Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 21704 | 16 Sep 2025
Klinis : Pasien perempuan, 22 tahun dengan gangguan jiwa. Saat ini pasien mengamuk dan membenturkan dirinya di teralis kamar. Asupan nutrisi atau makanan selama shift pagi belum berhasil, pasien tidak mau makan. Mulut pasien terlihat kering.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: \b\fs28 \cf0 \uc1\f0 \b0 \fs24 \cf0 \pard\nowidctlpar\sl276\slmult1\qj Berdasarkan data klinis yang disampaikan, berikut adalah diagnosa keperawatan beserta penjelasan singkat SDKI, SLKI, dan SIKI sesuai standar PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia):\par
\par
\b DIAGNOSA KEPERAWATAN:\b0 \par
\b Risiko Cedera\b0 (Kode: 0016) berhubungan dengan perilaku kekerasan terhadap diri sendiri (membenturkan diri di teralis)\par
\par
\b SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia):\b0 \par
\b Definisi:\b0 Status di mana individu berisiko mengalami cedera sebagai akibat dari kondisi lingkungan atau interaksi dengan lingkungan (PPNI, 2017).\par
\b Karakteristik Utama:\b0 Perilaku membahayakan diri, agitasi psikomotor, ketidakmampuan mengendalikan impuls.\par
\par
\b SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):\b0 \par
\b Kode: 1902 - Pengendalian Perilaku Kekerasan\b0 \par
\b Indikator:\b0 \par
- 190201 - Mengidentifikasi pemicu perilaku kekerasan (Skala: 1-5)\par
- 190203 - Menggunakan strategi koping untuk mengontrol amarah (Skala: 1-5)\par
- 190204 - Tidak menyakiti diri sendiri/orang lain (Skala: 1-5)\par
\b Target Luaran:\b0 Peningkatan skala pada indikator terkait pengendalian perilaku.\par
\par
\b SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):\b0 \par
\b Kode: 6490 - Manajemen Perilaku Kekerasan\b0 \par
\b Aktivitas:\b0 \par
- 6490A1 - Lakukan pendekatan dengan tenang dan tidak mengancam\par
- 6490A2 - Jauhkan objek yang berpotensi membahayakan\par
- 6490A4 - Berikan obat sesuai program terapi\par
- 6490A7 - Kolaborasi dengan tim kesehatan mental\par
\par
\b DIAGNOSA TAMBAHAN:\b0 \par
\b Defisit Perawatan Diri: Makan\b0 (Kode: 00108) berhubungan dengan penolakan intake nutrisi dan mukosa oral kering\par
\par
\b SDKI:\b0 \par
\b Definisi:\b0 Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan nutrisi untuk pemeliharaan kesehatan.\par
\par
\b SLKI:\b0 \par
\b Kode: 0405 - Status Nutrisi\b0 \par
\b Indikator:\b0 \par
- 040502 - Asupan makanan oral (Skala: 1-5)\par
- 040507 - Hidrasi (Skala: 1-5)\par
\par
\b SIKI:\b0 \par
\b Kode: 1120 - Manajemen Nutrisi\b0 \par
\b Aktivitas:\b0 \par
- 1120A1 - Monitor intake dan output nutrisi\par
- 1120A4 - Kolaborasi pemberian nutrisi parenteral jika diperlukan\par
- 1120A9 - Berikan oral hygiene\par
\par
\b Catatan:\b0 Intervensi keperawatan harus dilakukan dengan pendekatan terapeutik, memprioritaskan keselamatan pasien, dan kolaborasi multidisiplin.\par
\par
\i \fs20 \cf2 Sumber: Buku Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) Edisi 2018-2020 PPNI\i0 \fs24 \cf0 \par
} -
Article No. 21705 | 16 Sep 2025
Klinis : terdapat luka sayatan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: \rtf1\ansi\ansicpg1252\deff0\nouicompat\deflang1033{\fonttbl{\f0\fnil\fcharset0 Calibri;}}
{\colortbl ;\red0\green0\blue0;}
{\*\generator Riched20 10.0.22621}\viewkind4\uc1
\pard\nowidctlpar\sa200\sl276\slmult1\cf1\f0\fs22\lang1057 Berdasarkan kondisi klien dengan luka sayatan, berikut adalah diagnosa keperawatan beserta penjelasan singkat sesuai standar SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI).\par
\b DIAGNOSA KEPERAWATAN:\b0\par
\b Kode:\b0 D.0016 \endash Kerusakan Integritas Jaringan\par
\b Definisi:\b0 Kerusakan pada membran mukosa, kornea, integumen, atau jaringan subkutan yang mengakibatkan terganggunya struktur dan fungsi jaringan.\par
\b STANDAR LUARAN KEPERAWATAN INDONESIA (SLKI):\b0\par
\b Kode:\b0 L.14016 \endash Penyembuhan Luka: Tahap Penyembuhan\par
\b Definisi:\b0 Tingkat penyembuhan luka akibat trauma atau pembedahan.\par
\b Indikator:\par
1. L.14016.1: Kulit sekitar luka utuh\par
2. L.14016.2: Tidak ada drainage dari luka\par
3. L.14016.3: Tidak ada eritema pada luka\par
4. L.14016.4: Tidak ada edema pada luka\par
5. L.14016.5: Tidak ada nyeri pada luka\par
\b STANDAR INTERVENSI KEPERAWATAN INDONESIA (SIKI):\b0\par
\b Kode:\b0 I.11250 \endash Perawatan Luka\par
\b Definisi:\b0 Membersihkan, mengeringkan, dan mempertahankan kondisi luka agar tetap lembab untuk mencegah komplikasi dan mempercepat penyembuhan.\par
\b Aktivitas:\par
1. I.11250.1: Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan perawatan luka\par
2. I.11250.2: Lakukan teknik aseptik dan antiseptik\par
3. I.11250.3: Observasi karakteristik luka (lokasi, warna, ukuran, kedalaman, drainage, bau)\par
4. I.11250.4: Bersihkan luka dengan cairan antiseptik sesuai ketentuan\par
5. I.11250.5: Ganti balutan sesuai kebutuhan\par
6. I.11250.6: Kolaborasi pemberian analgesik jika diperlukan\par
7. I.11250.7: Ajarkan klien dan keluarga tentang perawatan luka\par
\b Penjelasan Singkat:\b0\par
Diagnosa \b Kerusakan Integritas Jaringan (D.0016)\b0 ditetapkan karena luka sayatan menyebabkan terputusnya kontinuitas kulit dan jaringan di bawahnya. Tujuan utamanya adalah mencapai \b Penyembuhan Luka (L.14016)\b0 yang optimal, ditandai dengan tidak adanya tanda-tanda infeksi seperti drainage, eritema, edema, dan nyeri. Untuk mencapai luaran tersebut, intervensi keperawatan utama yang dilakukan adalah \b Perawatan Luka (I.11250)\b0, yang berfokus pada pembersihan luka, penerapan balutan, pencegahan infeksi, dan edukasi kepada klien. Pendekatan ini bersifat holistik dan berstandar untuk memastikan keselamatan serta mempercepat proses penyembuhan klien.\par
} -
Article No. 21689 | 15 Sep 2025
Klinis : pasien datang dengan keluhan sakit perut sebelah kiri
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: \b DIAGNOSA KEPERAWATAN\b0\line\line
\b Kode: B.3.1.1\b0\line
\b Nama Diagnosa: Nyeri Akut\b0\line
\b Definisi: Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut (International Association for the Study of Pain); onset mendadak atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau diprediksi dan durasi kurang dari 3 bulan.\line\line
\b STANDAR DIAGNOSIS KEPERAWATAN INDONESIA (SDKI)\b0\line
\b B.3.1.1 Nyeri Akut\b0\line
\b Data Utama:\b0\line
- Melaporkan nyeri\line
- Perilaku berhati-hati (menjaga area yang nyeri)\line
- Perubahan tekanan darah, nadi, dan pernapasan dari nilai normal pasien\line
- Perilaku ekspresi nyeri (contoh: wajah meringis, menangis, mengerang)\line
- Perilaku gelisah\line
\b Data Pendukung:\b0\line
- Dilatasi pupil\line
- Perilaku distraksi (contoh: mengalihkan pembicaraan, menggosok area yang nyeri)\line
- Perilaku fokus pada diri sendiri\line
- Perubahan tonus otot (dari lemas sampai kaku)\line\line
\b STANDAR LUARAN KEPERAWATAN INDONESIA (SLKI)\b0\line
\b Kode: B.3.1.1\b0\line
\b Nama Luaran: Kontrol Nyeri\b0\line
\b Definisi: Tindakan personal untuk mengendalikan nyeri.\line
\b Indikator dengan Skala (1-5):\b0\line
1. \i Mengenali onset nyeri\i0\line
2. \i Melaporkan nyeri\i0\line
3. \i Menggunakan strategi non-farmakologis untuk mengatasi nyeri\i0\line
4. \i Menggunakan analgesik dengan tepat\i0\line
5. \i Melaporkan nyeri terkontrol\i0\line
\b Tujuan:\b0 Mencapai skala 4 atau 5 pada seluruh indikator.\line\line
\b STANDAR INTERVENSI KEPERAWATAN INDONESIA (SIKI)\b0\line
\b Kode: B.3.1.1\b0\line
\b Nama Intervensi: Manajemen Nyeri\b0\line
\b Definisi: Memberikan bantuan untuk meringankan nyeri atau mengurangi nyeri hingga tingkat yang dapat ditoleransi.\line
\b Aktivitas Keperawatan (Seleksi):\b0\line
- Lakukan pengkajian nyeri yang komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, onset, durasi, frekuensi, kualitas, dan intensitas/beratnya nyeri.\line
- Observasi adanya perubahan pada tanda-tanda vital.\line
- Ajarkan penggunaan teknik non-farmakologis (contoh: relaksasi, distraksi, imajinasi terbimbing, kompres hangat/dingin) sesuai indikasi.\line
- Kolaborasi pemberian analgesik sesuai indikasi dan protokol.\line
- Evaluasi efektivitas intervensi pengendalian nyeri dalam waktu yang sesuai.\line
- Monitor efek samping terapi obat dan keluhan lain yang muncul.\line\line
\b Catatan:\b0 Diagnosa keperawatan "Nyeri Akut" dipilih berdasarkan keluhan utama "sakit perut sebelah kiri" yang dialami pasien. Nyeri merupakan pengalaman subjektif yang memerlukan penilaian komprehensif. Intervensi dan luaran difokuskan pada pengakuan, pelaporan, dan pengendalian nyeri oleh pasien melalui pendekatan farmakologis dan non-farmakologis. Penetapan diagnosa ini bersifat sementara dan dapat berubah setelah dilakukan pengkajian keperawatan yang lebih mendalam untuk mengidentifikasi etiologi nyeri abdomen kiri. -
Article No. 21690 | 15 Sep 2025
Klinis : pasien datang dengan keluhan sakit perut sebelah kiri
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: \b\fs28 DIAGNOSA KEPERAWATAN\b0\fs24
\b Kode: 00132\b0
\b Nyeri Akut\b0
\b\fs28 PENJELASAN SDKI - SLKI - SIKI\b0\fs24
\b SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia):\b0
\b Kode: 00132 - Nyeri Akut\b0
Pengalaman sensori dan emosional tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, dengan onset mendadak atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat, dan perkiraan waktu kurang dari 3 bulan.
\b SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):\b0
\b Kode: 0801 - Tingkat Nyeri\b0
\b Kode: 0802 - Pengendalian Nyeri\b0
Luaran yang diharapkan:
- Skala nyeri menurun (dari skala 7-10 menjadi 0-3)
- Ekspresi nyeri verbal dan non-verbal berkurang
- Pasien mampu menggunakan teknik non-farmakologis untuk mengurangi nyeri
- Tanda-tanda vital dalam rentang normal
\b SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):\b0
\b Kode: 0810 - Manajemen Nyeri\b0
\b Kode: 1400 - Manajemen Medikasi\b0
Intervensi yang direkomendasikan:
- Lakukan pengkajian nyeri komprehensif (P, Q, R, S, T)
- Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi
- Kolaborasi pemberian analgesik sesuai resep
- Monitor efektivitas dan efek samping terapi nyeri
- Lakukan reposisi dan teknik kenyamanan
- Berikan pendidikan kesehatan tentang manajemen nyeri mandiri
\b Catatan:\b0 Diagnosa ini bersifat umum untuk keluhan nyeri abdomen kiri. Penetapan diagnosa keperawatan yang lebih spesifik memerlukan pengkajian lebih mendalam mengenai karakteristik nyeri, penyebab, dan data pendukung lainnya melalui assessment keperawatan yang komprehensif. -
Article No. 21691 | 15 Sep 2025
Klinis : pasien datng dengan keluhan sakit perut
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: \b\fs28 \cf0 Berdasarkan keluhan sakit perut yang disampaikan, berikut adalah beberapa kemungkinan Diagnosa Keperawatan beserta penjelasan singkat SDKI, SLKI, dan SIKI sesuai standar PPNI:
\b\fs24 \cf0 \ul Diagnosa Keperawatan 1:
\b0\fs24 \cf0 \ul Nyeri Akut (Kode: 00132)
\b0\fs24 \cf0
\b SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia):\b0 Nyeri dilaporkan atau diekspresikan, perubahan tekanan darah dan nadi, perilaku berhati-hati, ekspresi wajah kesakitan, gelisah.
\line \b SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):\b0 Tingkat nyeri menurun (Kode: 080120), kenyamanan meningkat (Kode: 080205).
\line \b SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):\b0 Manajemen Nyeri (Kode: 1400) - termasuk observasi karakteristik nyeri, manajemen lingkungan, teknik distraksi, pemberian analgesik sesuai instruksi.
\b\fs24 \cf0 \ul Diagnosa Keperawatan 2:
\b0\fs24 \cf0 \ul Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan (Kode: 00025)
\b0\fs24 \cf0
\b SDKI:\b0 Faktor risiko: muntah, diare, atau asupan cairan tidak adekuat yang sering menyertai sakit perut.
\line \b SLKI:\b0 Status hidrasi memadai (Kode: 060215), keseimbangan cairan (Kode: 060101).
\line \b SIKI:\b0 Manajemen Cairan (Kode: 4120) - pemantauan tanda-tanda dehidrasi, pemberian cairan oral/IV, pencatatan balance cairan.
\b\fs24 \cf0 \ul Diagnosa Keperawatan 3:
\b0\fs24 \cf0 \ul Gangguan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh (Kode: 00002)
\b0\fs24 \cf0
\b SDKI:\b0 Penurunan nafsu makan, mual, muntah, atau pembatasan asupan terkait nyeri perut.
\line \b SLKI:\b0 Status nutrisi memadai (Kode: 100101), asupan nutrisi oral (Kode: 100301).
\line \b SIKI:\b0 Manajemen Nutrisi (Kode: 1100) - pemantauan asupan, kolaborasi pemberian diet sesuai toleransi, edukasi nutrisi.
\b\fs24 \cf0 \ul Diagnosa Keperawatan 4:
\b0\fs24 \cf0 \ul Ansietas (Kode: 00146)
\b0\fs24 \cf0
\b SDKI:\b0 Perasaan cemas atau khawatir terkait kondisi sakit yang dialami.
\line \b SLKI:\b0 Tingkat ansietas menurun (Kode: 121105), koping efektif (Kode: 130201).
\line \b SIKI:\b0 Manajemen Ansietas (Kode: 5820) - pendekatan terapeutik, teknik relaksasi, dukungan emosional.
\b\fs24 \cf0 Catatan:\b0\fs24 \cf0 Diagnosa keperawatan harus ditetapkan berdasarkan pengkajian menyeluruh dan validasi data yang akurat. Kode dan standar mengacu pada dokumen resmi PPNI terbaru.
} -
Article No. 21692 | 15 Sep 2025
Klinis : Seorang perempuan, usia 19 tahun mengalami ruam di batang hidung hingga di kedua pipinya berbentuk seperti kupu-kupu serta di pergelangan tangan. Dari hari ke hari, ruam semakin parah, pasien semakin merasa keletihan dan merasakan nyeri sendi jika terkena sinar matahari langsung. Hasil pengkajian didapatkan bengkak pada pergelangan kaki, sariawan di mulut, rambut rontok, TD 120/80 mmHg, frekuensi nadi 130 x/ menit, frekuensi nafas 30 x/menit, suhu 390C. Hasil foto thoraks didapatkan gambaran akumulasi cairan dan peradangan. Hasil test antinuclear antibody > 60 unit. Pasien mendapatkan terapi farmakologi hydroxychloroquine.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: \b \b0\fs24 Berdasarkan data klinis yang disampaikan, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat sesuai standar SDKI, SLKI, dan SIKI PPNI yang relevan dengan kondisi pasien:\line\line
\b Diagnosa Keperawatan Utama:\b0\line
\b Kode SDKI: 1.1.1\b0 - \i Nyeri Akut\i0\line
\b Definisi:\b0 Pengalaman sensori dan emosional tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, dengan onset mendadak atau ringan hingga berat dengan durasi terbatas.\line
\b Data Pendukung:\b0 Pasien melaporkan nyeri sendi saat terpapar sinar matahari, yang merupakan gejala khas Systemic Lupus Erythematosus (SLE). Demam (39°C) dan proses inflamasi yang terlihat pada foto thoraks juga berkontribusi terhadap persepsi nyeri.\line\line
\b Kriteria Hasil (SLKI):\b0\line
\b Kode SLKI: 1.1.1.1\b0 - \i Tingkat nyeri terkontrol\i0\line
\b Indikator:\b0
1. Melaporkan penurunan skala nyeri.
2. Menunjukkan perilaku nyaman (tidak gelisah).
3. Tanda-tanda vital dalam rentang normal.\line\line
\b Intervensi Keperawatan (SIKI):\b0\line
\b Kode SIKI: 1.1.1.1\b0 - \i Manajemen Nyeri\i0\line
\b Aktivitas:\b0
1. Kaji karakteristik nyeri (skala, lokasi, durasi, pemicu).
2. Ajarkan teknik non-farmakologis (kompres, relaksasi, hindari paparan sinar matahari langsung).
3. Kolaborasi pemberian analgesik sesuai program terapi (Hydroxychloroquine memiliki efek modulasi nyeri pada SLE).
4. Monitor dan catat respons pasien terhadap intervensi.\line\line
\b Diagnosa Keperawatan Pendukung:\b0\line
\b Kode SDKI: 1.5.1\b0 - \i Intoleransi Aktivitas\i0\line
\b Definisi:\b0 Kondisi dimana seseorang mengalami keletihan fisik atau mental yang menyebabkan ketidakmampuan untuk mempertahankan aktivitas rutin.\line
\b Data Pendukung:\b0 Pasien mengeluhkan keletihan yang memberat, takikardia (nadi 130x/menit), tachypnea (30x/menit), dan demam, yang secara bersama-sama mengindikasikan peningkatan kebutuhan energi dan penurunan kapasitas fungsional.\line\line
\b Catatan Penting:\b0\line
Konstelasi gejala (ruam malar, fotosensitivitas, artralgia, ulkus oral, alopesia, pleuritis, hasil ANA positif) sangat konsisten dengan diagnosis \i Systemic Lupus Erythematosus (SLE)\i0. Semua diagnosa dan intervensi keperawatan harus dilakukan dalam kerangka kolaboratif dengan tim medis, mengingat kompleksitas dan potensi komplikasi dari penyakit autoimun ini. Pemberian Hydroxychloroquine merupakan terapi standar untuk mengendalikan manifestasi klinis SLE.
\b \b0\fs24\par
} -
Article No. 21693 | 15 Sep 2025
Klinis : Seorang perempuan, usia 19 tahun mengalami ruam di batang hidung hingga di kedua pipinya berbentuk seperti kupu-kupu serta di pergelangan tangan. Dari hari ke hari, ruam semakin parah, pasien semakin merasa keletihan dan merasakan nyeri sendi jika terkena sinar matahari langsung. Hasil pengkajian didapatkan bengkak pada pergelangan kaki, sariawan di mulut, rambut rontok, TD 120/80 mmHg, frekuensi nadi 130 x/ menit, frekuensi nafas 30 x/menit, suhu 390C. Hasil foto thoraks didapatkan gambaran akumulasi cairan dan peradangan. Hasil test antinuclear antibody > 60 unit. Pasien mendapatkan terapi farmakologi hydroxychloroquine.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
**DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI KEPERAWATAN**
Berdasarkan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI)
**I. DATA PENGKAJIAN UTAMA**
- Ruam malar (berbentuk kupu-kupu) pada wajah dan ruam di pergelangan tangan
- Fotosensitivitas (nyeri sendi akibat paparan sinar matahari)
- Keletihan progresif
- Ulkus oral (sariawan)
- Alopesia (rambut rontok)
- Artralgia (nyeri sendi) dan edema pergelangan kaki
- Demam (39°C), takikardia (130 x/menit), takipnea (30 x/menit)
- Bukti radiologis efusi pleura dan inflamasi
- Titer ANA positif tinggi (>60 unit)
- Terapi farmakologis: Hydroxychloroquine
**II. DIAGNOSIS KEPERAWATAN UTAMA**
**SDKI.B.4: Nyeri Akut** (Kode: 00132)
**Penjelasan:** Diagnosa ini ditetapkan berdasarkan keluhan nyeri sendi yang dipicu oleh paparan sinar matahari (fotosensitivitas) dan adanya proses inflamasi sistemik yang ditunjukkan oleh demam, takikardia, serta hasil laboratorium dan radiologis. Nyeri merupakan manifestasi langsung dari aktivitas penyakit autoimun.
**III. LUARAN KEPERAWATAN (SLKI)**
**SLKI.B.4: Pengendalian Nyeri** (Kode: 2106)
**Kriteria Luaran yang Diharapkan:**
- Skor nyeri dilaporkan menurun (dengan menggunakan skala nyeri yang valid)
- Klien mampu mendemonstrasikan teknik non-farmakologis untuk mengatasi nyeri
- Klien menunjukkan tanda-tanda vital dalam rentang normal (suhu, nadi, frekuensi napas)
- Klien melaporkan peningkatan kemampuan untuk beristirahat dan melakukan aktivitas
**IV. INTERVENSI KEPERAWATAN (SIKI)**
**SIKI.B.4: Manajemen Nyeri** (Kode: 1410)
**Aktivitas Keperawatan:**
1. **Manajemen Farmakologis:**
* Kolaborasi pemberian analgesik dan obat anti-inflamasi sesuai resep (Hydroxychloroquine telah diberikan).
* Monitor efektivitas terapi dan timbulnya efek samping.
2. **Intervensi Non-Farmakologis:**
* Ajarkan dan bantu teknik non-farmakologis (misalnya, relaksasi, distraksi, kompres).
* Anjurkan tirah baring selama fase akut untuk mengurangi stres pada sendi.
3. **Edukasi dan Lingkungan:**
* Lakukan edukasi mengenai fotosensitivitas dan pentingnya **perlindungan dari paparan sinar matahari langsung** (menggunakan tabir surya, pakaian tertutup, topi).
* Ciptakan lingkungan yang nyaman dan tenang.
4. **Monitoring:**
* Kaji karakteristik nyeri (skala, lokasi, durasi, faktor pencetus) secara berkala.
* Pantau tanda-tanda vital dan respons klien terhadap intervensi.
**--- CATATAN PENTING ---**
Berdasarkan kumpulan gejala dan tanda klinis (ruam malar, fotosensitivitas, artritis, ulkus oral, efusi pleura, hasil ANA positif) serta usia dan jenis kelamin pasien, **diagnosis medis yang paling mungkin adalah Systemic Lupus Erythematosus (SLE)**. Perawat perlu waspada terhadap potensi komplikasi serius dan berkolaborasi erat dengan tim medis. Diagnosa keperawatan lain seperti **Intoleransi Aktivitas** (SDKI.B.1) dan **Hipertermia** (SDKI.B.3) juga sangat relevan untuk ditambahkan dalam perencanaan keperawatan menyeluruh. -
Article No. 21694 | 15 Sep 2025
Klinis : Seorang perempuan, usia 19 tahun mengalami ruam di batang hidung hingga di kedua pipinya berbentuk seperti kupu-kupu serta di pergelangan tangan. Dari hari ke hari, ruam semakin parah, pasien semakin merasa keletihan dan merasakan nyeri sendi jika terkena sinar matahari langsung. Hasil pengkajian didapatkan bengkak pada pergelangan kaki, sariawan di mulut, rambut rontok, TD 120/80 mmHg, frekuensi nadi 130 x/ menit, frekuensi nafas 30 x/menit, suhu 390C. Hasil foto thoraks didapatkan gambaran akumulasi cairan dan peradangan. Hasil test antinuclear antibody > 60 unit. Pasien mendapatkan terapi farmakologi hydroxychloroquine.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
**DIAGNOSIS KEPERAWATAN DAN INTERVENSI BERDASARKAN PPNI**
**Untuk Pasien dengan Susapan Systemic Lupus Erythematosus (SLE)**
\line
\line
**I. DATA UTAMA PENGKAJIAN**
Berdasarkan data yang disampaikan, pasien perempuan usia 19 tahun menunjukkan manifestasi klinis yang konsisten dengan **Systemic Lupus Erythematosus (SLE)**, antara lain:
1. Ruam malar (butterfly rash) pada hidung dan pipi.
2. Fotosensitivitas (nyeri sendi akibat paparan sinar matahari).
3. Ulkus oral (sariawan).
4. Artritis (pembengkakan pergelangan kaki).
5. Alopecia (rambut rontok).
6. Demam (suhu 39°C).
7. Pleuritis/perikarditis (gambaran akumulasi cairan dan peradangan pada foto thoraks).
8. Hasil laboratorium: ANA > 60 unit (positif tinggi).
9. Gejala sistemik: keletihan, takikardia (nadi 130x/menit), takipnea (30x/menit).
\line
**II. DIAGNOSIS KEPERAWATAN UTAMA**
Berdasarkan **Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)** edisi IV, diagnosis keperawatan yang utama adalah:
**Kode SDKI: B.3 **
**Nyeri Akut **
**Penjelasan:**
Nyeri akut pada pasien ini disebabkan oleh inflamasi sistemik akibat SLE, yang dimanifestasikan melalui nyeri sendi (arthralgia), ruam kulit, dan pleuritis. Nyeri diperburuk oleh paparan sinar matahari (fotosensitivitas) dan aktivitas inflamasi yang aktif.
\line
**III. INTERVENSI KEPERAWATAN**
**A. Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)**
**Kode SLKI: B.3.2**
**Luaran:** Nyeri Terkontrol
**Kriteria Evaluasi:**
1. Skala nyeri menurun (dari skala berat ke ringan atau hilang).
2. Ekspresi wajah rileks.
3. Pasien mampu beristirahat dengan adequate.
4. Tanda vital dalam rentang normal (nadi <100x/menit, frekuensi napas 16-20x/menit).
**B. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI)**
**Kode SIKI: B.3.2.1**
**Manajemen Nyeri**
**Tindakan Keperawatan:**
1. **Kaji karakteristik nyeri:** skala, lokasi, durasi, dan faktor pemicu (termasuk paparan sinar matahari).
2. **Kolaborasi pemberian farmakologi:**
- Memastikan terapi hydroxychloroquine diberikan sesuai protokol (untuk mengontrol penyakit secara keseluruhan).
- Kolaborasi pemberian analgesik dan anti-inflamasi sesuai resep.
3. **Intervensi non-farmakologi:**
- Anjurkan istirahat yang adequate untuk mengurangi keletihan.
- Hindari paparan sinar matahari langsung (gunakan pelindung).
- Kompres dingin pada sendi yang bengkak.
4. **Edukasi pasien:**
- Penyebab nyeri pada SLE dan pentingnya terapi maintenance.
- Teknik relaksasi untuk mengurangi persepsi nyeri.
\line
**IV. DIAGNOSIS KEPERAWATAN SEKUNDER**
**Kode SDKI: A.3**
**Intoleransi Aktivitas**
**Penjelasan:**
Disebabkan oleh keletihan, demam, takikardia, dan takipnea yang terkait dengan aktivitas penyakit SLE.
**Intervensi (SIKI: A.3.2.1 - Manajemen Energi):**
1. Anjurkan aktivitas bertahap dan istirahat adequate.
2. Monitor tanda vital sebelum dan setelah aktivitas.
3. Kolaborasi manajemen anemia jika terdapat penyerta.
\line
**V. CATATAN KHUSUS**
1. Pemantauan ketat terhadap efek samping hydroxychloroquine (misalnya, gangguan ocular) diperlukan dalam jangka panjang.
2. Pasien memerlukan pendekatan holistik dan interdisipliner mengingat SLE adalah penyakit multisistem.
3. Edukasi mengenai pentingnya kepatuhan terapi dan kontrol rutin untuk mencegah flare-up.
\line
**\b TTD,**
**\b Perawat Klinis**
**\b [Nama Perawat]**
**\b Ners., M.Kep.** -
Article No. 21695 | 15 Sep 2025
Klinis : Seorang laki-laki, usia 48 tahun di rawat di rumah sakit dengan keluhan nyeri di area bola mata, sakit kepala berat, penglihatan kabur serta mata memerah. Hasil pemeriksaan diagnostic tonometri tekanan intraokuler 25 mmHg, pemeriksaan gonioskopi didapatkan hasil trabecular meshwork (saluran pengalir aqueous humour) tersumbat sebagian. Riwayat Kesehatan pasien mengalami miopi sejak usia 10 tahun. Saat ini lapang pandang pasien menyempit seperti membentuk terowongan dan pasien menyapaikan bahwa seperti melihat bayangan di sekeliling cahaya.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: \b\fs28 Diagnosa Keperawatan dan Penjelasan SDKI - SLKI - SIKI\b0\fs24
\par
\par
\b Kondisi Pasien:\b0 Laki-laki, usia 48 tahun, dengan keluhan nyeri pada bola mata, sakit kepala berat, penglihatan kabur, mata memerah, tekanan intraokuler 25 mmHg, penyempitan lapang pandang (visus tubular), fotopsia (melihat bayangan di sekeliling cahaya), riwayat miopia, dan hasil gonioskopi menunjukkan obstruksi parsial pada trabecular meshwork.
\par
\par
\b Diagnosa Keperawatan Utama:\b0
\par \b Nyeri Akut\b0 (SDKI: 1.1)
\par
\par
\b Penjelasan Singkat SDKI - SLKI - SIKI:\b0
\par
\par
\b 1. Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia (SDKI) - Kode: 1.1 (Nyeri Akut)\b0
\par \b Definisi:\b0 Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut; onset mendadak atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau diprediksi dan durasi kurang dari 3 bulan.
\par \b Karakteristik Utama pada Pasien:\b0 Laporan nyeri pada bola mata dan sakit kepala berat (karakteristik subjektif), perilaku berhati-hati, gelisah, serta perubahan tanda-tanda vital (dapat diasumsikan seperti takikardia atau hipertensi) sebagai respons terhadap nyeri.
\par
\par
\b 2. Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) - Kode: 1.1 (Kontrol Nyeri)\b0
\par \b Definisi:\b0 Tindakan pribadi untuk mengontrol nyeri.
\par \b Indikator Luaran yang Relevan (Skala 1-5):\b0
\par - Tingkat nyeri (5: Nyeri terkontrol dengan baik)
\par - Perilaku mengatasi nyeri (5: Selalu menggunakan perilaku mengatasi nyeri)
\par - Toleransi terhadap nyeri (5: Toleran terhadap nyeri)
\par \b Tujuan:\b0 Meningkatkan skala luaran untuk mengurangi intensitas nyeri yang dilaporkan pasien.
\par
\par
\b 3. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) - Kode: 1.1 (Manajemen Nyeri)\b0
\par \b Definisi:\b0 Memberikan perawatan yang mendukung dan memfasilitasi penghilangan nyeri atau ketidaknyamanan.
\par \b Aktivitas Intervensi yang Relevan:\b0
\par - Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif (lokalitas, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan faktor presipitasi).
\par - Ajarkan penggunaan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri (contoh: relaksasi, distraksi, kompres).
\par - Kolaborasi pemberian analgesik sesuai indikasi dan resep dokter (misal, analgetik oral atau topical untuk mengurangi nyeri dan inflamasi).
\par - Monitor efektivitas manajemen nyeri dan efek samping intervensi farmakologis.
\par
\par
\b Catatan Akademis:\b0 Berdasarkan data klinis (tekanan intraokuler 25 mmHg, visus tubular, fotopsia, dan obstruksi trabecular meshwork), kondisi pasien mengindikasikan \b Glaukoma Sudut Terbuka\b0 yang memerlukan penanganan segera. Nyeri akut menjadi diagnosa keperawatan prioritas karena dampaknya terhadap kenyamanan, kualitas hidup, dan potensi peningkatan tekanan intraokuler lebih lanjut. Intervensi keperawatan harus berfokus pada manajemen nyeri serta kolaborasi dengan tim medis untuk terapi penurunan tekanan intraokuler (seperti pemberian obat golongan beta-blocker atau prostaglandin analog). Pemantauan ketat terhadap respons terapi dan edukasi pasien mengenai kondisi dan pengobatannya sangat esensial.
\par
\par
\b Referensi:\b0 PPNI. (2017). \i Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia: Edisi 1-6.\i0 PPNI. Jakarta.
\par PPNI. (2018). \i Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Edisi 1-6.\i0 PPNI. Jakarta.
\par PPNI. (2019). \i Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Edisi 1-6.\i0 PPNI. Jakarta.
\par
} -
Article No. 21696 | 15 Sep 2025
Klinis : Tn. D adalah seorang pegawai kantor berusia 35 tahun yang datang ke poliklinik rawat jalan dengan keluhan keluarnya cairan dari telinga kiri yang berlangsung terus-menerus sejak 2 minggu terakhir. la juga mengeluhkan penurunan pendengaran ringan, nyeri telinga sesekali, dan rasa penuh di telinga. Kadang-kadang ia mengalami pusing, terutama saat berdiri terlalu cepat. la mengakui bahwa sejak kecil sering mengalami infeksi telinga berulang tetapi tidak pernah mendapatkan pengobatan yang tepat. Belakangan ini ia sering membersihkan telinganya dengan cotton bud. la juga sering mengalami infeksi saluran pernapasan atas akibat kebiasaan merokok dan paparan ruangan ber-AC di tempat kerja. Pada pemeriksaan fisik, tanda-tanda vital dalam batas normal. Pemeriksaan otoskop menunjukkan adanya perforasi pada membran timpani dengan cairan purulen di telinga kiri. Dokter menegakkan. diagnosis Otitis Media Supuratif Kronik (CSOM). Tn. D tampak cemas, menanyakan apakah kondisi ini dapat menyebabkan gangguan pendengaran permanen dan apakah ia perlu menjalani operasi, la juga menyampaikan bahwa keluarnya cairan telinga dan gangguan pendengaran memengaruhi konsentrasinya saat bekerja serta membuatnya. merasa malu dalam pergaulan sosial. Apa saja 3 diagnosa keperawatan utama dari kasus utama
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: \b\fs28 \cf0 Berdasarkan analisis kasus Tn. D dengan kondisi Otitis Media Supuratif Kronik (CSOM), berikut adalah tiga diagnosa keperawatan utama yang ditetapkan sesuai dengan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI):
\par
\b\fs24 \cf0 1. \b\fs24 \cf0 \b\fs24 \cf0 \ul\b\fs24 \cf0 Gangguan Persepsi Sensori: Pendengaran\ulnone\b\fs24 \cf0 (SDKI: 4.5)
\par
\b\fs22 \cf0 \b\fs22 \cf0 \ul\b\fs22 \cf0 Penjelasan:\ulnone\b\fs22 \cf0 Diagnosa ini terkait dengan penurunan pendengaran ringan yang dialami Tn. D akibat perforasi membran timpani dan akumulasi cairan purulen, yang mengganggu transmisi suara. Kondisi ini diperburuk oleh riwayat infeksi telinga berulang dan kebiasaan membersihkan telinga dengan cotton bud, yang dapat menyebabkan trauma atau infeksi tambahan.
\par
\b\fs22 \cf0 \b\fs22 \cf0 \ul\b\fs22 \cf0 SLKI:\ulnone\b\fs22 \cf0 Luaran yang diharapkan termasuk peningkatan persepsi pendengaran dan pemulihan fungsi pendengaran (SLKI terkait: 4.5.1 - Kemampuan mendeteksi suara meningkat).
\par
\b\fs22 \cf0 \b\fs22 \cf0 \ul\b\fs22 \cf0 SIKI:\ulnone\b\fs22 \cf0 Intervensi keperawatan meliputi pemantauan fungsi pendengaran, edukasi tentang teknik komunikasi efektif, dan kolaborasi untuk terapi medis (SIKI terkait: 4.5.1 - Manajemen gangguan pendengaran).
\par
\b\fs24 \cf0 2. \b\fs24 \cf0 \b\fs24 \cf0 \ul\b\fs24 \cf0 Nyeri Akut\ulnone\b\fs24 \cf0 (SDKI: 1.1)
\par
\b\fs22 \cf0 \b\fs22 \cf0 \ul\b\fs22 \cf0 Penjelasan:\ulnone\b\fs22 \cf0 Tn. D melaporkan nyeri telinga sesekali, yang disebabkan oleh inflamasi dan infeksi pada telinga tengah akibat CSOM. Nyeri ini dapat memengaruhi kenyamanan dan aktivitas sehari-hari, serta diperparah oleh faktor seperti perubahan tekanan atau iritasi dari cairan purulen.
\par
\b\fs22 \cf0 \b\fs22 \cf0 \ul\b\fs22 \cf0 SLKI:\ulnone\b\fs22 \cf0 Luaran mencakup pengurangan nyeri hingga tingkat yang dapat ditoleransi dan peningkatan kenyamanan (SLKI terkait: 1.1.4 - Tingkat nyeri menurun).
\par
\b\fs22 \cf0 \b\fs22 \cf0 \ul\b\fs22 \cf0 SIKI:\ulnone\b\fs22 \cf0 Intervensi meliputi assessmen nyeri, pemberian analgesik sesuai kolaborasi, dan teknik non-farmakologis seperti kompres hangat (SIKI terkait: 1.1.1 - Manajemen nyeri).
\par
\b\fs24 \cf0 3. \b\fs24 \cf0 \b\fs24 \cf0 \ul\b\fs24 \cf0 Ansietas\ulnone\b\fs24 \cf0 (SDKI: 3.1)
\par
\b\fs22 \cf0 \b\fs22 \cf0 \ul\b\fs22 \cf0 Penjelasan:\ulnone\b\fs22 \cf0 Tn. D menunjukkan kecemasan terkait kekhawatiran akan gangguan pendengaran permanen, kebutuhan operasi, serta dampak sosial seperti rasa malu dan gangguan konsentrasi kerja. Ansietas ini dipicu oleh ketidakpastian prognosis dan pengalaman gejala yang berkepanjangan.
\par
\b\fs22 \cf0 \b\fs22 \cf0 \ul\b\fs22 \cf0 SLKI:\ulnone\b\fs22 \cf0 Luaran yang diharapkan adalah penurunan tingkat ansietas dan peningkatan koping yang adaptif (SLKI terkait: 3.1.3 - Tingkat ansietas menurun).
\par
\b\fs22 \cf0 \b\fs22 \cf0 \ul\b\fs22 \cf0 SIKI:\ulnone\b\fs22 \cf0 Intervensi termasuk memberikan edukasi tentang kondisi dan penatalaksanaannya, teknik relaksasi, dan dukungan emosional (SIKI terkait: 3.1.1 - Manajemen ansietas).
\par
\b\fs22 \cf0 \b\fs22 \cf0 Diagnosa-diagnosa ini diprioritaskan berdasarkan keluhan utama dan dampaknya terhadap kualitas hidup Tn. D. Pendekatan holistik dengan kolaborasi multidisiplin direkomendasikan untuk mencapai luaran yang optimal.
}