Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 23800 | 25 Jan 2026
Klinis : Tn. A, seorang laki-laki berusia 65 tahun, dibawa oleh keluarganya ke IGD RS Sehat karena mengalami kelemahan mendadak pada sisi tubuh bagian kanan setelah terjatuh di kamar mandi 4 jam yang lalu. Saat dikaji, Tn. A mengeluh tangan dan kaki kanannya terasa berat dan sama sekali tidak bisa digerakkan, serta merasa kesulitan untuk berbicara karena lidahnya terasa kaku (pelo). Pasien memiliki riwayat medis hipertensi dan diabetes melitus yang tidak rutin dikontrol. Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan tingkat kesadaran Compos Mentis dengan GCS 15. Pemeriksaan tanda-tanda vital menunjukkan tekanan darah 180/100 mmHg, frekuensi nadi 92x/menit, frekuensi napas 20x/menit, dan suhu tubuh 36,8°C. Pada pemeriksaan saraf kranial, ditemukan wajah asimetris dengan sudut mulut merot ke arah kiri. Hasil uji kekuatan otot menunjukkan nilai 1 pada ekstremitas kanan (hanya tampak kontraksi otot tanpa gerakan sendi) dan nilai 5 pada ekstremitas kiri. Hasil pemeriksaan CT-Scan kepala tanpa kontras mengkonfirmasi adanya area infark di lobus parietal kiri. Saat ini, pasien tampak cemas dengan kondisinya dan hanya bisa berbaring di tempat tidur.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Mobilitas Fisik
Kode SDKI: 0203
Deskripsi Singkat: Kondisi individu yang mengalami atau berisiko mengalami keterbatasan pergerakan fisik secara mandiri.
Kode SLKI: 020302
Deskripsi : Pasien menunjukkan peningkatan kemampuan mobilitas fisik. Indikator: 1) Mempertahankan posisi tubuh yang diinginkan dengan atau tanpa bantuan. 2) Melakukan transfer dengan atau tanpa bantuan. 3) Melakukan rentang gerak (ROM) aktif atau pasif. 4) Menggerakkan ekstremitas dengan atau tanpa bantuan. 5) Menggunakan alat bantu mobilitas dengan tepat. 6) Kekuatan otot meningkat. 7) Koordinasi gerak meningkat. 8) Menunjukkan keseimbangan tubuh saat duduk, berdiri, atau berjalan. 9) Melakukan aktivitas fisik sesuai kemampuan. 10) Tidak terjadi komplikasi imobilisasi.
Kode SIKI: 0203
Deskripsi : Intervensi untuk meningkatkan mobilitas fisik dan mencegah komplikasi imobilisasi. Kriteria: 1) Kaji kemampuan mobilitas dan faktor penghambat. 2) Kaji kekuatan otot, tonus, dan rentang gerak sendi. 3) Kaji kebutuhan alat bantu mobilitas. 4) Bantu latihan rentang gerak (ROM) pasif/aktif. 5) Bantu perubahan posisi secara teratur. 6) Ajarkan dan bantu teknik transfer yang aman. 7) Anjurkan aktivitas sesuai toleransi. 8) Kolaborasi pemberian analgesik jika nyeri menghambat mobilitas. 9) Kolaborasi dengan fisioterapis. 10) Monitor tanda-tanda komplikasi imobilisasi (dekubitus, kontraktur, trombosis). 11) Ajarkan keluarga cara membantu mobilisasi. 12) Berikan pujian atas kemajuan yang dicapai. Defisini: Gangguan mobilitas fisik pada Tn. A terjadi akibat kerusakan neurologis (infark lobus parietal kiri) yang menyebabkan kelemahan hemiparesis kanan (kekuatan otot skor 1). Lobus parietal berperan dalam integrasi sensori dan persepsi spatial yang penting untuk perencanaan dan koordinasi gerakan. Kerusakan area ini menyebabkan sinyal motorik dari korteks motorik tidak terintegrasi dengan baik, mengakibatkan kelemahan dan ketidakmampuan menggerakkan ekstremitas secara volunter meski kesadaran penuh. Kondisi ini diperberat oleh faktor risiko hipertensi dan DM yang tidak terkontrol, yang merupakan penyebab utama stroke iskemik. Imobilisasi meningkatkan risiko komplikasi serius seperti pneumonia, dekubitus, kontraktur sendi, dan trombosis vena dalam. Intervensi keperawatan difokuskan pada pencegahan komplikasi tersebut sekaligus memulai rehabilitasi dini melalui ROM, posisi yang aman, dan kolaborasi dengan fisioterapi untuk memaksimalkan potensi pemulihan neuroplastisitas otak.
Kondisi: Gangguan Komunikasi Verbal
Kode SDKI: 0029
Deskripsi Singkat: Kondisi individu yang mengalami penurunan, hambatan, atau tidak mampu dalam berbicara.
Kode SLKI: 002902
Deskripsi : Pasien menunjukkan peningkatan kemampuan komunikasi verbal. Indikator: 1) Mengungkapkan kebutuhan dengan kata-kata yang dapat dipahami. 2) Merespons pertanyaan dengan tepat. 3) Melakukan percakapan sesuai konteks. 4) Mengucapkan kata dengan artikulasi jelas. 5) Menggunakan tata bahasa yang tepat. 6) Menunjukkan peningkatan kosa kata. 7) Menggunakan alat bantu komunikasi dengan tepat (jika diperlukan). 8) Menunjukkan ekspresi wajah sesuai dengan pembicaraan.
Kode SIKI: 0029
Deskripsi : Intervensi untuk meningkatkan kemampuan komunikasi verbal. Kriteria: 1) Kaji kemampuan komunikasi verbal dan faktor penyebab. 2) Identifikasi bentuk gangguan komunikasi (afasia motorik, sensorik, campuran). 3) Gunakan komunikasi nonverbal (kontak mata, gerakan, gambar) untuk melengkapi verbal. 4) Berbicara dengan pelan, jelas, dan gunakan kalimat sederhana. 5) Berikan waktu yang cukup bagi pasien untuk merespons. 6) Validasi pemahaman pasien terhadap pesan yang disampaikan. 7) Ajarkan teknik komunikasi alternatif (jika diperlukan). 8) Kurangi gangguan lingkungan (kebisingan). 9) Libatkan keluarga dalam proses komunikasi. 10) Kolaborasi dengan terapis wicara. 11) Berikan motivasi dan dukungan emosional. 12) Jangan memotong pembicaraan pasien. Defisini: Gangguan komunikasi verbal pada Tn. A dimanifestasikan sebagai kesulitan berbicara (lidah kaku, pelo) yang mengarah pada afasia motorik (Broca). Infark di lobus parietal kiri dapat memengaruhi area Broca yang berdekatan atau jalur saraf yang menghubungkan area bahasa. Afasia motorik ditandai dengan ketidakmampuan mengkoordinasikan otot-otot bicara untuk menghasilkan kata-kata yang artikulatif, meski pemahaman bahasa mungkin relatif baik. Pasien merasa frustasi karena tahu apa yang ingin dikatakan tetapi tidak bisa mengucapkannya dengan jelas. Hal ini memperparah kecemasan dan menghambat penyampaian kebutuhan dasar. Intervensi keperawatan esensial untuk membangun saluran komunikasi yang efektif, mencegah isolasi sosial, dan mendukung partisipasi pasien dalam proses perawatan dan rehabilitasi. Pendekatan multimodal (verbal, visual, gestural) dan kesabaran merupakan kunci keberhasilan.
Kondisi: Ansietas
Kode SDKI: 0018
Deskripsi Singkat: Kondisi individu yang mengalami perasaan gelisah, ketegangan, atau ketakutan yang tidak jelas sumbernya sebagai respons terhadap ancaman yang tidak spesifik.
Kode SLKI: 001802
Deskripsi : Pasien menunjukkan penurunan tingkat ansietas. Indikator: 1) Mengungkapkan perasaan berkurangnya ketakutan dan kecemasan. 2) Menunjukkan ekspresi wajah rileks. 3) Menunjukkan perilaku tenang. 4) Tidur dan istirahat cukup. 5) Nafsu makan membaik. 6) Dapat berkonsentrasi. 7) Tanda-tanda vital dalam rentang normal. 8) Melaporkan tidak ada keluhan somatik akibat cemas. 9) Menggunakan strategi koping yang adaptif. 10) Berpartisipasi dalam perawatan diri.
Kode SIKI: 0018
Deskripsi : Intervensi untuk mengurangi ansietas. Kriteria: 1) Kaji tingkat ansietas dan faktor penyebab. 2) Identifikasi tanda-tanda ansietas (verbal dan nonverbal). 3) Dengarkan keluhan pasien dengan penuh perhatian dan empati. 4) Berikan informasi yang jujur dan jelas tentang kondisi, prosedur, dan pengobatan. 5) Ajarkan teknik relaksasi (nafas dalam, distraksi). 6) Pertahankan lingkungan yang tenang dan nyaman. 7) Temani pasien, terutama saat ansietas tinggi. 8) Bantu pasien mengidentifikasi sumber ansietas. 9) Bantu pasien mengidentifikasi dan menggunakan strategi koping yang biasa dilakukan. 10) Libatkan keluarga untuk memberikan dukungan emosional. 11) Kolaborasi pemberian obat ansiolitik jika diperlukan. 12) Berikan pujian atas upaya pasien mengatasi kecemasan. Defisini: Ansietas pada Tn. A merupakan respons psikologis yang wajar terhadap ancaman mendadak terhadap integritas fisik dan fungsi hidupnya (stroke). Kehilangan mendadak kemampuan bergerak dan berbicara, ditambah dengan lingkungan IGD yang asing, memicu ketakutan akan ketergantungan, kecacatan permanen, dan kematian. Ansietas yang tidak terkelola dapat meningkatkan tekanan darah (180/100 mmHg) dan denyut nadi (92x/menit), yang justru memperburuk perfusi serebral dan menghambat proses penyembuhan. Selain itu, ansietas dapat menurunkan kooperatifitas dalam terapi. Intervensi keperawatan berfokus pada penurunan ketidakpastian melalui edukasi, memberikan rasa aman, dan memberdayakan pasien dengan keterlibatan dalam perawatan, sehingga ansietas dapat dikurangi ke tingkat yang memungkinkan pasien berpartisipasi aktif dalam rehabilitasi.
Kondisi: Risiko Ketidakstabilan Tekanan Darah
Kode SDKI: 0607
Deskripsi Singkat: Kondisi individu yang berisiko mengalami variasi tekanan darah dari rentang normal yang dapat menyebabkan ketidakadekuatan perfusi jaringan atau cedera vaskular.
Kode SLKI: 060702
Deskripsi : Tekanan darah pasien stabil dalam rentang yang diinginkan. Indikator: 1) Tekanan darah sistolik dan diastolik dalam rentang target. 2) Denyut nadi dalam rentang normal. 3) Tidak ada keluhan sakit kepala, pusing, atau penglihatan kabur. 4) Tidak ada epistaksis. 5) Menunjukkan perilaku patuh terhadap terapi pengendalian tekanan darah. 6) Menghindari faktor peningkat tekanan darah.
Kode SIKI: 0607
Deskripsi : Intervensi untuk mencegah ketidakstabilan tekanan darah. Kriteria: 1) Monitor tekanan darah, nadi, secara teratur dan bandingkanArticle No. 23801 | 25 Jan 2026
Klinis : Tn. A, seorang laki-laki berusia 65 tahun, dibawa oleh keluarganya ke IGD RS Sehat karena mengalami kelemahan mendadak pada sisi tubuh bagian kanan setelah terjatuh di kamar mandi 4 jam yang lalu. Saat dikaji, Tn. A mengeluh tangan dan kaki kanannya terasa berat dan sama sekali tidak bisa digerakkan, serta merasa kesulitan untuk berbicara karena lidahnya terasa kaku (pelo). Pasien memiliki riwayat medis hipertensi dan diabetes melitus yang tidak rutin dikontrol. Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan tingkat kesadaran Compos Mentis dengan GCS 15. Pemeriksaan tanda-tanda vital menunjukkan tekanan darah 180/100 mmHg, frekuensi nadi 92x/menit, frekuensi napas 20x/menit, dan suhu tubuh 36,8°C. Pada pemeriksaan saraf kranial, ditemukan wajah asimetris dengan sudut mulut merot ke arah kiri. Hasil uji kekuatan otot menunjukkan nilai 1 pada ekstremitas kanan (hanya tampak kontraksi otot tanpa gerakan sendi) dan nilai 5 pada ekstremitas kiri. Hasil pemeriksaan CT-Scan kepala tanpa kontras mengkonfirmasi adanya area infark di lobus parietal kiri. Saat ini, pasien tampak cemas dengan kondisinya dan hanya bisa berbaring di tempat tidur.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Infark Serebral Akut (Stroke Iskemik) pada Lobus Parietal Kiri dengan Hemiparese Kanan dan Afasia Motorik
Kode ICD-10: I63.9
Deskripsi Singkat : Pasien mengalami stroke iskemik akut yang dikonfirmasi dengan CT-Scan, ditandai dengan area infark di lobus parietal kiri otak. Kondisi ini disebabkan oleh penyumbatan pembuluh darah otak, sangat mungkin terkait dengan faktor risiko hipertensi dan diabetes yang tidak terkontrol. Gejala klinis utama berupa kelemahan mendadak (hemiparese) pada sisi tubuh kanan dengan kekuatan otot grade 1 (paralisis berat), asimetri wajah dengan deviasi sudut mulut ke kiri (karena kelemahan otot wajah kanan), serta gangguan bicara berupa disartria atau afasia motorik (lidah kaku, pelo). Gangguan ini sesuai dengan fungsi lobus parietal yang mengatur sensasi dan persepsi, serta kedekatannya dengan area motorik dan bahasa di otak. Kode I63.9 mengindikasikan Infark Serebral, tidak ditentukan, yang digunakan ketika informasi spesifik mengenai pembuluh darah yang tersumbat (misalnya, emboli atau trombosis) belum tersedia atau belum dikonfirmasi secara detail. Kondisi ini merupakan kedaruratan neurologis yang memerlukan penanganan segera untuk membatasi kerusakan otak lebih lanjut dan memulai rehabilitasi.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
Article No. 23802 | 25 Jan 2026
Klinis : Tn. A, seorang laki-laki berusia 65 tahun, dibawa oleh keluarganya ke IGD RS Sehat karena mengalami kelemahan mendadak pada sisi tubuh bagian kanan setelah terjatuh di kamar mandi 4 jam yang lalu. Saat dikaji, Tn. A mengeluh tangan dan kaki kanannya terasa berat dan sama sekali tidak bisa digerakkan, serta merasa kesulitan untuk berbicara karena lidahnya terasa kaku (pelo). Pasien memiliki riwayat medis hipertensi dan diabetes melitus yang tidak rutin dikontrol. Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan tingkat kesadaran Compos Mentis dengan GCS 15. Pemeriksaan tanda-tanda vital menunjukkan tekanan darah 180/100 mmHg, frekuensi nadi 92x/menit, frekuensi napas 20x/menit, dan suhu tubuh 36,8°C. Pada pemeriksaan saraf kranial, ditemukan wajah asimetris dengan sudut mulut merot ke arah kiri. Hasil uji kekuatan otot menunjukkan nilai 1 pada ekstremitas kanan (hanya tampak kontraksi otot tanpa gerakan sendi) dan nilai 5 pada ekstremitas kiri. Hasil pemeriksaan CT-Scan kepala tanpa kontras mengkonfirmasi adanya area infark di lobus parietal kiri. Saat ini, pasien tampak cemas dengan kondisinya dan hanya bisa berbaring di tempat tidur.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Mobilitas Fisik
Kode SDKI: D.0017
Deskripsi Singkat: Kondisi individu yang mengalami atau berisiko mengalami keterbatasan pergerakan fisik secara mandiri.
Kode SLKI: L.03103
Deskripsi : Pasien menunjukkan peningkatan mobilitas fisik. Kriteria hasil: 1) Posisi tubuh dapat diubah secara mandiri, 2) Melakukan aktivitas pergerakan dengan bantuan sesuai kebutuhan, 3) Kekuatan dan koordinasi otot meningkat, 4) Kemandirian dalam aktivitas mobilitas meningkat, 5) Tidak terjadi komplikasi akibat imobilisasi (kontraktur, dekubitus, atrofi otot, dll).
Kode SIKI: I.05073
Deskripsi : Intervensi untuk meningkatkan mobilitas fisik. Tindakan keperawatan: 1) Kaji tingkat mobilitas dan kekuatan otot menggunakan skala yang valid. 2) Bantu pasien dalam perubahan posisi di tempat tidur secara berkala (setiap 2 jam). 3) Ajarkan dan bantu latihan rentang gerak (Range of Motion/ROM) pasif dan aktif pada ekstremitas yang terkena dan tidak terkena. 4) Kolaborasi dengan fisioterapis untuk program latihan dan mobilisasi bertahap. 5) Gunakan alat bantu mobilitas sesuai kebutuhan (seperti penyangga kaki, bidai). 6) Ajarkan teknik menggerakkan tubuh yang aman. 7) Monitor tanda-tanda komplikasi imobilisasi (kemerahan pada kulit, nyeri, edema, kontraktur). 8) Berikan penyuluhan kepada keluarga tentang pentingnya mobilisasi dan teknik membantu pergerakan pasien. 9) Atur lingkungan yang aman untuk mencegah cedera selama mobilisasi. 10) Evaluasi respons pasien terhadap aktivitas mobilisasi dan tingkat kelelahannya.
Kondisi: Gangguan Komunikasi Verbal
Kode SDKI: D.0010
Deskripsi Singkat: Kondisi individu yang mengalami atau berisiko mengalami penurunan, hambatan, atau ketidakmampuan dalam menerima atau menyampaikan pesan secara verbal.
Kode SLKI: L.03017
Deskripsi : Pasien menunjukkan peningkatan kemampuan komunikasi verbal. Kriteria hasil: 1) Memahami pesan yang disampaikan, 2) Menyampaikan pesan secara verbal dapat dipahami, 3) Menggunakan metode komunikasi alternatif jika diperlukan, 4) Mengungkapkan kebutuhan dan pemikiran dengan tepat.
Kode SIKI: I.05025
Deskripsi : Intervensi untuk meningkatkan komunikasi verbal. Tindakan keperawatan: 1) Kaji kemampuan memahami dan mengekspresikan bahasa (reseptif dan ekspresif). 2) Gunakan komunikasi yang jelas, singkat, dan pertanyaan tertutup. 3) Berikan waktu yang cukup bagi pasien untuk merespons, jangan terburu-buru. 4) Gunakan alat bantu komunikasi seperti papan gambar, tulisan, atau isyarat jika diperlukan. 5) Validasi dan konfirmasi pemahaman pasien terhadap pesan yang disampaikan. 6) Minimalkan gangguan lingkungan (kebisingan) saat berkomunikasi. 7) Libatkan keluarga dalam metode komunikasi yang efektif dengan pasien. 8) Kolaborasi dengan terapis wicara untuk terapi bahasa yang komprehensif. 9) Berikan dukungan emosional dan hindari menunjukkan rasa frustasi. 10) Latih pasien dengan latihan sederhana untuk artikulasi dan pelafalan.
Kondisi: Ansietas
Kode SDKI: D.0004
Deskripsi Singkat: Kondisi individu yang mengalami atau berisiko mengalami perasaan gelisah, ketegangan, atau ketidaknyamanan yang tidak jelas sumbernya (ancaman yang tidak spesifik).
Kode SLKI: L.03004
Deskripsi : Pasien menunjukkan penurunan ansietas. Kriteria hasil: 1) Mengungkapkan perasaan ansietas telah berkurang, 2) Menunjukkan tanda-tanda fisiologis ansietas menurun (nadi, pernapasan, tekanan darah stabil), 3) Ekspresi wajah dan perilaku lebih tenang, 4) Dapat mengidentifikasi sumber ansietas dan strategi koping.
Kode SIKI: I.05009
Deskripsi : Intervensi untuk menurunkan ansietas. Tindakan keperawatan: 1) Kaji tingkat ansietas (ringan, sedang, berat, panik) dan manifestasinya. 2) Temani pasien dan tunjukkan sikap empati serta penerimaan. 3) Gunakan komunikasi terapeutik, dengarkan dengan penuh perhatian. 4) Berikan informasi yang jujur dan jelas tentang kondisi penyakit, prosedur, dan pengobatan. 5) Ajarkan teknik relaksasi sederhana (napas dalam, relaksasi otot progresif). 6) Bantu pasien mengidentifikasi penyebab ansietas dan strategi koping yang pernah berhasil. 7) Kurangi stimulus lingkungan yang dapat meningkatkan ansietas. 8) Libatkan keluarga untuk memberikan dukungan emosional dan rasa aman. 9) Kolaborasi dengan tim medis untuk manajemen ansietas jika diperlukan. 10) Bantu pasien fokus pada kemampuan yang masih dimiliki dan kemajuan kecil yang dicapai.
Kondisi: Risiko Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Serebral
Kode SDKI: D.0144
Deskripsi Singkat: Kondisi individu yang berisiko mengalami penurunan sirkulasi darah ke otak yang dapat menyebabkan gangguan nutrisi dan oksigenasi jaringan otak.
Kode SLKI: L.06023
Deskripsi : Perfusi jaringan serebral tetap efektif. Kriteria hasil: 1) Tingkat kesadaran tetap compos mentis atau tidak menurun, 2) Tanda-tanda vital dalam rentang yang diharapkan, 3) Fungsi neurologis fokal tidak memberat (kekuatan otot, bicara), 4) Tidak ada tanda peningkatan tekanan intrakranial (sakit kepala hebat, muntah proyektil, penurunan kesadaran).
Kode SIKI: I.08022
Deskripsi : Intervensi untuk mempertahankan perfusi jaringan serebral. Tindakan keperawatan: 1) Monitor status neurologis secara berkala (GCS, kekuatan otot, ukuran pupil, bicara). 2) Monitor tanda-tanda vital, khususnya tekanan darah, untuk menghindari hipotensi atau hipertensi berlebihan. 3) Pertahankan posisi kepala tempat tidur 30 derajat (kecuali kontraindikasi) untuk meningkatkan aliran balik vena. 4) Berikan terapi oksigen sesuai kebutuhan untuk mempertahankan saturasi oksigen >95%. 5) Hindari manuver valsava (mengedan) pada pasien. 6) Kolaborasi pemberian terapi medis sesuai program (antihipertensi, neuroprotektor, antiplatelet) dengan tepat waktu. 7) Monitor keseimbangan cairan, hindari overhidrasi atau dehidrasi. 8) Ciptakan lingkungan yang tenang, hindari kecemasan dan nyeri yang dapat meningkatkan tekanan intrakranial. 9) Observasi ketat terhadap tanda-tanda deteriorasi neurologis. 10) Edukasi pasien dan keluarga tentang tanda-tanda bahaya yang harus dilaporkan segera.
Article No. 23803 | 25 Jan 2026
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi dan Gangguan Pertukaran Gas terkait Tuberkulosis Paru
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Risiko meningkatnya respons terhadap patogen atau kondisi patogen lainnya.
Kode SLKI: L.03103
Deskripsi : Pengendalian Infeksi: Kemampuan untuk mencegah, menghindari, dan mengurangi risiko infeksi. Pada pasien tuberkulosis paru, tujuan utama adalah mencegah penularan infeksi ke orang lain dan mencegah infeksi sekunder pada pasien sendiri. Intervensi keperawatan difokuskan pada isolasi pernapasan (menggunakan masker, ventilasi ruangan yang baik), edukasi tentang etika batuk (menutup mulut dengan tisu atau lengan), pembuangan dahak yang aman, serta peningkatan kepatuhan minum obat anti-tuberkulosis (OAT) secara ketat dan lengkap. Peningkatan status nutrisi juga merupakan bagian penting dari pengendalian infeksi karena malnutrisi dapat melemahkan sistem imun. Perawat akan memantau tanda-tanda vital terutama suhu tubuh untuk mendeteksi perkembangan infeksi, memastikan pasien memahami pentingnya pengobatan hingga tuntas untuk mencegah resistensi obat (MDR-TB), dan memberikan dukungan psikososial untuk mengurangi stres yang dapat memperburuk kondisi imunologis.
Kode SIKI: I.05011
Deskripsi : Manajemen Pernapasan: Memfasilitasi pertukaran udara yang adekuat dan mencegah komplikasi. Pada pasien dengan TB paru yang mengalami batuk berdahak, demam, dan sesak napas, intervensi ini sangat krusial. Perawat akan mengajarkan dan mendorong teknik batuk efektif untuk membersihkan jalan napas dari sekret/dahak yang mengandung basil Mycobacterium tuberculosis. Posisi semi-Fowler atau Fowler dapat diterapkan untuk memudahkan ekspansi dada dan mengurangi kerja otot pernapasan. Dilakukan pula fisioterapi dada (jika diindikasikan) seperti perkusi dan vibrasi untuk membantu mobilisasi dahak. Monitoring frekuensi, irama, dan kedalaman pernapasan serta penggunaan otot bantu pernapasan dilakukan secara berkala. Pemberian oksigen sesuai kebutuhan dan resep dokter untuk mengatasi hipoksia. Selain itu, perawat memantau karakteristik dahak (jumlah, warna, konsistensi) dan mendokumentasikannya sebagai evaluasi respons terapi. Edukasi tentang pentingnya istirahat untuk menghemat energi dan mengurangi konsumsi oksigen juga diberikan, mengingat pasien mengalami kelelahan dan anoreksia.
Kondisi: Nyeri Akut dan Ketidakseimbangan Nutrisi terkait Tuberkulosis Paru
Kode SDKI: D.0028
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensori dan emosional tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah seperti cedera; onset mendadak atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau diprediksi.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Kontrol Nyeri: Kemampuan untuk mengontrol dan meredakan nyeri. Meskipun nyeri bukan gejala utama TB paru, pasien dapat mengalami nyeri dada pleuritik akibat peradangan pada pleura atau nyeri otot akibat batuk yang terus-menerus dan demam. Tujuan keperawatan adalah mengurangi ketidaknyamanan tersebut. Perawat akan melakukan penilaian nyeri secara komprehensif meliputi lokasi, intensitas (skala 0-10), karakter, dan faktor pemicu serta peredanya. Intervensi non-farmakologis seperti teknik relaksasi napas dalam dan posisi yang nyaman dapat diajarkan. Kolaborasi pemberian analgesik sesuai resep dokter juga dilakukan. Selain itu, mengatasi batuk secara efektif (seperti pada manajemen pernapasan) dapat mengurangi nyeri dada yang ditimbulkan oleh batuk itu sendiri. Pemantauan respons terhadap intervensi pengurangan nyeri dilakukan secara teratur untuk mengevaluasi keefektifannya.
Kode SIKI: I.11006
Deskripsi : Manajemen Nutrisi: Membantu atau memberikan nutrisi yang seimbang. Pasien mengalami kehilangan nafsu makan (anoreksia) yang merupakan gejala umum TB paru, yang dapat menyebabkan penurunan berat badan dan malnutrisi. Malnutrisi akan memperburuk prognosis karena melemahkan sistem imun. Intervensi keperawatan difokuskan pada peningkatan asupan nutrisi. Perawat akan melakukan kolaborasi dengan ahli gizi untuk menyusun diet tinggi kalori dan tinggi protein guna memenuhi kebutuhan metabolik yang meningkat akibat infeksi dan untuk memperbaiki jaringan yang rusak. Makanan disajikan dalam porsi kecil namun sering untuk mengatasi cepat kenyang dan anoreksia. Lingkungan makan yang nyaman dan bebas bau yang tidak sedap (karena dahak) perlu diciptakan. Perawat akan memantau berat badan secara berkala, asupan dan output cairan, serta tanda-tanda klinis dehidrasi atau defisiensi nutrisi. Edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya nutrisi dalam proses penyembuhan dan jenis makanan yang dianjurkan juga merupakan bagian integral dari intervensi ini.
Kondisi: Kelelahan dan Defisit Pengetahuan terkait Penyakit dan Pengobatan Tuberkulosis
Kode SDKI: D.0095
Deskripsi Singkat: Kekurangan informasi kognitif terkait topik tertentu.
Kode SLKI: L.18001
Deskripsi : Pengetahuan: Penyakit dan Penatalaksanaannya: Tingkat pemahaman tentang kondisi, penyebab, dan penanganan penyakit. Pasien dengan diagnosis baru TB paru membutuhkan pemahaman yang komprehensif tentang penyakitnya agar dapat berpartisipasi aktif dalam pengobatan. Tujuan keperawatan adalah meningkatkan pengetahuan pasien hingga mampu menjelaskan kembali tentang penyakit TB, cara penularan, pentingnya pengobatan lengkap dan teratur (pengobatan jangka panjang 6-9 bulan), efek samping obat yang mungkin timbul, serta tindakan pencegahan penularan kepada orang lain. Perawat akan menggunakan metode edukasi yang sesuai, seperti penjelasan verbal, brosur, atau media visual. Evaluasi pemahaman dilakukan dengan metode teach-back, dimana pasien diminta menjelaskan kembali informasi yang telah diberikan. Pengetahuan yang adekuat diharapkan dapat meningkatkan kepatuhan berobat, mengurangi kecemasan, dan mencegah komplikasi serta penularan.
Kode SIKI: I.15001
Deskripsi : Edukasi Kesehatan: Mengembangkan dan memberikan pengajaran serta materi pembelajaran untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Intervensi ini merupakan implementasi konkret dari SLKI pengetahuan. Perawat menyusun rencana edukasi yang terstruktur meliputi: (1) Pengertian TB paru dan cara penularannya, (2) Pentingnya minum OAT setiap hari tanpa terlewat hingga tuntas walaupun gejala sudah membaik, (3) Identifikasi efek samping OAT (seperti gangguan penglihatan, kesemutan, mual, warna urin kemerahan) dan tindakan yang harus dilakukan jika mengalaminya, (4) Teknik pencegahan penularan (etika batuk, penggunaan masker, ventilasi udara, pembuangan dahak), (5) Prinsip istirahat dan nutrisi yang adekuat, (6) Jadwal kontrol dan pemeriksaan dahak ulang. Edukasi juga melibatkan keluarga sebagai pengawas minum obat (PMO) untuk mendukung kesembuhan pasien. Dukungan psikologis diberikan untuk mengatasi stigma dan meningkatkan motivasi selama menjalani pengobatan panjang.
Article No. 23804 | 25 Jan 2026
Klinis : pasien sedang menjalani rawat jalan HD di sana di saat hadir berlangsung atau intradialisis pasien sedang menjalani rawat jalan HD di sana di saat hadir berlangsung atau intradialisis
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Cairan dan Elektrolit
Kode SDKI: 0010
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan, peningkatan, atau perpindahan cepat cairan tubuh dan/atau elektrolit dari satu kompartemen ke kompartemen lain.
Kode SLKI: 1001
Deskripsi : Keseimbangan Cairan dan Elektrolit. Kriteria hasil: 1) Keseimbangan cairan (asupan dan haluaran) seimbang. 2) Tanda vital dalam rentang normal. 3) Tidak ada edema. 4) Berat badan stabil. 5) Membran mukosa lembab. 6) Turgor kulit baik. 7) Elektrolit serum dalam rentang normal. 8) Tidak ada tanda kelebihan beban cairan (dispnea, ortopnea, crackles). 9) Tidak ada tanda dehidrasi (haus, oliguria). 10) Laporan pemahaman tentang pembatasan cairan dan diet.
Kode SIKI: 4400
Deskripsi : Manajemen Hemodialisis. Intervensi keperawatan: 1) Monitor tanda dan gejala ketidakseimbangan cairan (edema, distensi vena jugularis, crackles, sesak napas, hipotensi/hipotensi intradialitik, kram otot, mual, sakit kepala). 2) Monitor tanda vital sebelum, selama, dan setelah hemodialisis. 3) Timbang berat badan sebelum dan sesudah hemodialisis. 4) Hitung balance cairan (intake dan output) secara akurat. 5) Kolaborasi pemberian terapi pengganti ginjal (hemodialisis) sesuai program. 6) Atur kecepatan ultrafiltrasi sesuai program dan toleransi pasien. 7) Monitor status akses vaskuler (fistula/graf/shunt) untuk patensi dan tanda infeksi. 8) Lakukan tindakan aseptik selama pemasangan akses dan selama prosedur hemodialisis. 9) Berikan edukasi pada pasien dan keluarga tentang tujuan hemodialisis, pembatasan cairan, diet (kalium, fosfor, natrium), dan perawatan akses vaskuler. 10) Evaluasi respons pasien terhadap terapi hemodialisis. 11) Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi (seperti erythropoietin, pengikat fosfat, antihipertensi). 12) Berikan dukungan psikologis untuk mengatasi ansietas dan perubahan body image.
Article No. 23805 | 25 Jan 2026
Klinis : DPH 3 penurunan kesadaran, kejang (-), tidak bisa diajak komunikasi, gelisah, muntah (-) RPD HT DM KU lemah, E3V2M5 TD : 220/112 N 111 RR 21 sPO2 96% T 36,7 Mata :RC +/+, isokor 3mm/3mm Mulut : deviasi lidah sde Thorax : Simetris BJ I-II, reguler, bising (-) Paru : sdv (+/+), rbh (-/-), wheezing (-/-) Abdomen :supel, BU (+) NT - Genatalia : tidak ada kelainan Ekstremitas Superior : motorik sde, sensorik sde Ekstremitas Inferior : motorik sde, sensorik sde Status Neurologis Sensorik tidak dapat dinilai Kekuatan motorik: tidak terdapat lateralisasi Refleks fisiologis: - Refleks patologis: (-/-/-/-) NC. VII + n2+ blink to threat (-) visual pursuit (-) voluntary eye movement (-) n3+ brudzinski 1: - dolls eyes: + kaku kuduk : - FR: ht komplikasi tirah baring: - - Infeksi: TB paru - Disfagia: - - Stress ulcer: - DVT: - - Nutrisi: - - Muskuloskeletal: - Komorbid: DM lab 23/01/26 hb: 11,48 hct: 33,9 AE: 4,02 AL: 8,75 AT: 196 GDS: 689 ur: 74,9 cr: 1,63 elektrolit 23/01/26 na: 134 (L) k: 4,4 cl: 99 ca: 1,2 ph: 7,37 osmolalitas: 333mOsm/kg ro thorax 23/01: Kesan : - TB paru aktif - Besar cor normaL 23/01 ctscan kepala Kesan : - Lesi hipodens di sinus maxillaris dextra, curiga suatu akumulasi cairan, DD : sinusitis - Atrophy cerebri - Tak tampak EDH, SDH, SAH, ICH, maupun IVH pada Head CT Scan saat ini - Tak tampak gambaran herniasi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Penurunan Kesadaran (Gangguan Persepsi Sensorik) pada DPH 3 dengan Hipertensi Emergensi dan Hiperglikemia Ekstrem
Kode SDKI: D.0015
Deskripsi Singkat: Gangguan persepsi sensorik adalah keadaan dimana individu mengalami perubahan dalam jumlah atau pola rangsang yang datang disertai dengan penurunan, berlebihannya, terdistorsinya, atau terganggunya respons terhadap rangsang tersebut. Pada kasus ini, pasien dengan DPH 3 (Diduga Perdarahan Intrakranial) menunjukkan penurunan kesadaran signifikan (E3V2M5, GCS 10), tidak bisa diajak komunikasi, gelisah, dan adanya defisit neurologis fokal (deviasi lidah, NC.VII +). Kondisi ini disebabkan oleh gangguan fungsi serebral akut yang diduga akibat efek massa atau gangguan metabolik dari kondisi hiperglikemik hiperosmolar (GDS 689, osmolalitas 333) dan krisis hipertensi (TD 220/112). Gangguan persepsi ini dimanifestasikan sebagai ketidakmampuan untuk memproses stimulus lingkungan secara tepat, yang ditunjukkan dengan tidak adanya respons visual pursuit, blink to threat, dan voluntary eye movement, meski refleks batang otak (doll's eyes +) masih ada.
Kode SLKI: L.03115
Deskripsi : Tercapainya tingkat kesadaran yang optimal. Kriteria hasil yang relevan meliputi: 1) Tingkat kesadaran membaik atau stabil, 2) Fungsi kognitif dan persepsi sensorik membaik, 3) Tanda-tanda vital dalam rentang yang diharapkan, dan 4) Tidak terjadi cedera akibat disorientasi atau gelisah. Pada pasien ini, tujuan utamanya adalah mencegah penurunan kesadaran lebih lanjut dan komplikasi neurologis permanen. Perawat akan memantau tren GCS, terutama komponen eye dan verbal, serta mengobservasi tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial. Stabilitas hemodinamik (TD, Nadi) dan metabolik (GDS, elektrolit) juga menjadi indikator kunci keberhasilan intervensi untuk mendukung perbaikan kesadaran.
Kode SIKI: I.05280
Deskripsi : Manajemen gangguan persepsi sensorik. Intervensi keperawatan yang komprehensif meliputi: 1) Pengawasan Neurologis Ketat: Memantau GCS tiap jam, ukuran dan reaksi pupil, tanda-tanda lateralisasi, dan refleks patologis. Observasi ketat terhadap perubahan seperti peningkatan sakit kepala, muntah proyektil, atau penurunan GCS lebih lanjut. 2) Manajemen Lingkungan dan Keamanan: Menjaga lingkungan tenang, redup cahaya, minimalkan kebisingan. Menggunakan side rail, tempat tidur rendah, dan restraint fisik atau kimia (sesuai protokol) untuk mencegah cedera akibat gelisah. Pendekatan komunikasi yang tenang dan jelas meski pasien tidak responsif. 3) Kolaborasi Terapi Medis: Berkolaborasi dalam pemberian terapi untuk menurunkan tekanan darah secara terkontrol (antihipertensi intravena), menurunkan gula darah (insulin drip), dan koreksi ketidakseimbangan elektrolit (natrium rendah). Memastikan patensi jalan napas dan kesiapan alat suction. 4) Manajemen Komorbid dan Komplikasi: Memantau dan mencegah komplikasi imobilisasi (DVT, dekubitus). Mengelola infeksi TB paru yang ada sesuai protokol pengobatan. Memantau status nutrisi dan hidrasi, mempertimbangkan kebutuhan nutrisi enteral/parenteral. 5) Edukasi dan Dukungan Keluarga: Menjelaskan kondisi pasien kepada keluarga, penyebab gelisah, dan tujuan dari intervensi yang dilakukan. Memberikan dukungan psikologis.
Article No. 23806 | 25 Jan 2026
Klinis : DPH 3 penurunan kesadaran RPD : post ranap di rssp -/+ 1 minggu yll, Stroke, HT, DM O : KU lemah , E4V-M1 TD : 120/82 HR : 82 RR : 19 S : 36.5 SpO2 : 97 Mata :CA +/+, SI -/- Thorax : Simetris BJ I-II, reguler, bising (-) Paru : sdv (-/-), rbh (-/-), wheezing (-/-) Abdomen :supel, BU (+) NT - Genatalia : tidak ada kelainan Ekstremitas Superior : akral hangat +/+, CRT < 2 detik, edema (-/-) Ekstremitas Inferior : akral hangat (+), CRT < 2 detik, edema (-/-) Motorik Status Neurologis Sensorik tidak dapat dinilai Kekuatan motorik: tidak terdapat lateralisasi Refleks fisiologis: - Refleks patologis: (-/-/-/-) NC. VII+ n2 + menurun blink to threat (-) visual pursuit (-) voluntary eye movement (-) n3+ menurun brudzinski 1: - dolls eyes: - kaku kuduk : - nistagmus vertikal saat kepala digeser ke kanan dan kiri FR: ht, anemia NIHSS: komplikasi tirah baring: - - Infeksi: + (perdarahan pervagina) - Disfagia: - - Stress ulcer: - - DVT: - - Nutrisi: - - Muskuloskeletal: - Komorbid: DM lab 23/01/26 -> 24 (post transfusi PRC 4 kolf) hb: 5,13 -> 10,74 hct: 15,3 -> 29,7 AE: 1,76 -> 3,60 AL: 9,54 -> 7,31 AT: 369 -> 205 GDS: 221 ur: 49,8 cr: 0,51 elektrolit 23/01/26 na: 121 (L) k: 3,2 (L) cl: 83 (L) ca: 1 (L) ph: 7,63 (H) ro thorax 22/01 Kesan : - Pulmo dan besar cor normal 22/01 ctscan kepala Kesan : - Infark cerebri di parietooccipitalis dextra - Atrofi cerebri - Tak tampak perdarahan intracerebri maupun intracerebelli
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Penurunan Kesadaran (E4V-M1) dan Risiko Komplikasi pada Pasien Pasca Stroke dengan Infark Cerebri dan Komorbid
Kode SDKI: 0005
Deskripsi Singkat: Risiko Penurunan Kardiovaskuler
Kode SLKI: 0901
Deskripsi : Tanda-tanda vital dalam rentang normal untuk individu. Intervensi Keperawatan: 1) Monitor tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu) sesuai kondisi klien. 2) Identifikasi faktor risiko perubahan kardiovaskuler. 3) Kolaborasi pemberian terapi sesuai indikasi. 4) Ajarkan klien dan keluarga tanda-tanda penurunan kardiovaskuler dan kapan harus mencari bantuan.
Kode SIKI: 3501, 3502, 3503, 3504, 3505
Deskripsi : 3501: Pengukuran Tekanan Darah. 3502: Pengukuran Frekuensi Nadi. 3503: Pengukuran Frekuensi Pernapasan. 3504: Pengukuran Suhu Tubuh. 3505: Pemantauan Hemodinamik. Penjelasan: Meskipun tanda vital pasien saat ini stabil (TD 120/82, HR 82, RR 19), pasien memiliki risiko tinggi mengalami penurunan kardiovaskuler karena kondisi dasarnya yaitu stroke infark, riwayat hipertensi, dan adanya gangguan elektrolit berat (hiponatremia, hipokalemia). Status neurologis dengan penurunan kesadaran (E4V-M1) juga mengindikasikan disfungsi sistem saraf otonom yang dapat mempengaruhi regulasi kardiovaskuler. Pemantauan ketat dan berkelanjutan sangat diperlukan untuk mendeteksi dini setiap perubahan yang dapat mengarah pada syok atau disritmia, terutama mengingat adanya riwayat anemia berat yang baru saja ditransfusi. Intervensi kolaboratif untuk koreksi elektrolit dan manajemen stroke juga merupakan bagian integral dari pencegahan penurunan kardiovaskuler.
Kondisi: Penurunan Kesadaran (E4V-M1) dan Risiko Komplikasi pada Pasien Pasca Stroke dengan Infark Cerebri dan Komorbid
Kode SDKI: 0017
Deskripsi Singkat: Risiko Gangguan Pertukaran Gas
Kode SLKI: 1101
Deskripsi : Pertukaran gas adekuat. Intervensi Keperawatan: 1) Pertahankan jalan napas paten. 2) Posisikan untuk optimasi pertukaran gas (mis., semi fowler, side lying). 3) Monitor status pernapasan dan oksigenasi. 4) Lakukan fisioterapi dada jika memungkinkan. 5) Kolaborasi pemberian oksigen sesuai indikasi.
Kode SIKI: 3301, 3302, 3303, 3305
Deskripsi : 3301: Manajemen Jalan Napas. 3302: Terapi Oksigen. 3303: Monitoring Pernapasan. 3305: Fisioterapi Dada. Penjelasan: Pasien dengan penurunan kesadaran (E4V-M1) memiliki risiko tinggi terhadap gangguan pertukaran gas akibat potensi aspirasi, penurunan refleks batuk, dan imobilisasi. Meskipun data fisik thorax dan paru dalam batas normal serta SpO2 97%, temuan neurologis seperti penurunan refleks batuk (n2 menurun) dan ketidakmampuan melakukan gerakan volunter meningkatkan risiko pneumonia aspirasi dan atelektasis. Posisi pasien harus diatur untuk mencegah aspirasi sekresi dan memfasilitasi ekspansi paru. Pemantauan suara napas dan saturasi oksigen harus dilakukan secara ketat. Intervensi fisioterapi dada dan manajemen jalan napas proaktif diperlukan untuk mencegah komplikasi pernapasan yang dapat memperburuk kondisi neurologis dan sistemik pasien.
Kondisi: Penurunan Kesadaran (E4V-M1) dan Risiko Komplikasi pada Pasien Pasca Stroke dengan Infark Cerebri dan Komorbid
Kode SDKI: 0030
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Bebas dari infeksi. Intervensi Keperawatan: 1) Monitor tanda dan gejala infeksi. 2) Lakukan cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan. 3) Pertahankan teknik aseptik dan steril sesuai prosedur. 4) Lakukan perawatan luka jika ada. 5) Kolaborasi pemberian terapi antibiotik jika diperlukan.
Kode SIKI: 2801, 2803, 2810
Deskripsi : 2801: Pengendalian Infeksi. 2803: Perawatan Luka. 2810: Pemantauan Tanda Infeksi. Penjelasan: Pasien memiliki beberapa faktor risiko infeksi yang sangat tinggi: penurunan kesadaran, status pasca stroke dengan imobilisasi, komorbid Diabetes Melitus (GDS 221 mg/dL menunjukkan hiperglikemia yang memperburuk imunitas), dan adanya infeksi aktif yang ditandai dengan "perdarahan pervaginam" yang mungkin terkait infeksi. Hiperglikemia pada DM menghambat fungsi leukosit dan menjadi media pertumbuhan mikroorganisme. Imobilisasi meningkatkan risiko infeksi saluran kemih dan dekubitus. Intervensi keperawatan harus fokus pada pencegahan infeksi nosokomial melalui hand hygiene ketat, perawatan kateter (jika terpasang) dan area genitalia dengan teknik bersih, serta pemantauan ketat tanda-tanda sistemik infeksi seperti demam, leukositosis (walaupun leukosit dalam batas normal, perlu tren pengamatan), dan perubahan sekresi. Kolaborasi untuk manajemen antibiotik dan kontrol gula darah sangat penting.
Kondisi: Penurunan Kesadaran (E4V-M1) dan Risiko Komplikasi pada Pasien Pasca Stroke dengan Infark Cerebri dan Komorbid
Kode SDKI: 0023
Deskripsi Singkat: Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SLKI: 1301
Deskripsi : Kebutuhan nutrisi terpenuhi. Intervensi Keperawatan: 1) Monitor asupan dan output nutrisi. 2) Timbang berat badan secara teratur. 3) Berikan nutrisi sesuai kebutuhan dan toleransi. 4) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan kebutuhan nutrisi. 5) Berikan pendidikan kesehatan pada keluarga tentang pemenuhan nutrisi.
Kode SIKI: 4101, 4103, 4104
Deskripsi : 4101: Manajemen Nutrisi. 4103: Pemberian Nutrisi Enteral. 4104: Pemberian Nutrisi Parenteral. Penjelasan: Pasien dengan penurunan kesadaran (E4V-M1) tidak dapat memenuhi kebutuhan nutrisi secara mandiri dan berisiko tinggi mengalami malnutrisi. Data lab menunjukkan anemia berat (Hb awal 5.13) yang mungkin nutrisional atau kronis, serta hipoalbuminemia (AL: 7.31) yang mengindikasikan defisit protein. Komorbid DM juga memerlukan pengaturan nutrisi yang ketat. Nutrisi yang adekuat sangat penting untuk penyembuhan, pencegahan infeksi, dan pemulihan neurologis. Intervensi keperawatan harus mencakup pemantauan status nutrisi, kolaborasi untuk pemasangan NGT jika aman (perhatikan refleks menelan yang menurun), pemberian diet enteral sesuai program, dan monitoring toleransi serta kadar gula darah. Edukasi keluarga mengenai pentingnya nutrisi dan perawatan NGT juga merupakan bagian integral.
Kondisi: Penurunan Kesadaran (E4V-M1) dan Risiko Komplikasi pada Pasien Pasca Stroke dengan Infark Cerebri dan Komorbid
Kode SDKI: 0029
Deskripsi Singkat: Risiko Cedera
Kode SLKI: 1901
Deskripsi : Bebas dari cedera. Intervensi Keperawatan: 1) Identifikasi faktor risiko cedera. 2) Monitor lingkungan untuk meminimalkan bahaya. 3) Gunakan restrain fisik atau kimia sesuai kebijakan jika diperlukan. 4) Ajarkan klien dan keluarga tentang pencegahan cedera. 5) Lakukan mobilisasi dengan bantuan sesuai kemampuan.
Kode SIKI: 0740, 0741
Deskripsi : 0740: Pencegahan Cedera. 0741: Penggunaan Restrain. Penjelasan: Pasien dengan penurunan kesadaran, kelemahan umum (KU lemah), dan defisit neurologis (nistagmus, penurunan refleks) memiliki risiko cedera yang sangat tinggi, terutama jatuh dari tempat tidur, aspirasi, atau trauma akibat kejang (walaupun tidak dilaporkan, tetap merupakan risiko pada stroke). Ketidakmampuan melakukan gerakan volunter dan penurunan kewaspadaan membuat pasien tidak dapat melindungi dirinya sendiri. Intervensi keperaw
Article No. 23807 | 25 Jan 2026
Klinis : Pasien mengatakan, tangannya bengkak di area infusan
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Flebitis dan Tromboflebitis terkait prosedur infus intravena
Kode ICD-10: T80.2XXA
Deskripsi Singkat : Kondisi ini mengacu pada peradangan (flebitis) dan/atau pembentukan bekuan darah (tromboflebitis) pada vena yang secara langsung terkait dengan pemasangan dan penggunaan jalur infus intravena (IV). Gejalanya meliputi pembengkakan, kemerahan, nyeri, dan teraba hangat di sepanjang jalur vena tempat kanula infus terpasang. Kode T80.2XXA termasuk dalam bab "Konsekuensi akibat prosedur pembedahan dan perawatan medis, tidak diklasifikasikan di tempat lain". Kode ini secara spesifik menandai komplikasi infus, transfusi, dan injusi terapeutik, dengan karakter 'A' menunjukkan kunjungan/kejadian awal. Penggunaan kode ini tepat karena menggambarkan komplikasi iatrogenik (akibat tindakan medis) dari terapi cairan atau obat melalui infus. Penting untuk membedakannya dari infeksi (yang mungkin memerlukan kode tambahan) dan flebitis yang tidak terkait prosedur medis. Kode ini membantu dalam pelacakan kejadian tidak diharapkan, evaluasi kualitas perawatan, dan manajemen risiko di fasilitas kesehatan.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
Article No. 23797 | 24 Jan 2026
Klinis : Mahasiswa melakukan kunjungan ke keluarga Tn. A (28 th) dan Ny. B (26 th). Mereka memiliki seorang anak perempuan, An. S, berusia 3 tahun. Ny. B mengatakan An. S sangat aktif dan sering memanjat kursi, namun Ny. B merasa khawatir dan sering melarang anak bermain karena takut terjatuh. Ny. B mengatakan ingin tahu lebih banyak tentang cara mendidik anak agar mandiri tapi tetap aman. Hasil observasi: An. S tampak sehat, BB: 14 kg, namun saat diajak bicara, anak masih sering menggunakan bahasa isyarat untuk meminta sesuatu. Ny. B bertanya, "Apakah normal di usia 3 tahun bicaranya belum lancar?"
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: ```html
Diagnosa Keperawatan, Luaran, dan Intervensi Berdasarkan SDKI, SLKI, dan SIKI
Berdasarkan kondisi pasien yang dijelaskan, berikut adalah analisis dan perumusan diagnosa keperawatan, luaran keperawatan, serta intervensi keperawatan yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) melalui standar SDKI, SLKI, dan SIKI.
Ringkasan Kondisi Pasien:
- Keluarga Tn. A (28 th) dan Ny. B (26 th) dengan An. S (3 th).
- Ny. B khawatir An. S aktif memanjat kursi dan sering melarang karena takut terjatuh.
- Ny. B ingin tahu cara mendidik anak agar mandiri tapi tetap aman.
- An. S tampak sehat, BB: 14 kg.
- An. S usia 3 tahun masih sering menggunakan bahasa isyarat untuk meminta sesuatu.
- Ny. B bertanya, "Apakah normal di usia 3 tahun bicaranya belum lancar?"
Pengantar SDKI, SLKI, SIKI
Sebagai perawat profesional, penggunaan standar diagnosa, luaran, dan intervensi keperawatan adalah krusial untuk memastikan asuhan keperawatan yang sistematis, komprehensif, dan berbasis bukti. PPNI telah mengembangkan:
- Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI): Merupakan panduan untuk merumuskan diagnosis keperawatan yang akurat berdasarkan data pasien.
- Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI): Menetapkan tujuan dan kriteria hasil yang terukur untuk mengevaluasi efektivitas intervensi keperawatan.
- Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI): Menyediakan daftar tindakan keperawatan yang spesifik dan terstandar untuk mencapai luaran yang diharapkan.
Ketiga standar ini saling terkait dan membentuk kerangka kerja yang terintegrasi dalam proses keperawatan.
1. Diagnosa Keperawatan (SDKI)
Berdasarkan data yang terkumpul, terdapat dua masalah utama yang dapat diangkat menjadi diagnosa keperawatan:
1.1. Defisit Pengetahuan (D.0111)