 130 mmol/L (menurun), K 3,2 mmol/L (menurun). ? Fungsi ginjal: Ureum 45 mg/dL, Kreatinin 1,6 mg/dL ? tanda awal gangguan ginjal akibat dehidrasi. ? Tes fungsi hati: SGOT/SGPT meningkat ringan. ? Kultur darah & swab luka: sedang dalam pemeriksaan untuk menilai infeksi sekunder. ? Konsultasi oftalmologi: ditemukan konjungtivitis berat dengan risiko kerusakan kornea
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi pasien yang dideskripsikan, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI, SLKI, SIKI yang sesuai dengan kasus tersebut:
Diagnosa Keperawatan:
1. Kerusakan Integritas Kulit (00046)
SDKI: Kerusakan pada struktur dan fungsi kulit yang merupakan respon terhadap suatu kondisi.
SLKI: Pemeliharaan fungsi dan struktur kulit dalam batas normal.
SIKI: Intervensi untuk mempertahankan dan memperbaiki struktur serta fungsi integritas kulit.
2. Nyeri Akut (00132)
SDKI: Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial.
SLKI: Pengendalian rasa nyeri pada tingkat yang dapat diterima oleh pasien.
SIKI: Intervensi untuk mengurangi atau menghilangkan rasa nyeri yang dirasakan pasien.
3. Risiko Perubahan Keseimbangan Cairan (00025)
SDKI: Ketidakmampuan untuk mempertahankan volume dan/atau komposisi cairan intra- dan ekstraseluler.
SLKI: Pemeliharaan keseimbangan cairan yang optimal.
SIKI: Intervensi untuk mempertahankan volume dan komposisi cairan tubuh yang seimbang.
4. Risiko Infeksi (00004)
SDKI: Peningkatan risiko terkena infeksi.
SLKI: Pencegahan atau pengendalian infeksi.
SIKI: Intervensi untuk mencegah atau mengendalikan infeksi.
5. Cemas (00146)
SDKI: Respon emosional dan psikologis terhadap sumber stres yang dirasakan atau ditangkap.
SLKI: Pengendalian rasa cemas pada tingkat yang dapat diterima oleh pasien.
SIKI: Intervensi untuk mengurangi rasa cemas yang dirasakan pasien.
Kode dan Definisi:
1. Kerusakan Integritas Kulit (00046)
Kode: 00046
Definisi: Kerusakan pada struktur dan fungsi kulit yang merupakan respon terhadap suatu kondisi.
2. Nyeri Akut (00132)
Kode: 00132
Definisi: Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial.
3. Risiko Perubahan Keseimbangan Cairan (00025)
Kode: 00025
Definisi: Ketidakmampuan untuk mempertahankan volume dan/atau komposisi cairan intra- dan ekstraseluler.
4. Risiko Infeksi (00004)
Kode: 00004
Definisi: Peningkatan risiko terkena infeksi.
5. Cemas (00146)
Kode: 00146
Definisi: Respon emosional dan psikologis terhadap sumber stres yang dirasakan atau ditangkap. -
Article No. 21492 | 04 Sep 2025
Klinis : Ny. M, seorang ibu rumah tangga berusia 35 tahun dari suku Minang, beragama Islam, dengan tingkat pendidikan terakhir SMA, saat ini sedang hamil anak keduanya dengan usia kehamilan ±9 bulan. Ny. M mendapatkan informasi mengenai kehamilan dari orang tua dan bidan. Pada hari Jumat, 03 Agustus 2018 pukul 09.30 WIB, Ny. M datang ke fasilitas kesehatan untuk memeriksakan kehamilannya dengan keluhan nyeri perut bagian bawah sejak malam sebelumnya. Hasil pemeriksaan menunjukkan kadar hemoglobin (Hb) sebesar 12 gr% (nilai normal 12–16 gr%), serta protein urine positif (++++) yang mengindikasikan adanya proteinuria. Tekanan darah ibu tercatat 170/100 mmHg. Riwayat kesehatan menunjukkan bahwa pada kehamilan pertama, Ny. M pernah mengalami hipertensi, namun tidak memiliki riwayat penyakit kronis lain maupun penyakit menular. Riwayat keluarga menunjukkan ibu kandung memiliki hipertensi, sedangkan anggota keluarga lain dalam keadaan sehat. Selama kehamilan ini, Ny. M melakukan pemeriksaan rutin di BPM sejak usia kehamilan 11 minggu dengan frekuensi pemeriksaan trimester I sebanyak 2 kali, trimester II sebanyak 3 kali, dan trimester III sebanyak 2 kali. Ibu telah mendapatkan imunisasi TT lengkap. Hasil pemeriksaan objektif menunjukkan: keadaan umum baik, kesadaran compos mentis, berat badan sebelum hamil 70 kg dan saat ini 85 kg, tinggi badan 153 cm, LILA 33 cm, respirasi 20 kali/menit, nadi 80 kali/menit, suhu 36,8 °C. Pada pemeriksaan fisik, tidak ditemukan kelainan pada kepala, mata, telinga, hidung, mulut, leher, dada, dan mamae. Abdomen sesuai umur kehamilan, hasil palpasi Leopold I–IV menunjukkan presentasi bokong dengan bagian terbawah janin masuk PAP secara divergen. Tinggi fundus uteri (TFU) 30 cm, taksiran berat janin (TBJ) ±2945 gram. DJJ terdengar jelas dengan frekuensi 145 kali/menit. Tungkai tampak oedem tanpa varises. Refleks patella positif bilateral, cek ginjal negatif. Berdasarkan data yang ada, ibu menunjukkan tanda-tanda preeklamsia berat dengan riwayat hipertensi dalam kehamilan sebelumnya, tekanan darah tinggi saat ini, serta proteinuria ++++.
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan informasi yang diberikan, kondisi Ny. M menunjukkan tanda-tanda preeklamsia berat dengan riwayat hipertensi dalam kehamilan sebelumnya. Berikut adalah diagnosa keperawatan SDKI yang sesuai, luaran/output yang diharapkan setelah asuhan keperawatan (SLKI), serta intervensi keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan luaran (SIKI):
Diagnosa Keperawatan SDKI:
1. Risiko Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Serebral berhubungan dengan hipertensi
2. Risiko Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Kardiovaskular berhubungan dengan hipertensi
3. Risiko Kerusakan Ginjal berhubungan dengan hipertensi
Luaran/Output yang Diharapkan Setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Risiko Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Serebral
a. Kontrol Tekanan Darah: Tekanan darah dalam batas normal
b. Perfusi Jaringan: Tidak ada tanda-tanda gangguan perfusi jaringan otak
2. Risiko Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Kardiovaskular
a. Kontrol Tekanan Darah: Tekanan darah dalam batas normal
b. Perfusi Jaringan: Tidak ada tanda-tanda gangguan perfusi jaringan kardiovaskular
3. Risiko Kerusakan Ginjal
a. Fungsi Ginjal: Tidak ada peningkatan kadar ureum dan kreatinin dalam darah
b. Eliminasi Urin: Tidak ada peningkatan protein dalam urin
Intervensi Keperawatan yang Diperlukan untuk Mencapai Tujuan Luaran (SIKI):
1. Risiko Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Serebral
a. Pemantauan Tanda-Tanda Vital: Pemantauan tekanan darah, nadi, respirasi, dan suhu secara rutin
b. Manajemen Hipertensi: Pemberian obat antihipertensi, modifikasi gaya hidup, dan edukasi
c. Pemantauan Neurologi: Pemeriksaan reflek, kesadaran, dan fungsi sensorik
2. Risiko Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Kardiovaskular
a. Pemantauan Tanda-Tanda Vital: Pemantauan tekanan darah, nadi, respirasi, dan suhu secara rutin
b. Manajemen Hipertensi: Pemberian obat antihipertensi, modifikasi gaya hidup, dan edukasi
c. Pemantauan Kardiovaskular: Pemeriksaan denyut nadi, tanda-tanda gagal jantung, dan edema
3. Risiko Kerusakan Ginjal
a. Pemantauan Fungsi Ginjal: Pemantauan kadar ureum, kreatinin, dan protein dalam urin
b. Manajemen Cairan: Pemberian cairan intravena dan pemantauan intake-output
c. Edukasi: Edukasi mengenai pentingnya kontrol tekanan darah dan pemantauan fungsi ginjal
Dalam memberikan asuhan keperawatan, perawat harus mempertimbangkan kondisi Ny. M yang sedang hamil anak kedua dengan usia kehamilan ±9 bulan. Asuhan keperawatan harus ditujukan untuk menjaga keselamatan ibu dan janin, serta mencegah komplikasi yang dapat terjadi akibat preeklamsia berat. -
Article No. 21493 | 04 Sep 2025
Klinis : KGD Askep Kasus 1. Pengkajian, primery dan secondary survey : kar 2. Analisa data : vany 3. Diagnosa keperawatan: 4. Intervensi Keperawatan:
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Terima kasih atas pertanyaan Anda. Berikut adalah kode ICD-10 untuk diagnosis, dan kode ICD-9-CM untuk prosedur/tindakan medis yang sesuai dengan kondisi yang Anda berikan:
1. Kode ICD-10:
- Kode: R00-R99
- Deskripsi: Gejala, tanda-tanda, dan temuan klinis tidak diklasifikasikan di tempat lain. Dalam kasus ini, R00-R99 mencakup berbagai gejala dan tanda-tanda yang diamati selama pengkajian primery dan secondary survey.
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 93.01
- Deskripsi: Pengkajian keperawatan, evaluasi komprehensif. Kode ini digunakan untuk mendokumentasikan proses pengkajian yang dilakukan, termasuk pengumpulan data menyeluruh tentang pasien.
Untuk diagnosa keperawatan dan intervensi keperawatan, kode ICD-10 dan ICD-9-CM tidak tersedia, karena klasifikasi tersebut berfokus pada diagnosis dan prosedur medis. Namun, diagnosa keperawatan dan intervensi keperawatan dapat didokumentasikan menggunakan terminologi keperawatan yang diakui secara internasional, seperti NANDA-I (North American Nursing Diagnosis Association International) untuk diagnosa keperawatan dan NIC (Nursing Interventions Classification) untuk intervensi keperawatan.
Dalam kasus ini, diagnosa keperawatan dan intervensi keperawatan akan bergantung pada temuan pengkajian dan analisis data yang dilakukan. Hal ini memerlukan penilaian profesional oleh perawat yang menangani kasus tersebut. -
Article No. 21494 | 04 Sep 2025
Klinis : Kasus gagal jantung akut Seorang perempuan berusia 62 tahun dibawa ke IGD dengan keluhan merasa lemas dan sesak nafas. Sesak nafas dirasakan sejak 1 minggu sebelum masuk rumah sakit, sesak nafas bertambah sejak 1 hari yang lalu. Sesak nafas hilang timbul dipengaruhi aktivitas. Hasil pengkajian: Frekuensi nafas 26 kali/menit, nafas cepat dan dangkal. Sesak nafas semakin berat pada posisi berbaring. Terdapat bunyi nafas ronkhi. Pasien batuk dengan sputum berwarna putih, berbusa Pasien merasa dada berdebar cepat, frekuensi nadi 118 kali/menit, tekanan darah 140/90 mmHg, SaO2 95 %, Distensi vena jugularis, Kulit pucat, dingin dan berkeringat Pasien mengeluh pusing dan terlihat gelisah. Terdapat edema pada ekstremitas bawah Hasil EKG: Rate 106, Gel P sulit diidentifikasi, PR interval didak dapat dihitung, Komplek QRS tidak teratur. Atrial Fibrilation Diagnosa medis: gagal jantung dekompensasi akut
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan informasi yang diberikan, kondisi pasien dapat didiagnosis sebagai berikut:
1. Kode ICD-10:
- Kode: I50.1
- Deskripsi: Gagal jantung akut (acute heart failure)
2. Kode ICD-9-CM Procedure:
- Kode: 427.31
- Deskripsi: Fibrilasi atrial (atrial fibrillation)
Penjelasan:
- Kode ICD-10 I50.1 untuk gagal jantung akut didasarkan pada gejala pasien yang mengalami sesak napas, edema ekstremitas bawah, dan tanda-tanda gagal jantung lainnya yang terjadi dalam waktu singkat.
- Kode ICD-9-CM 427.31 untuk fibrilasi atrial didasarkan pada temuan EKG yang menunjukkan adanya fibrilasi atrial.
- Tindakan medis yang mungkin dilakukan untuk penanganan pasien ini dapat berupa terapi diuretik, vasodilator, antikoagulan, dan manajemen ritme jantung. -
Article No. 21495 | 04 Sep 2025
Klinis : Kasus gagal jantung akut Seorang perempuan berusia 62 tahun dibawa ke IGD dengan keluhan merasa lemas dan sesak nafas. Sesak nafas dirasakan sejak 1 minggu sebelum masuk rumah sakit, sesak nafas bertambah sejak 1 hari yang lalu. Sesak nafas hilang timbul dipengaruhi aktivitas. Hasil pengkajian: Frekuensi nafas 26 kali/menit, nafas cepat dan dangkal. Sesak nafas semakin berat pada posisi berbaring. Terdapat bunyi nafas ronkhi. Pasien batuk dengan sputum berwarna putih, berbusa Pasien merasa dada berdebar cepat, frekuensi nadi 118 kali/menit, tekanan darah 140/90 mmHg, SaO2 95 %, Distensi vena jugularis, Kulit pucat, dingin dan berkeringat Pasien mengeluh pusing dan terlihat gelisah. Terdapat edema pada ekstremitas bawah Hasil EKG: Rate 106, Gel P sulit diidentifikasi, PR interval didak dapat dihitung, Komplek QRS tidak teratur. Atrial Fibrilation Diagnosa medis: gagal jantung dekompensasi akut
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: 1. Kode ICD-10:
- Kode: I50.1
- Deskripsi: Gagal jantung akut
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: tidak ada kode prosedur yang spesifik, tapi beberapa tindakan mungkin dilakukan seperti:
- 99.21 - Pemberian oksigen
- 99.19 - Pemberian obat-obatan intravena lain
- 99.04 - Pemantauan tekanan darah
Penjelasan:
Berdasarkan informasi yang diberikan, pasien ini mengalami kondisi gagal jantung dekompensasi akut. Gejala-gejala yang ditunjukkan, seperti sesak napas, edema, distress pernapasan, dan irama jantung tidak teratur (atrial fibrilasi), mengarah pada diagnosis gagal jantung akut.
Kode ICD-10 yang sesuai adalah I50.1 - Gagal jantung akut. Ini mencakup berbagai bentuk dekompensasi jantung akut, seperti edema paru akut, gagal jantung kanan akut, dan gagal jantung kiri akut.
Untuk prosedur, tidak ada kode ICD-9-CM yang spesifik, tetapi pasien mungkin memerlukan tindakan seperti pemberian oksigen (99.21), pemberian obat-obatan intravena (99.19), dan pemantauan tekanan darah (99.04) sebagai bagian dari penatalaksanaan kondisi gagal jantung akut. -
Article No. 21496 | 04 Sep 2025
Klinis : Kasus gagal jantung akut Seorang perempuan berusia 62 tahun dibawa ke IGD dengan keluhan merasa lemas dan sesak nafas. Sesak nafas dirasakan sejak 1 minggu sebelum masuk rumah sakit, sesak nafas bertambah sejak 1 hari yang lalu. Sesak nafas hilang timbul dipengaruhi aktivitas. Hasil pengkajian: Frekuensi nafas 26 kali/menit, nafas cepat dan dangkal. Sesak nafas semakin berat pada posisi berbaring. Terdapat bunyi nafas ronkhi. Pasien batuk dengan sputum berwarna putih, berbusa Pasien merasa dada berdebar cepat, frekuensi nadi 118 kali/menit, tekanan darah 140/90 mmHg, SaO2 95 %, Distensi vena jugularis, Kulit pucat, dingin dan berkeringat Pasien mengeluh pusing dan terlihat gelisah. Terdapat edema pada ekstremitas bawah Hasil EKG: Rate 106, Gel P sulit diidentifikasi, PR interval didak dapat dihitung, Komplek QRS tidak teratur. Atrial Fibrilation Diagnosa medis: gagal jantung dekompensasi akut
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi pasien yang dideskripsikan, berikut adalah diagnosa keperawatan beserta penjelasan singkat SDKI, SLKI, dan SIKI yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
1. Diagnosa Keperawatan:
a. Kode SDKI: 00032 Gangguan Pola Napas
b. Definisi: Ketidakmampuan untuk bernapas dengan irama dan frekuensi yang normal.
2. Diagnosa Keperawatan:
a. Kode SDKI: 00026 Intoleransi Aktivitas
b. Definisi: Ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas rutin yang diinginkan.
3. Diagnosa Keperawatan:
a. Kode SDKI: 00027 Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Perifer
b. Definisi: Pengurangan aliran darah ke jaringan perifer yang dapat mengancam kesehatan.
4. Diagnosa Keperawatan:
a. Kode SDKI: 00092 Kecemasan
b. Definisi: Respon emosional dan fisik terhadap ancaman yang dirasakan tidak jelas atau tidak diketahui.
5. Diagnosa Keperawatan:
a. Kode SDKI: 00193 Edema
b. Definisi: Akumulasi cairan yang berlebihan di dalam ruang interstisial dan/atau rongga tubuh.
Penjelasan singkat:
SDKI (Standar Diagnostik Keperawatan Indonesia) merupakan daftar diagnosa keperawatan yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) adalah standar luaran yang diharapkan dari intervensi keperawatan, sedangkan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) adalah daftar intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mencapai luaran yang diharapkan.
Masing-masing diagnosa keperawatan di atas memiliki kode dan definisi yang terstandarisasi, sehingga perawat dapat menggunakannya dalam praktik keperawatan untuk memberikan asuhan keperawatan yang berkualitas. -
Article No. 21497 | 04 Sep 2025
Klinis : kebas tangan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI, SLKI, dan SIKI untuk kondisi kebas tangan berdasarkan Persatuan Perawat Nasional Indonesia.
Diagnosa Keperawatan:
Gangguan Sensasi Perifer (00422)
Definisi SDKI:
Gangguan Sensasi Perifer adalah ketidakmampuan merasakan atau menyadari rangsangan di bagian tubuh secara normal.
Definisi SLKI:
Pemulihan Sensasi (D0201)
Upaya untuk memulihkan sensasi normal pada bagian tubuh yang terganggu.
Definisi SIKI:
1. Menilai sensasi perifer (J0201)
Kode: J0201
Definisi: Mengumpulkan dan menganalisis data terkait sensasi perifer.
2. Memfasilitasi pemulihan sensasi (J0202)
Kode: J0202
Definisi: Melakukan tindakan untuk membantu pemulihan sensasi normal pada bagian tubuh yang terganggu.
Penjelasan Singkat:
Pasien mengalami kebas pada tangan, yang merupakan indikasi adanya gangguan sensasi perifer. Perawat perlu menilai sensasi perifer pasien untuk mengidentifikasi penyebab dan tingkat keparahan gangguan. Selanjutnya, perawat dapat memfasilitasi pemulihan sensasi melalui intervensi yang sesuai, seperti latihan sensorik, stimulasi listrik, atau penggunaan alat bantu. Tujuannya adalah untuk memulihkan sensasi normal pada tangan pasien. -
Article No. 21498 | 04 Sep 2025
Klinis : Disuria
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Sebagai perawat, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci mengenai Diagnosa Keperawatan SDKI, Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI), dan Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk kondisi disuria.
Diagnosa Keperawatan SDKI:
Untuk kondisi disuria, diagnosa keperawatan yang sesuai berdasarkan SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia) adalah "Gangguan Eliminasi Urine". Disuria atau nyeri/rasa tidak nyaman saat berkemih merupakan salah satu gejala dari gangguan eliminasi urine. Diagnosa ini mencakup masalah keperawatan terkait dengan kemampuan individu yang terganggu dalam mengosongkan kandung kemih secara adekuat.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
Setelah dilakukan asuhan keperawatan pada pasien dengan disuria, luaran yang diharapkan berdasarkan SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) adalah "Eliminasi Urine Lancar". Indikator dari luaran ini mencakup:
1. Pasien dapat mengosongkan kandung kemih secara utuh dan tuntas.
2. Pasien dapat berkemih tanpa nyeri atau ketidaknyamanan.
3. Pasien dapat mempertahankan pola berkemih normal sesuai kebutuhan.
4. Pasien dapat mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat mempengaruhi eliminasi urine.
5. Pasien dapat melakukan tindakan untuk memfasilitasi eliminasi urine yang lancar.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
Untuk mencapai luaran "Eliminasi Urine Lancar" pada pasien dengan disuria, intervensi keperawatan yang diperlukan berdasarkan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) adalah:
1. Manajemen Eliminasi: Mengkaji pola, frekuensi, dan karakteristik eliminasi urine pasien. Memfasilitasi pasien untuk berkemih secara adekuat, seperti menganjurkan untuk minum cukup cairan, melakukan latihan Kegel, dan menggunakan teknik berkemih yang benar.
2. Manajemen Rasa Tidak Nyaman: Mengkaji tingkat nyeri atau ketidaknyamanan saat berkemih. Memberikan analgesik atau antiinflamasi sesuai indikasi untuk mengurangi rasa sakit. Mengajarkan pasien teknik relaksasi dan distraksi untuk mengatasi rasa tidak nyaman.
3. Edukasi Kesehatan: Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai penyebab, gejala, dan penatalaksanaan disuria. Membantu pasien mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat mempengaruhi eliminasi urine dan melakukan tindakan preventif.
4. Manajemen Cairan: Memantau asupan dan output cairan pasien. Memastikan pasien mengonsumsi cairan yang cukup untuk memfasilitasi eliminasi urine yang lancar.
Dengan intervensi keperawatan yang komprehensif dan terfokus pada mengatasi masalah eliminasi urine, diharapkan pasien dengan disuria dapat mencapai luaran "Eliminasi Urine Lancar" sehingga dapat mempertahankan pola berkemih yang normal dan meningkatkan kualitas hidup. -
Article No. 21499 | 04 Sep 2025
Klinis : retensi urin
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci terkait diagnosa keperawatan, luaran yang diharapkan, dan intervensi keperawatan untuk kondisi retensi urin.
Diagnosa Keperawatan SDKI:
Diagnosa keperawatan yang sesuai untuk kondisi retensi urin adalah "Gangguan Eliminasi Urin" (SDKI, 2017). Diagnosa ini mencakup kondisi di mana terdapat hambatan dalam pengeluaran urin dari kandung kemih, yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti infeksi saluran kemih, obstruksi jalan keluar kandung kemih, atau disfungsi kandung kemih.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
Setelah diberikan asuhan keperawatan yang tepat, luaran yang diharapkan untuk kondisi retensi urin adalah:
1. Pemulihan Eliminasi Urin: Pasien dapat mengosongkan kandung kemih secara efektif dan teratur tanpa adanya hambatan.
2. Pengendalian Gejala: Pasien menunjukkan penurunan atau hilangnya gejala-gejala yang terkait dengan retensi urin, seperti rasa tidak nyaman di area kandung kemih, nyeri saat berkemih, dan peningkatan frekuensi berkemih.
3. Pencegahan Komplikasi: Pasien tidak mengalami komplikasi yang terkait dengan retensi urin, seperti infeksi saluran kemih, kerusakan ginjal, atau pembentukan batu ginjal.
4. Peningkatan Kualitas Hidup: Pasien menunjukkan peningkatan dalam aktivitas sehari-hari, tidur, dan kenyamanan secara umum akibat pemulihan fungsi eliminasi urin.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
Untuk mencapai luaran yang diharapkan, berikut adalah intervensi keperawatan yang dapat dilakukan:
1. Manajemen Eliminasi:
- Memantau pola dan volume eliminasi urin
- Melakukan kateterisasi kandung kemih jika diperlukan untuk membantu pengosongan kandung kemih
- Memberikan edukasi kepada pasien tentang teknik berkemih yang benar
2. Manajemen Kenyamanan:
- Memberikan analgesik atau obat-obatan lain untuk mengurangi rasa nyeri atau ketidaknyamanan saat berkemih
- Mengatur posisi pasien untuk meningkatkan kenyamanan saat berkemih
3. Edukasi Kesehatan:
- Memberikan informasi kepada pasien tentang penyebab, gejala, dan komplikasi retensi urin
- Mengajarkan pasien tentang perawatan diri yang tepat, seperti menjaga kebersihan area genital dan mengenali tanda-tanda infeksi
4. Kolaborasi Profesional:
- Berkolaborasi dengan dokter untuk menentukan pengobatan yang tepat, seperti pemberian obat-obatan atau tindakan pembedahan jika diperlukan
- Berkoordinasi dengan tim kesehatan lain (misalnya fisioterapis) untuk memberikan intervensi yang komprehensif
Dengan intervensi keperawatan yang komprehensif dan terpadu, diharapkan dapat membantu pasien dengan retensi urin untuk mencapai luaran yang diharapkan, yaitu pemulihan fungsi eliminasi urin, pengendalian gejala, pencegahan komplikasi, dan peningkatan kualitas hidup.