Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 14777 | 25 Mar 2025
Klinis : Seorang anak laki-laki usia 15 bulan dibawa ke ruang gawat darurat karena keluhan demam tinggi sejak 3 hari yang lalu. Ibu mengatakan bahwa anak nya sering sekali pipis, dalam 1 ibu harus mengganti diapers anak sebanyak 10 kali. Ibu juga mengatakan bahwa anak lebih rewel dari biasanya. Anak juga terlihat mengejan dan menjerit ketika berkemih. Hasil pemeriksaan didapatkan tanda-tanda vital anak: Nadi: 120x/menit, nafas: 48x/menit, suhu: 38,9⁰C. kulit teraba hangat dan kemerahan. Anak terlihat pucat, gelisah dan menangis. Urin berbau tajam, terlihat ruam didaerah selangkangan dan genital. 3 diagnosa
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci untuk setiap poin yang Anda minta.
Diagnosa Keperawatan SDKI:
1. Risiko infeksi urinaria berhubungan dengan hipertermia, disuria, dan inkontinensia urinaria.
2. Nyeri berhubungan dengan infeksi saluran kemih.
3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelelahan dan kelemahan fisik.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Tidak terjadi komplikasi akibat infeksi urinaria.
2. Anak dapat mengenali dan mengkomunikasikan rasa nyeri.
3. Anak dapat beraktivitas sesuai kapasitasnya.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Risiko infeksi urinaria berhubungan dengan hipertermia, disuria, dan inkontinensia urinaria:
a. Monitor tanda-tanda vital secara teratur.
b. Identifikasi faktor risiko infeksi urinaria.
c. Kolaborasi dalam pemberian terapi antibiotik.
d. Terapkan prinsip-prinsip pencegahan infeksi.
e. Edukasi orang tua tentang pencegahan infeksi urinaria.
2. Nyeri berhubungan dengan infeksi saluran kemih:
a. Observasi ekspresi nyeri anak.
b. Berikan analgesik sesuai indikasi.
c. Terapkan teknik nonfarmakologis pengelolaan nyeri.
d. Edukasi orang tua tentang manajemen nyeri.
3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelelahan dan kelemahan fisik:
a. Monitor tanda-tanda ketidakstabilan hemodinamik.
b. Berikan aktivitas sesuai toleransi anak.
c. Kolaborasi dengan fisioterapis untuk rehabilitasi.
d. Edukasi orang tua tentang program aktivitas yang aman.
Penjelasan rinci:
Diagnosa Keperawatan SDKI:
1. Risiko infeksi urinaria berhubungan dengan hipertermia, disuria, dan inkontinensia urinaria. Anak laki-laki usia 15 bulan ini memiliki gejala infeksi saluran kemih, seperti demam tinggi, disuria, dan inkontinensia urinaria, yang meningkatkan risiko terjadinya infeksi urinaria.
2. Nyeri berhubungan dengan infeksi saluran kemih. Anak ini menunjukkan gejala nyeri saat berkemih, seperti mengejan dan menjerit, yang berhubungan dengan infeksi saluran kemih.
3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelelahan dan kelemahan fisik. Anak ini terlihat pucat, gelisah, dan menangis, yang mengindikasikan adanya kelelahan dan kelemahan fisik akibat infeksi yang dialaminya.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Tidak terjadi komplikasi akibat infeksi urinaria. Tujuan ini diharapkan dapat dicapai melalui intervensi yang tepat dan pengelolaan infeksi urinaria yang adekuat.
2. Anak dapat mengenali dan mengkomunikasikan rasa nyeri. Tujuan ini diharapkan dapat dicapai melalui observasi yang tepat dan pemberian intervensi manajemen nyeri yang efektif.
3. Anak dapat beraktivitas sesuai kapasitasnya. Tujuan ini diharapkan dapat dicapai melalui pemantauan status hemodinamik, pemberian aktivitas yang tepat, serta rehabilitasi yang sesuai.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
Setiap intervensi yang diberikan bertujuan untuk mencapai luaran yang diharapkan dan mengatasi masalah-masalah keperawatan yang teridentifikasi. Intervensi tersebut meliputi pemantauan, identifikasi faktor risiko, kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain, penerapan prinsip pencegahan infeksi, edukasi, pemberian analgesik, teknik manajemen nyeri nonfarmakologis, serta pemberian aktivitas dan rehabilitasi yang sesuai. -
Article No. 14778 | 25 Mar 2025
Klinis : Seorang anak laki-laki, berusia 18 bulan, berat badan 14 Kg, panjang badan 85 cm, dibawa oleh ayah dan ibunya ke RSUD A dengan keluhan kepala anak membesar sejak usia 3 bulan tidak seperti bayi seusianya, dan anak sering mengalami muntah-muntah sejak 2 minggu sebelum dibawa ke rumah sakit. Keluhan muntah-muntah didahului dengan adanya keluhan batuk pilek selama 2 minggu sebelumnya. Keluhan batuk pilek juga disertai demam. Keluhan membaik setelah anak dibawa berobat ke klinik dokter umum, namun keluhan muntah tetap ada. Menurut ibunya, anak mengalami muntah seperti menyemprot/menyembur setiap kali anak coba diberi makan atau minum. Anak kemudian dirawat di RSUD A. Saat dirawat ukuran kepala anak semakin membesar sehingga akhirnya dilakukan pemeriksaan CT Scan, dan didapatkan hasil adanya peningkatan cairan di otak. Selain itu mata anak juga menjadi juling. Anak kemudian dirujuk ke dokter spesialis anak di RSUP B. Anak juga sempat mengalami kejang 2 kali dengan bentuk kejang kelojotan setelah mendengar suara bising. Anak kejang selama kurang lebih 5 menit dan tidak sadar. Orangtua berkali-kali bertanya terkait kesembuhan anak. Berdasarkan penuturan ibu, anak belum pernah mengalami keluhan serupa sebelumnya, dan di keluarga pun tidak ada yang mengalami keluhan serupa. Tidak ada riwayat alergi dan kejang sebelumnya. Ibu mengatakan bahwa selama kehamilan tidak pernah mengalami gangguan. Kehamilan baru diketahui pada usia 7 bulan kehamilan. Ibu sering mengkonsumsi obat-obatan warung apabila sakit. Ibu juga tidak mengetahui bahwa bayi yang dikandungnya kembar. Anak lahir dengan operasi sesar di Rumah Sakit karena ibu mengalami ketuban pecah dini pada minggu ke-32. Anak lahir dengan BB 2,4 Kg dan lahir kembar, tidak ada riwayat penyakit kuning dan tidak mengalami kebiruan saat lahir, serta tidak terdapat gangguan kongenital saat lahir. Akan tetapi kembaran anak hanya bertahan selama 7 jam. Anak mendapatkan imunisasi lengkap sesuai usianya. Dan saat ini anak belum lancar berjalan. Pada pemeriksaan fisik saat ini didapatkan sutura tampak/teraba melebar, kulit kepala licin, adanya sunset phenomenon (kedua bola mata berdeviasi ke atas dan kelopak mata atas tertarik), anak composmentis, tanda-tanda vital yaitu tekanan darah 100/50 mmHg, laju nadi 110x/menit, laju napas 25 x/menit, dan suhu 36,50 C. Hasil pemeriksaan fisik ditemukan ukuran lingkar kepala 57 cm dan mengindikasikan adanya peningkatan ukuran lingkar kepala dengan Z-Skor berdasarkan kurva WHO diatas 3 SD. Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan adanya peningkatan LED, CRP kuantitatif, dan adanya hiponatremia. Pada pemeriksaan foto thorax didapatkan hasil normal untuk jantung dan paru. Sedangkan pada CT Scan baik tanpa maupun dengan kontras menunjukkan kesan hidrosefalus dengan pelebaran pada ventrikel lateralis kanan-kiri, ventrikel 3, dan ventrikel 4 di otak. Pada anak direncanakan akan dilakukan tindakan pemasangan VP-Shunt. Analisis data berdasarkan kasus (meliputi DO dan DS, etiologi, dan masalah keperawatan) tolong jawab dari kasus diatas dengan jelas dan rinci serta kajian dari mana
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kasus yang diberikan, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat mengenai SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
Diagnosa Keperawatan:
1. Gangguan Perfusi Otak (00201) berhubungan dengan peningkatan cairan di otak (hidrosefalus) yang ditandai dengan pembesaran lingkar kepala, sunset phenomenon, dan kejang.
2. Risiko Ketidakseimbangan Cairan (00306) berhubungan dengan muntah-muntah yang ditandai dengan dehidrasi dan hiponatremia.
3. Risiko Kerusakan Integritas Kulit (00047) berhubungan dengan peningkatan tekanan intrakranial yang ditandai dengan kulit kepala licin.
Penjelasan SDKI - SLKI - SIKI:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
1. Gangguan Perfusi Otak (00201): Penurunan suplai oksigen dan nutrisi ke otak yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan otak.
2. Risiko Ketidakseimbangan Cairan (00306): Kondisi di mana individu berisiko mengalami kelebihan atau kekurangan cairan intravaskular, interstisial, atau intraseluler.
3. Risiko Kerusakan Integritas Kulit (00047): Kondisi di mana individu berisiko mengalami kerusakan pada lapisan epidermis dan/atau dermis.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Perfusi Jaringan Otak: Tercapainya status optimal suplai oksigen dan nutrisi ke otak.
2. Keseimbangan Cairan: Tercapainya status optimal keseimbangan cairan dan elektrolit.
3. Integritas Kulit: Tercapainya status optimal kesatuan dan keutuhan jaringan kulit.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Manajemen Perfusi Serebral: Intervensi untuk mempertahankan aliran darah dan oksigenasi otak.
2. Manajemen Cairan: Intervensi untuk mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit.
3. Perawatan Luka: Intervensi untuk mempertahankan integritas dan penyembuhan kulit.
Dalam kasus ini, diagnosa keperawatan yang muncul berkaitan dengan gangguan perfusi otak akibat hidrosefalus, risiko ketidakseimbangan cairan akibat muntah-muntah, dan risiko kerusakan integritas kulit akibat peningkatan tekanan intrakranial. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah manajemen perfusi serebral, manajemen cairan, dan perawatan luka. -
Article No. 14779 | 25 Mar 2025
Klinis : Seorang anak laki-laki, berusia 18 bulan, berat badan 14 Kg, panjang badan 85 cm, dibawa oleh ayah dan ibunya ke RSUD A dengan keluhan kepala anak membesar sejak usia 3 bulan tidak seperti bayi seusianya, dan anak sering mengalami muntah-muntah sejak 2 minggu sebelum dibawa ke rumah sakit. Keluhan muntah-muntah didahului dengan adanya keluhan batuk pilek selama 2 minggu sebelumnya. Keluhan batuk pilek juga disertai demam. Keluhan membaik setelah anak dibawa berobat ke klinik dokter umum, namun keluhan muntah tetap ada. Menurut ibunya, anak mengalami muntah seperti menyemprot/menyembur setiap kali anak coba diberi makan atau minum. Anak kemudian dirawat di RSUD A. Saat dirawat ukuran kepala anak semakin membesar sehingga akhirnya dilakukan pemeriksaan CT Scan, dan didapatkan hasil adanya peningkatan cairan di otak. Selain itu mata anak juga menjadi juling. Anak kemudian dirujuk ke dokter spesialis anak di RSUP B. Anak juga sempat mengalami kejang 2 kali dengan bentuk kejang kelojotan setelah mendengar suara bising. Anak kejang selama kurang lebih 5 menit dan tidak sadar. Orangtua berkali-kali bertanya terkait kesembuhan anak. Berdasarkan penuturan ibu, anak belum pernah mengalami keluhan serupa sebelumnya, dan di keluarga pun tidak ada yang mengalami keluhan serupa. Tidak ada riwayat alergi dan kejang sebelumnya. Ibu mengatakan bahwa selama kehamilan tidak pernah mengalami gangguan. Kehamilan baru diketahui pada usia 7 bulan kehamilan. Ibu sering mengkonsumsi obat-obatan warung apabila sakit. Ibu juga tidak mengetahui bahwa bayi yang dikandungnya kembar. Anak lahir dengan operasi sesar di Rumah Sakit karena ibu mengalami ketuban pecah dini pada minggu ke-32. Anak lahir dengan BB 2,4 Kg dan lahir kembar, tidak ada riwayat penyakit kuning dan tidak mengalami kebiruan saat lahir, serta tidak terdapat gangguan kongenital saat lahir. Akan tetapi kembaran anak hanya bertahan selama 7 jam. Anak mendapatkan imunisasi lengkap sesuai usianya. Dan saat ini anak belum lancar berjalan. Pada pemeriksaan fisik saat ini didapatkan sutura tampak/teraba melebar, kulit kepala licin, adanya sunset phenomenon (kedua bola mata berdeviasi ke atas dan kelopak mata atas tertarik), anak composmentis, tanda-tanda vital yaitu tekanan darah 100/50 mmHg, laju nadi 110x/menit, laju napas 25 x/menit, dan suhu 36,50 C. Hasil pemeriksaan fisik ditemukan ukuran lingkar kepala 57 cm dan mengindikasikan adanya peningkatan ukuran lingkar kepala dengan Z-Skor berdasarkan kurva WHO diatas 3 SD. Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan adanya peningkatan LED, CRP kuantitatif, dan adanya hiponatremia. Pada pemeriksaan foto thorax didapatkan hasil normal untuk jantung dan paru. Sedangkan pada CT Scan baik tanpa maupun dengan kontras menunjukkan kesan hidrosefalus dengan pelebaran pada ventrikel lateralis kanan-kiri, ventrikel 3, dan ventrikel 4 di otak. Pada anak direncanakan akan dilakukan tindakan pemasangan VP-Shunt. Analisis data berdasarkan kasus (meliputi DO dan DS, etiologi, dan masalah keperawatan) tolong jawab dari kasus diatas dengan jelas dan rinci serta kajian dari mana
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Dengan menganalisis kasus yang dipaparkan, berikut adalah Diagnosis Keperawatan, penjelasan singkat SDKI-SLKI-SIKI, serta kajian yang mendukung untuk kondisi anak laki-laki berusia 18 bulan dengan masalah hidrosefalus:
Diagnosis Keperawatan:
1. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan peningkatan tekanan intrakranial, ditandai dengan adanya keluhan sering muntah, kejang, dan keterlambatan perkembangan motorik.
2. Perubahan proses berpikir berhubungan dengan peningkatan tekanan intrakranial, ditandai dengan adanya keluhan kepala membesar tidak sesuai usia dan perilaku komposmentis.
3. Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan peningkatan tekanan intrakranial, ditandai dengan adanya sunset phenomenon dan hiponatremia.
Penjelasan Singkat:
1. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Intoleransi aktivitas: Ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas hidup sehari-hari akibat keterbatasan fisik dan/atau psikologis.
- Perubahan proses berpikir: Perubahan pada kemampuan berpikir, mengingat, dan/atau memecahkan masalah.
- Perubahan perfusi jaringan serebral: Penurunan sirkulasi dan oksigenasi ke jaringan otak.
2. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Toleransi aktivitas meningkat
- Proses berpikir membaik
- Perfusi jaringan serebral membaik
3. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Manajemen intoleransi aktivitas
- Manajemen perubahan proses berpikir
- Manajemen perubahan perfusi jaringan serebral
Kajian:
Berdasarkan kasus yang dipaparkan, anak laki-laki berusia 18 bulan mengalami masalah hidrosefalus, yang ditandai dengan pembesaran ukuran kepala, muntah, kejang, dan keterlambatan perkembangan motorik. Kondisi ini disebabkan oleh peningkatan tekanan intrakranial akibat akumulasi cairan di dalam ventrikel otak. Perubahan neuroanatomi dan fisiologis ini dapat menyebabkan gangguan pada fungsi kognitif, motorik, dan sistem saraf pusat secara keseluruhan.
Oleh karena itu, diagnosis keperawatan yang sesuai adalah intoleransi aktivitas, perubahan proses berpikir, dan perubahan perfusi jaringan serebral. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah manajemen intoleransi aktivitas, manajemen perubahan proses berpikir, dan manajemen perubahan perfusi jaringan serebral, dengan tujuan untuk meningkatkan toleransi aktivitas, memulihkan proses berpikir, dan memperbaiki perfusi jaringan serebral pada anak. -
Article No. 14780 | 25 Mar 2025
Klinis : Seorang anak laki-laki, berusia 18 bulan, berat badan 14 Kg, panjang badan 85 cm, dibawa oleh ayah dan ibunya ke RSUD A dengan keluhan kepala anak membesar sejak usia 3 bulan tidak seperti bayi seusianya, dan anak sering mengalami muntah-muntah sejak 2 minggu sebelum dibawa ke rumah sakit. Keluhan muntah-muntah didahului dengan adanya keluhan batuk pilek selama 2 minggu sebelumnya. Keluhan batuk pilek juga disertai demam. Keluhan membaik setelah anak dibawa berobat ke klinik dokter umum, namun keluhan muntah tetap ada. Menurut ibunya, anak mengalami muntah seperti menyemprot/menyembur setiap kali anak coba diberi makan atau minum. Anak kemudian dirawat di RSUD A. Saat dirawat ukuran kepala anak semakin membesar sehingga akhirnya dilakukan pemeriksaan CT Scan, dan didapatkan hasil adanya peningkatan cairan di otak. Selain itu mata anak juga menjadi juling. Anak kemudian dirujuk ke dokter spesialis anak di RSUP B. Anak juga sempat mengalami kejang 2 kali dengan bentuk kejang kelojotan setelah mendengar suara bising. Anak kejang selama kurang lebih 5 menit dan tidak sadar. Orangtua berkali-kali bertanya terkait kesembuhan anak. Berdasarkan penuturan ibu, anak belum pernah mengalami keluhan serupa sebelumnya, dan di keluarga pun tidak ada yang mengalami keluhan serupa. Tidak ada riwayat alergi dan kejang sebelumnya. Ibu mengatakan bahwa selama kehamilan tidak pernah mengalami gangguan. Kehamilan baru diketahui pada usia 7 bulan kehamilan. Ibu sering mengkonsumsi obat-obatan warung apabila sakit. Ibu juga tidak mengetahui bahwa bayi yang dikandungnya kembar. Anak lahir dengan operasi sesar di Rumah Sakit karena ibu mengalami ketuban pecah dini pada minggu ke-32. Anak lahir dengan BB 2,4 Kg dan lahir kembar, tidak ada riwayat penyakit kuning dan tidak mengalami kebiruan saat lahir, serta tidak terdapat gangguan kongenital saat lahir. Akan tetapi kembaran anak hanya bertahan selama 7 jam. Anak mendapatkan imunisasi lengkap sesuai usianya. Dan saat ini anak belum lancar berjalan. Pada pemeriksaan fisik saat ini didapatkan sutura tampak/teraba melebar, kulit kepala licin, adanya sunset phenomenon (kedua bola mata berdeviasi ke atas dan kelopak mata atas tertarik), anak composmentis, tanda-tanda vital yaitu tekanan darah 100/50 mmHg, laju nadi 110x/menit, laju napas 25 x/menit, dan suhu 36,50 C. Hasil pemeriksaan fisik ditemukan ukuran lingkar kepala 57 cm dan mengindikasikan adanya peningkatan ukuran lingkar kepala dengan Z-Skor berdasarkan kurva WHO diatas 3 SD. Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan adanya peningkatan LED, CRP kuantitatif, dan adanya hiponatremia. Pada pemeriksaan foto thorax didapatkan hasil normal untuk jantung dan paru. Sedangkan pada CT Scan baik tanpa maupun dengan kontras menunjukkan kesan hidrosefalus dengan pelebaran pada ventrikel lateralis kanan-kiri, ventrikel 3, dan ventrikel 4 di otak. Pada anak direncanakan akan dilakukan tindakan pemasangan VP-Shunt. Analisis data berdasarkan kasus (meliputi DO dan DS, etiologi, dan masalah keperawatan) tolong jawab dari kasus diatas dengan jelas dan rinci serta kajian dari mana
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kasus yang diberikan, dapat diuraikan diagnosis keperawatan, penjelasan singkat SDKI-SLKI-SIKI, dan rencana tindakan keperawatan sebagai berikut:
Diagnosis Keperawatan:
1. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan peningkatan cairan di otak
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan penurunan mobilitas
3. Risiko gangguan rasa aman berhubungan dengan kejang
4. Risiko gangguan perilaku berhubungan dengan hidrosefalus
5. Risiko ketidakefektifan perfusi jaringan otak berhubungan dengan peningkatan cairan di otak
Penjelasan Singkat SDKI-SLKI-SIKI:
1. Ketidakefektifan pola napas
- SDKI: Pola napas yang tidak efektif untuk memenuhi kebutuhan oksigenasi.
- SLKI: Respirasi yang tidak efektif untuk memenuhi kebutuhan oksigen.
- SIKI: Intervensi untuk mempertahankan pola napas yang efektif.
2. Intoleransi aktivitas
- SDKI: Keterbatasan dalam melakukan aktivitas fisik yang diinginkan atau dibutuhkan.
- SLKI: Keterbatasan dalam melakukan aktivitas yang diinginkan atau dibutuhkan.
- SIKI: Intervensi untuk meningkatkan toleransi terhadap aktivitas.
3. Risiko gangguan rasa aman
- SDKI: Kerentanan terhadap pengalaman yang menimbulkan rasa takut, cemas, atau tidak aman.
- SLKI: Kerentanan terhadap pengalaman yang menimbulkan rasa ketidakamanan.
- SIKI: Intervensi untuk mempertahankan rasa aman.
4. Risiko gangguan perilaku
- SDKI: Kerentanan terhadap perubahan perilaku yang tidak sesuai dengan norma sosial.
- SLKI: Kerentanan terhadap perubahan perilaku yang tidak sesuai dengan norma sosial.
- SIKI: Intervensi untuk mencegah gangguan perilaku.
5. Risiko ketidakefektifan perfusi jaringan otak
- SDKI: Kerentanan terhadap penurunan aliran darah ke otak yang dapat mengancam kesehatan.
- SLKI: Kerentanan terhadap penurunan aliran darah ke otak yang dapat mengancam kesehatan.
- SIKI: Intervensi untuk mempertahankan perfusi jaringan otak.
Rencana Tindakan Keperawatan:
1. Monitor tanda-tanda vital dan observasi adanya perubahan pola napas.
2. Pertahankan posisi semi-fowler untuk memfasilitasi pernafasan.
3. Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian oksigen jika diperlukan.
4. Batasi aktivitas fisik dan pantau toleransi anak terhadap aktivitas.
5. Hindari stimulasi yang dapat memicu kejang, dan berikan terapi antikonvulsan sesuai instruksi medis.
6. Ciptakan lingkungan yang aman dan nyaman untuk anak.
7. Kolaborasi dengan tim medis untuk pemasangan VP-Shunt.
8. Berikan edukasi dan dukungan psikologis pada keluarga.
Berdasarkan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) yang diterbitkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), diagnosis keperawatan dan rencana tindakan di atas disusun untuk mengatasi permasalahan kesehatan yang dialami oleh anak laki-laki berusia 18 bulan dengan hidrosefalus. -
Article No. 14781 | 25 Mar 2025
Klinis : Luka diabetes
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berikut adalah penjelasan yang rinci dan terperinci terkait kondisi luka diabetes:
Diagnosa Keperawatan SDKI:
Diagnosa keperawatan yang sesuai untuk kondisi luka diabetes adalah "Kerusakan Integritas Kulit". Diagnosa ini menggambarkan adanya perubahan pada struktur dan fungsi kulit yang dapat menyebabkan gangguan pada perlindungan tubuh. Pada kasus luka diabetes, terjadi kerusakan pada integritas kulit yang disebabkan oleh penyakit diabetes melitus.
Luaran/Output SLKI:
Setelah diberikan Asuhan Keperawatan, luaran yang diharapkan adalah:
1. Integritas Kulit: Tujuan yang diharapkan adalah perbaikan atau penyembuhan luka diabetes sehingga integritas kulit dapat pulih kembali.
2. Kontrol Glukosa Darah: Tujuan yang diharapkan adalah tercapainya kontrol glukosa darah yang optimal untuk mendukung proses penyembuhan luka.
3. Manajemen Diri: Tujuan yang diharapkan adalah pasien dapat melakukan manajemen diri yang efektif dalam merawat luka dan mengontrol diabetes.
Intervensi Keperawatan SIKI:
Intervensi keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan luaran tersebut antara lain:
1. Perawatan Luka:
- Melakukan debridement luka untuk menghilangkan jaringan nekrotik dan debris.
- Memilih jenis balutan yang sesuai untuk menjaga kelembaban luka dan mempercepat penyembuhan.
- Memantau tanda-tanda infeksi dan komplikasi lainnya.
2. Manajemen Glukosa Darah:
- Mengkaji kadar glukosa darah secara berkala.
- Kolaborasi dengan tim kesehatan untuk mengoptimalkan pengobatan diabetes.
- Edukasi pasien dan keluarga tentang pentingnya kontrol glukosa darah.
3. Manajemen Diri:
- Memberikan edukasi tentang perawatan luka dan diabetes.
- Melatih pasien dan keluarga dalam melakukan perawatan luka dan manajemen diabetes.
- Memfasilitasi pasien untuk meningkatkan kemandirian dalam merawat luka dan mengontrol diabetes.
Dengan pendekatan komprehensif yang mencakup perawatan luka, manajemen glukosa darah, dan peningkatan kemampuan manajemen diri, diharapkan pasien dengan luka diabetes dapat memperoleh hasil yang optimal dalam proses penyembuhan dan pemulihan. -
Article No. 14782 | 25 Mar 2025
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat terkait SDKI, SLKI, dan SIKI berdasarkan standar Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi pasien yang Anda deskripsikan.
Diagnosa Keperawatan:
1. Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan sekresi berlebih sekunder terhadap tuberkulosis paru.
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan penurunan kapasitas fungsional sekunder terhadap tuberkulosis paru.
3. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan penurunan asupan oral sekunder terhadap anoreksia.
Penjelasan singkat SDKI, SLKI, dan SIKI:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Ketidakefektifan bersihan jalan napas: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan jalan napas yang terbuka.
- Intoleransi aktivitas: Ketidakmampuan untuk mentoleransi atau menyelesaikan aktivitas rutin.
- Kekurangan volume cairan: Pengurangan cairan intravaskular, interstitial, dan/atau intrasellular.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Bersihan jalan napas efektif: Kemampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan jalan napas yang terbuka.
- Toleransi aktivitas meningkat: Kemampuan untuk mentoleransi atau menyelesaikan aktivitas rutin.
- Volume cairan adekuat: Jumlah cairan intravaskular, interstitial, dan/atau intrasellular yang mencukupi.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Manajemen jalan napas: Tindakan untuk mempertahankan dan memfasilitasi pembebasan jalan napas.
- Manajemen aktivitas: Tindakan untuk memfasilitasi aktivitas secara aman dan efektif.
- Manajemen cairan: Tindakan untuk mempertahankan keseimbangan cairan yang adekuat.
Dengan mengacu pada SDKI, SLKI, dan SIKI, perawat dapat memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif dan sesuai dengan standar profesi untuk mengatasi masalah kesehatan pasien. -
Article No. 14783 | 25 Mar 2025
Klinis : Nyeri pada luka
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan informasi yang rinci dan terperinci terkait dengan kondisi nyeri pada luka, sesuai dengan format yang Anda minta.
Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai:
Diagnosa keperawatan yang sesuai untuk kondisi nyeri pada luka adalah "Nyeri Akut". Nyeri akut didefinisikan sebagai pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah-istilah kerusakan tersebut. Nyeri akut biasanya memiliki onset yang tiba-tiba, intensitas bervariasi, dan berlangsung dalam jangka waktu terbatas.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Tingkat Nyeri Terkontrol: Pasien menunjukkan pengurangan rasa nyeri yang signifikan, skala nyeri berada pada tingkat yang dapat ditoleransi, dan mampu beraktivitas sesuai dengan kemampuannya.
2. Kemampuan Mengendalikan Nyeri: Pasien mampu mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi nyeri, menggunakan strategi nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, dan melaporkan tingkat nyeri secara akurat.
3. Kepuasan Pasien terhadap Pengelolaan Nyeri: Pasien menunjukkan kepuasan terhadap intervensi yang dilakukan untuk mengelola nyeri, sehingga dapat mencapai tingkat kenyamanan yang optimal.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Pengkajian Nyeri
- Kaji karakteristik nyeri (lokasi, intensitas, durasi, frekuensi, kualitas, faktor pemicu, dan faktor yang memengaruhi)
- Gunakan alat ukur nyeri yang valid dan reliabel, seperti Numeric Rating Scale (NRS) atau Visual Analog Scale (VAS)
- Kaji faktor-faktor yang memengaruhi nyeri, seperti psikologis, sosial, dan lingkungan
2. Manajemen Nyeri
- Berikan intervensi farmakologis sesuai dengan resep dokter, seperti analgesik atau obat anti-inflamasi
- Lakukan intervensi nonfarmakologis, seperti kompres dingin, distraksi, relaksasi, dan terapi musik
- Ajarkan pasien teknik manajemen nyeri nonfarmakologis yang dapat dilakukan sendiri
- Kolaborasi dengan tim kesehatan lain, seperti dokter atau ahli terapi fisik, untuk pengelolaan nyeri yang komprehensif
3. Edukasi dan Dukungan
- Berikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang manajemen nyeri, termasuk penggunaan analgesik, teknik nonfarmakologis, dan pelaporan nyeri
- Dorong partisipasi aktif pasien dalam pengelolaan nyeri
- Berikan dukungan emosional dan psikologis untuk mengatasi dampak nyeri terhadap kesejahteraan pasien
Dengan melakukan pengkajian yang komprehensif, menerapkan intervensi farmakologis dan nonfarmakologis yang tepat, serta memberikan edukasi dan dukungan yang sesuai, diharapkan pasien dapat mencapai luaran yang diinginkan, yaitu tingkat nyeri yang terkontrol, kemampuan mengendalikan nyeri, dan kepuasan pasien terhadap pengelolaan nyeri. -
Article No. 14784 | 25 Mar 2025
Klinis : Seorang perempuan usia 28 tahun, postpartum hari ke 3 datang ke poli KIA. Hasil pengkajian : pasien mengatakan mengeluh bayi tidak mampu melekat pada putting sehingga payudaranya membengkak dan terasa sakit. Payudara pasien teraba hangat dan keras. Apakah diagnos keperawatan yang tepat pada pasien tersebut ?
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Dengan senang hati saya akan memberikan analisis yang rinci dan terperinci mengenai kondisi pasien yang Anda deskripsikan.
Diagnosa Keperawatan SDKI yang Sesuai:
Berdasarkan kondisi yang dipaparkan, diagnosa keperawatan yang paling sesuai adalah "Ketidakefektifan Pola Menyusui" (SDKI). Hal ini dikarenakan pasien mengeluhkan bayi tidak mampu melekat pada putting susu sehingga mengakibatkan payudara membengkak dan terasa sakit. Kondisi ini menunjukkan adanya gangguan pada proses menyusui yang efektif.
Luaran/Output yang Diharapkan Setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
Setelah diberikan asuhan keperawatan, diharapkan pasien dapat mencapai luaran sebagai berikut:
1. Pola Menyusui Efektif: Pasien dapat menyusui bayinya dengan teknik yang benar, sehingga bayi dapat melekat pada putting susu dengan baik dan memperoleh asupan ASI yang cukup.
2. Kenyamanan Payudara Membaik: Payudara pasien tidak lagi membengkak, terasa hangat, dan nyeri berkurang sehingga pasien merasa nyaman.
3. Pengetahuan Meningkat: Pasien memahami teknik menyusui yang benar dan perawatan payudara selama masa nifas.
Intervensi Keperawatan yang Diperlukan untuk Mencapai Tujuan Luaran (SIKI):
Untuk mencapai luaran yang diharapkan, berikut intervensi keperawatan yang dapat diberikan:
1. Edukasi Teknik Menyusui:
- Mengajarkan teknik menyusui yang benar, seperti posisi menyusui, cara melekatkan bayi pada putting susu, serta cara memosisikan badan bayi.
- Menjelaskan tanda-tanda bayi mendapat cukup ASI, seperti frekuensi, durasi, dan pola menyusui.
2. Manajemen Nyeri Payudara:
- Menganjurkan pasien untuk melakukan kompres hangat pada payudara untuk meningkatkan sirkulasi dan memperlancar pengeluaran ASI.
- Mengajarkan teknik pemijatan payudara untuk memperlancar pengeluaran ASI.
- Memberikan analgesik sesuai kebutuhan untuk mengurangi rasa nyeri.
3. Perawatan Payudara:
- Mengajarkan pasien cara perawatan payudara selama masa nifas, seperti menjaga kebersihan payudara dan putting susu.
- Memberikan edukasi mengenai tanda-tanda infeksi payudara dan penanganannya.
4. Konseling dan Dukungan Psikologis:
- Memberikan dukungan, motivasi, dan konseling kepada pasien agar tetap semangat dalam proses menyusui.
- Melibatkan keluarga untuk memberikan dukungan dalam proses menyusui.
Dengan intervensi keperawatan yang komprehensif dan berpusat pada pasien, diharapkan pasien dapat mencapai luaran yang diharapkan, yaitu pola menyusui yang efektif, kenyamanan payudara yang membaik, serta peningkatan pengetahuan terkait teknik menyusui dan perawatan payudara selama masa nifas. -
Article No. 14785 | 25 Mar 2025
Klinis : Seorang perempuan usia 28 tahun, postpartum hari ke 3 datang ke poli KIA. Hasil pengkajian : pasien mengatakan mengeluh bayi tidak mampu melekat pada putting sehingga payudaranya membengkak dan terasa sakit. Payudara pasien teraba hangat dan keras. Apakah diagnos keperawatan yang tepat pada pasien tersebut ?
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosis keperawatan yang tepat untuk kondisi yang Anda deskripsikan, serta penjelasan singkat tentang standar SDKI, SLKI, dan SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia.
Diagnosis Keperawatan:
Berdasarkan informasi yang diberikan, diagnosis keperawatan yang tepat untuk pasien ini adalah: Gangguan Proses Laktasi.
Penjelasan:
Gangguan Proses Laktasi merupakan diagnosis keperawatan yang sesuai dengan kondisi pasien yang mengalami kesulitan menyusui sehingga menyebabkan payudara membengkak dan terasa sakit. Hal ini dapat disebabkan oleh bayi yang tidak mampu melekat dengan baik pada puting susu ibu.
Standar SDKI, SLKI, dan SIKI:
Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) telah mengembangkan tiga standar keperawatan, yaitu:
1. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI):
SDKI merupakan standar yang digunakan untuk menentukan diagnosis keperawatan berdasarkan pengkajian terhadap kondisi pasien.
2. Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI):
SLKI merupakan standar yang digunakan untuk menentukan luaran atau hasil yang diharapkan dari intervensi keperawatan yang diberikan.
3. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI):
SIKI merupakan standar yang digunakan untuk menentukan intervensi keperawatan yang tepat untuk mencapai luaran yang diharapkan.
Dalam kasus ini, diagnosis keperawatan "Gangguan Proses Laktasi" sesuai dengan SDKI, dan selanjutnya perawat dapat mengacu pada SLKI dan SIKI untuk menentukan luaran yang diharapkan dan intervensi keperawatan yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut. -
Article No. 14786 | 25 Mar 2025
Klinis : Seorang perempuan usia 28 tahun, postpartum hari ke 3 datang ke poli KIA. Hasil pengkajian : pasien mengatakan mengeluh bayi tidak mampu melekat pada putting sehingga payudaranya membengkak dan terasa sakit. Payudara pasien teraba hangat dan keras. Apakah diagnos keperawatan yang tepat pada pasien tersebut ?
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan, luaran/output yang diharapkan, dan intervensi keperawatan yang sesuai untuk kondisi pasien yang Anda deskripsikan.
Diagnosa Keperawatan SDKI:
Diagnosa keperawatan yang tepat untuk kondisi pasien tersebut adalah "Ketidakefektifan Menyusui", yang ditandai dengan pasien mengeluh bayi tidak mampu melekat pada puting sehingga payudaranya membengkak dan terasa sakit. Kondisi ini menunjukkan adanya masalah dalam proses menyusui yang tidak efektif.
Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI):
Setelah diberikan asuhan keperawatan, diharapkan pasien dapat:
1. Mendemonstrasikan teknik menyusui yang benar.
2. Menunjukkan payudara yang tidak membengkak dan tidak terasa sakit.
3. Melaporkan kepuasan dalam proses menyusui.
4. Menunjukkan kemampuan bayi dalam melekat dan menghisap puting dengan baik.
Intervensi Keperawatan yang Diperlukan (SIKI):
1. Kaji pola menyusui pasien, meliputi posisi, pelekatan, dan durasi menyusui.
2. Ajarkan teknik menyusui yang benar, termasuk posisi duduk yang nyaman, pelekatan bayi pada puting yang tepat, dan durasi menyusui yang cukup.
3. Anjurkan pasien untuk menyusui bayi secara rutin sesuai kebutuhan bayi.
4. Berikan kompres hangat pada payudara sebelum menyusui untuk memperlancar pengeluaran ASI.
5. Anjurkan pasien untuk memompa ASI secara manual atau menggunakan pompa ASI jika bayi tidak dapat melekat pada puting.
6. Ajarkan pasien untuk mengelola pembengkakan payudara, seperti melakukan pijatan lembut pada payudara dan menggunakan bra yang nyaman.
7. Berikan dukungan emosional dan edukasi kepada pasien terkait proses menyusui yang efektif.
8. Kolaborasi dengan ahli laktasi atau dokter jika diperlukan untuk mengatasi masalah yang lebih kompleks.
Penjelasan rinci:
Diagnosa keperawatan "Ketidakefektifan Menyusui" dipilih karena gejala yang ditunjukkan pasien, yaitu kesulitan bayi dalam melekat pada puting sehingga menyebabkan pembengkakan dan rasa sakit pada payudara. Hal ini merupakan indikasi adanya masalah dalam proses menyusui yang tidak efektif.
Luaran/output yang diharapkan difokuskan pada kemampuan pasien untuk mendemonstrasikan teknik menyusui yang benar, menunjukkan payudara yang tidak membengkak dan tidak terasa sakit, melaporkan kepuasan dalam proses menyusui, serta kemampuan bayi dalam melekat dan menghisap puting dengan baik. Tujuan akhirnya adalah tercapainya proses menyusui yang efektif.
Intervensi keperawatan diarahkan untuk mengkaji pola menyusui, mengajarkan teknik menyusui yang benar, memberikan kompres hangat, memompa ASI, mengelola pembengkakan payudara, memberikan dukungan emosional dan edukasi, serta melakukan kolaborasi dengan ahli laktasi atau dokter jika diperlukan. Semua intervensi ini bertujuan untuk membantu pasien mencapai luaran yang diharapkan.