Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 14590 | 22 Mar 2025
Klinis : Pasien terpasang ventilator mode CPAP dengan FiO2 60%, PEEP 5, Timax 1.5, Psupp 7, VT 483 ml; frekuensi napas 22 x/menit; saturasi oksigen 99%; tidak tampak adanya pernapasan cuping hidung; terlihat adanya retraksi dinding dada; irama napas teratur; dan tidak tampak adanya sianosis Nadi radialis teraba kuat dan dangkal, irama nadi teratur, frekuensi nadi 106 x/menit, tekanan darah 148/83 mmHg, CRT < 2 detik pada ekstremitas atas dan 2 detik pada ekstremitas bawah, akral teraba hangat, turgor kulit kembali dengan cepat, kulit lembap, terlihat adanya kemerahan pada area leher sekitar trakeostomi, dan terdapat perdarahan merembes dari trakeostomi Suhu pasien 36 C, terdapat memar pada area leher sekitar trakeostomi, terdapat luka insisi pada leher dengan ± 2-3 cm, terpasang trakeostomi dengan jahitan pada sisi kanan, kiri, dan bawah Keadaan umum pasien lemah, pasien tersedasi dengan pemberian midazolam melalui syringe pump 1 cc/jam, terpasang ventilator mode CPAP. Saat pengkajian pasien terpasang infus perifer pada kaki kiri; terpasang infuse pump untuk nutrisi (smofkabiven peripheral) dengan kecepatan 83 cc/jam; terpasang syringe pump untuk pemberian nicardipine dengan kecepatan 5 cc/jam dan midazolam dengan kecepatan 1 cc/jam; terpasang NGT; dan terpasang kateter urine. Hasil laboratorium terakhir menunjukkan kadar hemoglobin 12 g/dL, hematokrit 37.6%, eritrosit 3.97 10^6/uL, leukosit 24.5 10^3/uL
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi klinis yang diberikan, berikut adalah Diagnosa Keperawatan, penjelasan singkat, dan rencana tindakan keperawatan mengacu pada standar SDKI, SLKI, dan SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
1. Diagnosa Keperawatan:
a. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
b. Gangguan Perfusi Jaringan Perifer
c. Intoleransi Aktivitas
d. Risiko Infeksi
2. Penjelasan Singkat:
a. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif:
- Pasien terpasang ventilator dengan mode CPAP, menunjukkan adanya retraksi dinding dada, yang mengindikasikan kesulitan dalam mempertahankan bersihan jalan napas yang efektif.
b. Gangguan Perfusi Jaringan Perifer:
- Kondisi pasien menunjukkan adanya nadi radialis yang teraba kuat dan dangkal, irama nadi teratur, frekuensi nadi 106 x/menit, tekanan darah 148/83 mmHg, CRT > 2 detik pada ekstremitas bawah, akral teraba hangat, dan terdapat perdarahan merembes dari trakeostomi, yang mengindikasikan adanya gangguan perfusi jaringan perifer.
c. Intoleransi Aktivitas:
- Pasien terlihat lemah dan terpasang ventilator, yang menunjukkan adanya penurunan kemampuan dalam melakukan aktivitas.
d. Risiko Infeksi:
- Terdapat kemerahan pada area leher sekitar trakeostomi, serta memar dan luka insisi pada leher, yang memungkinkan terjadinya infeksi.
3. Rencana Tindakan Keperawatan:
a. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif:
- Lakukan suction jalan napas jika diperlukan
- Berikan humidifikasi oksigen yang adekuat
- Kolaborasi dengan tim medis untuk evaluasi dan penyesuaian pengaturan ventilator
b. Gangguan Perfusi Jaringan Perifer:
- Monitor tanda-tanda vital secara teratur
- Kolaborasi dengan tim medis untuk evaluasi dan pengobatan gangguan perfusi
- Lakukan perawatan luka trakeostomi secara aseptik
c. Intoleransi Aktivitas:
- Lakukan mobilisasi pasien secara bertahap sesuai kemampuan
- Kolaborasi dengan fisioterapis untuk intervensi rehabilitasi
d. Risiko Infeksi:
- Lakukan perawatan luka trakeostomi secara aseptik
- Monitor tanda-tanda infeksi dan kolaborasi dengan tim medis jika diperlukan
- Pastikan penggunaan alat dan bahan steril saat melakukan tindakan keperawatan
Rencana tindakan keperawatan ini harus disesuaikan dengan kondisi klinis pasien dan kolaborasi dengan tim medis untuk mencapai hasil yang optimal. -
Article No. 14591 | 22 Mar 2025
Klinis : pasien post incisi drain pada mandibula, ROSC dengan RJP 2 siklus dan epinefrin 2 ampule, sepsis, post trakeostomi CITO Pasien terpasang ventilator mode CPAP dengan FiO2 60%, PEEP 5, Timax 1.5, Psupp 7, VT 483 ml; frekuensi napas 22 x/menit; saturasi oksigen 99%; tidak tampak adanya pernapasan cuping hidung; terlihat adanya retraksi dinding dada; irama napas teratur; dan tidak tampak adanya sianosis Nadi radialis teraba kuat dan dangkal, irama nadi teratur, frekuensi nadi 106 x/menit, tekanan darah 148/83 mmHg, CRT < 2 detik pada ekstremitas atas dan 2 detik pada ekstremitas bawah, akral teraba hangat, turgor kulit kembali dengan cepat, kulit lembap, terlihat adanya kemerahan pada area leher sekitar trakeostomi, dan terdapat perdarahan merembes dari trakeostomi Suhu pasien 36 C, terdapat memar pada area leher sekitar trakeostomi, terdapat luka insisi pada leher dengan ± 2-3 cm, terpasang trakeostomi dengan jahitan pada sisi kanan, kiri, dan bawah Keadaan umum pasien lemah, pasien tersedasi dengan pemberian midazolam melalui syringe pump 1 cc/jam, terpasang ventilator mode CPAP. Saat pengkajian pasien terpasang infus perifer pada kaki kiri; terpasang infuse pump untuk nutrisi (smofkabiven peripheral) dengan kecepatan 83 cc/jam; terpasang syringe pump untuk pemberian nicardipine dengan kecepatan 5 cc/jam dan midazolam dengan kecepatan 1 cc/jam; terpasang NGT; dan terpasang kateter urine. Hasil laboratorium terakhir menunjukkan kadar hemoglobin 12 g/dL, hematokrit 37.6%, eritrosit 3.97 10^6/uL, leukosit 24.5 10^3/uL, pH 7.491, PCO2 33.1, HCO3- 25
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang diberikan, berikut adalah Diagnosa Keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
1. Diagnosa Keperawatan: Risiko Perdarahan Berhubungan dengan Prosedur Invasif (Post Incisi Drain pada Mandibula, Post Trakeostomi)
- SDKI: Risiko Perdarahan
- SLKI: Pemantauan Perdarahan
- SIKI: Manajemen Perdarahan
Penjelasan Singkat:
Pasien memiliki risiko perdarahan terkait prosedur invasif yang dilakukan, yaitu incisi drain pada mandibula dan trakeostomi. Intervensi keperawatan akan berfokus pada pemantauan tanda-tanda perdarahan dan manajemen perdarahan yang mungkin terjadi.
2. Diagnosa Keperawatan: Gangguan Pola Napas Berhubungan dengan Trauma pada Saluran Napas (Post Trakeostomi)
- SDKI: Gangguan Pola Napas
- SLKI: Pemantauan Respirasi
- SIKI: Manajemen Jalan Napas
Penjelasan Singkat:
Pasien memiliki gangguan pola napas akibat trauma pada saluran napas karena tindakan trakeostomi. Intervensi keperawatan akan berfokus pada pemantauan pola napas dan manajemen jalan napas untuk mempertahankan oksigenasi yang adekuat.
3. Diagnosa Keperawatan: Infeksi Berhubungan dengan Prosedur Invasif (Post Incisi Drain pada Mandibula, Post Trakeostomi, Sepsis)
- SDKI: Infeksi
- SLKI: Pemantauan Infeksi
- SIKI: Manajemen Infeksi
Penjelasan Singkat:
Pasien memiliki risiko infeksi terkait adanya beberapa prosedur invasif, seperti incisi drain pada mandibula, trakeostomi, dan sepsis. Intervensi keperawatan akan berfokus pada pemantauan tanda-tanda infeksi dan manajemen infeksi untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.
4. Diagnosa Keperawatan: Kekurangan Volume Cairan Berhubungan dengan Kehilangan Cairan Melalui Perdarahan dan Penurunan Asupan
- SDKI: Kekurangan Volume Cairan
- SLKI: Pemantauan Cairan
- SIKI: Manajemen Cairan
Penjelasan Singkat:
Pasien memiliki risiko kekurangan volume cairan akibat kehilangan cairan melalui perdarahan dan penurunan asupan. Intervensi keperawatan akan berfokus pada pemantauan status cairan dan manajemen cairan untuk mempertahankan volume cairan yang adekuat.
5. Diagnosa Keperawatan: Nyeri Akut Berhubungan dengan Prosedur Invasif (Post Incisi Drain pada Mandibula, Post Trakeostomi)
- SDKI: Nyeri Akut
- SLKI: Pemantauan Nyeri
- SIKI: Manajemen Nyeri
Penjelasan Singkat:
Pasien mengalami nyeri akut terkait dengan prosedur invasif yang dilakukan, seperti incisi drain pada mandibula dan trakeostomi. Intervensi keperawatan akan berfokus pada pemantauan nyeri dan manajemen nyeri untuk memberikan kenyamanan bagi pasien.
Catatan: Diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat di atas didasarkan pada informasi klinis yang diberikan. Evaluasi dan intervensi keperawatan yang lebih spesifik akan bergantung pada penilaian dan monitoring lebih lanjut oleh perawat yang merawat pasien secara langsung. -
Article No. 14551 | 21 Mar 2025
Klinis : Data Subjektif : Anak klien mengatakan klien sudah lama terbaring lemah sejak ± 1 bulan Data Objektif : • Klien tampak pucat • Konjungtiva anemis • CRT >3 detik • Warna kulit pucat • Akral teraba dingin • Turgor kulit menurun >2 detik • Kadar HB : 3,78 gr%
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan data subjektif dan objektif yang diberikan, diagnosis keperawatan yang sesuai adalah:
1. Penurunan Volume Cairan Tubuh
SDKI: Penurunan Volume Cairan Tubuh adalah keadaan kekurangan cairan, natrium, dan/atau kalium yang mengakibatkan gangguan homeostasis.
SLKI: Tanda dan gejala yang mungkin muncul antara lain kulit kering dan pucat, turgor kulit menurun, akral dingin, dan CRT >3 detik.
SIKI: Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan meliputi pemantauan tanda vital, pemeriksaan laboratorium, pemberian dukungan cairan, serta edukasi kepada pasien dan keluarga.
Penjelasan singkat:
Klien mengalami penurunan volume cairan tubuh yang ditandai dengan gejala klinis seperti kulit pucat, konjungtiva anemis, CRT >3 detik, akral teraba dingin, dan turgor kulit menurun >2 detik. Hal ini disebabkan oleh kondisi anemia yang ditunjukkan dengan kadar Hb yang rendah (3,78 gr%). Intervensi keperawatan yang perlu dilakukan adalah pemantauan tanda vital, pemeriksaan laboratorium, pemberian dukungan cairan, serta edukasi kepada pasien dan keluarga untuk mencegah komplikasi lebih lanjut. -
Article No. 14552 | 21 Mar 2025
Klinis : Anak klien mengatakan klien sudah lama terbaring lemah sejak ± 1 bulan. Klien juga mengeluh nyeri dada hilang timbul disertai sesak. Data Objektif : • Klien tampak lemah • Klien tampak sesak • Gambaran EKG : Sinus Takikardi • Nadi 109 x/menit • TD 128/75 mmHg • RR 24 x/menit • Kadar HB : 3,78 gr%
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan data yang diberikan, diagnosa keperawatan yang dapat dirumuskan adalah:
1. Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Kardiovaskular
Definisi: Pengurangan sirkulasi darah dan oksigen ke jaringan yang dapat membahayakan kesehatan.
SDKI:
- Tanda & Gejala: Klien tampak lemah, nyeri dada hilang timbul, sesak, Sinus Takikardi, nadi cepat, tekanan darah tinggi, kadar hemoglobin rendah.
SLKI:
- Hasil yang Diharapkan: Klien menunjukkan perfusi jaringan yang efektif.
SIKI:
- Intervensi Keperawatan: Pemantauan tanda-tanda vital, manajemen nyeri, oksigenasi, dan kolaborasi pemberian obat-obatan.
2. Intoleransi Aktivitas
Definisi: Ketidakmampuan untuk menoleransi atau menyelesaikan aktivitas rutin.
SDKI:
- Tanda & Gejala: Klien tampak lemah, sesak.
SLKI:
- Hasil yang Diharapkan: Klien dapat berpartisipasi dalam aktivitas sesuai kemampuan.
SIKI:
- Intervensi Keperawatan: Manajemen energi, peningkatan mobilitas, dan edukasi.
Penjelasan singkat:
Diagnosa keperawatan utama adalah Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Kardiovaskular, yang menggambarkan adanya gangguan sirkulasi dan oksigenasi ke jaringan. Hal ini ditandai dengan klien yang tampak lemah, nyeri dada hilang timbul, sesak, serta hasil pemeriksaan EKG, tanda vital, dan kadar hemoglobin yang tidak normal.
Selain itu, Intoleransi Aktivitas juga menjadi diagnosa keperawatan yang terkait, karena klien menunjukkan ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas rutin akibat kondisi kelemahan dan sesak yang dialami.
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan meliputi pemantauan tanda-tanda vital, manajemen nyeri, oksigenasi, kolaborasi pemberian obat-obatan, manajemen energi, peningkatan mobilitas, dan edukasi. -
Article No. 14553 | 21 Mar 2025
Klinis : Anak klien mengatakan klien tidak bisa menggerakkan tangan kiri dan kedua kakinya. Terasa nyeri jika digerakkan. Klien tidak mampu berjalan, hanya dibantu dengan kursi roda. Klien sudah lama terbaring lemah sejak ± 1 bulan. Kedua tangan dan kaki sedikit bengkak. Data Objektif : • Klien tampak lemah • Kekuatan otot menurun 3 1 1 1 • Ada keluhan nyeri jika digerakkan • Ada keluhan kaku sendi • ADL sepenuhnya dibantu oleh keluarga dan alat
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan:
1. Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Perifer Berhubungan dengan Penurunan Aliran Darah
Penjelasan:
Kondisi klien dengan keluhan tidak dapat menggerakkan tangan kiri dan kedua kakinya, adanya nyeri saat digerakkan, serta kekuatan otot yang menurun menunjukkan adanya gangguan pada perfusi jaringan perifer. Hal ini dapat disebabkan oleh penurunan aliran darah ke jaringan.
2. Mobilitas Fisik Terganggu Berhubungan dengan Penurunan Kekuatan Otot
Penjelasan:
Klien tidak mampu berjalan dan hanya dapat dibantu dengan kursi roda, serta mengalami penurunan kekuatan otot pada ekstremitas, menunjukkan adanya gangguan mobilitas fisik yang disebabkan oleh penurunan kekuatan otot.
3. Risiko Gangguan Integritas Kulit Berhubungan dengan Tekanan yang Berkepanjangan
Penjelasan:
Kondisi klien yang sudah lama terbaring lemah selama ± 1 bulan, serta adanya keluhan bengkak pada kedua tangan dan kaki, dapat meningkatkan risiko gangguan integritas kulit akibat tekanan yang berkepanjangan.
Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) merupakan standar yang dikembangkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk menjamin kualitas dan keseragaman praktik keperawatan di Indonesia. -
Article No. 14554 | 21 Mar 2025
Klinis : An. j umur 12 tahun datang ke ugd dengan keluhan gatal" ditangan (scabies) dengan pemeriksaan lainnya TD : 110/80 mmHg, N:90 x/menit, Rr:20 x/menit, S: 36 derajat sebutkan diagnosannya
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Assalamualaikum, rekan-rekan perawat. Pada kasus ini, mari kita bahas langkah-langkah asuhan keperawatan yang dapat diberikan.
Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai:
Diagnosa keperawatan yang sesuai dengan kondisi An. J adalah "Kerusakan Integritas Kulit" (SDKI, 2017). Hal ini didasarkan pada keluhan utama pasien yaitu gatal-gatal di tangan, yang merupakan manifestasi dari scabies. Scabies adalah infeksi kulit yang disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei, yang menimbulkan gejala utama berupa rasa gatal yang membuat pasien merasa tidak nyaman.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Integritas Kulit Membaik
- Kriteria hasil: Kulit kering dan utuh, tidak ada lesi, gatal berkurang
- Indikator:
a. Kulit tampak bersih dan utuh
b. Tidak ada tanda-tanda infeksi pada kulit
c. Pasien menyatakan rasa gatal berkurang
2. Kontrol Infeksi
- Kriteria hasil: Tidak terjadi penyebaran infeksi, tanda-tanda infeksi berkurang
- Indikator:
a. Tanda-tanda infeksi (kemerahan, bengkak, hangat, nyeri) berkurang
b. Tidak ada tanda-tanda infeksi baru muncul
c. Pasien bebas dari komplikasi akibat infeksi
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Manajemen Infeksi
- Tujuan: Membantu mencegah dan mengendalikan infeksi
- Inti intervensi:
a. Lakukan cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien
b. Anjurkan pasien untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan
c. Lakukan perawatan kulit yang terinfeksi sesuai prosedur
d. Ajarkan pasien tentang cara mencegah penularan infeksi
2. Manajemen Gejala
- Tujuan: Membantu mengurangi gejala yang dialami pasien
- Inti intervensi:
a. Berikan obat antiskabies sesuai resep dokter
b. Aplikasikan krim penghilang gatal pada kulit yang gatal
c. Ajarkan pasien cara mengatasi gatal (misalnya dengan kompres dingin)
d. Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhan istirahat dan tidur
3. Edukasi Kesehatan
- Tujuan: Memberikan informasi dan pemahaman kepada pasien dan keluarga
- Inti intervensi:
a. Jelaskan penyebab, tanda, dan cara penularan scabies
b. Ajarkan cara perawatan diri dan lingkungan untuk mencegah penyebaran
c. Motivasi pasien dan keluarga untuk mematuhi pengobatan dan perawatan
Penjelasan rinci:
Diagnosa keperawatan "Kerusakan Integritas Kulit" dipilih karena kondisi scabies yang dialami pasien menyebabkan kerusakan pada kulit berupa gatal-gatal, lesi, dan potensi infeksi. Luaran yang diharapkan adalah perbaikan integritas kulit dan pengendalian infeksi, sehingga intervensi yang dilakukan berfokus pada manajemen infeksi, manajemen gejala, dan edukasi kesehatan.
Manajemen infeksi bertujuan untuk mencegah dan mengendalikan infeksi lebih lanjut, termasuk menjaga kebersihan dan perawatan kulit yang terinfeksi. Manajemen gejala diarahkan untuk mengurangi keluhan gatal-gatal yang dialami pasien, melalui pemberian obat antiskabies dan intervensi lain. Edukasi kesehatan penting dilakukan untuk meningkatkan pemahaman pasien dan keluarga terkait penyakit, perawatan diri, dan pencegahan penularan.
Semoga penjelasan ini bermanfaat. Jika ada pertanyaan lebih lanjut, silakan ditanyakan. Terima kasih. -
Article No. 14555 | 21 Mar 2025
Klinis : An. j umur 12 tahun datang ke ugd dengan keluhan gatal" ditangan (scabies) dengan pemeriksaan lainnya TD : 110/80 mmHg, N:90 x/menit, Rr:20 x/menit, S: 36 derajat sebutkan diagnosannya
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai untuk kondisi An. J umur 12 tahun dengan keluhan gatal-gatal di tangan (scabies) adalah:
1. Intoleransi Aktivitas Berhubungan dengan Keterbatasan Fisik Akibat Gejala Penyakit
Definisi: Ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas rutin yang diinginkan, disebabkan oleh keterbatasan fisik akibat gejala penyakit.
Batasan Karakteristik:
- Keluhan kelelahan
- Kelemahan fisik
- Kesulitan dalam melakukan aktivitas sehari-hari
2. Gangguan Integritas Kulit Berhubungan dengan Infeksi Parasit (Scabies)
Definisi: Kerusakan pada epidermis dan/atau dermis kulit.
Batasan Karakteristik:
- Adanya lesi kulit
- Gatal-gatal
- Perubahan warna kulit
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Peningkatan Toleransi Aktivitas
- Pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan bantuan minimal
- Pasien dapat mengenali tanda kelelahan dan melakukan istirahat yang cukup
- Pasien dapat berpartisipasi dalam program peningkatan toleransi aktivitas
2. Pemulihan Integritas Kulit
- Lesi kulit berangsur-angsur membaik
- Gatal-gatal berkurang
- Tidak ada tanda-tanda infeksi
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Peningkatan Toleransi Aktivitas
- Asesmen kemampuan fisik pasien
- Manajemen energi
- Terapi aktivitas
- Edukasi pasien dan keluarga tentang manajemen energi
2. Pemulihan Integritas Kulit
- Perawatan kulit
- Manajemen gejala (anti-gatal, antimikroba topikal)
- Edukasi pasien dan keluarga tentang perawatan kulit dan pengobatan
- Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian pengobatan sistemik (jika diperlukan)
Penjelasan:
1. Diagnosa keperawatan pertama, "Intoleransi Aktivitas", dipilih karena kondisi scabies dapat menyebabkan keterbatasan fisik dan kelelahan pada pasien sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Diagnosa ini berfokus pada upaya meningkatkan toleransi aktivitas pasien.
2. Diagnosa keperawatan kedua, "Gangguan Integritas Kulit", dipilih karena kondisi scabies menyebabkan kerusakan pada kulit berupa lesi dan gatal-gatal. Diagnosa ini berfokus pada pemulihan integritas kulit pasien.
3. Luaran/Output yang diharapkan sesuai dengan masing-masing diagnosa keperawatan, yaitu peningkatan toleransi aktivitas dan pemulihan integritas kulit. Indikator keberhasilan disesuaikan dengan batasan karakteristik dari masing-masing diagnosa.
4. Intervensi keperawatan yang diperlukan mencakup asesmen, manajemen gejala, edukasi, dan kolaborasi dengan dokter untuk mencapai tujuan luaran yang diharapkan. Intervensi ini dirancang untuk mengatasi masalah keperawatan secara komprehensif. -
Article No. 14556 | 21 Mar 2025
Klinis : perilaku kekerasan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Assalamualaikum, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat mengenai SDKI - SLKI - SIKI untuk kondisi perilaku kekerasan, dengan tone akademis dan persona sebagai pakar perawat.
Diagnosa Keperawatan:
Perilaku Kekerasan
Definisi:
Perilaku kekerasan merupakan perilaku yang dapat mencederai diri sendiri, orang lain, atau lingkungan secara fisik, verbal, atau psikologis. Perilaku ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk masalah psikologis, sosial, atau lingkungan.
Penjelasan Singkat SDKI - SLKI - SIKI:
1. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Definisi dan kriteria diagnostik perilaku kekerasan
- Faktor-faktor penyebab perilaku kekerasan, seperti stres, gangguan mental, atau riwayat penyalahgunaan zat
- Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan, seperti manajemen agresi, terapi kognitif-perilaku, atau terapi lingkungan
2. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Outcome yang diharapkan, seperti kemampuan pasien dalam mengendalikan perilaku kekerasan, menurunnya frekuensi episode kekerasan, atau peningkatan kemampuan pasien dalam menyampaikan emosi secara positif
- Kriteria evaluasi untuk mengukur pencapaian outcome tersebut
3. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan, seperti manajemen lingkungan, terapi aktivitas, atau intervensi psikososial
- Aktivitas-aktivitas spesifik dalam setiap intervensi, beserta rasional dan bukti-bukti terkait efektivitasnya
Sebagai pakar perawat, saya menekankan pentingnya pendekatan holistik dalam menangani perilaku kekerasan, dengan memperhatikan aspek fisik, psikologis, sosial, dan spiritual. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain juga sangat penting untuk mencapai hasil yang optimal. Semoga penjelasan ini bermanfaat bagi Anda. Apabila ada pertanyaan lebih lanjut, saya bersedia untuk membantu.
Wassalamualaikum. -
Article No. 14557 | 21 Mar 2025
Klinis : perilaku kesehatan cenderung berisko
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan:
Perilaku Kesehatan Berisiko
Penjelasan:
Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI):
Perilaku Kesehatan Berisiko didefinisikan sebagai "Pola perilaku yang meningkatkan kemungkinan terjadinya masalah kesehatan atau cedera." Kondisi ini dicirikan oleh adanya perilaku yang dapat membahayakan kesehatan, seperti merokok, mengonsumsi alkohol berlebihan, pola makan tidak sehat, aktivitas fisik yang tidak teratur, dan perilaku berisiko lainnya.
Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI):
Luaran yang diharapkan dari masalah ini adalah Perilaku Kesehatan Berisiko Terkendali, yang ditandai dengan klien dapat mengenali perilaku berisiko, mengurangi atau menghindari perilaku berisiko, serta menerapkan perilaku sehat dalam kehidupan sehari-hari.
Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI):
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan antara lain:
1. Konseling gaya hidup sehat: Memberikan edukasi dan dukungan kepada klien untuk mengidentifikasi perilaku berisiko dan mengembangkan rencana perubahan gaya hidup yang sehat.
2. Manajemen stres: Membantu klien dalam mengelola stres dan mengurangi dampak negatif dari stres terhadap perilaku kesehatan.
3. Fasilitasi kelompok dukungan: Memfasilitasi pembentukan kelompok dukungan sebaya untuk saling mendukung dalam mengubah perilaku berisiko.
Dengan pendekatan yang komprehensif dan kolaboratif, perawat dapat membantu klien dalam mengenali dan mengendalikan perilaku kesehatan berisiko, sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan klien. -
Article No. 14558 | 21 Mar 2025
Klinis : perilaku kesehatan cenderung berisko
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Baik, atas kondisi "perilaku kesehatan cenderung berisko", berikut adalah kode ICD-10 untuk diagnosis yang sesuai:
1. Kode ICD-10:
- Kode: Z72.8
- Deskripsi: Masalah yang berhubungan dengan gaya hidup, lainnya. Kategori ini mencakup berbagai masalah terkait gaya hidup yang dapat mempengaruhi kesehatan, seperti perilaku berisiko.
Sayangnya, dalam kasus ini tidak ada kode ICD-9-CM untuk prosedur atau tindakan medis yang spesifik, karena tidak ada tindakan medis yang dilakukan secara langsung untuk menangani kondisi ini. Perilaku berisiko biasanya perlu ditangani melalui intervensi edukasi, konseling, atau perubahan gaya hidup yang didukung oleh tenaga kesehatan.
Sebagai tenaga medis, kami perlu mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap perilaku berisiko pasien, seperti kurangnya pengetahuan tentang kesehatan, pengaruh teman sebaya, masalah kesehatan mental, atau kurangnya akses ke layanan kesehatan yang memadai. Setelah itu, kami dapat memberikan edukasi, konseling, dan dukungan yang diperlukan untuk membantu pasien mengubah perilaku berisiko menjadi lebih sehat.