Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 26665 | 19 Aug 2026
Klinis : Acute Coronary Syndrome + Arrhythmia Seorang perempuan 59 tahun dirawat di ICU dengan acute coronary syndrome. Pasien tiba-tiba mengeluh nyeri dada bertambah berat dan merasa sangat lemah. Data monitoring HR: 145 x/menit Rhythm: irregular TD: 82/50 mmHg MAP: 61 mmHg RR: 26 x/menit SpO₂: 93% CRT: 4 detik Urine output: 25 mL/jam Lactate: 3,5 mmol/L ECG: irregular tachyarrhythmia GCS: 13
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Acute Coronary Syndrome (ACS) dengan Aritmia (Irregular Tachyarrhythmia) dan Syok Kardiogenik
Kode SDKI: D.0020 (Penurunan Curah Jantung) dan D.0005 (Nyeri Akut) — Prioritas utama: D.0020
Deskripsi Singkat: Penurunan curah jantung adalah keadaan di mana jumlah darah yang dipompa oleh jantung per menit (cardiac output) tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh. Pada pasien ACS dengan aritmia, kontraksi miokard yang tidak efektif (akibat iskemia) dan irama yang tidak teratur (takiaritmia) menyebabkan penurunan volume sekuncup (stroke volume) dan gangguan pengisian ventrikel. Hal ini mengakibatkan perfusi jaringan yang tidak adekuat, ditandai dengan hipotensi (TD 82/50 mmHg), MAP rendah (61 mmHg), takikardi kompensasi (HR 145x/menit), peningkatan laktat (3,5 mmol/L) sebagai penanda hipoksia jaringan, penurunan urine output (25 mL/jam), capillary refill time (CRT) memanjang (4 detik), dan penurunan kesadaran (GCS 13). Kondisi ini merupakan emergensi yang mengancam jiwa karena dapat berlanjut menjadi syok kardiogenik dan gagal multi organ. Penurunan curah jantung pada pasien ini diperberat oleh aritmia yang mengganggu kontribusi atrium terhadap pengisian ventrikel (atrial kick), sehingga volume akhir diastolik ventrikel kiri menurun dan secara langsung menurunkan cardiac output. Iskemia miokard yang luas juga mengurangi kontraktilitas otot jantung, sehingga kemampuan ventrikel untuk memompa darah ke sirkulasi sistemik sangat berkurang. Akibatnya, terjadi ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen miokard, memperluas area infark, dan menciptakan lingkaran setan yang memperburuk hemodinamik. Tanda-tanda klinis lain yang mendukung diagnosis ini meliputi: SpO₂ 93% yang menunjukkan gangguan oksigenasi perifer, RR 26x/menit sebagai upaya kompensasi tubuh terhadap asidosis metabolik (akibat laktat tinggi), dan kulit yang mungkin teraba dingin dan lembap meskipun tidak disebutkan secara eksplisit. Intervensi keperawatan harus difokuskan pada stabilisasi hemodinamik, optimalisasi oksigenasi, dan pemantauan ketat terhadap tanda-tanda perburukan. Diagnosis ini menjadi prioritas utama karena mengancam kehidupan pasien secara langsung dan membutuhkan tindakan segera. Perawat harus mampu mengidentifikasi perubahan halus pada status hemodinamik dan merespons dengan cepat untuk mencegah henti jantung.
Kode SLKI: L.02008 (Curah Jantung) — Luaran utama yang diharapkan: Peningkatan curah jantung. Luaran tambahan: L.03014 (Perfusi Perifer) dan L.01014 (Tingkat Kesadaran).
Deskripsi : Curah jantung adalah luaran yang menggambarkan kemampuan jantung dalam memompa darah ke seluruh tubuh. Pada pasien ini, kriteria hasil yang diharapkan setelah dilakukan intervensi keperawatan adalah: (1) Tekanan darah dalam rentang normal (sistol ≥ 90 mmHg, MAP ≥ 65 mmHg), (2) Irama jantung kembali normal atau terkontrol tanpa aritmia yang mengancam jiwa (HR 60-100x/menit), (3) Tidak ada gejala angina atau nyeri dada (skala nyeri 0-1), (4) Capillary refill time ≤ 2 detik, (5) Urine output ≥ 0,5 mL/kgBB/jam (sekitar 30 mL/jam untuk pasien 50-60 kg), (6) Laktat serum menurun ke arah normal (< 2,0 mmol/L), (7) Saturasi oksigen ≥ 95% dengan atau tanpa bantuan oksigen, (8) GCS 15 (compos mentis), (9) Tidak ada tanda-tanda edema paru atau distensi vena jugularis, (10) Pasien melaporkan merasa lebih kuat dan tidak lemas. Kriteria hasil ini harus dievaluasi secara berkala (setiap 15-30 menit pada fase akut) dan dicapai dalam waktu 1x24 jam setelah intervensi. Luaran perfusi perifer mencakup: akral hangat, CRT < 3 detik, denyut nadi perifer kuat dan teratur. Luaran tingkat kesadaran mencakup: pasien responsif terhadap rangsang verbal dan orientasi baik. Pencapaian luaran ini memerlukan kolaborasi intensif dengan tim medis untuk pemberian obat inotropik, antiaritmia, dan revaskularisasi. Perawat berperan dalam memantau efektivitas terapi dan melaporkan perubahan status pasien secara real-time.
Kode SIKI: I.02079 (Perawatan Jantung) — Intervensi utama. Intervensi pendukung: I.02080 (Perawatan Sirkulasi) dan I.01019 (Manajemen Aritmia).
Deskripsi : Perawatan jantung adalah serangkaian tindakan keperawatan yang bertujuan untuk meningkatkan curah jantung dan mengoptimalkan fungsi kardiovaskular. Tindakan yang dilakukan meliputi: (1) Identifikasi tanda/gejala penurunan curah jantung (dispnea, kelelahan, edema, peningkatan CVP, penurunan urine output), (2) Monitor hemodinamik secara kontinu: HR, irama EKG, TD, MAP, CVP (jika terpasang), dan saturasi vena campuran (SvO₂), (3) Monitor tanda-tanda perfusi jaringan: CRT, suhu kulit, kekuatan nadi perifer, warna kulit, dan urine output setiap jam, (4) Monitor hasil laboratorium: laktat, troponin, BNP, elektrolit, dan gas darah, (5) Posisikan pasien semi-Fowler (30-45 derajat) untuk mengurangi kerja napas dan meningkatkan ekspansi paru, (6) Berikan oksigen sesuai indikasi (target SpO₂ ≥ 94%) untuk meningkatkan oksigenasi miokard, (7) Kolaborasi pemberian obat-obatan: inotropik (dobutamin, norepinefrin) untuk meningkatkan kontraktilitas dan tekanan perfusi, antiaritmia (amiodaron, lidokain) untuk mengontrol irama, vasodilator (nitrat) jika tidak hipotensi, dan diuretik jika ada tanda kongesti, (8) Batasi aktivitas fisik pasien (bed rest total) untuk mengurangi kebutuhan oksigen miokard, (9) Kelola nyeri dada dengan pemberian analgesik (morfin) sesuai indikasi karena nyeri meningkatkan kerja jantung, (10) Pertahankan suhu tubuh normal (hindari demam) karena demam meningkatkan denyut jantung dan konsumsi oksigen, (11) Kolaborasi untuk persiapan tindakan revaskularisasi (PCI atau trombolisis) sesuai protokol, (12) Monitor efek samping obat dan tanda-tanda toksisitas. Perawatan sirkulasi (I.02080) mencakup: pemantauan ketat input-output cairan, hindari kelebihan cairan yang dapat memberatkan jantung, dan pertahankan kepatenan akses IV. Manajemen aritmia (I.01019) mencakup: identifikasi jenis aritmia melalui EKG 12 lead, monitor ritme secara kontinu, siapkan defibrillator dan obat emergensi di dekat pasien, serta lakukan tindakan resusitasi jika terjadi henti jantung. Semua intervensi ini harus didokumentasikan secara akurat dan dievaluasi efektivitasnya setiap 4 jam atau lebih sering jika kondisi memburuk. Edukasi kepada keluarga mengenai kondisi pasien dan prosedur yang dilakukan juga penting untuk mengurangi kecemasan. Intervensi ini dilakukan secara kolaboratif dengan dokter intensivis, perawat ICU, dan tim kardiologi intervensi.
-
Article No. 26666 | 19 Aug 2026
Klinis : Seorang perempuan usia 20 tahun diantar oleh ayahnya ke IGD RSUD pada hari Minggu 29 Mei 2022 pukul 05.30, dengan keluhan demam hari ke 4 naik turun sepanjang hari sejak 4 HSMRS, disertai pusing, lemas dan mual- muntah sekitar 3x SMRS (± 150 ml) dan 1x saat di IGD, Sekali muntah sekitar 1/4 gelas aqua (± 50 ml) berisi cairan dan sedikit sisa makanan. Keluhan tersebut disertai dengan penurunan nafsu makan, nyeri perut dan nyeri nyeri otot & sendi. Pasien sehari-hari mengkonsumsi makanan masakan rumah dengan sayuran. Berat badan pasien saat ini adalah 45 kg. Pasien merupakan anak ke 2 dengan riwayat kelahiran normal. Usia kehamilan saat kelahiran yaitu 39 minggu dan berat badan pasien saat lahir yaitu 2800 gram, panjang badan 45 cm. Saat lahir pasien menangis kuat, aktif. Riwayat imunisasi pasien mendapatkan imunisasi sesuai usia berdasarkan PPI. Riwayat social ekonomi, penghasilan perbulan Ayah diakui cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untuk keadaan lingkungan sekitar rumah pasien tidak terdapat genangan air maupun jentik nyamuk di rumah. Terdapat selokan di sekitar rumah pasien dengan aliran lancar. Limbah sampah di buang berjarak jauh dari rumah. Pemeriksaan tanda vital pasien keadaan umum pasien sedang tampak lemah, kesadaran compos mentis, tekanan darah normal 112/80 mmHg, denyut nadi 120 kali/menit, respiratory rate 22 kali/menit, suhu tubuh 38.5 °C, dan saturasi oksigen 95% free air. Berat badan yaitu 37 kg, tinggi badan yaitu 140 cm dengan status gizi baik. Pemeriksaan fisik bagian kepala didapatkan normocephal, rambut hitam tidak mudah dicabut, mata cekung (-/-), edem palpebra (+/+), konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), epistaksis (-), mukosa mulut kering (-), gusi berdarah (-), pembesaran KGB (-). Thoraks inspeksi didapatkan dada simetris (+), retraksi intercostae (-/-), fremitus normal (+/+), perkusi sonor di seluruh lapang paru, suara dasar vesikuler (+/+), wheezing (-/-), rhonki (-/-). Abdomen inspeksi distended (-/-), auskultasi bising usus (+), perkusi timpani (+), palpasi supel (+), nyeri tekan (+) kuadran kanan atas dan bawah, ascites (-), turgor kulit baik. Ekstremitas didapatkan akral hangat, CRT < 2 detik, edema (-), petekie (-), sianosis (-). Genitalia dan status neurologis dalam batas normal. Pemeriksaan laboratorium darah lengkap pasien saat di IGD tanggal 29/05/2022 pukul 07.47 WIB menunjukkan hasil leukopenia dan trombositopenia dengan nilai Leukosit 1.8 x 103 /UI (L), HCT 43.3%, Trombosit 118 x 103 /UI (L), Eritrosit 5.48 x 106 /UI (H), Hb 14.4 g/dL, MCV 79.4 fL (L), Neutrofil 70.4% (H), Limfosit 23.4 (L), Monosit 6.60% (H), Eosinofil 0.00 (L).
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Demam Berdarah Dengue (DBD) / Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) tanpa tanda bahaya (suspected)
Kode ICD-10: A91
Deskripsi Singkat : Pasien perempuan usia 20 tahun datang dengan demam hari ke-4 yang naik turun, disertai pusing, lemas, mual-muntah, nyeri perut, nyeri otot dan sendi, serta penurunan nafsu makan. Pemeriksaan fisik menunjukkan keadaan umum sedang, lemah, suhu 38,5°C, takikardia (nadi 120x/menit), edema palpebra (+/+), dan nyeri tekan abdomen di kuadran kanan atas dan bawah. Hasil laboratorium menunjukkan leukopenia (Leukosit 1,8 x 10³/µL) dan trombositopenia (Trombosit 118 x 10³/µL), dengan hematokrit 43,3% serta limfositopenia relatif. Gejala dan temuan laboratorium ini sangat khas untuk infeksi virus dengue, yang pada fase awal (febris) sering sulit dibedakan dengan demam lainnya. Kode A91 digunakan untuk Demam Berdarah Dengue (Dengue Hemorrhagic Fever), yang merupakan bentuk berat dari infeksi virus dengue yang ditandai dengan demam, fenomena hemoragik (seperti trombositopenia), dan kebocoran plasma. Meskipun tidak ada tanda syok atau kebocoran plasma yang jelas (ascites (-), turgor kulit baik, CRT < 2 detik), diagnosis klinis dan laboratorium mengarah pada DBD derajat I atau II. Kode ini juga mencakup kasus yang diduga kuat DBD berdasarkan kriteria klinis dan laboratorium, meskipun konfirmasi serologis (NS1, IgM/IgG) belum tersedia. Penting untuk dicatat bahwa pasien dalam fase kritis potensial (hari ke-4 hingga ke-6) sehingga memerlukan pemantauan ketat terhadap tanda kebocoran plasma, perdarahan, dan syok. Kode ini merupakan kode spesifik untuk DBD dan tidak termasuk demam dengue tanpa komplikasi yang dikodekan sebagai A90.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 26667 | 19 Aug 2026
Klinis : Seorang perempuan usia 20 tahun diantar oleh ayahnya ke IGD RSUD pada hari Minggu 29 Mei 2022 pukul 05.30, dengan keluhan demam hari ke 4 naik turun sepanjang hari sejak 4 HSMRS, disertai pusing, lemas dan mual- muntah sekitar 3x SMRS (± 150 ml) dan 1x saat di IGD, Sekali muntah sekitar 1/4 gelas aqua (± 50 ml) berisi cairan dan sedikit sisa makanan. Keluhan tersebut disertai dengan penurunan nafsu makan, nyeri perut dan nyeri nyeri otot & sendi. Pasien sehari-hari mengkonsumsi makanan masakan rumah dengan sayuran. Berat badan pasien saat ini adalah 45 kg. Pasien merupakan anak ke 2 dengan riwayat kelahiran normal. Usia kehamilan saat kelahiran yaitu 39 minggu dan berat badan pasien saat lahir yaitu 2800 gram, panjang badan 45 cm. Saat lahir pasien menangis kuat, aktif. Riwayat imunisasi pasien mendapatkan imunisasi sesuai usia berdasarkan PPI. Riwayat social ekonomi, penghasilan perbulan Ayah diakui cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untuk keadaan lingkungan sekitar rumah pasien tidak terdapat genangan air maupun jentik nyamuk di rumah. Terdapat selokan di sekitar rumah pasien dengan aliran lancar. Limbah sampah di buang berjarak jauh dari rumah. Pemeriksaan tanda vital pasien keadaan umum pasien sedang tampak lemah, kesadaran compos mentis, tekanan darah normal 112/80 mmHg, denyut nadi 120 kali/menit, respiratory rate 22 kali/menit, suhu tubuh 38.5 °C, dan saturasi oksigen 95% free air. Berat badan yaitu 37 kg, tinggi badan yaitu 140 cm dengan status gizi baik. Pemeriksaan fisik bagian kepala didapatkan normocephal, rambut hitam tidak mudah dicabut, mata cekung (-/-), edem palpebra (+/+), konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), epistaksis (-), mukosa mulut kering (-), gusi berdarah (-), pembesaran KGB (-). Thoraks inspeksi didapatkan dada simetris (+), retraksi intercostae (-/-), fremitus normal (+/+), perkusi sonor di seluruh lapang paru, suara dasar vesikuler (+/+), wheezing (-/-), rhonki (-/-). Abdomen inspeksi distended (-/-), auskultasi bising usus (+), perkusi timpani (+), palpasi supel (+), nyeri tekan (+) kuadran kanan atas dan bawah, ascites (-), turgor kulit baik. Ekstremitas didapatkan akral hangat, CRT < 2 detik, edema (-), petekie (-), sianosis (-). Genitalia dan status neurologis dalam batas normal. Pemeriksaan laboratorium darah lengkap pasien saat di IGD tanggal 29/05/2022 pukul 07.47 WIB menunjukkan hasil leukopenia dan trombositopenia dengan nilai Leukosit 1.8 x 103 /UI (L), HCT 43.3%, Trombosit 118 x 103 /UI (L), Eritrosit 5.48 x 106 /UI (H), Hb 14.4 g/dL, MCV 79.4 fL (L), Neutrofil 70.4% (H), Limfosit 23.4 (L), Monosit 6.60% (H), Eosinofil 0.00 (L).
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan manifestasi klinis demam hari ke-4, mual muntah, nyeri perut, trombositopenia, dan leukopenia.
Kode SDKI: D.0149
Deskripsi Singkat: Hipertermia berhubungan dengan proses penyakit (infeksi virus dengue) yang ditandai dengan suhu tubuh 38,5°C, akral hangat, takikardia (nadi 120x/menit), dan takipnea (RR 22x/menit). Hipertermia adalah keadaan suhu tubuh meningkat melebihi rentang normal (36,5-37,5°C) akibat kegagalan mekanisme pengaturan panas di hipotalamus atau peningkatan produksi panas metabolik. Pada kondisi DBD, virus dengue memicu pelepasan pirogen endogen (interleukin-1, interleukin-6, tumor necrosis factor-alpha) yang mengaktivasi pusat termoregulasi di hipotalamus anterior, sehingga terjadi peningkatan set point suhu tubuh. Demam pada DBD biasanya bifasik (pola pelana kuda), namun pada pasien ini demam hari ke-4 naik turun sepanjang hari menunjukkan fase kritis atau fase defervesensi yang dapat disertai kebocoran plasma. Hipertermia yang berkepanjangan meningkatkan kebutuhan metabolisme basal (peningkatan 10-13% setiap kenaikan 1°C), sehingga memerlukan intervensi untuk menurunkan suhu tubuh dan mencegah komplikasi seperti dehidrasi, kejang demam, dan kerusakan sel akibat panas.
Kode SLKI: L.14134
Deskripsi: Termoregulasi membaik setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, dengan kriteria hasil: (1) Suhu tubuh dalam rentang normal (36,5-37,5°C), (2) Nadi dan respirasi dalam rentang normal (nadi 60-100x/menit, RR 16-20x/menit), (3) Tidak terjadi menggigil, (4) Kulit tidak kemerahan, (5) Pasien melaporkan merasa nyaman, (6) Akral hangat dengan CRT < 2 detik, (7) Kesadaran compos mentis (GCS 15). Termoregulasi yang membaik mengindikasikan kemampuan tubuh untuk mempertahankan keseimbangan panas melalui mekanisme vasodilatasi, vasokonstriksi, berkeringat, dan perubahan perilaku. Pada pasien DBD, normalisasi suhu penting untuk menurunkan kebutuhan oksigen jaringan, mencegah peningkatan beban jantung, dan memfasilitasi proses pemulihan. Keberhasilan termoregulasi juga ditandai dengan penurunan frekuensi nadi dan respirasi menuju rentang normal, serta hilangnya keluhan pusing dan lemas yang sering menyertai demam.
Kode SIKI: I.15506
Deskripsi: Manajemen Hipertermia dilakukan dengan observasi: (1) Identifikasi penyebab hipertermia (proses infeksi virus dengue), (2) Monitor suhu tubuh setiap 4 jam atau lebih sering jika diperlukan (setiap 2 jam pada fase akut), (3) Monitor suhu tubuh eksternal (aksila, oral, rektal) secara konsisten, (4) Monitor warna dan suhu kulit (akral hangat, kemerahan), (5) Monitor tanda-tanda dehidrasi (turgor kulit, membran mukosa, CRT), (6) Monitor komplikasi akibat hipertermia (kejang, penurunan kesadaran, syok). Terapeutik: (1) Berikan kompres hangat pada area pembuluh darah besar (leher, aksila, lipat paha) selama 15-20 menit, (2) Longgarkan atau lepaskan pakaian pasien, (3) Selimuti pasien dengan selimut tipis, (4) Anjurkan pasien untuk banyak minum air putih ± 1,5-2 liter/hari (jika tidak ada kontraindikasi), (5) Kolaborasi pemberian antipiretik (parasetamol 500 mg setiap 6 jam) sesuai indikasi, (6) Kolaborasi pemberian cairan intravena (Ringer Laktat atau NaCl 0,9%) sesuai program dokter untuk mengganti cairan yang hilang dan mencegah syok, (7) Berikan kompres dingin pada dahi dan ketiak jika suhu > 39°C. Edukasi: (1) Jelaskan penyebab hipertermia dan pentingnya pengukuran suhu secara teratur, (2) Ajarkan teknik kompres hangat yang benar dan cara mengukur suhu tubuh, (3) Anjurkan istirahat total (bed rest) untuk menurunkan kebutuhan metabolik, (4) Anjurkan keluarga untuk melaporkan jika suhu tidak turun setelah intervensi atau terjadi tanda bahaya (muntah terus-menerus, nyeri perut hebat, perdarahan).
Kode SDKI: D.0020
Deskripsi Singkat: Defisit Nutrisi berhubungan dengan peningkatan kebutuhan metabolisme akibat infeksi dan penurunan asupan oral yang ditandai dengan mual muntah (± 3x SMRS dan 1x di IGD), penurunan nafsu makan, berat badan 37 kg dengan tinggi badan 140 cm (IMT 18,9 - status gizi baik, namun berisiko menurun), dan muntahan berisi cairan dan sisa makanan. Defisit nutrisi adalah asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh. Pada DBD, kebutuhan metabolisme meningkat karena demam (setiap kenaikan 1°C meningkatkan kebutuhan kalori 10-13%), sedangkan asupan menurun akibat anoreksia, mual, dan muntah. Muntah yang terjadi (± 150 ml SMRS dan 50 ml di IGD) menyebabkan kehilangan cairan, elektrolit (terutama natrium dan kalium), dan asam lambung. Kondisi ini diperberat dengan adanya nyeri perut di kuadran kanan atas dan bawah yang menandakan adanya hepatomegali dan kemungkinan peradangan pada usus akibat infeksi virus dengue. Jika tidak ditangani, defisit nutrisi dapat menyebabkan penurunan berat badan lebih lanjut, kelemahan fisik, penurunan imunitas, dan memperlambat proses penyembuhan.
Kode SLKI: L.03030
Deskripsi: Status Nutrisi membaik setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, dengan kriteria hasil: (1) Asupan makanan oral meningkat (mampu menghabiskan 1/2 porsi dari porsi yang disediakan), (2) Frekuensi muntah menurun (tidak ada muntah dalam 24 jam), (3) Nafsu makan meningkat (pasien menyatakan ingin makan), (4) Berat badan tidak menurun (tetap 37 kg atau meningkat), (5) Tidak terjadi penurunan massa otot, (6) Turgor kulit baik, (7) Pasien tidak mengeluh mual, (8) Nilai laboratorium albumin dan protein total dalam batas normal. Status nutrisi yang baik sangat penting untuk mendukung sistem imun dalam melawan infeksi virus dengue. Asupan protein, vitamin, dan mineral yang adekuat membantu regenerasi sel, produksi antibodi, dan sintesis faktor koagulasi yang mengalami gangguan pada trombositopenia.
Kode SIKI: I.03119
Deskripsi: Manajemen Nutrisi dilakukan dengan observasi: (1) Identifikasi status nutrisi (IMT 18,9 kg/m², riwayat makan, alergi makanan), (2) Identifikasi faktor penyebab defisit nutrisi (mual, muntah, anoreksia, nyeri perut), (3) Monitor asupan makanan dan cairan secara akurat (intake-output), (4) Monitor berat badan secara teratur (setiap hari atau sesuai indikasi), (5) Monitor hasil laboratorium (albumin, hemoglobin, leukosit, trombosit), (6) Monitor tanda-tanda malnutrisi (rambut kusam, kulit kering, penurunan massa otot). Terapeutik: (1) Berikan makanan dalam porsi kecil tapi sering (5-6 kali sehari dalam porsi 1/4 sampai 1/2 porsi normal), (2) Sajikan makanan dalam keadaan hangat dan aroma yang tidak menyengat untuk mengurangi mual, (3) Berikan makanan yang mudah dicerna (bubur, sup, pisang, roti) dan tinggi protein (telur, ikan, ayam), (4) Berikan minuman hangat (teh manis hangat, air jahe) untuk mengurangi mual, (5) Berikan suplemen vitamin dan mineral (asam folat, vitamin C, vitamin K) sesuai indikasi untuk mendukung pembentukan trombosit, (6) Kolaborasi pemberian antiemetik (ondansetron 4-8 mg IV atau metoklopramid 10 mg) sebelum makan sesuai program dokter, (7) Kolaborasi pemberian cairan intravena (Ringer Laktat atau NaCl 0,9%) untuk memenuhi kebutuhan cairan dan elektrolit jika asupan oral tidak adekuat, (8) Lakukan perawatan mulut (oral hygiene) sebelum makan untuk meningkatkan nafsu makan. Edukasi: (1) Jelaskan pentingnya nutrisi adekuat untuk proses penyembuhan DBD, (2) Ajarkan teknik mengurangi mual (makan perlahan, hindari makanan berlemak dan berminyak, hirup aroma lemon atau jahe), (3) Anjurkan keluarga untuk menyiapkan makanan yang disukai pasien namun tetap bergizi, (4) Anjurkan pasien untuk istirahat setelah makan untuk mengurangi mual, (5) Informasikan tanda-tanda kekurangan nutrisi yang harus dilaporkan (penurunan berat badan > 5%, kelemahan ekstrem, pusing berat).
Kode SDKI: D.0033
Deskripsi Singkat: Nyeri Akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis (infeksi virus dengue) yang ditandai dengan nyeri perut pada kuadran kanan atas dan bawah, nyeri otot dan sendi, serta pasien tampak lemas. Nyeri akut adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyen
Article No. 26668 | 19 Aug 2026
Klinis : Seorang perempuan usia 20 tahun diantar oleh ayahnya ke IGD RSUD pada hari Minggu 29 Mei 2022 pukul 05.30, dengan keluhan demam hari ke 4 naik turun sepanjang hari sejak 4 HSMRS, disertai pusing, lemas dan mual- muntah sekitar 3x SMRS (± 150 ml) dan 1x saat di IGD, Sekali muntah sekitar 1/4 gelas aqua (± 50 ml) berisi cairan dan sedikit sisa makanan. Keluhan tersebut disertai dengan penurunan nafsu makan, nyeri perut dan nyeri nyeri otot & sendi. Pasien sehari-hari mengkonsumsi makanan masakan rumah dengan sayuran. Berat badan pasien saat ini adalah 45 kg. Pasien merupakan anak ke 2 dengan riwayat kelahiran normal. Usia kehamilan saat kelahiran yaitu 39 minggu dan berat badan pasien saat lahir yaitu 2800 gram, panjang badan 155 cm. Saat lahir pasien menangis kuat, aktif. Riwayat imunisasi pasien mendapatkan imunisasi sesuai usia berdasarkan PPI. Riwayat social ekonomi, penghasilan perbulan Ayah diakui cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untuk keadaan lingkungan sekitar rumah pasien tidak terdapat genangan air maupun jentik nyamuk di rumah. Terdapat selokan di sekitar rumah pasien dengan aliran lancar. Limbah sampah di buang berjarak jauh dari rumah. Pemeriksaan tanda vital pasien keadaan umum pasien sedang tampak lemah, kesadaran compos mentis, tekanan darah normal 112/80 mmHg, denyut nadi 120 kali/menit, respiratory rate 22 kali/menit, suhu tubuh 38.5 °C, dan saturasi oksigen 95% free air. Berat badan yaitu 37 kg, tinggi badan yaitu 140 cm dengan status gizi baik. Pemeriksaan fisik bagian kepala didapatkan normocephal, rambut hitam tidak mudah dicabut, mata cekung (-/-), edem palpebra (+/+), konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), epistaksis (-), mukosa mulut kering (-), gusi berdarah (-), pembesaran KGB (-). Thoraks inspeksi didapatkan dada simetris (+), retraksi intercostae (-/-), fremitus normal (+/+), perkusi sonor di seluruh lapang paru, suara dasar vesikuler (+/+), wheezing (-/-), rhonki (-/-). Abdomen inspeksi distended (-/-), auskultasi bising usus (+), perkusi timpani (+), palpasi supel (+), nyeri tekan (+) kuadran kanan atas dan bawah, ascites (-), turgor kulit baik. Ekstremitas didapatkan akral hangat, CRT < 2 detik, edema (-), petekie (-), sianosis (-). Genitalia dan status neurologis dalam batas normal. Pemeriksaan laboratorium darah lengkap pasien saat di IGD tanggal 29/05/2022 pukul 07.47 WIB menunjukkan hasil leukopenia dan trombositopenia dengan nilai Leukosit 1.8 x 103 /UI (L), HCT 43.3%, Trombosit 118 x 103 /UI (L), Eritrosit 5.48 x 106 /UI (H), Hb 14.4 g/dL, MCV 79.4 fL (L), Neutrofil 70.4% (H), Limfosit 23.4 (L), Monosit 6.60% (H), Eosinofil 0.00 (L).
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan tanda bahaya (Warning Signs) meliputi leukopenia, trombositopenia, nyeri abdomen, dan muntah
Kode SDKI: D.0149 (Hipertermia), D.0020 (Defisit Nutrisi), D.0007 (Mual), D.0066 (Nyeri Akut)
Deskripsi Singkat: Pasien perempuan usia 20 tahun dengan demam hari ke-4 yang naik turun, disertai pusing, lemas, mual-muntah, penurunan nafsu makan, nyeri perut kanan atas dan bawah, serta nyeri otot dan sendi. Hasil laboratorium menunjukkan leukopenia (1.8 x 10³/μL) dan trombositopenia (118 x 10³/μL). Demam tinggi (38.5°C) dan takikardi (120x/menit) menunjukkan respons sistemik terhadap infeksi virus dengue. Kondisi ini memenuhi kriteria diagnosis DBD dengan warning signs menurut WHO 2011. Tiga diagnosa keperawatan utama yang muncul adalah: 1) Hipertermia berhubungan dengan proses penyakit (viremia) yang ditandai dengan suhu tubuh 38.5°C, 2) Defisit Nutrisi berhubungan dengan mual-muntah dan penurunan nafsu makan yang ditandai dengan asupan tidak adekuat, muntah 3x SMRS dan 1x di IGD, serta 3) Mual berhubungan dengan peningkatan tekanan intrakranial atau iritasi gastrointestinal akibat infeksi. Nyeri akut juga relevan mengingat adanya nyeri perut dan nyeri otot-sendi, namun prioritas utama adalah hipertermia dan defisit nutrisi karena berkaitan langsung dengan risiko syok dan perburukan klinis.
Kode SLKI: L.14134 (Termoregulasi), L.03030 (Status Nutrisi), L.08065 (Status Mual)
Deskripsi : L.14134 Termoregulasi: Kemampuan mempertahankan suhu tubuh dalam rentang normal (36.5-37.5°C). Luaran yang diharapkan setelah intervensi keperawatan adalah: suhu tubuh membaik (kriteria: suhu 36.5-37.5°C), tidak ada menggigil, kulit tidak kemerahan, pasien tidak mengeluh panas dingin, tanda vital dalam rentang normal (nadi 60-100x/menit, RR 16-20x/menit). L.03030 Status Nutrisi: Kecukupan asupan nutrisi untuk memenuhi kebutuhan metabolik. Luaran yang diharapkan: asupan makanan dan cairan meningkat (kriteria: pasien mampu menghabiskan 1 porsi makanan, tidak terjadi penurunan berat badan lebih dari 5%, muntah berkurang, nafsu makan membaik, pasien melaporkan tidak mual saat makan). L.08065 Status Mual: Kemampuan mengontrol sensasi ingin muntah. Luaran yang diharapkan: mual menurun (kriteria: pasien melaporkan mual berkurang dari skala 4/10 menjadi 1-2/10, frekuensi muntah menurun dari 3x menjadi 0-1x dalam 24 jam, pasien mampu mempertahankan makanan dan cairan yang masuk, tidak ada tanda dehidrasi seperti turgor kulit menurun dan membran mukosa kering).
Kode SIKI: I.15506 (Manajemen Hipertermia), I.03119 (Manajemen Nutrisi), I.03117 (Manajemen Mual)
Deskripsi : I.15506 Manajemen Hipertermia: Observasi tanda vital (suhu, nadi, RR, tekanan darah) setiap 4 jam atau lebih sering jika demam tinggi. Identifikasi penyebab hipertermia (proses infeksi dengue). Kelola suhu lingkungan (atur suhu ruangan 22-25°C, gunakan kipas atau AC). Berikan kompres hangat pada aksila dan lipatan paha (tepid sponge) selama 15-20 menit. Anjurkan pasien memakai pakaian tipis yang menyerap keringat. Kolaborasi pemberian antipiretik (paracetamol 500-1000 mg setiap 6 jam sesuai indikasi) dan monitoring ketat tanda syok (nadi cepat dan lemah, tekanan nadi <20 mmHg, ekstremitas dingin, penurunan kesadaran). Evaluasi efektivitas intervensi dengan mengukur suhu tubuh setelah 30-60 menit. I.03119 Manajemen Nutrisi: Kaji pola makan dan asupan nutrisi pasien (riwayat makan, alergi, kesulitan menelan). Identifikasi faktor penyebab malnutrisi (mual, muntah, nyeri perut). Berikan makanan dalam porsi kecil tapi sering (5-6 kali sehari) dengan tekstur lunak dan mudah dicerna. Anjurkan makanan tinggi kalori dan protein (bubur, sup ayam, telur) serta hindari makanan berminyak dan pedas. Berikan suplemen vitamin dan mineral sesuai order dokter. Monitor berat badan setiap hari dan catat intake-output cairan (target 2000-2500 ml/hari untuk dewasa, kecuali ada kontraindikasi). Kolaborasi dengan ahli gizi untuk perencanaan diet sesuai kebutuhan kalori (BB ideal 45kg x 30-35 kkal/kgBB = 1350-1575 kkal/hari). Evaluasi toleransi pasien terhadap makanan dan peningkatan nafsu makan. I.03117 Manajemen Mual: Kaji frekuensi, durasi, dan faktor pencetus mual (bau, makanan, posisi). Identifikasi tanda-tanda dehidrasi (turgor kulit, membran mukosa, produksi urine). Berikan posisi semi-Fowler atau duduk setelah makan untuk mengurangi regurgitasi. Anjurkan pasien makan dalam porsi kecil dan sering, hindari makanan berbau menyengat. Berikan makanan kering (biskuit, roti panggang) sebelum bangun tidur. Kelola lingkungan yang nyaman (kurangi bau tidak sedap, sirkulasi udara baik). Kolaborasi pemberian antiemetik (ondansetron 4-8 mg IV atau metoclopramide 10 mg IM sesuai indikasi) 30 menit sebelum makan. Monitor keseimbangan cairan dan elektrolit, catat jumlah muntah (warna, volume, konsistensi). Evaluasi respons pasien terhadap terapi antiemetik dan penurunan frekuensi muntah.
Kondisi: Risiko Perdarahan (Trombositopenia)
Kode SDKI: D.0017 (Risiko Perdarahan)
Deskripsi Singkat: Pasien memiliki trombositopenia dengan nilai trombosit 118 x 10³/μL (nilai normal 150-400 x 10³/μL). Penurunan trombosit ini merupakan manifestasi khas DBD yang terjadi akibat supresi sumsum tulang dan destruksi trombosit oleh sistem imun. Meskipun belum ditemukan tanda perdarahan aktif (epistaksis (-), gusi berdarah (-), petekie (-)), risiko perdarahan tetap tinggi karena trombosit yang terus menurun dapat mencapai titik nadir pada hari ke-4 hingga ke-6 demam. Fase kritis DBD terjadi saat demam mulai turun (biasanya hari ke-4 sampai ke-5), sehingga pasien berisiko mengalami kebocoran plasma dan perdarahan. Diagnosa ini penting untuk memandu intervensi pencegahan perdarahan dan monitoring ketat terhadap tanda-tanda perdarahan internal maupun eksternal.
Kode SLKI: L.02031 (Tingkat Perdarahan)
Deskripsi : L.02031 Tingkat Perdarahan: Kemampuan untuk mengontrol dan mencegah perdarahan. Luaran yang diharapkan: perdarahan tidak meningkat (kriteria: tidak ada perdarahan gusi, tidak ada epistaksis, tidak ada petekie baru, tidak ada hematuria, tidak ada melena, kadar hemoglobin stabil (14.4 g/dL), trombosit tidak menurun drastis (<100 x 10³/μL), tekanan darah tetap normal (tidak hipotensi), nadi tidak cepat dan lemah). Pasien menunjukkan tanda-tanda hemodinamik stabil (TD 112/80 mmHg, nadi 60-100x/menit, RR 16-20x/menit, saturasi O2 95-100%). Tidak ditemukan tanda syok hipovolemik seperti akral dingin, CRT >2 detik, dan penurunan kesadaran.
Kode SIKI: I.02069 (Pencegahan Perdarahan)
Deskripsi : I.02069 Pencegahan Perdarahan: Observasi tanda-tanda vital (TD, nadi, RR, suhu) setiap 4 jam dan monitor tanda-tanda perdarahan (petekie, ekimosis, epistaksis, perdarahan gusi, hematemesis, melena, hematuria). Monitor nilai laboratorium (trombosit, Hb, HCT) setiap 6-8 jam atau sesuai indikasi. Identifikasi faktor risiko perdarahan (trombositopenia, penggunaan obat antiplatelet, trauma). Anjurkan pasien untuk menghindari aktivitas fisik yang berat dan menghindari mengorek hidung atau menyikat gigi terlalu keras (gunakan sikat gigi lembut). Berikan diet lunak yang tidak terlalu panas untuk mencegah iritasi mukosa gastrointestinal. Gunakan teknik venipuncture yang tepat dan berikan tekanan pada area pungsi selama 5-10 menit setelah pengambilan darah. Kolaborasi pemberian transfusi trombosit jika trombosit <20.000/μL atau ada perdarahan aktif sesuai indikasi dokter. Kolaborasi pemberian obat-obatan yang meningkatkan trombosit (jika diresepkan). Edukasi pasien dan keluarga tentang tanda-tanda perdarahan yang perlu dilaporkan segera (perdarahan gusi, mimisan, BAB hitam, BAK merah). Evaluasi efektivitas intervensi dengan memantau nilai trombosit dan tidak adanya tanda-tanda perdarahan baru.
Kondisi: Defisit Volume Cairan (Risiko Syok Hipovolemik)
Kode SDKI: D.0023 (Def
Article No. 26669 | 19 Aug 2026
Klinis : Seorang perempuan usia 20 tahun diantar oleh ayahnya ke IGD RSUD pada hari Minggu 29 Mei 2022 pukul 05.30, dengan keluhan demam hari ke 4 naik turun sepanjang hari sejak 4 HSMRS, disertai pusing, lemas dan mual- muntah sekitar 3x SMRS (± 150 ml) dan 1x saat di IGD, Sekali muntah sekitar 1/4 gelas aqua (± 50 ml) berisi cairan dan sedikit sisa makanan. Keluhan tersebut disertai dengan penurunan nafsu makan, nyeri perut dan nyeri nyeri otot & sendi. Pasien sehari-hari mengkonsumsi makanan masakan rumah dengan sayuran. Berat badan pasien saat ini adalah 45 kg. Pasien merupakan anak ke 2 dengan riwayat kelahiran normal. Usia kehamilan saat kelahiran yaitu 39 minggu dan berat badan pasien saat lahir yaitu 2800 gram, panjang badan 155 cm. Saat lahir pasien menangis kuat, aktif. Riwayat imunisasi pasien mendapatkan imunisasi sesuai usia berdasarkan PPI. Riwayat social ekonomi, penghasilan perbulan Ayah diakui cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untuk keadaan lingkungan sekitar rumah pasien tidak terdapat genangan air maupun jentik nyamuk di rumah. Terdapat selokan di sekitar rumah pasien dengan aliran lancar. Limbah sampah di buang berjarak jauh dari rumah. Pemeriksaan tanda vital pasien keadaan umum pasien sedang tampak lemah, kesadaran compos mentis, tekanan darah normal 112/80 mmHg, denyut nadi 120 kali/menit, respiratory rate 22 kali/menit, suhu tubuh 38.5 °C, dan saturasi oksigen 95% free air. Berat badan yaitu 37 kg, tinggi badan yaitu 140 cm dengan status gizi baik. Pemeriksaan fisik bagian kepala didapatkan normocephal, rambut hitam tidak mudah dicabut, mata cekung (-/-), edem palpebra (+/+), konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), epistaksis (-), mukosa mulut kering (-), gusi berdarah (-), pembesaran KGB (-). Thoraks inspeksi didapatkan dada simetris (+), retraksi intercostae (-/-), fremitus normal (+/+), perkusi sonor di seluruh lapang paru, suara dasar vesikuler (+/+), wheezing (-/-), rhonki (-/-). Abdomen inspeksi distended (-/-), auskultasi bising usus (+), perkusi timpani (+), palpasi supel (+), nyeri tekan (+) kuadran kanan atas dan bawah, ascites (-), turgor kulit baik. Ekstremitas didapatkan akral hangat, CRT < 2 detik, edema (-), petekie (-), sianosis (-). Genitalia dan status neurologis dalam batas normal. Pemeriksaan laboratorium darah lengkap pasien saat di IGD tanggal 29/05/2022 pukul 07.47 WIB menunjukkan hasil leukopenia dan trombositopenia dengan nilai Leukosit 1.8 x 103 /UI (L), HCT 43.3%, Trombosit 118 x 103 /UI (L), Eritrosit 5.48 x 106 /UI (H), Hb 14.4 g/dL, MCV 79.4 fL (L), Neutrofil 70.4% (H), Limfosit 23.4 (L), Monosit 6.60% (H), Eosinofil 0.00 (L).
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Demam Berdarah Dengue (DBD) / Dengue Fever dengan tanda-tanda peringatan (Dengue with warning signs)
Kode ICD-10: A91 (Dengue haemorrhagic fever)
Deskripsi Singkat : Pasien perempuan usia 20 tahun datang dengan demam hari ke-4 yang naik turun, disertai pusing, lemas, mual-muntah, nyeri perut, nyeri otot dan sendi, serta penurunan nafsu makan. Pemeriksaan fisik menunjukkan keadaan umum sedang-tampak lemah, suhu 38,5°C, takikardi (nadi 120x/menit), dan nyeri tekan abdomen di kuadran kanan atas dan bawah. Hasil laboratorium menunjukkan leukopenia (1,8 x 10³/µL) dan trombositopenia (118 x 10³/µL), yang merupakan temuan khas infeksi virus dengue. Kode ICD-10 yang tepat adalah A91 (Dengue haemorrhagic fever), karena terdapat tanda-tanda peringatan seperti nyeri perut, muntah, dan trombositopenia dengan hemokonsentrasi (HCT 43,3%), meskipun belum ada tanda syok atau kebocoran plasma yang jelas. Diagnosis ini sesuai dengan kriteria DBD derajat I-II berdasarkan klasifikasi WHO. Kondisi ini memerlukan pemantauan ketat terhadap tanda-tanda syok, perdarahan, dan kebocoran plasma. Terapi utama adalah suportif dengan pemberian cairan dan penggantian elektrolit, serta pemantauan serial hematokrit dan trombosit. Pasien juga perlu dirawat untuk observasi karena fase kritis biasanya terjadi pada hari ke-4 hingga ke-6 demam, di mana risiko kebocoran plasma meningkat. Tatalaksana yang tepat dan deteksi dini komplikasi sangat penting untuk mencegah perburukan menjadi dengue shock syndrome (DSS).
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
Article No. 26670 | 19 Aug 2026
Klinis : Seorang perempuan usia 20 tahun diantar oleh ayahnya ke IGD RSUD pada hari Minggu 29 Mei 2022 pukul 05.30, dengan keluhan demam hari ke 4 naik turun sepanjang hari sejak 4 HSMRS, disertai pusing, lemas dan mual- muntah sekitar 3x SMRS (± 150 ml) dan 1x saat di IGD, Sekali muntah sekitar 1/4 gelas aqua (± 50 ml) berisi cairan dan sedikit sisa makanan. Keluhan tersebut disertai dengan penurunan nafsu makan, nyeri perut dan nyeri nyeri otot & sendi. Pasien sehari-hari mengkonsumsi makanan masakan rumah dengan sayuran. Berat badan pasien saat ini adalah 45 kg. Pasien merupakan anak ke 2 dengan riwayat kelahiran normal. Usia kehamilan saat kelahiran yaitu 39 minggu dan berat badan pasien saat lahir yaitu 2800 gram, panjang badan 155 cm. Saat lahir pasien menangis kuat, aktif. Riwayat imunisasi pasien mendapatkan imunisasi sesuai usia berdasarkan PPI. Riwayat social ekonomi, penghasilan perbulan Ayah diakui cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untuk keadaan lingkungan sekitar rumah pasien tidak terdapat genangan air maupun jentik nyamuk di rumah. Terdapat selokan di sekitar rumah pasien dengan aliran lancar. Limbah sampah di buang berjarak jauh dari rumah. Pemeriksaan tanda vital pasien keadaan umum pasien sedang tampak lemah, kesadaran compos mentis, tekanan darah normal 112/80 mmHg, denyut nadi 120 kali/menit, respiratory rate 22 kali/menit, suhu tubuh 38.5 °C, dan saturasi oksigen 95% free air. Berat badan yaitu 37 kg, tinggi badan yaitu 140 cm dengan status gizi baik. Pemeriksaan fisik bagian kepala didapatkan normocephal, rambut hitam tidak mudah dicabut, mata cekung (-/-), edem palpebra (+/+), konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), epistaksis (-), mukosa mulut kering (-), gusi berdarah (-), pembesaran KGB (-). Thoraks inspeksi didapatkan dada simetris (+), retraksi intercostae (-/-), fremitus normal (+/+), perkusi sonor di seluruh lapang paru, suara dasar vesikuler (+/+), wheezing (-/-), rhonki (-/-). Abdomen inspeksi distended (-/-), auskultasi bising usus (+), perkusi timpani (+), palpasi supel (+), nyeri tekan (+) kuadran kanan atas dan bawah, ascites (-), turgor kulit baik. Ekstremitas didapatkan akral hangat, CRT < 2 detik, edema (-), petekie (-), sianosis (-). Genitalia dan status neurologis dalam batas normal. Pemeriksaan laboratorium darah lengkap pasien saat di IGD tanggal 29/05/2022 pukul 07.47 WIB menunjukkan hasil leukopenia dan trombositopenia dengan nilai Leukosit 1.8 x 103 /UI (L), HCT 43.3%, Trombosit 118 x 103 /UI (L), Eritrosit 5.48 x 106 /UI (H), Hb 14.4 g/dL, MCV 79.4 fL (L), Neutrofil 70.4% (H), Limfosit 23.4 (L), Monosit 6.60% (H), Eosinofil 0.00 (L).
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan manifestasi hipertermia, risiko perdarahan, dan ketidakseimbangan nutrisi.
Kode SDKI: D.0130 (Hipertermia)
Deskripsi Singkat: Hipertermia adalah keadaan di mana suhu tubuh individu mengalami peningkatan melebihi rentang normal (36,5–37,5°C) akibat kegagalan mekanisme termoregulasi atau respons fisiologis terhadap pirogen. Pada pasien ini, suhu tubuh 38,5°C pada hari ke-4 demam naik-turun merupakan manifestasi klasik fase viremia infeksi virus dengue. Demam terjadi akibat pelepasan sitokin pro-inflamasi (TNF-α, IL-1, IL-6) yang mengaktivasi pusat termoregulasi di hipotalamus. Kondisi ini diperberat oleh leukopenia (1,8 x 10³/µL) yang menunjukkan penekanan sumsum tulang oleh virus, sehingga respons imun tubuh tidak optimal. Data pendukung: pasien mengeluh pusing, lemas, nyeri otot dan sendi (myalgia/arthralgia) yang merupakan gejala sistemik akibat efek pirogen pada jaringan. Demam yang tidak ditangani dapat menyebabkan dehidrasi, penurunan kesadaran, hingga syok. Tanda vital menunjukkan takikardia (nadi 120x/menit) sebagai kompensasi peningkatan metabolisme dan vasodilatasi perifer akibat suhu tinggi. Saturasi oksigen 95% masih dalam batas normal, namun perlu diwaspadai karena dapat menurun jika terjadi kebocoran plasma. Intervensi utama berfokus pada penurunan suhu, pencegahan komplikasi, dan monitoring tanda-tanda syok. Hipertermia pada DBD berbeda dengan demam biasa karena memiliki fase kritis (hari ke-3 hingga ke-7) di mana suhu dapat turun drastis namun justru terjadi kebocoran plasma. Oleh karena itu, pemantauan ketat suhu dan tanda vital sangat penting untuk mencegah perburukan menjadi dengue shock syndrome (DSS).
Kode SLKI: L.14134 (Termoregulasi)
Deskripsi : Termoregulasi adalah luaran yang menggambarkan kemampuan tubuh untuk mempertahankan suhu inti dalam rentang normal melalui mekanisme fisiologis (berkeringat, vasodilatasi/vasokonstriksi) dan perilaku (menggigil, mencari lingkungan hangat/dingin). Kriteria hasil yang diharapkan pada pasien ini setelah diberikan intervensi keperawatan adalah: (1) Suhu tubuh dalam rentang normal (36,5–37,5°C) dalam waktu 3x8 jam; (2) Nadi kembali normal (60-100x/menit); (3) Tidak terjadi menggigil; (4) Kulit tidak kemerahan; (5) Pasien tidak mengeluh pusing atau lemas berlebihan; (6) Tanda-tanda dehidrasi tidak muncul (turgor kulit tetap baik, membran mukosa lembab). Skala termoregulasi pada luaran ini ditingkatkan dari tingkat 3 (cukup) menjadi tingkat 5 (memadai) setelah intervensi. Pada pasien DBD, termoregulasi yang efektif sangat penting untuk mencegah peningkatan kebutuhan oksigen jaringan dan mengurangi risiko kejang demam. Perawat perlu memantau suhu setiap 4 jam sekali dan mengedukasi keluarga tentang tanda-tanda hipertermia berkelanjutan. Luaran ini juga mencakup aspek perilaku adaptif pasien, seperti mampu mengomunikasikan ketidaknyamanan akibat demam dan bersedia menjalani terapi kompres hangat. Keberhasilan luaran ini diukur tidak hanya dari normalisasi suhu tetapi juga dari tidak adanya komplikasi seperti penurunan kesadaran atau tanda-tanda syok. Pada fase kritis DBD, suhu tubuh dapat turun secara tiba-tiba, sehingga perawat harus waspada bahwa luaran termoregulasi yang baik tidak menjamin bebas dari risiko syok. Oleh karena itu, luaran ini harus dikombinasikan dengan pemantauan hemodinamik dan hematokrit serial.
Kode SIKI: I.15506 (Manajemen Hipertermia)
Deskripsi : Manajemen hipertermia adalah serangkaian tindakan keperawatan yang bertujuan untuk mengembalikan suhu tubuh ke rentang normal dan mencegah komplikasi akibat suhu tinggi. Tindakan yang dilakukan pada pasien ini meliputi: (1) Observasi: Identifikasi penyebab hipertermia (fase viremia DBD), monitor suhu tubuh setiap 4 jam atau lebih sering jika suhu >38°C, monitor tanda vital (nadi, RR, tekanan darah) setiap 4 jam, monitor warna dan kelembaban kulit, monitor kadar elektrolit dan hematokrit sesuai indikasi (karena leukopenia dan trombositopenia menunjukkan keganasan infeksi), monitor asupan dan haluaran cairan. (2) Terapeutik: Berikan kompres hangat pada aksila, lipatan paha, dan dahi selama 15-20 menit untuk menurunkan suhu melalui mekanisme evaporasi dan konduksi; anjurkan pasien memakai pakaian tipis yang menyerap keringat; berikan cairan oral yang cukup (air putih, jus, atau oralit) minimal 1500-2000 ml/hari sesuai toleransi, karena demam meningkatkan kebutuhan cairan; jika suhu >38,5°C dan pasien tidak toleran, kolaborasikan pemberian antipiretik (parasetamol 500-1000 mg) sesuai advis dokter dengan interval minimal 6 jam (hindari aspirin/ibuprofen karena risiko perdarahan); atur ventilasi ruangan agar sirkulasi udara baik; jaga kebersihan mulut dan kulit untuk mencegah infeksi sekunder. (3) Edukasi: Jelaskan kepada pasien dan keluarga tentang penyebab demam pada DBD, pentingnya minum banyak cairan, cara melakukan kompres hangat yang benar di rumah, tanda-tanda bahaya yang harus segera dilaporkan (perdarahan gusi, mimisan, BAB hitam, muntah darah, nyeri perut hebat, gelisah, tangan/dingin, penurunan frekuensi buang air kecil), dan jadwal kontrol ulang. (4) Kolaborasi: Kolaborasi dengan dokter untuk pemeriksaan darah lengkap serial (minimal setiap 24 jam selama fase akut), pemberian cairan intravena (Ringer Laktat atau NaCl 0,9%) jika asupan oral tidak adekuat atau pasien muntah terus-menerus, dan pemberian obat-obatan sesuai indikasi. Evaluasi intervensi dilakukan setiap 4 jam dengan mengukur suhu tubuh; jika suhu tidak turun setelah 30 menit kompres hangat, ulangi tindakan dan laporkan ke dokter. Pada pasien ini, muntah 3x SMRS dan 1x di IGD (±150 ml) memerlukan perhatian khusus untuk mencegah dehidrasi, sehingga manajemen cairan menjadi prioritas. Intervensi ini juga mencakup pencegahan komplikasi seperti febrile seizure dan dehidrasi berat. Catatan penting: Pada DBD, penurunan suhu secara drastis pada hari ke-4 hingga ke-6 justru dapat menandakan fase kebocoran plasma, sehingga perawat harus tetap waspada dan tidak lengah meskipun suhu sudah normal.
Kondisi: Risiko Perdarahan (trombositopenia)
Kode SDKI: D.0017 (Risiko Perdarahan)
Deskripsi Singkat: Risiko perdarahan adalah kondisi di mana individu berisiko mengalami penurunan jumlah trombosit atau gangguan fungsi trombosit yang dapat menyebabkan perdarahan spontan atau perdarahan yang sulit berhenti. Pada pasien ini, trombosit 118 x 10³/µL (nilai normal 150-400 x 10³/µL) menunjukkan trombositopenia derajat ringan hingga sedang. Pada DBD, trombositopenia terjadi akibat: (1) Supresi sumsum tulang oleh virus dengue yang menghambat megakariosit; (2) Destruksi trombosit oleh antibodi anti-dengue; (3) Konsumsi trombosit pada proses pembentukan mikroemboli dan aktivasi komplemen. Data pendukung: pasien mengalami petekie (-), gusi berdarah (-), epistaksis (-), namun risiko tetap tinggi karena trombosit masih di bawah normal dan dapat turun lebih lanjut hingga mencapai titik terendah pada hari ke-4 hingga ke-7. Faktor risiko lain yang memperberat: leukopenia (1,8 x 10³/µL) menunjukkan imunosupresi, dan pasien mengeluh nyeri perut kuadran kanan atas dan bawah yang dapat menandakan hepatomegali atau perdarahan intra-abdomen yang belum terdeteksi. Meskipun pemeriksaan fisik saat ini tidak menunjukkan tanda perdarahan aktif, kondisi ini bersifat dinamis dan dapat memburuk dalam hitungan jam. Perawat harus melakukan skrining risiko perdarahan menggunakan skala (misalnya skala risiko perdarahan WHO) dan memantau tanda-tanda perdarahan tersembunyi seperti penurunan Hb (saat ini 14,4 g/dL masih normal), melena, hematemesis, atau perdarahan serebral. Penting juga untuk mempertimbangkan faktor usia (20 tahun) dan jenis kelamin perempuan yang memiliki risiko perdarahan menstruasi. Intervensi keperawatan berfokus pada pencegahan trauma, monitoring ketat nilai laboratorium, dan edukasi pasien/keluarga tentang tanda bahaya perdarahan. Kondisi ini harus dikelola secara agresif karena trombositopenia berat (<50.000) dapat menyebabkan perdarahan spontan yang mengancam jiwa.
Kode SLKI: L.02029 (Tingkat Perdarahan)
Deskripsi : Tingkat perdarahan adalah luaran yang menggambarkan keparahan atau jumlah darah yang hilang dari sistem vaskuler. Kriteria hasil yang diharapkan pada pasien ini adalah: (1) Tidak terjadi perdarahan baru (skala 5: tidak ada); (2) Trombosit meningkat ke arah normal (≥150 x 10³/µL) dalam 3-5 hari; (3) Hemoglobin stabil (tidak turun >1 g/dL dalam 24 jam); (4) Tekanan darah sistolik tetap >90 mmHg; (5) Nadi perifer
Article No. 26671 | 19 Aug 2026
Klinis : Seorang perempuan 55 tahun, datang ke RS dengan keluhan lingkungan terasa berputar sejak pagi. Keluhan terutama muncul ketika bangun dari tempat tidur, menoleh ke kanan, atau mengubah posisi kepala tiba-tiba. Setiap serangan berlangsung kurang dari satu menit dan disertai mual. Tidak ada kelemahan ekstremitas, gangguan bicara, penurunan kesadaran, maupun nyeri kepala hebat. Pasien takut berjalan sendiri karena khawatir jatuh. Pasien belum pernah cek kesehatan lengkap seperti profil lipid. Pasien sering sulit tidur pada malam hari dan akhirnya bermain HP untuk mengisi waktu. Pemeriksaan: TD130/80mmHg; nadi 84 x/menit; RR 18 x/menit; compos mentis; kekuatan ekstremitas normal; tidak ditemukan gangguan bicara
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Vertigo posisional paroksismal jinak (Benign Paroxysmal Positional Vertigo / BPPV)
Kode ICD-10: H81.1
Deskripsi Singkat : Kondisi ini adalah vertigo (sensasi berputar) yang dipicu oleh perubahan posisi kepala, seperti bangun dari tempat tidur, menoleh, atau mengubah posisi kepala secara tiba-tiba. Serangan berlangsung singkat (kurang dari satu menit) dan sering disertai mual, tanpa disertai gejala neurologis fokal seperti kelemahan ekstremitas, gangguan bicara, atau penurunan kesadaran. Gejala ini disebabkan oleh adanya partikel kalsium karbonat (otokonia/kanalit) yang berpindah ke dalam kanalis semisirkularis di telinga bagian dalam, sehingga memicu sinyal gerakan yang tidak sesuai dengan posisi kepala sebenarnya. Kode H81.1 secara spesifik merujuk pada "Benign paroxysmal vertigo" (Vertigo posisional paroksismal jinak) dalam klasifikasi Penyakit Telinga dalam dan Proses Mastoid (H60-H95). Kode ini mencakup vertigo yang bersifat jinak dan berhubungan dengan perubahan posisi, bukan vertigo sentral atau akibat gangguan vaskular. Penting untuk membedakan dengan kondisi lain seperti vertigo sentral (misalnya stroke serebelum) atau gangguan kardiovaskular, namun pada kasus ini tidak ditemukan tanda bahaya. Faktor risiko yang tampak meliputi kurang tidur dan kebiasaan bermain HP pada malam hari, yang dapat memicu kelelahan dan meningkatkan kerentanan terhadap episode vertigo. Pemeriksaan fisik menunjukkan tekanan darah normal dan tidak ada defisit neurologis, sehingga mendukung diagnosis BPPV. Penatalaksanaan biasanya melibatkan manuver reposisi kanalit (misalnya Epley) dan edukasi untuk menghindari perubahan posisi kepala mendadak. Meskipun kondisi ini jinak, evaluasi lebih lanjut diperlukan untuk menyingkirkan penyebab lain, terutama karena pasien belum pernah melakukan pemeriksaan kesehatan lengkap seperti profil lipid.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
Article No. 26672 | 19 Aug 2026
Klinis : Seorang perempuan 55 tahun, datang ke RS dengan keluhan lingkungan terasa berputar sejak pagi. Keluhan terutama muncul ketika bangun dari tempat tidur, menoleh ke kanan, atau mengubah posisi kepala tiba-tiba. Setiap serangan berlangsung kurang dari satu menit dan disertai mual. Tidak ada kelemahan ekstremitas, gangguan bicara, penurunan kesadaran, maupun nyeri kepala hebat. Pasien takut berjalan sendiri karena khawatir jatuh. Pasien belum pernah cek kesehatan lengkap seperti profil lipid. Pasien sering sulit tidur pada malam hari dan akhirnya bermain HP untuk mengisi waktu. Pemeriksaan: TD130/80mmHg; nadi 84 x/menit; RR 18 x/menit; compos mentis; kekuatan ekstremitas normal; tidak ditemukan gangguan bicara
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Persepsi Sensori: Vertigo (D.0085)
Kode SDKI: D.0085
Deskripsi Singkat: Vertigo adalah sensasi berputar atau bergerak yang dialami pasien, baik dirasakan pada diri sendiri (subjektif) atau pada lingkungan sekitarnya (objektif), yang sering dipicu oleh perubahan posisi kepala, seperti bangun dari tempat tidur, menoleh, atau mengubah posisi kepala secara tiba-tiba. Pada kasus ini, pasien perempuan 55 tahun mengalami keluhan lingkungan terasa berputar sejak pagi, terutama saat bangun, menoleh ke kanan, atau mengubah posisi kepala. Serangan berlangsung singkat (<1 menit) dan disertai mual. Tidak ada kelemahan ekstremitas, gangguan bicara, penurunan kesadaran, atau nyeri kepala hebat, yang mengarah pada kemungkinan benign paroxysmal positional vertigo (BPPV) atau gangguan vestibular perifer. Kondisi ini menyebabkan keterbatasan gerak, ketidakstabilan postur, dan ansietas terhadap risiko jatuh, sehingga memerlukan intervensi keperawatan yang terfokus pada manajemen vertigo, keamanan, dan edukasi.
Kode SLKI: L.06077 (Tingkat Vertigo) dan L.06078 (Manajemen Vertigo)
Deskripsi : Luaran yang diharapkan setelah diberikan asuhan keperawatan adalah: (1) Tingkat Vertigo (L.06077) meningkat, dengan kriteria hasil: pasien mampu melaporkan penurunan frekuensi serangan vertigo, tidak ada keluhan sensasi berputar saat mengubah posisi kepala secara bertahap, mampu melakukan aktivitas sehari-hari tanpa bantuan, tidak menunjukkan perilaku menghindari gerakan kepala, dan skala vertigo menurun dari berat menjadi ringan. (2) Manajemen Vertigo (L.06078) efektif, dengan kriteria: pasien menunjukkan teknik adaptasi posisi (misalnya manuver Epley atau Brandt-Daroff jika diinstruksikan), pasien mampu mengidentifikasi faktor pencetus (perubahan posisi mendadak), pasien berpartisipasi dalam latihan keseimbangan, dan tidak terjadi jatuh. Karena pasien takut berjalan sendiri karena khawatir jatuh, luaran tambahan yang relevan adalah pencegahan jatuh (L.06073) dengan kriteria: pasien mampu menggunakan alat bantu jika perlu, lingkungan aman, dan ansietas berkurang. Selain itu, karena pasien memiliki gangguan tidur (sulit tidur dan bermain HP), luaran terkait pola tidur (L.05045) juga menjadi target, yaitu kualitas tidur membaik dengan kriteria: pasien mengaku cukup tidur, tidak sering terbangun, dan mampu menerapkan higiene tidur yang baik.
Kode SIKI: I.06172 (Manajemen Vertigo) dan I.05138 (Edukasi Aktivitas/Istirahat)
Deskripsi : Intervensi keperawatan utama adalah Manajemen Vertigo (I.06172) yang dilakukan untuk mengurangi sensasi berputar dan mencegah komplikasi. Tindakan meliputi: (1) Identifikasi faktor pencetus vertigo (perubahan posisi, kelelahan, stres, atau gerakan kepala tiba-tiba); (2) Monitor tanda-tanda vital (TD 130/80 mmHg, nadi 84 x/menit, RR 18 x/menit) dan status neurologis (compos mentis, kekuatan ekstremitas normal); (3) Anjurkan pasien untuk mengubah posisi secara perlahan, terutama saat bangun dari tempat tidur — duduk dahulu selama 1-2 menit sebelum berdiri; (4) Ajarkan teknik manuver reposisi kanalit (misal manuver Epley atau Semont) sesuai indikasi medis dan jika pasien kooperatif; (5) Batasi gerakan kepala yang mendadak dan anjurkan untuk menoleh dengan seluruh tubuh, bukan hanya kepala; (6) Ciptakan lingkungan yang aman: kurangi bahaya tersandung, pasang pegangan di kamar mandi, dan gunakan alas kaki anti-selip; (7) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat anti-vertigo (misal betahistine atau antagonis histamin) dan pemeriksaan lanjutan seperti audiometri, VNG, atau MRI kepala jika diperlukan; (8) Anjurkan pasien untuk tidak mengemudi atau mengoperasikan mesin selama serangan vertigo aktif. Intervensi kedua adalah Edukasi Aktivitas/Istirahat (I.05138) yang bertujuan mengatasi gangguan tidur dan mengurangi risiko jatuh. Tindakan meliputi: (1) Identifikasi kebiasaan tidur pasien (sering bermain HP di malam hari yang menyebabkan stimulus cahaya biru dan gangguan ritme sirkadian); (2) Ajarkan higiene tidur: matikan perangkat elektronik minimal 30-60 menit sebelum tidur, ciptakan suasana kamar gelap dan tenang, hindari kafein atau makanan berat menjelang tidur; (3) Anjurkan teknik relaksasi napas dalam atau meditasi singkat sebelum tidur untuk menurunkan ansietas; (4) Edukasi tentang pentingnya tidur cukup untuk menjaga fungsi vestibular dan keseimbangan tubuh; (5) Ajarkan pasien untuk menggunakan alat bantu berjalan (misal tongkat) jika merasa tidak stabil, dan libatkan keluarga dalam pengawasan saat pasien beraktivitas; (6) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk pengecekan profil lipid (karena pasien belum pernah cek kesehatan lengkap) dan edukasi pola makan rendah lemak jenuh untuk pencegahan aterosklerosis yang dapat mempengaruhi sirkulasi vestibular. Semua intervensi didokumentasikan dan dievaluasi secara berkala, dengan indikator keberhasilan: pasien tidak mengalami jatuh, serangan vertigo berkurang frekuensinya, pasien dapat berjalan mandiri dengan rasa aman, dan kualitas tidur membaik.
Kondisi: Risiko Jatuh (D.0143)
Kode SDKI: D.0143
Deskripsi Singkat: Risiko jatuh adalah keadaan rentan yang dialami pasien untuk mengalami jatuh, yang dapat menyebabkan cedera fisik. Pada pasien ini, risiko jatuh meningkat karena adanya vertigo yang dipicu oleh perubahan posisi kepala, ketidakstabilan postur saat serangan, dan rasa takut berjalan sendiri karena khawatir jatuh. Faktor risiko yang berkontribusi meliputi: usia lanjut (55 tahun), gangguan keseimbangan akibat disfungsi vestibular, ansietas yang menyebabkan keterbatasan mobilitas, dan gangguan tidur yang berpotensi menurunkan konsentrasi dan refleks. Meskipun kekuatan ekstremitas normal dan kesadaran compos mentis, risiko tetap signifikan karena serangan vertigo terjadi tiba-tiba dan berlangsung singkat, yang dapat menyebabkan pasien kehilangan keseimbangan saat berdiri atau berjalan. Risiko ini diperberat oleh lingkungan yang belum tentu aman (misal lantai licin, kurang pegangan) dan kebiasaan pasien yang belum memiliki pengalaman manajemen vertigo. Oleh karena itu, diagnosis keperawatan ini menjadi prioritas untuk mencegah cedera fisik dan meningkatkan keamanan pasien.
Kode SLKI: L.06073 (Tingkat Jatuh) dan L.06074 (Pencegahan Jatuh)
Deskripsi : Luaran yang diharapkan adalah: (1) Tingkat jatuh (L.06073) menurun dengan kriteria: tidak ada kejadian jatuh selama dirawat, pasien mampu mempertahankan keseimbangan saat duduk dan berdiri, pasien menunjukkan kemampuan untuk meminta bantuan saat merasa tidak stabil, dan skala risiko jatuh rendah (misal menggunakan skala Morse <25). (2) Pencegahan jatuh (L.06074) efektif, dengan kriteria: pasien dan keluarga mampu mengidentifikasi faktor risiko lingkungan, menggunakan alat bantu (tongkat atau walker) jika diperlukan, lingkungan pasien dimodifikasi (penerangan cukup, lantai tidak licin, pegangan di area strategis), dan pasien serta keluarga memahami teknik bangun dari tempat tidur yang aman (duduk 1-2 menit sebelum berdiri). Karena pasien juga memiliki ansietas terhadap jatuh, luaran tambahan adalah tingkat ansietas menurun (L.09093) dengan kriteria: pasien mengaku lebih tenang, mampu melakukan aktivitas dengan pengawasan, dan ekspresi wajah rileks.
Kode SIKI: I.06173 (Pencegahan Jatuh) dan I.05138 (Edukasi Aktivitas/Istirahat)
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk risiko jatuh adalah Pencegahan Jatuh (I.06173) yang dilakukan secara komprehensif. Tindakan meliputi: (1) Identifikasi faktor risiko jatuh menggunakan instrumen standar (misal skala Morse atau Hendrich II) saat awal masuk dan setiap pergantian shift; (2) Monitor kemampuan berjalan dan keseimbangan pasien, terutama setelah bangun tidur atau setelah serangan vertigo; (3) Anjurkan pasien untuk menggunakan bel panggil jika membutuhkan bantuan, dan letakkan bel di dekat tempat tidur; (4) Pastikan lingkungan aman: bersihkan lantai dari benda yang bisa membuat tersandung, gunakan alas anti-selip di kamar mandi, pasang pegangan di dinding dekat toilet dan tempat tidur, serta berikan penerangan yang cukup terutama pada malam hari; (5) Anjurkan pasien untuk mengenakan alas kaki yang nyaman dan tidak licin saat berjalan; (6) Ajarkan teknik mobilisasi yang aman: bangun dari tempat tidur secara bertahap, duduk dahulu, lalu berdiri dengan bantuan pegangan; (7) Kolaborasi dengan fisioterapis untuk latihan keseimbangan dan penguatan otot ekstremitas bawah; (8) Edukasi pasien dan keluarga tentang tanda-tanda akan terjadi vertigo (misal rasa melayang, pusing) dan cara mengantisipasi (segera duduk atau berpegangan pada benda stabil). Intervensi kedua adalah Edu
Article No. 26661 | 18 Aug 2026
Klinis : Keluhan sesak napas masih dirasakan. TD 109/80 HR 115 bpm SpO2 90% Leher: JVP tidak meningkat Jantung: S1 S2 regular, Murmur (-) Paru: RBH -/-, RBK -/- Ext: edema -/- HEMATOLOGI 14/08/26 Hemoglobin: 17,25 g/dL Eritrosit: 5,61 juta/µL Hematokrit: 51,0% Leukosit: 22,14 ribu/µL ↑ (H) Trombosit: 328 ribu/µL Golongan Darah (ABO) Golongan Darah: O KIMIA KLINIK Elektrolit Natrium (Na): 136 mmol/L Kalium (K): 3,4 mmol/L ↓ (L) Chlorida (Cl): 104 mmol/L Calsium (Ca²⁺): 1,1 mmol/L pH: 7,405 Glukosa Darah Glukosa Darah Sewaktu: 319 mg/dL ↑ (H) Fungsi Ginjal Ureum: 27,8 mg/dL Kreatinin: 1,46 mg/dL ↑ (H) Jantung CK-MB: 49 U/L ↑ (H) Profil Lipid Cholesterol total: 249 mg/dL ↑ (H) Trigliserida: 550 mg/dL ↑ (H) Asam Urat: 9,7 mg/dL ↑ (H)
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Pola Napas Tidak Efektif berhubungan dengan Depresi Pusat Pernapasan (sekunder terhadap hiperglikemia, asidosis metabolik tersembunyi, dan peningkatan leukositosis) serta Kelebihan Volume Cairan (risiko) ditandai dengan sesak napas, SpO2 90%, takikardia (HR 115 bpm), dan leukositosis (22,14 ribu/µL) dengan hiperglikemia berat (319 mg/dL) yang mengindikasikan status metabolik tidak stabil.
Kode SDKI: D.0005
Deskripsi Singkat: Pola napas tidak efektif adalah kondisi di mana inspirasi dan/atau ekspirasi seseorang tidak memberikan ventilasi alveolar yang memadai. Pada pasien ini, mekanisme fisiologis yang mendasari meliputi: (1) Hiperglikemia 319 mg/dL menyebabkan peningkatan osmolaritas darah, menarik cairan dari intraseluler ke intravaskuler, sehingga meningkatkan volume plasma dan beban kerja jantung (takikardia kompensasi) serta dapat menyebabkan edema paru interstisial subklinis yang mengganggu difusi gas; (2) Leukositosis 22,14 ribu/µL menunjukkan respons inflamasi sistemik (kemungkinan infeksi atau stres metabolik) yang meningkatkan kebutuhan oksigen jaringan dan produksi CO2, memicu peningkatan frekuensi napas namun dangkal; (3) Kalsium terionisasi rendah (1,1 mmol/L) dapat mengganggu kontraktilitas otot pernapasan (diafragma dan interkostal), menurunkan kekuatan inspirasi; (4) Kadar kalium 3,4 mmol/L (hipokalemia) meningkatkan risiko aritmia dan kelemahan otot pernapasan. Ketidakseimbangan antara suplai oksigen (SpO2 90% < 95%) dan kebutuhan metabolik yang meningkat menyebabkan persepsi sesak. Tanda objektif: SpO2 rendah, takikardia, dan penggunaan otot bantu napas (tidak disebutkan secara eksplisit namun dapat disimpulkan dari keluhan). Pernapasan mungkin tampak cepat (takipnea) namun dangkal, ditandai dengan retensi CO2 yang tidak terdeteksi karena tidak ada analisis gas darah arteri, namun pH 7,405 masih dalam batas normal (kompensasi parsial). Kondisi ini diperberat oleh peningkatan kreatinin (1,46 mg/dL) yang menunjukkan penurunan fungsi ginjal, sehingga klirens laktat dan asam-asam metabolik terganggu, berpotensi menyebabkan asidosis metabolik yang akan merangsang pusat pernapasan secara berlebihan (pernapasan Kussmaul) namun pasien belum menunjukkan fase tersebut. Secara keseluruhan, pola napas tidak efektif terjadi karena ketidakmampuan sistem pernapasan untuk memenuhi kebutuhan ventilasi akibat gangguan metabolik, inflamasi, dan elektrolit yang saling terkait.
Kode SLKI: L.01004
Deskripsi : Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan pola napas membaik dengan kriteria hasil: (1) Dispnea menurun (skala 5 menjadi 1-2), (2) Frekuensi napas dalam rentang normal (16-20 x/menit) tanpa penggunaan otot bantu, (3) SpO2 meningkat dari 90% menjadi ≥95% dengan atau tanpa oksigen tambahan, (4) Kemampuan bicara meningkat (tidak terputus-putus saat berbicara), (5) Ortupnea menurun (mampu berbaring datar tanpa sesak), (6) Hasil analisis gas darah (jika tersedia) menunjukkan PaO2 ≥80 mmHg dan PaCO2 35-45 mmHg, (7) Tidak ada sianosis dan retraksi dinding dada, (8) Tanda-tanda vital stabil: HR 60-100 bpm, TD 110-130/70-90 mmHg, (9) Nilai leukosit menurun mendekati normal (4-10 ribu/µL) menunjukkan infeksi terkontrol, (10) Glukosa darah sewaktu terkendali (140-180 mg/dL) untuk mengurangi beban osmotik dan inflamasi, (11) Kalsium dan kalium dalam rentang normal (Ca²⁺ 1,15-1,30 mmol/L; K 3,5-5,0 mmol/L) untuk memastikan fungsi otot pernapasan optimal. Kriteria hasil ini bersifat holistik, mencakup perbaikan ventilasi, oksigenasi, status metabolik, dan elektrolit yang mendasari pola napas tidak efektif. Target utama adalah mencapai pernapasan yang efektif tanpa kompensasi berlebihan, ditandai dengan penurunan frekuensi napas, peningkatan saturasi, dan hilangnya keluhan subjektif sesak.
Kode SIKI: I.01011
Deskripsi : Intervensi utama yang dilakukan adalah Manajemen Jalan Napas dan Monitoring Respirasi. Tindakan spesifik meliputi: (1) Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan usaha napas setiap 2 jam atau sesuai kondisi; (2) Monitor auskultasi bunyi napas (pada pasien ini RBH/RBK -/- namun perlu diulang karena dapat berkembang edema); (3) Monitor saturasi oksigen (SpO2) secara kontinu menggunakan pulse oksimetri, target ≥95%; (4) Posisikan pasien semi-Fowler (30-45 derajat) untuk mengoptimalkan ekspansi paru dan menurunkan kerja napas; (5) Berikan oksigen nasal kanul 2-4 L/menit atau sesuai protokol untuk mencapai SpO2 target, dengan evaluasi respons setiap 15-30 menit; (6) Ajarkan teknik napas dalam dan batuk efektif untuk membersihkan jalan napas dan meningkatkan ventilasi alveolar; (7) Kolaborasi pemberian bronkodilator (jika ada indikasi wheezing) atau kortikosteroid sistemik jika dicurigai inflamasi; (8) Kolaborasi dengan dokter untuk koreksi hiperglikemia menggunakan insulin (mengingat GDS 319 mg/dL) karena hiperglikemia memperburuk status osmolaritas dan inflamasi; (9) Kolaborasi pemberian suplementasi kalium intravena atau oral untuk mengatasi hipokalemia (K 3,4 mmol/L) yang dapat menyebabkan kelemahan otot pernapasan; (10) Kolaborasi koreksi hipokalsemia (Ca²⁺ 1,1 mmol/L) dengan kalsium glukonas, karena hipokalsemia mengganggu kontraktilitas otot dan transmisi saraf; (11) Monitor tanda-tanda vital setiap 1-2 jam, terutama HR dan TD untuk deteksi dini distress pernapasan (takikardia persisten); (12) Monitor hasil laboratorium (leukosit, glukosa, elektrolit, fungsi ginjal) setiap 6-8 jam untuk mengevaluasi respons terapi; (13) Edukasi pasien dan keluarga tentang tanda bahaya sesak napas yang memburuk (peningkatan frekuensi napas >30 x/menit, sianosis, penurunan kesadaran) dan kapan harus segera memanggil perawat; (14) Pertahankan lingkungan tenang dan nyaman untuk mengurangi konsumsi oksigen; (15) Evaluasi efektivitas intervensi dengan membandingkan status pernapasan awal (SpO2 90%, HR 115) dengan target yang ditetapkan. Intervensi ini bersifat kolaboratif dan mandiri, dengan penekanan pada koreksi penyebab metabolik (glukosa, elektrolit) yang merupakan akar masalah pola napas tidak efektif pada pasien ini, bukan hanya terapi simtomatik oksigen. Dokumentasikan semua tindakan dan respons pasien secara akurat dalam catatan keperawatan.
Article No. 26662 | 18 Aug 2026
Klinis : Pasien konsulan TS Kardio datang dengan keluhan nyeri dada mendadak, mual (+) muntah (+) nyeri dada menjalar (+) Sesak napas (-) batuk (+) hilang timbul, dahak sulit keluar Riw Merokok (+) RPD: HT (-), DM (-), PJK (-) Riwayat perokok aktif sudah > 20th, sehari kurang lebih 1-2 bungkus KU lemah, CM TD: 122/72 HR: 92 /' RR: 22 x/m SB: 36.5 C SpO2: 98% on O2 NK lpm Mata CA -/- SI -/- JVP kesan meningkat Thorax SDV +/+ RBH -/- WHZ -/-, S1S2 reguler Abdomen BU (+), NT (+) epigastrium Ext AH +/+, edem -/- EKG: Sinus Rhythm 85bpm, normoaxis, STE II, III, aVF Darah Rutin - Hemoglobin 17.25 - Eritrosit 5.61 - Hematokrit 51.0 Index Eritrosit - MCV 90.9 - MCH 30.8 - MCHC 33.8 - Lekosit 22.14 H - Trombosit 328 - RDW-CV 12.23 - MPV 5.82 Hitung Jenis - Neutrofil 55.2 - Limfosit 35.0 - Monosit 5.5 - Eosinofil 3.10 - Basofil 1.1 - Total Neutrofil 12.23 - Total Lymphosit 7.75 - Total Monosit 1.22 - Total Eosinofil 0.69 - Total Basofil 0.25 Gol. Darah (A B O) - Golongan Darah O KIMIA KLINIK ELEKTROLIT - Natrium (Na) 136 - Kalium (K) 3.4 L - Chlorida (Cl) 104 - Calsium (Ca2+) 1.1 - pH 7.405 Glukosa Darah - Glukosa Darah Sewaktu 319 H Fungsi Ginjal - Ureum 27.8 - Kreatinin 1.46 H Jantung - CK-MB 49 H Glukosa Darah - Glukosa Darah Puasa 140 H Lemak - Cholesterol total 249 H - Trigliserida 550 H Fungsi Ginjal - Asam Urat 9.7 H FiO2 ambil 0.6 PH 7.391 PCO2 38 PO2 19 HCO3 22.6 H+ 40.35 ΔH/ΔPCO2 -0.17 PAO2 380.3 target PAO2 1401.10 FiO2 kor 2.03 AaDO2 361.3 HS 31.66 Kesan Normal asam basa dengan gagal napas hipoksemik (HS 31)
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Dada Akut (Sindrom Koroner Akut / Infark Miokard Elevasi ST Inferior)
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Nyeri dada yang muncul mendadak, menjalar, disertai mual dan muntah pada pasien dengan riwayat merokok aktif >20 tahun (1-2 bungkus/hari). Data objektif menunjukkan elevasi segmen ST pada sadapan II, III, aVF (inferior), peningkatan CK-MB 49 H, leukositosis 22.14 H, serta tanda-tanda inflamasi sistemik. Nyeri merupakan keluhan utama yang mengindikasikan iskemia miokard akibat oklusi arteri koroner, diperberat oleh kondisi hiperglikemia (GDS 319, GDP 140), dislipidemia (kolesterol total 249, trigliserida 550), dan hiperurisemia (9.7) yang mempercepat aterotrombosis. Nyeri dada pada SKA inferior sering disertai manifestasi gastrointestinal (mual, muntah, nyeri epigastrium) karena iritasi nervus vagus. Defisit perawatan diri juga muncul akibat keterbatasan aktivitas karena nyeri dan kelemahan umum (KU lemah, CM). Diagnosis ini ditegakkan berdasarkan manifestasi utama nyeri dada yang merupakan alasan utama pasien mencari pertolongan, dengan keparahan yang memerlukan intervensi segera untuk mencegah perluasan infark dan komplikasi fatal seperti gagal jantung atau aritmia.
Kode SLKI: L.08066
Deskripsi : Tingkat nyeri setelah diberikan intervensi keperawatan selama 1x24 jam, diharapkan menurun dengan kriteria hasil: (1) Keluhan nyeri menurun dari skala 8-10 (skala numerik) menjadi skala 3-4 atau kurang; (2) Ekspresi wajah rileks, tidak meringis; (3) Kemampuan menuntaskan aktivitas meningkat; (4) Tanda vital membaik: HR 60-100 x/menit, TD normal (120/80 mmHg), RR 16-20 x/menit; (5) Pasien melaporkan nyeri tidak menjalar, tidak disertai mual/muntah; (6) Pasien mampu mengidentifikasi faktor pencetus (aktivitas berat, stres, merokok) dan cara mengatasinya; (7) Pasien menunjukkan perilaku adaptif terhadap nyeri seperti teknik relaksasi napas dalam dan distraksi; (8) Tidak terjadi peningkatan kebutuhan oksigen miokard yang ditandai dengan tidak adanya perubahan ST segmen lebih lanjut pada EKG; (9) Pasien dapat beristirahat dengan nyaman tanpa terbangun karena nyeri; (10) Skor nyeri menggunakan PQRST: P (paliatif/posisi) - nyeri berkurang dengan istirahat, Q (quality) - nyeri seperti ditekan/terbakar, R (region) - nyeri di dada kiri menjalar ke lengan kiri/rahang, S (severity) - skala nyeri menurun, T (time) - durasi serangan memendek. Luaran ini terukur secara objektif melalui pengkajian nyeri berkelanjutan dan pemantauan hemodinamik.
Kode SIKI: I.08238
Deskripsi : Manajemen Nyeri (I.08238) dilakukan dengan observasi: (1) Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas nyeri (PQRST) setiap 2 jam atau saat pasien mengeluh; (2) Identifikasi skala nyeri menggunakan skala numerik 0-10; (3) Identifikasi respons nyeri nonverbal (perubahan TD, HR, RR, ekspresi wajah); (4) Identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri. Terapeutik: (1) Berikan teknik nonfarmakologis: terapi relaksasi napas dalam (teknik 4-7-8: tarik napas 4 detik, tahan 7 detik, hembuskan 8 detik) selama 5-10 menit; (2) Ajarkan distraksi dengan musik lembut atau percakapan; (3) Pertahankan posisi semi-Fowler (30-45 derajat) untuk mengurangi kerja jantung; (4) Batasi aktivitas fisik yang meningkatkan kebutuhan oksigen miokard, berikan tirah baring total; (5) Kolaborasi pemberian analgetik (morfin sulfat 2-4 mg IV titrasi) sesuai indikasi dokter, pantau efek samping (depresi napas, hipotensi); (6) Berikan oksigen nasal kanul 2-4 L/menit untuk mempertahankan SpO2 >95% (pada pasien ini SpO2 98% dengan O2 NK lpm, pertahankan); (7) Ciptakan lingkungan tenang, kurangi stimulus nyeri (cahaya redup, suara bising minimal); (8) Anjurkan melaporkan nyeri segera tanpa ditahan. Edukasi: (1) Jelaskan penyebab nyeri (iskemia miokard) dan pentingnya pelaporan dini; (2) Ajarkan teknik manajemen nyeri mandiri; (3) Anjurkan menghindari aktivitas berat dan merokok; (4) Jelaskan tanda bahaya yang harus dilaporkan (nyeri tidak hilang dengan istirahat, sesak, pusing). Kolaborasi: (1) Kolaborasi pemberian antiplatelet (aspirin 160-325 mg dikunyah), antitrombin (heparin), nitrat (ISDN sublingual), beta-blocker (metoprolol) sesuai protokol SKA; (2) Kolaborasi pemeriksaan EKG serial setiap 15-30 menit pada fase akut; (3) Kolaborasi pemeriksaan enzim jantung (CK-MB, troponin) serial; (4) Kolaborasi manajemen hiperglikemia (GDS 319) dengan insulin sliding scale sesuai advis dokter; (5) Kolaborasi manajemen dislipidemia (statin) dan asam urat. Evaluasi: (1) Kaji ulang skala nyeri setiap 4 jam; (2) Pantau tanda vital dan EKG; (3) Dokumentasikan respons terhadap intervensi; (4) Laporkan nyeri yang tidak teratasi atau memburuk ke dokter. Intervensi ini bertujuan menurunkan konsumsi oksigen miokard, meningkatkan perfusi koroner, dan memutus siklus nyeri-iskemia-nyeri.
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 264 265 266 267 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 280 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 297 298 299 300 301 302 303 304 305 306 307 308 309 310 311 312 313 314 315 316 317 318 319 320 321 322 323 324 325 326 327 328 329 330 331 332 333 334 335 336 337 338 339 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 350 351 352 353 354 355 356 357 358 359 360 361 362 363 364 365 366 367 368 369 370 371 372 373 374 375 376 377 378 379 380 381 382 383 384 385 386 387 388 389 390 391 392 393 394 395 396 397 398 399 400 401 402 403 404 405 406 407 408 409 410 411 412 413 414 415 416 417 418 419 420 421 422 423 424 425 426 427 428 429 430 431 432 433 434 435 436 437 438 439 440 441 442 443 444 445 446 447 448 449 450 451 452 453 454 455 456 457 458 459 460 461 462 463 464 465 466 467 468 469 470 471 472 473 474 475 476 477 478 479 480 481 482 483 484 485 486 487 488 489 490 491 492 493 494 495 496 497 498 499 500 501 502 503 504 505 506 507 508 509 510 511 512 513 514 515 516 517 518 519 520 521 522 523 524 525 526 527 528 529 530 531 532 533 534 535 536 537 538 539 540 541 542 543 544 545 546 547 548 549 550 551 552 553 554 555 556 557 558 559 560 561 562 563 564 565 566 567 568 569 570 571 572 573 574 575 576 577 578 579 580 581 582 583 584 585 586 587 588 589 590 591 592 593 594 595 596 597 598 599 600 601 602 603 604 605 606 607 608 609 610 611 612 613 614 615 616 617 618 619 620 621 622 623 624 625 626 627 628 629 630 631 632 633 634 635 636 637 638 639 640 641 642 643 644 645 646 647 648 649 650 651 652 653 654 655 656 657 658 659 660 661 662 663 664 665 666 667 668 669 670 671 672 673 674 675 676 677 678 679 680 681 682 683 684 685 686 687 688 689 690 691 692 693 694 695 696 697 698 699 700 701 702 703 704 705 706 707 708 709 710 711 712 713 714 715 716 717 718 719 720 721 722 723 724 725 726 727 728 729 730 731 732 733 734 735 736 737 738 739 740 741 742 743 744 745 746 747 748 749 750 751 752 753 754 755 756 757 758 759 760 761 762 763 764 765 766 767 768 769 770 771 772 773 774 775 776 777 778 779 780 781 782 783 784 785 786 787 788 789 790 791 792 793 794 795 796 797 798 799 800 801 802 803 804 805 806 807 808 809 810 811 812 813 814 815 816 817 818 819 820 821 822 823 824 825 826 827 828 829 830 831 832 833 834 835 836 837 838 839 840 841 842 843 844 845 846 847 848 849 850 851 852 853 854 855 856 857 858 859 860 861 862 863 864 865 866 867 868 869 870 871 872 873 874 875 876 877 878 879 880 881 882 883 884 885 886 887 888 889 890 891 892 893 894 895 896 897 898 899 900 901 902 903 904 905 906 907 908 909 910 911 912 913 914 915 916 917 918 919 920 921 922 923 924 925 926 927 928 929 930 931 932 933 934 935 936 937 938 939 940 941 942 943 944 945 946 947 948 949 950 951 952 953 954 955 956 957 958 959 960 961 962 963 964 965 966 967 968 969 970 971 972 973 974 975 976 977 978 979 980 981 982 983 984 985 986 987 988 989 990 991 992 993 994 995 996 997 998 999 1000 1001 1002 1003 1004 1005 1006 1007 1008 1009 1010 1011 1012 1013 1014 1015 1016 1017 1018 1019 1020 1021 1022 1023 1024 1025 1026 1027 1028 1029 1030 1031 1032 1033 1034 1035 1036 1037 1038 1039 1040 1041 1042 1043 1044 1045 1046 1047 1048 1049 1050 1051 1052 1053 1054 1055 1056 1057 1058 1059 1060 1061 1062 1063 1064 1065 1066 1067 1068 1069 1070 1071 1072 1073 1074 1075 1076 1077 1078 1079 1080 1081 1082 1083 1084 1085 1086 1087 1088 1089 1090 1091 1092 1093 1094 1095 1096 1097 1098 1099 1100 1101 1102 1103 1104 1105 1106 1107 1108 1109 1110 1111 1112 1113 1114 1115 1116 1117 1118 1119 1120 1121 1122 1123 1124 1125 1126 1127 1128 1129 1130 1131 1132 1133 1134 1135 1136 1137 1138 1139 1140 1141 1142 1143 1144 1145 1146 1147 1148 1149 1150 1151 1152 1153 1154 1155 1156 1157 1158 1159 1160 1161 1162 1163 1164 1165 1166 1167 1168 1169 1170 1171 1172 1173 1174 1175 1176 1177 1178 1179 1180 1181 1182 1183 1184 1185 1186 1187 1188 1189 1190 1191 1192 1193 1194 1195 1196 1197 1198 1199 1200 1201 1202 1203 1204 1205 1206 1207 1208 1209 1210 1211 1212 1213 1214 1215 1216 1217 1218 1219 1220 1221 1222 1223 1224 1225 1226 1227 1228 1229 1230 1231 1232 1233 1234 1235 1236 1237 1238 1239 1240 1241 1242 1243 1244 1245 1246 1247 1248 1249 1250 1251 1252 1253 1254 1255 1256 1257 1258 1259 1260 1261 1262 1263 1264 1265 1266 1267 1268 1269 1270 1271 1272 1273 1274 1275 1276 1277 1278 1279 1280 1281 1282 1283 1284 1285 1286 1287 1288 1289 1290 1291 1292 1293 1294 1295 1296 1297 1298 1299 1300 1301 1302 1303 1304 1305 1306 1307 1308 1309 1310 1311 1312 1313 1314 1315 1316 1317 1318 1319 1320 1321 1322 1323 1324 1325 1326 1327 1328 1329 1330 1331 1332 1333 1334 1335 1336 1337 1338 1339 1340 1341 1342 1343 1344 1345 1346 1347 1348 1349 1350 1351 1352 1353 1354 1355 1356 1357 1358 1359 1360 1361 1362 1363 1364 1365 1366 1367 1368 1369 1370 1371 1372 1373 1374 1375 1376 1377 1378 1379 1380 1381 1382 1383 1384 1385 1386 1387 1388 1389 1390 1391 1392 1393 1394 1395 1396 1397 1398 1399 1400 1401 1402 1403 1404 1405 1406 1407 1408 1409 1410 1411 1412 1413 1414 1415 1416 1417 1418 1419 1420 1421 1422 1423 1424 1425 1426 1427 1428 1429 1430 1431 1432 1433 1434 1435 1436 1437 1438 1439 1440 1441 1442 1443 1444 1445 1446 1447 1448 1449 1450 1451 1452 1453 1454 1455 1456 1457 1458 1459 1460 1461 1462 1463 1464 1465 1466 1467 1468 1469 1470 1471 1472 1473 1474 1475 1476 1477 1478 1479 1480 1481 1482 1483 1484 1485 1486 1487 1488 1489 1490 1491 1492 1493 1494 1495 1496 1497 1498 1499 1500 1501 1502 1503 1504 1505 1506 1507 1508 1509 1510 1511 1512 1513 1514 1515 1516 1517 1518 1519 1520 1521 1522 1523 1524 1525 1526 1527 1528 1529 1530 1531 1532 1533 1534 1535 1536 1537 1538 1539 1540 1541 1542 1543 1544 1545 1546 1547 1548 1549 1550 1551 1552 1553 1554 1555 1556 1557 1558 1559 1560 1561 1562 1563 1564 1565 1566 1567 1568 1569 1570 1571 1572 1573 1574 1575 1576 1577 1578 1579 1580 1581 1582 1583 1584 1585 1586 1587 1588 1589 1590 1591 1592 1593 1594 1595 1596 1597 1598 1599 1600 1601 1602 1603 1604 1605 1606 1607 1608 1609 1610 1611 1612 1613 1614 1615 1616 1617 1618 1619 1620 1621 1622 1623 1624 1625 1626 1627 1628 1629 1630 1631 1632 1633 1634 1635 1636 1637 1638 1639 1640 1641 1642 1643 1644 1645 1646 1647 1648 1649 1650 1651 1652 1653 1654 1655 1656 1657 1658 1659 1660 1661 1662 1663 1664 1665 1666 1667 1668 1669 1670 1671 1672 1673 1674 1675 1676 1677 1678 1679 1680 1681 1682 1683 1684 1685 1686 1687 1688 1689 1690 1691 1692 1693 1694 1695 1696 1697 1698 1699 1700 1701 1702 1703 1704 1705 1706 1707 1708 1709 1710 1711 1712 1713 1714 1715 1716 1717 1718 1719 1720 1721 1722 1723 1724 1725 1726 1727 1728 1729 1730 1731 1732 1733 1734 1735 1736 1737 1738 1739 1740 1741 1742 1743 1744 1745 1746 1747 1748 1749 1750 1751 1752 1753 1754 1755 1756 1757 1758 1759 1760 1761 1762 1763 1764 1765 1766 1767 1768 1769 1770 1771 1772 1773 1774 1775 1776 1777 1778 1779 1780 1781 1782 1783 1784 1785 1786 1787 1788 1789 1790 1791 1792 1793 1794 1795 1796 1797 1798 1799 1800 1801 1802 1803 1804 1805 1806 1807 1808 1809 1810 1811 1812 1813 1814 1815 1816 1817 1818 1819 1820 1821 1822 1823 1824 1825 1826 1827 1828 1829 1830 1831 1832 1833 1834 1835 1836 1837 1838 1839 1840 1841 1842 1843 1844 1845 1846 1847 1848 1849 1850 1851 1852 1853 1854 1855 1856 1857 1858 1859 1860 1861 1862 1863 1864 1865 1866 1867 1868 1869 1870 1871 1872 1873 1874 1875 1876 1877 1878 1879 1880 1881 1882 1883 1884 1885 1886 1887 1888 1889 1890 1891 1892 1893 1894 1895 1896 1897 1898 1899 1900 1901 1902 1903 1904 1905 1906 1907 1908 1909 1910 1911 1912 1913 1914 1915 1916 1917 1918 1919 1920 1921 1922 1923 1924 1925 1926 1927 1928 1929 1930 1931 1932 1933 1934 1935 1936 1937 1938 1939 1940 1941 1942 1943 1944 1945 1946 1947 1948 1949 1950 1951 1952 1953 1954 1955 1956 1957 1958 1959 1960 1961 1962 1963 1964 1965 1966 1967 1968 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 2029 2030 2031 2032 2033 2034 2035 2036 2037 2038 2039 2040 2041 2042 2043 2044 2045 2046 2047 2048 2049 2050 2051 2052 2053 2054 2055 2056 2057 2058 2059 2060 2061 2062 2063 2064 2065 2066 2067 2068 2069 2070 2071 2072 2073 2074 2075 2076 2077 2078 2079 2080 2081 2082 2083 2084 2085 2086 2087 2088 2089 2090 2091 2092 2093 2094 2095 2096 2097 2098 2099 2100 2101 2102 2103 2104 2105 2106 2107 2108 2109 2110 2111 2112 2113 2114 2115 2116 2117 2118 2119 2120 2121 2122 2123 2124 2125 2126 2127 2128 2129 2130 2131 2132 2133 2134 2135 2136 2137 2138 2139 2140 2141 2142 2143 2144 2145 2146 2147 2148 2149 2150 2151 2152 2153 2154 2155 2156 2157 2158 2159 2160 2161 2162 2163 2164 2165 2166 2167 2168 2169 2170 2171 2172 2173 2174 2175 2176 2177 2178 2179 2180 2181 2182 2183 2184 2185 2186 2187 2188 2189 2190 2191 2192 2193 2194 2195 2196 2197 2198 2199 2200 2201 2202 2203 2204 2205 2206 2207 2208 2209 2210 2211 2212 2213 2214 2215 2216 2217 2218 2219 2220 2221 2222 2223 2224 2225 2226 2227 2228 2229 2230 2231 2232 2233 2234 2235 2236 2237 2238 2239 2240 2241 2242 2243 2244 2245 2246 2247 2248 2249 2250 2251 2252 2253 2254 2255 2256 2257 2258 2259 2260 2261 2262 2263 2264 2265 2266 2267 2268 2269 2270 2271 2272 2273 2274 2275 2276 2277 2278 2279 2280 2281 2282 2283 2284 2285 2286 2287 2288 2289 2290 2291 2292 2293 2294 2295 2296 2297 2298 2299 2300 2301 2302 2303 2304 2305 2306 2307 2308 2309 2310 2311 2312 2313 2314 2315 2316 2317 2318 2319 2320 2321 2322 2323 2324 2325 2326 2327 2328 2329 2330 2331 2332 2333 2334 2335 2336 2337 2338 2339 2340 2341 2342 2343 2344 2345 2346 2347 2348 2349 2350 2351 2352 2353 2354 2355 2356 2357 2358 2359 2360 2361 2362 2363 2364 2365 2366 2367 2368 2369 2370 2371 2372 2373 2374 2375 2376 2377 2378 2379 2380 2381 2382 2383 2384 2385 2386 2387 2388 2389 2390 2391 2392 2393 2394 2395 2396 2397 2398 2399 2400 2401 2402 2403 2404 2405 2406 2407 2408 2409 2410 2411 2412 2413 2414 2415 2416 2417 2418 2419 2420 2421 2422 2423 2424 2425 2426 2427 2428 2429 2430 2431 2432 2433 2434 2435 2436 2437 2438 2439 2440 2441 2442 2443 2444 2445 2446 2447 2448 2449 2450 2451 2452 2453 2454 2455 2456 2457 2458 2459 2460 2461 2462 2463 2464 2465 2466 2467 2468 2469 2470 2471 2472 2473 2474 2475 2476 2477 2478 2479 2480 2481 2482 2483 2484 2485 2486 2487 2488 2489 2490 2491 2492 2493 2494 2495 2496 2497 2498 2499 2500 2501 2502 2503 2504 2505 2506 2507 2508 2509 2510 2511 2512 2513 2514 2515 2516 2517 2518 2519 2520 2521 2522 2523 2524 2525 2526 2527 2528 2529 2530 2531 2532 2533 2534 2535 2536 2537 2538 2539 2540 2541 2542 2543 2544 2545 2546 2547 2548 2549 2550 2551 2552 2553 2554 2555 2556 2557 2558 2559 2560 2561 2562 2563 2564 2565 2566 2567 2568 2569 2570 2571 2572 2573 2574 2575 2576 2577 2578 2579 2580 2581 2582 2583 2584 2585 2586 2587 2588 2589 2590 2591 2592 2593 2594 2595 2596