Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 24196 | 23 Feb 2026
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi dan Gangguan Pertukaran Gas terkait Tuberkulosis Paru
Kode SDKI: D.0017
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi adalah keadaan dimana individu rentan mengalami invasi dan multiplikasi patogen yang dapat menimbulkan respons penyakit, yang dapat mengancam kesehatan. Pada pasien tuberkulosis (TB) paru, risiko ini sangat nyata karena penyakit ini disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Risiko penularan ke orang lain juga menjadi pertimbangan utama. Selain itu, proses penyakit TB paru yang ditandai dengan lesi, infiltrat, dan konsolidasi jaringan paru secara langsung mengganggu proses pertukaran gas. Gangguan Pertukaran Gas (SDKI: D.0099) didefinisikan sebagai keadaan dimana terjadi gangguan pada proses oksigenasi dan/atau eliminasi karbondioksida pada membran alveoli-kapiler. Pada TB paru, area paru yang terinfeksi tidak dapat berfungsi optimal dalam pertukaran gas, mengakibatkan hipoksemia (kadar oksigen darah rendah) dan memicu gejala seperti sesak napas (dispnea) dan peningkatan upaya pernapasan. Kedua diagnosis ini saling berkaitan, dimana infeksi aktif (Mycobacterium tuberculosis) menjadi etiologi langsung dari gangguan pertukaran gas yang dialami pasien. Manifestasi klinis seperti batuk berdahak lama, demam, sesak napas, suara napas bronkial, dan lesi pada rontgen merupakan data utama yang mendukung kedua diagnosis keperawatan ini.
Kode SLKI: L.03115
Deskripsi : SLKI L.03115 adalah Luaran Keperawatan: Kontrol Infeksi. Luaran yang diharapkan adalah pasien mampu mencegah, mendeteksi dini, dan mengendalikan penyebaran infeksi. Indikator luaran yang relevan meliputi: (1) Tanda-tanda infeksi terkontrol, yang dimanifestasikan dengan penurunan atau hilangnya demam, penurunan produksi sputum, dan peningkatan nafsu makan. (2) Perilaku mencegah penularan infeksi, dimana pasien dan keluarga konsisten menerapkan etika batuk (menutup mulut dengan tisu atau lengan), membuang dahak di tempat yang aman (sputum pot), serta menggunakan masker terutama di tempat umum. (3) Pengetahuan tentang pengobatan dan pencegahan, yaitu pasien memahami pentingnya pengobatan OAT (Obat Anti Tuberkulosis) hingga tuntas, jadwal minum obat, efek samping yang mungkin terjadi, dan pentingnya pemeriksaan ulang dahak. Perawat mengevaluasi luaran ini dengan memantau suhu tubuh, mengobservasi karakteristik batuk dan dahak, serta melakukan tanya jawab untuk menilai kepatuhan dan pemahaman pasien. Pencapaian luaran ini sangat krusial untuk menyembuhkan pasien dan memutus rantai penularan TB di masyarakat.
Kode SIKI: I.09080
Deskripsi : SIKI I.09080 adalah Intervensi Keperawatan: Manajemen Infeksi. Intervensi ini mencakup serangkaian tindakan untuk mencegah dan mengendalikan infeksi. Tindakan spesifik yang dilakukan perawat meliputi: (1) Isolasi pernapasan (respiratory isolation) atau tindakan pencegahan droplet, seperti menempatkan pasien di ruangan dengan ventilasi baik, menggunakan masker N95 saat kontak erat dengan pasien, dan mengajarkan etika batuk. (2) Kolaborasi pemberian terapi obat sesuai program, yaitu memastikan pasien mengonsumsi OAT secara langsung (DOTS - Directly Observed Treatment Shortcourse) dan memantau efek terapeutik serta efek samping obat. (3) Edukasi kesehatan komprehensif tentang penyakit TB, cara penularan, pentingnya pengobatan tuntas untuk mencegah kekebalan kuman (MDR-TB), serta perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). (4) Monitoring tanda-tanda klinis dan laboratorium, seperti suhu tubuh, frekuensi pernapasan, karakter dahak, dan hasil pemeriksaan BTA. (5) Mendorong asupan nutrisi yang adekuat dan istirahat yang cukup untuk meningkatkan sistem imunitas tubuh pasien. Intervensi ini juga mencakup tindakan untuk mengatasi gangguan pertukaran gas, seperti memposisikan pasien semi-Fowler untuk memudahkan ekspansi paru, mengajarkan teknik batuk efektif untuk membersihkan jalan napas, dan memantau status oksigenasi (seperti saturasi oksigen). Semua tindakan ini terintegrasi dalam pendekatan asuhan keperawatan yang komprehensif untuk mengatasi masalah infeksi dan gangguan pertukaran gas secara simultan, dengan tujuan akhir mencapai luaran kontrol infeksi dan perbaikan status pernapasan pasien.
-
Article No. 24197 | 23 Feb 2026
Klinis : Pasien wanita, usia 60 tahun, mengalami nyeri dada yang hebat, menjalar ke lengan kiri, disertai dengan sesak napas, mual, dan keringat dingin. EKG menunjukkan infark miokard akut. Pasien memiliki riwayat hipertensi dan diabetes melitus tipe 2.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut terkait Iskemia Jaringan Miokard
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Diagnosis Keperawatan "Nyeri Akut" didefinisikan sebagai pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut (International Association for the Study of Pain), dengan onset yang tiba-tiba atau lambat dan intensitas yang ringan hingga berat, dengan durasi yang diperkirakan kurang dari 3 bulan. Pada konteks Infark Miokard Akut (IMA), nyeri terjadi akibat iskemia atau nekrosis otot jantung karena penyumbatan aliran darah koroner. Nyeri dada yang dialami pasien (hebat, menjalar ke lengan kiri) adalah manifestasi utama dari kerusakan jaringan miokard ini. Sensasi nyeri ini bersifat kompleks, melibatkan tidak hanya komponen sensori (lokasi, kualitas, intensitas) tetapi juga komponen afektif seperti perasaan takut, cemas, atau perasaan akan datangnya kematian yang sering menyertai serangan jantung. Faktor-faktor yang berhubungan pada kasus ini adalah proses biologis (iskemia miokard), dan riwayat penyakit (hipertensi dan diabetes melitus) yang merupakan faktor risiko utama aterosklerosis koroner. Respon autonom seperti keringat dingin, mual, dan sesak napas juga merupakan bagian dari respons tubuh terhadap nyeri hebat dan iskemia organ vital.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Luaran yang diharapkan dengan kode "Tingkat Nyeri Terkontrol" ini berarti pasien akan mencapai keadaan di mana nyeri berkurang atau hilang, yang ditandai dengan kriteria hasil yang spesifik dan terukur. Setelah intervensi keperawatan, diharapkan: 1) Pasien melaporkan penurunan skala nyeri (misalnya, dari skala 8-9 menjadi ≤3 pada skala 0-10). 2) Menunjukkan perilaku nyeri yang menurun, seperti ekspresi wajah rileks, tidak gelisah, dan mampu beristirahat dengan tenang. 3) Tanda-tanda fisiologis yang berhubungan dengan nyeri (seperti takikardia, hipertensi, diaforesis/keringat dingin) kembali ke rentang normal atau baseline pasien. 4) Pasien mampu mengidentifikasi faktor yang memicu dan meredakan nyeri dalam konteks kondisinya. 5) Pasien menunjukkan pengetahuan dan keterampilan dalam menggunakan teknik non-farmakologis untuk manajemen nyeri, seperti teknik relaksasi napas dalam. Pencapaian luaran ini sangat kritis dalam manajemen IMA karena nyeri yang tidak terkontrol dapat memperburuk iskemia dengan meningkatkan kebutuhan oksigen miokard melalui peningkatan kerja jantung (denyut jantung dan tekanan darah). Mengontrol nyeri berarti membantu mengurangi beban kerja jantung dan mencegah perluasan area infark.
Kode SIKI: I.08059
Deskripsi : Intervensi "Manajemen Nyeri" adalah intervensi keperawatan yang komprehensif untuk mencegah, mengurangi, atau menghilangkan nyeri. Implementasinya pada pasien IMA meliputi: 1) **Pengkajian Nyeri Secara Komprehensif**: Menggunakan metode PQRST (Provocation/Palliation, Quality, Region/Radiation, Severity, Time) untuk menilai karakteristik nyeri dada secara berkala, termasuk skala intensitas. Memantau tanda-tanda vital dan respons autonom terhadap nyeri. 2) **Pemberian Analgesik Sesuai Order**: Kolaborasi pemberian analgesik (biasanya nitrat, morfin) dengan tepat waktu, memantau efektivitas, dan mengobservasi efek samping seperti depresi pernapasan atau hipotensi. Morfin tidak hanya meredakan nyeri tetapi juga mengurangi preload dan afterload jantung, sehingga memberikan manfaat hemodinamik. 3) **Intervensi Non-Farmakologis**: Mengajarkan dan mendampingi teknik relaksasi napas dalam untuk mengurangi ansietas dan ketegangan otot yang memperberat persepsi nyeri. Menciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman. 4) **Edukasi Pasien**: Menjelaskan penyebab nyeri (iskemia jantung), pentingnya melaporkan nyeri segera, dan bahwa pengendalian nyeri adalah bagian penting dari penyembuhan. Memberikan informasi bahwa nyeri dapat dikelola. 5) **Pemantauan Keamanan**: Setelah pemberian analgesik, memantau status pernapasan, tingkat kesadaran, dan tekanan darah untuk mendeteksi dini efek samping. 6) **Pendekatan Psikologis**: Memberikan dukungan emosional, mengurangi kecemasan, karena kecemasan dapat menurunkan ambang nyeri. Kehadiran perawat yang tenang dan meyakinkan dapat memodulasi respons nyeri pasien. Intervensi ini dilakukan secara terus-menerus dan dievaluasi efektivitasnya untuk mencapai luaran yang diharapkan, yaitu terkontrolnya nyeri akut pasien.
-
Article No. 24198 | 23 Feb 2026
Klinis : Pasien anak perempuan, usia 5 tahun, mengalami demam tinggi selama 3 hari, ruam merah di kulit, bintik Koplik di mukosa mulut, batuk kering, dan mata merah. Hasil pemeriksaan menunjukkan kemungkinan campak.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi dan Hipertermia terkait Proses Penyakit Infeksi Virus Campak
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi adalah keadaan dimana individu berisiko mengalami invasi oleh patogen.
Kode SLKI: L.03115
Deskripsi : SLKI: Kontrol Infeksi. Tujuan: Pasien bebas dari infeksi nosokomial atau penyebaran infeksi. Kriteria hasil: 1) Suhu tubuh dalam batas normal. 2) Tanda-tanda infeksi (seperti kemerahan, bengkak, nyeri, drainase purulen) tidak ada. 3) Hasil laboratorium (seperti leukosit) dalam batas normal. 4) Melakukan tindakan pencegahan infeksi (seperti mencuci tangan, etika batuk). Pada konteks campak, fokusnya adalah mencegah penyebaran infeksi ke orang lain karena virus campak sangat menular, serta mencegah infeksi sekunder pada pasien akibat kerusakan sawar kulit dan mukosa. Perawat akan menginisiasi isolasi droplet dan udara, memastikan semua pengunjung dan petugas menggunakan APD yang sesuai, serta mengedukasi keluarga tentang pentingnya isolasi di rumah. Selain itu, perawat memantau tanda-tanda infeksi sekunder pada ruam kulit atau sistem pernapasan seperti pneumonia.
Kode SIKI: I.05295
Deskripsi : SIKI: Manajemen Infeksi. Tindakan: 1) Lakukan tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi sesuai kebijakan institusi (isolasi droplet/udara). 2) Gunakan alat pelindung diri (APD) yang sesuai. 3) Anjurkan dan bantu pasien serta keluarga untuk melakukan cuci tangan. 4) Pantau tanda dan gejala infeksi (suhu, karakteristik sputum, warna dan karakteristik urine, kemerahan, bengkak, drainase luka). 5) Kolaborasi pemberian terapi antibiotik jika ada indikasi infeksi sekunder. 6) Ajarkan kepada pasien/keluarga tanda dan gejala infeksi yang perlu dilaporkan. 7) Lakukan desinfeksi terhadap peralatan yang digunakan. Pada pasien anak dengan campak, tindakan spesifik termasuk menerapkan isolasi udara (airborne precaution) sejak masuk hingga 4 hari setelah ruam muncul, karena penularan melalui droplet yang melayang di udara. Ruangan harus bertekanan negatif. Perawat akan memastikan anak menggunakan masker jika perlu dipindahkan. Semua peralatan yang digunakan bersifat dedicated. Perawat akan memantau dengan ketat suhu tubuh, kemungkinan munculnya nanah pada ruam, dan tanda-tanda distress pernapasan yang mengindikasikan pneumonia sebagai komplikasi. Edukasi pada orang tua sangat intensif mengenai cara mencegah penularan kepada saudara kandung dan pentingnya menjaga kebersihan kulit dan mata anak untuk mencegah infeksi bakteri.
Kondisi: Hipertermia terkait Proses Penyakit Infeksi Virus
Kode SDKI: D.0027
Deskripsi Singkat: Hipertermia adalah keadaan dimana suhu tubuh individu meningkat di atas rentang normal.
Kode SLKI: L.03008
Deskripsi : SLKI: Kontrol Suhu Tubuh. Tujuan: Suhu tubuh pasien kembali normal. Kriteria hasil: 1) Suhu tubuh dalam rentang normal (36,5 – 37,5°C). 2) Kulit teraba hangat, tidak panas. 3) Nadi dan pernapasan dalam rentang normal sesuai usia. 4) Pasien tidak menggigil atau berkeringat berlebihan. 5) Pasien tampak nyaman. Pada anak dengan campak, demam tinggi (hipertermia) adalah gejala utama fase prodromal dan selama ruam muncul. Demam merupakan respons tubuh terhadap infeksi virus campak. Kontrol suhu tubuh penting untuk mencegah komplikasi seperti kejang demam (terutama pada riwayat kejang sebelumnya) dan mengurangi ketidaknyamanan anak. Perawat akan mengevaluasi efektivitas intervensi penurunan suhu baik secara farmakologis (obat antipiretik) maupun non-farmakologis (kompres, lingkungan nyaman). Selain angka termometer, kepatuhan minum obat, asupan cairan, dan tanda vital lain (seperti takikardia yang menyertai demam) menjadi indikator penting. Kenyamanan anak, seperti kemampuan untuk istirahat dan bermain ringan, juga menjadi tolok ukur keberhasilan.
Kode SIKI: I.08039
Deskripsi : SIKI: Manajemen Hipertermia. Tindakan: 1) Monitor suhu tubuh secara teratur. 2) Berikan terapi pendinginan (kompres hangat di aksila dan lipat paha, mandi air hangat, pakaian tipis). 3) Tingkatkan asupan cairan oral atau parenteral sesuai kebutuhan dan kolaborasi. 4) Atur sirkulasi udara ruangan agar baik. 5) Kolaborasi pemberian antipiretik sesuai program terapi. 6) Observasi tanda-tanda kejang. 7) Anjurkan tirah baring. Untuk pasien anak campak, tindakan harus dilakukan dengan hati-hati. Kompres hangat lebih disarankan daripada dingin untuk mencegah menggigil. Pemberian antipiretik seperti parasetamol harus sesuai dosis berat badan dan diobservasi efek sampingnya. Asupan cairan harus ditingkatkan secara agresif melalui minuman favorit anak, cairan elektrolit, atau infus jika diperlukan untuk mencegah dehidrasi akibat demam dan anoreksia. Orang tua diedukasi untuk tidak membedong anak saat demam dan mengenakan pakaian yang menyerap keringat. Observasi ketat terhadap tanda awal kejang demam seperti mata melirik, kedutan, atau penurunan kesadaran sangat penting dilakukan.
Kondisi: Nyeri Akut (Faringitis, Konjungtivitis) terkait Proses Inflamasi Virus
Kode SDKI: D.0019
Deskripsi Singkat: Nyeri Akut adalah pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, yang berlangsung kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: L.03001
Deskripsi : SLKI: Kontrol Nyeri. Tujuan: Nyeri pasien teratasi. Kriteria hasil: 1) Skala nyeri menurun (menggunakan skala yang sesuai usia, seperti Wong-Baker FACES untuk anak 5 tahun). 2) Ekspresi wajah rileks, tidak meringis. 3) Dapat beristirahat dan tidur dengan cukup. 4) Dapat melakukan aktivitas sesuai kemampuan. 5) Melaporkan penurunan nyeri. Pada campak, nyeri dapat muncul dari beberapa sumber: radang tenggorokan (faringitis) yang menyebabkan sulit menelan, konjungtivitis yang menyebabkan mata perih dan fotofobia, serta nyeri otot (mialgia) yang menyertai demam. Anak mungkin rewel, menangis, tidak mau makan/minum, atau sering memejamkan mata. Kontrol nyeri bertujuan meningkatkan kenyamanan, memastikan asupan nutrisi dan cairan tetap berjalan, serta memungkinkan anak beristirahat dengan baik untuk mendukung proses penyembuhan. Pengukuran nyeri pada anak memerlukan pendekatan khusus dengan alat yang sesuai.
Kode SIKI: I.09023
Deskripsi : SIKI: Manajemen Nyeri. Tindakan: 1) Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif (lokasi, intensitas, karakter, faktor pencetus, dan pereda). 2) Gunakan teknik komunikasi dan alat pengkajian nyeri yang sesuai usia/perkembangan. 3) Berikan analgetik sesuai kolaborasi/ketentuan. 4) Lakukan intervensi non-farmakologis (distraksi, relaksasi, sentuhan terapeutik, reposisi). 5) Evaluasi efektivitas intervensi pengelolaan nyeri. 6) Ajarkan pada pasien/keluarga cara melaporkan nyeri dan teknik non-farmakologis sederhana. Untuk anak dengan campak, intervensi spesifik meliputi: memberikan makanan lunak dan dingin (seperti puding, es krim, puree buah) untuk mengurangi nyeri menelan. Mengurangi paparan cahaya terang untuk meredakan fotofobia dan nyeri mata. Membersihkan sekresi mata dengan kapas lembut dan air hangat untuk meningkatkan kenyamanan. Melakukan distraksi melalui permainan atau membacakan cerita. Kolaborasi pemberian analgetik-antipiretik seperti parasetamol atau ibuprofen yang juga membantu mengurangi nyeri dan demam. Penting untuk mengevaluasi respons anak setelah intervensi, apakah sudah mau minum atau tampak lebih tenang.
-
Article No. 24199 | 23 Feb 2026
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi dan Gangguan Pertukaran Gas terkait Tuberkulosis Paru
Kode SDKI: D.0015
Deskripsi Singkat: Risiko meningkatnya respons inflamasi tubuh terhadap mikroorganisme patogen atau toksinnya yang dapat mengancam integritas tubuh.
Kode SLKI: L.03115
Deskripsi : SLKI: Kontrol Infeksi. Tujuan akhirnya adalah pasien mampu mencegah dan mengendalikan penyebaran infeksi. Pada pasien tuberkulosis (TB) paru, ini merupakan fokus utama karena TB adalah penyakit infeksi menular melalui droplet. SLKI ini diukur dengan indikator perilaku atau kondisi pasien, seperti: (1) Pasien dan keluarga memahami dan menjelaskan cara penularan TB. (2) Pasien dan keluarga mendemonstrasikan etika batuk yang benar (menutup mulut dengan tisu atau lengan baju). (3) Pasien menggunakan masker dengan benar, terutama saat berinteraksi dengan orang lain atau di ruang publik. (4) Pasien dan keluarga memahami pentingnya pengobatan teratur hingga tuntas (DOTS) untuk mencegah resistensi dan memutus rantai penularan. (5) Lingkungan rumah memiliki ventilasi yang baik dan terkena sinar matahari. (6) Pasien dan keluarga melakukan kebersihan tangan (hand hygiene) dengan benar. Pencapaian SLKI ini sangat penting untuk keberhasilan terapi dan pencegahan penularan kepada orang di sekitarnya.
Kode SIKI: I.05095
Deskripsi : SIKI: Manajemen Infeksi. Ini adalah serangkaian intervensi keperawatan yang dilakukan untuk mencapai SLKI Kontrol Infeksi. Intervensi spesifik untuk pasien TB paru meliputi: (1) Edukasi Pasien dan Keluarga: Menjelaskan patofisiologi TB, cara penularan melalui droplet, pentingnya pengobatan rutin, dan efek samping obat. Pendidikan ini harus dilakukan dengan pendekatan yang empatik untuk meningkatkan kepatuhan. (2) Isolasi Droplet: Menganjurkan pasien menggunakan masker bedah, terutama dalam 2-3 minggu pertama pengobatan atau sampai dinyatakan tidak menular oleh dokter. Mengatur jarak saat berinteraksi. (3) Monitoring Tanda Gejala: Memantau suhu tubuh, karakteristik batuk dan dahak, sesak napas, dan tingkat kelelahan secara berkala untuk menilai perkembangan infeksi dan respons terhadap terapi. (4) Manajemen Sputum: Mengajarkan cara membuang dahak yang aman (misalnya, ke dalam wadah tertutup berisi desinfektan atau kertas tisu yang langsung dibakar/dibuang ke tempat sampah tertutup). Menyediakan wadah yang aman. (5) Kolaborasi Pemberian Obat: Memastikan pasien minum obat Anti Tuberkulosis (OAT) sesuai jadwal di bawah pengawasan (DOTS), memantau efek terapeutik dan efek samping obat seperti gangguan hati, neuritis optik, atau ruam kulit. (6) Optimalisasi Lingkungan: Menganjurkan ventilasi ruangan yang baik, membuka jendela, dan memastikan sinar matahari masuk karena sinar UV dapat membunuh basil TB. (7) Dukungan Nutrisi: Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menyusun diet tinggi kalori dan protein guna meningkatkan status imunologi pasien yang sering mengalami anoreksia dan penurunan berat badan. (8) Skrining Kontak: Menganjurkan anggota keluarga atau kontak dekat pasien untuk memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Intervensi-intervensi ini bersifat komprehensif, tidak hanya berfokus pada bakteriologis tetapi juga pada aspek perilaku, lingkungan, dan dukungan psikososial untuk memastikan keberhasilan terapi dan pencegahan.
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas terkait Tuberkulosis Paru
Kode SDKI: D.0098
Deskripsi Singkat: Kelebihan atau kekurangan oksigenasi dan/atau eliminasi karbondioksida pada membran alveolus-kapiler.
Kode SLKI: L.04031
Deskripsi : SLKI: Status Pernapasan. Tujuannya adalah mempertahankan atau mengembalikan pertukaran gas yang adekuat. Pada pasien TB paru dengan lesi dan konsolidasi, pertukaran gas terganggu. SLKI ini diukur dengan parameter fisiologis dan perilaku, seperti: (1) Frekuensi pernapasan dalam rentang normal. (2) Irama pernapasan teratur. (3) Tidak ada sianosis atau penggunaan otot bantu pernapasan. (4) Saturasi oksigen (SpO2) dalam batas normal (≥95%). (5) Pasien melaporkan tidak merasa sesak napas atau nyeri dada saat bernapas. (6) Bunyi napas bersih (clean sound) atau berkurangnya abnormalitas bunyi napas seperti ronki setelah terapi. (7) Pasien mampu melakukan aktivitas sehari-hari tanpa kelelahan berlebihan atau dispnea. Pencapaian SLKI ini menunjukkan bahwa proses inflamasi dan kerusakan jaringan paru dapat dikendalikan dan fungsi pernapasan membaik.
Kode SIKI: I.08041
Deskripsi : SIKI: Manajemen Jalan Napas. Intervensi ini ditujukan untuk mempertahankan jalan napas paten dan memfasilitasi pertukaran gas yang optimal. Pada pasien TB, intervensi meliputi: (1) Posisi: Menempatkan pasien pada posisi semi-Fowler atau Fowler tinggi untuk memudahkan ekspansi dada dan mengurangi kerja pernapasan. (2) Latihan Pernapasan: Mengajarkan latihan napas dalam dan batuk efektif untuk membantu mengeluarkan sekret dan mencegah atelektasis. Teknik batuk harus diajarkan dengan menutup mulut untuk mencegah penularan. (3) Fisioterapi Dada: Jika diindikasikan dan sesuai instruksi, dapat dilakukan perkusi, vibrasi, dan postural drainage dengan hati-hati (perhatikan kondisi umum pasien). (4) Oksigenasi: Memantau saturasi oksigen dan memberikan terapi oksigen sesuai dengan resep dokter jika ditemukan hipoksemia. (5) Manajemen Sekret: Membantu dan mengajarkan pasien untuk mengeluarkan dahak dengan aman. Memantau jumlah, warna, dan konsistensi dahak. (6) Monitoring Ketat: Mengobservasi tanda-tanda distress pernapasan seperti takipnea, sianosis, gelisah, dan penggunaan otot bantu napas. (7) Manajemen Kelelahan: Mengatur jadwal aktivitas dan istirahat untuk menghemat energi. Menganjurkan aktivitas bertahap sesuai toleransi. (8) Manajemen Nutrisi dan Cairan: Memastikan hidrasi yang adekuat untuk mengencerkan sekret, namun memantau keseimbangan cairan jika ada komplikasi. (9) Edukasi: Menjelaskan hubungan antara penyakit, sesak napas, dan pentingnya kepatuhan pengobatan untuk penyembuhan jaringan paru. Intervensi ini bersifat suportif dan bertujuan untuk mengoptimalkan fungsi paru sementara proses penyembuhan berlangsung dengan bantuan terapi obat.
-
Article No. 24200 | 23 Feb 2026
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Tuberkulosis Paru
Kode ICD-10: A15.0
Deskripsi Singkat : Tuberkulosis paru adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis, yang terutama menyerang jaringan paru-paru. Kondisi ini ditandai dengan gejala seperti batuk kronis (sering berdahak dan bisa berdarah), demam, berkeringat di malam hari, penurunan berat badan, kehilangan nafsu makan, dan sesak napas. Diagnosis didukung oleh temuan klinis seperti suara napas bronkial, gambaran lesi (seperti infiltrat, kavitas, atau nodul) pada rontgen dada, dan konfirmasi melalui pemeriksaan dahak (BTA). Kode ICD-10 A15.0 secara spesifik mengacu pada "Tuberkulosis paru, dikonfirmasi secara bakteriologis dan histologis". Penggunaan kode ini mengindikasikan bahwa diagnosis tuberkulosis paru telah dipastikan melalui metode konfirmatori seperti pemeriksaan mikroskopis dahak (BTA), kultur, atau pemeriksaan histologis jaringan, yang membedakannya dari diagnosis klinis semata. Kode ini termasuk dalam bab "Penyakit infeksi dan parasit" dan blok "Tuberkulosis", memungkinkan pelacakan epidemiologis dan manajemen kasus yang akurat. Penting untuk mencatat lokasi dan jenis konfirmasi untuk pemilihan kode yang tepat dalam sistem klasifikasi penyakit.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 24201 | 23 Feb 2026
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi Tuberkulosis Paru
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Risiko peningkatan kerentanan terhadap invasi patogen, khususnya Mycobacterium tuberculosis, yang dapat mengancam kesehatan.
Kode SLKI: 1920
Deskripsi : Pengendalian Infeksi: Tindakan untuk mencegah dan mengurangi risiko penyebaran infeksi. Pada pasien dengan TB paru, SLKI ini berfokus pada upaya mencegah penularan ke orang lain dan mencegah infeksi sekunder pada pasien sendiri. Intervensi keperawatan mencakup edukasi tentang etika batuk (menutup mulut dengan tisu atau lengan baju), pembuangan dahak yang aman, penggunaan masker yang benar terutama saat berinteraksi, dan pentingnya ventilasi udara yang baik di ruangan. Perawat juga memastikan pasien memahami protokol pengobatan untuk mencapai kesembuhan dan mengurangi masa penularan. Selain itu, perawat mengidentifikasi orang-orang yang memiliki kontak erat dengan pasien untuk direkomendasikan pemeriksaan lebih lanjut. Penerapan kewaspadaan isolasi droplet atau udara sesuai kebijakan rumah sakit juga merupakan bagian kritis dari SLKI ini. Tujuannya adalah memutus rantai penularan Mycobacterium tuberculosis di komunitas.
Kode SIKI: 3540
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas: Tindakan untuk mempertahankan jalan napas paten dan meningkatkan pertukaran gas. Pada pasien TB paru dengan batuk berdahak dan sesak napas, SIKI ini sangat relevan. Intervensi dimulai dengan pengkajian pola pernapasan, karakter batuk, dan sifat sputum. Perawat mengajarkan dan mendorong teknik batuk efektif untuk membantu mengeluarkan sekret. Posisi semi-Fowler atau duduk dapat diatur untuk memudahkan ekspansi dada dan mengurangi kerja napas. Hidrasi adekuat dianjurkan untuk mengencerkan dahak. Perawat juga memantau status oksigenasi melalui tanda-tanda vital dan warna kulit, serta memberikan terapi oksigen sesuai instruksi. Suctioning dapat dilakukan jika pasien tidak mampu mengeluarkan sekret sendiri. Edukasi tentang pentingnya kepatuhan minum obat anti-tuberkulosis (OAT) diberikan karena pengobatan yang tepat adalah kunci utama perbaikan kondisi jalan napas dengan mengurangi peradangan dan jumlah bakteri. Pemantauan terhadap efek samping OAT yang dapat mempengaruhi pernapasan juga dilakukan.
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: 0002
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang paten.
Kode SLKI: 3110
Deskripsi : Manajemen Pernapasan: Tindakan untuk mempromosikan pertukaran gas yang optimal dan fungsi pernapasan. SLKI ini lebih luas dari sekadar membersihkan jalan napas, mencakup upaya meningkatkan fungsi sistem pernapasan secara keseluruhan. Perawat mengkaji frekuensi, irama, dan kedalaman pernapasan, serta penggunaan otot bantu. Latihan napas dalam dan batuk efektif diajarkan dan difasilitasi. Perawat membantu dalam positioning untuk optimasi ventilasi, seperti posisi duduk bersandar atau tidur dengan kepala lebih tinggi. Lingkungan diatur agar bebas dari iritan seperti debu atau asap. Asupan nutrisi dan cairan yang cukup dipantau untuk mendukung energi pernapasan dan pengenceran sekret. Perawat juga memantau respons pasien terhadap terapi medis (seperti bronkodilator jika diberikan dan OAT) dan memberikan edukasi tentang pentingnya istirahat untuk menghemat energi dan mengurangi konsumsi oksigen. Pemantauan gas darah dan saturasi oksigen merupakan evaluasi penting dari SLKI ini.
Kode SIKI: 3540
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas: Tindakan untuk mempertahankan jalan napas paten dan meningkatkan pertukaran gas. Implementasi SIKI ini untuk diagnosa bersihan jalan napas tidak efektif berfokus pada tindakan langsung membersihkan sekret. Perawat melakukan auskultasi suara napas secara berkala untuk mendeteksi adanya penumpukan sekret (ronkhi, wheezing). Teknik fisioterapi dada seperti perkusi dan vibrasi dapat dilakukan untuk membantu melonggarkan dahak yang kental. Dorongan untuk batuk secara spontan dan teratur diberikan. Jika pasien lemah, bantuan dengan suctioning mungkin diperlukan. Pemberian nebulasi dengan saline normal dapat direkomendasikan untuk melembabkan jalan napas dan mengencerkan dahak. Perawat juga mengevaluasi efektivitas upaya pengeluaran sekret dengan menilai kemudahan bernapas, pengurangan suara napas abnormal, dan penurunan frekuensi batuk tidak produktif. Edukasi pada keluarga tentang cara membantu pasien dalam melakukan teknik pernapasan dan pengaturan posisi juga termasuk dalam SIKI ini.
Kondisi: Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: 0003
Deskripsi Singkat: Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh, yang dapat menyebabkan penurunan berat badan, kelemahan, dan menghambat penyembuhan.
Kode SLKI: 1100
Deskripsi : Manajemen Nutrisi: Tindakan untuk memfasilitasi asupan makanan dan cairan yang seimbang untuk mendukung kebutuhan metabolik. Pada pasien TB paru dengan anoreksia, SLKI ini dimulai dengan pengkajian pola makan, berat badan, status albumin, dan faktor penghambat nafsu makan (seperti mual, sesak, atau rasa tidak enak akibat obat). Perawat berkolaborasi dengan ahli gizi untuk menyusun diet tinggi kalori dan tinggi protein dalam porsi kecil namun sering, disesuaikan dengan toleransi pasien. Makanan disajikan dalam bentuk yang menarik dan mudah dikunyah. Lingkungan makan dibuat nyaman dan bebas dari bau yang tidak sedap. Perawat mendokumentasi asupan makanan dan cairan secara akurat. Edukasi diberikan pada pasien dan keluarga tentang pentingnya nutrisi dalam proses penyembuhan dan melawan infeksi TB, serta cara memilih makanan yang padat gizi. Suplemen nutrisi oral dapat direkomendasikan. Pemantauan berat badan secara teratur dilakukan untuk mengevaluasi keberhasilan intervensi.
Kode SIKI: 1050
Deskripsi : Bantuan Makan: Tindakan untuk membantu orang lain dalam mengonsumsi makanan. SIKI ini lebih spesifik pada tindakan langsung membantu pasien yang mungkin lemah, sesak, atau tidak bersemangat untuk makan. Perawat memastikan pasien dalam posisi yang nyaman (biasanya duduk) sebelum makan untuk mencegah aspirasi. Perawat dapat membantu memotong makanan, menyuapi, atau memberikan dorongan verbal untuk menghabiskan makanan. Kecepatan makan diatur agar pasien tidak kelelahan. Kebersihan mulut sebelum dan sesudah makan dijaga untuk meningkatkan nafsu makan. Perawat juga memantau adanya kesulitan menelan (disfagia) dan melaporkannya. Tindakan sederhana seperti menemani pasien makan atau melibatkan keluarga dalam proses pemberian makan dapat meningkatkan motivasi pasien untuk mengonsumsi nutrisi yang dibutuhkan untuk pemulihan dari penyakit kronis dan infeksius seperti tuberkulosis.
-
Article No. 24202 | 23 Feb 2026
Klinis : Pasien anak perempuan, usia 5 tahun, mengalami demam tinggi selama 3 hari, ruam merah di kulit, bintik Koplik di mukosa mulut, batuk kering, dan mata merah. Hasil pemeriksaan menunjukkan kemungkinan campak.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi dan Hipertermia terkait Proses Penyakit Infeksi Virus Campak
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Risiko meningkatnya respons inflamasi sistemik terhadap mikroorganisme patogen atau endotoksinnya.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : SLKI: Kontrol Infeksi. Tujuan utama adalah mencegah penyebaran infeksi dan mengatasi hipertermia. Perawat akan memantau tanda-tanda vital, khususnya suhu tubuh, setiap 2-4 jam untuk mendeteksi pola demam. Perawat akan mengajarkan dan mendorong orang tua untuk memberikan kompres hangat di aksila dan lipat paha untuk membantu menurunkan suhu tubuh secara fisik. Perawat akan memastikan asupan cairan anak meningkat, baik melalui minuman air putih, susu, atau kuah sup, untuk mencegah dehidrasi yang dipicu oleh demam. Perawat akan mengisolasi pasien sesuai dengan kewaspadaan droplet dan udara, menggunakan masker bagi yang kontak, serta mengajarkan etika batuk dan bersin yang benar (menutup mulut dengan lengan atas) untuk mencegah penularan virus campak ke orang lain. Perawat akan memantau karakteristik ruam dan mukosa mulut untuk mendeteksi tanda-tanda infeksi sekunder pada kulit. Selain itu, perawat akan memberikan edukasi kepada orang tua tentang pentingnya tirah baring, nutrisi yang adekuat (tinggi kalori dan protein, lembut), serta pentingnya vaksinasi campak untuk anggota keluarga lain yang belum terproteksi.
Kode SIKI: I.08001
Deskripsi : SIKI: Manajemen Infeksi. Intervensi keperawatan spesifik dimulai dengan pengukuran suhu yang akurat menggunakan termometer yang sesuai dan pencatatan yang teliti. Perawat akan melaksanakan tindakan isolasi dengan ketat, termasuk menempatkan pasien di ruangan tersendiri jika memungkinkan, atau menjaga jarak minimal 1 meter dari pasien lain, serta menggunakan alat pelindung diri (APD) yang tepat seperti masker bedah/N95. Perawat akan melakukan desinfeksi terhadap lingkungan sekitar pasien dan peralatan yang digunakan. Untuk manajemen hipertermia, perawat akan melaksanakan teknik kompres hangat dengan air suhu biasa (bukan air dingin/es) pada area pembuluh darah besar. Perawat akan mendokumentasikan asupan dan haluaran cairan untuk menilai keseimbangan cairan. Perawat akan memberikan edukasi secara komprehensif kepada keluarga, menjelaskan tentang patofisiologi campak, masa penularan (dari 4 hari sebelum sampai 4 hari setelah ruam muncul), pentingnya menghindari kontak dengan ibu hamil dan bayi yang belum divaksin, serta tanda-tanda bahaya seperti kejang, sesak napas, atau penurunan kesadaran yang mengharuskan segera kembali ke fasilitas kesehatan. Perawat juga akan melakukan perawatan kulit dengan memandikan anak menggunakan air hangat dan sabun lembut, mengeringkan kulit dengan ditepuk-tepuk (tidak digosok), serta memotong kuku anak untuk mencegah garukan yang dapat menyebabkan infeksi sekunder pada ruam. Perawat akan memantau munculnya komplikasi seperti diare, pneumonia, atau ensefalitis dengan waspada. Kolaborasi dengan tim medis dilakukan untuk pemberian terapi suportif seperti antipiretik (parasetamol), suplementasi vitamin A (yang terbukti mengurangi keparahan penyakit campak), dan antibiotik jika ada indikasi infeksi bakteri sekunder. Semua tindakan didokumentasikan secara lengkap untuk evaluasi keberhasilan intervensi dan kelanjutan asuhan.
-
Article No. 24203 | 23 Feb 2026
Klinis : Pasien mengeluh pusing berputar,ketika berubah posisi,hari mual muntah kecoklatan,batuk,pilek pasien riwayat cuci darah 1 Minggu 2 kali,riwayat Hipertensi dan DM
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Vertigo Posisional, Gagal Ginjal Kronik Stadium 5, Hipertensi, dan Diabetes Melitus dengan Komplikasi Ginjal
Kode ICD-10: H81.1, N18.5, I10, E11.22
Deskripsi Singkat : Pasien mengalami kompleksitas kondisi medis yang saling terkait. Keluhan utama pusing berputar yang dipicu perubahan posisi sangat mengarah pada Vertigo Posisional (H81.1), yaitu gangguan keseimbangan akibat masalah di telinga bagian dalam. Riwayat cuci darah dua kali seminggu menunjukkan Gagal Ginjal Kronik Stadium 5 (N18.5), yaitu tahap akhir penyakit ginjal yang memerlukan terapi pengganti ginjal. Hipertensi (I10) dan Diabetes Melitus (E11.22) merupakan komorbiditas utama yang sering menjadi penyebab dasar gagal ginjal diabetik. Mual muntah kecoklatan dapat terkait dengan uremia dari gagal ginjal atau gastroparesis diabetik, sedangkan batuk pilek mungkin merupakan infeksi saluran napas akut yang menyertai. Kode ICD-10 yang diusulkan merepresentasikan rangkaian diagnosis ini: H81.1 untuk gejala vertigo, N18.5 untuk kondisi ginjal terminal, I10 untuk hipertensi, dan E11.22 untuk diabetes melitus tipe 2 dengan komplikasi nefropati. Penatalaksanaan memerlukan pendekatan multidisiplin untuk mengatasi gejala akut (vertigo), mengelola terapi dialisis, dan mengontrol penyakit sistemik (hipertensi dan diabetes) secara ketat.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 24204 | 23 Feb 2026
Klinis : pasien ca mammae dengan luka ulkus di mammae kiri , bau sampaikem luar ruangan, riwayat operdarahandi lkuka
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi dan Gangguan Integritas Kulit/Jaringan
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Risiko meningkatnya respons terhadap patogen atau toksin endogen.
Kode SLKI: 1900
Deskripsi : SLKI 1900: Manajemen Infeksi. Tindakan untuk mencegah atau mengurangi infeksi. Pada pasien dengan ulkus kanker payudara yang berbau busuk dan riwayat perdarahan, fokus SLKI adalah pada pengendalian infeksi dan pencegahan komplikasi. Intervensi keperawatan meliputi: 1) Melakukan asesmen luka secara komprehensif termasuk lokasi, ukuran, kedalaman, karakteristik eksudat, dan tanda-tanda infeksi (seperti bau, eritema, edema, panas, nyeri). Bau busuk yang menyengat menunjukkan infeksi berat dan kemungkinan nekrosis jaringan. 2) Menerapkan teknik aseptik ketat selama perawatan luka untuk mencegah kontaminasi silang. 3) Melakukan perawatan luka dengan pembersihan menggunakan larutan antiseptik yang sesuai (misalnya, NaCl 0,9% atau antiseptik lain berdasarkan kebijakan dan kondisi luka) dan debridemen jika diperlukan untuk mengangkat jaringan nekrotik yang menjadi media pertumbuhan bakteri. 4) Memilih balutan yang tepat (misalnya, balutan modern seperti hidrofiber dengan silver untuk mengontrol bakteri dan bau, atau balutan karbon untuk menyerap bau) yang dapat mengelola eksudat dan odor. 5) Memantau tanda-tanda sistemik infeksi seperti demam, takikardia, dan peningkatan leukosit. 6) Melakukan edukasi pada pasien dan keluarga tentang pentingnya kebersihan, teknik perawatan luka di rumah jika memungkinkan, dan tanda-tanda infeksi yang harus diwaspadai. 7) Berkolaborasi dengan tim medis untuk pemberian antibiotik sistemik atau topikal sesuai indikasi. 8) Mengelola faktor risiko perdarahan dengan teknik perawatan luka yang lembut dan menggunakan balutan hemostatik jika diperlukan.
Kode SIKI: 4208
Deskripsi : SIKI 4208: Perawatan Luka. Tindakan untuk mempertahankan integritas kulit dan merawat luka. Pada kasus ulkus kanker payudara, perawatan luka merupakan intervensi kritis yang kompleks. Langkah-langkahnya meliputi: 1) Persiapan: menciptakan lingkungan yang nyaman dan privasi bagi pasien, mencuci tangan, menggunakan alat pelindung diri (APD) lengkap (sarung tangan steril, apron, masker) terutama mengingat bau yang kuat dan risiko paparan cairan tubuh. 2) Asesmen Luka: membuka balutan lama dengan hati-hati, mengobservasi luka (warna jaringan, tipe jaringan di dasar luka, jumlah dan karakter eksudat, bau, kondisi kulit sekitar). Ulkus keganasan sering memiliki tepi yang tidak teratur, dasar luka dengan jaringan nekrotik (hitam/eskar) atau slough (kuning), serta eksudat yang banyak dan berbau. 3) Pembersihan Luka: membersihkan luka dengan teknik irigasi lembut menggunakan larutan steril (NaCl 0,9%) dan syringe untuk mengurangi trauma. Menghindari penggunaan kapas yang dapat meninggalkan serat. Debridemen autolitik, mekanik lembut, atau enzimatik mungkin diperlukan untuk membersihkan luka, namun debridemen bedah harus dikolaborasikan dengan dokter. Perhatian ekstra diberikan karena riwayat perdarahan. 4) Pemilihan dan Aplikasi Balutan: memilih balutan berdasarkan prinsip TIME (Tissue, Infection/Inflammation, Moisture balance, Edge). Untuk mengontrol bau dan infeksi, balutan dengan silver atau metronidazole topikal dapat dipertimbangkan. Untuk mengelola eksudat yang banyak, digunakan balutan penyerap tinggi seperti alginat atau hidrofiber. Balutan harus melindungi kulit sekitar dari maserasi. 5) Dokumentasi: mendokumentasikan temuan, prosedur yang dilakukan, dan respons pasien secara akurat. 6) Edukasi dan Dukungan Psikososial: memberikan penjelasan tentang prosedur perawatan luka untuk mengurangi kecemasan. Memberikan dukungan emosional mengingat luka yang terlihat dan berbau dapat sangat menekan harga diri dan kualitas hidup pasien. Manajemen nyeri sebelum, selama, dan setelah perawatan luka juga harus dilakukan. Tindakan ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan luka yang optimal, mengontrol gejala (bau, eksudat), mencegah komplikasi (infeksi, perdarahan), dan meningkatkan kenyamanan serta kualitas hidup pasien.
-
Article No. 24205 | 23 Feb 2026
Klinis : Pasien mengeluh pusing berputar,ketika berubah posisi,hari mual muntah kecoklatan,batuk,pilek pasien riwayat cuci darah 1 Minggu 2 kali,riwayat Hipertensi dan DM
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakstabilan Tekanan Darah
Kode SDKI: 0025
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan, peningkatan, atau fluktuasi tekanan darah arteri sistolik dan/atau diastolik dari rentang yang dianggap normal bagi individu, yang dapat mengancam kesehatan.
Kode SLKI: 2402
Deskripsi : Tekanan darah dalam rentang yang diharapkan. Kriteria hasil: 1) Tekanan darah sistolik dalam rentang yang diharapkan. 2) Tekanan darah diastolik dalam rentang yang diharapkan. 3) Melaporkan tidak adanya gejala hipotensi (misalnya, pusing, sinkop). 4) Melaporkan tidak adanya gejala hipertensi (misalnya, sakit kepala, penglihatan kabur). 5) Mempertahankan tekanan darah yang stabil selama perubahan posisi.
Kode SIKI: 3400
Deskripsi : Pemantauan Tekanan Darah. Intervensi: 1) Identifikasi faktor risiko ketidakstabilan tekanan darah (misalnya, riwayat penyakit, pengobatan, prosedur). 2) Observasi tanda dan gejala hipotensi (misalnya, pusing, kelemahan, penurunan kesadaran, mual, kulit dingin dan lembab). 3) Observasi tanda dan gejala hipertensi (misalnya, sakit kepala, epistaksis, kelelahan, muntah, kejang, penurunan kesadaran). 4) Monitor tekanan darah sesuai kondisi pasien. 5) Bandingkan hasil pengukuran tekanan darah dengan rentang normal pasien dan hasil sebelumnya. 6) Lakukan pengukuran tekanan darah pada posisi yang sama (berbaring, duduk, atau berdiri) dan lengan yang sama setiap pengukuran. 7) Lakukan pengukuran tekanan darah pada kedua lengan dan bandingkan. 8) Anjurkan untuk menghindari manuver valsava. 9) Kolaborasi pemberian terapi untuk mengontrol tekanan darah sesuai indikasi.
Kondisi: Risiko Penurunan Volume Cairan
Kode SDKI: 0026
Deskripsi Singkat: Risiko mengalami penurunan volume cairan intravaskular, interstitial, dan/atau intraselular yang dapat mengancam kesehatan.
Kode SLKI: 1104
Deskripsi : Keseimbangan Cairan. Kriteria hasil: 1) Tanda vital dalam rentang normal. 2) Membran mukosa lembab. 3) Turgor kulit elastis. 4) Produksi urin adekuat. 5) Tidak ada rasa haus yang berlebihan. 6) Warna urin kuning muda. 7) Hasil laboratorium terkait keseimbangan cairan dalam rentang normal.
Kode SIKI: 4160
Deskripsi : Manajemen Cairan. Intervensi: 1) Monitor tanda-tanda dehidrasi (misalnya, turgor kulit, membran mukosa, rasa haus, produksi urin, tekanan darah, denyut nadi). 2) Monitor asupan dan haluaran cairan. 3) Timbang berat badan setiap hari dengan skala yang sama, waktu yang sama, dan pakaian yang sama. 4) Anjurkan meningkatkan asupan cairan sesuai toleransi dan batasan penyakit. 5) Kolaborasi pemberian cairan intravena sesuai indikasi. 6) Kolaborasi pemeriksaan laboratorium (misalnya, elektrolit, ureum, kreatinin, hematokrit). 7) Monitor tanda-tanda kelebihan volume cairan (misalnya, edema, crackles, distensi vena jugularis) terutama terkait riwayat cuci darah dan anuria.
Kondisi: Mual
Kode SDKI: 0029
Deskripsi Singkat: Sensasi tidak nyaman di faring, abdomen, atau dada yang dapat disertai keinginan untuk muntah atau tanpa muntah.
Kode SLKI: 1402
Deskripsi : Kontrol Mual. Kriteria hasil: 1) Melaporkan tidak adanya mual. 2) Melaporkan penurunan frekuensi mual. 3) Melaporkan penurunan keparahan mual. 4) Mempertahankan asupan nutrisi dan cairan. 5) Tidak terjadi muntah.
Kode SIKI: 1450
Deskripsi : Manajemen Mual. Intervensi: 1) Identifikasi faktor penyebab mual (misalnya, efek samping pengobatan, gangguan metabolik seperti uremia dari gagal ginjal, gangguan vestibular dari pusing). 2) Observasi frekuensi, durasi, dan faktor pencetus mual. 3) Observasi karakteristik muntahan (warna, volume, frekuensi). Muntah kecoklatan dapat mengindikasikan perdarahan saluran cerna bagian atas yang merupakan komplikasi serius pada pasien gagal ginjal. 4) Anjurkan teknik relaksasi napas dalam. 5) Anjurkan menghindari bau yang kuat. 6) Atur posisi semi-Fowler setelah makan. 7) Berikan perawatan mulut setelah muntah. 8) Kolaborasi pemberian antiemetik sesuai indikasi. 9) Kolaborasi pemeriksaan lebih lanjut untuk muntah kecoklatan.
Kondisi: Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas
Kode SDKI: 0006
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan membersihkan sekret atau obstruksi jalan napas untuk mempertahankan kebersihan jalan napas.
Kode SLKI: 0410
Deskripsi : Status Pernapasan. Kriteria hasil: 1) Suara napas bersih. 2) Tidak ada sianosis. 3) Tidak menggunakan otot bantu pernapasan. 4) Laju napas dalam rentang normal. 5) Melaporkan tidak adanya sesak napas. 6) Mampu mengeluarkan sekret efektif.
Kode SIKI: 3180
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas. Intervensi: 1) Auskultasi suara napas, catat adanya suara tambahan (ronkhi, wheezing). 2) Observasi karakteristik batuk dan sekret (sputum). 3) Bantu latihan napas dalam dan batuk efektif. 4) Ajarkan teknik batuk yang tepat. 5) Atur posisi semi-Fowler atau Fowler untuk memudahkan ekspansi paru. 6) Lakukan fisioterapi dada jika diperlukan. 7) Lakukan penghisapan lendir jika pasien tidak mampu mengeluarkan sekret. 8) Kolaborasi pemberian terapi nebulizer atau obat bronkodilator sesuai indikasi. 9) Anjurkan peningkatan asupan cairan untuk mengencerkan sekret, dengan mempertimbangkan batasan cairan pada pasien cuci darah.