Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 4039 | 30 Oct 2024
Klinis : Keluarga pasien mengatakan sulit menelan makanan dan minuman, pasien tampak mengeluarkan air liur berlebih
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan:
Gangguan Menelan (Disfagia)
Penjelasan singkat:
SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia):
Disfagia merupakan suatu gangguan dalam proses menelan yang dapat disebabkan oleh berbagai kondisi medis, seperti penyakit saraf, penyakit otot, kelainan anatomi, atau perkembangan yang tidak normal. Gejala klinik yang sering muncul adalah kesulitan dalam menelan makanan dan minuman, adanya perasaan tersumbat saat menelan, serta keluarnya air liur berlebih.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan dalam penanganan disfagia adalah pasien dapat menelan makanan dan minuman dengan aman, tidak terjadi aspirasi, dan tidak ada komplikasi lainnya. Pasien juga dapat mempertahankan berat badan dan asupan nutrisi yang adekuat.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan antara lain:
1. Manajemen disfagia, meliputi pengkajian status menelan, edukasi pasien dan keluarga, serta pemberian diet yang sesuai.
2. Terapi menelan, seperti latihan otot-otot pada proses menelan.
3. Pencegahan komplikasi, seperti pencegahan aspirasi dan mempertahankan status nutrisi.
4. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain, seperti ahli gizi dan terapis wicara, untuk penanganan komprehensif.
Dengan penanganan yang tepat, diharapkan pasien dapat memperbaiki kemampuan menelannya dan mencegah komplikasi yang dapat terjadi. -
Article No. 4040 | 30 Oct 2024
Klinis : bab sakit di sekitar anus
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan: Gangguan Eliminasi Fekal
Penjelasan Singkat:
SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia):
Gangguan Eliminasi Fekal adalah ketidakmampuan untuk buang air besar secara teratur dan tidak nyaman, yang ditandai dengan adanya nyeri atau rasa tidak nyaman di sekitar anus.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan dari penanganan Gangguan Eliminasi Fekal adalah pasien dapat melakukan eliminasi fekal secara normal, dengan indikator seperti frekuensi BAB normal, konsistensi feses normal, dan tidak ada rasa nyeri atau tidak nyaman saat BAB.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan meliputi:
1. Manajemen konstipasi, dengan tindakan seperti pemberian laksatif, pengaturan pola makan, dan peningkatan aktivitas fisik.
2. Manajemen nyeri, dengan tindakan seperti pemberian analgesik, kompres hangat, dan teknik relaksasi.
3. Edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai pola eliminasi normal dan perawatan diri.
Sebagai perawat, saya akan memastikan bahwa pasien mendapatkan penanganan yang komprehensif sesuai dengan standar keperawatan yang berlaku, dengan tujuan untuk mengatasi gangguan eliminasi fekal dan memulihkan kesehatan pasien. -
Article No. 4041 | 30 Oct 2024
Klinis : Pasien anak perempuan, usia 5 tahun, mengalami demam tinggi selama 3 hari, ruam merah di kulit, bintik Koplik di mukosa mulut, batuk kering, dan mata merah. Hasil pemeriksaan menunjukkan kemungkinan campak.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan kondisi yang dipaparkan, diagnosis yang paling sesuai adalah:
1. Kode ICD-10:
- Kode: B05.9
- Deskripsi: Campak, tanpa komplikasi
Penjelasan:
Pasien anak perempuan, usia 5 tahun, mengalami gejala-gejala khas campak, yaitu demam tinggi, ruam merah di kulit, bintik Koplik di mukosa mulut, batuk kering, dan mata merah. Berdasarkan manifestasi klinis tersebut, diagnosis yang paling tepat adalah campak, tanpa komplikasi, yang tercakup dalam kode ICD-10 B05.9.
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: Tidak ada kode ICD-9-CM yang spesifik untuk tindakan medis dalam kasus ini.
Pada kasus ini, tidak ada tindakan medis khusus yang memerlukan kode ICD-9-CM. Perawatan yang diberikan biasanya bersifat suportif, seperti pemberian obat penurun demam, menjaga hidrasi, dan memantau perkembangan gejala. Penanganan utama adalah memberikan terapi simptomatik dan memastikan pemulihan pasien. -
Article No. 4042 | 30 Oct 2024
Klinis : Pasien anak perempuan, usia 5 tahun, mengalami demam tinggi selama 3 hari, ruam merah di kulit, bintik Koplik di mukosa mulut, batuk kering, dan mata merah. Hasil pemeriksaan menunjukkan kemungkinan campak.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan analisis diagnosa keperawatan beserta penjelasan singkat berdasarkan standar SDKI, SLKI, dan SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi pasien anak perempuan usia 5 tahun yang mengalami gejala kemungkinan penyakit campak.
Diagnosa Keperawatan:
1. Risiko Infeksi Terkait Penyakit Campak
- Penjelasan: Pasien anak usia 5 tahun mengalami demam tinggi, ruam merah di kulit, bintik Koplik di mukosa mulut, batuk kering, dan mata merah, yang merupakan gejala-gejala khas penyakit campak. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko terjadinya infeksi lebih lanjut.
2. Intoleransi Aktivitas Terkait Demam dan Kelemahan
- Penjelisan: Pasien mengalami demam tinggi yang dapat menyebabkan kelemahan dan penurunan toleransi terhadap aktivitas.
3. Nyeri Akut Terkait Gejala Penyakit Campak
- Penjelasan: Pasien dapat mengalami nyeri akut yang berhubungan dengan gejala penyakit campak, seperti ruam merah di kulit dan peradangan pada mata.
Penjelasan Singkat Berdasarkan Standar SDKI, SLKI, dan SIKI:
SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia):
1. Risiko Infeksi: Keadaan rentan terhadap invasi dan multiplikasi organisme patogen yang dapat mengganggu kesehatan.
2. Intoleransi Aktivitas: Ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang diinginkan atau diperlukan.
3. Nyeri Akut: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Bebas Infeksi: Pasien terbebas dari infeksi.
2. Toleransi Aktivitas Meningkat: Pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri.
3. Nyeri Terkendali: Pasien mampu mengontrol nyeri yang dirasakan.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Manajemen Infeksi: Upaya perlindungan terhadap infeksi dengan mencegah, mengendalikan, dan mengobati.
2. Manajemen Aktivitas: Upaya untuk mempertahankan atau meningkatkan toleransi aktivitas.
3. Manajemen Nyeri: Upaya untuk mengidentifikasi dan mengurangi faktor penyebab nyeri serta meningkatkan kemampuan pasien dalam mengatasi nyeri. -
Article No. 4043 | 30 Oct 2024
Klinis : Pasien H umur 63 tahun dibawa keluarganya masuk rumah sakit. Dengan riwayat perokok, tidak dapat berbicara, dan kesulitan menelan makanan dan minuman. Catatan klinis hemiparesis sinistra.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan informasi yang diberikan, pasien H, seorang laki-laki berusia 63 tahun, dengan riwayat perokok, tidak dapat berbicara, kesulitan menelan makanan dan minuman, serta catatan klinis hemiparesis sinistra (kelumpuhan setengah badan sebelah kiri), maka dapat ditentukan diagnosis dan kode ICD-10 sebagai berikut:
1. Kode ICD-10:
- Kode: I69.351
- Deskripsi: Hemiplegia dan hemiparesis yang mengikuti stroke, yang memengaruhi anggota gerak tidak dominan, dengan gangguan menelan
Penjelasan:
- Kode I69.351 menggambarkan kondisi hemiparesis (kelumpuhan setengah badan) yang disebabkan oleh stroke sebelumnya, yang memengaruhi anggota gerak yang tidak dominan (dalam kasus ini, sisi kiri), disertai dengan gangguan menelan.
- Pasien memiliki riwayat perokok, yang merupakan salah satu faktor risiko stroke. Kondisi tidak dapat berbicara dan kesulitan menelan makanan dan minuman juga sesuai dengan gejala hemiparesis akibat stroke.
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: Tidak ada kode spesifik prosedur medis yang tercantum.
- Deskripsi: Tidak ada prosedur medis yang dijelaskan dalam kasus ini.
Dalam kasus ini, tidak disebutkan adanya prosedur atau tindakan medis spesifik yang dilakukan. Fokus utama adalah pada diagnosis hemiparesis sinistra akibat stroke sebelumnya, disertai dengan gangguan menelan. -
Article No. 4044 | 30 Oct 2024
Klinis : Pasien H umur 63 tahun dibawa keluarganya masuk rumah sakit. Dengan riwayat perokok, tidak dapat berbicara, dan kesulitan menelan makanan dan minuman. Catatan klinis hemiparesis sinistra.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi pasien H yang Anda deskripsikan.
Diagnosa Keperawatan:
1. Gangguan Komunikasi Verbal berhubungan dengan hemiparesis sinistra.
2. Risiko Aspirasi berhubungan dengan kesulitan menelan.
Penjelasan Singkat:
1. Gangguan Komunikasi Verbal berhubungan dengan hemiparesis sinistra:
- SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia): Gangguan dalam kemampuan menggunakan atau memahami bahasa lisan.
- SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia): Pasien dapat berkomunikasi dengan efektif secara verbal.
- SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia): Intervensi yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah ini meliputi terapi wicara, penggunaan alat bantu komunikasi, dan latihan berbicara.
2. Risiko Aspirasi berhubungan dengan kesulitan menelan:
- SDKI: Risiko terjadinya masuknya cairan, makanan, atau benda asing ke dalam saluran pernapasan.
- SLKI: Pasien tidak mengalami episode aspirasi.
- SIKI: Intervensi yang dapat dilakukan meliputi evaluasi kemampuan menelan, pengaturan posisi makan, modifikasi makanan dan minuman, serta konsultasi dengan ahli gizi atau terapis menelan.
Dalam kasus ini, pasien H memiliki riwayat perokok, tidak dapat berbicara, dan kesulitan menelan makanan dan minuman akibat hemiparesis sinistra. Diagnosa keperawatan yang sesuai adalah Gangguan Komunikasi Verbal dan Risiko Aspirasi. Perawat dapat memberikan intervensi sesuai dengan SDKI, SLKI, dan SIKI untuk mengatasi masalah-masalah tersebut dan membantu pasien mencapai luaran yang diharapkan. -
Article No. 4045 | 30 Oct 2024
Klinis : Pasien H umur 63 tahun dibawa keluarganya masuk rumah sakit. Dengan riwayat perokok, kesulitan menelan makanan dan minuman. Terpasang NGT. Catatan klinis hemiparesis sinistra.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, sebagai seorang perawat yang berpengalaman, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat dari SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi yang dialami oleh pasien H.
Diagnosa Keperawatan:
1. Gangguan Komunikasi Verbal berhubungan dengan kelemahan motorik akibat hemiparesis sinistra.
2. Risiko Aspirasi berhubungan dengan kesulitan menelan makanan dan minuman.
3. Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas berhubungan dengan penggunaan NGT.
Penjelasan Singkat:
1. Gangguan Komunikasi Verbal berhubungan dengan kelemahan motorik akibat hemiparesis sinistra.
- SDKI: Gangguan Komunikasi Verbal
- SLKI: Peningkatan Kemampuan Komunikasi
- SIKI: Terapi Wicara, Latihan Fisik, Edukasi Pasien dan Keluarga
2. Risiko Aspirasi berhubungan dengan kesulitan menelan makanan dan minuman.
- SDKI: Risiko Aspirasi
- SLKI: Pemulihan Fungsi Menelan
- SIKI: Manajemen Menelan, Terapi Gizi, Edukasi Pasien dan Keluarga
3. Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas berhubungan dengan penggunaan NGT.
- SDKI: Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas
- SLKI: Pemulihan Fungsi Pernapasan
- SIKI: Suction, Pemberian Oksigen, Fisioterapi Dada, Edukasi Pasien dan Keluarga
Dalam memberikan asuhan keperawatan, perawat akan menggunakan SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) sebagai panduan dalam menetapkan diagnosa keperawatan, hasil yang diharapkan, dan intervensi keperawatan yang tepat untuk mengatasi masalah kesehatan pasien. -
Article No. 4046 | 30 Oct 2024
Klinis : pasien dengan usia 45 tahun datang dengan keluhan gatal gatal diseluruh tubuh
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang Anda gambarkan, berikut adalah contoh diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat menggunakan standar SDKI - SLKI - SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
Diagnosa Keperawatan:
1. Gangguan Integritas Kulit
Penjelasan:
- SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia): Gangguan Integritas Kulit adalah kerusakan pada epidermis, dermis, atau lapisan kulit yang mempengaruhi struktur dan fungsi kulit.
- SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia): Luaran yang diharapkan adalah pemulihan integritas kulit, bebas dari gejala dan komplikasi.
- SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia): Intervensi yang dapat dilakukan antara lain perawatan kulit, manajemen gejala, dan edukasi terkait perawatan kulit.
Pasien dengan usia 45 tahun yang mengeluhkan gatal-gatal di seluruh tubuh kemungkinan mengalami Gangguan Integritas Kulit. Perawat perlu melakukan pengkajian yang komprehensif untuk mengidentifikasi penyebab dan faktor-faktor yang mempengaruhi. Selanjutnya, perawat dapat merencanakan intervensi yang sesuai untuk mengatasi masalah tersebut, seperti perawatan kulit, manajemen gejala, dan edukasi untuk mencapai pemulihan integritas kulit.
Sebagai seorang perawat dengan persona pakar, Anda dapat menjelaskan lebih rinci tentang diagnosa keperawatan, luaran yang diharapkan, dan intervensi yang dapat dilakukan sesuai dengan standar SDKI, SLKI, dan SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia. -
Article No. 4047 | 30 Oct 2024
Klinis : pasien dengan usia 45 tahun datang dengan keluhan kram dan kebas pada kaki dan betis
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan:
Gangguan Perfusi Perifer Berhubungan dengan Penurunan Aliran Darah Perifer
Penjelasan Singkat:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Gangguan Perfusi Perifer adalah keadaan berkurangnya aliran darah ke satu atau lebih bagian tubuh yang dapat menyebabkan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen dan nutrisi pada jaringan.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan dari diagnosa ini adalah:
1. Perfusi jaringan perifer membaik
2. Sensasi kaki dan betis membaik
3. Integritas kulit terpelihara
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi yang dapat dilakukan antara lain:
1. Manajemen Perfusi Perifer
2. Manajemen Nyeri
3. Perawatan Ekstremitas
Pasien dengan usia 45 tahun yang datang dengan keluhan kram dan kebas pada kaki dan betis, kemungkinan besar mengalami gangguan perfusi perifer. Perlu dilakukan pengkajian lebih lanjut terkait riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang untuk dapat menegakkan diagnosa keperawatan yang tepat dan memberikan intervensi yang sesuai. -
Article No. 4048 | 30 Oct 2024
Klinis : pasien dengan usia 45 tahun datang dengan keluhan perut mulas
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat berdasarkan standar SDKI - SLKI - SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi pasien yang Anda sampaikan.
Diagnosa Keperawatan:
1. Nyeri akut
- Definisi: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut.
- Karakteristik: Pasien mengeluhkan perut mulas, yang merupakan gejala nyeri akut.
Penjelasan singkat:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Nyeri akut adalah pengalaman sensori dan emosi yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut. Kriteria diagnostik nyeri akut meliputi keluhan nyeri, lokasi nyeri, durasi nyeri, karakteristik nyeri, faktor pencetus nyeri, ekspresi wajah, dan perilaku yang menunjukkan nyeri.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan dari penanganan nyeri akut antara lain pasien dapat melaporkan berkurangnya nyeri, mendemonstrasikan strategi pengelolaan nyeri, serta menunjukkan perilaku dan ekspresi wajah yang sesuai dengan pengurangan nyeri.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi yang dapat dilakukan untuk mengatasi nyeri akut meliputi pemberian analgesik, terapi relaksasi, kompres hangat/dingin, distraksi, serta edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai manajemen nyeri.
Dengan pemahaman mengenai standar SDKI, SLKI, dan SIKI, perawat dapat melakukan pengkajian, perencanaan, implementasi, dan evaluasi yang komprehensif dalam mengelola masalah nyeri akut pada pasien.