Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 13434 | 06 Mar 2025
Klinis : gangguan pola tidur
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan informasi yang rinci dan terperinci terkait diagnosis keperawatan, luaran, dan intervensi keperawatan untuk kondisi gangguan pola tidur.
Diagnosa Keperawatan SDKI yang Sesuai:
Berdasarkan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), diagnosis keperawatan yang sesuai untuk kondisi gangguan pola tidur adalah "Insomnia". Insomnia didefinisikan sebagai ketidakmampuan untuk memulai atau mempertahankan tidur yang disebabkan oleh faktor internal atau eksternal. Karakteristik utama dari insomnia meliputi kesulitan untuk memulai tidur, mempertahankan tidur, atau bangun terlalu awal dan tidak dapat tidur kembali.
Luaran/Output yang Diharapkan Setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
Sesuai dengan Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), luaran yang diharapkan setelah pemberian asuhan keperawatan untuk pasien dengan gangguan pola tidur (insomnia) adalah:
1. Pola Tidur: Pasien dapat mempertahankan pola tidur yang adekuat sesuai kebutuhan.
2. Kualitas Tidur: Pasien dapat melaporkan peningkatan kualitas tidur.
3. Tidur yang Restoratif: Pasien dapat melaporkan tidur yang restoratif atau menyegarkan.
4. Fungsi Sehari-hari: Pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan optimal setelah memperoleh istirahat yang adekuat.
Intervensi Keperawatan yang Diperlukan (SIKI):
Berdasarkan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI), beberapa intervensi keperawatan yang diperlukan untuk mencapai luaran yang diharapkan pada pasien dengan gangguan pola tidur (insomnia) adalah:
1. Manajemen Lingkungan: Mengatur lingkungan tidur yang nyaman dan kondusif, seperti suhu, pencahayaan, kebisingan, dan kenyamanan tempat tidur.
2. Edukasi Kesehatan: Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pola tidur yang sehat, faktor-faktor yang memengaruhi pola tidur, dan strategi untuk meningkatkan kualitas tidur.
3. Relaksasi: Mengajarkan teknik relaksasi, seperti relaksasi otot progresif, napas dalam, atau meditasi, untuk membantu pasien beralih ke kondisi tidur yang lebih baik.
4. Terapi Aktivitas: Mengembangkan dan mengevaluasi rencana aktivitas harian yang seimbang, termasuk jadwal tidur-bangun, aktivitas fisik, dan manajemen stres.
5. Evaluasi dan Monitoring: Memantau pola tidur pasien, mencatat jumlah dan kualitas tidur, serta melakukan evaluasi secara berkala untuk menilai keefektifan intervensi.
Penerapan intervensi keperawatan ini secara komprehensif dan kolaboratif dengan pasien diharapkan dapat membantu pasien mencapai luaran yang diharapkan, yaitu pola tidur yang adekuat, kualitas tidur yang baik, tidur yang restoratif, dan peningkatan fungsi sehari-hari. -
Article No. 13435 | 06 Mar 2025
Klinis : Saudari Santi 19 tahun, MRS dengan Appendicsitis Akut 4 jam yang lalu, dengan keluhan utama nyeri perut kanan bawah, dari pemeriksaan fisik dan diagnostic pasien menderita Appendicsitis Akut dengan rencana dilakukan Appendiktomy 5 jam mendatang. Saat ini pasien mengeluh nyeri dengan skala 7, menyeringai kesakitan, nyeri bertambah jika beraktivitas, pasien mengeluh tidak bisa tidur cukup karena nyeri sering hilang timbul, telah diberikan analgetik dan antipiretik perinjeksi, pasien sering menguap, mata tampak kemerahan. Hasil pemeriksaan fisik didapatkan TD = 130/80 mmHg, Nadi = 96x/menit, Pernafasan = 22x/menit, Suhu = 38,5C. Saat ini pasien dipuasakan untuk persiapan operasi.
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Assalamualaikum, saya sebagai perawat profesional akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci mengenai diagnosa keperawatan, luaran/output yang diharapkan, serta intervensi keperawatan yang diperlukan untuk kondisi saudari Santi.
Diagnosa Keperawatan SDKI:
1. Nyeri akut berhubungan dengan proses penyakit appendicitis akut yang ditandai dengan keluhan nyeri perut kanan bawah, menyeringai kesakitan, nyeri bertambah saat beraktivitas, dan pasien mengeluh tidak bisa tidur cukup.
2. Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri akut yang ditandai dengan pasien sering menguap dan mengeluh tidak bisa tidur cukup.
3. Risiko infeksi berhubungan dengan tindakan operasi appendiktomi yang akan dilakukan.
Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI):
1. Nyeri Akut
- Pasien melaporkan nyeri berkurang menjadi skala 3 atau kurang.
- Pasien menunjukkan ekspresi wajah yang rileks.
- Pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari tanpa merasakan nyeri yang berlebihan.
2. Pola Tidur
- Pasien dapat tidur selama 6-8 jam tanpa terbangun karena nyeri.
- Pasien melaporkan istirahat yang cukup.
- Pasien menunjukkan tanda-tanda istirahat yang adekuat, seperti tidak tampak lelah.
3. Tidak Terjadi Infeksi
- Tanda-tanda vital pasien dalam batas normal.
- Tidak ada tanda-tanda infeksi pada luka operasi, seperti edema, kemerahan, atau drainase purulent.
- Pasien tidak mengalami peningkatan suhu tubuh.
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Pengelolaan Nyeri Akut
- Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif, seperti lokasi, karakteristik, durasi, kualitas, dan skala nyeri.
- Berikan analgetik sesuai dengan pesanan dokter untuk mengurangi nyeri.
- Ajarkan teknik non-farmakologis untuk mengurangi nyeri, seperti distraksi, relaksasi, dan kompres dingin.
- Monitoring tanda-tanda vital secara berkala.
- Kolaborasi dengan dokter untuk evaluasi dan penyesuaian penanganan nyeri.
2. Peningkatan Pola Tidur
- Buat lingkungan yang tenang dan nyaman untuk tidur.
- Ajarkan teknik relaksasi, seperti napas dalam, untuk memfasilitasi tidur.
- Berikan posisi tidur yang nyaman, seperti posisi semifowler.
- Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat tidur jika diperlukan.
- Monitoring durasi dan kualitas tidur pasien.
3. Pencegahan Infeksi
- Lakukan perawatan luka operasi secara aseptik.
- Pantau tanda-tanda infeksi, seperti peningkatan suhu, edema, dan drainase purulent.
- Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antibiotik profilaksis.
- Edukasi pasien dan keluarga mengenai perawatan luka dan tanda-tanda infeksi.
- Monitor status imunologis pasien.
Semoga penjelasan ini dapat membantu Anda dalam memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif untuk saudari Santi. Jika ada pertanyaan lebih lanjut, jangan ragu untuk menanyakannya. -
Article No. 13436 | 06 Mar 2025
Klinis : Saudari Santi 19 tahun, MRS dengan Appendicsitis Akut 4 jam yang lalu, dengan keluhan utama nyeri perut kanan bawah, dari pemeriksaan fisik dan diagnostic pasien menderita Appendicsitis Akut dengan rencana dilakukan Appendiktomy 5 jam mendatang. Saat ini pasien mengeluh nyeri dengan skala 7, menyeringai kesakitan, nyeri bertambah jika beraktivitas, pasien mengeluh tidak bisa tidur cukup karena nyeri sering hilang timbul, telah diberikan analgetik dan antipiretik perinjeksi, pasien sering menguap, mata tampak kemerahan. Hasil pemeriksaan fisik didapatkan TD = 130/80 mmHg, Nadi = 96x/menit, Pernafasan = 22x/menit, Suhu = 38,5C. Saat ini pasien dipuasakan untuk persiapan operasi.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan informasi yang diberikan, diagnosis untuk Saudari Santi adalah sebagai berikut:
1. Kode ICD-10:
- Kode: K35.0
- Deskripsi: Appendicitis akut dengan peritonitis generalisata
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 47.0
- Deskripsi: Appendektomi
Penjelasan:
Kode ICD-10 K35.0 menunjukkan diagnosis Appendicitis akut dengan peritonitis generalisata. Hal ini sesuai dengan gejala yang dialami oleh Saudari Santi, yaitu nyeri perut kanan bawah, keluhan nyeri yang meningkat dengan aktivitas, dan tanda-tanda infeksi seperti demam, nyeri, dan reaksi inflamasi.
Kode ICD-9-CM 47.0 merujuk pada prosedur Appendektomi, yang merupakan rencana tindakan untuk Saudari Santi dalam 5 jam mendatang. Appendektomi adalah tindakan pembedahan untuk mengeluarkan atau mengangkat appendiks yang terinfeksi.
Dengan diagnosis Appendicitis akut dan rencana tindakan Appendektomi, manajemen perawatan yang diberikan saat ini meliputi:
- Puasa untuk persiapan operasi
- Pemberian analgetik dan antipiretik secara parenteral untuk mengurangi nyeri dan demam
- Pemantauan tanda-tanda vital yang menunjukkan respon inflamasi (TD, nadi, RR, suhu)
- Persiapan pasien secara mental dan fisik untuk tindakan operasi yang akan dilakukan. -
Article No. 13437 | 06 Mar 2025
Klinis : etiologi Risiko Infeksi ( D.0142)
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI untuk kondisi dengan etiologi Risiko Infeksi (D.0142):
Diagnosa Keperawatan: Risiko Infeksi (D.0142)
Definisi SDKI:
Risiko Infeksi adalah kerentanan terhadap invasi dan multiplikasi organisme patogen yang dapat menimbulkan kerusakan jaringan.
Faktor Risiko SDKI:
1. Prosedur invasif
2. Paparan mikroorganisme patogen
3. Malnutrisi
4. Usia ekstrem (bayi, lansia)
5. Penyakit kronis
6. Sistem imun terganggu
Luaran SLKI:
1. Bebas Infeksi
2. Tidak Ada Tanda Infeksi
Intervensi SIKI:
1. Identifikasi Faktor Risiko Infeksi
2. Pengelolaan Prosedur Aseptik
3. Pemantauan Tanda dan Gejala Infeksi
4. Manajemen Pemberian Antibiotik
5. Edukasi Pencegahan Infeksi
Sebagai perawat, saya akan bekerja sama dengan pasien dan tim kesehatan lainnya untuk mengelola risiko infeksi secara komprehensif. Tujuannya adalah mencegah terjadinya infeksi dan memastikan pasien tetap dalam kondisi yang aman dan sehat. -
Article No. 13438 | 06 Mar 2025
Klinis : neonatus hiperbilirubin
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan Diagnosa Keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi neonatus hiperbilirubin.
Diagnosa Keperawatan:
1. Risiko Gangguan Integritas Kulit berhubungan dengan hiperbilirubin neonatal
Penjelasan singkat:
SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia):
Risiko Gangguan Integritas Kulit adalah situasi di mana individu berisiko mengalami kerusakan pada struktur dan fungsi kulit.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Integritas Kulit Tidak Terganggu
2. Tidak Terjadi Kerusakan Kulit
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Pemantauan Tanda-Tanda Vital
2. Perawatan Kulit
3. Manajemen Hiperbilirubin
Kondisi neonatus dengan hiperbilirubin dapat menyebabkan risiko gangguan integritas kulit. Intervensi keperawatan yang diperlukan mencakup pemantauan tanda-tanda vital, perawatan kulit yang tepat, dan manajemen hiperbilirubin yang efektif untuk mencegah kerusakan kulit dan menjaga integritas kulit bayi. -
Article No. 13439 | 06 Mar 2025
Klinis : bayi ikterik
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat mengenai SDKI, SLKI, dan SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi bayi ikterik.
Diagnosa Keperawatan:
1. Gangguan Proses Metabolisme Bilirubin Terkait Hiperbilirubinemia
Penjelasan Singkat:
Diagnosa keperawatan ini menggambarkan kondisi bayi dengan ikterik atau peningkatan kadar bilirubin dalam darah. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti imaturitas hati, hemolisis, atau masalah pada saluran empedu.
SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia):
SDKI merupakan sistem klasifikasi diagnosa keperawatan yang dikembangkan oleh PPNI. Diagnosa ini terdiri dari label, definisi, karakteristik, faktor yang berhubungan, dan faktor yang berisiko.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
SLKI adalah sistem klasifikasi luaran keperawatan yang dikembangkan oleh PPNI. Luaran yang terkait dengan diagnosa ini dapat meliputi penurunan kadar bilirubin, pencegahan komplikasi, dan peningkatan keberfungsian sistem.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
SIKI adalah sistem klasifikasi intervensi keperawatan yang dikembangkan oleh PPNI. Intervensi yang dapat dilakukan untuk mengatasi diagnosa ini antara lain pemantauan kadar bilirubin, manajemen sinar foto terapi, dan edukasi pada keluarga.
Dalam melakukan asuhan keperawatan, perawat harus mengacu pada standar SDKI, SLKI, dan SIKI yang ditetapkan oleh PPNI. Hal ini bertujuan untuk memberikan asuhan keperawatan yang sistematis, terstandar, dan berkualitas. -
Article No. 13440 | 06 Mar 2025
Klinis : etiologi Gangguan Mobilitas fisik (D.0054)
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan rekomendasi yang rinci dan terperinci terkait dengan kondisi yang Anda sampaikan.
Diagnosa Keperawatan SDKI yang Sesuai:
Diagnosa keperawatan yang sesuai dengan etiologi Gangguan Mobilitas Fisik (D.0054) adalah Mobilitas Fisik Terganggu (D.0054). Diagnosa ini menggambarkan keterbatasan dalam melakukan pergerakan yang disengaja dan terarah, baik secara mandiri maupun dengan menggunakan alat bantu.
Luaran/Output yang Diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Mobilitas Fisik (F.0054)
- Kriteria Hasil:
a. Pasien dapat melakukan pergerakan yang terarah dan terkoordinasi.
b. Pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri atau dengan alat bantu.
c. Pasien menunjukkan peningkatan kemampuan fisik sesuai dengan kondisi.
d. Pasien menunjukkan peningkatan kontrol terhadap pergerakan.
Intervensi Keperawatan yang Diperlukan untuk Mencapai Tujuan Luaran (SIKI):
1. Manajemen Mobilitas (I.0054)
- Tujuan: Memfasilitasi mobilitas pasien dan mencegah komplikasi terkait keterbatasan mobilitas.
- Kegiatan:
a. Melakukan pengkajian komprehensif terhadap kemampuan mobilitas pasien.
b. Mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi mobilitas pasien, seperti kondisi fisik, psikologis, lingkungan, dan sosial.
c. Menyusun rencana peningkatan mobilitas yang disesuaikan dengan kondisi pasien.
d. Melakukan latihan fisik dan aktivitas sesuai dengan kemampuan pasien.
e. Memfasilitasi penggunaan alat bantu mobilitas yang sesuai.
f. Memberikan edukasi dan dukungan kepada pasien dan keluarga terkait manajemen mobilitas.
g. Melakukan evaluasi secara berkala dan melakukan penyesuaian rencana perawatan sesuai dengan perkembangan kondisi pasien.
2. Terapi Fisik (I.1804)
- Tujuan: Memfasilitasi pemulihan dan peningkatan kemampuan mobilitas fisik pasien.
- Kegiatan:
a. Melakukan pengkajian kemampuan fisik pasien.
b. Menyusun rencana terapi fisik yang sesuai dengan kondisi pasien.
c. Melakukan latihan-latihan fisik yang bertujuan untuk meningkatkan kekuatan, rentang gerak, koordinasi, dan keseimbangan.
d. Memberikan modalitas terapi fisik, seperti terapi manual, terapi latihan, dan modalitas fisik lainnya.
e. Melakukan edukasi dan konseling kepada pasien dan keluarga terkait program terapi fisik.
f. Melakukan evaluasi secara berkala dan melakukan penyesuaian rencana terapi sesuai dengan perkembangan kondisi pasien.
Penjelasan yang Rinci dan Terperinci:
Diagnosa keperawatan Mobilitas Fisik Terganggu (D.0054) dipilih karena sesuai dengan etiologi Gangguan Mobilitas Fisik (D.0054) yang Anda sampaikan. Diagnosa ini menggambarkan keterbatasan pasien dalam melakukan pergerakan yang disengaja dan terarah, baik secara mandiri maupun dengan menggunakan alat bantu.
Luaran/output yang diharapkan setelah asuhan keperawatan adalah Mobilitas Fisik (F.0054), yang mencakup kriteria hasil seperti kemampuan pasien melakukan pergerakan yang terarah dan terkoordinasi, melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri atau dengan alat bantu, menunjukkan peningkatan kemampuan fisik sesuai dengan kondisi, serta menunjukkan peningkatan kontrol terhadap pergerakan.
Intervensi keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan luaran tersebut adalah Manajemen Mobilitas (I.0054) dan Terapi Fisik (I.1804). Manajemen Mobilitas bertujuan untuk memfasilitasi mobilitas pasien dan mencegah komplikasi terkait keterbatasan mobilitas, melalui kegiatan seperti pengkajian komprehensif, identifikasi faktor-faktor yang memengaruhi mobilitas, penyusunan rencana peningkatan mobilitas, latihan fisik dan aktivitas, serta edukasi dan dukungan kepada pasien dan keluarga. Sementara itu, Terapi Fisik bertujuan untuk memfasilitasi pemulihan dan peningkatan kemampuan mobilitas fisik pasien, melalui kegiatan seperti pengkajian kemampuan fisik, penyusunan rencana terapi fisik, pelaksanaan latihan-latihan fisik, pemberian modalitas terapi fisik, serta edukasi dan konseling kepada pasien dan keluarga.
Penerapan intervensi keperawatan ini secara komprehensif dan kolaboratif diharapkan dapat membantu pasien mencapai tujuan luaran yang diharapkan, yaitu peningkatan mobilitas fisik sesuai dengan kondisi dan kemampuan pasien. -
Article No. 13441 | 06 Mar 2025
Klinis : etiologi Gangguan Mobilitas fisik (D.0054)
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan:
Gangguan Mobilitas Fisik (D.0054)
Penjelasan Singkat:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Gangguan Mobilitas Fisik adalah keterbatasan dalam pergerakan fisik yang disebabkan oleh penurunan kekuatan, rentang gerak, koordinasi, atau kelelahan. Etiologi dari Gangguan Mobilitas Fisik dapat meliputi penyakit neuromuskular, muskuloskeletal, kardiovaskular, atau faktor lain yang mempengaruhi pergerakan fisik.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan dari penanganan Gangguan Mobilitas Fisik adalah peningkatan kemampuan pasien dalam melakukan aktivitas fisik secara mandiri, pengurangan ketergantungan, dan peningkatan kualitas hidup.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan yang dapat diberikan untuk menangani Gangguan Mobilitas Fisik meliputi:
1. Manajemen aktivitas
2. Terapi latihan
3. Manajemen nyeri
4. Perawatan kebutuhan dasar
5. Edukasi pasien dan keluarga
Sebagai perawat profesional, saya akan melakukan pengkajian komprehensif, menetapkan diagnosa keperawatan, menyusun rencana asuhan keperawatan, dan melaksanakan intervensi yang sesuai dengan kondisi pasien untuk mencapai hasil yang optimal. -
Article No. 13442 | 06 Mar 2025
Klinis : fototerapi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi fototerapi:
Diagnosa Keperawatan:
1. Risiko Hipotermia berhubungan dengan paparan radiasi sinar biru selama fototerapi.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Risiko Hipotermia adalah keadaan di mana individu berisiko mengalami penurunan suhu tubuh di bawah 35°C (95°F) yang dapat mengancam jiwa.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Suhu tubuh dalam rentang normal (36,5-37,5°C)
2. Tidak ada tanda-tanda hipotermia (menggigil, kulit dingin, pucat, letargi)
3. Klien/keluarga dapat mengidentifikasi faktor risiko hipotermia
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Pantau suhu tubuh secara berkala
2. Pertahankan suhu lingkungan yang nyaman
3. Berikan pakaian/selimut yang sesuai
4. Edukasi klien/keluarga tentang pencegahan hipotermia
Sebagai perawat, saya akan memantau suhu tubuh klien secara rutin, menjaga suhu lingkungan yang nyaman, dan memberikan pakaian/selimut yang sesuai untuk mencegah risiko hipotermia. Selain itu, saya juga akan mengedukasi klien dan keluarga tentang pencegahan hipotermia selama fototerapi. -
Article No. 13443 | 06 Mar 2025
Klinis : pasien anak di Poli” "Demam 4 hari, nyeri perut & muntah >5 kali" "TD 80/60 mmHg N 120x/mnt lemah S38C" "PLT 30.000 NS1 positif"
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan informasi yang diberikan, diagnosis pasien dapat diidentifikasi sebagai berikut:
1. Kode ICD-10:
- Kode: A09
- Deskripsi: Diare dan gastroenteritis infeksius yang diduga disebabkan oleh organisme yang tidak dispesifikasi
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 99.15
- Deskripsi: Pemberian cairan intravena
Penjelasan:
1. Kode ICD-10 A09 (Diare dan gastroenteritis infeksius yang diduga disebabkan oleh organisme yang tidak dispesifikasi) cocok dengan gejala-gejala yang dialami pasien, yaitu demam, nyeri perut, dan muntah lebih dari 5 kali. Kondisi ini sering disebabkan oleh infeksi bakteri atau virus pada saluran pencernaan.
2. Kode ICD-9-CM 99.15 (Pemberian cairan intravena) adalah tindakan yang mungkin diperlukan untuk mengatasi dehidrasi akibat diare dan muntah yang dialami pasien, dengan mempertimbangkan tekanan darah rendah (80/60 mmHg) dan lemah nadi (120x/menit). Pemberian cairan intravena diperlukan untuk menggantikan cairan dan elektrolit yang hilang.
Selain itu, pemeriksaan laboratorium menunjukkan trombositopenia (jumlah trombosit/platelet hanya 30.000), yang dapat disebabkan oleh infeksi virus dengue. Oleh karena itu, pemeriksaan NS1 (Non-Structural Protein 1) positif untuk mengkonfirmasi diagnosis demam dengue.
Penanganan lebih lanjut yang mungkin diperlukan adalah observasi ketat, pemberian cairan intravena, serta pemantauan tanda-tanda vital dan jumlah trombosit secara berkala.