Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 24043 | 14 Feb 2026
Klinis : Pasien mengatakan kulitnya mudah gatal, dan kadang mudah terluka, di tangan ada sedikit luka kena pisau.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Cedera
Kode SDKI: 0016
Deskripsi Singkat: Risiko Cedera adalah diagnosis keperawatan yang menggambarkan kerentanan individu terhadap cedera fisik akibat kondisi lingkungan yang berinteraksi dengan kemampuan adaptif dan pertahanan diri individu, yang dapat membahayakan kesehatan.
Kode SLKI: 4301
Deskripsi : SLKI 4301 berfokus pada pencegahan cedera. Tujuannya adalah agar pasien terlindungi dari cedera. Kriteria hasil utama yang diharapkan meliputi: pasien dapat mengidentifikasi faktor risiko cedera di lingkungannya, memodifikasi lingkungan untuk mengurangi risiko, dan mendemonstrasikan perilaku yang aman untuk mencegah cedera. Perawat akan mengevaluasi keberhasilan intervensi dengan mengamati apakah pasien terhindar dari luka, mematuhi tindakan pencegahan keselamatan, serta lingkungan tempat tinggal atau perawatan pasien bebas dari bahaya yang dapat dihindari.
Kode SIKI: 4160
Deskripsi : SIKI 4160 adalah Intervensi Keperawatan untuk Manajemen Lingkungan: Pencegahan Cedera. Intervensi ini melibatkan serangkaian tindakan sistematis yang dilakukan perawat untuk meminimalkan risiko cedera pada pasien. Tindakan-tindakan tersebut mencakup: (1) Melakukan pengkajian risiko cedera secara komprehensif, termasuk menilai kondisi kulit (seperti keluhan gatal dan mudah luka), status sensorik, mobilitas, kognisi, riwayat jatuh atau cedera sebelumnya, serta pengobatan yang dapat mempengaruhi kewaspadaan atau integritas kulit. (2) Memodifikasi lingkungan dengan menata ruangan agar bebas dari barang-barang yang menghalangi jalan, memastikan pencahayaan yang memadai, memasang pegangan tangan di kamar mandi, dan menggunakan alas kaki yang tidak licin. (3) Memberikan edukasi kesehatan kepada pasien dan keluarga tentang faktor risiko spesifik yang dimiliki pasien (kulit mudah gatal dan terluka) serta cara mengelolanya. Edukasi ini termasuk cara merawat kulit dengan lembut, menghindari menggaruk, menggunakan pisau atau alat tajam dengan ekstra hati-hati, serta pentingnya segera merawat luka kecil seperti yang ada di tangan untuk mencegah infeksi. (4) Melibatkan keluarga atau pengasuh dalam pengawasan dan penciptaan lingkungan yang aman. (5) Memantau dan mengevaluasi efektivitas intervensi pencegahan cedera yang telah dilakukan secara berkala, dan menyesuaikan rencana jika diperlukan. Intervensi ini bersifat holistik, menggabungkan aspek fisik, edukasi, dan dukungan lingkungan untuk menciptakan sistem pertahanan guna melindungi pasien dari bahaya.
-
Article No. 24044 | 14 Feb 2026
Klinis : Pasien mengatakan kulitnya mudah gatal, dan kadang mudah terluka, di tangan ada sedikit luka
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Cedera (Integritas Kulit)
Kode SDKI: 0026
Deskripsi Singkat: Risiko cedera adalah keadaan rentan terhadap cedera fisik akibat kondisi lingkungan yang berinteraksi dengan sumber daya adaptif dan pertahanan individu.
Kode SLKI: 4301
Deskripsi : SLKI 4301 berfokus pada pencegahan cedera kulit. Tujuannya adalah mempertahankan integritas kulit dan mencegah kerusakan jaringan. Intervensi keperawatan dalam SLKI ini mencakup serangkaian tindakan proaktif dan edukatif. Pertama, perawat akan melakukan pengkajian kulit secara komprehensif dan berkala, memantau area yang rentan seperti tangan (yang dalam kasus ini sudah ada luka), mencatat karakteristik kulit (seperti kekeringan yang menyebabkan gatal), dan mengidentifikasi faktor risiko seperti gesekan, tekanan, atau paparan bahan iritan. Kedua, perawat akan mengimplementasikan tindakan untuk meminimalkan risiko, seperti memberikan perawatan kulit yang lembut dengan pembersih pH seimbang, mengaplikasikan pelembab secara rutin untuk mengatasi kulit kering dan gatal sehingga mengurangi keinginan untuk menggaruk, serta melindungi area yang sudah luka dengan penutup yang sesuai. Ketiga, edukasi kepada pasien dan keluarga menjadi komponen krusial. Perawat akan mengajarkan pentingnya menjaga kelembaban kulit, teknik perawatan luka sederhana, cara mengenali tanda-tanda infeksi (seperti kemerahan, bengkak, nyeri, atau nanah), dan strategi untuk menghindari trauma fisik seperti menggaruk dengan kuku atau menggunakan alat yang tajam. SLKI ini juga melibatkan modifikasi lingkungan, misalnya memastikan permukaan yang aman dan menggunakan pelindung jika diperlukan. Evaluasi keberhasilan SLKI ini diukur dari tidak adanya lesi kulit baru, penyembuhan luka yang ada, serta kemampuan pasien dan keluarga dalam mendemonstrasikan perilaku perawatan kulit yang tepat.
Kode SIKI: 4410
Deskripsi : SIKI 4410 adalah Intervensi Keperawatan spesifik untuk "Perawatan Kulit". Intervensi ini merupakan tindakan nyata yang dilakukan perawat untuk mencapai tujuan dalam SLKI 4301. SIKI 4410 mencakup beberapa aksi utama yang terstruktur. Aksi pertama adalah pengkajian, yaitu menginspeksi kondisi kulit, membran mukosa, dan area tekanan pada setiap pertemuan dengan pasien. Dalam kasus ini, perawat akan memeriksa secara detail luka di tangan, menilai ukuran, kedalaman, warna, adanya eksudat, serta kondisi kulit di sekitarnya yang mudah gatal dan terluka. Aksi kedua adalah pembersihan, yaitu memandikan/membersihkan pasien dengan sabun lemah (mild soap) atau pembersih pH seimbang, menggunakan air hangat (bukan panas), dan mengeringkan kulit dengan menepuk-nepuk (bukan menggosok), terutama di area lipatan. Untuk kulit yang kering dan gatal, perawat akan mengaplikasikan pelembab (moisturizer) atau emolien setelah mandi untuk mempertahankan kelembaban. Aksi ketiga adalah proteksi, yaitu melindungi kulit dari cedera lebih lanjut dengan menggunakan bantalan (padding) atau pelindung pada area tulang yang menonjol, serta mempertahankan posisi tubuh yang baik untuk menghindari tekanan dan gesekan yang berlebihan. Untuk luka yang sudah ada, perawat akan melakukan perawatan luka sesuai protokol, seperti membersihkan luka dengan larutan steril, mengaplikasikan balutan yang sesuai (misalnya balutan lembab untuk penyembuhan), dan mengganti balutan secara teratur. Aksi keempat adalah edukasi, yaitu mengajarkan pasien dan keluarga tentang pentingnya nutrisi yang adekuat (terutama protein, vitamin C, dan zinc) untuk penyembuhan kulit, teknik menghindari menggaruk (seperti mengelus kulit lembut atau menggunakan kompres dingin saat gatal), dan cara memilih pakaian yang lembut dan tidak mengiritasi. Perawat juga akan memantau tanda-tanda komplikasi seperti infeksi pada luka. Seluruh aksi ini didokumentasikan dan dievaluasi efektivitasnya secara berkala, dengan penyesuaian rencana perawatan jika diperlukan berdasarkan respons kulit dan luka pasien. Implementasi SIKI 4410 yang konsisten dan teliti bertujuan untuk memutus siklus "kulit gatal - digaruk - terluka", mempercepat penyembuhan, dan mencegah cedera berulang.
-
Article No. 24045 | 14 Feb 2026
Klinis : Pasien mengatakan sesak napas kadang, batuk, berdahak,
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Bronkitis Kronis Tanpa Eksaserbasi Akut
Kode ICD-10: J42
Deskripsi Singkat : Kode J42 mengacu pada Bronkitis Kronis yang Tidak Ditentukan atau Sederhana. Kondisi ini ditandai dengan peradangan kronis pada saluran bronkial (cabang batang tenggorokan) yang menyebabkan hipersekresi lendir. Gejala utama mencakup batuk produktif (berdahak) yang terjadi hampir setiap hari selama minimal 3 bulan dalam setahun dan berulang selama dua tahun berturut-turut, serta sesak napas yang dapat muncul terutama saat beraktivitas. Dalam konteks deskripsi pasien yang menyebutkan "sesak napas kadang, batuk, berdahak" tanpa indikasi infeksi akut saat ini (seperti demam atau dahak purulen berlebihan), kode ini menjadi pertimbangan utama untuk kondisi kronis yang mendasarinya. Kode J42 berada di bawah bab "Penyakit pada Sistem Pernapasan" (J00-J99) dan lebih spesifik di bawah blok "Penyakit Paru Obstruktif Kronik dan Kondisi Terkait" (J40-J47). Penting untuk dicatat bahwa penentuan diagnosis akhir dan kode yang tepat memerlukan pemeriksaan klinis lengkap oleh dokter, termasuk evaluasi riwayat merokok, pemeriksaan fisik, dan mungkin tes fungsi paru untuk mengonfirmasi obstruksi jalan napas dan menyingkirkan kondisi lain seperti asma atau bronkiektasis.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 24046 | 14 Feb 2026
Klinis : Pasien mengatakan sesak napas kadang, batuk, berdahak,
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang paten.
Kode SLKI: L.04001
Deskripsi : Pasien menunjukkan jalan napas yang paten, ditandai dengan: 1) Suara napas bersih/vokal, 2) Tidak ada atau berkurangnya suara napas abnormal (mengi, ronki, stridor), 3) Laju dan irama napas dalam rentang normal sesuai usia, 4) Tidak ada atau berkurangnya batuk tidak efektif, 5) Sputum/sekret dapat dikeluarkan dengan mudah, 6) Nilai analisis gas darah dalam rentang normal, 7) Pasien mampu menunjukkan teknik batuk efektif dan/atau penggunaan alat bantu sesuai indikasi.
Kode SIKI: I.06003
Deskripsi : Intervensi untuk mempertahankan atau memulihkan bersihan jalan napas, meliputi: 1) Kaji status pernapasan (laju, irama, kedalaman, usaha napas, penggunaan otot bantu). 2) Kaji suara napas dan adanya suara tambahan (ronki, mengi). 3) Kaji kemampuan batuk dan karakteristik sputum (jumlah, warna, konsistensi). 4) Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi (misalnya, posisi semi-Fowler atau Fowler tinggi). 5) Ajarkan dan bantu latihan napas dalam dan batuk efektif. 6) Lakukan fisioterapi dada (perkusi, vibrasi, drainase postural) jika diindikasikan. 7) Lakukan penghisapan lendir (suction) jalan napas atas/bawah jika diperlukan. 8) Berikan terapi oksigen sesuai program. 9) Dorong asupan cairan yang adekuat untuk mengencerkan sekret, kecuali kontraindikasi. 10) Ajarkan penggunaan alat bantu seperti incentive spirometer. 11) Kelola lingkungan untuk mengurangi iritan udara (debu, asap). 12) Kolaborasi pemberian obat-obatan seperti bronkodilator, mukolitik, atau ekspektoran sesuai resep. 13) Monitor analisis gas darah dan saturasi oksigen. 14) Ajarkan pasien/keluarga tanda dan gejala gangguan jalan napas yang perlu dilaporkan.
-
Article No. 24047 | 14 Feb 2026
Klinis : DS: Pasien mengatakan badanya pegal-pegal, nyeri sendi dan kadang kaki nya kaku. DO: pasien tampak memijat kaki nya, sering mengoleskan frescare di kaki dan badan yang lain
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 0001
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut; onset mendadak atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat, diperkirakan atau antisipasi berakhir dalam waktu kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: 0001
Deskripsi : Kontrol Nyeri: Tindakan untuk mengontrol dan mengurangi nyeri. Indikator yang relevan berdasarkan data pasien meliputi: (1) Melaporkan nyeri berkurang atau hilang, (2) Mengenali faktor pencetus, (3) Menggunakan teknik nonfarmakologi untuk mengatasi nyeri, (4) Menggunakan analgesik sesuai resep, (5) Mempertahankan tingkat fungsi yang diinginkan. Tujuan dari SLKI ini adalah agar pasien dapat melaporkan penurunan nyeri, mengidentifikasi pemicu, dan menggunakan metode nonfarmakologis serta farmakologis dengan tepat untuk mengelola nyeri, sehingga kualitas hidup dan tingkat fungsionalnya dapat dipertahankan.
Kode SIKI: 0001
Deskripsi : Manajemen Nyeri: Intervensi untuk meringankan atau mengurangi nyeri hingga tingkat kenyamanan yang dapat diterima oleh pasien. Intervensi spesifik yang dapat diterapkan berdasarkan kondisi pasien meliputi: (1) Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif (lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas, dan faktor pencetus). (2) Observasi petunjuk non-verbal dari ketidaknyamanan, terutama pada mereka yang tidak mampu berkomunikasi dengan baik (seperti pasien tampak memijat kaki). (3) Ajarkan tentang penggunaan teknik nonfarmakologi (seperti distraksi, relaksasi, kompres hangat/dingin, masase) sebelum, setelah, dan jika mungkin selama aktivitas yang menyakitkan. (4) Berikan analgetik sesuai resep dan evaluasi keefektifannya. (5) Dukung dan perkuat upaya pasien dalam mengontrol nyeri (seperti mengoleskan balsem/frescare). (6) Atur posisi untuk kenyamanan dan fungsi optimal. (7) Lakukan latihan rentang gerak pasif/aktif jika tidak kontraindikasi untuk mencegah kekakuan. (8) Kaji efektivitas strategi koping yang digunakan pasien. (9) Lakukan pendidikan kesehatan mengenai manajemen nyeri jangka pendek. Intervensi ini dilakukan untuk mengatasi pengalaman nyeri pasien secara holistik, menggabungkan pendekatan farmakologis dan non-farmakologis, memberdayakan pasien dalam mengelola nyerinya sendiri, dan mencegah komplikasi seperti imobilisasi akibat nyeri dan kekakuan sendi.
-
Article No. 24048 | 14 Feb 2026
Klinis : Pasien post operasi salpingo ooforektomi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Pasien post operasi salpingo ooforektomi
Kode SDKI: 0026
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi
Kode SLKI: 2006
Deskripsi : Manajemen Infeksi
Kode SIKI: 3410
Deskripsi : Pemantauan Tanda dan Gejala Infeksi
Kondisi: Pasien post operasi salpingo ooforektomi
Kode SDKI: 0013
Deskripsi Singkat: Nyeri Akut
Kode SLKI: 2013
Deskripsi : Manajemen Nyeri
Kode SIKI: 3401
Deskripsi : Pemantauan Nyeri
Kondisi: Pasien post operasi salpingo ooforektomi
Kode SDKI: 0018
Deskripsi Singkat: Risiko Perfusi Perifer Tidak Efektif
Kode SLKI: 2018
Deskripsi : Manajemen Perfusi Perifer
Kode SIKI: 3402
Deskripsi : Pemantauan Tanda Vital
Kondisi: Pasien post operasi salpingo ooforektomi
Kode SDKI: 0001
Deskripsi Singkat: Risiko Syok
Kode SLKI: 2001
Deskripsi : Manajemen Syok
Kode SIKI: 3402
Deskripsi : Pemantauan Tanda Vital
Kondisi: Pasien post operasi salpingo ooforektomi
Kode SDKI: 0021
Deskripsi Singkat: Risiko Perdarahan
Kode SLKI: 2021
Deskripsi : Manajemen Perdarahan
Kode SIKI: 3402
Deskripsi : Pemantauan Tanda Vital
Kondisi: Pasien post operasi salpingo ooforektomi
Kode SDKI: 0017
Deskripsi Singkat: Ansietas
Kode SLKI: 2017
Deskripsi : Manajemen Ansietas
Kode SIKI: 4410
Deskripsi : Pemberian Dukungan Emosional
-
Article No. 24049 | 14 Feb 2026
Klinis : pasien datang mau melepas Impan KB
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Pasien datang untuk melepas Implan KB
Kode SDKI: D.0146
Deskripsi Singkat: Ansietas
Kode SLKI: L.08102
Deskripsi : Ansietas teratasi
Kode SIKI: I.01278
Deskripsi : Manajemen Ansietas
Penjelasan Lengkap SDKI, SLKI, dan SIKI:
Diagnosa Keperawatan (SDKI - D.0146: Ansietas): Ansietas didefinisikan sebagai perasaan tidak nyaman atau ketakutan yang samar-samar, disertai respons otonom (sumbernya seringkali tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu). Pada pasien yang akan melepas implan KB, ansietas dapat muncul dari berbagai faktor. Pertama, ketakutan terhadap prosedur itu sendiri, seperti rasa sakit atau ketidaknyamanan selama proses pelepasan. Kedua, kekhawatiran tentang perubahan yang akan terjadi pasca-pelepasan, seperti kembalinya kesuburan, potensi kehamilan yang tidak direncanakan, atau kembalinya siklus menstruasi yang mungkin lebih berat atau tidak teratur. Ketiga, pengalaman masa lalu dengan prosedur medis atau ketidakpastian tentang hasil prosedur (misalnya, apakah akan ada komplikasi seperti infeksi atau perdarahan). Keempat, faktor psikososial seperti tekanan dari pasangan atau keluarga mengenai rencana kehamilan berikutnya. Ansietas ini dapat dimanifestasikan secara perilaku (gelisah, banyak bertanya, ragu-ragu), emosional (perasaan tegang, khawatir berlebihan), kognitif (kesulitan konsentrasi, pikiran negatif), dan fisiologis (peningkatan denyut nadi, tekanan darah, berkeringat). Perawat perlu mengidentifikasi tingkat ansietas (ringan, sedang, berat, panik) dan sumbernya untuk memberikan intervensi yang tepat.
Luaran Keperawatan (SLKI - L.08102: Ansietas teratasi): Luaran ini mengindikasikan bahwa setelah dilakukan asuhan keperawatan, tingkat ansietas pasien menurun atau teratasi. Kriteria luaran yang diharapkan meliputi: pasien mampu mengungkapkan perasaan ansietasnya dan mengidentifikasi faktor penyebab secara verbal. Pasien menunjukkan penurunan tanda-tanda fisiologis ansietas seperti denyut nadi dan pernapasan dalam rentang normal, tidak ada keluhan palpitasi, dan tubuh terlihat lebih rileks. Dari sisi perilaku, pasien tampak tenang, kooperatif selama prosedur, mampu mendengarkan dan memahami penjelasan yang diberikan oleh tenaga kesehatan. Pasien juga menunjukkan kemampuan menggunakan teknik koping yang adaptif untuk mengurangi kecemasannya, misalnya dengan teknik relaksasi napas dalam atau distraksi. Selain itu, pasien menyatakan kesiapan menghadapi prosedur dan memahami tahapan serta perawatan pasca-prosedur dengan baik. Pencapaian luaran ini dinilai secara bertahap, dari tingkat ansietas berat/panik menjadi ansietas ringan atau bahkan tidak ada ansietas sama sekali, yang menunjukkan bahwa pasien telah beradaptasi dengan situasi yang dihadapinya.
Intervensi Keperawatan (SIKI - I.01278: Manajemen Ansietas): Intervensi ini merupakan tindakan keperawatan untuk meminimalkan atau menghilangkan ansietas. Pada konteks pasien melepas implan KB, tindakan spesifik meliputi: Pertama, Memberikan informasi dan edukasi: Menjelaskan secara jelas dan sederhana prosedur pelepasan implan KB, mulai dari persiapan, proses (durasi, sensasi yang mungkin dirasakan seperti sedikit nyeri atau tarikan), hingga perawatan pasca-prosedur (perawatan luka, tanda-tanda infeksi). Informasi yang akurat mengurangi ketidakpastian yang merupakan sumber utama ansietas. Kedua, Menciptakan lingkungan yang terapeutik: Menjaga privasi, mendengarkan dengan penuh perhatian (aktif listening), dan menunjukkan sikap empati serta penerimaan. Ketiga, Melibatkan pasien dalam perencanaan: Memberikan kesempatan pasien untuk bertanya dan menyuarakan kekhawatirannya, serta melibatkan mereka dalam pengambilan keputusan sederhana terkait kenyamanan selama prosedur. Keempat, Mengajarkan teknik relaksasi: Seperti napas dalam (deep breathing) atau relaksasi otot progresif untuk membantu pasien mengontrol respons fisiologis kecemasan. Kelima, Memberikan dukungan emosional: Memberikan keyakinan dan penegasan positif bahwa perasaan cemas adalah wajar, serta meyakinkan kompetensi tenaga kesehatan yang menangani. Keenam, Kolaborasi: Jika ansietas sangat berat dan mengganggu, perawat dapat berkolaborasi dengan dokter untuk pertimbangan manajemen farmakologis (seperti pemberian anxiolytic ringan) sesuai indikasi. Seluruh intervensi ini dilakukan dengan pendekatan komunikasi terapeutik untuk membangun hubungan saling percaya antara perawat dan pasien.
Keterkaitan: Ketiga komponen ini membentuk satu kesatuan asuhan keperawatan yang sistematis. SDKI (Ansietas) menjadi dasar perumusan masalah berdasarkan respons pasien terhadap situasi kesehatan (melepas KB). SLKI (Ansietas teratasi) menjadi tujuan spesifik yang ingin dicapai dari asuhan tersebut. Sementara SIKI (Manajemen Ansietas) adalah serangkaian tindakan berbasis evidence yang dilakukan perawat untuk mengubah kondisi ansietas (SDKI) menuju kondisi ansietas teratasi (SLKI). Dengan demikian, proses keperawatan berjalan secara logis dan terukur, memastikan bahwa pasien tidak hanya menjalani prosedur medis secara fisik tetapi juga mendapatkan dukungan psikologis yang komprehensif.
-
Article No. 24050 | 14 Feb 2026
Klinis : Ny. D, seorang wanita berusia 29 tahun dengan status obstetri G2P1A0 dan usia kehamilan 34 minggu, dibawa oleh keluarganya ke IGD dalam kondisi pasca-kejang. Berdasarkan anamnesis dari keluarga, pasien mengalami kejang umum (grand mal) selama kurang lebih 1 menit saat berada di rumah. Sebelum kejadian tersebut, Ny. D dilaporkan sempat mengeluhkan sakit kepala yang sangat hebat, pandangan kabur, serta nyeri pada ulu hati (epigastrium) selama dua hari terakhir. Pasien memiliki riwayat pemeriksaan kehamilan (Antenatal Care) yang tidak teratur, sehingga kondisi hipertensinya kemungkinan besar tidak terdeteksi lebih awal. Pada pemeriksaan fisik saat tiba di rumah sakit, kesadaran pasien ditemukan dalam kondisi somnolen (post-ictal). Tanda-tanda vital menunjukkan hipertensi berat dengan Tekanan Darah 170/110 mmHg, Nadi 98 x/menit, dan Frekuensi Napas 22 x/menit. Pemeriksaan neurologis menunjukkan refleks patela yang hiperaktif, sementara pemeriksaan penunjang laboratorium mengonfirmasi adanya Proteinuria +++ dan Trombositopenia (95.000/µL) yang menandakan adanya kerusakan organ target. Kondisi janin juga mulai menunjukkan tanda kegawatan, dengan denyut jantung janin (DJJ) berada di angka 110 x/menit (borderline) dan laporan ibu mengenai gerakan janin yang berkurang secara signifikan sejak pagi hari. Sebagai langkah tatalaksana darurat di IGD, tim medis segera memposisikan pasien miring ke kiri untuk optimalisasi aliran darah uteroplasenta dan memberikan oksigen melalui nasal kanul. Untuk mencegah kejang berulang, pasien diberikan Mgso4 (Magnesium Sulfat) sesuai protokol, dimulai dengan loading dose dan dilanjutkan dengan maintenance dose. Saat ini, pasien berada dalam pengawasan ketat untuk memantau toksisitas Mgso4 (melalui cek urin output, frekuensi napas, dan refleks patella) serta persiapan untuk kemungkinan terminasi kehamilan mengingat kondisi eklampsia dan tanda-tanda gawat janin yang muncul.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Cedera dan Penurunan Perfusi Serebral pada Eklampsia dengan Gawat Janin
Kode SDKI: 0006
Deskripsi Singkat: Risiko Cedera berhubungan dengan kejang umum (grand mal) dan status post-ictal somnolen, ditambah dengan ancaman penurunan perfusi serebral akibat hipertensi berat (170/110 mmHg) dan vasospasme yang mendasari eklampsia.
Kode SLKI: 1901
Deskripsi : Tindakan Keperawatan: Pencegahan Cedera. Perawat akan menciptakan dan mempertahankan lingkungan yang aman untuk mencegah cedera fisik selama dan setelah episode kejang. Tindakan spesifik meliputi: memposisikan pasien miring untuk menjaga jalan napas dan mencegah aspirasi, menggunakan penghalang tempat tidur yang dipasang dengan aman, menghindari restrain, serta memastikan area di sekitar tempat tidur bebas dari benda keras dan tajam. Selama fase post-ictal, perawat akan memantau tingkat kesadaran (somnolen) secara ketat, memastikan pasien tetap di tempat tidur dengan pengawasan, dan melakukan pendampingan penuh jika pasien perlu berpindah. Pemberian terapi MgSO4 sebagai antikonvulsan juga merupakan bagian integral dari pencegahan kejang berulang yang dapat menyebabkan cedera. Pemantauan tanda-tanda toksisitas MgSO4 (refleks patella, frekuensi napas, output urin) dilakukan untuk mencegah cedera iatrogenik akibat depresi sistem saraf dan pernapasan.
Kode SIKI: 3401
Deskripsi : Kriteria Hasil: Pencegahan Cedera. Hasil yang diharapkan adalah pasien bebas dari cedera fisik selama perawatan. Indikatornya meliputi: tidak ada tanda-tanda trauma fisik seperti memar, laserasi, atau fraktur; jalan napas pasien tetap paten selama dan setelah kejang; pasien tidak mengalami aspirasi; serta tidak terjadi kejang berulang yang tidak terkontrol. Selain itu, keselamatan janin juga menjadi pertimbangan, dengan indikator tidak memburuknya tanda-tanda gawat janin akibat hipoksia selama kejang ibu. Pemantauan ketat terhadap efek samping MgSO4 juga memastikan pasien bebas dari cedera akibat toksisitas, seperti depresi pernapasan atau henti jantung.
Kondisi: Penurunan Kardiak Output dan Perfusi Organ Vital (Termasuk Uteroplasenta)
Kode SDKI: 0026
Deskripsi Singkat: Penurunan Kardiak Output berhubungan dengan peningkatan afterload yang signifikan akibat hipertensi berat (170/110 mmHg) dan vasospasme sistemik pada eklampsia, yang mengakibatkan gangguan perfusi ke organ-organ vital termasuk otak, ginjal, hati, dan unit uteroplasenta.
Kode SLKI: 0602
Deskripsi : Tindakan Keperawatan: Manajemen Hipertensi. Perawat akan berkolaborasi dalam menurunkan tekanan darah secara terkontrol untuk mengoptimalkan kardiak output dan perfusi organ. Tindakan meliputi: memantau tekanan darah secara invasif atau non-invasif dengan interval ketat, memposisikan pasien miring ke kiri untuk mengurangi kompresi vena kava dan meningkatkan aliran darah balik vena serta perfusi uteroplasenta, memberikan terapi oksigen untuk memenuhi kebutuhan oksigen jaringan, serta mengadministrasikan obat antihipertensi sesuai instruksi dokter (seperti Nifedipin atau Labetalol) dengan pemantauan efek dan side effect. Perawat juga memantau tanda-tanda kerusakan organ target akibat hipoperfusi: status neurologis (sakit kepala, penglihatan, kesadaran), output urin (untuk menilai perfusi ginjal dan sebagai parameter toksisitas MgSO4), serta hasil laboratorium (proteinuria, trombosit). Pemantauan DJJ dan gerakan janin dilakukan sebagai indikator perfusi uteroplasenta.
Kode SIKI: 1301
Deskripsi : Kriteria Hasil: Status Sirkulasi. Hasil yang diharapkan adalah membaiknya kardiak output dan perfusi organ. Indikatornya meliputi: tekanan darah terkontrol dalam rentang target yang aman untuk kehamilan (misal, di bawah 150/100 mmHg), nadi perifer teraba kuat dan reguler, kulit hangat dan kering, serta haluaran urin adekuat (>30 ml/jam). Pada sistem organ spesifik: status neurologis membaik (kesadaran meningkat, sakit kepala dan gangguan penglihatan berkurang), tanda-tanda laboratorium kerusakan organ tidak memburuk, dan perfusi uteroplasenta membaik yang ditandai dengan DJJ dalam rentang normal (120-160 x/menit) dan peningkatan gerakan janin yang dilaporkan ibu.
Kondisi: Ansietas Berat dan Defisit Pengetahuan pada Keluarga terkait Kondisi Eklampsia yang Mengancam Jiwa
Kode SDKI: 00146
Deskripsi Singkat: Ansietas (pada keluarga) berhubungan dengan perubahan status kesehatan ibu (kejang, tidak sadar) dan janin yang mendadak serta ancaman kematian, ditambah dengan kurangnya pemahaman tentang penyakit, penatalaksanaan darurat (MgSO4, oksigen), dan rencana persiapan terminasi kehamilan.
Kode SLKI: 5270
Deskripsi : Tindakan Keperawatan: Penurunan Kecemasan. Perawat akan memberikan dukungan psikologis dan edukasi untuk mengurangi kecemasan keluarga. Tindakan meliputi: memberikan informasi yang jujur, jelas, dan konsisten tentang kondisi ibu dan janin dengan bahasa yang mudah dipahami, menjelaskan semua prosedur dan tindakan yang dilakukan (seperti pemberian MgSO4, pemantauan ketat, pemasangan infus, persiapan operasi sesar), serta mendengarkan dan mengakui perasaan takut serta kekhawatiran keluarga. Perawat juga akan melibatkan keluarga dalam proses perawatan sejauh memungkinkan, memberikan penjelasan tentang tanda-tanda perbaikan atau kegawatan yang perlu dilaporkan, dan menyiapkan keluarga untuk kemungkinan tindakan operatif serta perawatan bayi prematur di NICU. Komunikasi yang terapeutik dan empatik sangat penting dalam situasi krisis ini.
Kode SIKI: 2501
Deskripsi : Kriteria Hasil: Kontrol Kecemasan. Hasil yang diharapkan adalah menurunnya tingkat kecemasan keluarga. Indikatornya meliputi: keluarga mampu menyatakan pemahaman tentang situasi kritis yang dihadapi, mengungkapkan perasaan cemasnya dengan adaptif, menunjukkan perilaku kooperatif dengan tim medis, serta mampu mengajukan pertanyaan yang relevan tentang rencana perawatan. Keluarga juga menunjukkan mekanisme koping yang positif, seperti berdoa atau saling mendukung, dan dapat mengikuti instruksi sederhana dari perawat. Penurunan tanda-tanda fisiologis kecemasan (seperti gemetar, bicara cepat) juga dapat diamati.
-
Article No. 24051 | 14 Feb 2026
Klinis : Siki dari Diagnosis Risiko Perfusi Serebral Tidak Efektif
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Perfusi Serebral Tidak Efektif
Kode SDKI: 0005
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan suplai darah ke otak yang dapat menyebabkan kerusakan neurologis.
Kode SLKI: 0800
Deskripsi : Perfusi Serebral: Tujuan keperawatan adalah untuk mempertahankan atau meningkatkan aliran darah serebral yang adekuat, mencegah iskemia, dan meminimalkan kerusakan neurologis. Hasil yang diharapkan meliputi: tingkat kesadaran yang baik (GCS 15), fungsi kognitif dan sensorimotor yang utuh, tanda-tanda vital dalam rentang normal yang dapat diterima untuk pasien (terutama tekanan darah yang memadai), tidak adanya atau berkurangnya gejala seperti sakit kepala hebat, pusing, perubahan visual, atau kelemahan fokal. Pasien juga menunjukkan pemahaman tentang faktor risiko dan tindakan pencegahan. SLKI ini menjadi pedoman untuk mengevaluasi keberhasilan intervensi keperawatan yang dilakukan.
Kode SIKI: 4230
Deskripsi : Pemantauan Neurologis: Intervensi ini melibatkan pengamatan sistematis dan berkelanjutan terhadap status neurologis pasien untuk mendeteksi dini tanda-tanda penurunan perfusi serebral. Kegiatannya mencakup pemantauan tingkat kesadaran menggunakan skala Glasgow Coma Scale (GCS) secara rutin, menilai ukuran dan reaksi pupil terhadap cahaya, memeriksa kekuatan motorik dan sensasi pada keempat ekstremitas (kekuatan, paralisis, paresis), serta mengamati adanya tanda-tanda iritasi meningeal seperti kaku kuduk. Pemantauan juga mencakup fungsi kognitif seperti orientasi, memori, dan kemampuan berbicara. Data ini dicatat dengan cermat dan dibandingkan dengan hasil sebelumnya untuk mengidentifikasi tren atau perubahan yang mengkhawatirkan, yang memerlukan tindakan eskalasi segera.
Kode SIKI: 4232
Deskripsi : Pemantauan Hemodinamik: Intervensi ini berfokus pada pengukuran dan pengelolaan parameter sirkulasi yang secara langsung memengaruhi tekanan perfusi serebral (CPP). Perawat secara teratur memantau dan mencatat tanda-tanda vital, terutama tekanan darah (sistolik, diastolik, dan rata-rata/Mean Arterial Pressure/MAP), denyut nadi, laju pernapasan, dan saturasi oksigen. Tekanan darah harus dipertahankan dalam rentang yang ditargetkan (seringkali normotensi atau sesuai instruksi dokter) karena hipotensi dapat mengurangi aliran darah ke otak, sementara hipertensi berlebihan dapat meningkatkan risiko edema atau perdarahan. Pemantauan juga mencakup pengamatan terhadap irama jantung untuk mendeteksi aritmia yang dapat mengganggu curah jantung. Cairan masuk dan keluar (balance cairan) dipantau ketat untuk mencegah hipovolemia atau kelebihan cairan. Data hemodinamik ini digunakan untuk menyesuaikan terapi cairan, obat-obatan (seperti vasopressor atau antihipertensi), dan posisi pasien (biasanya kepala ditinggikan 30 derajat) guna mengoptimalkan tekanan perfusi serebral.
Kode SIKI: 2620
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas: Menjamin jalan napas yang paten dan pertukaran gas yang optimal adalah fundamental dalam mendukung perfusi serebral. Otak sangat sensitif terhadap hipoksia (kekurangan oksigen) dan hiperkapnia (kelebihan karbon dioksida). Intervensi ini meliputi penilaian pola pernapasan, usaha napas, dan suara napas. Posisi tubuh diatur untuk memfasilitasi pernapasan (misalnya, kepala tempat tidur ditinggikan). Oksigen tambahan diberikan sesuai kebutuhan untuk mempertahankan saturasi oksigen dalam rentang target (biasanya >94%). Suction dilakukan dengan hati-hati dan hanya jika diperlukan untuk membersihkan sekret, karena prosedur ini dapat meningkatkan tekanan intrakranial secara sementara. Bagi pasien dengan gangguan kesadaran, mungkin diperlukan alat bantu jalan napas. Mempertahankan kadar PaO2 dan PaCO2 dalam batas normal sangat penting karena PaCO2 merupakan vasodilator serebral poten; hiperkapnia dapat menyebabkan vasodilatasi berlebihan dan meningkatkan tekanan intrakranial, sementara hipokapnia dapat menyebabkan vasokonstriksi dan mengurangi aliran darah.
Kode SIKI: 6460
Deskripsi : Manajemen Lingkungan Terapeutik: Intervensi ini bertujuan menciptakan lingkungan yang tenang, aman, dan minim stimulasi untuk mencegah peningkatan tekanan intrakranial (TIK) yang dapat memperburuk perfusi serebral. Kegiatannya meliputi mengatur pencahayaan ruangan agar redup namun cukup untuk observasi, mengurangi kebisingan (meminimalkan suara alarm, percakapan keras, dan aktivitas yang gaduh), serta membatasi kunjungan. Perawat mengkoordinasi perawatan untuk memberikan periode istirahat yang tidak terganggu di antara intervensi. Stimulasi yang tidak perlu seperti sentuhan, suara, atau prosedur yang menyakitkan diminimalkan. Posisi pasien diatur dengan hati-hati, menghindari fleksi atau rotasi leher yang ekstrem yang dapat menghambat aliran darah vena dari otak. Lingkungan yang terapeutik membantu menurunkan metabolisme serebral dan kebutuhan oksigen, sehingga mendukung keseimbangan antara suplai dan permintaan darah di otak.
Kode SIKI: 5240
Deskripsi : Manajemen Medikasi: Intervensi ini melibatkan pemberian dan pemantauan efek obat-obatan yang diresepkan untuk mendukung atau memperbaiki perfusi serebral, serta mencegah komplikasi. Perawat bertanggung jawab memberikan obat sesuai jadwal dan dosis yang tepat, seperti antihipertensi untuk mengontrol tekanan darah, osmotik diuretik (misalnya manitol) untuk mengurangi edema serebral, atau antikoagulan/antiplatelet tertentu (dengan hati-hati dan sesuai indikasi). Penting juga untuk memantau efek samping obat, seperti hipotensi, gangguan elektrolit, atau perdarahan. Selain itu, manajemen nyeri yang adekuat diberikan karena nyeri yang tidak terkontrol dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah dan TIK. Pemberian sedasi mungkin diperlukan pada pasien gelisah untuk menurunkan metabolisme serebral, namun harus dilakukan dengan pemantauan ketat terhadap tingkat kesadaran. Edukasi kepada pasien atau keluarga tentang tujuan dan efek obat juga merupakan bagian dari intervensi ini.
-
Article No. 24052 | 14 Feb 2026
Klinis : Pasien anak usia 2 tahun dengan keluhan kelopak mata kanan benjol dan kemerahan sperti kondisi hordiulum
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut terkait Proses Inflamasi pada Hordeolum
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah seperti cedera; onset mendadak atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau diprediksi dan durasi kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Kontrol Nyeri: Tindakan untuk mengontrol dan mengurangi nyeri atau ketidaknyamanan. Intervensi keperawatan ini mencakup serangkaian tindakan yang komprehensif untuk mengelola nyeri akut pada anak. Perawat akan melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif menggunakan skala nyeri yang sesuai usia (seperti FLACC - Face, Legs, Activity, Cry, Consolability) untuk menentukan karakteristik, lokasi, intensitas, dan faktor yang memperberat atau meringankan nyeri. Selanjutnya, perawat akan memberikan terapi farmakologis sesuai instruksi dokter, seperti pemberian analgesik topikal atau oral, dengan memantau efektivitas dan efek sampingnya. Terapi non-farmakologis juga sangat penting, termasuk kompres hangat steril pada area hordeolum untuk meningkatkan sirkulasi, mengurangi kongesti, dan memberikan rasa nyaman, dengan memperhatikan suhu kompres agar tidak melukai kulit anak yang sensitif. Perawat akan menciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman, mengurangi stimulus berlebihan, serta memberikan distraksi melalui aktivitas bermain, cerita, atau musik yang disukai anak. Edukasi dan dukungan kepada orang tua merupakan bagian krusial, yaitu mengajarkan teknik distraksi, pentingnya kompres hangat, cara mengobservasi tanda nyeri pada anak, dan pentingnya tidak memencet atau mengorek benjolan. Evaluasi berkelanjutan terhadap respons anak terhadap intervensi yang diberikan dilakukan untuk menyesuaikan rencana perawatan.
Kode SIKI: I.08001
Deskripsi : Kontrol Nyeri: Tindakan untuk mengontrol dan mengurangi nyeri atau ketidaknyamanan. Kriteria hasil yang diharapkan mencakup penurunan atau hilangnya tanda-tanda nyeri yang dapat diobservasi dan dilaporkan. Secara spesifik, pasien anak akan menunjukkan skor nyeri yang menurun pada skala FLACC (misalnya dari skor 6-8 menjadi 0-2). Perilaku anak menunjukkan penurunan tanda distress seperti tidak lagi rewel, menangis, atau menggosok-gosok area mata. Anak dapat beristirahat dengan tenang, tidur nyenyak, dan kembali melakukan aktivitas bermain yang sesuai usianya. Ekspresi wajah anak tampak rileks, tidak lagi meringis atau menyeringai. Anak dapat bekerja sama selama prosedur perawatan, seperti saat dilakukan kompres hangat. Orang tua mampu mendemonstrasikan pemahaman dan keterampilan dalam memberikan perawatan untuk mengurangi nyeri anak, seperti melakukan kompres hangat dengan teknik yang benar dan menggunakan teknik distraksi. Laporan verbal dari orang tua (atau dari anak jika mampu) mengonfirmasi bahwa ketidaknyamanan telah berkurang. Tanda-tanda vital yang terkait dengan nyeri (seperti peningkatan denyut jantung atau tekanan darah) kembali dalam rentang normal untuk usia anak. Hasil akhir yang diharapkan adalah nyeri akut teratasi secara optimal, meningkatkan kenyamanan anak, dan mencegah komplikasi lebih lanjut akibat respons stres terhadap nyeri.