Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 1241 | 03 Oct 2024
Klinis : Ny. S, seorang ibu berusia 37 tahun, datang ke rumah sakit dalam keadaan inpartu kala III. Iamerupakan seorang G5P3A1 dan baru saja melahirkan anak kelimanya pada tanggal 30 September 2024 pukul 07.15 WIB. Meskipun bayi telah lahir, Ny. S melaporkan bahwa ari-arinya belum juga keluar. Setelah melahirkan, Ny. S mengaku merasa cemas karena plasentanya belum lahir. Ia merasa letih, dengan badan terasa dingin, dan perutnya masih mules. Data vital menunjukkan bahwa tekanan darahnya 120/70 mmHg, nadi 82 x/menit, suhu 36,6 °C, dan pernapasan 20 x/menit. Kontraksi yang dirasakannya cukup keras, dan tinggi fundus uteri setinggi pusat. Dari pengeluaran per vaginam tercatat sebanyak 200 cc, dan pada pemeriksaan vulva terlihat tali pusat terjulur sepanjang 30 cm. Apa intervensi untuk kelelahan yang dialami ibu (kriteria hasil, intervensi dan luaran ?
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan informasi yang diberikan, kondisi Ny. S dapat didiagnosis dengan:
Diagnosa Keperawatan:
1. Kelelahan (Fatigue)
Penjelasan Singkat:
Diagnosa keperawatan "Kelelahan (Fatigue)" sesuai dengan SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia) adalah keadaan subjektif dan berkelanjutan yang ditandai dengan merasa lemah dan tidak mampu untuk memulai dan menyelesaikan aktivitas yang diinginkan. Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk stres fisik dan psikologis.
Kriteria Hasil (SLKI - Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Pasien melaporkan peningkatan tingkat energi.
2. Pasien menunjukkan peningkatan kemampuan dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
3. Pasien menunjukkan peningkatan kemampuan dalam menyelesaikan tugas dan tanggung jawab.
Intervensi Keperawatan (SIKI - Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Manajemen Energi
- Identifikasi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap kelelahan.
- Anjurkan pasien untuk beristirahat cukup dan memprioritaskan aktivitas.
- Bantu pasien dalam membuat rencana aktivitas harian yang realistis.
- Ajarkan teknik relaksasi untuk memulihkan energi.
Luaran:
Setelah diberikan intervensi keperawatan, diharapkan Ny. S dapat meningkatkan tingkat energinya, sehingga mampu melakukan aktivitas sehari-hari dan menyelesaikan tugas dan tanggung jawabnya dengan lebih baik. -
Article No. 1242 | 03 Oct 2024
Klinis : Ny. S, seorang ibu berusia 37 tahun, datang ke rumah sakit dalam keadaan inpartu kala III. Iamerupakan seorang G5P3A1 dan baru saja melahirkan anak kelimanya pada tanggal 30 September 2024 pukul 07.15 WIB. Meskipun bayi telah lahir, Ny. S melaporkan bahwa ari-arinya belum juga keluar. Setelah melahirkan, Ny. S mengaku merasa cemas karena plasentanya belum lahir. Ia merasa letih, dengan badan terasa dingin, dan perutnya masih mules. Data vital menunjukkan bahwa tekanan darahnya 120/70 mmHg, nadi 82 x/menit, suhu 36,6 °C, dan pernapasan 20 x/menit. Kontraksi yang dirasakannya cukup keras, dan tinggi fundus uteri setinggi pusat. Dari pengeluaran per vaginam tercatat sebanyak 200 cc, dan pada pemeriksaan vulva terlihat tali pusat terjulur sepanjang 30 cm. Apa intervensi untuk kelelahan yang dialami ibu (kriteria hasil, intervensi berisi observasi, terapeutik, edukasi, dan kolaborasi dan luaran ?
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan informasi yang diberikan, berikut adalah kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur atau tindakan medis, serta intervensi yang dapat diberikan untuk mengatasi kelelahan yang dialami oleh Ny. S:
1. Kode ICD-10:
- Kode: O72.1
- Deskripsi: Retensio plasentae
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 75.3
- Deskripsi: Manual removal of placenta
Intervensi untuk mengatasi kelelahan yang dialami oleh Ny. S:
Kriteria Hasil:
1. Ibu menunjukkan tanda-tanda pemulihan dari kelelahan, seperti peningkatan energi, kembalinya suhu tubuh ke normal, dan penurunan rasa mules di perut.
2. Tali pusat terjulur tidak lebih dari 10 cm, menandakan plasenta telah terevakuasi.
3. Perdarahan per vaginam tidak melebihi 500 cc.
Intervensi:
1. Observasi:
- Pantau tanda-tanda vital ibu secara berkala (tekanan darah, nadi, suhu, respirasi).
- Amati perdarahan per vaginam dan kontraksi uterus.
- Pantau tinggi fundus uteri dan panjang tali pusat yang terjulur.
2. Terapeutik:
- Berikan oksigen melalui masker atau kanula nasal untuk membantu memenuhi kebutuhan oksigen.
- Lakukan masase uterus untuk merangsang kontraksi dan membantu evakuasi plasenta.
- Berikan infus cairan intravena untuk mengganti volume cairan yang hilang akibat perdarahan.
- Berikan analgetik (misal: paracetamol) untuk mengurangi rasa mules di perut.
3. Edukasi:
- Jelaskan kondisi saat ini kepada ibu dan keluarga, serta rencana penanganan yang akan dilakukan.
- Ajarkan ibu teknik relaksasi dan napas dalam untuk mengurangi kecemasan.
- Anjurkan ibu untuk beristirahat dan tidak melakukan aktivitas yang berat.
4. Kolaborasi:
- Berkoordinasi dengan dokter untuk mempertimbangkan manual removal of placenta jika plasenta tidak kunjung lahir.
- Jika perdarahan tidak terkendali, berkolaborasi dengan dokter untuk penanganan lebih lanjut.
Luaran yang diharapkan:
1. Ibu menunjukkan tanda-tanda pemulihan, dengan vital signs yang stabil dan kontraksi uterus yang baik.
2. Plasenta berhasil terevakuasi, dan perdarahan terkendali.
3. Ibu merasa lebih tenang dan rileks setelah menerima intervensi. -
Article No. 1243 | 03 Oct 2024
Klinis : kaki luka 5cm, berdarah berhenti sekitar 100ml, luka bernanah
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan:
Risiko Infeksi berhubungan dengan luka terbuka dan terpaparnya jaringan luka.
Penjelasan:
Berdasarkan kondisi yang Anda sampaikan, yaitu kaki luka sepanjang 5 cm, berdarah sekitar 100 ml, dan luka bernanah, dapat diidentifikasi adanya risiko infeksi yang perlu ditangani. Luka terbuka dan terpaparnya jaringan dapat menjadi pintu masuk bagi mikroorganisme penyebab infeksi.
Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI):
Risiko Infeksi didefinisikan sebagai "Kerentanan terhadap invasi dan multiplikasi organisme patogen yang dapat mengenai sistem tubuh dan dapat membahayakan kesehatan" (PPNI, 2017).
Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI):
Luaran yang diharapkan pada kondisi ini adalah Bebas Infeksi, yang ditandai dengan parameter:
1. Tidak ada tanda-tanda infeksi lokal (eritema, hangat, nyeri, pembengkakan, dan nanah)
2. Luka bersih dan kering
3. Tidak ada peningkatan suhu tubuh
Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI):
Intervensi yang dapat dilakukan untuk mengatasi risiko infeksi pada kondisi ini mencakup:
1. Perawatan Luka: Membersihkan luka, menghentikan perdarahan, dan menangani drainase/nanah
2. Pemberian Antibiotik: Sesuai indikasi dan resep dokter
3. Pemantauan Tanda Vital: Suhu tubuh, denyut nadi, pernapasan, dan tekanan darah
4. Edukasi Perawatan Luka: Menginstruksikan pasien/keluarga dalam merawat luka secara tepat
Sebagai perawat, saya akan bekerja sama dengan tim kesehatan lainnya untuk memantau dan mengelola risiko infeksi pada kondisi luka ini, serta memberikan edukasi dan dukungan yang dibutuhkan pasien dan keluarga. -
Article No. 1244 | 03 Oct 2024
Klinis : sering ngupil, jorok, tidak mau mandi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan:
Perilaku Kebersihan Diri Tidak Efektif
Penjelasan singkat:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Perilaku Kebersihan Diri Tidak Efektif didefinisikan sebagai kemampuan individu yang terganggu dalam melakukan atau menyelesaikan aktivitas perawatan diri secara mandiri.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan dari diagnosa ini adalah Perilaku Kebersihan Diri Efektif, yaitu kemampuan individu untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas perawatan diri secara mandiri.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi yang dapat dilakukan antara lain Perawatan Diri, Edukasi Kebersihan Diri, Konseling Perilaku, serta melibatkan keluarga atau orang terdekat untuk mendukung perubahan perilaku.
Sebagai seorang perawat, saya melihat kondisi sering mengupil, jorok, dan tidak mau mandi menunjukkan adanya masalah dalam perilaku kebersihan diri. Kondisi ini dapat berdampak pada kesehatan fisik maupun psikologis klien. Oleh karena itu, diperlukan intervensi keperawatan yang komprehensif untuk membantu klien mencapai perilaku kebersihan diri yang efektif. -
Article No. 1245 | 03 Oct 2024
Klinis : Ny. S, seorang ibu berusia 37 tahun, datang ke rumah sakit dalam keadaan inpartu kala III. Iamerupakan seorang G5P3A1 dan baru saja melahirkan anak kelimanya pada tanggal 30 September 2024 pukul 07.15 WIB. Meskipun bayi telah lahir, Ny. S melaporkan bahwa ari-arinya belum juga keluar. Setelah melahirkan, Ny. S mengaku merasa cemas karena plasentanya belum lahir. Ia merasa letih, dengan badan terasa dingin, dan perutnya masih mules. Data vital menunjukkan bahwa tekanan darahnya 120/70 mmHg, nadi 82 x/menit, suhu 36,6 °C, dan pernapasan 20 x/menit. Kontraksi yang dirasakannya cukup keras, dan tinggi fundus uteri setinggi pusat. Dari pengeluaran per vaginam tercatat sebanyak 200 cc, dan pada pemeriksaan vulva terlihat tali pusat terjulur sepanjang 30 cm. Apa penjelasan dari diganosa risiko perdarahan postpartum berhubungan dengan...
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat menurut SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kasus Ny. S.
Diagnosa Keperawatan:
Risiko Perdarahan Postpartum berhubungan dengan Retensio Plasenta
Penjelasan:
Ny. S, seorang ibu berusia 37 tahun, datang ke rumah sakit dalam keadaan inpartu kala III. Meskipun bayi telah lahir, Ny. S melaporkan bahwa ari-arinya belum juga keluar. Setelah melahirkan, Ny. S mengaku merasa cemas karena plasentanya belum lahir. Data vital menunjukkan bahwa tekanan darahnya 120/70 mmHg, nadi 82 x/menit, suhu 36,6 °C, dan pernapasan 20 x/menit. Kontraksi yang dirasakannya cukup keras, dan tinggi fundus uteri setinggi pusat. Dari pengeluaran per vaginam tercatat sebanyak 200 cc, dan pada pemeriksaan vulva terlihat tali pusat terjulur sepanjang 30 cm.
Berdasarkan data tersebut, dapat disimpulkan bahwa Ny. S berisiko mengalami perdarahan postpartum yang disebabkan oleh retensio plasenta (plasenta belum lahir). Retensio plasenta dapat menyebabkan perdarahan yang dapat membahayakan ibu, sehingga perlu penanganan segera.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Pasien tidak mengalami perdarahan postpartum
2. Pasien menunjukkan tanda-tanda vital dalam batas normal
3. Pasien menunjukkan kontraksi uterus yang adekuat
4. Pasien tidak mengalami komplikasi terkait retensio plasenta
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Lakukan pemantauan tanda-tanda vital secara berkala
2. Lakukan pemantauan perdarahan per vaginam
3. Lakukan pemberian oksitosik (misoprostol, oksitosin) untuk merangsang kontraksi uterus
4. Lakukan maneuver Credè untuk membantu pengeluaran plasenta
5. Berikan dukungan emosional dan informasi kepada pasien
Peran perawat dalam kasus ini adalah memantau kondisi Ny. S secara ketat, melakukan intervensi keperawatan yang tepat, dan bekerja sama dengan tim medis lain untuk mencegah terjadinya perdarahan postpartum yang dapat membahayakan jiwa Ny. S. -
Article No. 1246 | 03 Oct 2024
Klinis : Ny. S, seorang ibu berusia 37 tahun, datang ke rumah sakit dalam keadaan inpartu kala III. Iamerupakan seorang G5P3A1 dan baru saja melahirkan anak kelimanya pada tanggal 30 September 2024 pukul 07.15 WIB. Meskipun bayi telah lahir, Ny. S melaporkan bahwa ari-arinya belum juga keluar. Setelah melahirkan, Ny. S mengaku merasa cemas karena plasentanya belum lahir. Ia merasa letih, dengan badan terasa dingin, dan perutnya masih mules. Data vital menunjukkan bahwa tekanan darahnya 120/70 mmHg, nadi 82 x/menit, suhu 36,6 °C, dan pernapasan 20 x/menit. Kontraksi yang dirasakannya cukup keras, dan tinggi fundus uteri setinggi pusat. Dari pengeluaran per vaginam tercatat sebanyak 200 cc, dan pada pemeriksaan vulva terlihat tali pusat terjulur sepanjang 30 cm. Apa penjelasan dari diganosa ansietas berhubungan dengan...
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan:
Ansietas berhubungan dengan retensio plasenta
Penjelasan:
Berdasarkan data yang diberikan, Ny. S mengalami kondisi yang dapat menimbulkan ansietas. Ansietas adalah perasaan tidak nyaman atau kekhawatiran yang samar-samar disertai dengan respon otonom, yang merupakan perasaan takut yang disebabkan oleh antisipasi bahaya (SDKI, 2017). Dalam kasus ini, Ny. S merasa cemas karena plasentanya belum keluar meskipun bayi telah lahir. Hal ini dapat menyebabkan perasaan takut dan khawatir akan kondisinya.
Menurut SDKI, ansietas berhubungan dengan retensio plasenta, yang merupakan ketidakmampuan tubuh untuk mengeluarkan plasenta setelah bayi lahir. Retensio plasenta dapat menyebabkan perdarahan postpartum yang merupakan salah satu penyebab utama kematian ibu. Oleh karena itu, Ny. S merasa cemas dan khawatir akan kondisinya.
Berdasarkan SLKI, tujuan keperawatan yang dapat dilakukan adalah menurunnya tingkat ansietas Ny. S. Menurut SIKI, intervensi keperawatan yang dapat dilakukan antara lain:
1. Monitoring tanda-tanda vital secara berkala
2. Memberikan informasi dan edukasi tentang kondisi saat ini dan rencana penanganannya
3. Melakukan teknik relaksasi untuk mengurangi kecemasan
4. Memberikan dukungan emosional dan psikologis
5. Melibatkan keluarga dalam proses perawatan.
Dengan intervensi keperawatan yang tepat, diharapkan dapat menurunkan tingkat ansietas Ny. S dan membantu menstabilkan kondisinya. -
Article No. 1248 | 03 Oct 2024
Klinis : PASIEN MENGALAMI OBESITAS KARENA GULA DARAH BERLEBIHAN
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Assalamualaikum, Selamat siang. Sebagai seorang perawat profesional, saya akan memberikan diagnosis keperawatan dan penjelasan singkat mengenai SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) untuk kondisi pasien yang mengalami obesitas karena gula darah berlebihan.
Diagnosis Keperawatan:
1. Ketidakseimbangan Nutrisi: Kelebihan Berat Badan berhubungan dengan Asupan Nutrisi yang Berlebihan.
Penjelasan: Pasien mengalami kelebihan berat badan atau obesitas yang disebabkan oleh asupan nutrisi, terutama karbohidrat dan gula, yang berlebihan.
2. Intoleransi Aktivitas berhubungan dengan Keterbatasan Energi.
Penjelasan: Pasien mungkin mengalami keterbatasan dalam melakukan aktivitas fisik akibat kelebihan berat badan, yang dapat menyebabkan kelelahan dan intoleransi terhadap aktivitas.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Definisi: Keadaan kelebihan berat badan yang disebabkan oleh asupan nutrisi, terutama karbohidrat dan gula, yang berlebihan.
- Faktor Berhubungan: Pola makan yang tidak sehat, gaya hidup sedentary, riwayat keluarga, kondisi medis, dan lain-lain.
- Gejala dan Tanda: Berat badan berlebih, lingkar perut meningkat, peningkatan IMT, kadar gula darah tinggi, dan lain-lain.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Luaran yang diharapkan: Pasien dapat mencapai berat badan ideal, dapat melakukan aktivitas fisik secara adekuat, dan dapat mengendalikan kadar gula darah.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Intervensi Keperawatan: Edukasi gizi seimbang, pengaturan pola makan, program latihan fisik, pemantauan kadar gula darah, dan kolaborasi dengan tim kesehatan lainnya.
Kesimpulannya, diagnosis keperawatan yang sesuai untuk pasien dengan obesitas karena gula darah berlebihan adalah Ketidakseimbangan Nutrisi: Kelebihan Berat Badan dan Intoleransi Aktivitas. Penerapan SDKI, SLKI, dan SIKI dapat membantu perawat dalam memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif dan terarah untuk mengatasi masalah kesehatan pasien.
Semoga penjelasan ini bermanfaat. Jika ada pertanyaan lebih lanjut, jangan ragu untuk menanyakannya. Wassalamualaikum. -
Article No. 1249 | 03 Oct 2024
Klinis : Ny. S, seorang ibu berusia 37 tahun, datang ke rumah sakit dalam keadaan inpartu kala III. Iamerupakan seorang G5P3A1 dan baru saja melahirkan anak kelimanya pada tanggal 30 September 2024 pukul 07.15 WIB. Meskipun bayi telah lahir, Ny. S melaporkan bahwa ari-arinya belum juga keluar. Setelah melahirkan, Ny. S mengaku merasa cemas karena plasentanya belum lahir. Ia merasa letih, dengan badan terasa dingin, dan perutnya masih mules. Data vital menunjukkan bahwa tekanan darahnya 120/70 mmHg, nadi 82 x/menit, suhu 36,6 °C, dan pernapasan 20 x/menit. Kontraksi yang dirasakannya cukup keras, dan tinggi fundus uteri setinggi pusat. Dari pengeluaran per vaginam tercatat sebanyak 200 cc, dan pada pemeriksaan vulva terlihat tali pusat terjulur sepanjang 30 cm. Apa penjelasan dari diganosa risiko perdarahan postpartom no SDKI nya ?
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan informasi yang diberikan, diagnosis yang sesuai adalah:
1. Kode ICD-10:
- Kode: O72.0
- Deskripsi: Perdarahan segera setelah persalinan, termasuk retensio plasenta
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 75.3
- Deskripsi: Kuretase uterus pasca melahirkan, termasuk evakuasi sisa plasenta
Penjelasan:
Ny. S, seorang ibu berusia 37 tahun, datang ke rumah sakit dalam keadaan inpartu kala III. Ia merupakan seorang G5P3A1 dan baru saja melahirkan anak kelimanya pada tanggal 30 September 2024. Meskipun bayi telah lahir, Ny. S melaporkan bahwa ari-arinya belum juga keluar. Setelah melahirkan, Ny. S mengaku merasa cemas karena plasentanya belum lahir. Ia merasa letih, dengan badan terasa dingin, dan perutnya masih mules. Dari pemeriksaan, diketahui bahwa kontraksi yang dirasakannya cukup keras, tinggi fundus uteri setinggi pusat, dan pada pemeriksaan vulva terlihat tali pusat terjulur sepanjang 30 cm.
Berdasarkan gejala dan tanda-tanda yang ditemukan, diagnosis yang sesuai adalah Perdarahan segera setelah persalinan, termasuk retensio plasenta (Kode ICD-10: O72.0). Kondisi ini dapat terjadi karena plasenta belum keluar sehingga menyebabkan perdarahan. Tindakan medis yang mungkin dilakukan adalah kuretase uterus pasca melahirkan, termasuk evakuasi sisa plasenta (Kode ICD-9-CM: 75.3).
Penanganan yang cepat dan tepat sangat diperlukan untuk mencegah komplikasi yang lebih serius, seperti perdarahan hebat, syok, atau infeksi. Pemantauan yang ketat terhadap tanda-tanda vital, pengendalian perdarahan, dan pemberian oksigen serta cairan infus mungkin akan diperlukan. -
Article No. 1250 | 03 Oct 2024
Klinis : Ny. S, seorang ibu berusia 37 tahun, datang ke rumah sakit dalam keadaan inpartu kala III. Iamerupakan seorang G5P3A1 dan baru saja melahirkan anak kelimanya pada tanggal 30 September 2024 pukul 07.15 WIB. Meskipun bayi telah lahir, Ny. S melaporkan bahwa ari-arinya belum juga keluar. Setelah melahirkan, Ny. S mengaku merasa cemas karena plasentanya belum lahir. Ia merasa letih, dengan badan terasa dingin, dan perutnya masih mules. Data vital menunjukkan bahwa tekanan darahnya 120/70 mmHg, nadi 82 x/menit, suhu 36,6 °C, dan pernapasan 20 x/menit. Kontraksi yang dirasakannya cukup keras, dan tinggi fundus uteri setinggi pusat. Dari pengeluaran per vaginam tercatat sebanyak 200 cc, dan pada pemeriksaan vulva terlihat tali pusat terjulur sepanjang 30 cm. Apa penjelasan dari diganosa risiko perdarahan postpartom no SDKI nya ?
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Sebagai seorang perawat, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat mengenai SDKI, SLKI, dan SIKI berdasarkan kondisi yang dipaparkan untuk Ny. S.
Diagnosa Keperawatan: Risiko Perdarahan Postpartum
Penjelasan SDKI:
Risiko Perdarahan Postpartum merupakan diagnosa keperawatan yang sesuai dengan kondisi Ny. S. Berdasarkan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), risiko perdarahan postpartum didefinisikan sebagai "Rentan mengalami kehilangan darah yang berlebihan (>500 ml) dari alat genetalia setelah kelahiran bayi atau dalam 24 jam pertama setelah kelahiran".
Karakteristik definisi pada SDKI untuk diagnosa ini meliputi:
1. Plasenta belum lahir
2. Kontraksi uterus lemah
3. Perdarahan aktif dari jalan lahir
4. Tanda-tanda hipovolemik (nadi cepat, tekanan darah rendah, kulit dingin)
Dalam kasus Ny. S, tanda-tanda yang muncul seperti plasenta belum lahir, kontraksi uterus keras, perdarahan aktif dari jalan lahir, serta tanda-tanda hipovolemik (nadi 82x/menit, tekanan darah 120/70 mmHg, suhu 36,6°C) mengarah pada risiko perdarahan postpartum.
Penjelasan SLKI dan SIKI:
Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) untuk risiko perdarahan postpartum mencakup luaran seperti perdarahan terkendali, tidak terjadi hipovolemia, serta kontraksi uterus yang baik. Sedangkan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) yang dapat diterapkan antara lain pemantauan perdarahan, pemberian oksigen, pemberian uterotonika, serta tindakan penanganan perdarahan aktif.
Melalui penerapan standar asuhan keperawatan (SDKI, SLKI, SIKI) yang terintegrasi, diharapkan perawat dapat melakukan intervensi yang tepat untuk mengatasi risiko perdarahan postpartum pada Ny. S dan mencapai luaran keperawatan yang optimal. -
Article No. 1251 | 03 Oct 2024
Klinis : pasien datang dengan keluhan mata kabur
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat dari SDKI, SLKI, dan SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi pasien dengan keluhan mata kabur.
Diagnosa Keperawatan:
Gangguan Penglihatan
Definisi:
Gangguan dalam kemampuan individu untuk melihat dengan jelas dan nyaman.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
1. Penurunan Ketajaman Penglihatan
2. Perubahan Lapang Pandang
3. Perubahan Sensasi Penglihatan
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Peningkatan Ketajaman Penglihatan
2. Peningkatan Lapang Pandang
3. Peningkatan Sensasi Penglihatan
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Manajemen Penglihatan
2. Terapi Penglihatan
3. Edukasi Penglihatan
Penjelasan singkat:
Gangguan Penglihatan adalah kondisi dimana individu mengalami penurunan kemampuan untuk melihat dengan jelas dan nyaman. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti kelainan refraktif, penyakit mata, atau trauma. Dalam menangani kondisi ini, perawat dapat melakukan intervensi keperawatan seperti manajemen penglihatan (misalnya penggunaan kacamata), terapi penglihatan (misalnya terapi latihan), dan edukasi penglihatan untuk meningkatkan pemahaman pasien mengenai kondisinya dan cara mengelolanya.