Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 13998 | 13 Mar 2025
Klinis : Pengkajian kulit yang harus diperhatikan saat perawat membantu klien mandi adalah : Select one: a. Lesi, warna kulit b. Keadaan mukosa, getah, ikterik c. Botak, ketombe, berkutu d. Bentuk , ikterik, mukosa e. Warna kulit, lesi, pruritus
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Jawaban yang tepat adalah:
e. Warna kulit, lesi, pruritus
Penjelasan:
Saat perawat membantu klien mandi, pengkajian kulit yang harus diperhatikan adalah:
1. Warna kulit: normal, pucat, kemerahan, kekuningan, dll.
2. Lesi: adanya kelainan pada kulit seperti bintik-bintik, benjolan, lecet, dll.
3. Pruritus: adanya rasa gatal pada kulit.
Standar diagnosa keperawatan berdasarkan SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) yang diterbitkan oleh PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia) adalah alat bantu bagi perawat dalam menentukan diagnosa, luaran, dan intervensi keperawatan yang tepat sesuai dengan kondisi klien. -
Article No. 13999 | 13 Mar 2025
Klinis : Seorang laki laki 42 tahun , di rawat di bangsal dahlia akibat jatuh dari pohon , pasien tersebut mengalami inkontinensia urin, menurut anda permasalahan keperawatan terkait gangguan eliminasi yang dialami oleh pasien adalah : Select one: a. Gangguan rasa nyaman b. Perubahan dalam eliminasi urin c. Gangguan activity daily living d. Resiko deficit volume cairan e. Resiko infeksi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang Anda deskripsikan, permasalahan keperawatan terkait gangguan eliminasi yang dialami oleh pasien adalah:
b. Perubahan dalam eliminasi urin
Penjelasan:
Pasien mengalami inkontinensia urin, yang merupakan gangguan pada eliminasi urin. Diagnosis keperawatan yang sesuai adalah "Perubahan dalam eliminasi urin" berdasarkan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI).
Penjelasan singkat:
- SDKI adalah standar diagnosis keperawatan yang digunakan di Indonesia, disusun oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI).
- SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) adalah standar lainnya yang juga disusun oleh PPNI.
- Diagnosis keperawatan "Perubahan dalam eliminasi urin" menggambarkan adanya perubahan atau gangguan pada proses eliminasi urin, seperti inkontinensia yang dialami oleh pasien.
Dengan nada akademis dan persona sebagai pakar perawat, saya menyimpulkan bahwa diagnosis keperawatan yang paling sesuai dengan kondisi pasien adalah "Perubahan dalam eliminasi urin". -
Article No. 14000 | 13 Mar 2025
Klinis : Kasus 7 (penginderaan) Seorang laki-laki berusia 18 tahun dirawat di RS dengan keluhan nyeri hebat di belakang telinga kanan, yang disertai demam tinggi sejak 3 hari terakhir. Orang tua pasien mengatakan bahwa anaknya mengalami infeksi telinga tengah berulang sejak kecil, dan sebelumnya telah mengalami otitis media akut sekitar 2 minggu lalu, tetapi tidak mendapatkan pengobatan antibiotik secara tuntas. Sejak dua hari terakhir, orang tua pasien juga memperhatikan bahwa telinga kanan anak terlihat menonjol, dan ada pembengkakan serta kemerahan di belakang telinga. Anak juga mengeluhkan sakit kepala dan penurunan nafsu makan. Pemeriksaan Fisik Keadaan umum: Tampak lemah, menangis karena nyeri. Tanda vital: Tekanan darah: 100/70 mmHg. HR: 110x/menit. RR: 24x/menit. Suhu: 39,2°C. Telinga kanan: Pinna telinga terdorong ke depan. Pembengkakan dan kemerahan (+) di daerah mastoid. Nyeri tekan mastoid (+). Otorrhea purulen (+) dari liang telinga. Neurologis: Tidak ditemukan tanda-tanda defisit neurologis saat ini. Hasil Pemeriksaan Penunjang Otoscopic Examination (Pemeriksaan Otoskopi): Membran timpani tampak menonjol, berwarna merah, dan tidak dapat bergerak, Adanya cairan purulen dalam liang telinga. Pemeriksaan Laboratorium: Darah lengkap: Leukositosis (15.500/μL) → indikasi infeksi, CRP meningkat (>10 mg/L)→ indikasi inflamasi aktif, LED meningkat (45 mm/jam) indikasi infeksi atau inflamasi. Kultur cairan telinga: Pertumbuhan bakteri (Streptococcus pneumoniae /Staphylococcus aureus) (+). Pemeriksaan Radiologi: X-ray Mastoid: Tampak pemusnahan trabekula tulang mastoid yang mengindikasikan mastoiditis. CT-Scan Temporal Bone: Efusi cairan purulen dalam rongga mastoid, Erosi tulang mastoid (+), Tidak ditemukan abses intrakranial atau komplikasi lainnya. Diagnosis Medis: Mastoiditis akut akibat otitis media supuratif kronik. Pasien direncanakan untuk mendapatkan terapi antibiotik IV, analgesik, serta evaluasi pembedahan (mastoidectomy) jika tidak ada perbaikan dalam 48 jam.
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan, luaran/output, dan intervensi keperawatan yang sesuai untuk kasus penginderaan yang Anda berikan.
Diagnosa Keperawatan SDKI:
1. Nyeri Akut
- Definisi: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial, atau dijelaskan dalam istilah kerusakan tersebut.
- Penyebab: Infeksi telinga tengah dan mastoiditis.
- Karakteristik: Pasien mengeluhkan nyeri hebat di belakang telinga kanan, menangis karena nyeri.
2. Risiko Infeksi
- Definisi: Rentan terhadap invasi dan multiplikasi organisme patogen yang dapat membahayakan kesehatan.
- Faktor Risiko: Riwayat infeksi telinga tengah berulang, otitis media akut yang tidak diobati dengan tuntas, pemusnahan trabekula tulang mastoid.
- Tanda dan Gejala: Demam tinggi, leukositosis, CRP meningkat, kultur cairan telinga positif pertumbuhan bakteri.
3. Gangguan Persepsi Sensori: Pendengaran
- Definisi: Perubahan dalam kemampuan menerima rangsangan auditori.
- Penyebab: Infeksi telinga tengah dan mastoiditis dengan efusi cairan purulen dalam rongga mastoid dan erosi tulang mastoid.
- Karakteristik: Otorrhea purulen dari liang telinga kanan, membran timpani tampak menonjol, berwarna merah, dan tidak dapat bergerak.
Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI):
1. Kontrol Nyeri
- Kriteria Hasil: Pasien melaporkan nyeri berkurang, tampak rileks, dan dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan nyaman.
2. Pencegahan Infeksi
- Kriteria Hasil: Tidak terjadi peningkatan tanda dan gejala infeksi, tidak ada komplikasi infeksi, hasil kultur negatif.
3. Pendengaran Membaik
- Kriteria Hasil: Pasien dapat mendengar dengan baik, tidak ada keluhan gangguan pendengaran, hasil pemeriksaan otoskopi membaik.
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Manajemen Nyeri
- Identifikasi faktor penyebab nyeri
- Kaji intensitas, karakteristik, lokasi, dan durasi nyeri
- Berikan analgesik sesuai dengan resep
- Berikan terapi panas/dingin pada area yang nyeri
- Ajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri
2. Pencegahan Infeksi
- Pantau tanda dan gejala infeksi
- Pertahankan teknik aseptik saat perawatan
- Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai hasil kultur
- Edukasi pasien dan keluarga tentang pencegahan infeksi
3. Peningkatan Pendengaran
- Pantau fungsi pendengaran melalui pemeriksaan otoskopi
- Berikan tindakan pembersihan telinga sesuai indikasi
- Kolaborasi pemberikan terapi farmakologis (antibiotik, antiperadangan)
- Edukasi pasien dan keluarga tentang perawatan telinga
Penjelasan yang rinci dan terperinci di atas mencakup diagnosa keperawatan, luaran/output yang diharapkan, serta intervensi keperawatan yang diperlukan untuk mengatasi masalah pada kasus penginderaan yang diberikan. Pendekatan yang digunakan adalah berdasarkan standar diagnosa, luaran, dan intervensi keperawatan (SDKI, SLKI, SIKI) yang berlaku. -
Article No. 14001 | 13 Mar 2025
Klinis : Seorang Laki-laki, 20 tahun. Tidur dengan kondisi aktivitas fisiologis menurun, tanda vital dan metabolisme menurun bertahap. Mudah terbangun . Orang tersebut dalam tahapan tidur: Select one: a. NREM tahap 1 b. REM c. NREM tahap 4 d. NREM e. REM tahap 1
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan analisis diagnosa keperawatan berdasarkan kondisi yang Anda berikan, dengan menggunakan standar Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) yaitu SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia).
Berdasarkan kondisi yang Anda uraikan, yaitu seorang laki-laki berusia 20 tahun yang mengalami penurunan aktivitas fisiologis, tanda vital, dan metabolisme secara bertahap serta mudah terbangun, maka dapat diidentifikasi bahwa kondisi tersebut sesuai dengan NREM (Non-Rapid Eye Movement) tahap 4.
Diagnosis keperawatan yang sesuai dengan kondisi tersebut adalah:
1. Gangguan Pola Tidur
- SDKI: Gangguan Pola Tidur
- SLKI: Tidur Terjaga
- SIKI: Manajemen Tidur
Penjelasan:
Pasien mengalami penurunan aktivitas fisiologis, tanda vital, dan metabolisme yang menunjukkan kondisi NREM tahap 4, yang merupakan tahap tidur yang paling dalam. Gejala-gejala ini terkait dengan gangguan pola tidur, di mana pasien mudah terbangun dan tidak dapat mempertahankan tidur yang berkualitas.
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan meliputi:
- Identifikasi pola tidur dan faktor yang mempengaruhinya
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk mengatasi penyebab gangguan tidur
- Implementasi teknik relaksasi dan manajemen stres untuk memfasilitasi tidur yang lebih baik
- Edukasi pasien dan keluarga tentang pentingnya tidur yang cukup dan berkualitas
Dengan penerapan intervensi yang tepat, diharapkan dapat membantu pasien mencapai pola tidur yang lebih baik dan meningkatkan kualitas hidup. -
Article No. 14003 | 13 Mar 2025
Klinis : Kasus 7 (penginderaan) Seorang laki-laki berusia 18 tahun dirawat di RS dengan keluhan nyeri hebat di belakang telinga kanan, yang disertai demam tinggi sejak 3 hari terakhir. Orang tua pasien mengatakan bahwa anaknya mengalami infeksi telinga tengah berulang sejak kecil, dan sebelumnya telah mengalami otitis media akut sekitar 2 minggu lalu, tetapi tidak mendapatkan pengobatan antibiotik secara tuntas. Sejak dua hari terakhir, orang tua pasien juga memperhatikan bahwa telinga kanan anak terlihat menonjol, dan ada pembengkakan serta kemerahan di belakang telinga. Anak juga mengeluhkan sakit kepala dan penurunan nafsu makan. Pemeriksaan Fisik Keadaan umum: Tampak lemah, menangis karena nyeri. Tanda vital: Tekanan darah: 100/70 mmHg. HR: 110x/menit. RR: 24x/menit. Suhu: 39,2°C. Telinga kanan: Pinna telinga terdorong ke depan. Pembengkakan dan kemerahan (+) di daerah mastoid. Nyeri tekan mastoid (+). Otorrhea purulen (+) dari liang telinga. Neurologis: Tidak ditemukan tanda-tanda defisit neurologis saat ini. Hasil Pemeriksaan Penunjang Otoscopic Examination (Pemeriksaan Otoskopi): Membran timpani tampak menonjol, berwarna merah, dan tidak dapat bergerak, Adanya cairan purulen dalam liang telinga. Pemeriksaan Laboratorium: Darah lengkap: Leukositosis (15.500/μL) → indikasi infeksi, CRP meningkat (>10 mg/L)→ indikasi inflamasi aktif, LED meningkat (45 mm/jam) indikasi infeksi atau inflamasi. Kultur cairan telinga: Pertumbuhan bakteri (Streptococcus pneumoniae /Staphylococcus aureus) (+). Pemeriksaan Radiologi: X-ray Mastoid: Tampak pemusnahan trabekula tulang mastoid yang mengindikasikan mastoiditis. CT-Scan Temporal Bone: Efusi cairan purulen dalam rongga mastoid, Erosi tulang mastoid (+), Tidak ditemukan abses intrakranial atau komplikasi lainnya. Diagnosis Medis: Mastoiditis akut akibat otitis media supuratif kronik. Pasien direncanakan untuk mendapatkan terapi antibiotik IV, analgesik, serta evaluasi pembedahan (mastoidectomy) jika tidak ada perbaikan dalam 48 jam.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: 1. Kode ICD-10:
- Kode: H70.01
- Deskripsi: Mastoiditis akut
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 20.01
- Deskripsi: Mastoidectomy
Penjelasan:
Berdasarkan informasi yang diberikan, pasien laki-laki berusia 18 tahun ini mengalami mastoiditis akut sebagai komplikasi dari otitis media supuratif kronik. Gejala klinis yang ditunjukkan meliputi nyeri hebat di belakang telinga kanan, demam tinggi, pembengkakan dan kemerahan di mastoid, serta otore purulen. Pemeriksaan penunjang seperti otoskopi, laboratorium, dan pencitraan radiologi mendukung diagnosis mastoiditis akut.
Kode ICD-10 yang sesuai untuk kondisi ini adalah H70.01 (Mastoiditis akut). Mastoiditis merupakan infeksi atau inflamasi pada proses mastoid yang berhubungan dengan infeksi telinga tengah atau komplikasi dari otitis media. Kode H70.01 secara spesifik mewakili mastoiditis akut.
Sementara itu, jika pasien memerlukan tindakan pembedahan berupa mastoidektomi, maka kode ICD-9-CM prosedur yang sesuai adalah 20.01 (Mastoidectomy).
Penatalaksanaan yang direncanakan untuk pasien ini adalah pemberian terapi antibiotik intravena, analgesik, serta evaluasi kebutuhan tindakan pembedahan mastoidektomi jika tidak ada perbaikan dalam 48 jam. Hal ini diperlukan untuk mengatasi infeksi dan mencegah komplikasi lebih lanjut. -
Article No. 14009 | 13 Mar 2025
Klinis : Usia 70, lemah, pergerakan berpindah dibantu
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan informasi yang diberikan, yaitu pasien berusia 70 tahun, lemah, pergerakan berpindah dibantu, dengan tone akademis dan persona sebagai pakar/perawat, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat berdasarkan SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
Diagnosa Keperawatan:
1. Mobilitas Fisik Terganggu
- Definisi: Keterbatasan dalam gerakan fisik yang disengaja dan terkontrol dari satu tempat ke tempat lain.
- Penyebab: Usia lanjut, kelemahan, dan keterbatasan pergerakan.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Mobilitas
- Kriteria Hasil:
- Pergerakan aktif anggota gerak
- Kemampuan berpindah
- Kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Manajemen Mobilitas
- Intervensi:
- Bantu pasien dalam berpindah
- Berikan alat bantu mobilitas sesuai kebutuhan
- Latih pasien untuk meningkatkan kemampuan mobilitas
- Kolaborasi dengan fisioterapis untuk program rehabilitasi
Penjelasan Singkat:
Pasien usia 70 tahun mengalami kelemahan dan keterbatasan pergerakan sehingga membutuhkan bantuan dalam berpindah tempat. Diagnosa keperawatan yang sesuai adalah Mobilitas Fisik Terganggu. Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) mencakup kriteria hasil terkait pergerakan aktif, kemampuan berpindah, dan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) menyarankan intervensi seperti membantu pasien dalam berpindah, memberikan alat bantu mobilitas, melatih pasien untuk meningkatkan kemampuan mobilitas, serta berkolaborasi dengan fisioterapis untuk program rehabilitasi. -
Article No. 14010 | 13 Mar 2025
Klinis : Seorang anak laki-laki berusia 12 tahun datang ke klinik dengan keluhan nyeri punggung yang semakin sering dirasakan terutama setelah duduk lama di sekolah. Orang tua pasien juga melaporkan bahwa anaknya tampak lebih cepat lelah saat bermain dan sering mengeluh sesak napas ketika berlari atau naik tangga. Sejak setahun terakhir, mereka menyadari adanya perubahan postur tubuh, seperti bahu yang tidak sejajar dan punggung yang tampak melengkung ke satu sisi. Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan skoliosis dengan sudut Cobb >60°, postur tubuh asimetris, serta penggunaan otot bantu napas. Skala nyeri yang dirasakan pasien adalah 6/10, terutama pada daerah punggung bawah dan tengah. Pemeriksaan pernapasan menunjukkan frekuensi napas 26x/menit dengan penurunan ekspansi paru. Pasien juga mengalami gangguan mobilitas karena mudah lelah saat berjalan jauh dan menunjukkan koordinasi tubuh yang kurang seimbang.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Dengan memperhatikan kondisi yang dijelaskan, berikut adalah diagnosa keperawatan, penjelasan singkat, serta standar SDKI - SLKI - SIKI yang sesuai dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
Diagnosa Keperawatan:
1. Gangguan Mobilitas Fisik berhubungan dengan kelemahan otot, kekakuan sendi, dan deformitas postural akibat skoliosis.
2. Nyeri Kronis berhubungan dengan perubahan struktur tulang belakang dan penekanan pada saraf.
3. Pola Napas Tidak Efektif berhubungan dengan perubahan struktur thoraks akibat skoliosis.
Penjelasan Singkat:
1. Gangguan Mobilitas Fisik: Kondisi ini disebabkan oleh perubahan struktural pada tulang belakang (skoliosis) yang menyebabkan kelemahan otot, kekakuan sendi, dan gangguan keseimbangan. Hal ini dapat menghambat mobilitas dan aktivitas fisik pasien.
2. Nyeri Kronis: Skoliosis dengan sudut Cobb >60° dapat menyebabkan perubahan struktur tulang belakang dan menekan saraf, sehingga menimbulkan nyeri kronis terutama pada daerah punggung bawah dan tengah.
3. Pola Napas Tidak Efektif: Perubahan struktur thoraks akibat skoliosis dapat menyebabkan penurunan ekspansi paru dan penggunaan otot bantu napas, sehingga terjadi pola napas tidak efektif dengan peningkatan frekuensi napas.
Standar SDKI - SLKI - SIKI:
1. SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia):
a. Gangguan Mobilitas Fisik
b. Nyeri Kronis
c. Pola Napas Tidak Efektif
2. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
a. Mobilitas Fisik Teratasi
b. Nyeri Terkendali
c. Pola Napas Efektif
3. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
a. Peningkatan Mobilitas
b. Manajemen Nyeri
c. Terapi Pernapasan
Dengan standar keperawatan yang komprehensif dari SDKI, SLKI, dan SIKI, perawat dapat merancang dan memberikan asuhan keperawatan yang sesuai untuk menangani kondisi skoliosis pada pasien anak ini. -
Article No. 14011 | 13 Mar 2025
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan SDKI yang Sesuai:
Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai untuk kondisi pasien pria, usia 45 tahun, dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan, serta hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas dan lesi di paru dengan diagnosis awal tuberkulosis paru adalah:
1. Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas
Definisi: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan bersihan jalan napas yang efektif.
2. Intoleransi Aktivitas
Definisi: Ketidakmampuan untuk bertoleransi terhadap aktivitas fisik.
3. Risiko Malnutrisi
Definisi: Berisiko mengalami penurunan asupan zat gizi yang dapat menyebabkan perubahan komposisi dan fungsi tubuh.
Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI):
1. Bersihan Jalan Napas Efektif
- Pasien dapat membersihkan sekresi dan obstruksi dari saluran napas dengan batuk efektif.
- Frekuensi napas pasien dalam rentang normal.
- Tidak ada tanda-tanda kerja napas yang berlebihan.
2. Toleransi Aktivitas Membaik
- Pasien dapat berpartisipasi dalam aktivitas sehari-hari tanpa mengalami sesak napas atau kelelahan yang berlebihan.
- Tanda-tanda vital pasien dalam rentang normal selama aktivitas.
- Pasien tidak mengalami penurunan saturasi oksigen selama aktivitas.
3. Status Nutrisi Membaik
- Pasien mampu memenuhi kebutuhan nutrisi sehari-hari.
- Pasien menunjukkan peningkatan berat badan atau mempertahankan berat badan yang optimal.
- Tidak ada tanda-tanda malnutrisi atau penurunan asupan nutrisi.
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Bersihan Jalan Napas
- Monitor status pernapasan dan keefektifan batuk
- Berikan oksigen sesuai kebutuhan
- Ajarkan teknik batuk efektif
- Berikan humidifikasi dan nebulisasi sesuai indikasi
- Bantu pasien melakukan postural drainage dan percussioterapy
2. Peningkatan Toleransi Aktivitas
- Kaji tingkat aktivitas dan toleransi pasien
- Rencakan aktivitas bertahap sesuai toleransi pasien
- Ajarkan teknik bernapas dalam dan relaksasi saat aktivitas
- Monitoring tanda-tanda vital selama aktivitas
- Berikan istirahat yang cukup antara aktivitas
3. Manajemen Nutrisi
- Kaji status nutrisi pasien
- Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan kebutuhan nutrisi
- Berikan makanan bergizi sesuai kebutuhan pasien
- Monitor asupan dan output cairan
- Motivasi pasien untuk meningkatkan asupan nutrisi
Dengan penerapan intervensi keperawatan yang komprehensif dan terarah, diharapkan pasien dapat mencapai luaran yang diharapkan, yaitu bersihan jalan napas yang efektif, toleransi aktivitas yang membaik, dan status nutrisi yang membaik, sehingga dapat membantu proses pemulihan pasien dengan tuberkulosis paru. -
Article No. 14012 | 13 Mar 2025
Klinis : di gigit serangga di kaki
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan: Nyeri Akut
Penjelasan singkat:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Nyeri akut adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial, atau dijelaskan dalam istilah kerusakan tersebut.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan dari diagnosa nyeri akut adalah:
1. Pasien akan melaporkan penurunan tingkat nyeri.
2. Pasien akan mendemonstrasikan teknik manajemen nyeri yang efektif.
3. Pasien akan menunjukkan tanda-tanda vital dalam batas normal.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah:
1. Lakukan pengkajian nyeri komprehensif.
2. Kolaborasi pemberian analgesik sesuai indikasi.
3. Ajarkan teknik non-farmakologis untuk mengatasi nyeri, seperti kompres dingin, relaksasi, dan distraksi.
4. Observasi tanda-tanda vital dan respon pasien terhadap intervensi.
5. Berikan dukungan emosional dan informasi yang adekuat kepada pasien.
Sebagai perawat, saya akan melakukan pengkajian nyeri yang komprehensif, berkolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgesik yang sesuai, dan mengajarkan teknik-teknik non-farmakologis untuk mengatasi nyeri akibat gigitan serangga pada kaki pasien. Saya juga akan memantau tanda-tanda vital dan respon pasien terhadap intervensi, serta memberikan dukungan emosional dan informasi yang adekuat. -
Article No. 14013 | 13 Mar 2025
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan informasi yang diberikan, diagnosis awal pasien adalah tuberkulosis paru. Berikut adalah kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur/tindakan medis (jika ada):
1. Kode ICD-10:
- Kode: A15.0
- Deskripsi: Tuberkulosis paru dengan konfirmasi bakteriologis dan histologis
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 87.44
- Deskripsi: Pemeriksaan bakteriologis sputum untuk tuberkulosis
Penjelasan:
- Kode ICD-10 A15.0 digunakan untuk diagnosis tuberkulosis paru yang dikonfirmasi secara bakteriologis dan histologis. Gejala pasien, termasuk batuk berdahak, demam, sesak napas, dan penurunan nafsu makan, serta hasil pemeriksaan radiologis yang menunjukkan adanya lesi di paru, sangat mendukung diagnosis tuberkulosis paru.
- Kode ICD-9-CM 87.44 untuk pemeriksaan bakteriologis sputum untuk tuberkulosis dapat dilakukan untuk memastikan diagnosis dan menentukan pengobatan yang tepat. Pemeriksaan ini penting untuk mengidentifikasi dan mengisolasi bakteri Mycobacterium tuberculosis sebagai penyebab infeksi.
Dalam praktik klinis, dokter atau perekam medis akan menggunakan kode-kode tersebut untuk mendokumentasikan diagnosis dan prosedur/tindakan medis yang dilakukan pada pasien. Hal ini penting untuk tujuan pencatatan medis, penagihan, dan analisis epidemiologi.