Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 13967 | 13 Mar 2025
Klinis : intervensi dan implementasi sakit perut
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan informasi yang rinci dan terperinci terkait diagnosa keperawatan, luaran, dan intervensi keperawatan untuk kondisi sakit perut.
Diagnosa Keperawatan SDKI yang Sesuai:
Diagnosa keperawatan yang sesuai untuk kondisi sakit perut berdasarkan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) adalah "Nyeri Akut". Nyeri akut didefinisikan sebagai pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut.
Karakteristik definisi yang sesuai untuk kondisi sakit perut adalah:
1. Keluhan utama pasien adalah nyeri perut yang tiba-tiba dan tidak terduga.
2. Pasien dapat menunjukkan perilaku verbal dan non-verbal nyeri, seperti meringis, mengeluh, dan posisi berbaring.
3. Pasien dapat melaporkan faktor yang memperburuk atau meringankan nyeri, seperti gerakan, posisi, atau diet.
4. Pasien dapat menunjukkan tanda-tanda fisiologis nyeri, seperti peningkatan tekanan darah, nadi, dan respirasi.
Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI):
Setelah dilakukan asuhan keperawatan, diharapkan luaran atau hasil yang dicapai adalah:
1. Pasien dapat melaporkan penurunan skala nyeri.
2. Pasien dapat menunjukkan perilaku untuk mengatasi nyeri, seperti relaksasi, distraksi, atau penggunaan analgesik.
3. Pasien dapat beraktivitas dengan nyaman tanpa gangguan nyeri.
4. Pasien dapat melaporkan pemahaman tentang penyebab dan penanganan nyeri perut.
Intervensi Keperawatan yang Diperlukan (SIKI):
Untuk mencapai luaran yang diharapkan, intervensi keperawatan yang diperlukan adalah:
1. Pengkajian nyeri: mengevaluasi karakteristik nyeri, faktor yang mempengaruhi, dan respons pasien terhadap nyeri.
2. Manajemen nyeri: memberikan analgesik sesuai indikasi, mengajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri, dan memantau efektivitas intervensi.
3. Manajemen diet: mengidentifikasi faktor diet yang dapat memperburuk atau meringankan nyeri perut, dan memberikan intervensi diet yang sesuai.
4. Edukasi kesehatan: memberikan informasi kepada pasien dan keluarga tentang penyebab, manajemen, dan pencegahan nyeri perut.
5. Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain: melakukan konsultasi dengan dokter atau ahli gizi untuk penanganan komprehensif.
Melalui intervensi keperawatan yang komprehensif, diharapkan pasien dapat mencapai luaran yang diharapkan, yaitu penurunan nyeri, peningkatan kemampuan mengatasi nyeri, dan pemahaman yang baik tentang kondisi serta penatalaksanaannya. -
Article No. 13968 | 13 Mar 2025
Klinis : mual
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Dengan senang hati, saya akan memberikan kode ICD-10 untuk diagnosis serta kode ICD-9-CM untuk prosedur/tindakan medis terkait kondisi mual.
1. Kode ICD-10:
- Kode: R11.0
- Deskripsi: Mual
Penjelasan:
Kode ICD-10 R11.0 digunakan untuk mengidentifikasi kondisi mual. Mual merupakan sensasi tidak nyaman di perut yang dapat menyebabkan keinginan untuk muntah. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti infeksi, obat-obatan, atau kondisi medis lainnya.
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: Tidak ada kode ICD-9-CM spesifik untuk mual.
- Deskripsi: Tidak ada prosedur atau tindakan medis yang secara spesifik dikaitkan dengan mual. Penanganan mual umumnya dilakukan secara simtomatik, seperti pemberian obat antiemetik atau pengobatan penyebab dasar.
Dalam kasus mual, biasanya tidak ada tindakan medis prosedural yang dilakukan secara khusus. Penanganan mual lebih berfokus pada pengelolaan gejala dan penanganan penyebab yang mendasarinya. -
Article No. 13969 | 13 Mar 2025
Klinis : Injeksi Procaine HCL 4%, artinya : Select one: a. Setiap 100 ml obat suntik mengandung Procain HCL 4 % b. Setiap 4 ml obat suntik mengandung procain HCL 100 gram c. Setiap 4 ml obat suntik mengandung procain HCL 100 % d. Setiap 100 gram obat suntik mengandung Procain HCL 4 ml e. Setiap 100 ml obat suntik mengandung procain HCL 4 gram
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, perkenankan saya untuk memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat terkait SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi tersebut.
Diagnosa Keperawatan:
Risiko Cedera Akibat Pemberian Obat yang Tidak Tepat
Penjelasan:
Berdasarkan informasi yang diberikan, injeksi Procaine HCL 4% menunjukkan bahwa setiap 100 ml obat suntik mengandung 4 gram Procaine HCL. Hal ini perlu diperhatikan oleh perawat dalam pemberian obat, karena dosis yang tidak tepat dapat menyebabkan risiko cedera pada pasien.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Risiko Cedera Akibat Pemberian Obat yang Tidak Tepat adalah salah satu diagnosa keperawatan dalam SDKI yang menggambarkan potensi terjadinya cedera pada pasien yang menerima obat dalam dosis, frekuensi, rute, atau durasi yang tidak sesuai dengan resep atau rekomendasi.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Dalam SLKI, salah satu luaran yang terkait dengan diagnosa ini adalah Pemantauan Pemberian Obat, yaitu kemampuan pasien atau keluarga dalam memantau pemberian obat sesuai dengan resep atau rekomendasi untuk mencegah terjadinya efek samping.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi diagnosa ini antara lain:
1. Manajemen Pemberian Obat, yaitu tindakan perawat dalam memastikan pemberian obat sesuai dengan dosis, rute, frekuensi, dan durasi yang tepat.
2. Edukasi Pemberian Obat, yaitu pemberian informasi kepada pasien atau keluarga terkait penggunaan obat yang aman dan efektif.
3. Pemantauan Efek Samping Obat, yaitu tindakan perawat dalam memantau munculnya efek samping yang mungkin terjadi akibat pemberian obat.
Dengan mengacu pada SDKI, SLKI, dan SIKI, perawat dapat memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif dan berkualitas untuk mencegah terjadinya cedera akibat pemberian obat yang tidak tepat. -
Article No. 13970 | 13 Mar 2025
Klinis : Injeksi Procaine HCL 4%, artinya : Select one: a. Setiap 100 ml obat suntik mengandung Procain HCL 4 % b. Setiap 4 ml obat suntik mengandung procain HCL 100 gram c. Setiap 4 ml obat suntik mengandung procain HCL 100 % d. Setiap 100 gram obat suntik mengandung Procain HCL 4 ml e. Setiap 100 ml obat suntik mengandung procain HCL 4 gram
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat standar SDKI, SLKI, dan SIKI untuk kondisi injeksi Procaine HCL 4%.
Diagnosa Keperawatan:
Resiko nyeri terkait prosedur injeksi Procaine HCL 4%
Penjelasan:
Berdasarkan informasi yang diberikan, injeksi Procaine HCL 4% artinya setiap 100 ml obat suntik mengandung 4 gram Procaine HCL. Hal ini menunjukkan bahwa pasien akan mengalami nyeri terkait prosedur injeksi.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Definisi: Kekhawatiran yang diekspresikan atau diobservasi mengenai rasa nyeri akibat stimulus spesifik, seperti pembedahan, cedera, atau prosedur medis.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan: Pasien melaporkan nyeri terkontrol.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi yang dapat dilakukan: Manajemen nyeri, penggunaan teknik non-farmakologis, kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk pemberian analgetik.
Dalam hal ini, perawat perlu melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif, memberikan intervensi manajemen nyeri yang sesuai, dan berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk menjamin kenyamanan dan keselamatan pasien selama prosedur injeksi Procaine HCL 4%. -
Article No. 13971 | 13 Mar 2025
Klinis : Faktor yang mempengaruhi personal hygiene klien tidak terpenuhi yaitu : Select one: a. Kelumpuhan b. Atropi c. Cancer d. Kontraktur e. Fraktur
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan Diagnosa Keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi yang Anda berikan.
Diagnosa Keperawatan:
Defisit Perawatan Diri
Penjelasan:
a. Kelumpuhan
Defisit Perawatan Diri berhubungan dengan kelumpuhan yang dapat menghambat kemampuan klien dalam melakukan aktivitas perawatan diri seperti mandi, berpakaian, berhias, dan lainnya.
b. Atrofi
Defisit Perawatan Diri berhubungan dengan atrofi yang dapat menyebabkan penurunan fungsi fisik dan kemampuan klien dalam melakukan aktivitas perawatan diri.
c. Kanker
Defisit Perawatan Diri berhubungan dengan kanker yang dapat menyebabkan kelemahan, fatigue, dan hambatan dalam melakukan aktivitas perawatan diri.
d. Kontraktur
Defisit Perawatan Diri berhubungan dengan kontraktur yang dapat menghambat pergerakan dan kemampuan klien dalam melakukan aktivitas perawatan diri.
e. Fraktur
Defisit Perawatan Diri berhubungan dengan fraktur yang dapat menyebabkan nyeri, pembatasan pergerakan, dan hambatan dalam melakukan aktivitas perawatan diri.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) merupakan standar yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk membantu perawat dalam memberikan asuhan keperawatan yang terstandar dan berkualitas. -
Article No. 13972 | 13 Mar 2025
Klinis : Ny.D umur 19 tahun datang ke ugd dengan keluhan pusing, mual, muntah, demam naik turun, dan batuk kering. pemreiksaan lain seperti TD: 100/70mmHg, N:90x/menit, s: 37 derajat, rr: 20x/menit sebutkan diagnosanya
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai untuk kondisi Ny.D:
1. Hipertermia berhubungan dengan proses infeksi, ditandai dengan peningkatan suhu tubuh di atas 37°C.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Suhu tubuh normal (36,5-37,5°C)
2. Tanda-tanda vital dalam batas normal
3. Tidak terjadi komplikasi akibat hipertermia
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Monitor tanda-tanda vital secara berkala
2. Berikan kompres hangat untuk menurunkan suhu tubuh
3. Anjurkan istirahat yang cukup
4. Berikan intake cairan yang adekuat
5. Kolaborasi dengan tenaga medis untuk pemberian obat penurun demam jika diperlukan
6. Edukasi pasien dan keluarga mengenai hipertermia dan penatalaksanaannya
Penjelasan:
Diagnosa keperawatan "Hipertermia berhubungan dengan proses infeksi" dipilih karena Ny.D menunjukkan tanda-tanda hipertermia, yaitu demam naik turun. Hipertermia merupakan kondisi di mana suhu tubuh meningkat di atas 37°C, yang biasanya disebabkan oleh proses infeksi. Tujuan asuhan keperawatan adalah untuk menurunkan suhu tubuh ke dalam batas normal dan mencegah komplikasi yang dapat terjadi akibat hipertermia.
Intervensi keperawatan yang diperlukan meliputi monitor tanda-tanda vital secara berkala, pemberian kompres hangat, memastikan pasien mendapatkan istirahat yang cukup, menjaga asupan cairan yang adekuat, kolaborasi dengan tenaga medis untuk pemberian obat penurun demam, serta edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai hipertermia dan penatalaksanaannya. Tujuan akhir dari asuhan keperawatan ini adalah untuk mencapai luaran yang diharapkan, yaitu suhu tubuh normal, tanda-tanda vital dalam batas normal, dan tidak terjadi komplikasi akibat hipertermia. -
Article No. 13973 | 13 Mar 2025
Klinis : Ny.D umur 19 tahun datang ke ugd dengan keluhan pusing, mual, muntah, demam naik turun, dan batuk kering. pemreiksaan lain seperti TD: 100/70mmHg, N:90x/menit, s: 37 derajat, rr: 20x/menit sebutkan diagnosanya
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Assalamualaikum, sebagai perawat profesional, saya akan memberikan rekomendasi diagnosis keperawatan, luaran, dan intervensi keperawatan untuk kondisi Ny. D berdasarkan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI).
Diagnosis Keperawatan SDKI:
1. Hipertermia berhubungan dengan proses infeksi, ditandai dengan peningkatan suhu tubuh (37 derajat Celsius).
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum, ditandai dengan peningkatan frekuensi nadi (90x/menit) dan napas (20x/menit) saat aktivitas.
3. Mual berhubungan dengan proses infeksi, ditandai dengan keluhan mual dan muntah.
Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI):
1. Hipertermia Terkontrol:
- Suhu tubuh normal (36,0-37,5 derajat Celsius)
- Tanda-tanda vital dalam batas normal
- Tidak ada tanda-tanda infeksi
2. Toleransi Aktivitas Meningkat:
- Mampu melakukan aktivitas sehari-hari dengan mudah
- Tidak ada peningkatan frekuensi napas dan nadi saat aktivitas
- Tidak ada keluhan kelelahan saat aktivitas
3. Kontrol Mual Membaik:
- Tidak ada keluhan mual dan muntah
- Mampu mengonsumsi makanan dan cairan dengan baik
- Tidak ada tanda-tanda dehidrasi
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Manajemen Hipertermia:
- Monitor suhu tubuh secara berkala
- Berikan kompres hangat/dingin untuk menurunkan suhu tubuh
- Identifikasi dan tangani penyebab hipertermia
- Anjurkan banyak istirahat
2. Manajemen Intoleransi Aktivitas:
- Evaluasi toleransi dan kemampuan fisik pasien
- Berikan panduan aktivitas sesuai dengan toleransi pasien
- Anjurkan istirahat yang cukup
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk penatalaksanaan yang tepat
3. Manajemen Mual dan Muntah:
- Identifikasi penyebab mual dan muntah
- Berikan antiemetik sesuai indikasi
- Anjurkan makan dalam porsi kecil dan sering
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk penatalaksanaan yang tepat
Dengan penerapan diagnosis keperawatan, luaran, dan intervensi keperawatan yang tepat, diharapkan Ny. D dapat memulihkan kondisi kesehatannya secara optimal. Sebagai perawat, saya akan bekerja sama dengan tim kesehatan lain untuk memastikan Ny. D mendapatkan perawatan yang komprehensif dan sesuai dengan kebutuhannya. -
Article No. 13974 | 13 Mar 2025
Klinis : Setelah perawat melakukan perawatan luka pada klien dengan decubitus, kriteria hasil yang harus di evaluasi adalah : Select one: a. Mencegah kontraktur b. Kebersihan diri klien normal c. Keadaan luka kulit bersih d. Mencegah komplikasi e. Mencegah infeksi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dalam situasi ini, diagnosa keperawatan yang tepat sesuai dengan SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia) adalah:
Integritas Kulit Terganggu
Penjelasan singkat:
Integritas Kulit Terganggu adalah kondisi di mana terjadi kerusakan pada lapisan epidermis, dermis, atau lapisan jaringan di bawahnya. Hal ini dapat disebabkan oleh faktor eksternal seperti tekanan, gesekan, atau kelembaban yang berlebihan.
Dalam konteks perawatan luka decubitus, kriteria hasil yang harus dievaluasi berdasarkan SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) adalah:
Keadaan Luka Kulit Bersih
Penjelasan:
Kriteria ini mengevaluasi apakah luka decubitus telah bersih dari jaringan nekrotik, eksudat, dan tanda-tanda infeksi, sehingga proses penyembuhan dapat berlangsung optimal.
Sementara itu, intervensi keperawatan yang dapat dilakukan berdasarkan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) adalah:
Perawatan Luka
Penjelasan:
Intervensi ini meliputi aktivitas perawatan luka decubitus, seperti pembersihan, debridemen, aplikasi balutan, dan pengaturan posisi untuk mencegah tekanan berlebih.
Dengan demikian, berdasarkan SDKI, SLKI, dan SIKI, kriteria hasil yang harus dievaluasi setelah perawatan luka decubitus adalah Keadaan Luka Kulit Bersih, untuk memastikan proses penyembuhan luka yang optimal. -
Article No. 13975 | 13 Mar 2025
Klinis : Ny.D umur 19 tahun datang ke ugd dengan keluhan pusing, mual, muntah, demam naik turun, dan batuk kering. pemreiksaan lain seperti TD: 100/70mmHg, N:90x/menit, s: 37 derajat, rr: 20x/menit sebutkan diagnosanya
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Assalamualaikum, Terima kasih atas pertanyaan Anda. Berikut adalah pembahasan rinci mengenai kondisi Ny. D:
Diagnosa Keperawatan SDKI:
Diagnosa keperawatan yang sesuai untuk kondisi Ny. D adalah "Hipertermia" (SDKI, 2017). Kondisi Ny. D dengan keluhan pusing, mual, muntah, demam naik turun, dan batuk kering menunjukkan adanya peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Suhu tubuh kembali normal (SLKI, 2019)
- Kriteria hasil: Suhu tubuh dalam rentang 36-37,5°C.
2. Gejala terkait hipertermia berkurang (SLKI, 2019)
- Kriteria hasil: Pasien melaporkan pusing, mual, muntah, dan batuk kering berkurang.
3. Pengetahuan perawatan diri meningkat (SLKI, 2019)
- Kriteria hasil: Pasien dapat menyebutkan faktor penyebab, gejala, dan tindakan yang perlu dilakukan saat demam.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Manajemen Hipertermia (SIKI, 2018)
- Kaji suhu tubuh, identifikasi penyebab, dan monitor tanda-tanda vital secara berkala.
- Berikan kompres hangat, berikan cairan oral atau intravena, dan anjurkan istirahat yang cukup.
- Edukasi pasien dan keluarga mengenai manajemen hipertermia, termasuk faktor penyebab, gejala, dan tindakan yang perlu dilakukan.
2. Manajemen Nyeri (SIKI, 2018)
- Kaji nyeri yang dirasakan pasien, termasuk lokasi, karakteristik, durasi, dan faktor pencetus.
- Berikan intervensi farmakologis dan non-farmakologis untuk mengurangi nyeri, seperti pemberian analgesik dan teknik relaksasi.
- Evaluasi efektivitas intervensi yang diberikan dan modifikasi jika diperlukan.
3. Edukasi Kesehatan (SIKI, 2018)
- Berikan informasi mengenai penyebab, gejala, dan perawatan hipertermia.
- Ajarkan pasien dan keluarga mengenai tindakan yang dapat dilakukan untuk mengelola hipertermia dan mencegah komplikasi.
- Evaluasi pemahaman pasien dan keluarga serta identifikasi kebutuhan edukasi lebih lanjut.
Penjelasan:
Diagnosa keperawatan "Hipertermia" dipilih karena kondisi Ny. D menunjukkan adanya peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal, yang disertai dengan gejala-gejala lain seperti pusing, mual, muntah, dan batuk kering. Luaran yang diharapkan adalah agar suhu tubuh Ny. D kembali normal, gejala terkait hipertermia berkurang, dan pengetahuan perawatan diri meningkat. Intervensi keperawatan yang diperlukan mencakup manajemen hipertermia, manajemen nyeri, dan edukasi kesehatan untuk membantu Ny. D mengatasi kondisinya dan mencegah komplikasi lebih lanjut.
Semoga penjelasan ini bermanfaat. Jika ada pertanyaan atau hal yang perlu dijelaskan lebih lanjut, silakan tanyakan.
Wassalamualaikum. -
Article No. 13976 | 13 Mar 2025
Klinis : Menghitung dosis obat injeksi untuk sapi berat 300 kg yang diberi terapi Oxytetracyclin 10% long acting. Bila dosis yang dianjurkan 100 mg/kgBB, maka jumlah obat yang akan diinjeksikan, adalah: Select one: a. 3 ml b. 30 ml c. 3000 ml d. 0,3 ml e. 300 ml
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kasus pemberian terapi Oxytetracyclin 10% long acting pada sapi dengan berat badan 300 kg.
Diagnosa Keperawatan:
Ketidakefektifan Terapi Obat
Penjelasan:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Ketidakefektifan Terapi Obat didefinisikan sebagai situasi di mana individu mengalami efek yang tidak diinginkan atau tidak mengalami efek yang diharapkan dari terapi obat.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan adalah pasien dapat mencapai efek terapi yang diinginkan dari pemberian obat Oxytetracyclin 10% long acting.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi yang dapat dilakukan adalah:
1. Menghitung dosis obat yang tepat sesuai berat badan pasien.
2. Mempersiapkan obat dan alat administrasi yang sesuai.
3. Mengawasi dan memantau efek dari pemberian obat.
4. Mendokumentasikan pemberian obat dan respons pasien.
Untuk kasus sapi dengan berat badan 300 kg yang diberikan terapi Oxytetracyclin 10% long acting dengan dosis yang dianjurkan 100 mg/kgBB, maka jumlah obat yang akan diinjeksikan adalah:
Dosis = 100 mg/kgBB x 300 kg = 30.000 mg
Konsentrasi obat = 10%, sehingga 1 ml = 100 mg
Jumlah obat yang diinjeksikan = 30.000 mg / 100 mg/ml = 300 ml.
Jadi, jawaban yang tepat adalah e. 300 ml.