Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 23439 | 30 Dec 2025
Klinis : Bayi baru lahir berjenis kelamin perempuan lahir denga usia gestasi yo minggu. saat lahir tidau menangis, tonus otot leman.coira, ketuban hijau, bayi dicurigai tertera, caira meconium, geraus boy Frekuensi denyut jantung Bo wali/menit. Dari hasil penguaji menentukan diagnosa ueperawata, pada uasus tersebut.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Asfiksia Neonatorum dengan Aspirasi Mekonium
Kode SDKI: 0025
Deskripsi Singkat: Gangguan Pertukaran Gas
Kode SLKI: 2005
Deskripsi : Pertukaran gas efektif
Kode SIKI: 3410
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas
Penjelasan Lengkap SDKI, SLKI, dan SIKI:
Diagnosa Keperawatan (SDKI): Gangguan Pertukaran Gas (Kode 0025)
Definisi SDKI 0025: Keadaan dimana terjadi gangguan pada proses pertukaran oksigen dan/atau karbondioksida antara alveoli dan sistem vaskular pulmonal. Pada kasus bayi baru lahir ini, kondisi yang mendasari adalah asfiksia perinatal yang berat ditandai dengan bayi tidak menangis, tonus otot lemah (floppy), dan bradikardia (denyut jantung 80x/menit). Faktor penyebab utamanya adalah aspirasi mekonium. Mekonium yang tercampur dalam cairan ketuban hijau terhirup oleh bayi sebelum, selama, atau setelah persalinan. Mekonium ini dapat menyumbat jalan napas secara mekanis (obstruksi) dan menyebabkan reaksi kimia (pneumonitis) yang merusak jaringan paru. Kerusakan ini mengakibatkan ketidakseimbangan ventilasi-perfusi, peningkatan resistensi pembuluh darah paru (hipertensi pulmonal persisten), dan kolaps alveoli (atelektasis). Semua faktor ini secara bersama-sama sangat mengganggu proses difusi oksigen dari alveoli ke kapiler paru dan pelepasan karbondioksida, sehingga terjadi hipoksemia (kadar oksigen darah rendah) dan hiperkapnia (kadar CO2 darah tinggi) yang memperberat kondisi asfiksia.
Luaran Keperawatan (SLKI): Pertukaran Gas Efektif (Kode 2005)
Definisi SLKI 2005: Pencapaian keseimbangan antara ventilasi alveolar dan perfusi kapiler pulmonal. Pada bayi dengan aspirasi mekonium, luaran ini diharapkan tercapai secara bertahap melalui intervensi yang tepat. Indikator keberhasilannya meliputi: (1) Status Pernapasan: Frekuensi napas dalam rentang normal untuk usia gestasi (30-60x/menit) tanpa distres yang signifikan (mengi, retraksi, grunting). (2) Status Oksigenasi: Saturasi oksigen (SpO2) dalam rentang target yang ditetapkan (biasanya >90-95%) dengan dukungan oksigen yang minimal atau tanpa bantuan. (3) Status Asam-Basa: Nilai Gas Darah Arteri (GDA) menunjukkan pH normal (7.35-7.45), PaO2 adekuat, dan PaCO2 dalam batas normal, mengindikasikan eliminasi CO2 yang efektif. (4) Status Sirkulasi: Denyut jantung dalam rentang normal (120-160x/menit) tanpa episode bradikardia, serta warna kulit kemerahan tanpa sianosis. (5) Status Neurologis: Tonus otot membaik dan tingkat kesadaran/responsivitas bayi meningkat. Pencapaian luaran ini bersifat progresif dan memerlukan pemantauan ketat.
Intervensi Keperawatan (SIKI): Manajemen Jalan Napas (Kode 3410)
Definisi SIKI 3410: Mempertahankan patensi jalan napas dan mencegah komplikasi. Intervensi ini adalah kunci utama dalam penanganan bayi dengan aspirasi mekonium dan dilaksanakan secara sistematis. Aktivitas keperawatan meliputi: (1) Suction/Rebersih Jalan Napas: Melakukan penghisapan mekonium dari orofaring segera setelah kepala lahir (jika bayi tidak aktif) dan penghisapan trakea secara langsung dengan laringoskopi jika bayi lemas, tidak bernapas efektif, atau mengalami bradikardia, sesuai protokol resusitasi neonatus. (2) Pemantauan dan Posisi: Memantau terus-menerus tanda-tanda distress pernapasan (retraksi, napas cuping hidung, merintih). Menempatkan bayi dengan posisi kepala sedikit ekstensi (sniffing position) untuk membuka jalan napas, dan mungkin miring untuk memudahkan drainase sekret. (3) Terapi Oksigen dan Ventilasi: Memberikan oksigen yang dihangatkan dan dilembabkan sesuai kebutuhan untuk mempertahankan saturasi target. Mempersiapkan dan membantu prosedur ventilasi mekanik non-invasif (CPAP) atau invasif jika gagal napas terjadi. (4) Fisioterapi Dada: Melakukan fisioterapi dada (postural drainage, perkusi, vibrasi) dengan hati-hati sesuai indikasi untuk membantu mobilisasi sekret, namun harus dipertimbangkan risiko pada bayi yang tidak stabil. (5) Manajemen Sekret: Melakukan penghisapan sekret dari jalan napas atas secara steril dan rutin sesuai kebutuhan, dengan memperhatikan teknik untuk menghindari trauma mukosa dan stimulasi vagal yang menyebabkan bradikardia. (6) Kemampuan Bayi: Mengobservasi kemampuan bayi dalam membersihkan jalan napasnya sendiri (refleks batuk, menangis kuat) sebagai tanda perbaikan. (7) Kenyamanan: Meminimalkan gangguan dan mempertahankan suhu lingkungan netral (termoregulasi) untuk mengurangi konsumsi oksigen. Seluruh intervensi ini dilakukan secara kolaboratif dengan tim medis dan didukung oleh pemantauan gas darah, rontgen thorax, dan parameter vital lainnya.
-
Article No. 23440 | 30 Dec 2025
Klinis : Sdki bersihan jalan napas tidak efektif
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: 0005
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang paten.
Kode SLKI: 0401
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas: Tindakan untuk memfasilitasi patensi jalan napas dan mencegah komplikasi. Intervensi keperawatan ini mencakup serangkaian tindakan yang bertujuan untuk memastikan jalan napas tetap terbuka, bersih, dan mampu mendukung pertukaran gas yang adekuat. Implementasinya dimulai dengan pemantauan status pernapasan secara ketat, termasuk frekuensi, irama, kedalaman, dan usaha bernapas, serta adanya suara napas abnormal seperti mengi, ronki, atau stridor. Posisi semi-Fowler atau Fowler tinggi sangat direkomendasikan untuk memanfaatkan gravitasi dalam memudahkan ekspansi dada dan pengeluaran sekret. Teknik batuk efektif diajarkan dan dibantu, termasuk deep coughing dan huff coughing. Jika pasien tidak mampu, dilakukan suctioning oro/nasofaring atau endotrakeal dengan teknik steril untuk menghisap sekresi, dengan memperhatikan tanda-tanda hipoksia selama prosedur. Terapi nebulasi dan pemberian obat bronkodilator atau mukolitik sesuai resep dokter merupakan bagian integral untuk melonggarkan sekresi. Hidrasi yang adekuat, baik secara oral maupun intravena, dijaga untuk mengencerkan sekresi. Fisioterapi dada seperti perkusi, vibrasi, dan drainase postural dapat dilakukan untuk membantu mobilisasi sekresi dari saluran napas perifer. Penggunaan alat bantu seperti incentive spirometer juga didorong untuk mencegah atelektasis. Seluruh tindakan dilakukan dengan prinsip pencegahan infeksi dan kenyamanan pasien, sambil terus mendidik pasien serta keluarga mengenai tanda-tanda gangguan jalan napas yang perlu dilaporkan segera.
Kode SIKI: 0401
Deskripsi : Status Pernapasan: Indikator yang mengukur fungsi dan kinerja sistem pernapasan. Kriteria hasil ini menjadi tolok ukur keberhasilan dari intervensi manajemen jalan napas. Hasil yang diharapkan adalah pasien menunjukkan jalan napas yang paten dan bersih, yang dimanifestasikan melalui parameter-parameter objektif dan subjektif. Parameter kunci meliputi: suara napas yang bersih (vesikuler) di semua lapang paru tanpa adanya ronki, mengi, atau stridor; pola napas yang efektif dengan frekuensi dalam rentang normal (12-20 kali/menit pada dewasa) dan irama yang teratur; serta kedalaman napas yang adekuat. Pasien mampu mengeluarkan sekresi secara efektif, baik melalui batuk spontan yang produktif maupun dengan bantuan. Nilai saturasi oksigen (SpO2) dalam batas normal atau sesuai target yang ditetapkan (biasanya >94%). Analisis gas darah (jika tersedia) menunjukkan nilai PaO2 dan PaCO2 yang normal, mengindikasikan pertukaran gas yang adekuat. Pasien tidak menunjukkan tanda-tanda distress pernapasan seperti penggunaan otot bantu napas, retraksi, sianosis, atau gelisah. Secara subjektif, pasien melaporkan tidak merasa sesak napas (dispnea) atau rasa tertekan di dada. Peningkatan ekspansi dada yang simetris dan pengurangan atau hilangnya sputum yang purulen juga menjadi indikator perbaikan. Pencapaian kriteria ini menunjukkan bahwa intervensi keperawatan telah berhasil mengatasi atau meminimalkan masalah bersihan jalan napas yang tidak efektif, mencegah komplikasi seperti pneumonia, atelektasis, atau gagal napas, dan akhirnya meningkatkan kenyamanan serta kualitas hidup pasien.
-
Article No. 23442 | 30 Dec 2025
Klinis : batuk 3 hari dahak sulit keluar, ronchi positif
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Bronkitis Akut
Kode ICD-10: J20.9
Deskripsi Singkat : Kondisi ini mengacu pada peradangan akut pada saluran bronkus (cabang batang tenggorokan) yang berlangsung kurang dari tiga minggu. Gejala utama yang dijelaskan, yaitu batuk selama 3 hari dengan dahak yang sulit keluar (produktif atau non-produktif) dan ditemukannya ronchi (suara napas tambahan kasar yang terdengar saat auskultasi, seringkali mengindikasikan adanya sekret di saluran napas besar), sangat konsisten dengan gambaran klinis bronkitis akut. Kode ICD-10 J20.9 secara spesifik mengklasifikasikan "Bronkitis akut, tidak ditentukan", yang berarti peradangan tersebut diduga disebabkan oleh infeksi, paling sering virus, dan bukan karena penyebab spesifik lain seperti bakteri tertentu atau paparan bahan kimia yang tercakup dalam kode lain. Kode ini berada dalam bab "Penyakit pada sistem pernapasan" (J00-J99), dan lebih tepatnya dalam blok "Penyakit pernapasan akut lainnya pada saluran pernapasan bawah" (J20-J22). Penggunaan kode ini tepat untuk mencatat diagnosis awal berdasarkan gejala yang ada sebelum konfirmasi penyebab lebih lanjut, dan sangat relevan dalam konteks pelatihan pengkodean rekam medis untuk kasus infeksi saluran pernapasan bawah yang umum.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 23443 | 30 Dec 2025
Klinis : pasien pusing dan tengah leher merasa tegang, pasien mengaku stress karena beban pekerjaan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Respon Stres Kronis
Kode SDKI: 00073
Deskripsi Singkat: Pengalaman individu terhadap ketidaknyamanan psikologis, sosial, spiritual, dan/atau fisik yang berkelanjutan sebagai respons terhadap berbagai tekanan internal dan eksternal yang melebihi kemampuan kopingnya, yang dapat mengganggu fungsi kehidupan sehari-hari. Pada kasus ini, stresor utama adalah beban pekerjaan yang memicu gejala fisik (pusing dan ketegangan otot leher).
Kode SLKI: 2800
Deskripsi : Manajemen Stres. SLKI ini mencakup serangkaian intervensi yang bertujuan membantu pasien mengenali, mengelola, dan mengurangi respons stresnya. Tujuan akhirnya adalah meningkatkan adaptasi dan kesejahteraan psikologis. Intervensi dalam SLKI ini meliputi: (1) Mengkaji sumber, persepsi, dan manifestasi stres pasien (fisik, emosional, kognitif, perilaku). (2) Mengidentifikasi bersama pasien faktor-faktor yang memperberat dan meringankan stres. (3) Mengajarkan dan melatih teknik relaksasi, seperti napas dalam, relaksasi otot progresif, atau guided imagery, untuk mengurangi ketegangan fisik (khususnya di area leher) dan menenangkan pikiran. (4) Membantu pasien mengembangkan strategi koping yang adaptif, seperti manajemen waktu, penentuan prioritas, asertivitas di tempat kerja, dan mencari dukungan sosial. (5) Mendorong aktivitas fisik ringan dan teratur untuk melepaskan ketegangan dan meningkatkan endorfin. (6) Membantu mengevaluasi pola pikir yang mungkin memperparah stres (seperti perfeksionisme) dan mengembangkan pola pikir yang lebih realistis. (7) Mendorong keseimbangan antara pekerjaan, istirahat, dan rekreasi. Keberhasilan SLKI ini ditandai dengan penurunan keluhan fisik (pusing dan tegang leher), peningkatan kemampuan pasien dalam mengidentifikasi stresor, penggunaan teknik relaksasi secara mandiri, serta pelaporan perasaan yang lebih terkendali dan tenang dalam menghadapi tekanan pekerjaan.
Kode SIKI: 4238
Deskripsi : Ajarkan Teknik Relaksasi. SIKI ini merupakan tindakan spesifik dalam kerangka SLKI Manajemen Stres. Deskripsinya meliputi langkah-langkah sistematis: (1) Menciptakan lingkungan yang tenang, nyaman, dan bebas gangguan. (2) Menjelaskan tujuan dan manfaat teknik relaksasi dalam mengurangi gejala pusing dan ketegangan otot. (3) Mendemonstrasikan teknik relaksasi yang dipilih, misalnya relaksasi napas dalam (diafragma): instruksikan pasien untuk duduk atau berbaring nyaman, letakkan satu tangan di dada dan satu di perut, tarik napas perlahan melalui hidung sehingga perut mengembang (tangan di perut naik), tahan sebentar, lalu hembuskan perlahan melalui mulut seperti mendesis. Ulangi selama 5-10 menit. (4) Untuk relaksasi otot progresif (terutama relevan untuk ketegangan leher), pandu pasien untuk menegangkan kelompok otot tertentu (misalnya bahu dan leher) selama 5-7 detik, lalu kendurkan sepenuhnya selama 20-30 detik sambil fokus pada sensasi perbedaannya. Mulai dari otot kaki hingga wajah atau sebaliknya. (5) Memandu pasien melalui teknik tersebut dengan suara yang tenang dan tempo lambat. (6) Memberikan kesempatan pasien untuk berlatih di bawah pengawasan dan memberikan umpan balik. (7) Menekankan pentingnya latihan rutin, tidak hanya saat stres muncul, untuk membentuk respons relaksasi yang otomatis. (8) Memberikan sumber daya tertulis atau audio sebagai panduan latihan mandiri. Evaluasi keefektifan SIKI ini dilihat dari kemampuan pasien melakukan teknik dengan benar, penurunan tegangan otot yang dapat diobservasi (seperti bahu yang tidak lagi mengangkat), dan laporan subjektif pasien mengenai perasaan lebih rileks serta berkurangnya keluhan pusing. Implementasi SIKI ini harus disesuaikan dengan kesiapan dan kondisi fisik pasien.
-
Article No. 23444 | 30 Dec 2025
Klinis : pasien mengaku stress karena beban pekerjaan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Stres Berhubungan dengan Beban Pekerjaan
Kode SDKI: 00173
Deskripsi Singkat: Respon fisiologis dan psikologis yang tidak spesifik terhadap tuntutan internal atau eksternal yang melebihi kemampuan koping individu, yang dalam konteks ini dipicu oleh tekanan dan tuntutan dari pekerjaan.
Kode SLKI: 4300
Deskripsi : Manajemen stres. Intervensi keperawatan untuk memfasilitasi respon adaptif pasien terhadap faktor stres psikologis. Tujuan akhirnya adalah agar pasien dapat mendemonstrasikan perilaku koping yang adaptif dan melaporkan penurunan tingkat stres yang dirasakan. Luaran ini diukur melalui indikator seperti: pasien mampu mengidentifikasi sumber stres (pekerjaan), menyebutkan tanda dan gejala stres yang dialami, menggunakan teknik relaksasi untuk mengurangi ketegangan, mengungkapkan perasaannya secara konstruktif, serta membuat rencana untuk mengatur prioritas dan tuntutan pekerjaan secara lebih efektif. Pencapaian luaran ini menunjukkan bahwa pasien telah mengembangkan ketahanan dan strategi untuk menghadapi stresor di tempat kerja.
Kode SIKI: 6530
Deskripsi : Peningkatan koping. Intervensi keperawatan yang sistematis ini berfokus pada membantu pasien untuk mengembangkan dan menggunakan strategi koping yang sehat dalam menanggapi stres yang diakibatkan oleh beban pekerjaan. Kegiatan utama meliputi: (1) Membangun hubungan terapeutik untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi pasien untuk mengekspresikan kekhawatiran dan perasaannya. (2) Mengajarkan pasien untuk mengenali tanda-tanda awal stres (seperti mudah marah, sulit tidur, kelelahan, sakit kepala) dan menghubungkannya dengan pemicu di tempat kerja. (3) Melatih teknik manajemen stres seperti latihan pernapasan dalam, relaksasi otot progresif, atau imajinasi terbimbing untuk mengurangi respons fisiologis tubuh terhadap stres. (4) Membantu pasien mengevaluasi persepsinya terhadap tuntutan pekerjaan dan mendiskusikan cara untuk memodifikasi persepsi yang tidak realistis atau terlalu kritis. (5) Memfasilitasi pemecahan masalah dengan mengidentifikasi sumber stres yang spesifik (misalnya, deadline, beban berlebihan, hubungan dengan rekan kerja) dan bersama-sama mengeksplorasi solusi yang mungkin, seperti delegasi tugas, komunikasi asertif dengan atasan, atau pengaturan waktu yang lebih baik. (6) Mendorong aktivitas yang meningkatkan ketahanan, seperti olahraga teratur, hobi, dan menjaga keseimbangan antara pekerjaan dengan kehidupan pribadi. (7) Jika diperlukan, merujuk pasien ke konselor profesional atau psikolog untuk penanganan lebih lanjut. Intervensi ini bersifat kolaboratif dan edukatif, bertujuan memberdayakan pasien dengan keterampilan praktis untuk mengelola stres secara mandiri, sehingga meningkatkan kualitas hidup dan produktivitasnya di tempat kerja.
-
Article No. 23445 | 30 Dec 2025
Klinis : 6 80% + Ny. R, 50 tahun, dirawat dengan diagnosa kanker payudara stadium II dan sedkang menjalani kemoterapi. Keluhan: mual, lemas, rambut rontok, dan merasa sangat sedih karena perubahan tubuh. Data tambahan: Mengaku takut kemoterapi berikutnya Khawatir menjadi beban keluarga Menangis saat cerita tentang kondisi dirinya Nafsu makan menurun, tidur tidak nyenyak Tampak menarik diri dan tidak mau dijenguk teman
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: B.1.1
Deskripsi Singkat: Keadaan dinamis individu yang berisiko mengalami asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh.
Kode SLKI: L.03115
Deskripsi : SLKI L.03115 berfokus pada pemantauan dan manajemen status nutrisi pasien. Intervensi keperawatan mencakup pemantauan asupan makanan dan cairan secara ketat, mencatat berat badan secara teratur, dan mengidentifikasi tanda-tanda defisit nutrisi seperti penurunan berat badan yang tidak diinginkan, kelemahan otot, atau perubahan integritas kulit. Perawat akan berkolaborasi dengan ahli gizi untuk menilai kebutuhan kalori dan protein, serta merekomendasikan diet tinggi kalori dan protein yang disesuaikan dengan toleransi pasien. Untuk mengatasi mual pasca kemoterapi, perawat dapat mengajarkan dan membantu pasien dalam teknik manajemen mual, seperti makan porsi kecil namun sering, menghindari makanan berlemak atau berbau tajam, serta mengatur waktu makan yang tepat relatif terhadap pemberian kemoterapi. Pemberian obat antiemetik sesuai resep juga menjadi bagian dari intervensi ini. Edukasi kepada keluarga tentang pentingnya dukungan nutrisi dan cara menyajikan makanan yang menarik meski nafsu makan rendah sangat krusial. Tujuan akhirnya adalah mempertahankan atau meningkatkan berat badan, memenuhi kebutuhan nutrisi untuk proses penyembuhan dan toleransi terhadap terapi, serta mencegah komplikasi lebih lanjut akibat malnutrisi.
Kode SIKI: I.03115
Deskripsi : SIKI I.03115 mengukur keberhasilan intervensi keperawatan untuk mempertahankan atau meningkatkan status nutrisi. Kriteria hasil yang dinilai meliputi: asupan makanan dan cairan pasien meningkat dan memenuhi target yang telah ditetapkan (misalnya, 80% dari porsi yang disajikan). Berat badan pasien stabil atau mengalami peningkatan progresif menuju berat badan ideal, tanpa penurunan berat badan yang signifikan. Pasien menunjukkan pengetahuan dan kemampuan dalam menerapkan strategi mengatasi mual, seperti melaporkan penurunan frekuensi dan keparahan mual setelah menerapkan teknik yang diajarkan. Parameter laboratorium yang terkait nutrisi (seperti albumin, hemoglobin) menunjukkan perbaikan atau tetap dalam batas normal. Pasien melaporkan peningkatan energi dan penurunan keluhan lemas. Selain itu, keluarga terlihat terlibat aktif dalam mendukung pemenuhan nutrisi pasien. Pencapaian kriteria ini menunjukkan bahwa intervensi keperawatan efektif dalam mengurangi risiko dan mengatasi masalah nutrisi yang dihadapi pasien akibat efek samping kemoterapi dan penurunan nafsu makan.
Kondisi: Kecemasan
Kode SDKI: G.1.5
Deskripsi Singkat: Perasaan gelisah, ketegangan, atau ketakutan yang tidak jelas sumbernya sebagai respons terhadap ancaman yang tidak spesifik.
Kode SLKI: L.09001
Deskripsi : SLKI L.09001 berfokus pada upaya mengurangi tingkat kecemasan pasien. Intervensi dimulai dengan membangun hubungan saling percaya melalui komunikasi terapeutik. Perawat akan menciptakan lingkungan yang tenang dan mendukung, serta mendengarkan secara aktif kekhawatiran pasien tanpa menghakimi. Perawat akan mengajarkan teknik relaksasi sederhana seperti napas dalam, relaksasi otot progresif, atau distraksi (misalnya, mendengarkan musik) untuk membantu pasien mengelola perasaan cemas saat muncul, terutama ketika memikirkan kemoterapi berikutnya. Edukasi tentang proses penyakit, tujuan kemoterapi, dan efek samping yang dapat dikelola sangat penting untuk mengurangi ketakutan akan hal yang tidak diketahui. Perawat akan memvalidasi perasaan pasien bahwa kecemasannya adalah wajar, sekaligus membantu mengidentifikasi pikiran negatif (seperti "saya akan menjadi beban") dan menggantinya dengan perspektif yang lebih realistis dan positif. Kolaborasi dengan tim medis untuk manajemen nyeri atau ketidaknyamanan, serta merujuk ke konselor atau support group kanker, juga merupakan bagian dari intervensi ini. Tujuannya adalah agar pasien dapat mengungkapkan perasaannya, menunjukkan penurunan tanda-tanda fisiologis kecemasan (seperti gelisah), dan menggunakan mekanisme koping yang adaptif.
Kode SIKI: I.09001
Deskripsi : SIKI I.09001 mengevaluasi penurunan tingkat kecemasan pasien. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: pasien dapat mengidentifikasi dan mengungkapkan perasaan cemas serta pemicunya secara verbal. Pasien melaporkan penurunan perasaan khawatir dan ketakutan, khususnya terkait pengobatan dan masa depan. Pasien mendemonstrasikan penggunaan setidaknya satu teknik relaksasi yang efektif untuk mengurangi kecemasan saat terjadi. Tanda-tanda fisiologis kecemasan (seperti takikardia, tremor, keringat dingin) berkurang atau hilang. Pasien menunjukkan peningkatan partisipasi dalam perawatan dirinya dan terlihat lebih tenang. Selain itu, pasien dapat mengidentifikasi sumber dukungan sosial yang dimiliki. Pencapaian ini menunjukkan bahwa intervensi keperawatan berhasil membantu pasien dalam mengelola respons emosionalnya terhadap penyakit dan pengobatan.
Kondisi: Harga Diri Rendah Situasional
Kode SDKI: G.1.3
Deskripsi Singkat: Perasaan negatif terhadap diri sendiri yang berkembang sebagai respons terhadap situasi atau peristiwa tertentu yang dirasakan sebagai kegagalan.
Kode SLKI: L.07002
Deskripsi : SLKI L.07002 bertujuan untuk meningkatkan harga diri dan citra tubuh pasien yang terganggu akibat perubahan fisik (rambut rontok) dan peran akibat penyakit. Intervensi keperawatan difokuskan pada pendekatan yang empatik dan tidak menghakimi. Perawat akan mendorong pasien untuk mengekspresikan perasaan sedih, kehilangan, dan perubahan citra tubuhnya. Validasi terhadap perasaan ini sangat penting. Perawat dapat membantu pasien mengidentifikasi kekuatan dan kualitas positif yang masih dimilikinya di luar penampilan fisik. Pemberian edukasi tentang bahwa kerontokan rambut adalah efek sementara dari kemoterapi dapat memberikan harapan. Perawat dapat mendiskusikan dan membantu dalam modifikasi penampilan, seperti penggunaan penutup kepala (scarves, turban), wig, atau topi yang disukai pasien untuk meningkatkan rasa percaya dirinya. Memberikan pujian yang tulus atas upaya dan keberaniannya menjalani pengobatan juga dapat membangun harga diri. Melibatkan pasien dalam pengambilan keputusan terkait perawatannya memberikan rasa kontrol. Dukungan dari keluarga dan teman sangat vital; perawat dapat membimbing keluarga untuk memberikan dukungan emosional tanpa overprotektif. Tujuannya adalah membantu pasien menerima perubahan tubuhnya, mengintegrasikan perubahan ini ke dalam konsep dirinya, dan mempertahankan rasa harga diri.
Kode SIKI: I.07002
Deskripsi : SIKI I.07002 mengukur peningkatan harga diri dan adaptasi terhadap perubahan citra tubuh. Kriteria hasil yang dinilai antara lain: pasien mulai dapat membicarakan perubahan tubuhnya dengan lebih terbuka dan menerima. Pasien menunjukkan minat untuk merawat penampilannya (misalnya, memilih dan menggunakan penutup kepala). Pasien mengungkapkan pernyataan yang lebih positif tentang dirinya sendiri dan nilai dirinya di luar kondisi fisik. Pasien mulai mau menerima kunjungan dari teman dan berinteraksi sosial kembali, mengurangi perilaku menarik diri. Ekspresi wajah pasien lebih cerah, kontak mata lebih baik, dan menangis berkurang. Pasien dapat mengidentifikasi aspek-aspek dalam hidupnya yang masih dapat ia kendalikan. Pencapaian ini menunjukkan bahwa pasien sedang dalam proses beradaptasi dan membangun kembali harga dirinya di tengah tantangan penyakit kanker.
Kondisi: Risiko Isolasi Sosial
Kode SDKI: S.2.3
Deskripsi Singkat: Keadaan dinamis individu yang berisiko mengalami pengalaman kesepian yang disebabkan oleh ketidakmampuan untuk berhubungan dengan orang lain.
Kode SLKI: L.10002
Deskripsi : SLKI L.10002 berfokus pada pencegahan dan pengurangan isolasi sosial. Intervensi diawali dengan mengkaji penyebab menarik diri, yang pada kasus ini kemungkinan besar terkait dengan perubahan fisik, kesedihan, dan perasaan menjadi beban. Perawat akan mendorong komunikasi terbuka antara pasien dan keluarganya tentang kebutuhan akan dukungan sosial. Perawat dapat memfasilitasi kunjungan dengan mengatur waktu dan durasi kunjungan yang nyaman bagi pasien, serta memberikan pengertian kepada pengunjung tentang kondisi pasien. Perawat juga dapat mendorong pasien untuk terhubung dengan kelompok pendukung (support group) sesama penyintas kanker, baik secara daring maupun luring, di mana pasien dapat berbagi pengalaman dengan orang yang memahami kondisinya. Mengajak pasien untuk beraktivitas ringan di ruang bersama atau terlibat dalam kegiatan di ruang perawatan (jika memungkinkan) dapat menjadi langkah awal. Perawat juga akan bekerja sama dengan keluarga untuk merencanakan aktivitas yang menyenangkan dan tidak melelahkan di rumah. Tujuan intervensi ini adalah meningkatkan interaksi sosial pasien secara bertahap, mengurangi perasaan kesepian, dan memperkuat jaringan dukungan sosialnya.
Kode SIKI: I.10002
Deskri
Article No. 23446 | 30 Dec 2025
Klinis : Kasus F Ny. A, 40 tahun, dirawat dengan infeksi saluran pernapasan (ISPA). Keluhan: batuk, sesak ringan, demam, sulit tidur. Data lingkungan kamar: Ruangan kurang ventilasi, bau obat menyengat Jendela jarang dibuka Suhu ruangan panas Pencahayaan kurang Lantai sedikit lembab Banyak pengunjung sehingga ruangan bising Pasien tampak gelisah dan tidak nyaman
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Peningkatan risiko invasi dan multiplikasi patogen yang dapat membahayakan kesehatan.
Kode SLKI: 1900
Deskripsi : Kontrol Infeksi. Tindakan keperawatan untuk meminimalkan atau mencegah penularan organisme patogen. Intervensi ini mencakup serangkaian tindakan protektif yang ditujukan untuk melindungi pasien, perawat, pengunjung, dan lingkungan dari penyebaran infeksi. Pada kasus Ny. A, lingkungan kamar yang kurang mendukung menjadi fokus utama. Tindakan spesifik meliputi: (1) Kolaborasi untuk memastikan kebersihan dan sterilitas alat medis serta lingkungan; (2) Edukasi kepada pasien dan keluarga (pengunjung) tentang pentingnya etika batuk, cuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau hand sanitizer, serta pembatasan pengunjung yang sakit; (3) Mengatur sirkulasi udara dengan membuka jendela secara berkala (dengan mempertimbangkan kondisi pasien) untuk mengurangi kelembaban, bau obat, dan kepadatan patogen di udara; (4) Memastikan kebersihan lantai yang lembab untuk mencegah pertumbuhan mikroorganisme; (5) Menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) yang sesuai seperti masker saat merawat pasien dengan ISPA; dan (6) Memantau tanda-tanda vital terutama suhu untuk deteksi dini komplikasi infeksi. Implementasi SLKI ini bertujuan memutus rantai penularan, mencegah infeksi nosokomial, dan mempercepat penyembuhan.
Kode SIKI: 4201
Deskripsi : Tindakan Pencegahan Infeksi. Kriteria hasil yang diharapkan mencakup: (1) Tidak ada tanda-tanda infeksi baru (seperti demam yang memberat, sputum purulen) selama perawatan; (2) Lingkungan perawatan menunjukkan peningkatan kebersihan dan kenyamanan (ventilasi memadai, bau tidak menyengat, lantai kering); (3) Pasien dan keluarga/pengunjung dapat mendemonstrasikan perilaku pencegahan infeksi seperti menutup mulut saat batuk dan mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak; (4) Jumlah pengunjung terkendali sehingga kebisingan berkurang dan risiko penularan menurun; (5) Parameter laboratorium yang terkait infeksi (jika dilakukan) menunjukkan tren perbaikan. Keberhasilan SIKI ini diukur dari terciptanya lingkungan yang aman secara infeksiologis dan meningkatnya kepatuhan terhadap protokol pencegahan.
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: 0010
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang paten.
Kode SLKI: 3140
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas. Tindakan keperawatan untuk mempertahankan jalan napas paten dan memperbaiki pertukaran gas. Pada Ny. A dengan keluhan batuk dan sesak ringan, intervensi difokuskan untuk memfasilitasi pengeluaran sekresi dan memastikan oksigenasi adekuat. Tindakan spesifik meliputi: (1) Posisikan pasien dalam posisi semi-Fowler atau Fowler untuk memudahkan ekspansi paru dan mengurangi kerja napas; (2) Ajarkan dan bantu latihan napas dalam dan batuk efektif untuk mobilisasi sekresi; (3) Lakukan fisioterapi dada (perkusi dan vibrasi) jika diindikasikan untuk membantu mengeluarkan dahak; (4) Kelola terapi nebulizer atau obat-obatan mukolitik/ekspektoran sesuai kolaborasi dengan dokter; (5) Lakukan penghisapan lendir (suction) jika pasien tidak mampu mengeluarkan sekresi sendiri; (6) Monitor frekuensi, irama, dan kedalaman pernapasan serta suara napas (mengi, ronki) setiap shift; (7) Anjurkan intake cairan yang cukup dan hangat (jika tidak ada kontraindikasi) untuk mengencerkan sekresi; (8) Monitor warna, konsistensi, dan jumlah sputum. SLKI ini bertujuan untuk mengatasi obstruksi jalan napas, mencegah atelektasis, dan memperbaiki pertukaran gas.
Kode SIKI: 0402
Deskripsi : Status Pernapasan: Ventilasi. Kriteria hasil yang diharapkan adalah: (1) Jalan napas paten dibuktikan dengan tidak adanya suara napas abnormal seperti ronki atau mengi yang signifikan; (2) Pasien mampu mengeluarkan sekresi secara efektif melalui batuk; (3) Frekuensi pernapasan dalam rentang normal (16-20 kali/menit) dan sesak napas berkurang; (4) Suara napas bersih di semua lapang paru; (5) Warna sputum jernih atau putih (bukan purulen) dan jumlahnya berkurang; (6) Nilai saturasi oksigen dalam batas normal (>95%). Pencapaian SIKI ini menunjukkan resolusi dari masalah bersihan jalan napas tidak efektif.
Kondisi: Gangguan Pola Tidur
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Gangguan pada kuantitas dan kualitas tidur yang menyebabkan ketidaknyamanan atau mengganggu gaya hidup yang diinginkan.
Kode SLKI: 1850
Deskripsi : Peningkatan Tidur. Tindakan keperawatan untuk memfasilitasi tidur yang nyenyak dan nyaman. Pada Ny. A, gangguan tidur disebabkan oleh faktor multipel: gejala penyakit (batuk, sesak, demam), ketidaknyamanan lingkungan (panas, bising, bau, pencahayaan kurang), dan kecemasan. Intervensi komprehensif meliputi: (1) Atur lingkungan tidur: turunkan suhu ruangan dengan AC/kipas angin, kurangi kebisingan dengan mengatur jam berkunjung dan volume suara, atur pencahayaan redup di malam hari, dan pastikan ventilasi memadai untuk sirkulasi udara segar; (2) Lakukan manajemen gejala sebelum tidur: berikan terapi inhalasi atau obat batuk/penurun panas sesuai kolaborasi untuk mengurangi gejala pengganggu; (3) Anjurkan teknik relaksasi sederhana seperti napas dalam atau mendengarkan musik lembut; (4) Batasi asupan kafein atau stimulan di sore/malam hari; (5) Bantu kebersihan diri (cuci muka, ganti pakaian) sebelum tidur untuk meningkatkan kenyamanan; (6) Atur posisi tidur yang nyaman, biasanya semi-Fowler untuk memudahkan pernapasan; (7) Kembangkan ritual tidur yang konsisten (misalnya, membaca, mendengarkan musik tenang). SLKI ini bertujuan memodifikasi faktor penyebab dan menciptakan kondisi optimal untuk memulai dan mempertahankan tidur.
Kode SIKI: 402
Deskripsi : Kualitas Tidur. Kriteria hasil yang diharapkan adalah: (1) Pasien melaporkan peningkatan kualitas tidur (misalnya, dapat tidur lebih cepat, terbangun lebih sedikit di malam hari, dan merasa lebih segar saat bangun); (2) Durasi tidur meningkat mendekati kebutuhan normal (6-8 jam untuk dewasa); (3) Gejala yang mengganggu tidur (batuk, sesak) berkurang intensitasnya di malam hari; (4) Lingkungan fisik kamar lebih kondusif untuk tidur (suhu nyaman, tenang, cahaya sesuai); (5) Pasien tampak lebih tenang dan tidak gelisah saat tidur; (6) Pasien menyatakan kepuasan terhadap kenyamanan lingkungan dan perawatan yang diberikan. Pencapaian SIKI ini penting untuk mendukung proses penyembuhan dan kesejahteraan psikologis pasien.
Article No. 23448 | 30 Dec 2025
Klinis : Mengeluh mual hingga ingin muntah
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Mual
Kode SDKI: 0016
Deskripsi Singkat: Pengalaman subjektif yang tidak menyenangkan berupa dorongan untuk muntah.
Kode SLKI: 1601
Deskripsi : Mual terkontrol. Ditandai dengan: 1) Klien melaporkan penurunan atau hilangnya perasaan mual. 2) Klien menunjukkan kemampuan untuk melakukan aktivitas sesuai tingkat kemampuan. 3) Tanda-tanda vital dalam rentang normal. 4) Tidak ada muntah atau muntah minimal. 5) Klien menunjukkan pengetahuan tentang strategi penanganan mual.
Kode SIKI: 4160
Deskripsi : Manajemen Mual. Tindakan keperawatan: 1) Kaji karakteristik mual (faktor pencetus, waktu, frekuensi, intensitas, pola). 2) Kaji faktor yang memperberat dan meringankan mual. 3) Observasi tanda-tanda mual (peningkatan produksi saliva, pucat, berkeringat, takikardia). 4) Kaji tanda-tanda dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit jika disertai muntah. 5) Identifikasi penyebab mual (misal: obat, nyeri, psikologis, metabolik, gastrointestinal). 6) Kolaborasi pemberian obat antiemetik sesuai indikasi. 7) Atur posisi klien untuk meminimalkan aspirasi. 8) Ajarkan teknik relaksasi dan distraksi. 9) Anjurkan menghindari bau yang kuat atau tidak sedap. 10) Atur lingkungan yang nyaman dan ventilasi baik. 11) Anjurkan makan porsi kecil tapi sering dengan tekstur lunak. 12) Anjurkan menghindari makanan berlemak, berminyak, dan terlalu manis. 13) Anjurkan untuk tidak langsung berbaring setelah makan. 14) Berikan perawatan mulut secara teratur. 15) Monitor asupan dan haluaran cairan. 16) Edukasi klien dan keluarga tentang penyebab dan penanganan mual.
Article No. 23435 | 29 Dec 2025
Klinis : bayi lahir SC dengn diagnosis asfiksia lingkar kepala 33 lingkar dada 35 panjang badan 50 nadi 127 suhu 36,7 pernpasan 55x / menit
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Diagnosa Keperawatan, Luaran, dan Intervensi Berdasarkan
Article No. 23436 | 29 Dec 2025
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: