Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 24146 | 19 Feb 2026
Klinis : post op laparotomi milking prosedure drainase abdomen
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Status Pasca Laparotomi dengan Prosedur Milking dan Drainase Abdomen
Kode ICD-10: Z48.810
Deskripsi Singkat : Kondisi ini merujuk pada status pasien setelah menjalani prosedur bedah besar di rongga perut (laparotomi) yang melibatkan dua tindakan lanjutan: 'milking' (biasanya merujuk pada manipulasi manual atau pemijatan pada struktur seperti usus atau drain untuk mencegah sumbatan) dan pemasangan drainase abdomen. Kode Z48.810 secara spesifik mengkategorikan "Perawatan pascaoperasi lainnya" dengan fokus pada "Perawatan luka operasi". Penggunaan kode ini tepat karena menandakan fase perawatan lanjutan setelah prosedur bedah utama, di mana fokusnya adalah pada pemantauan dan penanganan luka bedah, drainase cairan tubuh (seperti darah, nanah, atau cairan serosa), serta mencegah komplikasi seperti ileus atau infeksi. Kode dari bab Faktor yang Mempengaruhi Status Kesehatan dan Kontak dengan Layanan Kesehatan (Kode-Z) ini digunakan untuk menjelaskan alasan perawatan atau konsultasi, bukan penyakit akut itu sendiri. Dalam konteks rekam medis, kode ini melengkapi kode prosedur operasi utama dan kode diagnosis penyakit yang mendasarinya, memberikan gambaran lengkap bahwa pasien sedang dalam masa pemulihan dengan tata laksana khusus pascabedah.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 24147 | 19 Feb 2026
Klinis : post op laparotomi milking prosedure drainase abdomen
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Post Operasi Laparotomi dengan Prosedur Milking dan Drainase Abdomen
Kode SDKI: 0207
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi
Kode SLKI: 2007
Deskripsi : Mencegah Infeksi
Kode SIKI: 3410
Deskripsi : Manajemen Luka
Penjelasan Lengkap SDKI, SLKI, dan SIKI:
Diagnosa Keperawatan (SDKI 0207 - Risiko Infeksi): Diagnosa ini ditetapkan karena pasien pasca laparotomi dengan drainase abdomen berada dalam kondisi rentan terhadap invasi mikroorganisme patogen. Definisi menurut PPNI adalah "keadaan dimana individu berisiko mengalami invasi oleh organisme patogen". Faktor risiko pada kasus ini sangat nyata. Pertama, tindakan laparotomi merupakan pembedahan mayor yang menembus barier kulit dan membran mukosa, menciptakan port de entri utama bagi mikroba. Kedua, keberadaan dran abdomen, meskipun berfungsi untuk mengalirkan cairan sisa operasi (seperti darah, eksudat) dan mencegah akumulasi yang dapat menjadi media pertumbuhan bakteri, justru menjadi benda asing dan jalur potensial bagi mikroorganisme untuk masuk ke dalam rongga peritoneum. Prosedur "milking" atau memijat pipa drain secara rutin, bertujuan menjaga patensi drain agar tidak tersumbat gumpalan atau debris, namun manipulasi ini juga meningkatkan risiko kontaminasi jika teknik aseptik tidak dijaga ketat. Selain itu, kondisi umum pasien pasca bedah seringkali disertai penurunan status imunologis akibat stres fisiologis dari anestesi dan pembedahan itu sendiri, serta potensi nutrisi yang belum optimal. Risiko infeksi dapat bersifat lokal (pada luka operasi, sekitar insersi drain) atau sistemik (sepsis) yang mengancam jiwa. Oleh karena itu, diagnosa ini menjadi fokus utama untuk mencegah komplikasi serius.
Luaran Keperawatan (SLKI 2007 - Mencegah Infeksi): Luaran yang diharapkan adalah pasien terbebas dari tanda dan gejala infeksi. SLKI ini didefinisikan sebagai "tindakan untuk mencegah dan menurunkan risiko infeksi". Kriteria luaran yang harus dicapai mencakup: tanda-tanda vital dalam rentang normal (suhu tubuh afebris, denyut nadi dan pernapasan stabil), luka operasi menunjukkan proses penyembuhan yang adekuat (tidak ada eritema, edema, hangat pada perabaan, nyeri berlebihan, atau discharge purulen), drainase dari dran abdomen bersifat serosanguinous dan jumlahnya berkurang secara bertahap, tidak berbau busuk. Selain itu, hasil laboratorium seperti leukosit count dalam batas normal. Perawat menargetkan agar semua indikator ini dapat dipantau dan dipertahankan. Pencapaian luaran ini sangat bergantung pada efektivitas intervensi keperawatan yang dilakukan secara komprehensif dan berkesinambungan.
Intervensi Keperawatan (SIKI 3410 - Manajemen Luka): Intervensi utama untuk mendukung luaran "Mencegah Infeksi" adalah Manajemen Luka. SIKI ini didefinisikan sebagai "pemberian perawatan pada luka akibat trauma atau pembedahan". Intervensi ini bersifat komprehensif dan meliputi beberapa aktivitas kritikal. Pertama, perawatan luka dan dran dengan teknik aseptik ketat. Ini termasuk mencuci tangan sebelum dan sesudah prosedur, menggunakan alat steril, serta melakukan perawatan luka insisi dan area insersi dran sesuai protokol. Perawat akan membersihkan luka dengan larutan antiseptik yang ditentukan, mengobservasi karakteristik luka (warna, ukuran, adanya granulasi), dan mengganti balutan secara teratur atau bila basah. Kedua, melakukan prosedur milking pada pipa dran dengan benar. Perawat akan memijat pipa dran ke arah penampung (bukan sebaliknya) untuk mencegah reflux, melakukannya dengan lembut untuk menghindari trauma jaringan, dan selalu menjaga sterilitas sambungan dran. Ketiga, memantau karakteristik dan jumlah drainase. Perawat mencatat volume, warna, konsistensi, dan bau drainase setiap shift. Perubahan dari serosanguinous menjadi purulen atau hijau, serta munculnya bau busuk, adalah tanda awal infeksi yang harus segera dilaporkan. Keempat, mengamankan dran untuk mencegah tarikan atau dislodgement yang tidak disengaja. Kelima, edukasi pada pasien dan keluarga tentang pentingnya menjaga kebersihan, tidak menyentuh luka/dran, tanda-tanda infeksi yang harus diwaspadai (demam, kemerahan, nyeri meningkat), serta pentingnya nutrisi dan hidrasi untuk mendukung penyembuhan. Intervensi Manajemen Luka yang dilakukan secara sistematis dan teliti merupakan kunci dalam meminimalkan faktor risiko dan mencapai luaran pasien bebas infeksi pasca prosedur bedah abdomen dengan dran.
-
Article No. 24148 | 19 Feb 2026
Klinis : post op laparotomi milking prosedure drainase abdomen, pasien nyeri pada luka
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0006
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah seperti cedera (International Association for the Study of Pain); tiba-tiba atau lambat muncul dengan intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau diperkirakan dan berlangsung kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : SLKI L.08001: Kontrol Nyeri. Definisi: Tercapainya kenyamanan atau pengendalian nyeri setelah dilakukan intervensi keperawatan. Kriteria hasil yang utama dalam konteks pasien post laparotomi adalah: 1) Pasien melaporkan nyeri berkurang atau terkontrol dengan skala nyeri yang dapat diukur (misalnya, skala 0-10 menurun ke skala ≤3). 2) Pasien menunjukkan tanda-tanda fisiologis terkontrol seperti frekuensi nadi dan pernapasan dalam rentang normal, tekanan darah stabil, dan tidak ada gelisah. 3) Pasien mampu melakukan aktivitas ringan, mobilisasi dini, latihan nafas dalam, dan batuk efektif tanpa hambatan nyeri yang berlebihan. 4) Ekspresi wajah pasien rileks, dapat beristirahat atau tidur dengan cukup. 5) Pasien memahami dan kooperatif dalam metode non-farmakologis untuk mengurangi nyeri. Pencapaian SLKI ini menunjukkan bahwa intervensi keperawatan berhasil memodulasi persepsi nyeri, mengurangi distress, dan mencegah komplikasi imobilisasi akibat nyeri.
Kode SIKI: I.08059
Deskripsi : SIKI I.08059: Manajemen Nyeri. Definisi: Memberikan tindakan untuk meringankan atau mengurangi nyeri hingga tingkat yang dapat ditoleransi pasien. Intervensi ini mencakup tindakan komprehensif: 1) Melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan faktor pencetus/pereda nyeri menggunakan skala yang valid. 2) Memberikan terapi farmakologis (analgesik) sesuai resep dokter secara tepat waktu, memantau efektivitas, dan mengobservasi efek samping. 3) Menerapkan intervensi non-farmakologis seperti teknik relaksasi napas dalam, distraksi, reposisi atau teknik positioning yang nyaman, serta kompres hangat atau dingin sesuai indikasi pada area sekitar luka. 4) Melakukan edukasi pada pasien tentang pentingnya melaporkan nyeri, tidak menahan nyeri, dan cara menggunakan skala nyeri. 5) Mempersiapkan pasien sebelum aktivitas yang menimbulkan nyeri (seperti latihan batuk, mobilisasi, perawatan luka) dengan pemberian analgesik sebelumnya. 6) Menciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman untuk mendukung istirahat. 7) Melakukan evaluasi berkelanjutan terhadap respons pasien terhadap terapi nyeri yang diberikan. Pada pasien post-laparotomi dengan prosedur drainase, manajemen nyeri juga mencakup pemantauan ketat terhadap drain untuk mencegah tarikan atau tekanan yang dapat memperberat nyeri, serta memastikan balutan kering dan aman. Intervensi ini bersifat holistik, menggabungkan pendekatan biopsikososio-spiritual untuk memastikan kenyamanan optimal, mempercepat penyembuhan, dan mencegah komplikasi seperti pneumonia atelektasis dan trombosis akibat imobilisasi.
-
Article No. 24149 | 19 Feb 2026
Klinis : gangguan curah jantung
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Curah Jantung
Kode SDKI: D.0011
Deskripsi Singkat: Penurunan curah jantung adalah suatu kondisi di mana jantung tidak mampu memompa darah dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk gangguan pada otot jantung itu sendiri (seperti pada gagal jantung, infark miokard, atau kardiomiopati), gangguan irama jantung (aritmia), peningkatan beban kerja jantung (seperti pada hipertensi atau stenosis katup), atau penurunan volume darah (hipovolemia). Manifestasi klinis dari penurunan curah jantung sangat bervariasi, mulai dari yang ringan hingga mengancam jiwa. Gejala dan tanda yang umum ditemui meliputi sesak napas (baik saat aktivitas maupun saat istirahat), kelelahan, intoleransi aktivitas, pusing, sinkop, penurunan kesadaran, kulit pucat dan dingin, pengisian kapiler melambat, takikardia, tekanan darah tidak stabil (hipotensi atau hipertensi), edema perifer (kaki, tungkai) atau edema paru, penurunan output urin (oliguria), dan gelisah. Diagnosa keperawatan ini menekankan pada respons individu terhadap kondisi penurunan pompa jantung dan menjadi dasar untuk merencanakan intervensi keperawatan yang komprehensif guna meningkatkan curah jantung, mencegah komplikasi, dan meningkatkan kualitas hidup pasien.
Kode SLKI: L.03103
Deskripsi : Curah jantung membaik. Kriteria hasil ini mencakup serangkaian tujuan yang diharapkan setelah intervensi keperawatan dilakukan. Pasien diharapkan menunjukkan tanda-tanda memadainya perfusi jaringan ke organ-organ vital. Secara spesifik, pasien akan memiliki tekanan darah dalam rentang yang dapat diterima untuk dirinya, denyut nadi kuat dan teratur dengan frekuensi normal, serta pernapasan yang efektif tanpa distress. Warna kulit dan membran mukosa kembali normal (tidak pucat atau sianosis) dengan pengisian kapiler kurang dari 3 detik. Pasien melaporkan atau menunjukkan peningkatan toleransi terhadap aktivitas, ditandai dengan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari tanpa mengalami sesak napas, kelelahan berlebihan, atau nyeri dada. Output urin tetap adekuat (biasanya >0,5 mL/kg/jam), menunjukkan perfusi ginjal yang baik. Edema perifer berkurang atau hilang, dan bunyi jantung terdengar jelas tanpa gallop atau murmur yang signifikan. Pasien juga menunjukkan pemahaman tentang kondisi, pengobatan, dan modifikasi gaya hidup yang diperlukan untuk mengelola gangguan curah jantung secara optimal. Pencapaian kriteria hasil ini menunjukkan keberhasilan intervensi dalam menstabilkan kondisi hemodinamik dan meningkatkan fungsi jantung.
Kode SIKI: I.12720
Deskripsi : Manajemen Curah Jantung. Intervensi ini merupakan tindakan keperawatan komprehensif yang ditujukan untuk mengoptimalkan pompa jantung, meningkatkan perfusi jaringan, dan meminimalkan komplikasi. Pelaksanaannya meliputi: 1) Pemantauan ketat tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu) dan status hemodinamik (seperti tekanan vena sentral jika ada) secara berkala untuk mendeteksi perubahan dini. 2) Memposisikan pasien dengan kepala tempat tidur ditinggikan (posisi semi-Fowler atau Fowler) untuk memudahkan pernapasan dan mengurangi preload. 3) Memantau status pernapasan, bunyi paru (mendengarkan ronki/krekels), dan saturasi oksigen; memberikan terapi oksigen sesuai resep. 4) Mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit dengan memantau asupan dan output cairan secara ketat, menimbang berat badan harian, serta mengobservasi tanda edema. Pemberian cairan intravena dilakukan dengan hati-hati dan sesuai resep. 5) Memfasilitasi istirahat dengan mengatur lingkungan yang tenang, menjadwalkan periode istirahat, dan membantu dalam aktivitas untuk mengurangi konsumsi oksigen miokard. 6) Memantau respons pasien terhadap aktivitas dan mendorong aktivitas bertahap sesuai toleransi. 7) Memberikan obat-obatan sesuai resep (seperti diuretik, inotropik, vasodilator, ACE inhibitor) dan memantau efek serta efek sampingnya. 8) Memantau status mental dan output urin sebagai indikator perfusi serebral dan renal. 9) Memberikan pendidikan kesehatan kepada pasien dan keluarga mengenai penyakit, tanda dan gejala memburuk yang harus dilaporkan (seperti sesak mendadak, berat badan naik drastis), pentingnya diet rendah garam, pembatasan cairan, pengobatan rutin, dan menghindari kelelahan. 10) Kolaborasi dengan tim kesehatan lain, seperti dokter dan ahli gizi, untuk penatalaksanaan yang terintegrasi. Intervensi ini bersifat dinamis dan disesuaikan dengan kondisi serta respons individu pasien.
-
Article No. 24150 | 19 Feb 2026
Klinis : Pasien pusing tensi 180/100
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakstabilan Tekanan Darah
Kode SDKI: 0028
Deskripsi Singkat: Rentan terhadap peningkatan atau penurunan tekanan darah yang dapat mengancam kesehatan, yang dapat mengakibatkan komplikasi.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : SLKI 1401 berfokus pada pemantauan dan pengendalian tekanan darah. Tujuannya adalah agar tekanan darah pasien dapat dikendalikan dalam rentang yang diharapkan. Intervensi keperawatan dalam SLKI ini mencakup pengukuran tekanan darah secara teratur dan akurat dengan teknik yang tepat, memantau tanda-tanda vital lainnya seperti nadi dan pernapasan, serta mengobservasi adanya gejala yang menyertai seperti sakit kepala, pusing, penglihatan kabur, mual, atau epistaksis (mimisan). Perawat juga bertanggung jawab mendokumentasikan tren tekanan darah dan melaporkan setiap perubahan yang signifikan atau membahayakan kepada tim medis. Selain pemantauan, edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya kontrol tekanan darah, faktor risiko, dan tanda-tanda peringatan juga merupakan bagian integral dari luaran ini. Pemantauan yang ketat dan berkelanjutan ini sangat penting untuk mencegah komplikasi akut seperti stroke, ensefalopati hipertensif, atau kerusakan organ target lainnya. Keberhasilan SLKI ini diukur dari tercapainya tekanan darah yang stabil dalam rentang target, tidak adanya gejala yang memburuk, serta pemahaman pasien mengenai kondisinya.
Kode SIKI: 4201
Deskripsi : SIKI 4201 adalah Manajemen Hipertensi, yang merupakan serangkaian tindakan keperawatan untuk mengurangi dan mengontrol tekanan darah. Intervensi ini dimulai dengan penilaian komprehensif yang meliputi riwayat kesehatan, pola makan (khususnya asupan natrium dan lemak), kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol, tingkat aktivitas fisik, pola tidur, serta kepatuhan terhadap terapi obat jika ada. Perawat menciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman untuk mengurangi stres dan kecemasan pasien, karena faktor psikologis dapat memicu peningkatan tekanan darah. Tindakan non-farmakologis yang diterapkan termasuk edukasi tentang modifikasi gaya hidup: diet DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension) yang kaya buah, sayur, dan rendah garam, anjuran untuk melakukan aktivitas fisik aerobik secara teratur, teknik manajemen stres seperti latihan napas dalam atau relaksasi, serta menghindari rokok dan alkohol. Perawat juga berperan dalam manajemen terapi farmakologis dengan memastikan obat antihipertensi diberikan tepat waktu, memantau efek samping obat, dan meningkatkan kepatuhan pasien melalui edukasi tentang pentingnya minum obat secara rutin meskipun gejala sudah membaik. Kolaborasi dengan dokter, ahli gizi, dan tenaga kesehatan lainnya sangat penting untuk menyusun rencana perawatan yang holistik. Evaluasi terhadap efektivitas intervensi dilakukan dengan membandingkan pengukuran tekanan darah serial, respons pasien terhadap terapi, dan perubahan perilaku hidup sehat. Tindakan ini bersifat dinamis dan disesuaikan dengan respons dan kondisi terkini pasien untuk mencapai target tekanan darah yang optimal dan mencegah komplikasi jangka panjang.
-
Article No. 24151 | 19 Feb 2026
Klinis : penurunan curah jantung
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Penurunan Curah Jantung
Kode SDKI: 00029
Deskripsi Singkat: Penurunan curah jantung adalah suatu kondisi di mana jantung tidak mampu memompa darah dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk gangguan pada otot jantung itu sendiri (seperti infark miokard, kardiomiopati), gangguan irama jantung (aritmia), peningkatan beban kerja jantung (hipertensi, stenosis aorta), atau gangguan pengisian jantung (tamponade jantung, konstriksi perikard). Kondisi ini mengakibatkan perfusi jaringan yang tidak adekuat, yang dapat memengaruhi fungsi berbagai organ vital seperti otak, ginjal, dan kulit. Manifestasi klinis yang sering muncul meliputi sesak napas, kelelahan, penurunan kesadaran, edema perifer, kulit dingin dan lembap, serta penurunan output urin. Diagnosa keperawatan ini menekankan pada respons individu terhadap kondisi tersebut, yang memerlukan intervensi untuk memantau, meminimalkan, dan mengatasi dampak dari penurunan curah jantung.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : SLKI 0801 berfokus pada Pemantauan Curah Jantung. Tujuan luaran dari intervensi ini adalah untuk memastikan bahwa tanda-tanda vital dan parameter hemodinamik pasien tetap dalam rentang yang dapat diterima, serta mendeteksi dini adanya tanda-tanda memburuknya kondisi. Perawat akan secara teratur memantau dan mendokumentasikan frekuensi jantung, irama jantung, tekanan darah (sistolik, diastolik, dan rata-rata), tekanan nadi, serta suhu kulit dan warna. Pemantauan juga mencakup pengamatan tanda-tanda perfusi perifer seperti pengisian kapiler, adanya edema, dan kualitas nadi perifer. Auskultasi bunyi jantung dan paru untuk mendeteksi adanya gallop, murmur, atau krekels merupakan bagian penting. Selain itu, perawat memantau status neurologis (tingkat kesadaran, orientasi) dan output urin sebagai indikator tidak langsung dari curah jantung dan perfusi ginjal. Pemeriksaan penunjang seperti hasil elektrokardiogram (EKG), enzim jantung, dan parameter laboratorium lain (seperti elektrolit dan fungsi ginjal) juga dipantau. Dokumentasi yang akurat dan berkelanjutan dari semua parameter ini sangat penting untuk mengevaluasi tren, keefektifan terapi, dan kebutuhan akan intervensi lebih lanjut.
Kode SIKI: 2120
Deskripsi : SIKI 2120 adalah Manajemen Curah Jantung. Intervensi ini melibatkan serangkaian tindakan perawat yang terencana dan sistematis untuk mengoptimalkan fungsi pompa jantung dan mempertahankan perfusi jaringan. Tindakan spesifik meliputi: (1) Mengatur posisi pasien (misalnya, semi-Fowler) untuk memfasilitasi pernapasan dan mengurangi beban jantung. (2) Memastikan pemberian oksigen sesuai resep dan memantau keefektifannya melalui saturasi oksigen. (3) Mengelola terapi obat sesuai resep, seperti pemberian inotropik (digoxin, dopamin), diuretik, vasodilator, atau obat antiaritmia dengan memantau efek dan efek sampingnya secara ketat. (4) Membatasi asupan cairan dan natrium sesuai instruksi untuk mengurangi beban volume. (5) Mempertahankan keseimbangan cairan dengan memantau asupan dan keluaran cairan secara ketat, serta menimbang berat badan harian. (6) Mendorong tirah baring atau aktivitas terbatas dengan periode istirahat yang cukup untuk mengurangi konsumsi oksigen miokard. (7) Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang tanda dan gejala yang perlu dilaporkan (seperti sesak napas bertambah, edema mendadak, nyeri dada), pentingnya diet rendah garam, kepatuhan pengobatan, dan pembatasan aktivitas. (8) Kolaborasi dengan tim kesehatan lain untuk terapi lanjutan seperti pemasangan alat pacu jantung atau tindakan bedah jika diperlukan. Intervensi ini dilakukan dengan pendekatan holistik, mempertimbangkan kondisi fisik, kecemasan, dan pengetahuan pasien, dengan tujuan akhir meningkatkan curah jantung dan mencegah komplikasi seperti syok kardiogenik atau gagal organ multipel.
-
Article No. 24152 | 19 Feb 2026
Klinis : penurunan curah jantung
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Penurunan Curah Jantung
Kode ICD-10: I50.9
Deskripsi Singkat : Penurunan curah jantung (Low Cardiac Output) adalah suatu sindrom klinis di mana jantung tidak mampu memompa darah dalam volume yang cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh. Kondisi ini bukan diagnosis spesifik, melainkan manifestasi dari berbagai gangguan jantung atau sistemik yang mendasarinya, seperti gagal jantung, kardiomiopati, infark miokard, aritmia berat, atau syok. Gejalanya dapat mencakup kelelahan, sesak napas, penurunan kesadaran, kulit dingin dan lembap, serta penurunan produksi urin. Kode I50.9 dalam ICD-10 secara resmi diklasifikasikan sebagai "Gagal jantung, tidak spesifik". Pemilihan kode ini didasarkan pada fakta bahwa penurunan curah jantung merupakan mekanisme sentral dan manifestasi utama dari gagal jantung yang tidak terklasifikasi lebih lanjut sebagai gagal jantung kongestif (I50.0), gagal jantung ventrikel kiri (I50.1), atau jenis lainnya. Kode ini mengelompokkan kondisi di mana fungsi pompa jantung terganggu, mengakibatkan perfusi organ yang tidak adekuat. Penting untuk mencatat bahwa dalam praktik kodifikasi resmi, penentuan kode harus didasarkan pada dokumentasi klinis yang lengkap oleh dokter, karena kondisi ini mungkin memerlukan kode yang lebih spesifik tergantung etiologi dan manifestasinya.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 24153 | 19 Feb 2026
Klinis : penurunan curah jantung
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Penurunan Curah Jantung
Kode SDKI: D.0006
Deskripsi Singkat: Penurunan curah jantung adalah suatu keadaan dimana volume darah yang dipompa oleh jantung per menit tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh.
Kode SLKI: L.03104
Deskripsi : Curah jantung membaik. Kriteria hasil: 1) Tekanan darah dalam rentang yang dapat diterima untuk pasien, 2) Denyut nadi dalam rentang normal untuk usia, 3) Nadi perifer dapat teraba, 4) Kulit hangat dan kering, 5) Status mental dalam rentang normal untuk pasien, 6) Haluaran urine adekuat (≥ 30 ml/jam), 7) Tidak ada dispnea atau ortopnea, 8) Tidak ada edema paru, 9) Tidak ada edema perifer, 10) Suara jantung normal, 11) Nilai hemodinamik dalam rentang normal.
Kode SIKI: I.05241
Deskripsi : Manajemen penurunan curah jantung. Tindakan keperawatan: 1) Monitor tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu) setiap 1-2 jam atau sesuai kondisi pasien, 2) Auskultasi suara jantung, 3) Auskultasi suara nafas, 4) Monitor status pernapasan (dispnea, ortopnea, sianosis), 5) Monitor status hemodinamik (tekanan vena sentral/CVP, tekanan arteri paru/PAP, tekanan baji kapiler paru/PCWP, curah jantung/CO, indeks jantung/CI) jika tersedia, 6) Monitor haluaran urine setiap jam, 7) Monitor status neurologis/mental (gelisah, penurunan kesadaran), 8) Monitor warna, suhu, dan kelembaban kulit serta pengisian kapiler, 9) Monitor adanya edema (paru dan perifer), 10) Berikan terapi oksigen sesuai program, 11) Atur posisi semi fowler atau fowler sesuai toleransi, 12) Lakukan manajemen cairan (batasi atau berikan sesuai program), 13) Berikan obat-obatan sesuai program (inotropik, diuretik, vasodilator, dll), 14) Kolaborasi pemberian nutrisi sesuai toleransi, 15) Anjurkan tirah baring dan batasi aktivitas, 16) Berikan dukungan psikologis dan edukasi pada pasien/keluarga.
-
Article No. 24154 | 19 Feb 2026
Klinis : batuk 1 minggu ini sampai muntah, nyeri menelan (+) Telaahpasien datang dibawa dengan keluhan batuk 1 minggu ini, saat batuk kadang sampai muntah. Nyeri menelan (+) dijumpai, terasa panas dan perih saat menelan Riwayat Penyakit Dahulu- OKes : CM TD : 124/75 mmHg HR : 90 x/i RR : 20 x/i T : 36 C Spo2 : 98% on Room Air STATUS LOKALISATA Mata : CA (-/-), SI (-/-) Mulut : coated tongue (-), faring hiperemis (+), T1/T1 Leher : TVJ R-2cmHg, lymphadenopathy (-) Thoraks : sp ves (+/+), rh (-/-), wh (-/-), BJ 1,2 reg, murmur (-) Abdomen : soepel, NT (-), normoperistaltik, normothympani, H/L tidak teraba, Mcburney sign (-) Eks : akral hangat, CRT<2, t/v kuat, edem pretibial (-/-)
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: 00031
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang paten. Pada pasien ini, ditandai dengan batuk produktif/non-produktif yang kuat hingga menyebabkan muntah, serta adanya inflamasi faring (faring hiperemis) yang dapat meningkatkan produksi sekret dan menimbulkan rasa nyeri sehingga menghambat kemampuan untuk batuk efektif.
Kode SLKI: 0401
Deskripsi : Bersihan jalan napas. Tujuan dari intervensi keperawatan adalah untuk mencapai dan mempertahankan patensi jalan napas pasien. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: suara napas vesikuler jelas di seluruh lapang paru, tidak ada suara napas tambahan (ronkhi atau wheezing), batuk efektif dengan sekret yang dapat dikeluarkan, serta tanda-tanda vital dalam rentang normal (seperti RR 20x/menit dan SpO2 98% pada pasien ini yang perlu dipertahankan). Pasien juga diharapkan mampu mendemonstrasikan perilaku untuk meningkatkan bersihan jalan napas, seperti teknik batuk efektif dan posisi yang tepat.
Kode SIKI: 3240
Deskripsi : Manajemen jalan napas. Intervensi sistematis yang dilakukan perawat untuk mempertahankan patensi jalan napas dan meningkatkan pertukaran gas. Pada kasus ini, intervensi meliputi: 1) Memonitor status pernapasan (suara napas, frekuensi, irama, kedalaman, dan penggunaan otot bantu) secara berkala. 2) Memposisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi (misalnya, posisi semi-Fowler atau Fowler). 3) Mendukung dan mengajarkan teknik batuk efektif dan napas dalam, dengan memperhatikan nyeri menelan yang dialami pasien. 4) Memberikan hidrasi yang adekuat (cairan hangat) untuk mengencerkan sekret, sepanjang tidak ada kontraindikasi. 5) Melakukan fisioterapi dada jika diindikasikan. 6) Kolaborasi dalam pemberian farmakoterapi seperti obat mukolitik, ekspektoran, atau analgesik untuk nyeri menelan sesuai instruksi dokter. 7) Memberikan pendidikan kesehatan mengenai pentingnya menghindari iritan seperti asap rokok dan menjaga kelembaban udara. 8) Memantau kemajuan pasien dan respons terhadap terapi yang diberikan.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 00132
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, yang terjadi secara tiba-tiba atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat, dan diperkirakan berlangsung dalam waktu kurang dari 3 bulan. Pada pasien ini, nyeri dirasakan di daerah tenggorokan dengan karakteristik panas dan perih saat menelan (odynophagia), yang disebabkan oleh kondisi faring hiperemis (radang). Nyeri ini dapat memperburuk bersihan jalan napas karena pasien mungkin menghindari batuk atau menelan.
Kode SLKI: 2101
Deskripsi : Kontrol nyeri. Tujuannya adalah untuk mencapai tingkat kenyamanan yang dapat diterima pasien dan menunjukkan perbaikan dalam indikator nyeri. Kriteria hasil meliputi: pasien melaporkan penurunan intensitas nyeri (misalnya menggunakan skala 0-10), menunjukkan perilaku nyeri yang berkurang (tidak meringis saat menelan), tanda-tanda vital stabil (TD, HR dalam rentang normal), mampu melakukan aktivitas sesuai kemampuan seperti minum dan batuk dengan lebih nyaman, serta pengetahuan tentang metode non-farmakologis untuk mengatasi nyeri.
Kode SIKI: 1400
Deskripsi : Manajemen nyeri. Intervensi untuk meringankan atau mengurangi nyeri hingga tingkat yang dapat ditoleransi. Intervensi yang dapat dilakukan: 1) Melakukan pengkajian nyeri komprehensif (P = provokasi, Q = kualitas, R = region, S = skala, T = waktu). 2) Memberikan lingkungan yang tenang dan nyaman. 3) Mengajarkan dan membantu teknik non-farmakologis seperti kompres hangat di leher, teknik relaksasi napas dalam, dan distraksi. 4) Menganjurkan konsumsi makanan lunak dan dingin serta cairan hangat (bukan panas) untuk mengurangi iritasi tenggorokan. 5) Kolaborasi pemberian analgesik (seperti parasetamol atau obat kumur antiseptik/analgesik topikal) sesuai resep dokter. 6) Memonitor efektivitas intervensi farmakologis dan non-farmakologis serta efek sampingnya. 7) Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang penyebab nyeri, perjalanan penyakit, dan pentingnya terapi yang diresepkan.
Kondisi: Risiko Defisit Volume Cairan
Kode SDKI: 00028
Deskripsi Singkat: Berisiko mengalami penurunan volume cairan intravaskuler, interstisial, dan/atau intraseluler. Pada pasien ini, faktor risikonya adalah peningkatan kehilangan cairan yang tidak terlihat (insensible water loss) melalui peningkatan frekuensi pernapasan (meskipun RR 20 masih normal, batuk terus-menerus dapat meningkatkan penguapan) dan terutama akibat kesulitan serta nyeri saat menelan (odynophagia) yang dapat menyebabkan penurunan asupan cairan (minum). Muntah saat batuk juga berkontribusi terhadap kehilangan cairan.
Kode SLKI: 0602
Deskripsi : Keseimbangan cairan. Tujuannya adalah mempertahankan keseimbangan cairan yang adekuat. Kriteria hasil yang diharapkan: tanda-tanda vital stabil (TD, HR dalam batas normal seperti data pasien), turgor kulit baik, membran mukosa lembab (coated tongue negatif perlu dipertahankan), asupan dan haluaran cairan seimbang, tidak ada tanda dehidrasi seperti peningkatan denyut jantung atau penurunan tekanan darah, serta pasien memahami pentingnya hidrasi adekuat.
Kode SIKI: 4120
Deskripsi : Manajemen cairan/elektrolit. Intervensi untuk mempromosikan keseimbangan cairan dan elektrolit serta mencegah komplikasi akibat ketidakseimbangan. Intervensi yang dilakukan: 1) Memonitor tanda-tanda vital dan status hidrasi (turgor kulit, membran mukosa mulut, mata) secara teratur. 2) Mencatat asupan dan haluaran cairan dengan akurat. 3) Menganjurkan dan memfasilitasi peningkatan asupan cairan per oral dalam porsi kecil namun sering, memilih cairan yang tidak merangsang tenggorokan (misal air putih hangat, teh hangat dengan madu). 4) Memonitor warna dan jumlah urin. 5) Kolaborasi pemberian terapi intravena jika asupan oral sangat tidak adekuat dan terdapat tanda dehidrasi. 6) Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang tanda-tanda dehidrasi dan strategi untuk memenuhi kebutuhan cairan meski nyeri menelan, seperti menggunakan sedotan atau mengonsumsi makanan berkuah.
-
Article No. 24119 | 18 Feb 2026
Klinis : DS: - Pasien mengeluh sulit tidur - Pasien mengatakan merasa cemas dan gelisah - Pasien mengatakan khawatir dengan kondisinya DO: - Ekspresi wajah tampak tegang - Tampak ontak mata kurang - Tampak tremor halus - Tampak eringat berlebih -Pasien sering bertanya tentang penyakitnya
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Ansietas
Kode SDKI: 00009
Deskripsi Singkat: Ansietas adalah suatu keadaan dimana individu mengalami perasaan gelisah (suatu kekhawatiran yang tidak pasti) dan aktivasi sistem saraf otonom sebagai respons terhadap ancaman yang tidak spesifik atau samar-samar. Pada kasus ini, pasien menunjukkan baik keluhan subjektif (sulit tidur, merasa cemas, gelisah, khawatir) maupun tanda objektif (ekspresi tegang, kurang kontak mata, tremor, keringat berlebih, sering bertanya) yang mengarah pada diagnosis keperawatan ini.
Kode SLKI: 1300
Deskripsi : SLKI 1300 adalah "Kontrol Ansietas". Tujuan akhir dari intervensi keperawatan adalah agar pasien mampu mengendalikan perasaan cemasnya. Indikator dari SLKI ini meliputi: 1) Mengenali tanda dan gejala ansietas, 2) Mengidentifikasi penyebab atau pemicu ansietas, 3) Menggunakan strategi koping yang efektif untuk mengurangi ansietas, 4) Melaporkan penurunan tingkat ansietas baik secara subjektif (perasaan) maupun objektif (tanda fisik seperti tremor dan keringat berlebih), serta 5) Fungsi sehari-hari (seperti tidur) tidak lagi terganggu oleh ansietas. Dalam konteks pasien ini, target yang diharapkan adalah pasien dapat menyatakan perasaan cemasnya berkurang, menunjukkan ekspresi wajah yang lebih rileks, tremor berkurang, keringat normal, dan mampu tidur dengan lebih baik. Pasien juga diharapkan dapat mengidentifikasi bahwa kekhawatiran berlebihan terhadap penyakitnya adalah pemicu kecemasannya dan mulai menggunakan teknik untuk mengelola pikiran tersebut.
Kode SIKI: 6530, 5820, 5270, 5460
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk ansietas bersifat multidimensi, mencakup dukungan emosional, edukasi, dan terapi relaksasi. SIKI 6530: "Terapi Relaksasi" merupakan intervensi inti, dimana perawat mengajarkan dan mendampingi pasien melakukan teknik untuk mengurangi ketegangan fisik dan mental, seperti latihan napas dalam (deep breathing), relaksasi otot progresif, atau imajinasi terbimbing. Teknik ini langsung menargetkan gejala seperti ketegangan wajah, tremor, dan kesulitan tidur. SIKI 5820: "Pengurangan Ansietas" adalah intervensi spesifik yang meliputi menciptakan lingkungan yang tenang, mendengarkan dengan penuh perhatian ekspresi kekhawatiran pasien, memberikan validasi atas perasaannya, dan membantu pasien mengidentifikasi pemicu kecemasan (dalam hal ini, ketidakpastian tentang penyakitnya). SIKI 5270: "Dukungan Emosional" sangat relevan karena perawat memberikan keberadaan yang menenangkan, penerimaan, dan dorongan untuk mengekspresikan perasaan. Hal ini membantu mengurangi perasaan kesepian dan ketakutan pasien. Terakhir, SIKI 5460: "Edukasi: Proses Penyakit" berperan penting untuk mengatasi akar kecemasan pasien, yaitu kekhawatiran terhadap kondisinya. Perawat memberikan informasi yang jelas, jujur, dan sesuai kebutuhan tentang penyakit, rencana pengobatan, dan prognosis. Edukasi ini mengurangi ansietas yang bersumber dari ketidaktahuan dan membantu pasien merasa lebih memegang kendali atas situasinya. Kombinasi keempat intervensi ini dilakukan secara simultan dan berkelanjutan, dimulai dari membangun hubungan terapeutik, memberikan dukungan dan informasi, hingga melatih keterampilan koping praktis, dengan evaluasi terus-menerus terhadap respons pasien terhadap setiap intervensi yang diberikan.