Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 24940 | 07 Apr 2026
Klinis : tidak dapat menggerakkan sisi kanan tubuhnya sejak sekitar 1 jam yang lalu, tiba-tiba bicara menjadi pelo (tidak jelas) dan gelas yang dipegangnya terjatuh dari tangan kanan. wajah pasien tampak mencong ke kiri dan pasien mengeluhkan sakit kepala hebat sebelum akhirnya mengalami kelemahan anggota gerak. Pasien memiliki riwayat Hipertensi sejak 10 tahun lalu (tidak terkontrol), Diabetes mellitus, Tidak rutin minum obat. Saat tiba di IGD pasien tampak lemah, sulit berbicara, dan tampak bingung. Frekuensi napas: 24 kali/menit, SpOz: 93% tanpa oksigen, Pola napas, Tekanan darah: 190/110 mmHg, Nadi: 98 kali/menit, CRT: 2 detik, (GCS 13: E3 V4 M6), Kekuatan ekstremitas kanan: 2/5, Kekuatan ekstremitas kiri: 5/5, Pupil isokor, refleks cahaya (+/+). Bicara pelo (disartria), Skor FAST: positif, Gula darah sewaktu: 210 mg/đL
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Stroke Iskemik Akut dengan Defisit Neurologis Fokal (Hemiparesis Dekstra, Disartria, Penurunan Kesadaran) pada Pasien dengan Hipertensi dan Diabetes Mellitus Tidak Terkontrol
Kode SDKI: D.0006
Deskripsi Singkat: Risiko Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Serebral adalah keadaan dimana seorang individu berisiko mengalami penurunan sirkulasi darah ke otak yang dapat mengakibatkan kegagalan untuk memenuhi kebutuhan metabolisme otak. Pada kasus ini, kondisi pasien memenuhi kriteria diagnosis ini karena adanya serangan defisit neurologis fokal akut (kelemahan sisi kanan, wajah mencong ke kiri, bicara pelo, FAST positif) yang menunjukkan gangguan perfusi serebral yang sedang terjadi. Faktor risiko utama yang mendasari adalah hipertensi yang tidak terkontrol (TD 190/110 mmHg) dan diabetes mellitus (GDS 210 mg/dL) yang menyebabkan kerusakan endotel vaskular, aterosklerosis, dan akhirnya trombosis atau emboli yang menyumbat aliran darah ke otak. Penurunan kesadaran (GCS 13) dan saturasi oksigen yang borderline (93%) memperkuat bahwa kebutuhan oksigen dan nutrisi jaringan otak tidak terpenuhi secara adekuat. Ketidakteraturan minum obat memperparah kondisi ini, membuat pasien sangat rentan terhadap kerusakan neurologis yang lebih luas jika perfusi tidak segera dipulihkan.
Kode SLKI: L.03115
Deskripsi : Perfusi Serebral Efektif ditandai dengan kemampuan mempertahankan tekanan perfusi serebral yang adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolik otak, yang dimanifestasikan oleh tanda-tanda neurologis yang stabil atau membaik. Pada pasien stroke akut, luaran ini bertujuan untuk mencegah perluasan area infark (iskemik) dan meminimalkan defisit neurologis permanen. Kriteria luaran yang diharapkan meliputi: 1) Tanda-tanda vital dalam batas yang ditargetkan (misalnya, tekanan darah terkontrol secara bertahap dan aman, frekuensi napas dan nadi dalam batas normal), 2) Status neurologis tidak memburuk (GCS stabil atau meningkat, kekuatan motorik membaik, bicara lebih jelas), 3) Saturasi oksigen (SpO2) dipertahankan >95% dengan atau tanpa bantuan oksigen, 4) Pasien menunjukkan tingkat kesadaran yang baik dan tidak mengalami kebingungan yang memberat, serta 5) Tidak ada keluhan sakit kepala hebat yang memberat. Pencapaian luaran ini memerlukan intervensi medis dan keperawatan yang cepat dan tepat untuk mengembalikan aliran darah, melindungi jaringan otak yang masih viable (penumbra), dan mengontrol faktor-faktor yang memperburuk seperti hipertensi dan hiperglikemia.
Kode SIKI: I.08090
Deskripsi : Manajemen Perfusi Serebral adalah serangkaian intervensi keperawatan yang ditujukan untuk mempertahankan atau meningkatkan aliran darah ke otak dan mencegah cedera lebih lanjut. Intervensi ini bersifat kritis dalam fase akut stroke. Berdasarkan kondisi pasien, intervensi yang harus dilakukan meliputi: 1) Pemantauan Neurologis Ketat: Melakukan pemantauan GCS, ukuran dan reaksi pupil, kekuatan motorik (skala 0-5), dan fungsi bicara setiap 30-60 menit atau sesuai protokol stroke untuk mendeteksi perubahan secara dini. 2) Manajemen Jalan Napas dan Oksigenasi: Memastikan jalan napas paten, memberikan oksigen tambahan untuk mempertahankan SpO2 >95%, dan memposisikan kepala tempat tidur 30 derajat (kecuali ada kontraindikasi) untuk meningkatkan aliran balik vena serebral. 3) Manajemen Tekanan Darah yang Tepat: Berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian antihipertensi intravena sesuai target terapi (biasanya penurunan bertahap, tidak drastis) untuk mengurangi tekanan perfusi yang berlebihan tanpa menyebabkan hipoperfusi. 4) Manajemen Glikemik: Memantau kadar gula darah dan berkolaborasi dalam pemberian insulin sesuai protokol untuk mencapai normoglikemia, karena hiperglikemia memperburuk outcome neurologis. 5) Posisi dan Mobilitas: Menempatkan ekstremitas yang lemah dalam posisi fungsional, melakukan range of motion pasif untuk mencegah kontraktur, dan menghindari tarikan pada sendi bahu yang lemah. 6) Komunikasi dan Dukungan Psikologis: Berbicara dengan pelan dan jelas, menggunakan alat bantu komunikasi jika perlu, memberikan penjelasan yang tenang dan meyakinkan kepada pasien dan keluarga untuk mengurangi kebingungan dan kecemasan. 7) Kolinergik: Memfasilitasi pemberian terapi trombolitik atau trombektomi jika pasien memenuhi kriteria (time window, dll) dengan mempersiapkan administrasi dan pemantauan efek serta komplikasinya. Semua intervensi ini dilakukan secara integratif, berfokus pada optimasi kondisi fisiologis untuk mendukung perfusi otak dan meminimalkan kerusakan neurologis jangka panjang.
-
Article No. 24893 | 06 Apr 2026
Klinis : manajemen nyeri
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Manajemen Nyeri
Kode SDKI: 0026
Deskripsi Singkat: Nyeri Akut
Kode SLKI: 4401
Deskripsi : Kontrol Nyeri
Kode SIKI: 6540
Deskripsi : Manajemen Nyeri
Penjelasan Lengkap SDKI, SLKI, dan SIKI:
1. DIAGNOSIS KEPERAWATAN (SDKI): Nyeri Akut (Kode 0026)
Definisi: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, yang terjadi atau mendekati onset yang tiba-tiba dan berlangsung kurang dari 3 bulan. Nyeri akut bersifat protektif, memberi sinyal adanya cedera atau penyakit. Pada konteks manajemen nyeri, diagnosis ini menjadi fokus utama intervensi keperawatan. Karakteristik utama (defining characteristics) dari nyeri akut meliputi laporan verbal atau ekspresi nonverbal (seperti wajah meringis, postur melindungi area nyeri, gelisah), perubahan tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan meningkat), diaforesis, penurunan rentang pergerakan, dan gangguan pola tidur atau konsentrasi. Diagnosis ini memerlukan penilaian komprehensif termasuk lokasi, intensitas (skala 0-10), kualitas, durasi, dan faktor pencetus serta pereda nyeri. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi dan memberikan dasar perencanaan asuhan keperawatan yang tepat untuk mengurangi atau menghilangkan nyeri, meningkatkan kenyamanan, dan mencegah komplikasi terkait nyeri yang tidak terkendali seperti imobilisasi, ansietas, atau gangguan pemulihan.
2. LUARAN KEPERAWATAN (SLKI): Kontrol Nyeri (Kode 4401)
Definisi: Tindakan personal untuk mengendalikan nyeri. Luaran ini mengukur sejauh mana klien mampu mencapai dan mempertahankan tingkat kenyamanan yang dapat diterima melalui berbagai strategi. Indikator luaran (NOIC) untuk "Kontrol Nyeri" mencakup: melaporkan nyeri terkontrol, menggunakan teknik non-farmakologis untuk mengatasi nyeri (seperti distraksi, relaksasi, kompres hangat/dingin), mematuhi regimen farmakologis yang diresepkan, memantau sendiri gejala nyeri, menghindari faktor pencetus nyeri, dan menunjukkan perilaku yang sesuai dengan tingkat kenyamanan (seperti mampu istirahat, tidur, dan beraktivitas). Tujuan akhir dari intervensi manajemen nyeri adalah mencapai luaran ini, di mana klien bukan hanya bebas dari nyeri, tetapi juga memiliki kemampuan dan kemandirian dalam mengelola sensasi nyeri yang mungkin timbul, sehingga meningkatkan kualitas hidup dan partisipasi dalam aktivitas sehari-hari serta proses penyembuhan.
3. INTERVENSI KEPERAWATAN (SIKI): Manajemen Nyeri (Kode 6540)
Definisi: Intervensi keperawatan yang melibatkan pemberian terapi farmakologis dan non-farmakologis untuk mengurangi atau menghilangkan nyeri, serta memantau efektivitasnya. Aktivitas intervensi (NIIC) dalam Manajemen Nyeri sangat komprehensif dan sistematis. Pertama, penilaian: melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif dan berkelanjutan menggunakan skala yang sesuai dengan usia dan kondisi klien. Kedua, intervensi farmakologis: memberikan analgesik sesuai resep dengan prinsip tepat waktu, tepat dosis, tepat rute, dan tepat indikasi; memantau efek samping; serta mengedukasi klien tentang obat yang digunakan. Ketiga, intervensi non-farmakologis: menerapkan dan mengajarkan teknik seperti distraksi (mendengarkan musik, menonton TV), relaksasi (napas dalam, guided imagery), terapi panas/dingin, masase, posisi yang nyaman, dan teknik sentuhan terapeutik. Keempat, edukasi: memberdayakan klien dan keluarga tentang pentingnya melaporkan nyeri, cara menggunakan skala nyeri, teknik manajemen nyeri mandiri, dan pemecahan masalah terkait nyeri. Kelima, kolaborasi: bekerja sama dengan dokter dan tim kesehatan lain untuk menyesuaikan regimen terapi jika nyeri tidak terkontrol. Keenam, evaluasi: mengevaluasi respons klien terhadap intervensi yang diberikan dan mendokumentasikannya secara lengkap. Intervensi ini bersifat holistik, menggabungkan pendekatan biopsikososio-spiritual untuk mencapai luaran kontrol nyeri yang optimal.
Hubungan SDKI-SLKI-SIKI dalam Konteks Manajemen Nyeri: Ketiga komponen ini membentuk siklus asuhan keperawatan yang terpadu. Diagnosis "Nyeri Akut (0026)" menetapkan masalah. Luaran "Kontrol Nyeri (4401)" menetapkan tujuan yang ingin dicapai, yaitu keadaan di mana klien mampu mengelola nyerinya. Intervensi "Manajemen Nyeri (6540)" adalah serangkaian tindakan evidence-based yang dilakukan perawat untuk mengubah status diagnosis menuju pencapaian luaran yang diharapkan. Dengan demikian, perawat tidak hanya sekadar memberikan obat pereda nyeri, tetapi melakukan proses asuhan yang komprehensif mulai dari pengkajian, perencanaan, implementasi berbagai strategi, hingga evaluasi keberhasilan, semua terdokumentasi dalam kerangka SDKI, SLKI, dan SIKI yang distandardisasi oleh PPNI. Pendekatan ini memastikan asuhan yang berkualitas, terukur, dan berpusat pada klien.
-
Article No. 24894 | 06 Apr 2026
Klinis : Klien mengatakan kepala sering tiba tiba pusing dan kuping tiba tiba berdengung, klien mengatakan jarang memeriksakan kesehatan ke Puskemas, klien mengatakan keluhan ini terjadi sekitar 2 tahun terakhir, klien ingin membeli alat bantu pendengar, Klien tampak kesulitan dalam memahami komunikasi, Klien tidak mampu mendengar, Klien tampak bingung saat diajak bicara, Suka melamun dan menyendiri, Respon klien tidak sesuai saat bicara dengan yang dikatakan lawan bicara.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Persepsi Sensorik: Pendengaran
Kode SDKI: 00239
Deskripsi Singkat: Perubahan dalam jumlah atau pola stimulus yang datang disertai dengan respons yang tidak teratur, tidak terorganisir, atau terdistorsi terhadap stimulus pendengaran.
Kode SLKI: 0901
Deskripsi : SLKI 0901: Komunikasi efektif. Kriteria hasil: 1) Mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi komunikasi. 2) Menggunakan strategi komunikasi untuk meningkatkan pemahaman. 3) Menggunakan alat bantu komunikasi yang sesuai. 4) Memverifikasi pemahaman informasi. 5) Mengekspresikan kebutuhan dan keinginan dengan tepat. 6) Berpartisipasi dalam percakapan sosial. 7) Mempertahankan hubungan interpersonal. Dalam konteks klien dengan gangguan pendengaran, tujuan utamanya adalah mencapai komunikasi yang efektif meskipun terdapat hambatan sensorik. Klien diharapkan dapat menggunakan strategi seperti membaca bibir, meminta lawan bicara untuk berbicara lebih jelas (bukan lebih keras), memilih lingkungan yang redup kebisingan, dan yang paling relevan adalah menggunakan alat bantu dengar yang telah direkomendasikan. Komunikasi efektif juga melibatkan klien untuk secara aktif memverifikasi informasi yang didengar ("Apakah yang Anda maksud adalah...?") sehingga mengurangi kesalahpahaman. Pencapaian SLKI ini akan terlihat ketika klien tidak lagi tampak bingung saat diajak bicara, responnya sesuai dengan konteks pembicaraan, dan ia mulai kembali berinteraksi sosial, mengurangi perilaku menyendiri dan melamun akibat isolasi komunikasi.
Kode SIKI: 3520
Deskripsi : SIKI 3520: Manajemen Komunikasi: Defisit Sensorik. Intervensi keperawatan: 1) Identifikasi tipe dan tingkat gangguan pendengaran. 2) Fasilitasi konsultasi dengan ahli audiologi untuk evaluasi dan pemasangan alat bantu dengar. 3) Ajarkan teknik komunikasi untuk meningkatkan pemahaman (pandang wajah pembicara, kurangi kebisingan latar). 4) Gunakan alat bantu visual dan tulisan. 5) Libatkan keluarga dalam strategi komunikasi. 6) Anjurkan untuk duduk di depan pada situasi kelompok. 7) Berbicara dengan kecepatan normal, artikulasi jelas, tanpa berteriak. 8) Evaluasi efektivitas alat bantu dengar. 9) Rujuk ke kelompok dukungan atau terapi okupasi jika diperlukan. 10) Monitor respons emosional terhadap gangguan pendengaran (frustasi, menarik diri). Penjelasan: Intervensi ini secara komprehensif ditujukan untuk mengatasi akar masalah komunikasi pada klien. Langkah pertama adalah validasi medis melalui konsultasi audiologi, yang juga akan menentukan kesesuaian alat bantu dengar—sesuai dengan keinginan klien. Perawat berperan sebagai fasilitator dan edukator. Mengajarkan teknik komunikasi seperti memastikan cahaya jatuh di wajah pembicara dan mengurangi kebisingan latar adalah intervensi praktis yang langsung dapat diterapkan. Melibatkan keluarga sangat krusial karena mereka adalah lingkaran komunikasi terdekat klien; keluarga perlu diajari untuk tidak berteriak tetapi berbicara dengan jelas, menunggu isyarat visual bahwa klien siap mendengar, dan menggunakan sentuhan lembut untuk menarik perhatian sebelum berbicara. Intervensi juga mencakup aspek psikososial dengan memantau dampak isolasi akibat ketulian dan merujuk pada kelompok dukungan. Penerapan SIKI ini bertahap, dimulai dari penilaian, edukasi, implementasi alat bantu, hingga evaluasi keberhasilan komunikasi dan kesejahteraan psikologis klien, sehingga diharapkan dapat mencapai SLKI yang telah ditetapkan.
-
Article No. 24895 | 06 Apr 2026
Klinis : Klien mengatakan kepala sering tiba tiba pusing dan kuping tiba tiba berdengung, klien mengatakan jarang memeriksakan kesehatan ke Puskemas, klien mengatakan keluhan ini terjadi sekitar 2 tahun terakhir, klien ingin membeli alat bantu pendengar, Klien tampak kesulitan dalam memahami komunikasi, Klien tidak mampu mendengar, Klien tampak bingung saat diajak bicara, Suka melamun dan menyendiri, Respon klien tidak sesuai saat bicara dengan yang dikatakan lawan bicara.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Persepsi Sensorik: Pendengaran
Kode SDKI: 00252
Deskripsi Singkat: Perubahan dalam jumlah atau pola stimulus yang datang disertai dengan respons yang tidak teratur, tidak terorganisir, atau terdistorsi terhadap stimulus pendengaran.
Kode SLKI: 2008
Deskripsi : Klien menunjukkan peningkatan fungsi pendengaran dan komunikasi. Kriteria hasil yang dapat diamati meliputi: 1) Klien mampu mendemonstrasikan pemahaman tentang informasi yang dikomunikasikan, 2) Klien menggunakan strategi untuk memaksimalkan sisa pendengaran dan memfasilitasi komunikasi (seperti membaca bibir, meminta pengulangan, memastikan pencahayaan yang baik pada wajah pembicara, mengurangi kebisingan latar), 3) Klien melaporkan peningkatan dalam memahami percakapan, 4) Klien berpartisipasi dalam aktivitas sosial sesuai kemampuan, 5) Klien mengekspresikan perasaan diterima dan dipahami dalam interaksi sosial, serta 6) Klien menggunakan alat bantu dengar atau alat adaptif lainnya dengan benar jika diresepkan.
Kode SIKI: 4210
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk memfasilitasi komunikasi dan meningkatkan persepsi pendengaran. Intervensi ini mencakup: 1) Melakukan pengkajian komprehensif terhadap kemampuan mendengar, penyebab, dampak psikososial, dan faktor lingkungan yang mempengaruhinya. 2) Berkomunikasi dengan jelas, menghadap klien, menjaga kontak mata, dan berbicara dengan kecepatan normal (tidak terlalu cepat atau lambat) serta volume yang cukup tanpa berteriak. 3) Menggunakan alat bantu visual seperti gerak tubuh, ekspresi wajah, dan alat tulis untuk memperjelas pesan. 4) Memastikan lingkungan yang mendukung dengan pencahayaan yang baik di wajah perawat/pembicara dan meminimalkan kebisingan latar belakang. 5) Memvalidasi pemahaman klien dengan meminta pengulangan atau konfirmasi. 6) Melibatkan keluarga dan orang terdekat dalam pelatihan teknik komunikasi efektif dengan klien. 7) Mendorong klien untuk mengungkapkan perasaan frustrasi, isolasi, atau kesepian akibat gangguan pendengaran dan memberikan dukungan emosional. 8) Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain (dokter, audiolog) untuk pemeriksaan lebih lanjut, pemasangan alat bantu dengar yang sesuai, dan terapi rehabilitasi. 9) Mendidik klien dan keluarga tentang perawatan dan penggunaan alat bantu dengar jika digunakan. 10) Mendorong partisipasi dalam kelompok dukungan atau terapi untuk individu dengan gangguan pendengaran untuk meningkatkan keterampilan koping dan mengurangi isolasi sosial.
-
Article No. 24896 | 06 Apr 2026
Klinis : Mrs. SM, 27 years old, is a pregnant woman who checked her health at the Lina Asep Clinic on November 12th, 2022. The patient came with complaints of severe dizziness for the last 2 weeks. In addition, patients also complain of weakness, weakness, no energy,and no appetite. Actually, all of these complaints have been felt since the beginning of pregnancy, but they were intermittent and then reappeared and got worse in the last 2 weeks. Denied complaints of nausea, vomiting, abdominal pain, and bleeding spots. The patient said that she was currently pregnant with her 4th child,aged 27-28 weeks, with active fetal movements. The patient's previous medical history had anemia,and blood transfusions were carried out at the hospital during a previous pregnancy. Examination of pregnancy at 12 weeks of gestation had an examination of hemoglobin (Hb) levels obtained at 9 mg/dl. Medical history of a new patient taking paracetamol for complaints of unbearable dizziness. The patient had been taking vitamins regularly since the beginning of her pregnancy but did not want to take iron tablets because she complained of constipation every time she took the drug. History of eating during the first trimester:Thepatient had difficulty eating due to severe nausea and vomiting, but starting from the second trimester until now, she has been able to eat normally. Every day,the patient feels that he has consumed food as he should, namely, the contents of his plate already consist of carbohydrates, protein, fat,and fiber. Consumption of red meat has also been carried out, although not routinely, but patients regularly consume vitamins and milk for pregnancy.History of first menstruation or menarche at the age of 12 years, menstrual cycles 28-30 days, menstrual duration 5-7 days, number of pads changed 3-5 times a day. The firstday of last menstruation (HPHT) is April28th,2022,and the estimated day of birth (HPL) is February 4th,2023. History of marriage:1 time in 7 years. History of childbirth:Thepatient gave birth to all her children through normal delivery. Thefirst child is a girl who is currently 6 years old with a birth weight (BW) of 3100 gr, the second child is a 3-year-old boy with a BWof 3200 gr, and the third child is a girl aged 20 months with a BW2500 gr. The patient had never used contraception before. The patient works as a housewife,and the husband works as a factory worker.From the physical examination obtained compos mentis awareness, the general condition of the patient looked mildly ill, blood pressure 100/70 mmHg, pulse 98x/minute, respiration 20x/minute, temperature 36.8°C, weight (BB) 58kg with a pre-pregnancy weight of 50kg, and height (TB) 156cm and mid-upper arm circumference (MUAC) 24 cm. The nutritional status of the patient before pregnancy has a body mass index (BMI) of 20.5 kg/m2, which is included in the normal BMI. The increase in weight up to the third trimester is still included in the normal weight gain according to the recommendations of the Institute of Medicine (IOM) 2009. Examination of the general status of the face looked pale, the eyes found anemic conjunctiva, and the sclera was not blue and not icteric. Ears,nose,throat within normal limits, mouth mucosa lips pale, thorax,heart,and lungs within normal limits. Examination of the extremities showed no edema but the skin was pale. Examination of the obstetrical status showed that the fundal height of the uterus (TFU) was 26.7 cm, the longitudinal position of the back was on the right, the head presentationand the fetal heart rate (FHR) was 145x/minute. A simple blood laboratory examination showed Hb 7 mg/dl, leukocytes 8900 mg/dl, platelets 259,000 mg/dl, and hematocrit 21.2%. Based on anamnesis physical examination and simple laboratory tests performed, the patient was diagnosed with G4P3A0,28 weeks pregnant,with moderate anemia. The management given to patients is in the form of medical and non-medical therapy. For medical therapy,the patient is given oral iron therapy with maltofer tablets 2x a day and 500 mg paracetamol tablets taken if necessary. Forpregnancy,vitamins that are routinely consumed,such as folamil genio and Cal95,can be continued. Non-medical in the form of education for diet modification by consuming foods high in iron content such as red meat, beef liver, chicken liver, fish and seafood, and green vegetables such as spinach, tofu,and beans with a varied menu so that patients don't get bored. Patients are advised to eat iron-containing foods with foods high in vitamin C together (such as tomatoes and oranges)to maximize iron absorption by the body. However, they are asked to avoid foods that can inhibit iron absorption, such as bread, tea, and milk. In addition, patients are expected to increase consumption of high-fiber foods and increase consumption of water to prevent constipation. The next step is that the patient is given a referral to the local hospital for further treatment and treatment with an obstetrician. ringkaskan kasusnya dan ubah ke bahasa indonesia. ringkaskan tetapi tetap masukkan data lab,riwayat kesehatan jika ada, riwayat reproduksi, pengkajian fisiknyapemeriksaan sistematis (kepala, wajah, leher, tengkuk, dada, payudara, punggung, ekstremitas, abdomen termasuk TFU dan Leopoid, genital jika ada) pemeriksaan patologi klinis, radiologi, dan terapinya
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Perfusi Jaringan Serebral Tidak Efektif dan Risiko Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh pada Ibu Hamil dengan Anemia Sedang
Kode SDKI: 0005
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan suplai oksigen dan nutrisi ke jaringan otak yang dapat mengganggu fungsi neurologis, berhubungan dengan penurunan kapasitas pengangkutan oksigen darah (Hb rendah).
Kode SLKI: 0901
Deskripsi : Tujuan keperawatan adalah mempertahankan atau meningkatkan perfusi jaringan serebral. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: pasien menunjukkan tingkat kesadaran penuh (compos mentis), fungsi kognitif dan sensori tetap utuh, tanda-tanda vital dalam rentang yang dapat diterima (tekanan darah sistolik ≥90 mmHg, nadi 60-100x/menit, pernapasan 16-20x/menit, saturasi oksigen >95%), tidak mengeluh pusing atau sinkop yang memberat, serta mampu melakukan aktivitas sehari-hari tanpa kelemahan yang berarti. Selain itu, nilai laboratorium terkait (seperti kadar hemoglobin) menunjukkan tren peningkatan menuju nilai normal untuk ibu hamil (≥11 gr/dL).
Kode SIKI: 2610, 2620, 2630, 2640
Deskripsi : Intervensi keperawatan yang direncanakan mencakup: 1) 2610 - Pemantauan Neurologis: Memantau status neurologis secara berkala termasuk tingkat kesadaran, orientasi, keluhan pusing, dan kelemahan. Memantau tanda vital setiap 4-6 jam atau sesuai kebutuhan. 2) 2620 - Manajemen Energi: Mengatur jadwal aktivitas dengan periode istirahat yang cukup. Menganjurkan pasien untuk menghindari perubahan posisi tubuh yang tiba-tiba (dari tidur ke duduk/berdiri) untuk mencegah pusing ortostatik. 3) 2630 - Manajemen Cairan: Memastikan asupan cairan yang adekuat untuk menjaga volume darah. 4) 2640 - Peningkatan Koping: Memberikan edukasi tentang penyebab anemia dan hubungannya dengan keluhan pusing serta pentingnya terapi yang diberikan untuk meningkatkan kepatuhan. Kolaborasi pemberian terapi oksigen jika diperlukan berdasarkan hasil pemeriksaan klinis.
Kondisi: Risiko Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: 0002
Deskripsi Singkat: Risiko asupan nutrisi yang tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh, berhubungan dengan faktor biologis (kehamilan dengan anemia), perilaku (ketidakpatuhan minum tablet besi karena efek samping), dan pengetahuan tentang modifikasi diet.
Kode SLKI: 1101
Deskripsi : Tujuan keperawatan adalah status nutrisi pasien membaik dan memadai untuk kehamilan. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: pasien menunjukkan peningkatan nilai hemoglobin (target ≥11 gr/dL), peningkatan nafsu makan, tidak mengeluh lemas berlebihan, serta peningkatan berat badan sesuai dengan rekomendasi kenaikan berat badan ibu hamil berdasarkan IOM 2009. Pasien juga dapat menyebutkan jenis makanan sumber zat besi dan vitamin C, menyatakan kepatuhan mengkonsumsi suplemen zat besi yang diresepkan, serta melaporkan tidak mengalami konstipasi atau konstipasi terkontrol.
Kode SIKI: 1410, 1420, 1460, 5246
Deskripsi : Intervensi keperawatan yang direncanakan mencakup: 1) 1410 - Manajemen Nutrisi: Berkolaborasi dengan ahli gizi untuk menyusun rencana diet tinggi zat besi dan serat. Memantau asupan makanan dan cairan serta berat badan. 2) 1420 - Bantuan Peningkatan Nutrisi: Memberikan edukasi mendetail tentang pemilihan makanan: sumber heme iron (daging merah, hati ayam/sapi) dan non-heme iron (bayam, tahu, kacang-kacangan) serta teknik kombinasi dengan makanan tinggi vitamin C (jeruk, tomat) untuk meningkatkan absorpsi. Memberikan edukasi untuk menghindari penghambat absorpsi zat besi seperti teh, kopi, dan susan yang dikonsumsi bersamaan dengan makanan utama/suplemen besi. 3) 1460 - Manajemen Penurunan Berat Badan: Meski berat badan naik normal, fokus pada kualitas nutrisi untuk mengatasi anemia. Memantau LILA (24 cm saat ini) sebagai indikator cadangan energi. 4) 5246 - Edukasi: Proses Penyakit: Memberikan pendidikan kesehatan tentang patofisiologi anemia dalam kehamilan, pentingnya kepatuhan mengkonsumsi tablet besi (Maltofer) meski sebelumnya mengalami konstipasi, serta strategi mengatasi konstipasi seperti meningkatkan asupan serat dan air putih. Edukasi tentang tanda-tanda bahaya yang mengharuskan kontrol ulang atau ke rumah sakit.
-
Article No. 24897 | 06 Apr 2026
Klinis : Mrs. SM, 27 years old, is a pregnant woman who checked her health at the Lina Asep Clinic on November 12th, 2022. The patient came with complaints of severe dizziness for the last 2 weeks. In addition, patients also complain of weakness, weakness, no energy,and no appetite. Actually, all of these complaints have been felt since the beginning of pregnancy, but they were intermittent and then reappeared and got worse in the last 2 weeks. Denied complaints of nausea, vomiting, abdominal pain, and bleeding spots. The patient said that she was currently pregnant with her 4th child,aged 27-28 weeks, with active fetal movements. The patient's previous medical history had anemia,and blood transfusions were carried out at the hospital during a previous pregnancy. Examination of pregnancy at 12 weeks of gestation had an examination of hemoglobin (Hb) levels obtained at 9 mg/dl. Medical history of a new patient taking paracetamol for complaints of unbearable dizziness. The patient had been taking vitamins regularly since the beginning of her pregnancy but did not want to take iron tablets because she complained of constipation every time she took the drug. History of eating during the first trimester:Thepatient had difficulty eating due to severe nausea and vomiting, but starting from the second trimester until now, she has been able to eat normally. Every day,the patient feels that he has consumed food as he should, namely, the contents of his plate already consist of carbohydrates, protein, fat,and fiber. Consumption of red meat has also been carried out, although not routinely, but patients regularly consume vitamins and milk for pregnancy.History of first menstruation or menarche at the age of 12 years, menstrual cycles 28-30 days, menstrual duration 5-7 days, number of pads changed 3-5 times a day. The firstday of last menstruation (HPHT) is April28th,2022,and the estimated day of birth (HPL) is February 4th,2023. History of marriage:1 time in 7 years. History of childbirth:Thepatient gave birth to all her children through normal delivery. Thefirst child is a girl who is currently 6 years old with a birth weight (BW) of 3100 gr, the second child is a 3-year-old boy with a BWof 3200 gr, and the third child is a girl aged 20 months with a BW2500 gr. The patient had never used contraception before. The patient works as a housewife,and the husband works as a factory worker.From the physical examination obtained compos mentis awareness, the general condition of the patient looked mildly ill, blood pressure 100/70 mmHg, pulse 98x/minute, respiration 20x/minute, temperature 36.8°C, weight (BB) 58kg with a pre-pregnancy weight of 50kg, and height (TB) 156cm and mid-upper arm circumference (MUAC) 24 cm. The nutritional status of the patient before pregnancy has a body mass index (BMI) of 20.5 kg/m2, which is included in the normal BMI. The increase in weight up to the third trimester is still included in the normal weight gain according to the recommendations of the Institute of Medicine (IOM) 2009. Examination of the general status of the face looked pale, the eyes found anemic conjunctiva, and the sclera was not blue and not icteric. Ears,nose,throat within normal limits, mouth mucosa lips pale, thorax,heart,and lungs within normal limits. Examination of the extremities showed no edema but the skin was pale. Examination of the obstetrical status showed that the fundal height of the uterus (TFU) was 26.7 cm, the longitudinal position of the back was on the right, the head presentationand the fetal heart rate (FHR) was 145x/minute. A simple blood laboratory examination showed Hb 7 mg/dl, leukocytes 8900 mg/dl, platelets 259,000 mg/dl, and hematocrit 21.2%. Based on anamnesis physical examination and simple laboratory tests performed, the patient was diagnosed with G4P3A0,28 weeks pregnant,with moderate anemia. The management given to patients is in the form of medical and non-medical therapy. For medical therapy,the patient is given oral iron therapy with maltofer tablets 2x a day and 500 mg paracetamol tablets taken if necessary. Forpregnancy,vitamins that are routinely consumed,such as folamil genio and Cal95,can be continued. Non-medical in the form of education for diet modification by consuming foods high in iron content such as red meat, beef liver, chicken liver, fish and seafood, and green vegetables such as spinach, tofu,and beans with a varied menu so that patients don't get bored. Patients are advised to eat iron-containing foods with foods high in vitamin C together (such as tomatoes and oranges)to maximize iron absorption by the body. However, they are asked to avoid foods that can inhibit iron absorption, such as bread, tea, and milk. In addition, patients are expected to increase consumption of high-fiber foods and increase consumption of water to prevent constipation. The next step is that the patient is given a referral to the local hospital for further treatment and treatment with an obstetrician.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Perfusi Jaringan Serebral Tidak Efektif dan Risiko Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh pada Ibu Hamil dengan Anemia Sedang
Kode SDKI: 0005
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan sirkulasi darah ke otak yang dapat mengancam kehidupan, berhubungan dengan faktor-faktor risiko. Dalam konteks kasus ini, faktor risiko utamanya adalah penurunan kapasitas pengangkutan oksigen darah akibat anemia (Hb 7 mg/dl) yang dimanifestasikan dengan gejala pusing berat, kelemahan, dan pucat.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : Tujuan keperawatan adalah mempertahankan perfusi serebral yang adekuat. Kriteria hasil yang diharapkan (SLKI) meliputi: Tekanan darah dalam rentang normal untuk pasien (dalam kasus ini 100/70 mmHg sudah di batas bawah, perlu dipantau agar tidak turun lebih jauh), nadi perifer teraba kuat dan reguler, status neurologis stabil (tidak ada penurunan kesadaran, pusing berkurang), kulit hangat dan kering, serta membran mukosa lembab. Pada pasien hamil, juga penting memantau aktivitas janin (dalam kasus ini 145x/menit masih normal) sebagai indikator tidak langsung perfusi uteroplasenta yang masih adekuat. Intervensi keperawatan (SIKI) akan difokuskan untuk memantau tanda-tanda vital dan gejala, memposisikan pasien untuk meningkatkan aliran darah ke otak (misalnya, tidak berdiri tiba-tiba), dan mengatasi penyebab dasarnya yaitu anemia.
Kode SIKI: 4230
Deskripsi : Intervensi keperawatan utama adalah Manajemen Anemia. Intervensi ini mencakup serangkaian tindakan untuk meningkatkan kadar hemoglobin dan mencegah komplikasi. Pertama, memantau tanda dan gejala anemia seperti kelemahan, pusing, pucat, takikardia (nadi 98x/menit), dan sesak napas. Kedua, memberikan edukasi kepada pasien (Mrs. SM) dan keluarga tentang pentingnya terapi besi oral (Maltofer) yang telah diresepkan, termasuk dosis (2x sehari), cara mengatasi efek samping konstipasi (dengan meningkatkan serat dan air), serta pentingnya kepatuhan meskipun gejala sudah membaik. Ketiga, memberikan edukasi nutrisi secara mendetail: merencanakan menu tinggi zat besi (heme dan non-heme) seperti daging merah, hati, ikan, sayuran hijau, dan kacang-kacangan; mengajarkan konsumsi sumber vitamin C (tomat, jeruk) bersamaan dengan makanan sumber zat besi untuk meningkatkan absorpsi; serta menghindari penghambat absorpsi seperti teh, kopi, dan susan yang dikonsumsi bersamaan dengan makanan utama. Keempat, berkolaborasi dengan dokter untuk evaluasi terapi dan persiapan rujukan jika diperlukan, serta memantau hasil laboratorium ulang. Intervensi ini juga mencakup dukungan psikologis untuk mengurangi kecemasan pasien terkait kondisi anemia dan kehamilannya.
Kondisi: Risiko Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: 0002
Deskripsi Singkat: Risiko asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh, berhubungan dengan faktor biologis, psikologis, atau ekonomi. Pada Mrs. SM, faktor risikonya adalah peningkatan kebutuhan nutrisi selama kehamilan (terutama zat besi) yang tidak terpenuhi secara adekuat akibat riwayat asupan yang kurang optimal (mual muntah hebat di trimester pertama, penolakan tablet besi karena konstipasi) dan riwayat anemia pada kehamilan sebelumnya.
Kode SLKI: 1001
Deskripsi : Tujuan keperawatan adalah agar kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi. Kriteria hasil (SLKI) yang diharapkan meliputi: Pasien menunjukkan peningkatan berat badan sesuai rekomendasi untuk usia kehamilan (saat ini 58 kg dari BB pra-hamil 50 kg, perlu dipantau pola kenaikannya), nilai laboratorium (Hb, hematokrit) menunjukkan tren peningkatan menuju nilai normal untuk ibu hamil (Hb >11 mg/dl), pasien melaporkan peningkatan energi dan nafsu makan, serta pasien dan keluarga dapat mendemonstrasikan pemilihan makanan tinggi zat besi dan vitamin C sesuai anjuran. Selain itu, pasien diharapkan dapat mengatasi keluhan konstipasi dengan strategi non-farmakologis yang telah diajarkan.
Kode SIKI: 1120
Deskripsi : Intervensi keperawatan utama adalah Manajemen Nutrisi. Intervensi ini sangat spesifik dan mendalam. Pertama, melakukan pengkajian pola makan secara detail, termasuk frekuensi, jenis, porsi, dan cara pengolahan makanan. Kedua, berkolaborasi dengan ahli gizi jika tersedia untuk menyusun rencana menu harian/mingguan yang praktis, ekonomis, dan sesuai budaya pasien, dengan fokus pada makanan kaya zat besi dan vitamin C. Ketiga, memberikan edukasi tentang pentingnya zat besi untuk pertumbuhan janin dan pencegahan komplikasi seperti persalinan prematur atau bayi berat lahir rendah (BBL). Keempat, memberikan strategi untuk mengatasi konstipasi akibat suplementasi besi: meningkatkan asupan cairan (minum 8-10 gelas/hari), konsumsi makanan tinggi serat (sayur, buah, biji-bijian), dan melakukan aktivitas fisik ringan yang aman untuk ibu hamil seperti jalan kaki. Kelima, memantau asupan makanan pasien melalui catatan harian atau recall 24 jam pada kunjungan follow-up. Keenam, memberikan dukungan dan motivasi untuk meningkatkan kepatuhan minum tablet besi dengan menjelaskan perbedaan efek samping dari berbagai preparat besi (seperti Maltofer yang umumnya lebih minim gangguan pencernaan) dan memastikan pasien memahami jadwal minum obat yang tepat.
-
Article No. 24898 | 06 Apr 2026
Klinis : Analisis data Posyandu pada kasus vignette bayi & balita stunting. Situasi Kasus: Perawat komunitas melakukan pengkajian di RW 07 Desa Mekarjaya. Berdasarkan data profil kesehatan desa, terdapat 45 balita di wilayah tersebut. Hasil penimbangan di Posyandu bulan lalu menunjukkan: Data Antropometri: 12 balita (26%) berada di Bawah Garis Merah (BGM) pada KMS, dan 8 balita lainnya memiliki berat badan yang tidak naik (T) selama 3 bulan berturut-turut. Data Imunisasi: 5 bayi usia 9-12 bulan belum mendapatkan imunisasi dasar lengkap (khususnya Campak/MR) karena ibunya takut anak menjadi demam. Data Kebiasaan Makan: Hasil wawancara ara dengan 15 ibu balita menunjukkan bahwa mereka sering memberikan menu "nasi kuah bakso" atau "nasi goreng saja" karena anak sulit makan sayur. Ibu-ibu tersebut lebih memilih membelikan. jajanan biskuit atau es di warung daripada mengolah MP-ASI sendiri. Faktor Lingkungan: Mayoritas ibu bekerja sebagai buruh pabrik (shift) dan menitipkan anak pada nenek atau pengasuh yang kurang memahami stimulasi tumbuh kembang. Fasilitas: Jarak rumah warga ke Puskesmas cukup jauh (5 km), dan kader Posyandu hanya aktif saat hari H penimbangan, tanpa ada kunjungan rumah (home visit) bagi balita yang bermasalah.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Gangguan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh pada Balita
Kode SDKI: 0017
Deskripsi Singkat: Keadaan dimana seorang bayi atau anak berisiko mengalami asupan nutrisi yang tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuhnya, yang dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan.
Kode SLKI: 1001
Deskripsi : Status nutrisi membaik. Ditandai dengan: 1) Peningkatan berat badan sesuai kurva pertumbuhan (KMS/WHO); 2) Asupan nutrisi (makro dan mikro) sesuai kebutuhan usia; 3) Pola makan yang adekuat dan sesuai tahap perkembangan; 4) Ibu/keluarga mampu menyajikan MP-ASI yang bergizi seimbang; 5) Tidak ada tanda klinis malnutrisi (edema, wasting, kulit kering, rambut mudah rontok).
Kode SIKI: 2001
Deskripsi : Intervensi untuk meningkatkan status nutrisi. Meliputi: 1) Mengkaji status nutrisi (berat badan, panjang badan/tinggi badan, lingkar kepala, LILA) secara berkala dan memplot pada kurva standar; 2) Mengkaji riwayat pola makan, kebiasaan makan, dan asupan nutrisi 24 jam; 3) Mengidentifikasi faktor penghambat pemenuhan nutrisi (ekonomi, pengetahuan, budaya, psikologis); 4) Melakukan edukasi gizi kepada ibu/keluarga tentang kebutuhan nutrisi sesuai usia, pentingnya protein, vitamin, mineral, dan zat besi; 5) Melatih ibu/keluarga dalam menyusun menu seimbang dan mengolah MP-ASI yang bervariasi, bergizi, dan sesuai tekstur usia; 6) Mendorong pemberian ASI eksklusif dan melanjutkan ASI hingga 2 tahun; 7) Melakukan kolaborasi dengan ahli gizi untuk penyusunan diet khusus jika diperlukan; 8) Memantau dan mencatat perkembangan berat badan secara teratur; 9) Memberikan reinforcement positif atas kemajuan yang dicapai.
Kondisi: Risiko Gangguan Tumbuh Kembang
Kode SDKI: 0018
Deskripsi Singkat: Keadaan dimana seorang bayi atau anak berisiko mengalami penyimpangan dari rentang normal dalam pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, sosial, emosional, atau bahasa.
Kode SLKI: 1002
Deskripsi : Tumbuh kembang optimal. Ditandai dengan: 1) Pertumbuhan fisik (berat badan, panjang badan/tinggi badan) sesuai kurva standar; 2) Mencapai milestone perkembangan sesuai usia (motorik kasar-halus, sosialisasi, kemandirian, bicara-bahasa); 3) Mendapatkan stimulasi yang adekuat dan sesuai tahap perkembangan; 4) Lingkungan pengasuhan responsif dan mendukung; 5) Ibu/keluarga mampu mendemonstrasikan teknik stimulasi yang tepat.
Kode SIKI: 2002
Deskripsi : Intervensi untuk mengoptimalkan tumbuh kembang. Meliputi: 1) Melakukan skrining tumbuh kembang (KPSP/TDL/Denver II) secara berkala; 2) Mengkaji faktor risiko gangguan tumbuh kembang (nutrisi, stimulasi, penyakit kronis, lingkungan); 3) Memberikan edukasi kepada orang tua/pengasuh tentang tahapan perkembangan anak dan pentingnya stimulasi dini; 4) Melatih orang tua/pengasuh dalam teknik stimulasi perkembangan (motorik, kognitif, bahasa, sosial-emosional) yang dapat dilakukan dalam aktivitas sehari-hari; 5) Mendorong interaksi yang responsif antara pengasuh dan anak; 6) Memfasilitasi lingkungan yang aman dan mendukung eksplorasi; 7) Melakukan rujukan ke tenaga profesional (dokter anak, psikolog, terapis) jika ditemukan penyimpangan; 8) Memantau kemajuan perkembangan secara berkala.
Kondisi: Ketidakefektifan Peran Orang Tua
Kode SDKI: 0021
Deskripsi Singkat: Keadaan dimana orang tua atau pengasuh utama mengalami ketidakmampuan dalam menciptakan lingkungan yang mendukung untuk pertumbuhan dan perkembangan optimal anak, termasuk dalam pemenuhan kebutuhan fisik, emosional, dan sosial.
Kode SLKI: 1003
Deskripsi : Peran orang tua efektif. Ditandai dengan: 1) Orang tua mampu memenuhi kebutuhan dasar anak (nutrisi, keamanan, kesehatan); 2) Orang tua memberikan pengasuhan yang responsif dan penuh kasih sayang; 3) Orang tua mampu menyediakan lingkungan yang stimulatif untuk perkembangan; 4) Orang tua aktif terlibat dalam pemantauan kesehatan dan tumbuh kembang anak; 5) Terjalin komunikasi yang efektif dan hangat antara orang tua dan anak.
Kode SIKI: 2003
Deskripsi : Intervensi untuk meningkatkan efektivitas peran orang tua. Meliputi: 1) Membangun hubungan saling percaya dengan orang tua; 2) Mengkaji pengetahuan, sikap, dan praktik pengasuhan (parenting) orang tua; 3) Mengidentifikasi kekuatan dan sumber daya yang dimiliki keluarga; 4) Memberikan edukasi tentang pengasuhan anak, termasuk pemenuhan gizi, stimulasi, dan pencegahan penyakit; 5) Melatih orang tua dalam keterampilan praktis (menyiapkan MP-ASI, teknik stimulasi, manajemen perilaku makan); 6) Memberikan dukungan emosional dan menguatkan kemampuan orang tua; 7) Memfasilitasi kelompok dukungan orang tua (parenting group); 8) Melakukan kolaborasi dengan kader dan tokoh masyarakat untuk mendukung keluarga; 9) Melakukan kunjungan rumah (home visit) untuk observasi dan pendampingan langsung.
Kondisi: Risiko Cedera
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Meningkatnya kerentanan terhadap cedera fisik yang dapat membahayakan integritas tubuh, terkait dengan kondisi internal atau eksternal.
Kode SLKI: 1004
Deskripsi : Bebas dari cedera. Ditandai dengan: 1) Tidak terjadi cedera fisik (luka, keracunan, kecelakaan); 2) Lingkungan rumah dan sekitarnya aman untuk anak; 3) Orang tua/pengasuh memiliki kesadaran akan risiko cedera dan menerapkan tindakan pencegahan; 4) Status imunisasi lengkap sesuai usia untuk mencegah penyakit yang dapat menyebabkan komplikasi.
Kode SIKI: 2004
Deskripsi : Intervensi untuk mencegah cedera. Meliputi: 1) Mengkaji lingkungan rumah dan kebiasaan yang berpotensi menimbulkan cedera (sanitasi, keamanan fisik, akses ke benda berbahaya); 2) Mengkaji status imunisasi dan pemahaman orang tua tentang manfaat imunisasi; 3) Memberikan edukasi kepada orang tua tentang pentingnya imunisasi dasar lengkap, jadwal imunisasi, dan manajemen kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) ringan seperti demam; 4) Melakukan edukasi tentang keselamatan anak di rumah (child proofing); 5) Mendorong pemberian ASI yang juga berperan dalam kekebalan tubuh; 6) Berkolaborasi dengan bidan/puskesmas untuk memfasilitasi akses imunisasi (misal: mengatasi hambatan jarak dengan sistem jemput bola atau pos imunisasi keliling); 7) Memantau kelengkapan imunisasi balita secara berkala.
-
Article No. 24899 | 06 Apr 2026
Klinis : Sesak nafas,batuk berdahak
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas
Kode SDKI: D.0005
Deskripsi Singkat: Kelebihan atau kekurangan oksigenasi dan/atau eliminasi karbon dioksida pada membran alveolus-kapiler.
Kode SLKI: L.04001
Deskripsi : Pertukaran gas membaik. Indikator: 1) Pernapasan dalam rentang normal, 2) Bunyi napas bersih/tidak ada suara tambahan, 3) Tidak ada sianosis, 4) Tidak ada keluhan sesak napas, 5) Nilai analisis gas darah dalam rentang normal, 6) Kesadaran compos mentis, 7) Tidak menggunakan otot bantu pernapasan, 8) Irama jantung dalam rentang normal, 9) Produksi sputum sesuai dengan kondisinya, 10) Batuk efektif.
Kode SIKI: I.08059
Deskripsi : Manajemen jalan napas. Tindakan: 1) Identifikasi faktor penyebab gangguan jalan napas, 2) Monitor status pernapasan (frekuensi, irama, kedalaman, dan usaha napas), 3) Monitor bunyi napas, 4) Auskultasi bunyi napas, 5) Posisikan untuk memaksimalkan ventilasi (misalnya: kepala tempat tidur ditinggikan, posisi semi-Fowler/Fowler), 6) Anjurkan napas dalam efektif, 7) Ajarkan dan bantu latihan batuk efektif, 8) Lakukan fisioterapi dada jika diperlukan, 9) Kelola pemberian oksigen sesuai program, 10) Lakukan penghisapan lendir (suction) jika diperlukan, 11) Kolaborasi pemberian obat bronkodilator dan mukolitik sesuai program, 12) Monitor analisis gas darah, 13) Anjurkan intake cairan yang adekuat jika tidak ada kontraindikasi, 14) Monitor produksi sputum (warna, jumlah, konsistensi), 15) Ajarkan tanda dan gejala gangguan pernapasan yang perlu dilaporkan.
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi jalan napas untuk mempertahankan kebersihan jalan napas.
Kode SLKI: L.04003
Deskripsi : Bersihan jalan napas efektif. Indikator: 1) Jalan napas paten, 2) Bunyi napas bersih, 3) Tidak ada sianosis, 4) Frekuensi napas dalam rentang normal, 5) Irama jantung dalam rentang normal, 6) Mampu mengeluarkan sekret secara mandiri, 7) Batuk efektif, 8) Suara napas tambahan berkurang atau tidak ada.
Kode SIKI: I.08059
Deskripsi : Manajemen jalan napas. Tindakan: 1) Identifikasi faktor penyebab gangguan jalan napas, 2) Monitor status pernapasan (frekuensi, irama, kedalaman, dan usaha napas), 3) Monitor bunyi napas, 4) Auskultasi bunyi napas, 5) Posisikan untuk memaksimalkan ventilasi (misalnya: kepala tempat tidur ditinggikan, posisi semi-Fowler/Fowler), 6) Anjurkan napas dalam efektif, 7) Ajarkan dan bantu latihan batuk efektif, 8) Lakukan fisioterapi dada jika diperlukan, 9) Kelola pemberian oksigen sesuai program, 10) Lakukan penghisapan lendir (suction) jika diperlukan, 11) Kolaborasi pemberian obat bronkodilator dan mukolitik sesuai program, 12) Monitor analisis gas darah, 13) Anjurkan intake cairan yang adekuat jika tidak ada kontraindikasi, 14) Monitor produksi sputum (warna, jumlah, konsistensi), 15) Ajarkan tanda dan gejala gangguan pernapasan yang perlu dilaporkan.
-
Article No. 24900 | 06 Apr 2026
Klinis : Muak, muntah, nyeri perut
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Muak, Muntah, Nyeri Perut
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Mual
Kode SLKI: L.14015
Deskripsi : Mengacu pada diagnosis keperawatan D.0016 (Mual), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) yang relevan adalah L.14015 dengan luaran "Tingkat Mual". Luaran ini dievaluasi berdasarkan skala dari yang paling berat (1) hingga tidak ada (5). Tujuan asuhan keperawatan adalah untuk meningkatkan skor luaran ini, mendekati kondisi "Tidak ada mual" (skor 5). Indikator luaran mencakup: frekuensi mual, durasi mual, peningkatan air liur, berkeringat, perubahan tanda-tanda vital (seperti peningkatan denyut nadi), dan laporan perasaan ingin muntah. Perawat akan memantau indikator-indikator ini secara berkala untuk menilai efektivitas intervensi yang diberikan. Pencapaian luaran ini sangat terkait dengan pengelolaan penyebab dasar (seperti nyeri, ansietas, atau efek pengobatan) dan intervensi langsung untuk mengurangi sensasi mual.
Kode SIKI: I.12028
Deskripsi : Intervensi keperawatan utama untuk mengatasi mual berdasarkan SIKI adalah I.12028: "Manajemen Mual". Intervensi ini didefinisikan sebagai upaya untuk mengurangi atau menghilangkan perasaan ingin muntah. Aktivitas keperawatan yang dilakukan bersifat komprehensif dan meliputi: 1) Memantau frekuensi, durasi, dan faktor pemicu mual. 2) Mengatur posisi pasien untuk meminimalkan aspirasi, seperti posisi semi-Fowler atau miring. 3) Memodifikasi lingkungan untuk mengurangi stimulus yang dapat memperberat mual (bau, suara, visual). 4) Kolaborasi pemberian obat antiemetik sesuai resep dan memantau efek sampingnya. 5) Memberikan edukasi tentang teknik non-farmakologis seperti relaksasi napas dalam, distraksi, atau akupresur. 6) Mengatur pola makan, seperti memberikan makanan dalam porsi kecil tapi sering, menghindari makanan berlemak atau berbumbu kuat, serta memastikan hidrasi yang adekuat dengan cairan dingin atau jahe. Intervensi ini dilakukan secara holistik dengan mempertimbangkan kondisi pasien secara keseluruhan, termasuk tingkat nyeri dan kecemasan yang dapat memperberat mual.
Kondisi: Muak, Muntah, Nyeri Perut
Kode SDKI: D.0092
Deskripsi Singkat: Nyeri Akut
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Untuk diagnosis D.0092 (Nyeri Akut), SLKI yang sesuai adalah L.08001: "Tingkat Nyeri". Luaran ini mengukur tingkat nyeri yang dialami pasien pada skala 1 (nyeri berat) hingga 5 (tidak ada nyeri). Tujuannya adalah menurunkan skala nyeri hingga mencapai tingkat yang dapat diterima atau hilang sama sekali. Indikator penilaian meliputi: laporan verbal pasien tentang lokasi, karakteristik, dan intensitas nyeri (menggunakan skala nyeri); durasi nyeri; perubahan pola perilaku seperti gelisah, menangis, atau melindungi area nyeri; serta tanda fisiologis seperti takikardia, hipertensi, diaforesis, atau perubahan pola napas. Perawat akan melakukan penilaian nyeri secara komprehensif dan berkelanjutan untuk mengevaluasi respons terhadap terapi. Pengendalian nyeri yang efektif juga sering kali berdampak langsung pada pengurangan gejala mual dan muntah, terutama jika nyeri perut menjadi penyebab utamanya.
Kode SIKI: I.11023
Deskripsi : Intervensi keperawatan I.11023: "Manajemen Nyeri" merupakan tindakan utama. Intervensi ini mencakup upaya untuk mengurangi atau menghilangkan nyeri melalui pendekatan farmakologis dan non-farmakologis. Aktivitasnya meliputi: 1) Melakukan pengkajian nyeri yang komprehensif dan menggunakan alat ukur yang valid. 2) Memberikan analgetik sesuai resep (seperti NSAID atau opioid) dengan mempertimbangkan rute pemberian dan memantau efek analgesik serta efek sampingnya. 3) Menerapkan teknik non-farmakologis seperti kompres hangat/dingin pada area perut, distraksi, relaksasi, atau terapi musik. 4) Mengatur posisi untuk kenyamanan. 5) Memberikan edukasi kepada pasien tentang rencana penatalaksanaan nyeri dan metode pelaporan nyeri. 6) Kolaborasi dengan tim medis jika nyeri tidak terkontrol. Manajemen nyeri yang tepat tidak hanya meredakan penderitaan tetapi juga memutus siklus nyeri-ansietas-mual yang sering terjadi bersamaan.
Kondisi: Muak, Muntah, Nyeri Perut
Kode SDKI: D.0018
Deskripsi Singkat: Keseimbangan Volume Cairan
Kode SLKI: L.03003
Deskripsi : Gejala muntah yang berkepanjangan berisiko menyebabkan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit. Oleh karena itu, diagnosis D.0018 (Keseimbangan Volume Cairan) dengan luaran L.03003: "Status Hidrasi" menjadi sangat relevan. Luaran ini dinilai dari skor 1 (sangat berat) hingga 5 (baik). Tujuannya adalah mempertahankan atau mengembalikan status hidrasi yang adekuat. Indikator yang dinilai meliputi: tanda-tanda klinis seperti turgor kulit, kelembaban membran mukosa, rasa haus, produksi urin (output), berat jenis urin, serta tanda vital (denyut nadi, tekanan darah, nadi paradoksus). Perawat akan memantau keseimbangan asupan dan keluaran cairan (intake-output) secara ketat, mengobservasi tanda dehidrasi atau kelebihan cairan, dan menilai respons terhadap terapi rehidrasi. Pencapaian luaran ini krusial untuk mencegah komplikasi seperti hipovolemia atau ketidakseimbangan elektrolit yang dapat memperburuk kondisi pasien.
Kode SIKI: I.08017
Deskripsi : Intervensi I.08017: "Manajemen Keseimbangan Cairan" diimplementasikan untuk mempertahankan atau memulihkan keseimbangan cairan. Aktivitas keperawatannya meliputi: 1) Memantau tanda-tanda vital dan status hidrasi secara berkala. 2) Mengukur dan mencatat asupan dan keluaran cairan secara akurat. 3) Mendorong asupan cairan oral secara bertahap (misalnya, cairan jernih, cairan elektrolit) jika sudah tidak muntah, atau membatasi sementara jika muntah terus-menerus. 4) Kolaborasi pemberian terapi cairan intravena sesuai resep dan memantau kecepatan tetesannya. 5) Memantau hasil pemeriksaan laboratorium (seperti elektrolit, BUN, kreatinin, hematokrit). 6) Memberikan edukasi pada pasien dan keluarga tentang pentingnya hidrasi dan tanda-tanda dehidrasi yang perlu diwaspadai. Intervensi ini dilakukan secara hati-hati, terutama pada pasien dengan nyeri perut yang penyebabnya belum jelas, untuk menghindari komplikasi.
-
Article No. 24901 | 06 Apr 2026
Klinis : mual,muntah,nyeri perut
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Mual, Muntah, Nyeri Perut
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Nyeri Akut
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Nyeri dapat dikontrol. Kriteria hasil: 1) Pasien melaporkan nyeri dapat terkontrol. 2) Menunjukkan perilaku nyeri dapat terkontrol (misalnya, mampu istirahat, tidur, dan aktivitas). 3) Tanda-tanda vital dalam rentang normal. 4) Menunjukkan teknik nonfarmakologi untuk mengatasi nyeri. 5) Menggunakan analgesik sesuai anjuran.
Kode SIKI: I.08079
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Intervensi: 1) Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif meliputi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan faktor presipitasi. 2) Observasi tanda-tanda nonverbal dari ketidaknyamanan, terutama pada pasien yang tidak dapat berkomunikasi secara verbal. 3) Ajarkan dan bantu penggunaan teknik nonfarmakologi (misalnya, distraksi, relaksasi, kompres hangat/dingin, posisi yang nyaman). 4) Kolaborasi pemberian analgesik sesuai resep dan evaluasi efektivitas serta efek sampingnya. 5) Monitor dan catat respons pasien terhadap intervensi pengurangan nyeri. 6) Berikan lingkungan yang tenang dan nyaman untuk meningkatkan kenyamanan. 7) Edukasi pasien dan keluarga tentang rencana manajemen nyeri.
Kondisi: Mual, Muntah, Nyeri Perut
Kode SDKI: D.0019
Deskripsi Singkat: Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan
Kode SLKI: L.06004
Deskripsi : Keseimbangan cairan dapat dipertahankan. Kriteria hasil: 1) Tanda-tanda vital dalam rentang normal. 2) Membran mukosa lembab. 3) Turgor kulit baik. 4) Produksi urine adekuat (output 30-50 mL/jam atau sesuai berat badan). 5) Keseimbangan cairan (intake dan output) seimbang. 6) Tidak ada tanda dehidrasi atau overhidrasi.
Kode SIKI: I.06017
Deskripsi : Manajemen Keseimbangan Cairan. Intervensi: 1) Monitor tanda-tanda vital (terutama nadi dan tekanan darah) sebagai indikator status cairan. 2) Pantau dan catat intake dan output cairan secara akurat setiap 8 jam atau sesuai kebutuhan. 3) Observasi tanda-tanda dehidrasi (misalnya, turgor kulit menurun, mukosa kering, mata cekung, oliguria) atau overhidrasi (edema, distensi vena jugularis, dyspnea). 4) Kolaborasi pemberian terapi cairan intravena sesuai resep dokter. 5) Anjurkan intake cairan per oral bertahap jika mual dan muntah telah terkontrol, dimulai dengan cairan jernih dalam jumlah kecil dan sering. 6) Timbang berat badan harian dengan alat dan waktu yang sama untuk memantau perubahan yang cepat. 7) Ajarkan pasien dan keluarga tanda-tanda ketidakseimbangan cairan yang perlu dilaporkan.
Kondisi: Mual, Muntah, Nyeri Perut
Kode SDKI: D.0034
Deskripsi Singkat: Mual
Kode SLKI: L.03005
Deskripsi : Mual dapat dikontrol. Kriteria hasil: 1) Pasien melaporkan penurunan atau hilangnya perasaan mual. 2) Tidak terjadi muntah atau frekuensi muntah menurun. 3) Mampu menerima intake nutrisi dan cairan sesuai toleransi. 4) Menunjukkan teknik nonfarmakologi untuk mengatasi mual.
Kode SIKI: I.03025
Deskripsi : Manajemen Mual. Intervensi: 1) Kaji karakteristik mual (faktor pemicu, waktu, durasi, intensitas). 2) Identifikasi dan hilangkan faktor pencetus seperti bau menyengat, lingkungan pengap, atau visual tertentu. 3) Anjurkan teknik pernapasan dalam dan lambat untuk mengurangi sensasi mual. 4) Berikan perawatan mulut sebelum dan sesudah makan untuk meningkatkan kenyamanan. 5) Anjurkan posisi duduk atau semi-Fowler selama dan setelah makan, hindari berbaring segera setelah makan. 6) Atur diet: berikan makanan kecil dan sering, hindari makanan berlemak, berminyak, atau terlalu manis, mulai dengan makanan kering dan hambar (seperti biskuit). 7) Kolaborasi pemberian antiemetik sesuai resep dan evaluasi efektivitasnya. 8) Ajarkan teknik relaksasi dan distraksi untuk mengalihkan perhatian dari sensasi mual.