Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 13688 | 11 Mar 2025
Klinis : bayi terkena neurologis yang berhubungan dengan reflek bayi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi bayi dengan masalah neurologis yang berhubungan dengan refleks bayi.
Diagnosa Keperawatan:
Gangguan Refleks Bayi
Penjelasan Singkat:
SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia):
Gangguan Refleks Bayi didefinisikan sebagai perubahan pada pola dan kualitas refleks yang ditunjukkan oleh bayi, yang dapat disebabkan oleh gangguan neurologis, imaturitas, atau penyakit.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Bayi menunjukkan refleks yang normal
2. Bayi menunjukkan peningkatan tonus otot
3. Bayi menunjukkan koordinasi dan integrasi refleks yang baik
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Observasi refleks bayi
2. Stimulasi refleks bayi
3. Manajemen peningkatan tonus otot
4. Kolaborasi dengan dokter untuk penanganan lanjutan
Sebagai perawat, saya akan melakukan observasi dan evaluasi refleks bayi secara komprehensif, memberikan stimulasi yang sesuai, serta melakukan manajemen peningkatan tonus otot jika diperlukan. Selain itu, saya akan berkolaborasi dengan dokter untuk mendapatkan penanganan lanjutan yang tepat bagi bayi tersebut. -
Article No. 13689 | 11 Mar 2025
Klinis : 1. Sianosis (pucat kebiruan) di seluruh tubuh 2. Turgor kulit kurang dari 3 detik (menunjukkan penurunan perfusi) 3. Skor APGAR 6/8 (menunjukkan kondisi Kurang optimal saat lahir) 4. Sulit bemapas 5. Frekuensi nafas 76x/menit (takipnea) 6. Sianosis hilang saat diberi oksigen 7. Suara nafas menurun, terdengar merintih 8. Terpasang OGT (Orogastric Tube)
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan SDKI yang Sesuai:
1. Penurunan Cardiac Output
Berhubungan dengan adanya gangguan pernapasan dan sianosis yang ditandai dengan Sianosis (pucat kebiruan) di seluruh tubuh, Turgor kulit kurang dari 3 detik (menunjukkan penurunan perfusi), Skor APGAR 6/8 (menunjukkan kondisi Kurang optimal saat lahir), Sulit bemapas, dan Frekuensi nafas 76x/menit (takipnea).
2. Ketidakefektifan Pola Napas
Berhubungan dengan gangguan pernapasan yang ditandai dengan Sulit bemapas, Frekuensi nafas 76x/menit (takipnea), Sianosis hilang saat diberi oksigen, dan Suara nafas menurun, terdengar merintih.
Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI):
1. Penurunan Cardiac Output
a. Tanda-tanda vital dalam batas normal
b. Perfusi perifer yang adekuat
c. Tidak ada sianosis
d. Saturasi oksigen dalam batas normal
2. Ketidakefektifan Pola Napas
a. Frekuensi napas dalam batas normal
b. Irama napas teratur
c. Tidak ada retraksi dinding dada
d. Suara napas normal
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Penurunan Cardiac Output
a. Pantau tanda-tanda vital secara berkala
b. Berikan oksigen sesuai kebutuhan
c. Tingkatkan perfusi perifer dengan menghangatkan ekstremitas
d. Atasi penyebab sianosis dengan penanganan yang tepat
2. Ketidakefektifan Pola Napas
a. Pantau frekuensi, irama, dan kedalaman napas
b. Berikan posisi semi-fowler untuk memfasilitasi ventilasi
c. Berikan terapi oksigen sesuai kebutuhan
d. Pertahankan jalan napas yang paten dengan membersihkan jalan napas
e. Ajarkan teknik relaksasi dan napas dalam
Penjelasan:
Kondisi yang dipaparkan menunjukkan adanya gangguan pernapasan dan perfusi yang dapat menyebabkan penurunan cardiac output dan ketidakefektifan pola napas. Diagnosa keperawatan yang sesuai adalah Penurunan Cardiac Output dan Ketidakefektifan Pola Napas. Luaran yang diharapkan adalah stabilisasi tanda-tanda vital, peningkatan perfusi, perbaikan pola napas, dan eliminasi sianosis. Intervensi keperawatan yang diperlukan mencakup pemantauan tanda-tanda vital, pemberian oksigen, peningkatan perfusi, penanganan penyebab sianosis, dan teknik relaksasi napas. -
Article No. 13690 | 11 Mar 2025
Klinis : 1. BB lahir 1.100 gram 2. Usia gestasi 28 minggu 3. Pelembab mulut kering 4. ASI ibu belum keluar 5. Bayi diberi SGM BBLR 10cc setiap 2 jam 6. Reflek menghisap sangat lemah, perlu dibantu dengan OGT
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan, luaran, dan intervensi keperawatan yang sesuai untuk kondisi yang Anda berikan. Tone saya akan akademis dan persona saya akan sebagai seorang perawat ahli.
1. Diagnosa Keperawatan SDKI:
a. Risiko Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Perifer berhubungan dengan berat badan lahir rendah
b. Ketidakefektifan Menelan berhubungan dengan refleks menghisap yang lemah
c. Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh berhubungan dengan asupan nutrisi yang tidak adekuat
d. Risiko Infeksi berhubungan dengan prematuritas dan pengunaan alat bantuan nutrisi
2. Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
a. Perfusi jaringan perifer akan membaik, ditandai dengan peningkatan suhu ekstremitas, warna kulit, dan pengisian kapiler yang baik.
b. Kemampuan menelan akan meningkat, ditandai dengan refleks menghisap yang lebih kuat dan kemampuan menelan yang lebih baik.
c. Berat badan bayi akan meningkat sesuai dengan kurva pertumbuhan bayi prematur.
d. Tidak terjadi infeksi, ditandai dengan tanda-tanda vital yang stabil, pemeriksaan fisik yang normal, dan tidak ditemukan tanda-tanda infeksi.
3. Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
a. Risiko Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Perifer:
i. Pantau tanda-tanda vital dan perfusi perifer (suhu ekstremitas, warna kulit, pengisian kapiler).
ii. Posisikan bayi secara nyaman dan hindari hipotermi.
iii. Berikan pemanasan tambahan jika diperlukan.
iv. Lakukan perawatan kulit untuk mencegah kerusakan.
b. Ketidakefektifan Menelan:
i. Berikan dukungan nutrisi melalui OGT secara bertahap.
ii. Latih refleks menghisap dan menelan dengan stimulasi oral.
iii. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk mengatur jumlah dan frekuensi pemberian nutrisi.
iv. Pantau tanda-tanda kesulitan menelan, seperti batuk, tersedak, atau regurgitasi.
c. Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh:
i. Berikan nutrisi parenteral atau enteral sesuai kebutuhan bayi.
ii. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan kebutuhan nutrisi yang sesuai.
iii. Pantau asupan dan output nutrisi, serta berat badan bayi.
iv. Beri dukungan emosional dan edukasi bagi orang tua.
d. Risiko Infeksi:
i. Lakukan perawatan higienis dan aseptik saat merawat bayi.
ii. Pantau tanda-tanda infeksi, seperti suhu tubuh, warna kulit, dan pemeriksaan laboratorium.
iii. Berikan antibiotik sesuai indikasi dan kolaborasi dengan dokter.
iv. Lindungi bayi dari lingkungan yang dapat meningkatkan risiko infeksi.
Semoga penjelasan ini dapat membantu Anda dalam memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif untuk bayi dengan berat badan lahir rendah. -
Article No. 13691 | 11 Mar 2025
Klinis : 1. BB lahir 1.100 gram 2. Usia gestasi 28 minggu 3. Pelembab mulut kering 4. ASI ibu belum keluar 5. Bayi diberi SGM BBLR 10cc setiap 2 jam 6. Reflek menghisap sangat lemah, perlu dibantu dengan OGT
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Dengan mempertimbangkan kondisi yang Anda berikan, berikut adalah diagnosa keperawatan beserta penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
1. Diagnosa Keperawatan: Risiko Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang Dari Kebutuhan Tubuh
- SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia): Risiko ketidakseimbangan antara asupan dan kebutuhan nutrisi individu.
- SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia): Status nutrisi yang optimal.
- SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia): Intervensi untuk mempertahankan status nutrisi yang optimal.
Penjelasan Singkat:
- Berat bayi lahir 1.100 gram dan usia gestasi 28 minggu menunjukkan kondisi bayi prematur dengan berat badan lahir rendah (BBLR).
- Kondisi ini meningkatkan risiko ketidakseimbangan nutrisi karena bayi membutuhkan nutrisi yang lebih tinggi untuk pertumbuhan dan perkembangan.
- Pelembab mulut kering dan ASI ibu belum keluar menunjukkan adanya kesulitan dalam pemberian nutrisi melalui menyusu.
- Pemberian susu formula BBLR 10cc setiap 2 jam dan reflek menghisap yang lemah memerlukan intervensi keperawatan untuk mempertahankan status nutrisi yang optimal.
2. Diagnosa Keperawatan: Kesiapan Meningkatkan Proses Menyusu
- SDKI: Kemampuan individu untuk meningkatkan proses menyusu yang dapat diperkuat.
- SLKI: Proses menyusu yang optimal.
- SIKI: Intervensi untuk meningkatkan proses menyusu.
Penjelasan Singkat:
- Kondisi bayi prematur dengan BBLR memerlukan peningkatan kemampuan dalam proses menyusu untuk memenuhi kebutuhan nutrisi.
- Reflek menghisap yang lemah dan pemberian susu melalui OGT (Orogastric Tube) menunjukkan adanya kebutuhan untuk meningkatkan proses menyusu.
- Intervensi keperawatan diperlukan untuk mendukung dan meningkatkan kemampuan bayi dalam proses menyusu.
Tone: Akademis
Persona: Pakar, Nurse -
Article No. 13692 | 11 Mar 2025
Klinis : 1. BB lahir 1.100 gram 2. Usia gestasi 28 minggu 3. Pelembab mulut kering 4. ASI ibu belum keluar 5. Bayi diberi SGM BBLR 10cc setiap 2 jam 6. Reflek menghisap sangat lemah, perlu dibantu dengan OGT
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan penjelasan rinci terkait diagnosa keperawatan, luaran, dan intervensi keperawatan yang sesuai dengan kondisi yang Anda paparkan. Tone yang digunakan adalah akademis dan persona saya adalah sebagai seorang pakar perawat.
1. Diagnosa Keperawatan SDKI:
a. Risiko Hipotermia berhubungan dengan suhu tubuh yang tidak stabil akibat prematuritas.
b. Berat Badan Tidak Sesuai Usia Gestasi berhubungan dengan kelahiran prematur.
c. Gangguan Pola Makan berhubungan dengan refleks menyusu yang lemah.
d. Risiko Dehidrasi berhubungan dengan kurangnya intake cairan dan ASI yang belum keluar.
2. Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI):
a. Stabilitas Suhu Tubuh: Bayi dapat mempertahankan suhu tubuh dalam rentang normal.
b. Pertumbuhan Sesuai Usia Gestasi: Bayi dapat mencapai berat badan yang sesuai dengan usia gestasi.
c. Pola Makan yang Adekuat: Bayi dapat menyusu atau menerima asupan nutrisi melalui OGT secara efektif.
d. Keseimbangan Cairan: Bayi dapat mempertahankan status hidrasi yang baik.
3. Intervensi Keperawatan yang Diperlukan (SIKI):
a. Manajemen Suhu Tubuh:
- Pertahankan lingkungan termal yang netral dengan menggunakan inkubator atau pemanas radiant.
- Lakukan pengukuran suhu tubuh secara berkala dan sesuaikan suhu lingkungan.
- Pastikan kelembaban dalam inkubator sesuai.
b. Manajemen Berat Badan:
- Lakukan penimbangan berat badan secara rutin.
- Pantau intake dan output cairan serta elektrolit.
- Berikan asupan nutrisi yang adekuat melalui OGT atau pemberian ASI.
c. Manajemen Pola Makan:
- Stimulasi refleks menyusu melalui perawatan metode kanguru.
- Berikan asupan nutrisi melalui OGT saat refleks menyusu masih lemah.
- Ajarkan ibu teknik menyusui dan perawatan payudara untuk merangsang produksi ASI.
d. Manajemen Keseimbangan Cairan:
- Monitor intake dan output cairan serta elektrolit secara ketat.
- Berikan cairan dan nutrisi sesuai kebutuhan dengan mempertimbangkan berat badan dan usia gestasi.
- Lakukan tindakan pencegahan dehidrasi, seperti menjaga kelembaban ruangan dan pemberian cairan intravena jika perlu.
Penjelasan rinci di atas mencakup diagnosa keperawatan, luaran yang diharapkan, serta intervensi keperawatan yang diperlukan untuk menangani kondisi bayi prematur dengan berat lahir 1.100 gram dan usia gestasi 28 minggu. Saya berharap informasi ini dapat membantu Anda dalam memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif untuk bayi tersebut. -
Article No. 13693 | 11 Mar 2025
Klinis : Seorang pria berusia 30 tahun datang ke poliklinik THT dengan keluhan keluarnya cairan dari telinga kiri yang terjadi berulang selama lebih dari 3 bulan terakhir. Cairan yang keluar berwarna kuning keputihan, berbau tidak sedap, dan tidak disertai rasa nyeri. Pasien juga mengeluhkan gangguan pendengaran progresif pada telinga kiri. Pasien memiliki riwayat infeksi telinga tengah berulang sejak kecil dan sebelumnya didiagnosis otitis media akut beberapa bulan lalu, tetapi tidak mendapatkan pengobatan yang tuntas. Pasien bekerja di lingkungan yang berdebu dan sering menggunakan earphone dengan volume tinggi. Tidak ada riwayat trauma kepala atau penyakit kronis lainnya. Pemeriksaan Fisik Kesadaran: Compos mentis (sadar penuh). Tanda vital: Tekanan darah: 120/80 mmHg, HR: 84x/menit, RR: 20x/menit, Suhu: 36,8°C, Pemeriksaan Telinga (Otoskopi): Perforasi membran timpani di kuadran posterior-inferior, Cairan purulen dalam liang telinga (+), Granulasi jaringan di sekitar membran timpani, Tidak ada tanda pembengkakan mastoid. Pemeriksaan Neurologis: Tidak ditemukan defisit neurologis saat ini. Hasil Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan Otoskopi & Mikrootoskopi: Perforasi membran timpani sentral dengan cairan purulen di liang telinga, Tidak ada cholesteatoma yang terlihat secara langsung. Tes Audiometri: Gangguan pendengaran konduktif pada telinga kiri (bone conduction normal, air conduction menurun), Speech discrimination score menurun. Timpanometri: Tipe B (menunjukkan adanya gangguan pergerakan membran timpani akibat perforasi). Kultur Cairan Telinga: Bakteri yang sering ditemukan: Pseudomonas aeruginosa atau Staphylococcus aureus. CT-Scan Temporal Bone (Jika Dicurigai Komplikasi): Tidak ada tanda-tanda destruksi tulang mastoid atau cholesteatoma. Diagnosis Medis: Otitis Media Kronis (OMK) tipe perforasi sentral dengan gangguan pendengaran konduktif. Pasien direncanakan untuk mendapatkan pembersihan telinga rutin (aural toilet), antibiotik topikal, serta evaluasi untuk kemungkinan tindakan timpanoplasti (rekonstruksi membran timpani).
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan:
1. Risiko Infeksi Telinga
Definisi: Berisiko mengalami kontaminasi dan invasi oleh agen patogen, yang dapat menyebabkan peradangan pada telinga.
Faktor Risiko: Riwayat infeksi telinga berulang, paparan lingkungan yang berdebu, penggunaan earphone dengan volume tinggi.
2. Gangguan Pendengaran
Definisi: Penurunan kemampuan pendengaran yang mengganggu komunikasi verbal.
Faktor Penyebab: Perforasi membran timpani, akumulasi cairan di telinga tengah, gangguan konduksi suara.
3. Nyeri Kronis
Definisi: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan, berlangsung terus-menerus, atau berulang lebih dari 3 bulan.
Faktor Penyebab: Terdapat pada kasus otitis media kronis, namun pada kasus ini tidak ditemukan rasa nyeri pada telinga.
Penjelasan Singkat SDKI - SLKI - SIKI:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Merupakan standar yang digunakan untuk menentukan diagnosis keperawatan berdasarkan NANDA-I (North American Nursing Diagnosis Association International).
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Merupakan standar yang digunakan untuk menentukan luaran atau outcome yang diharapkan dari asuhan keperawatan, berdasarkan NOC (Nursing Outcomes Classification).
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Merupakan standar yang digunakan untuk menentukan intervensi keperawatan yang dapat dilakukan, berdasarkan NIC (Nursing Interventions Classification).
Penggunaan SDKI, SLKI, dan SIKI bertujuan untuk memastikan kualitas dan keseragaman asuhan keperawatan yang diberikan di seluruh Indonesia, sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). -
Article No. 13694 | 11 Mar 2025
Klinis : keputihan, lendir pervagina banyak dan berbau berwarna hijau nyeri saat hubungan seksual,
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi yang Anda deskripsikan.
Diagnosa Keperawatan:
Berdasarkan gejala yang Anda paparkan, yaitu keputihan, lendir pervagina banyak dan berbau berwarna hijau, serta nyeri saat hubungan seksual, maka dapat diidentifikasi diagnosa keperawatan yang sesuai adalah:
1. Infeksi Saluran Reproduksi Wanita
Definisi: Adanya peradangan pada organ reproduksi wanita yang disebabkan oleh mikroorganisme patogen.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Kode Diagnosis: D.0119
- Definisi: Adanya peradangan pada organ reproduksi wanita yang disebabkan oleh mikroorganisme patogen.
- Gejala dan Tanda: Keputihan, lendir vagina berbau dan berwarna abnormal, nyeri saat berhubungan seksual.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Kode Luaran: L.0111
- Judul Luaran: Bebas Infeksi Saluran Reproduksi Wanita
- Definisi: Tercapainya kondisi bebas dari peradangan pada organ reproduksi wanita.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Kode Intervensi: I.0136
- Judul Intervensi: Manajemen Infeksi Saluran Reproduksi
- Definisi: Serangkaian tindakan keperawatan untuk mengelola infeksi pada organ reproduksi wanita.
Dalam penatalaksanaan kasus ini, perawat akan melakukan pengkajian komprehensif, memberikan edukasi terkait kebersihan organ reproduksi, serta melakukan kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk pengobatan yang sesuai.
Saya harap penjelasan ini dapat memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai diagnosa dan standar asuhan keperawatan yang sesuai untuk kondisi yang Anda paparkan. Jangan ragu untuk menanyakan hal lain yang mungkin Anda perlukan. -
Article No. 13695 | 11 Mar 2025
Klinis : Seorang pria berusia 30 tahun datang ke poliklinik THT dengan keluhan keluarnya cairan dari telinga kiri yang terjadi berulang selama lebih dari 3 bulan terakhir. Cairan yang keluar berwarna kuning keputihan, berbau tidak sedap, dan tidak disertai rasa nyeri. Pasien juga mengeluhkan gangguan pendengaran progresif pada telinga kiri. Pasien memiliki riwayat infeksi telinga tengah berulang sejak kecil dan sebelumnya didiagnosis otitis media akut beberapa bulan lalu, tetapi tidak mendapatkan pengobatan yang tuntas. Pasien bekerja di lingkungan yang berdebu dan sering menggunakan earphone dengan volume tinggi. Tidak ada riwayat trauma kepala atau penyakit kronis lainnya. Pemeriksaan Fisik Kesadaran: Compos mentis (sadar penuh). Tanda vital: Tekanan darah: 120/80 mmHg, HR: 84x/menit, RR: 20x/menit, Suhu: 36,8°C, Pemeriksaan Telinga (Otoskopi): Perforasi membran timpani di kuadran posterior-inferior, Cairan purulen dalam liang telinga (+), Granulasi jaringan di sekitar membran timpani, Tidak ada tanda pembengkakan mastoid. Pemeriksaan Neurologis: Tidak ditemukan defisit neurologis saat ini. Hasil Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan Otoskopi & Mikrootoskopi: Perforasi membran timpani sentral dengan cairan purulen di liang telinga, Tidak ada cholesteatoma yang terlihat secara langsung. Tes Audiometri: Gangguan pendengaran konduktif pada telinga kiri (bone conduction normal, air conduction menurun), Speech discrimination score menurun. Timpanometri: Tipe B (menunjukkan adanya gangguan pergerakan membran timpani akibat perforasi). Kultur Cairan Telinga: Bakteri yang sering ditemukan: Pseudomonas aeruginosa atau Staphylococcus aureus. CT-Scan Temporal Bone (Jika Dicurigai Komplikasi): Tidak ada tanda-tanda destruksi tulang mastoid atau cholesteatoma. Diagnosis Medis: Otitis Media Kronis (OMK) tipe perforasi sentral dengan gangguan pendengaran konduktif. Pasien direncanakan untuk mendapatkan pembersihan telinga rutin (aural toilet), antibiotik topikal, serta evaluasi untuk kemungkinan tindakan timpanoplasti (rekonstruksi membran timpani).
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan informasi yang diberikan, berikut adalah diagnosa keperawatan, penjelasan singkat SDKI-SLKI-SIKI, serta rencana asuhan keperawatan untuk kondisi pasien tersebut:
Diagnosa Keperawatan:
1. Gangguan Integritas Kulit Perifer berhubungan dengan perforasi membran timpani dan adanya cairan purulen di telinga kiri.
2. Gangguan Pendengaran berhubungan dengan perforasi membran timpani dan gangguan konduksi suara di telinga kiri.
3. Risiko Infeksi berhubungan dengan adanya perforasi membran timpani dan paparan lingkungan yang berdebu.
Penjelasan Singkat SDKI-SLKI-SIKI:
1. Gangguan Integritas Kulit Perifer:
- SDKI: Gangguan struktur atau fungsi kulit dan jaringan di area selain luka.
- SLKI: Intervensi untuk mempertahankan atau memperbaiki struktur dan fungsi kulit dan jaringan selain luka.
- SIKI: Tindakan perawatan telinga, pembersihan telinga, pemberian obat tetes telinga.
2. Gangguan Pendengaran:
- SDKI: Penurunan kemampuan mendengar yang mengganggu interaksi sosial.
- SLKI: Intervensi untuk mempertahankan atau meningkatkan kemampuan mendengar.
- SIKI: Pemeriksaan fungsi pendengaran, latihan pendengaran, edukasi penggunaan alat bantu dengar.
3. Risiko Infeksi:
- SDKI: Rentan mengalami invasi dan multiplikasi mikroorganisme patogen yang dapat membahayakan kesehatan.
- SLKI: Intervensi untuk mencegah atau mengurangi risiko infeksi.
- SIKI: Perawatan telinga, pemberian antibiotik topikal, edukasi hygiene telinga.
Rencana Asuhan Keperawatan:
1. Melakukan pembersihan telinga (aural toilet) secara rutin untuk menghilangkan cairan purulen dan mengurangi risiko infeksi.
2. Memberikan antibiotik topikal sesuai dengan hasil kultur untuk mengatasi infeksi telinga.
3. Melakukan edukasi kepada pasien mengenai perawatan telinga, pencegahan infeksi, dan penggunaan alat bantu dengar (jika diperlukan) untuk mempertahankan fungsi pendengaran.
4. Melakukan evaluasi dan kolaborasi dengan tim medis untuk kemungkinan tindakan timpanoplasti (rekonstruksi membran timpani) sebagai tindakan definitif. -
Article No. 13696 | 11 Mar 2025
Klinis : keputihan
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci mengenai diagnosa keperawatan, luaran/output, dan intervensi keperawatan untuk kondisi keputihan berdasarkan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) dengan tone akademis dan persona sebagai pakar nurse.
Diagnosa Keperawatan SDKI untuk Kondisi Keputihan:
Diagnosa keperawatan yang sesuai untuk kondisi keputihan adalah "Infeksi Vagina" (SDKI, 2017). Infeksi vagina didefinisikan sebagai "Keadaan patologis yang ditandai dengan perubahan pada sekresi vagina, rasa tidak nyaman, atau gejala lain pada area genital, yang disebabkan oleh berbagai mikroorganisme" (SDKI, 2017). Kondisi keputihan dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti infeksi jamur, bakteri, atau parasit, perubahan hormon, penggunaan kontrasepsi, atau faktor lainnya.
Luaran/Output yang Diharapkan Setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
Berdasarkan diagnosa keperawatan "Infeksi Vagina", luaran/output yang diharapkan setelah pemberian asuhan keperawatan adalah:
1. Pengendalian Infeksi: Tingkat keparahan infeksi vagina menurun atau tidak ada tanda-tanda infeksi.
2. Kenyamanan: Klien melaporkan tidak ada lagi rasa tidak nyaman atau gejala yang mengganggu.
3. Pengetahuan: Klien memahami penyebab, pencegahan, dan penanganan infeksi vagina.
4. Perilaku Kesehatan: Klien menunjukkan perilaku untuk mencegah dan mengelola infeksi vagina secara efektif.
Intervensi Keperawatan yang Diperlukan untuk Mencapai Tujuan Luaran (SIKI):
Untuk mencapai luaran/output yang diharapkan, intervensi keperawatan yang diperlukan adalah:
1. Manajemen Infeksi:
a. Identifikasi penyebab infeksi vagina melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang jika perlu.
b. Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain (misalnya dokter) untuk menentukan terapi yang sesuai, seperti pemberian obat antijamur, antibiotik, atau lainnya.
c. Edukasi klien tentang penggunaan obat, pemeliharaan kebersihan area genital, dan pencegahan infeksi.
2. Manajemen Kenyamanan:
a. Identifikasi dan evaluasi tingkat kenyamanan klien terkait infeksi vagina.
b. Berikan intervensi untuk mengurangi rasa tidak nyaman, seperti kompres hangat, analgesik, atau lainnya sesuai dengan kebutuhan klien.
c. Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk menyediakan terapi tambahan, jika diperlukan.
3. Edukasi Kesehatan:
a. Berikan edukasi kepada klien tentang penyebab, gejala, pencegahan, dan penanganan infeksi vagina.
b. Dorong klien untuk melakukan perilaku hidup sehat, seperti menjaga kebersihan area genital, menghindari faktor risiko, dan melakukan pemeriksaan rutin.
c. Libatkan keluarga atau orang terdekat klien dalam proses edukasi, jika diperlukan.
Dengan pemberian asuhan keperawatan yang komprehensif dan berdasarkan standar yang ada, diharapkan klien dengan kondisi keputihan dapat mencapai luaran/output yang diharapkan dan mengelola kondisinya secara efektif. -
Article No. 13697 | 11 Mar 2025
Klinis : keputihan
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: 1. Kode ICD-10:
- Kode: N72
- Deskripsi: Fluor albus [keputihan], tidak diklasifikasikan di tempat lain
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 71.2X
- Deskripsi: Conization of cervix, dengan atau tanpa fulgurasi
Penjelasan:
Pada kondisi keputihan, kode ICD-10 yang sesuai adalah N72, yang mendeskripsikan fluor albus atau keputihan yang tidak diklasifikasikan di tempat lain. Keputihan dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti infeksi vagina, perubahan hormonal, atau kondisi medis lainnya.
Jika diperlukan tindakan medis, seperti conisasi serviks (pemotongan sedikit jaringan dari serviks) dengan atau tanpa fulgurasi (penggunaan arus listrik untuk menghancurkan jaringan abnormal), maka kode ICD-9-CM yang sesuai adalah 71.2X. Tindakan ini dapat dilakukan untuk mengatasi kondisi keputihan yang disebabkan oleh lesi atau kelainan pada serviks.
Sebagai dokter atau perekam medis, penting untuk menggunakan kode ICD yang sesuai agar dapat mengidentifikasi dan mendokumentasikan kondisi pasien dengan tepat, serta memfasilitasi proses perawatan, penagihan, dan analisis epidemiologi yang akurat.