Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 25439 | 03 May 2026
Klinis : keluhan batuk dan sesak nafas Batuk, sesak memberat, mual muntah (-) RPD: Riwayat OAT (-) Riwayat Serebrovaskular (-) Riwayat DM (-) Riwayat HT(-) Riwayat Jantung (+) Riwayat Ginjal (-) Riwayat Liver (-) Riwayat Ca (-) Riwayat Asma/alergi (+) Riw Ca di keluarga (-) Riw Operasi (-) ku lemah TD : 125/86 mmHg N : 92 x/mnt Rr : 31 x/mnt S : 36.8 C SpO2 : 96% Kepala : wajah bengkak (-), edem (-) konjungtiva anemis (-/-) sklera ikterik (-/-) Leher : bengkak -/-, krepitasi (-), nyeri (-) kemerahan (-) JVP tidak meningkat, Dada: simetris, venektasi (-) Pulmo: I: pengembangan dada kanan sama dengan kiri P: fremitus raba dada kanan sama dengan kiri P: sonor / sonor A: SDV / sdv , rbk +/+, rbh -/-, wh +/+, egofoni -/- Cor : S1-2 reguler, murmur -, gallop - Abdomen : supel (+) nyeri tekan (-), BU (+) Genital : dbn Ext : edema ext inferior (+/+) Lab RSUD dr.Soehadi Prijonegoro 01/5: HEMATOLOGI - Kalium (K) 4.5 - Chlorida (Cl) 97 L - Calsium (Ca2+) 1.0 L - pH 7.70 H Glukosa Darah - Glukosa Darah Sewaktu 145 Fungsi Hati - AST (SGOT) 33 - ALT (SGPT) 5 Fungsi Ginjal - Ureum 53.7 H - Kreatinin 2.11 H Jantung - CK-MB 11 Darah Rutin - Hemoglobin 13.50 - Eritrosit 4.75 - Hematokrit 39.4 Index Eritrosit - MCV 82.9 - MCH 28.4 - MCHC 34.3 - Lekosit 22.87 H - Trombosit 355 - RDW-CV 11.37 L - MPV 6.13 Hitung Jenis - Neutrofil 89.0 H - Limfosit 4.9 L - Monosit 5.1 - Eosinofil 0.49 - Basofil 0.6 - Total Neutrofil 20.35 H - Total Lymphosit 1.11 - Total Monosit 1.16 - Total Eosinofil 0.11 - Total Basofil 0.14 Gol. Darah (A B O) - Golongan Darah A KIMIA KLINIK ELEKTROLIT - Natrium (Na) 129 L Analisa Gas Darah Measure (Corected) - pH 7.40 - PCO2 34.5 L - PO2 33 L - SO2 64.0 L - Lactat 0.9 Calcualted - HCO3 21.2 - TCO2 22.0 L - Base(Ecf) -4.0 L Hasil radiologi 02/05: Kesan : - Pneumonia bilateral - Emphysematous lung - Besar cor normal
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Bersihan jalan napas tidak efektif adalah ketidakmampuan membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan jalan napas tetap paten. Pada pasien ini, ditemukan keluhan batuk dan sesak napas yang memberat, frekuensi napas 31x/menit (takipnea), adanya ronkhi basah kasar (+/+) dan wheezing (+/+) pada auskultasi paru, serta hasil laboratorium menunjukkan leukositosis (22.87 x10^3/µL) dengan neutrofil dominan (89%) yang mengindikasikan infeksi. Hasil radiologi menunjukkan pneumonia bilateral dan emphysematous lung. Pasien juga memiliki riwayat asma/alergi dan riwayat jantung (+), yang menjadi faktor predisposisi. Gangguan pada pertukaran gas juga terlihat dari hasil analisis gas darah: PO2 33 mmHg (hipoksemia berat), SO2 64% (hipoksemia), dan PCO2 34.5 mmHg (hipokapnia kompensasi alkalosis respiratorik). Kondisi ini secara langsung mengganggu kemampuan pasien untuk membersihkan sekret yang menumpuk akibat proses inflamasi dan infeksi di saluran napas, sehingga menyebabkan obstruksi dan penurunan ventilasi.
Kode SLKI: L.01001
Deskripsi : Bersihan Jalan Napas meningkat. Luaran yang diharapkan setelah intervensi keperawatan adalah: (a) Batuk efektif meningkat, (b) Produksi sputum menurun, (c) Suara napas tambahan (seperti ronkhi, wheezing) menurun, (d) Dispnea menurun, (e) Frekuensi napas membaik dalam rentang normal (16-20x/menit), (f) Pola napas membaik, (g) Sianosis tidak ada, (h) Gelisah menurun, (i) Kemampuan membersihkan jalan napas meningkat. Indikator ini diukur menggunakan skala 1 (memburuk) hingga 5 (membaik). Target utama adalah pasien mampu mengeluarkan sekret secara efektif, frekuensi napas normal, tidak ada sesak, dan saturasi oksigen di atas 95% pada udara ruang atau sesuai terapi oksigen. Pada kasus ini, prioritas utama adalah mengembalikan PO2 dan SO2 ke level normal, menurunkan frekuensi napas, serta menghilangkan suara napas tambahan.
Kode SIKI: I.01006
Deskripsi : Latihan Batuk Efektif. Intervensi ini dilakukan untuk membantu pasien membersihkan sekret dari saluran napas. Tindakan meliputi: (1) Identifikasi kemampuan batuk pasien (pasien dalam kondisi lemah, sehingga memerlukan bantuan); (2) Monitor adanya retensi sputum (frekuensi, konsistensi, warna, dan jumlah); (3) Berikan posisi semi-Fowler atau high-Fowler untuk memfasilitasi ekspansi paru dan gravitasi; (4) Ajarkan teknik batuk efektif: tarik napas dalam melalui hidung, tahan 2-3 detik, lalu batuk kuat dari perut; (5) Berikan oksigenasi sesuai advis dokter (mengingat hipoksemia berat, kemungkinan pasien memerlukan oksigen nasal kanul 2-4 L/menit atau masker); (6) Kolaborasi pemberian bronkodilator (misal: salbutamol nebulizer) untuk mengurangi wheezing dan membuka jalan napas; (7) Kolaborasi pemberian mukolitik/ekspektoran untuk mengencerkan sekret; (8) Lakukan fisioterapi dada (postural drainage, perkusi, dan vibrasi) jika kondisi pasien memungkinkan. Intervensi ini bertujuan langsung pada etiologi masalah, yaitu penumpukan sekret akibat pneumonia dan bronkospasme.
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas
Kode SDKI: D.0003
Deskripsi Singkat: Gangguan pertukaran gas adalah kelebihan atau kekurangan oksigenasi dan/atau eliminasi karbon dioksida pada membran kapiler-alveolus. Data yang sangat mendukung pada pasien ini adalah hasil Analisis Gas Darah (AGD) yang menunjukkan: PO2 33 mmHg (nilai normal 80-100 mmHg, menunjukkan hipoksemia berat), SO2 64% (nilai normal >95%, menunjukkan desaturasi oksigen), PCO2 34.5 mmHg (hipokapnia, menunjukkan hiperventilasi kompensasi), dan pH 7.40 (alkalosis respiratorik terkoreksi). Pasien juga mengalami takipnea (RR 31x/menit) sebagai mekanisme kompensasi tubuh untuk meningkatkan oksigenasi. Hasil radiologi pneumonia bilateral menunjukkan adanya konsolidasi dan infiltrat di alveoli yang mengganggu difusi oksigen. Emphysematous lung menunjukkan kerusakan dinding alveoli yang mengurangi luas permukaan pertukaran gas. Kondisi ini diperparah dengan adanya wheezing yang menandakan bronkospasme. Gangguan ini menyebabkan sel-sel tubuh tidak mendapatkan oksigen yang cukup, yang dapat berujung pada kerusakan organ jika tidak segera ditangani.
Kode SLKI: L.01003
Deskripsi : Pertukaran Gas meningkat. Luaran yang diharapkan: (a) Tingkat kesadaran membaik (pasien saat ini lemah, waspada terhadap risiko penurunan kesadaran akibat hipoksia); (b) Dispnea menurun; (c) Bunyi napas tambahan (ronkhi, wheezing) menurun; (d) Sianosis tidak ada; (e) PO2 arteri membaik (target >80 mmHg); (f) PCO2 arteri membaik (target 35-45 mmHg); (g) SO2 arteri membaik (target >95%); (h) pH arteri membaik (target 7.35-7.45); (i) Frekuensi napas membaik (16-20x/menit); (j) Pola napas membaik. Indikator utama yang perlu dievaluasi adalah perbaikan hasil AGD serial dan peningkatan saturasi oksigen. Target jangka pendek adalah mengembalikan PO2 di atas 60 mmHg dan SO2 di atas 90%.
Kode SIKI: I.01003
Deskripsi : Manajemen Oksigenasi. Intervensi ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan oksigen jaringan. Tindakan keperawatan meliputi: (1) Monitor tanda-tanda hipoksemia (takipnea, dispnea, gelisah, sianosis, perubahan kesadaran); (2) Monitor hasil AGD sesuai indikasi; (3) Berikan oksigenasi dengan alat yang sesuai: mengingat hipoksemia berat (PO2 33 mmHg), pasien mungkin memerlukan oksigen aliran tinggi (masker non-rebreather dengan reservoir 10-15 L/menit) untuk mencapai target SpO2 >90%; (4) Posisikan pasien semi-Fowler atau Fowler untuk memaksimalkan ekspansi paru; (5) Kolaborasi pemberian bronkodilator (nebulizer) untuk mengurangi obstruksi jalan napas; (6) Kolaborasi pemberian kortikosteroid (misal: metilprednisolon) untuk mengurangi inflamasi alveoli pada pneumonia; (7) Kolaborasi pemberian antibiotik (sesuai kultur sputum) untuk mengatasi infeksi pneumonia; (8) Ajarkan teknik napas dalam dan relaksasi untuk mengurangi sesak; (9) Siapkan peralatan resusitasi jika terjadi perburukan. Intervensi ini bersifat kritis dan harus dimonitor secara ketat, termasuk evaluasi efek samping terapi oksigen (seperti retensi CO2 pada pasien PPOK, meskipun PCO2 saat ini rendah).
Kondisi: Risiko Perfusi Serebral Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0017
Deskripsi Singkat: Risiko perfusi serebral tidak efektif adalah berisiko mengalami penurunan sirkulasi darah ke otak yang dapat mengganggu metabolisme jaringan otak. Pada pasien ini, risiko ini sangat nyata mengingat adanya hipoksemia berat (PO2 33 mmHg, SO2 64%). Otak sangat sensitif terhadap penurunan oksigen. Hipoksemia dapat menyebabkan vasodilatasi serebral kompensasi, namun jika berlangsung lama dapat menyebabkan edema serebral, penurunan kesadaran, dan kerusakan neuron ireversibel. Selain itu, pasien juga memiliki riwayat jantung (+) yang tidak spesifik, namun dapat mengindikasikan adanya penyakit kardiovaskular yang mendasari. Peningkatan ureum (53.7 mg/dL) dan kreatinin (2.11 mg/dL) menunjukkan adanya gangguan fungsi ginjal (akibat perfusi ginjal yang buruk atau dehidrasi), yang juga merupakan faktor risiko untuk gangguan perfusi sistemik, termasuk serebral. Kondisi lemah yang dialami pasien juga merupakan tanda awal dari penurunan perfusi serebral akibat hipoksia.
Kode SLKI: L.02002
Deskripsi : Perfusi Serebral meningkat. Luaran yang diharapkan: (a) Tingkat kesadaran membaik (Coma Scale/GCS meningkat); (b) Tekanan darah membaik (pasien saat ini 125/86 mmHg, masih dalam batas normal, namun perlu dipantau fluktuasi); (c) Nadi membaik (normal 60-100x/menit); (d) Tidak ada sakit kepala; (e) Tidak ada pusing; (f) Tidak ada kejang; (g) Fungsi motorik dan sensorik membaik; (h) Saturasi oksigen membaik (>95%). Prioritas utama adalah mengembalikan oksigenasi ke jaringan otak untuk mencegah kerusakan neurologis lebih lanjut.
Kode SIKI: I.02002
Deskripsi : Manajemen Perfusi Serebral
Article No. 25440 | 03 May 2026
Klinis : pasien dtg keluhan lemes, tidak kuat berjalan dan tidak bisa diajak komunikasi sejak pagi. pusing ( - ) kejang ( - ) rw SNH sudah 1 thn, lemah anggota gerak kanan. BAK kemerahan RPD: SNH 1thn O/ KU lemah, CM GCS E4VxM5 TD: 110/59 SB: 36,3 C HR: 92 x/m RR: 24 x/m SpO2 96 dgn NRM Mata CA +/+ SI -/- Thorax SDV +/+ RBH +/+ WHZ -/-, S1S2 regular Abdomen supel, BU (+), NT (+) epigastrium Ext Akral hangat +/+, edem -/-
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Mobilitas Fisik
Kode SDKI: D.0054
Deskripsi Singkat: Gangguan mobilitas fisik adalah keterbatasan dalam gerakan fisik dari satu atau lebih ekstremitas secara mandiri. Pada pasien ini, kondisi disebabkan oleh kelemahan anggota gerak kanan akibat riwayat stroke non-hemoragik (SNH) 1 tahun yang lalu, diperberat dengan keluhan lemes, tidak kuat berjalan, dan penurunan kesadaran (GCS E4VxM5) yang mengindikasikan afasia motorik (tidak bisa diajak komunikasi). Pasien juga mengalami penurunan tekanan darah (110/59 mmHg) yang dapat menyebabkan hipoperfusi serebral dan otot, memperburuk kelemahan. Data objektif menunjukkan ekstremitas akral hangat tanpa edema, namun kelemahan dominan pada sisi kanan tubuh (hemiparesis) sangat membatasi kemampuan mobilisasi. Defisit ini mengakibatkan ketidakmampuan pasien untuk berpindah posisi, berjalan, atau melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri, sehingga memerlukan intervensi keperawatan untuk memulihkan atau mempertahankan fungsi motorik.
Kode SLKI: L.05038
Deskripsi : Mobilitas Fisik adalah kemampuan untuk bergerak secara bebas, terkoordinasi, dan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan aktivitas sehari-hari. Luaran yang diharapkan pada pasien ini meliputi: (1) Pergerakan ekstremitas meningkat, ditandai dengan kemampuan menggerakkan anggota gerak kanan secara sadar; (2) Kekuatan otot meningkat, terutama pada sisi hemiparesis; (3) Rentang gerak (ROM) meningkat; (4) Kemampuan berjalan meningkat, dari tidak mampu menjadi mampu berjalan dengan bantuan alat; (5) Kemampuan berpindah posisi meningkat, misalnya dari tempat tidur ke kursi roda; (6) Keseimbangan tubuh meningkat, sehingga risiko jatuh menurun; (7) Koordinasi gerakan meningkat. Indikator keberhasilan dapat diukur dengan skala 1-5 (1=berat, 5=mandiri). Target luaran dalam 3x24 jam adalah pasien mampu menunjukkan peningkatan kekuatan otot minimal skala 3 (cukup) dan mampu melakukan mobilisasi di tempat tidur dengan bantuan minimal. Faktor yang mempengaruhi meliputi status neurologis, hemodinamik (TD stabil), dan motivasi pasien. Intervensi difokuskan pada latihan rentang gerak, penguatan otot, dan teknik mobilisasi progresif.
Kode SIKI: I.05138
Deskripsi : Latihan Mobilitas dan Penguatan Otot adalah serangkaian tindakan keperawatan yang bertujuan meningkatkan atau mempertahankan fungsi muskuloskeletal dan neuromuskular. Intervensi utama pada pasien ini meliputi: (1) Identifikasi toleransi fisik terhadap aktivitas, dengan memantau tanda-tanda vital sebelum, selama, dan setelah latihan (TD, HR, RR, SpO2) untuk mencegah kelelahan berlebihan; (2) Libatkan keluarga untuk memotivasi pasien dan mengajarkan teknik latihan sederhana; (3) Lakukan latihan rentang gerak (ROM) aktif-pasif pada ekstremitas kanan yang lemah, dimulai dari sendi proksimal (bahu, pinggul) ke distal (siku, pergelangan tangan, lutut, pergelangan kaki) sebanyak 5-10 repetisi setiap 4 jam; (4) Ajarkan teknik ambulasi dini, seperti duduk di tepi tempat tidur (dangling) dengan bantuan, kemudian berdiri menggunakan walker atau kursi roda; (5) Lakukan latihan penguatan otot isometrik (misalnya menekan tangan ke kasur) dan isotonik (mengangkat lengan) secara bertahap; (6) Kolaborasi dengan fisioterapis untuk program latihan terstruktur; (7) Edukasi pasien dan keluarga tentang posisi yang aman (misalnya posisi miring ke sisi yang sehat) untuk mencegah kontraktur dan luka tekan; (8) Monitor status neurologis (GCS, kekuatan otot) setiap shift. Tindakan ini harus disesuaikan dengan respons pasien, mengingat adanya hipotensi dan penurunan kesadaran yang memerlukan kewaspadaan tinggi terhadap risiko jatuh dan cedera.
Kondisi: Gangguan Komunikasi Verbal
Kode SDKI: D.0119
Deskripsi Singkat: Gangguan komunikasi verbal adalah kondisi di mana individu mengalami penurunan, keterlambatan, atau ketidakmampuan dalam menerima, memproses, menyampaikan, atau menggunakan sistem simbol untuk berkomunikasi secara verbal. Pada pasien ini, data subjektif menunjukkan "tidak bisa diajak komunikasi sejak pagi" dan data objektif GCS E4VxM5 menunjukkan respons verbal yang tidak ada (Vx) atau afasia ekspresif. Riwayat SNH 1 tahun yang lalu dengan kelemahan anggota gerak kanan sangat mendukung kemungkinan lesi pada hemisfer serebri kiri (area Broca) yang mengontrol produksi bicara. Pasien mungkin memahami pembicaraan (karena respons motorik M5 masih baik) tetapi tidak mampu merumuskan kata-kata atau mengucapkannya. Hal ini menyebabkan frustrasi, isolasi sosial, dan hambatan dalam menyampaikan kebutuhan dasar (misalnya rasa haus, nyeri, atau ingin BAK). Faktor risiko lain adalah penurunan perfusi serebral akibat hipotensi (TD 110/59) yang dapat memperburuk fungsi area bicara. Diagnosis ini penting untuk mencegah komplikasi psikologis dan memastikan kebutuhan pasien terpenuhi.
Kode SLKI: L.01110
Deskripsi : Komunikasi Verbal adalah kemampuan untuk menyampaikan pikiran, perasaan, dan kebutuhan melalui bahasa lisan yang dapat dimengerti oleh orang lain. Luaran yang diharapkan meliputi: (1) Kemampuan berbicara meningkat, dari tidak mampu menjadi mampu mengucapkan kata-kata sederhana; (2) Kemampuan mengekspresikan diri secara verbal meningkat; (3) Penggunaan bahasa isyarat atau alat bantu komunikasi meningkat; (4) Kemampuan memahami pesan verbal meningkat; (5) Kemampuan mempertahankan kontak mata meningkat; (6) Tingkat frustrasi menurun. Indikator keberhasilan diukur dengan skala 1-5, target dalam 3x24 jam adalah pasien mampu menunjukkan respons verbal minimal berupa suara atau kata tunggal (skala 3) dan mampu menggunakan gestur sederhana untuk menyampaikan kebutuhan. Faktor yang mempengaruhi adalah motivasi, dukungan keluarga, dan kondisi neurologis. Intervensi difokuskan pada stimulasi bicara dan penggunaan metode komunikasi alternatif.
Kode SIKI: I.01109
Deskripsi : Latihan Komunikasi Verbal adalah tindakan keperawatan untuk memfasilitasi dan meningkatkan kemampuan komunikasi verbal pasien. Intervensi utama meliputi: (1) Identifikasi penyebab gangguan komunikasi (misalnya afasia, disartria, atau penurunan kesadaran) melalui observasi dan kolaborasi dengan dokter/terapis wicara; (2) Ciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman untuk mengurangi distraksi; (3) Gunakan teknik komunikasi terapeutik: bicara lambat, jelas, dengan kalimat pendek, dan berikan waktu tunggu yang cukup (10-15 detik) untuk merespons; (4) Gunakan pertanyaan tertutup (ya/tidak) untuk memudahkan respons, misalnya "Apakah Anda haus?"; (5) Ajarkan metode komunikasi alternatif, seperti menunjuk gambar, menulis di papan tulis, atau menggunakan kartu kebutuhan dasar; (6) Libatkan keluarga untuk menjadi pendamping komunikasi dan ajarkan mereka cara berinteraksi yang efektif; (7) Kolaborasi dengan terapis wicara untuk program stimulasi bicara (misalnya latihan mengucapkan fonem, suku kata, dan kata); (8) Monitor respons verbal dan non-verbal pasien setiap shift, catat kemajuan dalam dokumentasi. Tindakan ini harus dilakukan dengan sabar dan penuh empati, mengingat pasien mungkin mengalami frustrasi karena tidak bisa mengekspresikan diri. Hindari menyelesaikan kalimat pasien atau berbicara seolah-olah pasien tidak ada.
Kondisi: Risiko Perdarahan
Kode SDKI: D.0012
Deskripsi Singkat: Risiko perdarahan adalah kondisi rentan mengalami kehilangan darah dari sistem kardiovaskular yang dapat mengancam jiwa. Pada pasien ini, data objektif menunjukkan BAK kemerahan (hematuria) yang merupakan tanda perdarahan aktif dari saluran kemih. Riwayat SNH 1 tahun yang lalu mungkin terkait dengan penggunaan obat antiplatelet atau antikoagulan (misalnya aspirin, clopidogrel, atau warfarin) yang umum diberikan untuk mencegah stroke berulang. Obat-obat ini meningkatkan risiko perdarahan, termasuk hematuria. Tekanan darah 110/59 mmHg yang relatif rendah dapat menjadi tanda awal hipovolemia akibat perdarahan. Selain itu, pasien juga mengalami penurunan kesadaran (GCS E4VxM5) yang bisa diperberat oleh perdarahan intrakranial (walaupun tidak ada kejang dan pusing, tetap perlu diwaspadai). Faktor risiko lain adalah adanya nyeri tekan epigastrium (NT+) yang mungkin menunjukkan iritasi lambung akibat obat NSAID atau stres. Diagnosis ini memerlukan pemantauan ketat untuk mencegah perdarahan lebih lanjut yang dapat menyebabkan syok hipovolemik, anemia, atau komplikasi neurologis.
Kode SLKI: L.02012
Deskripsi : Kontrol Perdarahan adalah kemampuan untuk mengidentifikasi, mencegah, dan mengelola perdarahan. Luaran yang diharapkan meliputi: (1) Perdarahan menurun, ditandai dengan hematuria berhenti atau berkurang; (2) Tekanan darah stabil (sistol >90 mmHg, diastol >60 mmHg); (3) Nadi perifer
Article No. 25441 | 03 May 2026
Klinis : p/b datang rujukan dari puskesmas pelupuh 1 dengan keluhan penurunan kesadaran, terdapat riwayat kejang 1x di puskesmas pkl 10.00 WIB, diperjalann kejang kembali sampai di rumahsakit sekitar 30 menit . batuk sejak 1 minggu yang lalu. BAK dan BAB dbn RPD :rw stroke , osteophorosis kontrol rutin dr . Andi di RS oen , paru , transfusi tgl 1/05/2026 KU sedang, E1V1M4 TD: 60/31 mmhg HR: 95x/m RR: 22 x/m SB: 36.1 C SpO2: 95% RA GDS : 85 Mata RC +/+ isokor 3mm/3mm, CA +/+ SI -/- cowong -/- JVP kesan tidak meningkat jantung : S1S2 tunggal, murmur (-) , gallop (-) Thorax SDV +/+ RBH +/+ WHZ -/- Abdomen : Supel BU +Normal, NT (-)defans musculare (-). Ext atas : akral dingin -/-, CRT <2dt. Ext Bawah:akral dingin -/-, CRT <2dt, edem -/-.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Perfusi Serebral Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0017
Deskripsi Singkat: Penurunan suplai oksigen dan nutrisi ke jaringan otak yang dapat mengganggu fungsi neurologis. Pada pasien ini, kondisi perfusi serebral tidak efektif didukung oleh data objektif berupa penurunan kesadaran (E1V1M4), riwayat kejang berulang, hipotensi berat (TD 60/31 mmHg), serta riwayat stroke sebelumnya yang menunjukkan adanya gangguan aliran darah ke otak. Kejang merupakan manifestasi dari iritasi kortikal akibat hipoksia atau iskemia serebral, sementara hipotensi sistemik memperburuk tekanan perfusi ke otak. Pasien juga memiliki riwayat osteoporosis yang mungkin terkait dengan imobilitas atau penggunaan obat tertentu, serta riwayat transfusi yang perlu diwaspadai sebagai faktor risiko komplikasi vaskular. Penurunan kesadaran dan respons motorik yang terbatas (M4) menunjukkan adanya kerusakan atau disfungsi pada area korteks serebri, batang otak, atau sistem retikular aktivasi. Kondisi ini memerlukan intervensi segera untuk mencegah kerusakan neurologis ireversibel, seperti infark serebral luas atau herniasi otak.
Kode SLKI: L.06014
Deskripsi : Perfusi Serebral Meningkat. Luaran yang diharapkan setelah intervensi keperawatan adalah terjadinya perbaikan status neurologis pasien, yang ditandai dengan kriteria hasil sebagai berikut: tingkat kesadaran meningkat (skala GCS membaik, pasien mampu membuka mata spontan, mengikuti perintah verbal, dan respons motorik lebih terarah); tekanan darah dalam rentang normal sesuai usia (sistolik 90-120 mmHg, diastolik 60-80 mmHg) untuk menjamin tekanan perfusi serebral adekuat; tidak ada kejang berulang dalam 24 jam; nilai saturasi oksigen perifer (SpO2) di atas 95% pada udara ruang atau sesuai target terapi oksigen; tidak ada tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial seperti muntah proyektil, bradikardia, atau perubahan pola napas; ukuran dan reaktivitas pupil normal (isokor, reaktif terhadap cahaya); serta tidak ada defisit motorik baru atau perburukan fungsi sensorik. Indikator luaran ini diukur dalam skala 1 (memburuk) hingga 5 (membaik) setelah 3x24 jam intervensi. Target minimal yang diharapkan adalah skala 4 (cukup membaik) pada semua indikator, terutama kesadaran dan tekanan darah.
Kode SIKI: I.06114
Deskripsi : Manajemen Perfusi Serebral. Intervensi keperawatan utama yang dilakukan untuk mencapai luaran perfusi serebral meningkat meliputi: (1) Monitor tanda-tanda vital setiap 15-30 menit hingga stabil, khususnya tekanan darah, denyut nadi, laju napas, dan saturasi oksigen. (2) Pertahankan tekanan darah sistolik di atas 90 mmHg dengan kolaborasi pemberian cairan intravena (misalnya NaCl 0,9% atau Ringer Laktat) dan/atau vasopressor seperti dopamin atau norepinefrin sesuai advis dokter untuk menjaga tekanan perfusi serebral minimal 60-70 mmHg. (3) Berikan oksigenasi tambahan untuk mempertahankan SpO2 di atas 95%, gunakan masker oksigen non-rebreather atau nasal kanul sesuai kebutuhan; jika perlu, persiapkan alat bantu napas mekanik (ventilator) jika GCS terus menurun. (4) Monitor status neurologis setiap jam meliputi penilaian GCS, ukuran dan reaktivitas pupil, kekuatan motorik, serta adanya kejang; dokumentasikan dan laporkan perubahan segera. (5) Atur posisi kepala pasien netral (tidak menekuk leher) dengan elevasi 15-30 derajat untuk memfasilitasi drainase vena serebral dan menurunkan tekanan intrakranial. (6) Kolaborasi pemberian antikonvulsan seperti diazepam atau fenitoin sesuai resep dokter untuk menghentikan dan mencegah kejang berulang yang dapat meningkatkan kebutuhan oksigen serebral. (7) Monitor dan catat intake dan output cairan secara ketat untuk mencegah overload cairan yang dapat memperburuk edema serebral, namun juga hindari dehidrasi. (8) Berikan lingkungan yang tenang dan redup untuk mengurangi stimulasi yang dapat memicu peningkatan tekanan intrakranial. (9) Kolaborasi pemeriksaan penunjang seperti CT scan kepala tanpa kontras untuk mengevaluasi adanya perdarahan intrakranial, infark, atau edema; serta analisis gas darah untuk menilai status oksigenasi dan keseimbangan asam-basa. (10) Edukasi keluarga mengenai kondisi pasien, prosedur, dan rencana perawatan untuk mengurangi kecemasan dan meningkatkan dukungan. Intervensi ini dilakukan secara kontinu dan dievaluasi setiap shift untuk disesuaikan dengan respons pasien.
Article No. 25442 | 03 May 2026
Klinis : Pasien dating dengan keluahan penurunnan kesadaran sejak 2 jam yang lalu sebelum nya pasien mengeluhkan nyeri kepala mual dan muntah 1 X RPD : HT O/ KU lamah, E2V3M4 TD: 187/109 mmhg HR: 87x/m RR: 26 x/m SB: 36.7 C SpO2: 98% O2 3 Lpm GDS 137 Mata RC +/+ isokor 3mm/3mm, CA +/+ SI -/- cowong -/- JVP kesan tidak meningkat jantung : S1S2 tunggal, murmur (-) , gallop (-) Thorax SDV +/+ RBH -/- WHZ -/- Abdomen : Supel BU +Normal, NT (+) epigastric defans musculare (-). Ext atas : akral dingin -/-, CRT <2dt. motoric 222/444 Ext Bawah:akral dingin -/-, CRT <2dt, motoric 222/444
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Perfusi Jaringan Serebral
Kode SDKI: D.0017
Deskripsi Singkat: Penurunan suplai oksigen dan nutrisi ke jaringan otak yang dapat mengancam fungsi neurologis. Pada pasien ini, kondisi hipertensi berat (TD 187/109 mmHg) dengan penurunan kesadaran (E2V3M4) dan riwayat hipertensi (HT) menunjukkan risiko tinggi terjadinya stroke atau edema serebral. Nyeri kepala, mual, dan muntah yang mendahului penurunan kesadaran merupakan tanda klasik peningkatan tekanan intrakranial. Gangguan perfusi serebral dapat disebabkan oleh vasospasme, trombosis, atau perdarahan intrakranial akibat tekanan darah yang tidak terkontrol. Penurunan kesadaran (GCS 9) menandakan kerusakan pada batang otak atau area kortikal yang luas. Kode SDKI D.0017 mencakup definisi, karakteristik mayor (seperti penurunan kesadaran, perubahan status mental, nyeri kepala), dan faktor risiko (hipertensi, aterosklerosis). Penanganan segera diperlukan untuk mencegah kerusakan permanen atau kematian sel saraf.
Kode SLKI: L.06014
Deskripsi : Tingkat Perfusi Serebral. SLKI ini mendefinisikan kriteria hasil yang diharapkan setelah intervensi keperawatan. Pada pasien ini, tujuan utama adalah meningkatkan aliran darah ke otak dan mencegah komplikasi. Indikator yang dapat diukur meliputi: (1) Tingkat kesadaran: meningkat dari GCS 9 menjadi 13-15 dalam 24-48 jam; (2) Tekanan darah: stabil dalam rentang target (misalnya 130-150/80-90 mmHg) tanpa fluktuasi ekstrem; (3) Nyeri kepala: berkurang dari skala 7-8 menjadi 3-4 dalam 12 jam; (4) Frekuensi nadi dan pernapasan: dalam batas normal (HR 60-100, RR 16-20); (5) Refleks pupil: reaktif dan isokor, tidak ada tanda lateralisasi; (6) Tidak ada muntah atau mual yang signifikan; (7) Motoric ekstremitas: meningkat dari 222/444 menjadi 333/555 atau lebih; (8) Akral: hangat, CRT <2 detik. Kriteria ini harus dievaluasi setiap 4-6 jam pada fase akut. SLKI L.06014 memberikan panduan untuk menentukan keberhasilan intervensi dan menyesuaikan rencana asuhan.
Kode SIKI: I.06111
Deskripsi : Manajemen Peningkatan Tekanan Intrakranial. Intervensi ini dirancang untuk mengoptimalkan perfusi serebral, mencegah herniasi otak, dan mengontrol faktor-faktor yang memperburuk kondisi. Langkah-langkah spesifik meliputi: (1) Monitoring ketat tanda-tanda vital setiap 15-30 menit pada fase akut, terutama tekanan darah, nadi, dan pernapasan; (2) Posisi kepala diangkat 30-45 derajat dengan posisi netral untuk memfasilitasi drainase vena serebral dan menurunkan tekanan intrakranial; (3) Hindari fleksi leher, rotasi kepala, atau posisi Trendelenburg; (4) Kolaborasi pemberian obat antihipertensi (misalnya labetalol, nifedipine) sesuai advis dokter untuk menurunkan tekanan darah secara bertahap (jangan turun drastis karena dapat menyebabkan hipoperfusi); (5) Kolaborasi pemberian manitol 20% 0.25-1 g/kgBB intravena jika ada tanda edema serebral; (6) Batasi stimulasi lingkungan: atur pencahayaan redup, kurangi kebisingan, dan batasi pengunjung; (7) Hindari prosedur yang meningkatkan tekanan intrakranial seperti suction yang terlalu sering atau Valsalva manuver; (8) Monitor GCS setiap jam dan laporkan penurunan >2 poin segera; (9) Observasi tanda-tanda lateralisasi (anisokor, hemiparesis); (10) Kelola mual dan muntah dengan antiemetik (misalnya ondansetron) untuk mencegah peningkatan tekanan intraabdomen; (11) Pantau intake-output cairan ketat untuk mencegah overload yang dapat memperberat edema; (12) Edukasi keluarga tentang kondisi dan rencana perawatan. Intervensi ini harus dilakukan dalam kerangka kolaborasi multidisiplin dengan dokter, fisioterapis, dan ahli gizi. SIKI I.06111 memberikan kerangka kerja sistematis untuk perawatan pasien dengan gangguan perfusi serebral akut.
Article No. 25443 | 03 May 2026
Klinis : Keluhan saat ini sesak napas, batuk berdahak, demam (+) Keluhan nyeri dada KHAS ACS dan berdebar disangkal KU lemah , Kes CM TD : 99/69 RR: 23 N: 80 SpO2: 98 % S: 36.7
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Bersihan jalan napas tidak efektif adalah ketidakmampuan membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan jalan napas yang paten. Pada pasien ini, kondisi ini didukung oleh data subjektif berupa keluhan sesak napas dan batuk berdahak, serta data objektif berupa frekuensi napas 23 kali per menit (takipnea ringan), kelemahan umum (KU lemah), dan tekanan darah yang cenderung rendah (99/69 mmHg) yang dapat mengindikasikan penurunan perfusi jaringan akibat gangguan ventilasi. Demam (+) menunjukkan adanya proses infeksi yang meningkatkan produksi sekret dan viskositas dahak, sehingga memperberat kesulitan membersihkan jalan napas. Pasien tidak mengalami nyeri dada khas ACS dan tidak berdebar, sehingga etiologi sesak napas lebih mengarah pada gangguan respirasi akibat infeksi saluran napas bawah (misalnya pneumonia atau bronkitis akut). Saturasi oksigen 98% masih dalam batas normal, namun hal ini tidak menyingkirkan adanya risiko penurunan ventilasi yang progresif jika sekret tidak segera dibersihkan. Kelemahan umum menurunkan kemampuan pasien untuk batuk efektif, yang merupakan mekanisme fisiologis utama pembersihan jalan napas. Oleh karena itu, diagnosis ini sangat relevan untuk mengoptimalkan pertukaran gas dan mencegah komplikasi seperti atelektasis atau hipoksemia.
Kode SLKI: L.01001
Deskripsi : SLKI untuk Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif adalah "Bersihan Jalan Napas Meningkat". Definisi dari luaran ini adalah kemampuan pasien untuk mempertahankan kepatenan jalan napas dengan indikator yang dapat diukur secara klinis. Indikator utama meliputi: (1) Produksi sputum menurun, ditandai dengan berkurangnya frekuensi batuk dan volume dahak yang dikeluarkan; (2) Suara napas tambahan (seperti ronki atau wheezing) menghilang pada auskultasi; (3) Frekuensi napas dalam rentang normal (16-20 kali per menit); (4) Kemampuan batuk efektif meningkat, artinya pasien mampu mengeluarkan sekret tanpa bantuan suction; (5) Tidak ada sianosis atau penggunaan otot bantu napas; (6) Saturasi oksigen tetap di atas 95% pada kondisi ruangan. Pada pasien ini, target luaran yang diharapkan dalam 3x24 jam adalah: frekuensi napas menurun menjadi 20x/menit, batuk berdahak berkurang, pasien mampu batuk efektif mandiri, dan tidak ada peningkatan suhu tubuh lebih lanjut. Skala luaran dinilai dari 1 (memburuk) hingga 5 (membaik). Intervensi keperawatan akan difokuskan untuk mencapai skala 4-5 pada setiap indikator, misalnya dengan memonitor karakteristik sputum, mengajarkan teknik batuk efektif, dan memberikan posisi semi-Fowler untuk memudahkan ekspansi paru.
Kode SIKI: I.01001
Deskripsi : SIKI untuk diagnosis ini adalah "Latihan Batuk Efektif" (I.01001) dan "Manajemen Jalan Napas" (I.01002). Berikut deskripsi dari kedua intervensi utama:
1. **Latihan Batuk Efektif (I.01001)**: Intervensi ini bertujuan untuk mengoptimalkan kemampuan pasien dalam membersihkan sekret dari saluran napas secara mandiri. Tindakan keperawatan meliputi: (a) Kaji kemampuan batuk dan karakteristik sputum (warna, konsistensi, bau); (b) Ajarkan pasien posisi duduk tegak atau semi-Fowler dengan lutut ditekuk untuk meningkatkan tekanan intra-abdomen; (c) Instruksikan pasien untuk menarik napas dalam 3-5 kali, kemudian tahan napas selama 2-3 detik, lalu batuk kuat dari diafragma (bukan dari tenggorokan); (d) Bantu pasien dengan menekan area epigastrium atau dada lateral saat batuk jika perlu; (e) Berikan waktu istirahat di antara sesi batuk untuk mencegah kelelahan; (f) Monitor respons fisiologis seperti perubahan frekuensi napas, saturasi oksigen, dan warna mukosa. Frekuensi latihan dilakukan setiap 2-4 jam atau sesuai toleransi pasien.
2. **Manajemen Jalan Napas (I.01002)**: Intervensi ini bersifat komprehensif untuk mempertahankan kepatenan jalan napas. Tindakan meliputi: (a) Posisikan pasien semi-Fowler (30-45 derajat) untuk memfasilitasi drainase sekret dan ekspansi paru; (b) Lakukan fisioterapi dada seperti perkusi dan vibrasi jika tidak ada kontraindikasi (misalnya nyeri dada, fraktur iga); (c) Berikan oksigenasi sesuai kebutuhan jika saturasi oksigen turun <94% (pada kondisi ini saturasi 98%, oksigen dapat diberikan jika ada tanda distress napas); (d) Anjurkan minum air hangat 1500-2000 ml/hari (jika tidak ada kontraindikasi) untuk mengencerkan dahak; (e) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian mukolitik (misal acetylcysteine) atau bronkodilator (misal salbutamol nebulizer) jika terdapat wheezing; (f) Monitor tanda-tanda vital setiap 4 jam, terutama frekuensi napas, suhu, dan tekanan darah; (g) Lakukan suctioning jika pasien tidak mampu batuk efektif dan sekret menyumbat jalan napas (dengan teknik steril). Evaluasi intervensi dilakukan setiap shift dengan mengauskultasi suara napas dan menilai produksi sputum.
Kedua intervensi ini saling melengkapi: latihan batuk efektif memberdayakan pasien untuk membersihkan jalan napas secara mandiri, sementara manajemen jalan napas menyediakan dukungan lingkungan dan farmakologis. Dengan pendekatan ini, diharapkan dalam 3x24 jam pasien menunjukkan perbaikan signifikan pada indikator luaran, seperti frekuensi napas normal, batuk produktif tanpa bantuan, dan tidak ada demam. Dokumentasi keperawatan harus mencatat respons pasien terhadap setiap tindakan, termasuk jumlah dan karakteristik sputum, serta perubahan tanda-tanda vital, untuk memantau efektivitas intervensi dan melakukan modifikasi rencana asuhan jika diperlukan.
Article No. 25444 | 03 May 2026
Klinis : sesak napas (+), batuk berdahak (+), demam (+) TTV: TD : 131/79 HR : 84x RR : 18x SpO2: 98% Thorax: A: SDV / sdv , rbk +/+, rbh +/+, wh -/-,
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Bersihan jalan napas tidak efektif adalah ketidakmampuan membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan jalan napas tetap paten. Kondisi ini ditandai dengan adanya ketidakmampuan batuk efektif, produksi sputum berlebih, atau adanya bunyi napas tambahan seperti ronkhi (rbk) dan rhonki (rbh) yang terdeteksi pada auskultasi paru. Pada pasien, data objektif menunjukkan adanya sesak napas (dispnea), batuk berdahak, dan demam. Pemeriksaan thoraks menemukan suara dasar vesikuler (SDV) yang normal, namun terdapat ronkhi positif pada kedua lapang paru (rbk +/+ dan rbh +/+), serta tidak ditemukan wheezing (wh -/-). Ronkhi merupakan bunyi napas tambahan yang disebabkan oleh adanya sekret cair atau lendir di saluran napas besar, sementara rhonki adalah bunyi napas kasar yang menandakan adanya sekret kental atau sumbatan parsial di saluran napas sedang. Kondisi ini sering menyertai infeksi saluran pernapasan seperti pneumonia, bronkitis, atau PPOK eksaserbasi akut. Demam yang menyertai menandakan proses inflamasi atau infeksi yang meningkatkan produksi mukus dan viskositas sputum. Meskipun saturasi oksigen pasien masih dalam batas normal (SpO2 98%), adanya obstruksi jalan napas parsial dan ketidakmampuan membersihkan sekret secara efektif dapat menyebabkan penurunan ventilasi dan pertukaran gas jika tidak segera diatasi. Frekuensi napas (RR 18x/menit) masih dalam rentang normal, namun pasien melaporkan sensasi sesak yang menandakan adanya peningkatan kerja napas. Diagnosis ini menekankan pada gangguan mekanisme pembersihan jalan napas alami akibat peningkatan produksi sekret dan/atau penurunan kemampuan batuk.
Kode SLKI: L.01001
Deskripsi : Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama periode tertentu, diharapkan bersihan jalan napas membaik dengan kriteria hasil yang terukur. Indikator utama yang dievaluasi meliputi: (1) Produksi sputum menurun, dibuktikan dengan penurunan frekuensi batuk dan volume sputum yang dikeluarkan; (2) Kemampuan batuk efektif meningkat, pasien mampu mengeluarkan sekret tanpa bantuan atau dengan bantuan minimal; (3) Bunyi napas tambahan (ronkhi/rhonki) menghilang atau berkurang pada auskultasi; (4) Sesak napas (dispnea) menurun, pasien melaporkan perasaan lega dan mampu bernapas dengan lebih mudah; (5) Suara napas normal (vesikuler) kembali dominan tanpa adanya bunyi tambahan; (6) Irama dan frekuensi napas dalam rentang normal (12-20x/menit pada dewasa); (7) Tanda-tanda vital stabil, termasuk suhu tubuh kembali normal (afebris) dan tidak ada peningkatan frekuensi napas atau denyut jantung yang signifikan; (8) Saturasi oksigen (SpO2) tetap di atas 95% pada udara ruangan atau sesuai target terapi; (9) Warna sputum berubah dari purulen (kuning/hijau) menjadi mukoid (putih/jernih) yang menandakan berkurangnya infeksi; (10) Pasien mendemonstrasikan teknik batuk efektif dan posisi yang memudahkan pengeluaran sekret. Kriteria hasil ini dievaluasi secara berkala setiap shift atau sesuai kondisi klinis, dengan target pencapaian dalam 1x24 jam hingga 3x24 jam tergantung tingkat keparahan dan respons terhadap intervensi. Keberhasilan ditandai dengan berkurangnya ronkhi/rhonki, sputum mudah dikeluarkan, dan pasien tidak lagi mengeluh sesak.
Kode SIKI: I.01001
Deskripsi : Intervensi utama yang dilakukan untuk mengatasi bersihan jalan napas tidak efektif adalah Latihan Batuk Efektif. Tindakan ini bertujuan untuk membantu pasien mengeluarkan sekret dari saluran napas secara mandiri atau dengan bantuan minimal. Langkah-langkah intervensi meliputi: (1) Identifikasi kemampuan batuk pasien, kaji frekuensi, karakteristik batuk (kering/basah), dan adanya nyeri saat batuk; (2) Jelaskan tujuan dan prosedur batuk efektif kepada pasien untuk meningkatkan partisipasi; (3) Atur posisi pasien semi-Fowler atau duduk tegak dengan kepala sedikit fleksi dan bahu rileks untuk memaksimalkan ekspansi paru; (4) Anjurkan pasien menarik napas dalam melalui hidung secara perlahan (3-5 detik), tahan napas selama 2-3 detik, lalu hembuskan perlahan melalui mulut (teknik pursed-lip breathing) untuk mengurangi kolaps jalan napas; (5) Lakukan napas dalam kedua kalinya, kemudian anjurkan pasien untuk batuk kuat dan pendek (2-3 kali batuk) dengan mulut terbuka, diawali dengan hembusan napas cepat dari diafragma; (6) Bantu pasien dengan memberikan tekanan ringan pada dinding dada atau perut bagian atas saat batuk untuk meningkatkan tekanan ekspirasi; (7) Ajarkan teknik huffing (batuk dengan mulut terbuka seperti mengembuskan napas kuat) untuk mengeluarkan sekret dari saluran napas perifer; (8) Lakukan fisioterapi dada jika diperlukan, seperti perkusi (tepukan ringan) dan vibrasi pada area paru yang terdengar ronkhi/rhonki untuk melonggarkan sekret; (9) Berikan posisi postural drainase sesuai lokasi sekret (misalnya, posisi Trendelenburg untuk lobus bawah paru) jika tidak ada kontraindikasi seperti hipertensi intrakranial atau trauma kepala; (10) Anjurkan pasien untuk minum air hangat secara teratur (jika tidak ada kontraindikasi) untuk mengencerkan sputum; (11) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian mukolitik (misal, asetilsistein, ambroksol) atau ekspektoran sesuai indikasi; (12) Kolaborasi pemberian bronkodilator (misal, salbutamol nebulizer) jika terdapat komponen obstruksi reversibel; (13) Monitor efektivitas batuk, karakteristik sputum (warna, konsistensi, bau), dan perubahan bunyi napas setiap 2-4 jam; (14) Dokumentasikan respons pasien terhadap intervensi, termasuk penurunan sesak, berkurangnya bunyi napas tambahan, dan kemampuan mengeluarkan sekret. Intervensi ini dilakukan dengan pendekatan bertahap, dimulai dari teknik non-invasif (batuk efektif, hidrasi) dan ditingkatkan ke teknik invasif (suction) jika pasien gagal mengeluarkan sekret secara mandiri. Evaluasi dilakukan setiap selesai tindakan untuk menilai penurunan ronkhi/rhonki dan perbaikan status pernapasan pasien.
Article No. 25445 | 03 May 2026
Klinis : pasien datang dengan keluhan nyeri dada kiri sejak kemarin sore pukul 18.00, dirasa berat seperti tertindih, menjalar sampai punggung-pundak kiri-dan lengan kiri, telapak tangan kiri kesemutan kebas, keringat dingin (+), pasien mengatakan nyeri dada sempat berkurang tadi malam kemudian siang ini jam 12.00 nyeri dirasa kembali, mual (-), muntah (-), sesak napas (-), keluhan lain (-) RPD: DM (+) tidak terkontrol, HT (-), PJK (-) KU cukup, GCS E4V5M6 TD: 108/58 SB: 36 C HR: 60 x/m RR: 20 x/m SpO2: 97% on room air Mata CA -/- SI -/- JVP kesan tidak meningkat Thorax SDV +/+ RBH -/- WHZ -/-, S1S2 regular Abdomen supel, BU (+), NT (-) Ext atas AH +/+, CRT <2dt Ext Bawah AH +/+, CRT <2dt, edem -/-
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut (Nyeri Dada terkait Sindrom Koroner Akut)
Kode SDKI: D.0077
Deskripsi Singkat: Nyeri Akut didefinisikan sebagai pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial, dengan onset yang tiba-tiba atau lambat, dan intensitas ringan hingga berat, yang berlangsung kurang dari 3 bulan. Pada pasien ini, nyeri dada kiri yang dirasakan berat seperti tertindih, menjalar ke punggung, pundak, dan lengan kiri, disertai keringat dingin, merupakan manifestasi khas dari iskemia miokard. Nyeri ini bersifat akut karena onsetnya tiba-tiba (sejak sore kemarin) dan merupakan alasan utama pasien mencari pertolongan. Faktor risiko seperti Diabetes Melitus (DM) tidak terkontrol yang diketahui dari Riwayat Penyakit Dahulu (RPD) memperkuat predisposisi aterosklerosis koroner. Nyeri dada yang dirasakan kembali pada siang hari setelah sempat berkurang mengindikasikan proses iskemia yang berlanjut atau mungkin infark miokard yang sedang berlangsung. Tanda-tanda vital menunjukkan tekanan darah yang cenderung rendah (108/58 mmHg) dan denyut jantung yang normal (60x/m), namun kombinasi dengan keringat dingin dan nyeri dada merupakan tanda bahaya yang memerlukan penanganan segera. Kesemutan dan kebas pada telapak tangan kiri merupakan fenomena referred pain yang khas pada iskemi miokard. Diagnosis keperawatan ini ditegakkan berdasarkan data subjektif (pasien mengeluh nyeri dada) dan data objektif (ekspresi wajah meringis, keringat dingin, perubahan tanda vital, dan perilaku melindungi area nyeri). Penanganan nyeri akut menjadi prioritas utama karena nyeri yang tidak terkontrol dapat meningkatkan beban kerja jantung, memperburuk iskemia, dan memicu komplikasi lebih lanjut seperti syok kardiogenik atau aritmia. Intervensi segera meliputi pemberian oksigen, posisi semi-fowler, manajemen farmakologis (misalnya nitrogliserin sublingual sesuai order medis), dan pengkajian karakteristik nyeri secara serial (PQRST) untuk memantau respons terapi dan perkembangan kondisi pasien.
Kode SLKI: L.08066
Deskripsi : Tingkat Nyeri (L.08066) adalah luaran yang diharapkan setelah diberikan intervensi keperawatan. Definisi dari Tingkat Nyeri adalah persepsi individu terhadap ketidaknyamanan sensorik dan emosional yang dialami. Kriteria hasil yang ingin dicapai pada pasien ini meliputi: (1) Kemampuan mengontrol nyeri meningkat, yang ditandai dengan pasien mampu mengenali faktor pencetus dan menggunakan teknik non-farmakologis untuk meredakan nyeri; (2) Keluhan nyeri menurun, yang diukur dengan skala nyeri (misalnya skala numerik 0-10) yang menunjukkan penurunan skor dari skala awal (misalnya dari 7-8 menjadi 3-4); (3) Ekspresi wajah rileks, tidak meringis; (4) Tanda vital dalam rentang normal atau stabil, terutama tekanan darah dan denyut nadi yang tidak menunjukkan tanda-tanda syok atau peningkatan beban kerja jantung; (5) Tidak ada keringat dingin; (6) Kemampuan istirahat dan tidur adekuat. Indikator ini dievaluasi secara berkala, misalnya setiap 15-30 menit pada fase akut, untuk memastikan efektivitas intervensi keperawatan dan medis. Target utama adalah pasien melaporkan penurunan intensitas nyeri dalam waktu 1x24 jam setelah intervensi, dengan skala nyeri berada pada level yang dapat ditoleransi (skala <4). Pencapaian luaran ini sangat krusial karena nyeri yang terkontrol akan mengurangi konsumsi oksigen miokard, menurunkan risiko perluasan infark, dan meningkatkan kenyamanan serta partisipasi pasien dalam proses pengobatan selanjutnya. Jika luaran ini tidak tercapai, perlu dilakukan evaluasi ulang terhadap diagnosis keperawatan, kemungkinan adanya komplikasi (misalnya infark miokard luas, syok kardiogenik, atau perikarditis), dan kolaborasi dengan dokter untuk penyesuaian terapi analgesik atau anti-iskemia.
Kode SIKI: I.08238
Deskripsi : Manajemen Nyeri (I.08238) adalah serangkaian intervensi keperawatan yang dilakukan untuk mengidentifikasi dan mengelola pengalaman nyeri pada pasien. Definisi intervensi ini adalah observasi, identifikasi, dan penanganan nyeri secara komprehensif. Tindakan keperawatan yang dilakukan meliputi tiga komponen utama: observasi, terapeutik, dan edukasi. Observasi: (1) Identifikasi skala nyeri menggunakan alat ukur yang sesuai (misalnya skala numerik, Wong-Baker FACES) setiap 15 menit hingga nyeri terkontrol, kemudian setiap 1-2 jam; (2) Identifikasi karakteristik nyeri (PQRST): Provokatif/Paliatif (apa yang memicu dan meredakan), Quality (kualitas nyeri seperti berat, tertindih), Region (lokasi dan penjalaran), Severity (skala nyeri), Time (onset dan durasi); (3) Monitor tanda vital (TD, HR, RR, SpO2) sebelum dan sesudah pemberian analgesik; (4) Observasi reaksi nonverbal pasien (ekspresi wajah, posisi tubuh, keringat dingin). Terapeutik: (1) Berikan posisi semi-Fowler atau posisi yang nyaman untuk mengurangi beban jantung dan memudahkan pernapasan; (2) Berikan lingkungan yang tenang dan redup untuk mengurangi stimulus sensorik; (3) Fasilitasi teknik relaksasi napas dalam (deep breathing) untuk menurunkan ketegangan otot dan respons stres; (4) Kolaborasi pemberian analgesik (misalnya nitrogliserin sublingual, morfin sesuai order medis) dan oksigenasi (oksigen 2-4 L/menit jika SpO2 <94% atau ada sesak napas); (5) Hindari aktivitas yang meningkatkan nyeri, seperti batuk keras atau manuver Valsava. Edukasi: (1) Jelaskan penyebab nyeri dada (iskemia miokard) dan pentingnya melaporkan nyeri segera; (2) Ajarkan teknik relaksasi dan distraksi; (3) Anjurkan pasien untuk beristirahat total (bed rest) dan membatasi aktivitas fisik. Intervensi ini dilakukan secara kontinu dan dievaluasi setiap 15-30 menit pada fase akut. Tujuan akhir dari intervensi ini adalah pasien melaporkan penurunan skala nyeri hingga <4 dalam 1x24 jam, tanda vital stabil, dan tidak ada tanda-tanda syok atau perburukan iskemia. Jika intervensi tidak efektif, perawat harus segera mengkaji ulang kemungkinan komplikasi (misalnya infark miokard transmural, ruptur miokard) dan berkolaborasi dengan dokter untuk penanganan lebih lanjut seperti terapi reperfusi (PCI atau trombolisis) atau penyesuaian dosis analgesik.
Article No. 25446 | 03 May 2026
Klinis : pasien nyeri akut
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0077
Deskripsi Singkat: Nyeri akut adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan yang muncul akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial, dengan onset yang tiba-tiba atau lambat, dan berlangsung kurang dari tiga bulan. Nyeri akut memiliki intensitas yang bervariasi, dari ringan hingga berat, dan biasanya berfungsi sebagai sinyal peringatan adanya cedera atau penyakit. Karakteristik utamanya meliputi adanya laporan verbal atau nonverbal tentang nyeri, ekspresi wajah yang menunjukkan distress (seperti meringis, mata terpejam, atau gigi terkatup), perubahan posisi tubuh untuk melindungi area yang nyeri (sikap protektif), perubahan fisiologis seperti peningkatan tekanan darah, denyut nadi, dan frekuensi pernapasan, serta perubahan perilaku seperti gelisah, menangis, atau menarik diri dari interaksi. Nyeri akut dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk trauma fisik (luka, patah tulang, pembedahan), prosedur medis (infus, biopsi, pemasangan drain), inflamasi (infeksi, radang sendi), iskemia (penyumbatan pembuluh darah), atau spasme otot. Dampak nyeri akut yang tidak tertangani dapat meliputi gangguan tidur, penurunan nafsu makan, keterbatasan mobilitas, peningkatan risiko komplikasi pasca operasi (seperti atelektasis atau trombosis vena dalam), serta perkembangan menjadi nyeri kronis. Diagnosis ini ditegakkan berdasarkan data subjektif (keluhan nyeri) dan objektif (tanda-tanda vital, perilaku, dan respons fisiologis) yang dikumpulkan melalui pengkajian keperawatan yang komprehensif. Skala nyeri seperti Numeric Rating Scale (NRS) atau Wong-Baker Faces Pain Rating Scale sering digunakan untuk mengukur intensitas nyeri. Faktor yang memperberat (seperti gerakan, batuk, atau tekanan) dan memperingan (seperti istirahat, kompres hangat/dingin, atau obat) juga perlu diidentifikasi. Penanganan nyeri akut bersifat multidisiplin dan melibatkan intervensi farmakologis (analgesik sesuai resep) dan non-farmakologis (teknik relaksasi, distraksi, kompres, guided imagery, atau terapi musik). Peran perawat sangat krusial dalam mengkaji, memonitor, mengelola, dan mengevaluasi respons terhadap terapi, serta memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang manajemen nyeri mandiri. Keberhasilan manajemen nyeri akut diukur dari penurunan skala nyeri, perbaikan tanda-tanda vital, peningkatan kenyamanan, dan kemampuan pasien untuk berpartisipasi dalam aktivitas sehari-hari serta program rehabilitasi.
Kode SLKI: L.08066
Deskripsi : Tingkat Nyeri adalah luaran keperawatan yang menggambarkan status atau kondisi pasien setelah diberikan intervensi keperawatan untuk mengelola nyeri. Luaran ini difokuskan pada penurunan intensitas nyeri, peningkatan kenyamanan, dan kemampuan pasien dalam mengontrol nyeri. Kriteria evaluasi yang digunakan untuk mengukur Tingkat Nyeri meliputi beberapa indikator yang dapat diobservasi dan diukur secara kuantitatif maupun kualitatif. Indikator utama adalah keluhan nyeri, yang diukur dengan skala nyeri standar (misalnya NRS 0-10) dan frekuensi episode nyeri. Indikator lainnya meliputi ekspresi wajah (tidak meringis, relaks), posisi tubuh (tidak protektif, mampu bergerak bebas), tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan dalam rentang normal), kemampuan tidur (tidak terbangun karena nyeri), nafsu makan (tidak menurun), dan kemampuan beraktivitas (tidak terhambat oleh nyeri). Selain itu, luaran ini juga mencakup aspek kognitif dan psikologis, yaitu pemahaman pasien tentang penyebab nyeri, kemampuan melaporkan nyeri secara akurat, kepatuhan dalam menggunakan teknik manajemen nyeri (farmakologis dan non-farmakologis), serta tingkat kecemasan yang terkait dengan nyeri. Setiap indikator dievaluasi menggunakan skala Likert 1-5, di mana skor 1 menunjukkan kondisi sangat memburuk, skor 2 memburuk, skor 3 cukup, skor 4 membaik, dan skor 5 sangat membaik. Target luaran ditetapkan secara individual berdasarkan kondisi pasien, misalnya target skala nyeri ≤ 3 dalam 24 jam pasca intervensi, atau pasien mampu mendemonstrasikan teknik relaksasi napas dalam dalam waktu 2x24 jam. Capaian luaran ini menjadi acuan untuk memodifikasi atau melanjutkan intervensi keperawatan. Jika target tidak tercapai, perawat perlu mengkaji ulang faktor penyebab, efektivitas intervensi, dan kemungkinan perubahan diagnosis. Dokumentasi luaran ini dilakukan secara periodik, misalnya setiap 2-4 jam pada fase akut, dan setiap shift pada fase stabil. Keberhasilan pencapaian luaran Tingkat Nyeri yang optimal tidak hanya meningkatkan kenyamanan pasien, tetapi juga mempercepat proses penyembuhan, mencegah komplikasi, dan meningkatkan kualitas hidup pasien secara keseluruhan. Perawat berperan sebagai advokat pasien dalam memastikan nyeri dikelola secara adekuat sesuai standar evidence-based practice.
Kode SIKI: I.08238
Deskripsi : Manajemen Nyeri adalah serangkaian intervensi keperawatan yang dirancang untuk mengidentifikasi, mencegah, dan mengurangi nyeri, serta meningkatkan kenyamanan dan kualitas hidup pasien yang mengalami nyeri akut maupun kronis. Intervensi ini bersifat holistik, mencakup aspek fisik, psikologis, sosial, dan spiritual. Aktivitas utama dalam Manajemen Nyeri dimulai dengan pengkajian nyeri yang komprehensif dan berkelanjutan, meliputi lokasi, karakteristik (seperti tajam, tumpul, seperti ditusuk, atau terbakar), durasi, frekuensi, intensitas (menggunakan skala nyeri yang sesuai dengan usia dan kondisi pasien), kualitas, faktor yang memperberat dan memperingan, serta dampak nyeri terhadap fungsi sehari-hari. Perawat juga harus mengkaji respons fisiologis (tanda-tanda vital, perubahan kulit, ketegangan otot) dan perilaku (ekspresi wajah, posisi tubuh, agitasi, atau menarik diri). Setelah pengkajian, perawat berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgesik, baik secara oral, intravena, intramuskular, atau topikal, sesuai dengan prinsip analgesia berjenjang (WHO analgesic ladder) dan resep yang berlaku. Perawat memonitor efektivitas obat, efek samping (seperti mual, konstipasi, sedasi, atau depresi pernapasan), dan respons pasien. Selain farmakologi, intervensi non-farmakologis merupakan komponen penting yang dapat dilakukan secara mandiri oleh perawat. Teknik-teknik ini meliputi: (1) Teknik relaksasi, seperti napas dalam, guided imagery, atau meditasi untuk menurunkan ketegangan otot dan kecemasan. (2) Distraksi, seperti mendengarkan musik, menonton film, bermain game, atau mengobrol untuk mengalihkan fokus dari nyeri. (3) Terapi fisik, seperti kompres hangat atau dingin (sesuai indikasi, misalnya kompres dingin untuk edema akut, kompres hangat untuk nyeri otot kronis), masase ringan pada area non-lesi, atau reposisi untuk mengurangi tekanan. (4) Terapi kognitif-perilaku, seperti restrukturisasi kognitif untuk mengubah persepsi negatif tentang nyeri. (5) Terapi komplementer, seperti akupresur, aromaterapi, atau terapi sentuhan (therapeutic touch) sesuai kewenangan dan kompetensi perawat. Edukasi kepada pasien dan keluarga merupakan pilar penting dalam manajemen nyeri. Perawat mengajarkan cara melaporkan nyeri secara akurat, teknik non-farmakologis mandiri, pentingnya kepatuhan minum obat, dan tanda-tanda efek samping yang perlu dilaporkan. Perawat juga membantu pasien menetapkan tujuan manajemen nyeri yang realistis, misalnya target skala nyeri untuk dapat tidur nyenyak atau berjalan. Dokumentasi dilakukan secara sistematis, mencatat hasil pengkajian, intervensi yang diberikan, respons pasien, dan modifikasi rencana asuhan. Evaluasi efektivitas intervensi dilakukan secara berkala, dan jika nyeri tidak terkontrol, perawat melakukan reassessment untuk mengidentifikasi penyebab (misalnya dosis obat tidak adekuat, adanya komplikasi, atau faktor psikologis) dan berkolaborasi untuk menyesuaikan rencana terapi. Manajemen Nyeri yang efektif memerlukan pendekatan yang individual, responsif, dan berbasis bukti, dengan tujuan akhir tidak hanya menghilangkan nyeri, tetapi juga memulihkan fungsi, meningkatkan kenyamanan, dan memberdayakan pasien untuk berpartisipasi aktif dalam perawatan dirinya.
Article No. 25447 | 03 May 2026
Klinis : Ny. A, 28 tahun, datang ke IGD dengan keluhan perdarahan pervaginam sejak 3 hari yang lalu. Perdarahan disertai keluarnya jaringan berbentuk gelembung anggur. Pasien juga mengeluhkan mual dan muntah berlebihan serta merasa perutnya lebih besar dari usia kehamilan yang seharusnya. Dari hasil anamnesis, diketahui bahwa ini adalah kehamilan kedua (G2P0A1), dan pasien pernah mengalami keguguran satu tahun yang lalu. Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan tekanan darah 150/90 mmHg, nadi 98x/menit, pernapasan 22x/menit, dan suhu 37,2°C. Pemeriksaan abdomen menunjukkan uterus lebih besar dari usia kehamilan seharusnya, serta tidak teraba gerakan janin. Pemeriksaan genitalia menunjukkan perdarahan pervaginam dengan jaringan berbentuk gelembung anggur. Pemeriksaan penunjang menunjukkan kadar ẞ-hCG 250.000 mIU/mL (jauh lebih tinggi dari kehamilan normal) dan hasil USG menampilkan gambaran "salju" atau gelembung khas mola hidatidosa. Pemeriksaan darah menunjukkan kadar Hb 9 g/dL, yang mengindikasikan anemia ringan akibat perdarahan. Dokter kemudian mendiagnosis pasien dengan Mola Hidatidosa, dan pasien dijadwalkan untuk kuretase hisap (suction curettage) guna mengeluarkan jaringan mola. Pasien juga diberikan oksitosin untuk mencegah perdarahan pasca-kuretase serta dijadwalkan untuk pemantauan kadar ẞ-hCG secara berkala. tentukan diagnosis keperawatan dengan kasus di atas
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Perdarahan pada Ibu Post Partum/Kuretase
Kode SDKI: D.0056
Deskripsi Singkat: Risiko perdarahan pada ibu post partum/kuretase adalah keadaan berisiko mengalami kehilangan darah yang banyak dari saluran genital setelah melahirkan atau setelah tindakan kuretase, yang dapat mengancam jiwa jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat. Pada kasus Ny. A dengan mola hidatidosa, risiko ini sangat tinggi karena beberapa faktor. Pertama, uterus yang sangat teregang akibat pertumbuhan jaringan mola yang cepat dan berlebihan (uterus lebih besar dari usia kehamilan) menyebabkan miometrium (otot rahim) menjadi tipis, atonik, dan tidak mampu berkontraksi secara efektif setelah jaringan mola dikeluarkan. Kontraksi uterus yang kuat adalah mekanisme utama untuk menghentikan perdarahan dari pembuluh darah plasenta yang terbuka setelah pelepasan jaringan. Kedua, perdarahan pervaginam yang sudah terjadi selama 3 hari menunjukkan bahwa sudah ada pelepasan parsial jaringan mola dan pembukaan pembuluh darah, sehingga cadangan darah pasien sudah berkurang (terbukti dari Hb 9 g/dL yang menunjukkan anemia ringan). Ketiga, tindakan kuretase hisap (suction curettage) itu sendiri bersifat invasif dan akan menyebabkan trauma pada dinding uterus serta pembukaan lebih banyak pembuluh darah. Keempat, pasien memiliki riwayat keguguran (abortus) satu tahun lalu, yang dapat mengindikasikan kemungkinan adanya kelainan pada endometrium atau faktor risiko perdarahan lainnya. Kelima, hipertensi (TD 150/90 mmHg) yang dialami pasien juga dapat mempengaruhi tonus pembuluh darah dan memperburuk perdarahan. Oleh karena itu, meskipun dokter telah memberikan oksitosin untuk membantu kontraksi uterus, risiko perdarahan tetap tinggi dan memerlukan pemantauan ketat serta intervensi keperawatan yang proaktif untuk mencegah syok hipovolemik, gagal ginjal, dan komplikasi fatal lainnya. Diagnosis ini menjadi prioritas utama karena perdarahan dapat terjadi secara mendadak dan masif, terutama dalam 24 jam pertama pasca kuretase.
Kode SLKI: L.01015
Deskripsi : Tingkat Perdarahan adalah suatu kondisi yang menunjukkan tidak adanya atau berkurangnya kehilangan darah dari saluran genital setelah tindakan persalinan atau kuretase, yang ditandai dengan stabilnya tanda-tanda vital, tidak adanya perdarahan aktif, dan kemampuan uterus untuk berkontraksi dengan baik. Pada kasus Ny. A, luaran yang diharapkan setelah intervensi keperawatan adalah: (1) Perdarahan per vaginam tidak ada atau hanya sedikit (spotting), dengan warna darah semakin terang (dari merah segar menjadi merah kehitaman atau coklat) dan tidak ada bekuan besar; (2) Tanda-tanda vital dalam batas normal: tekanan darah 100-120/60-80 mmHg (tidak hipotensi), nadi 60-90 x/menit (tidak takikardia), pernapasan 16-20 x/menit (tidak takipnea), suhu 36-37,5°C; (3) Kontraksi uterus baik, yaitu fundus uteri teraba keras, bulat, dan setinggi pusat atau di bawahnya, serta tidak ada perdarahan saat dilakukan palpasi; (4) Kadar hemoglobin (Hb) stabil atau meningkat dari 9 g/dL menjadi di atas 10 g/dL setelah kuretase dan pemberian cairan/transfusi jika diperlukan; (5) Tidak ada tanda-tanda syok seperti kulit dingin dan lembap, pucat, akral dingin, capillary refill >2 detik, penurunan kesadaran, atau oliguria (produksi urine <30 mL/jam); (6) Pasien tidak mengeluh pusing, lemas, atau sesak napas yang semakin berat; (7) Haluaran urine adekuat (≥30 mL/jam) yang menunjukkan perfusi ginjal baik. Dengan tercapainya luaran ini, risiko komplikasi seperti syok hipovolemik, anemia berat, infeksi, dan kerusakan organ dapat diminimalkan.
Kode SIKI: I.02016
Deskripsi : Manajemen Perdarahan Post Partum/Kuretase adalah serangkaian tindakan keperawatan yang komprehensif dan sistematis untuk meminimalkan kehilangan darah, mempertahankan stabilitas hemodinamik, serta mencegah komplikasi pada pasien yang baru menjalani persalinan atau kuretase, khususnya pada kasus mola hidatidosa. Intervensi ini harus dilakukan secara kolaboratif dengan dokter dan bidan. Tindakan utama yang dilakukan perawat meliputi: (1) Pemantauan ketat tanda-tanda vital setiap 15 menit pada jam pertama, setiap 30 menit pada jam kedua, dan setiap 1 jam pada 4-6 jam berikutnya, atau lebih sering jika ada tanda perdarahan. (2) Pemantauan perdarahan per vaginam secara kuantitatif dan kualitatif: hitung jumlah perdarahan (dengan menimbang pembalut/kassa yang digunakan atau menggunakan graduated collection bag), catat warna darah (merah segar, merah kehitaman, coklat), konsistensi (encer atau ada bekuan), dan ada tidaknya jaringan. (3) Palpasi uterus setiap 15-30 menit untuk menilai kontraksi: fundus harus teraba keras dan bulat. Jika uterus teraba lembek (atonik), segera lakukan kompresi bimanual internal atau eksternal sambil memanggil dokter. (4) Kolaborasi pemberian oksitosin sesuai program (biasanya 10-20 IU dalam 500-1000 mL RL/NS secara intravena dengan kecepatan 125-200 mL/jam atau sesuai order) dan pastikan jalur infus berfungsi baik. (5) Kolaborasi pemberian cairan intravena (RL/NS) untuk mengganti volume darah yang hilang, dan jika perdarahan masif, siapkan transfusi darah PRC (Packed Red Cells) sesuai order dokter. (6) Mempertahankan kandung kemih tetap kosong dengan memasang kateter urine untuk memantau haluaran urine dan mencegah distensi kandung kemih yang dapat menghambat kontraksi uterus. (7) Edukasi pasien dan keluarga tentang pentingnya melaporkan segera jika merasakan perdarahan deras, pusing, atau lemas. (8) Pertahankan posisi pasien supinasi atau trendelenburg ringan untuk mempertahankan aliran darah ke otak. (9) Siapkan peralatan emergency seperti obat-obatan uterotonika tambahan (misal: ergometrin, misoprostol), set infus, oksigen, dan alat resusitasi. (10) Dokumentasikan semua temuan, tindakan, dan respons pasien secara akurat dan tepat waktu. Intervensi ini dilakukan secara berkesinambungan hingga risiko perdarahan dianggap terkendali, biasanya dalam 24-48 jam pertama pasca kuretase, dan dilanjutkan dengan pemantauan berkala sesuai kondisi pasien.
Article No. 25404 | 02 May 2026
Klinis : electrical injury
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Electrical Injury
Kode ICD-10: T75.4
Deskripsi Singkat : Electrical injury, atau cedera listrik, adalah kondisi patologis yang terjadi ketika arus listrik melewati tubuh manusia. Cedera ini dapat berkisar dari luka bakar superfisial ringan hingga kerusakan multiorgan yang mengancam jiwa. Tingkat keparahan bergantung pada beberapa faktor: tegangan listrik (rendah vs. tinggi), jenis arus (searah/DC atau bolak-balik/AC), jalur aliran listrik melalui tubuh, durasi kontak, dan resistansi jaringan. Arus listrik mengubah energi listrik menjadi energi panas, menyebabkan luka bakar termal pada titik masuk dan keluar. Lebih berbahaya lagi, arus dapat mengganggu konduksi listrik intrinsik jantung, menyebabkan aritmia fatal seperti fibrilasi ventrikel atau asistol. Paparan juga dapat menyebabkan tetani otot (kontraksi tak terkendali), yang mencegah korban melepaskan diri dari sumber listrik, serta kerusakan saraf, kejang, dan gagal ginjal akibat rhabdomyolysis (kerusakan otot yang melepaskan mioglobin ke aliran darah). Kode ICD-10 T75.4 secara spesifik digunakan untuk mengklasifikasikan efek dari arus listrik, termasuk sengatan listrik yang tidak menimbulkan luka bakar termal signifikan. Penting untuk dicatat bahwa kode ini tidak mencakup luka bakar akibat listrik yang parah (yang biasanya dikodekan dengan kode luka bakar spesifik berdasarkan luas dan derajatnya di blok T20-T32) atau kondisi yang terkait dengan petir (T75.0). Dalam praktik kodifikasi, T75.4 sering digunakan sebagai kode diagnosis utama atau tambahan untuk mendokumentasikan mekanisme cedera listrik, sementara kode lain mungkin diperlukan untuk menangkap manifestasi spesifik seperti aritmia jantung atau kerusakan neurologis.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 264 265 266 267 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 280 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 297 298 299 300 301 302 303 304 305 306 307 308 309 310 311 312 313 314 315 316 317 318 319 320 321 322 323 324 325 326 327 328 329 330 331 332 333 334 335 336 337 338 339 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 350 351 352 353 354 355 356 357 358 359 360 361 362 363 364 365 366 367 368 369 370 371 372 373 374 375 376 377 378 379 380 381 382 383 384 385 386 387 388 389 390 391 392 393 394 395 396 397 398 399 400 401 402 403 404 405 406 407 408 409 410 411 412 413 414 415 416 417 418 419 420 421 422 423 424 425 426 427 428 429 430 431 432 433 434 435 436 437 438 439 440 441 442 443 444 445 446 447 448 449 450 451 452 453 454 455 456 457 458 459 460 461 462 463 464 465 466 467 468 469 470 471 472 473 474 475 476 477 478 479 480 481 482 483 484 485 486 487 488 489 490 491 492 493 494 495 496 497 498 499 500 501 502 503 504 505 506 507 508 509 510 511 512 513 514 515 516 517 518 519 520 521 522 523 524 525 526 527 528 529 530 531 532 533 534 535 536 537 538 539 540 541 542 543 544 545 546 547 548 549 550 551 552 553 554 555 556 557 558 559 560 561 562 563 564 565 566 567 568 569 570 571 572 573 574 575 576 577 578 579 580 581 582 583 584 585 586 587 588 589 590 591 592 593 594 595 596 597 598 599 600 601 602 603 604 605 606 607 608 609 610 611 612 613 614 615 616 617 618 619 620 621 622 623 624 625 626 627 628 629 630 631 632 633 634 635 636 637 638 639 640 641 642 643 644 645 646 647 648 649 650 651 652 653 654 655 656 657 658 659 660 661 662 663 664 665 666 667 668 669 670 671 672 673 674 675 676 677 678 679 680 681 682 683 684 685 686 687 688 689 690 691 692 693 694 695 696 697 698 699 700 701 702 703 704 705 706 707 708 709 710 711 712 713 714 715 716 717 718 719 720 721 722 723 724 725 726 727 728 729 730 731 732 733 734 735 736 737 738 739 740 741 742 743 744 745 746 747 748 749 750 751 752 753 754 755 756 757 758 759 760 761 762 763 764 765 766 767 768 769 770 771 772 773 774 775 776 777 778 779 780 781 782 783 784 785 786 787 788 789 790 791 792 793 794 795 796 797 798 799 800 801 802 803 804 805 806 807 808 809 810 811 812 813 814 815 816 817 818 819 820 821 822 823 824 825 826 827 828 829 830 831 832 833 834 835 836 837 838 839 840 841 842 843 844 845 846 847 848 849 850 851 852 853 854 855 856 857 858 859 860 861 862 863 864 865 866 867 868 869 870 871 872 873 874 875 876 877 878 879 880 881 882 883 884 885 886 887 888 889 890 891 892 893 894 895 896 897 898 899 900 901 902 903 904 905 906 907 908 909 910 911 912 913 914 915 916 917 918 919 920 921 922 923 924 925 926 927 928 929 930 931 932 933 934 935 936 937 938 939 940 941 942 943 944 945 946 947 948 949 950 951 952 953 954 955 956 957 958 959 960 961 962 963 964 965 966 967 968 969 970 971 972 973 974 975 976 977 978 979 980 981 982 983 984 985 986 987 988 989 990 991 992 993 994 995 996 997 998 999 1000 1001 1002 1003 1004 1005 1006 1007 1008 1009 1010 1011 1012 1013 1014 1015 1016 1017 1018 1019 1020 1021 1022 1023 1024 1025 1026 1027 1028 1029 1030 1031 1032 1033 1034 1035 1036 1037 1038 1039 1040 1041 1042 1043 1044 1045 1046 1047 1048 1049 1050 1051 1052 1053 1054 1055 1056 1057 1058 1059 1060 1061 1062 1063 1064 1065 1066 1067 1068 1069 1070 1071 1072 1073 1074 1075 1076 1077 1078 1079 1080 1081 1082 1083 1084 1085 1086 1087 1088 1089 1090 1091 1092 1093 1094 1095 1096 1097 1098 1099 1100 1101 1102 1103 1104 1105 1106 1107 1108 1109 1110 1111 1112 1113 1114 1115 1116 1117 1118 1119 1120 1121 1122 1123 1124 1125 1126 1127 1128 1129 1130 1131 1132 1133 1134 1135 1136 1137 1138 1139 1140 1141 1142 1143 1144 1145 1146 1147 1148 1149 1150 1151 1152 1153 1154 1155 1156 1157 1158 1159 1160 1161 1162 1163 1164 1165 1166 1167 1168 1169 1170 1171 1172 1173 1174 1175 1176 1177 1178 1179 1180 1181 1182 1183 1184 1185 1186 1187 1188 1189 1190 1191 1192 1193 1194 1195 1196 1197 1198 1199 1200 1201 1202 1203 1204 1205 1206 1207 1208 1209 1210 1211 1212 1213 1214 1215 1216 1217 1218 1219 1220 1221 1222 1223 1224 1225 1226 1227 1228 1229 1230 1231 1232 1233 1234 1235 1236 1237 1238 1239 1240 1241 1242 1243 1244 1245 1246 1247 1248 1249 1250 1251 1252 1253 1254 1255 1256 1257 1258 1259 1260 1261 1262 1263 1264 1265 1266 1267 1268 1269 1270 1271 1272 1273 1274 1275 1276 1277 1278 1279 1280 1281 1282 1283 1284 1285 1286 1287 1288 1289 1290 1291 1292 1293 1294 1295 1296 1297 1298 1299 1300 1301 1302 1303 1304 1305 1306 1307 1308 1309 1310 1311 1312 1313 1314 1315 1316 1317 1318 1319 1320 1321 1322 1323 1324 1325 1326 1327 1328 1329 1330 1331 1332 1333 1334 1335 1336 1337 1338 1339 1340 1341 1342 1343 1344 1345 1346 1347 1348 1349 1350 1351 1352 1353 1354 1355 1356 1357 1358 1359 1360 1361 1362 1363 1364 1365 1366 1367 1368 1369 1370 1371 1372 1373 1374 1375 1376 1377 1378 1379 1380 1381 1382 1383 1384 1385 1386 1387 1388 1389 1390 1391 1392 1393 1394 1395 1396 1397 1398 1399 1400 1401 1402 1403 1404 1405 1406 1407 1408 1409 1410 1411 1412 1413 1414 1415 1416 1417 1418 1419 1420 1421 1422 1423 1424 1425 1426 1427 1428 1429 1430 1431 1432 1433 1434 1435 1436 1437 1438 1439 1440 1441 1442 1443 1444 1445 1446 1447 1448 1449 1450 1451 1452 1453 1454 1455 1456 1457 1458 1459 1460 1461 1462 1463 1464 1465 1466 1467 1468 1469 1470 1471 1472 1473 1474 1475 1476 1477 1478 1479 1480 1481 1482 1483 1484 1485 1486 1487 1488 1489 1490 1491 1492 1493 1494 1495 1496 1497 1498 1499 1500 1501 1502 1503 1504 1505 1506 1507 1508 1509 1510 1511 1512 1513 1514 1515 1516 1517 1518 1519 1520 1521 1522 1523 1524 1525 1526 1527 1528 1529 1530 1531 1532 1533 1534 1535 1536 1537 1538 1539 1540 1541 1542 1543 1544 1545 1546 1547 1548 1549 1550 1551 1552 1553 1554 1555 1556 1557 1558 1559 1560 1561 1562 1563 1564 1565 1566 1567 1568 1569 1570 1571 1572 1573 1574 1575 1576 1577 1578 1579 1580 1581 1582 1583 1584 1585 1586 1587 1588 1589 1590 1591 1592 1593 1594 1595 1596 1597 1598 1599 1600 1601 1602 1603 1604 1605 1606 1607 1608 1609 1610 1611 1612 1613 1614 1615 1616 1617 1618 1619 1620 1621 1622 1623 1624 1625 1626 1627 1628 1629 1630 1631 1632 1633 1634 1635 1636 1637 1638 1639 1640 1641 1642 1643 1644 1645 1646 1647 1648 1649 1650 1651 1652 1653 1654 1655 1656 1657 1658 1659 1660 1661 1662 1663 1664 1665 1666 1667 1668 1669 1670 1671 1672 1673 1674 1675 1676 1677 1678 1679 1680 1681 1682 1683 1684 1685 1686 1687 1688 1689 1690 1691 1692 1693 1694 1695 1696 1697 1698 1699 1700 1701 1702 1703 1704 1705 1706 1707 1708 1709 1710 1711 1712 1713 1714 1715 1716 1717 1718 1719 1720 1721 1722 1723 1724 1725 1726 1727 1728 1729 1730 1731 1732 1733 1734 1735 1736 1737 1738 1739 1740 1741 1742 1743 1744 1745 1746 1747 1748 1749 1750 1751 1752 1753 1754 1755 1756 1757 1758 1759 1760 1761 1762 1763 1764 1765 1766 1767 1768 1769 1770 1771 1772 1773 1774 1775 1776 1777 1778 1779 1780 1781 1782 1783 1784 1785 1786 1787 1788 1789 1790 1791 1792 1793 1794 1795 1796 1797 1798 1799 1800 1801 1802 1803 1804 1805 1806 1807 1808 1809 1810 1811 1812 1813 1814 1815 1816 1817 1818 1819 1820 1821 1822 1823 1824 1825 1826 1827 1828 1829 1830 1831 1832 1833 1834 1835 1836 1837 1838 1839 1840 1841 1842 1843 1844 1845 1846 1847 1848 1849 1850 1851 1852 1853 1854 1855 1856 1857 1858 1859 1860 1861 1862 1863 1864 1865 1866 1867 1868 1869 1870 1871 1872 1873 1874 1875 1876 1877 1878 1879 1880 1881 1882 1883 1884 1885 1886 1887 1888 1889 1890 1891 1892 1893 1894 1895 1896 1897 1898 1899 1900 1901 1902 1903 1904 1905 1906 1907 1908 1909 1910 1911 1912 1913 1914 1915 1916 1917 1918 1919 1920 1921 1922 1923 1924 1925 1926 1927 1928 1929 1930 1931 1932 1933 1934 1935 1936 1937 1938 1939 1940 1941 1942 1943 1944 1945 1946 1947 1948 1949 1950 1951 1952 1953 1954 1955 1956 1957 1958 1959 1960 1961 1962 1963 1964 1965 1966 1967 1968 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 2029 2030 2031 2032 2033 2034 2035 2036 2037 2038 2039 2040 2041 2042 2043 2044 2045 2046 2047 2048 2049 2050 2051 2052 2053 2054 2055 2056 2057 2058 2059 2060 2061 2062 2063 2064 2065 2066 2067 2068 2069 2070 2071 2072 2073 2074 2075 2076 2077 2078 2079 2080 2081 2082 2083 2084 2085 2086 2087 2088 2089 2090 2091 2092 2093 2094 2095 2096 2097 2098 2099 2100 2101 2102 2103 2104 2105 2106 2107 2108 2109 2110 2111 2112 2113 2114 2115 2116 2117 2118 2119 2120 2121 2122 2123 2124 2125 2126 2127 2128 2129 2130 2131 2132 2133 2134 2135 2136 2137 2138 2139 2140 2141 2142 2143 2144 2145 2146 2147 2148 2149 2150 2151 2152 2153 2154 2155 2156 2157 2158 2159 2160 2161 2162 2163 2164 2165 2166 2167 2168 2169 2170 2171 2172 2173 2174 2175 2176 2177 2178 2179 2180 2181 2182 2183 2184 2185 2186 2187 2188 2189 2190 2191 2192 2193 2194 2195 2196 2197 2198 2199 2200 2201 2202 2203 2204 2205 2206 2207 2208 2209 2210 2211 2212 2213 2214 2215 2216 2217 2218 2219 2220 2221 2222 2223 2224 2225 2226 2227 2228 2229 2230 2231 2232 2233 2234 2235 2236 2237 2238 2239 2240 2241 2242 2243 2244 2245 2246 2247 2248 2249 2250 2251 2252 2253 2254 2255 2256 2257 2258 2259 2260 2261 2262 2263 2264 2265 2266 2267 2268 2269 2270 2271 2272 2273 2274 2275 2276 2277 2278 2279 2280 2281 2282 2283 2284 2285 2286 2287 2288 2289 2290 2291 2292 2293 2294 2295 2296 2297 2298 2299 2300 2301 2302 2303 2304 2305 2306 2307 2308 2309 2310 2311 2312 2313 2314 2315 2316 2317 2318 2319 2320 2321 2322 2323 2324 2325 2326 2327 2328 2329 2330 2331 2332 2333 2334 2335 2336 2337 2338 2339 2340 2341 2342 2343 2344 2345 2346 2347 2348 2349 2350 2351 2352 2353 2354 2355 2356 2357 2358 2359 2360 2361 2362 2363 2364 2365 2366 2367 2368 2369 2370 2371 2372 2373 2374 2375 2376 2377 2378 2379 2380 2381 2382 2383 2384 2385 2386 2387 2388 2389 2390 2391 2392 2393 2394 2395 2396 2397 2398 2399 2400 2401 2402 2403 2404 2405 2406 2407 2408 2409 2410 2411 2412 2413 2414 2415 2416 2417 2418 2419 2420 2421 2422 2423 2424 2425 2426 2427 2428 2429 2430 2431 2432 2433 2434 2435 2436 2437 2438 2439 2440 2441 2442 2443 2444 2445 2446 2447 2448 2449 2450 2451 2452 2453 2454 2455 2456 2457 2458 2459 2460 2461 2462 2463 2464 2465 2466 2467 2468 2469 2470 2471 2472 2473 2474 2475 2476 2477 2478 2479 2480 2481 2482 2483 2484 2485 2486 2487 2488 2489 2490 2491 2492 2493 2494 2495 2496 2497 2498 2499 2500 2501 2502 2503 2504 2505 2506 2507 2508 2509 2510 2511 2512 2513 2514 2515 2516 2517 2518 2519 2520 2521 2522 2523 2524 2525 2526 2527 2528 2529 2530 2531 2532 2533 2534 2535 2536 2537 2538 2539 2540 2541 2542 2543 2544 2545 2546 2547 2548 2549 2550 2551 2552 2553 2554 2555 2556 2557 2558 2559 2560 2561 2562 2563 2564 2565 2566 2567 2568 2569 2570 2571 2572 2573 2574 2575 2576 2577 2578 2579 2580 2581 2582 2583 2584 2585 2586 2587 2588 2589 2590 2591 2592 2593 2594 2595 2596