Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 23796 | 23 Jan 2026
Klinis : DS : • Ibu klien mengatakan klien sering meringkuk menekan perut dan mengeluh perutnya tidak nyaman karena sakit, ibu klien mengatakan klien pernah ngeluh perutnya seperti dililit dan perut sering bunyi kriuk-kriuk DO : • N 120 x/menit • S 36,9 C • RR 28 x/menit • Kondisi klien tampak lemah, tidak bersemangat, tangan memegang perut, ekspresi wajah gelisah dan saat abdomen bagian tengah di tekan tampak menahan sakit dengan skala nyeri 3
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut; onset mendadak atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat, diperkirakan atau antisipasi berakhir dalam waktu kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Kontrol Nyeri: Tindakan untuk mengontrol dan mengurangi nyeri yang dirasakan atau dilaporkan. SLKI ini ditandai dengan perilaku pasien yang menunjukkan pengurangan atau hilangnya nyeri, seperti ekspresi wajah yang rileks, postur tubuh yang tidak lagi melindungi area nyeri, dan laporan verbal tentang penurunan skala nyeri. Intervensi keperawatan dalam SLKI ini meliputi: melakukan pengkajian nyeri yang komprehensif (lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan faktor pencetus), mengajarkan dan menerapkan teknik non-farmakologis (seperti distraksi, relaksasi, kompres hangat/dingin), mengelola analgesik sesuai resep dan memantau efektivitas serta efek sampingnya, menciptakan lingkungan yang nyaman, serta mendokumentasikan respons nyeri terhadap intervensi yang diberikan. Tujuannya adalah agar pasien dapat mencapai tingkat kenyamanan yang dapat diterima, yang ditunjukkan dengan penurunan skala nyeri, peningkatan kemampuan untuk beristirahat dan beraktivitas, serta peningkatan kualitas hidup secara umum selama episode nyeri akut.
Kode SIKI: I.08001
Deskripsi : Manajemen Nyeri: Tindakan keperawatan yang dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan nyeri. SIKI ini merupakan serangkaian tindakan spesifik yang dilakukan perawat berdasarkan pengkajian. Langkah-langkahnya meliputi: 1) Mengkaji karakteristik nyeri (menggunakan skala nyeri yang sesuai, misalnya skala numerik 0-10 atau Wong-Baker FACES untuk anak, mengobservasi perilaku nonverbal seperti ekspresi wajah, postur tubuh, dan perubahan tanda vital). 2) Mengurangi faktor pencetus nyeri dengan memposisikan pasien secara nyaman, memastikan lingkungan tenang, dan mengatur aktivitas. 3) Memberikan intervensi non-farmakologis sebelum, selama, dan setelah nyeri muncul, seperti teknik napas dalam, distraksi (misalnya dengan musik atau percakapan), sentuhan terapeutik, atau kompres. 4) Mengelola terapi farmakologis sesuai resep dokter (analgesik) dengan prinsip 6 benar, memantau efektivitas, dan waspada terhadap efek samping seperti sedasi atau depresi pernapasan. 5) Melibatkan pasien dan keluarga dalam perencanaan manajemen nyeri, termasuk mengajarkan cara melaporkan nyeri dan teknik penanganan sederhana. 6) Mengevaluasi dan mendokumentasikan respons pasien terhadap intervensi yang diberikan dalam waktu 30 menit hingga 1 jam setelah intervensi, termasuk perubahan skala nyeri, tanda vital, dan perilaku. Implementasi SIKI ini harus individual, holistik, dan berdasarkan bukti untuk mencapai outcome kontrol nyeri (SLKI) yang optimal.
-
Article No. 23777 | 22 Jan 2026
Klinis : Pasien dengan penuruna kesadaran KU lemah, GCS E1V1M1 Status Generalis Mata CA -/-, SI -/-, RC +/+, pupil isokor 3mm/3mm, mata deviasi ke arah kanan, corneal reflex (+) n2 (+) n3(+) Mulut : lidah kotor (-), mukosa bibir kering (-), deviasi lidah (-) Thorax : SDV +/+ rhonki -/- , wheezing -/-, retraksi -/-, retraksi interkostal Abdomen : supel, BU (+) dbn, timpani (+), nyeri tekan (-) Eks. superior : akral hangat (+/+), oedem (-/-), ikterik (-/-), CRT <3 detik Eks. inferior : akral hangat (+/+), oedem (-/-), ikterik (-/-), CRT <3 detik Status Neurologis Sensorik: tidak dapat dinilai Kekuatan motorik: lateralisasi kiri Refleks patologis: (-/+/-/-) Blink to threat -/- Refleks kornea -/- Visual pursuit -/- Doll's eye movement -/- Lab 20/1/26 HB 9.51 (L) AE 3.20 (L) HT 27.5 (L) AL 15.03 (H) AT 401 Goldar A GDS 108 SGOT 20 SGPT 8 Ur 218.3 C Cr 7.88 Natrium 129 Kalium 4.2 Chlorida 95 Calsium 1.0 pH 7.45 HbsAg (-) Albumin 21/1/26 3.00 (L) Hasil CT scan kepala 20/1/26 Kesan: - Intracerebral hemorrhagic di periventrikel lateralis dextra dan IVH di ventrikel lateralis bilateral dan ventrikel III - Oedem cerebri Hasil rontgen thoraks 20/01/26 Kesan : - Pneumonia - Efusi pleura dextra minimal - Curiga diafragma dextra letak tinggi , DD: proses infradiafragma - Cardiomegali
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Penurunan Kesadaran (Coma) dengan Komplikasi Neurologis dan Pernapasan
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Penurunan Kesadaran adalah suatu keadaan penurunan kemampuan seseorang untuk memberikan respons terhadap rangsangan dari lingkungan, mulai dari kebingungan (confusion) hingga koma. Pada kasus ini, pasien mengalami koma dalam (GCS 3 = E1V1M1) akibat perdarahan intraserebral masif, edema serebri, dan komplikasi pneumonia.
Kode SLKI: L.03113
Deskripsi : Tingkat kesadaran membaik. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: 1) Pasien menunjukkan respons terhadap rangsangan nyeri atau suara (peningkatan skor GCS), 2) Refleks protektif (seperti batuk, menelan) tetap ada atau membaik, 3) Tanda-tanda vital stabil, 4) Tidak terjadi cedera lebih lanjut, 5) Fungsi pernapasan adekuat dengan bantuan atau tanpa bantuan. Pada kondisi pasien ini, tujuan utamanya adalah mencegah penurunan GCS lebih lanjut dan mempertahankan fungsi vital sambil menunggu resolusi kondisi neurologis dan infeksinya.
Kode SIKI: I.05295
Deskripsi : Manajemen Perubahan Kesadaran. Intervensi keperawatan yang harus dilakukan mencakup: 1) Pemantauan Neurologis Ketat: Monitor GCS setiap jam atau lebih sering, ukur reaksi pupil terhadap cahaya (pada pasien ini, pupil isokor masih baik, tetapi refleks kornea dan doll's eye negatif menunjukkan gangguan batang otak), dan amati adanya lateralisasi atau postur abnormal. 2) Manajemen Jalan Napas dan Pernapasan: Karena GCS sangat rendah dan ada pneumonia, pasien membutuhkan bantuan jalan napas (intubasi) dan ventilasi mekanik. Lakukan suction rutin dengan teknik steril untuk mengatasi sekresi, monitor saturasi oksigen, dan auskultasi suara napas (ronkhi negatif baik, tetapi perlu diwaspadai karena ada efusi pleura). 3) Pemantauan dan Manajemen Hemodinamik: Pantau tekanan darah, nadi, dan suhu secara ketat. Perdarahan otak dan edema serebri memerlukan kontrol tekanan darah yang ketat untuk mencegah perdarahan ulang namun tetap mempertahankan perfusi otak. 4) Pemantauan dan Manajemen Metabolik: Koreksi gangguan elektrolit seperti hiponatremia (Na 129) dan hipokalsemia (Ca 1.0) yang dapat memperburuk status neurologis. Monitor gula darah (GDS 108 dalam batas normal). 5) Perawatan Integumen dan Mobilisasi: Lakukan perubahan posisi minimal setiap 2 jam (termasuk posisi lateral untuk drainase sekresi dan mencegah dekubitus), perawatan kulit, dan ROM pasif pada ekstremitas. 6) Pemberian Nutrisi: Berikan nutrisi enteral (melalui NGT) sesuai toleransi, dengan memperhatikan risiko aspirasi tinggi dan kadar albumin rendah (3.00). 7) Manajemen Infeksi: Kolaborasi pemberian antibiotik untuk pneumonia berdasarkan kultur dahak, pantau suhu dan leukosit. 8) Pemantauan Fungsi Ginjal: Nilai output urin dan nilai ureum/kreatinin (yang meningkat) untuk mendeteksi gangguan ginjal akut. 9) Komunikasi dan Dukungan Keluarga: Berikan penjelasan tentang kondisi pasien, prosedur yang dilakukan, dan dukungan emosional kepada keluarga. 10) Pencegahan Komplikasi: Lakukan perawatan mata untuk mencegah keratitis, perawatan mulut untuk mukosa kering, dan gunakan alat bantu untuk mencegah kontraktur sendi. Defisit utama pada pasien ini adalah tidak adanya respons sadar terhadap semua rangsangan (koma), disertai komplikasi multi-sistem (pernapasan, infeksi, ginjal, elektrolit) yang memerlukan pendekatan keperawatan komprehensif dan kolaboratif.
-
Article No. 23778 | 22 Jan 2026
Klinis : risiko ketidakstabilan tekanan darah
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakstabilan Tekanan Darah
Kode SDKI: 0005
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan, peningkatan, atau fluktuasi tekanan darah sistolik dan/atau diastolik dari rentang normal yang dapat mengancam kesehatan.
Kode SLKI: 1400
Deskripsi : SLKI 1400: Manajemen Tekanan Darah. Tujuan utama dari SLKI ini adalah untuk mempertahankan tekanan darah dalam rentang yang ditargetkan dan mencegah komplikasi akibat ketidakstabilan tekanan darah. Luaran yang diharapkan mencakup tekanan darah yang stabil sesuai parameter individu pasien (yang mungkin berbeda berdasarkan usia, kondisi komorbid, dan target terapi), tidak adanya gejala hipotensi atau hipertensi yang membahayakan, serta pemahaman dan partisipasi pasien/keluarga dalam manajemen tekanan darah. Indikator pencapaiannya meliputi tekanan darah yang terkontrol dalam rentang yang ditetapkan, frekuensi jantung dalam batas normal, tidak adanya keluhan seperti pusing, sakit kepala hebat, pandangan kabur, atau sinkop, serta keseimbangan cairan yang adekuat. Pencapaian SLKI ini dinilai melalui pemantauan tekanan darah yang teratur, evaluasi gejala, dan review terhadap kepatuhan terhadap regimen terapi.
Kode SIKI: 3410, 0800, 1990, 6540
Deskripsi : SIKI yang relevan untuk menangani risiko ketidakstabilan tekanan darah meliputi beberapa intervensi kunci. SIKI 3410: Pemantauan Tekanan Darah merupakan intervensi inti, yang meliputi pengukuran tekanan darah dengan teknik dan alat yang tepat pada interval yang ditentukan, membandingkan hasil dengan nilai dasar dan rentang target, mendokumentasikan tren dan variasi, serta melaporkan temuan yang menyimpang secara signifikan. Kegiatannya mencakup memastikan pasien dalam posisi yang benar, menggunakan ukuran manset yang sesuai, dan menginterpretasikan hasil dalam konteks kondisi pasien secara keseluruhan. SIKI 0800: Manajemen Cairan sangat krusial karena keseimbangan cairan berhubungan langsung dengan tekanan darah. Intervensi ini meliputi pemantauan asupan dan haluaran cairan, mengidentifikasi tanda kelebihan atau kekurangan cairan (edema, turgor kulit, distensi vena jugularis), mengatur pemberian cairan intravena sesuai resep, dan memberikan edukasi pembatasan atau penambahan asupan cairan oral berdasarkan kebutuhan. SIKI 1990: Manajemen Obat esensial untuk memastikan terapi farmakologis berjalan optimal. Ini mencakup pemberian obat antihipertensi, vasopressor, atau cairan resusitasi sesuai resep dengan dosis dan waktu yang tepat, memantau efek terapeutik dan efek samping obat (seperti hipotensi ortostatik dari obat antihipertensi), serta mendidik pasien tentang tujuan, dosis, jadwal, dan efek samping dari obat-obatan yang dikonsumsi. SIKI 6540: Edukasi Kesehatan bertujuan memberdayakan pasien dan keluarga. Edukasi mencakup penjelasan tentang faktor risiko yang dapat dikendalikan (seperti diet garam, stres, aktivitas fisik), teknik pemantauan tekanan darah mandiri jika memungkinkan, pentingnya kepatuhan pengobatan, tanda dan gejala yang harus dilaporkan (nyeri dada, sesak napas, sakit kepala parah, pusing), serta modifikasi gaya hidup seperti diet DASH, pengelolaan stres, dan aktivitas fisik teratur. Kombinasi SIKI ini dilakukan secara holistik dan berkesinambungan, dimulai dari pengkajian yang akurat, intervensi yang tepat berdasarkan etiologi risiko (misalnya, pasca bedah, gangguan ginjal, gangguan jantung, efek pengobatan), hingga evaluasi respons pasien dan penyesuaian rencana keperawatan untuk mencapai stabilitas tekanan darah yang optimal.
-
Article No. 23779 | 22 Jan 2026
Klinis : bayi usia 36 hari dengan MDRO, pemeriksaan mikroskopik langsung ditemukan kuman coccus gram positif, kultur aerob staphylococcus haemolyticus, koloni 10 pangkat 5 cfu/ml
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Infeksi Staphylococcus haemolyticus (MDRO) pada neonatus
Kode ICD-10: P36.8
Deskripsi Singkat : Kondisi ini menggambarkan infeksi bakteri spesifik pada bayi baru lahir (neonatus) usia 36 hari yang disebabkan oleh *Staphylococcus haemolyticus*, yang dikonfirmasi sebagai Multi-Drug Resistant Organism (MDRO). Temuan laboratorium menunjukkan jumlah koloni bakteri yang signifikan (10^5 CFU/ml) dalam kultur, mengindikasikan infeksi aktif, bukan sekadar kontaminasi. *Staphylococcus haemolyticus* adalah bagian dari kelompok Staphylococcus Coagulase-Negatif (CoNS) dan dikenal sebagai patogen nosokomial yang sering menunjukkan resistensi terhadap banyak antibiotik, termasuk metisilin (MRSE), sehingga diklasifikasikan sebagai MDRO. Kode P36.8 termasuk dalam bab 'Kondisi tertentu yang berasal dari masa perinatal' dan secara spesifik merujuk pada 'Sepsis bakteri lainnya pada bayi baru lahir'. Penggunaan kode ini tepat karena infeksi terjadi pada periode neonatal (28 hari pertama kehidupan, dengan perluasan hingga 1 tahun untuk kondisi perinatal tertentu), disebabkan oleh bakteri yang diidentifikasi, dan memiliki potensi manifestasi sistemik seperti sepsis. Diagnosis ini memerlukan penanganan khusus dengan antibiotik yang sesuai berdasarkan uji sensitivitas dan tindakan isolasi untuk mencegah penyebaran bakteri resisten di lingkungan perawatan kesehatan.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 23780 | 22 Jan 2026
Klinis : bayi usia 36 hari dengan MDRO, pemeriksaan mikroskopik langsung ditemukan kuman coccus gram positif, kultur aerob staphylococcus haemolyticus, koloni 10 pangkat 5 cfu/ml
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi dan Infeksi Aktif (MDRO Staphylococcus haemolyticus) pada Neonatus
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi adalah keadaan dimana seorang individu rentan terhadap invasi dan multiplikasi patogen, yang dapat mengancam kesehatan. Pada kasus ini, kondisi telah berkembang menjadi infeksi aktual yang ditandai dengan hasil kultur positif Staphylococcus haemolyticus (MDRO) dengan koloni signifikan (10^5 cfu/ml) pada bayi usia 36 hari (masa neonatal lanjut). Infeksi pada neonatus, terutama oleh Multi-Drug Resistant Organism (MDRO), merupakan ancaman serius karena sistem imun yang belum matang, hambatan protektif kulit dan mukosa yang masih rentan, serta respons sistemik yang cepat dapat berkembang menjadi sepsis, syok, dan komplikasi organ multipel. Faktor risiko utama meliputi usia neonatal, kemungkinan paparan di lingkungan rumah sakit (nosokomial) atau komunitas, dan karakteristik bakteri yang resisten.
Kode SLKI: 1900
Deskripsi : Pengendalian Infeksi. Tujuan utama intervensi keperawatan adalah mencegah penyebaran infeksi ke orang lain (cross-infection) dan mencegah infeksi sekunder pada pasien sendiri, serta mengatasi infeksi yang sudah terjadi. Pada neonatus dengan MDRO, pengendalian infeksi menjadi prioritas mutlak. SLKI ini mencakup serangkaian tindakan: (1) Menerapkan Kewaspadaan Berbasis Transmisi, khususnya Kewaspadaan Kontak, dengan ketat. Ini termasuk penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) seperti gaun dan sarung tangan saat kontak dengan pasien atau lingkungan sekitarnya, penempatan pasien di ruang isolasi atau kohortasi, serta pembersihan dan disinfeksi peralatan dan lingkungan pasien secara rutin dengan desinfektan yang sesuai. (2) Memastikan kepatuhan terhadap kebersihan tangan (hand hygiene) dengan teknik 6 langkah menggunakan air mengalir dan sabun atau handrub berbasis alkohol oleh semua orang yang kontak dengan bayi. (3) Mengelola luka atau akses invasif (jika ada) dengan teknik aseptik steril untuk mencegah port de entri baru. (4) Memantau dan menerapkan bundel pencegahan infeksi aliran darah terkait kateter dan infeksi lainnya. (5) Edukasi kepada keluarga tentang pentingnya prosedur isolasi, teknik cuci tangan, dan tanda-tanda infeksi yang perlu diwaspadai, sambil memberikan dukungan psikologis mengurangi kecemasan akibat isolasi.
Kode SIKI: 4200
Deskripsi : Manajemen Infeksi. Intervensi ini berfokus pada penanganan langsung infeksi yang dialami pasien melalui kolaborasi dengan tim medis dan pemantauan ketat. Tindakan spesifik meliputi: (1) Pemberian terapi antibiotik sesuai hasil uji sensitivitas (antibiogram) secara tepat waktu, dosis, dan rute pemberian. Untuk MDRO, pilihan antibiotik sangat terbatas dan mungkin memerlukan antibiotik lini kedua yang lebih poten dengan pemantauan efek samping yang cermat. Perawat bertanggung jawab dalam administrasi obat, memantau kecepatan infus, serta mengobservasi reaksi alergi atau toksisitas. (2) Pemantauan tanda-tanda klinis infeksi dan respons terapi secara komprehensif setiap jam atau sesuai protokol neonatal. Parameter kritis yang harus dinilai meliputi suhu tubuh (hipotermia atau hipertermia), frekuensi nadi dan pernapasan, saturasi oksigen, tanda-tanda distress pernapasan, perfusi perifer (warna, capillary refill time), aktivitas (lethargy, irritability), kemampuan minum/menyusu, serta produksi urin. (3) Pengumpulan spesimen untuk pemeriksaan laboratorium (seperti kultur ulang, hitung darah lengkap, CRP) sesuai permintaan untuk menilai perkembangan infeksi. (4) Memberikan terapi suportif seperti terapi oksigen jika diperlukan, menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit melalui pemberian cairan intravena yang akurat, serta mempertahankan nutrisi adekuat baik secara enteral atau parenteral. (5) Memantau dan mengelola komplikasi potensial seperti syok sepsis, gagal napas, atau disseminated intravascular coagulation (DIC) dengan waspada. (6) Dokumentasi yang akurat dan berkelanjutan mengenai semua temuan, intervensi, dan respons pasien untuk evaluasi efektivitas rencana perawatan. Pada bayi 36 hari, pendekatan keluarga sebagai pusat perawatan juga vital, sehingga perawat perlu melibatkan orang tua dalam proses observasi dan memberikan kenyamanan pada bayi selama masa pengobatan yang mungkin memerlukan rawat inap panjang.
-
Article No. 23781 | 22 Jan 2026
Klinis : Pasien demam 39°C. Pertanyaan: Mekanisme homeostasis apa yang terganggu? Respons tubuh apa yang seharusnya terjadi?
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Hipertermia
Kode SDKI: 00007
Deskripsi Singkat: Peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal yang berhubungan dengan ketidakmampuan tubuh untuk mempromosikan atau memfasilitasi kehilangan panas.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : Suhu Tubuh dalam Rentang Normal. Kriteria hasil: 1) Kulit hangat, tidak ada pucat atau kemerahan yang berlebihan. 2) Nadi dan pernapasan dalam rentang normal. 3) Tidak ada menggigil atau diaforesis berlebihan. 4) Suhu tubuh terukur dalam rentang 36,5°C – 37,5°C. 5) Pasien melaporkan perasaan nyaman secara termal. 6) Tidak ada perubahan status mental terkait suhu. 7) Keseimbangan cairan dan elektrolit terjaga.
Kode SIKI: 3320
Deskripsi : Manajemen Hipertermia. Intervensi: 1) Monitor suhu tubuh, denyut nadi, tekanan darah, dan pernapasan secara berkala. 2) Observasi adanya menggigil, diaforesis, kulit pucat atau kemerahan. 3) Berikan terapi cairan per oral atau intravena sesuai kebutuhan dan kondisi pasien. 4) Lakukan tindakan pendinginan fisik: kompres hangat/tepid sponge pada area lipatan (aksila, lipat paha, leher) dan dahi, mandikan dengan air hangat, gunakan selimut pendingin jika diperlukan, serta jaga lingkungan tetap sejuk dan berventilasi baik. 5) Atur pakaian pasien dengan bahan yang menyerap keringat dan tipis. 6) Anjurkan tirah baring untuk mengurangi produksi panas metabolik. 7) Kolaborasi pemberian obat antipiretik sesuai resep (seperti parasetamol atau ibuprofen) dan evaluasi efektivitasnya. 8) Monitor tanda-tanda dehidrasi: turgor kulit, membran mukosa, dan balance cairan. 9) Berikan pendidikan kesehatan pada pasien dan keluarga tentang penyebab demam, tujuan intervensi, dan tanda-tanda yang perlu dilaporkan. 10) Dokumentasikan semua temuan, intervensi, dan respons pasien.
Mekanisme Homeostasis yang Terganggu: Mekanisme homeostasis yang terganggu adalah regulasi suhu tubuh (termoregulasi). Homeostasis suhu diatur oleh pusat termoregulasi di hipotalamus anterior yang bertindak sebagai "termostat" tubuh. Pada kondisi infeksi atau inflamasi, pirogen endogen (seperti interleukin-1) yang dilepaskan oleh sel darah putih mengatur ulang titik setel (set point) hipotalamus ke tingkat yang lebih tinggi (misalnya 39°C). Tubuh kemudian menginterpretasi suhu normal saat ini sebagai "terlalu dingin" dan memulai mekanisme untuk menghasilkan dan mempertahankan panas hingga suhu tubuh mencapai titik setel baru tersebut. Gangguan terjadi karena mekanisme peningkatan suhu ini, meskipun merupakan respons fisiologis terhadap ancaman (seperti infeksi), menciptakan keadaan hipertermia yang dapat membahayakan fungsi seluler dan sistem organ jika berlangsung lama atau terlalu tinggi.
Respons Tubuh yang Seharusnya Terjadi: Respons tubuh normal terhadap peningkatan titik setel hipotalamus adalah demam bertahap. Mekanisme yang diharapkan adalah: 1) Vasokonstriksi perifer: Pembuluh darah di kulit menyempit untuk mengurangi kehilangan panas ke lingkungan, menyebabkan kulit terasa dingin dan pucat. 2) Piloereksi: Bulu badan berdiri (merinding) untuk memerangkap lapisan udara hangat di dekat kulit (pada manusia efek ini minimal). 3) Menggigil (shivering): Kontraksi otot ritmis yang tidak disengaja untuk menghasilkan panas metabolik secara besar-besaran. 4) Perilaku mencari kehangatan: Pasien merasa kedinginan dan akan berusaha memakai selimut atau pakaian tebal. Proses ini berlanjut hingga suhu tubuh inti mencapai titik setel baru. Setelah titik setel kembali normal (baik secara alami atau dengan bantuan antipiretik), tubuh akan memulai mekanisme kehilangan panas melalui vasodilatasi perifer (kulit memerah dan terasa hangat) dan berkeringat (diaforesis) untuk mendinginkan tubuh melalui penguapan. Pada pasien dengan demam 39°C, fase menggigil dan vasokonstriksi mungkin sudah berlalu, dan tubuh berada dalam fase mantap di suhu tinggi, atau mungkin mulai memasuki fase berkeringat jika titik setel mulai turun.
-
Article No. 23782 | 22 Jan 2026
Klinis : Gangguan pertukaran gas
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: