Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 23091 | 01 Dec 2025
Klinis : Seorang pasien dirawat di rumah sakit dengan demam berdarah dengue (DBD). Pasien mengalami demam selama lima hari dengan suhu 39°C. Jumlah trombosit 30.000/µL; pasien tampak pucat, terdapat petekie positif, turgor kulit buruk, produksi urin berkurang, dan dilaporkan lemas serta pusing. Tanda-tanda vital: TD 100/60 mmHg, denyut nadi 60 kali/menit, laju pernapasan 20 kali/menit. Keseimbangan cairan -500 ml.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Defisit Volume Cairan
Kode SDKI: B.a.1
Deskripsi Singkat: Defisit Volume Cairan adalah keadaan dimana seorang individu mengalami atau berisiko mengalami penurunan volume cairan intravaskular, interstitial, dan/atau intraselular. Pada pasien Demam Berdarah Dengue (DBD), kondisi ini terjadi secara dominan akibat peningkatan permeabilitas kapiler yang menyebabkan kebocoran plasma (plasma leakage) dari intravaskular ke ruang interstitial. Hal ini mengakibatkan hemokonsentrasi, penurunan volume darah yang bersirkulasi, dan akhirnya syok hipovolemik jika tidak ditangani dengan tepat. Tanda dan gejala yang mendukung diagnosa ini pada pasien meliputi demam tinggi yang mempercepat kehilangan cairan melalui evaporasi, turgor kulit yang buruk yang menunjukkan dehidrasi pada jaringan, produksi urin yang berkurang (oliguria) sebagai kompensasi tubuh untuk mempertahankan cairan, tekanan darah yang cenderung rendah (100/60 mmHg), dan keseimbangan cairan negatif (-500 ml) yang secara objektif membuktikan bahwa output cairan lebih besar daripada input. Penurunan jumlah trombosit yang drastis (30.000/µL) juga berkontribusi pada risiko perdarahan yang dapat memperparah defisit volume cairan. Diagnosa ini menjadi fokus utama karena komplikasi paling berbahaya dari DBD adalah syok akibat kebocoran plasma.
Kode SLKI: B.a.1.1
Deskripsi : SLKI dengan kode B.a.1.1 berfokus pada pemantauan status hidrasi dan keseimbangan cairan secara ketat dan berkelanjutan. Tujuan utamanya adalah mendeteksi secara dini tanda-tanda memburuknya defisit cairan dan mencegah terjadinya syok. Intervensi keperawatan yang spesifik meliputi: Memantau tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, suhu, pernapasan) setiap 1-2 jam atau lebih sering tergantung kondisi. Tekanan darah 100/60 mmHg dan nadi 60 kali/menit (yang mungkin merupakan nadi lemah dan lambat sebagai tanda kompensasi) harus diawasi ketat untuk mendeteksi tren penurunan. Memonitor balance cairan secara akurat dengan mencatat semua asupan (oral dan parenteral) dan output (urin, muntah, diarrhoea). Keseimbangan -500 ml harus menjadi alarm untuk meningkatkan terapi cairan. Mengobservasi tanda-tanda klinis dehidrasi seperti turgor kulit, keadaan membran mukosa (mulut kering), rasa haus, dan mata cekung. Pada DBD, pemantauan hematokrit (Ht) sangat krusial; peningkatan Ht yang progresif menunjukkan hemokonsentrasi akibat kebocoran plasma. Memantau produksi urin setiap jam, dimana output kurang dari 30-50 ml/jam pada dewasa mengindikasikan perfusi ginjal yang buruk akibat hipovolemia. Memantau adanya perdarahan lebih lanjut seperti petekie baru, epistaksis, atau perdarahan gusi. Seluruh data pemantauan ini harus didokumentasikan dengan teliti untuk mengevaluasi efektivitas terapi dan menjadi dasar pengambilan keputusan klinis.
Kode SIKI: B.a.1.1.1
Deskripsi : SIKI B.a.1.1.1 merupakan kriteria hasil yang diharapkan setelah intervensi keperawatan dilaksanakan. Kriteria ini mengevaluasi keberhasilan dalam mengatasi atau mengendalikan defisit volume cairan. Hasil yang diharapkan meliputi: Keseimbangan cairan menjadi seimbang atau positif, yang ditunjukkan dengan intake dan output yang seimbang dalam 24 jam, dan tidak ada lagi akumulasi defisit yang signifikan. Tanda-tanda vital stabil dalam rentang normal yang dapat diterima untuk pasien, yaitu tekanan darah sistolik di atas 100 mmHg, denyut nadi antara 60-100 kali/menit dan kuat, serta laju pernapasan normal. Tanda-tanda dehidrasi membaik secara klinis, ditunjukkan dengan kembalinya turgor kulit dengan baik (saat dicubit, kulit segera kembali normal), membran mukosa lembab, dan mata tidak cekung. Produksi urin kembali adekuat, yaitu lebih dari 0,5 ml/kg berat badan/jam, yang menandakan bahwa perfusi ginjal telah membaik. Nilai hematokrit stabil atau menunjukkan tren penurunan, yang mengindikasikan bahwa kebocoran plasma telah teratasi atau terkontrol. Pasien tidak menunjukkan tanda-tanda syok seperti gelisah, dingin, kulit lembab, atau penurunan kesadaran. Selain parameter fisiologis, pasien juga diharapkan dapat memahami pentingnya asupan cairan dan melaporkan jika terjadi keluhan seperti pusing atau lemas yang memberat. Pencapaian kriteria hasil ini menunjukkan bahwa intervensi keperawatan dan medis telah berhasil dalam menstabilkan kondisi hemodinamik pasien dan mencegah progresivitas menuju syok dengue.
-
Article No. 23092 | 01 Dec 2025
Klinis : Diabetes gula darah meningkat
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Diabetes gula darah meningkat
Kode SDKI: D.0069
Deskripsi Singkat: Risiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah
Kode SLKI: L.03132
Deskripsi : SLKI untuk diagnosa ini berfokus pada pemantauan dan pengendalian kadar glukosa darah. Perawat akan memantau tanda dan gejala hiperglikemia (seperti poliuria, polidipsia, penglihatan kabur, dan kelelahan) serta hipoglikemia (seperti diaforesis, tremor, palpitasi, dan konfusi). Tindakan mencakup pemantauan kadar glukosa darah secara berkala sesuai protokol, mendokumentasikan fluktuasi yang signifikan, dan melaporkan temuan yang tidak normal kepada tim medis. Perawat juga akan memastikan pasien memahami hubungan antara diet, aktivitas fisik, obat-obatan (insulin atau oral), dan kadar glukosa darah. Edukasi diberikan mengenai teknik injeksi insulin yang benar, rotasi area injeksi, dan penanganan reaksi hipoglikemia. Peran perawat sangat krusial dalam mengidentifikasi faktor risiko yang dapat memperburuk ketidakstabilan glukosa, seperti stres, penyakit akut, atau ketidakpatuhan terhadap terapi, serta melakukan kolaborasi untuk penyesuaian regimen terapeutik.
Kode SIKI: I.01224
Deskripsi : SIKI ini berpusat pada manajemen mandiri dan pencegahan komplikasi jangka panjang. Intervensi dimulai dengan pendidikan kesehatan yang komprehensif dan individual sesuai kebutuhan dan kesiapan belajar pasien. Perawat akan mengajarkan teknik pemantauan glukosa darah mandiri, termasuk cara menggunakan glukometer, interpretasi hasil, dan jadwal pemantauan yang dianjurkan. Edukasi nutrisi sangat mendalam, mencakup prinsip diet seimbang, penghitungan karbohidrat, pemilihan makanan dengan indeks glikemik rendah, dan perencanaan makan. Perawat juga melatih pasien untuk mengenali gejala dini hiperglikemia dan hipoglikemia serta tindakan yang harus segera dilakukan. Intervensi penting lainnya adalah perawatan kaki diabetik, meliputi edukasi untuk memeriksa kaki setiap hari, merawat kaki dengan hati-hati, memilih alas kaki yang tepat, dan menghindari cedera. Perawat akan mendorong aktivitas fisik teratur yang aman dan sesuai kondisi pasien, serta memfasilitasi konseling untuk mengatasi masalah psikososial seperti ansietas, depresi, atau beban finansial akibat penyakit kronis. Membantu pasien mengembangkan sistem dukungan sosial dan memastikan keteraturan dalam kontrol rutin juga merupakan bagian integral dari SIKI ini untuk mencapai kualitas hidup yang optimal.
-
Article No. 23093 | 01 Dec 2025
Klinis : Diabetes gula darah meningkat
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Diabetes dengan Gula Darah Meningkat
Kode SDKI: D.0060
Deskripsi Singkat: Risiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah
Kode SLKI: L.03115
Deskripsi : SLKI dengan kode L.03115 berfokus pada upaya untuk mencapai dan mempertahankan kestabilan kadar glukosa darah. Intervensi keperawatan ini dirancang komprehensif, dimulai dari pemantauan ketat kadar glukosa darah sesuai protokol, baik secara mandiri oleh pasien maupun dengan bantuan tenaga kesehatan. Perawat akan mendemonstrasikan dan memastikan pasien serta keluarganya mampu melakukan teknik pemeriksaan gula darah yang benar, termasuk cara menggunakan glukometer, mengambil sampel darah, dan mencatat hasilnya. Manajemen diet merupakan pilar utama, dimana perawat berkolaborasi dengan ahli gizi untuk menyusun rencana makan individu yang sesuai dengan kebutuhan kalori, komposisi nutrisi seimbang (karbohidrat kompleks, serat, protein, lemak baik), dan jadwal makan yang teratur. Pasien dan keluarga akan diedukasi tentang prinsip diet diabetes, cara menghitung estimasi karbohidrat, serta pemilihan makanan yang tepat. Pada aspek aktivitas fisik, perawat akan membantu pasien menyusun program latihan yang aman dan realistis, dengan mempertimbangkan kondisi fisik, usia, dan adanya komplikasi, serta mengajarkan tentang tanda-tanda hipoglikemia selama beraktivitas. Manajemen obat-obatan juga menjadi perhatian serius, dimana perawat memastikan kepatuhan dan pemahaman pasien mengenai jenis obat (hipoglikemik oral atau insulin), dosis, waktu pemberian, cara penyuntikan insulin yang benar (jika diperlukan), rotasi area injeksi, dan penyimpanan obat. Edukasi tentang tanda dan gejala hiperglikemia (seperti poliuria, polidipsi, polifagi, lemas, pandangan kabur) dan hipoglikemia (seperti keringat dingin, gemetar, lemas, pusing, jantung berdebar) serta langkah penanganan awal sangat ditekankan. Selain itu, perawat akan mempromosikan perilaku hidup sehat seperti manajemen stres, tidur yang cukup, perawatan kaki secara rutin untuk mencegah ulkus diabetik, dan menghindari faktor risiko seperti merokok dan konsumsi alkohol berlebihan. Tujuan akhir dari seluruh rangkaian intervensi ini adalah agar pasien mencapai nilai gula darah dalam rentang target yang ditetapkan, mampu melakukan perawatan mandiri (self-management) dengan percaya diri, dan secara signifikan menurunkan risiko terjadinya komplikasi akut maupun kronis.
Kode SIKI: I.08059
Deskripsi : SIKI dengan kode I.08059 merupakan indikator keberhasilan dari intervensi keperawatan yang telah dilakukan, yang diukur melalui pencapaian kriteria hasil yang spesifik dan terobservasi. Kriteria utama adalah kadar glukosa darah puasa dan 2 jam postprandial yang konsisten berada dalam rentang target yang telah ditetapkan secara individual untuk pasien tersebut. Pasien mampu mendemonstrasikan teknik pemeriksaan gula darah mandiri dengan benar dan akurat, termasuk kalibrasi alat, pengambilan sampel darah, pembacaan hasil, dan pencatatan yang rapi. Dari sisi pengetahuan, pasien dapat menyebutkan dan menjelaskan dengan jelas jenis, dosis, waktu, dan cara pemberian obat anti-diabetes yang digunakannya, serta tindakan yang harus dilakukan jika lupa minum obat. Pasien juga mampu merencanakan dan memilih menu makanannya sendiri sesuai dengan prinsip diet diabetes yang telah diajarkan, termasuk memperhatikan porsi, jenis karbohidrat, dan jadwal makan. Kemampuan untuk mengenali tanda dan gejala hipoglikemia dan hiperglikemia serta langkah-langkah penanganan awal yang tepat juga menjadi indikator keberhasilan yang krusial. Perilaku hidup sehat terintegrasi dalam keseharian pasien, ditunjukkan dengan keteraturan dalam menjalankan aktivitas fisik, melakukan perawatan kaki secara mandiri untuk inspeksi adanya luka atau lecet, serta menghindari faktor risiko seperti merokok. Kepatuhan pasien dalam mengikuti jadwal kontrol dan konsultasi dengan tenaga kesehatan juga menjadi indikator penting. Secara keseluruhan, keberhasilan ditandai dengan peningkatan kualitas hidup pasien, dimana pasien melaporkan tidak adanya keluhan seperti lemas berlebihan, sering haus, atau sering buang air kecil, serta menunjukkan kepercayaan diri yang tinggi dalam mengelola penyakitnya secara mandiri. Stabilitas kondisi ini menunjukkan bahwa pasien telah berhasil menginternalisasi pengetahuan dan keterampilan yang diberikan menjadi sebuah perilaku berkelanjutan untuk mengendalikan penyakit diabetesnya.
-
Article No. 23094 | 01 Dec 2025
Klinis : Kasus: Seorang anak laki-laki, bernama Agung berusia 14 tahun. Beberapa hari ini mengalami demam tinggi 38,8 C, yang tidak turun selama 5 hari berturut-turut, lemas, pucat, mual-mual dan muntah 3 kali dalam sehari, sesak nafas ringan, banyak sariawan, dan nyeri pada kaki dan sendi makan menurun. Pasien nampak lemah, ada ruam kebiruan pada kulit, muncul bintik-bintik merah kecil di bawah kulit (petechiae), gusi mudah berdarah dan mimisan berulang. Didapatkan hasil pemeriksaan Bb/Tb: 41 kg/ 150 cm (Underweight) Denyut jantung: 110 denyut per menit Tekanan darah: 90/60 mmHG Hb: 7,8 gr/dL Trombosit: 100.000/µL Leukosit: 100.000/µL Frekuensi napas: 25 kali per menit Saturasi oksigen: 93% Ia bilang tidak ada nafsu makan dan berat badan menurun 3 kg dalam sebulan. Orang tuanya nampak cemas dan khawatir mengenai kondisi anaknya.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Syok Hipovolemik dan Perfusi Jaringan Tidak Efektif pada Leukemia Akut dengan Komplikasi Infeksi dan Trombositopenia
Kode SDKI: D.0015
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan volume sirkulasi darah yang dapat mengancam jiwa, berhubungan dengan kehilangan darah aktif atau potensial, dehidrasi, atau perpindahan cairan.
Kode SLKI: L.03114
Deskripsi : Tanda-tanda vital dalam rentang normal untuk usia; membran mukosa lembab; pengisian kapiler kurang dari 3 detik; haluaran urine adekuat; tidak ada pusing atau ortostatik; turgor kulit baik.
Kode SIKI: I.01270
Deskripsi : Pantau tanda-tanda vital dan status hemodinamik; pantau tanda-tanda perdarahan (kulit, mukosa, feses, urine, muntah); pantau keseimbangan cairan (intake-output, berat badan); kolaborasi pemberian cairan intravena sesuai program; kolaborasi pemberian transfusi komponen darah (seperti PRC, trombosit) sesuai indikasi; lakukan tindakan untuk mencegah perdarahan (hindari trauma, gunakan sikat gigi lembut); edukasi pasien/keluarga tentang tanda-tanda perdarahan dan syok yang harus dilaporkan.
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: D.0098
Deskripsi Singkat: Risiko meningkatnya kerentanan terhadap invasi patogen, berhubungan dengan pertahanan tubuh primer tidak adekuat (kulit rusak, jaringan mukosa rusak, aksi silia menurun, sekret tubuh pH berubah, mobilitas menurun), pertahanan tubuh sekunder tidak adekuat (penurunan hemoglobin, leukositosis, leukopenia), imunosupresi, malnutrisi, prosedur invasif.
Kode SLKI: L.03061
Deskripsi : Bebas dari tanda dan gejala infeksi; tanda-tanda vital dalam rentang normal; hasil laboratorium penunjang (seperti leukosit) dalam rentang normal; luka/tusukan IV bersih, kering, tidak kemerahan; mampu mendemonstrasikan perilaku untuk mencegah infeksi.
Kode SIKI: I.01249
Deskripsi : Pantau tanda-tanda infeksi (demam, kemerahan, drainage purulen); pantau hasil laboratorium (hitung leukosit, diferensial); lakukan cuci tangan ketat sebelum dan sesudah kontak pasien; lakukan perawatan kulit dan membran mukosa (termasuk perawatan mulut untuk sariawan) dengan teknik steril/aseptik; batasi pengunjung yang sakit; kolaborasi pemberian antibiotik/antimikroba sesuai program; edukasi pasien/keluarga tentang tanda infeksi dan pentingnya kebersihan tangan; anjurkan diet tinggi protein dan vitamin untuk penyembuhan.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0029
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensori dan emosional tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, dengan onset mendadak atau lambat, intensitas ringan hingga berat, dengan durasi kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: L.03012
Deskripsi : Melaporkan nyeri terkontrol; skala nyeri menurun; tanda vital stabil; mampu menunjukkan teknik nonfarmakologi untuk mengatasi nyeri; ekspresi wajah rileks, dapat beristirahat/tidur.
Kode SIKI: I.09005
Deskripsi : Kaji nyeri (lokasi, karakteristik, durasi, faktor pencetus, skala); observasi reaksi nonverbal (ekspresi wajah, postur tubuh, gelisah); ciptakan lingkungan yang nyaman dan tenang; ajarkan teknik distraksi dan relaksasi; kolaborasi pemberian analgetik sesuai program (dengan pertimbangan status trombosit); lakukan reposisi dan dukungan posisi yang nyaman pada area nyeri (kaki dan sendi); berikan kompres hangat/dingin sesuai indikasi; evaluasi keefektifan intervensi nyeri.
Kondisi: Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: D.0030
Deskripsi Singkat: Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik, berhubungan dengan ketidakmampuan untuk memasukkan atau mencerna makanan, atau menyerap nutrien karena faktor biologis, psikologis, atau ekonomi.
Kode SLKI: L.03022
Deskripsi : Berat badan dalam rentang normal/ideal; tidak ada penurunan berat badan yang tidak diinginkan; asupan makanan dan cairan adekuat; nilai laboratorium terkait nutrisi (seperti albumin, Hb) dalam batas normal; mampu menyebutkan jenis makanan yang sesuai kebutuhan.
Kode SIKI: I.01126
Deskripsi : Kaji asupan nutrisi dan kebiasaan makan; timbang berat badan secara teratur; kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan kebutuhan kalori dan diet; tawarkan makanan dalam porsi kecil tapi sering dengan tekstur yang sesuai (lembut, lunak karena sariawan); berikan makanan tinggi kalori, tinggi protein, dan kaya vitamin; berikan perawatan mulut sebelum dan sesudah makan untuk meningkatkan kenyamanan; atasi mual dan muntah (misal: pemberian antiemetik sesuai kolaborasi); pantau tanda-tanda dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit; edukasi pasien/keluarga tentang pentingnya nutrisi dalam proses penyembuhan.
Kondisi: Ansietas (Pada Orang Tua)
Kode SDKI: D.0006
Deskripsi Singkat: Perasaan gelisah, ketegangan, atau kekhawatiran yang tidak jelas dan tidak nyaman sebagai respons terhadap ancaman yang tidak spesifik.
Kode SLKI: L.03003
Deskripsi : Mengungkapkan perasaan lebih tenang; menunjukkan ekspresi wajah dan bahasa tubuh yang rileks; mampu mengidentifikasi mekanisme koping yang efektif; mampu mengajukan pertanyaan yang relevan tentang kondisi dan perawatan.
Kode SIKI: I.04002
Deskripsi : Kaji tingkat ansietas dan manifestasinya; dengarkan dengan penuh perhatian dan empati; berikan informasi yang jujur, jelas, dan sesuai tentang kondisi, prosedur, dan rencana perawatan Agung; jelaskan semua tindakan yang akan dilakukan; dorong orang tua untuk mengekspresikan perasaan dan kekhawatiran; libatkan orang tua dalam perawatan Agung sesuai kemampuan; rujuk ke kelompok dukungan atau konseling jika diperlukan; ciptakan lingkungan yang mendukung dan percaya; berikan dukungan spiritual sesuai keyakinan keluarga.
-
Article No. 23095 | 01 Dec 2025
Klinis : Kasus: Seorang anak laki-laki, bernama Agung berusia 14 tahun. Beberapa hari ini mengalami demam tinggi 38,8 C, yang tidak turun selama 5 hari berturut-turut, lemas, pucat, mual-mual dan muntah 3 kali dalam sehari, sesak nafas ringan, banyak sariawan, dan nyeri pada kaki dan sendi makan menurun. Pasien nampak lemah, ada ruam kebiruan pada kulit, muncul bintik-bintik merah kecil di bawah kulit (petechiae), gusi mudah berdarah dan mimisan berulang. Didapatkan hasil pemeriksaan Bb/Tb: 41 kg/ 150 cm (Underweight) Denyut jantung: 110 denyut per menit Tekanan darah: 90/60 mmHG Hb: 7,8 gr/dL Trombosit: 100.000/µL Leukosit: 100.000/µL Frekuensi napas: 25 kali per menit Saturasi oksigen: 93% Ia bilang tidak ada nafsu makan dan berat badan menurun 3 kg dalam sebulan. Orang tuanya nampak cemas dan khawatir mengenai kondisi anaknya.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Perfusi Jaringan Perifer Tidak Efektif dan Risiko Perdarahan
Kode SDKI: D.0016 & D.0017
Deskripsi Singkat: Berdasarkan data pasien (demam tinggi berkepanjangan, lemas, pucat, sesak napas, saturasi O2 93%, Hb 7.8 gr/dL, takikardi, hipotensi, petekie, perdarahan gusi/mimisan, trombositopenia, leukositosis sangat tinggi, ruam kebiruan, nyeri kaki/sendi, anoreksia, dan penurunan berat badan), kondisi utama yang mengancam jiwa adalah kegagalan sumsum tulang dan disfungsi hematologis yang sangat mengarah pada diagnosis leukemia akut. Manifestasi klinis menunjukkan dua diagnosa keperawatan utama: (1) Risiko Perfusi Jaringan Perifer Tidak Efektif terkait dengan penurunan kapasitas pengangkutan oksigen sekunder terhadap anemia berat (Hb 7.8 gr/dL) dan potensi sindrom hiperviskositas akibat leukositosis ekstrem (leukosit 100.000/µL). (2) Risiko Perdarahan terkait dengan penurunan faktor pembekuan darah dan trombositopenia (trombosit 100.000/µL) yang dimanifestasikan dengan petekie, perdarahan mukosa, dan ruam kebiruan. Kedua diagnosa ini saling terkait dan memerlukan intervensi segera untuk mencegah komplikasi fatal seperti hipoksia organ, syok, atau perdarahan masif.
Kode SLKI: L.03115 & L.03004
Deskripsi : SLKI L.03115: Perfusi jaringan perifer membaik. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: saturasi oksigen perifer dalam rentang normal (≥95%), tanda-tanda vital stabil (denyut nadi dan tekanan darah dalam rentang normal untuk usia), pengisian kapiler <3 detik, ekstremitas hangat, kulit dan membran mukosa tidak pucat atau sianosis, tingkat kesadaran baik (responsif dan kooperatif), serta tidak ada keluhan sesak napas atau nyeri dada. Pencapaian SLKI ini diukur melalui pemantauan terus-menerus saturasi oksigen, tanda vital, dan penilaian klinis warna kulit serta pengisian kapiler. SLKI L.03004: Perdarahan terkontrol. Kriteria hasil yang diharapkan adalah: tidak ada tanda perdarahan aktif baru (mimisan, perdarahan gusi), jumlah dan ukuran petekie tidak bertambah, tidak terdapat hematoma atau ekimosis baru, nilai laboratorium trombosit menunjukkan tren peningkatan atau stabil, tanda vital stabil (terutama tekanan darah yang tidak turun sebagai tanda perdarahan tersembunyi), serta pasien dan keluarga dapat mengidentifikasi tanda perdarahan dan tindakan pencegahan yang harus dilakukan. Evaluasi dilakukan dengan observasi kulit dan membran mukosa setiap shift, pemantauan nilai laboratorium, dan edukasi kepada keluarga.
Kode SIKI: I.08091, I.05258, I.09030, I.09031
Deskripsi : Intervensi keperawatan yang direncanakan bersifat kolaboratif dan independen. I.08091 (Manajemen Perdarahan): Pantau tanda-tanda perdarahan setiap shift (kulit, mukosa, feses, muntah, urine). Hindari tindakan yang memicu trauma (injeksi IM, pengukuran suhu rektal). Berikan perawatan mulut lembut dengan sikat gigi sangat lunak atau kasa. Anjurkan pasien untuk menghindari mengorek hidung atau menggosok gusi. Kolaborasi pemberian transfusi trombosit sesuai indikasi. I.05258 (Manajemen Hipovolemia): Pantau ketat tanda vital dan capillary refill time. Kolaborasi pemberian transfusi packed red cells (PRC) untuk meningkatkan kapasitas angkut oksigen. Atur posisi pasien untuk optimasi sirkulasi (misalnya, trendelenburg ringan jika hipotensi, sesuai protokol). Pertahankan akses intravena yang paten. I.09030 (Manajemen Leukemia): Ini adalah intervensi utama yang mendasar. Lakukan pemantauan ketat terhadap tanda-tanda komplikasi (perdarahan, infeksi, hiperviskositas). Kolaborasi dalam pemberian terapi sitostatika/kemoterapi sesuai protokol. Lakukan tindakan pencegahan infeksi ketat (hand hygiene, lingkungan steril, hindari kontak dengan sumber infeksi). Manajemen mual muntah pasca kemoterapi. I.09031 (Manajemen Nyeri pada Leukemia): Lakukan penilaian nyeri komprehensif (lokasi, intensitas, karakter). Kolaborasi pemberian analgesik sesuai skala nyeri, hindari aspirin atau NSAID yang mempengaruhi fungsi trombosit. Lakukan intervensi non-farmakologis seperti distraksi, relaksasi, dan posisi nyaman. Semua intervensi ini harus disertai dengan I.05178 (Edukasi Kesehatan) untuk mengurangi kecemasan orang tua dengan memberikan penjelasan tentang penyakit, rencana pengobatan, tanda bahaya yang harus diwaspadai, dan pentingnya nutrisi serta higiene.
-
Article No. 23096 | 01 Dec 2025
Klinis : Kasus: Seorang anak laki-laki, bernama Agung berusia 14 tahun. Beberapa hari ini mengalami demam tinggi 38,8 C, yang tidak turun selama 5 hari berturut-turut, lemas, pucat, mual-mual dan muntah 3 kali dalam sehari, sesak nafas ringan, banyak sariawan, dan nyeri pada kaki dan sendi makan menurun. Pasien nampak lemah, ada ruam kebiruan pada kulit, muncul bintik-bintik merah kecil di bawah kulit (petechiae), gusi mudah berdarah dan mimisan berulang. Didapatkan hasil pemeriksaan Bb/Tb: 41 kg/ 150 cm (Underweight) Denyut jantung: 110 denyut per menit Tekanan darah: 90/60 mmHG Hb: 7,8 gr/dL Trombosit: 100.000/µL Leukosit: 100.000/µL Frekuensi napas: 25 kali per menit Saturasi oksigen: 93% Ia bilang tidak ada nafsu makan dan berat badan menurun 3 kg dalam sebulan. Orang tuanya nampak cemas dan khawatir mengenai kondisi anaknya
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Perfusi Jaringan Perifer Tidak Efektif dan Risiko Perdarahan
Kode SDKI: D.0019 & D.0020
Deskripsi Singkat: Berdasarkan data pasien Agung (14 tahun) dengan demam tinggi persisten, lemas, pucat, sesak napas, saturasi oksigen 93%, petekie, perdarahan gusi, mimisan, dan nilai Hb 7,8 gr/dL serta trombosit 100.000/µL, diagnosis keperawatan utama yang relevan adalah Risiko Perfusi Jaringan Perifer Tidak Efektif dan Risiko Perdarahan. Keduanya terkait erat dengan kondisi yang mendasari, yang sangat dicurigai sebagai keganasan hematologi seperti Leukemia Akut (dari anamnesis panjang dan gambaran laboratorium leukosit sangat tinggi 100.000/µL disertai anemia dan trombositopenia). Risiko perfusi jaringan berkaitan dengan anemia berat dan potensi hipoksia, sedangkan risiko perdarahan terkait langsung dengan trombositopenia dan gangguan koagulasi.
Kode SLKI: L.03115 & L.03004
Deskripsi : Untuk diagnosis Risiko Perfusi Jaringan Perifer Tidak Efektif (D.0019), luaran yang diharapkan (SLKI) adalah Perfusi Jaringan Perifer: Adekuat (L.03115). Deskripsi luaran ini mencakup kriteria seperti kulit hangat dan kering, warna kulit normal, pengisian kapiler < 3 detik, denyut nadi perifer teraba kuat dan simetris, tidak ada nyeri kaki/klaudikasio, serta tidak ada edema. Tujuan intervensi keperawatan adalah mencegah deteriorasi perfusi dengan mempertahankan saturasi oksigen >95%, menstabilkan tanda vital, dan mencegah komplikasi anoksia jaringan. Pada pasien ini, parameter seperti pucat, saturasi 93%, dan keluhan nyeri kaki menunjukkan awal gangguan perfusi yang perlu segera ditangani untuk mencegah kerusakan organ lebih lanjut.
Untuk diagnosis Risiko Perdarahan (D.0020), luaran yang diharapkan adalah Kontrol Perdarahan: Terkendali (L.03004). Luaran ini diukur dengan kriteria tidak ada tanda perdarahan aktif (seperti epistaksis, gingival bleeding, petekie baru, hematoma), nilai trombosit dalam rentang aman, dan waktu perdarahan normal. Tujuannya adalah mencegah episode perdarahan mayor, terutama perdarahan internal spontan yang dapat mengancam jiwa. Petekie, perdarahan gusi, dan mimisan pada Agung adalah tanda peringatan dini yang memerlukan intervensi protektif segera.
Kode SIKI: I.05229, I.08007, I.09004
Deskripsi : Intervensi keperawatan (SIKI) untuk mengatasi kedua risiko tersebut harus komprehensif:
1. Manajemen Perdarahan (I.05229): Intervensi ini langsung menangani risiko perdarahan. Tindakannya meliputi: memantau ketat tanda perdarahan (kulit, mukosa, feses, urin, muntahan); menghindari tindakan invasif yang tidak perlu; menggunakan sikat gigi sangat lembut atau kasa; memberikan tekanan langsung pada titik perdarahan (misal, gusi atau hidung); menghindari obat yang mempengaruhi agregasi trombosit; serta mengajarkan pada pasien dan keluarga untuk melaporkan segera tanda perdarahan baru seperti sakit kepala hebat (potensi perdarahan intrakranial). Pada kasus Agung, edukasi ini sangat penting mengingat aktivitasnya sebagai remaja perlu dibatasi untuk mencegah trauma.
2. Manajemen Hipovolemia (I.08007): Intervensi ini mendukung perfusi jaringan. Anemia (Hb 7,8) dan tanda hipotensi (TD 90/60) menunjukkan kondisi mendekati hipovolemia relatif. Tindakan meliputi: pemantauan ketat tanda vital dan saturasi oksigen; pemberian oksigen tambahan untuk mempertahankan saturasi >95%; kolaborasi pemberian transfusi komponen darah (seperti packed red cells) sesuai indikasi; mempertahankan akses intravena; serta memantau keseimbangan cairan. Pemberian nutrisi dan cairan yang adekuat juga penting, meski tantangannya adalah mual dan anoreksia pada pasien.
3. Manajemen Kecemasan (I.09004): Intervensi ini ditujukan untuk kecemasan orang tua yang terlihat. Kondisi anak yang berat dan diagnosis yang mengancam menimbulkan stres tinggi. Perawat perlu: membangun hubungan saling percaya; memberikan informasi yang jujur dan jelas tentang kondisi, prosedur, dan rencana perawatan; mendorong orang tua untuk menyatakan perasaan dan kekhawatiran; melibatkan mereka dalam perawatan sesuai kemampuan; serta merujuk pada konseling atau support group jika diperlukan. Mengurangi kecemasan keluarga akan meningkatkan kualitas dukungan mereka bagi Agung dan kepatuhan terhadap rencana terapi.
Defisit utama yang mendasari diagnosis ini adalah kegagalan sumsum tulang yang diakibatkan oleh proliferasi sel leukemik. Sel blast yang ganas mendesak produksi sel darah normal, menyebabkan: defisit sel darah merah (anemia → hipoksia → lemas, pucat, sesak, takikardia); defisit trombosit (trombositopenia → gangguan hemostasis → petekie, perdarahan); dan defisit leukosit fungsional (leukositosis tinggi namun tidak kompeten → risiko infeksi tinggi → demam, sariawan). Demam persisten, sariawan multipel, dan penurunan berat badan mendukung komplikasi infeksi dan hipermetabolik. Pendekatan keperawatan harus holistik, fokus pada pencegahan komplikasi (perdarahan, syok, sepsis), manajemen gejala, dan dukungan psikososial, sambil menunggu dan mendukung terapi definitif (kemoterapi) oleh tim medis.
-
Article No. 23097 | 01 Dec 2025
Klinis : Seorang laki-laki 26 tahun menderita DHF hari keempat mengeluh nyeri dada. Hasil pemeriksaan menunjukan kadar trombosit 16.000 per mikroliter darah. Pasien dianjurkan untuk bedrest dan mendapatkan transfusi trombosit sebanyak 5 (lima) kantong. Pemeriksaan fisik menunjukan Suhu tubuh 35.5 derajat celcius, Nadi 101x/mnt, TD 90/palpasi, respirasi 28x/menit, nampak ptekie di seluruh tubuh. Pasien mendapatkan injeksi 1 (satu) ampul dexamethasone pre transfusi.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Perfusi Jaringan Tidak Efektif dan Risiko Perdarahan pada Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan Trombositopenia Berat
Kode SDKI: 0026 Risiko Perdarahan
Deskripsi Singkat: Diagnosis keperawatan utama yang paling relevan adalah "Risiko Perdarahan" yang didefinisikan sebagai keadaan rentan mengalami penurunan volume darah, yang dapat mengancam jiwa. Hal ini sangat sesuai dengan kondisi pasien DBD fase kritis (hari ke-4) dengan trombosit 16.000/µL (trombositopenia berat) dan manifestasi perdarahan kulit (ptekie di seluruh tubuh). Risiko ini diperberat oleh demam, peningkatan permeabilitas kapiler, dan potensi kebocoran plasma yang ditunjukkan oleh tekanan darah rendah (90/palpasi) dan takikardia (nadi 101x/mnt). Transfusi trombosit yang direncanakan merupakan intervensi langsung untuk mengatasi risiko ini.
Kode SLKI: 2610 Manajemen Risiko Perdarahan
Deskripsi : Luaran yang diharapkan adalah terkendalinya risiko perdarahan, dengan kriteria: (1) Tanda-tanda vital dalam rentang yang diharapkan (peningkatan TD, penurunan frekuensi nadi dan respirasi), (2) Tidak ada tanda perdarahan baru atau bertambahnya ptekie, (3) Nilai laboratorium (terutama trombosit) menunjukkan perbaikan, (4) Mukosa membran lembab, dan (5) Pengisian kapiler < 3 detik. SLKI ini berfokus pada pemantauan ketat tanda-tanda perdarahan baik eksternal maupun internal, memantau respons terhadap transfusi trombosit, dan mencegah komplikasi lebih lanjut seperti perdarahan masif atau syok hipovolemik. Pemantauan ketat terhadap nyeri dada juga penting untuk menyingkirkan kemungkinan perdarahan atau efusi pleura.
Kode SIKI: 2610A Memantau tanda dan gejala perdarahan
Deskripsi : Intervensi keperawatan yang spesifik dan kritis adalah pemantauan tanda dan gejala perdarahan. Ini meliputi: (1) Pemantauan ketat tanda vital (TD, nadi, respirasi, suhu) setiap 1-2 jam atau lebih sering sesuai kondisi untuk mendeteksi dini syok. TD 90/palpasi dan nadi 101 sudah mengindikasikan hipovolemia. (2) Inspeksi kulit dan membran mukosa setiap 4-8 jam untuk melihat perkembangan ptekie, ekimosis, atau perdarahan spontan baru (misal: epistaksis, gingival). (3) Observasi warna dan karakteristik dahak, muntahan, feses, dan urine untuk mendeteksi perdarahan internal. (4) Memantau keluhan nyeri abdomen atau dada (seperti yang dialami pasien) yang dapat mengindikasikan perdarahan organ dalam. (5) Evaluasi status neurologis (kesadaran, sakit kepala) untuk mendeteksi perdarahan intrakranial. (6) Memantau hasil laboratorium serial, khususnya hitung trombosit dan hematokrit (untuk melihat hemokonsentrasi atau perdarahan). (7) Memastikan tindakan pencegahan perdarahan dilakukan, seperti menghindari injeksi intramuskular, menggunakan sikat gigi sangat lembut, dan menghindari mengorek hidung. (8) Evaluasi respons setelah transfusi trombosit, baik secara klinis (perdarahan berhenti) maupun laboratoris (kenaikan hitung trombosit). Intervensi ini harus didokumentasikan dengan cermat untuk mengevaluasi tren kondisi pasien dan efektivitas terapi. Pemberian dexamethasone pre-transfusi juga perlu dipantau efek sampingnya, meskipun tujuannya untuk mencegah reaksi transfusi.
-
Article No. 23098 | 01 Dec 2025
Klinis : Seorang Laki-laki 24 tahun mengalami anemia kronis akibat hemoroid mengeluh lemas dan lelah. Hasil pemeriksaan menunjukan kadar Hb 7g/dl dan Ht 22%. Pasien akan menjalani pembedahan sehingga perlu memperbaiki profil hemodinamik. Pasien direncanakan akan mendapatkan transfusi PRC sebanyak 3 kantong. Pemeriksaan fisik menunjukan Suhu tubuh 36.5 derajat celcius, Nadi 101x/mnt, TD 90/70 mmHg, turgor 5 detik, akral dingin, mukosa kering, respirasi 28x/menit. Sesuai Instruksi pasien akan mendapatkan injeksi furosemide 1 (satu) ampul Pre transfusi jika sesuai indikasi.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Defisit Volume Cairan
Kode SDKI: B.1.1
Deskripsi Singkat: Penurunan volume cairan intravaskuler, interstisial, dan/atau intraseluler. Kondisi ini mengacu pada dehidrasi, kehilangan cairan, dan hipovolemia.
Kode SLKI: L.1.1.1
Deskripsi : Status hidrasi membaik. Ditandai dengan: 1) Tanda-tanda vital dalam rentang normal yang diharapkan, 2) Turgor kulit elastis, 3) Mukosa membran lembab, 4) Pengisian kapiler kurang dari 3 detik, 5) Haluaran urine adekuat, 6) Keseimbangan cairan seimbang.
Kode SIKI: I.1.1.1
Deskripsi : 1) Monitor tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, suhu, pernapasan). 2) Monitor status hidrasi (turgor kulit, pengisian kapiler, membran mukosa, rasa haus, produksi urin, berat jenis urin). 3) Monitor intake dan output cairan. 4) Kolaborasi pemberian terapi cairan intravena sesuai program. 5) Atur posisi pasien untuk meningkatkan sirkulasi. 6) Lakukan perawatan kulit dan membran mukosa. 7) Berikan informasi tentang pentingnya asupan cairan. 8) Kolaborasi pemberian transfusi darah sesuai program. 9) Monitor respons dan komplikasi transfusi darah. 10) Kolaborasi pemberian diuretik sesuai indikasi.
Kondisi: Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI: B.4.1
Deskripsi Singkat: Ketidakcukupan energi fisiologis atau psikologis untuk menuntaskan aktivitas sehari-hari yang diperlukan atau diinginkan.
Kode SLKI: L.4.1.1
Deskripsi : Toleransi aktivitas meningkat. Ditandai dengan: 1) Melaporkan peningkatan energi, 2) Melakukan aktivitas sesuai tingkat kemampuan, 3) Tanda-tanda vital dalam rentang normal saat aktivitas, 4) Tidak mengalami kelelahan yang berlebihan, 5) Kebutuhan istirahat dan aktivitas seimbang.
Kode SIKI: I.4.1.1
Deskripsi : 1) Monitor respons pasien terhadap aktivitas (tanda vital, kelelahan, sesak napas). 2) Bantu pasien mengidentifikasi aktivitas yang dapat menyebabkan kelelahan. 3) Ajarkan teknik penghematan energi. 4) Rencanakan periode istirahat yang cukup sebelum dan sesudah aktivitas. 5) Bantu pasien dalam aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan. 6) Tingkatkan aktivitas secara bertahap sesuai toleransi. 7) Kolaborasi pemberian terapi oksigen jika diperlukan. 8) Berikan dukungan nutrisi untuk meningkatkan energi. 9) Edukasi pasien dan keluarga tentang penjadwalan aktivitas.
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan
Kode SDKI: C.1.1
Deskripsi Singkat: Risiko mengalami penurunan, peningkatan, atau perpindahan cepat cairan dari intravaskuler, interstisial, dan/atau intraseluler.
Kode SLKI: L.1.1.1
Deskripsi : Status hidrasi membaik. Ditandai dengan: 1) Tanda-tanda vital dalam rentang normal yang diharapkan, 2) Turgor kulit elastis, 3) Mukosa membran lembab, 4) Pengisian kapiler kurang dari 3 detik, 5) Haluaran urine adekuat, 6) Keseimbangan cairan seimbang.
Kode SIKI: I.1.1.2
Deskripsi : 1) Monitor tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, suhu, pernapasan). 2) Monitor status hidrasi (turgor kulit, pengisian kapiler, membran mukosa, rasa haus, produksi urin, berat jenis urin). 3) Monitor intake dan output cairan secara ketat, terutama sebelum, selama, dan setelah transfusi. 4) Kolaborasi pemberian terapi cairan intravena sesuai program. 5) Kolaborasi pemberian transfusi darah sesuai program dengan mematuhi protokol. 6) Monitor respons dan komplikasi transfusi darah (reaksi alergi, kelebihan beban sirkulasi/TACO, febris). 7) Kolaborasi pemberian diuretik (seperti furosemide) sesuai indikasi sebelum/setelah transfusi untuk mencegah kelebihan beban cairan. 8) Atur kecepatan transfusi sesuai ketentuan. 9) Berikan posisi yang nyaman dan aman. 10) Edukasi pasien tentang tanda-tanda kelebihan cairan yang harus dilaporkan.
Kondisi: Risiko Syok
Kode SDKI: C.1.3
Deskripsi Singkat: Risiko terjadinya ketidakadekuatan perfusi jaringan yang mengancam jiwa.
Kode SLKI: L.1.3.1
Deskripsi : Syok teratasi. Ditandai dengan: 1) Tanda-tanda vital dalam rentang normal yang diharapkan, 2) Pengisian kapiler kurang dari 3 detik, 3) Haluaran urine adekuat, 4) Kulit hangat dan kering, 5) Status mental baik.
Kode SIKI: I.1.3.1
Deskripsi : 1) Monitor terus menerus tanda-tanda vital dan status hemodinamik (tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu). 2) Monitor tanda-tanda perfusi jaringan (warna kulit, kelembaban, suhu akral, pengisian kapiler, produksi urin, status mental). 3) Pertahankan jalan napas paten dan oksigenasi adekuat. 4) Kolaborasi pemberian terapi oksigen. 5) Kolaborasi pemberian terapi cairan intravena dan transfusi darah untuk mengoptimalkan volume intravaskuler. 6) Atur posisi pasien untuk meningkatkan sirkulasi (misalnya, posisi trendelenburg modifikasi jika diperlukan dan tidak terkontraindikasi). 7) Minimalkan gangguan dan pertahankan suhu tubuh normal. 8) Kolaborasi pemberian obat-obatan inotropik/vasoaktif jika diperlukan. 9) Siapkan alat dan obat resusitasi. 10) Lakukan edukasi pada pasien dan keluarga tentang kondisi dan penanganannya.
-
Article No. 23099 | 01 Dec 2025
Klinis : DS: Istri mengatakan pasien hanya minum obat saat kambuh, tidak kontrol rutin, menggunakan resep lama ibunya, tidak paham pencegahan. DO: Tidak ada jadwal terapi, belum patuh manajemen pengobatan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Ketidakpatuhan Terapeutik
Kode SDKI: 0118
Deskripsi Singkat: Perilaku individu dan/atau keluarga yang tidak sesuai dengan rekomendasi terapeutik atau pencegahan kesehatan yang disepakati, terkait dengan kondisi penyakit, kemampuan, dan/atau tujuan kesehatan.
Kode SLKI: 4327
Deskripsi : Kepatuhan terhadap program terapeutik. Ditandai dengan: 1) Mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi ketidakpatuhan, 2) Mengungkapkan pemahaman tentang program terapeutik, 3) Mengungkapkan kesediaan untuk mematuhi program terapeutik, 4) Melaksanakan program terapeutik sesuai anjuran, 5) Memantau kemajuan sesuai program terapeutik, 6) Memanfaatkan sistem pendukung untuk meningkatkan kepatuhan.
Kode SIKI: 4327A
Deskripsi : Kaji faktor yang mempengaruhi ketidakpatuhan terhadap program terapeutik. Intervensi ini melibatkan pengkajian mendalam terhadap berbagai aspek yang menjadi penghambat kepatuhan pasien dan keluarga. Perawat perlu mengeksplorasi faktor pengetahuan, seperti tingkat pemahaman tentang penyakit, tujuan pengobatan, konsekuensi ketidakpatuhan, dan cara pencegahan kekambuhan. Pada kasus ini, jelas terdapat defisit pengetahuan dimana pasien tidak paham pencegahan dan hanya minum obat saat kambuh. Selain itu, faktor sikap dan keyakinan perlu dikaji, misalnya persepsi tentang manfaat obat, kekhawatiran akan efek samping, atau keyakinan bahwa obat hanya diperlukan saat gejala muncul. Faktor sosial-ekonomi juga berperan, seperti biaya kontrol rutin dan obat. Faktor sistem layanan kesehatan, seperti kualitas komunikasi tenaga kesehatan sebelumnya, juga mempengaruhi. Perawat harus mendengarkan secara empatik penjelasan istri dan pasien mengenai alasan menggunakan resep lama ibunya, ketidakteraturan kontrol, dan pola minum obat. Pengkajian ini tidak menghakimi tetapi bertujuan memahami akar masalah untuk merencanakan intervensi yang tepat. Hasil pengkajian ini menjadi dasar untuk menentukan intervensi selanjutnya, seperti edukasi kesehatan, modifikasi rencana terapi bersama pasien, atau memfasilitasi akses ke layanan kesehatan.
-
Article No. 23100 | 01 Dec 2025
Klinis : 1. Observasi - Identifikasi tingkat pengetahuan pasien dan keluarga terkait terapi asma. - Kaji pola konsumsi obat selama ini (frekuensi, dosis, waktu minum). - Monitor tanda kekambuhan yang sering muncul di rumah. 2. Terapeutik: - Fasilitasi pembuatan jadwal minum obat 1 minggu bersama keluarga. - Anjurkan penyediaan obat pengontrol sesuai anjuran medis (bila diresepkan ulang oleh tenaga kesehatan). - Diskusikan manajemen terapi jangka panjang merujuk pada Pedoman GINA. - Ajarkan pengenalan tanda bahaya serangan asma yang membutuhkan rujukan. 3. Edukasi: - Berikan edukasi bahwa obat reliever seperti Salbutamol harus sesuai resep dokter dan bukan hanya saat kambuh bila ada resep pengontrol. - Jelaskan pentingnya kepatuhan terapi pengontrol seperti inhaler kortikosteroid bila nanti diberikan (mis. merk umum keluarga: Ventolin bila berbentuk inhaler, sesuai resep dokter). - Edukasi penghindaran pencetus lingkungan terutama udara dingin, kelelahan, dan asap pembakaran. - Motivasi keluarga mendampingi pasien kontrol berkala ke fasilitas terdekat seperti Puskesmas Dawe.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakpatuhan Terapeutik pada Pasien Asma
Kode SDKI: 0110
Deskripsi Singkat: Risiko Ketidakpatuhan Terapeutik didefinisikan sebagai kondisi di mana individu, keluarga, atau komunitas rentan terhadap ketidakmampuan atau ketidakmauan untuk mengikuti rekomendasi terapeutik yang telah disepakati bersama tenaga kesehatan, yang dapat mengakibatkan hasil kesehatan yang tidak optimal atau komplikasi. Pada kasus asma, ketidakpatuhan sering terjadi pada penggunaan obat pengontrol (controller) jangka panjang, pemahaman yang keliru tentang fungsi obat reliever, dan ketidakkonsistenan dalam menghindari faktor pencetus.
Kode SLKI: 4310
Deskripsi : Manajemen Ketidakpatuhan. Deskripsi lengkap: Tindakan keperawatan untuk meningkatkan kepatuhan terhadap rejimen terapeutik. Intervensi yang dilakukan berdasarkan kondisi pasien meliputi: (1) Mengkaji tingkat pengetahuan dan persepsi pasien/keluarga tentang penyakit asma dan terapinya, termasuk pola konsumsi obat (frekuensi, dosis, waktu) dan pemantauan tanda kekambuhan di rumah. (2) Memfasilitasi pembuatan jadwal minum obat (seperti untuk satu minggu) bersama keluarga untuk meningkatkan keteraturan. (3) Menganjurkan dan memastikan ketersediaan obat pengontrol sesuai resep medis. (4) Melakukan diskusi dan edukasi mengenai manajemen terapi jangka panjang berdasarkan pedoman standar (seperti GINA), dengan menekankan perbedaan mendasar antara obat pengontrol (harus digunakan rutin) dan obat reliever (digunakan saat gejala). (5) Mengajarkan pengenalan tanda-tanda bahaya serangan asma yang memerlukan rujukan segera ke fasilitas kesehatan. (6) Memberikan edukasi spesifik tentang penghindaran pencetus lingkungan individu seperti udara dingin, kelelahan, dan asap pembakaran. (7) Memotivasi dan melibatkan keluarga untuk mendukung pasien dalam kontrol berkala ke fasilitas kesehatan terdekat (misalnya Puskesmas). Tujuan akhir intervensi ini adalah membangun pemahaman, kemauan, dan kemampuan pasien serta keluarga untuk secara konsisten menjalankan terapi, sehingga dapat mengontrol gejala asma, mencegah kekambuhan, dan meningkatkan kualitas hidup.
Kode SIKI: 4310A
Deskripsi : Kepatuhan terhadap rejimen terapeutik. Kriteria hasil yang diharapkan dari intervensi keperawatan adalah: (1) Pengetahuan pasien dan keluarga tentang penyakit asma dan terapi meningkat, yang ditunjukkan dengan kemampuan menyebutkan jenis obat (pengontrol vs pereda), fungsi, dosis, dan waktu minum yang benar. (2) Pasien dan keluarga dapat secara mandiri membuat dan mengikuti jadwal minum obat yang terstruktur. (3) Obat-obatan yang diperlukan, terutama obat pengontrol, tersedia di rumah dan digunakan sesuai resep, bukan hanya saat kambuh. (4) Pasien dan keluarga mampu mengidentifikasi faktor pencetus pribadi dan menerapkan strategi penghindaran secara konsisten. (5) Pasien dan keluarga mampu mengenali tanda-tanda peringatan dini dan tanda bahaya serangan asma yang memerlukan tindakan segera atau rujukan. (6) Terjadi peningkatan dalam keteraturan kontrol berkala ke fasilitas kesehatan yang didukung oleh keluarga. (7) Frekuensi kekambuhan asma dan penggunaan obat reliever yang tidak terencana menurun. (8) Pasien melaporkan peningkatan kualitas hidup terkait pengelolaan penyakitnya. Keberhasilan ini diukur melalui evaluasi verbal, observasi perilaku, dan pemantauan catatan kesehatan pasien.