Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 8499 | 10 Dec 2024
Klinis : diagnosa beserta intervensi dari intoleransi aktivitas
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, sebagai seorang perawat profesional, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat mengenai SDKI, SLKI, dan SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi intoleransi aktivitas.
Diagnosa Keperawatan:
Intoleransi Aktivitas
Definisi:
Ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas rutin yang diinginkan atau dibutuhkan, yang disebabkan oleh keterbatasan fisik dan/atau psikologis.
Penyebab:
1. Penurunan kapasitas fisiologis (contoh: kelelahan, kelemahan, dan/atau keterbatasan gerak)
2. Ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen
3. Kecemasan atau depresi yang menghambat partisipasi dalam aktivitas
Gejala dan Tanda:
1. Menyatakan ketidaknyamanan atau kelelahan berlebih saat melakukan aktivitas
2. Peningkatan tanda-tanda vital (misalnya: denyut nadi, respirasi, tekanan darah) saat beraktivitas
3. Keterbatasan dalam melakukan aktivitas sehari-hari (misalnya: mandi, berpakaian, berjalan)
4. Menghindari atau membatasi aktivitas karena rasa tidak nyaman atau cemas
Intervensi Keperawatan:
1. Manajemen Aktivitas
- Identifikasi aktivitas yang dapat dilakukan dan batasan pasien
- Bantu pasien merencanakan dan menjadwalkan aktivitas
- Anjurkan pasien untuk melakukan aktivitas secara bertahap dan teratur
- Ajarkan teknik konservasi energi dan manajemen kelelahan
2. Manajemen Nyeri
- Identifikasi dan atasi sumber nyeri
- Berikan analgesik sesuai kebutuhan
- Ajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri (misalnya: relaksasi, distraksi)
3. Dukungan Psikologis
- Identifikasi faktor-faktor psikologis yang mempengaruhi intoleransi aktivitas
- Berikan dukungan emosional dan bantu pasien mengembangkan mekanisme koping yang efektif
- Libatkan keluarga dalam mendukung pasien
SDKI, SLKI, dan SIKI:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia) menyediakan definisi, penyebab, dan gejala/tanda dari diagnosa keperawatan "Intoleransi Aktivitas".
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) menyediakan luaran yang diharapkan untuk penanganan intoleransi aktivitas, seperti peningkatan toleransi aktivitas dan manajemen energi yang efektif.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) menyediakan intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi intoleransi aktivitas, seperti manajemen aktivitas, manajemen nyeri, dan dukungan psikologis.
Sebagai perawat profesional, saya akan menggunakan SDKI, SLKI, dan SIKI sebagai panduan dalam memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif dan sesuai standar untuk pasien dengan intoleransi aktivitas. -
Article No. 8500 | 10 Dec 2024
Klinis : diagnosa beserta intervensi dari intoleransi aktivitas
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan diagnosa keperawatan beserta penjelasan singkat SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi intoleransi aktivitas.
Diagnosa Keperawatan:
Intoleransi Aktivitas
Definisi:
Ketidakcukupan energi fisiologis untuk mempertahankan atau menyelesaikan aktivitas harian yang diinginkan atau diperlukan.
SDKI:
Faktor yang berhubungan:
- Keterbatasan fisiologis (contoh: penyakit kardiovaskular, pulmonal, muskuloskeletal)
- Keterbatasan psikologis (contoh: kecemasan, depresi)
- Keterbatasan kognitif
- Keterbatasan energi
Karakteristik Definisi:
- Kelelahan yang cepat
- Kekurangan energi untuk aktivitas
- Dispnea saat aktivitas
- Nyeri saat aktivitas
- Kelemahan saat aktivitas
SLKI:
Luaran yang diharapkan:
- Pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan toleransi yang meningkat
- Pasien dapat beradaptasi dengan keterbatasan aktivitas
- Pasien dapat mengelola energi dengan baik
SIKI:
Intervensi Keperawatan:
1. Manajemen Aktivitas
- Identifikasi aktivitas yang dapat ditoleransi pasien
- Atur aktivitas sesuai dengan toleransi pasien
- Ajarkan teknik konservasi energi
2. Manajemen Energi
- Identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi energi pasien
- Ajarkan teknik manajemen energi (istirahat, nutrisi, dll.)
- Monitor tanda-tanda vital sebelum dan sesudah aktivitas
3. Edukasi Kesehatan
- Ajarkan pasien tentang intoleransi aktivitas dan manajemennya
- Libatkan keluarga dalam perawatan pasien
Dengan menerapkan diagnosa keperawatan, luaran, dan intervensi yang sesuai dengan standar SDKI, SLKI, dan SIKI, diharapkan pasien dapat meningkatkan toleransi aktivitasnya, beradaptasi dengan keterbatasan, dan mengelola energinya dengan baik. -
Article No. 8501 | 10 Dec 2024
Klinis : Seorang perempuan berusia 23 tahun dengan cedera sengatan listrik dirujuk ke RS pusat luka bakar. Pasien tidak memiliki riwayat medis apapun. Saat kejadian, pasien sedang memegang pengisian daya smartphone di tangan kanannya saat akan mandi di bath tub. Tidak sengaja pasien tersengat listrik. Setelah mendengar teriakan keras, ibu dari pasien memutuskan listrik dari meteran listrik dan segera membawa putrinya keluar dari kamar mandi.Menurut sang ibu, pasien langsung tidak sadar dan menunjukkan kontraksi otot seperti kejang. Seorang tetangga yang mendengar teriakan segera datang dan membantu ibu pasien melakukan RJP pada pasien. Setelah itu pasien menjadi responsif lagi. Pasien langsung dibawa ke RS. Setelah penanganan di UGD, pasien dirawat di ruang HCU. Pemeriksaan fisik lebih lanjut menunjukkan dua luka bakar yang dalam: (1) lesi berbentuk oval yang dibatasi sekitar 1 × 1 cm, dengan zona tengah pucat di sisi palmar tangan antara ibu jari dan jari telunjuk, dan (2) stripe Laserasi -berbentuk kulit sekitar 1 × 12 cm, di perut, dekat daerah epigastrik, dikelilingi oleh zona hiperemia. Total luas permukaan tubuh pasien yang dibakar kurang dari 0,5%.Pemeriksaan darah: Level serum kreatinin kinase (CK) pasien adalah 1294 U/L (sangat meningkat). Tidak ada kelainan yang terlihat pada elektrokardiogram. Pasien dirawat di bangsal perawatan luka bakar untuk observasi dan survei tersier. Sehari setelah masuk, level CK -nya sedikit meningkat menjadi 1400 U/L. Urinnya diuji untuk mioglobinuria tetapi tidak menunjukkan tanda -tanda rhabdomyolysis. Selain itu, pasien tidak memiliki keluhan atau kelainan lain pada survei tersier dan karena itu pasien dipulangkan pada hari ke-2 paska luka bakar.Karena amnesia, pasien gagal memberikan rekonstruksi rinci tentang cedera. Kekakuan otot, keparahan luka bakar, dan pembusukan otot (peningkatan level CK) menunjukkan bahwa pasien terkena arus listrik. Mungkin tangan pasien tidak sengaja menyentuh bagian logam dari pengisi daya sehingga terjadi konduktansi langsung antara tangan pasien dengan sumber listrik. Atau kemungkinan ada arus mengalir di sisi luar kabel pengisian, sementara tangan pasien lembab akibat mandi. Awalnya, luka bakar diperlakukan secara konservatif dengan krim silver sulfadiazin, yang diubah menjadi krim asam fusida setelah 1 minggu. Perawatan ini memadai untuk luka terbakar di tangan dan menunjukkan penyembuhan. Namun, setelah 21 hari, luka bakar di perut perut tidak cukup menunjukkan penyembuhan. Oleh karena itu, dilakukan reseksi bedah dan transposisi kulit dilakukan dilakukan. Ini mengakibatkan penyembuhan yang memuaskan dengan hanya sedikit bekas luka.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan informasi yang diberikan, berikut adalah kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur terkait:
1. Kode ICD-10:
- Kode: T75.4
- Deskripsi: Cedera akibat sengatan listrik
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 86.73
- Deskripsi: Operasi transposisi kulit (skin graft)
Penjelasan:
Pasien mengalami cedera sengatan listrik saat sedang memegang pengisi daya smartphone di kamar mandi. Hal ini sesuai dengan kode ICD-10 T75.4, yang mencakup cedera akibat sengatan listrik.
Selanjutnya, setelah perawatan konservatif awal, pasien memerlukan tindakan operatif berupa reseksi dan transposisi kulit pada luka bakar di perut yang tidak menunjukkan penyembuhan yang memadai. Tindakan ini sesuai dengan kode ICD-9-CM 86.73, yang mengacu pada operasi transposisi kulit (skin graft).
Berdasarkan informasi klinis yang diberikan, tidak ada tindakan medis lain yang memerlukan kode ICD-9-CM tambahan. Pasien dipulangkan setelah perawatan dan penyembuhan yang memuaskan. -
Article No. 8502 | 10 Dec 2024
Klinis : diagnosa beserta intervensi dari obstruksi jalan napas
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat dari SDKI, SLKI, dan SIKI standar Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi obstruksi jalan napas.
Diagnosa Keperawatan:
Obstruksi Jalan Napas
Definisi:
Obstruksi jalan napas adalah keadaan di mana ada hambatan atau halangan dalam permeabilitas jalan napas sehingga terjadi penurunan atau keterbatasan ventilasi.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Karakteristik Utama:
1. Kesulitan bernapas
2. Penggunaan otot bantu pernapasan
3. Suara napas yang tidak normal (meraung, mendengkur, atau mengi)
4. Sensasi tercekik atau tersumbat
Faktor Berhubungan:
1. Adanya benda asing di jalan napas
2. Pembengkakan atau penumpukan sekresi di jalan napas
3. Relaksasi otot-otot jalan napas
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang Diharapkan:
1. Pasien dapat mempertahankan jalan napas yang paten
2. Pasien dapat bernapas dengan efektif
3. Pasien dapat menunjukkan tidak ada tanda-tanda obstruksi jalan napas
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi Keperawatan:
1. Buka jalan napas dengan cara memiringkan kepala dan menarik dagu ke atas
2. Bersihkan jalan napas dari benda asing atau sekret
3. Berikan oksigen sesuai kebutuhan
4. Lakukan suction jika diperlukan
5. Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk pemberian bronkodilator atau intubasi jika diperlukan
Penerapan intervensi di atas bertujuan untuk mempertahankan jalan napas yang paten, memfasilitasi ventilasi yang efektif, dan mencegah komplikasi lebih lanjut akibat obstruksi jalan napas. -
Article No. 8503 | 10 Dec 2024
Klinis : hamil dengan pre eklampsia
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan:
1. Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Cerebral berhubungan dengan peningkatan tekanan darah.
Penjelasan:
Pada ibu hamil dengan pre-eklampsia, terjadi peningkatan tekanan darah yang dapat menyebabkan penurunan aliran darah ke otak (perfusi jaringan cerebral yang tidak efektif). Hal ini dapat mengakibatkan komplikasi yang berbahaya seperti kejang atau stroke.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Definisi: Ketidakmampuan tubuh untuk menyalurkan oksigen dan nutrisi yang adekuat ke jaringan otak, yang dapat mengakibatkan kerusakan sel-sel otak.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan:
1. Pasien tidak mengalami komplikasi neurologis (misalnya kejang atau stroke).
2. Tekanan darah pasien terkontrol dalam batas normal.
3. Pasien menunjukkan tanda-tanda perfusi serebral yang adekuat.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan:
1. Pemantauan tanda-tanda vital secara berkala.
2. Pengaturan posisi untuk meningkatkan aliran darah ke otak.
3. Pemberian terapi antihipertensi sesuai dengan resep dokter.
4. Pemberian oksigen jika diperlukan.
5. Edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai tanda bahaya dan pentingnya pemantauan keadaan. -
Article No. 8504 | 10 Dec 2024
Klinis : manajemen energi
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berikut adalah analisis yang rinci untuk kondisi manajemen energi:
Diagnosa Keperawatan SDKI:
Diagnosa Keperawatan yang sesuai untuk kondisi manajemen energi adalah "Kelelahan". Kelelahan didefinisikan sebagai sensasi terus-menerus akan kurangnya energi dan motivasi untuk menyelesaikan aktivitas rutin. Kelelahan dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti penyakit kronis, gaya hidup tidak sehat, atau kondisi stres.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Pemulihan Energi: Klien dapat menunjukkan peningkatan energi dan kemampuan untuk menyelesaikan aktivitas sehari-hari.
2. Manajemen Aktivitas: Klien dapat merencanakan dan melakukan aktivitas sesuai dengan tingkat energi yang dimiliki.
3. Pengelolaan Gejala: Klien dapat mengelola gejala-gejala yang menyebabkan kelelahan, seperti nyeri, mual, atau gangguan tidur.
4. Adaptasi Psikologis: Klien dapat beradaptasi secara psikologis dengan kondisi kelelahan dan menerapkan strategi koping yang efektif.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Manajemen Energi:
- Identifikasi pola aktivitas dan istirahat klien
- Bantu klien menyusun jadwal aktivitas yang seimbang
- Ajarkan teknik manajemen energi, seperti pengaturan jeda dan rotasi tugas
- Fasilitasi klien untuk mengenali dan mengelola faktor-faktor yang memengaruhi energi
2. Manajemen Gejala:
- Identifikasi dan evaluasi gejala-gejala yang menyebabkan kelelahan
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk pengelolaan gejala
- Ajarkan klien teknik manajemen gejala, seperti relaksasi, distraksi, atau pengobatan
- Monitor efektivitas intervensi dalam mengurangi gejala
3. Dukungan Psikologis:
- Diskusikan dampak kelelahan terhadap aktivitas dan kualitas hidup klien
- Identifikasi strategi koping yang sudah ada dan bantu mengembangkannya
- Dorong klien untuk mengekspresikan perasaan dan keluhan terkait kondisinya
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan mental jika diperlukan
4. Edukasi dan Promosi Kesehatan:
- Berikan edukasi tentang penyebab, gejala, dan manajemen kelelahan
- Dorong klien untuk menerapkan gaya hidup sehat, seperti nutrisi, aktivitas, dan tidur yang cukup
- Libatkan keluarga atau significant others dalam mendukung klien
Melalui intervensi keperawatan yang komprehensif dan berpusat pada klien, diharapkan dapat membantu klien mengatasi kelelahan, meningkatkan energi, dan mencapai kemandirian dalam aktivitas sehari-hari. -
Article No. 8505 | 10 Dec 2024
Klinis : hamil dengan hipertensi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat berdasarkan standar SDKI, SLKI, dan SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi hamil dengan hipertensi.
Diagnosa Keperawatan:
1. Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Serebral berhubungan dengan peningkatan tekanan darah.
Penjelasan Singkat:
SDKI (Standar Diagnostik Keperawatan Indonesia):
Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Serebral didefinisikan sebagai ketidakcukupan aliran darah ke otak untuk memenuhi kebutuhan metabolik. Kondisi ini dapat disebabkan oleh peningkatan tekanan darah yang terjadi pada ibu hamil dengan hipertensi.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan dari diagnosa ini adalah peningkatan perfusi jaringan serebral, ditandai dengan stabilnya tekanan darah, tidak ada gejala pusing, nyeri kepala, atau tanda-tanda disfungsi serebral lainnya.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan antara lain:
- Pemantauan tanda-tanda vital secara berkala
- Pemberian obat-obatan antihipertensi sesuai dengan resep dokter
- Edukasi tentang pentingnya kontrol tekanan darah dan gaya hidup sehat
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain dalam penatalaksanaan hipertensi pada kehamilan.
Peran perawat dalam kondisi ini adalah melakukan pengkajian komprehensif, merumuskan diagnosa keperawatan yang sesuai, menyusun rencana asuhan keperawatan, dan melaksanakan intervensi yang tepat untuk mencapai luaran yang diharapkan bagi ibu hamil dengan hipertensi. -
Article No. 8506 | 10 Dec 2024
Klinis : Mual
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, akan saya berikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi mual.
Diagnosa Keperawatan:
Mual (Nausea)
Penjelasan Singkat:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Mual adalah sensasi tidak nyaman di perut yang dapat menimbulkan dorongan untuk muntah. Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti efek samping obat, infeksi, gangguan pencernaan, atau kondisi medis lainnya.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Tujuan utama penanganan mual adalah mengurangi sensasi tidak nyaman dan mencegah komplikasi, seperti dehidrasi atau malnutrisi. Luaran yang diharapkan adalah pasien dapat mengelola mual dengan efektif dan mempertahankan intake cairan dan nutrisi yang adekuat.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan untuk mengatasi mual mencakup pemberian antiemetik, terapi relaksasi, distraksi, manajemen makanan dan cairan, serta edukasi tentang faktor penyebab dan cara penanganannya. Intervensi disesuaikan dengan penyebab dan kondisi pasien untuk memastikan penanganan yang komprehensif dan efektif.
Sebagai seorang perawat, saya akan melakukan pengkajian menyeluruh, menetapkan diagnosis, dan menyusun rencana asuhan keperawatan yang berpusat pada pasien untuk mengatasi mual secara optimal. Pendekatan holistik dan kolaboratif dengan tim kesehatan lain diperlukan untuk mencapai hasil yang terbaik bagi pasien. -
Article No. 8377 | 10 Dec 2024
Klinis : mengeluh sulit menggerakkan ekstremitas
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang Anda deskripsikan, yaitu mengeluh sulit menggerakkan ekstremitas, diagnosis keperawatan yang sesuai dengan standar SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia) adalah:
Diagnosis Keperawatan: Mobilitas Fisik Terganggu
Definisi:
Keterbatasan dalam melakukan pergerakan yang disengaja dan mandiri di lingkungan.
Penyebab:
1. Kelemahan otot
2. Gangguan tonus otot
3. Nyeri
4. Keterbatasan sendi
5. Penurunan toleransi aktivitas
Gejala dan Tanda:
1. Melaporkan kesulitan dalam melakukan pergerakan
2. Perubahan postur tubuh
3. Keterbatasan rentang gerak sendi
4. Perubahan kekuatan otot
5. Perubahan tonus otot
Dalam konteks SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), luaran yang dapat diterapkan adalah:
Luaran Keperawatan: Mobilitas
Definisi: Kemampuan untuk bergerak secara bebas dan mandiri di lingkungan.
Indikator:
1. Mempertahankan posisi tubuh yang tepat
2. Melakukan pergerakan anggota tubuh secara mandiri
3. Beradaptasi dengan perubahan lingkungan
4. Menggunakan alat bantu mobilitas dengan tepat
Untuk SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia), intervensi yang dapat diberikan antara lain:
1. Manajemen Aktivitas
2. Terapi Latihan Gerak
3. Peningkatan Mobilitas
4. Latihan Kekuatan Otot
5. Terapi Modalitas Fisik
Dalam memberikan intervensi, perawat perlu mempertimbangkan faktor-faktor yang menjadi penyebab dan gejala yang muncul, serta melibatkan pasien secara aktif dalam proses perawatan. -
Article No. 8378 | 10 Dec 2024
Klinis : Sesak nafas Palpitasi Heart rate 170 kali/menit
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan Diagnosa Keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi sesak nafas, palpitasi, dan heart rate 170 kali/menit.
Diagnosa Keperawatan:
1. Ketidakefektifan Pola Napas (SDKI)
Definisi: Ketidakmampuan untuk bernapas dengan mudah dan lancar.
Penyebab: Gangguan pada sistem kardiovaskular atau pernapasan.
Gejala: Sesak napas, palpitasi, dan peningkatan frekuensi nadi.
2. Risiko Hipertermia (SDKI)
Definisi: Berisiko mengalami peningkatan suhu tubuh di atas normal.
Penyebab: Perubahan fisiologis kardiovaskular.
Gejala: Peningkatan frekuensi nadi.
3. Intoleransi Aktivitas (SLKI)
Definisi: Ketidakmampuan untuk bertoleransi terhadap aktivitas fisik.
Penyebab: Penurunan kapasitas fungsional.
Gejala: Sesak napas, palpitasi, dan peningkatan frekuensi nadi.
4. Perubahan Tanda-Tanda Vital (SIKI)
Definisi: Perubahan pada tanda-tanda vital yang melampaui batas normal.
Penyebab: Gangguan pada sistem kardiovaskular.
Gejala: Peningkatan frekuensi nadi.
Penjelasan singkat:
1. Ketidakefektifan Pola Napas (SDKI):
Kondisi ini ditandai dengan sesak napas, palpitasi, dan peningkatan frekuensi nadi. Hal ini dapat disebabkan oleh gangguan pada sistem kardiovaskular atau pernapasan.
2. Risiko Hipertermia (SDKI):
Kondisi ini menunjukkan risiko peningkatan suhu tubuh di atas normal, yang dapat disebabkan oleh perubahan fisiologis kardiovaskular, yang ditandai dengan peningkatan frekuensi nadi.
3. Intoleransi Aktivitas (SLKI):
Kondisi ini ditandai dengan ketidakmampuan untuk bertoleransi terhadap aktivitas fisik, yang dapat disebabkan oleh penurunan kapasitas fungsional. Gejala yang muncul adalah sesak napas, palpitasi, dan peningkatan frekuensi nadi.
4. Perubahan Tanda-Tanda Vital (SIKI):
Kondisi ini menunjukkan perubahan pada tanda-tanda vital, seperti peningkatan frekuensi nadi, yang melampaui batas normal. Hal ini dapat disebabkan oleh gangguan pada sistem kardiovaskular.