Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 3471 | 24 Oct 2024
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi pasien yang Anda deskripsikan.
Diagnosa Keperawatan:
1. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
- Definisi: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang terbuka.
- Penyebab: Adanya sekresi berlebih dan kelainan struktur/fungsi saluran pernapasan (lesi di paru).
2. Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
- Definisi: Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
- Penyebab: Kehilangan nafsu makan akibat penyakit.
3. Intoleransi Aktivitas
- Definisi: Ketidakmampuan untuk bertoleransi terhadap aktivitas fisik.
- Penyebab: Sesak napas akibat penyakit paru.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif: Tanda dan gejala yang muncul seperti adanya suara napas bronkial, batuk produktif, dan sesak napas.
- Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh: Tanda dan gejala seperti kehilangan nafsu makan, penurunan berat badan.
- Intoleransi Aktivitas: Tanda dan gejala seperti sesak napas saat aktivitas.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Bersihan Jalan Napas Terjaga
- Status Nutrisi Membaik
- Toleransi Aktivitas Meningkat
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Manajemen Jalan Napas
- Manajemen Nutrisi
- Manajemen Aktivitas
Kesimpulan, pasien membutuhkan perawatan keperawatan yang terfokus pada pemeliharaan jalan napas, perbaikan status nutrisi, dan peningkatan toleransi aktivitas, sesuai dengan diagnosa keperawatan yang telah diidentifikasi. -
Article No. 3472 | 24 Oct 2024
Klinis : Ketidakadekuatan pertahanan tubuh primer (ketuban pecah sebelum waktunya) - Ketuban merembes berwarna hijau jernih - S : 36,9℃
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat dari SDKI, SLKI, dan SIKI untuk kondisi yang Anda deskripsikan:
Diagnosa Keperawatan:
Ketidakadekuatan pertahanan tubuh primer (ketuban pecah sebelum waktunya)
Penjelasan:
1. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Definisi: Kegagalan sistem imun untuk mencegah atau mengatasi invasi patogen.
- Penyebab: Paparan terhadap patogen, gangguan sistem imun.
- Gejala dan Tanda: Peningkatan risiko infeksi, demam, malaise.
2. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Luaran yang Diharapkan: Pertahanan tubuh adekuat, bebas infeksi.
- Kriteria Hasil: Suhu tubuh normal, tidak ada tanda-tanda infeksi.
3. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Intervensi Keperawatan: Pemantauan tanda-tanda vital, pemberian antibiotik profilaksis, menjaga lingkungan aseptik, edukasi pasien dan keluarga tentang pentingnya menjaga kebersihan.
Berdasarkan kondisi yang Anda deskripsikan, yaitu ketuban pecah sebelum waktunya, dengan suhu 36,9°C, dan tidak ada tanda-tanda infeksi, maka diagnosa keperawatan yang sesuai adalah Ketidakadekuatan pertahanan tubuh primer. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah pemantauan tanda-tanda vital, pemberian antibiotik profilaksis, menjaga lingkungan aseptik, dan edukasi pasien serta keluarga. -
Article No. 3473 | 24 Oct 2024
Klinis : tekanan darah 153/87 heart rate 67 x/ menit
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang Anda berikan, yaitu tekanan darah 153/87 mmHg, heart rate 67 kali per menit, dengan tone akademis dan persona pakar/nurse, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
Diagnosa Keperawatan:
1. Hipertensi
Penjelasan SDKI, SLKI, SIKI:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Definisi: Peningkatan tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg dan/atau tekanan darah diastolik ≥ 90 mmHg.
- Penyebab: Faktor risiko seperti genetik, gaya hidup, usia, obesitas, stres, dan konsumsi garam berlebih.
- Gejala: Sakit kepala, pusing, jantung berdebar, mudah lelah, pandangan kabur.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Luaran yang diharapkan: Tekanan darah menurun, tidak ada komplikasi, gaya hidup sehat.
- Kriteria hasil: Tekanan darah dalam rentang normal, tidak ada gejala, pasien dapat mengelola faktor risiko.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Intervensi: Edukasi gaya hidup sehat, monitor tekanan darah, kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain, pemberian obat antihipertensi.
- Tujuan: Membantu pasien memahami dan mengelola hipertensi, mencapai tekanan darah normal, dan mencegah komplikasi. -
Article No. 3474 | 24 Oct 2024
Klinis : dyspnue,pco2 80
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Dengan mempertimbangkan gejala dyspnue (kesulitan bernapas) dan nilai PCO2 yang tinggi (80 mmHg), diagnosis yang sesuai adalah:
1. Kode ICD-10:
- Kode: J96.01
- Deskripsi: Insufisiensi pernapasan, akut
Penjelasan:
- Kode ICD-10 J96.01 menggambarkan kondisi insufisiensi pernapasan akut, yang ditandai dengan gejala dyspnue (kesulitan bernapas) dan peningkatan nilai PCO2 (hiperkapnia).
- Insufisiensi pernapasan akut dapat disebabkan oleh berbagai kondisi, seperti penyakit paru-paru, gangguan sistem saraf pusat, atau kelemahan otot pernapasan.
- Penting untuk melakukan evaluasi lanjut untuk menentukan penyebab yang mendasari kondisi ini.
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 93.90
- Deskripsi: Ventilasi mekanik, tidak dikategorikan di tempat lain
Penjelasan:
- Jika diperlukan, tindakan medis yang mungkin dilakukan adalah pemberian ventilasi mekanik (mechanical ventilation) untuk membantu pasien bernapas.
- Kode ICD-9-CM 93.90 mencakup prosedur ventilasi mekanik yang tidak termasuk dalam kategori lain, seperti ventilasi non-invasi atau ventilasi dengan intubasi endotrakeal.
- Tindakan ini bertujuan untuk membantu pasien mempertahankan pertukaran gas yang adekuat dan mengatasi insufisiensi pernapasan akut.
Penanganan lebih lanjut akan bergantung pada penyebab dasar dan tingkat keparahan kondisi pasien, serta evaluasi komprehensif oleh tim medis. -
Article No. 3475 | 24 Oct 2024
Klinis : dyspnue,pco2 80
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang diberikan, yaitu dyspnea dengan PCO2 80, maka dapat ditegakkan diagnosis keperawatan sebagai berikut:
1. Diagnosis Keperawatan (SDKI):
Pola Napas Tidak Efektif
Definisi: Ketidakmampuan untuk bernapas dengan lancar yang dapat mengancam kesehatan.
Penjelasan Singkat:
- Pola Napas Tidak Efektif ditandai dengan adanya kesulitan bernapas, perubahan irama dan kedalaman napas, serta peningkatan kerja napas.
- Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti gangguan pada sistem pernapasan, penyakit kardiovaskular, atau kondisi lain yang memengaruhi fungsi pernapasan.
- Intervensi keperawatan yang diperlukan meliputi pemantauan fungsi pernapasan, pemberian oksigenasi, manajemen kelelahan, serta edukasi terkait pola napas yang efektif.
2. Luaran Keperawatan (SLKI):
Status Pernapasan: Membaik
Definisi: Kemampuan untuk bernapas dengan lancar sesuai kebutuhan.
Penjelasan Singkat:
- Status Pernapasan: Membaik menggambarkan perbaikan dalam pola, kedalaman, dan efektivitas napas.
- Indikator keberhasilan dapat dilihat dari frekuensi napas, irama napas, kedalaman napas, dan tanda-tanda distres pernapasan yang kian membaik.
- Tujuan intervensi keperawatan adalah untuk mencapai pola napas yang efektif dan sesuai dengan kebutuhan.
3. Intervensi Keperawatan (SIKI):
Manajemen Ventilasi
Definisi: Upaya untuk mempertahankan atau meningkatkan ventilasi paru yang efektif.
Penjelasan Singkat:
- Manajemen Ventilasi meliputi tindakan keperawatan untuk memantau dan mengoptimalkan fungsi ventilasi paru.
- Intervensi dapat berupa pemberian oksigen, pengaturan posisi, latihan pernapasan, serta pemberian obat-obatan yang dapat membantu meningkatkan ventilasi.
- Tujuan intervensi adalah untuk memastikan oksigenasi darah yang adekuat dan mengurangi risiko komplikasi terkait gangguan ventilasi.
Dalam memberikan asuhan keperawatan, perawat perlu mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan pasien secara holistik, serta menerapkan standar praktik keperawatan yang berlaku. -
Article No. 3321 | 24 Oct 2024
Klinis : gangguan pola tidur
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Assalamu'alaikum, Selamat siang. Saya Perawat profesional yang akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat berdasarkan standar SDKI, SLKI, dan SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi gangguan pola tidur.
Diagnosa Keperawatan:
Berdasarkan kondisi yang Anda paparkan, diagnosa keperawatan yang sesuai adalah "Gangguan Pola Tidur".
Penjelasan Singkat:
1. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Definisi: Ketidakmampuan untuk mencapai atau mempertahankan jumlah dan kualitas tidur yang diinginkan.
- Karakteristik Utama: Keluhan sulit memulai tidur, sering terbangun di malam hari, tidur tidak nyenyak, dan bangun terlalu pagi.
- Faktor Berhubungan: Stres, kecemasan, rasa sakit, lingkungan yang tidak mendukung, dan pola tidur yang tidak teratur.
2. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Luaran yang Diharapkan: Pasien dapat mencapai dan mempertahankan pola tidur yang adekuat.
- Indikator: Pasien dapat tertidur dalam waktu 30 menit, tidur tanpa terbangun di malam hari, dan merasa segar saat bangun tidur.
3. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Intervensi Keperawatan: Manajemen Tidur, Terapi Relaksasi, Edukasi Higiene Tidur, dan Modifikasi Lingkungan.
- Tujuan Intervensi: Memfasilitasi pasien untuk mencapai dan mempertahankan pola tidur yang adekuat, mengurangi faktor-faktor yang mengganggu tidur, dan meningkatkan kualitas tidur.
Semoga penjelasan ini bermanfaat bagi Anda. Jika ada pertanyaan lebih lanjut, silakan tanyakan. Wassalamu'alaikum. -
Article No. 3322 | 24 Oct 2024
Klinis : Wheezing (terutama saat ekspirasi) Sesak napas Sesak dada Batuk, terutama di malam hari atau pagi hari Selama eksaserbasi akut: Meningkatnya kerja pernapasan Penggunaan otot aksesori Takipnea Takikardia Menurunnya laju aliran ekspirasi puncak
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat berdasarkan standar SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi yang Anda deskripsikan.
Diagnosa Keperawatan:
1. Pola Napas Tidak Efektif
Definisi: Ketidakmampuan untuk bernapas dengan irama normal yang dapat mengakibatkan ketidakadekuatan ventilasi.
Faktor yang Berhubungan: Obstruksi jalan napas, peningkatan upaya napas.
2. Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas
Definisi: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan jalan napas yang bebas.
Faktor yang Berhubungan: Peningkatan produksi sekret, penurunan kemampuan batuk.
3. Intoleransi Aktivitas
Definisi: Ketidakmampuan untuk bertoleransi terhadap aktivitas fisik.
Faktor yang Berhubungan: Ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.
Penjelasan Singkat:
1. Pola Napas Tidak Efektif:
- Terutama disebabkan oleh obstruksi jalan napas yang menyebabkan peningkatan upaya napas.
- Dapat ditandai dengan wheezing (terutama saat ekspirasi), sesak napas, dan takipnea.
2. Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas:
- Disebabkan oleh peningkatan produksi sekret dan penurunan kemampuan batuk.
- Dapat ditandai dengan sesak dada dan batuk, terutama di malam hari atau pagi hari.
3. Intoleransi Aktivitas:
- Disebabkan oleh ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen, yang dapat ditandai dengan meningkatnya kerja pernapasan, penggunaan otot aksesori, dan menurunnya laju aliran ekspirasi puncak.
- Dapat menyebabkan kelelahan dan penurunan kapasitas fungsional.
Pada kondisi eksaserbasi akut, dapat terjadi peningkatan gejala-gejala tersebut, seperti meningkatnya kerja pernapasan, penggunaan otot aksesori, takipnea, dan takikardia.
Sebagai perawat, saya akan melakukan pengkajian komprehensif, memberikan intervensi keperawatan yang sesuai, dan melakukan kolaborasi dengan tenaga kesehatan lainnya untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi pasien. -
Article No. 3323 | 24 Oct 2024
Klinis : Seorang pria berusia 55 tahun sedang menjalani program pengobatan untuk gagal jantung kongestif yang telah ia derita selama 6 bulan terakhir. Saat berkunjung ke poliklinik untuk kontrol, pasien mengeluhkan bahwa ia mudah merasa lelah selama beraktivitas. Sebagai contoh, ketika ia bermain dengan cucunya yang berusia 2 tahun dan mencoba mengejarnya, ia tiba-tiba merasa sangat lelah dan mengalami sesak napas. Dalam pemeriksaan fisik, tekanan darah (TD) pasien tercatat 150/90 mmHg, nadi (N) 88 kali per menit, frekuensi napas (RR) 20 kali per menit, dan suhu tubuh (S) 36,7°C. Pasien memiliki tinggi badan 158 cm dengan berat badan 80 kg, menunjukkan indeks massa tubuh (IMT) yang tergolong overweight. Pada pengkajian lebih lanjut, ditemukan jugular vein distention (JVD) positif dan adanya edema pada ekstremitas bawah, yang seringkali menjadi tanda penumpukan cairan pada kondisi gagal jantung. Pasien juga memiliki riwayat hipertensi yang sudah ia ketahui sejak 10 tahun yang lalu. Meskipun sudah menjalani terapi, ia mengaku sering kesulitan untuk minum obat secara teratur. Selain itu, ia juga masih sulit menghentikan kebiasaannya mengonsumsi makanan tinggi lemak, terutama makanan seperti jeroan. Saat ini, pasien tinggal bersama anak perempuannya dan menantunya, yang membantu merawatnya.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan keterangan yang diberikan, dapat disusun diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia sebagai berikut:
Diagnosa Keperawatan:
1. Intoleransi Aktivitas berhubungan dengan penurunan fungsi kardiovaskular akibat gagal jantung kongestif.
2. Ketidakefektifan Manajemen Regimen Terapeutik berhubungan dengan kurangnya motivasi dan pemahaman pasien terhadap pengobatan.
3. Kelebihan Volume Cairan berhubungan dengan gangguan mekanisme pengaturan cairan akibat gagal jantung kongestif.
Penjelasan Singkat:
1. Intoleransi Aktivitas:
SDKI: Keterbatasan kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas rutin yang diinginkan atau diperlukan.
SLKI: Intervensi yang dapat dilakukan adalah membantu pasien beradaptasi dengan keterbatasan aktivitas, mempertahankan aktivitas yang masih dapat dilakukan, dan meningkatkan toleransi terhadap aktivitas.
SIKI: Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah manajemen energi, pelatihan aktivitas, dan edukasi terkait aktivitas yang sesuai dengan kondisi pasien.
2. Ketidakefektifan Manajemen Regimen Terapeutik:
SDKI: Ketidakmampuan secara mandiri mengatur atau mengintegrasikan pengobatan, terapi, gaya hidup, atau perilaku kesehatan untuk mencapai tujuan kesehatan yang diharapkan.
SLKI: Intervensi yang dapat dilakukan adalah membantu pasien memahami pentingnya pengobatan, mengembangkan strategi untuk meningkatkan kepatuhan, dan mengevaluasi efektivitas regimen terapeutik.
SIKI: Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah manajemen obat, edukasi kesehatan, dan pengawasan pengobatan.
3. Kelebihan Volume Cairan:
SDKI: Akumulasi cairan yang berlebihan dalam satu atau lebih kompartemen tubuh.
SLKI: Intervensi yang dapat dilakukan adalah memantau tanda-tanda kelebihan cairan, mempertahankan keseimbangan cairan, dan mengevaluasi efektivitas intervensi.
SIKI: Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah manajemen cairan, pembatasan asupan cairan, dan pemantauan tanda-tanda kelebihan cairan.
Dalam memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif, perawat harus mempertimbangkan kondisi klinis pasien, riwayat medis, serta faktor-faktor lain yang mempengaruhi keberhasilan intervensi keperawatan. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain, seperti dokter dan ahli gizi, juga sangat penting dalam mencapai hasil perawatan yang optimal. -
Article No. 3324 | 24 Oct 2024
Klinis : Seorang pria berusia 55 tahun sedang menjalani program pengobatan untuk gagal jantung kongestif yang telah ia derita selama 6 bulan terakhir. Saat berkunjung ke poliklinik untuk kontrol, pasien mengeluhkan bahwa ia mudah merasa lelah selama beraktivitas. Sebagai contoh, ketika ia bermain dengan cucunya yang berusia 2 tahun dan mencoba mengejarnya, ia tiba-tiba merasa sangat lelah dan mengalami sesak napas. Dalam pemeriksaan fisik, tekanan darah (TD) pasien tercatat 150/90 mmHg, nadi (N) 88 kali per menit, frekuensi napas (RR) 20 kali per menit, dan suhu tubuh (S) 36,7°C. Pasien memiliki tinggi badan 158 cm dengan berat badan 80 kg, menunjukkan indeks massa tubuh (IMT) yang tergolong overweight. Pada pengkajian lebih lanjut, ditemukan jugular vein distention (JVD) positif dan adanya edema pada ekstremitas bawah, yang seringkali menjadi tanda penumpukan cairan pada kondisi gagal jantung. Pasien juga memiliki riwayat hipertensi yang sudah ia ketahui sejak 10 tahun yang lalu. Meskipun sudah menjalani terapi, ia mengaku sering kesulitan untuk minum obat secara teratur. Selain itu, ia juga masih sulit menghentikan kebiasaannya mengonsumsi makanan tinggi lemak, terutama makanan seperti jeroan. Saat ini, pasien tinggal bersama anak perempuannya dan menantunya, yang membantu merawatnya. Data Subjektif - Pasien merasa cepat lelah saat beraktivitas, terutama ketika bermain dengan cucunya. - Pasien mengeluh sesak napas setelah melakukan aktivitas ringan. - Pasien mengaku sulit minum obat secara rutin. - Pasien kesulitan mengubah pola makannya, terutama menghentikan konsumsi makanan tinggi lemak seperti jeroan. Data Objektif: - Tekanan darah: 150/90 mmHg - Nadi: 88 kali per menit - Frekuensi napas: 20 kali per menit - Suhu tubuh: 36,7°C - Tinggi badan: 158 cm - Berat badan: 80 kg - IMT: 32,1 kg/m² (tergolong overweight) - JVD: (+) (Jugular Vein Distention) - Edema: (+) pada ekstremitas bawah - Riwayat hipertensi selama 10 tahun.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan data yang diberikan, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat menggunakan SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi pasien tersebut:
Diagnosa Keperawatan:
1. Intoleransi Aktivitas berhubungan dengan pembatasan fisiologis akibat gagal jantung kongestif yang ditandai dengan mudah merasa lelah dan sesak napas saat beraktivitas.
2. Ketidakpatuhan Regimen Terapeutik berhubungan dengan kurangnya motivasi untuk minum obat secara teratur dan mengubah pola makan yang tidak sehat.
3. Kelebihan Volume Cairan berhubungan dengan penurunan fungsi jantung yang ditandai dengan adanya JVD dan edema pada ekstremitas bawah.
Penjelasan Singkat:
1. Intoleransi Aktivitas:
- SDKI: Ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas rutin yang diinginkan atau diperlukan karena adanya pembatasan fisik.
- SLKI: Peningkatan kemampuan fisik untuk melakukan aktivitas rutin.
- SIKI: Intervensi keperawatan yang bertujuan untuk membantu pasien meningkatkan toleransi aktivitas sesuai kemampuan.
2. Ketidakpatuhan Regimen Terapeutik:
- SDKI: Perilaku pasien yang tidak sesuai dengan rencana perawatan yang disepakati dengan tenaga kesehatan.
- SLKI: Kepatuhan pasien terhadap regimen terapeutik.
- SIKI: Intervensi keperawatan yang bertujuan untuk meningkatkan kepatuhan pasien terhadap regimen terapeutik.
3. Kelebihan Volume Cairan:
- SDKI: Kelebihan cairan yang ditandai dengan adanya edema dan JVD.
- SLKI: Keseimbangan cairan.
- SIKI: Intervensi keperawatan yang bertujuan untuk mempertahankan keseimbangan cairan.
Secara garis besar, diagnosa keperawatan ini menggambarkan masalah utama pasien yaitu intoleransi aktivitas, ketidakpatuhan terhadap regimen terapeutik, dan kelebihan volume cairan yang terkait dengan kondisi gagal jantung kongestif yang dideritanya. Intervensi keperawatan yang tepat perlu dilakukan untuk membantu pasien mengatasi masalah-masalah tersebut. -
Article No. 3325 | 24 Oct 2024
Klinis : Seorang pria berusia 55 tahun sedang menjalani program pengobatan untuk gagal jantung kongestif yang telah ia derita selama 6 bulan terakhir. Saat berkunjung ke poliklinik untuk kontrol, pasien mengeluhkan bahwa ia mudah merasa lelah selama beraktivitas. Sebagai contoh, ketika ia bermain dengan cucunya yang berusia 2 tahun dan mencoba mengejarnya, ia tiba-tiba merasa sangat lelah dan mengalami sesak napas. Dalam pemeriksaan fisik, tekanan darah (TD) pasien tercatat 150/90 mmHg, nadi (N) 88 kali per menit, frekuensi napas (RR) 20 kali per menit, dan suhu tubuh (S) 36,7°C. Pasien memiliki tinggi badan 158 cm dengan berat badan 80 kg, menunjukkan indeks massa tubuh (IMT) yang tergolong overweight. Pada pengkajian lebih lanjut, ditemukan jugular vein distention (JVD) positif dan adanya edema pada ekstremitas bawah, yang seringkali menjadi tanda penumpukan cairan pada kondisi gagal jantung. Pasien juga memiliki riwayat hipertensi yang sudah ia ketahui sejak 10 tahun yang lalu. Meskipun sudah menjalani terapi, ia mengaku sering kesulitan untuk minum obat secara teratur. Selain itu, ia juga masih sulit menghentikan kebiasaannya mengonsumsi makanan tinggi lemak, terutama makanan seperti jeroan. Saat ini, pasien tinggal bersama anak perempuannya dan menantunya, yang membantu merawatnya. Data Subjektif - Pasien merasa cepat lelah saat beraktivitas, terutama ketika bermain dengan cucunya. - Pasien mengeluh sesak napas setelah melakukan aktivitas ringan. - Pasien mengaku sulit minum obat secara rutin. - Pasien kesulitan mengubah pola makannya, terutama menghentikan konsumsi makanan tinggi lemak seperti jeroan. Data Objektif: - Tekanan darah: 150/90 mmHg - Nadi: 88 kali per menit - Frekuensi napas: 20 kali per menit - Suhu tubuh: 36,7°C - Tinggi badan: 158 cm - Berat badan: 80 kg - IMT: 32,1 kg/m² (tergolong overweight) - JVD: (+) (Jugular Vein Distention) - Edema: (+) pada ekstremitas bawah - Riwayat hipertensi selama 10 tahun.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan data yang diberikan, dapat ditetapkan beberapa diagnosa keperawatan dan penjelasan singkatnya menggunakan format SDKI - SLKI - SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) sebagai berikut:
1. Diagnosa Keperawatan: Intoleransi Aktivitas
- SDKI: Ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas harian yang diinginkan atau diperlukan karena adanya batasan.
- SLKI: Mempertahankan atau meningkatkan tingkat aktivitas yang optimal.
- SIKI: Manajemen Energi, Latihan Fisik, Manajemen Aktivitas.
Penjelasan Singkat:
Pasien mengeluhkan mudah merasa lelah saat beraktivitas, terutama saat bermain dengan cucunya. Hal ini dapat disebabkan oleh kondisi gagal jantung kongestif yang diderita, yang menyebabkan penurunan kemampuan tubuh untuk memenuhi kebutuhan oksigen saat beraktivitas.
2. Diagnosa Keperawatan: Ketidakefektifan Manajemen Terapi
- SDKI: Ketidakmampuan untuk mengelola pengobatan secara mandiri.
- SLKI: Melakukan manajemen terapi secara efektif.
- SIKI: Manajemen Pengobatan, Pendidikan Pasien, Konseling.
Penjelasan Singkat:
Pasien mengaku sering kesulitan untuk minum obat secara teratur, meskipun sudah menjalani pengobatan untuk gagal jantung kongestif. Hal ini dapat memengaruhi efektivitas pengobatan dan kontrol kondisi pasien.
3. Diagnosa Keperawatan: Ketidakefektifan Manajemen Kesehatan
- SDKI: Ketidakmampuan untuk mengidentifikasi, mengelola, dan mengendalikan faktor-faktor yang memengaruhi kesehatan.
- SLKI: Mengelola kesehatan secara efektif.
- SIKI: Edukasi Kesehatan, Konseling Gaya Hidup, Fasilitasi Perubahan Gaya Hidup.
Penjelasan Singkat:
Pasien masih sulit mengubah pola makan, terutama menghentikan konsumsi makanan tinggi lemak seperti jeroan. Hal ini dapat memperburuk kondisi gagal jantung dan hipertensi yang diderita.
Secara keseluruhan, diagnosa keperawatan yang dapat ditegakkan adalah Intoleransi Aktivitas, Ketidakefektifan Manajemen Terapi, dan Ketidakefektifan Manajemen Kesehatan. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan antara lain Manajemen Energi, Latihan Fisik, Manajemen Aktivitas, Manajemen Pengobatan, Pendidikan Pasien, Konseling, Edukasi Kesehatan, Konseling Gaya Hidup, dan Fasilitasi Perubahan Gaya Hidup.