Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 26527 | 03 Aug 2026
Klinis : demam karena infeksi tonsilofaringitis akut
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Demam karena infeksi tonsilofaringitis akut
Kode SDKI: D.0130
Deskripsi Singkat: Hipertermia adalah keadaan suhu tubuh seseorang meningkat lebih dari rentang normal (37,5°C - 38,3°C oral atau aksila, atau 38,5°C - 39,5°C rektal) sebagai respons fisiologis terhadap pirogen endogen maupun eksogen. Pada kondisi tonsilofaringitis akut, infeksi bakteri (Streptococcus pyogenes) atau virus (adenovirus, Epstein-Barr) memicu pelepasan sitokin pro-inflamasi (IL-1, IL-6, TNF-α) yang memengaruhi pusat termoregulasi di hipotalamus anterior. Pirogen endogen ini meningkatkan set point suhu tubuh, menyebabkan vasokonstriksi perifer, menggigil, dan produksi panas berlebih. Hipertermia pada kasus ini merupakan mekanisme pertahanan tubuh untuk menghambat replikasi mikroorganisme, namun jika berlangsung lama dapat menyebabkan dehidrasi, peningkatan kebutuhan metabolik, risiko kejang demam pada anak, dan kerusakan sel akibat denaturasi protein. Diagnosis ini ditetapkan berdasarkan data subjektif (pasien mengeluh demam, menggigil, lemah) dan data objektif (suhu >38°C, takikardia, takipnea, kulit hangat dan kemerahan, mukosa mulut kering, tonsil membesar dengan eksudat putih-kekuningan). Pada SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia) yang diterbitkan PPNI, hipertermia didefinisikan sebagai "peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal" dengan faktor yang berhubungan: proses penyakit (infeksi), dehidrasi, dan peningkatan laju metabolisme. Gejala mayor meliputi suhu tubuh di atas normal dan kulit teraba hangat; gejala minor mencakup takikardia, takipnea, menggigil, dan kelemahan umum. Kondisi klinis terkait: infeksi saluran pernapasan atas, tonsilitis, faringitis, dan sepsis. Penegakan diagnosis ini memerlukan pengkajian komprehensif: riwayat demam, pola demam (kontinu, intermiten, remiten), respons terhadap antipiretik, serta pemeriksaan fisik sistematis untuk membedakan hipertermia dengan demam biasa atau hiperpireksia (suhu >41,5°C). Penting untuk memantau tanda bahaya: penurunan kesadaran, kejang, oliguria, atau tanda syok septik. Diagnosis ini menjadi dasar intervensi keperawatan untuk menstabilkan suhu, mencegah komplikasi, dan mengelola respons inflamasi sistemik.
Kode SLKI: L.14134
Deskripsi : Termoregulasi tidak efektif (pada SLKI, luaran yang diharapkan adalah "Termoregulasi Membaik" dengan kode L.14134). Definisi luaran ini adalah kemampuan individu untuk mempertahankan suhu tubuh dalam rentang normal (36,5°C - 37,5°C) tanpa mengalami komplikasi akibat fluktuasi suhu. Kriteria hasil yang terukur meliputi: (1) Suhu tubuh dalam rentang normal (observasi suhu aksila 36,5-37,5°C, oral 36,8-37,8°C, rektal 37,0-38,0°C) dengan target peningkatan dari skala 1 (memburuk) menjadi skala 5 (membaik) dalam waktu 3x24 jam; (2) Nadi dalam rentang normal (60-100x/menit untuk dewasa) dengan irama regular; (3) Pernapasan dalam rentang normal (16-20x/menit) tanpa dispnea; (4) Warna kulit normal (tidak pucat atau kemerahan berlebihan) dan turgor kulit elastis; (5) Tidak ada menggigil (skala 1-5, target ≥4); (6) Pasien melaporkan merasa nyaman dan tidak mengeluh panas dingin; (7) Produksi urine adekuat (≥0,5-1 ml/kgBB/jam) menunjukkan hidrasi cukup; (8) Tingkat kesadaran composmentis (GCS 15) tanpa tanda iritasi meningeal. Luaran ini juga mencakup kemampuan pasien/keluarga untuk menyebutkan tanda-tanda hipertermia, cara pengukuran suhu yang benar, dan kapan harus mencari bantuan medis. Target luaran disesuaikan dengan kondisi pasien: untuk anak-anak target suhu lebih ketat karena risiko kejang demam, sementara pada lansia target lebih longgar namun perlu perhatian terhadap dehidrasi. Evaluasi luaran dilakukan setiap 8 jam selama fase akut, kemudian setiap 24 jam saat kondisi stabil. Jika kriteria belum tercapai, perawat perlu mengkaji ulang penyebab (resistensi antipiretik, fokus infeksi baru, atau dehidrasi) dan memodifikasi intervensi. Luaran ini berhubungan langsung dengan diagnosis hipertermia dan menjadi acuan untuk memilih intervensi keperawatan yang tepat.
Kode SIKI: I.15506
Deskripsi : Manajemen Hipertermia (pada SIKI, intervensi utama adalah "Manajemen Hipertermia" dengan kode I.15506). Definisi intervensi ini adalah serangkaian tindakan keperawatan untuk menurunkan suhu tubuh ke rentang normal dan mencegah komplikasi akibat peningkatan suhu. Tindakan yang dilakukan meliputi: (1) Observasi: monitor suhu tubuh setiap 2-4 jam atau lebih sering jika suhu >39°C; identifikasi penyebab hipertermia (infeksi, dehidrasi, lingkungan); monitor tanda-tanda vital (nadi, respirasi, tekanan darah) setiap 4 jam; monitor warna dan turgor kulit; monitor intake dan output cairan; monitor kadar elektrolit jika tersedia; monitor tanda-tanda dehidrasi (mukosa kering, penurunan urine, turgor jelek); monitor tanda-tanda komplikasi (kejang, penurunan kesadaran, oliguria). (2) Terapeutik: berikan kompres hangat pada area pembuluh darah besar (leher, aksila, lipat paha) selama 15-20 menit, ulangi setiap 30-60 menit; berikan cairan oral (air putih, oralit, jus) 1500-2000 ml/hari untuk dewasa, sesuai toleransi; atur suhu ruangan 20-24°C dengan ventilasi baik; gunakan selimut tipis atau lepaskan pakaian berlebihan; kolaborasikan pemberian antipiretik (parasetamol 10-15 mg/kgBB/dosis setiap 4-6 jam, atau ibuprofen 5-10 mg/kgBB/dosis setiap 6-8 jam) sesuai advis dokter; jika suhu >40°C, pertimbangkan pendinginan aktif (sponging dengan air hangat 30-35°C) setelah pemberian antipiretik; berikan terapi cairan intravena jika dehidrasi berat atau pasien tidak mampu minum. (3) Edukasi: ajarkan pasien/keluarga cara mengukur suhu yang benar (gunakan termometer digital, baca setelah 2-3 menit); jelaskan tanda-tanda hipertermia yang perlu diwaspadai; anjurkan minum banyak cairan; jelaskan pentingnya istirahat untuk menurunkan kebutuhan metabolik; ajarkan cara kompres hangat yang benar; informasikan efek samping antipiretik dan jadwal pemberian yang aman (jangan melebihi 4x/hari). (4) Kolaborasi: dengan dokter untuk penatalaksanaan infeksi (antibiotik jika tonsilofaringitis bakterial: penisilin atau amoksisilin 50 mg/kgBB/hari selama 10 hari; atau makrolid jika alergi penisilin); dengan ahli gizi untuk diet tinggi kalori dan protein (mudah ditelan, misalnya bubur, sup hangat, jus) untuk memenuhi peningkatan kebutuhan metabolik; dengan apoteker untuk interaksi obat dan dosis yang tepat. Intervensi ini dilakukan selama 3x24 jam atau sampai suhu stabil, kemudian dievaluasi efektivitasnya. Dokumentasi dilakukan setiap tindakan dengan mencantumkan respons pasien terhadap intervensi. Modifikasi intervensi diperlukan jika tidak ada perbaikan setelah 48 jam (misalnya ganti kompres dingin dengan hangat, atau tambahkan terapi pendinginan aktif). Manajemen hipertermia harus dilakukan secara holistik, tidak hanya fokus pada penurunan suhu tetapi juga pada penyebab dasar (infeksi tonsilofaringitis) dan pencegahan komplikasi sistemik. Perawat juga perlu mempertimbangkan faktor usia, berat badan, dan kondisi komorbid (misalnya penyakit jantung, ginjal) dalam menentukan jenis dan jumlah cairan serta dosis obat.
-
Article No. 26528 | 03 Aug 2026
Klinis : mual
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Mual (Nausea)
Kode SDKI: D.0022
Deskripsi Singkat: Mual adalah perasaan tidak nyaman pada lambung yang disertai keinginan untuk muntah, namun belum terjadi pengeluaran isi lambung secara paksa. Dalam Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), mual didefinisikan sebagai pengalaman subjektif sensasi tidak menyenangkan di daerah belakang tenggorokan atau epigastrium yang dapat berakhir dengan muntah. Kondisi ini merupakan gejala yang kompleks dan sering kali menjadi tanda awal dari berbagai gangguan sistem pencernaan, efek samping pengobatan (seperti kemoterapi, radioterapi, atau opioid), gangguan metabolik (seperti uremia, ketoasidosis diabetikum), gangguan vestibular, peningkatan tekanan intrakranial, kehamilan (hiperemesis gravidarum), atau kondisi psikologis seperti kecemasan dan stres. Mual tidak sama dengan muntah, meskipun keduanya sering terjadi bersamaan. Mual melibatkan aktivasi pusat muntah di medula oblongata yang menerima input dari kemoreseptor trigger zone (CTZ), sistem vestibular, korteks serebral, dan saluran gastrointestinal. Secara patofisiologis, mual melibatkan neurotransmitter seperti serotonin (5-HT3), dopamin (D2), histamin (H1), asetilkolin (muskarinik), dan substansi P (NK1). Secara klinis, mual dapat bersifat akut (berlangsung kurang dari 7 hari), persisten (lebih dari 7 hari), atau siklikal. Dampak mual yang tidak tertangani dapat menyebabkan penurunan asupan nutrisi dan cairan, risiko aspirasi, gangguan keseimbangan elektrolit, penurunan berat badan, kelelahan, dan gangguan kualitas hidup. Pada pasien pasca operasi, mual dapat meningkatkan risiko komplikasi seperti dehiscence luka dan perdarahan. Diagnosis keperawatan ini ditegakkan berdasarkan data subjektif (pasien melaporkan sensasi ingin muntah, rasa tidak nyaman di perut, "seperti mau muntah") dan data objektif (pucat, diaforesis, peningkatan salivasi, takikardia, penurunan tekanan darah, wajah tampak meringis, dan sering menelan). Karakteristik utama diagnosis ini adalah adanya laporan verbal tentang mual, dan karakteristik minor meliputi: peningkatan air liur, penurunan nafsu makan, pucat, berkeringat dingin, dan perubahan frekuensi jantung. Faktor-faktor yang berhubungan (etiologi) meliputi: efek agen farmakologis (kemoterapi, opioid, antibiotik), kehamilan, iritasi gastrointestinal, peningkatan tekanan intrakranial, gangguan metabolik, toksin bakteri, dan faktor psikologis. Kondisi klinis yang terkait antara lain: gastroenteritis, gastritis, ulkus peptikum, obstruksi usus, pankreatitis, hepatitis, tumor otak, migrain, dan penyakit Meniere.
Kode SLKI: L.08065
Deskripsi : Luaran yang diharapkan dari Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) untuk diagnosis mual adalah "Tingkat Mual" yang teridentifikasi dengan kode L.08065. Luaran ini didefinisikan sebagai kemampuan pasien untuk mengendalikan sensasi mual dan mencegah muntah. Kriteria hasil (outcome criteria) yang digunakan untuk mengevaluasi efektivitas intervensi keperawatan meliputi beberapa indikator yang diukur menggunakan skala dari 1 (berat) sampai 5 (ringan/tidak ada) atau menggunakan skala Likert. Indikator-indikator tersebut antara lain: (1) Keluhan mual menurun, dengan target yang diharapkan meningkat ke skala 5 yang berarti tidak ada keluhan mual; (2) Keinginan untuk muntah menurun, pada skala yang sama; (3) Frekuensi muntah menurun, yang menunjukkan bahwa pasien tidak lagi mengalami episode muntah; (4) Sensasi tidak nyaman pada perut menurun, yang mencerminkan berkurangnya rasa tidak nyaman di epigastrium; (5) Pucat menurun, yang menunjukkan perbaikan perfusi dan sirkulasi; (6) Diaforesis (keringat dingin) menurun; (7) Salivasi (produksi air liur) berlebihan menurun; dan (8) Nafsu makan meningkat, yang merupakan indikator penting bahwa pasien sudah mampu menerima asupan nutrisi secara oral. Selain itu, luaran tambahan yang relevan adalah "Status Nutrisi" (L.03030) dan "Keseimbangan Cairan" (L.03020) karena mual yang berkepanjangan sering menyebabkan defisit nutrisi dan hipovolemia. Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama periode tertentu (biasanya dievaluasi setiap 1x24 jam untuk kondisi akut), diharapkan tingkat mual pasien berada pada kategori "cukup meningkat" (skala 3) hingga "meningkat" (skala 4) atau "menurun" pada skala keparahan gejala. Luaran ini bersifat individual dan harus disesuaikan dengan kondisi klinis pasien, usia, dan komorbiditas. SLKI memberikan panduan bahwa luaran harus dapat diukur, dapat dicapai, dan realistis. Contoh target luaran: "Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, tingkat mual pasien menurun dengan kriteria: pasien tidak melaporkan mual (skala 5), tidak ada muntah, nafsu makan meningkat, dan tanda-tanda vital dalam batas normal." Luaran ini menjadi acuan dalam perencanaan evaluasi dan dokumentasi keperawatan.
Kode SIKI: I.03117 (Manajemen Mual) dan I.03118 (Manajemen Muntah)
Deskripsi : Intervensi Keperawatan Utama yang ditetapkan dalam Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) untuk diagnosis mual adalah "Manajemen Mual" dengan kode I.03117. Intervensi ini didefinisikan sebagai serangkaian tindakan keperawatan untuk mengidentifikasi, mengurangi, dan mengendalikan sensasi mual dan faktor yang menyebabkannya. Tindakan yang dilakukan dalam manajemen mual meliputi: (1) Observasi: mengidentifikasi faktor penyebab mual (misalnya pengobatan, prosedur, atau makanan), memantau tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, respirasi), mengkaji tingkat mual menggunakan skala numerik atau verbal (misalnya skala 0-10), mengobservasi tanda-tanda dehidrasi (turgor kulit menurun, membran mukosa kering, output urine menurun), dan memantau asupan nutrisi dan cairan. (2) Terapeutik: memberikan posisi yang nyaman (misalnya posisi semi-Fowler atau duduk tegak untuk mengurangi tekanan pada abdomen), memberikan makanan dalam porsi kecil tetapi sering, menghindari makanan yang berbau menyengat atau berlemak, menganjurkan makan perlahan dan mengunyah dengan baik, memberikan minuman hangat atau dingin (seperti teh jahe atau air putih) sesuai toleransi, memberikan permen asam atau peppermint untuk mengurangi sensasi mual, melakukan teknik distraksi (mendengarkan musik, mengobrol, atau latihan napas dalam), mengajarkan teknik relaksasi napas dalam (slow deep breathing), dan memberikan kompres dingin pada dahi atau leher. (3) Edukasi: menjelaskan kepada pasien dan keluarga tentang kondisi mual dan faktor pemicunya, mengajarkan cara memantau dan melaporkan tingkat mual, memberikan informasi tentang diet yang tepat (makanan tinggi karbohidrat, rendah lemak, dan mudah dicerna seperti biskuit, roti panggang, atau nasi), serta menganjurkan untuk menghindari bau-bauan yang tidak sedap. (4) Kolaborasi: berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat antiemetik (misalnya ondansetron, metoklopramid, atau domperidon) sesuai indikasi, dan berkolaborasi dengan ahli gizi untuk merencanakan diet yang sesuai. Selain itu, terdapat intervensi pendukung "Manajemen Muntah" (I.03118) yang digunakan jika mual disertai muntah, dengan tindakan tambahan seperti: mempertahankan kepatenan jalan napas, memposisikan pasien miring untuk mencegah aspirasi, mengukur dan mencatat karakteristik muntah (volume, warna, konsistensi), mengganti cairan dan elektrolit yang hilang, serta memberikan perawatan oral hygiene setelah muntah. Intervensi ini juga mencakup "Pemberian Obat" (I.05116) untuk pemberian antiemetik secara aman. Pelaksanaan intervensi ini harus didokumentasikan secara akurat dalam catatan keperawatan, mencakup respons pasien terhadap tindakan, perubahan tingkat mual, dan efek samping obat. Evaluasi dilakukan secara berkesinambungan untuk menentukan apakah intervensi perlu dilanjutkan, dimodifikasi, atau dihentikan berdasarkan pencapaian luaran SLKI yang telah ditetapkan.
-
Article No. 26529 | 03 Aug 2026
Klinis : demamkarean infeksi tonsilofaringitis akut
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Demam karena Infeksi Tonsilofaringitis Akut
Kode SDKI: D.0130
Deskripsi Singkat: Hipertermia adalah keadaan suhu tubuh seseorang meningkat melebihi batas normal (lebih dari 37,5°C) sebagai respons terhadap stimulus pirogen, yang dalam kasus ini berasal dari infeksi akut pada tonsil dan faring. Pada tonsilofaringitis akut, bakteri (paling sering Streptococcus pyogenes) atau virus menginvasi jaringan limfoid orofaring, memicu pelepasan sitokin pro-inflamasi (IL-1, IL-6, TNF-α) yang bekerja pada hipotalamus anterior, menggeser set point suhu ke nilai yang lebih tinggi. Tubuh kemudian memproduksi panas melalui mekanisme vasokonstriksi perifer, menggigil, dan peningkatan metabolisme basal untuk mencapai set point baru. Manifestasi klinis yang muncul adalah demam tinggi (suhu aksila >38°C), takikardia, takipnea, kulit teraba hangat dan kemerahan, pasien mengeluh menggigil atau justru merasa panas, dehidrasi akibat peningkatan penguapan, serta penurunan nafsu makan. Kondisi ini memerlukan penatalaksanaan segera untuk mencegah komplikasi seperti kejang demam, dehidrasi berat, atau gangguan elektrolit. Diagnosis keperawatan hipertermia ditegakkan ketika terdapat data subjektif (pasien mengeluh panas, lemah, sakit tenggorokan) dan data objektif (suhu tubuh >37,5°C, tonsil membengkak dengan eksudat, faring hiperemis, pemeriksaan rapid test streptokokus positif). Intervensi difokuskan pada penurunan suhu tubuh, manajemen cairan, dan pemantauan tanda-tanda vital secara ketat. Penting untuk membedakan hipertermia dengan demam biasa, karena pada hipertermia set point hipotalamus tidak berubah, namun pada kondisi infeksi ini set point meningkat secara fisiologis sebagai mekanisme pertahanan tubuh. Peran perawat adalah mengembalikan keseimbangan termoregulasi dengan pendekatan non-farmakologis (kompres hangat, hidrasi) dan farmakologis (antipiretik sesuai indikasi), serta edukasi kepada keluarga tentang tanda bahaya demam tinggi.
Kode SLKI: L.01013
Deskripsi: Termoregulasi (SLKI L.01013) adalah luaran yang diharapkan setelah dilakukan intervensi keperawatan untuk mengembalikan keseimbangan suhu tubuh pasien. Pada kasus tonsilofaringitis akut dengan demam, luaran utama yang ingin dicapai adalah Termoregulasi membaik dengan kriteria hasil yang terukur: (1) Suhu tubuh pasien dalam rentang normal (36,5–37,5°C) dalam waktu 1x8 jam setelah intervensi; (2) Nadi dan respirasi kembali dalam rentang normal (nadi 60-100x/menit, respirasi 16-20x/menit); (3) Kulit tidak teraba hangat, kemerahan berkurang; (4) Pasien tidak menggigil atau merasa kedinginan; (5) Produksi urin adekuat (0,5-1 cc/kgBB/jam) menunjukkan hidrasi yang cukup; (6) Pasien dan keluarga mampu menyebutkan tanda-tanda demam dan cara mengatasinya. Skala luaran ini diukur menggunakan skala Likert dari 1 (memburuk) hingga 5 (membaik). Pada fase awal, skor mungkin berada pada level 2 (cukup buruk) karena suhu tinggi dan gejala sistemik, kemudian meningkat menjadi level 4 (baik) setelah intervensi. Kriteria tambahan yang relevan adalah status cairan membaik (L.01020) karena demam meningkatkan insensible water loss, dan status nutrisi membaik karena tonsilitis menyebabkan disfagia. Namun luaran utama tetap termoregulasi. Perawat perlu mengevaluasi luaran ini setiap 4 jam pada fase akut, dan dokumentasikan dalam catatan perkembangan. Jika setelah 24 jam suhu tidak turun, perlu kolaborasi dengan dokter untuk kemungkinan perubahan terapi antibiotik atau pemeriksaan kultur tenggorok. Keberhasilan luaran ini juga dipengaruhi oleh kepatuhan pasien minum obat, istirahat cukup, dan asupan cairan yang adekuat. Keluarga dilibatkan dalam pemantauan suhu di rumah setelah pulang, dengan panduan menggunakan termometer dan jadwal pengukuran. Dengan demikian, luaran termoregulasi tidak hanya berfokus pada angka suhu, tetapi juga pada stabilitas hemodinamik dan kemampuan pasien melakukan perawatan mandiri.
Kode SIKI: I.01506
Deskripsi: Manajemen Hipertermia (I.01506) adalah serangkaian intervensi keperawatan yang dirancang untuk menurunkan suhu tubuh pasien yang mengalami demam akibat infeksi, dalam hal ini tonsilofaringitis akut. Intervensi ini dilakukan dengan pendekatan komprehensif: (1) Observasi - perawat memantau suhu tubuh setiap 4 jam atau lebih sering jika demam tinggi (≥38,5°C), menggunakan termometer yang sama untuk konsistensi, serta mengukur tanda-tanda vital lain (nadi, respirasi, tekanan darah) untuk mendeteksi respons tubuh; (2) Terapeutik - berikan kompres hangat pada lipatan aksila dan inguinal selama 15-20 menit, hindari kompres dingin karena dapat menyebabkan vasokonstriksi dan menggigil sehingga suhu justru meningkat; anjurkan pasien memakai pakaian tipis yang menyerap keringat, gunakan selimut tipis, dan atur ventilasi ruangan agar sirkulasi udara baik; berikan cairan oral hangat atau air putih biasa minimal 2000 ml/hari (sesuai toleransi dan kondisi jantung/ginjal) untuk mengganti cairan yang hilang; (3) Edukasi - jelaskan kepada pasien dan keluarga tentang penyebab demam (infeksi tonsil), pentingnya minum obat antipiretik (parasetamol 500-1000 mg setiap 4-6 jam sesuai resep dokter) dan antibiotik yang diresepkan sampai habis, serta tanda-tanda bahaya yang harus segera dilaporkan seperti suhu >39°C yang tidak turun dengan obat, kejang, kesulitan bernapas, tidak bisa menelan air liur, atau munculnya ruam; (4) Kolaborasi - berikan obat antipiretik dan antibiotik sesuai indikasi dokter, lakukan pemeriksaan laboratorium (leukosit, LED, CRP, rapid test streptokokus) jika diperlukan, dan konsultasikan dengan dokter jika demam menetap >3 hari atau muncul komplikasi seperti abses peritonsiler. Intervensi ini juga mencakup manajemen lingkungan: pertahankan suhu ruangan 20-22°C, hindari penggunaan banyak selimut, dan pastikan pasien cukup istirahat untuk mengurangi produksi panas metabolik. Evaluasi dilakukan setelah 4 jam intervensi untuk menilai penurunan suhu minimal 1°C, dan lanjutkan intervensi hingga suhu normal selama 24 jam. Dokumentasikan semua tindakan dan respons pasien dalam catatan keperawatan. Intervensi ini harus disesuaikan dengan kondisi pasien anak atau dewasa, serta mempertimbangkan adanya komorbid. Keberhasilan intervensi juga ditandai dengan berkurangnya rasa tidak nyaman, pasien dapat beristirahat, dan asupan oral meningkat seiring menurunnya nyeri tenggorokan.
-
Article No. 26530 | 03 Aug 2026
Klinis : demam karena infeksi tonsilofaringitis akut
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Demam karena Infeksi Tonsilofaringitis Akut
Kode SDKI: D.0130
Deskripsi Singkat: Hipertermia berhubungan dengan proses penyakit (infeksi tonsilofaringitis akut), ditandai dengan suhu tubuh di atas nilai normal (>37,5°C oral atau >38°C rektal), kulit teraba hangat, takikardia, takipnea, menggigil, dan pasien mengeluh lemah. Pada tonsilofaringitis akut, respons inflamasi sistemik akibat invasi bakteri atau virus memicu pelepasan pirogen endogen (interleukin-1, interleukin-6, tumor necrosis factor-alpha) yang bekerja pada hipotalamus anterior untuk meningkatkan set point suhu. Hal ini menyebabkan vasokonstriksi perifer, peningkatan metabolisme basal, dan produksi panas berlebih. Kondisi ini memerlukan penatalaksanaan segera untuk mencegah komplikasi seperti dehidrasi, kejang demam, atau sepsis. Diagnosis keperawatan ini ditegakkan berdasarkan data subjektif (pasien mengeluh panas, sakit kepala, nyeri tenggorokan) dan data objektif (suhu tubuh ≥37,5°C, tonsil hiperemis dengan eksudat, faring hiperemis, pembesaran kelenjar limfe servikal anterior, leukositosis pada pemeriksaan laboratorium). Hipertermia berbeda dengan demam biasa karena melibatkan kegagalan mekanisme pengaturan panas tubuh, namun pada kasus ini masih bersifat fisiologis sebagai respons imun. Intervensi keperawatan difokuskan pada manajemen termoregulasi, pemberian antipiretik sesuai indikasi, pemenuhan cairan, dan edukasi pada pasien dan keluarga tentang tanda bahaya demam.
Kode SLKI: L.14134
Deskripsi : Termoregulasi membaik setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: (1) Suhu tubuh dalam rentang normal (36,5-37,5°C oral) dengan skala meningkat dari 1 menjadi 5; (2) Suhu kulit normal (tidak teraba hangat/panas) dengan skala meningkat; (3) Frekuensi nadi dalam rentang normal (60-100x/menit untuk dewasa) dengan skala membaik; (4) Frekuensi napas normal (16-20x/menit) dengan skala membaik; (5) Tidak menggigil dengan skala menurun dari 4 menjadi 1; (6) Warna kulit normal (tidak kemerahan) dengan skala membaik; (7) Pasien melaporkan merasa nyaman, tidak mengeluh panas; (8) Konsumsi cairan adekuat (minimal 2 liter/hari) dengan skala meningkat; (9) Kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari meningkat; (10) Tanda-tanda dehidrasi (turgor kulit, membran mukosa lembab) dalam batas normal. Luaran ini diukur menggunakan skala Likert 1-5, di mana skor 1 menunjukkan gangguan berat, skor 2 gangguan sedang, skor 3 gangguan ringan, skor 4 tidak ada gangguan, dan skor 5 tidak ada gangguan yang berkelanjutan. Target luaran adalah mencapai skor minimal 4 untuk setiap kriteria. Evaluasi dilakukan setiap 8 jam untuk memantau respons terhadap intervensi. Termoregulasi membaik mengindikasikan bahwa hipotalamus telah berhasil menurunkan set point suhu kembali normal, inflamasi terkontrol, dan tidak ada komplikasi sistemik.
Kode SIKI: I.15506
Deskripsi : Manajemen Hipertermia (I.15506) merupakan intervensi keperawatan yang bertujuan untuk mengembalikan suhu tubuh ke rentang normal dan mencegah komplikasi. Tindakan yang dilakukan meliputi:
Observasi: (1) Identifikasi penyebab hipertermia (proses infeksi tonsilofaringitis); (2) Monitor suhu tubuh setiap 4 jam atau lebih sering jika demam tinggi (≥38,5°C) menggunakan termometer yang akurat; (3) Monitor warna dan suhu kulit (akral hangat atau dingin); (4) Monitor frekuensi nadi, irama, dan tekanan darah; (5) Monitor frekuensi napas dan pola napas; (6) Monitor tanda-tanda dehidrasi (turgor kulit menurun, membran mukosa kering, produksi urine menurun, rasa haus); (7) Monitor asupan dan keluaran cairan (balance cairan); (8) Monitor kadar elektrolit dan hasil laboratorium lain (leukosit, CRP) jika tersedia; (9) Monitor tanda-tanda komplikasi seperti kejang, penurunan kesadaran, atau syok septik.
Terapeutik: (1) Berikan kompres hangat pada area pembuluh darah besar (leher, aksila, inguinal) selama 15-20 menit; hindari kompres dingin karena dapat menyebabkan menggigil dan meningkatkan produksi panas; (2) Anjurkan pasien memakai pakaian yang tipis, menyerap keringat, dan longgar; (3) Ganti linen tempat tidur jika basah karena keringat; (4) Atur suhu ruangan tetap sejuk (20-23°C) dengan ventilasi baik; (5) Berikan cairan oral (air putih, jus, oralit) minimal 2 liter per hari untuk orang dewasa, kecuali kontraindikasi; (6) Berikan antipiretik (parasetamol 500-1000 mg setiap 6 jam, atau ibuprofen 400 mg setiap 8 jam) sesuai indikasi dan advis dokter; (7) Berikan antibiotik sesuai program medis untuk tonsilofaringitis bakteri (misalnya penisilin atau amoksisilin) setelah uji kultur jika diperlukan; (8) Lakukan perawatan mulut untuk mengurangi ketidaknyamanan akibat faringitis (kumur air garam hangat); (9) Berikan terapi cairan intravena jika asupan oral tidak adekuat atau terjadi dehidrasi.
Edukasi: (1) Jelaskan pada pasien dan keluarga tentang penyebab demam dan pentingnya mematuhi pengobatan; (2) Ajarkan cara mengukur suhu tubuh yang benar di rumah; (3) Ajarkan teknik kompres hangat yang tepat; (4) Anjurkan istirahat total (bed rest) selama fase akut untuk mengurangi metabolisme; (5) Jelaskan tanda-tanda bahaya yang memerlukan perhatian medis segera (demam >39°C yang tidak turun dengan antipiretik, nyeri hebat, kesulitan menelan, pembengkakan leher, sesak napas, atau ruam kulit); (6) Anjurkan menjaga kebersihan tangan dan etika batuk untuk mencegah penularan; (7) Edukasi tentang nutrisi yang tepat (makanan lunak, hangat, tinggi protein dan vitamin C) untuk mendukung pemulihan.
Kolaborasi: (1) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian antipiretik, antibiotik, dan pemeriksaan penunjang (kultur swab tenggorokan, tes darah lengkap); (2) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk memberikan diet sesuai kondisi (makanan lunak, tinggi kalori, tinggi protein); (3) Rujuk ke fisioterapi jika diperlukan untuk mencegah komplikasi imobilisasi. Intervensi ini dievaluasi setiap 8 jam dan dimodifikasi berdasarkan respons pasien. Dokumentasikan semua tindakan dan hasil observasi secara akurat dalam catatan keperawatan.
-
Article No. 26531 | 03 Aug 2026
Klinis : demam karena infeksi tonsilofaringitis akut
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Demam karena infeksi tonsilofaringitis akut
Kode SDKI: D.0130
Deskripsi Singkat: Hipertermia adalah keadaan suhu tubuh seseorang meningkat melebihi batas normal (>37,5°C) sebagai respons fisiologis terhadap pirogen, khususnya pada infeksi tonsilofaringitis akut. Pada kondisi ini, mikroorganisme (Streptococcus beta-hemolitikus grup A, virus Epstein-Barr, adenovirus) memicu pelepasan sitokin pro-inflamasi (IL-1, IL-6, TNF-α) yang merangsang pusat termoregulasi di hipotalamus anterior. Hipotalamus kemudian menaikkan set point suhu, menyebabkan vasokonstriksi perifer, menggigil, dan peningkatan metabolisme basal untuk menghasilkan panas. Pada tonsilofaringitis akut, demam sering disertai nyeri tenggorokan, pembengkakan tonsil dengan eksudat, dan kesulitan menelan, yang memperberat kondisi hipertermia karena asupan cairan berkurang. Manifestasi klinis yang teramati meliputi suhu tubuh >37,5°C (aksila), kulit teraba hangat, takikardia, takipnea, wajah kemerahan (flushing), menggigil, kelemahan umum, dan penurunan nafsu makan. Pada anak-anak, demam tinggi dapat memicu kejang demam sederhana. Hipertermia yang berkepanjangan meningkatkan kebutuhan oksigen dan metabolisme sel, berisiko menyebabkan dehidrasi, gangguan elektrolit, dan penurunan kesadaran jika tidak ditangani. Oleh karena itu, diagnosis keperawatan hipertermia menjadi prioritas untuk memulihkan keseimbangan termoregulasi dan mencegah komplikasi sistemik.
Kode SLKI: L.14134
Deskripsi: Termoregulasi adalah luaran utama yang diharapkan setelah intervensi keperawatan pada pasien dengan hipertermia akibat tonsilofaringitis akut. Luaran ini didefinisikan sebagai kemampuan tubuh untuk mempertahankan suhu inti dalam rentang normal (36,5–37,5°C) melalui keseimbangan produksi dan pengeluaran panas. Kriteria hasil yang spesifik meliputi: (1) Suhu tubuh dalam rentang normal, ditandai dengan pengukuran suhu aksila 36,5–37,5°C dalam 1x8 jam setelah intervensi; (2) Tidak terjadi menggigil, ditandai dengan hilangnya kontraksi otot involunter dan sensasi dingin; (3) Kulit tidak teraba hangat, ditandai dengan suhu kulit normal saat palpasi; (4) Frekuensi nadi dan pernapasan dalam rentang normal (nadi 60-100x/menit, napas 16-20x/menit pada dewasa); (5) Wajah tidak kemerahan, ditandai dengan warna kulit kembali normal; (6) Kemampuan aktivitas sehari-hari meningkat, ditandai dengan pasien mampu beristirahat dan tidak mengalami kelemahan berlebihan. Skala luaran termoregulasi diukur dari 1 (memburuk) hingga 5 (membaik), dengan target minimal skala 4 (cukup membaik) pada akhir intervensi. Selain itu, luaran pendukung meliputi status cairan (L.03020) dengan kriteria turgor kulit elastis, membran mukosa lembab, dan output urine adekuat (0,5-1 cc/kgBB/jam), serta kontrol nyeri (L.08066) untuk mengurangi ketidaknyamanan akibat nyeri tenggorokan yang menyertai demam. Keberhasilan termoregulasi juga diindikasikan oleh penurunan skor tanda vital (suhu, nadi, napas) mendekati nilai normal dan tidak adanya tanda dehidrasi seperti mata cekung atau rasa haus berlebihan.
Kode SIKI: I.15506
Deskripsi: Manajemen hipertermia adalah serangkaian tindakan keperawatan yang direncanakan untuk menurunkan suhu tubuh ke rentang normal dan mencegah komplikasi akibat demam pada pasien tonsilofaringitis akut. Intervensi ini dilakukan dengan pendekatan holistik meliputi observasi, terapeutik, edukasi, dan kolaborasi. Tindakan observasi meliputi: (1) Identifikasi penyebab hipertermia (misalnya infeksi bakteri/virus, inflamasi tonsil); (2) Monitor suhu tubuh setiap 2 jam atau lebih sering jika suhu >38,5°C, menggunakan termometer yang sama dan metode yang konsisten (aksila/rektal); (3) Monitor tanda-tanda vital lain (nadi, tekanan darah, pernapasan) untuk mendeteksi takikardia atau takipnea; (4) Monitor intake dan output cairan untuk mencegah dehidrasi; (5) Monitor komplikasi seperti kejang demam pada anak, penurunan kesadaran, atau syok septik. Tindakan terapeutik meliputi: (1) Berikan kompres hangat pada area pembuluh darah besar (leher, aksila, inguinal) selama 15-20 menit, dengan suhu air 30-35°C, hindari kompres dingin karena dapat menyebabkan vasokonstriksi dan menggigil; (2) Anjurkan pasien memakai pakaian tipis yang menyerap keringat dan tidak berlapis; (3) Berikan cairan oral minimal 1500-2000 ml/hari (dewasa) atau sesuai kebutuhan, berupa air putih, jus, atau oralit untuk mengganti cairan yang hilang; (4) Atur suhu ruangan sekitar 20-24°C dengan ventilasi baik, gunakan kipas angin tanpa diarahkan langsung ke tubuh; (5) Istirahatkan pasien di tempat tidur untuk mengurangi produksi panas metabolik; (6) Berikan kompres hangat pada dahi dan ketiak untuk meningkatkan kenyamanan. Tindakan edukasi meliputi: (1) Jelaskan kepada pasien dan keluarga tentang penyebab demam, tanda-tanda bahaya (demam >40°C, kejang, sesak napas, leher kaku), dan pentingnya kepatuhan minum obat antipiretik; (2) Ajarkan teknik kompres hangat yang benar dan cara mengukur suhu di rumah; (3) Anjurkan untuk segera ke fasilitas kesehatan jika demam tidak turun setelah 3 hari atau muncul gejala komplikasi. Tindakan kolaborasi meliputi: (1) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian antipiretik (parasetamol 10-15 mg/kgBB/dosis, maksimal 4x sehari) atau antibiotik (penisilin/amoksisilin) jika penyebabnya bakteri; (2) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk memberikan makanan lunak yang mudah ditelan, tinggi kalori, dan kaya vitamin C (bubur, sup hangat, jus buah) karena tonsilofaringitis menyebabkan nyeri menelan; (3) Kolaborasi dengan farmasi untuk memantau efek samping obat dan interaksi obat. Evaluasi dilakukan setiap 2 jam untuk menilai penurunan suhu, dengan target suhu <37,5°C dalam 24 jam. Jika suhu tidak turun atau memburuk, intervensi diulang dan kolaborasi medis ditingkatkan. Semua tindakan didokumentasikan dalam catatan keperawatan secara akurat dan tepat waktu. Manajemen hipertermia ini penting dilakukan dengan hati-hati, terutama pada anak-anak dan lansia yang rentan mengalami dehidrasi dan kejang, serta pada pasien dengan riwayat penyakit jantung karena demam meningkatkan beban kerja jantung.
-
Article No. 26532 | 03 Aug 2026
Klinis : tonsilitis akut
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Tonsilitis Akut
Kode SDKI: D.0149 (Nyeri Akut) ; D.0001 (Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif) ; D.0055 (Gangguan Menelan) ; D.0016 (Hipertermia)
Deskripsi Singkat: Tonsilitis akut adalah peradangan akut pada tonsil palatina yang disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri (paling sering Streptococcus beta-hemolyticus group A). Kondisi ini memicu respons inflamasi sistemik dan lokal yang bermanifestasi sebagai nyeri tenggorokan hebat (odinofagia), kesulitan menelan, demam, malaise, serta pembengkakan tonsil yang dapat menyumbat jalan napas. Dari perspektif keperawatan, diagnosis yang paling utama dan sering ditegakkan adalah Nyeri Akut (D.0149) karena nyeri tenggorokan merupakan keluhan dominan yang mengganggu aktivitas, istirahat, dan asupan nutrisi. Namun, karena kondisi ini juga melibatkan gangguan fungsi faring dan laring, maka diagnosis sekunder seperti Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001), Gangguan Menelan (D.0055), dan Hipertermia (D.0016) sering kali muncul bersamaan. Patofisiologi nyeri pada tonsilitis akut melibatkan pelepasan mediator inflamasi (prostaglandin, bradikinin, sitokin) yang merangsang nosiseptor di mukosa faring dan jaringan tonsil yang edema. Nyeri ini bersifat akut, berlangsung kurang dari 3 bulan, dan memiliki onset mendadak. Secara holistik, nyeri juga berdampak pada gangguan tidur, penurunan nafsu makan, dan kelelahan. Sementara itu, bersihan jalan napas tidak efektif terjadi karena pembengkakan tonsil yang dapat menyempitkan orofaring, disertai produksi sekret/kotoran (detritus) pada kripta tonsil yang menumpuk dan sulit dikeluarkan. Gangguan menelan terjadi akibat nyeri saat menelan (odinofagia) dan edema faring yang mengganggu mekanisme menelan. Hipertermia terjadi karena pirogen endogen (interleukin-1, tumor necrosis factor) yang diproduksi sebagai respons terhadap infeksi, yang mengubah set point termoregulasi di hipotalamus. Keempat diagnosis ini saling berkaitan dan memerlukan intervensi keperawatan yang komprehensif dan terkoordinasi.
Kode SLKI (Luaran): L.08063 (Tingkat Nyeri) ; L.01001 (Bersihan Jalan Napas) ; L.03014 (Status Menelan) ; L.14134 (Termoregulasi)
Deskripsi : Luaran yang diharapkan setelah dilakukan asuhan keperawatan adalah tercapainya kriteria hasil yang terukur. Untuk diagnosis Nyeri Akut, luaran utamanya adalah "Tingkat Nyeri" (L.08063) dengan definisi: kemampuan pasien dalam mengendalikan dan mengurangi rasa nyeri. Kriteria hasil yang spesifik meliputi: (1) Keluhan nyeri menurun (skala nyeri dari 7-8 menjadi 2-3 pada skala 0-10), (2) Ekspresi wajah rileks tidak meringis, (3) Kemampuan menelan tanpa mengeluarkan air mata atau menolak makan, (4) Frekuensi napas normal (16-20 kali/menit), (5) Pasien mampu menggunakan teknik nonfarmakologi (kompres hangat, distraksi, relaksasi napas dalam). Untuk Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif, luaran "Bersihan Jalan Napas" (L.01001) dengan kriteria: (1) Tidak ada suara napas tambahan (stridor, snoring), (2) Mampu mengeluarkan sekret secara efektif, (3) Frekuensi napas normal, (4) Tidak ada retraksi dinding dada. Untuk Gangguan Menelan, luaran "Status Menelan" (L.03014) dengan kriteria: (1) Mampu menelan makanan cair dan semi padat tanpa tersedak, (2) Tidak ada penolakan makan, (3) Asupan oral adekuat (tidak terjadi penurunan berat badan >5% dalam 1 minggu), (4) Tidak ada aspirasi. Untuk Hipertermia, luaran "Termoregulasi" (L.14134) dengan kriteria: (1) Suhu tubuh dalam rentang normal (36-37,5°C), (2) Tidak menggigil, (3) Kulit hangat dan lembab normal, (4) Nadi dan frekuensi napas kembali normal. Semua luaran ini harus dievaluasi secara berkala setiap 4-8 jam untuk kasus akut, dan targetnya adalah tercapai dalam 1x24 jam hingga 3x24 jam sesuai respons pasien terhadap intervensi.
Kode SIKI (Intervensi): I.08238 (Manajemen Nyeri) ; I.01011 (Manajemen Jalan Napas) ; I.03026 (Manajemen Menelan) ; I.15506 (Manajemen Hipertermia)
Deskripsi : Intervensi keperawatan yang direncanakan harus bersifat spesifik, terukur, dan berbasis bukti. Berikut penjelasan rinci setiap intervensi sesuai standar SIKI yang ditetapkan PPNI:
**1. Manajemen Nyeri (I.08238)** – Definisi: mengidentifikasi dan mengelola pengalaman nyeri melalui pendekatan farmakologis dan nonfarmakologis. Tindakan utama meliputi: (a) Observasi: identifikasi skala nyeri menggunakan PQRST (Provokatif, Quality, Region, Severity, Time); periksa tanda-tanda vital (terutama nadi dan tekanan darah yang dapat meningkat saat nyeri); identifikasi faktor yang memperberat nyeri (menelan, berbicara, makan makanan asam/panas). (b) Terapeutik: berikan kompres hangat pada area leher bagian luar (dapat mengurangi spasme otot dan meningkatkan vasodilatasi); anjurkan teknik relaksasi napas dalam dan distraksi (misal mendengarkan musik); berikan posisi semi-Fowler untuk mengurangi ketegangan otot faring; kolaborasi pemberian analgesik (paracetamol 500-1000 mg setiap 6 jam atau ibuprofen 400 mg setiap 8 jam sesuai advis dokter); untuk nyeri sangat berat, dapat diberikan obat kumur anestesi lokal (lidokain viscous) sebelum makan. (c) Edukasi: ajarkan pasien untuk menghindari makanan pedas, asam, terlalu panas/dingin; anjurkan istirahat vokal (bicara seperlunya); jelaskan mekanisme nyeri dan pentingnya melaporkan nyeri jika skala >4.
**2. Manajemen Jalan Napas (I.01011)** – Definisi: mengidentifikasi dan mengatasi obstruksi jalan napas untuk mempertahankan patensi. Tindakan: (a) Observasi: monitor frekuensi, irama, kedalaman napas; auskultasi suara napas (wheezing, stridor); monitor saturasi oksigen (SpO2 <92% perlu perhatian). (b) Terapeutik: pertahankan kepatenan jalan napas dengan posisi kepala ekstensi (head tilt) atau posisi miring; lakukan suction jika ada sekret di orofaring (hati-hati karena dapat memicu refleks muntah); berikan humidifikasi oksigen jika SpO2 rendah; lakukan fisioterapi dada ringan (tapotement) jika ada sekret. (c) Edukasi: ajarkan pasien batuk efektif dan teknik menarik napas dalam; anjurkan minum air hangat 2-3 liter/hari untuk mengencerkan sekret. (d) Kolaborasi: pemberian mukolitik (N-asetilsistein) atau kortikosteroid (dexamethasone) jika ada edema berat yang menyumbat.
**3. Manajemen Menelan (I.03026)** – Definisi: memfasilitasi asupan oral yang aman dan adekuat pada pasien dengan gangguan menelan. Tindakan: (a) Observasi: identifikasi kemampuan menelan (uji dengan 5 ml air); monitor tanda aspirasi (batuk saat menelan, suara parau setelah makan, penurunan saturasi); kaji berat badan dan asupan nutrisi. (b) Terapeutik: berikan makanan dengan konsistensi lunak/cair hangat (bubur, sup krim, yoghurt); potong makanan kecil-kecil; anjurkan makan perlahan dengan posisi duduk tegak 90 derajat dan kepala sedikit fleksi ke depan (chin tuck); berikan waktu istirahat 30 menit setelah makan sebelum berbaring; jika nyeri hebat, berikan analgesik 30 menit sebelum makan. (c) Edukasi: ajarkan pasien untuk mengunyah di sisi yang tidak nyeri; anjurkan tidak berbicara saat makan; jelaskan tanda bahaya aspirasi. (d) Kolaborasi: konsultasi dengan ahli gizi untuk menu cair tinggi kalori; jika asupan oral tidak adekuat, rekomendasikan suplemen nutrisi oral atau NGT.
**4. Manajemen Hipertermia (I.15506)** – Definisi: mengelola suhu tubuh yang meningkat akibat proses inflamasi. Tindakan: (a) Observasi: monitor suhu tubuh setiap 4 jam (atau setiap 1 jam jika >38,5°C); monitor tanda dehidrasi (turgor kulit, output urin, membran mukosa); monitor tanda-tanda komplikasi (kejang, penurunan kesadaran). (b) Terapeutik: berikan kompres hangat pada dahi, aksila, dan lipatan paha (hindari kompres dingin yang dapat menyebabkan menggigil); berikan cairan oral hangat 2-3 liter/hari (kecuali kontraindikasi); gunakan selimut tipis; pertahankan suhu ruangan 24-26°C. (c) Edukasi: ajarkan pasien dan keluarga cara mengukur suhu dan tanda-tanda dehidrasi; anjurkan istirahat total untuk mengurangi metabolisme. (d) Kolaborasi: pemberian antipiretik (paracetamol) sesuai jadwal; jika demam >39°C dan tidak turun, lakukan pemeriksaan kultur darah/tes sensitivitas untuk menyesuaikan antibiotik.
-
Article No. 26533 | 03 Aug 2026
Klinis : tonsilofaringitis akut
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Tonsilofaringitis Akut
Kode SDKI: D.0148 (Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif) dan D.0057 (Nyeri Akut)
Deskripsi Singkat: Tonsilofaringitis akut adalah infeksi akut pada tonsil dan faring yang ditandai dengan nyeri tenggorokan, demam, kesulitan menelan (odinofagia), pembengkakan tonsil, dan kadang disertai eksudat purulen. Kondisi ini menyebabkan dua masalah keperawatan utama: (1) Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif berhubungan dengan akumulasi sekret yang kental dan edema mukosa faring, serta (2) Nyeri Akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis (inflamasi dan infeksi jaringan tonsil-faring). Diagnosis ini ditetapkan berdasarkan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) yang dikeluarkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). Bersihan jalan napas tidak efektif didefinisikan sebagai ketidakmampuan membersihkan sekret atau obstruksi jalan napas untuk mempertahankan kepatenan jalan napas. Pada tonsilofaringitis, pembengkakan tonsil yang membesar dapat menyempitkan orofaring, sementara produksi mukus yang berlebihan dan purulen menyebabkan pasien sulit mengeluarkan dahak, terutama pada anak-anak yang rentan mengalami obstruksi total. Nyeri akut didefinisikan sebagai pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial, dengan onset mendadak atau lambat dan intensitas ringan hingga berat. Pada kondisi ini, nyeri timbul akibat inflamasi faring yang melibatkan saraf glosofaringeus dan vagus, diperberat saat menelan, berbicara, atau bahkan saat istirahat. Kedua diagnosis ini saling terkait: nyeri hebat membuat pasien menahan batuk dan menelan, sehingga sekret tertahan dan memperberat gangguan bersihan jalan napas. Penegakan diagnosis yang tepat sangat penting untuk menentukan intervensi keperawatan yang holistik, mencakup manajemen nyeri non-farmakologis dan farmakologis, serta teknik pengeluaran sekret yang efektif tanpa meningkatkan rasa nyeri. SDKI memberikan kerangka kerja ilmiah yang terstandar, sehingga perawat dapat mengidentifikasi masalah secara akurat, membedakan dari diagnosis lain seperti hipertermia atau gangguan menelan, dan merencanakan asuhan yang berpusat pada pasien. Validasi diagnosis dilakukan melalui data subjektif (pasien mengeluh sakit tenggorokan, sulit menelan, suara serak) dan data objektif (faring hiperemis, tonsil membesar dengan eksudat, suhu tubuh meningkat, takikardia, dan bunyi napas tambahan seperti stridor atau gurgling). Dengan menggunakan SDKI, perawat juga dapat mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan, seperti ketidakseimbangan cairan dan elektrolit akibat demam dan asupan oral yang menurun, serta dampak psikologis berupa kecemasan karena ketidaknyamanan yang berkepanjangan. Oleh karena itu, kedua diagnosis ini menjadi landasan untuk menyusun luaran dan intervensi yang terukur dan berbasis bukti.
Kode SLKI: L.01001 (Bersihan Jalan Napas) dan L.01034 (Tingkat Nyeri)
Deskripsi: Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) menetapkan luaran yang diharapkan setelah intervensi keperawatan. Untuk diagnosis bersihan jalan napas tidak efektif (D.0148), luaran utama adalah "Bersihan Jalan Napas" (L.01001) dengan definisi kemampuan mempertahankan kepatenan jalan napas untuk mendukung pertukaran gas yang adekuat. Kriteria hasil yang dapat diukur meliputi: (1) Produksi sputum menurun, (2) Suara napas bersih atau vesikuler tanpa tambahan, (3) Frekuensi napas dalam rentang normal (12-20 x/menit pada dewasa, atau sesuai usia anak), (4) Tidak ada retraksi otot bantu napas, (5) Mampu batuk efektif untuk mengeluarkan sekret, (6) Saturasi oksigen ≥95% pada udara ruangan, (7) Tidak ada sianosis atau pucat. Skala luaran menggunakan tingkat keparahan dari 1 (memperburuk) hingga 5 (membaik), dengan target minimal mencapai skala 4 (cukup membaik) setelah 3-5 hari intervensi. Untuk diagnosis nyeri akut (D.0057), luaran utama adalah "Tingkat Nyeri" (L.01034) dengan definisi persepsi sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan. Kriteria hasil meliputi: (1) Keluhan nyeri menurun (skala nyeri turun dari 7-8 menjadi ≤3 pada skala 0-10), (2) Ekspresi wajah rileks, tidak meringis, (3) Kemampuan menelan membaik tanpa disertai rasa sakit yang hebat, (4) Tanda vital stabil (tekanan darah, nadi, dan pernapasan dalam rentang normal), (5) Nafsu makan meningkat karena pasien tidak takut menelan, (6) Kualitas tidur membaik, (7) Pasien mampu menggunakan teknik non-farmakologis (kompres dingin, distraksi, relaksasi napas dalam) untuk mengatasi nyeri. SLKI menekankan bahwa luaran harus spesifik, terukur, dapat dicapai, relevan, dan berbatas waktu (SMART). Pada tonsilofaringitis akut, luaran ini dievaluasi setiap 8 jam pada fase akut, kemudian setiap 24 jam setelah kondisi stabil. Perawat perlu mendokumentasikan perkembangan luaran secara objektif, misalnya "pada hari kedua, pasien melaporkan skala nyeri turun dari 8 menjadi 4, dan suara napas bersih tanpa stridor". Dengan SLKI, perawat juga dapat menetapkan luaran tambahan seperti "Status Nutrisi" (L.03030) karena kesulitan menelan berisiko menyebabkan asupan nutrisi tidak adekuat, dan "Termoregulasi" (L.01011) karena demam sering menyertai infeksi. Namun, dua luaran utama (bersihan jalan napas dan tingkat nyeri) menjadi prioritas karena paling relevan dengan masalah utama. SLKI memandu perawat untuk tidak hanya fokus pada aspek fisik, tetapi juga mempertimbangkan aspek psikologis melalui luaran "Tingkat Kecemasan" (L.01009) jika pasien menunjukkan gelisah akibat nyeri berulang. Dengan demikian, SLKI memberikan arah yang jelas terhadap hasil yang harus dicapai, sehingga intervensi dapat disesuaikan dan dievaluasi secara sistematis untuk memastikan kualitas asuhan keperawatan yang optimal.
Kode SIKI: I.01011 (Manajemen Jalan Napas) dan I.01010 (Manajemen Nyeri)
Deskripsi: Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) memberikan panduan tindakan spesifik yang dilakukan perawat untuk mencapai luaran yang ditetapkan. Untuk bersihan jalan napas tidak efektif, intervensi utama adalah "Manajemen Jalan Napas" (I.01011) yang bertujuan mengidentifikasi dan mengatasi kepatenan jalan napas. Tindakan yang dilakukan meliputi: (1) Monitor kepatenan jalan napas (auskultasi bunyi napas, observasi retraksi dada, frekuensi dan irama napas), (2) Posisikan pasien semi-Fowler atau Fowler (30-45 derajat) untuk memudahkan drainase sekret, (3) Berikan teknik batuk efektif yang dimodifikasi: anjurkan pasien menarik napas pelan, tahan 2-3 detik, lalu batuk dengan lembut tanpa memaksa karena nyeri tenggorokan, (4) Lakukan suction jika ada indikasi (sekret kental, stridor, atau ketidakmampuan batuk) dengan hati-hati menggunakan kateter ukuran kecil untuk menghindari trauma pada tonsil yang membengkak, (5) Berikan nebulizer dengan saline 0,9% 3-5 ml untuk mengencerkan sekret, jika tersedia dan sesuai advis dokter, (6) Anjurkan minum air hangat 1500-2000 ml/hari (jika tidak ada kontraindikasi) untuk membantu mengencerkan mukus, (7) Kolaborasi pemberian mukolitik (misal N-asetilsistein) atau ekspektoran (guaifenesin) sesuai indikasi, (8) Hindari penggunaan sedatif karena dapat menekan refleks batuk. Intervensi kedua adalah "Manajemen Nyeri" (I.01010) yang bertujuan mengurangi keluhan nyeri hingga tingkat nyaman. Tindakan meliputi: (1) Lakukan pengkajian nyeri komprehensif menggunakan skala numerik (0-10) atau skala wajah (Wong-Baker) untuk anak, termasuk karakteristik, frekuensi, dan faktor pemicu, (2) Berikan terapi non-farmakologis: kompres dingin pada area leher (es batu dibungkus kain) selama 10-15 menit setiap 4 jam untuk mengurangi edema dan efek anestesi lokal, (3) Anjurkan teknik relaksasi napas dalam dan distraksi (musik, bercerita, menonton video) untuk mengalihkan fokus nyeri, (4) Berikan makanan dan minuman yang tidak mengiritasi: cairan dingin (es krim, air dingin) dapat membantu mematikan rasa sementara, hindari makanan asam, pedas, atau kasar, (5) Anjurkan kumur dengan air garam hangat (1/2 sendok teh garam dalam 200 ml air) 3-4 kali sehari untuk membersihkan eksudat dan mengurangi peradangan, (6) Kolaborasi pemberian analgesik sesuai advis dokter: parasetamol 500-1000 mg setiap 6 jam (maksimal 4 gram/hari) atau ibuprofen 400 mg setiap 8 jam, untuk mengurangi nyeri dan demam, (7) Monitor tanda vital setiap 4 jam dan skala nyeri setiap 6 jam untuk mengevaluasi efektivitas intervensi, (8) Edukasi pasien dan keluarga tentang pentingnya kepatuhan minum obat dan tanda bahaya yang perlu dilaporkan (sesak napas, stridor, air liur berlebih, kesulitan memb
Article No. 26534 | 03 Aug 2026
Klinis : demam karena infeksi tonsilofaringitis akut
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Demam karena infeksi tonsilofaringitis akut
Kode SDKI: D.0130 (Hipertermia)
Deskripsi Singkat: Hipertermia adalah keadaan suhu tubuh seseorang meningkat melebihi batas normal (36,5-37,5°C) sebagai respons fisiologis terhadap pirogen endogen maupun eksogen, yang dalam konteks tonsilofaringitis akut disebabkan oleh aktivasi sistem imun terhadap bakteri Streptococcus pyogenes atau virus, sehingga melepaskan sitokin pro-inflamasi (IL-1, IL-6, TNF-α) yang memicu hipotalamus untuk menaikkan set point suhu tubuh. Pada kondisi ini, pasien mengalami peningkatan suhu tubuh yang ditandai dengan kulit teraba hangat, takikardia, takipnea, menggigil, serta wajah kemerahan. Hipertermia pada tonsilofaringitis akut merupakan mekanisme pertahanan tubuh, namun jika tidak dikelola dengan baik dapat menyebabkan dehidrasi, kejang demam (terutama pada anak), penurunan kesadaran, hingga gangguan elektrolit. Diagnosis keperawatan Hipertermia ditegakkan berdasarkan data subjektif (pasien mengeluh panas, menggigil, lemah) dan data objektif (suhu >37,5°C, kulit kering dan hangat, denyut nadi meningkat, frekuensi napas meningkat, serta hasil laboratorium menunjukkan peningkatan leukosit). Intervensi keperawatan difokuskan pada manajemen termoregulasi untuk menurunkan suhu tubuh secara bertahap, mencegah komplikasi, serta memenuhi kebutuhan cairan dan nutrisi yang meningkat akibat peningkatan metabolisme basal sebesar 7-13% setiap kenaikan suhu 1°C. Penting untuk membedakan hipertermia dengan demam karena pada hipertermia set point hipotalamus tidak berubah, namun pada kasus ini demam merupakan bentuk hipertermia sekunder yang responsif terhadap antipiretik.
Kode SLKI: L.14134 (Termoregulasi)
Deskripsi: Termoregulasi adalah luaran yang menggambarkan kemampuan tubuh pasien dalam mempertahankan suhu inti tubuh dalam rentang normal (36,5-37,5°C) tanpa mengalami fluktuasi yang ekstrem. Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan termoregulasi pasien meningkat dengan kriteria hasil: (1) Menggigil menurun dari tingkat berat menjadi ringan atau tidak ada, (2) Suhu tubuh membaik dalam rentang normal (tidak melebihi 37,5°C), (3) Suhu kulit membaik (tidak teraba hangat atau panas), (4) Takikardia menurun (denyut nadi kembali ke rentang normal 60-100x/menit pada dewasa), (5) Takipnea menurun (frekuensi napas 16-20x/menit pada dewasa), (6) Warna kulit membaik (tidak kemerahan), (7) Kadar glukosa darah dalam rentang normal, (8) Tidak terjadi kejang, (9) Kesadaran membaik (Coma Scale E4V5M6), (10) Pengisian kapiler membaik (<3 detik). Skala luaran termoregulasi diukur menggunakan instrumen dengan rentang 1 (buruk) hingga 5 (membaik). Target yang diharapkan adalah peningkatan skor dari 2 (cukup) menjadi 4 (baik) pada akhir intervensi. Luaran ini juga mencakup kemampuan pasien beradaptasi terhadap perubahan suhu lingkungan, tidak mengalami keringat dingin berlebih, serta mampu menjalankan aktivitas sehari-hari tanpa kelelahan berlebihan. Monitoring ketat terhadap suhu tubuh setiap 2-4 jam diperlukan untuk mengevaluasi efektivitas intervensi dan mencegah terjadinya hipertermia berulang.
Kode SIKI: I.15506 (Manajemen Hipertermia)
Deskripsi: Manajemen Hipertermia adalah serangkaian intervensi keperawatan yang bertujuan untuk menurunkan suhu tubuh pasien yang mengalami peningkatan suhu akibat infeksi, dalam hal ini tonsilofaringitis akut, serta mencegah komplikasi yang mungkin timbul. Intervensi ini dilakukan dengan pendekatan holistik meliputi tindakan observasi, terapeutik, edukasi, dan kolaborasi. Tindakan observasi meliputi: (1) Identifikasi penyebab peningkatan suhu tubuh (misalnya infeksi bakteri/virus), (2) Monitor suhu tubuh setiap 2-4 jam menggunakan termometer yang akurat (oral, aksila, atau timpani), (3) Monitor warna kulit dan suhu kulit (apakah teraba hangat, kemerahan), (4) Monitor napas cepat, denyut jantung, dan tanda-tanda dehidrasi (turgor kulit menurun, membran mukosa kering, produksi urine menurun), (5) Monitor jumlah dan jenis cairan yang dikonsumsi, (6) Monitor kadar elektrolit dan hematokrit jika tersedia, (7) Monitor komplikasi akibat hipertermia (kejang, penurunan kesadaran, gangguan keseimbangan cairan). Tindakan terapeutik meliputi: (1) Berikan kompres hangat pada lipatan aksila dan inguinal selama 15-20 menit untuk menurunkan suhu tubuh secara fisiologis melalui mekanisme vasodilatasi perifer, (2) Anjurkan pasien untuk mengenakan pakaian tipis yang menyerap keringat dan tidak berlapis-lapis, (3) Atur suhu ruangan yang nyaman (22-25°C) dengan ventilasi yang baik, (4) Berikan cairan oral yang cukup (air putih, jus, oralit) minimal 2000-2500 ml/hari untuk dewasa, disesuaikan dengan toleransi dan kondisi jantung, (5) Ganti linen dan pakaian jika basah karena keringat untuk mencegah kedinginan dan meningkatkan kenyamanan, (6) Istirahatkan pasien (tirah baring) untuk mengurangi produksi panas metabolik, (7) Kolaborasi pemberian antipiretik (parasetamol 500-1000 mg setiap 4-6 jam) sesuai indikasi dan advis dokter, (8) Kolaborasi pemberian antibiotik (penisilin atau amoksisilin) jika penyebabnya bakteri Streptococcus, serta (9) Kolaborasi pemeriksaan laboratorium (darah lengkap, kultur tenggorok, tes rapid antigen) untuk memastikan etiologi. Tindakan edukasi meliputi: (1) Jelaskan kepada pasien dan keluarga tentang penyebab demam, pentingnya kepatuhan minum obat, serta tanda bahaya yang perlu diwaspadai (demam >39°C yang tidak turun, kejang, sesak napas, kesulitan menelan, penurunan kesadaran), (2) Ajarkan teknik kompres hangat yang benar di rumah, (3) Anjurkan untuk menjaga kebersihan mulut dan tenggorokan dengan berkumur air garam hangat untuk mengurangi nyeri dan peradangan, (4) Anjurkan untuk menghindari makanan/minuman yang terlalu panas, pedas, atau asam yang dapat mengiritasi tonsil, (5) Anjurkan untuk banyak minum dan istirahat cukup, serta (6) Ajarkan tanda-tanda dehidrasi dan cara pencegahannya. Intervensi ini dievaluasi setiap 4 jam dengan mengukur suhu tubuh, memantau respons pasien terhadap terapi, dan mendokumentasikan hasil secara akurat. Jika suhu tidak turun setelah 3x24 jam atau terjadi komplikasi, maka rencana intervensi perlu dimodifikasi dan kolaborasi dengan dokter spesialis anak/THT diperlukan.
Article No. 26535 | 03 Aug 2026
Klinis : mual
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Mual (Nausea)
Kode SDKI: D.0021
Deskripsi Singkat: Mual adalah sensasi subjektif yang tidak menyenangkan berupa keinginan untuk muntah, yang dirasakan di daerah faring dan epigastrium. Kondisi ini merupakan respons fisiologis kompleks yang melibatkan sistem saraf otonom, vestibular, dan gastrointestinal. Mual seringkali merupakan gejala awal sebelum terjadinya muntah, namun dapat juga berdiri sendiri tanpa disertai keluarnya isi lambung. Dalam konteks keperawatan, mual dipandang sebagai pengalaman yang sangat personal dan mengganggu kualitas hidup pasien, karena dapat menurunkan nafsu makan, mengganggu tidur, menyebabkan kelelahan, serta memicu kecemasan. Mual dapat bersifat akut (berlangsung kurang dari 7 hari), kronis (lebih dari 7 hari), atau berhubungan dengan pengobatan tertentu seperti kemoterapi dan radioterapi. Patofisiologi mual melibatkan aktivasi area postrema di medula oblongata yang menerima sinyal dari kemoreseptor, sistem vestibular, korteks serebral, dan saluran pencernaan melalui saraf vagus. Neurotransmitter yang berperan antara lain serotonin, dopamin, asetilkolin, dan histamin. Pada kondisi klinis, mual sering dijumpai pada pasien pasca operasi, pasien dengan penyakit gastrointestinal, gangguan metabolik (seperti uremia dan ketoasidosis), efek samping obat, kehamilan, serta gangguan psikologis. Penilaian mual harus komprehensif, mencakup frekuensi, durasi, intensitas (menggunakan skala numerik atau visual analog), faktor pencetus, faktor pemberat, dan dampaknya terhadap aktivitas sehari-hari. Perawat perlu membedakan mual dengan muntah, karena keduanya memiliki intervensi yang berbeda meskipun saling berkaitan. Diagnosis keperawatan mual ditegakkan ketika pasien melaporkan sensasi mual atau menunjukkan perilaku seperti menelan berlebihan, wajah pucat, berkeringat dingin, atau takikardia. Tujuan diagnosis ini adalah untuk mengidentifikasi penyebab yang mendasari dan memberikan intervensi untuk mengurangi atau menghilangkan sensasi mual, mencegah komplikasi seperti dehidrasi dan malnutrisi, serta meningkatkan kenyamanan pasien. Data subjektif yang utama adalah keluhan pasien merasa mual, sedangkan data objektif dapat meliputi peningkatan salivasi, pucat, diaforesis, dan peningkatan denyut jantung. Faktor-faktor yang berhubungan dengan mual antara lain agen farmakologis (kemoterapi, opioid, antibiotik), toksin, distensi lambung, iritasi faring, pergerakan vestibular, kehamilan, peningkatan tekanan intrakranial, gangguan metabolik, dan faktor psikologis seperti ansietas dan nyeri.
Kode SLKI: L.08067
Deskripsi : Luaran utama yang diharapkan untuk diagnosis keperawatan mual adalah "Tingkat Mual Menurun" (L.08067). Definisi luaran ini adalah penurunan sensasi tidak menyenangkan yang bersifat subjektif berupa keinginan untuk muntah. Kriteria hasil yang dapat diukur meliputi: (1) Keluhan mual menurun, dengan indikator pasien melaporkan penurunan frekuensi dan intensitas mual pada skala 0-10 (skala 0 berarti tidak mual dan 10 adalah mual terberat); (2) Keinginan untuk muntah menurun, yang ditandai dengan pasien tidak lagi merasa ingin muntah atau frekuensi keinginan muntah berkurang; (3) Frekuensi muntah menurun, di mana jumlah episode muntah dalam 24 jam berkurang secara signifikan; (4) Nafsu makan membaik, dengan indikator pasien menunjukkan peningkatan asupan makanan dan minuman per oral; (5) Keluhan rasa tidak nyaman di perut menurun; (6) Kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari meningkat, karena mual seringkali membuat pasien tidak mampu beraktivitas normal. Skala luaran ini dinilai dari tingkat keparahan gejala, dengan target mulai dari tingkat yang buruk (1) hingga tingkat yang baik (5). Pada kondisi awal, jika pasien melaporkan mual berat dengan skor 1, maka setelah intervensi diharapkan mencapai skor 4 atau 5. Selain luaran utama, terdapat luaran tambahan yang relevan yaitu "Status Nutrisi" (L.03030) karena mual dapat menyebabkan penurunan asupan nutrisi, dan "Kontrol Gejala" (L.09023) yang mengacu pada kemampuan pasien untuk mengelola dan mengurangi gejala mual. Luaran "Tingkat Mual Menurun" ini terintegrasi dengan intervensi yang diberikan, dan evaluasi dilakukan secara berkala setiap 1-2 jam untuk kondisi akut, atau setiap shift untuk kondisi kronis. Pencapaian luaran ini menjadi indikator keberhasilan asuhan keperawatan dalam mengatasi masalah mual. Perawat perlu mendokumentasikan skor mual sebelum dan sesudah intervensi untuk memantau perkembangan. Luaran ini juga mempertimbangkan aspek psikologis, seperti penurunan kecemasan yang sering menyertai mual, serta peningkatan kualitas tidur pasien. Penting untuk dicatat bahwa luaran ini bersifat individual dan harus disesuaikan dengan kondisi klinis pasien, usia, dan komorbiditas yang ada. Jika penyebab mual adalah kemoterapi, maka target luaran mungkin berbeda dengan mual pasca operasi, namun prinsip dasarnya tetap pada penurunan sensasi subjektif yang tidak menyenangkan ini.
Kode SIKI: I.03117
Deskripsi : Intervensi keperawatan utama untuk mengatasi mual adalah "Manajemen Mual" (I.03117). Definisi intervensi ini adalah serangkaian tindakan keperawatan yang bertujuan untuk mengurangi atau menghilangkan sensasi mual dan mencegah terjadinya muntah. Tindakan yang termasuk dalam manajemen mual meliputi: (1) Identifikasi faktor penyebab mual, seperti pengaruh obat, makanan, atau stimulus lingkungan; (2) Monitor mual, yang mencakup penilaian frekuensi, durasi, intensitas (menggunakan skala 0-10), dan faktor pencetus; (3) Monitor tanda-tanda dehidrasi, seperti turgor kulit menurun, membran mukosa kering, dan penurunan output urine; (4) Monitor muntah, termasuk warna, konsistensi, volume, dan frekuensi muntah. Tindakan terapeutik yang dilakukan antara lain: (5) Berikan makanan dan minuman dalam porsi kecil tetapi sering; (6) Anjurkan makan makanan yang tidak berbau menyengat, rendah lemak, dan mudah dicerna (misalnya biskuit kering, roti panggang, atau makanan dingin); (7) Anjurkan makan secara perlahan dan mengunyah makanan dengan baik; (8) Hindari makanan yang merangsang mual seperti makanan pedas, berlemak, atau berbau tajam; (9) Anjurkan teknik relaksasi seperti napas dalam, distraksi (mendengarkan musik), atau visualisasi; (10) Berikan minuman hangat atau minuman jahe yang dapat membantu meredakan mual; (11) Anjurkan istirahat dan tidur yang cukup, karena kelelahan dapat memperberat mual; (12) Kelola lingkungan yang nyaman, seperti memastikan ventilasi baik, menghilangkan aroma tidak sedap, dan mengurangi stimulus visual yang tidak menyenangkan. Edukasi yang diberikan meliputi: (13) Ajarkan pasien dan keluarga cara menggunakan skala mual untuk melaporkan tingkat keparahan; (14) Jelaskan pentingnya menjaga kebersihan mulut setelah muntah untuk mengurangi rasa tidak nyaman; (15) Anjurkan menghindari berbaring segera setelah makan (tunggu minimal 30 menit); (16) Informasikan tentang pilihan obat antiemetik yang diresepkan dokter beserta efek sampingnya. Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain sangat penting, yaitu: (17) Kolaborasi pemberian obat antiemetik sesuai indikasi, seperti ondansetron, metoklopramid, atau dexamethasone, terutama pada mual akibat kemoterapi atau pasca operasi; (18) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk merencanakan diet yang sesuai dan memenuhi kebutuhan nutrisi; (19) Kolaborasi dengan dokter untuk mengatasi penyebab dasar mual, misalnya koreksi gangguan elektrolit atau penghentian obat yang menyebabkan mual. Perawatan yang dapat dilakukan secara mandiri oleh perawat adalah memberikan kompres dingin pada dahi atau leher, mengatur posisi pasien semi-Fowler atau duduk tegak saat makan, serta memberikan permen asam atau peppermint untuk mengurangi rasa mual. Intervensi ini harus dilakukan secara individual berdasarkan penyebab dan tingkat keparahan mual. Untuk mual akibat kemoterapi, intervensi mungkin perlu dilakukan secara proaktif sebelum kemoterapi diberikan. Evaluasi keefektifan intervensi dilakukan dengan membandingkan skor mual sebelum dan sesudah tindakan, serta memantau status hidrasi dan asupan nutrisi pasien. Dokumentasi yang akurat sangat penting untuk menilai respons pasien terhadap intervensi dan memodifikasi rencana asuhan jika diperlukan. Intervensi "Manajemen Mual" ini merupakan intervensi utama, namun dapat dikombinasikan dengan intervensi lain seperti "Manajemen Muntah" (I.03118) jika pasien juga mengalami muntah, atau "Dukungan Nutrisi" jika terjadi penurunan berat badan yang signifikan. Dengan pendekatan holistik yang mencakup aspek biologis, psikologis, dan sosial, manajemen mual diharapkan dapat meningkatkan kenyamanan dan kualitas hidup pasien secara menyeluruh.
Article No. 26536 | 03 Aug 2026
Klinis : dispepsia
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Dispepsia
Kode SDKI: D.0077 (Nyeri Akut) ; D.0020 (Defisit Nutrisi) ; D.0055 (Gangguan Eliminasi Defekasi) ; D.0006 (Ansietas) — *Prioritas utama pada dispepsia adalah Nyeri Akut dan Defisit Nutrisi, namun semua diagnosa dapat ditegakkan berdasarkan kondisi klinis pasien.*
Deskripsi Singkat: Dispepsia adalah kumpulan gejala nyeri atau tidak nyaman di ulu hati, rasa penuh, cepat kenyang, mual, kembung, dan sendawa yang sering dipicu oleh makan. Dalam konteks keperawatan, kondisi ini memicu respons fisiologis dan psikologis yang membutuhkan asuhan holistik. Diagnosa keperawatan utama yang lazim ditegakkan pada pasien dispepsia adalah: (1) Nyeri Akut berhubungan dengan iritasi mukosa lambung (D.0077), karena nyeri epigastrium merupakan keluhan dominan; (2) Defisit Nutrisi berhubungan dengan intake oral yang tidak adekuat (D.0020), karena mual dan rasa penuh menyebabkan penurunan asupan makanan; (3) Gangguan Eliminasi Defekasi (D.0055) jika disertai konstipasi atau diare; dan (4) Ansietas (D.0006) karena ketidaknyamanan berulang dan kekhawatiran terhadap penyakit serius. Deskripsi lengkap untuk masing-masing diagnosa dijabarkan di bawah.
Kode SLKI: L.09066 (Tingkat Nyeri) ; L.03030 (Status Nutrisi) ; L.04033 (Eliminasi Defekasi) ; L.09093 (Tingkat Ansietas)
Deskripsi :
1. **L.09066 – Tingkat Nyeri** (untuk D.0077): Definisi SLKI ini adalah persepsi sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial. Kriteria hasil yang diharapkan: penurunan skala nyeri (0-10), pasien melaporkan nyeri berkurang, ekspresi wajah rileks, tidak meringis, frekuensi nadi dan pernapasan dalam rentang normal, mampu mengidentifikasi faktor pencetus nyeri, dan mampu menggunakan teknik nonfarmakologi (relaksasi napas dalam, kompres hangat) untuk mengurangi nyeri. Luaran ini diukur setelah intervensi keperawatan selama 1x24 jam hingga 3x24 jam.
2. **L.03030 – Status Nutrisi** (untuk D.0020): Definisi adalah asupan zat gizi yang adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolik. Kriteria hasil: porsi makan yang dihabiskan meningkat, berat badan stabil atau meningkat, tidak terjadi penurunan berat badan >10% dalam 3 bulan, kadar albumin normal, pasien menunjukkan nafsu makan membaik, tidak ada mual/muntah, dan mampu memilih makanan yang tidak mengiritasi lambung. Target: asupan kalori terpenuhi 80-100% dari kebutuhan.
3. **L.04033 – Eliminasi Defekasi** (untuk D.0055): Definisi adalah kemampuan saluran pencernaan untuk membentuk dan mengeluarkan feses secara adekuat. Kriteria hasil: frekuensi defekasi normal (1-3 kali/hari atau 3 kali/minggu), konsistensi feses lunak, tidak ada konstipasi atau diare, tidak ada nyeri saat defekasi, dan pasien mengonsumsi cukup serat dan cairan.
4. **L.09093 – Tingkat Ansietas** (untuk D.0006): Definisi adalah perasaan tidak nyaman atau kekhawatiran yang samar-samar disertai respons otonom. Kriteria hasil: pasien melaporkan ansietas menurun, tanda vital stabil, tidak tampak gelisah, mampu mengungkapkan perasaannya, mampu menggunakan mekanisme koping adaptif, dan mampu melakukan teknik relaksasi.
Kode SIKI: I.08238 (Manajemen Nyeri) ; I.03119 (Manajemen Nutrisi) ; I.04030 (Manajemen Eliminasi Defekasi) ; I.09326 (Reduksi Ansietas)
Deskripsi :
1. **I.08238 – Manajemen Nyeri** (untuk D.0077): Tindakan keperawatan yang komprehensif untuk mengurangi nyeri hingga tingkat nyaman. Intervensi utama: (a) Observasi: identifikasi skala nyeri dengan PQRST (Provokasi, Kualitas, Region, Severity, Time), identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan, monitor tanda vital; (b) Terapeutik: berikan posisi semi-Fowler atau posisi nyaman, lakukan kompres hangat pada epigastrium, anjurkan teknik relaksasi napas dalam, berikan lingkungan tenang; (c) Edukasi: jelaskan penyebab nyeri (iritasi mukosa lambung), ajarkan teknik distraksi, anjurkan menghindari makanan pedas, asam, berlemak, dan minuman berkafein, anjurkan makan porsi kecil tapi sering; (d) Kolaborasi: pemberian obat analgesik atau antasida sesuai indikasi dokter (misal antasida, PPI, H2 antagonis).
2. **I.03119 – Manajemen Nutrisi** (untuk D.0020): Tindakan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan mencegah malnutrisi. Intervensi: (a) Observasi: monitor asupan oral, monitor berat badan, monitor mual/muntah, identifikasi alergi/intoleransi makanan; (b) Terapeutik: sajikan makanan dalam porsi kecil dan frekuensi sering (5-6x/hari), sajikan makanan hangat dan tidak berbau menyengat, berikan makanan lunak atau bubur, atur jadwal makan yang teratur, ciptakan lingkungan makan yang menyenangkan; (c) Edukasi: ajarkan memilih makanan rendah lemak, rendah asam, tidak pedas, hindari alkohol dan rokok, ajarkan makan perlahan dan kunyah dengan baik, berikan informasi tentang diet dispepsia (misal diet BRAT - Banana, Rice, Applesauce, Toast jika diare); (d) Kolaborasi: rujuk ke ahli gizi untuk terapi diet spesifik, pemberian vitamin atau suplemen jika perlu.
3. **I.04030 – Manajemen Eliminasi Defekasi** (untuk D.0055): Tindakan untuk memelihara dan memperbaiki pola defekasi. Intervensi: (a) Observasi: monitor frekuensi, konsistensi, warna, dan volume feses; monitor tanda konstipasi (feses keras, mengejan) atau diare; (b) Terapeutik: anjurkan peningkatan asupan cairan (8-10 gelas/hari) jika tidak kontraindikasi, anjurkan konsumsi makanan tinggi serat (buah, sayur) secara bertahap, fasilitasi privasi saat defekasi, bantu mobilisasi sesuai kemampuan; (c) Edukasi: ajarkan teknik defekasi yang benar (jangan menahan BAB), jelaskan pentingnya olahraga ringan, ajarkan pijat abdomen searah jarum jam; (d) Kolaborasi: pemberian laksatif atau antidiare sesuai indikasi, konsultasi dengan dokter jika terjadi perubahan pola BAB yang menetap.
4. **I.09326 – Reduksi Ansietas** (untuk D.0006): Tindakan untuk menurunkan perasaan cemas dan meningkatkan koping. Intervensi: (a) Observasi: identifikasi tingkat ansietas (ringan, sedang, berat), monitor tanda-tanda ansietas (palpitasi, diaforesis, gelisah, sulit tidur); (b) Terapeutik: ciptakan hubungan saling percaya, berikan informasi akurat tentang diagnosis dan prognosis dispepsia (bahwa ini sering bersifat fungsional dan dapat dikelola), dengarkan keluhan pasien dengan empati, berikan waktu untuk mengungkapkan perasaan, ajarkan teknik relaksasi (napas dalam, guided imagery, meditasi singkat); (c) Edukasi: jelaskan hubungan stres dengan gejala dispepsia, ajarkan manajemen stres, anjurkan aktivitas yang menyenangkan; (d) Kolaborasi: konsultasi dengan psikolog/psikiater jika ansietas berat atau gangguan panik, pemberian ansiolitik sesuai resep dokter.
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 264 265 266 267 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 280 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 297 298 299 300 301 302 303 304 305 306 307 308 309 310 311 312 313 314 315 316 317 318 319 320 321 322 323 324 325 326 327 328 329 330 331 332 333 334 335 336 337 338 339 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 350 351 352 353 354 355 356 357 358 359 360 361 362 363 364 365 366 367 368 369 370 371 372 373 374 375 376 377 378 379 380 381 382 383 384 385 386 387 388 389 390 391 392 393 394 395 396 397 398 399 400 401 402 403 404 405 406 407 408 409 410 411 412 413 414 415 416 417 418 419 420 421 422 423 424 425 426 427 428 429 430 431 432 433 434 435 436 437 438 439 440 441 442 443 444 445 446 447 448 449 450 451 452 453 454 455 456 457 458 459 460 461 462 463 464 465 466 467 468 469 470 471 472 473 474 475 476 477 478 479 480 481 482 483 484 485 486 487 488 489 490 491 492 493 494 495 496 497 498 499 500 501 502 503 504 505 506 507 508 509 510 511 512 513 514 515 516 517 518 519 520 521 522 523 524 525 526 527 528 529 530 531 532 533 534 535 536 537 538 539 540 541 542 543 544 545 546 547 548 549 550 551 552 553 554 555 556 557 558 559 560 561 562 563 564 565 566 567 568 569 570 571 572 573 574 575 576 577 578 579 580 581 582 583 584 585 586 587 588 589 590 591 592 593 594 595 596 597 598 599 600 601 602 603 604 605 606 607 608 609 610 611 612 613 614 615 616 617 618 619 620 621 622 623 624 625 626 627 628 629 630 631 632 633 634 635 636 637 638 639 640 641 642 643 644 645 646 647 648 649 650 651 652 653 654 655 656 657 658 659 660 661 662 663 664 665 666 667 668 669 670 671 672 673 674 675 676 677 678 679 680 681 682 683 684 685 686 687 688 689 690 691 692 693 694 695 696 697 698 699 700 701 702 703 704 705 706 707 708 709 710 711 712 713 714 715 716 717 718 719 720 721 722 723 724 725 726 727 728 729 730 731 732 733 734 735 736 737 738 739 740 741 742 743 744 745 746 747 748 749 750 751 752 753 754 755 756 757 758 759 760 761 762 763 764 765 766 767 768 769 770 771 772 773 774 775 776 777 778 779 780 781 782 783 784 785 786 787 788 789 790 791 792 793 794 795 796 797 798 799 800 801 802 803 804 805 806 807 808 809 810 811 812 813 814 815 816 817 818 819 820 821 822 823 824 825 826 827 828 829 830 831 832 833 834 835 836 837 838 839 840 841 842 843 844 845 846 847 848 849 850 851 852 853 854 855 856 857 858 859 860 861 862 863 864 865 866 867 868 869 870 871 872 873 874 875 876 877 878 879 880 881 882 883 884 885 886 887 888 889 890 891 892 893 894 895 896 897 898 899 900 901 902 903 904 905 906 907 908 909 910 911 912 913 914 915 916 917 918 919 920 921 922 923 924 925 926 927 928 929 930 931 932 933 934 935 936 937 938 939 940 941 942 943 944 945 946 947 948 949 950 951 952 953 954 955 956 957 958 959 960 961 962 963 964 965 966 967 968 969 970 971 972 973 974 975 976 977 978 979 980 981 982 983 984 985 986 987 988 989 990 991 992 993 994 995 996 997 998 999 1000 1001 1002 1003 1004 1005 1006 1007 1008 1009 1010 1011 1012 1013 1014 1015 1016 1017 1018 1019 1020 1021 1022 1023 1024 1025 1026 1027 1028 1029 1030 1031 1032 1033 1034 1035 1036 1037 1038 1039 1040 1041 1042 1043 1044 1045 1046 1047 1048 1049 1050 1051 1052 1053 1054 1055 1056 1057 1058 1059 1060 1061 1062 1063 1064 1065 1066 1067 1068 1069 1070 1071 1072 1073 1074 1075 1076 1077 1078 1079 1080 1081 1082 1083 1084 1085 1086 1087 1088 1089 1090 1091 1092 1093 1094 1095 1096 1097 1098 1099 1100 1101 1102 1103 1104 1105 1106 1107 1108 1109 1110 1111 1112 1113 1114 1115 1116 1117 1118 1119 1120 1121 1122 1123 1124 1125 1126 1127 1128 1129 1130 1131 1132 1133 1134 1135 1136 1137 1138 1139 1140 1141 1142 1143 1144 1145 1146 1147 1148 1149 1150 1151 1152 1153 1154 1155 1156 1157 1158 1159 1160 1161 1162 1163 1164 1165 1166 1167 1168 1169 1170 1171 1172 1173 1174 1175 1176 1177 1178 1179 1180 1181 1182 1183 1184 1185 1186 1187 1188 1189 1190 1191 1192 1193 1194 1195 1196 1197 1198 1199 1200 1201 1202 1203 1204 1205 1206 1207 1208 1209 1210 1211 1212 1213 1214 1215 1216 1217 1218 1219 1220 1221 1222 1223 1224 1225 1226 1227 1228 1229 1230 1231 1232 1233 1234 1235 1236 1237 1238 1239 1240 1241 1242 1243 1244 1245 1246 1247 1248 1249 1250 1251 1252 1253 1254 1255 1256 1257 1258 1259 1260 1261 1262 1263 1264 1265 1266 1267 1268 1269 1270 1271 1272 1273 1274 1275 1276 1277 1278 1279 1280 1281 1282 1283 1284 1285 1286 1287 1288 1289 1290 1291 1292 1293 1294 1295 1296 1297 1298 1299 1300 1301 1302 1303 1304 1305 1306 1307 1308 1309 1310 1311 1312 1313 1314 1315 1316 1317 1318 1319 1320 1321 1322 1323 1324 1325 1326 1327 1328 1329 1330 1331 1332 1333 1334 1335 1336 1337 1338 1339 1340 1341 1342 1343 1344 1345 1346 1347 1348 1349 1350 1351 1352 1353 1354 1355 1356 1357 1358 1359 1360 1361 1362 1363 1364 1365 1366 1367 1368 1369 1370 1371 1372 1373 1374 1375 1376 1377 1378 1379 1380 1381 1382 1383 1384 1385 1386 1387 1388 1389 1390 1391 1392 1393 1394 1395 1396 1397 1398 1399 1400 1401 1402 1403 1404 1405 1406 1407 1408 1409 1410 1411 1412 1413 1414 1415 1416 1417 1418 1419 1420 1421 1422 1423 1424 1425 1426 1427 1428 1429 1430 1431 1432 1433 1434 1435 1436 1437 1438 1439 1440 1441 1442 1443 1444 1445 1446 1447 1448 1449 1450 1451 1452 1453 1454 1455 1456 1457 1458 1459 1460 1461 1462 1463 1464 1465 1466 1467 1468 1469 1470 1471 1472 1473 1474 1475 1476 1477 1478 1479 1480 1481 1482 1483 1484 1485 1486 1487 1488 1489 1490 1491 1492 1493 1494 1495 1496 1497 1498 1499 1500 1501 1502 1503 1504 1505 1506 1507 1508 1509 1510 1511 1512 1513 1514 1515 1516 1517 1518 1519 1520 1521 1522 1523 1524 1525 1526 1527 1528 1529 1530 1531 1532 1533 1534 1535 1536 1537 1538 1539 1540 1541 1542 1543 1544 1545 1546 1547 1548 1549 1550 1551 1552 1553 1554 1555 1556 1557 1558 1559 1560 1561 1562 1563 1564 1565 1566 1567 1568 1569 1570 1571 1572 1573 1574 1575 1576 1577 1578 1579 1580 1581 1582 1583 1584 1585 1586 1587 1588 1589 1590 1591 1592 1593 1594 1595 1596 1597 1598 1599 1600 1601 1602 1603 1604 1605 1606 1607 1608 1609 1610 1611 1612 1613 1614 1615 1616 1617 1618 1619 1620 1621 1622 1623 1624 1625 1626 1627 1628 1629 1630 1631 1632 1633 1634 1635 1636 1637 1638 1639 1640 1641 1642 1643 1644 1645 1646 1647 1648 1649 1650 1651 1652 1653 1654 1655 1656 1657 1658 1659 1660 1661 1662 1663 1664 1665 1666 1667 1668 1669 1670 1671 1672 1673 1674 1675 1676 1677 1678 1679 1680 1681 1682 1683 1684 1685 1686 1687 1688 1689 1690 1691 1692 1693 1694 1695 1696 1697 1698 1699 1700 1701 1702 1703 1704 1705 1706 1707 1708 1709 1710 1711 1712 1713 1714 1715 1716 1717 1718 1719 1720 1721 1722 1723 1724 1725 1726 1727 1728 1729 1730 1731 1732 1733 1734 1735 1736 1737 1738 1739 1740 1741 1742 1743 1744 1745 1746 1747 1748 1749 1750 1751 1752 1753 1754 1755 1756 1757 1758 1759 1760 1761 1762 1763 1764 1765 1766 1767 1768 1769 1770 1771 1772 1773 1774 1775 1776 1777 1778 1779 1780 1781 1782 1783 1784 1785 1786 1787 1788 1789 1790 1791 1792 1793 1794 1795 1796 1797 1798 1799 1800 1801 1802 1803 1804 1805 1806 1807 1808 1809 1810 1811 1812 1813 1814 1815 1816 1817 1818 1819 1820 1821 1822 1823 1824 1825 1826 1827 1828 1829 1830 1831 1832 1833 1834 1835 1836 1837 1838 1839 1840 1841 1842 1843 1844 1845 1846 1847 1848 1849 1850 1851 1852 1853 1854 1855 1856 1857 1858 1859 1860 1861 1862 1863 1864 1865 1866 1867 1868 1869 1870 1871 1872 1873 1874 1875 1876 1877 1878 1879 1880 1881 1882 1883 1884 1885 1886 1887 1888 1889 1890 1891 1892 1893 1894 1895 1896 1897 1898 1899 1900 1901 1902 1903 1904 1905 1906 1907 1908 1909 1910 1911 1912 1913 1914 1915 1916 1917 1918 1919 1920 1921 1922 1923 1924 1925 1926 1927 1928 1929 1930 1931 1932 1933 1934 1935 1936 1937 1938 1939 1940 1941 1942 1943 1944 1945 1946 1947 1948 1949 1950 1951 1952 1953 1954 1955 1956 1957 1958 1959 1960 1961 1962 1963 1964 1965 1966 1967 1968 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 2029 2030 2031 2032 2033 2034 2035 2036 2037 2038 2039 2040 2041 2042 2043 2044 2045 2046 2047 2048 2049 2050 2051 2052 2053 2054 2055 2056 2057 2058 2059 2060 2061 2062 2063 2064 2065 2066 2067 2068 2069 2070 2071 2072 2073 2074 2075 2076 2077 2078 2079 2080 2081 2082 2083 2084 2085 2086 2087 2088 2089 2090 2091 2092 2093 2094 2095 2096 2097 2098 2099 2100 2101 2102 2103 2104 2105 2106 2107 2108 2109 2110 2111 2112 2113 2114 2115 2116 2117 2118 2119 2120 2121 2122 2123 2124 2125 2126 2127 2128 2129 2130 2131 2132 2133 2134 2135 2136 2137 2138 2139 2140 2141 2142 2143 2144 2145 2146 2147 2148 2149 2150 2151 2152 2153 2154 2155 2156 2157 2158 2159 2160 2161 2162 2163 2164 2165 2166 2167 2168 2169 2170 2171 2172 2173 2174 2175 2176 2177 2178 2179 2180 2181 2182 2183 2184 2185 2186 2187 2188 2189 2190 2191 2192 2193 2194 2195 2196 2197 2198 2199 2200 2201 2202 2203 2204 2205 2206 2207 2208 2209 2210 2211 2212 2213 2214 2215 2216 2217 2218 2219 2220 2221 2222 2223 2224 2225 2226 2227 2228 2229 2230 2231 2232 2233 2234 2235 2236 2237 2238 2239 2240 2241 2242 2243 2244 2245 2246 2247 2248 2249 2250 2251 2252 2253 2254 2255 2256 2257 2258 2259 2260 2261 2262 2263 2264 2265 2266 2267 2268 2269 2270 2271 2272 2273 2274 2275 2276 2277 2278 2279 2280 2281 2282 2283 2284 2285 2286 2287 2288 2289 2290 2291 2292 2293 2294 2295 2296 2297 2298 2299 2300 2301 2302 2303 2304 2305 2306 2307 2308 2309 2310 2311 2312 2313 2314 2315 2316 2317 2318 2319 2320 2321 2322 2323 2324 2325 2326 2327 2328 2329 2330 2331 2332 2333 2334 2335 2336 2337 2338 2339 2340 2341 2342 2343 2344 2345 2346 2347 2348 2349 2350 2351 2352 2353 2354 2355 2356 2357 2358 2359 2360 2361 2362 2363 2364 2365 2366 2367 2368 2369 2370 2371 2372 2373 2374 2375 2376 2377 2378 2379 2380 2381 2382 2383 2384 2385 2386 2387 2388 2389 2390 2391 2392 2393 2394 2395 2396 2397 2398 2399 2400 2401 2402 2403 2404 2405 2406 2407 2408 2409 2410 2411 2412 2413 2414 2415 2416 2417 2418 2419 2420 2421 2422 2423 2424 2425 2426 2427 2428 2429 2430 2431 2432 2433 2434 2435 2436 2437 2438 2439 2440 2441 2442 2443 2444 2445 2446 2447 2448 2449 2450 2451 2452 2453 2454 2455 2456 2457 2458 2459 2460 2461 2462 2463 2464 2465 2466 2467 2468 2469 2470 2471 2472 2473 2474 2475 2476 2477 2478 2479 2480 2481 2482 2483 2484 2485 2486 2487 2488 2489 2490 2491 2492 2493 2494 2495 2496 2497 2498 2499 2500 2501 2502 2503 2504 2505 2506 2507 2508 2509 2510 2511 2512 2513 2514 2515 2516 2517 2518 2519 2520 2521 2522 2523 2524 2525 2526 2527 2528 2529 2530 2531 2532 2533 2534 2535 2536 2537 2538 2539 2540 2541 2542 2543 2544 2545 2546 2547 2548 2549 2550 2551 2552 2553 2554 2555 2556 2557 2558 2559 2560 2561 2562 2563 2564 2565 2566 2567 2568 2569 2570 2571 2572 2573 2574 2575 2576 2577 2578 2579 2580 2581 2582 2583 2584 2585 2586 2587 2588 2589 2590 2591 2592 2593 2594 2595 2596