Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 22874 | 19 Nov 2025
Klinis : Ds : keluarga pasien mengatakan " Bayi tampak lemah dan mengantuk"
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakstabilan Suhu Tubuh
Kode SDKI: 00279
Deskripsi Singkat: Risiko Ketidakstabilan Suhu Tubuh adalah keadaan di mana seorang individu mengalami peningkatan risiko ketidakmampuan mempertahankan suhu tubuh dalam rentang normal. Pada bayi baru lahir, khususnya, risiko ini sangat tinggi karena sistem regulasi suhu tubuh mereka yang belum matang. Mekanisme termoregulasi, seperti menggigil dan berkeringat, belum berkembang dengan baik. Bayi memiliki luas permukaan tubuh yang relatif besar dibandingkan dengan massanya, sehingga mereka kehilangan panas lebih cepat. Lemak coklat (brown fat) yang berperan dalam produksi panas non-menggigil juga terbatas. Faktor risiko utama meliputi usia gestasi (prematuritas), lingkungan yang dingin, infeksi, dan status neurologis. Dalam konteks kasus ini, gejala "bayi tampak lemah dan mengantuk" dapat menjadi tanda hipotermia, di mana tubuh bayi telah kehilangan panas sehingga energi yang seharusnya untuk aktivitas dan kesadaran dialihkan untuk upaya mempertahankan suhu inti. Kelemahan dan kantuk adalah manifestasi dari penurunan metabolisme tubuh sebagai respons terhadap suhu rendah. Diagnosis ini menekankan pada aspek "risiko", yang berarti perawat harus melakukan tindakan pencegahan proaktif sebelum ketidakstabilan suhu benar-benar terjadi dan menyebabkan komplikasi yang lebih serius seperti hipoglikemia atau distress pernapasan.
Kode SLKI: 4206
Deskripsi : SLKI 4206 berfokus pada Manajemen Hipetermia. Tujuan dari SLKI ini adalah untuk mencegah atau mengatasi peningkatan suhu tubuh yang berlebihan, namun dalam konteks risiko ketidakstabilan suhu, tujuannya diperluas untuk mempertahankan kestabilan suhu secara umum. Luaran yang diharapkan adalah suhu tubuh bayi tetap dalam rentang normal (36,5°C - 37,5°C secara aksila). Deskripsi lengkapnya mencakup serangkaian tindakan yang terukur. Pertama, memantau suhu tubuh secara berkala, setidaknya setiap 2-4 jam atau sesuai kondisi, untuk mendeteksi perubahan sekecil apapun. Kedua, melakukan tindakan untuk menghangatkan bayi jika suhu tubuh rendah, seperti melakukan kontak kulit ke kulit (rawat gabung) dengan ibu, membungkus bayi dengan selimut hangat dan kering, serta menggunakan topi untuk mengurangi kehilangan panas dari kepala. Ketiga, mengatur suhu lingkungan (suhu ruangan) agar tetap hangat, idealnya antara 24-26°C, dan menghindari penempatan bayi di dekat jendela atau aliran udara (AC). Keempat, memastikan pakaian dan alas tidur bayi selalu kering karena kelembapan dapat mempercepat kehilangan panas melalui evaporasi. Kelima, memandikan bayi dengan air hangat dan segera mengeringkannya setelah mandi untuk mencegah hipotermia. Keenam, mengedukasi orang tua tentang pentingnya menjaga kehangatan bayi, mengenali tanda-tanda hipotermi (seperti kaki dan tangan teraba dingin, lemah, malas menyusu), serta cara melakukan perawatan kanguru yang benar. Tindakan-tindakan ini bersifat preventif dan terapeutik, bertujuan untuk menciptakan sebuah "lingkungan termal netral" di mana bayi tidak perlu mengeluarkan energi ekstra untuk mempertahankan suhu tubuhnya.
Kode SIKI: 4206
Deskripsi : SIKI 4206 adalah intervensi keperawatan untuk Manajemen Hipertermia, yang dalam penerapannya untuk risiko hipotermia difokuskan pada upaya pencegahan kehilangan panas dan mempertahankan suhu tubuh normal. Intervensi ini bersifat komprehensif dan berkelanjutan. Langkah pertama adalah Pengkajian: Perawat mengkaji faktor risiko seperti usia gestasi, berat badan lahir, dan kondisi lingkungan. Mengukur suhu tubuh dengan termometer yang akurat dan membandingkannya dengan rentang normal. Mengobservasi tanda klinis seperti warna kulit (akrosianosis), aktivitas (lemah, letargi), dan kekuatan menyusu. Langkah kedua adalah Tindakan Pencegahan: Segera setelah pengkajian, perawat melakukan tindakan untuk meminimalkan kehilangan panas. Ini termasuk mengeringkan bayi dengan seksama segera setelah lahir atau mandi, membungkusnya dengan selimut hangat yang telah disiapkan, dan memakaikan topi. Melakukan inisiasi menyusu dini (IMD) tidak hanya untuk pemberian nutrisi tetapi juga untuk memanfaatkan kehangatan tubuh ibu. Menganjurkan dan membantu ibu untuk melakukan rawat gabung atau perawatan kanguru secara kontinu, karena ini adalah metode paling efektif untuk menjaga suhu tubuh bayi. Langkah ketiga adalah Monitoring dan Evaluasi: Perawat terus memantau suhu tubuh bayi sesuai jadwal yang ditetapkan dan mencatat setiap fluktuasi. Memantau tanda-tanda vital lainnya seperti denyut jantung dan pernapasan, karena hipotermia dapat menyebabkan bradikardia dan depresi pernapasan. Mengevaluasi efektivitas selimut, pakaian, dan pengaturan suhu ruangan. Langkah keempat adalah Edukasi: Perawat memberikan pendidikan kesehatan kepada keluarga, terutama orang tua, tentang pentingnya menjaga kehangatan bayi, cara memandikan yang aman, tanda-tanda bahaya yang harus diwaspadai, dan bagaimana merespons jika bayi teraba dingin. Edukasi ini bertujuan untuk memberdayakan keluarga sehingga perawatan dapat berlanjut di rumah. Seluruh intervensi ini didokumentasikan dengan baik untuk memastikan kesinambungan asuhan dan evaluasi hasil.
-
Article No. 22875 | 19 Nov 2025
Klinis : Pasien Ny. Sunarti berusia 43 tahun dirawat di ruang rawat inap Sumbadra (akut) RSJD dr. Arif Zainuddin dengan diagnosa medis Skizofrenia tak terdiferensiasi (F20.3). Pasien rawat ulang dari Blora dengan onset 20 tahun dan tidak rutin kontrol obat. Putra kedua Ny. Sunarti telah meninggal dunia setelah 3 hari dilahirkan. Pada hari saat dilakukan pengkajian merupakan hari ke 2 pasien dirawat di ruang Sumbadra. Pasien dibawa ke RSJD oleh tetangga dan dokter spesialis jiwa dari Puskesmas Jiken dengan alasan mengamuk, marah-marah, merusak barang dan meresahkan warga. Sebelum dibawa ke RSJD pasien mendapat injeksi diazepam 1amp IV dan 1 amp IM dari Puskesmas setempat. Hasil pengkajian pada tanggal 14 November 2025 jam 07.00 WIB didapati, pasien tampak bingung, verbal keras, cepat, dan kacau. Pasien tampak kesal, mondar-mandir, dan sesekali berbicara sendiri. Pasien mengatakan sering melihat Sardi (tentara) ingin membunuhnya. Respon pasien adalah marah, mengamuk, mencak-mencak, dan melempar barang. Hasil pemeriksaan tanda vital didapatkan; tekanan darah 108/87; nadi 90x/menit; suhu 36,7°C; pernapasan 20x/menit; SpO2 99%. Terapi psikofarmako yang diperoleh Ny. Sunarti adalah: risperidone 2x3mg, THP 2x2mg, CP2 2x100mg.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Perilaku Kekerasan
Kode SDKI: D.0035
Deskripsi Singkat: Perilaku Kekerasan adalah keadaan di mana seorang individu menunjukkan perilaku yang dapat menyebabkan kerusakan fisik dan psikologis, baik terhadap diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan. Pada kasus Ny. Sunarti, kondisi ini sangat jelas terlihat dari data pengkajian yang menunjukkan ia mengamuk, marah-marah, merusak barang, mencak-mencak, dan melempar barang. Perilaku ini didorong oleh gejala psikotik aktif, khususnya halusinasi penglihatan dan mungkin juga persepsi delusional bahwa ada orang (Sardi, sang tentara) yang ingin membunuhnya. Persepsi yang terdistorsi ini menimbulkan rasa takut, ancaman, dan kemarahan yang sangat besar, yang kemudian diekspresikan melalui perilaku kekerasan sebagai bentuk pertahanan diri. Faktor pencetus lain termasuk riwayat duka cita yang tidak terselesaikan (kematian putra kedua) dan ketidakpatuhan minum obat yang menyebabkan kekambuhan. Perilaku kekerasan bukan hanya merupakan ancaman bagi keselamatan orang lain dan perawat, tetapi juga merupakan indikasi dari penderitaan dan disorganisasi mental yang parah pada pasien, yang memerlukan intervensi segera untuk menciptakan rasa aman dan menurunkan agitasi.
Kode SLKI: L.03115
Deskripsi : SLKI L.03115 berfokus pada pengendalian perilaku kekerasan. Tujuan utamanya adalah agar pasien dapat mengendalikan perilaku kekerasannya. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: (1) Pasien tidak menyakiti diri sendiri atau orang lain, yang merupakan prioritas utama dalam manajemen keperawatan. (2) Pasien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan, dalam hal ini adalah halusinasi dan ide delusional yang dialaminya. (3) Pasien dapat mengungkapkan perasaan marah dan kesal secara verbal yang konstruktif, bukan melalui tindakan fisik. (4) Pasien dapat menunjukkan perilaku yang dapat diterima secara sosial dan tidak merusak lingkungan sekitarnya. (5) Pasien dapat menggunakan strategi koping adaptif untuk mengelola amarah dan ansietasnya, seperti meminta waktu sendiri atau berbicara dengan perawat ketika merasa kesal. Pada Ny. Sunarti, pencapaian kriteria ini akan ditandai dengan berkurangnya intensitas dan frekuensi marah-marah, berhentinya aksi melempar dan merusak barang, serta kemampuan untuk berkomunikasi tentang halusinasinya tanpa langsung bereaksi dengan kekerasan.
Kode SIKI: I.03259
Deskripsi : SIKI I.03259 merupakan intervensi keperawatan untuk mengelola perilaku kekerasan. Intervensi ini bersifat komprehensif dan meliputi beberapa tindakan kunci: (1) Mengidentifikasi faktor-faktor yang memicu perilaku kekerasan pada pasien. Dari kasus, pemicunya adalah halusinasi visual tentang "Sardi" dan mungkin juga kondisi lingkungan yang dirasakan mengancam. (2) Memindahkan benda-benda yang berpotensi membahayakan dari sekitar pasien untuk meminimalkan risiko cedera. (3) Menempatkan pasien di ruangan yang tenang dan minim stimulasi untuk mengurangi agitasi dan kecemasan. (4) Menggunakan pendekatan yang tenang dan tidak mengancam saat berinteraksi dengan pasien. Perawat harus berbicara dengan suara lembut, nada rendah, dan bahasa tubuh yang netral. (5) Memberikan pengobatan sesuai program terapi (dalam hal ini risperidone, THP, dan CPZ) dan memantau efek serta efek sampingnya. (6) Mengajarkan teknik relaksasi, seperti latihan napas dalam, untuk membantu pasien menenangkan diri saat merasa gelisah. (7) Melibatkan pasien dalam aktivitas terapeutik yang menyalurkan energi secara positif. (8) Melakukan observasi ketat dan kontinu terhadap perilaku pasien untuk mengantisipasi eskalasi kekerasan. Intervensi ini tidak hanya bersifat restriktif, tetapi juga terapeutik, bertujuan untuk membantu pasien mendapatkan kembali kendali atas perilakunya dan memahami pengalaman internalnya.
-
Article No. 22876 | 19 Nov 2025
Klinis : Pasien Ny. Sunarti berusia 43 tahun dirawat di ruang rawat inap Sumbadra (akut) RSJD dr. Arif Zainuddin dengan diagnosa medis Skizofrenia tak terdiferensiasi (F20.3). Pasien rawat ulang dari Blora dengan onset 20 tahun dan tidak rutin kontrol obat. Putra kedua Ny. Sunarti telah meninggal dunia setelah 3 hari dilahirkan. Pada hari saat dilakukan pengkajian merupakan hari ke 2 pasien dirawat di ruang Sumbadra. Pasien dibawa ke RSJD oleh tetangga dan dokter spesialis jiwa dari Puskesmas Jiken dengan alasan mengamuk, marah-marah, merusak barang dan meresahkan warga. Sebelum dibawa ke RSJD pasien mendapat injeksi diazepam 1amp IV dan 1 amp IM dari Puskesmas setempat. Hasil pengkajian pada tanggal 14 November 2025 jam 07.00 WIB didapati, pasien tampak bingung, verbal keras, cepat, dan kacau. Pasien tampak kesal, mondar-mandir, dan sesekali berbicara sendiri. Pasien mengatakan sering melihat Sardi (tentara) ingin membunuhnya. Respon pasien adalah marah, mengamuk, mencak-mencak, dan melempar barang. Hasil pemeriksaan tanda vital didapatkan; tekanan darah 108/87; nadi 90x/menit; suhu 36,7°C; pernapasan 20x/menit; SpO2 99%. Terapi psikofarmako yang diperoleh Ny. Sunarti adalah: risperidone 2x3mg, THP 2x2mg, CP2 2x100mg.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: ```html
Diagnosa Keperawatan, SDKI, SLKI, dan SIKI Berdasarkan Kondisi Pasien Ny. Sunarti
Ringkasan Kondisi Pasien Ny. Sunarti
Ny. Sunarti, 43 tahun, dirawat di RSJD dr. Arif Zainuddin dengan diagnosa medis Skizofrenia tak terdiferensiasi (F20.3). Pasien memiliki riwayat onset 20 tahun dan tidak rutin kontrol obat. Riwayat trauma kehilangan putra kedua setelah 3 hari dilahirkan. Pasien dibawa ke RSJD karena mengamuk, marah-marah, merusak barang, dan meresahkan warga. Pada pengkajian hari ke-2 perawatan (14 November 2025), pasien tampak bingung, verbal keras, cepat, dan kacau. Pasien tampak kesal,
Article No. 22877 | 19 Nov 2025
Klinis : Pasien berusia 43 tahun dirawat di ruang rawat inap Sumbadra (akut) RSJD dr. Arif Zainuddin dengan diagnosa medis Skizofrenia tak terdiferensiasi (F20.3). Pasien rawat ulang dari Blora dengan onset 20 tahun dan tidak rutin kontrol obat. Putra kedua Ny. Sunarti telah meninggal dunia setelah 3 hari dilahirkan. Pada hari saat dilakukan pengkajian merupakan hari ke 2 pasien dirawat di ruang Sumbadra. Pasien dibawa ke RSJD oleh tetangga dan dokter spesialis jiwa dari Puskesmas Jiken dengan alasan mengamuk, marah-marah, merusak barang dan meresahkan warga. Sebelum dibawa ke RSJD pasien mendapat injeksi diazepam 1amp IV dan 1 amp IM dari Puskesmas setempat. Hasil pengkajian pada tanggal 14 November 2025 jam 07.00 WIB didapati, pasien tampak bingung, verbal keras, cepat, dan kacau. Pasien tampak kesal, mondar-mandir, dan sesekali berbicara sendiri. Pasien mengatakan sering melihat Sardi (tentara) ingin membunuhnya. Respon pasien adalah marah, mengamuk, mencak-mencak, dan melempar barang. Hasil pemeriksaan tanda vital didapatkan; tekanan darah 108/87; nadi 90x/menit; suhu 36,7°C; pernapasan 20x/menit; SpO2 99%. Terapi psikofarmako yang diperoleh Ny. Sunarti adalah: risperidone 2x3mg, THP 2x2mg, CP2 2x100mg.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: ```html
Diagnosa Keperawatan, Luaran, dan Intervensi Keperawatan Berdasarkan SDKI, SLKI, SIKI
Berdasarkan data pengkajian pada Ny. Sunarti, 43 tahun, dengan diagnosa medis Skizofrenia tak terdiferensiasi (F20.3) yang menunjukkan perilaku mengamuk, marah-marah, merusak barang, meresahkan warga, serta halusinasi visual ("melihat Sardi (tentara) ingin membunuhnya"), maka diagnosa keperawatan utama yang dapat ditegakkan adalah Perilaku Kekerasan yang berhubungan dengan Halusinasi (Persepsi Sensori Terganggu).
1. Diagnosa Keperawatan (SDKI)
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia) adalah panduan yang digunakan perawat untuk menegakkan diagnosis keperawatan berdasarkan data klinis pasien. Diagnosis keperawatan ini menggambarkan respons manusia terhadap masalah kesehatan aktual atau potensial.
Komponen
Detail
Kode SDKI
D.0143
Definisi
Perilaku Kekerasan adalah tindakan agresif yang diarahkan pada diri sendiri, orang lain, atau lingkungan, yang dapat menyebabkan cedera fisik atau psikologis. Pada kasus Ny. Sunarti, perilaku ini dimanifestasikan melalui mengamuk, marah-marah, merusak barang, meresahkan warga, serta melempar barang.
Penyebab (Etiologi)
Halusinasi (Persepsi Sensori Terganggu). Pasien mengatakan "sering melihat Sardi (tentara) ingin membunuhnya", yang memicu respons marah, mengamuk, mencak-mencak, dan melempar barang. Halusinasi merupakan gangguan persepsi sensori yang menyebabkan individu mengalami sensasi tanpa adanya stimulus eksternal yang nyata, dan seringkali menjadi pemicu perilaku kekerasan pada pasien skizofrenia.
Data Mayor (Subjektif & Objektif)
- Subjektif: Pasien mengatakan "sering melihat Sardi (tentara) ingin membunuhnya".
- Objektif:
- Mengamuk, marah-marah, merusak barang, meresahkan warga (riwayat).
- Tampak bingung, verbal keras, cepat, dan kacau.
-
Article No. 22878 | 19 Nov 2025
Klinis : Pasien berusia 43 tahun dirawat di ruang rawat inap Sumbadra (akut) RSJD dr. Arif Zainuddin dengan diagnosa medis Skizofrenia tak terdiferensiasi (F20.3). Pasien rawat ulang dari Blora dengan onset 20 tahun dan tidak rutin kontrol obat. Putra kedua pasien telah meninggal dunia setelah 3 hari dilahirkan. Pada hari saat dilakukan pengkajian merupakan hari ke 2 pasien dirawat di ruang Sumbadra. Pasien dibawa ke RSJD oleh tetangga dan dokter spesialis jiwa dari Puskesmas Jiken dengan alasan mengamuk, marah-marah, merusak barang dan meresahkan warga. Sebelum dibawa ke RSJD pasien mendapat injeksi diazepam 1amp IV dan 1 amp IM dari Puskesmas setempat. Hasil pengkajian pada tanggal 14 November 2025 jam 07.00 WIB didapati, pasien tampak bingung, verbal keras, cepat, dan kacau. Pasien tampak kesal, mondar-mandir, dan sesekali berbicara sendiri. Pasien mengatakan sering melihat tentara ingin membunuhnya. Respon pasien adalah marah, mengamuk, mencak-mencak, dan melempar barang. Hasil pemeriksaan tanda vital didapatkan; tekanan darah 108/87; nadi 90x/menit; suhu 36,7°C; pernapasan 20x/menit; SpO2 99%. Terapi psikofarmako yang diperoleh Ny. Sunarti adalah: risperidone 2x3mg, THP 2x2mg, CP2 2x100mg.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Sebagai seorang pakar keperawatan, berdasarkan data pengkajian yang telah disampaikan, pasien Ny. Sunarti menunjukkan gejala dan tanda yang sangat relevan dengan diagnosis keperawatan jiwa. Prioritas utama adalah mengatasi risiko perilaku kekerasan yang dapat membahayakan diri sendiri, orang lain, dan lingkungan
-
Article No. 22879 | 19 Nov 2025
Klinis : Pasien berusia 43 tahun dirawat di ruang rawat inap Sumbadra (akut) RSJD dr. Arif Zainuddin dengan diagnosa medis Skizofrenia tak terdiferensiasi (F20.3). Pasien rawat ulang dari Blora dengan onset 20 tahun dan tidak rutin kontrol obat. Putra kedua pasien telah meninggal dunia setelah 3 hari dilahirkan. Pada hari saat dilakukan pengkajian merupakan hari ke 2 pasien dirawat di ruang Sumbadra. Pasien dibawa ke RSJD oleh tetangga dan dokter spesialis jiwa dari Puskesmas Jiken dengan alasan mengamuk, marah-marah, merusak barang dan meresahkan warga. Sebelum dibawa ke RSJD pasien mendapat injeksi diazepam 1amp IV dan 1 amp IM dari Puskesmas setempat. Hasil pengkajian pada tanggal 14 November 2025 jam 07.00 WIB didapati, pasien tampak bingung, verbal keras, cepat, dan kacau. Pasien tampak kesal, mondar-mandir, dan sesekali berbicara sendiri. Pasien mengatakan sering melihat Sardi (tentara) ingin membunuhnya. Pasien mengatakan mendengar suara yang mengancam ingin membunuhnya. Pasien mengatakan tersinggung dengan tuduhan tetangga yang mengatakan bahwa ia memiliki hutang dan suka main dengan laki-laki sampai malam hari, padahal yang dilakukan adalah mengikuti kumpulan pengajian didaerah yang cukup jauh. Respon pasien adalah marah, mengamuk, mencak-mencak, dan melempar barang. Hasil pemeriksaan tanda vital didapatkan; tekanan darah 108/87; nadi 90x/menit; suhu 36,7°C; pernapasan 20x/menit; SpO2 99%. Terapi psikofarmako yang diperoleh Ny. Sunarti adalah: risperidone 2x3mg, THP 2x2mg, CP2 2x100mg.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: ```html