Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 13847 | 12 Mar 2025
Klinis : nyeri kronis
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan informasi yang rinci dan terperinci terkait kondisi nyeri kronis dari perspektif seorang perawat.
Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai untuk kondisi nyeri kronis:
Diagnosa keperawatan yang sesuai untuk kondisi nyeri kronis adalah "Nyeri Kronis" (Chronic Pain). Nyeri kronis didefinisikan sebagai pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan, yang berlangsung selama lebih dari 3 bulan dan dapat memengaruhi fungsi dan kualitas hidup individu. Karakteristik dari nyeri kronis antara lain meliputi durasi nyeri yang lama, intensitas nyeri yang bervariasi, serta adanya dampak negatif terhadap aktivitas sehari-hari dan kesejahteraan psikososial pasien.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
Setelah diberikan asuhan keperawatan, diharapkan pasien dengan nyeri kronis dapat mencapai luaran/output sebagai berikut:
1. Kontrol Nyeri: Pasien mampu mengontrol nyeri yang dirasakan dan menunjukkan penurunan intensitas nyeri.
2. Koping Nyeri: Pasien menunjukkan kemampuan untuk menggunakan strategi koping yang efektif dalam mengatasi nyeri kronis.
3. Fungsi Aktivitas: Pasien menunjukkan peningkatan kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri.
4. Tidur yang Adekuat: Pasien menunjukkan pola tidur yang adekuat dan terpenuhi.
5. Kesejahteraan Psikososial: Pasien menunjukkan peningkatan kesejahteraan psikososial, seperti penurunan kecemasan dan depresi terkait nyeri kronis.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
Untuk mencapai luaran/output yang diharapkan pada pasien dengan nyeri kronis, berikut adalah beberapa intervensi keperawatan yang dapat dilakukan:
1. Manajemen Nyeri:
- Identifikasi karakteristik nyeri (lokasi, intensitas, durasi, kualitas, dan faktor pemicu)
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk pemberian analgesik sesuai kebutuhan
- Ajarkan teknik manajemen nyeri non-farmakologis, seperti relaksasi, distraksi, dan terapi komplementer
2. Edukasi dan Konseling:
- Berikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang nyeri kronis, penyebab, dan penatalaksanaannya
- Diskusikan strategi koping yang efektif untuk mengatasi nyeri kronis
- Bantu pasien mengidentifikasi dan mengatasi hambatan dalam melakukan aktivitas sehari-hari
3. Asuhan Keperawatan Holistik:
- Kaji dan pantau pola tidur pasien, serta berikan intervensi untuk meningkatkan kualitas tidur
- Lakukan pendekatan psikososial untuk mengatasi masalah terkait kecemasan, depresi, dan stress
- Libatkan keluarga dalam proses perawatan untuk memberikan dukungan sosial yang optimal
Dengan pendekatan komprehensif yang mencakup manajemen nyeri, edukasi, dan intervensi holistik, diharapkan pasien dengan nyeri kronis dapat mencapai luaran yang diharapkan, yaitu kontrol nyeri, peningkatan koping, fungsi aktivitas, kualitas tidur, dan kesejahteraan psikososial. -
Article No. 13848 | 12 Mar 2025
Klinis : Kasus 1. Pasien atas nama Ny.S 2. Perempuan 3. Usia 59 tahun 4. Pasien menikah kelas 5 SD 5. Pernikahan pasien pertama kali 6. Suami kedua kali 7. Pekerjaan pasien ibu rumah tangga 8. Pasien melahirkan spontan 5 anak dibantu dukun bayi 9. Anak pertama 17 tahun, kedua 19 tahun, ketiga 23 tahun, ke empat 25 thn, kelima 29 thn 10. Riwayat menstruasi pertama umur 14 tahun (SMP) 11. Menstruasi terakhir umur 44 thn Masuk IGD tanggal 25 Juli 2019 Keluhan : sakit perut, keluhan dirasakan sejak 7 hari yg lalu terasa terus menerus Keluhan yg muncul tiba tiba, gejala lain : •flek (+) •lemas •gemetar Flek dimulai sejak 7 hari yg lalu keluar darah dengan jumlah yg banyak dari jalan lahir, terdapat gumpalan hitam kecoklatan, terdapat lendir, darah segar. Lemas sejak 7 hari yg lalu, gemetar sejak pagi hari. •8 bulan yg lalu opname dengan keluhan nyeri perut dan kesulitan BAB •Beberapa bulan ini mengeluarkan darah sedikit (post menopause) dan makan minum pasien berkurang. Pasien tambah lebih kurus Pemeriksaan fisik: •Lemas •tampak dyspneu •kesadaran apatis (E3F4M6) Pemeriksaan ttv: •TD 110/70 mmhg •HR 85 x/menit •RR 33x/menit •T 36• C Pemeriksaan status generalis : •Kepala/leher normocephal, •konjungtiva anemis (+) •bibir kering (+) •bibir pucat (+) •bibir sianosis (-) •pembesaran KGB (-) Pemeriksaan torak paru: •Didapatkan inspeksi: deformitas (-) •retraksi interkostal (+) •pengembangan simetris •palpasi : gerakan dada simetris kanan kiri •perkusi : sonor •auskultasi: SDV (+/+) Pada pemeriksaan torak jantung : •Inspeksi: gerak ictus cordis tidak tampak •palpasi: ictus cordis teraba •perkusi: batas jantung normal •suara redup •auskultasi: BJ I-II dbn Pada pemeriksaan abdomen : •inspeksi: permukaan datar •auskultasi: peristaltik dbn •perkusi: timpani (+) •palpasi: nyeri tekan (-) Pada pemeriksaan ekstremitas : •akral hangat •pucat diujung jari tangan dan jari kaki CRT< 2 detik •ADP teraba lemah •tungkai udem (+/+) Integumentum : •turgor menurun dan ikterik (-) Pada pemeriksaan gynecologi : •VT :v/v taa, •vagina tidak rata •portio berdungkul •PPV (+) tidak aktif •sting (+) Pemeriksaan penunjang: •Dilakukan pemeriksaan DL •faal ginjal •erektrolit •biopsilesi Hasil DL tanggal 25 Juli 2019 : Didapatkan didapatkan HGB 5,1 g/dL (↓). PLT 426x103 /µL (↑), HCT 17,1% (↓), MCV 77,4 fL (↓), MCH 23,1 pg (↓), MCHC 29,8 g/dL (↓). Hasil DL tanggal 26 Juli 2019, didapatkan HGB 8,6 g/dL (↓). PLT 308x103 /µL, HCT 26,8% (↓), MCV 81,5 fL, MCH 25,8 pg (↓), MCHC 31,7 g/dL (↓). Hasil pemeriksaan faal ginjal : didapatkan BUN 99,3 mg/dl (↑) dan serum creatin 15,29 mg/dl (↑). Hasil pemeriksaan faal ginjal tanggal 26 Juli 2019, didapatkan BUN 47,3 mg/dl (↑) dan serum creatin 6,22 mg/dl (↑). Pemeriksaan elektrolit tgl 25 Juli 2019 didapatkan natrium: didapatkan natrium 136 mmol/lt, kalium 6,6 mmol/lt (↑), Clorida 105 mmol/lt, Kalsium ion 1,17 mmol/lt. Hasil pemeriksaan elektrolit tanggal 26 Juli 2019, didapatkan natrium 136 mmol/lt, kalium 7 mmol/lt (↑), Clorida 105 mmol/lt, Kalsium ion 1,29 mmol/lt. Biopsi lesi potongan jaringan tampak kelenjar sel anaplasi menyusup stroma jaringan ikat membentuk bahan keratin, kesimpulan: Cervix, Keratinizing Epidermoid Carcinoma.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kasus yang diberikan, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
Diagnosa Keperawatan:
1. Penurunan volume cairan berhubungan dengan perdarahan uterus dan malnutrisi ditandai dengan turgor kulit menurun, lemas, dyspneu, dan hemokonsentrasi.
2. Risiko infeksi berhubungan dengan terbukanya lesi pada serviks.
3. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan nyeri perut dan perdarahan.
4. Perubahan proses sistem reproduksi berhubungan dengan karsinoma serviks.
Penjelasan Singkat SDKI - SLKI - SIKI:
1. Penurunan volume cairan:
- SDKI: Penurunan volume cairan
- SLKI: Perawatan rehidrasi
- SIKI: Terapi cairan parenteral, Pemantauan cairan dan elektrolit
2. Risiko infeksi:
- SDKI: Risiko infeksi
- SLKI: Pencegahan infeksi
- SIKI: Perawatan luka, Pemberian obat anti-infeksi
3. Gangguan rasa nyaman nyeri:
- SDKI: Nyeri akut
- SLKI: Manajemen nyeri
- SIKI: Manajemen nyeri farmakologis, Manajemen nyeri non-farmakologis
4. Perubahan proses sistem reproduksi:
- SDKI: Perubahan proses sistem reproduksi
- SLKI: Perawatan kanker ginekologi
- SIKI: Perawatan paliatif, Edukasi kesehatan reproduksi
Secara umum, diagnosa keperawatan dan intervensi yang sesuai dengan kasus ini akan berfokus pada pengelolaan perdarahan, pencegahan infeksi, manajemen nyeri, dan perawatan paliatif untuk kanker serviks. Perawatan yang komprehensif dan kolaboratif dengan tim kesehatan lain sangat diperlukan untuk mengelola kondisi pasien secara efektif. -
Article No. 13849 | 12 Mar 2025
Klinis : Kasus 1. Pasien atas nama Ny.S 2. Perempuan 3. Usia 59 tahun 4. Pasien menikah kelas 5 SD 5. Pernikahan pasien pertama kali 6. Suami kedua kali 7. Pekerjaan pasien ibu rumah tangga 8. Pasien melahirkan spontan 5 anak dibantu dukun bayi 9. Anak pertama 17 tahun, kedua 19 tahun, ketiga 23 tahun, ke empat 25 thn, kelima 29 thn 10. Riwayat menstruasi pertama umur 14 tahun (SMP) 11. Menstruasi terakhir umur 44 thn Masuk IGD tanggal 25 Juli 2019 Keluhan : sakit perut, keluhan dirasakan sejak 7 hari yg lalu terasa terus menerus Keluhan yg muncul tiba tiba, gejala lain : •flek (+) •lemas •gemetar Flek dimulai sejak 7 hari yg lalu keluar darah dengan jumlah yg banyak dari jalan lahir, terdapat gumpalan hitam kecoklatan, terdapat lendir, darah segar. Lemas sejak 7 hari yg lalu, gemetar sejak pagi hari. •8 bulan yg lalu opname dengan keluhan nyeri perut dan kesulitan BAB •Beberapa bulan ini mengeluarkan darah sedikit (post menopause) dan makan minum pasien berkurang. Pasien tambah lebih kurus Pemeriksaan fisik: •Lemas •tampak dyspneu •kesadaran apatis (E3F4M6) Pemeriksaan ttv: •TD 110/70 mmhg •HR 85 x/menit •RR 33x/menit •T 36• C Pemeriksaan status generalis : •Kepala/leher normocephal, •konjungtiva anemis (+) •bibir kering (+) •bibir pucat (+) •bibir sianosis (-) •pembesaran KGB (-) Pemeriksaan torak paru: •Didapatkan inspeksi: deformitas (-) •retraksi interkostal (+) •pengembangan simetris •palpasi : gerakan dada simetris kanan kiri •perkusi : sonor •auskultasi: SDV (+/+) Pada pemeriksaan torak jantung : •Inspeksi: gerak ictus cordis tidak tampak •palpasi: ictus cordis teraba •perkusi: batas jantung normal •suara redup •auskultasi: BJ I-II dbn Pada pemeriksaan abdomen : •inspeksi: permukaan datar •auskultasi: peristaltik dbn •perkusi: timpani (+) •palpasi: nyeri tekan (-) Pada pemeriksaan ekstremitas : •akral hangat •pucat diujung jari tangan dan jari kaki CRT< 2 detik •ADP teraba lemah •tungkai udem (+/+) Integumentum : •turgor menurun dan ikterik (-) Pada pemeriksaan gynecologi : •VT :v/v taa, •vagina tidak rata •portio berdungkul •PPV (+) tidak aktif •sting (+) Pemeriksaan penunjang: •Dilakukan pemeriksaan DL •faal ginjal •erektrolit •biopsilesi Hasil DL tanggal 25 Juli 2019 : Didapatkan didapatkan HGB 5,1 g/dL (↓). PLT 426x103 /µL (↑), HCT 17,1% (↓), MCV 77,4 fL (↓), MCH 23,1 pg (↓), MCHC 29,8 g/dL (↓). Hasil DL tanggal 26 Juli 2019, didapatkan HGB 8,6 g/dL (↓). PLT 308x103 /µL, HCT 26,8% (↓), MCV 81,5 fL, MCH 25,8 pg (↓), MCHC 31,7 g/dL (↓). Hasil pemeriksaan faal ginjal : didapatkan BUN 99,3 mg/dl (↑) dan serum creatin 15,29 mg/dl (↑). Hasil pemeriksaan faal ginjal tanggal 26 Juli 2019, didapatkan BUN 47,3 mg/dl (↑) dan serum creatin 6,22 mg/dl (↑). Pemeriksaan elektrolit tgl 25 Juli 2019 didapatkan natrium: didapatkan natrium 136 mmol/lt, kalium 6,6 mmol/lt (↑), Clorida 105 mmol/lt, Kalsium ion 1,17 mmol/lt. Hasil pemeriksaan elektrolit tanggal 26 Juli 2019, didapatkan natrium 136 mmol/lt, kalium 7 mmol/lt (↑), Clorida 105 mmol/lt, Kalsium ion 1,29 mmol/lt. Biopsi lesi potongan jaringan tampak kelenjar sel anaplasi menyusup stroma jaringan ikat membentuk bahan keratin, kesimpulan: Cervix, Keratinizing Epidermoid Carcinoma.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang diberikan, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
Diagnosa Keperawatan:
1. Risiko Perdarahan Aktif (SDKI)
Definisi: Risiko perdarahan banyak atau terus-menerus yang dapat mengancam jiwa.
Faktor risiko: Perdarahan sebelum menopause, kelainan ginekologis, tumor ganas.
2. Intoleransi Aktivitas (SDKI)
Definisi: Ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari.
Gejala dan Tanda: Lemah, dyspneu, penurunan berat badan.
3. Ketidakseimbangan Elektrolit (SDKI)
Definisi: Ketidakseimbangan kadar elektrolit dalam darah.
Gejala dan Tanda: Mual, muntah, iritabilitas, kram otot, aritmia jantung.
Penjelasan Singkat SDKI - SLKI - SIKI:
1. Risiko Perdarahan Aktif (SDKI)
- SLKI: Efektif Mengatur Perfusi Jaringan, Efektif Mempertahankan Kesehatan Reproduksi.
- SIKI: Pemantauan Perdarahan, Intervensi Perdarahan, Manajemen Perdarahan.
2. Intoleransi Aktivitas (SDKI)
- SLKI: Efektif Meningkatkan Energi, Efektif Mempertahankan Fungsi Fisik.
- SIKI: Manajemen Energi, Manajemen Aktivitas, Manajemen Ketidaknyamanan.
3. Ketidakseimbangan Elektrolit (SDKI)
- SLKI: Efektif Mempertahankan Keseimbangan Cairan, Efektif Mempertahankan Keseimbangan Elektrolit.
- SIKI: Pemantauan Cairan dan Elektrolit, Intervensi Cairan dan Elektrolit, Manajemen Cairan dan Elektrolit. -
Article No. 13850 | 12 Mar 2025
Klinis : Kasus 1. Pasien atas nama Ny.S 2. Perempuan 3. Usia 59 tahun 4. Pasien menikah kelas 5 SD 5. Pernikahan pasien pertama kali 6. Suami kedua kali 7. Pekerjaan pasien ibu rumah tangga 8. Pasien melahirkan spontan 5 anak dibantu dukun bayi 9. Anak pertama 17 tahun, kedua 19 tahun, ketiga 23 tahun, ke empat 25 thn, kelima 29 thn 10. Riwayat menstruasi pertama umur 14 tahun (SMP) 11. Menstruasi terakhir umur 44 thn Masuk IGD tanggal 25 Juli 2019 Keluhan : sakit perut, keluhan dirasakan sejak 7 hari yg lalu terasa terus menerus Keluhan yg muncul tiba tiba, gejala lain : •flek (+) •lemas •gemetar Flek dimulai sejak 7 hari yg lalu keluar darah dengan jumlah yg banyak dari jalan lahir, terdapat gumpalan hitam kecoklatan, terdapat lendir, darah segar. Lemas sejak 7 hari yg lalu, gemetar sejak pagi hari. •8 bulan yg lalu opname dengan keluhan nyeri perut dan kesulitan BAB •Beberapa bulan ini mengeluarkan darah sedikit (post menopause) dan makan minum pasien berkurang. Pasien tambah lebih kurus Pemeriksaan fisik: •Lemas •tampak dyspneu •kesadaran apatis (E3F4M6) Pemeriksaan ttv: •TD 110/70 mmhg •HR 85 x/menit •RR 33x/menit •T 36• C Pemeriksaan status generalis : •Kepala/leher normocephal, •konjungtiva anemis (+) •bibir kering (+) •bibir pucat (+) •bibir sianosis (-) •pembesaran KGB (-) Pemeriksaan torak paru: •Didapatkan inspeksi: deformitas (-) •retraksi interkostal (+) •pengembangan simetris •palpasi : gerakan dada simetris kanan kiri •perkusi : sonor •auskultasi: SDV (+/+) Pada pemeriksaan torak jantung : •Inspeksi: gerak ictus cordis tidak tampak •palpasi: ictus cordis teraba •perkusi: batas jantung normal •suara redup •auskultasi: BJ I-II dbn Pada pemeriksaan abdomen : •inspeksi: permukaan datar •auskultasi: peristaltik dbn •perkusi: timpani (+) •palpasi: nyeri tekan (-) Pada pemeriksaan ekstremitas : •akral hangat •pucat diujung jari tangan dan jari kaki CRT< 2 detik •ADP teraba lemah •tungkai udem (+/+) Integumentum : •turgor menurun dan ikterik (-) Pada pemeriksaan gynecologi : •VT :v/v taa, •vagina tidak rata •portio berdungkul •PPV (+) tidak aktif •sting (+) Pemeriksaan penunjang: •Dilakukan pemeriksaan DL •faal ginjal •erektrolit •biopsilesi Hasil DL tanggal 25 Juli 2019 : Didapatkan didapatkan HGB 5,1 g/dL (↓). PLT 426x103 /µL (↑), HCT 17,1% (↓), MCV 77,4 fL (↓), MCH 23,1 pg (↓), MCHC 29,8 g/dL (↓). Hasil DL tanggal 26 Juli 2019, didapatkan HGB 8,6 g/dL (↓). PLT 308x103 /µL, HCT 26,8% (↓), MCV 81,5 fL, MCH 25,8 pg (↓), MCHC 31,7 g/dL (↓). Hasil pemeriksaan faal ginjal : didapatkan BUN 99,3 mg/dl (↑) dan serum creatin 15,29 mg/dl (↑). Hasil pemeriksaan faal ginjal tanggal 26 Juli 2019, didapatkan BUN 47,3 mg/dl (↑) dan serum creatin 6,22 mg/dl (↑). Pemeriksaan elektrolit tgl 25 Juli 2019 didapatkan natrium: didapatkan natrium 136 mmol/lt, kalium 6,6 mmol/lt (↑), Clorida 105 mmol/lt, Kalsium ion 1,17 mmol/lt. Hasil pemeriksaan elektrolit tanggal 26 Juli 2019, didapatkan natrium 136 mmol/lt, kalium 7 mmol/lt (↑), Clorida 105 mmol/lt, Kalsium ion 1,29 mmol/lt. Biopsi lesi potongan jaringan tampak kelenjar sel anaplasi menyusup stroma jaringan ikat membentuk bahan keratin, kesimpulan: Cervix, Keratinizing Epidermoid Carcinoma.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan informasi yang diberikan, berikut adalah kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur/tindakan medis:
1. Kode ICD-10:
- Kode: C53.9
- Deskripsi: Neoplasma ganas serviks uteri, bagian tidak terperinci
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 88.50
- Deskripsi: Biopsi jaringan tulang dan sumsum tulang, tidak diklasifikasikan di tempat lain
Penjelasan:
- Pasien Ny. S, perempuan usia 59 tahun, dengan keluhan utama sakit perut, flek dari jalan lahir, lemas, dan gemetar sejak 7 hari yang lalu. Terdapat riwayat perdarahan post-menopause dan penurunan berat badan.
- Pemeriksaan fisik menunjukkan tanda-tanda anemia, retraksi interkostal, nyeri tekan pada abdomen, dan adanya abnormalitas pada pemeriksaan ginekologi (vagina tidak rata, portio berdungkul, dan perdarahan pervaginam).
- Pemeriksaan penunjang menunjukkan anemia berat (Hb 5,1 g/dL), gangguan fungsi ginjal (peningkatan BUN dan kreatinin), dan hiperkalemia.
- Biopsi lesi menunjukkan gambaran histologi yang sesuai dengan karsinoma epidermoid yang berkeratinisasi pada serviks uteri.
- Berdasarkan hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang, diagnosis yang sesuai adalah Neoplasma ganas serviks uteri, bagian tidak terperinci (C53.9).
- Kode ICD-9-CM prosedur yang sesuai adalah biopsi jaringan tulang dan sumsum tulang (88.50), yang dilakukan untuk konfirmasi diagnosis. -
Article No. 13851 | 12 Mar 2025
Klinis : Kasus 1. Pasien atas nama Ny.S 2. Perempuan 3. Usia 59 tahun 4. Pasien menikah kelas 5 SD 5. Pernikahan pasien pertama kali 6. Suami kedua kali 7. Pekerjaan pasien ibu rumah tangga 8. Pasien melahirkan spontan 5 anak dibantu dukun bayi 9. Anak pertama 17 tahun, kedua 19 tahun, ketiga 23 tahun, ke empat 25 thn, kelima 29 thn 10. Riwayat menstruasi pertama umur 14 tahun (SMP) 11. Menstruasi terakhir umur 44 thn Masuk IGD tanggal 25 Juli 2019 Keluhan : sakit perut, keluhan dirasakan sejak 7 hari yg lalu terasa terus menerus Keluhan yg muncul tiba tiba, gejala lain : •flek (+) •lemas •gemetar Flek dimulai sejak 7 hari yg lalu keluar darah dengan jumlah yg banyak dari jalan lahir, terdapat gumpalan hitam kecoklatan, terdapat lendir, darah segar. Lemas sejak 7 hari yg lalu, gemetar sejak pagi hari. •8 bulan yg lalu opname dengan keluhan nyeri perut dan kesulitan BAB •Beberapa bulan ini mengeluarkan darah sedikit (post menopause) dan makan minum pasien berkurang. Pasien tambah lebih kurus Pemeriksaan fisik: •Lemas •tampak dyspneu •kesadaran apatis (E3F4M6) Pemeriksaan ttv: •TD 110/70 mmhg •HR 85 x/menit •RR 33x/menit •T 36• C Pemeriksaan status generalis : •Kepala/leher normocephal, •konjungtiva anemis (+) •bibir kering (+) •bibir pucat (+) •bibir sianosis (-) •pembesaran KGB (-) Pemeriksaan torak paru: •Didapatkan inspeksi: deformitas (-) •retraksi interkostal (+) •pengembangan simetris •palpasi : gerakan dada simetris kanan kiri •perkusi : sonor •auskultasi: SDV (+/+) Pada pemeriksaan torak jantung : •Inspeksi: gerak ictus cordis tidak tampak •palpasi: ictus cordis teraba •perkusi: batas jantung normal •suara redup •auskultasi: BJ I-II dbn Pada pemeriksaan abdomen : •inspeksi: permukaan datar •auskultasi: peristaltik dbn •perkusi: timpani (+) •palpasi: nyeri tekan (-) Pada pemeriksaan ekstremitas : •akral hangat •pucat diujung jari tangan dan jari kaki CRT< 2 detik •ADP teraba lemah •tungkai udem (+/+) Integumentum : •turgor menurun dan ikterik (-) Pada pemeriksaan gynecologi : •VT :v/v taa, •vagina tidak rata •portio berdungkul •PPV (+) tidak aktif •sting (+) Pemeriksaan penunjang: •Dilakukan pemeriksaan DL •faal ginjal •erektrolit •biopsilesi Hasil DL tanggal 25 Juli 2019 : Didapatkan didapatkan HGB 5,1 g/dL (↓). PLT 426x103 /µL (↑), HCT 17,1% (↓), MCV 77,4 fL (↓), MCH 23,1 pg (↓), MCHC 29,8 g/dL (↓). Hasil DL tanggal 26 Juli 2019, didapatkan HGB 8,6 g/dL (↓). PLT 308x103 /µL, HCT 26,8% (↓), MCV 81,5 fL, MCH 25,8 pg (↓), MCHC 31,7 g/dL (↓). Hasil pemeriksaan faal ginjal : didapatkan BUN 99,3 mg/dl (↑) dan serum creatin 15,29 mg/dl (↑). Hasil pemeriksaan faal ginjal tanggal 26 Juli 2019, didapatkan BUN 47,3 mg/dl (↑) dan serum creatin 6,22 mg/dl (↑). Pemeriksaan elektrolit tgl 25 Juli 2019 didapatkan natrium: didapatkan natrium 136 mmol/lt, kalium 6,6 mmol/lt (↑), Clorida 105 mmol/lt, Kalsium ion 1,17 mmol/lt. Hasil pemeriksaan elektrolit tanggal 26 Juli 2019, didapatkan natrium 136 mmol/lt, kalium 7 mmol/lt (↑), Clorida 105 mmol/lt, Kalsium ion 1,29 mmol/lt. Biopsi lesi potongan jaringan tampak kelenjar sel anaplasi menyusup stroma jaringan ikat membentuk bahan keratin, kesimpulan: Cervix, Keratinizing Epidermoid Carcinoma.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kasus yang telah diuraikan, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI-SLKI-SIKI sesuai standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
Diagnosa Keperawatan:
1. Perdarahan Uterus Abnormal (PUA) berhubungan dengan perdarahan vagina
2. Defisit Volume Cairan (DVK) berhubungan dengan penurunan intake dan peningkatan kehilangan cairan
3. Kelelahan (Fatigue) berhubungan dengan anemia
4. Intoleransi Aktivitas (IA) berhubungan dengan penurunan kemampuan fisik
Penjelasan singkat SDKI-SLKI-SIKI:
1. Perdarahan Uterus Abnormal (PUA) berhubungan dengan perdarahan vagina
- SDKI: Perdarahan yang keluar dari vagina selain menstruasi, dapat bervariasi dari bercak hingga perdarahan berat.
- SLKI: Pemantauan perdarahan, Manajemen perdarahan, Edukasi terkait perdarahan.
- SIKI: Perawatan perdarahan, Pemberian cairan/elektrolit, Edukasi tentang kondisi dan perawatan.
2. Defisit Volume Cairan (DVK) berhubungan dengan penurunan intake dan peningkatan kehilangan cairan
- SDKI: Penurunan volume cairan intravaskular, interstisial, dan/atau intraseluler.
- SLKI: Manajemen cairan, Pemantauan intake/output, Kolaborasi pemberian cairan/elektrolit.
- SIKI: Pemantauan status cairan, Pemberian cairan/elektrolit, Edukasi tentang manajemen cairan.
3. Kelelahan (Fatigue) berhubungan dengan anemia
- SDKI: Perasaan keletihan yang tidak sebanding dengan aktivitas yang dilakukan.
- SLKI: Manajemen energi, Manajemen aktivitas, Identifikasi penyebab kelelahan.
- SIKI: Perawatan anemia, Pemberian terapi antianemin, Edukasi tentang manajemen kelelahan.
4. Intoleransi Aktivitas (IA) berhubungan dengan penurunan kemampuan fisik
- SDKI: Ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas rutin.
- SLKI: Manajemen aktivitas, Manajemen energi, Peningkatan mobilitas.
- SIKI: Perawatan istrahat, Pemberian terapi oksigen, Edukasi tentang manajemen aktivitas.
Dengan pendekatan SDKI-SLKI-SIKI, perawat dapat mengidentifikasi masalah kesehatan pasien, merencanakan, dan melaksanakan intervensi keperawatan yang komprehensif dan sesuai dengan standar profesi. -
Article No. 13852 | 12 Mar 2025
Klinis : Kasus 1. Pasien atas nama Ny.S 2. Perempuan 3. Usia 59 tahun 4. Pasien menikah kelas 5 SD 5. Pernikahan pasien pertama kali 6. Suami kedua kali 7. Pekerjaan pasien ibu rumah tangga 8. Pasien melahirkan spontan 5 anak dibantu dukun bayi 9. Anak pertama 17 tahun, kedua 19 tahun, ketiga 23 tahun, ke empat 25 thn, kelima 29 thn 10. Riwayat menstruasi pertama umur 14 tahun (SMP) 11. Menstruasi terakhir umur 44 thn Masuk IGD tanggal 25 Juli 2019 Keluhan : sakit perut, keluhan dirasakan sejak 7 hari yg lalu terasa terus menerus Keluhan yg muncul tiba tiba, gejala lain : •flek (+) •lemas •gemetar Flek dimulai sejak 7 hari yg lalu keluar darah dengan jumlah yg banyak dari jalan lahir, terdapat gumpalan hitam kecoklatan, terdapat lendir, darah segar. Lemas sejak 7 hari yg lalu, gemetar sejak pagi hari. •8 bulan yg lalu opname dengan keluhan nyeri perut dan kesulitan BAB •Beberapa bulan ini mengeluarkan darah sedikit (post menopause) dan makan minum pasien berkurang. Pasien tambah lebih kurus Pemeriksaan fisik: •Lemas •tampak dyspneu •kesadaran apatis (E3F4M6) Pemeriksaan ttv: •TD 110/70 mmhg •HR 85 x/menit •RR 33x/menit •T 36• C Pemeriksaan status generalis : •Kepala/leher normocephal, •konjungtiva anemis (+) •bibir kering (+) •bibir pucat (+) •bibir sianosis (-) •pembesaran KGB (-) Pemeriksaan torak paru: •Didapatkan inspeksi: deformitas (-) •retraksi interkostal (+) •pengembangan simetris •palpasi : gerakan dada simetris kanan kiri •perkusi : sonor •auskultasi: SDV (+/+) Pada pemeriksaan torak jantung : •Inspeksi: gerak ictus cordis tidak tampak •palpasi: ictus cordis teraba •perkusi: batas jantung normal •suara redup •auskultasi: BJ I-II dbn Pada pemeriksaan abdomen : •inspeksi: permukaan datar •auskultasi: peristaltik dbn •perkusi: timpani (+) •palpasi: nyeri tekan (-) Pada pemeriksaan ekstremitas : •akral hangat •pucat diujung jari tangan dan jari kaki CRT< 2 detik •ADP teraba lemah •tungkai udem (+/+) Integumentum : •turgor menurun dan ikterik (-) Pada pemeriksaan gynecologi : •VT :v/v taa, •vagina tidak rata •portio berdungkul •PPV (+) tidak aktif •sting (+) Pemeriksaan penunjang: •Dilakukan pemeriksaan DL •faal ginjal •erektrolit •biopsilesi Hasil DL tanggal 25 Juli 2019 : Didapatkan didapatkan HGB 5,1 g/dL (↓). PLT 426x103 /µL (↑), HCT 17,1% (↓), MCV 77,4 fL (↓), MCH 23,1 pg (↓), MCHC 29,8 g/dL (↓). Hasil DL tanggal 26 Juli 2019, didapatkan HGB 8,6 g/dL (↓). PLT 308x103 /µL, HCT 26,8% (↓), MCV 81,5 fL, MCH 25,8 pg (↓), MCHC 31,7 g/dL (↓). Hasil pemeriksaan faal ginjal : didapatkan BUN 99,3 mg/dl (↑) dan serum creatin 15,29 mg/dl (↑). Hasil pemeriksaan faal ginjal tanggal 26 Juli 2019, didapatkan BUN 47,3 mg/dl (↑) dan serum creatin 6,22 mg/dl (↑). Pemeriksaan elektrolit tgl 25 Juli 2019 didapatkan natrium: didapatkan natrium 136 mmol/lt, kalium 6,6 mmol/lt (↑), Clorida 105 mmol/lt, Kalsium ion 1,17 mmol/lt. Hasil pemeriksaan elektrolit tanggal 26 Juli 2019, didapatkan natrium 136 mmol/lt, kalium 7 mmol/lt (↑), Clorida 105 mmol/lt, Kalsium ion 1,29 mmol/lt. Biopsi lesi potongan jaringan tampak kelenjar sel anaplasi menyusup stroma jaringan ikat membentuk bahan keratin, kesimpulan: Cervix, Keratinizing Epidermoid Carcinoma. Carilah kriteria hasil intervensi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kasus di atas, berikut adalah Diagnosa Keperawatan, penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia, serta kriteria hasil intervensi untuk pasien Ny. S:
Diagnosa Keperawatan:
1. Perdarahan Uterus Abnormal berhubungan dengan Keratinizing Epidermoid Carcinoma Cerviks.
2. Risiko Kekurangan Volume Cairan berhubungan dengan Penurunan Asupan Cairan.
3. Gangguan Keseimbangan Elektrolit berhubungan dengan Ketidakseimbangan Keluaran dan Masukan.
Penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI:
1. Perdarahan Uterus Abnormal:
- SDKI: Keluaran darah melalui vagina yang tidak sesuai dengan siklus menstruasi normal.
- SLKI: Pemulihan kondisi perdarahan uterus abnormal yang terkontrol.
- SIKI: Intervensi untuk mengendalikan perdarahan uterus abnormal.
2. Risiko Kekurangan Volume Cairan:
- SDKI: Keadaan di mana individu berisiko mengalami penurunan volume cairan tubuh.
- SLKI: Pemulihan kondisi volume cairan tubuh yang optimal.
- SIKI: Intervensi untuk mempertahankan volume cairan tubuh yang optimal.
3. Gangguan Keseimbangan Elektrolit:
- SDKI: Keadaan di mana individu mengalami ketidakseimbangan konsentrasi elektrolit dalam cairan tubuh.
- SLKI: Pemulihan kondisi keseimbangan elektrolit tubuh yang optimal.
- SIKI: Intervensi untuk mempertahankan keseimbangan elektrolit tubuh yang optimal.
Kriteria Hasil Intervensi:
1. Perdarahan Uterus Abnormal:
- Pasien menunjukkan pola perdarahan yang terkontrol.
- Tidak ada tanda-tanda perdarahan aktif.
- Pasien menunjukkan peningkatan hematokrit dan hemoglobin.
2. Risiko Kekurangan Volume Cairan:
- Pasien menunjukkan peningkatan turgor kulit dan mukosa.
- Pasien menunjukkan perbaikan tanda-tanda vital (TD, nadi, RR).
- Pasien menunjukkan peningkatan kadar elektrolit dalam batas normal.
3. Gangguan Keseimbangan Elektrolit:
- Pasien menunjukkan kadar elektrolit (natrium, kalium, klorida, kalsium) dalam batas normal.
- Tidak ada tanda-tanda gangguan keseimbangan elektrolit (kebingungan, mual, kram otot, aritmia).
- Pasien menunjukkan peningkatan status hidrasi (turgor kulit, pengisian kapiler).
Dengan tone akademis dan persona pakar perawat, diharapkan penjelasan di atas dapat memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai diagnosa keperawatan, standar SDKI-SLKI-SIKI, serta kriteria hasil intervensi yang sesuai dengan kasus Ny. S. -
Article No. 13853 | 12 Mar 2025
Klinis : Kasus 1. Pasien atas nama Ny.S 2. Perempuan 3. Usia 59 tahun 4. Pasien menikah kelas 5 SD 5. Pernikahan pasien pertama kali 6. Suami kedua kali 7. Pekerjaan pasien ibu rumah tangga 8. Pasien melahirkan spontan 5 anak dibantu dukun bayi 9. Anak pertama 17 tahun, kedua 19 tahun, ketiga 23 tahun, ke empat 25 thn, kelima 29 thn 10. Riwayat menstruasi pertama umur 14 tahun (SMP) 11. Menstruasi terakhir umur 44 thn Masuk IGD tanggal 25 Juli 2019 Keluhan : sakit perut, keluhan dirasakan sejak 7 hari yg lalu terasa terus menerus Keluhan yg muncul tiba tiba, gejala lain : •flek (+) •lemas •gemetar Flek dimulai sejak 7 hari yg lalu keluar darah dengan jumlah yg banyak dari jalan lahir, terdapat gumpalan hitam kecoklatan, terdapat lendir, darah segar. Lemas sejak 7 hari yg lalu, gemetar sejak pagi hari. •8 bulan yg lalu opname dengan keluhan nyeri perut dan kesulitan BAB •Beberapa bulan ini mengeluarkan darah sedikit (post menopause) dan makan minum pasien berkurang. Pasien tambah lebih kurus Pemeriksaan fisik: •Lemas •tampak dyspneu •kesadaran apatis (E3F4M6) Pemeriksaan ttv: •TD 110/70 mmhg •HR 85 x/menit •RR 33x/menit •T 36• C Pemeriksaan status generalis : •Kepala/leher normocephal, •konjungtiva anemis (+) •bibir kering (+) •bibir pucat (+) •bibir sianosis (-) •pembesaran KGB (-) Pemeriksaan torak paru: •Didapatkan inspeksi: deformitas (-) •retraksi interkostal (+) •pengembangan simetris •palpasi : gerakan dada simetris kanan kiri •perkusi : sonor •auskultasi: SDV (+/+) Pada pemeriksaan torak jantung : •Inspeksi: gerak ictus cordis tidak tampak •palpasi: ictus cordis teraba •perkusi: batas jantung normal •suara redup •auskultasi: BJ I-II dbn Pada pemeriksaan abdomen : •inspeksi: permukaan datar •auskultasi: peristaltik dbn •perkusi: timpani (+) •palpasi: nyeri tekan (-) Pada pemeriksaan ekstremitas : •akral hangat •pucat diujung jari tangan dan jari kaki CRT< 2 detik •ADP teraba lemah •tungkai udem (+/+) Integumentum : •turgor menurun dan ikterik (-) Pada pemeriksaan gynecologi : •VT :v/v taa, •vagina tidak rata •portio berdungkul •PPV (+) tidak aktif •sting (+) Pemeriksaan penunjang: •Dilakukan pemeriksaan DL •faal ginjal •erektrolit •biopsilesi Hasil DL tanggal 25 Juli 2019 : Didapatkan didapatkan HGB 5,1 g/dL (↓). PLT 426x103 /µL (↑), HCT 17,1% (↓), MCV 77,4 fL (↓), MCH 23,1 pg (↓), MCHC 29,8 g/dL (↓). Hasil DL tanggal 26 Juli 2019, didapatkan HGB 8,6 g/dL (↓). PLT 308x103 /µL, HCT 26,8% (↓), MCV 81,5 fL, MCH 25,8 pg (↓), MCHC 31,7 g/dL (↓). Hasil pemeriksaan faal ginjal : didapatkan BUN 99,3 mg/dl (↑) dan serum creatin 15,29 mg/dl (↑). Hasil pemeriksaan faal ginjal tanggal 26 Juli 2019, didapatkan BUN 47,3 mg/dl (↑) dan serum creatin 6,22 mg/dl (↑). Pemeriksaan elektrolit tgl 25 Juli 2019 didapatkan natrium: didapatkan natrium 136 mmol/lt, kalium 6,6 mmol/lt (↑), Clorida 105 mmol/lt, Kalsium ion 1,17 mmol/lt. Hasil pemeriksaan elektrolit tanggal 26 Juli 2019, didapatkan natrium 136 mmol/lt, kalium 7 mmol/lt (↑), Clorida 105 mmol/lt, Kalsium ion 1,29 mmol/lt. Biopsi lesi potongan jaringan tampak kelenjar sel anaplasi menyusup stroma jaringan ikat membentuk bahan keratin, kesimpulan: Cervix, Keratinizing Epidermoid Carcinoma. Carilah kriteria hasil intervensi dengan diagnosa intoleransi aktivitas
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan informasi kasus yang diberikan, berikut adalah diagnosa keperawatan, penjelasan singkat standar SDKI-SLKI-SIKI, dan kriteria hasil intervensi untuk diagnosa intoleransi aktivitas:
Diagnosa Keperawatan:
1. Intoleransi Aktivitas
Penjelasan singkat SDKI-SLKI-SIKI:
Intoleransi Aktivitas: Ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas rutin yang diinginkan atau dibutuhkan akibat adanya keterbatasan pada energi, kekuatan, kapasitas atau stamina.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Definisi: Ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas rutin yang diinginkan atau dibutuhkan akibat adanya keterbatasan pada energi, kekuatan, kapasitas atau stamina.
- Penyebab: Ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen, kelelahan, penurunan fungsi neuromuskular, nyeri, gejala penyakit, malnutrisi, dan obesitas.
- Gejala dan Tanda: Aktivitas fisik terbatas, kelelahan, sesak napas, palpitasi, dan nyeri.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Kriteria Hasil: Mampu melakukan aktivitas rutin yang diinginkan atau dibutuhkan, tidak ada keluhan kelelahan atau sesak napas saat aktivitas, dan tanda-tanda vital dalam batas normal.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Intervensi Keperawatan: Manajemen energi, latihan aktivitas, dan pemberian suplemen/nutrisi.
Kriteria Hasil Intervensi untuk Diagnosa Intoleransi Aktivitas:
1. Pasien dapat melakukan aktivitas fisik sehari-hari tanpa mengalami kelelahan yang berlebihan.
2. Pasien menunjukkan peningkatan toleransi aktivitas fisik yang diukur melalui tanda-tanda vital yang stabil selama dan setelah beraktivitas.
3. Pasien melaporkan peningkatan kemampuan dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
4. Pasien menunjukkan peningkatan kemampuan dalam memenuhi kebutuhan dasar dan aktivitas perawatan diri.
5. Pasien menunjukkan peningkatan semangat dan motivasi dalam melakukan aktivitas. -
Article No. 13854 | 12 Mar 2025
Klinis : pasien mengatakan mual dan muntah sudah dia hari, satu hari muntah 3 kali atau bahkan lebih
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan gejala yang Anda sampaikan, yaitu pasien mengeluhkan mual dan muntah yang terjadi selama beberapa hari dengan frekuensi muntah 3 kali atau lebih per hari, maka dapat diberikan kode diagnosa dan prosedur sebagai berikut:
1. Kode ICD-10:
- Kode: R11.2
- Deskripsi: Mual dan muntah, tidak spesifik
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 94.1
- Deskripsi: Pemberian cairan intravena dan elektrolit
Penjelasan:
1. Kode ICD-10 R11.2 (Mual dan muntah, tidak spesifik):
- Kode ini digunakan untuk menggambarkan kondisi mual dan muntah yang terjadi tanpa penyebab yang jelas atau teridentifikasi.
- Gejala mual dan muntah yang dialami pasien selama beberapa hari dengan frekuensi yang cukup tinggi (3 kali atau lebih per hari) sesuai dengan kode ini.
2. Kode ICD-9-CM Procedure 94.1 (Pemberian cairan intravena dan elektrolit):
- Kode ini menggambarkan prosedur pemberian cairan intravena dan elektrolit, yang mungkin diperlukan untuk mengatasi kehilangan cairan dan elektrolit akibat muntah yang berulang.
- Pemberian cairan intravena dan elektrolit dapat membantu menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh, mencegah dehidrasi, dan mempercepat pemulihan pasien.
Dalam penanganan kasus ini, selain pemberian cairan intravena dan elektrolit, dokter juga mungkin akan melakukan evaluasi lebih lanjut untuk mengetahui penyebab mual dan muntah yang dialami pasien, serta memberikan pengobatan atau intervensi lain yang sesuai. -
Article No. 13855 | 12 Mar 2025
Klinis : seorang pria berusia 35 tahun mengalami kecelakaan lalu lintas setelah sepeda motornya bertabrakan dengan mobil, saat ditemukan oleh tim medis pasien tampak gelisah, mengalami dispnea berat, dan menggunakan otot bantu napas. Pemeriksaan awal menunjukkan adanya asimetri gerakan dada, hipersonor pada perkusi hemitoraks kanan, dan suara napas menurun pada sisi yang sama. Pasien juga menunjukkan tanda-tanda syok, termasuk takikardia dan hipotensi. Mahasiswa yang sedang bertugas di unit gawat darurat diberikan kasus ini untuk melakukan manajemen jalan napas dan pernapasan sesuai dengan prosedur kegawatdaruratan., mengalami dispnea berat, dan menggunakan otot bantu napas. Pemeriksaan awal menunjukkan adanya asimetri gerakan dada, hipersonor pada perkusi hemitoraks kanan, dan suara napas menurun pada sisi yang sama. Pasien juga menunjukkan tanda-tanda syok, termasuk takikardia dan hipotensi. Mahasiswa yang sedang bertugas di unit gawat darurat diberikan kasus ini untuk melakukan manajemen jalan napas dan pernapasan sesuai dengan prosedur kegawatdaruratan.
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai untuk kondisi pasien tersebut:
1. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
- Definisi: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau rintangan jalan napas untuk mempertahankan jalan napas yang terbuka.
- Penyebab: Trauma yang menyebabkan obstruksi jalan napas, penggunaan otot bantu napas yang berlebihan, dan perubahan pada fungsi paru-paru.
2. Pola Napas Tidak Efektif
- Definisi: Inspirasi dan/atau ekspirasi yang tidak memberikan ventilasi adekuat.
- Penyebab: Cedera pada dinding dada, perubahan pada fungsi paru-paru, dan peningkatan usaha napas.
3. Risiko Perfusi Jaringan Tidak Efektif
- Definisi: Berisiko mengalami penurunan sirkulasi darah ke jaringan tubuh yang dapat membahayakan kesehatan.
- Penyebab: Syok hipovolemik, perubahan pada fungsi kardiovaskular, dan cedera pada struktur tubuh.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Bersihan Jalan Napas Efektif
- Definisi: Kemampuan untuk membersihkan sekret atau rintangan jalan napas dan mempertahankan jalan napas yang terbuka.
- Indikator:
- Jalan napas paten
- Suara napas normal
- Tidak ada sekret yang mengganggu
2. Pola Napas Efektif
- Definisi: Inspirasi dan ekspirasi yang memberikan ventilasi adekuat.
- Indikator:
- Frekuensi napas dalam rentang normal
- Kedalaman napas dalam rentang normal
- Tidak ada penggunaan otot bantu napas yang berlebihan
3. Perfusi Jaringan Efektif
- Definisi: Sirkulasi darah yang adekuat ke jaringan tubuh.
- Indikator:
- Tekanan darah dalam rentang normal
- Nadi dalam rentang normal
- Capillary refill dalam 2-3 detik
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif:
- Manajemen Jalan Napas
- Penghisapan Sekret
- Terapi Oksigen
2. Pola Napas Tidak Efektif:
- Manajemen Ventilasi Mekanis
- Terapi Oksigen
- Manajemen Nyeri
3. Risiko Perfusi Jaringan Tidak Efektif:
- Manajemen Syok
- Manajemen Cairan
- Pemantauan Hemodinamik
Penjelasan rinci untuk setiap intervensi:
1. Manajemen Jalan Napas:
- Buka jalan napas dengan teknik head-tilt, chin-lift atau jaw-thrust
- Lakukan intubasi endotrakeal atau pemberian oksigen melalui alat bantu pernapasan lainnya jika diperlukan
2. Penghisapan Sekret:
- Identifikasi kebutuhan penghisapan sekret
- Lakukan prosedur penghisapan sekret dengan aman dan efektif
3. Terapi Oksigen:
- Berikan oksigen sesuai kebutuhan pasien untuk meningkatkan oksigenasi
- Pantau saturasi oksigen dan tanda-tanda hipoksemia
4. Manajemen Ventilasi Mekanis:
- Atur ventilator sesuai kondisi pasien untuk mempertahankan ventilasi adekuat
- Pantau parameter ventilasi dan penyesuaian yang diperlukan
5. Manajemen Nyeri:
- Identifikasi dan evaluasi nyeri yang dialami pasien
- Berikan analgesik sesuai indikasi untuk mengurangi nyeri
6. Manajemen Syok:
- Kaji tanda-tanda syok dan penyebabnya
- Berikan resusitasi cairan dan/atau vasopresor jika diperlukan
7. Manajemen Cairan:
- Pantau intake dan output cairan
- Berikan cairan intravena sesuai kebutuhan pasien
8. Pemantauan Hemodinamik:
- Pantau tanda-tanda vital secara berkala
- Lakukan pemeriksaan penunjang terkait status hemodinamik jika diperlukan
Asuhan keperawatan yang tepat dan komprehensif sangat penting untuk memulihkan kondisi pasien yang mengalami cedera akibat kecelakaan lalu lintas ini. -
Article No. 13856 | 12 Mar 2025
Klinis : Kasus 1. Pasien atas nama Ny.S 2. Perempuan 3. Usia 59 tahun 4. Pasien menikah kelas 5 SD 5. Pernikahan pasien pertama kali 6. Suami kedua kali 7. Pekerjaan pasien ibu rumah tangga 8. Pasien melahirkan spontan 5 anak dibantu dukun bayi 9. Anak pertama 17 tahun, kedua 19 tahun, ketiga 23 tahun, ke empat 25 thn, kelima 29 thn 10. Riwayat menstruasi pertama umur 14 tahun (SMP) 11. Menstruasi terakhir umur 44 thn Masuk IGD tanggal 25 Juli 2019 Keluhan : sakit perut, keluhan dirasakan sejak 7 hari yg lalu terasa terus menerus Keluhan yg muncul tiba tiba, gejala lain : •flek (+) •lemas •gemetar Flek dimulai sejak 7 hari yg lalu keluar darah dengan jumlah yg banyak dari jalan lahir, terdapat gumpalan hitam kecoklatan, terdapat lendir, darah segar. Lemas sejak 7 hari yg lalu, gemetar sejak pagi hari. •8 bulan yg lalu opname dengan keluhan nyeri perut dan kesulitan BAB •Beberapa bulan ini mengeluarkan darah sedikit (post menopause) dan makan minum pasien berkurang. Pasien tambah lebih kurus Pemeriksaan fisik: •Lemas •tampak dyspneu •kesadaran apatis (E3F4M6) Pemeriksaan ttv: •TD 110/70 mmhg •HR 85 x/menit •RR 33x/menit •T 36• C Pemeriksaan status generalis : •Kepala/leher normocephal, •konjungtiva anemis (+) •bibir kering (+) •bibir pucat (+) •bibir sianosis (-) •pembesaran KGB (-) Pemeriksaan torak paru: •Didapatkan inspeksi: deformitas (-) •retraksi interkostal (+) •pengembangan simetris •palpasi : gerakan dada simetris kanan kiri •perkusi : sonor •auskultasi: SDV (+/+) Pada pemeriksaan torak jantung : •Inspeksi: gerak ictus cordis tidak tampak •palpasi: ictus cordis teraba •perkusi: batas jantung normal •suara redup •auskultasi: BJ I-II dbn Pada pemeriksaan abdomen : •inspeksi: permukaan datar •auskultasi: peristaltik dbn •perkusi: timpani (+) •palpasi: nyeri tekan (-) Pada pemeriksaan ekstremitas : •akral hangat •pucat diujung jari tangan dan jari kaki CRT< 2 detik •ADP teraba lemah •tungkai udem (+/+) Integumentum : •turgor menurun dan ikterik (-) Pada pemeriksaan gynecologi : •VT :v/v taa, •vagina tidak rata •portio berdungkul •PPV (+) tidak aktif •sting (+) Pemeriksaan penunjang: •Dilakukan pemeriksaan DL •faal ginjal •erektrolit •biopsilesi Hasil DL tanggal 25 Juli 2019 : Didapatkan didapatkan HGB 5,1 g/dL (↓). PLT 426x103 /µL (↑), HCT 17,1% (↓), MCV 77,4 fL (↓), MCH 23,1 pg (↓), MCHC 29,8 g/dL (↓). Hasil DL tanggal 26 Juli 2019, didapatkan HGB 8,6 g/dL (↓). PLT 308x103 /µL, HCT 26,8% (↓), MCV 81,5 fL, MCH 25,8 pg (↓), MCHC 31,7 g/dL (↓). Hasil pemeriksaan faal ginjal : didapatkan BUN 99,3 mg/dl (↑) dan serum creatin 15,29 mg/dl (↑). Hasil pemeriksaan faal ginjal tanggal 26 Juli 2019, didapatkan BUN 47,3 mg/dl (↑) dan serum creatin 6,22 mg/dl (↑). Pemeriksaan elektrolit tgl 25 Juli 2019 didapatkan natrium: didapatkan natrium 136 mmol/lt, kalium 6,6 mmol/lt (↑), Clorida 105 mmol/lt, Kalsium ion 1,17 mmol/lt. Hasil pemeriksaan elektrolit tanggal 26 Juli 2019, didapatkan natrium 136 mmol/lt, kalium 7 mmol/lt (↑), Clorida 105 mmol/lt, Kalsium ion 1,29 mmol/lt. Biopsi lesi potongan jaringan tampak kelenjar sel anaplasi menyusup stroma jaringan ikat membentuk bahan keratin, kesimpulan: Cervix, Keratinizing Epidermoid Carcinoma.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan informasi yang diberikan, diagnosa keperawatan yang dapat dirumuskan untuk Ny.S adalah sebagai berikut:
1. Diagnosa Keperawatan (SDKI):
a. Perdarahan vagina berhubungan dengan kanker serviks
b. Defisit volume cairan berhubungan dengan penurunan asupan dan peningkatan kehilangan cairan
c. Penurunan suplai darah berhubungan dengan anemia
2. Penjelasan Singkat:
a. Perdarahan vagina berhubungan dengan kanker serviks
- Pasien mengalami perdarahan vagina yang banyak dengan adanya gumpalan darah dan lendir, serta flek darah sejak 7 hari yang lalu. Hal ini menunjukkan adanya kelainan pada serviks yang kemungkinan disebabkan oleh kanker serviks.
b. Defisit volume cairan berhubungan dengan penurunan asupan dan peningkatan kehilangan cairan
- Pasien mengalami gejala-gejala seperti lemas, dyspneu, bibir kering, turgor kulit menurun, dan penurunan berat badan yang menunjukkan adanya defisit volume cairan. Hal ini disebabkan oleh penurunan asupan makan dan minum, serta peningkatan kehilangan cairan akibat perdarahan vagina yang banyak.
c. Penurunan suplai darah berhubungan dengan anemia
- Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan penurunan kadar hemoglobin, hematokrit, MCV, MCH, dan MCHC, yang menandakan adanya anemia. Hal ini dapat menyebabkan penurunan suplai darah ke seluruh tubuh.
3. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) yang dapat digunakan:
- SDKI: Perdarahan vagina, Defisit volume cairan, Penurunan suplai darah
- SLKI: Kontrol perdarahan, Keseimbangan cairan, Perfusi jaringan perifer
- SIKI: Manajemen perdarahan, Manajemen cairan, Peningkatan perfusi jaringan
Dalam memberikan asuhan keperawatan, perawat harus mempertimbangkan riwayat kesehatan pasien, pemeriksaan fisik, hasil pemeriksaan penunjang, serta kondisi terkini pasien untuk menentukan prioritas masalah keperawatan dan intervensi yang sesuai.