Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 22724 | 12 Nov 2025
Klinis : “Risiko kerusakan hati lanjut” terkait infeksi virus hepatitis.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Kerusakan Hati Lanjut
Kode SDKI: 0026
Deskripsi Singkat: Risiko Kerusakan Hati Lanjut adalah keadaan di mana seorang individu memiliki kerentanan terhadap perkembangan deteriorasi fungsi hati yang dapat mengarah pada sirosis, gagal hati, atau karsinoma hepatoseluler, yang dapat membahayakan kesehatan. Diagnosa ini sangat relevan dalam konteks infeksi virus hepatitis, di mana respons inflamasi kronis terhadap virus secara terus-menerus merusak sel-sel hati (hepatosit). Kerusakan ini, jika tidak dikendalikan, akan menyebabkan akumulasi jaringan parut (fibrosis) yang menggantikan jaringan hati yang sehat, sehingga mengganggu kemampuan hati untuk melakukan fungsi vitalnya. Fungsi-fungsi ini termasuk detoksifikasi darah, produksi protein penting seperti albumin dan faktor pembekuan, penyimpanan glikogen untuk energi, dan metabolisme bilirubin. Risiko ini dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti jenis virus hepatitis (dengan Hepatitis B dan C cenderung kronis), durasi infeksi, kepatuhan terhadap pengobatan antivirus, gaya hidup (seperti konsumsi alkohol yang memperberat kerusakan), dan adanya komorbiditas seperti obesitas atau diabetes. Tujuan utama keperawatan adalah untuk mencegah atau memperlambat progresi kerusakan hati melalui pendidikan kesehatan, pemantauan ketat, dan promosi perilaku sehat, sehingga mempertahankan kualitas hidup pasien dan mencegah komplikasi yang mengancam jiwa.
Kode SLKI: 2416
Deskripsi : SLKI 2416 berfokus pada upaya untuk mempertahankan atau meningkatkan fungsi hati. Intervensi keperawatan untuk kriteria hasil ini melibatkan pemantauan ketat terhadap tanda-tanda klinis dan biokimia fungsi hati. Perawat akan mengobservasi pasien untuk mendeteksi gejala seperti jaundice (kuning pada kulit dan mata), urin berwarna gelap seperti teh, feses pucat, kelelahan ekstrem, mual, muntah, nyeri pada kuadran kanan atas abdomen, serta akumulasi cairan di perut (asites) atau edema di tungkai. Pemantauan laboratorium yang teratur sangat penting, termasuk kadar enzim hati (ALT, AST), bilirubin, albumin, dan waktu protrombin (INR) untuk menilai kemampuan sintesis protein dan pembekuan darah. Perawat juga akan mendidik pasien dan keluarga tentang pentingnya menghindari substansi yang bersifat hepatotoksik, terutama alkohol dan obat-obatan tertentu yang dapat dimetabolisme oleh hati (seperti parasetamol dosis tinggi atau beberapa jenis obat herbal). Pendidikan mengenai pentingnya nutrisi seimbang juga diberikan, menekankan diet tinggi kalori dan protein (kecuali jika ada ensefalopati hepatikum) serta rendah lemak jenuh. Perawat akan mendorong istirahat yang cukup untuk menghemat energi dan memfasilitasi regenerasi sel hati. Selain itu, perawat memastikan kepatuhan pasien terhadap regimen pengobatan antivirus yang diresepkan, karena terapi ini adalah kunci dalam menekan replikasi virus dan mengurangi peradangan hati. Dukungan emosional dan psikososial juga merupakan bagian integral untuk membantu pasien mengatasi kecemasan dan ketakutan akan penyakit kronisnya.
Kode SIKI: 4250
Deskripsi : SIKI 4250 adalah intervensi keperawatan spesifik yang ditujukan untuk meminimalkan cedera atau kerusakan pada sel-sel hati. Tindakan ini bersifat protektif dan preventif. Langkah pertama adalah melakukan pengkajian yang komprehensif untuk mengidentifikasi faktor risiko spesifik yang dapat memperburuk kondisi hati pasien, seperti kebiasaan mengonsumsi alkohol, penggunaan obat-obatan bebas, atau paparan terhadap bahan kimia industri. Berdasarkan pengkajian ini, perawat kemudian merancang dan melaksanakan program pendidikan kesehatan yang terstruktur. Pendidikan ini mencakup penjelasan mendetail tentang penyakit hepatitis, proses perjalanan penyakit dari hepatitis kronis menuju sirosis, dan pentingnya modifikasi gaya hidup. Perawat akan secara aktif menasihati pasien untuk berhenti total mengonsumsi alkohol dan memberikan informasi tentang sumber daya untuk berhenti merokok jika diperlukan. Perawat juga mengajarkan pasien untuk selalu berkonsultasi dengan dokter atau apoteker sebelum mengonsumsi obat apa pun, termasuk suplemen dan obat herbal, untuk mencegah beban metabolisme berlebih pada hati yang sudah rentan. Intervensi lain termasuk memantau asupan nutrisi dan hidrasi, memastikan pasien mengonsumsi diet yang tidak memberatkan hati, serta mendorong aktivitas fisik ringan yang sesuai dengan kondisi untuk mencegah kelemahan otot. Perawat akan bekerja sama dengan tim kesehatan lain, seperti dokter dan ahli gizi, untuk memastikan pendekatan yang holistik. Selain itu, perawat memfasilitasi skrining rutin untuk komplikasi seperti varises esofagus atau karsinoma hepatoseluler sesuai protokol. Dengan menerapkan SIKI ini, perawat berperan sentral dalam membentuk "perisai" bagi hati pasien melalui serangkaian tindakan edukatif, suportif, dan kolaboratif yang bertujuan memutus rantai faktor-faktor yang dapat memicu kerusakan hati lebih lanjut.
-
Article No. 22725 | 12 Nov 2025
Klinis : Risiko penurunan curah jantung Seorang laki-laki umur 54 tahun pasca operasi bedah jantung pada hari 1, pasien berada di unit intensive bedah, saat ini pasien baru saja sadar composmentis dengan GCS 15, mengeluh nyeri di dada karena terdapat insisi di median sternumnya dan di tungkai kiri. Hasil TTV tekanan darah 158/98 mmHg, HR 104 x/mnt, RR 24x/mnt dan suhu 37°C, terpasang drain dan masih produktif, Pasien terlihat bingung dengan keberadaaanya, wajah terlihat meringis kesakitan, dan meski sudah mendapatkan terapi paracetamol 1000mg drip. Pasien mengatakan sakit di dada dan tungkai, terasa kaku pada kaki dan tangan, khawatir berdarah jika mau menggerakkan tangan atau kakinya.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Penurunan Curah Jantung
Kode SDKI: D.0017
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan curah jantung adalah keadaan dimana seorang individu mengalami kerentanan untuk mengalami ketidakadekuatan darah yang dipompa oleh ventrikel untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh, yang dapat membahayakan kesehatan. Pada kasus pasien pasca operasi bedah jantung, risiko ini sangat nyata. Faktor risiko utama yang terlihat dari kondisi pasien adalah hipertensi (TD 158/98 mmHg) dan takikardia (HR 104 x/mnt). Tekanan darah yang tinggi meningkatkan afterload, yaitu beban kerja yang harus dilawan oleh ventrikel kiri untuk memompa darah ke sirkulasi sistemik. Sementara itu, takikardia meningkatkan kebutuhan oksigen miokard (otot jantung) itu sendiri, padahal jantung sedang dalam proses penyembuhan pasca operasi. Kombinasi afterload yang tinggi dan peningkatan kebutuhan oksigen ini menciptakan beban yang signifikan bagi jantung yang masih rentan, sehingga berisiko gagal mempertahankan curah jantung yang adekuat. Selain itu, respon nyeri yang tidak terkontrol (wajah meringis dan keluhan sakit meski sudah mendapat analgesik) dapat memicu pelepasan katekolamin yang semakin memperberat takikardia dan hipertensi, memperburuk siklus yang sudah berisiko. Kebingungan pasien juga dapat menjadi tanda awal dari ketidakadekuatan perfusi serebral, yang merupakan konsekuensi dari penurunan curah jantung.
Kode SLKI: L.03105
Deskripsi : SLKI L.03105 berfokus pada pemantauan status kardiovaskular untuk mendeteksi dini tanda-tanda penurunan fungsi dan mencegah komplikasi. Pada pasien ini, luaran yang diharapkan adalah status kardiovaskularnya tetap stabil dan memadai. Tindakan keperawatan untuk mencapai luaran ini meliputi pemantauan ketat terhadap tekanan darah, denyut nadi, frekuensi jantung dan iramanya, serta pengisian kapiler. Pemantauan haluaran urine juga penting sebagai indikator tidak langsung dari curah jantung dan perfusi ginjal. Perawat harus waspada terhadap tanda-tanda penurunan curah jantung seperti hipotensi, takikardia yang memberat, dyspnea, penurunan kesadaran, kulit dingin dan lembab, serta penurunan haluaran urine. Selain itu, memantau drainase dari selang dada (drain) sangat krusial; drainase yang berlebihan atau tiba-tiba berhenti dapat mengindikasikan perdarahan atau tamponade jantung, yang langsung mengancam curah jantung. Memastikan patensi dan fungsi drainase yang baik adalah bagian dari SLKI ini untuk mencegah komplikasi seperti hemotoraks atau tamponade yang dapat menekan jantung dan menurunkan curah jantung secara drastis.
Kode SIKI: I.08021
Deskripsi : SIKI I.08021 adalah intervensi manajemen hemodinamik, yang merupakan serangkaian tindakan langsung untuk mempertahankan atau meningkatkan curah jantung. Intervensi ini sangat spesifik untuk mengatasi masalah yang diidentifikasi dalam SDKI. Pertama, mengatur posisi pasien dengan kepala tempat tidur ditinggikan (semi-fowler) dapat membantu memudahkan pernapasan dan mengurangi beban kerja jantung. Kedua, kolaborasi pemberian terapi obat adalah kunci. Meski pasien sudah mendapat paracetamol, nyerinya masih belum terkontrol. Perawat perlu berkolaborasi dengan dokter untuk evaluasi ulang regimen manajemen nyeri, misalnya dengan menambahkan analgesik opioid yang lebih kuat. Mengontrol nyeri akan mengurangi respon stres simpatis (takikardia dan hipertensi), sehingga secara langsung mengurangi beban kerja jantung. Ketiga, pemberian terapi oksigen sesuai order harus dipastikan untuk memenuhi kebutuhan oksigen miokard dan mencegah hipoksia. Keempat, membatasi aktivitas pasien dan membantu dalam aktivitas perawatan diri sangat penting di fase awal pasca operasi untuk mengurangi konsumsi oksigen total tubuh. Kelima, edukasi dan dukungan psikologis merupakan bagian integral. Menenangkan pasien, menjelaskan prosedur, dan meyakinkannya bahwa pergerakan yang aman tidak akan menyebabkan perdarahan pada insisi dapat mengurangi kecemasan. Kecemasan yang berkurang akan menurunkan aktivitas sistem saraf simpatis, yang pada akhirnya membantu menstabilkan denyut jantung dan tekanan darah. Semua intervensi ini dilakukan secara terintegrasi dan terus menerus dimonitor efektivitasnya dalam menstabilkan tanda-tanda vital dan mencegah realisasi risiko penurunan curah jantung.
-
Article No. 22728 | 12 Nov 2025
Klinis : Pasien sering kehilangan nafsu makan, mual, dan muntah
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: B.1.1
Deskripsi Singkat: Diagnosa keperawatan ini menggambarkan keadaan di mana seorang individu berisiko mengalami asupan nutrisi yang tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh. Pada kasus pasien dengan gejala sering kehilangan nafsu makan, mual, dan muntah, risiko ini sangat nyata. Ketiga gejala tersebut merupakan faktor penyebab (etiologi) utama yang dapat menghambat proses masuknya, pencernaan, dan penyerapan zat gizi. Kehilangan nafsu makan (anoreksia) menyebabkan penurunan motivasi untuk makan, sementara mual menciptakan sensasi tidak nyaman yang membuat pasien enggan mengonsumsi makanan. Muntah, sebagai manifestasi yang lebih lanjut, secara fisik mengeluarkan makanan yang sudah masuk ke dalam lambung, sehingga asupan kalori, protein, vitamin, dan mineral menjadi sangat terbatas. Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, tubuh akan mulai menggunakan cadangan energinya, seperti lemak dan protein otot, yang berujung pada penurunan berat badan, kelemahan, penurunan fungsi imun, dan menghambat proses penyembuhan. Oleh karena itu, diagnosa ini difokuskan pada upaya pencegahan sebelum defisit nutrisi yang signifikan benar-benar terjadi, dengan mengidentifikasi faktor risiko dan menerapkan intervensi untuk mempertahankan atau meningkatkan asupan nutrisi.
Kode SLKI: L.1.1.10
Deskripsi : Luaran yang diharapkan dari intervensi keperawatan adalah status nutrisi pasien membaik dan risiko ketidakseimbangan nutrisi dapat dicegah atau diminimalkan. Secara spesifik, luaran ini diukur melalui beberapa indikator kunci. Pertama, asupan makanan dan cairan meningkat. Ini berarti pasien dapat mengonsumsi makanan dan minuman dalam porsi dan frekuensi yang memadai sesuai dengan kebutuhannya, yang ditandai dengan hilangnya atau berkurangnya keluhan mual dan muntah, serta kembalinya nafsu makan. Perawat akan memantau jumlah makanan yang dihabiskan pasien setiap kali makan. Kedua, berat badan stabil atau meningkat menuju rentang yang ideal. Pemantauan berat badan secara berkala adalah parameter objektif yang penting untuk menilai kecukupan asupan kalori. Ketiga, kelelahan menurun. Ketika asupan nutrisi mencukupi, pasien akan memiliki energi yang lebih besar untuk melakukan aktivitas sehari-hari tanpa merasa lemas berlebihan. Keempat, status hidrasi membaik, yang ditandai dengan membran mukosa yang lembap, turgor kulit yang baik, dan produksi urin yang adequate. Hal ini penting karena muntah yang terus-menerus juga dapat menyebabkan dehidrasi. Pencapaian luaran ini menunjukkan bahwa intervensi yang diberikan berhasil dalam mengatasi faktor-faktor yang menyebabkan risiko ketidakseimbangan nutrisi, sehingga pasien terhindar dari komplikasi lebih lanjut seperti malnutrisi dan cachexia.
Kode SIKI: I.1.1.1
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk mengatasi risiko ketidakseimbangan nutrisi ini bersifat komprehensif dan bertujuan untuk memodifikasi faktor penyebab, yaitu anoreksia, mual, dan muntah. Intervensi utama adalah Manajemen Mual dan Muntah. Perawat akan melakukan kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian obat antiemetik (anti-muntah) sesuai resep, dan menerapkan pendekatan non-farmakologis. Pendekatan ini mencakup mengajarkan pasien teknik relaksasi napas dalam untuk mengurangi sensasi mual, menghindari aroma atau bau kuat yang dapat memicu mual, serta menciptakan lingkungan makan yang tenang dan nyaman. Intervensi kedua adalah Manajemen Nutrisi. Perawat akan berkolaborasi dengan ahli gizi untuk menyusun rencana diet yang sesuai. Strateginya antara lain memberikan makanan dalam porsi kecil namun sering (small frequent feeding) untuk tidak membebani lambung, memilih makanan yang mudah dicerna dan tidak berlemak, serta menghidangkan makanan pada suhu ruang karena makanan panas atau terlalu dingin dapat memicu mual. Perawat juga akan mendokumentasi asupan dan toleransi pasien terhadap makanan. Intervensi ketiga adalah Edukasi Kesehatan. Perawat memberikan penjelasan kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya nutrisi dalam proses pemulihan, hubungan antara gejala yang dialami dengan asupan nutrisi, serta cara-cara praktis untuk mengelola mual dan meningkatkan nafsu makan di rumah. Intervensi keempat adalah Manajemen Lingkungan, yaitu memastikan lingkungan sekitar pasien bersih, bebas dari bau tidak sedap dari sampah atau disinfektan, serta memastikan pasien dalam posisi yang nyaman (misalnya setengah duduk) selama dan setelah makan untuk mencegah regurgitasi. Melalui serangkaian intervensi yang terstruktur dan berkelanjutan ini, diharapkan asupan nutrisi pasien dapat terjaga dan risiko komplikasi dapat dihindari.
-
Article No. 22729 | 12 Nov 2025
Klinis : Anak demam tadi malam, batuk pilek berdahak Ada mimisan tadi malam hingga dan tadi pagi jam 8 Ada riwayat mimisan 3 bulan yang lalu
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Hipertermia dan Risiko Perfusi Jaringan Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0019
Deskripsi Singkat: Peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal akibat ketidakmampuan tubuh dalam mengatur suhu sebagai respons terhadap faktor patogen, yang ditandai dengan kulit hangat hingga panas, takikardia, takipnea, dan menggigil. Pada kasus ini, demam dapat menjadi faktor pencetus yang memperberat kondisi pembuluh darah hidung yang rapuh, sehingga memicu mimisan.
Kode SLKI: L.08032
Deskripsi : SLKI untuk Hipertermia berfokus pada upaya menurunkan dan mempertahankan suhu tubuh dalam rentang normal. Intervensi keperawatan yang direncanakan meliputi: memantau suhu tubuh secara berkala (setiap 2-4 jam) untuk menilai perkembangan dan efektivitas intervensi; memberikan kompres hangat/tepid sponge pada area lipatan (ketiak, selangkangan) dan dahi untuk membantu proses pelepasan panas secara konduksi, hindari kompres dingin karena dapat menyebabkan menggigil yang justru meningkatkan produksi panas; meningkatkan asupan cairan secara oral (air putih, kuah sup) untuk mencegah dehidrasi yang dapat memperparah hipertermia dan membuat sekret/dahak lebih kental; memberikan terapi farmakologis antipiretik (seperti parasetamol) sesuai resep dokter dengan tepat dosis dan interval; serta mengatur lingkungan yang nyaman (sirkulasi udara baik, suhu ruangan sejuk, pakaian tipis dan menyerap keringat) untuk memfasilitasi proses pendinginan tubuh. Peningkatan suhu tubuh yang tidak terkontrol dapat meningkatkan metabolisme basal dan kebutuhan oksigen, yang pada akhirnya berpotensi mempengaruhi perfusi jaringan, termasuk stabilitas pembuluh darah kapiler di hidung.
Kode SIKI: I.08070
Deskripsi : SIKI untuk mengatasi Hipertermia mencakup tindakan mandiri perawat yang terukur. Tindakan tersebut adalah: Mengajarkan dan memandu keluarga untuk melakukan teknik kompres yang benar; Memonitor asupan dan haluaran cairan untuk mendeteksi dini tanda dehidrasi; Memberikan edukasi kesehatan kepada orang tua mengenai pentingnya tirah baring untuk mengurangi beban metabolik tubuh anak; Serta mendokumentasikan respons anak terhadap terapi yang diberikan, termasuk perubahan suhu tubuh dan munculnya gejala baru. Edukasi juga mencakup penjelasan tentang mekanisme demam sebagai respons tubuh melawan infeksi, sehingga orang tua tidak panik, tetapi tetap waspada terhadap komplikasi seperti mimisan berulang.
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0006
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan patensi jalan napas, yang ditandai dengan batuk (tidak efektif/efektif), suara napas tambahan (ronkhi, wheezing), pernapasan cuping hidung, dan sekret yang berlebihan di saluran napas. Batuk pilek berdahak pada anak menunjukkan adanya peningkatan produksi sekret yang dapat menyumbat jalan napas jika tidak dikeluarkan dengan efektif.
Kode SLKI: L.04013
Deskripsi : SLKI untuk masalah bersihan jalan napas bertujuan untuk memastikan jalan napas pasien tetap paten dan pertukaran gas optimal. Rencana intervensinya meliputi: Mengajarkan dan membantu teknik batuk efektif pada anak yang sudah kooperatif (misalnya dengan mengambil napas dalam, menahannya sebentar, lalu batukkan dengan kuat); Melakukan fisioterapi dada seperti postural drainage dan perkusi untuk membantu mengalirkan dahak dari saluran napas kecil ke saluran napas besar sehingga lebih mudah dikeluarkan; Pemberian nebulisasi dengan NaCl 0.9% sesuai indikasi untuk mengencerkan dahak yang kental; Memonitor suara napas sebelum dan sesudah intervensi untuk menilai keberhasilan pengeluaran sekret; Memposisikan anak dengan posisi semi-Fowler atau Fowler untuk memudahkan ekspansi paru dan mengurangi kerja napas; Serta memastikan hidrasi yang adekuat, karena cairan yang cukup secara sistemik merupakan mukolitik alami yang membantu mengencerkan dahak. Pada anak dengan riwayat mimisan, perlu kehati-hatian dalam membersihkan sekret hidung untuk menghindari trauma pada mukosa yang dapat memicu mimisan berulang.
Kode SIKI: I.04005
Deskripsi : SIKI untuk mengatasi Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif meliputi tindakan: Melakukan suction atau penghisapan lendir pada hidung dan mulut dengan teknik steril dan lembut, terutama jika anak belum mampu mengeluarkan dahaknya sendiri, dengan memperhatikan risiko iritasi mukosa hidung; Mengajarkan orang tua cara membersihkan hidung anak (nasal hygiene) menggunakan saline drop/spray dan bulb syringe secara aman tanpa melukai pembuluh darah; Menganjurkan dan mendemonstrasikan teknik menepuk-nepuk (chest clapping) lembut di punggung anak untuk membantu mobilisasi dahak; Serta memantau karakteristik sputum (warna, konsistensi, jumlah) dan frekuensi batuk sebagai evaluasi keberhasilan intervensi. Edukasi kepada orang tua sangat krusial untuk mencegah komplikasi dan melakukan perawatan lanjutan di rumah.
Kondisi: Risiko Perfusi Jaringan Perifer Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0021
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan nutrisi dan oksigenasi pada tingkat kapiler yang dapat mengakibatkan ketidakmampuan memenuhi kebutuhan metabolisme jaringan. Pada kasus ini, risiko ini dimanifestasikan melalui episode mimisan (epistaksis) yang berulang. Mimisan menunjukkan adanya gangguan integritas dan stabilitas pembuluh darah kapiler di daerah hidung (pleksus Kiesselbach), yang dapat diperberat oleh kondisi demam (vasodilatasi) dan batuk (peningkatan tekanan intrathorak dan intrakranial).
Kode SLKI: L.06064
Deskripsi : SLKI untuk risiko perfusi jaringan tidak efektif berfokus pada pencegahan terjadinya perdarahan (mimisan) berulang dan mempertahankan integritas pembuluh darah. Intervensi keperawatan yang direncanakan adalah: Memantau tanda-tanda vital, terutama frekuensi jantung dan tekanan darah, untuk mendeteksi dini tanda syap akibat kehilangan darah; Mengajarkan dan membantu melakukan manuver untuk menghentikan mimisan akut, yaitu meminta anak duduk dengan posisi sedikit condong ke depan (bukan mendongak) dan memencet cuping hidung selama 5-10 menit; Menerapkan kompres dingin pada pangkal hidung dan dahi untuk menyebabkan vasokonstriksi dan mengurangi aliran darah ke area tersebut; Menghindari faktor pencetus seperti mengorek hidung, membuang ingus terlalu kencang, atau aktivitas berat; Memastikan kelembaban udara yang cukup, misalnya dengan menggunakan humidifier, untuk mencegah mukosa hidung kering dan mudah berdarah; Serta memantau frekuensi, durasi, dan jumlah perdarahan dari hidung untuk menilai beratnya kondisi dan efektivitas penanganan. Kolaborasi dengan tim medis mungkin diperlukan jika mimisan sulit berhenti atau terjadi dalam volume besar.
Kode SIKI: I.06045
Deskripsi : SIKI untuk mengatasi risiko perfusi jaringan meliputi tindakan mandiri perawat: Melakukan edukasi komprehensif kepada orang tua dan anak (jika sudah mengerti) mengenai langkah-langkah pertolongan pertama pada mimisan; Memonitor kondisi mukosa hidung untuk melihat tanda-tanda kekeringan atau iritasi; Menganjurkan penggunaan petroleum jelly atau salep pelindung yang diresepkan dokter untuk melembapkan dan melindungi mukosa hidung; Serta mendokumentasikan setiap episode mimisan secara detail (waktu, pemicu, lama, banyaknya darah, dan tindakan yang dilakukan). Edukasi pencegahan jangka panjang, seperti menjaga kuku tetap pendek dan menghindari paparan asap rokok, juga merupakan bagian penting dari intervensi ini untuk meminimalkan risiko kekambuhan di masa depan.
-
Article No. 22730 | 12 Nov 2025
Klinis : pasien HB 8,8
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Anemia (Hb 8,8 g/dL)
Kode SDKI: D.0017
Deskripsi Singkat: Risiko Ketidakefektifan Perfusi Perifer
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Perfusi perifer membaik, ditandai dengan: kulit hangat, kering, dan warna kulit normal; nadi perifer teraba kuat dan reguler; tekanan darah dalam rentang normal yang diharapkan; tidak ada keluhan pusing; tidak ada penurunan kesadaran; ekstremitas tidak pucat dan tidak edema; capillary refill time < 3 detik; status mental baik.
Kode SIKI: I.08049
Deskripsi : Pantau warna, kehangatan, dan sensasi kulit. Pantau perfusi perifer (nadi perifer, capillary refill time, pucat). Kaji keluhan pusing, kelemahan, kelelahan, dan napas pendek. Kaji status neurologis/mental (penurunan kesadaran, gelisah). Pantau tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu). Kolaborasi pemberian terapi oksigen sesuai kebutuhan. Anjurkan tirah baring dan hindari kelelahan. Bantu aktivitas perawatan diri sesuai toleransi. Atur posisi untuk meningkatkan sirkulasi. Anjurkan perubahan posisi secara perlahan. Lindungi ekstremitas dari cedera. Kolaborasi pemberian transfusi darah sesuai program terapi. Kolaborasi pemberian suplemen nutrisi (zat besi, vitamin B12, asam folat). Berikan pendidikan kesehatan tentang faktor risiko dan tanda-tanda perfusi tidak adekuat.
-
Article No. 22731 | 12 Nov 2025
Klinis : Pasien mengeluhkan nyeri punggung bawah sejak 3 hari terakhir. Nyeri terutama dirasakan saat membungkuk dan berdiri lama, nyeri skala 6, nyeri dirasa hilang timbul,nyeri tumpul terasa dibagian punggung bawah. Nyeri bertambah saat bergerak dan berpindah posisi. Pasien tampak meringis kesakitan saat bergerak dan berpindah posisi. Aktifitas pasien dibantu keluarga dan perawat,malam kadang tidak bisa tidur karena nyeri. Pasien memiliki riwayat jatuh di rumah pada Agustus 2024 yang menyebabkan tulang belakang patah. Sebelumnya telah disarankan untuk operasi oleh dokter, namun pasien menolak. Pasien juga memiliki riwayat osteoporosis dan rutin kontrol dengan dr. Nita.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0007
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensori dan emosional tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut; onset tiba-tiba atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat, diperkirakan atau antisipasi berakhir dalam waktu kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Manajemen Nyeri: Pencegahan, penanganan nyeri akut atau kronis dan ketidaknyamanan. Tindakan keperawatan yang direncanakan meliputi: 1) Monitor lokasi, karakteristik, skala, dan faktor pencetus nyeri. 2) Ajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengatasi nyeri (contoh: relaksasi nafas dalam, distraksi, dan imajinasi terbimbing). 3) Kolaborasi pemberian analgetik sesuai program terapi. 4) Berikan posisi yang nyaman. 5) Monitor efek samping terapi farmakologis dan nonfarmakologis. 6) Evaluasi efektivitas manajemen nyeri (skala, karakteristik, dan toleransi nyeri). 7) Monitor perubahan status nyeri. 8) Fasilitasi dukungan spiritual. 9) Fasilitasi dukungan keluarga dalam menangani nyeri. 10) Dokumentasi respons nyeri dan manajemen nyeri. Pada kasus ini, fokus utama adalah pada pemantauan karakteristik nyeri yang dinamis, penerapan teknik nonfarmakologis seperti relaksasi untuk membantu pasien yang kesulitan tidur, serta kolaborasi pemberian analgesik mengingat nyeri yang cukup berat (skala 6) dan riwayat fraktur. Pemberian posisi yang nyaman sangat krusial karena nyeri bertambah dengan perubahan posisi. Evaluasi yang terus menerus diperlukan untuk menilai efektivitas intervensi yang diberikan.
Kode SIKI: I.08001
Deskripsi : Manajemen Nyeri: Pencegahan, penanganan nyeri akut atau kronis dan ketidaknyamanan. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: 1) Pasien melaporkan nyeri terkontrol. 2) Ekspresi wajah rileks. 3) Tanda-tanda vital dalam rentang normal. 4) Pasien dapat berpartisipasi dalam aktivitas sesuai kemampuan. 5) Pola tidur dan istirahat adekuat. 6) Pasien mendemonstrasikan teknik nonfarmakologis untuk mengatasi nyeri. 7) Pasien mengungkapkan penyebab dan faktor pencetus nyeri. 8) Pasien mengungkapkan pentingnya manajemen nyeri. 9) Keluarga mendemonstrasikan partisipasi dalam manajemen nyeri. 10) Pasien mendemonstrasikan penggunaan obat analgetik dengan benar. Untuk pasien ini, tujuan utamanya adalah mengurangi skala nyeri dari 6 menjadi skala yang lebih rendah (misalnya di bawah 3), menghilangkan ekspresi meringis saat bergerak, serta memungkinkan pasien untuk dapat tidur dengan nyenyak di malam hari tanpa terganggu nyeri. Pasien dan keluarga diharapkan dapat memahami faktor pencetus nyeri (seperti bergerak atau berdiri lama) dan mampu menerapkan teknik sederhana untuk mengurangi nyeri. Peningkatan partisipasi dalam aktivitas sehari-hari dengan bantuan minimal juga menjadi indikator keberhasilan.
Kondisi: Gangguan Mobilitas Fisik
Kode SDKI: D.0091
Deskripsi Singkat: Keterbatasan dalam pergerakan fisik independen dan bertujuan.
Kode SLKI: L.09001
Deskripsi : Manajemen Mobilitas: Pemulihan gerakan fisik dan fungsi tubuh. Tindakan keperawatan yang direncanakan meliputi: 1) Monitor kemampuan mobilitas dan keterbatasan pergerakan. 2) Bantu latihan rentang gerak (ROM). 3) Bantu ambulasi sesuai kemampuan. 4) Ajarkan teknik mengubah posisi. 5) Bantu aktivitas sehari-hari (ADL). 6) Kolaborasi pemberian alat bantu mobilitas. 7) Posisikan untuk kenyamanan dan alignment tubuh. 8) Monitor adanya komplikasi imobilisasi. 9) Ajarkan teknik mengangkat beban dengan benar. 10) Fasilitasi terapi okupasi dan fisioterapi. Dalam konteks pasien dengan riwayat fraktur tulang belakang dan nyeri yang membatasi gerak, intervensi difokuskan pada bantuan dalam aktivitas sehari-hari oleh perawat dan keluarga, membantu perubahan posisi yang aman untuk mencegah bertambahnya nyeri, serta melakukan latihan rentang gerak pasif atau aktif ringan yang tidak memperberat nyeri. Posisi tubuh yang tepat (alignment) sangat penting untuk mencegah stres berlebih pada tulang belakang yang cedera. Edukasi tentang teknik tubuh mekanik yang benar juga diperlukan, terutama mengingat riwayat osteoporosis yang meningkatkan risiko fraktur lebih lanjut.
Kode SIKI: I.09001
Deskripsi : Manajemen Mobilitas: Pemulihan gerakan fisik dan fungsi tubuh. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: 1) Pasien mendemonstrasikan peningkatan mobilitas. 2) Pasien mempertahankan posisi fungsional. 3) Pasien mendemonstrasikan teknik mengubah posisi dengan benar. 4) Pasien berpartisipasi dalam aktivitas sehari-hari sesuai kemampuan. 5) Pasien menggunakan alat bantu mobilitas dengan benar. 6) Tidak terjadi komplikasi imobilisasi. 7) Kekuatan otot membaik. 8) Pasien mengungkapkan pentingnya mobilisasi. 9) Keluarga mendemonstrasikan partisipasi dalam mobilisasi. 10) Keluarga mendemonstrasikan teknik mengubah posisi dengan benar. Target untuk pasien ini adalah peningkatan kemampuan dalam melakukan aktivitas sehari-hari dengan bantuan minimal, mampu mengubah posisi di tempat tidur dengan lebih mandiri dan tanpa ekspresi kesakitan yang hebat, serta memahami pentingnya mobilitas terbatas yang aman untuk mencegah cedera lebih lanjut pada tulang belakangnya. Pencegahan komplikasi imobilisasi seperti kekakuan sendi atau kontraktur juga merupakan hasil yang penting untuk dicapai.
-
Article No. 22732 | 12 Nov 2025
Klinis : Kejang demam sudah kejang 3 kali
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakefektifan Perfusi Serebral
Kode SDKI: 0026
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan suplai darah ke otak yang dapat membahayakan kesehatan.
Kode SLKI: 2410
Deskripsi : Perawatan Kejang. Tujuan dari SLKI ini adalah untuk menghentikan atau meminimalkan aktivitas kejang, memastikan jalan napas pasien tetap terbuka, mencegah cedera selama kejang, serta memantau dan mendokumentasikan kejadian kejang. Intervensi keperawatan yang direncanakan mencakup memposisikan pasien untuk mempertahankan jalan napas yang paten, misalnya dengan posisi miring untuk mencegah aspirasi. Perawat akan melonggarkan pakaian di sekitar leher dan dada pasien. Selama kejang, perawat akan menjauhkan benda-benda berbahaya dari pasien untuk mencegah trauma atau cedera, namun tidak akan menahan gerakan pasien secara paksa. Pemberian obat antikonvulsan sesuai resep dokter akan dilakukan dengan tepat waktu dan dipantau efektivitas serta efek sampingnya. Setelah kejang berakhir (fase post-iktal), perawat akan memeriksa tanda-tanda vital, tingkat kesadaran, dan adanya kelemahan atau defisit neurologis fokal lainnya. Pemantauan ketat terhadap saturasi oksigen dan penyediaan oksigen tambahan jika diperlukan juga merupakan bagian penting. Selain itu, perawat akan memberikan edukasi kepada keluarga mengenai apa yang harus dilakukan jika kejang terjadi kembali, menghilangkan mitos-mitos yang salah (seperti memasukkan benda ke dalam mulut), dan kapan harus segera mencari bantuan medis.
Kode SIKI: 4200
Deskripsi : Pemantauan Neurologis. Intervensi ini melibatkan pengumpulan dan analisis data komprehensif tentang status neurologis pasien untuk mendeteksi setiap perubahan atau kemunduran secara dini. Pada pasien kejang demam, pemantauan neurologis menjadi landasan utama asuhan keperawatan. Perawat akan secara teratur dan sistematis menilai tingkat kesadaran pasien menggunakan skala yang tepat (seperti AVPU atau Glasgow Coma Scale/GCS pada anak yang sesuai). Pemeriksaan pupil (ukuran, bentuk, reaksi terhadap cahaya) dan pergerakan ekstremitas (kekuatan, simetris, adanya kelemahan) dilakukan untuk mendeteksi tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial atau kerusakan neurologis fokal. Frekuensi, durasi, karakteristik (fokal atau generalisata), dan faktor pemicu kejang didokumentasikan dengan rinci. Pemantauan tanda-tanda vital, termasuk suhu tubuh, sangat krusial karena demam adalah pemicu utama. Peningkatan suhu tubuh yang tidak terkontrol dapat memicu kejang berulang. Perawat juga akan mengamati tanda-tanda post-iktal seperti kebingungan, mengantuk, sakit kepala, atau kelemahan sementara (Todd's paralysis). Dokumentasi yang akurat dan berkelanjutan mengenai semua temuan ini sangat penting untuk mengevaluasi perkembangan pasien, menilai respon terhadap terapi, dan memberikan informasi vital bagi tim medis dalam menentukan langkah penanganan selanjutnya. Intervensi ini bertujuan untuk menjaga integritas neurologis pasien dan mencegah komplikasi jangka panjang.
-
Article No. 22714 | 11 Nov 2025
Klinis : Manajemen Kesehatan Tidak Efektif (Pada Lansia)
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Manajemen Kesehatan Tidak Efektif (Pada Lansia)
Kode ICD-10: Z73.6
Deskripsi Singkat : Kondisi ini merujuk pada pola di mana seorang individu lansia (usia lanjut) tidak mampu mengelola dan mengintegrasikan rekomendasi terapeutik untuk mengatasi penyakit akut atau kronis secara efektif, yang berpotensi menyebabkan penurunan status kesehatan. Ini bukan diagnosis penyakit, melainkan diagnosis yang terkait dengan faktor yang mempengaruhi status kesehatan dan kontak dengan layanan kesehatan. Kode Z73.6 mengkategorikannya di bawah "Masalah yang terkait dengan kesulitan dalam mempertahankan cara hidup". Pada populasi lansia, hal ini sering kali dipicu oleh faktor kompleks seperti penurunan kognitif (misalnya, demensia ringan), polifarmasi (banyak obat), keterbatasan fisik, isolasi sosial, atau kurangnya dukungan sistem. Manifestasinya dapat berupa ketidakpatuhan terhadap pengobatan, kegagalan dalam mempertahankan janji temu medis, ketidakmampuan memantau tanda-tanda peringatan penyakit (seperti gula darah atau tekanan darah), atau kesulitan dalam menjalani modifikasi gaya hidup yang disarankan. Kode ini membantu mengidentifikasi kebutuhan akan intervensi tambahan, seperti kunjungan perawat di rumah, konsultasi dengan pekerja sosial, penyederhanaan regimen pengobatan, atau edukasi kesehatan yang lebih intensif untuk meningkatkan kemandirian dan kualitas hidup pasien lansia.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 22715 | 11 Nov 2025
Klinis : Klien datang ke poliklinik kebidanan pada hari Kamis, 6 November 2025 pukul 09.00 WIB. Klien bermaksud berkonsultasi mengenai kehamilan ke-4 nya, karena klien mengatakan adanya ambeien, dengan karakteristik nyeri dirasakan ketika BAB, tidak berdarah, tetapi menonjol keluar ketika mengejan, kembali masuk spontan setelah tidak mengejan. Selain itu, klien mengatakan memiliki riwayat tekanan darah tinggi, yaitu ketika diperiksa berkisar di 130-160, bahkan sempat sampai 200. Klien mengatakan sering terasa sakit kepala ketika tekanan darah naik. Klien mengatakan tidak mengalami keluhan mengenai kehamilannya. Gejala dirasakan ketika bulan ke-2, yaitu mual dan sempat kurang nafsu makan.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakefektifan Perfusi Perifer
Kode SDKI: 0021
Deskripsi Singkat: Berisiko mengalami penurunan nutrisi dan oksigenasi pada tingkat kapiler, yang dapat membahayakan kesehatan.
Kode SLKI: 2101
Deskripsi : Tekanan darah dalam rentang yang diharapkan. Tujuan utama dari luaran ini adalah untuk memastikan bahwa tekanan darah klien, yang memiliki riwayat hipertensi (bahkan mencapai 200 mmHg), dapat dikendalikan dan dipertahankan dalam batas yang aman untuk kehamilan, sehingga mencegah komplikasi seperti preeklampsia. Pencapaian luaran ini akan ditandai dengan pembacaan tekanan darah yang konsisten di bawah 140/90 mmHg (atau target yang ditetapkan oleh dokter), penurunan frekuensi dan intensitas keluhan sakit kepala, serta tidak adanya tanda-tanda gawat janin. Pemantauan tekanan darah yang ketat, baik di fasilitas kesehatan maupun secara mandiri, menjadi indikator kunci keberhasilan luaran ini.
Kode SIKI: 4210
Deskripsi : Manajemen Hipertensi. Intervensi ini berfokus pada serangkaian tindakan untuk membantu mengontrol tekanan darah klien. Pertama, perawat akan melakukan pemantauan tekanan darah secara teratur dan akurat, mencatat trennya, serta mengajarkan klien dan keluarganya cara memantau tekanan darah di rumah jika memungkinkan. Kedua, edukasi kesehatan merupakan pilar utama. Perawat akan memberikan penjelasan komprehensif tentang hipertensi dalam kehamilan, faktor risikonya, tanda dan gejala perburukan (seperti sakit kepala hebat, pandangan kabur, nyeri ulu hati), serta pentingnya kepatuhan terhadap terapi obat jika telah diresepkan. Klien juga akan diedukasi tentang modifikasi gaya hidup, termasuk manajemen diet rendah garam dan tinggi kalium, pentingnya hidrasi yang adequate, serta teknik relaksasi dan manajemen stres untuk mengendalikan pemicu kenaikan tekanan darah. Istirahat yang cukup, terutama tidur dalam posisi miring ke kiri untuk optimalkan aliran darah ke plasenta, juga akan dianjurkan. Seluruh intervensi ini dilakukan dengan koordinasi yang erat dengan bidan atau dokter kandungan untuk memastikan penanganan yang terintegrasi.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 0016
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensori dan emosional tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, yang timbul mendadak atau berlangsung kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: 1601
Deskripsi : Kontrol Nyeri. Luaran yang diharapkan adalah klien mampu mengendalikan nyeri yang dialami, khususnya nyeri pada daerah anus akibat wasir (hemoroid) saat buang air besar (BAB). Keberhasilan luaran ini ditunjukkan dengan laporan klien bahwa intensitas nyeri telah berkurang atau hilang, klien mampu menunjukkan perilaku untuk mencegah dan mengatasi nyeri (seperti tidak mengejan berlebihan), dan klien tampak nyaman, tidak gelisah, serta dapat beraktivitas tanpa terganggu oleh rasa nyeri. Skala nyeri yang dilaporkan klien akan menjadi alat ukur utama untuk mengevaluasi efektivitas manajemen nyeri.
Kode SIKI: 2160
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Intervensi ini dirancang untuk membantu klien dalam mengurangi dan mengatasi nyeri akibat wasir. Tindakan yang dilakukan meliputi: pertama, melakukan penilaian nyeri yang komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, dan faktor pemicu serta peredanya. Kedua, memberikan edukasi kepada klien tentang penyebab nyeri wasir dan langkah-langkah pencegahannya, seperti meningkatkan asupan serat dan cairan untuk melunakkan feses sehingga mengurangi kebutuhan untuk mengejan. Ketiga, menganjurkan rendam duduk (sitz bath) dengan air hangat untuk mengurangi nyeri dan ketidaknyamanan di daerah anus. Keempat, mendiskusikan posisi yang nyaman untuk duduk atau berbaring yang tidak memberikan tekanan berlebih pada daerah rektal. Kelima, kolaborasi dengan tenaga medis untuk pemberian obat topikal atau supositoria yang aman untuk ibu hamil guna mengurangi peradangan dan nyeri. Keenam, mengajarkan teknik distraksi dan relaksasi pernapasan untuk membantu mengalihkan perhatian dari sensasi nyeri selama BAB.
Kondisi: Ketidakefektifan Pola Eliminasi Feses (Konstipasi Risiko Tinggi)
Kode SDKI: 0012
Deskripsi Singkat: Gangguan atau risiko gangguan pada defekasi yang ditandai dengan kesulitan atau penurunan frekuensi BAB, feses keras, atau rasa tidak tuntas setelah BAB.
Kode SLKI: 1202
Deskripsi : Eliminasi Feses. Luaran yang diharapkan adalah klien dapat mempertahankan pola eliminasi feses yang normal dan teratur tanpa mengejan berlebihan. Tanda tercapainya luaran ini adalah klien melaporkan frekuensi BAB yang normal (sesuai pola individu), konsistensi feses yang lunak dan mudah dikeluarkan, serta tidak adanya keluhan wasir yang menonjol atau nyeri saat BAB. Klien juga diharapkan mampu mendemonstrasikan perilaku yang mendukung eliminasi normal, seperti mengonsumsi makanan berserat dan minum air yang cukup.
Kode SIKI: 0460
Deskripsi : Manajemen Konstipasi. Intervensi ini bertujuan untuk mencegah dan mengatasi konstipasi yang menjadi faktor pencetus utama keluhan wasir pada klien. Tindakan yang dilakukan meliputi: pertama, memberikan edukasi nutrisi yang mendetail, yaitu menganjurkan peningkatan asupan serat dari sumber yang aman untuk ibu hamil seperti buah-buahan (pepaya, pir), sayuran (bayam, brokoli), dan biji-bijian utuh. Kedua, menekankan pentingnya hidrasi dengan merekomendasikan konsumsi air putih minimal 8-10 gelas per hari untuk melunakkan feses. Ketiga, mendorong aktivitas fisik ringan yang aman untuk kehamilan, seperti jalan kaki rutin, untuk merangsang peristaltik usus. Keempat, edukasi tentang kebiasaan BAB yang baik, yaitu tidak menunda-nunda keinginan BAB dan menghindari duduk terlalu lama atau mengejan dengan kuat di toilet. Kelima, memantau pola BAB klien dan mencatat setiap perubahan. Jika diperlukan dan atas anjuran tenaga medis, dapat dikolaborasikan pemberian laksatif atau pelunak feses yang aman untuk ibu hamil.
-
Article No. 22716 | 11 Nov 2025
Klinis : mengatakan sulit menelan , mengelu tersedak saat makan dan minum
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Aspirasi
Kode SDKI: 00106
Deskripsi Singkat: Risiko masuknya sekret, benda padat, atau cairan (misalnya makanan, air, air liur, atau muntahan) dari traktus gastrointestinal ke dalam trakeobronkial.
Kode SLKI: 0802
Deskripsi : Keamanan menelan dan aspirasi terpelihara. Kriteria hasil yang diharapkan mencakup: 1) Pasien mendemonstrasikan kemampuan menelan yang aman, ditandai dengan tidak adanya batuk, tersedak, atau suara 'gurgly' setelah minum atau makan. 2) Paru-paru bersih dari suara tambahan (ronkhi/wheezing) yang mengindikasikan aspirasi. 3) Saluran napas tetap paten. 4) Pasien dan/atau keluarga mampu mendemonstrasikan posisi dan teknik yang aman untuk makan dan minum, seperti posisi duduk tegak, mengekstensi kepala sedikit ke depan (chin tuck), dan memberikan makanan dengan tekstur yang sesuai (misalnya lunak atau semi-padat). 5) Tanda-tanda vital dalam rentang normal, khususnya tidak ada takipnea atau penurunan saturasi oksigen. 6) Pasien menunjukkan peningkatan kekuatan otot menelan yang dapat diobservasi. 7) Tidak ada episode aspirasi yang terjadi selama periode perawatan.
Kode SIKI: 3240
Deskripsi : Manajemen Aspirasi. Intervensi keperawatan yang dilakukan untuk mencegah masuknya sekret, benda padat, atau cairan gastrointestinal ke dalam trakeobronkial. Tindakan ini meliputi: 1) Memposisikan pasien dalam posisi duduk tegak (90 derajat) atau setengah duduk (45-90 derajat) selama dan setidaknya 30-60 menit setelah makan. 2) Mengajarkan dan membantu pasien untuk melakukan manuver menelan yang aman, seperti menundukkan dagu (chin-tuck) sebelum dan selama menelan, yang membantu menutup saluran napas. 3) Memantau tanda-tanda aspirasi secara ketat selama makan, seperti batuk, tersedak, suara napas berbunyi (gurgling), sianosis, atau dispnea. 4) Memeriksa refleks menelan sebelum memberikan makanan atau obat oral. 5) Berkolaborasi dengan ahli gizi dan terapis wicara untuk menentukan konsistensi makanan dan cairan yang paling aman (misalnya makanan lunak, tumbuk, atau cairan kental) sesuai dengan kemampuan menelan pasien. 6) Menghisap sekret dari mulut dan faring dengan hati-hati jika diperlukan, tetapi menghindari penghisapan yang berlebihan yang dapat merangsang muntah. 7) Memberikan makan dalam porsi kecil dan suapan kecil, serta mengingatkan pasien untuk tidak berbicara saat makan. 8) Memastikan lingkungan makan yang tenang dan bebas gangguan untuk membantu konsentrasi pasien. 9) Mempertahankan kebersihan mulut yang optimal sebelum dan setelah makan untuk mengurangi risiko pneumonia aspirasi jika terjadi aspirasi sekret oral. 10) Memantau status pernapasan, termasuk suara napas dan saturasi oksigen, sebelum, selama, dan setelah makan. 11) Mendokumentasikan respons pasien terhadap makan, jenis dan jumlah makanan yang ditoleransi, serta setiap kejadian tersedak atau batuk. 12) Mengajarkan pada keluarga tentang teknik pemberian makan yang aman dan tanda-tanda aspirasi yang perlu diwaspadai.