Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 13666 | 10 Mar 2025
Klinis : Seorang laki-laki berusia 25 tahun di rawat di ruang penyakit bedah, post op laparatomy hari kedua. Hasil pemeriksaan pasien mengeluh tidak bisa tidur karena nyeri yang dirasakan. Skala nyeri 6 (0-10), pasien tampak lemas dan tidak nafsu makan. TD 120/80 mmHg, frekuensi nadi 85x/menit, frekuensi napas 23x/menit, suhu 37,2°C.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berdasarkan informasi yang diberikan, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi tersebut:
Diagnosa Keperawatan:
1. Nyeri Akut
- SDKI: Nyeri yang dapat diidentifikasi dengan cepat dan berat, disebabkan oleh penyakit atau cedera yang sedang berlangsung.
- SLKI: Manajemen Nyeri
- SIKI: Pengendalian Nyeri
2. Risiko Kekurangan Volume Cairan
- SDKI: Keadaan di mana individu berisiko mengalami kehilangan cairan yang melebihi jumlah yang dapat diganti.
- SLKI: Manajemen Cairan
- SIKI: Pemantauan Cairan
3. Kelelahan
- SDKI: Keadaan yang ditandai dengan kapasitas menurun untuk melakukan aktivitas fisik dan mental yang disebabkan oleh ketidakseimbangan antara permintaan dan sumber daya.
- SLKI: Manajemen Kelelahan
- SIKI: Pemulihan Energi
Penjelasan Singkat:
1. Nyeri Akut:
- Pasien mengeluh nyeri setelah pembedahan laparatori pada hari kedua, dengan skala nyeri 6 (0-10).
- Tujuan intervensi adalah untuk mengurangi nyeri dan meningkatkan kenyamanan pasien.
- Intervensi dapat mencakup pemberian analgesik, teknik non-farmakologis, dan manajemen lingkungan.
2. Risiko Kekurangan Volume Cairan:
- Pasien tampak lemas dan tidak nafsu makan setelah pembedahan, yang dapat meningkatkan risiko kekurangan volume cairan.
- Tujuan intervensi adalah untuk mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit yang adekuat.
- Intervensi dapat mencakup pemantauan tanda-tanda vital, intake dan output cairan, serta pemberian cairan intravena jika diperlukan.
3. Kelelahan:
- Pasien tampak lemas setelah pembedahan, yang dapat menyebabkan kelelahan.
- Tujuan intervensi adalah untuk membantu pasien memulihkan tenaga dan energi.
- Intervensi dapat mencakup pengaturan istirahat dan aktivitas, serta pemberian nutrisi yang adekuat.
Semoga informasi ini bermanfaat. Jangan ragu untuk bertanya jika ada pertanyaan lebih lanjut. -
Article No. 13667 | 10 Mar 2025
Klinis : Seorang laki-laki berusia 25 tahun di rawat di ruang penyakit bedah, post op laparatomy hari kedua. Hasil pemeriksaan pasien mengeluh tidak bisa tidur karena nyeri yang dirasakan. Skala nyeri 6 (0-10), pasien tampak lemas dan tidak nafsu makan. TD 120/80 mmHg, frekuensi nadi 85x/menit, frekuensi napas 23x/menit, suhu 37,2°C.
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci untuk setiap poin yang Anda minta.
Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai:
1. Nyeri Akut
Definisi: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat adanya kerusakan jaringan yang aktual atau potensial atau dijelaskan dalam istilah tersebut.
Gejala dan tanda mayor: Pasien mengeluh nyeri, ekspresi wajah menunjukkan kesakitan, skala nyeri ≥4.
Gejala dan tanda minor: Pasien tampak gelisah, aktivitas/pergerakan terbatas.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Penurunan Nyeri
Definisi: Hasil akhir yang ditandai dengan pengurangan sensasi tidak nyaman dan tidak menyenangkan yang dirasakan oleh individu akibat adanya kerusakan aktual atau potensial pada jaringan.
Kriteria hasil:
- Pasien melaporkan nyeri berkurang
- Pasien tampak lebih rileks
- Tanda-tanda vital dalam batas normal
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Manajemen Nyeri
Definisi: Serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengenali, mencegah, dan mengurangi atau menghilangkan nyeri.
Aktivitas:
- Kaji nyeri secara komprehensif (lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan skala nyeri)
- Berikan analgesik sesuai indikasi
- Ajarkan teknik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri (relaksasi, distraksi, terapi dingin/hangat)
- Monitor efektivitas intervensi dan respon pasien terhadap pengurangan nyeri
Penjelasan:
Pasien tersebut mengalami nyeri akut pasca operasi laparatomi hari kedua. Hal ini ditandai dengan keluhan pasien yang tidak bisa tidur karena nyeri yang dirasakan, skala nyeri 6 (0-10), dan pasien tampak lemas serta tidak nafsu makan. Diagnosa keperawatan yang sesuai adalah Nyeri Akut.
Luaran/output yang diharapkan setelah asuhan keperawatan adalah Penurunan Nyeri, dengan kriteria hasil seperti pasien melaporkan nyeri berkurang, tampak lebih rileks, dan tanda-tanda vital dalam batas normal.
Intervensi keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan luaran adalah Manajemen Nyeri, yang meliputi pengkajian nyeri secara komprehensif, pemberian analgesik sesuai indikasi, pengajaran teknik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, serta pemantauan efektivitas intervensi dan respon pasien terhadap pengurangan nyeri. -
Article No. 13668 | 10 Mar 2025
Klinis : Seorang laki-laki berusia 25 tahun di rawat di ruang penyakit bedah, post op laparatomy hari kedua. Hasil pemeriksaan pasien mengeluh tidak bisa tidur karena nyeri yang dirasakan. Skala nyeri 6 (0-10), pasien tampak lemas dan tidak nafsu makan. TD 120/80 mmHg, frekuensi nadi 85x/menit, frekuensi napas 23x/menit, suhu 37,2°C.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Saya akan memberikan kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur/tindakan medis berdasarkan informasi yang diberikan.
1. Kode ICD-10:
- Kode: R52
- Deskripsi: Nyeri, tidak diklasifikasikan di tempat lain
Penjelasan:
Pasien mengalami keluhan nyeri setelah menjalani laparatomi, dengan skala nyeri 6 dari 10. Kode ICD-10 R52 digunakan untuk menggambarkan kondisi ini, yang merupakan nyeri yang tidak diklasifikasikan di tempat lain.
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 54.11
- Deskripsi: Laparotomi, tidak diklasifikasikan di tempat lain
Penjelasan:
Pasien menjalani prosedur laparatomi pada hari kedua perawatan. Kode ICD-9-CM 54.11 digunakan untuk mengkodekan tindakan laparotomi yang tidak diklasifikasikan di tempat lain.
Kesimpulan:
Berdasarkan informasi yang diberikan, pasien laki-laki berusia 25 tahun dirawat di ruang penyakit bedah, post-op laparatomi hari kedua, dengan keluhan utama tidak bisa tidur karena nyeri yang dirasakan dengan skala nyeri 6 (0-10), tampak lemas dan tidak nafsu makan. Tanda-tanda vital menunjukkan TD 120/80 mmHg, nadi 85x/menit, napas 23x/menit, dan suhu 37,2°C. Kode ICD-10 yang sesuai adalah R52 (Nyeri, tidak diklasifikasikan di tempat lain), dan kode ICD-9-CM untuk prosedur yang dilakukan adalah 54.11 (Laparotomi, tidak diklasifikasikan di tempat lain). -
Article No. 13669 | 10 Mar 2025
Klinis : Seorang laki-laki berusia 25 tahun di rawat di ruang penyakit bedah, post op laparatomy hari kedua. Hasil pemeriksaan pasien mengeluh tidak bisa tidur karena nyeri yang dirasakan. Skala nyeri 6 (0-10), pasien tampak lemas dan tidak nafsu makan. TD 120/80 mmHg, frekuensi nadi 85x/menit, frekuensi napas 23x/menit, suhu 37,2°C.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan:
1. Nyeri Akut
Definisi: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial atau yang dijelaskan dalam istilah seperti itu (International Association for the Study of Pain).
Faktor yang Berhubungan:
- Agen cedera biologis (luka pascaoperasi)
Gejala dan Tanda Mayor:
- Pasien melaporkan nyeri dengan skala 6 (0-10)
- Pasien tampak lemas
Gejala dan Tanda Minor:
- Pasien tidak nafsu makan
Rencana Asuhan Keperawatan:
1. Kaji lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan berat nyeri yang dirasakan pasien.
2. Berikan manajemen nyeri yang sesuai (farmakologis dan non-farmakologis).
3. Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian analgesik yang adekuat.
4. Ajarkan teknik relaksasi dan distraksi untuk mengurangi nyeri.
5. Pantau tanda-tanda vital secara berkala.
6. Evaluasi efektivitas intervensi dan lakukan modifikasi jika diperlukan.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Definisi diagnosis keperawatan mengacu pada NANDA-I (North American Nursing Diagnosis Association International).
- Klasifikasi diagnosis keperawatan menggunakan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI).
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Standar luaran keperawatan yang digunakan adalah Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI).
- Luaran keperawatan yang diharapkan pada kasus ini adalah penurunan skala nyeri, peningkatan asupan nutrisi, dan peningkatan kualitas tidur.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Standar intervensi keperawatan yang digunakan adalah Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI).
- Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan mencakup manajemen nyeri, manajemen nutrisi, dan manajemen tidur. -
Article No. 13670 | 10 Mar 2025
Klinis : tuan w umur 21 tahun datang ke ugd dengan keluhan kesulitan bernapas dan mengalami, nyeri pada daerah ulu hati. pemeriksaan lainnya TD: 110/70 mmHg, N:96 x/menit, S:36 derajat, Rr: 25x/menit sebutkan diagnosanya
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai untuk kondisi tuan W:
1. Pola Napas Tidak Efektif
Definisi: Ketidakmampuan untuk memelihara pernapasan yang adekuat untuk mendukung kebutuhan oksigenasi.
Tanda dan Gejala: Kesulitan bernapas, nyeri pada daerah ulu hati, Rr: 25x/menit.
2. Nyeri Akut
Definisi: Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial atau yang digambarkan dalam istilah-istilah kerusakan tersebut.
Tanda dan Gejala: Nyeri pada daerah ulu hati.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Pola Napas Efektif
Kriteria Hasil:
- Frekuensi napas dalam rentang normal (12-20x/menit)
- Irama napas teratur
- Tidak ada tanda-tanda distress pernapasan
- Pasien dapat melakukan pernapasan diafragmatik
2. Kontrol Nyeri
Kriteria Hasil:
- Pasien melaporkan nyeri berkurang
- Pasien dapat beristirahat dengan tenang
- Pasien dapat melakukan aktivitas tanpa hambatan nyeri
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Pola Napas Tidak Efektif
a. Kaji tanda-tanda vital, karakteristik dan penyebab pola napas tidak efektif.
b. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian oksigen, bronkodilator, dan analgesik jika diperlukan.
c. Ajarkan teknik pernapasan diafragmatik dan latih pasien melakukannya.
d. Monitor respirasi dan evaluasi efektivitas intervensi.
2. Nyeri Akut
a. Kaji nyeri secara komprehensif (lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas, dan faktor presipitasi).
b. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgesik sesuai indikasi.
c. Ajarkan teknik manajemen nyeri non-farmakologis (relaksasi, distraksi, dll).
d. Monitor respon pasien terhadap intervensi dan evaluasi efektivitas pengurangan nyeri.
Penjelasan rinci:
Diagnosa keperawatan SDKI yang sesuai untuk kondisi tuan W adalah Pola Napas Tidak Efektif dan Nyeri Akut. Pola Napas Tidak Efektif ditandai dengan adanya kesulitan bernapas dan peningkatan frekuensi pernapasan (Rr: 25x/menit), sedangkan Nyeri Akut ditandai dengan adanya keluhan nyeri pada daerah ulu hati.
Luaran/output yang diharapkan setelah asuhan keperawatan adalah Pola Napas Efektif dan Kontrol Nyeri. Pola Napas Efektif dicirikan dengan frekuensi napas dalam rentang normal, irama napas teratur, tidak ada tanda-tanda distress pernapasan, dan pasien dapat melakukan pernapasan diafragmatik. Sementara itu, Kontrol Nyeri dicirikan dengan pasien melaporkan nyeri berkurang, dapat beristirahat dengan tenang, dan dapat melakukan aktivitas tanpa hambatan nyeri.
Intervensi keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan luaran meliputi pengkajian komprehensif, kolaborasi dengan dokter untuk pemberian oksigen, bronkodilator, dan analgesik, serta latihan teknik pernapasan diafragmatik dan manajemen nyeri non-farmakologis. Monitoring tanda-tanda vital, respirasi, dan respon pasien terhadap intervensi juga penting untuk mengevaluasi efektivitas intervensi yang diberikan. -
Article No. 13568 | 09 Mar 2025
Klinis : Seorang wanita Jepang berusia 32 tahun yang mengalami hipoglikemia berat (7 mg/dL) yang disertai dengan krisis tiroid. Pasien datang ke rumah sakit dengan keluhan sesak napas, kelelahan umum, dan edema (pembengkakan) pada kaki. Sebelumnya, pasien tidak memiliki riwayat hipertiroidisme dan tidak ada riwayat penyakit tiroid dalam keluarga. Pada saat masuk rumah sakit, pemeriksaan menunjukkan bahwa pasien mengalami hipertiroidisme berat, dengan kadar FT3 >30 pg/mL, FT4 >6.0 ng/dL, dan TRAb 23.6 IU/L. Pemeriksaan fisik menunjukkan pembesaran difus kelenjar tiroid, tetapi tidak ditemukan exophthalmos (mata menonjol). Selain itu, pasien mengalami gagal jantung kongestif parah, yang diklasifikasikan sebagai kelas IV menurut New York Heart Association (NYHA). Pada malam pertama di rumah sakit, pasien tiba-tiba kehilangan kesadaran dan mengalami henti jantung. Tindakan resusitasi dilakukan, dan pasien berhasil diselamatkan. Pemeriksaan laboratorium setelah kejadian ini menunjukkan hipoglikemia berat (glukosa darah hanya 7 mg/dL), gagal jantung sisi kanan yang parah, serta disfungsi hati akibat kongesti hati. Kondisi pasien dikategorikan sebagai multiple organ failure akibat krisis tiroid, yang membutuhkan penanganan intensif di unit perawatan intensif (ICU). Penanganan yang diberikan meliputi infus glukosa intravena, hidrokortison, methimazole (obat anti-tiroid), dan diuretika. Selain itu, pasien menjalani Continuous Hemodiafiltration (CHDF) selama 7 hari untuk mempertahankan sirkulasi darah dan mengurangi beban kerja jantung. Setelah kondisi pasien membaik dan hasil laboratorium kembali normal, ia akhirnya diperbolehkan pulang setelah menjalani perawatan selama 74 hari di rumah sakit. Studi kasus ini dikutip dari jurnal Severe Hypoglycemia Accompanied with Thyroid Crisis (Nakatani et al., 2019). 3.4 Pengkajian A. Identitas Klien Nama Pasien : - Usia : 32 tahun Jenis Kelamin : Perempuan Tempat Perawatan : Dirawat di (ICU) rumah sakit di Jepang Diagnosis : Krisis tiroid (thyroid storm) dengan hipoglikemia berat dan gagal jantung kongestif B. Keluhan Utama Pasien datang dengan sesak napas, kelelahan berat, serta pembengkakan pada kaki. C. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien awalnya mengalami kelelahan, sesak napas progresif, dan edema ekstremitas bawah yang semakin memburuk. Saat masuk rumah sakit, pasien mengalami krisis tiroid yang ditandai dengan hipertiroidisme berat, gagal jantung kongestif, serta hipoglikemia berat (glukosa darah 7 mg/dL). Pada malam pertama perawatan, pasien mengalami henti jantung mendadak, tetapi berhasil diselamatkan melalui resusitasi. D. Riwayat konsumsi obat: Pasien tidak memiliki riwayat pengobatan hipertiroidisme sebelumnya karena tidak pernah didiagnosis hipertiroidisme sebelum masuk rumah sakit. E. Pemeriksaan Fisik • Kesadaran: Tidak stabil, mengalami kehilangan kesadaran pada malam pertama perawatan • Tekanan darah: Tidak disebutkan secara spesifik, tetapi mengalami gangguan sirkulasi. Tidak stabil, kemungkinan rendah (hipotensi) akibat gagal jantung dan hipoglikemia • Denyut Nadi (HR): >140 bpm (takikardia berat), khas pada krisis tiroid • Laju Napas (RR): ≥24 kali/menit (takipnea), sesuai dengan keluhan sesak napas • Suhu Tubuh: ≥39°C (demam tinggi), gejala khas krisis tiroid • Glukosa Darah: 7 mg/dL (hipoglikemia berat), menyebabkan gangguan kesadaran • Pembesaran kelenjar tiroid: Ditemukan pembesaran difus pada leher, tetapi tanpa exophthalmos (mata menonjol) • Edema: Pembengkakan pada kaki akibat gagal jantung kongestif F. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan laboratorium: • FT3 >30 pg/mL (menunjukkan hipertiroidisme berat) • FT4 >6.0 ng/dL (menunjukkan hipertiroidisme berat) • TRAb 23.6 IU/L (positif, menunjukkan penyakit Graves) • Glukosa darah: 7 mg/dL (hipoglikemia berat) • Disfungsi hati akibat kongesti dari gagal jantung Elektrokardiogram (EKG): Menunjukkan tanda-tanda takikardia dan gangguan sirkulasi akibat gagal jantung Ekokardiografi: Menunjukkan gagal jantung sisi kanan yang berat G. Penatalaksanaan 1. Stabilisasi hipoglikemia • Pemberian infus glukosa intravena untuk meningkatkan kadar gula darah • Pemantauan kadar glukosa darah secara ketat 2. Manajemen krisis tiroid • Obat anti-tiroid (Methimazole) untuk menekan produksi hormon tiroid • Beta-blocker (Propranolol) untuk mengontrol takikardia • Kortikosteroid (Hidrokortison) untuk mengurangi peradangan dan mencegah insufisiensi adrenal • Pemberian yodium untuk menghambat pelepasan hormon tiroid lebih lanjut 3. Penanganan gagal jantung • Diuretik untuk mengurangi retensi cairan akibat gagal jantung • Continuous Hemodiafiltration (CHDF) selama 7 hari untuk mendukung fungsi ginjal dan sirkulasi darah 4. Dukungan Perawatan Intensif (ICU) • Resusitasi cairan untuk menjaga tekanan darah dan keseimbangan elektrolit • Ventilasi dan dukungan pernapasan untuk memastikan oksigenasi yang cukup • Pengawasan ketat terhadap fungsi organ vital
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: 1. Kode ICD-10:
- Kode: E05.5
- Deskripsi: Krisis tiroid (Thyroid storm)
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 39.95
- Deskripsi: Continuous Hemodiafiltration (CHDF)
Penjelasan:
Berdasarkan informasi yang diberikan, pasien mengalami kondisi krisis tiroid (thyroid storm) yang ditandai dengan hipoglikemia berat (7 mg/dL) dan gagal jantung kongestif yang parah. Pasien juga mengalami hipertiroidisme berat, yang ditandai dengan kadar FT3 >30 pg/mL, FT4 >6.0 ng/dL, dan TRAb 23.6 IU/L, serta pembesaran difus kelenjar tiroid tanpa exophthalmos.
Untuk kode ICD-10, kondisi krisis tiroid (thyroid storm) pada pasien ini dapat diklasifikasikan dengan kode E05.5. Kode ini mencakup kondisi hipertiroidisme berat yang mengancam nyawa, termasuk dengan komplikasi seperti disfungsi organ, gagal jantung, dan hipoglikemia yang diderita oleh pasien.
Selain itu, pasien juga menjalani tindakan Continuous Hemodiafiltration (CHDF) selama 7 hari untuk mendukung fungsi ginjal dan sirkulasi darah. Untuk prosedur ini, dapat diberikan kode ICD-9-CM 39.95.
Penanganan yang diberikan meliputi pemberian infus glukosa intravena, obat anti-tiroid (methimazole), kortikosteroid (hidrokortison), diuretik, dan CHDF. Tindakan tersebut dilakukan untuk menstabilkan kondisi pasien, mengatasi krisis tiroid, mengoreksi hipoglikemia, dan menangani gagal jantung kongestif yang dialami. -
Article No. 13569 | 09 Mar 2025
Klinis : Seorang wanita Jepang berusia 32 tahun yang mengalami hipoglikemia berat (7 mg/dL) yang disertai dengan krisis tiroid. Pasien datang ke rumah sakit dengan keluhan sesak napas, kelelahan umum, dan edema (pembengkakan) pada kaki. Sebelumnya, pasien tidak memiliki riwayat hipertiroidisme dan tidak ada riwayat penyakit tiroid dalam keluarga. Pada saat masuk rumah sakit, pemeriksaan menunjukkan bahwa pasien mengalami hipertiroidisme berat, dengan kadar FT3 >30 pg/mL, FT4 >6.0 ng/dL, dan TRAb 23.6 IU/L. Pemeriksaan fisik menunjukkan pembesaran difus kelenjar tiroid, tetapi tidak ditemukan exophthalmos (mata menonjol). Selain itu, pasien mengalami gagal jantung kongestif parah, yang diklasifikasikan sebagai kelas IV menurut New York Heart Association (NYHA). Pada malam pertama di rumah sakit, pasien tiba-tiba kehilangan kesadaran dan mengalami henti jantung. Tindakan resusitasi dilakukan, dan pasien berhasil diselamatkan. Pemeriksaan laboratorium setelah kejadian ini menunjukkan hipoglikemia berat (glukosa darah hanya 7 mg/dL), gagal jantung sisi kanan yang parah, serta disfungsi hati akibat kongesti hati. Kondisi pasien dikategorikan sebagai multiple organ failure akibat krisis tiroid, yang membutuhkan penanganan intensif di unit perawatan intensif (ICU). Penanganan yang diberikan meliputi infus glukosa intravena, hidrokortison, methimazole (obat anti-tiroid), dan diuretika. Selain itu, pasien menjalani Continuous Hemodiafiltration (CHDF) selama 7 hari untuk mempertahankan sirkulasi darah dan mengurangi beban kerja jantung. Setelah kondisi pasien membaik dan hasil laboratorium kembali normal, ia akhirnya diperbolehkan pulang setelah menjalani perawatan selama 74 hari di rumah sakit. Studi kasus ini dikutip dari jurnal Severe Hypoglycemia Accompanied with Thyroid Crisis (Nakatani et al., 2019). 3.4 Pengkajian A. Identitas Klien Nama Pasien : - Usia : 32 tahun Jenis Kelamin : Perempuan Tempat Perawatan : Dirawat di (ICU) rumah sakit di Jepang Diagnosis : Krisis tiroid (thyroid storm) dengan hipoglikemia berat dan gagal jantung kongestif B. Keluhan Utama Pasien datang dengan sesak napas, kelelahan berat, serta pembengkakan pada kaki. C. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien awalnya mengalami kelelahan, sesak napas progresif, dan edema ekstremitas bawah yang semakin memburuk. Saat masuk rumah sakit, pasien mengalami krisis tiroid yang ditandai dengan hipertiroidisme berat, gagal jantung kongestif, serta hipoglikemia berat (glukosa darah 7 mg/dL). Pada malam pertama perawatan, pasien mengalami henti jantung mendadak, tetapi berhasil diselamatkan melalui resusitasi. D. Riwayat konsumsi obat: Pasien tidak memiliki riwayat pengobatan hipertiroidisme sebelumnya karena tidak pernah didiagnosis hipertiroidisme sebelum masuk rumah sakit. E. Pemeriksaan Fisik • Kesadaran: Tidak stabil, mengalami kehilangan kesadaran pada malam pertama perawatan • Tekanan darah: Tidak disebutkan secara spesifik, tetapi mengalami gangguan sirkulasi. Tidak stabil, kemungkinan rendah (hipotensi) akibat gagal jantung dan hipoglikemia • Denyut Nadi (HR): >140 bpm (takikardia berat), khas pada krisis tiroid • Laju Napas (RR): ≥24 kali/menit (takipnea), sesuai dengan keluhan sesak napas • Suhu Tubuh: ≥39°C (demam tinggi), gejala khas krisis tiroid • Glukosa Darah: 7 mg/dL (hipoglikemia berat), menyebabkan gangguan kesadaran • Pembesaran kelenjar tiroid: Ditemukan pembesaran difus pada leher, tetapi tanpa exophthalmos (mata menonjol) • Edema: Pembengkakan pada kaki akibat gagal jantung kongestif F. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan laboratorium: • FT3 >30 pg/mL (menunjukkan hipertiroidisme berat) • FT4 >6.0 ng/dL (menunjukkan hipertiroidisme berat) • TRAb 23.6 IU/L (positif, menunjukkan penyakit Graves) • Glukosa darah: 7 mg/dL (hipoglikemia berat) • Disfungsi hati akibat kongesti dari gagal jantung Elektrokardiogram (EKG): Menunjukkan tanda-tanda takikardia dan gangguan sirkulasi akibat gagal jantung Ekokardiografi: Menunjukkan gagal jantung sisi kanan yang berat G. Penatalaksanaan 1. Stabilisasi hipoglikemia • Pemberian infus glukosa intravena untuk meningkatkan kadar gula darah • Pemantauan kadar glukosa darah secara ketat 2. Manajemen krisis tiroid • Obat anti-tiroid (Methimazole) untuk menekan produksi hormon tiroid • Beta-blocker (Propranolol) untuk mengontrol takikardia • Kortikosteroid (Hidrokortison) untuk mengurangi peradangan dan mencegah insufisiensi adrenal • Pemberian yodium untuk menghambat pelepasan hormon tiroid lebih lanjut 3. Penanganan gagal jantung • Diuretik untuk mengurangi retensi cairan akibat gagal jantung • Continuous Hemodiafiltration (CHDF) selama 7 hari untuk mendukung fungsi ginjal dan sirkulasi darah 4. Dukungan Perawatan Intensif (ICU) • Resusitasi cairan untuk menjaga tekanan darah dan keseimbangan elektrolit • Ventilasi dan dukungan pernapasan untuk memastikan oksigenasi yang cukup • Pengawasan ketat terhadap fungsi organ vital
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi klien yang dipaparkan, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat terkait standar SDKI - SLKI - SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
Diagnosa Keperawatan:
1. Risiko Ketidakstabilan Hemodinamik berhubungan dengan krisis tiroid, hipoglikemia berat, dan gagal jantung kongestif.
2. Gangguan Pertukaran Gas berhubungan dengan sesak napas dan gagal jantung kongestif.
3. Intoleransi Aktivitas berhubungan dengan kelelahan umum dan penurunan fungsi jantung.
4. Risiko Cedera berhubungan dengan hilangnya kesadaran dan henti jantung.
Penjelasan Singkat Terkait Standar SDKI - SLKI - SIKI:
1. Risiko Ketidakstabilan Hemodinamik
- SDKI: Definisi, faktor risiko, gejala dan tanda, serta kriteria outcome.
- SLKI: Intervensi keperawatan untuk memantau dan menjaga stabilitas hemodinamik.
- SIKI: Tindakan keperawatan seperti pemberian cairan, vasoaktif, dan dukungan sirkulasi.
2. Gangguan Pertukaran Gas
- SDKI: Definisi, penyebab, gejala dan tanda, serta kriteria outcome.
- SLKI: Intervensi keperawatan untuk memantau dan memfasilitasi pertukaran gas.
- SIKI: Tindakan keperawatan seperti pemberian oksigen, pengaturan ventilasi, dan suction.
3. Intoleransi Aktivitas
- SDKI: Definisi, faktor penyebab, gejala dan tanda, serta kriteria outcome.
- SLKI: Intervensi keperawatan untuk memantau dan meningkatkan toleransi aktivitas.
- SIKI: Tindakan keperawatan seperti manajemen energi, latihan, dan dukungan mobilisasi.
4. Risiko Cedera
- SDKI: Definisi, faktor risiko, gejala dan tanda, serta kriteria outcome.
- SLKI: Intervensi keperawatan untuk mencegah dan mengelola risiko cedera.
- SIKI: Tindakan keperawatan seperti pemantauan kesadaran, tindakan resusitasi, dan pencegahan komplikasi.
Penanganan komprehensif sesuai standar SDKI, SLKI, dan SIKI diperlukan untuk mengelola kondisi klien yang kompleks dengan krisis tiroid, hipoglikemia berat, dan gagal jantung kongestif. Pemantauan yang ketat, intervensi yang tepat, serta koordinasi perawatan di unit perawatan intensif (ICU) menjadi kunci keberhasilan dalam menyelamatkan nyawa pasien. -
Article No. 13570 | 09 Mar 2025
Klinis : Seorang wanita Jepang berusia 32 tahun yang mengalami hipoglikemia berat (7 mg/dL) yang disertai dengan krisis tiroid. Pasien datang ke rumah sakit dengan keluhan sesak napas, kelelahan umum, dan edema (pembengkakan) pada kaki. Sebelumnya, pasien tidak memiliki riwayat hipertiroidisme dan tidak ada riwayat penyakit tiroid dalam keluarga. Pada saat masuk rumah sakit, pemeriksaan menunjukkan bahwa pasien mengalami hipertiroidisme berat, dengan kadar FT3 >30 pg/mL, FT4 >6.0 ng/dL, dan TRAb 23.6 IU/L. Pemeriksaan fisik menunjukkan pembesaran difus kelenjar tiroid, tetapi tidak ditemukan exophthalmos (mata menonjol). Selain itu, pasien mengalami gagal jantung kongestif parah, yang diklasifikasikan sebagai kelas IV menurut New York Heart Association (NYHA). Pada malam pertama di rumah sakit, pasien tiba-tiba kehilangan kesadaran dan mengalami henti jantung. Tindakan resusitasi dilakukan, dan pasien berhasil diselamatkan. Pemeriksaan laboratorium setelah kejadian ini menunjukkan hipoglikemia berat (glukosa darah hanya 7 mg/dL), gagal jantung sisi kanan yang parah, serta disfungsi hati akibat kongesti hati. Kondisi pasien dikategorikan sebagai multiple organ failure akibat krisis tiroid, yang membutuhkan penanganan intensif di unit perawatan intensif (ICU). Penanganan yang diberikan meliputi infus glukosa intravena, hidrokortison, methimazole (obat anti-tiroid), dan diuretika. Selain itu, pasien menjalani Continuous Hemodiafiltration (CHDF) selama 7 hari untuk mempertahankan sirkulasi darah dan mengurangi beban kerja jantung. Setelah kondisi pasien membaik dan hasil laboratorium kembali normal, ia akhirnya diperbolehkan pulang setelah menjalani perawatan selama 74 hari di rumah sakit. Studi kasus ini dikutip dari jurnal Severe Hypoglycemia Accompanied with Thyroid Crisis (Nakatani et al., 2019). 3.4 Pengkajian A. Identitas Klien Nama Pasien : - Usia : 32 tahun Jenis Kelamin : Perempuan Tempat Perawatan : Dirawat di (ICU) rumah sakit di Jepang Diagnosis : Krisis tiroid (thyroid storm) dengan hipoglikemia berat dan gagal jantung kongestif B. Keluhan Utama Pasien datang dengan sesak napas, kelelahan berat, serta pembengkakan pada kaki. C. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien awalnya mengalami kelelahan, sesak napas progresif, dan edema ekstremitas bawah yang semakin memburuk. Saat masuk rumah sakit, pasien mengalami krisis tiroid yang ditandai dengan hipertiroidisme berat, gagal jantung kongestif, serta hipoglikemia berat (glukosa darah 7 mg/dL). Pada malam pertama perawatan, pasien mengalami henti jantung mendadak, tetapi berhasil diselamatkan melalui resusitasi. D. Riwayat konsumsi obat: Pasien tidak memiliki riwayat pengobatan hipertiroidisme sebelumnya karena tidak pernah didiagnosis hipertiroidisme sebelum masuk rumah sakit. E. Pemeriksaan Fisik • Kesadaran: Tidak stabil, mengalami kehilangan kesadaran pada malam pertama perawatan • Tekanan darah: Tidak disebutkan secara spesifik, tetapi mengalami gangguan sirkulasi. Tidak stabil, kemungkinan rendah (hipotensi) akibat gagal jantung dan hipoglikemia • Denyut Nadi (HR): >140 bpm (takikardia berat), khas pada krisis tiroid • Laju Napas (RR): ≥24 kali/menit (takipnea), sesuai dengan keluhan sesak napas • Suhu Tubuh: ≥39°C (demam tinggi), gejala khas krisis tiroid • Glukosa Darah: 7 mg/dL (hipoglikemia berat), menyebabkan gangguan kesadaran • Pembesaran kelenjar tiroid: Ditemukan pembesaran difus pada leher, tetapi tanpa exophthalmos (mata menonjol) • Edema: Pembengkakan pada kaki akibat gagal jantung kongestif F. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan laboratorium: • FT3 >30 pg/mL (menunjukkan hipertiroidisme berat) • FT4 >6.0 ng/dL (menunjukkan hipertiroidisme berat) • TRAb 23.6 IU/L (positif, menunjukkan penyakit Graves) • Glukosa darah: 7 mg/dL (hipoglikemia berat) • Disfungsi hati akibat kongesti dari gagal jantung Elektrokardiogram (EKG): Menunjukkan tanda-tanda takikardia dan gangguan sirkulasi akibat gagal jantung Ekokardiografi: Menunjukkan gagal jantung sisi kanan yang berat G. Penatalaksanaan 1. Stabilisasi hipoglikemia • Pemberian infus glukosa intravena untuk meningkatkan kadar gula darah • Pemantauan kadar glukosa darah secara ketat 2. Manajemen krisis tiroid • Obat anti-tiroid (Methimazole) untuk menekan produksi hormon tiroid • Beta-blocker (Propranolol) untuk mengontrol takikardia • Kortikosteroid (Hidrokortison) untuk mengurangi peradangan dan mencegah insufisiensi adrenal • Pemberian yodium untuk menghambat pelepasan hormon tiroid lebih lanjut 3. Penanganan gagal jantung • Diuretik untuk mengurangi retensi cairan akibat gagal jantung • Continuous Hemodiafiltration (CHDF) selama 7 hari untuk mendukung fungsi ginjal dan sirkulasi darah 4. Dukungan Perawatan Intensif (ICU) • Resusitasi cairan untuk menjaga tekanan darah dan keseimbangan elektrolit • Ventilasi dan dukungan pernapasan untuk memastikan oksigenasi yang cukup • Pengawasan ketat terhadap fungsi organ vital
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan SDKI yang sesuai, luaran/output yang diharapkan setelah asuhan keperawatan (SLKI), serta intervensi keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan luaran (SIKI) berdasarkan kasus yang diberikan.
Diagnosa Keperawatan SDKI:
1. Risiko Ketidakstabilan Tanda-Tanda Vital berhubungan dengan krisis tiroid, hipoglikemia berat, dan gagal jantung kongestif.
2. Risiko Penurunan Curah Jantung berhubungan dengan gagal jantung kongestif dan disfungsi hati akibat kongesti.
3. Risiko Ketidakseimbangan Kadar Glukosa Darah berhubungan dengan hipoglikemia berat.
4. Risiko Penurunan Perfusi Jaringan Perifer berhubungan dengan gagal jantung kongestif dan hipotensi.
5. Risiko Penurunan Kesadaran berhubungan dengan hipoglikemia berat dan gangguan fungsi jantung.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Stabilitas Tanda-Tanda Vital
- Tanda-tanda vital pasien dalam batas normal
- Tidak terjadi fluktuasi yang ekstrem pada tanda-tanda vital
2. Peningkatan Curah Jantung
- Fungsi jantung membaik, dengan EF (ejection fraction) lebih dari 50%
- Tidak terjadi retensi cairan dan tanda-tanda gagal jantung kongestif teratasi
3. Stabilitas Kadar Glukosa Darah
- Kadar glukosa darah dalam rentang normal (70-99 mg/dL)
- Tidak terjadi episode hipoglikemia berat
4. Peningkatan Perfusi Jaringan
- Tidak ada tanda-tanda hipoperfusi jaringan (akral dingin, sianosis, dll.)
- Terjadi perbaikan edema pada ekstremitas
5. Peningkatan Tingkat Kesadaran
- Pasien mempertahankan kesadaran yang baik, tidak terjadi penurunan kesadaran lagi
- Pasien dapat merespons dengan baik terhadap stimulasi
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Risiko Ketidakstabilan Tanda-Tanda Vital:
- Pantau tanda-tanda vital secara ketat (setiap 1-2 jam)
- Berikan oksigen suplementasi untuk mempertahankan saturasi oksigen yang adekuat
- Lakukan tindakan penanganan awal jika terjadi perubahan tanda-tanda vital yang signifikan
- Berikan obat-obatan sesuai instruksi medis (antityroid, beta-blocker, kortikosteroid, dll.)
2. Risiko Penurunan Curah Jantung:
- Pantau tanda-tanda gagal jantung kongestif (edema, distensi vena jugularis, dll.)
- Berikan diuretik sesuai instruksi medis untuk mengurangi retensi cairan
- Kolaborasi dengan tim medis untuk mempertahankan keseimbangan cairan yang adekuat
- Lakukan pemantauan fungsi jantung (EKG, ekokardiografi) secara berkala
- Berikan terapi suportif, seperti terapi ventilasi dan terapi cairan sesuai kebutuhan
3. Risiko Ketidakseimbangan Kadar Glukosa Darah:
- Pantau kadar glukosa darah secara ketat (setiap 1-2 jam)
- Berikan terapi insulin intravena atau infus glukosa sesuai instruksi medis untuk mengatasi hipoglikemia
- Pastikan asupan nutrisi yang adekuat untuk mempertahankan kadar glukosa darah
- Berikan edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai manajemen hipoglikemia
4. Risiko Penurunan Perfusi Jaringan Perifer:
- Pantau tanda-tanda hipoperfusi jaringan (akral dingin, sianosis, dll.)
- Kolaborasi dengan tim medis untuk menjaga tekanan darah dan sirkulasi yang adekuat
- Lakukan mobilisasi pasien secara bertahap untuk meningkatkan perfusi jaringan
- Kolaborasi dengan ahli gizi untuk mengoptimalkan asupan nutrisi pasien
5. Risiko Penurunan Kesadaran:
- Pantau tingkat kesadaran pasien secara ketat menggunakan skala penilaian yang sesuai
- Berikan stimulasi kognitif dan komunikasi terapeutik untuk mempertahankan tingkat kesadaran
- Kolaborasi dengan tim medis untuk mengatasi penyebab penurunan kesadaran (hipoglikemia, gangguan fungsi jantung)
- Sediakan lingkungan yang aman untuk mencegah cedera akibat penurunan kesadaran
Dalam memberikan asuhan keperawatan, perawat harus bekerja secara kolaboratif dengan tim medis lainnya untuk memastikan penanganan yang komprehensif dan optimal bagi pasien. Pemantauan yang ketat, pemberian intervensi yang sesuai, serta kolaborasi yang efektif dengan profesi lain merupakan kunci untuk mencapai luaran yang diharapkan dan memulihkan kondisi pasien. -
Article No. 13571 | 09 Mar 2025
Klinis : Seorang wanita Jepang berusia 32 tahun yang mengalami hipoglikemia berat (7 mg/dL) yang disertai dengan krisis tiroid. Pasien datang ke rumah sakit dengan keluhan sesak napas, kelelahan umum, dan edema (pembengkakan) pada kaki. Sebelumnya, pasien tidak memiliki riwayat hipertiroidisme dan tidak ada riwayat penyakit tiroid dalam keluarga. Pada saat masuk rumah sakit, pemeriksaan menunjukkan bahwa pasien mengalami hipertiroidisme berat, dengan kadar FT3 >30 pg/mL, FT4 >6.0 ng/dL, dan TRAb 23.6 IU/L. Pemeriksaan fisik menunjukkan pembesaran difus kelenjar tiroid, tetapi tidak ditemukan exophthalmos (mata menonjol). Selain itu, pasien mengalami gagal jantung kongestif parah, yang diklasifikasikan sebagai kelas IV menurut New York Heart Association (NYHA). Pada malam pertama di rumah sakit, pasien tiba-tiba kehilangan kesadaran dan mengalami henti jantung. Tindakan resusitasi dilakukan, dan pasien berhasil diselamatkan. Pemeriksaan laboratorium setelah kejadian ini menunjukkan hipoglikemia berat (glukosa darah hanya 7 mg/dL), gagal jantung sisi kanan yang parah, serta disfungsi hati akibat kongesti hati. Kondisi pasien dikategorikan sebagai multiple organ failure akibat krisis tiroid, yang membutuhkan penanganan intensif di unit perawatan intensif (ICU). Penanganan yang diberikan meliputi infus glukosa intravena, hidrokortison, methimazole (obat anti-tiroid), dan diuretika. Selain itu, pasien menjalani Continuous Hemodiafiltration (CHDF) selama 7 hari untuk mempertahankan sirkulasi darah dan mengurangi beban kerja jantung. Setelah kondisi pasien membaik dan hasil laboratorium kembali normal, ia akhirnya diperbolehkan pulang setelah menjalani perawatan selama 74 hari di rumah sakit. Studi kasus ini dikutip dari jurnal Severe Hypoglycemia Accompanied with Thyroid Crisis (Nakatani et al., 2019). 3.4 Pengkajian A. Identitas Klien Nama Pasien : - Usia : 32 tahun Jenis Kelamin : Perempuan Tempat Perawatan : Dirawat di (ICU) rumah sakit di Jepang Diagnosis : Krisis tiroid (thyroid storm) dengan hipoglikemia berat dan gagal jantung kongestif B. Keluhan Utama Pasien datang dengan sesak napas, kelelahan berat, serta pembengkakan pada kaki. C. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien awalnya mengalami kelelahan, sesak napas progresif, dan edema ekstremitas bawah yang semakin memburuk. Saat masuk rumah sakit, pasien mengalami krisis tiroid yang ditandai dengan hipertiroidisme berat, gagal jantung kongestif, serta hipoglikemia berat (glukosa darah 7 mg/dL). Pada malam pertama perawatan, pasien mengalami henti jantung mendadak, tetapi berhasil diselamatkan melalui resusitasi. D. Riwayat konsumsi obat: Pasien tidak memiliki riwayat pengobatan hipertiroidisme sebelumnya karena tidak pernah didiagnosis hipertiroidisme sebelum masuk rumah sakit. E. Pemeriksaan Fisik • Kesadaran: Tidak stabil, mengalami kehilangan kesadaran pada malam pertama perawatan • Tekanan darah: Tidak disebutkan secara spesifik, tetapi mengalami gangguan sirkulasi. Tidak stabil, kemungkinan rendah (hipotensi) akibat gagal jantung dan hipoglikemia • Denyut Nadi (HR): >140 bpm (takikardia berat), khas pada krisis tiroid • Laju Napas (RR): ≥24 kali/menit (takipnea), sesuai dengan keluhan sesak napas • Suhu Tubuh: ≥39°C (demam tinggi), gejala khas krisis tiroid • Glukosa Darah: 7 mg/dL (hipoglikemia berat), menyebabkan gangguan kesadaran • Pembesaran kelenjar tiroid: Ditemukan pembesaran difus pada leher, tetapi tanpa exophthalmos (mata menonjol) • Edema: Pembengkakan pada kaki akibat gagal jantung kongestif F. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan laboratorium: • FT3 >30 pg/mL (menunjukkan hipertiroidisme berat) • FT4 >6.0 ng/dL (menunjukkan hipertiroidisme berat) • TRAb 23.6 IU/L (positif, menunjukkan penyakit Graves) • Glukosa darah: 7 mg/dL (hipoglikemia berat) • Disfungsi hati akibat kongesti dari gagal jantung Elektrokardiogram (EKG): Menunjukkan tanda-tanda takikardia dan gangguan sirkulasi akibat gagal jantung Ekokardiografi: Menunjukkan gagal jantung sisi kanan yang berat G. Penatalaksanaan 1. Stabilisasi hipoglikemia • Pemberian infus glukosa intravena untuk meningkatkan kadar gula darah • Pemantauan kadar glukosa darah secara ketat 2. Manajemen krisis tiroid • Obat anti-tiroid (Methimazole) untuk menekan produksi hormon tiroid • Beta-blocker (Propranolol) untuk mengontrol takikardia • Kortikosteroid (Hidrokortison) untuk mengurangi peradangan dan mencegah insufisiensi adrenal • Pemberian yodium untuk menghambat pelepasan hormon tiroid lebih lanjut 3. Penanganan gagal jantung • Diuretik untuk mengurangi retensi cairan akibat gagal jantung • Continuous Hemodiafiltration (CHDF) selama 7 hari untuk mendukung fungsi ginjal dan sirkulasi darah 4. Dukungan Perawatan Intensif (ICU) • Resusitasi cairan untuk menjaga tekanan darah dan keseimbangan elektrolit • Ventilasi dan dukungan pernapasan untuk memastikan oksigenasi yang cukup • Pengawasan ketat terhadap fungsi organ vital
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan SDKI, luaran/output yang diharapkan setelah asuhan keperawatan (SLKI), serta intervensi keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan luaran (SIKI) yang sesuai untuk kondisi pasien ini.
Diagnosa Keperawatan SDKI:
1. Ketidakstabilan Tanda-Tanda Vital
- Definisi: Adanya perubahan tanda-tanda vital di luar rentang normal yang dapat mengancam kesehatan.
- Faktor yang Berhubungan: Krisis tiroid, gagal jantung kongestif, hipoglikemia berat.
2. Perfusi Jaringan Terganggu
- Definisi: Penurunan sirkulasi darah ke jaringan yang dapat mengancam kesehatan.
- Faktor yang Berhubungan: Gagal jantung kongestif, hipoglikemia berat.
3. Risiko Ketidakstabilan Metabolik
- Definisi: Kerentanan mengalami gangguan keseimbangan metabolik.
- Faktor Risiko: Krisis tiroid, hipoglikemia berat.
4. Risiko Gangguan Keseimbangan Cairan
- Definisi: Kerentanan mengalami kelebihan atau kekurangan cairan.
- Faktor Risiko: Gagal jantung kongestif, krisis tiroid.
Luaran/Output yang Diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Stabilitas Tanda-Tanda Vital
- Kriteria Hasil: Tanda-tanda vital pasien stabil sesuai dengan rentang normal.
2. Perfusi Jaringan Adekuat
- Kriteria Hasil: Pasien menunjukkan tanda-tanda perfusi jaringan yang adekuat, seperti membran mukosa yang lembab, ekstremitas hangat, dan urine output yang memadai.
3. Keseimbangan Metabolik
- Kriteria Hasil: Pasien menunjukkan kadar glukosa darah, hormon tiroid, dan fungsi organ yang stabil dalam rentang normal.
4. Keseimbangan Cairan
- Kriteria Hasil: Pasien menunjukkan intake dan output cairan yang seimbang, tidak terdapat tanda-tanda kelebihan atau kekurangan cairan.
Intervensi Keperawatan yang Diperlukan untuk Mencapai Tujuan Luaran (SIKI):
1. Pemantauan Tanda-Tanda Vital
- Pemantauan tanda-tanda vital secara berkala (tekanan darah, denyut nadi, laju napas, suhu tubuh).
- Identifikasi perubahan tanda-tanda vital yang dapat mengancam kesehatan.
- Kolaborasi dengan tim medis untuk manajemen tanda-tanda vital yang tidak stabil.
2. Manajemen Perfusi Jaringan
- Pemantauan tanda-tanda perfusi jaringan (warna kulit, suhu, turgor, refill kapiler).
- Pemberian dukungan oksigen dan ventilasi yang adekuat.
- Kolaborasi dengan tim medis untuk manajemen gagal jantung kongestif dan hipoglikemia.
3. Manajemen Metabolisme
- Pemantauan kadar glukosa darah secara berkala.
- Pemberian infus glukosa intravena untuk mengatasi hipoglikemia.
- Kolaborasi dengan tim medis untuk manajemen krisis tiroid (pemberian obat anti-tiroid, kortikosteroid, yodium).
4. Manajemen Keseimbangan Cairan
- Pemantauan intake dan output cairan secara ketat.
- Pemberian diuretik untuk mengatasi retensi cairan akibat gagal jantung kongestif.
- Kolaborasi dengan tim medis untuk manajemen cairan, elektrolit, dan fungsi ginjal.
Dalam memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif, perawat harus mempertimbangkan berbagai faktor yang saling terkait, seperti krisis tiroid, hipoglikemia berat, dan gagal jantung kongestif. Pemantauan yang ketat, intervensi yang tepat, serta kolaborasi yang erat dengan tim medis sangat diperlukan untuk mencapai stabilitas kondisi pasien dan memulihkan keseimbangan metabolik serta perfusi jaringan yang adekuat. -
Article No. 13572 | 09 Mar 2025
Klinis : Seorang wanita Jepang berusia 32 tahun yang mengalami hipoglikemia berat (7 mg/dL) yang disertai dengan krisis tiroid. Pasien datang ke rumah sakit dengan keluhan sesak napas, kelelahan umum, dan edema (pembengkakan) pada kaki. Sebelumnya, pasien tidak memiliki riwayat hipertiroidisme dan tidak ada riwayat penyakit tiroid dalam keluarga. Pada saat masuk rumah sakit, pemeriksaan menunjukkan bahwa pasien mengalami hipertiroidisme berat, dengan kadar FT3 >30 pg/mL, FT4 >6.0 ng/dL, dan TRAb 23.6 IU/L. Pemeriksaan fisik menunjukkan pembesaran difus kelenjar tiroid, tetapi tidak ditemukan exophthalmos (mata menonjol). Selain itu, pasien mengalami gagal jantung kongestif parah, yang diklasifikasikan sebagai kelas IV menurut New York Heart Association (NYHA). Pada malam pertama di rumah sakit, pasien tiba-tiba kehilangan kesadaran dan mengalami henti jantung. Tindakan resusitasi dilakukan, dan pasien berhasil diselamatkan. Pemeriksaan laboratorium setelah kejadian ini menunjukkan hipoglikemia berat (glukosa darah hanya 7 mg/dL), gagal jantung sisi kanan yang parah, serta disfungsi hati akibat kongesti hati. Kondisi pasien dikategorikan sebagai multiple organ failure akibat krisis tiroid, yang membutuhkan penanganan intensif di unit perawatan intensif (ICU). Penanganan yang diberikan meliputi infus glukosa intravena, hidrokortison, methimazole (obat anti-tiroid), dan diuretika. Selain itu, pasien menjalani Continuous Hemodiafiltration (CHDF) selama 7 hari untuk mempertahankan sirkulasi darah dan mengurangi beban kerja jantung. Setelah kondisi pasien membaik dan hasil laboratorium kembali normal, ia akhirnya diperbolehkan pulang setelah menjalani perawatan selama 74 hari di rumah sakit. Studi kasus ini dikutip dari jurnal Severe Hypoglycemia Accompanied with Thyroid Crisis (Nakatani et al., 2019). 3.4 Pengkajian A. Identitas Klien Nama Pasien : - Usia : 32 tahun Jenis Kelamin : Perempuan Tempat Perawatan : Dirawat di (ICU) rumah sakit di Jepang Diagnosis : Krisis tiroid (thyroid storm) dengan hipoglikemia berat dan gagal jantung kongestif B. Keluhan Utama Pasien datang dengan sesak napas, kelelahan berat, serta pembengkakan pada kaki. C. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien awalnya mengalami kelelahan, sesak napas progresif, dan edema ekstremitas bawah yang semakin memburuk. Saat masuk rumah sakit, pasien mengalami krisis tiroid yang ditandai dengan hipertiroidisme berat, gagal jantung kongestif, serta hipoglikemia berat (glukosa darah 7 mg/dL). Pada malam pertama perawatan, pasien mengalami henti jantung mendadak, tetapi berhasil diselamatkan melalui resusitasi. D. Riwayat konsumsi obat: Pasien tidak memiliki riwayat pengobatan hipertiroidisme sebelumnya karena tidak pernah didiagnosis hipertiroidisme sebelum masuk rumah sakit. E. Pemeriksaan Fisik • Kesadaran: Tidak stabil, mengalami kehilangan kesadaran pada malam pertama perawatan • Tekanan darah: Tidak disebutkan secara spesifik, tetapi mengalami gangguan sirkulasi. Tidak stabil, kemungkinan rendah (hipotensi) akibat gagal jantung dan hipoglikemia • Denyut Nadi (HR): >140 bpm (takikardia berat), khas pada krisis tiroid • Laju Napas (RR): ≥24 kali/menit (takipnea), sesuai dengan keluhan sesak napas • Suhu Tubuh: ≥39°C (demam tinggi), gejala khas krisis tiroid • Glukosa Darah: 7 mg/dL (hipoglikemia berat), menyebabkan gangguan kesadaran • Pembesaran kelenjar tiroid: Ditemukan pembesaran difus pada leher, tetapi tanpa exophthalmos (mata menonjol) • Edema: Pembengkakan pada kaki akibat gagal jantung kongestif F. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan laboratorium: • FT3 >30 pg/mL (menunjukkan hipertiroidisme berat) • FT4 >6.0 ng/dL (menunjukkan hipertiroidisme berat) • TRAb 23.6 IU/L (positif, menunjukkan penyakit Graves) • Glukosa darah: 7 mg/dL (hipoglikemia berat) • Disfungsi hati akibat kongesti dari gagal jantung Elektrokardiogram (EKG): Menunjukkan tanda-tanda takikardia dan gangguan sirkulasi akibat gagal jantung Ekokardiografi: Menunjukkan gagal jantung sisi kanan yang berat G. Penatalaksanaan 1. Stabilisasi hipoglikemia • Pemberian infus glukosa intravena untuk meningkatkan kadar gula darah • Pemantauan kadar glukosa darah secara ketat 2. Manajemen krisis tiroid • Obat anti-tiroid (Methimazole) untuk menekan produksi hormon tiroid • Beta-blocker (Propranolol) untuk mengontrol takikardia • Kortikosteroid (Hidrokortison) untuk mengurangi peradangan dan mencegah insufisiensi adrenal • Pemberian yodium untuk menghambat pelepasan hormon tiroid lebih lanjut 3. Penanganan gagal jantung • Diuretik untuk mengurangi retensi cairan akibat gagal jantung • Continuous Hemodiafiltration (CHDF) selama 7 hari untuk mendukung fungsi ginjal dan sirkulasi darah 4. Dukungan Perawatan Intensif (ICU) • Resusitasi cairan untuk menjaga tekanan darah dan keseimbangan elektrolit • Ventilasi dan dukungan pernapasan untuk memastikan oksigenasi yang cukup • Pengawasan ketat terhadap fungsi organ vital
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat berdasarkan SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi yang dijelaskan:
Diagnosa Keperawatan:
1. Hipertermia berhubungan dengan peningkatan metabolisme pada krisis tiroid
2. Gangguan regulasi suhu berhubungan dengan disfungsi kelenjar tiroid
3. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan gagal jantung kongestif dan hipoglikemia
4. Gangguan pola napas berhubungan dengan edema paru dan gagal jantung
5. Resiko ketidakefektifan perfusi serebral berhubungan dengan hipoglikemia dan henti jantung
Penjelasan Singkat:
1. Hipertermia berhubungan dengan peningkatan metabolisme pada krisis tiroid
- Peningkatan suhu tubuh (≥39°C) sebagai akibat dari hipermetabolisme pada kondisi krisis tiroid.
- Perlu dilakukan pemantauan suhu tubuh secara ketat dan manajemen untuk menurunkan suhu.
2. Gangguan regulasi suhu berhubungan dengan disfungsi kelenjar tiroid
- Disfungsi kelenjar tiroid dapat menyebabkan gangguan dalam mengatur suhu tubuh, baik hipertermia maupun hipotermia.
- Dibutuhkan upaya untuk menstabilkan suhu tubuh pasien dengan pengaturan lingkungan dan pemberian obat-obatan.
3. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan gagal jantung kongestif dan hipoglikemia
- Penurunan kemampuan jantung untuk memompa darah (gagal jantung) serta kadar glukosa darah yang sangat rendah (hipoglikemia) dapat menyebabkan gangguan perfusi ke seluruh jaringan tubuh.
- Perlu dilakukan intervensi untuk memperbaiki fungsi jantung dan mempertahankan kadar glukosa darah yang normal.
4. Gangguan pola napas berhubungan dengan edema paru dan gagal jantung
- Gagal jantung kongestif dapat menyebabkan edema paru, sehingga mengganggu pola pernapasan pasien (sesak napas).
- Intervensi keperawatan diperlukan untuk mempertahankan oksigenasi yang adekuat, misalnya dengan bantuan oksigen dan ventilasi.
5. Resiko ketidakefektifan perfusi serebral berhubungan dengan hipoglikemia dan henti jantung
- Kadar glukosa darah yang sangat rendah (hipoglikemia) serta henti jantung yang pernah terjadi dapat berisiko menyebabkan gangguan aliran darah dan oksigenasi ke otak.
- Tindakan segera untuk mengatasi hipoglikemia dan menstabilkan sirkulasi sangat penting untuk mencegah kerusakan otak lebih lanjut.