Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 23572 | 10 Jan 2026
Klinis : NY. MULYONO (555576 / 70 TH) PPOK - Eksaserbasi Pneumonia Komunitas - HHD KU Lemah, Kes : CM sesak nafas berkurang,badan lemas Terpasang : MO, DC, O2 NC 5 lpm, SP TD : 89/52 mmHg N : 101 x/mnt RR : 21 x/mnt S : 36,5 C SPO2 : 96 % SP. Aminophillin 6,3 cc/jam (Tunda) Ro. Thorax (+) Cek D Dimer (+) Cek Kultur Sputum Mikroorganisme dan Sensitivitas AB (+) TH Plan CT Scan jika KU memungkinkan (-) GDS/Hari jam 05.00 : 229 mg/dl
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Diagnosis keperawatan ini ditegakkan berdasarkan kondisi pasien dengan PPOK eksaserbasi dan pneumonia komunitas. Kedua kondisi ini secara langsung merusak unit pertukaran gas di paru-paru. Pada PPOK, terjadi kerusakan alveolus (emfisema) dan penyempitan saluran napas kronis, mengurangi luas permukaan untuk difusi gas. Pneumonia memperburuk keadaan dengan mengisi alveoli dengan eksudat inflamasi dan cairan, yang menghalangi pertukaran oksigen (O2) dan karbon dioksida (CO2). Data klinis yang mendukung adalah sesak napas (meskipun dikatakan berkurang), penggunaan oksigen nasal kanul 5 lpm, dan hasil pemeriksaan Ro. Thorax yang positif (mengindikasikan konsolidasi atau infiltrat). Meskipun SpO2 96% dalam kondisi terapi oksigen, nilai ini merupakan kompensasi dari pemberian oksigen tambahan dan tidak menyingkirkan adanya gangguan pertukaran gas yang mendasarinya, terutama dengan latar belakang penyakit paru ganda. Tujuan utama adalah mempertahankan atau memperbaiki pertukaran gas untuk mencegah hipoksemia dan komplikasinya.
Kode SLKI: L.04001
Deskripsi : Luaran yang diharapkan adalah "Perbaikan Pertukaran Gas". Kriteria luaran ini mencakup beberapa indikator yang harus dipantau pada pasien. Pertama, status pernapasan harus menunjukkan frekuensi dalam rentang normal (16-20x/menit) dengan irama yang teratur, dan pasien melaporkan tidak ada atau berkurangnya sesak napas (dispnea). Kedua, status neurologis harus menunjukkan kesadaran yang compos mentis dan orientasi yang baik. Ketiga, status gas darah arteri harus dalam batas normal atau menunjukkan perbaikan, termasuk nilai PaO2, PaCO2, dan saturasi oksigen (SpO2 ≥95% pada udara ruangan atau dengan dosis oksigen yang semakin rendah). Pada kasus Ny. Mulyono, target jangka pendek mungkin mempertahankan SpO2 >94% dengan dosis oksigen yang dapat diturunkan secara bertahap, menurunkan frekuensi napas ke rentang normal, dan menghilangkan keluhan sesak. Pencapaian luaran ini menunjukkan bahwa intervensi keperawatan dan medis berhasil mengatasi gangguan pertukaran gas yang mendasarinya.
Kode SIKI: I.08229
Deskripsi : Intervensi keperawatan utama adalah "Manajemen Jalan Napas". Intervensi ini komprehensif untuk memastikan jalan napas paten dan mendukung pertukaran gas. Langkah-langkahnya meliputi: (1) Mempertahankan kepatenan jalan napas dengan teknik posisi (misalnya, semi-Fowler atau high-Fowler untuk memudahkan ekspansi paru), serta melakukan fisioterapi dada dan latihan napas dalam jika kondisi pasien memungkinkan untuk membantu mobilisasi sekret. (2) Memantau status pernapasan secara ketat setiap 2-4 jam, termasuk frekuensi, irama, kedalaman, penggunaan otot bantu, dan adanya suara napas abnormal (ronkhi, wheezing) yang dapat mengindikasisi penumpukan sekret atau bronkospasme. (3) Mengelola terapi oksigen sesuai order (NC 5 lpm) dan memantau efektivitasnya melalui SpO2 dan tanda klinis. (4) Memberikan obat bronkodilator (seperti Aminophillin yang diresepkan) tepat waktu dan memantau efek serta efek sampingnya. (5) Memfasilitasi pengambilan sampel diagnostik seperti kultur sputum dan mendukung rencana CT scan dengan mempersiapkan kondisi pasien. (6) Mendorong asupan cairan yang adekuat (jika tidak ada kontraindikasi) untuk mengencerkan sekret. Intervensi ini bersifat kolaboratif dan terus-menerus untuk mencegah memburuknya pertukaran gas.
Kondisi: Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI: D.0011
Deskripsi Singkat: Diagnosis ini terkait dengan ketidakmampuan pasien untuk melakukan aktivitas atau mobilitas yang diinginkan karena ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen. Pada Ny. Mulyono, intoleransi aktivitas disebabkan oleh multiple faktor. Gangguan pertukaran gas primer (PPOK dan Pneumonia) mengurangi suplai oksigen ke jaringan. Demikian pula, kondisi hemodinamik yang kurang stabil (TD 89/52 mmHg, Nadi 101x/mnt) menunjukkan kemungkinan penurunan curah jantung atau volume cairan yang tidak adekuat, yang juga menurunkan pengiriman oksigen. Hiperglikemia (GDS 229 mg/dl) dapat memperburuk kelelahan dan disfungsi seluler. Keluhan "badan lemas" dan "KU lemah" adalah manifestasi langsung dari intoleransi ini. Tubuh akan mengkompensasi dengan meningkatkan frekuensi jantung (takikardia), yang justru meningkatkan konsumsi oksigen miokard dan memperparah kelelahan. Tujuannya adalah meningkatkan toleransi aktivitas secara bertahap untuk mencegah kelemahan lebih lanjut dan memulihkan kemandirian.
Kode SLKI: L.09002
Deskripsi : Luaran yang diharapkan adalah "Peningkatan Toleransi Aktivitas". Kriteria luaran ini diukur melalui: (1) Kemampuan melakukan Aktivitas Kehidupan Sehari-hari (AKS) dengan tingkat bantuan yang semakin berkurang, dari total dependen menuju mandiri. (2) Tanda-tanda vital (denyut nadi, tekanan darah, frekuensi napas) yang stabil selama dan setelah aktivitas, tanpa takikardia atau desaturasi oksigen yang signifikan. (3) Pasien melaporkan penurunan perasaan lemas dan kelelahan. (4) Keseimbangan antara aktivitas dan istirahat tercapai. Pada pasien ini, target realistis mungkin mampu duduk di tepi tempat tidur atau melakukan perawatan diri sederhana (misal, mencuci muka) dengan bantuan minimal, tanpa menyebabkan peningkatan frekuensi napas >24x/menit atau penurunan SpO2 di bawah 92%. Pencapaian luaran ini menunjukkan peningkatan kapasitas fungsional dan efisiensi sistem kardiopulmonal.
Kode SIKI: I.09005
Deskripsi : Intervensi keperawatan yang tepat adalah "Manajemen Energi". Intervensi ini berfokus pada penghematan dan pengoptimalan penggunaan energi pasien. Langkah-langkahnya meliputi: (1) Menilai tingkat kelemahan dan toleransi aktivitas dasar. (2) Merencanakan dan menjadwalkan aktivitas dengan periode istirahat yang cukup di sela-sela aktivitas (teknik pacing). Misalnya, istirahat sebelum dan sesudah makan atau sesi fisioterapi. (3) Membantu pasien dalam aktivitas yang membutuhkan banyak energi, seperti ambulasi atau mandi, sambil mendorong partisipasi sesuai kemampuan. (4) Mengajarkan teknik penghematan energi, seperti duduk saat melakukan aktivitas (mandi, berpakaian), menggunakan alat bantu jika diperlukan, dan memprioritaskan aktivitas yang penting. (5) Memantau respons kardiopulmoner (nadi, tekanan darah, respirasi, SpO2) sebelum, selama, dan setelah aktivitas. (6) Memastikan lingkungan yang aman dan nyaman untuk mencegah jatuh akibat kelemahan. (7) Berkolaborasi dalam manajemen nyeri jika ada, karena nyeri dapat meningkatkan konsumsi energi. Intervensi ini bertujuan memutus siklus kelemahan dan meningkatkan kapasitas fungsional secara bertahap.
Kondisi: Risiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah
Kode SDKI: D.0186
Deskripsi Singkat: Diagnosis ini ditegakkan berdasarkan data GDS 229 mg/dl yang menunjukkan hiperglikemia. Meskipun tidak disebutkan riwayat diabetes mellitus, stres fisiologis yang berat akibat infeksi (pneumonia) dan penyakit kronis (PPOK, HHD) dapat menyebabkan resistensi insulin dan peningkatan hormon kontra-regulator (seperti kortisol dan katekolamin), yang memicu hiperglikemia stres. Hiperglikemia sendiri dapat memperburuk outcomes: mengganggu fungsi imun (menghambat penyembuhan infeksi), menyebabkan diuresis osmotik yang berisiko dehidrasi dan memperburuk hipotensi, serta memperburuk kondisi sistemik secara keseluruhan. Dengan kondisi hemodinamik yang cenderung hipotensi, fluktuasi glukosa darah dapat semakin mengganggu keseimbangan cairan dan elektrolit. Tujuannya adalah untuk mencegah komplikasi lebih lanjut dari ketidakstabilan glukosa darah, seperti ketoasidosis, sindrom hiperglikemik hiperosmolar, atau hipoglikemia iatrogenik jika terapi insulin diberikan.
Kode SLKI: L.18006
Deskripsi : Luaran yang diharapkan adalah "Kadar Glukosa Darah Terkendali". Kriteria luaran ini meliputi: (1) Nilai glukosa darah dalam rentang target yang ditetapkan (biasanya pra-prandial 140-180 mg/dL untuk pasien sakit kritis/rawat inap). (2) Tidak adanya tanda dan gejala hipoglikemia (berkeringat, gemetar, lemas, penurunan kesadaran) atau hiperglikemia berat (polidipsia, poliuria, dehidrasi, penurunan kesadaran). (3) Pasien dan keluarga (jika mungkin) memahami pentingnya pemantauan glukosa darah. Pada Ny. Mulyono, target awal adalah menurunkan dan menstabilkan kadar glukosa darah di bawah 200 mg/dl, kemudian menuju target yang lebih ketat, sambil memastikan tidak terjadi hipoglikemia, terutama mengingat status mak
Article No. 23573 | 10 Jan 2026
Klinis : pasien mengatkan nyeri pada perutnya dan ingin mengedan, pasien tampak meringis, skala nyeri 8 (0-10 skala nyeri).
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: