Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 24177 | 21 Feb 2026
Klinis : pasien mengeluh batuk, terpasang oksigen 3 lpm nasal canule, tidak ada retraksi dada maupun cuping hidung
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: 00031
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan jalan napas yang paten.
Kode SLKI: 0401
Deskripsi : Perawat mengidentifikasi faktor risiko dan penyebab ketidakefektifan bersihan jalan napas. Perawat memantau frekuensi, kedalaman, dan pola pernapasan serta suara napas. Perawat memantau produksi dan karakteristik sputum. Perawat memposisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi (misalnya, posisi semi-Fowler atau Fowler). Perawat mengajarkan dan mendorong latihan napas dalam dan batuk efektif. Perawat memberikan hidrasi yang adekuat (sesuai toleransi). Perawat melakukan fisioterapi dada jika diindikasikan. Perawat melakukan penghisapan lendir (suction) jika diindikasikan. Perawat memantau status oksigenasi (misalnya, saturasi oksigen). Perawat memberikan terapi oksigen sesuai program. Perawat memberikan obat-obatan sesuai program (misalnya, bronkodilator, mukolitik). Perawat mengevaluasi respons pasien terhadap intervensi yang diberikan.
Kode SIKI: 0401
Deskripsi : Jalan napas pasien paten, ditandai dengan suara napas bersih, tidak ada sekret yang berlebihan, batuk efektif, dan parameter pernapasan dalam rentang normal. Pasien mampu mendemonstrasikan teknik batuk efektif dan latihan napas dalam. Pasien memahami pentingnya hidrasi dan posisi untuk memudahkan pernapasan. Saturasi oksigen pasien stabil dalam rentang target yang ditetapkan. Pasien tidak menunjukkan tanda-tanda distress pernapasan seperti sianosis, retraksi, atau penggunaan otot bantu pernapasan. Sekresi jalan napas dapat dikeluarkan dengan batuk atau suction ringan. Pasien melaporkan perasaan lebih nyaman saat bernapas. Intervensi keperawatan dan terapi medis berhasil mencapai tujuan pembersihan jalan napas yang efektif.
-
Article No. 24178 | 21 Feb 2026
Klinis : pasien mengeluh sesak, terpasang oksigen 3 lpm nasal canule, tidak ada retraksi dada maupun cuping hidung, respirasi 22 kali per menit, saturasi 94%
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan kepatenan jalan napas.
Kode SLKI: L.04001
Deskripsi : Pasien mempertahankan kepatenan jalan napas dengan kriteria hasil: 1) Bunyi napas bersih, 2) Tidak ada sianosis, 3) Tidak ada ortopnea, 4) Batuk efektif, 5) Ekspansi dada simetris, 6) Tidak ada dispnea, 7) Tidak ada sekret berlebih, 8) Saturasi oksigen dalam rentang normal, 9) Frekuensi napas dalam rentang normal, 10) Irama jantung dalam rentang normal. Berdasarkan kondisi pasien, fokus evaluasi adalah pada poin 6 (dispnea), 8 (saturasi), dan 9 (frekuensi napas). Pasien masih mengeluh sesak (dispnea) meskipun tanpa tanda fisik distress berat, frekuensi napas 22x/menit berada di batas atas normal/ringkat tachypnea ringan, dan saturasi 94% pada pemberian oksigen masih di bawah target optimal (>95%), menunjukkan bahwa jalan napas belum sepenuhnya efektif.
Kode SIKI: I.09041
Deskripsi : Manajemen jalan napas dengan tindakan: 1) Kaji status pernapasan (frekuensi, irama, kedalaman, dan usaha napas), 2) Auskultasi bunyi napas, 3) Posisikan untuk memaksimalkan ventilasi (mis., semi-Fowler/Fowler), 4) Ajarkan batuk efektif dan latihan napas dalam, 5) Kelola terapi oksigen sesuai order, 6) Lakukan fisioterapi dada jika diperlukan, 7) Pertahankan hidrasi yang adekuat, 8) Monitor saturasi oksigen dan analisis gas darah, 9) Lakukan suction jika diperlukan, 10) Kolaborasi pemberian bronkodilator atau obat lain sesuai indikasi. Pada pasien ini, tindakan prioritas meliputi pemantauan ketat status pernapasan (frekuensi, saturasi, keluhan sesak), memastikan posisi nyaman untuk bernapas (semi-Fowler), mengajarkan teknik napas dalam untuk meningkatkan efisiensi pertukaran gas, mengelola terapi oksigen 3 lpm dengan tepat dan memonitor responsnya, serta menjaga hidrasi untuk mengencerkan sekret. Tindakan kolaboratif seperti evaluasi kebutuhan medikasi bronkodilator juga perlu dipertimbangkan berdasarkan perkembangan kondisi. Penjelasan ini merujuk pada kondisi dimana pasien mengalami gangguan dalam mempertahankan kelancaran aliran udara masuk dan keluar paru-paru. Meskipun tidak menunjukkan tanda distress pernapasan berat seperti retraksi atau penggunaan otot bantu, keluhan sesak subjektif, frekuensi napas yang meningkat (22x/menit merupakan tachypnea ringan), dan saturasi oksigen yang masih 94% meski telah diberikan oksigen tambahan, merupakan indikator klinis bahwa fungsi pembersihan jalan napas atau pertukaran gas belum optimal. Faktor penyebabnya bisa beragam, mulai dari akumulasi sekret yang belum dikeluarkan secara efektif, bronkokonstriksi ringan, atau gangguan difusi di tingkat alveolus. Tujuan utama intervensi keperawatan adalah mengembalikan dan mempertahankan kepatenan jalan napas sehingga pertukaran oksigen dan karbon dioksida dapat berlangsung optimal tanpa bantuan oksigen tambahan yang berlebihan. SLKI mengarahkan perawat untuk mengevaluasi pencapaian kriteria hasil yang spesifik dan terukur, seperti saturasi normal dan tidak adanya dispnea. SIKI memberikan kerangka tindakan yang komprehensif, dimulai dari pengkajian berkelanjutan, intervensi independen seperti posisi dan latihan napas, hingga tindakan kolaboratif. Pendekatan ini bersifat holistik, tidak hanya berfokus pada penghilangan gejala (sesak) tetapi juga pada pencegahan komplikasi seperti hipoksia yang lebih berat dan infeksi. Penting untuk dicatat bahwa diagnosis ini dipilih karena meskipun parameter fisik tidak terlalu mengkhawatirkan, kombinasi keluhan subjektif pasien, kebutuhan terapi oksigen, dan saturasi yang belum ideal memenuhi definisi "tidak efektif" dalam konteks SDKI, yang menuntut intervensi keperawatan yang proaktif untuk mencegah memburuknya kondisi.
-
Article No. 24179 | 21 Feb 2026
Klinis : pasien mengeluh sesak, terpasang oksigen 3 lpm nasal canule, ada retraksi dada maupun cuping hidung, respirasi 22 kali per menit, saturasi 94%
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas
Kode SDKI: 0005
Deskripsi Singkat: Kelebihan atau kekurangan oksigenasi dan/atau eliminasi karbondioksida pada membran alveolus-kapiler.
Kode SLKI: 0401
Deskripsi : Pertukaran Gas. Kriteria hasil yang diharapkan mencakup: 1) Saturasi oksigen dalam rentang yang diharapkan; 2) Tekanan parsial gas arteri dalam rentang yang diharapkan; 3) Tidak ada tanda-tanda distress pernapasan (seperti takipnea, penggunaan otot aksesori, retraksi, napas cuping hidung); 4) Suara napas bersih/tidak ada suara tambahan; 5) Tingkat kesadaran dalam rentang yang diharapkan; 6) Kulit dan membran mukosa warna normal; 7) Keseimbangan asam-basa dalam rentang yang diharapkan.
Kode SIKI: 3310
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas. Intervensi keperawatan yang dilakukan meliputi: 1) Posisikan pasien untuk memaksimalkan pertukaran gas (misalnya, posisi semi-Fowler atau Fowler tinggi); 2) Pantau status pernapasan (laju, irama, kedalaman, dan usaha napas) termasuk observasi terhadap tanda distress seperti retraksi dan napas cuping hidung; 3) Auskultasi suara napas setiap 2-4 jam atau sesuai kebutuhan; 4) Pantau saturasi oksigen secara terus menerus atau berkala; 5) Berikan terapi oksigen sesuai program dan pantau efektivitasnya; 6) Lakukan fisioterapi dada jika diperlukan; 7) Ajarkan teknik batuk efektif dan napas dalam; 8) Lakukan suction jalan napas atas jika diperlukan; 9) Pantau status hemodinamik dan tanda vital; 10) Kolaborasi pemberian bronkodilator atau obat lain sesuai program; 11) Pantau hasil analisa gas darah; 12) Berikan dukungan psikologis dan edukasi untuk mengurangi kecemasan yang dapat memperburuk sesak.
-
Article No. 24180 | 21 Feb 2026
Klinis : keluhan nyeri saat BAK, rasa terbakar, sering BAK tetapi sedikit-sedikit, dan tidak bisa menahan BAK. Suhu 37,8 °C, nyeri suprapubik, tidak ada nyeri pinggang. Urin keruh dan berbau menyengat. Pasien mengaku jarang minum air (±600 ml/hari) dan sering menahan BAK karena sibuk bekerja
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi Saluran Kemih (ISK) / Infeksi Saluran Kemih Akut
Kode SDKI: D.0120
Deskripsi Singkat: Risiko peningkatan kolonisasi dan invasi patogen pada saluran kemih.
Kode SLKI: L.15018
Deskripsi : Manajemen Infeksi Saluran Kemih. Tujuan: Mencegah dan mengatasi infeksi pada saluran kemih. Kriteria hasil: 1) Tanda-tanda infeksi (demam, nyeri, perubahan warna/bau urin) teratasi. 2) Hasil pemeriksaan urin (urin lengkap, kultur) dalam batas normal. 3) Pasien memahami dan melakukan perilaku pencegahan infeksi (minum cukup, BAK teratur, kebersihan area genital). 4) Tidak ada komplikasi (misalnya, pielonefritis).
Kode SIKI: I.15018
Deskripsi : Intervensi Keperawatan untuk Manajemen Infeksi Saluran Kemih. Intervensi: 1) Monitor tanda dan gejala infeksi: suhu tubuh, karakteristik urin (warna, kejernihan, bau), keluhan nyeri (disuria, suprapubik), frekuensi dan urgensi BAK. 2) Anjurkan dan bantu meningkatkan asupan cairan minimal 2-3 liter per hari jika tidak ada kontraindikasi, untuk membantu membilas bakteri dari saluran kemih. 3) Ajarkan dan anjurkan untuk tidak menahan BAK. Bantu pasien untuk berkemih setiap 2-3 jam atau sesuai kebutuhan untuk mencegah stasis urin. 4) Kolaborasi pemberian terapi farmakologi sesuai resep (antibiotik, analgesik, antipiretik) dan pantau efek serta efek sampingnya. 5) Lakukan edukasi kesehatan tentang faktor risiko ISK: pentingnya hidrasi, bahaya menahan BAK, teknik membersihkan area genital dari depan ke belakang (khususnya pada wanita), dan mengenali gejala dini ISK. 6) Kolaborasi dalam pengambilan sampel urin untuk pemeriksaan urin lengkap dan kultur serta sensitivitas untuk identifikasi patogen dan terapi yang tepat. 7) Ajarkan teknik manajemen nyeri non-farmakologis seperti kompres hangat pada area suprapubik untuk mengurangi ketidaknyamanan. 8) Monitor hasil laboratorium (leukosit, nitrit, LED, leukosit urin) untuk menilai perkembangan infeksi dan respons terhadap terapi. 9) Berikan dukungan psikologis untuk mengurangi kecemasan akibat gejala dan penyakit. 10) Ajarkan perilaku hidup sehat untuk mencegah kekambuhan, termasuk menjaga asupan cairan yang adekuat dan menghindari faktor pencetus seperti dehidrasi dan kebiasaan menahan BAK.
-
Article No. 24181 | 21 Feb 2026
Klinis : pasien dengan penurunan kesadaran riw: DM, jantung ku lemah, sopor TD: 154/83 HR: 117 RR: 22 S: 36.6 Spo2: 98 Status Generalisata Mata: RC +/+, isokor Mulut : dbn Leher:dbn Thorax: Simetris ka/ki Paru: SDV +/+ Wh -/- Rh -/-RBK -/- RBH -/- Abdomen: supel, BU (+) NT - Genitalia : dalam batas normal Extremitas Superior: akral dingin +/+ crt < 2 dtk Extremitas Inferior: akral dingin +/+ crt < 2 dtk Pemeriksaan neurologis Sensorik : tidak dapat dievaluasi Kekuatan motorik: tidak terdapat lateralisasi Refleks fisiologis: +3/+2/+3/+2 Refleks patologis: -/-/-/- Voluntary eye movement (-) Blink to threat (-) Refleks kornea (-) visual pursuit (-) Hasil lab 18/2/26 hb 12.54 eritrosit 4.41 hmt 38.3 lekosit 23.22 trombosit 304 Na 138 K 4.8 Cl 103 Ca2+ 1.3 pH 7.18 GDs 398 ureum 108.5 kreatinin 1.84 Thorax : Kesan : - Cardiomegali dan pulmo normal - Elongatio aortae dan aortosklerosis CT-Scan: Kesan : - Kalsifikasi multiple simetris di intracerebri, curiga suatu Fahr disease - Atrophy cerebri - Tak tampak massa, perdarahan, infark intracerebri maupun intracerebelli
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Penurunan Kesadaran (Sopor) pada Pasien dengan Komorbid DM dan Gagal Ginjal Akut, Hiperglikemia, dan Asidosis Metabolik
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Defisit Perawatan Diri adalah keadaan ketika individu mengalami ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas perawatan diri secara mandiri. Pada pasien ini, penurunan kesadaran hingga sopor (hanya bereaksi terhadap rangsang nyeri) menyebabkan ketidakmampuan total dalam memenuhi kebutuhan dasar seperti makan, minum, eliminasi, kebersihan, dan berpakaian. Kondisi ini diperberat oleh kelemahan umum dan hasil laboratorium yang menunjukkan kondisi kritis (hiperglikemia berat, asidosis, gagal ginjal). Defisit ini bersifat total dan memerlukan intervensi keperawatan komprehensif untuk memenuhi semua kebutuhan aktivitas kehidupan sehari-hari (AKS) pasien.
Kode SLKI: L.03113
Deskripsi : Perawatan Diri: Aktivitas Kehidupan Sehari-hari (AKS) tercapai jika seluruh kebutuhan perawatan diri pasien terpenuhi dengan aman dan optimal. Intervensi keperawatan yang harus dilakukan meliputi: 1) Memenuhi kebutuhan nutrisi dan hidrasi melalui pemberian cairan intravena dan terapi nutrisi sesuai kondisi metabolik (memperhatikan hiperglikemia dan gagal ginjal). 2) Memenuhi kebutuhan eliminasi dengan pemasangan dan perawatan kateter urine tetap serta memantau balance cairan. 3) Memenuhi kebutuhan kebersihan dan kenyamanan melalui perawatan kebersihan diri total (mandi di tempat tidur, perawatan mulut, perawatan kulit) untuk mencegah dekubitus dan infeksi. 4) Memenuhi kebutuhan mobilitas dengan melakukan mobilisasi pasif dan perubahan posisi setiap 2 jam untuk mencegah kontraktur dan gangguan integritas kulit. 5) Melindungi pasien dari cedera akibat ketidakmampuan bergerak dan penurunan kesadaran. Pencapaian SLKI ini ditandai dengan pasien yang bersih, kering, kulit utuh, nutrisi dan cairan tercukupi, serta tidak mengalami komplikasi imobilisasi.
Kode SIKI: I.09021
Deskripsi : Manajemen Perawatan Diri adalah serangkaian tindakan keperawatan untuk membantu pasien memenuhi kebutuhan perawatan dirinya. Implementasinya pada kasus ini meliputi: a) Pengkajian Menyeluruh: Memantau terus menerus tanda-tanda vital (TD, HR, RR, suhu, SpO2), status neurologis (GCS), dan respons terhadap terapi. b) Pemenuhan Nutrisi dan Cairan: Berkolaborasi dalam pemberian insulin untuk mengontrol GDS 398, memantau elektrolit (Na, K, Cl, Ca), dan mengatur kecepatan cairan intravena sesuai dengan kondisi jantung (cardiomegali) dan ginjal (ureum/kreatinin tinggi). c) Perawatan Kebersihan Diri: Melakukan mandi di tempat tidur dengan air hangat, menggunakan sabun lembut, dan mengeringkan kulit dengan baik, terutama pada area ekstremitas yang akral dingin. Melakukan perawatan mulut untuk mencegah stomatitis dan infeksi. d) Perawatan Eliminasi: Memasang kateter urine dengan teknik steril, memantau jumlah dan warna urine, serta menjaga kebersihan area genital. e) Manajemen Mobilitas: Melakukan range of motion (ROM) pasif pada semua sendi ekstremitas, mengubah posisi tubuh secara teratur (posisi miring kanan/kiri, telentang) dengan teknik yang aman. f) Perawatan Kulit dan Pencegahan Dekubitus: Menggunakan matras dekubitus, memeriksa kulit terutama di area tulang tekan (tumit, sakrum, scapula) setiap kali reposisi, dan menjaga linen tetap kering dan tidak berkerut. g) Perawatan Pernapasan: Melakukan fisioterapi dada dan suctioning sesuai kebutuhan untuk mencegah pneumonia aspirasi dan hipostatik, mengingat refleks protektif (seperti batuk dan menelan) sangat mungkin terganggu. h) Keselamatan dan Komunikasi: Menempatkan pasien di tempat tidur dengan pagar pengaman, menggunakan restraint yang lembut jika diperlukan, serta tetap berkomunikasi dengan pasien dengan anggapan ia dapat mendengar, menjelaskan setiap tindakan yang akan dilakukan. Tindakan-tindakan ini harus didokumentasikan dengan baik dan dievaluasi secara berkala untuk menilai efektivitas dan perkembangan kondisi pasien.
-
Article No. 24182 | 21 Feb 2026
Klinis : Seorang laki-laki umur 32 tahun dirawat di ruang bedah RS Wongsonegoro dengan keluhan tidak bisa mengontrol buang air kecil sejak terjatuh, keluhan dirasakan timbul mendadak, dan dirasakan terus menerus sampai sekarang. Sebelumnya pasien mengaku terjatuh dari bangunan setinggi 7 meter ketika sedang bekerja di proyek, pasien terjatuh pada posisi duduk dan mengenai punggung bagian bawah. Pasien sempat terdiam di lokasi selama hampir 1 jam karena tidak ada yang mengetahui kejadian sebelum pasien akhirnya ditolong oleh rekan kerjanya. Hasil pengkajian, pasien mengatakan nyeri sekali pada tulang belakangnya tidak hilang terutama dimalam hari dan terus menerus. Selain itu sakit kepala disertai mual dan muntah, wajah perot, dan pasien merasa penglihatan kabur serta fungsi pendengaran mulai tidak jelas. Hasil Rontgen dinyatakan tulang belakang pasien patah.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Eliminasi Urin: Inkontinensia Urin
Kode SDKI: D.0017
Deskripsi Singkat: Keadaan ketidakmampuan seseorang untuk mengontrol pengeluaran urin, yang dapat terjadi secara mendadak atau bertahap, dengan berbagai faktor penyebab seperti neurologis, anatomis, fisiologis, atau psikologis.
Kode SLKI: L.03114
Deskripsi : Pasien mampu mengontrol pengeluaran urin. Kriteria hasil: 1) Pasien menyatakan mampu menahan keinginan berkemih. 2) Pasien menunjukkan perilaku untuk menahan keinginan berkemih. 3) Pasien menunjukkan kemampuan berkemih sesuai waktu dan tempat yang tepat. 4) Pasien tidak menunjukkan tanda-tanda inkontinensia urin (misalnya, urine menetes, bau urine, pakaian/bed cover basah). 5) Pasien menunjukkan perilaku untuk mencegah inkontinensia urin (misalnya, latihan otot dasar panggul, jadwal berkemih).
Kode SIKI: I.05044
Deskripsi : Intervensi untuk meningkatkan kontrol pengeluaran urin. Tindakan keperawatan: 1) Kaji pola berkemih pasien (frekuensi, jumlah, waktu). 2) Kaji faktor yang mempengaruhi inkontinensia urin (misalnya, mobilitas, kognitif, lingkungan). 3) Ajarkan latihan otot dasar panggul (Kegel) jika memungkinkan dan sesuai. 4) Bantu pasien untuk membuat jadwal berkemih (bladder training). 5) Ajarkan teknik mengosongkan kandung kemih secara tuntas (double voiding, Crede) jika diindikasikan. 6) Anjurkan untuk membatasi asupan cairan sebelum tidur. 7) Berikan pujian atas upaya pasien dalam mengontrol berkemih. 8) Kolaborasi dalam pemberian obat sesuai resep (misalnya, antikolinergik). 9) Kolaborasi dalam pemasangan dan perawatan kateter urine jika diindikasikan. 10) Edukasi pasien/keluarga tentang manajemen inkontinensia urin di rumah.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0029
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, dengan onset mendadak atau lambat, intensitas ringan hingga berat, dengan durasi kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: L.03001
Deskripsi : Nyeri teratasi. Kriteria hasil: 1) Pasien melaporkan nyeri berkurang/tidak ada nyeri. 2) Pasien menunjukkan ekspresi wajah rileks. 3) Pasien mampu beristirahat/tidur dengan adekuat. 4) Tanda-tanda vital dalam rentang normal. 5) Pasien mampu melakukan aktivitas sesuai kemampuan.
Kode SIKI: I.08017
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Tindakan keperawatan: 1) Kaji karakteristik nyeri (lokasi, intensitas, skala, kualitas, waktu, faktor pencetus/pereda). 2) Observasi tanda-tanda nonverbal nyeri (perubahan tanda vital, gelisah, menangis, proteksi area nyeri). 3) Ajarkan teknik nonfarmakologi (napas dalam, distraksi, relaksasi, posisi nyaman). 4) Berikan analgetik sesuai resep dan evaluasi efektivitasnya. 5) Lakukan tindakan kenyamanan (perubahan posisi, masase, kompres hangat/dingin jika diindikasikan). 6) Monitor efek samping terapi analgetik. 7) Edukasi pasien/keluarga tentang penyebab nyeri dan penatalaksanaannya.
Kondisi: Risiko Cedera (Trauma)
Kode SDKI: D.0054
Deskripsi Singkat: Keadaan meningkatnya kerentanan seseorang terhadap cedera fisik akibat faktor internal dan/atau eksternal yang dapat membahayakan kesehatan dan keselamatan.
Kode SLKI: L.04016
Deskripsi : Pasien bebas dari cedera. Kriteria hasil: 1) Pasien tidak mengalami cedera. 2) Pasien menunjukkan perilaku untuk mencegah cedera. 3) Lingkungan pasien aman dari bahaya. 4) Pengetahuan pasien/keluarga tentang pencegahan cedera meningkat.
Kode SIKI: I.09033
Deskripsi : Pencegahan Cedera. Tindakan keperawatan: 1) Identifikasi faktor risiko cedera (gangguan neurologis, imobilisasi, penurunan kesadaran). 2) Monitor status neurologis secara berkala (GCS, pupil, kekuatan motorik). 3) Pertahankan tirah baring dengan posisi sesuai indikasi (misalnya, posisi netral tulang belakang). 4) Gunakan alat bantu mobilitas (papan tulang belakang, brace) sesuai instruksi. 5) Berikan lingkungan yang aman (pinggiran tempat tidur terpasang, lantai tidak licin, pencahayaan cukup). 6) Ajarkan pasien/keluarga tentang teknik perpindahan yang aman. 7) Kolaborasi dalam pemantauan ketat dan pemberian terapi untuk mencegah komplikasi neurologis lebih lanjut.
Kondisi: Gangguan Persepsi Sensori: Visual dan Auditori
Kode SDKI: D.0013
Deskripsi Singkat: Perubahan dalam jumlah atau pola stimulus yang datang disertai dengan respons yang kurang, berlebihan, terdistorsi, atau terganggu terhadap rangsangan sensorik (penglihatan, pendengaran).
Kode SLKI: L.03044
Deskripsi : Fungsi sensori optimal. Kriteria hasil: 1) Pasien mampu mengenali stimulus sensori. 2) Pasien memberikan respons yang tepat terhadap stimulus sensori. 3) Pasien berpartisipasi dalam aktivitas pencegahan gangguan sensori. 4) Pasien menggunakan alat bantu sensori jika diperlukan.
Kode SIKI: I.05029
Deskripsi : Manajemen Gangguan Persepsi Sensori. Tindakan keperawatan: 1) Kaji fungsi penglihatan dan pendengaran (ketajaman, lapang pandang, respons terhadap suara). 2) Identifikasi faktor penyebab gangguan sensori (trauma kepala/tulang belakang, peningkatan tekanan intrakranial). 3) Berikan orientasi realitas (menyapa, memperkenalkan diri, menjelaskan prosedur). 4) Fasilitasi komunikasi yang efektif (gunakan suara jelas, kontak mata, sentuhan jika diizinkan). 5) Atur lingkungan untuk meminimalkan bahaya (menjaga jalan tetap bersih, menempatkan barang dalam jangkauan). 6) Kolaborasi dengan tim medis untuk pemeriksaan neurologis dan penunjang lebih lanjut (CT-Scan, MRI). 7) Edukasi pasien/keluarga tentang perubahan sensori yang dialami dan cara beradaptasi.
-
Article No. 24183 | 21 Feb 2026
Klinis : px telah berpuasa ramadhan hari ketiga, tadi setelah sholat tarawih px hampir pingsan, tiap habis duduk lalu berdiri px merasa pusing kliyengan. nadi teraba lemah
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Hipotensi Ortostatik (Postural) yang Diduga Berhubungan dengan Dehidrasi
Kode ICD-10: I95.1
Deskripsi Singkat : Kondisi ini menggambarkan hipotensi ortostatik, yaitu penurunan tekanan darah sistolik yang signifikan (biasanya >20 mmHg) atau diastolik (>10 mmHg) dalam waktu 3 menit setelah berdiri dari posisi duduk atau berbaring. Gejala yang dialami pasien, seperti pusing, kliyengan, dan hampir pingsan saat berdiri setelah duduk atau shalat tarawih, serta nadi yang teraba lemah, sangat sesuai dengan gambaran klinis tersebut. Dalam konteks puasa Ramadan, penyebab paling mungkin adalah dehidrasi dan asupan cairan yang tidak mencukupi selama periode sahur dan berbuka, yang dapat mengurangi volume darah dan memicu respons otonom yang tidak adekuat saat perubahan posisi. Kode I95.1 mengklasifikasikan hipotensi ortostatik sebagai bagian dari kategori "Hipotensi" (I95) dalam ICD-10. Kode ini digunakan untuk mencatat kondisi di mana mekanisme regulasi tekanan darah gagal mengkompensasi perubahan postur dengan cepat, sering kali terkait dengan faktor seperti dehidrasi, gangguan neurologis, atau efek samping obat. Penanganan awal berfokus pada rehidrasi, evaluasi asupan cairan dan elektrolit, serta edukasi untuk bangun secara bertahap dari posisi duduk atau berbaring.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 24184 | 21 Feb 2026
Klinis : px telah berpuasa ramadhan hari ketiga, tadi setelah sholat tarawih px hampir pingsan, tiap habis duduk lalu berdiri px merasa pusing kliyengan. nadi teraba lemah. riwayat makan saat berbuka makan nasi ayam goreng, sayur sop bakso, es creamy alpukat sago
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Hipotensi Ortostatik
Kode ICD-10: I95.1
Deskripsi Singkat : Hipotensi ortostatik adalah suatu bentuk tekanan darah rendah yang terjadi ketika seseorang berdiri dari posisi duduk atau berbaring. Gejala utama adalah pusing, kliyengan, atau sensasi hampir pingsan yang terjadi beberapa detik hingga menit setelah berdiri, seperti yang dialami pasien. Nadi yang teraba lemah juga mengindikasikan tekanan darah yang rendah. Kondisi ini sering disebabkan oleh dehidrasi, yang sangat mungkin terjadi pada pasien yang berpuasa Ramadan dengan asupan cairan yang kurang, terutama jika berbuka dengan makanan berat dan minuman manis/berkrim (seperti es creamy alpukat) yang mungkin tidak cukup menggantikan cairan dan elektrolit yang hilang sepanjang hari. Kode I95.1 dalam ICD-10 secara spesifik mengklasifikasikan "Hipotensi ortostatik" di bawah kategori "Hipotensi" (I95). Kode ini digunakan untuk mencatat kondisi di mana terjadi penurunan tekanan darah sistolik minimal 20 mmHg atau diastolik minimal 10 mmHg dalam waktu 3 menit setelah berdiri. Penanganan awal meliputi rehidrasi dengan cairan dan elektrolit, serta edukasi untuk bangkit secara perlahan. Dalam konteks pelatihan, kode ini tepat untuk merekam keluhan pasien terkait perubahan postural yang menyebabkan gejala pusing dan hampir sinkop.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 24155 | 20 Feb 2026
Klinis : Kepala terbentur post jatuh TelaahPasien datang dengan keluhan kepala terbentur ke tanah dan terkena batu, os terjatuh di depan warung diawali dengan oyong. Luka robek kecil di kepala belakang kanan (+). Muntah (+) dijumpai. Saat datang ke RS, os masih dengan kesadaran yang baik dan dapat berkomunikasi dengan baik. Riw kejang (-), lemah anggota gerak (-) Riw mencret (+) sehari ini. Keluar darah dari anus setelah os jatuh (+) Riw penyakit terdahulu : - Riwayat Penyakit Dahulu- OKes : CM TD : 102/69 mmHg HR : 86 x/i RR : 20 x/i T : 36 C SpO2 : 99% on Room Air STATUS LOKALISATA Parietal dextra : VL 0.5 cm, perdarahan aktif (-) Mata : CA (-/-), SI (-/-) Mulut : coated tongue (-), faring hiperemis (-), T1/T1 Leher : TVJ R-2cmHg, lymphadenopathy (-) Thoraks : sp ves (+/+), rh (-/-), wh (-/-), BJ 1,2 reg, murmur (-) Abdomen : soepel, NT (-), normoperistaltik, normothympani, H/L tidak teraba, Mcburney sign (-) Eks : akral hangat, CRT<2, t/v kuat, edem pretibial (-/-), ROM dbn Anal : benjolan (-), perdarahan aktif (-) Kek motorik : Superior : 55555/55555 Inferior : 55555/55555
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Penurunan Perfusi Jaringan Otak dan Trauma Kepala
Kode SDKI: 0005
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan perfusi jaringan otak adalah keadaan dimana seseorang berisiko mengalami penurunan sirkulasi darah dan oksigenasi ke jaringan otak yang dapat mengakibatkan gangguan fungsi otak. Pada kasus ini, pasien dengan riwayat trauma kepala akibat jatuh dan terbentur batu, disertai dengan adanya muntah, menunjukkan tanda-tanda awal yang mengkhawatirkan meskipun kesadaran masih baik. Trauma tumpul pada kepala berpotensi menyebabkan perdarahan intrakranial (seperti hematoma epidural atau subdural) atau edema otak yang berkembang secara bertahap, sehingga dapat menekan jaringan otak dan menurunkan perfusinya. Risiko ini diperparah dengan adanya riwayat perdarahan dari anus pasca jatuh, yang mengindikasikan kemungkinan trauma multipel atau gangguan koagulasi yang dapat memperburuk perdarahan intrakranial. Tanda-tanda penurunan perfusi otak seperti penurunan kesadaran, kejang, atau kelemahan anggota gerak mungkin belum muncul (dinyatakan negatif dalam pemeriksaan), tetapi potensi untuk memburuk secara tiba-tiba sangat tinggi dalam 24-48 jam pertama pasca trauma.
Kode SLKI: 0901
Deskripsi : Perfusi jaringan otak membaik, ditandai dengan: 1) Tingkat kesadaran (GCS) tetap 15 (sadar penuh, orientasi baik). 2) Tanda-tanda vital (TD, HR, RR) stabil dalam rentang normal untuk pasien tanpa adanya tanda peningkatan tekanan intrakranial (TD tidak menunjukkan pola hipertensi dengan bradikardia). 3) Tidak ada keluhan sakit kepala hebat, mual, atau muntah berulang. 4) Fungsi motorik dan sensorik tetap utuh (kekuatan motorik 5/5 di semua ekstremitas). 5) Tanda pupil isokor, cahaya positif, dan tidak ada deviasi mata. 6) Tanda-tanda perdarahan atau kebocoran cairan serebrospinal dari telinga/hidung tidak ada. 7) Hasil pemantauan neurologis (Neurocheck) serial menunjukkan tidak ada deteriorasi. 8) Pasien dapat berkomunikasi dengan baik dan kooperatif. Kriteria hasil ini bertujuan untuk mempertahankan status neurologis yang optimal dan mencegah komplikasi dengan deteksi dini setiap perubahan.
Kode SIKI: 0901
Deskripsi : Intervensi keperawatan yang dilakukan meliputi: 1) Pemantauan Neurologis Ketat (Neurocheck): Melakukan pengukuran GCS, pemeriksaan pupil (ukuran, bentuk, reaksi cahaya), kekuatan motorik, dan fungsi sensorik secara berkala (setiap 1-2 jam awal) untuk mendeteksi dini tanda peningkatan tekanan intrakranial atau penurunan perfusi otak. 2) Pemantauan Tanda Vital: Memantau tekanan darah, nadi, pernapasan, dan suhu secara reguler. Perhatian khusus pada pola Cushing (hipertensi, bradikardia, pernapasan tidak teratur) sebagai tanda peningkatan TIK. 3) Manajemen Posisi: Menempatkan kepala pasien pada posisi netral dan elevasi kepala 30 derajat (jika tidak ada kontraindikasi spinal) untuk meningkatkan aliran balik vena dan mengurangi tekanan intrakranial. 4) Manajemen Lingkungan: Menciptakan lingkungan tenang, membatasi pengunjung, dan menghindari stimulasi berlebihan yang dapat meningkatkan TIK. Menghindari manuver valsava (mengedan). 5) Kolaborasi dan Observasi: Berkolaborasi dalam pemberian terapi sesuai instruksi dokter (seperti analgesik, antiemetik). Mempersiapkan dan mengantar pasien untuk pemeriksaan penunjang seperti CT Scan kepala jika diperlukan. Memantau secara ketat adanya perdarahan dari anus dan mencatat karakteristiknya, serta melaporkan segera. 6) Edukasi: Memberikan penjelasan pada pasien dan keluarga tentang tanda-tanda bahaya yang harus segera dilaporkan (sakit kepala hebat, muntah proyektil, kejang, penurunan kesadaran, kelemahan anggota badan, pandangan kabur). 7) Pencegahan Komplikasi Imobilisasi: Melakukan perawatan luka robek di kepala dengan teknik aseptik, dan mempertahankan kebersihan diri pasien.
-
Article No. 24156 | 20 Feb 2026
Klinis : pusing berputar memberat malam ini, mual dan muntah TelaahPasien datang dibawa dengan keluhan pusing berputar yang memberat malam ini. Mual muntah (+) dijumpai,nafsu makan berkurang. BAB dan BAK dbn Riwayat Penyakit Dahulu- OKes : CM TD : 138/79 mmHg HR : 104 x/i RR : 20 x/i T : 36 C SpO2 : 99% on Room Air STATUS LOKALISATA Mata : CA (-/-), SI (-/-) Mulut : coated tongue (-), faring hiperemis (-), T1/T1 Leher : TVJ R-2cmHg, lymphadenopathy (-) Thoraks : sp ves (+/+), rh (-/-), wh (-/-), BJ 1,2 reg, murmur (-) Abdomen : soepel, NT (-), normoperistaltik, normothympani, H/L tidak teraba, Mcburney sign (-) Eks : akral hangat, CRT<2, t/v kuat, edem pretibial (-/-)
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan, peningkatan, atau pergeseran cepat dari satu kompartemen cairan tubuh ke kompartemen lain.
Kode SLKI: L.03113
Deskripsi : Keseimbangan cairan dan elektrolit tercapai.
Kode SIKI: I.01279
Deskripsi : Memantau tanda-tanda dehidrasi atau kelebihan cairan.
Memantau asupan dan haluaran cairan.
Memantau hasil pemeriksaan laboratorium terkait keseimbangan cairan dan elektrolit.
Mempertahankan atau memberikan terapi cairan sesuai program terapi.
Mengajarkan tanda dan gejala ketidakseimbangan cairan.
Mengidentifikasi faktor risiko ketidakseimbangan volume cairan.
Kondisi: Mual
Kode SDKI: D.0030
Deskripsi Singkat: Sensasi tidak menyenangkan berupa dorongan untuk muntah.
Kode SLKI: L.04011
Deskripsi : Kontrol mual tercapai.
Kode SIKI: I.04029
Deskripsi : Mengidentifikasi faktor pencetus mual.
Memantau frekuensi, durasi, dan tingkat keparahan mual.
Memantau tanda dan gejala dehidrasi.
Mengatur posisi untuk mengurangi mual.
Menganjurkan teknik relaksasi dan distraksi.
Menganjurkan pengaturan diet (misal: porsi kecil tapi sering, hindari makanan beraroma kuat).
Memberikan terapi farmakologis untuk mual sesuai program terapi.
Mengajarkan manajemen mual di rumah.
Kondisi: Risiko Cedera
Kode SDKI: D.0730
Deskripsi Singkat: Peningkatan kerentanan terhadap cedera fisik yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan.
Kode SLKI: L.09013
Deskripsi : Cedera tidak terjadi.
Kode SIKI: I.09036
Deskripsi : Mengidentifikasi faktor risiko cedera (lingkungan, pasien).
Mempertahankan lingkungan yang aman (pencahayaan adequate, lantai tidak licin, barang-barang tertata).
Menggunakan alat bantu sesuai kebutuhan (misal: pengaman tempat tidur, alat bantu jalan).
Menganjurkan bantuan saat ambulasi/berdiri jika pusing.
Mengajarkan cara bangun dari tidur atau duduk secara perlahan (manuver perlahan).
Memantau tanda-tanda pusing atau vertigo.
Menginformasikan untuk tidak mengemudi atau mengoperasikan alat berat saat gejala muncul.