Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 8599 | 11 Dec 2024
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Assalamu'alaikum, selamat siang. Sebagai perawat yang memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam bidang keperawatan, saya akan memberikan penjelasan yang terperinci mengenai diagnosa keperawatan, luaran yang diharapkan, dan intervensi keperawatan yang diperlukan untuk menangani kondisi pasien yang Anda deskripsikan.
Diagnosa Keperawatan SDKI:
1. Bersihan jalan napas tidak efektif
Definisi: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan jalan napas yang terbuka.
Karakteristik definitif: Batuk tidak efektif, sputum berlebihan, bunyi napas tambahan, hipoksemia.
2. Intoleransi aktivitas
Definisi: Ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas rutin akibat keterbatasan energi.
Karakteristik definitif: Kelelahan, napas pendek saat aktivitas, nyeri, kelemahan.
3. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh
Definisi: Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
Karakteristik definitif: Kehilangan nafsu makan, penurunan berat badan.
Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI):
1. Bersihan jalan napas yang efektif
Indikator:
a. Pasien dapat batuk efektif untuk mengeluarkan sputum.
b. Pasien tidak mengalami sesak napas.
c. Pasien memiliki bunyi napas normal.
d. Pasien memiliki saturasi oksigen yang adekuat.
2. Toleransi aktivitas yang membaik
Indikator:
a. Pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari tanpa kelelahan berlebih.
b. Pasien tidak mengalami sesak napas saat melakukan aktivitas.
c. Pasien memiliki energi yang cukup untuk melakukan aktivitas.
3. Status nutrisi yang membaik
Indikator:
a. Pasien menunjukkan peningkatan berat badan.
b. Pasien memiliki nafsu makan yang baik.
c. Pasien tidak mengalami penurunan berat badan.
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Bersihan jalan napas yang tidak efektif:
a. Atur posisi semifowler untuk memudahkan drainase sekret.
b. Berikan oksigenasi sesuai kebutuhan.
c. Lakukan suction jika diperlukan untuk membantu mengeluarkan sekret.
d. Berikan terapi nebulizer, seperti bronkodilator atau mukolitik, untuk membantu melonggarkan sekresi.
e. Lakukan fisioterapi dada untuk meningkatkan mobilisasi dan evakuasi sekret.
2. Intoleransi aktivitas:
a. Lakukan pengkajian aktivitas dan toleransi pasien.
b. Bantu pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari sesuai dengan kapasitasnya.
c. Ajarkan teknik-teknik konservasi energi, seperti pengaturan jeda saat beraktivitas.
d. Berikan latihan fisik bertahap sesuai toleransi pasien.
e. Berikan dukungan emosional dan motivasi kepada pasien.
3. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh:
a. Lakukan pengkajian status nutrisi pasien.
b. Berikan asupan nutrisi sesuai kebutuhan, baik melalui makanan maupun suplemen.
c. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk merencanakan diet yang sesuai.
d. Pantau berat badan pasien secara berkala.
e. Berikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya nutrisi yang adekuat.
Semoga penjelasan ini dapat membantu Anda dalam memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif bagi pasien. Jika ada pertanyaan lebih lanjut, jangan ragu untuk menghubungi saya. Terima kasih, Wassalamu'alaikum. -
Article No. 8600 | 11 Dec 2024
Klinis : hausea
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi mual (nausea).
Diagnosa Keperawatan:
Mual (NAUSE)
Definisi:
Sensasi tidak nyaman yang menimbulkan keinginan untuk muntah.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
NAUSE: Mual adalah sensasi tidak nyaman di epigastrium yang menimbulkan keinginan untuk muntah.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
CNTRL NAUSE: Kontrol mual, yaitu kemampuan individu untuk mengendalikan atau mengurangi sensasi mual.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Manajemen Mual (MNJEM NAUSE)
- Identifikasi penyebab mual
- Lakukan intervensi farmakologi dan non-farmakologi untuk mengurangi mual
- Monitor tanda-tanda vital dan respon terhadap intervensi
2. Terapi Komplementer: Akupresur (THCOM AKPRESR)
- Identifikasi titik-titik akupresur yang dapat membantu mengurangi mual
- Lakukan pijatan pada titik akupresur tersebut
Dengan pendekatan ini, diharapkan perawat dapat melakukan pengkajian yang komprehensif, menetapkan diagnosa keperawatan yang tepat, dan memberikan intervensi yang sesuai untuk mengatasi masalah mual yang dialami pasien. -
Article No. 8601 | 11 Dec 2024
Klinis : nausea berhubungan dengan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan:
Nausea berhubungan dengan (Etiology)
Penjelasan singkat:
Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI):
Nausea adalah sensasi tidak nyaman di bagian belakang tenggorokan atau perut yang dapat mengarah pada keinginan untuk muntah.
Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI):
Setelah intervensi keperawatan, pasien akan menunjukkan indikator:
1. Frekuensi nausea menurun
2. Intensitas nausea menurun
3. Durasi nausea menurun
Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI):
Intervensi keperawatan yang dapat diberikan antara lain:
1. Manajemen Nausea
2. Manajemen Nutrisi
3. Terapi Relaksasi
Sebagai perawat, saya memahami bahwa nausea dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti efek samping pengobatan, kondisi medis tertentu, atau stres. Penting untuk mengidentifikasi penyebab mendasar dan memberikan intervensi yang sesuai untuk mengatasi nausea secara efektif dan meningkatkan kualitas hidup pasien. -
Article No. 8602 | 11 Dec 2024
Klinis : nausea berhubungan dengan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan:
Mual (Nausea) berhubungan dengan [Penyebab]
Penjelasan Singkat Menggunakan Standar SDKI-SLKI-SIKI:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Mual (Nausea) didefinisikan sebagai sensasi tidak nyaman di bagian belakang tenggorokan atau perut yang dapat mengarah pada keinginan untuk muntah. Mual (Nausea) berhubungan dengan [Penyebab], seperti efek samping pengobatan, infeksi, cedera, atau kondisi medis lainnya.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan dari penanganan mual (Nausea) meliputi:
1. Pasien melaporkan frekuensi, durasi, dan keparahan mual berkurang.
2. Pasien dapat mengidentifikasi faktor pencetus mual dan strategi penanganannya.
3. Pasien mendemonstrasikan penggunaan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi mual.
4. Pasien menunjukkan tanda-tanda vital dalam batas normal.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan untuk menangani mual (Nausea) meliputi:
1. Manajemen mual, seperti pemberian obat antiemetik, terapi relaksasi, dan terapi distraksi.
2. Manajemen nutrisi, seperti memberikan makanan dan minuman yang dapat ditoleransi.
3. Pemantauan tanda-tanda vital dan status hidrasi.
4. Edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai penyebab, pencegahan, dan penanganan mual.
Dengan menggunakan standar SDKI-SLKI-SIKI, perawat dapat memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif dan sesuai dengan praktik berbasis bukti untuk menangani kondisi mual (Nausea) yang dialami pasien. -
Article No. 8603 | 11 Dec 2024
Klinis : Suhu tubuh di bawah normal kulit teraba dingin tubuh menggigil kuku tampak sianosis oksigen meningkat
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang Anda sampaikan, dimana suhu tubuh di bawah normal, kulit terasa dingin, tubuh menggigil, kuku tampak sianosis, dan oksigen meningkat, maka dapat disimpulkan bahwa kondisi ini mengarah pada diagnosa keperawatan Hipotermi.
Berikut adalah penjelasan singkat mengenai diagnosa keperawatan Hipotermi berdasarkan SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
1. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Hipotermi: Penurunan suhu tubuh di bawah 35°C yang disebabkan oleh paparan lingkungan yang dingin atau kegagalan mekanisme homeostasis.
2. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Suhu tubuh dalam batas normal
- Sirkulasi perifer membaik
- Tidak ada tanda-tanda hipotermi
3. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Pantau suhu tubuh secara berkala
- Berikan pakaian atau selimut hangat
- Hindari paparan terhadap lingkungan yang dingin
- Berikan cairan hangat dan bernutrisi
- Lakukan tindakan lain untuk meningkatkan suhu tubuh
Dalam menerapkan keperawatan pada pasien dengan hipotermi, perawat perlu memperhatikan tanda-tanda vital, sirkulasi perifer, dan status oksigenasi pasien. Tindakan keperawatan yang tepat dan segera dapat membantu mengatasi kondisi hipotermi dan mencegah komplikasi yang dapat terjadi. -
Article No. 8604 | 11 Dec 2024
Klinis : Suhu tubuh di bawah normal kulit teraba dingin tubuh menggigil kuku tampak sianosis oksigen meningkat manajemen hipertermia
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan:
Hipotermi (Hypothermia)
Penjelasan Singkat:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Hipotermi adalah penurunan suhu tubuh di bawah 35°C yang disertai dengan gejala menggigil, kulit dingin, dan penurunan kesadaran.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan dari penanganan hipotermi adalah pasien dapat mempertahankan suhu tubuh normal, tidak ada tanda-tanda hipoperfusi perifer, dan tidak terjadi komplikasi.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan untuk mengatasi hipotermi meliputi:
1. Lakukan pengkajian tanda-tanda vital secara berkala.
2. Pertahankan lingkungan hangat dengan menggunakan selimut atau alat penghangat.
3. Berikan cairan hangat melalui jalur intravena.
4. Pantau intake dan output cairan.
5. Berikan obat-obatan sesuai dengan resep dokter.
6. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain untuk mencegah komplikasi.
Tone: Akademis
Persona: Pakar Keperawatan -
Article No. 8605 | 11 Dec 2024
Klinis : Pasien datang dengan keluhan sesak nafas, pusing, badan terasa lemas, demam, berat badan menurun tanpa sebab, sariawan yang tidak kunjung sembuh, gusi berdarah tiap beberapa jam sekali. III. RIWAYAT KESEHATAN a. Riwayat Kesehatan Sekarang Pasien mengatakan sering merasa sesak nafas, pusing, lemas, berat badan menurun tanpa sebab sariawan tidak kunjung sembuh, sering mengalami perdarahan pada gusi pada tiap beberapa jam sekali. b. Riwayat Kesehatan Dahulu Pasien mengatakan bahwa pernah dirawat di rumah sakit lebih kurang 2 tahun yang lalu dirawat selama 2 minggu akibat sakit maag. Keluarga klien mengatakan sebelumnya tidak ada riwayat leukemia pada klien. c. Riwayat Kesehatan Keluarga Keluarga klien mengatakan tidak ada riwayat penyakit keturunan seperti Hipertensi, DM, Jantung, dan riwayat penyakit menular seperti HIV, TBC, dan Hepatitis.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan keluhan dan riwayat kesehatan yang Anda sampaikan, diagnosa keperawatan yang dapat ditegakkan adalah:
1. Risiko Perdarahan Spontan berhubungan dengan gangguan fungsi sumsum tulang (SDKI)
Penjelasan:
Kondisi pasien dengan sesak napas, pusing, lemah, penurunan berat badan tanpa sebab, sariawan yang tidak sembuh, dan perdarahan gusi mengarah pada kemungkinan adanya gangguan pada fungsi sumsum tulang. Hal ini dapat menyebabkan produksi sel-sel darah, terutama trombosit, menjadi terganggu sehingga meningkatkan risiko perdarahan spontan.
2. Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh berhubungan dengan Anoreksia (SDKI)
Penjelasan:
Adanya penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas mengindikasikan ketidakseimbangan nutrisi, di mana asupan nutrisi lebih rendah dari kebutuhan tubuh. Hal ini dapat disebabkan oleh anoreksia, di mana pasien kehilangan nafsu makan.
3. Intoleransi Aktivitas berhubungan dengan Kelelahan (SDKI)
Penjelasan:
Gejala sesak napas, pusing, dan rasa lemas pada pasien menunjukkan adanya intoleransi aktivitas yang disebabkan oleh kelelahan. Kelelahan dapat terjadi akibat proses penyakit yang sedang dialami oleh pasien.
Berdasarkan diagnosa keperawatan tersebut, intervensi keperawatan yang dapat dilakukan sesuai dengan Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) adalah:
1. Untuk Risiko Perdarahan Spontan:
- Pantau tanda-tanda perdarahan
- Kaji faktor risiko perdarahan
- Berikan edukasi tentang manajemen perdarahan
2. Untuk Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh:
- Kaji asupan nutrisi pasien
- Berikan intervensi nutrisi yang adekuat
- Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan kebutuhan nutrisi pasien
3. Untuk Intoleransi Aktivitas:
- Kaji tingkat aktivitas pasien
- Berikan intervensi untuk meningkatkan toleransi aktivitas, seperti latihan fisik yang bertahap
- Identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi intoleransi aktivitas
Diagnosis dan intervensi keperawatan ini harus disesuaikan dengan kondisi pasien secara keseluruhan dan dilakukan dalam kolaborasi dengan dokter serta tenaga kesehatan lainnya untuk mendapatkan hasil perawatan yang optimal. -
Article No. 8606 | 11 Dec 2024
Klinis : Pasien datang dengan keluhan sesak nafas, pusing, badan terasa lemas, demam, berat badan menurun tanpa sebab, sariawan yang tidak kunjung sembuh, gusi berdarah tiap beberapa jam sekali. III. RIWAYAT KESEHATAN a. Riwayat Kesehatan Sekarang Pasien mengatakan sering merasa sesak nafas, pusing, lemas, berat badan menurun tanpa sebab sariawan tidak kunjung sembuh, sering mengalami perdarahan pada gusi pada tiap beberapa jam sekali. b. Riwayat Kesehatan Dahulu Pasien mengatakan bahwa pernah dirawat di rumah sakit lebih kurang 2 tahun yang lalu dirawat selama 2 minggu akibat sakit maag. Keluarga klien mengatakan sebelumnya tidak ada riwayat leukemia pada klien. c. Riwayat Kesehatan Keluarga Keluarga klien mengatakan tidak ada riwayat penyakit keturunan seperti Hipertensi, DM, Jantung, dan riwayat penyakit menular seperti HIV, TBC, dan Hepatitis.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan informasi yang Anda berikan, berikut adalah kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur/tindakan medis yang mungkin sesuai:
1. Kode ICD-10:
- Kode: R06.0
- Deskripsi: Sesak napas
- Kode: R42
- Deskripsi: Pusing dan vertigo
- Kode: R53
- Deskripsi: Malaise dan kelelahan
- Kode: R50.9
- Deskripsi: Demam, tidak terklasifikasi di tempat lain
- Kode: R63.4
- Deskripsi: Penurunan berat badan, tidak dapat dijelaskan
- Kode: K12.0
- Deskripsi: Stomatitis aftosa
- Kode: K06.1
- Deskripsi: Gingivitis kronis
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 99.07
- Deskripsi: Transfusi darah total
Berdasarkan riwayat kesehatan pasien, terdapat beberapa kemungkinan diagnosis yang dapat dipertimbangkan, seperti anemia, kelainan darah (misalnya leukemia), atau penyakit sistemik lainnya. Oleh karena itu, diperlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk menegakkan diagnosis yang tepat. -
Article No. 8607 | 11 Dec 2024
Klinis : Pasien datang dengan keluhan sesak nafas, pusing, badan terasa lemas, demam, berat badan menurun tanpa sebab, sariawan yang tidak kunjung sembuh, gusi berdarah tiap beberapa jam sekali. III. RIWAYAT KESEHATAN a. Riwayat Kesehatan Sekarang Pasien mengatakan sering merasa sesak nafas, pusing, lemas, berat badan menurun tanpa sebab sariawan tidak kunjung sembuh, sering mengalami perdarahan pada gusi pada tiap beberapa jam sekali. b. Riwayat Kesehatan Dahulu Pasien mengatakan bahwa pernah dirawat di rumah sakit lebih kurang 2 tahun yang lalu dirawat selama 2 minggu akibat sakit maag. Keluarga klien mengatakan sebelumnya tidak ada riwayat leukemia pada klien. c. Riwayat Kesehatan Keluarga Keluarga klien mengatakan tidak ada riwayat penyakit keturunan seperti Hipertensi, DM, Jantung, dan riwayat penyakit menular seperti HIV, TBC, dan Hepatitis.
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan keluhan yang dialami oleh pasien, yaitu sesak nafas, pusing, lemas, penurunan berat badan tanpa sebab, sariawan yang tidak kunjung sembuh, serta gusi yang sering berdarah, dapat disimpulkan bahwa diagnosa keperawatan SDKI yang sesuai adalah:
1. Penurunan Kebugaran Fisik
Definisi: Penurunan kapasitas fisik dan energi untuk melakukan aktivitas sehari-hari.
Ciri-ciri mayor: Pasien mengeluh sesak napas, pusing, lemas, dan berat badan menurun tanpa sebab.
Ciri-ciri minor: Sariawan tidak kunjung sembuh, gusi sering berdarah.
2. Perdarahan
Definisi: Keluarnya darah dari pembuluh darah, dapat terjadi secara spontan atau akibat trauma.
Ciri-ciri mayor: Gusi pasien sering berdarah.
Ciri-ciri minor: Sariawan tidak kunjung sembuh.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Penurunan Kebugaran Fisik
- Pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari tanpa kelelahan
- Pasien dapat mempertahankan berat badan normal
- Pasien tidak mengalami sesak napas dan pusing
2. Perdarahan
- Tidak terjadi perdarahan pada gusi
- Sariawan sembuh dalam waktu yang normal
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Penurunan Kebugaran Fisik
- Pemantauan tanda-tanda vital
- Pengaturan aktivitas dan istirahat
- Pemberian informasi terkait pentingnya nutrisi yang seimbang
- Pemberian edukasi terkait manajemen energi
2. Perdarahan
- Pemantauan tanda-tanda perdarahan
- Perawatan mulut dan gigi
- Pemberian informasi terkait pencegahan perdarahan
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain (dokter, ahli gizi, dll) untuk penanganan yang komprehensif.
Penjelasan di atas diberikan dengan nada akademis dan persona sebagai seorang perawat ahli, yang bertujuan untuk memberikan rekomendasi diagnosa keperawatan, luaran, dan intervensi keperawatan yang sesuai dengan kondisi pasien tersebut. -
Article No. 8608 | 11 Dec 2024
Klinis : Kasus: Seorang pria berusia 87 tahun yang tinggal di rumah dan mandiri dalam aktivitas sehari-harinya mengunjungi rumah sakit dengan keluhan anoreksia. Tiga bulan sebelumnya, pasien mengunjungi rumah sakit dengan keluhan dispnea dan didiagnosis mengalami gagal jantung kongestif. Pasien dipulangkan pada hari ke-14 setelah dirawat dengan perbaikan gejala setelah pemberian furosemid oral dosis 40 mg per hari selama satu minggu. Selama perawatan, pasien mengalami pansitopenia, antibodi antinuklear (nukleus) sebesar 80 kali lipat, dan kadar imunoglobulin G sebesar 2.077 mg/dL; oleh karena itu, pasien diikuti lebih lanjut untuk kecurigaan hepatitis autoimun. Pemeriksaan antibodi antiribonukleoprotein, anti-Sm, dan anti-double-stranded deoxyribonucleic acid menunjukkan hasil negatif. Satu bulan sebelum kunjungan terakhir, pasien dirawat di rumah sakit dengan keluhan anoreksia dan didiagnosis pneumonia bakteri. Pasien diobati dengan seftriakson untuk pneumonia; namun, demam tetap bertahan dan anoreksia tidak membaik. Setelah memeriksa secara menyeluruh kemungkinan penyebab lain dari gejalanya, dicurigai adanya vaskulitis yang dimediasi imun. Pengobatan dimulai dengan prednisolon dosis 50 mg karena kadar komplemen yang rendah dan peningkatan protein urin (C3: 85 mg/dL, C4: 13 mg/dL, estimasi protein urin harian: 15,1 g/1,73 m²). Demam pasien mereda, dan ia dapat makan dengan baik; oleh karena itu, dosis prednisolon diturunkan menjadi 25 mg, dan pasien dipulangkan pada hari ke-13 perawatan. Dosis prednisolon kemudian dikurangi menjadi 10 mg; namun, pasien kembali ke rumah sakit satu minggu kemudian karena asupan makanannya menurun. Riwayat medis pasien meliputi emboli serebral kardiogenik sisi kanan, fibrilasi atrium, gastrektomi karena ulkus lambung, penyakit ginjal kronis, dan aneurisma aorta asendens. Obat-obatan yang digunakan termasuk edoksaban (30 mg/hari), silodosin (4 mg/hari), empagliflozin (10 mg/hari), spironolakton (25 mg/hari), dan prednisolon (10 mg/hari). Saat tiba di rumah sakit, tanda-tanda vital pasien adalah sebagai berikut: kesadaran sedikit somnolen, suhu 36,3°C, tekanan darah 137/107 mmHg, frekuensi napas 22 kali/menit, denyut nadi 101 kali/menit tidak teratur, dan saturasi oksigen (SpO2) sebesar 95% (udara ruangan). Pemeriksaan fisik tidak menunjukkan kekakuan leher; namun, konjungtiva kelopak mata tampak sedikit pucat, dan vena jugularis tampak distensi. Suara napas berkurang pada sisi dorsal kanan, tetapi tidak ada mengi atau bising jantung. Abdomen datar dan lunak, dengan nyeri tekan pada hipokondrium kanan. Tidak ditemukan edema tungkai, ruam kulit, atau pembengkakan sendi; namun, ditemukan dingin pada ekstremitas perifer. Pemeriksaan darah menunjukkan disfungsi hati dan ginjal serta peningkatan signifikan kadar brain natriuretic peptide (Tabel 1). Tabel 1. Hasil Laboratorium Parameters Level Reference range White blood cells 10.30 3.5–9.1 × 103/μL Neutrophils 93.2 44.0–72.0% Lymphocytes 1.5 18.0–59.0% Monocytes 3.6 0.0–12.0% Eosinophils 0.0 0.0–10.0% Basophils 1.7 0.0–3.0% Red blood cells 4.45 3.76–5.50 × 106/μL Hemoglobin 14.1 11.3–15.2 g/dL Hematocrit 42.7 33.4–44.9% Mean corpuscular volume 95.9 79.0–100.0 fL Platelets 14.4 13.0–36.9 × 104/μL Total protein 6.4 6.5–8.3 g/dL Albumin 3.0 3.8–5.3 g/dL Total bilirubin 2.5 0.2–1.2 mg/dL Direct bilirubin 1.7 0.0–0.4 mg/dL Aspartate aminotransferase 424 8–38 IU/L Alanine aminotransferase 430 4–43 IU/L Alkaline phosphatase 141 106–322 U/L γ-Glutamyl transpeptidase 62 <48 IU/L Lactate dehydrogenase 645 121–245 U/L Blood urea nitrogen 73.6 8–20 mg/dL Creatinine 2.43 0.40–1.10 mg/dL eGFR 20.3 >60.0 mL/min/L Serum Na 130 135–150 mEq/L Serum K 6.0 3.5–5.3 mEq/L Serum Cl 99 98–110 mEq/L Serum Ca 9.4 8.8–10.2 mg/dL CK 85 56–244 U/L CK-MB 3 <5 mg/mL CRP 0.80 <0.30 mg/dL Serum glucose 159 70–110 mg/dL TSH 3.00 0.35–4.94 μIU/mL Free T4 0.9 0.70–1.48 ng/dL Troponin I 0.111 0.000–0.029 ng/mL Brain natriuretic hormone 1360.5 <18.4 Lupus anticoagulant (Silica clotting time ratio) 0.51 <1.16 Anti-cardiolipin antibody <0.4 <12.3 U/mL Urine test Leukocyte Negative Negative Nitrite Negative Negative Protein 2+ Negative Glucose 4+ Negative Urobilinogen Negative Negative Bilirubin Negative Negative Ketone Negative Negative Blood 3+ Negative pH 5.5 5.0–7.5 Pleural effusion pH 7.326 Total protein 1.3 g/dL Lactate dehydrogenase 87 U/L Glucose 125 mg/dL Adenosine deaminase 13.7 U/L Radiografi toraks menunjukkan rasio kardiotoraks sebesar 57%, tanda-tanda kongesti paru, dan permeabilitas paru kanan yang menurun. Ekokardiografi transtorasik menunjukkan fraksi ejeksi ventrikel kiri sekitar 10%, hipokinesis difus, regurgitasi mitral ringan, dan regurgitasi trikuspid, tetapi tidak ditemukan efusi perikardial, stenosis katup aorta, atau bentuk D-shape. Diameter vena cava inferior tampak membesar, tetapi tidak ditemukan perubahan pernapasan. Computed tomography (CT) torakoabdominal menunjukkan efusi pleura bilateral dan sedikit asites, tetapi tidak ditemukan penebalan pleura atau perikardium (Gambar 1). Gambar 1. Computed tomography (CT) torakoabdominal menunjukkan efusi pleura bilateral tanpa adanya penebalan pleura atau perikardium (panah putih). Aorta asendens memiliki diameter pendek 55 mm dan membesar. Tidak ditemukan penebalan atau pembesaran dinding kantong empedu maupun peningkatan densitas jaringan lemak di sekitar kantong empedu, meskipun terdapat batu empedu di dalamnya. Temuan ini menunjukkan diagnosis gagal jantung kongestif berdasarkan kardiomegali, distensi vena jugularis, dan efusi pleura. Tanda-tanda vital pasien stabil, tetapi sirkulasi perifer terasa dingin, dan kadar laktat serum meningkat. Pasien didiagnosis mengalami kegagalan sirkulasi perifer dan syok kardiogenik akibat penurunan tajam pada output jantung. Peningkatan kadar enzim hati dan memburuknya fungsi ginjal dikaitkan dengan kongesti sistem jantung kanan dan gangguan sirkulasi. Dobutamin diberikan untuk meningkatkan output jantung, furosemid untuk kontrol cairan, dan nicardipine digunakan karena tekanan darah yang terus meningkat. Pasien juga memiliki batu empedu dan nyeri pada kuadrisep kanan, sehingga kemungkinan sepsis akibat kolesistitis tidak dapat dikesampingkan; oleh karena itu, tazobactam/piperacillin diberikan. Ekokardiografi dan pengukuran laktat serum dilakukan untuk memantau fraksi ejeksi ventrikel kiri dan kegagalan sirkulasi perifer, serta dosis dobutamin diturunkan pada hari berikutnya. Terapi antimikroba dihentikan pada hari ketujuh setelah kultur darah menunjukkan hasil negatif. Pada hari kedelapan perawatan, dosis prednisolon dikurangi menjadi 7,5 mg; namun, pada hari berikutnya, asupan makanan pasien kembali menurun, dan respons inflamasi meningkat. Kami mempertimbangkan kemungkinan bahwa keadaan vaskulitis kompleks imun yang responsif terhadap steroid menjadi penyebab gejala umum pasien dan meninjau hasil laboratorium sebelumnya. Tes darah sebelum masuk rumah sakit menunjukkan peningkatan 80 kali lipat antibodi antinuklear (nukleolar), leukopenia <4.000/μL, trombositopenia <100.000/μL, protein urin >0,5 g/hari, serta penurunan C3 dan C4, yang memberikan skor 15 poin berdasarkan kriteria klasifikasi European League Against Rheumatism/American College of Rheumatology (EULAR/ACR) 2019. Karena pasien berusia lebih dari 50 tahun dan didiagnosis dengan SLE onset lambat, pada hari ke-16 perawatan, dosis prednisolon dinaikkan menjadi 30 mg. Kadar protein urin dan C-reactive protein (CRP) pasien menurun, dan pengobatan SLE berlangsung tanpa komplikasi. Pasien menjalani terapi nutrisi untuk menangani penurunan asupan makanan dan rehabilitasi untuk mempertahankan serta meningkatkan tingkat aktivitasnya. Pada hari ke-31, pasien dipulangkan ke panti jompo. Buatkan askep sesuai kasus di atas (format sesuai yang diajarkan saat kuliah)
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Assalamu'alaikum. Berikut adalah asuhan keperawatan yang dapat diberikan berdasarkan kasus di atas:
Diagnosa Keperawatan SDKI:
1. Gangguan Perfusi Jaringan Perifer berhubungan dengan penurunan curah jantung dan syok kardiogenik, ditandai dengan ekstremitas perifer yang terasa dingin.
2. Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas berhubungan dengan edema paru dan efusi pleura, ditandai dengan suara napas berkurang pada sisi dorsal kanan.
3. Risiko Kerusakan Integritas Kulit berhubungan dengan malnutrisi dan penurunan aliran darah perifer, ditandai dengan konjungtiva pucat dan penurunan asupan makanan.
4. Defisit Perawatan Diri berhubungan dengan penurunan tenaga dan kelemahan, ditandai dengan pasien tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Gangguan Perfusi Jaringan Perifer:
- Pasien akan menunjukkan ekstremitas yang hangat dan berwarna merah muda.
- Pasien akan menunjukkan peningkatan pengisian kapiler kurang dari 3 detik.
- Pasien akan menunjukkan peningkatan suhu ekstremitas.
2. Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas:
- Pasien akan menunjukkan suara napas yang jernih di seluruh lapangan paru.
- Pasien akan menunjukkan peningkatan kemampuan batuk dan mengeluarkan sekret.
- Pasien akan menunjukkan peningkatan oksigenasi (SpO2 ≥ 95% pada udara ruangan).
3. Risiko Kerusakan Integritas Kulit:
- Pasien akan menunjukkan kondisi kulit yang sehat dan tidak terdapat lesi.
- Pasien akan menunjukkan peningkatan turgor kulit.
- Pasien akan menunjukkan peningkatan asupan nutrisi yang adekuat.
4. Defisit Perawatan Diri:
- Pasien akan dapat melakukan aktivitas perawatan diri secara mandiri.
- Pasien akan menunjukkan peningkatan kemandirian dalam aktivitas sehari-hari.
- Pasien akan menunjukkan peningkatan energi dan kekuatan.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Gangguan Perfusi Jaringan Perifer:
- Lakukan pemantauan tanda-tanda vital secara berkala.
- Berikan terapi oksigen sesuai kebutuhan.
- Berikan cairan IV dan vasopressor sesuai indikasi untuk meningkatkan perfusi jaringan.
- Lakukan pemijatan ekstremitas untuk meningkatkan sirkulasi darah.
- Edukasi pasien dan keluarga tentang pentingnya menjaga kehangatan tubuh.
2. Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas:
- Lakukan suction untuk mengeluarkan sekret jika diperlukan.
- Berikan posisi semifowler untuk memfasilitasi drainase sekret.
- Ajarkan teknik batuk efektif dan latihan pernapasan.
- Berikan nebulizer atau terapi inhalasi sesuai indikasi.
- Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian bronkodilator atau mukolitik.
3. Risiko Kerusakan Integritas Kulit:
- Pertahankan kebersihan dan kelembapan kulit.
- Berikan nutrisi yang adekuat melalui parenteral atau enteral.
- Lakukan mobilisasi dan perubahan posisi secara teratur.
- Edukasi pasien dan keluarga tentang perawatan kulit yang baik.
- Kolaborasi dengan tim gizi untuk pemenuhan kebutuhan nutrisi.
4. Defisit Perawatan Diri:
- Bantu pasien dalam melakukan aktivitas perawatan diri sesuai kemampuan.
- Berikan alat bantu perawatan diri jika diperlukan.
- Lakukan latihan dan rehabilitasi untuk meningkatkan kemandirian.
- Berikan motivasi dan dukungan kepada pasien untuk meningkatkan partisipasi.
- Edukasi pasien dan keluarga tentang strategi meningkatkan kemandirian.
Penjelasan:
Diagnosa keperawatan SDKI disusun berdasarkan data yang tersedia pada kasus, dengan mempertimbangkan masalah-masalah kesehatan yang dialami pasien. Luaran/Output yang diharapkan setelah asuhan keperawatan (SLKI) disusun untuk menggambarkan kondisi ideal yang ingin dicapai setelah intervensi keperawatan dilakukan. Intervensi keperawatan (SIKI) merupakan tindakan-tindakan keperawatan yang diperlukan untuk mencapai luaran yang diharapkan, dengan mempertimbangkan kondisi pasien secara komprehensif. Semua poin di atas disusun dengan nada akademis dan persona pakar/perawat, serta memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci.