Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 23840 | 28 Jan 2026
Klinis : pasien dengan diagnosis SH dan hidrosefalus obstruktif B1: pasien terpasang NRBM 15 rpm, terdapat sputum, ada sesak dan batuk B2: TD: 129/77 mmhg, HR: 93x/menit, RR: 15x / menit, Suhu 35 derajat, SPO2: 96 B3: E: 1 V: 1 M: 3 SOPOR B4: terpasang DC B5: terpasang NGT B6: kesan estermitas tampak lemah semua
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Keadaan dimana terjadi ketidakseimbangan antara suplai oksigen dan kebutuhan oksigen tubuh, serta ketidakmampuan tubuh untuk mengeliminasi karbon dioksida secara adekuat, yang dapat mengancam integritas seluler dan fungsi organ.
Kode SLKI: L.04001
Deskripsi : Pertukaran gas membaik. Ditandai dengan: 1) Nilai analisis gas darah arteri dalam rentang normal; 2) Saturasi oksigen (SpO2) dalam rentang normal; 3) Tidak ada tanda distress pernapasan (seperti sesak napas, penggunaan otot bantu napas, sianosis); 4) Bunyi napas bersih/tidak ada suara tambahan; 5) Tingkat kesadaran baik.
Kode SIKI: I.04001
Deskripsi : Intervensi untuk meningkatkan pertukaran gas meliputi: 1) Memonitor status pernapasan (frekuensi, irama, kedalaman, upaya napas) dan tanda vital secara teratur; 2) Memonitor saturasi oksigen (SpO2) secara kontinu atau berkala; 3) Memonitor hasil analisis gas darah arteri; 4) Mengatur posisi pasien semi-Fowler atau tinggi untuk memudahkan ekspansi paru; 5) Memberikan terapi oksigen sesuai program dan memonitor efektivitasnya; 6) Melakukan fisioterapi dada (seperti latihan napas dalam, batuk efektif, postural drainage, perkusi, vibrasi) sesuai indikasi; 7) Melakukan penghisapan lendir (suction) jalan napas untuk menjaga patensi; 8) Mempertahankan patensi jalan napas; 9) Mengajarkan dan mendorong latihan napas dalam dan batuk efektif; 10) Memonitor tingkat kesadaran dan tanda-tanda hipoksia/ hiperkapnia; 11) Kolaborasi pemberian bronkodilator atau obat lain sesuai program; 12) Menjaga lingkungan yang nyaman dan udara bersih.
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0002
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan patensi jalan napas, yang dapat disebabkan oleh peningkatan produksi sekret, penurunan kemampuan batuk, atau obstruksi mekanis.
Kode SLKI: L.04002
Deskripsi : Bersihan jalan napas efektif. Ditandai dengan: 1) Jalan napas paten; 2) Suara napas bersih (vesikuler); 3) Tidak ada suara napas tambahan (ronkhi, wheezing); 4) Mampu mengeluarkan sekret secara mandiri atau dengan bantuan; 5) Tidak menunjukkan tanda distress pernapasan; 6) Nilai analisis gas darah dalam batas normal.
Kode SIKI: I.04002
Deskripsi : Intervensi untuk mempertahankan bersihan jalan napas meliputi: 1) Mengkaji status pernapasan (suara napas, frekuensi, irama, adanya sekret); 2) Memonitor tanda-tanda obstruksi jalan napas (mengi, stridor, retraksi); 3) Melakukan penghisapan lendir (suction) pada jalan napas atas dan/atau bawah sesuai indikasi dengan teknik steril; 4) Mengatur posisi pasien (semi-Fowler, side lying) untuk memudahkan drainase sekret dan ekspansi paru; 5) Melakukan fisioterapi dada (postural drainage, perkusi, vibrasi) sesuai kondisi pasien; 6) Memberikan nebulisasi atau terapi uap untuk mengencerkan sekret; 7) Mempertahankan hidrasi adekuat (cairan parenteral atau via NGT) untuk mengencerkan sekret; 8) Melakukan latihan napas dalam dan batuk efektif (jika pasien kooperatif) atau batuk dibantu; 9) Memonitor karakteristik sputum (jumlah, warna, konsistensi, bau); 10) Mempertahankan kelembaban udara/oksigen yang dihirup; 11) Kolaborasi pemberian mukolitik, ekspektoran, atau bronkodilator sesuai program; 12) Meningkatkan mobilisasi sesuai toleransi.
Kondisi: Penurunan Kesadaran
Kode SDKI: D.0014
Deskripsi Singkat: Keadaan penurunan kemampuan seseorang untuk menerima dan merespons rangsangan dari lingkungan, yang bervariasi mulai dari konfus ringan hingga koma, akibat gangguan pada sistem saraf pusat.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Tingkat kesadaran membaik. Ditandai dengan: 1) Respon terhadap rangsang verbal dan nyeri sesuai tingkat kesadaran; 2) Skor GCS/EVM mendekati atau mencapai 15/15; 3) Fungsi kognitif (orientasi, memori, konsentrasi) membaik; 4) Mampu berkomunikasi dengan jelas; 5) Tidak ada tanda peningkatan tekanan intrakranial.
Kode SIKI: I.08001
Deskripsi : Intervensi untuk mengatasi penurunan kesadaran meliputi: 1) Memonitor dan mencatat tingkat kesadaran secara teratur menggunakan skala GCS atau AVPU; 2) Memonitor tanda vital (TD, Nadi, RR, Suhu) dan tanda peningkatan tekanan intrakranial (sakit kepala, muntah proyektil, penurunan kesadaran, perubahan pupil); 3) Memonitor ukuran, kesamaan, dan reaksi pupil terhadap cahaya; 4) Mempertahankan posisi kepala tempat tidur 30 derajat (kecuali kontraindikasi) untuk meningkatkan drainase vena serebral; 5) Menjaga patensi jalan napas, mencegah aspirasi (posisi lateral, penghisapan rutin); 6) Memberikan stimulasi sensorik yang tepat (berbicara, sentuhan, memutar posisi); 7) Melakukan perawatan mata dan mulut untuk mencegah kekeringan dan infeksi; 8) Melakukan perawatan kulit secara ketat dan perubahan posisi setiap 2 jam untuk mencegah dekubitus; 9) Mempertahankan kebutuhan nutrisi dan cairan melalui NGT sesuai program; 10) Melakukan latihan rentang gerak pasif untuk mencegah kontraktur; 11) Melindungi pasien dari cedera (pemasangan pengaman tempat tidur, menghindari restraint); 12) Berkomunikasi dengan pasien saat melakukan tindakan, mengasumsikan pasien dapat mendengar; 13) Kolaborasi pemberian terapi untuk menurunkan TIK sesuai program.
Kondisi: Risiko Ketidakstabilan Suhu Tubuh
Kode SDKI: D.0017
Deskripsi Singkat: Keadaan dimana seseorang berisiko mengalami ketidakmampuan mempertahankan suhu tubuh dalam rentang normal (36-37,5°C) akibat faktor internal atau eksternal.
Kode SLKI: L.06001
Deskripsi : Suhu tubuh stabil. Ditandai dengan: 1) Suhu tubuh dalam rentang normal (36-37,5°C); 2) Tidak ada menggigil atau berkeringat berlebihan; 3) Denyut nadi dan frekuensi pernapasan dalam rentang normal; 4) Kulit teraba hangat dan kering.
Kode SIKI: I.06001
Deskripsi : Intervensi untuk mencegah ketidakstabilan suhu tubuh meliputi: 1) Memonitor suhu tubuh secara teratur (setiap 2-4 jam atau sesuai kondisi); 2) Memonitor tanda vital lain (denyut nadi, pernapasan, tekanan darah) yang dapat berubah seiring perubahan suhu; 3) Mengidentifikasi faktor risiko penyebab hipotermia/ hipertermia (infeksi, lingkungan, gangguan neurologis); 4) Memberikan lingkungan yang nyaman (suhu ruangan optimal, hindari angin langsung); 5) Memberikan selimut hangat atau alat pemanas (untuk hipotermia) dengan hati-hati untuk mencegah luka bakar; 6) Mempertahankan kelembaban tubuh yang adekuat (cairan IV/NGT); 7) Mengatur pakaian/bedong pasien sesuai suhu lingkungan; 8) Memonitor tanda-tanda infeksi sebagai penyebab demam; 9) Melakukan kompres hangat/dingin sesuai indikasi dan program; 10) Kolaborasi pemberian antipiretik atau antibiotik sesuai program; 11) Memberikan edukasi pada keluarga tentang tanda-tanda ketidakstabilan suhu dan upaya pencegahannya.
Kondisi: Gangguan Mobilitas Fisik
Kode SDKI: D.0045
Deskripsi Singkat: Keterbatasan dalam pergerakan fisik secara mandiri dan bertujuan yang dipengaruhi oleh kondisi neurologis, muskuloskeletal, atau penurunan kesadaran.
Kode SLKI: L.02001
<>Deskripsi : MobArticle No. 23841 | 28 Jan 2026
Klinis : pasien dengan diagnosis SH dan hidrosefalus obstruktif B1: pasien terpasang NRBM 15 rpm, terdapat sputum, ada sesak dan batuk B2: TD: 129/77 mmhg, HR: 93x/menit, RR: 15x / menit, Suhu 35 derajat, SPO2: 96 B3: E: 1 V: 1 M: 3 SOPOR B4: terpasang DC B5: terpasang NGT B6: kesan estermitas tampak lemah semua
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Stroke Hemoragik (SH) dengan Hidrosefalus Obstruktif
Kode ICD-10: I61.9 dan G91.1
Deskripsi Singkat : Kondisi pasien ini merupakan kasus neurologis kompleks yang melibatkan dua diagnosis utama. Kode I61.9 mengindikasikan "Stroke hemoragik intraserebral, tidak spesifik", yang merujuk pada perdarahan aktif di dalam jaringan otak (parenkim) yang menyebabkan defisit neurologis berat, seperti penurunan kesadaran hingga sopor (E1V1M3) dan kelemahan ekstremitas. Perdarahan ini diduga menyebabkan penyumbatan aliran cairan serebrospinal (CSF), sehingga memicu kondisi kedua, yaitu hidrosefalus obstruktif (G91.1). Hidrosefalus tipe ini terjadi karena aliran CSF terhambat setelah keluar dari ventrikel, seringkali akibat bekuan darah atau kompresi dari perdarahan itu sendiri, yang menyebabkan penumpukan cairan di dalam otak, meningkatkan tekanan intrakranial, dan memperburuk gejala neurologis seperti penurunan kesadaran. Tatalaksana darurat meliputi stabilisasi pernapasan (dibantu NRBM), pemantauan ketat tanda vital, serta persiapan untuk intervensi seperti pemasangan drainase ventrikel eksternal (DC) untuk mengurangi tekanan dan dekompresi otak, serta pemberian nutrisi melalui NGT. Kedua kode ini mencerminkan hubungan sebab-akibat patologis di mana stroke hemoragik (I61.9) adalah penyebab primer dari komplikasi hidrosefalus obstruktif sekunder (G91.1).
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
Article No. 23842 | 28 Jan 2026
Klinis : pasien anemia membutuhkan transfusi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Pasien Anemia Membutuhkan Transfusi Darah
Kode SDKI: 00006
Deskripsi Singkat: Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Manajemen Transfusi Darah
Kode SIKI: 4201
Deskripsi : Pemantauan Tanda Vital
Penjelasan Lengkap SDKI, SLKI, dan SIKI:
Diagnosa Keperawatan (SDKI - Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia): Kode SDKI 00006 adalah "Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan". Definisinya adalah suatu kondisi dimana individu berisiko mengalami penurunan, peningkatan, atau perpindahan cepat cairan intravaskular, interstisial, dan/atau intraselular. Pada pasien anemia yang membutuhkan transfusi, risiko ini sangat relevan. Anemia sendiri, terutama yang berat, dapat mengganggu kemampuan darah mengangkut oksigen dan secara tidak langsung mempengaruhi dinamika cairan dan perfusi jaringan. Tindakan transfusi darah itu sendiri merupakan intervensi langsung terhadap volume dan komposisi cairan intravaskular. Risiko ketidakseimbangan volume dapat berupa kelebihan beban sirkulasi (TACO - Transfusion Associated Circulatory Overload) jika cairan diberikan terlalu cepat atau volumenya berlebihan, terutama pada pasien dengan komorbiditas jantung atau ginjal. Di sisi lain, reaksi transfusi seperti reaksi anafilaktik atau hemolitik dapat menyebabkan perpindahan cairan cepat dan syok. Oleh karena itu, menetapkan diagnosa ini memfokuskan perhatian perawat pada pemantauan ketat keseimbangan cairan sebelum, selama, dan setelah transfusi untuk mencegah komplikasi yang mengancam jiwa.
Luaran Keperawatan (SLKI - Standar Luaran Keperawatan Indonesia): Kode SLKI 1401 adalah "Manajemen Transfusi Darah". Luaran ini didefinisikan sebagai tindakan pemberian darah atau produk darah dan pemantauan efek sampingnya. Ini adalah luaran yang paling spesifik dan langsung terkait dengan intervensi utama yang dibutuhkan pasien. Tujuan dari luaran ini adalah memastikan transfusi darah berjalan aman, efektif, dan sesuai protokol. Cakupannya sangat komprehensif, dimulai dari persiapan seperti memverifikasi order dokter, memeriksa kecocokan darah (crossmatch), memastikan informed consent, mempersiapkan alat (seperti infus dan filter khusus), hingga melakukan pemeriksaan tanda vital dasar. Selama pelaksanaan, perawat bertanggung jawab memulai transfusi dengan kecepatan yang tepat (biasanya lambat di awal), memantau pasien secara ketat untuk mendeteksi tanda-tanda reaksi dini, dan mengatur kecepatan aliran sesuai toleransi pasien. Setelah transfusi, perawat juga bertugas mendokumentasikan semua parameter, memantau respons klinis (perbaikan gejala anemia), dan menangani sisa produk darah serta peralatan dengan benar. Mencapai luaran ini secara optimal berarti seluruh proses transfusi, dari hulu ke hilir, dikelola dengan standar keselamatan pasien yang tinggi.
Intervensi Keperawatan (SIKI - Standar Intervensi Keperawatan Indonesia): Kode SIKI 4201 adalah "Pemantauan Tanda Vital". Definisinya adalah pengumpulan dan analisis data kardiovaskular, pernapasan, dan suhu tubuh untuk menentukan dan mencegah komplikasi. Dalam konteks pasien anemia yang menjalani transfusi, intervensi ini merupakan tindakan kritis dan wajib yang mendukung langsung tercapainya SLKI Manajemen Transfusi Darah dan mengelola risiko dari SDKI Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan. Pemantauan tanda vital dilakukan secara ketat dengan frekuensi yang telah ditetapkan protokol (misalnya, sebelum memulai, 15 menit setelah mulai, kemudian setiap jam, dan setelah transfusi selesai). Parameter yang dipantau meliputi: Suhu (peningkatan bisa menjadi tanda awal reaksi febris non-hemolitik atau infeksi), Denyut Nadi (takikardia bisa tanda kecemasan, nyeri, reaksi anafilaksis, atau kelebihan beban cairan; bradikardia bisa terjadi pada reaksi hemolitik berat), Frekuensi Pernapasan (peningkatan atau distress napas adalah tanda utama kelebihan beban cairan/TACO atau reaksi anafilaksis), dan Tekanan Darah (hipotensi dapat mengindikasikan reaksi hemolitik atau anafilaksis, sedangkan hipertensi dapat memperberat risiko kelebihan beban). Pemantauan yang cermat dan berkelanjutan memungkinkan deteksi dini reaksi transfusi yang merugikan. Jika ditemukan kelainan, perawat harus segera menghentikan transfusi, menjaga patensi jalur intravena dengan cairan normal saline, melaporkan kepada dokter, dan memberikan tindakan darurat sesuai kebutuhan. Dengan demikian, intervensi pemantauan tanda vital bukan sekadar rutinitas, tetapi merupakan garis pertahanan pertama untuk keselamatan pasien selama terapi transfusi berlangsung.
Article No. 23843 | 28 Jan 2026
Klinis : Keluarga Tn. Hasan (65 tahun), pensiunan pegawai negeri, tinggal bersama istrinya Ny. Sari (60 tahun, ibu rumah tangga) dan anak bungsu mereka An. Rina (28 tahun, karyawan swasta) di Perumahan Griya Sehat, Kelurahan Suka Maju. Tn. Hasan telah menderita hipertensi stadium 2 selama 8 tahun terakhir dengan tekanan darah yang tidak terkontrol (terakhir 175/100 mmHg) dan baru didiagnosis diabetes melitus tipe 2 enam bulan lalu dengan kadar gula darah puasa 185 mg/dL. Meskipun telah mendapatkan resep obat kombinasi antihipertensi (Amlodipin 5 mg dan Valsartan 80 mg) serta Metformin 500 mg dua kali sehari, Tn. Hasan hanya minum obat secara tidak teratur—biasanya hanya ketika merasakan gejala pusing berdenyut atau penglihatan kabur. Ia sering mengeluh "bosan minum obat seumur hidup" dan khawatir tentang efek samping obat terhadap ginjalnya. Pola makan keluarga masih sangat tinggi natrium; Ny. Sari terbiasa menggunakan garam, penyedap rasa (MSG), dan kecap asin dalam jumlah banyak saat memasak, dengan alasan "masakan jadi lebih gurih dan suami lebih lahap". Keluarga juga sering mengonsumsi makanan tinggi lemak jenuh seperti gorengan, sosis, dan makanan kaleng, serta memiliki kebiasaan minum teh manis kental 3-4 gelas sehari. An. Rina yang seharusnya dapat membantu mengingatkan ayahnya, justru sibuk dengan pekerjaannya dan kurang terlibat dalam pemantauan kesehatan orang tuanya. Keluarga tidak memiliki alat pengukur tekanan darah atau glukometer di rumah, tidak pernah mencatat perkembangan kesehatan, dan memiliki persepsi yang keliru bahwa "hipertensi dan diabetes adalah penyakit biasa orang tua yang tidak perlu dikhawatirkan selama tidak ada gejala berat", padahal ayah kandung Tn. Hasan pernah mengalami stroke fatal di usia 68 tahun. Lingkungan rumah cukup bersih namun tidak mendukung gaya hidup sehat; tidak ada area untuk berolahraga ringan dan lemari obat berantakan tanpa pengaturan yang jelas.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Hipertensi Esensial (Primer) Tidak Terkontrol dan Diabetes Melitus Tipe 2 Tidak Terkontrol
Kode ICD-10: I10 (Hipertensi esensial (primer)) dan E11.9 (Diabetes melitus tipe 2, tanpa komplikasi)
Deskripsi Singkat : Berdasarkan narasi, Tn. Hasan memiliki dua diagnosis kronis utama. Pertama, **Hipertensi Esensial (I10)**, yang ditandai dengan tekanan darah tinggi persisten (terakhir 175/100 mmHg) tanpa penyebab sekunder yang jelas, telah berlangsung 8 tahun dan termasuk dalam stadium 2. Kode I10 mencakup hipertensi maligna, benigna, dan sistemik. Kondisi ini tidak terkontrol karena ketidakpatuhan minum obat (Amlodipin & Valsartan) dan pola diet tinggi natrium. Kedua, **Diabetes Melitus Tipe 2 (E11.9)**, gangguan metabolisme glukosa yang baru didiagnosis 6 bulan lalu dengan kadar gula darah puasa 185 mg/dL. Kode E11.9 digunakan karena belum dilaporkan adanya komplikasi spesifik (seperti retinopati, nefropati, atau neuropati). Kondisi ini juga tidak terkontrol akibat ketidakpatuhan terhadap Metformin dan pola konsumsi gula (teh manis). Kedua kode ini merefleksikan kondisi kronis yang memerlukan manajemen jangka panjang. Faktor risiko kuat (riwayat stroke ayah, pola makan keluarga, ketidakpatuhan, dan kurangnya pemantauan) sangat meningkatkan risiko komplikasi kardiovaskular dan kerusakan organ target (seperti ginjal, mata, jantung, dan otak) di masa depan.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
Article No. 23827 | 27 Jan 2026
Klinis : intervensi untuk gangguan rasa nyaman
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Intervensi untuk Gangguan Rasa Nyaman
Kode ICD-10: Z53.9
Deskripsi Singkat : Kode Z53.9 mengindikasikan bahwa seseorang telah menghubungi layanan kesehatan untuk suatu prosedur atau intervensi yang tidak dilaksanakan karena alasan tertentu, dengan alasan yang tidak disebutkan secara spesifik. Dalam konteks 'intervensi untuk gangguan rasa nyaman', ini merujuk pada situasi di mana rencana perawatan (seperti terapi manajemen nyeri, konseling, atau intervensi non-farmakologis lainnya) yang ditujukan untuk mengatasi ketidaknyamanan pasien tidak jadi dilakukan. Kode ini termasuk dalam bab 'Faktor-faktor yang mempengaruhi status kesehatan dan kontak dengan layanan kesehatan', yang mencatat alasan kontak dengan sistem kesehatan di luar penyakit atau cedera. Penggunaannya penting untuk pelacakan administratif dan statistik, menunjukkan bahwa meskipun ada kebutuhan yang teridentifikasi (gangguan rasa nyaman), intervensi yang direncanakan tidak terlaksana. Hal ini dapat terjadi karena berbagai faktor seperti penolakan pasien, kontraindikasi yang baru ditemukan, atau keterbatasan sumber daya. Kode ini membantu dalam melengkapi gambaran perjalanan perawatan pasien dan alasan di balik keputusan klinis.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
Article No. 23828 | 27 Jan 2026
Klinis : Pasien mengeluh nyeri, wajah meringis, posisi tubuh tidak rileks, skala nyeri 6 selama 7 bulan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 0016
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut (International Association for the Study of Pain); onset mendadak atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau diprediksi dan durasi kurang dari 6 bulan.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : SLKI 1401: Kontrol Nyeri. Pasien mampu mengontrol nyeri. Kriteria hasil: 1) Menyatakan nyeri terkontrol. 2) Mengenali faktor pencetus. 3) Melaporkan tidak adanya perilaku yang menunjukkan nyeri (seperti meringis, mengaduh, gelisah). 4) Menggunakan teknik nonfarmakologis untuk mengatasi nyeri. 5) Menggunakan analgesik sesuai resep. 6) Mempertahankan aktivitas sesuai kemampuan. 7) Tidur/istirahat dengan cukup. 8) Fungsi fisik membaik (seperti nafsu makan, mobilitas).
Kode SIKI: 4410
Deskripsi : SIKI 4410: Manajemen Nyeri. Tindakan untuk meringankan atau mengurangi nyeri hingga tingkat yang dapat ditoleransi pasien. Kegiatan: 1) Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif meliputi lokasi, karakteristik, onset, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas/skala nyeri, dan faktor pencetus/pemberat. 2) Observasi tanda-tanda nonverbal dari ketidaknyamanan (perilaku seperti ekspresi wajah, posisi tubuh, gelisah, menangis, menarik diri). 3) Kaji faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi/respon nyeri (budaya, situasi, pengalaman masa lalu, makna nyeri). 4) Tentukan dampak nyeri terhadap fungsi (tidur, nafsu makan, aktivitas, hubungan, emosi). 5) Berikan lingkungan yang tenang dan nyaman. 6) Kolaborasi pemberian farmakologis (analgesik) sesuai indikasi, pantau efektivitas dan efek samping. 7) Ajarkan dan bantu penggunaan teknik nonfarmakologis (distraksi, relaksasi napas dalam, imajinasi terbimbing, kompres hangat/dingin, masase, musik terapi). 8) Lakukan reposisi/posisi yang nyaman. 9) Libatkan keluarga dalam manajemen nyeri. 10) Evaluasi dan dokumentasi respons pasien terhadap intervensi.
Article No. 23829 | 27 Jan 2026
Klinis : tingkat nyeri
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Nyeri, tidak spesifik
Kode ICD-10: R52
Deskripsi Singkat : Kode R52 dalam ICD-10 mengklasifikasikan nyeri yang tidak dapat dikategorikan di tempat lain atau di mana lokasi dan penyebab pastinya belum ditentukan. Ini adalah kode gejala, bukan diagnosis penyakit. Istilah "nyeri" mencakup sensasi tidak menyenangkan yang berkisar dari ketidaknyamanan ringan hingga penderitaan berat, dan dapat bersifat akut atau kronik. Penggunaan kode ini tepat ketika nyeri merupakan alasan utama kontak dengan layanan kesehatan, tetapi penyebab pastinya masih dalam penyelidikan atau tidak diklasifikasikan di bawah kode yang lebih spesifik (seperti nyeri kepala, nyeri perut, atau nyeri terkait kanker). Dalam praktik klinis, kode ini sering digunakan sementara sambil menunggu diagnosis yang lebih definitif. Penting untuk mencatat bahwa kode ini memiliki subkategori: R52.0 untuk nyeri akut dan R52.1 untuk nyeri kronis intractable (tidak terkendali), serta R52.2 untuk nyeri kronis lainnya, yang memungkinkan granularitas lebih besar dalam dokumentasi. Pengkodean yang akurat memerlukan penilaian klinis untuk menentukan durasi dan sifat nyeri guna memilih subkode yang paling tepat.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
Article No. 23830 | 27 Jan 2026
Klinis : megeluh Mual ,nafsu makan menurun,nyeri pinggang dan perut kanan bawah,batuk ku lemah, mual,nafsu makan menirun,batuk,nyeri pada pinggang dan perut kanan bawah, px icterik
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0006
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut; onset mendadak atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau diprediksi dan durasi ≤ 3 bulan.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : SLKI L.08001: Kontrol Nyeri. Definisi: Tindakan untuk mengurangi atau menghilangkan sensasi tidak nyaman yang dirasakan akibat cedera jaringan aktual atau potensial. Penjelasan: Pada pasien dengan keluhan nyeri pinggang dan perut kanan bawah, tujuan keperawatan utama adalah mengontrol dan mengurangi pengalaman nyeri tersebut. Intervensi keperawatan akan berfokus pada penilaian nyeri yang komprehensif (skala, lokasi, karakteristik), pemberian terapi farmakologis sesuai instruksi (analgesik), dan penerapan metode non-farmakologis seperti reposisi, teknik distraksi, atau kompres hangat/dingin jika sesuai. Pengelolaan nyeri yang efektif tidak hanya meningkatkan kenyamanan tetapi juga memfasilitasi mobilisasi, meningkatkan nafsu makan, dan mengurangi stres, yang kesemuanya mendukung proses penyembuhan. Evaluasi keberhasilan SLKI ini diukur melalui penurunan skala nyeri yang dilaporkan pasien, penampilan wajah yang lebih rileks, serta kemampuan pasien untuk beristirahat dan berpartisipasi dalam aktivitas perawatan diri.
Kode SIKI: I.08041
Deskripsi : SIKI I.08041: Manajemen Nyeri. Definisi: Tindakan keperawatan dalam melakukan manajemen nyeri. Penjelasan: Ini adalah serangkaian tindakan operasional yang dilakukan perawat untuk mencapai SLKI Kontrol Nyeri. Tindakan-tindakan tersebut meliputi: 1) Melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif menggunakan metode PQRST (Provocation/Palliation, Quality, Region/Radiation, Severity, Time) atau skala numerik/visual. 2) Memantau dan mencatat karakteristik nyeri (lokasi, penyebaran, intensitas, durasi, faktor pemicu dan pereda) secara berkala. 3) Memberikan analgesik sesuai program terapi dokter dan memantau efektivitas serta efek sampingnya. 4) Mengajarkan dan membantu pasien menggunakan teknik non-farmakologis seperti napas dalam, relaksasi, distraksi (misalnya mendengarkan musik), atau imajinasi terbimbing. 5) Melakukan reposisi atau membantu pasien menemukan posisi yang nyaman untuk mengurangi tekanan pada area yang sakit. 6) Memberikan kompres hangat pada area pinggang atau kompres dingin pada area perut (jika tidak ada kontraindikasi seperti apendisitis akut yang dicurigai) sesuai kondisi dan anjuran. 7) Menciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman untuk mendukung istirahat. 8) Melakukan kolaborasi dengan tim kesehatan lain jika nyeri tidak terkontrol. Implementasi SIKI ini harus didokumentasikan dengan baik untuk mengevaluasi efektivitas intervensi dan menjadi dasar penyesuaian rencana keperawatan.
Kondisi: Keseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: D.0027
Deskripsi Singkat: Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolisme.
Kode SLKI: L.03001
Deskripsi : SLKI L.03001: Status Nutrisi. Definisi: Pencapaian keseimbangan antara asupan nutrisi dengan kebutuhan metabolik tubuh. Penjelasan: Pasien mengeluh mual, nafsu makan menurun, dan tampak ikterik (kuning), yang merupakan indikator kuat adanya gangguan pada asupan dan metabolisme nutrisi. Tujuan keperawatan adalah memperbaiki status nutrisi dengan meningkatkan asupan makanan dan cairan. Intervensi diarahkan untuk mengurangi mual, merangsang nafsu makan, dan memastikan pasien menerima nutrisi yang adekuat baik secara oral maupun alternatif jika diperlukan. Pencapaian SLKI ini ditandai dengan peningkatan asupan makanan dari porsi yang ditawarkan, peningkatan atau stabilisasi berat badan, serta perbaikan parameter laboratorium terkait nutrisi (seperti albumin) dan fungsi hati (bilirubin). Status nutrisi yang memadai sangat penting untuk mendukung sistem imun, penyembuhan jaringan, dan energi bagi aktivitas sehari-hari.
Kode SIKI: I.03015
Deskripsi : SIKI I.03015: Manajemen Mual. Definisi: Tindakan keperawatan dalam melakukan manajemen mual. Penjelasan: Tindakan spesifik ini penting untuk mengatasi salah satu penyebab utama penurunan asupan nutrisi. Tindakannya meliputi: 1) Mengkaji faktor penyebab mual (misalnya, nyeri, efek obat, gangguan hati/ikterus). 2) Memberikan obat antiemetik sesuai program terapi dokter dan mengevaluasi efektivitasnya. 3) Memberikan makanan dalam porsi kecil tetapi sering untuk menghindari distensi lambung. 4) Menawarkan makanan kering dan hambar (seperti biskuit, roti) di pagi hari. 5) Menghindari makanan berlemak tinggi, berminyak, atau berbau tajam yang dapat memicu mual. 6) Memastikan lingkungan makan yang bersih, bebas bau tidak sedap, dan nyaman. 7) Menganjurkan pasien untuk duduk tegak atau setengah duduk selama dan setelah makan. 8) Mengajarkan teknik napas dalam dan relaksasi untuk mengatasi sensasi mual. 9) Memantau dan mencatat frekuensi, pemicu, serta karakteristik mual. Dengan mengelola mual secara efektif, diharapkan nafsu makan pasien dapat membaik sehingga asupan nutrisi meningkat.
Kondisi: Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI: D.0091
Deskripsi Singkat: Ketidakcukupan energi fisiologis atau psikologis untuk bertahan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang diperlukan atau diinginkan.
Kode SLKI: L.09001
Deskripsi : SLKI L.09001: Toleransi Aktivitas. Definisi: Kemampuan untuk melakukan aktivitas yang memerlukan energi. Penjelasan: Kombinasi gejala seperti nyeri, mual, nafsu makan menurun, dan batuk (yang mengindikasikan kemungkinan infeksi atau kelemahan umum) dapat menyebabkan pasien mengalami kelelahan dan penurunan toleransi terhadap aktivitas. Tujuan keperawatan adalah meningkatkan toleransi aktivitas secara bertahap sesuai dengan kemampuan pasien. SLKI ini dicapai dengan memastikan pasien dapat melakukan aktivitas perawatan diri (seperti makan, toileting) dengan bantuan minimal, tidak mengalami peningkatan signifikan tanda vital (nadi, tekanan darah, pernapasan) setelah aktivitas, serta melaporkan penurunan rasa lelah. Pendekatan bertahap diperlukan untuk mencegah kelelahan berlebih yang dapat memperlambat pemulihan.
Kode SIKI: I.09005
Deskripsi : SIKI I.09005: Manajemen Energi. Definisi: Tindakan keperawatan dalam mengatur energi untuk mencegah kelelahan dan meningkatkan fungsi. Penjelasan: Tindakan ini meliputi: 1) Mengkaji pola energi pasien (kapan pasien merasa paling lelah atau segar). 2) Merencanakan dan menjadwalkan periode istirahat yang cukup sebelum dan setelah aktivitas yang melelahkan. 3) Membantu pasien dalam aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan, mendorong kemandirian secara bertahap. 4) Mengajarkan teknik penghematan energi, seperti duduk saat mandi atau menyisir rambut, menyelesaikan aktivitas secara perlahan. 5) Memantau respons fisiologis (denyut nadi, pernapasan, tekanan darah) sebelum, selama, dan setelah aktivitas. 6) Meningkatkan aktivitas secara bertahap berdasarkan toleransi pasien, dimulai dari rentang gerak di tempat tidur, duduk di tepi tempat tidur, hingga berjalan jarak pendek. 7) Mengkolaborasikan pemenuhan nutrisi dan manajemen nyeri, karena kedua faktor ini secara langsung memengaruhi tingkat energi pasien. Manajemen energi yang baik membantu mempertahankan fungsi fisik dan mencegah komplikasi imobilisasi.
Article No. 23831 | 27 Jan 2026
Klinis : 1) Ineffective airway clearance based on data persistent cough for two days, shortness of breath especially at night, respiratory rate 22 times per minute, bilateral wheezing on auscultation, symptoms triggered by cold air and physical activity defined by presence of adventitious breath sounds (wheezing), ineffective cough, increased respiratory rate, and reported dyspnea.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: 00031
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang paten.
Kode SLKI: 0410
Deskripsi : Pencapaian bersihan jalan napas yang efektif ditandai dengan: 1) Suara napas bersih/vaskuler terdengar jelas di semua lapang paru, 2) Tidak terdapat suara napas tambahan (mengi, ronki, stridor), 3) Batuk efektif, 4) Lendir/dahak mudah dikeluarkan, 5) Tidak ada atau berkurangnya sesak napas, 6) Frekuensi pernapasan dalam rentang normal sesuai usia, 7) Irama pernapasan teratur, 8) Ekspansi dada simetris, 9) Analisis gas darah dalam rentang normal, 10) Warna kulit dan membran mukosa normal (tidak sianosis), 11) Tingkat kesadaran baik (compos mentis).
Kode SIKI: 3350
Deskripsi : Manajemen jalan napas meliputi tindakan: 1) Monitor status pernapasan (frekuensi, irama, kedalaman, usaha napas), 2) Auskultasi suara napas, catat adanya suara tambahan, 3) Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi (misal: semi fowler, fowler), 4) Ajarkan dan bantu teknik batuk efektif (batuk dalam, huffing), 5) Lakukan fisioterapi dada (postural drainage, perkusi, vibrasi) sesuai indikasi, 6) Lakukan penghisapan lendir (suction) jalan napas atas/bawah sesuai kebutuhan dan protokol, 7) Berikan terapi oksigen sesuai program, 8) Kelola pemberian cairan untuk mengencerkan sekret (kecuali kontraindikasi), 9) Ajarkan penggunaan alat bantu napas (incentive spirometry) sesuai indikasi, 10) Berikan obat bronkodilator dan mukolitik sesuai program terapi, 11) Monitor analisis gas darah (AGD) dan saturasi oksigen (SpO2), 12) Ajarkan manajemen dyspnea (pursed-lip breathing, posisi relaksasi), 13) Lakukan perawatan mulut dan hidung untuk kenyamanan, 14) Edukasi pasien/keluarga tentang tanda-tanda gangguan jalan napas dan kapan harus mencari bantuan.
Article No. 23832 | 27 Jan 2026
Klinis : Nyeri akut
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: