Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 13768 | 11 Mar 2025
Klinis : Tn R usia 52 tahun datang ke rumah sakit dengan keluhan utama perut membesar sejak 3 bulan terakhir. Pasien juga mengeluhkan mual, muntah, penurunan nafsu makan, gatal pada kulit serta mudah lelah. Keluarga pasien mengatakan bahwa pasien sering mengeluhkan nyeri perut kanan atas dan mengalami pembengkakan pada kedua tungkai sejak satu bulan terakhir. Pasien memiliki riwayat konsumsi alkohol sejak 20 tahun lalu, dengan rata-rata konsumsi 2-3 botol bir per hari. Selain itu, pasien pernah didiagnosis hepatitis B 10 tahun yang lalu tetapi tidak menjalani pengobatan secara teratur. Hasil pemeriksaan fisik ditemukan kesadaran: Compos mentis, TD: 100/70 mmHg, N: 92x/menit, RR: 22x/menit, Suhu: 37,5°C, Terdapat spider angioma di dada dan tangan, Sklera ikterik, asites, Tungkai edema (+2), Hati dan limpa teraba membesar dengan konsistensi keras. Pemeriksaan Penunjang: Laboratorium: Hb: 10 g/dL Leukosit: 9.500/mm³ Trombosit: 80.000/mm³ SGOT: 95 U/L SGPT: 72 U/L Albumin: 2,8 g/dL Bilirubin total: 4,2 mg/dL Bilirubin direct: 2,5 mg/dL INR ((International Normalized Ratio)) : 1,8 USG Abdomen: Hati tampak mengecil dengan permukaan tidak rata Terdapat cairan asites dalam jumlah sedang Splenomegali (+) Endoskopi: Varises esofagus derajat II
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan SDKI yang Sesuai:
1. Intoleransi Aktivitas berhubungan dengan penurunan kemampuan fisik akibat penyakit hati kronis.
2. Gangguan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh berhubungan dengan anoreksia, mual, dan muntah.
3. Nyeri akut berhubungan dengan pembengkakan hati dan limpa.
4. Risiko Perdarahan berhubungan dengan gangguan fungsi hati.
5. Risiko Infeksi berhubungan dengan penurunan sistem imun.
Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI):
1. Intoleransi Aktivitas:
- Pasien dapat mendemonstrasikan peningkatan toleransi aktivitas.
- Pasien dapat mengidentifikasi aktivitas yang dapat dilakukan tanpa kelelahan berlebih.
- Pasien dapat mengelola kelelahan saat melakukan aktivitas.
2. Gangguan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh:
- Pasien dapat mempertahankan berat badan sesuai kebutuhan.
- Pasien dapat mengonsumsi makanan yang sesuai dengan kondisinya.
- Pasien dapat meningkatkan nafsu makan.
3. Nyeri Akut:
- Pasien dapat melaporkan berkurangnya nyeri perut.
- Pasien dapat mengenali faktor-faktor yang memperberat atau meringankan nyeri.
- Pasien dapat menerapkan manajemen nyeri yang efektif.
4. Risiko Perdarahan:
- Pasien tidak mengalami episode perdarahan.
- Pasien dapat mengenali tanda-tanda perdarahan.
- Pasien dapat melakukan tindakan pencegahan perdarahan.
5. Risiko Infeksi:
- Pasien tidak mengalami tanda-tanda infeksi.
- Pasien dapat mengenali tanda-tanda infeksi.
- Pasien dapat melakukan tindakan pencegahan infeksi.
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Intoleransi Aktivitas:
- Kaji tingkat toleransi aktivitas pasien.
- Bantu pasien merencanakan aktivitas sesuai dengan kemampuannya.
- Ajarkan teknik-teknik konservasi energi.
- Kolaborasi dengan fisioterapis untuk Program Latihan Aktivitas.
2. Gangguan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh:
- Kaji status nutrisi pasien.
- Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menyusun rencana diet yang sesuai.
- Berikan dukungan nutrisi sesuai kebutuhan.
- Pantau asupan dan output cairan pasien.
3. Nyeri Akut:
- Kaji intensitas, lokasi, karakteristik, dan faktor-faktor yang memengaruhi nyeri.
- Berikan analgesik sesuai kebutuhan.
- Ajarkan pasien teknik non-farmakologi untuk mengurangi nyeri.
- Kolaborasi dengan dokter untuk mengatasi penyebab nyeri.
4. Risiko Perdarahan:
- Kaji tanda-tanda perdarahan.
- Pantau hasil pemeriksaan laboratorium (INR, trombosit).
- Berikan edukasi tentang pencegahan perdarahan.
- Kolaborasi dengan dokter untuk penanganan medis yang diperlukan.
5. Risiko Infeksi:
- Kaji tanda-tanda infeksi.
- Pantau hasil pemeriksaan laboratorium (leukosit).
- Berikan tindakan pencegahan infeksi (cuci tangan, teknik aseptik).
- Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antibiotik jika diperlukan.
Dalam memberikan asuhan keperawatan, perawat harus memperhatikan kondisi pasien secara holistik, melakukan pengkajian yang komprehensif, dan berkolaborasi dengan tim kesehatan lainnya untuk mencapai luaran yang diharapkan. -
Article No. 13769 | 11 Mar 2025
Klinis : pasien mengeluh sulit tidur dan serin terjaga karena sesak napas
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan: Gangguan Pola Tidur Berhubungan dengan Sesak Napas
Penjelasan:
1. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Definisi: Ketidakmampuan untuk mempertahankan durasi dan kualitas tidur yang dibutuhkan.
- Karakteristik Utama: Sulit memulai tidur, terbangun berulang kali, merasa tidak beristirahat saat bangun.
- Faktor yang Berhubungan: Sesak napas, nyeri, kecemasan, lingkungan yang tidak kondusif.
2. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Luaran yang diharapkan: Pasien dapat mempertahankan pola tidur yang adekuat.
- Kriteria Hasil: Pasien tidur selama 7-9 jam per malam, merasa segar saat bangun, tidak merasa lelah saat beraktivitas.
3. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Intervensi Keperawatan:
a. Manajemen Lingkungan: Menciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman untuk tidur.
b. Manajemen Nyeri/Sesak Napas: Mengelola gejala sesak napas untuk meningkatkan kualitas tidur.
c. Edukasi: Memberikan edukasi tentang strategi untuk meningkatkan kualitas tidur.
d. Terapi Relaksasi: Mengajarkan teknik relaksasi untuk membantu pasien tidur.
Dalam konteks kasus ini, perawat perlu fokus pada manajemen sesak napas pasien serta intervensi lain yang dapat membantu meningkatkan kualitas tidur, sehingga pasien dapat mempertahankan pola tidur yang adekuat. -
Article No. 13770 | 11 Mar 2025
Klinis : gangguan pola tidur
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan:
Gangguan Pola Tidur
Berdasarkan Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia (SDKI), Gangguan Pola Tidur didefinisikan sebagai "Ketidakpuasan terhadap kuantitas atau kualitas tidur, yang mengganggu fungsi sehari-hari".
Penjelasan Singkat:
SDKI - SLKI - SIKI Standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
1. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI):
- SDKI menyediakan definisi, karakteristik, faktor yang berhubungan, dan faktor yang berhubungan sebab akibat untuk Gangguan Pola Tidur.
- Ini membantu perawat dalam mengidentifikasi dan menegakkan diagnosis keperawatan yang akurat.
2. Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI):
- SLKI menyediakan luaran/hasil yang diharapkan dari asuhan keperawatan untuk Gangguan Pola Tidur, seperti Kualitas Tidur Membaik, Konsentrasi Meningkat, dan Rasa Terpuaskan dengan Pola Tidur.
- Ini membantu perawat dalam merencanakan dan mengevaluasi intervensi keperawatan yang efektif.
3. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI):
- SIKI menyediakan intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi Gangguan Pola Tidur, seperti Manajemen Tidur, Relaksasi, dan Edukasi Kesehatan.
- Ini memandu perawat dalam memilih dan melaksanakan intervensi yang tepat untuk membantu pasien mencapai luaran yang diharapkan.
Dengan mengacu pada SDKI, SLKI, dan SIKI, perawat dapat memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif, terstandarisasi, dan berpusat pada pasien untuk mengatasi Gangguan Pola Tidur. -
Article No. 13771 | 11 Mar 2025
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan informasi yang diberikan, diagnosis awal untuk pasien pria berusia 45 tahun dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan, serta hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas dan lesi di paru, adalah tuberkulosis paru. Berikut kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur/tindakan medis:
1. Kode ICD-10:
- Kode: A15.0
- Deskripsi: Tuberkulosis paru dengan pemeriksaan mikrobiologis atau histologis positif
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 33.26
- Deskripsi: Biopsioperkutan atau jarum pada paru, atau aspirasi perkutan jarum paru
Dalam kasus ini, tindakan medis yang mungkin dilakukan adalah biopsi atau aspirasi jarum pada paru untuk memastikan diagnosis dan menentukan rencana perawatan yang sesuai. Pemeriksaan mikrobiologis atau histologis direkomendasikan untuk mengkonfirmasi diagnosis tuberkulosis paru. -
Article No. 13772 | 11 Mar 2025
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci untuk setiap poin yang Anda minta.
1. Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai:
Berdasarkan kondisi pasien yang disajikan, yaitu pria usia 45 tahun dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan, serta hasil pemeriksaan yang menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas dan lesi di paru dengan diagnosis awal tuberkulosis paru, maka diagnosa keperawatan SDKI yang sesuai adalah:
a. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Definisi: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang paten.
Penyebab: Peningkatan produksi sekret, tenaga inspirasi dan ekspirasi yang tidak efektif, serta kelemahan batuk.
b. Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas
Definisi: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang paten.
Penyebab: Peningkatan produksi sekret, tenaga inspirasi dan ekspirasi yang tidak efektif, serta kelemahan batuk.
c. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif Sekunder Akibat Tuberkulosis Paru
Definisi: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang paten sebagai akibat dari infeksi tuberkulosis paru.
Penyebab: Peningkatan produksi sekret, tenaga inspirasi dan ekspirasi yang tidak efektif, serta kelemahan batuk akibat infeksi tuberkulosis paru.
2. Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
a. Bersihan Jalan Napas
- Pasien dapat batuk efektif untuk membersihkan jalan napas.
- Pasien dapat mengeluarkan sekret dengan mudah.
- Pasien dapat bernapas dengan irama dan kedalaman normal.
- Tidak ada tanda-tanda obstruksi jalan napas.
b. Status Pernapasan
- Pasien menunjukkan pola pernapasan yang normal.
- Pasien tidak mengalami sesak napas.
- Pasien tidak mengalami retraksi otot pernapasan.
- Pasien memiliki oksigenasi yang adekuat.
c. Kontrol Infeksi
- Pasien tidak memiliki tanda-tanda infeksi.
- Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan perbaikan.
- Pasien tidak mengalami demam.
3. Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
a. Manajemen Jalan Napas
- Lakukan penyedotan jalan napas jika diperlukan.
- Ajarkan teknik batuk efektif.
- Berikan terapi inhalasi bronkodilator dan ekspektoran.
- Posisikan pasien untuk memudahkan drainase sekret.
b. Manajemen Pernapasan
- Pantau frekuensi, kedalaman, dan irama pernapasan.
- Berikan oksigen sesuai kebutuhan.
- Ajarkan teknik pernapasan dalam dan latihan pernapasan.
- Kolaborasi pemberian bronkodilator dan kortikosteroid jika diindikasikan.
c. Manajemen Infeksi
- Pantau tanda-tanda infeksi.
- Kolaborasi pemberian terapi antibiotik sesuai indikasi.
- Edukasi pasien dan keluarga mengenai pengobatan dan pencegahan infeksi.
- Anjurkan pasien untuk istirahat yang cukup.
Keseluruhan intervensi keperawatan ini bertujuan untuk membantu pasien mencapai luaran yang diharapkan, yaitu mempertahankan bersihan jalan napas yang efektif, mempertahankan status pernapasan yang adekuat, serta mencegah dan mengendalikan infeksi yang terjadi. -
Article No. 13773 | 11 Mar 2025
Klinis : Pasien wanita, usia 60 tahun, mengalami nyeri dada yang hebat, menjalar ke lengan kiri, disertai dengan sesak napas, mual, dan keringat dingin. EKG menunjukkan infark miokard akut. Pasien memiliki riwayat hipertensi dan diabetes melitus tipe 2.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan informasi yang diberikan, diagnosis untuk pasien adalah:
1. Kode ICD-10:
- Kode: I21.0
- Deskripsi: Infark miokard akut transmural dinding anterior
Penjelasan:
Pasien mengalami gejala yang khas untuk infark miokard akut, dengan nyeri dada yang hebat, menjalar ke lengan kiri, disertai sesak napas, mual, dan keringat dingin. Hasil EKG menunjukkan adanya infark miokard akut. Pasien juga memiliki riwayat hipertensi dan diabetes melitus tipe 2, yang merupakan faktor risiko untuk penyakit jantung koroner.
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 99.10
- Deskripsi: Pemberian obat trombolitik
Penjelasan:
Dalam penanganan infark miokard akut, pemberian obat trombolitik (seperti streptokinase atau alteplase) dapat dilakukan untuk mengobstruksi trombus dan memulihkan aliran darah ke miokard yang terkena infark. Prosedur ini dapat disertakan dalam perawatan pasien.
Manajemen pasien ini juga akan mencakup pengobatan lainnya, seperti pemberian antiplatelet, antikoagulan, dan tindakan revaskularisasi (bila indikasi). Selain itu, pengontrolan faktor risiko seperti hipertensi dan diabetes melitus juga merupakan hal penting dalam penatalaksanaan pasien. -
Article No. 13774 | 11 Mar 2025
Klinis : Hiperglikemia
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, sebagai perawat profesional, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat mengenai SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) untuk kondisi hiperglikemia.
Diagnosa Keperawatan:
Intoleransi Aktivitas berhubungan dengan intoleransi tubuh terhadap glukosa
Penjelasan singkat:
1. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Diagnosis Keperawatan: Intoleransi Aktivitas
- Definisi: Keterbatasan yang dapat diantisipasi dalam toleransi terhadap aktivitas fisik.
- Karakteristik Mayor: Kelelahan, napas pendek saat aktivitas, takikardia, dan pusing.
2. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Luaran Keperawatan: Peningkatan Toleransi Aktivitas
- Definisi: Kemampuan untuk melakukan aktivitas fisik tanpa mengalami kelelahan yang berlebihan.
- Kriteria Hasil: Mampu melakukan aktivitas sehari-hari tanpa disertai kelelahan yang berlebihan, frekuensi nadi dan respirasi berada dalam batas normal.
3. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Intervensi Keperawatan: Manajemen Energi
- Definisi: Tindakan membantu klien untuk mengatur penggunaan energi sehingga dapat melakukan aktivitas tanpa kelelahan yang berlebihan.
- Aktivitas Keperawatan: Mengidentifikasi tingkat aktivitas yang dapat ditoleransi klien, mengajarkan teknik pengaturan aktivitas, dan memantau tanda-tanda vital selama aktivitas.
Dalam pengelolaan hiperglikemia, intervensi keperawatan yang ditujukan adalah untuk membantu klien dalam mengatasi intoleransi aktivitas yang dapat terjadi akibat peningkatan kadar glukosa darah. Perawat berperan dalam mengidentifikasi, mengajarkan, dan memantau aktivitas klien agar dapat meningkatkan toleransi aktivitas dan mencegah kelelahan yang berlebihan. -
Article No. 13775 | 11 Mar 2025
Klinis : Diabetes Melitus
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat mengenai standar SDKI - SLKI - SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi Diabetes Melitus, dengan nada akademis dan persona sebagai pakar perawat.
Diagnosa Keperawatan:
1. Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Penjelasan: Terkait dengan ketidakmampuan tubuh untuk mengatur kadar gula darah yang menyebabkan masalah dalam metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein.
2. Kerusakan Integritas Kulit
Penjelasan: Dapat terjadi karena komplikasi diabetes seperti luka, borok, atau infeksi yang sulit sembuh.
3. Risiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah
Penjelasan: Terkait dengan ketidakstabilan metabolisme karbohidrat yang dapat menyebabkan fluktuasi kadar gula darah.
4. Risiko Komplikasi
Penjelasan: Diabetes Melitus dapat menyebabkan berbagai komplikasi seperti penyakit kardiovaskular, neuropati, nefropati, retinopati, dan lain-lain.
Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI):
SDKI merupakan standar yang digunakan untuk menetapkan diagnosis keperawatan berdasarkan pola respons manusia. Dalam kasus Diabetes Melitus, SDKI dapat digunakan untuk mengidentifikasi diagnosis keperawatan yang sesuai dengan kondisi pasien.
Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI):
SLKI adalah standar yang digunakan untuk menetapkan luaran atau hasil yang diharapkan dari intervensi keperawatan. Dalam kasus Diabetes Melitus, SLKI dapat digunakan untuk menentukan luaran yang diharapkan, seperti stabilnya kadar glukosa darah, perbaikan integritas kulit, dan pencegahan komplikasi.
Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI):
SIKI adalah standar yang digunakan untuk menetapkan intervensi keperawatan yang dilakukan untuk mencapai luaran yang diharapkan. Dalam kasus Diabetes Melitus, SIKI dapat digunakan untuk menentukan intervensi yang sesuai, seperti manajemen diet, pemantauan kadar glukosa, perawatan kulit, dan edukasi terkait pengelolaan diabetes.
Penggunaan standar SDKI, SLKI, dan SIKI dalam asuhan keperawatan pada pasien dengan Diabetes Melitus dapat membantu perawat dalam memberikan perawatan yang terstandar dan sistematis, sehingga dapat meningkatkan kualitas asuhan keperawatan dan mencapai hasil yang optimal bagi pasien. -
Article No. 13776 | 11 Mar 2025
Klinis : Keluhan lain: Nafsu makan menurun, sering bersendawa, feses tampak berwarna pucat, urin berwarna gelap seperti teh, tidak ada riwayat BAB berdarah atau muntah darah. Pasien juga mengalami sulit tidur kerena nyeri yang dirasakan.Riwayat Penyakit Dahulu: Diabetes Mellitus tipe 2 sejak 5 tahun lalu. Riwayat Penyakit Keluarga: Ibu pasien memiliki riwayat kolelitiasis.
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, terima kasih atas informasi yang Anda berikan. Berikut adalah analisis kasus dan rencana asuhan keperawatan yang sesuai:
Diagnosa Keperawatan SDKI:
1. Nyeri akut berhubungan dengan proses penyakit gastrointestinal yang ditandai dengan keluhan nyeri yang dirasakan pasien.
2. Ketidakseimbangan nutrisi: Kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan penurunan nafsu makan dan penyerapan nutrisi yang tidak optimal.
3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik yang dialami pasien akibat proses penyakit.
4. Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri yang dirasakan pasien.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Nyeri Akut:
- Pasien dapat mengontrol nyeri dengan skor nyeri ≤ 3 dari skala 0-10.
- Pasien dapat mengenali dan menyebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi nyeri.
- Pasien dapat mendemonstrasikan teknik meredakan nyeri secara mandiri.
2. Keseimbangan Nutrisi:
- Berat badan pasien stabil atau meningkat sesuai kebutuhan.
- Pasien dapat mempertahankan asupan makanan dan cairan yang adekuat.
- Pasien dapat mengidentifikasi makanan yang dapat ditoleransi dengan baik.
3. Toleransi Aktivitas:
- Pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan bantuan minimal.
- Pasien dapat mendemonstrasikan teknik konservasi energi saat beraktivitas.
- Pasien dapat meningkatkan toleransi aktivitas secara bertahap.
4. Pola Tidur:
- Pasien dapat tidur selama 6-8 jam dalam sehari tanpa terbangun karena nyeri.
- Pasien dapat mengenali dan menyebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas tidur.
- Pasien dapat mendemonstrasikan teknik relaksasi untuk meningkatkan kualitas tidur.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Nyeri Akut:
- Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif.
- Berikan analgesik sesuai anjuran medis.
- Ajarkan teknik manajemen nyeri non-farmakologis (relaksasi, kompres hangat/dingin, distraksi, dll).
- Kolaborasi dengan tim medis untuk mengatasi penyebab nyeri.
2. Keseimbangan Nutrisi:
- Kaji kebiasaan makan dan hambatan dalam memenuhi kebutuhan nutrisi.
- Berikan makanan dan suplemen sesuai kebutuhan nutrisi pasien.
- Ajarkan pasien mengenai diet yang dapat ditoleransi dengan baik.
- Kolaborasi dengan ahli gizi untuk merencanakan dan mengevaluasi asupan nutrisi pasien.
3. Toleransi Aktivitas:
- Kaji kemampuan dan keterbatasan pasien dalam melakukan aktivitas.
- Berikan perawatan yang mempromosikan aktivitas secara bertahap.
- Ajarkan teknik konservasi energi dan manajemen aktivitas.
- Kolaborasi dengan fisioterapis untuk rehabilitasi dan peningkatan toleransi aktivitas.
4. Pola Tidur:
- Kaji faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas tidur pasien.
- Berikan intervensi non-farmakologis untuk meningkatkan kualitas tidur (relaksasi, lingkungan yang nyaman, dll).
- Ajarkan teknik relaksasi dan manajemen stres.
- Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian obat tidur jika diperlukan.
Dalam memberikan asuhan keperawatan, perawat harus mempertimbangkan kondisi klinis pasien secara menyeluruh, termasuk riwayat penyakit dan kondisi keluarga. Perawat juga harus berkolaborasi dengan tim kesehatan lainnya untuk memastikan perawatan yang komprehensif dan optimal bagi pasien. -
Article No. 13777 | 11 Mar 2025
Klinis : urin berwarna gelap seperti teh, tidak ada riwayat BAB berdarah atau muntah darah.Riwayat Penyakit Dahulu: Diabetes Mellitus tipe 2 sejak 5 tahun lalu. Riwayat Penyakit Keluarga: Ibu pasien memiliki riwayat kolelitiasis.
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai:
Berdasarkan kondisi yang dipaparkan, yaitu urin berwarna gelap seperti teh, tidak ada riwayat BAB berdarah atau muntah darah, riwayat Diabetes Mellitus tipe 2 selama 5 tahun, serta riwayat kolelitiasis pada keluarga, maka diagnosa keperawatan yang sesuai adalah:
1. Perubahan Eliminasi Urin (00016)
Definisi: Perubahan dalam jumlah, frekuensi, karakteristik, atau kemampuan untuk berkemih yang dianggap tidak normal.
Karakteristik Definisi:
- Perubahan warna urin
- Perubahan frekuensi berkemih
- Rasa tidak nyaman atau nyeri saat berkemih
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Eliminasi Urin (0503)
- Indikator:
- Warna urin kembali normal
- Frekuensi berkemih kembali normal
- Tidak ada rasa tidak nyaman atau nyeri saat berkemih
- Target Hasil:
- Pasien dapat mengontrol eliminasi urin dengan baik.
- Pasien dapat melaporkan perubahan warna, frekuensi, dan sensasi saat berkemih.
- Pasien dapat mempertahankan pola eliminasi urin yang normal.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Manajemen Eliminasi (3550)
- Kaji karakteristik eliminasi urin, seperti warna, volume, frekuensi, dan sensasi saat berkemih.
- Monitor intake dan output cairan.
- Identifikasi faktor-faktor yang dapat memengaruhi eliminasi urin, seperti riwayat penyakit, efek obat, dan asupan cairan.
- Ajarkan pasien dan keluarga tentang pentingnya hidrasi yang adekuat untuk mempertahankan eliminasi urin yang normal.
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain, seperti dokter, untuk menentukan intervensi yang tepat jika ditemukan perubahan eliminasi urin yang signifikan.
2. Edukasi Kesehatan (5510)
- Berikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang penyebab perubahan eliminasi urin, seperti komplikasi Diabetes Mellitus dan kolelitiasis.
- Ajarkan pasien dan keluarga tentang pentingnya pemantauan dan pelaporan segera jika terjadi perubahan eliminasi urin.
- Bantu pasien dan keluarga mengembangkan strategi untuk meningkatkan kepatuhan terhadap regimen pengobatan Diabetes Mellitus.
Penjelasan:
Diagnosa keperawatan "Perubahan Eliminasi Urin" dipilih karena kondisi pasien menunjukkan adanya perubahan warna urin yang merupakan salah satu karakteristik definisi dari diagnosa tersebut. Selain itu, riwayat penyakit Diabetes Mellitus tipe 2 dan kolelitiasis pada keluarga dapat menjadi faktor yang memengaruhi eliminasi urin.
Luaran yang diharapkan adalah pasien dapat mengontrol eliminasi urin dengan baik, melaporkan perubahan terkait eliminasi urin, dan mempertahankan pola eliminasi urin yang normal. Intervensi keperawatan yang diperlukan mencakup manajemen eliminasi untuk mengkaji, memantau, dan mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi eliminasi urin, serta edukasi kesehatan untuk meningkatkan pemahaman pasien dan keluarga tentang penyebab perubahan eliminasi urin dan pentingnya pemantauan serta kepatuhan terhadap regimen pengobatan.